Anda di halaman 1dari 56

1

AN
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Posisi geografis dan geodinamik Indonesia telah menempatkan Indonesia
sebagai wilayah yang rawan bencana (natural disaster prone region). Indonesia
merupakan negara kepulauan yang menjadi tempat pertemuan tiga lempeng besar,
yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Interaksi
antar lempeng tersebut lebih lanjut menempatkan Indonesia sebagai wilayah yang
memiliki aktivitas kegunungapian (vulkanisme) dan kegempaan yang cukup
tinggi. Lebih dari itu, proses dinamika lempeng yang cukup intensif juga
membentuk relief permukaan bumi yang khas dan sangat bervariasi, mulai dari
datar hingga pegunungan yang berlereng terjal. Surono (2008) dalam Aris
Poniman dkk (2008), menyatakan bahwa topografi terjal yang tersusun oleh
batuan dengan pelapukan tinggi dan curah hujan tinggi akan memicu daerah
tersebut menjadi daerah rawan longsor.
Tanah longsor (landslide) adalah perpindahan material pembentuk lereng
berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran bergerak ke
bawah atau keluar lereng. Kabul Basah Suryolelono (2002) menjelaskan bahwa
peristiwa longsor atau dikenal sebagai gerakan massa tanah, batuan atau
kombinasinya, sering terjadi pada lereng-lereng alami atau buatan dan sebenarnya
merupakan fenomena alam, yaitu alam mencari keseimbangan baru akibat adanya
gangguan atau faktor yang mempengaruhinya dan menyebabkan terjadinya
pengurangan kuat geser serta peningkatan tegangan geser tanah. Pada prinsipnya
tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari gaya
penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan
kepadatan tanah. Sementara, gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut
kemiringan lereng, air, beban serta berat jenis tanah dan batuan. Di daerah dengan
kemiringan lereng terjal yang ditutupi oleh lapisan tanah penutup yang lunak atau
gembur, air hujan dapat dengan mudah merembes pada tanah yang gembur dan

1
2

batuan lempung yang berongga atau retak-retak. Air rembesan ini berkumpul
antara tanah penutup dan batuan asal yang segar pada lapisan alas yang kedap air.
Tempat air rembesan ini berkumpul dapat berfungsi sebagai bidang luncur.
Meningkatnya kadar air dalam lapisan tanah atau batuan, terutama pada lereng-
lereng bukit akan mempermudah gerakan bergeser atau tanah longsor.
Seiring perkembangan zaman, aktivitas manusia semakin mengarah pada
eksploitasi alam secara berlebihan, baik diperuntukan dalam rangka memenuhi
kebutuhan hidup. Pemanfaatan sumberdaya alam dalam DAS secara sewenang-
wenang seperti penggundulan hutan, pembukaan lahan-lahan baru di
lereng-lereng bukit, tata kota yang tidak sesuai peruntukkannya, dan pemanfaatan
lahan yang tidak memperhatikan kaidah konservasi telah menyebabkan beban
pada lereng semakin berat. Kondisi tersebut secara tidak langsung akan memicu
terjadinya bencana akibat degradasi lingkungan, misalnya tanah longsor. Menurut
Dinas Pekerjaan Umum (2009), bencana diartikan sebagai suatu peristiwa atau
rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh perang, alam, perbuatan manusia, dan
penyebab lain yang dapat mengakibatkan korban dan penderitaan manusia,
kerugian, kerusakan serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan
penghidupan masyarakat. Jadi, peristiwa longsor maupun fenomena alam lainnya
tidak selalu disebut sebagai bencana, jika tidak mengakibatkan korban jiwa atau
gangguan terhadap penduduk sekitar. Namun, saat ini keadaan tersebut sulit
berlaku di DAS-DAS hulu, termasuk di Kabupaten Karanganyar.
DAS Jlantah adalah salah satu DAS yang terletak di Kabupaten
Karanganyar. Di bagian hulu, DAS tersebut memiliki ketinggian yang berkisar
antara 500 – 1000 m dpal dengan kemiringan lereng landai – sangat curam (8 –
>45%), sehingga mengisyaratkan bahwa sebagian daerahnya adalah terjal yang
berpotensi longsor. Berdasarkan kaidah konservasi, daerah dengan kemiringan
>45% seharusnya hanya diperuntukkan menjadi kawasan lindung dimana
permukiman dan tanaman budidaya tidak diperbolehkan. Namun, kawasan
lindung dan penyangga di beberapa DAS hulu Kabupaten Karanganyar telah
berubah menjadi area penanaman sayuran dan tanaman tahunan, serta
berkembang permukiman di antara bukit-bukit terjal.
3

