Anda di halaman 1dari 42

Makalah Peradilan Tata Usaha Negara

BAB I
PENDAHULUAN
Peradilan Tata Usaha Negara merupakan salah satu peradilan di Indonesia yang
berwenang untuk menangani sengketa Tata Usaha Negara. Berdasarkan Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana telah dirubah oleh UU No. 9/2004 tentang Peradilan Tata
Usaha Negara (UU PTUN), Peradilan Tata Usaha Negara diadakan untuk menghadapi
kemungkinan timbulnya perbenturan kepentingan, perselisihan, atau sengketa antara Badan
atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga masyarakat. UU PTUN memberikan 2 macam
cara penyelesaian sengketa TUN yakni upaya administrasi yang penyelesaiannya masih
dalam lingkungan administrasi pemerintahan sendiri serta melalui gugatan ke Pengadilan
Tata Usaha Negara (PTUN).
Dalam PTUN, seseorang dapat mengajukan gugatan terhadap kebijakan pemerintah
yang dipercaya telah merugikan individu dan atau masyarakat. Subjek atau pihak-pihak yang
berperkara di Pengadilan Tata Usaha Negara ada 2 yakni, Pihak penggugat, yaitu seseorang
atau Badan Hukum Perdata yang merasa kepentingannya dirugikan dengan dikeluarkannya
Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, serta
Pihak Tergugat, yaitu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan Keputusan
berdasarkan wewenang yang ada padanya atau yang dilimpahkan kepadanya. Dalam Undang
Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara (Perubahan UU PTUN), pihak ketiga tidak dapat lagi
melakukan intervensi dan masuk ke dalam suatu sengketa TUN.
Kekuasaan kehakiman dilingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dalam UU PTUN
dilaksanakan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
yang berpuncak pada Mahkamah Agung. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara pada
dasamya merupakan pengadilan tingkat banding terhadap sengketa yang telah diputus oleh
Pengadilan Tata Usaha Negara, kecuali dalam sengketa kewenangan mengadili antar
Pengadilan Tata Usaha Negara di daerah hukumnya serta sengketa yang terhadapnya telah
digunakan upaya administratif. Adapun hukum acara yang digunakan pada Peradilan Tata
Usaha Negara mempunyai persamaan dengan hukum acara yang digunakan pada Peradilan
Umum untuk perkara Perdata, dengan perbedaan dimana Peradilan Tata Usaha Negara Hakim

berperan lebih aktif dalam proses persidangan guna memperoleh kebenaran materiil dan tidak
seperti dalam kasus gugatan perdata, gugatan TUN bukan berarti menunda dilaksanakannya
suatu KTUN yang disengketakan.

BAB II
TATA CARA BERPERKARA PADA BADAN PERADILAN TATA USAHA NEGARA

A. GAMBARAN SINGKAT
1. Pengertian Umum
Dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986, diuraikan tentang pengertianpengertian yang berkaitan dengan Peradilan Tata Usaha Negara, sebagai berikut:
1. Tata Usaha Negara adalah administrasi negara yang melaksanakan fungsi untuk
menyelenggarakan urusan pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah.
2. Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara adalah Badan atau Pejabat yang melaksanakan urusan
pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) adalah penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan
atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum tata usaha negara yang
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang bersifat konkret, individual,
dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
4. Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara
antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik
di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara,
termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
5. Gugatan Tata Usaha Negara adalah permohonan yang berisi tuntutan terhadap Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara dan diajukan ke pengadilan untuk mendapatkan keputusan.
6. Tergugat adalah Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan keputusan
berdasarkan wewenang yang ada padanya atau yang dilimpahkan kepadanya, yang digugat
oleh orang atau badan hukum perdata.
7. Penggugat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 53 ayat (1) Undang-undang Nomor 9 Tahun
2004 adalah Setiap Orang atau Badan Hukum Perdata yang merasa kepentingannya dirugikan
akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara.
8. Gugatan Perwakilan Kelompok adalah suatu tata cara pengajuan gugatan, dalam mana satu
orang atau lebih yang mewakili kelompok mengajukan gugatan untuk diri atau diri-diri
mereka sendiri dan sekaligus mewakili sekelompok orang yang jumlahnya banyak, yang

memiliki kesamaan fakta atau dasar hukum antara wakil kelompok dan anggota kelompok
dimaksud (Pasal 1 huruf a Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 2002)
2. Subyek Peradilan Tata Usaha Negara
Subyek dalam Peradilan Tata Usaha Negara sering disebut dengan para pihak, yaitu:
a. Penggugat
Dari pengertian penggugat diatas dapat ditentukan bahwa pihak-pihak yang dapat
mengajukan gugatan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara adalah:
o Orang yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara
(KTUN);
o Badan Hukum Perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata
Usaha Negara (KTUN).
b. Tergugat
Yang dapat digugat atau dijadikan tergugat sebagaimana diuraikan dalam pengertian
tergugat diatas adalah jabatan yang ada pada Badan Tata Usaha Negara yang mengeluarkan
KTUN berdasarkan wewenang dari Badan TUN itu atau wewenang yang dilimpahkan
kepadanya. Hal ini mengandung arti bahwa bukanlah orangnya secara pribadi yang digugat
tetapi jabatan yang melekat kepada orang tersebut. Misalnya; Kepala Dinas Pendidikan
Kabupaten Buleleng, Bupati Buleleng dan lain-lain, sehingga tidak akan menjadi masalah
ketika terjadi pergantian orang pada jabatan tersebut.
Sebagai jabatan TUN yang memiliki kewenangan pemerintahan, sehingga dapat
menjadi pihak Tergugat dalam Sengketa TUN dapat dikelompokkan menjadi:
a. Instansi resmi pemerintah yang berada di bawah Presiden sebagai Kepala eksekutif.
b. Instansi-instansi dalam lingkungan kekuasaan negara diluar lingkungan eksekutif yang
berdasarkan peraturan perundang-undangan, melaksanakan suatu urusan pemerintahan.
c. Badan-badan hukum privat yang didirikan dengan maksud untuk melaksanakan tugas-tugas
pemerintahan.
d. Instansi-instansi yang merupakan kerja sama antara pemerintahan dan pihak swasta yang
melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.
e. Lembaga-lembaga hukum swasta yang melaksanakan tugas-tugas pemerintahan (Siti Soetami,
2005: 5).
3. Obyek dalam Peradilan Tata Usaha Negara

Yang menjadi obyek dalam Peradilan Tata Usaha Negara adalah Keputusan Tata Usaha
Negara (KTUN). Keputusan Tata Usaha Negara adalah penetapan tertulis yang dikeluarkan
oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum tata usaha negara
yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang bersifat konkret,
individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
perdata.
B. PENERIMAAN, PEMERIKSAAN DAN PENYELESAIN PERKARA
1. PROSEDUR PENERIMAAN GUGATAN DI PTUN
UU PTUN tidak mengatur secara tegas dan terperinci tentang prosedur dan penerimaan
Perkara Gugatan di PTUN yang harus ditempuh oleh seseorang atau Badan Hak Perdata yang
akan mengajukan /memasukkan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara, namun pokokpokok yang dapat diuraikan adalah sebagai berikut:
a.

Penerimaan Perkara
Gugatan yang telah disusun / dibuat ditandatangani oleh Penggugat atau Kuasanya,
kemudian didaftarkan di Panitera Pengadilan Tata Usaha Negara yang berwenang sesuai
dengan ketentuan Pasal 54.

Ayat (1) Gugatan Sengketa Tata Usaha Negara diajukan kepada Pengadilan yang
berwenang yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan Tergugat

Ayat (2) Apabila Tergugat lebih dari satu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dan
berkedudukan tidak dalam satu faerah Hukum Pengadilan, Gugatan diajukan kepada
Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi kedudukan salah satu Badan atau Pejabat Tata
Usaha Negara

Ayat (3) Dalam hal tempat kedudukan Tergugat tidak berada dalam daerah hukum
Pengadilan tempat kediaman Pengugat, maka Gugatan dapat diajukan ke Pengadilan yang
daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat selanjutnya diteruskan kepada
Pengadilan yang bersangkutan.

Ayat (4) Dalam hal-hal tertentu sesuai dengan sifat sengketa Tata Usaha Negara yang
bersangkutan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah, Gugatan dapat diajukan kepada
Pengadilan yang berwenang yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat

Ayat (5) Apabila Penggugat dan Tergugat berkedudukan atau berada di luar negeri,
Gugatan diajukan kepada Pengadilan di Jakarta.

Ayat (6) Apabila Tergugat berkedudukan di dalam negeri dan Penggugat di luar negeri,
Gugatan diajukan kepada Pengadilan ditempat kedudukan Tergugat.

b.

Administrasi di Pengadilan Tata Usaha Negara


Panitera yang telah menerima Pengajuan Gugatan tersebut kemudian meneliti Gugatan
apakah secara formal telah sesuai dengan syarat-syarat sebagaimana ditentukan oleh Pasal 56
UU No.5 tahun 1986, apabila ada kekurang lengkapan dari Gugatan tersebut Panitera dapat
menyarankan kepada Penggugat atau Kuasanya untuk melengkapinya dalam waktu yang
telah ditentukan paling lambat dalam waktu 30 hari baik terhadap Gugatan yang sudah
lengkap ataupun belum lengkap selanjutnya Panitera menaksir biaya panjer ongkos perkara
yang harus dibayar oleh Penggugat atau Kuasanya yang diwujudkan dalam bentuk SKUM
(Surat Kuasa Untuk Membayar) atau antara lain:

Biaya Kepaniteraan

Biaya Materai

Biaya Saksi

Biaya Saksi Ahli

Biaya Alih Bahasa

Biaya Pemeriksaan Setempat

Biaya lain untuk Penebusan Perkara


Gugatan yang telah dilampiri SKUM tersebut kemudian diteruskan ke Sub bagian
Kepaniteraan Muda Perkara untuk penyelesaian perkara lebih lanjut.
Atas dasar SKUM tersebut kemudian Penggugat atau kuasanya dapat membayar di kasir
(dibagian Kepaniteraan Muda Perkara) dan atas pembayaran tersebut kemudian dikeluarkan,
kwitansi pembayarannya. Gugatan yang telah dibayar panjer biaya perkara tersebut kemudian
didaftarkan didalam buku register perkara dan mendapat nomor register perkara.
Gugatan yang sudah didaftarkan dan mendapat nomor register tersebut kemudian
dilengkapi dengan formulir-formulir yang diperlukan dan Gugatan tersebut diserahkan
kembali kepada Panitera dengan buku ekspedisi penyerahan berkas.
Selanjutnya berkas perkara gugatan tersebut oleh Panitera diteruskan / diserahkan kepada
Ketua Pengadilan untuk dilakukan Penelitian terhadap Gugatan tersebut, yaitu dalam proses
dismissal ataupun apakah ada permohonan penundaan pelaksanaan Keputusan Tata Usaha
Negara yang digugat, beracara cepat maupun ber-acara Cuma-Cuma.

2.

PROSES PEMERIKSAAN GUGATAN DI PTUN


Di Pengadilan Tata Usaha Negara suatu gugatan yang masuk terlebih dahulu harus
melalui beberapa tahap pemeriksaan sebelum dilaksanakan Pemeriksaan didalam Persidangan
yang terbuka untuk umum. Apabila dilihat dari Pejabat yang melaksanakan pemeriksaan ada
3 (tiga) Pejabat yaitu Panitera, Ketua dan Hakim/Majelis Hakim, akan tetapi apabila dilihat
dari tahap-tahap materi gugatan yang diperiksa ada 4 tahap pemeriksaan yang harus dilalui:
Tahap I
Adalah Tahap penelitian administrasi dilaksanakan oleh Panitera atau Staf panitera yang
ditugaskan oleh Panitera untuk melaksanakan Penilaian administrasi tersebut
Tahap II
Dilaksanakan oleh Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara, dan pada tahap ke-II tersebut Ketua
memeriksa gugatan tersebut antara lain:

i.

