Anda di halaman 1dari 7

TIROIDEKTOMI

Pengertian
Tiroidektomi adalah sebuah operasi yang melibatkan operasi pemindahan semua atau
sebagian dari kelenjar tiroid. Klasifikasi dari tiroidektomi adalah total tiroidektomi dan nyaris
total tiroidektomi. Indikasi dilakukan tiroidektomi adalah gondok, kanker tiroid,
hipertiroidisme, dan gejala obstruksi. Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan
tiroidektomi yangbiasa digunakan :

Tiroidektomi, yaitu pengangkatan kelenjar tiroid.


Lobektomi, yaitu pengangkatan satu lobus kelenjar tiroid.
Ismolobektomi, yaitu pengangkatan satu lobus kelenjar tiroid besertaisthmusnya.
Subtotal Tiroidektomi, yaitu mengangkat sebagian besar tiroid kedualobus (kiri-kanan)

dengan menyisakan jaringan tiroid masing-masing 2-4 gram.


Near Total Tiroidektomi, yaitu ismolobektomi dekstra dgn subtotallobektomi sinistra dan
sebaliknya, sisa jaringan tiroid masing-masing 1-2 gram.
Total tiroidektomi, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar tiroid.
Meski tidak diketahui siapa pertama kali melakukan tiroidektomi, Kocher adalah
Predominant Innovator dalam pembedahan tiroid, beliau melakukan 100 operasi tiroid
dengan angka komplikasi rendah. Emil Theodor Kocher (1841-1917) melakukan tiroidektomi
dengan preservasi Kelenjar Paratiroid dan Nervus Rekuren Laringeus. Menurunkan
mortalitas dari 50% menjadi kurang dari 1%. Billroth (sebelum 1877) mengatakan the
recurrent laryngeal nerve must be identified & isolated . Von Mikulicz sebagai muridnya
mengatakan Finishing Touches of Our Modern Operation. Aulus Cornelius Celcus tahun 30
masehimencetuskan istilah Strumectomy, yaitu membuang struma. Paul of Aegina (607-690)
mengatakan operasi struma harus hati-hati, karena dapat mengenai Arteri Carotis dan Nervus
Reccurentes. Albucasis, di Baghdad pada tahun 1000 dilakukan tiroidektomi pertama yang
berhasil. Von Mikulicz sebagai muridnya mengatakan finishing touches of our modern
operation. Aulus Cornelius Celcus tahun 30 masehimencetuskan istilah Strumectomy, yaitu
membuang struma. Paul of Aegina (607-690) mengatakan operasi struma harus hati-hati,
karenadapat mengenai arteri carotis dan nervus reccurentes. Albucasis, di Baghdad pada
tahun 1000 dilakukan tiroidektomi pertama yang berhasil. Roger Frugardi (1170)
memperkenalkan 2 benang seton, dikencangkan dua kali sehari, tetapi angka kematian lebih
dari40%.Lorentz Heister (1683-1758), Jerman mempublikasikan tiroidektomi pertama
didunia (1752) dalam Chirurgie .William Stewart Halsted, murid dari Kocher mendapatkan
Nobel Prizeuntuk pekerjaannya dalam kelenjar tiroid.
1

Klasifikasi Tiroidektomi
Tiroidektomi terbagi atas 2 yaitu sebagai berikut :
1. Tiroidektomi Total
Tiroidektomi total yaitu mengangkat seluruh kelenjar tiroid. Klien yang menjalani
tindakan ini harus mendapat terapi hormone pengganti yang besar dosisnya beragam pada
setiap individu dan dapat dipengaruhi oleh usia, pekerjaan, dan aktifitas.
2. Tiroidektomi Sub Total
Tiroidektomi subtotal yaitu mengangkat sebagian kelenjar tiroid. Lobus kiri atau kanan
yang mengalami pembesaran diangkat dan diharapkan kelenjar yang masih tersisa masih
dapat memenuhi kebutuhan tubuh akan hormone-hormon tiroid sehingga tidak diperlukan
terapi penggantian hormon.
Mekanisme Tiroidektomi
Mekanisme kerja hormon thyroid ada yang bersifat genomik melalui pengaturan
ekspresi gen, dan non genomik melalui efek langsung pada sitosol sel, membran dan
mitokondria. Mekanisme kerja yang bersifat genomik dapat dijelaskan sebagai berikut,
hormon thyroid yang tidak terikat melewati membran sel, kemudian masuk ke dalam inti sel
dan berikatan dengan reseptor thyroid (TR). T3 dan T4 masing-masing berikatan dengan
reseptor tersebut, tetapi ikatannya tidak sama erat. T3 terikat lebih erat daripada T4.
Kompleks hormon-reseptor kemudian berikatan dengan DNA melalui jari-jari zinc dan
meningkatkan atau pada beberapa keadaan menurunkan ekspresi berbagai gen yang
mengkode enzim yang mengatur fungsi sel. Ada dua gen TR manusia, yaitu gen reseptor
pada kromosom 17 dan gen reseptor pada kromosom 3. Dengan ikatan alternatif, setiap gen
membentuk paling tidak dua mRNA yang berbeda, sehingga akan terbentuk dua protein
reseptor yang berbeda. TR2 hanya ditemukan diotak, sedangkan TR1, TR2 dan TR1
tersebar secara luas. TR2 berbeda dari ketiga reseptor yang lain, yaitu tidak mengikat T3
dan fungsinya belum diketahui. Reseptor thyroid (TR) berikatan dengan DNA sebagai
monomer, homodimer dan heterodimer bersama dengan reseptor inti yang lain. Dalam
hampir semua kerjanya, T3 bekerja lebih cepat dan 3-5 kali lebih kuat daripada T4. Hal ini
disebabkan karena ikatan T3 dengan protein plasma kurang erat, tetapi terikat lebih erat pada
reseptor hormon thyroid.
Patofisiologi Tiroidektomi
Indikasi dilakukan tindakan tiroidektomi adalah gondok, hipertiroidisme, kanker
tiroid, hiperparatiroidisme. Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah membuat sayatan
dileher bagian depan atau bagian kelenjar tiroid dihilangkan. Dalam membuat sayatan harus
berhati-hati untuk menghindari kerusakan saraf di sekitarnya atau pembuluh darah dileher.
Apabila terjadi kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan pendarahan udem laringeal
2