Longsor dalam skala kecil maupun besar, selalu terjadi dari waktu ke
waktu dan bahkan akhir-akhir ini semakin tinggi intensitasnya. Di Kabupaten
Karanganyar terdapat beberapa kecamatan yang rawan longsor, yaitu Kecamatan
Jenawi, Ngargoyoso, Tawangmangu, Jatiyoso, Matesih, dan Karangpandan.
Setiap daerah tersebut memiliki tingkat kerawanan longsor yang berbeda-beda.
Hal tersebut ditentukan oleh perbedaan karakteristik lahan yang sekaligus sebagai
parameter penyebab longsor, seperti kemiringan lereng, jenis tanah, kondisi
batuan, hidrologi, iklim, penggunaan lahan, dan kerapatan vegetasi.
Analisis tingkat bahaya longsor tanah di masing-masing DAS hulu di
Kabupaten Karangayar sangat diperlukan. Analisis tersebut dapat digunakan
untuk penyusunan informasi penanggulangan bencana yang digunakan sebagai
masukan bagi perencanaan dan pembangunan wilayah maupun penyempurnaan
tataruang wilayah. Potensi terjadinya longsoran ini dapat diminimalkan dengan
memberdayakan masyarakat untuk mengenali tipologi lereng yang rawan longsor
tanah, gejala awal lereng akan bergerak, serta upaya antisipasi dini yang harus
dilakukan. Sistem peringatan dini yang efektif sebaiknya dibuat berdasarkan
prediksi, bilamana dan dimana longsor akan terjadi juga tindakan-tindakan yang
harus dilakukan pada saat bencana datang.
Desa Tlobo merupakan salah satu desa yang ada di DAS Jlantah Bagian
Hulu. Desa ini merupakan desa yang aksesbilitasnya cukup tinggi dibandingkan
dengan desa lain. Satuan lahan yang masuk desa ini cukup bervariasi sehingga
dapat dijadikan populasi dalam penelitian ini. Melalui hasil survei dan
pengamatan peta tentatif, diketahui bahwa Desa Tlobo memiliki kemiringan
lereng yang cukup kompleks dan penduduk yang relatif padat. Sebagian
permukiman penduduk menempati daerah berlereng curam yang rawan bencana
tanah longsor. Penggunaan lahan yang tidak tepat dan kurangnya pemahaman
masyarakat pada karakteristik lahan tempat mereka tinggal turut serta
memberikan pengaruh pada tingkat bahaya longsor di Desa Tlobo. Untuk itu perlu
kiranya dilakukan penelitian dan analisis tingkat bahaya longsor, yang hasilnya
dapat disosialisasikan kepada masyarakat agar lebih peduli dan tidak melakukan
eksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan yang dapat membahayakan diri
4

mereka sendiri sehubungan dengan tingkat bahaya longsor di lingkungan tempat


tinggal mereka.
Mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, maka peneliti bermaksud
mengadakan penelitian di salah satu DAS hulu Kabupaten Karanganyar.
Penelitian tersebut berjudul “Tingkat Bahaya Longsor Sebagian Desa Tlobo di
DAS Jlantah Bagian Hulu Kabupaten Karanganyar Tahun 2009”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas terdapat beberapa masalah yang ada di daerah
penelitian. Masalah tersebut antara lain:
1. DAS Jlantah Bagian Hulu memiliki kemiringan lereng terjal
sehingga berpotensi terjadinya longsor.
2. Pemanfaatan lahan yang kurang tepat pada suata lahan, seperti
penanaman vegetasi sayur di kemiringan terjal, pembukaan lahan untuk
permukiman di antara bukit-bukit terjal dapat mempercepat terjadinya
longsor di kawasan tersebut.
3. Heterogenitas karakteristik lahan seperti kemiringan lereng, jenis
tanah, kondisi batuan, hidrologi, iklim, dan penggunaan lahan akan
mempengaruhi perbedaan tingkat bahaya longsor di setiap daerah.

C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah ”Bagaimana Tingkat Bahaya Longsor (TBL) Sebagian Desa
Tlobo di DAS Jlantah Bagian Hulu?”

D. Tujuan Penelitian
Beradasarkan perumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui Tingkat Bahaya Longsor (TBL) Sebagian Desa Tlobo di
DAS Jlantah Bagian Hulu.
5

E. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
Memberikan sumbangan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang
geomorfologi serta bahan acuan bagi penelitian selanjutnya.
2. Manfaat praktis
a. Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan atau arahan
bagi pemerintah daerah setempat dalam usahanya untuk memanfaatkan
dan melestarikan sumberdaya alam di DAS Jlantah Bagian Hulu.
b. Dapat digunakan untuk sosialisasi adanya potensi
terjadinya longsoran sehingga segenap masyarakat dapat mengenali
tipologi lereng yang rawan tanah longsor, gejala awal lereng akan
bergerak, serta upaya antisipasi dini yang harus dilakukan.
c. Sebagai bahan acuan masyarakat dalam ikut serta
meningkatkan kelestarian sumberdaya alam di DAS Jlantah Bagian
Hulu.
6

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka
1. Tanah dan Lahan
“Tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar
permukaan planet bumi yang mampu menumbuhkan tanaman dan
memiliki sifat sebagai pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak
terhadap bahan induk terhadap relief tertentu selama jangka waktu tertentu
pula” (Darmawijaya, 1990:9).