Proses Dismissal: yaitu memeriksa gugatan tersebut apakah gugatannya terkena dismissal.
Apabila terkena maka berdasar pasal 62 UU PTUN, artinya gugatan tidak diterima dan Ketua
dapat mengeluarkan Penetapan Dismissal. Sedangkan apabila tidak, ternyata gugatan tersebut
tidak

ii.

Ketua dapat juga memeriksa apakah didalam gugatan tersebut ada Permohonan Penundaan
Pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat atau tidak dan sekaligus dapat
mengeluarkan penetapan.

iii.

Ketua dapat juga memeriksa apakah ada permohonan Pemeriksaan dengan Cuma-Cuma
dan mengeluarkan Penetapan

iv.

Ketua dapat juga memeriksa apakah dalam gugatan tersebut ada permohonan untuk
diperiksa dengan acara cepat ataukah tidak.

v.

Ketua dapat pula menetapkan bahwa gugatan tersebut diperiksa dengan acara biasa dan
sekaligus menunjuk Majelis Hakim yang memeriksanya.
Tahap III
Setelah Majelis Hakim menerima berkas perkara sesuai dengan Penetapan Penunjukan
Majelis Hakim yang menyidangkan perkara tersebut yang dikeluarkan oleh Ketua PTUN.
Tahap IV

Setelah dilaksanakan Pemeriksaan Penetapan terhadap gugatan kemudian Majelis


menetapkan

untuk

Pemeriksaan

gugatan

tersebut

didalam

persidangan

yang terbuka untuk umum.


Proses pemeriksaan di muka Pengadilan Tata Usaha Negara dimaksudkan untuk
menguji apakah dugaan bahwa KTUN yang digugat itu melawan hukum beralasan atau tidak.
Gugatan sifatnya tidak menunda atau menghalangi dilaksanakannya KTUN yang digugat
tersebut, selama hal itu belum diputuskan oleh pengadilan maka KTUN itu harus dianggap
menurut hukum. Hal ini dikarenakan Hukum Tata Usaha Negara mengenal asas praduga
rechtmatig (vermoeden van rechtmatigheid) =praesumptio instae causa terhadap semua
tindakan dari Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, termasuk KTUN yang telah dikeluarkan
(Suparto Wijoyo, 1997: 54).
3. PENYELESAIAN PERKARA
Saat berkas gugatan masuk dalam meja persidangan, maka sengketa tersebut akan
melalu beberapa tahapan-tahapan pokok, yaitu:
1. Tahap pembacaan isi gugatan dari penggugat dan pembacaan jawaban dari tergugat.
Pasal 74 ayat (1) menyatakan bahwa Pemeriksaan sengketa dimulai dengan membacakan isi
gugatan dan surat yang memuat jawabannya oleh Hakim Ketua Sidang dan jika tidak ada
surat jawaban, pihak tergugat diberi kesempatan untuk mengajukan jawabannya. Dalam
prakteknya bisa saja hakim tidak membacakan gugatan atas persetujuan tergugat, mengingat
tergugat sudah mendapatkan salinan gugatan. Begitu juga terhadap jawaban gugatan dari
tergugat bisa saja tidak dibacakan oleh hakim tetapi hanya diserahkan salinannya kepada
penggugat.
2. Tahapan Pangajuan Reflik
Replik diartikan penggugat mengajukan atau memberikan tanggapan terhadap jawaban yang
telah diajukan oleh tergugat. Sebelum penggugat mengajukan replik, atas dasar ketentuan
yang terdapat dalam Pasal 75 ayat (1), penggugat dapat mengubah alasan yang mendasari
gugatannya, asal disertai alasan yang cukup serta tidak merugikan kepentingan tergugat.
Replik diserahkan oleh penggugat kepada Hakim Ketua Sidang dan salinannya oleh Hakim
Ketua Sidang diserahkan kepada tergugat.
3. Tahapan Pengajuan Duplik
Duplik diartikan tergugat mengajukan atau memberikan tanggapan terhadap replik yang telah
diajukan oleh penggugat. Dalam hal ini, sebelum mengajukan duplik tergugat juga diberikan
kesempatan untuk mengubah alasan yang mendasari jawabannya, asal disertai alasan yang

cukup serta tidak merugikan kepentingan penggugat (Pasal 75 ayat (2)). Duplik diserahkan
oleh tergugat kepada Hakim Ketua Sidang dan salinannya oleh Hakim Ketua Sidang
diserahkan kepada penggugat
4. Tahapan pengajuan Alat Bukti
Pada tahap pengajuan alat-alat bukti, baik penggugat maupun tergugat sama-sama
mengajukan alat-alat bukti yang terbatas berupa:
a. Surat atau tulisan (Pasal 100 ayat (1) huruf a);
b. Keterangan ahli (Pasal 100 ayat (1) huruf b); dan
c. Keterangan saksi (Pasal 100 ayat (1) huruf c)
5. Tahapan Kesimpulan
Pada tahap pengajuan kesimpulan ini, pemeriksaan terhadap sengketa Tata Usaha Negara
sudah selesai. Masing-masing pihak mengemukakan pendapat yang terakhir berupa
kesimpulan dari hasil pemeriksaan di sidang pengadilan mengenai sengketa Tata Usaha
Negara antara penggugat dengan tergugat, yang intinya adalah sebagai berikut:
a.

Penggugat mengajukan kesimpulan bahwa KTUN yang dikeluarkan oleh tergugat agar
dinyatakan batal atau tidak sah.

b. Tergugat mengajukan kesimpulan bahwa KTUN yang telah dikeluarkan adalah sah.
6. Tahap Penjatuhan Putusan
Setelah penggugat dan tergugat mengemukakan kesimpulan, maka Hakim Ketua Sidang
menyatakan sidang ditunda, karena Majelis Hakim akan mengadakan musyawarah untuk
mengambil putusan (Pasal 97 ayat (2)). Putusan harus diucapkan dalam sidang yang terbuka
untuk umum (Pasal 108 ayat (1)), artinya siapapun dapat hadir untuk mendengarkan putusan
yang diucapkan. Sebagai akibat dari putusan yang diucapkan tidak dalam sidang yang
terbuka untuk umum, putusan tersebut tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum
(Pasai 108 ayat (3)). Disamping itu putusan harus dituangkan dalam bentuk tertulis.
Secara garis besar dalam Hukum Acara Tata Usaha Negara dikenal dua Jenis putusan,
yaitu:
a. Putusan yang bukan putusan akhir
Putusan yang bukan putusan akhir adalah putusan yang dijatuhkan oleh hakim sebelum
pemeriksaan sengketa TUN dinyatakan selesai, yang ditujukan untuk memungkinkan atau
mempermudah pelanjutan pemeriksaan sengketa TUN di sidang pengadilan. Mengenai
putusan yang bukan putusan akhir ini dapat dilihat dari beberapa ketentuan pasal, misalnya:

i.

Pasal 113 ayat (1) yang menyatakan bahwa: Putusan Pengadilan yang bukan putusan
akhir meskipun diucapkan dalam sidang, tidak dibuat sebagai putusan tersendiri melainkan
hanya dicantumkan dalam berita acara sidang.

ii.

Pasal 124 yang menyatakan bahwa: Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara yang bukan
putusan akhir hanya dapat dimohonkan pemeriksaan banding bersama-sama dengan putusan
akhir.

Dalam Hukum Acara Tata Usaha Negara, yang termasuk putusan yang bukan putusan
akhir, misalnya:
- Putusan Hakim Ketua Sidang yang memerintahkan kepada Penggugat atau Tergugat untuk
datang menhadap sendiri ke pemeriksaan sidang pengadilan, meskipun sudah diwakili oleh
seorang kuasa (Pasal 58);
- Putusan Hakim Ketua Sidang yang mengangkat seorang ahli alih bahasa atau seseorang yang
pandai bergaul dengan Penggugat atau saksi sebagai juru bahasa (Pasal 91 ayat (1) dan Pasal
92 ayat (1));
- Putusan Hakim Ketua Sidang yang menunjuk seseorang atau beberapa orang ahli atas
permintaan Penggugat dan Tergugat atau Penggugat atau Tergugatatau karena jabatannya
(Pasal 103 ayat (1));
- Putusan Hakim Ketua Sidang mengenai beban pembuktian (Pasal 107).
b. Putusan akhir
Putusan akhir adalah putusan yang dijatuhkan oleh hakim setelah pemeriksaan sengketa TUN
selesai yang mengakhiri sengketa tersebut pada tingkat pengadilan tertentu. Sebagaimana
dinyatakan dalam Pasal 97 ayat (7), diketahui bahwa putusan akhir dapat berupa:
1. Gugatan ditolak
Putusan yang berupa gugatan ditolak adalah putusan yang menyatakan bahwa KTUN yang
menimbulkan sengketa TUN adalah KTUN yang tidak dinyatakan batal atau dinyatakan sah.
2. Gugatan dikabulkan
Putusan yang berupa gugatan dikabulkan adalah putusan yang menyatakan bahwa KTUN
yang menimbulkan sengketa TUN adalah KTUN yang dinyatakan batal atau tidak sah. Dalam
hal gugatan dikabulkan maka dapat ditetapkan kewajiban yang harus dilakukan oleh tergugat
sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 97 ayat (9), berupa:
- pencabutan KTUN yang bersangkutan, atau

- pencabutan KTUN bersangkutan dan penerbitan KTUN yang baru, atau


- penerbitan KTUN baru.
Sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 97 ayat (10) bahwa kewajiban yang dilakukan oleh
Tergugat tersebut dapat disertai pembebanan ganti kerugian. Disamping pembebanan ganti
kerugian terhadap gugatan dikabulkan berkenaan dengan kepegawaian dapat juga disertai
rehabilitasi atau kompensasi.
- Ganti rugi adalah pembayaran sejumlah uang kepada orang atau badan hukum perdata atas
beban Badan Tata Usaha Negara berdasarkan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara karena
adanya kerugian materiil yang diderita oleh penggugat.
- Rehabilitasi adalah memulihkan hak penggugat dalam kemapuan dan kedudukan, harkat dan
martabatnya sebagai pegawai negeri seperti semula sebelum ada putusan mengenai KTUN
yang disengketakan.
- Kompensasi adalah pembayaran sejumlah uang berdasarkan keputusan Pengadilan Tata Usaha
Negara akibat dari rehabilitasi tidak dapat atau tidak sempurna dijalankan oleh Badan Tata
Usaha Negara.
3. Gugatan tidak dapat diterima
Putusan yang berupa gugatan tidak diterima adalah putusan yang menyatakan bahwa syaratsyarat yang telah ditentukan tidak dipenuhi oleh gugatan yang diajukan oleh penggugat.
4. Gugatan gugur
Putusan yang berupa gugatan gugur adalah putusan yang dijatuhkan hakim karena penggugat
tidak hadir dalam beberapa kali sidang, meskipun telah dipanggil dengan patut atau
penggugat telah meninggal dunia.
Terhadap putusan pengadilan tersebut, penggugat dan/atau tergugat dapat menentukan sikap
sebagai berikut:
a.

Menerima putusan pengadilan;

b.

Menolak Putusan

1. mengajukan permohonan pemeriksaan di tingkat banding, jika yang menjatuhkan putusan


adalah Pengadilan Tata Usaha Negara (Pasal 122)
2. mengajukan permohonan pemeriksaan di tingkat kasasi, jika yang menjatuhkan putusan
adalah Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara sebagai pengadilan tingkat pertama (Pasal 51
ayat (4)).
Pikir-pikir dalam tenggang waktu 14 hari setelah diberitahukan secara sah putusan
pengadilan, apakah menerima putusan pengadilan atau mengajukan permohonan pemeriksaan
di tingkat banding atau kasasi.