yang akan meningkatkan terjadinya resiko tinggi penurunan curah jantung. Selain itu
pernafasan menjadi stidor, obstruksi jalan nafas yang akhirnya mambuat pembersihan jalan
napas tidak efektif. Nyeri dapat terjadi dari edema jaringan yang disebabkan karena
terputusnya saraf simpatis dari kerusakan jaringan yang terjadi akibat tindakan tiroidektomi.
Dari insisi yang dilakukan pada tindakan ini akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit.
Kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga dapat terjadi karena kurangnya informasi dalam
perawatan luka setelah tindakan pembedahan dilakukan. Seseorang yang telah melakukan
tiroidektomi akan mengalami hambatan dalam berkomunukasi karena terjadi kerusakan pada
langireal yang menyebabkan perubahan tekanan atau penyaringan suara, suara menjadi
lemah, ketidak mampuan untuk berbicara. Resiko cedera dapat terjadi akibat gangguan
produksi hormon yang menurun.
Pencegahan Tiroidektomi
1. Menggunakan garam beryodium untuk membantu pencegahan terjadinya gondok yang
sifatnya endemic.
2. Jangan mengkonsumsi makanan yang bisa mengurangi hormon tiroksin, misalnya adalah
kol, kacang kedelai, kacang tanah, bayam, stroberi, dan kacang polong.
3. Lakukanlah operasi untuk mencegah terjadinya gondok semakin membesar.
Pengobatan Tiroidektomi
Pre-Operasi
Pengobatan yang tepat dapat dilakukan pada pasian pre-oprerasi pada tiroidektomi
adalah :
1. Kadar hormon tiroid harus diupayakan dalam keadaan normal.
2. Pemberian obat anti tiroid masih tetap dipertahankan disamping menurunkan kadar
3.
4.
5.
6.

hormon darah.
Masalah jantung juga sudah harus teratasi.
Kondisi nutrisi harus optimal, diet tinggi protein dan karbohidrat.
Latih klien cara batuk yang efektif dan latih napas dalam.
Ajarkan cara mengurangi peregangan pada luka operasi akibat rangsangan batuk

dengan menahan di bawah, insisi dengan kedua tangan.


7. Beri tahu pasien kemungkinan suara menjadi serak setelah operasi jelaskan bahwa itu
adalah hal yang wajar dan dapat kembali seperti semula.
Pasca Operasi
Perawatan yang dapat dilakukan pada pasien pasca operasi pada tiroidektomi adalah :
1. Monitor tanda-tanda vital setiap 15 menit sampai stabil dan kemudian lanjutkan setiap
30 menit selama 6 jam.
2. Gunakan bantal pasir atau bantal tambahan untuk menahan posisi kepala tetap
ekstensi sampai klien sadar penuh.
3

3. Bila sadar, berikan posisi semi fowler, apabila memindahkan klien hindarkan
4.
5.
6.
7.

penekanan pada daerah insisi.


Berikan obat analgesic sesuai program terapi.
Bantu klien batuk dan napas dalam setiap 30 menit.
Gunakan penghisap oral atau trachea sesuai kebutuhan.
Monitor komplikasi yang terjadi pada pasca operasi tiroidektomi.

