Anda di halaman 1dari 5

NCP TYPHOID

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Asuhan Gizi 2


Dosen pengampu: Ahmad Syauqi S.Gz, M.Si

Anggota Kelompok:
Risani Rambu Podu L

22030112110104

Ermawati Sundari

22030112140105

Adhitya Nugraha T

22030112140106

Rhona Dian Yunita

22030112130107

Muhana Rafika

22030112140108

PROGRAM STUDI ILMU GIZI FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Demam tifoid merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella enterica
serovar typhi (S typhi). Salmonella enterica serovar paratyphi A, B, dan C juga dapat
menyebabkan infeksi yang disebut demam paratifoid. Demam tifoid dan paratifoid termasuk ke
dalam demam enterik. Pada daerah endemik, sekitar 90% dari demam enterik adalah demam
tifoid. Demam tifoid juga masih menjadi topik yang sering diperbincangkan.
Manusia adalah satu-satunya penjamu yang alamiah dan merupakan reservoir untuk
Salmonella typhi. Bakteri tersebut dapat bertahan hidup selama berhari-hari di air tanah, air
kolam, atau air laut dan selama berbulan-bulan dalam telur yang sudah terkontaminasi atau
tiram yang dibekukan. Pada daerah endemik, infeksi paling banyak terjadi pada musim kemarau
atau permulaan musim hujan. Infeksi dapat ditularkan melalui makanan atau air yang
terkontaminasi oleh feses. Di Indonesia, insidens demam tifoid banyak dijumpai pada populasi
yang berusia 3-19 tahun. Selain itu, demam tifoid di Indonesia juga berkaitan dengan rumah
tangga, yaitu adanya anggota keluarga dengan riwayat terkena demam tifoid, tidak adanya sabun
untuk mencuci tangan, menggunakan piring yang sama untuk makan, dan tidak tersedianya
tempat buang air besar dalam rumah.
Gejala yang biasanya dijumpai adalah demam sore hari dengan serangkaian keluhan
klinis, seperti anoreksia, mialgia, nyeri abdomen, dan obstipasi. Dapat disertai dengan lidah
kotor, nyeri tekan perut, dan pembengkakan pada stadium lebih lanjut dari hati atau limpa atau
kedua-duanya. Untuk itu perlu dilakukan terapi gizi khusus untuk menangani penyakit tersebut.
1.1

Rumusan Masalah
a. Apa saja nutrition assessment yang dibutuhkan pada penderita demam tifoid?
b. Diagnosis gizi apa yang tepat untuk penderita demam tifoid?
c. Bagaimana intervensi gizi yang tepat untuk penderita demam tifoid?
d. Bagaimana monitoring evaluasi gizi yang tepat untuk penderita demam tifoid?

1.2 Tujuan
a.
b.
c.
d.

Untuk mengetahui nutrition assessment yang dibutuhkan pada penderita demam tifoid
Untuk mengetahui diagnosis gizi apa yang tepat untuk penderita demam tifoid
Untuk mengetahui intervensi gizi yang tepat untuk penderita demam tifoid
Untuk mengetahui monitoring evaluasi gizi yang tepat untuk penderita demam tifoid
BAB II
PEMBAHASAN

FORM PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR

A. Pengkajian Gizi
Food and Nutrition Intake (1)
DOMAIN
FH 1.1.1.1

DATA
Total Energy intake
(Total asupan energi)

FH 1.2.1

Fluid/Beverage intake

FH 1.2.2.1

Amount of food
(Jumlah makanan yang diasup)

FH 1.2.2.2

Type of food/meals
(Jenis makanan)

INTREPETASI
Jumlah asupan energi sehari, biasanya
total asupan rendah karena nafsu
makan penderita tifoid menurun
Asupan cairan akan berkurang karena
pasien typus mengalami muntah, diare
Jumlah asupan makanan yang kurang
akan

membuat

tubuh

penderita

semakin lemas
Pemilihan makanan dominan unggas,
telur, daging yang jika tidak diolah
dengan

baik

dapat

berpotensi

mengandung bakteri S.Thypi


FH 1.2.2.5

FH 1.5.2

FH 1.5.3
FH 1.6.4

FH 1.6.1

Food variety
(Keragaman makanan)
Protein intake
(asupan protein)
Carbohydrat Intake
(Asupan karbohidrat)
Fiber Intake
(Asupan serat)
Vitamin Intake
(Asupan Vitamin)

Keragaman makanan penting untuk


melengkapi zat gizi yang diperlukan
dalam tubuh
Asupan
protein

penting

untuk

yang

cukup

pertumbuhan sel
Asupan

karbohidrat

dibutuhkan untuk sumber energi.


Jumlah serat yang terdapat pada tubuh
untuk

memperlancar

pencernaan
Vitamin antiinflamasi

proses
menurunkan

resiko terjadinya peradangan pada


usus

FH 1.6.2

Mineral/element intake
(Asupan Mineral)

Mineral-mineral yang diolah dalam


usus

bisa

mengalami

kekurangan

karena penyerapan terganggu


Food and Nutrient Administration (2)
FH 2.1.3.1

Lokasi

Lokasi tempat makan yang kurang


higienis

FH 2.1.3.2

FH 2.1.3.3

Atmosphere

Caregiver/Companion

akan

menjadikan

tempat

hidup bakteri yang subur


Atmosfer
yang
lembab

akan

menunjang

virus

pertumbuhan

Salmonella thypi
Pekerjaan yang

padat

penderita

mencari

susah

membuat

dengan higienitas yang terjamin


Knowledge/Beliefs/Attitudes (4)

makan

DAFTAR PUSTAKA

Bhan MK, Bahl R, Bhatnagar S. Typhoid fever and paratyphoid fever. Lancet 2005; 366: 74962.
Bhutta ZA. Typhoid fever: current concepts. Infect Dis Clin Pract 2006; 14: 266-72.
Ostrow. Brian dr .thypoid fever. http://www.utoronto.ca/ois/SIA/2006/typhoid_fever.htm
Pohan HT. Management of resistant Salmonella infection. Paper presented at: 12th Jakarta
Antimicrobial Update; 2011 April 16-17; Jakarta, Indonesia.
Sherry David. Food For Typhoid Fever (internet). 2013 ( cited 2014 Mei 4). Available from:
http://www.livestrong.com/article/510017-food-for-typhoid-fever/
Widiyono. Penyakit tropis epidemiologi, penularan, pencegahan dan pemberantasan .
2011.Erlangga; Semarang