C. UPAYA HUKUM
a. Banding
Terhadap para pihak yang merasa tidak puas atas putusan yang diberikan pada tingkat
pertama (PTUN), berdasarkan ketentuan Pasal 122 terhadap putusan PTUN tersebut dapat
dimintakan pemeriksaan banding oleh Penggugat atau Tergugat kepada Pengadilan Tinggi
Tata Usaha Negara (PTTUN).
Permohonan pemeriksaan banding diajukan secara tertulis oleh pemohon atau kuasanya
yang khusus diberi kuasa untuk itu, kepada PTUN yang menjatuhkan putusan tersebut, dalam
tenggang waktu 14 (empat belas) hari setelah putusan diberitahukan kepada yang
bersangkutan secara patut.
Selanjutnya selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sesudah permohonan pemeriksaan
banding dicatat, Panitera memberitahukan kepada kedua belah pihak bahwa mereka dapat
melihat berkas perkara di Kantor Pengadilan Tata Usaha Negara yang bersangkutan dalam
tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari setelah mereka menerima pemberitahuan tersebut.
Para pihak dapat menyerahkan memori atau kontra memori banding, disertai surat-surat
dan bukti kepada Panitera Pengadilan Tata Usaha Negara yang bersangkutan, dengan
ketentuan bahwa salinan memori dan kontra memori banding diberikan kepada pihak lawan
dengan perantara Panitera Pengadilan (Pasal 126).
Pemeriksaan banding di Pengadilan Tinggi TUN dilakukan sekurang-kurangnya terdiri
dari 3 (tiga) orang hakim. Dalam hal Pengadilan Tinggi TUN berpendapat bahwa
pemeriksaan Pengadilan Tata Usaha Negara kurang lengkap, maka Pengadilan Tinggi
tersebut dapat mengadakan sendiri untuk pemeriksaan tambahan atau memerintahkan
Pengadilan Tata Usaha Negara yang bersangkutan untuk melaksanakan pemeriksaan
tambahan.
Setelah pemeriksaan di tingkat banding selesai dan telah diputus oleh Pengadilan Tinggi
TUN yang bersangkutan, maka Panitera Pengadilan Tinggi TUN yang bersangkutan, dalam
waktu 30 (tiga puluh) hari mengirimkan salinan putusan Pengadilan Tinggi tersebut beserta
surat-surat pemeriksaan dan surat-surat lain kepada Pengadilan TUN yang memutus dalam
pemeriksaan tingkat pertama, dan selanjutnya meneruskan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan (Pasal 127).
Mengenai pencabutan kembali suatu permohonan banding dapat dilakukan setiap saat
sebelum sengketa yang dimohonkan banding itu diputus oleh Pengadilan Tinggi TUN.
Setelah diadakannya pencabutan tersebut permohonan pemeriksaan banding tidak dapat

diajukan oleh yang bersangkutan, walaupun tenggang waktu untuk mengajukan permohonan
pemeriksaan banding belum lampau (Pasal 129).

b. Kasasi
Terhadap putusan pengadilan tingkat Banding dapat dilakukan upaya hukum Kasasi ke
Mahkamah Agung RI. Pemeriksaan ditingkat Kasasi diatur dalam pasal 131, yang
menyebutkan bahwa pemeriksaan tingkat terakhir di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
dapat dimohonkan pemeriksaan kasasi kepada Mahkamah Agung. Untuk acara pemeriksaan
ini dilakukan menurut ketentuan UU No.14 Tahun 1985 Jo. UU No. 5 Tahun 2004 tentang
Mahkamah Agung.
Menurut Pasal 55 ayat (1) UU Mahkamah Agung, pemeriksaan kasasi untuk perkara
yang diputus oleh Pengadilan dilingkungan Pengadilan Agama atau oleh pengadilan di
lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, dilakukan menurut ketentuan UU ini. Dengan
demikian sama halnya dengan ketiga peradilan yang lain, yaitu Peradilan Umum, Peradilan
Agama, dan Peradilan Militer, maka Peradilan Tata Usaha Negara juga berpuncak pada
Mahkamah Agung.
Untuk dapat mengajukan permohonan pemeriksaan di tingkat kasasi, Pasal 143 UU No
14 Tahun 1985 menentukan bahwa permohonan kasasi dapat diajukan jika pemohon terhadap
perkaranya telah menggunakan upaya hukum banding, kecuali ditentukan lain oleh undangundang.
Menurut Pasal 46 ayat (1) UU No 14 Tahun 1985, permohonan pemeriksaan di tingkat
kasasi harus diajukan dalam tenggang waktu 14 hari setelah putusan Pengadilan Tinggi Tata
Usaha Negara diberitahukan kepada pemohon. Apabila tenggang waktu 14 hari tersebut telah
lewat tanpa ada permohonan kasasi yang diajukan oleh pihak yang berperkara, maka menurut
Pasal 46 ayat (2) UU Nomor 14 Tahun 1985 ditentukan bahwa pihak yang berperkara
dianggap telah menerima putusan.
Mengingat pemberitahuan adanya putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara itu
dilakukan dengan menyampaikan salinan putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
dengan surat tercatat oleh Panitera kepada penggugat atau tergugat, maka perhitungan 14 hari
itu dimulai esok harinya setelah penggugat atau tergugat menerima surat tercatat yang dikirim
oleh Panitera yang isinya salinan putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara.

Alasan pengajuan kasasi sebagaimana tertuang dalam Pasal 30 ayat (1) UU No 14


Tahun 1985 jo UU No 5 Tahun 2004 yang menyatakan bahwa MA dalam tingkat kasasi
membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan
peradilan, karena:
i.

tidak berwenang atau melampaui batas wewenang;

ii.

salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku;

iii.

lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang


mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.
c. Peninjauan Kembali
Sementara itu apabila masih ada diantara para pihak masih belum puas terhadap
putusan Hakim Mahkamah Agung pada tingkat Kasasi, maka dapat ditempuh upaya hukum
luar biasa yaitu Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung RI. Pemeriksaan Peninjauan
Kembali diatur dalam pasal 132, yang menyebutkan bahwa :

Ayat (1) : Terhadap putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dapat
diajukan permohonan Peninjauan Kembali pada Mahkamah Agung.
Ayat (2) : Acara pemeriksaan Peninjauan Kembali ini dilakukan menurut ketentuan sebagaimana
yang dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.
Dengan mengikuti ketentuan yang terdapat dalam Pasal 67 UU No 14 Tahun 1985, dapat
diketahui bahwa permohonan peninjauan kembali terhadap putusan perkara sengketa TUN
yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, hanya dapat diajukan berdasarkan alasanalasan sebagai berikut:
1. Apabila putusan didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan yang
diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada bukti-bukti baru yang kemudian
oleh hakim pidana dinyatakan palsu;
2. Apabila perkara setelah diputus, ditemukan surat-surat bukti yang bersifat menentukan yang
pada waktu perkara diperiksa tidak dapat ditemukan;
3. Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih daripada yang dituntut;
4. Apabila mengenai sesuatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebabsebabnya;
5. Apabila antara pihak-pihak yang sama, mengenai suatu hal yang sama, atas dasar yang sama,
oleh pengadilan yang sama atau sama tingkatnya telah diberikan putusan yang bertentangan
satu dengan yang lain;

6. Apabila dalam suatu putusan terdapat suatu kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang
nyata.
BAB III
PENUTUP

Peradilan Tata Usaha Negara adalah Peradilan yang menyelenggarakan dan


menyelesaikan

sengketa

administrasi

negara

yang

menyangkut

fungsi

dalam

menyelenggarakan urusan pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah. Dimana Sengketa


Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara
orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik di pusat
maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk
sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Subyek dalam Peradilan Tata Usaha Negara sering disebut dengan para pihak, yaitu:
a. Penggugat
o Orang yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara
(KTUN);
o Badan Hukum Perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata
Usaha Negara (KTUN).
b. Tergugat
Sebagai jabatan TUN yang memiliki kewenangan pemerintahan, sehingga dapat
menjadi pihak Tergugat dalam Sengketa TUN dapat dikelompokkan menjadi:
a. Instansi resmi pemerintah yang berada di bawah Presiden sebagai Kepala eksekutif.
b. Instansi-instansi dalam lingkungan kekuasaan negara diluar lingkungan eksekutif yang
berdasarkan peraturan perundang-undangan, melaksanakan suatu urusan pemerintahan.
c. Badan-badan hukum privat yang didirikan dengan maksud untuk melaksanakan tugas-tugas
pemerintahan.
d. Instansi-instansi yang merupakan kerja sama antara pemerintahan dan pihak swasta yang
melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.
e. Lembaga-lembaga hukum swasta yang melaksanakan tugas-tugas pemerintahan (Siti Soetami,
2005: 5).
3. Obyek dalam Peradilan Tata Usaha Negara

Yang menjadi obyek dalam Peradilan Tata Usaha Negara adalah Keputusan Tata Usaha
Negara (KTUN.
Kekuasaan kehakiman dilingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dalam UU PTUN
dilaksanakan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
yang berpuncak pada Mahkamah Agung. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara pada
dasamya merupakan pengadilan tingkat banding terhadap sengketa yang telah diputus oleh
Pengadilan Tata Usaha Negara, kecuali dalam sengketa kewenangan mengadili antar
Pengadilan Tata Usaha Negara di daerah hukumnya serta sengketa yang terhadapnya telah
digunakan upaya administratif. Adapun hukum acara yang digunakan pada Peradilan Tata
Usaha Negara mempunyai persamaan dengan hukum acara yang digunakan pada Peradilan
Umum untuk perkara Perdata, dengan perbedaan dimana Peradilan Tata Usaha Negara Hakim
berperan lebih aktif dalam proses persidangan guna memperoleh kebenaran materiil dan tidak
seperti dalam kasus gugatan perdata, gugatan TUN bukan berarti menunda dilaksanakannya
suatu KTUN yang disengketakan.

DAFTAR PUSTAKA

Amrah Muslimin, 1985, Beberapa Asas dan Pengertian Pokok tentang Administrasi dan Hukum
Administrasi, Alumni, Bandung
Indroharto, 1993, Usaha Memahami Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara
(Buku II), Sinar Harapan, Jakarta.
________, 1988, Peradilan Tata Usaha Negara, Liberty, Yogyakarta.
Siti Soetami, A, 2005, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, PT Refika Aditama, Jakarta.
_______, UU No. 05 tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara , http://www.ptunjakarta.go.id/index.php?option= com_content&task=v iew&id=32&Itemid= 41
________, UU No. 09 tahun 2004 Tetang Perubahan atas UU No. 05 tahun 1986 tentang
Peradilan

Tata

Usaha

Negara,http://www.ptun-jakarta.go.id/index.php?

option=com_content&task=view&id=32&Itemid= 41
_________, UU No. 03 Tahun 2009Tetang Perubahan Kedua atas UU No. 09 tahun 2004
TetangPeradilan

Tata

Usaha

Negara,http://www.ptun-jakarta.go.id/index.php?

option=com_content&task=view&id=32&Itemid= 41

subjek dan objek hukum pada PTUN


Bab 1
Pendahuluan
1. Latar Belakan Masalah
Ketentuan normatif mengenai sengketa Tata Usaha Negara di atur dalam Pasal 1 butir 4
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986. Pasal tersebut memberikan batasan pengertian sengketa
Tata Usaha Negara, yaitu sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang atau
badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat TUN, baik di pusat maupun di daerah, sebagai
akibat dikeluarnya Keputusan TUN, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
2. Rumusan Masalah
a.