Letak
Kelenjar thyroid berada di bagian anterior leher, di sebelah ventral bagian caudal
larynx dan bagian cranial trachea, terletak berhadapan dengan vertebra C 5-7 dan vertebra Th
1. Kedua lobus bersama-sama dengan isthmus memberi bentuk huruf U. Ditutupi oleh m.
sternohyoideus dan m.sternothyroideus. Ujung cranial lobus mencapai linea obliqua
cartilaginis thyreoideae, ujung inferior meluas sampai cincin trachea 5-6. Isthmus difiksasi
pada cincin trachea 2, 3 dan 4. Kelenjar thyroid juga difiksasi pada trachea dan pada tepi
cranial cartilago cricoidea oleh penebalan fascia pretrachealis yang dinamakan ligament of
Berry. Fiksasi-fiksasi tersebut menyebabkan kelenjar thyroid ikut bergerak pada saat proses
menelan berlangsung.
Anatomi
Kelenjar tiroid terdiri dari dua lobus (kiri dan kanan)dihubungkan melalui isthmus,
dan kadang-kadang terdapat lobuspiramidalis, berwarna coklat terang, kenyal. Lokasinya
terdapat padaanterior leher, vertebra CV-TI, berat 15-20g, panjang 4-5cm, lebar 2cm, tebal 24cm. Tebal isthmus 2-6 mm. Dikelilingi dua kapsul, yaitutrue capsule dan false capsule
(perithyroid sheath, surgical capsule ). Pada sisi posterior melekat erat pada trakea dan laring.
Topografi
Topografi kelenjar thyroid adalah sebagai berikut :
1. Disebelah anterior terdapat m. infrahyoideus, yaitu m.sternohyoideus, m.sternothyroideus,
m.thyrohyoideus dan m.omohyoideus.
2. Disebelah medial terdapat larynx, pharynx, trachea dan oesophagus, lebih ke bagian
profunda terdapat nervus laryngeus superior ramus externus dan di antara oesophagus dan
trachea berjalan nervus laryngeus recurrens. Nervus laryngeus superior dan nervus
laryngeus recurrens merupakan percabangan dari nervus vagus. Pada regio colli, nervus
vagus mempercabangkan ramus meningealis, ramus auricularis, ramus pharyngealis,
nervus laryngeus superior, ramus cardiacus superior, ramus cardiacus inferior, nervus
laryngeus reccurens dan ramus untuk sinus caroticus dan carotid body.
3. Disebelah postero-lateral terletak carotid sheath yang membungkus a.caroticus communis,
a.caroticus internus, vena jugularis interna dan nervus vagus. Carotid sheath terbentuk dari
fascia colli media, berbentuk lembaran pada sisi arteri dan menjadi tipis pada sisi vena
4

jugularis interna. Carotid sheath mengadakan perlekatan pada tepi foramen caroticum,
meluas ke caudal mencapai arcus aortae. Fascia colli media juga membentuk fascia
pretrachealis yang berada di bagian profunda otot-otot infrahyoideus. Pada tepi kelenjar
thyroid, fascia itu terbelah dua dan membungkus kelenjar thyroid tetapi tidak melekat pada
kelenjar tersebut, kecuali pada bagian di antara isthmus dan cincin trachea 2, 3 dan 4.8.
Hormon Tiroid
Hormon thyroid yang bersirkulasi dalam plasma terikat pada protein plasma, yaitu
globulin pengikat tiroksin (thyroxine-binding globulin, TBG), prealbumin pengikat tiroksin
(thyroxine-binding prealbumin, TBPA) dan albumin pengikat tiroksin (thyroxine-binding
albumin, TBA). Kebanyakan hormon dalam sirkulasi terikat pada protein-protein tersebut dan
hanya sebagian kecil saja (kurang dari 0,05 %) berada dalam bentuk bebas. Hormon yang
terikat dan yang bebas berada dalam keseimbangan yang reversibel. Hormon yang bebas
merupakan fraksi yang aktif secara metabolik, sedangkan fraksi yang lebih banyak dan terikat
pada protein tidak dapat mencapai jaringan sasaran. Dari ketiga protein pengikat tiroksin,
TBG merupakan protein pengikat yang paling spesifik. Selain itu, tiroksin mempunyai
afinitas yang lebih besar terhadap protein pengikat ini dibandingkan dengan triiodotironin.
Akibatnya triiodotironin lebih mudah berpindah ke jaringan sasaran. Faktor ini yang
merupakan alasan mengapa aktifitas metabolik triiodotironin lebih besar. Perubahan
konsentrasi TBG dapat menyebabkan perubahan kadar tiroksin total dalam sirkulasi.
Peningkatan TBG, seperti pada kehamilan, pemakaian pil kontrasepsi, hepatitis, sirosis
primer kandung empedu dan karsinoma hepatoselular dapat mengakibatkan peningkatan
kadar tiroksin yang terikat pada protein. Sebaliknya, penurunan TBG, misalnya pada sindrom
nefrotik, pemberian glukokortikoid dosis tinggi, androgen dan steroid anabolik dapat
menyebabkan penurunan kadar tiroksin yang terikat pada protein. Hormon-hormon thyroid
diubah secara kimia sebelum diekskresi. Perubahan yang penting adalah deiodinasi yang
bertanggung jawab atas ekskresi 70% hormon yang disekresi. 30% lainnya hilang dalam
feses melalui ekskresi empedu sebagai glukuronida atau persenyawaan sulfat. Akibat
deiodinasi, 80 % T4 dapat diubah menjadi 3,5,3-triiodotironin, sedangkan 20 % sisanya
diubah menjadi reverse 3,3,5-triiodotironin (rT3) yang merupakan hormon metabolik yang
tidak aktif.
Pada keadaan normal, yodium disirkulasi terdapat dalam berbagai bentuk, sekitar 95%
sebagai yodium organic dan hamper 5% sebagai yodida. Sebagian besar ( 90%-95%) yodium
organic berada dalam bentuk tiroksin, dan hanya sebagian kecil (5%) berada di
triyodotironin. Dalam darah hormone tiroid terikat kuat pada berbagai protein plasma, dalam
5