Apa saja subjek dan Objek dalam Pengadilan Tata Usaha Negara?

b. Apa contohnya dan berikan analisanya?

Bab II
Pembahasan
Subjek dan Objek dalam Pengadilan Tata Usaha Negara.
A. Subjek PTUN
Yang menjadi subjek dalam Pengadilan Tata Usaha Negara ialah:
1. Penggugat
Penggugat adalah :
a.

Orang yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan Tata Usaha Negara.

b. Badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan Tata Usaha
Negara.
Jadi , pada pemeriksaan disidang pengadilan di lingkungan PTUN tidak dimungkinkan badan
atau pejabat, bertindak sebagai penggugat.
Dalam kepustakaan hukum Tata Usaha Negara yang ditulis sebelum berlakunya Undangundang No. 5 tahun 1986, masih dimungkinkan badan atau pejabat Tata Usaha Negara bertindak
sebagai penggugat[1]. Tetapi setelah berlakunya Undang-undang No. 5 tahun 1986 , hal tersebut
sudah tidak dimungkinkan lagi.
Hanya saja untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ada yang mempunyai pendapat,
bahwa BUMN dapat juga bertindak sebagai penggugat dalam sengketa Tata Usaha Negara, khusus
tentang sertifikat tanah, karena dasar hak dari gugatan adalah keperdataan dari BUMN tersebut[2].
Disini BUMN tidak bertindak sebagai Badan Tata Usaha Negara, tetapi sebagai Badan Hukum
Perdata.
Oleh karena unsur kepentingan ada ketentuan yang terdapat dalam pasal 53 ayat 1 sangat
penting dan menentukan agar seseorang atau bada hukum perdata dapat bertindak sebagai penggugat,
maka perlu terlebih dahulu diketahui apa yang dimaksud dengan Kepentingan pada ketentuan
tersebut.
Menurut INDROHARTO, pengertian kepentigan dalam kaitannya dengan hukum acara tata
usaha Negara itu mengandung arti , yaitu :
a.

Menunjuk kepada nilai yang harus dilindungi oleh hukum.

b. Kepentingan proses, artinya apa yang hendak dicapai dengan melakukan suatu proses gugatan yang
bersangkutan. [3]
Selanjutnya oleh Indroharto dikemukakan bahwa nilai yang harus dilindungi oleh hukum
tersebut ditentukan oleh factor-faktor sebagai berikut :
a.

Kepentingan dalam kaitannya yang berhak menggugat


Atas dasar yurisprudensi peradilan perdata yang ada sampai sekarang, kepentuingan yang harus
dilindungi oleh hukum iyu baru ada, jika kepentingan tersebut jelas;

1. Ada hubungannya dengan penggugat sendiri.


2. Kepentingannya harus bersifat pribadi
3. Kepentingan itu harus bersifat langsung
4. Kepentingan itu sejara objektif dapat ditentukan, baik mengenai luas maupun intensitasnya.
b. Kepentingan dalam hubungannya dengan keputusan tata usaha Negara yang bersangkutan.
Indroharto juga mengemukakan bahwa tujuan yang hendak dicapai dengan berproses adalah
terlepas dari kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum. Jadi barang siapa menggunakan haknya
untuk berproses itu dianggap ada maksudnya. Berproses yang tidak memiliki tujuan apa-apa harus
dihindarkan.

2. Tergugat
Yang disebtu dengan tergugat adalah badan atau pejabat Tata Usaha Negara yang
mengluarkan keputusan berdasarkan wewenang yang ada padanya, atau yang dilimpahkan kepadanya
yang digugat oleh orang atau badan hukukm perdata.
Dari ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam pasal 1 angkan 6 tersebut dapat diketahui
bahwa sebagai tergugat dibedakan antara :
a.

Badan Tata suaha Negara yang mengeluarkan keputusan Tata Usaha Negara berdasarkan wewenang
yang ada padanya atau yang dilimpahkan kepadanya yang digugat oleh orang atau badan hukum
perdata.
Disini sebagai tergugat adalah jabatan pada badan Tata usaha Negara yang mengeluarkan
keputusan Tata Usaha Negara berdasarkan wewenang dari Badan Tata Usaha Negara tersebut atau
wewenang yang dilimpahkan padanya.
Badan tata usaha Negara sendiri tidak mungkin dapat mengeluarkan keputusan tata usaha
Negara. Yang dapat mengeluarkan keputusan tata usaha Negara adalah jabatan pada tata usaha Negara
yang dalam kegiatanya sehari-hari dilakukan oleh pemangku jabatan yang merupakan personifikasi
dari jabatan pada badan tata usaha Negara tersebut. Sebagai salah stu contoh adalah badan
pertimbangan kepegawaian yaitu badan yang termasuk lembaga ekstra structural yang bertanggung
jawab kepada presiden[4]

b. Pejabat atau Tata Usaha Negara yang mengeluarkan keputusan Tata Usaha Negara berdasarkan
wewenang yang ada padanya atau dilimpahkan kepadanya yang digugat oleh orang.
Disini sebagai tergugat adalah jabatan Tata Usaha Negara yag mengeluarkan keputusan Tata
usaha Negara berdasarkan wewenangnya atau yang dilimpahkan kepadanya.
Oleh undang-undang no 5 tahun 1986 istilah jabatan tersebut disebut dengan pejabat ,
yang akibatnya dapat menyesatkan, karena pejabat adalah sama dengan pemangku jabatan. Akan
tetapi meskipun demikian istilah pejabat tetap kami pergunakan karna undang-undang no 5 tahun
1986 memang mempergunakan istilah tersebut.

Jadi sebenarnya yang menjadi tergugat di dalam sengketa tata usaha Negara ialah jabatan tata
usaha Negara dan bukan pejabat tata usaha Negara.

B. Objek PTUN

Berdasarkan ketentuan Pasal 53 ayat (1) jo Pasal 1 angka 4 jo Pasal 3 UU no. 5 tahun
1986, dapat disimpulkan yang dapat menjadi objek gugatan dalam sengketa Tata Usaha Negara
adalah:
1. Keputusan Tata Usaha Negara
Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh
badan atau pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara yang
berdasarkan peraturan peraturan perundang-undangan berlaku, yang bersifat konkret, individual,
dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.[5]
Istilah penetapan tertulis terutama menunjuk kepada isi dan bukan kepada bentuk
keputusan yangbdikeluarkan oleh badan atau pejabat Tata Usaha Negara. Keputusan itu
diharuskan tertulis, namun yang disyaratkan tertulis bukan bentuk formalnya seperti surat
keputusan pengakuan dan sebagainya. Persyaratan tertulis itu diharuskan untuk kemudahan bagi
pembuktian. Oleh karena itu sebuah memo atau nota dapat memenuhi syarat tertulis tersebut dan
akan merupakan suatu keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara menurut UndangUndang ini apabila sudah jelas.
2. Penetapan norma-norma hukum secara bertingkat
Setiap perbuatan hukum badan atau Pejabat tata Usaha Negara itu selalu merupakan
penentuan norma-norma hukum.
Didalam Tata Usaha Negara itu sering terjadi penentuan norma-norma hukum secra
bertingkat dalam dua atau lebih fase-fase. Sebab pengaturan suatu bidang kehidupan itu dalam
kenyataannya tidak cukup dilakukan dengan penentuan normanya oleh suatu Undang-undang
saja, tetapi sering merupakan kombinasi dari peraturan-peraturan yang bertingkat dan satu dengan
yang lain berkaitan.
Sebagaimana kita lihat di awal, maka masing-masing bentuk perikatan administrasi itu
mengandung norma-norma yang ada kalanya bersifat umum, dan adakalanya bersifat sangat
konkret seperti pada keputusan IMB.[6]

3. Penetapan tertulis (Beschikking)


Penetapan tertulis inilah yang merupakan satu-satunya obyek kompetensi dalam
Peradilan TUN. Penetapan tertulis merupakan keputusan administrasi yang bersifat sepihak.
Sebagai salah satu bentuk perbuatan hukum administrasi penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh
Badan Atau Pejabat adminstrasi juga bersifat sepihak. [7]
C. Contoh Kasus dan anilisisnya.
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta menolak guga-tan Direktur PT Genta Pranata
yang diwakili direkturnya Drs Dolok F Sirait terhadap Kepala BPN (tergugat I), Kepala Kantor
Pertanahan Bogor (tergugat II) dan PT Buana Estate selaku tergugat II intervensi.
Dolok Sirait selaku penggugat I dan HM Sukandi penggugat II yang diwakili kuasa hukumnya Denny Kailimang menggugat Surat Keputusan Kepala BPN Nomor 9/HGU/ BPN/2006 tentang
Pemberian Jangka Waktu HGU atas tanah yang terletak di desa Hambalang, Keca-matan Citeureup,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Dalam penjelasannya kepada wartawan, kemarin, kuasa tergugat II intervensi Drs Anim Sanjoyo Romansyah mengatakan, sejak awal pihaknya yakin akan dimenangkan PTUN dalam gugatan
tersebut karena berada dalam posisi yang benar. Terbukti, PTUN menolak gugatan pihak penggugat,
katanya menanggapi putusan PTUN Jakarta, Kamis lalu.
Adapun obyek gugatan dalam perkara tersebut adalah SK Kepala BPN No 9/HGU/BPN/2006
tentang Pemberian Jangka Waktu HGU atas tanah yang terletak di Kabu-paten Bogor atas na-ma PT
Buana Estate yang diterbitkan tergugat 1 Juni 2006. Sertifikat HGU No 149/Ham-balang atas nama
PT Buana Estate yang diterbitkan oleh tergugat II pada 15 Juni 2006 atas tanah seluas 4.486.975 M2.
Dalam gugatannya, penggugat menyatakan selaku pemilik/pemegang hak atas tanah seluas
2.117.500 meter persegi yang terletak di desa Hambalang, termasuk dalam bagian tanah ob-yek Surat
keputusan N0 9/HGU/BPN 2006 tentang Jangka Waktu HGU atas tanah yang ter-letak di Kabupaten
Bogor atas nama PT Buana Estate.
Penggugat juga menyatakan pihak paling yang berhak atas tanah seluas 211,75 Ha karena telah memiliki/menguasai tanah tersebut dari penguasaan penggarap yang telah menguasai dan
menggarap lokasi tanah tersebut sejak sekitar tahun 1960.
Namun majelis hakim yang diketuai oleh Kadar Slamet menyatakan penerbitan HGU PT Buana Estate telah sesuai dengan prosedur, demikian juga penerbitan sertifikat tidak cacat hu-kum.
Majelis hakim juga tidak menemukan fakta-fakta penelantaran lahan oleh PT Buana Estate. Atas dasar
tersebut majelis hakim menolak gugatan penggugat.

Majelis hakim juga menghukum penggugat untuk membayar biaya perkara dan diberi waktu
14 hari untuk menentukan apakah banding atau menerima putusan tersebut.
Para pihak dalam kasus ini yaitu:
1. Direktur PT Genta Pranata sebagai penggugat I yang diwakili direkturnya Drs Dolok F Sirait
2. HM Sukandi sebagai penggugat II yang diwakili kuasa hukumnya Denny Kailimang
Melawan
1. Kepala BPN sebagai tergugat I
2. Kepala Kantor Pertanahan Bogor sebagai tergugat II
3. PT Buana Estate sebagai tergugat II intervensi.

Bab III
Kesimpulan
1. Subjek dalam PTUN yaitu :
a.

Penggugat

b. Tergugat
2. Objek dalam PTUN Yaitu :
a.

Keputusan Tata Usaha Negara

b. Penetapan norma-norma hukum secara bertingkat


c.

Penetapan tertulis (Beschikking)

[1] Sjachran Basah, Eksistensi dan Tolak Ukur Badan Peradilan Administrasi di

Indopnesia,Bandung, Cetakan 1, 1985, hal. 46.


[2] Rumusan kesimpulan hasil ceramah / diskusi tentang perbandingan pradilan administrasi

perancis dan peradilan tata usaha Negara Indonesia. Gema peratun, tahun 1997, hal. 93.
[3] Indroharto, Usaha Memahami Undang-undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara,Buku

II, Pustaka sinar Harapan, Jakarta, cetakan 4, 1993, Hal. 38-40.


[4]System administrasi Negara republik Indonesia, jilid 1, took gunung agung, Jakarta 1997, hal.

81.
[5] R. Soegijatno Tjakranegara, S.H, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara di

Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2002, hal. 88.


[6] Ibid Hal. 92

[7] R.Wiryono, S.H, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Edisi Dua, Sinar Grafika,

Jakarta, Juli 2009, Hal.17.

BAB I
NEGARA HUKUM DAN PERADILAN ADMINISTRASI
A. Negara Hukum
Negara hukum menghendaki segala tindakan atau perbuatan penguasa mempunyai dasar hukum yang jelas atau
ada legalitasnya baik berdasarkan hukum tertulismaupun berdasarkan hukum tidak tertulis. Negara hukum pada
dasarnya tertuma bertujuan untuk memberikan perlindungan hukum bagi rakyat. Menurut Philipus M. Hadjon
bahwa perlindungan hukum bagi rakyat terhadap tindakan pemerintahan dilandasi oleh dua prinsip, prinsip
HAM dan Prinsip Negara Hukum. Menurut Philipus M. Hadjon Negara hukum hanya 3 macam konsep yaitu
rechtsstaat, the rule of law, dan Pancasila.
M. Tahir Azhari Negara hukum ada 5 konsep yaitu:
1. Nomokrasi Islam: konsep Negara hukum yang pada umumnya diterapkan di Negara-negara Islam.
2. rechtsstaat: konsep Negara yang diterapkan di Negara-negara Eropa Kontinental, misalnya: Belanda, Jerman,
Prancis.
3. Rule of Law: Konsep Negara yang di terapkan di Negara Aglo Saxon, Misal: Inggris, Amerika Serikat.
4. Socialist Legality: Konsep Negara hukum yang diterpkan di Negara komunitas.
5. Konsep Negara hukum Pancasila adalah konsep Negara hukum yang diterapkan di Indonesia. Salah satu cirriciri pokok dalam Negara hukum Pancasila ialah adanya jaminan terhadap fredoom of religion atau kebebasan
beragama, Tetapi kebebasan beragama di Negara hukum Pancasila selalu dalam konotasi yang positif, artinya
tiada tempat bagi ateisme atau propaganda anti agama di Bumi di Indonesia.
B. Negara Hukum Pancasila dan Peradilan Administrasi
Dasar peradilan dalam UUD 45 dapat ditemukan dalam pasal 24. Sebagai pelaksanaan dalam pasal 24 UUd
1945, dikeluarkanlah UU No. 14 tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan
kehakiman.kekuasan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan:
1. Peradilan Umum
2. Peradilan Agama
3. Peradilan militer
4. Peradilan Tata Usaha Negara
Dengan berlakunya UU No. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang berdasarkan Pasal 144
dapat disebut UU peradilan Administrasi Negara, maka dewasa ini perlindungan hukum terhadap warga
masyarakat atas perbuatan yang dilakukan oleh penguasa dapat dilakukan melalui badan yakni:
a. Badan Tata Usaha Negara, dengan melalui upaya administrative.
b. Peradilan Tata Usaha Negara, Berdasarkan UU No. 5 tahun 1986 tentang PTUN.
c. Peradilan Umum, melalui Pasal 1365 KUHPer.

BAB II
PENGERTIAN, ASAS-ASAS, DAN KOMPETENSI PTUN

A. Pengertian
Menurut Rozali Abdullah, hukum acara PTUN adalah rangkaian perturan-peraturan yang memuat cara
bagaimana orang harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan Tata Usaha Negara.
Pengaturan terhadap hukum formal dapat digolongkan menjadi dua bagian, Yaitu:
1. Ketentuan prosedur berperkara diatur bersama-sama dengan hukum materiilnya peradilan dalam bentuk UU
atau perturan lainnya.
2. Ketentuan prosedur berperkara diaturtersendiri masing-masing dalam bentuk UU atau bentuk peraturan
lainnya.
Hukum acara PTUN dalam UU PTUN dimuat dalam Pasal 53 samapai dengan pasal 141. UU PTUN terdiri atas
145 pasal. Dengan demikian komposisi hukum materiil dan hukum formilnya adalah hukum materiil swebanyak
56 pasal, sedangkan hukum materiil sebanyak 89 pasal.
B. Asas Hukum Acara PTUN
Menurut Scholten memberikan definisi asas hukum adalah pikiran-pikiran dasar yang terdapat didalam dan di
belakang system hukum masing-masing dirumuskan dalam aturan-aturan perundang-undangan dan putusanputusan hakim,yang berkenaan dengannya ketentuan-ketentuan dan keputusan-keputusan individual dapat
dipandang sebagai penjabarannya.
Asas Hukum PTUN
1. Asas praduga Rechtmating ( Vermoeden van rechtmatigheid, prasumptio iustae causa). Ini terdapat pada pasal
67ayat 1UU PTUN.
2. Asas gugatan pada dasarnya tidak dapat menunda pelaksanaan KTUN yang dipersengketakan, kecuali ada
kepentingan yang mendesak dari penggugat. Terdapat pada pasal 67ayat 1dan ayat 4 huruf a.
3. Asas para pihak harus didengar (audi et alteram partem)
4. Asas kesatuan beracara dalam perkara sejenis baik dalam pemeriksaan di peradilan judex facti, maupun kasasi
dengan MA sebagai Puncaknya.
5. Asas penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan bebas dari segala macam campur tangan
kekuasaan yang lain baik secara langsung dan tidak langsung bermaksud untuk mempengaruhi keobyektifan
putusan peradilan. Pasalb 24 UUD 1945 jo pasal 4 4 UU 14/1970.
6. Asas peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan ringan ( pasal 4 UU 14/1970).
7. Asas hakim aktif. Sebelum dilakukan pemeriksaan terhadap pokok sengketa hakim mengadakan rapat
permusyawaratn untuk menertapakan apakah gugatan dinyatakan tidak diterima atau tidak berdasar atau
dilengkapi dengan pertimbangan (pasal 62 UU PTUN), dan pemeriksaan persiapan untuk mengetahui apakah
gugatan penggugat kurang jelas, sehingga penggugat perlu untuk melengkapinya (pasal 63 UU PTUN).
8. Asas siding terbuka untuk umum. Asas inimembawa konsekuensi bahwa semua putusan pengadilan hanya sah
dan mempunyai kekuatan hukum apabila di ucapkan dalam siding terbuka untuk umum (pasal 17 dan pasal 18
UU 14/1970 jo pasal 70 UU PTUN).
9. Asas peradilan berjenjang. Jenjang peradilan di mulai dari tingkat yang paling bawah yaitu Pengadilan Tata
Usaha Negara, kemudian Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, dan puncaknya adalah Mahkamah Agung.
10. Asas pengadilan sebagai upaya terakhir untuk mendapatkan keadilan. Asas ini menempatkan pengadilan

sebagai ultimatum remedium. ( pasal 48 UU PTUN).


11. Asas Obyektivitas. Untuk tercapainya putusan yang adil, maka hakim atau panitera wajib mengundurkan
diri, apabila terikat hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga atau hubngan suami atau
istri meskipun telah bercerai dengan tergugat, penggugat atau penasihat hukum atau antara hakim dengan salah
seorang hakim atau panitera juga terdapat hubungan sebagaimana yang di sebutkan di atas, atau hakim atau
paniteratersebut mempunyai kepentingan langsung dan tidak langsung dengan sengketanya. (pasal 78 dan pasal
79 UU PTUN).

C. Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara


Kompetensi dari suatu pengadilan untuk memeriksa, mengadili, dan memutuskan suatu perkara berkaitan
dengan jenis dan tingkatan pengadilan yang ada berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Cara untuk dapat mengetahui Kompetensi suatu pengadilan:
1. Dapat dilihat dari pokok sengketanya (geschilpunt, fundamentum petendi)
2. Dengan melakukan pembedaan atas atribusi (absolute competentie atau attributie van rechtmacht) dan
delegasi (relatieve competentie atau distributie van rechtsmacht).
3. Dengan melakukan pembedaan atas kompetensi absolute dan kompetensi relatif.

BAB II
Persamaan dan Perbedaan Hukum Acara PTUN dengan Hukum Acara Perdata.
A. Persamaan Antara Hukum Acara Pengadilan TUN dengan Hukum acara Perdata
1. Pengajuan gugatan.
Pengajuan gugatan menurut hukum acara PTUN di atur dalam Pasal 54 UU PTUN, Hukum acara perdata di atur
dalam pasal 118 HIR. Berdasarkan itu bahwa gugatan sama-sama diajukan ke pengadilan yang daerah
hukumnya meliputi tempat tinggal tergugat.
2. Isi Gugatan
Isi gugatan hukum acara PTUN diatur dalam pasal 56 UU PTUN, dan Hukum acara perdata diatur dalam pasal
8 Nomor 3 Rv.
Isi gugatan terdiri dari yaitu:
a. Identitas para pihak
b. Posita
c. Petitum
3. Pendaftaran Perkara
Pendaftaran perkara Hukum acara PTUN diatur dalam Pasal 59 UU PTUN, dan Hukum acara Perdata pada
pasal 121 HIR. Persamaannya adalah penggugat membayar uang muka biaya perkara, gugatan kemudian
kemudian di daftarkan panitera dalam buku daftar perkara. Bagi penggugat yang tidak mampu boleh tidak untuk

membayar uang muka biaya perkara, dengan syarat membawa surat keterangan tidak mampu dari kepala desa
atau lurah setempat (pasal 60 UU PTUN dan Pasal 237 HIR).
4. Penetapan Sidang
Penetapan hari siding di atur dalam pasal 59 ayat 3 dan pasal 64 UU PTUN, Hukum Acara perdata pada pasal
122 HIR. Setelah di daftarkan dalam buku daftar perkara maka hakim menentukan hari, jam, tempat
persidangan, dan pemanggilan para pihak untuk hadir. Dan hakim harus sudah menentukan selambat-lambatnya
30 hari setelah gugatan terdaftar.

5. Pemanggilan Para Pihak


Pemanggilan para pihak menurut hukum acara PTUN diatur dalam pasal 65 dan 66 UU PTUN, sedangkan
hukum acara perdata diatur dalam pasal 121 ayat 1 HIR dan pasal 390 ayat 1 dan pasal 126 HIR. Dalam Hukum
acara TUN jangka waktu antara pemanggilan dan hari siding tidak boleh kurang dari 6 hari, kecuali sengketanya
tersebut diperiksa dengan acara cepat. Panggilan dikirim dengan surat tercatat.
6. Pemberian Kekuasaan
Pemberian kekuasaan terhadap kedua belah pihak menurut hukum acara PTUN diatur dalam pasal 57 UU
PTUN, hukum acara perdata diatur dalam pasal 123 ayat 1 HIR. Pemberian kuasa dialkukan sebelumperkara
diperiksa harus secara tertulis dengan membuat surat kuasa khusus. Dengan ini si penerima kuasa bisa
melakukan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan jalannya pemeriksaan perkara untuk dan atas nama si
pemberi kuasa.
7. Hakim Majelis
Pemerisaan perkara dalam hukum acara PTUN dan acara perdata dilakukan dengan hakim majelis (3 orang
hakim), yang terdiri atas satu orang bertindak selaku hakim ketua dan dua orang lagi bertindak selaku hakim
anggota (pasal 68 UU PTUN).
8. Persidangan Terbuka untuk Umum
Ketentuan ini diatur dalam pasal 70 ayat 1 UU PTUN, sedangkan hukum acara perdata diatur dalam pasal 179
ayat 1 HIR. Setiap orang dapat untuk hadir dan mendengarkan jalannya pemeriksaan perkara tersebut. Apabila
hakim menyatakan sidang yang tidak dinyatakan terbuka untuk umum berarti putusan itu tidak sah dan tidak
mempunyai kekuatan hukum serta mengakibatkan batalnya putusan itu menurut hukum, kecuali hakim
memandang bahwa perkara tersebut manyangkut ketertiban umum, keselamatan Negara, atau alasan-alasan
lainnya yang di muat dalam berita acara.
9. Mendengar Kedua Belah Pihak
Dalam pasal 5 ayat 1 UU 14/1970 disebutkan bahwa pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak
membedakan orang. Hakim boleh mengangkat orang-orang sebagai juru bahasa, juru tulis, dan juru alih bahasa
demi kelancaran jalannya persidangan.