bentuk ikatan non kovalen. Sebagian besar hormone ini terikat pada thyroxine-binding
globulin (TBG), T3 ikatannya sangat lemah dan mudah terlepas kembali, karenanya T3 mula
kerjanya lebih cepat dari T4, tiroksin juga terikat transtiretin (thyroxine-binding prealbulmin),
suatu retinol-binding protein, yang kadarnya lebiuh tinggi dari TBG dan terutama mengikat
tiroksin. Adanya ikatan hormone tiroid dengan protein plasma, menyebabkan tidak mudahnya
hormone ini di metabolism dan dieksresi, sehingga masa paruhnya cukup panjang. Hanya
sedikit tiroksin yang terikat albumin dan hampir tidak mempunyai peran fisiologik, kecuali
pada famial dysalbuminemic hyperthyroxinemia. Sindroma ini merupakan kelainan
autosomal yang dominan, ditandai dengan meningkatnya afinitas albumin terhadap tiroksin
akibat terjadinya mutasi gen albumin. Besarnya aktivitas biologic hormone tiroid ditentukan
oleh jumlah hormone tiroid bebas dalam plasma. Jumlah ini antara lain tyergantung dari
jumlah TBG plasma. Selain jumlah hormone tiroid bebas di plasma dalam batas normal, tidak
akan timbul gejala hipofungsi atau hiperfungsi tiroid. Ikatan hormone tiroid dengan protein
plasma dalam memproteksi hormone ini dari proses metabolism dan eksresi, sehingga masaparuhnya dalam sirkulasi panjang. Hanya sekitar 0,03% tiroksin dan 0,3% triyodotironin dari
total hormon tersebut berada dalama keadaan bebas. Aktivitas metabolic hormone tiroid
hanya dapat dilakukan oleh hormone yang bebas. Karena afinitas pengikatannya dengan
protein plasma tinggi, maka adanya perubahan kadar protein plasma atau afinitas ikatannya,
akan mempengaruhi kadar total hormone dalam serum. Beberapa obat dan berbagai kondisi
oatologik dan fisilogik, misalnya peningkatan kadar estrogen plasma pada kehamilan atau
terapi dengan estrogen atau penggunaan kontrasepsi hormonal oral, dapat meningkatkan
peningkatan tiroid dengan protein plasma dan kadar proteinnya. Karena adenohipofisis hanya
diengaruhi dan meregulasi hormone tiroid yang bebas, maka keadaan di atas hanya sedikit
mempengaruhi perubahan kadar hormone bebas dalam sirkulasi.

Terapi Hormon Tiroid


Setelah menjalani operasi kanker tiroid, Anda akan minum obat hormon tiroid
levothyroxine selama hidup. Hal ini memiliki dua manfaat yaitu akan memasok hormon yang
hilang yang biasanya dihasilkan tiroid anda, dan menekan produksi thyroid stimulating
hormone (TSH) dalam kelenjar pituitary. Kadar TSH tinggi diperkirakan bisa merangsang
sel-sel kanker yang tersisa untuk tumbuh.
Gambar

Daftar Pustaka
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia Cabang Jakarta. 2008. Penatalaksanaan Penyakitpenyakit Tiroid bagi Dokter. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FK UI.
Haqiqi SH. 2008. Biosintesis hormone tiroid dan paratiroid. Universitas Brawijaya.
Malang
Books.google.co.id/books.komplikasi-pada-tiroidektomi,(2/3/2015).
https://www.google.com/search-total-tiroidektomi,(2/3/2015).
7