10. Pencabutan dan Perubahan Gugatan


Penggugat dapat sewaktu-waktu mencabut gugatannya, sebelum tergugat memberikan jawaban. apabila sudah
memberikan jawabannya yang di ajukan penggugat maka akan dikabulkan oleh hakim (pasal 76 UU PTUN dan

pasal 271 Rv). Dalam hukum acara perdata berdasarkan pasal 127Rv, perubahan dapat dilakukan sepanjang
tidak mengubah atau menambahkan petitum.
11. Hak Ingkar
Untuk tercapainya putusan yang adil, maka hakim atau panitera wajib mengundurkan diri, apabila terikat
hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga atau hubngan suami atau istri meskipun telah
bercerai dengan tergugat, penggugat atau penasihat hukum atau antara hakim dengan salah seorang hakim atau
panitera juga terdapat hubungan sebagaimana yang di sebutkan di atas, atau hakim atau paniteratersebut
mempunyai kepentingan langsung dan tidak langsung dengan sengketanya (pasal 78 dan pasal 79 UU PTUN).
12. Pengikutsertaan Pihak Ketiga
Ketentuan ini diatur dalam pasal 83 UU PTUN. Pihak hadir selama pemeriksaan perkara berjalanbaik atas
prakarsa dengan mengajukan permohonan maupunatas prakarsa hakim dapat masuk sebagai pihak
ketiga(intervenient) yang membela kepentingannya. Karena pangkal sengketa atau obyek sengketa TUN adalah
KTUN, maka masuknya pihak ketiga ke dalam sengketa tersebut tetap harus memperhatikan kedudukan para
pihak.
13. Pembuktian
Penggugat terlebih dahulu memberikan pembuktian, lalu kewajiban tergugat untuk membuktikan adalah dalam
rangka membantah bukti yang di ajukan oleh penggugat dengan mengajukan bukti yang lebih kuat(pasal 100
sampai dengan pasal 107 UU PTUN dan pasal 163 dan 164 HIR. Yang di buktikan peristiwanya bukan
hukumnya karena ex offocio hakim dianggap tahu tentang hukumnya( ius curia novit).
14. Pelaksanaan Putusan Pengadilan
Ketentuan ini diatur dalam pasal 115 UU PTUNdan pasal 116 UU PTUN dan pasal 195 HIR. Apabila yang
dikalahkan tidak mau secara suka rela memenuhi isi putusan yang dijatuhkan, maka pihak yang dimenangkan
dapat mengajukan permohonan pelaksanaan putusan kepada pengadilan yang menjatuhkan putusan itu dalam
tingkat pertama ( pasal 116 UU PTUN dan Pasal 196 dan pasal 197 HIR.
15. Juru Sita
Ketentuan ini pada pasal 33 ayat 3 UU No. 14 Tahun 1970 tentang ketentuan pokok kekuasaan kehakiman
(UUKPKK-70), makahanya mengatur tugas jurusita perkara perdata, yang menyebutkan bahwa pelaksanaan
keputusan pengadilan dalam perkara perdata dilakukan oleh panitera dan juru sita dipimpin oleh ketua
pengadilan.
B. Perbedaan Antara Hukum Acara PTUN dengan Hukum Acara Perdata
1. Obyek Gugatan
Objek gugatan TUN adalah KTUN yang mengandung perbuatan onrechtsmatingoverheid daad (perbuatan
melawan hukum yang dilakukan oleh penguasa. Hukum acara perdata adalah onrechtmating daad (perbuatan
melawan hukum)
2. Kedudukan Para Pihak
Kedudukan para pihak dalam sengketa TUN, selalu menempatkan seseorang atau badan hukum perdata sebagai
pihk tergugat dan badan atau pejabat TUN sebagai pihak tergugat. Pada hukum acara perdata para pihak tidakn
terikat pada kedudukan.
3. Gugat Rekonvensi
Dalam hukum acara perdata dikenal dengan gugat rekonvensi (gugat balik), yang artinya gugatan yang diajukan

oleh tergugat terhadap penggugat dalam sengketa yang sedang berjalan antar mereka.
4. Tenggang Waktu Pengajuan Gugatan
Dalam hukum acara TUN pengajuan gugatan dapat dilakukan dalam tenggang waktu 90 Hari.
5. Tuntutan Gugatan
Dalam hukum acara perdata boleh dikatakan selalu tuntutan pokok itu (petitum primair) disertai dengan tuntutan
pengganti atau petitum subsidiar. Dalam hukum acara PTUN hanya dikenal satu macam tuntutan poko yang
berupa tuntutan agar KTUN yang digugat itu dinyatakan batal atau tidak sah atau tuntutan agar KTUN yang
dimohonkan oleh penggugat dikeluarkan oleh tergugat.

6. Rapat Permusyawaratan
Dalam hukum acara perdata tidak dikenal Rapat permusyawaratan. Dalam hukum acara PTUN, ketentuan ini
diatur pasal 62 UU PTUN.
7. Pemeriksaan Persiapan
Dalam hukum acara PTUN juga dikenal Pemeriksaan persiapan yang juga tidak dikenal dalam hukum acara
perdata. Dalam pemeriksaan persiapan hakim wajib member nasehat kepada pengugat untuk memperbaiki
gugatan dalam jangka waktu 30 hari dan hakim memberi penjelasan kepada badan hukum atau pejabat yang
bersangkutan.
8. Putusan Verstek
Kata verstek berarti bahwa pernyataan tergugat tidak dating pada hari sidang pertama. Apabila verstek terjadi
maka putusan yang dijatuhkan oleh hakim tanpa kehadiran dari pihak tergugat. Ini terjadi karena tergugat tidak
diketahui tempat tinggalnya. PTUN tidak mengenal Verstek.
9. Pemeriksaan Cepat
Dalam hukum acara PTUN terdapat pada pasal 98 dan 99 UU PTUN, pemeriksaan ini tidak dikenal pada hukum
acara perdata. Pemerikasaan cepat dilakukan karena kepentingan penggugat sangat mendesak, apabila
kepentingan itu menyangkut KTUN yang berisikan misalnya perintah pembongkaran bangunan atau rumah
yang ditempati penggugat.
10. Sistem Hukum Pembuktian
Sistem pembuktian vrij bewijsleer) dalam hukum acara perdata dilakukan dalam rangka memperoleh kebenaran
formal, sedangkan dalam hukum acara PTUN dilakukan dalam rangka memperoleh kebenaran materiil (pasal
107 UU PTUN).
11. Sifat Ega Omnesnya Putusan Pengadilan
Artinya berlaku untuk siapa saja dan tidaka hanya terbatas berlakunya bagi pihak-pihak yang berperkara, sama
halnya dalam hukum acara perdata.
12. Pelaksanaan serta Merta (executie bij voorraad)
Dalam hukum acara PTUN tidak dikenal pelaksanaan serta merta sebagaimana yang dikenaldalam hukum acara
perdata. Ini terdapat pada pasal 115 UU PTUN.

13. Upaya pemaksa Agar Putusan Dilaksanakan

Dalam hukum acara perdata apabila pihak yang dikalahkan tidak mau melaksanakan putusan secara sukarela,
maka dikenal dengan upaya emaksa agar putusan tersebut dilaksanakan. Dalam hukum acara PTUN tidak di
kenal karena bukan menghukum sebagaimana hakikat putusan dalam hukum acara perdata. Hakikat hukum
acara PTUN adalah untuk membatalkan KTUN yang telah dikeluarkan.
14. Kedudukan Pengadilan Tinggi
Alam hukum acara perdata kedudukan pebgadilan tinggi selalu sebagai pengadilan tingkat banding, sehingga
tiap perkara tidak dapat langsung diperiksa oleh pengadilan tinggi tetapi harus terlebih dahulu melalui
pengadilan tingkat pertama (pengadilan Negeri). Dalam hukum acara PTUN kedudukan pengadilan tinggi dapat
sebagai pengadilan tingkat pertama.
15. Hakim Ad Hoc
Hakim Ad Hoc tidak dikenal dalam hukum acara perdata, apabila diperlukan keterangan ahli dalam bidang
tertentu, hakim cukup mendengarkan keterangan dari saksi ahli. Dalam hukum acara PTUN diatur pasal 135 UU
PTUN. Apabila memerlukan keahlian khusus maka ketua pengadilan dapat menujuk seorang hakim Ad Hoc
sebagai anggota majelis.

BAB IV
Penyelesaian Sengketa Tata Usaha Negara
A. Pangkal Sengketa
Pangkal sengketa tata usaha negara dapat diketahui dengan menentukan apa yang menjadi tolak ukur sengketa
tata usaha negara. Tolak ukur sengketa tata usaha negara adalah tolak ukur subyek dan pangkal sengketa. Tolak
ukur subyek adalah para pihak yang bersengketa dalam hukum administrasi negara (tata usaha negara). Tolak
ukur pangkal sengketa adalah sengketa administrasi yang diakibatkan oleh ketetapan sebagai hasil perbuatan
administrasi negara.
Sengketa administrasi (pasal 1 angka 4 UU PTUN) dibedakan menjadi 2 yaitu:
1. Sengketa Intern
Sengketa intern adalah menyangkut persoalan kewenangan pejabat TUN yang disengketakan dalam satu
departemen (instansi), atau kewenangan suatu departemen (instansi) terhadap departemen lainnya yang
disebabkan tumpang tindih kewenangan, sehingga menimbulkan kekaburan kewenagan.
2. Sengketa Ekstern
Sengketa ekstern atau sengketa administrasi negara dengan rakyat adalah perkara administrasi yang
menimbulkan sengketa antara administrasi negara dengan rakyat sebagai subyek-subyek yang berperkara
ditimbulkan oleh unsur dari unsur peradilan administrasi murni yang mensyaratkan adanya minimal dua pihak
dan sekurang-kurangnya salah satu pihak harus administrasi negara, yang mencakup administrasi negara di
tingkat pusat, adminstrasi negara tingkat daerah, maupun administrasi negara pusat yang ada di daerah.
Unsur-unsur KTUN (pasal 1 angka 3 UU PTUN) yaitu:
1. Suatu penetapan tertulis
Penetapan tertulis ini semata-mata untuk kemudahan segi pembuktian, terutama menunjuk kepada isi bukan
bentuk (form).

2. Badan atau pejabat TUN


Badan atau pejabat TUN di pusat dan di daerah yang melakukan kegiatan yang bersifat eksekutif.
3. Tindakan hukum TUN
Perbuatan hukum badan atau pejabat TUN yang bersumber pada suatu ketentuan hukum TUN yang
menimbulkan hak atau kewajiban apada orang lain.
4. Bersifat konkret
Objek yang di putuskan KTUN tidak Abstrak, tetapi berwujud, tertentu atau dapat ditentukan.
5. Bersifat individual
KTUN tidak ditujukan pada umum tetapi tertentu baik alamat maupun hal yang dituju kalau yang dituju itu
lebih dari seorang, tiap-tiap nama orang yang dikena keputusan itu disebutkan. Missal: keputusan pelebaran
jalan.
6. Bersifat Final
KTUN yang dikeluarkan itu bersifat definitif dan karenanya dapat menimbulkan akibat hukum. KTUN yang
masih memerlukan persetujuan belum bersifat final. misal: Pengangkata seorang PNS perlu persetujuan dari
BAKN.
B. Kedudukan Para Pihak dalam Sengketa TUN
Dalam pasal 1 angka 4 UU PTUN diketahui bahwa kedudukan para pihak dalam sengketa tata usaha negara
adalah orang (individu) atau badan hukum perdata sebagai pihak penggugat dan badan atau pejabat tata usaha
negara sebagai pihak tergugat.
Orang (individu) atau badan hukum perdata yang di rugikan akibat dikeluarkannya KTUN. Digolongkan
menjadi 3:
1. Orang (individu) atau badan hukum perdata sebagai alamat yang dituju oleh KTUN.
2. orang (individu) atau badan hukum perdata yang dapat disebut pihak ketiga yang mempunyai kepentingan
dan organisasi kemasyarakatan.
3. Badan atau pejabat TUN yang tidak boleh menggugat oleh UU PTUN.
Kepentingan ini dalam kaitannya yang berhak menggugat apabila bersifat langsung, pribadi, obyek dapat
ditentukan dan atau kepentingan berhubungan dengan KTUN.
C. Para Pihak dalam Sengketa TUN
Para pihak dalam sengketa TUN adalah orang (individu) atau badan hukum perdata sebagai pihak penggugat
dan badan atau pejabat tata usaha negara sebagai pihak tergugat.
D. Jalur Penyelesaian Sengketa TUN
Dalam pasal 48 UU P TUN nomor 5 tahun 1986 UU PTUNmenjelaskan upaya administrative, itu merupakan
prosedur yang ditentukan dalam suatu peraturan perundang-undangan untuk menyelesaikan sengketa dalam
TUN yang dilaksanakan di lingkungan pemerintah sendiri yang terdiri dari prosedur keberatan dan prosedur
banding administratif.
Perbedaan penting antara upaya administratif dan PTUN adalah bahwa PTUN hanayalah memeriksadan menilai
dari segi hukumnya saja. Sedangkan penilaian dari segi kebijasanaan bukan wewenang PTUN. Pemeriksaan
melalui upaya administrative, badan TUN selaian berwenang menilai segi hukumnya, juga berwenang menilai

segi kebijaksanaannya. Dengan demikian penyelesain sengketa melalui upaya administratif menjadi lebih
lengkap, tetapi, penilaian secara lengkap tersebut tidak termasuk pasda prosedur banding. Pada prosedur
banding, badan hukum TUN hanya melakukan penilaian daregi hukumnya saja.

BAB V
Gugatan ke PTUN
A. Alasan Mengajukan Gugatan
Alasan mengajukan gugatan diatur dalam Pasal 53 ayat 2 UU PTUN. Dalam mengajukan gugatan ada beberapa
asas :
1. Asas kepastian hukum
2. Asas tertib penyelenggaraan negara
3. Asas kepentingan umum
4. Asas keterbukaan
5. Asas proposionalitas
6. Asas profesionalitas
7. Asas Akuntabilitas
B. Tenggang Waktu Mengajukan Gugatan
Tenggang waktu mengajukan gugatan diatur dalam pasal 55 UU PTUN. Tengang waktu untuk mengajukan
gugatan Sembilan puluh hari tersebut dihitung secara bervariasi:
1. Sejak hari diterimanya KTUN yang digugat itu memuat nama penggugat.
2. Setelah lewatnya tenggang waktu yang ditetapkan dalam aturan perundang-undangan yang memberikan
kesempatan kepada administrasi negara untuk memberikan keputusan namun ia tidak berbuat apa-apa.
3. Setelah 4 bulan apabila peraturan perundang-undangan tidak memberikan kesempatan kepada administrasi
negara untuk memberikan keputusan dan ternyata ia tidak berbuat apa-apa.
4. Sejak hari pengumuman apabila KTUN itu harus di umumkan.
C. Syarat-Syarat Gugatan
Syarat gugatan diatur daljm pasal 56 UU PTUN. Syaratnya adalah:
1. Gugatan harus memuat:
a. Nama, kewaganegaraan, temap[at tinggal, dan pekerjaanpenggugat atau kuasa hukumnya.
b. Nama jabatan, dan tempat kedudukan tergugat
c. Dasar gugatan dan hal-hal yang diminta untuk diputuskan pengadilan
2. Apabila gugatan dibuat oleh dan ditanda tangani oleh seorang kuasa pengugat maka harus disertai surat kuasa
yang sah.
3. Gugatan sedapat mungkin juga disertai KTUN yang disengketakan oleh penggugat.
4. Surat Gugatan harus bermaterai

D. Tuntutan dalam Gugatan


Ketentuan dalam pasal 53 ayat 1 UU PTUN harus dikaitkan dengan pasal 3 UU PTUN tentang KTUN negatif
dan pasal 117 ayat 2 tentang tuntutan sejkumlah uang atau kompensasi.
Dari situ diperoleh perihal tuntutan apa saja yang dapat diajukan dalam gugatan:
1. Tuntutan agar KTUN yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat TUN itu dinyatakan batal atau tidak sah atau
2. Tuntutan agar badan atau pejabat TUN yang digugat untuk mengeluarkan KTUN yang di mohonkan
penggugat atau tanpa
3. Tuntutan ganti rugi dan atau
4. Tuntutan rehabilitas dengan atau tanpa kompensasi
E. Permohonan Beracara dengan Cuma-Cuma
Pada dasarnya mengajukan gugatan ke pengadilan penggugat harus membayar terlebih dahulu membayar uang
muka biaya perkara. Tetapi dalam hal tertentu penggugat membayar Cuma-Cuma (pasal 60 dan 62 UU PTUN).
Penggugat dapat tidak membayar uang perkara apabila tidak mampu. Ketidakmampuan itu sudah diperiksa oleh
ketua pengadilan dan telah dikabulkan, dan penggugat harus membawa surat keterangan tidak mampu dari
kepala desa.

BAB VI
Acara Pemeriksaan di PTUN
A. Pemeriksaan dengan Acara Singkat
Pemeriksaan dengan acara singkat di PTUN dapat dilakukan apabila terjadi perlawanan atas penetapan yang
diputuskan oleh ketua pengadilan dalam rapat permusyawaratan (pasal 62 UU PTUN).
Pemeriksaan dengan Acara Singkat mempunyai kelebihan dan kelemahan juga yaitu Kelebihannya adalah
1. Dapat mengatasi berbagai rintangan yang mungkin akan terjadi penghalang dalam penyelesaian secara cepat
sengketa-sengketa TUN,
2. Dapat mengatasi harus masuknya perkara-perkara sebenarnya tidak memenuhi syarat, dan
3. dapat dihindarkan pemeriksaan perkara-perkara menurut acara biasa yang tidak perlu memakan banyak waktu
dan biaya.
Kelemahannya adalah jangka waktu empat belas hari dalam melakukan perlawanan terhitung sejak penetapan
dismissal itu di ucapkan dapat menjadi tidak realistis, karena dapat saja pada waktu itu diucapkan berhalangan
hadir.
B. Pemeriksaan Persiapan
Setelah melalui tahap rapat permusyawaratan, maka dilakukan pemerksaan persiapan terhadap gugatan yang di
ajukan oleh penggugat (pasal 63 UU PTUN). Tujuan pemerikasaan persiapan adalah untuk mematangkan
perkara, dengan cara memanggil penggugat untuk menyempurnakan gugatannya dan atau memanggil tergugat
untuk dimintai keterangan tentang keputusan yang digugat. Semua itu harus diserahkan kepada kearifan dan
kebijakan ketua majelis.

C. Pelaksanaan Permohonan Penangguhan Pelaksanaan KTUN.


Pelaksanaan permohonan penangguhan pelaksanaan KTUN diatur dalam pasal 67 UU PTUN. Pelaksanaan
permohonan penangguhan pelaksanaan KTUN akan dikabulkan apabila
1. Keadaan yang sangat mendesak, misal kerugian yang akan di tanggung penggugat tidak seimbang dengan
manfaat bagi kepentingan yang akan dilindungi oleh pelaksanaan KTUN.
2. Pelaksanaan KTUN yang digugat tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan umum dalam rangka
pembangunan.
D. Pemeriksaan dengan Acara Cepat
Pemeriksaan dengan acara cepat diatur pasal 98 dan 99 UU PTUN. Dalam hukum acara PTUN terdapat pada
pasal 98 dan 99 UU PTUN, pemeriksaan ini tidak dikenal pada hukum acara perdata. Pemerikasaan cepat
dilakukan karena kepentingan penggugat sangat mendesak, apabila kepentingan itu menyangkut KTUN yang
berisikan misalnya perintah pembongkaran bangunan atau rumah yang ditempati penggugat.
Pemeriksaan dengan acara cepat dilakikan dengan hakim tunggal. Tenggang waktu untuk jawaban dan
pembuktian bagi kedua belah pihak masing-masing tidak melebihi empat belas hari.
E. Pemeriksaan dengan Acara Biasa
Pemeriksaan dengan acara biasa diatur dalam pasal 97 UUPTUN. Dari pasal itu dikemukakan Pemeriksaan
dengan Acara Biasa adalah bahwa dengan Pemeriksaan dengan Acara Biasa dilakukan dengan majelis hakim ( 3
hakim). Hakim ketua sidang membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum kecuali menyangkut
ketertiban umum atau keselamatan negara, persidangan dinyatakan dengan tertutup untuk umum.

BAB VII
Pembuktian
A. Alat-alat Bukti
Dalam pasal 100 sampai dengan 106 UU PTUN alat-alat bukti yang yang dapat diajukan dalam acara hukum
PTUN adalah:
1. Surat atau tulisan
Surat sebagai alat bukti ada 3:
a. Akta aotentik, yaitu surat yang dibuat oleh atau dihadapan seorang pejabat umum yang menurut perturan
perundang-undangan yang berwenang membuat surat ini dengan maksud untuk dipergunakan alat bukti tentang
peristiwa hukum yang tercantum didalamnya.
b. Akta dibawah tangan yaitu surat yang di buat dan di tandatangani oleh pihak-pihak yang bersangkutan dengan
maksud untuk digunakan sebagi alat bukti.
c. Surat-surat lain yang bukan ahli.
2. Keterangan ahli
Pendapat orang yang diberikan sumpah dalam persidangan dalam tentang hal yang ia ketahui menurut

pengetahuan dan pengalamnanya. Pasal 88 UU PTUN menjelaskan tidsak boleh mendengarkan keterangan ahli.
Atas permintaan kedua belah pihak atau salah satu pihak atau karena jabatannya hakim ketua sidang dapat
menunjuk seorang atau beberapa ahli.
3. Keterngan saksi
Dalam pasal 88 UU PTUN disebutkan yang tidak boleh didengar sebagai saksi adalah:
a. Keluarga sedarah
b. Istri atau suami salah seorang pihak meski sudah bercerai
c. Anak yang belum berusia tujuh belas tahun
d. Orang sakit ingatan
Dalam pasal 89 UU PTUN yang berhak mengundurkan diri sebagai ahli adalah:
a. Saudara laki-laki atau perempuan, ipar laki-laki dan perempuan salah satu pihak
b. Setiap orang yang karena martabat pekerjaan atau jabatannya diwajibkan merahasiakan segala sesuatu yang
berhubungan dengan martabat, pekerjaan atau jabatanhnya itu.
4. Pengakuan para pihak
Pengakuan dari para pihak tidak dapat ditarik kembali kecuali dengan alasan yang kuatdan dapat diterima oleh
hakim. Pengakuan adalah meruapakan pernyataan sepihak sehingga tidak memerlukan persetujuan dari para
pihak lain terutama dari pihak lawannya. Pengakuan secara lisan harus dilakukan dalam persidangan dan tidak
boleh diluar persidangan. Pengakuan secara tertulis boleh dilakukan diluar persidangan dan dihadapan hakim.
5. Pengetahuan hakim
Menurut Wirjono Prodjodikoro yang dimaksud pengetahuan hakim dalah hal yang dialami oleh hakim sendiri
selam pemeriksaan perkara dalam sidang. Missal kalau salah satu pihak memajukan sebagai bukti suatu gambar
atau suatu tongkat, atau hakim melihat keadaan suatu rumah yang menjadi soal perselisihan d itempat.
B. Beban Pembuktian
Beban Pembuktian dalam pasal 107 UU PTUN bahwa hakim menentukan apa yang harus di buktikan, beban
pembuktian dan untuk sahnya pembuktian diperlukan sekurang-kurangnya dua alat bukti berdasarkan keyakinan
hakim.
BAB VIII
Putusan dan Pelaksanaan Putusan PTUN
A. Pengertian Putusan
Pada dasarnya penggugat mengajukan suatu gugatan ke pemngadilan adalah bertujuan agar pengadilan melalui
hakim dapat menyelesaikan perkaranya dengan mengambil suatu putusan. Putusan yang di ucapkan di
persidangan (uitspraak) tidak boleh berbeda dengan yang tertulis (vonnis). Dalam literature Belanda dikenal
vonnis dan gewijsde. Vonnis adalah putusan yang mempunyai kekuhukum yang yang pasti, sehingga masih
tersedia upaya hukum biasa. Gewijsde adalah putusan yang asudah mempunyai kekuatan hukum yang pasti
sehingga hanya tersedia upaya hukum Khusus.
Dalam kaitannya hukum acara PTUN, putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap adalah:
1. Putusan pengadilan tingkat pertama (PTUN) yang sudah tidak dapat dimintakan upaya banding

2. Putusan pengadilan Tinggi (PTUN) yang tidak dimintakan kasasi.


3. Putusan mahkamah agung dalam tingkat kasasi.
B. Putusan PTUN
Putusan Pengadilan diatur dalam pasal 97 UU PTUN. Ketentuamn pasal tersebut memuat prosedur pengambilan
putusan yang harus diambil dengan musyawarah di antara majelis hakim, putusan yang diambil dengan suara
terbanyak baru dapat dikatakan apabila musyawarah untuk mencap[ai kesepakatan bulat mengalami jalan buntu,
apabila keputusan suara terbanyak itu juga mengalami kemacetan, maka barulah putusan dapat diambil oleh
ketua majelis.
C. Isi Putusan
Isi putusan dari pasal 97 ayat 7 maka dapat diketahui bahwa isi putusan pengadilan TUn dapat berupa:
1. Apabila isi putusan pengadilan TUN adalah berupa penolakan tewrhadap gugatan pengguagat berarti
memperkuat KTUN yang akan dikeluarkan oleh badan atau pejabat TUN yang bersangkutan. Pada umumnya
suatu gugatan ditolak oleh majelis hakim, karena alat bukti yang di ajukan pienggugat tidak dapat mendukung
gugatannya, atau alat-alat bukti yang diajukan pihak tergugat lebih kuat.
2. Gugatan Dikabulkan
Gugatan dikabulkan adakalnya pengabulan seluruhnya atau menolak sebagian lainnya. Isi pengadilan yang
mengabulkan gugatan pihak penggugat itu, berarti tidak membenarkan KTUN yang dikeluarkan oleh pihak
tergugat atau tidak membenarkan sikap tidak berbuat apa-apa yang dilakukan oleh tergugat, padahal itu sudah
merupakan kewajibannya.
Dalam hal gugatan dikabulkan maka dalam putusan tersebut ditetapkan kewajibyang harus dilakukan oleh
tergugat yang dapat berupa:
a. Pencabutan KTUN yang bersangkutan
b. Pencaburtan KTUN yang bersangkutan dan menerbitkan KTUN ynag baru
c. Penerbitan KTUN dalam hal gugatan didasarkan pada pasal 3. Dan pengadilan dapat menetapkan kewajiban
piahk tergugat untuk membayar ganti rugi, kompensasi dan rehabilitasi untuk sengketa kepegawaian.
3. Gugatan Tidak Di terima
Putusan pengadilan yang berisi tidak menerima gugatan pihak penggugat, berarti gugatan itu tidak memenuhi
persyaratan yang ditentukan. Persyaratan tersebut sebagaimana yang dimaksud dalam prosedur dismissal dan
atau pemeriksaan persiapan.
4. Gugatan Gugur
Putusan pengadilan yang menytakan gugatan gugur dalam hal para piatau kuasanya tidak hadir dalam
persidangan yang telah ditentukan dan mereka telah dipanggil secara patut atau perbaikan gugatan yang
diajukan oleh pihak pengguagat telah melampaui tenggang waktu yang ditentukan.
D. Susunan Isi Putusan
Dalam pasal 109 UU PTUN disebutkan Susunan isi putusan yaitu:
1. Kepala Putusan
Setiap putusan pengadialan haruslah mempunyai kepala putusan bagian atas putusan yang berbunyi demi

Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Apabila tidak ada kalimat itu maka hakim tidak dapat
melaksanakan putusan tersebut.
2. Identitas para pihak
Suatu perkara atau gugatan harus ada suekurang-kurangnya dua pihak yaitu penggugat dan tergugat, lalu dimuat
dimuat identitas diri.
3. Pertimbangan
Dalam hukum perdata suatau putusan pengadilan harus memuat pertimbangan-pertimbangan yang lazim, karena
sebagai pertanggungjawaban kepada masyarakat mengapa ia mengambil putusan yang demikian itu sehingga
dapat bernilai obyektif.
4. Amar
Mereupakan jawaban atas petitum dari gugatan sehinngga amar juga merupakan tanggapan atas petitum itu
sendiri. Hakim wajib mengadili semua bagian dari tuntutan yang diajukan pihak pengguagat dan dilarang
menjatuihkan purtusan atas perkara yang tidak dituntut atau mengabulkan lebih dari yang dituntut.
I]
E. Biaya Perkara
Seluruh biaya ditanggung oleh pihak yang dikalahkan kecuali menggunakan perkara biaya Cuma-Cuma dan
mendapat persetujuan.
Biaya perkara mencakup:
1. Biaya kepaniteraan
2. Biaya saksi, ahli, dan alih bahasa, dengan catatan meminta persetujuan lebih dari 5 orang saksi harus
membayarnya meskipun pihak itu memengkannya.
3. Biaya pemeriksaan di tempat lain dari ruangan sidang dan biaya lain atas perintah hakim ketua sidang.
F. Pelaksanaan Putusan (Eksekusi)
Dalam pasal 115 UU PTUN bahwa hanya putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap yang dapat
dilaksanakan., jadi putusan pengadilan yang belum memperoleh kekuatan hukum tetap tidak memiliki kekuatan
eksekusi.

BAB IX
Upaya-Upaya Hukum
A. Perlawanan
Perlawanan (verzet) merupakan upaya hukum terhadap penetapan yang diputuskan oleh ketua pengadilan dalam
rapat permusyawaratan (prosedur dismissal). Perlawanan diajukan oleh penggugat terhadap penetapan dismissal
tersebut pada dasarnya membantah alasan-alasan yang digunakan oleh ketua pengadilan.
Perlawanan diperiksa dan diputuskan oleh pengadilan dengan acara singkat. Dalam hala perlawanan dibenarkan
oleh pengadilan maka penetapan ketua pengadilan tersebut diatas menjadi gugur demi hukum dan poko
gugatanakan diperiksa, diputus, dan diselesaikan menurut acara biasa dan juga sebaliknya.

B. Banding
Dalam pasal 122 UU PTUN bahwahadap putusan PTUN dapat dimintakan pemeriksaan banding oleh penggugat
dan tergugat kepada PTTUN. Kedua belah pihak mempunyai hak untuk mengajukan banding.Permohonan
pemeriksaan banding diajukan secara tertulis oleh pemohon atau kuasanya yang khusus dikuasakan untuk
PTUN yang menjatuhkan putusan dalam tenggang waktu 14 hari setelah putusan yang sah.
Menurut Sudikno Mertokusumo dalam tingkat bandingpun hakim tidak boleh mengabulkan lebih dari pada yang
dituntut atau memutuskan hal-hal yang tidak dituntut. Berarti hakim dalam tingkat banding harus membiarkan
putusan dalam tingkat peradilan pertama sepanjang tidak dibantah dalam tingkat banding (tantum devolutum
quantum apellatum).
Putusan yang tidak dapat dimintakan upaya hukum banding adalah yaitu :
1. Penetapan ketua pengadilan TUN mengenai permohonan secara Cuma-Cuma
2. Penetapan dismissal dari ketua pengadilan TUN, upaya hukum dengan cara perlawanan.
3. Putusan PTUN terhadap Perlawanan yang diajukan penggugat atas penetapan dismissal pada pasal 62 ayat 6
UU PTUN tidak dapat diajukan banding
4. Putusan pengadilan mengenai gugatan perlawanan pihak ketiga sebelum pelaksanaan putusan yang telah
berkekuatan tetap (pasal 118 ayat 2 dan 62 dan 63 UU PTUN). Putusan PTUN sebagaiengadilan tingkat pertama
yang sudah tidak dapat dilawan atau dimnintakan pemeriksaan banding lagi.
C. Kasasi
Kasasi diatur dalam pasal 131 UU PTUN. Pemeriksaan kasasi untuk perkara yang diputuskan oleh pengadilan di
lingkungan peradilan agama atau di lingkungan PTUN. Tenggang waktu mengajukan kasasi 14 hari setelah
putusan yang dimaksud diberitahu kepada pemohon. (UU nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung
dalam pasal 46 ayat 1).
Permohonan upaya hukum kasasi dapat diajukan dalam hal:
1. Upaya hukum kasasi belum pernah diajukan
2. Permohonan kasasi dapat dilakukan apabila telah melakukan upaya hukum banding.
3. Pihak yang dapat melakukan upaya hukum kasasi adalah pihak yang berperkara, pihak ketiga tidak boleh.
Mahkamah Agung membatalakan putusan atau penetapan pengadilan karena :
1. Tidak berwenang atau melampaui batas wewenang
2. Salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku.
3. Lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam.
Alasan diatas karena diketahui bahwa didalam tingkat kasasi tidak diperiksa tentang duduknya perkara atau
faktanya tetapi tentang hukumnya sehingga terbukti tidaknya peristiwa tidak akan diperiksa.
D. Peninjauan Kembali
Pasal 132 UU PTUN tentang peninjauan kembali. Alasan-alasan mengajukan permohonan peninjauan kembali
pada pasal 67 UUMA. Tenggang waktu mengajukan peninjauan kembali adalah 180 hari setelah keputusan
pengadilan (pasal 69 UUMA).
Berdasarkan pasal 68 UUMA dapat diketahui bahwa yang dapat mengajukan permohonan peninjauan kembali
adalah para pihak yang berperkara atau ahli warisnya atau seorang wakilnya yang secara khusus dikuasakan

untuk itu. Selama peninjauan kembali berlangsung pemohon meninggal dunia, permohonan itu dapat
dilanjutkan oleh ahli warisnya.