Marbut (1927) seorang ilmuan Rusia, dalam Darmawijaya (1990:8)


mengemukakan bahwa A Soil is a natural-thingout-off doors as an integrated part
of landscape artinya tanah merupakan lapisan luar kulit bumi yang biasanya
bersifat tak padu (unconsolidated) mempunyai tebal dari tiga meter, yang berbeda
dengan bahan di bawahnya biasanya dalam hal warna fisik, susunan kimia
mungkin juga proses-proses kimia yang sedang berlangsung sifat biologis dan
reaksi morfologinya.
Morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dapat
dipelajari di lapangan. Pengamatan sebaiknya dilakukan pada profil tanah yang
baru dibuat (Hardjowigeno, 1993:4). Profil tanah adalah penampang melintang
(vertical) tanah yang terdiri dari lapisan tanah (solum) dan lapisan bahan induk.
Solum tanah adalah bagian dari profil tanah yang terbentuk akibat proses
pembentukan tanah (horizon A dan B) (Hardjowigeno, 1993:6). Profil tanah yang
akan diamati harus memenuhi syarat-syarat, tegak (vertical), baru dan tidak
langsung terkena sinar matahari (Darmawijaya, 1990:157)
Morfologi tanah ditentukan dengan pengamatan dan pengukuran terhadap
horizon penyusun tanah, setelah membatasi masing-masing horizon barulah
horizon tersebut diketahui ciri-ciri morfologinya. Ciri-ciri morfologi tersebut
adalah warna, struktur, tekstur, konsistensi, pH tanah, perakaran dan bahan-bahan
kasar atau bentukan-bentukan istimewa (Darmawijaya, 1990:157). Kualitas tanah

6
7

merupakan hasil interaksi antara karakteristik tanah, penggunaan tanahnya, dan


keadaan lingkungannya (Darmawijaya, 1992:272).
Menurut Jenny dalam Darmawijaya (1990:73) berdasarkan definisi tanah
dikenal lima macam faktor pembentukan tanah yang dihubungkan dengan sifat
-sifat tanah:
s = f(i,h,b,t,w,….)
dengan,
s = sifat – sifat tanah
a. Iklim (i)
Komponen iklim yang utama adalah curah hujan dan temperatur, kedua
komponen ini saling mempengaruhi. Iklim merupakan rata-rata cuaca,
cuaca merubah energi matahari menjadi energi mekanik dan energi panas
sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam atmosfer dari hari ke hari dan
dari musim ke musim (Darmawijaya, 1990:74).
Pengaruh curah hujan terhadap sifat tanah: (Jenny dalam Darmawijaya,
1990:79)
1). Pelindihan unsur-unsur K dan Na
2). Pelindihan CaCO3 dalam profil tanah
3). Pelindihan C dan N dalam tanah
Sedangkan temperatur berpengaruh memperbesar evapo-transpirasi dan
mempercepat reaksi kimia dalam tanah sehingga mempengaruhi pula
gerakan air dalam tanah.
b. Kehidupan (h)
Semua mahluk atau jasad hidup, baik diwaktu hidupnya maupun sesudah
mati mempunyai pengaruh terhadap pembentukan tanah. Diantaranya yang
paling berpengaruh adalah vegetasi karena berkedudukan tetap untuk
waktu lama (Darmawijaya, 1990:92).
c. Bahan Induk (b)
Tiap-tiap satuan bahan induk merupakan faktor pengubah bebas dalam
pembentukan tanah. Sifat-sifat penting yang berpengaruh terhadap proses-
proses pelapukan antara lain tekstur batuan, struktur batuan, kemasaman,
8

kadar Ca yang dikandung bahan induk dan jenis mineral yang menyusun
batuan (Darmawijaya, 1990:87).
d. Topografi (t)
Pada tanah datar kecepatan pengaliran air lebih kecil daripada tanah
berombak (undulating). Topografi miring mempergiat proses erosi,
sehingga membatasi dalamnya solum (Darmawijaya, 1990:98).
e. Waktu (w)
Lamanya bahan induk mengalami pelapukan dan perkembangan tanah
memainkan peranan dalam menentukan jenis tanah yang terbentuk.
Tanah terbagi menjadi beberapa lapisan, yaitu (Darmawijaya, 1990:156)
a. Tubuh tanah (solum), lapisan tanah mineral
dari atas sampai sedikit di bawah batas horizon C
b. Tanah atasan (topsoil), lapisan tanah yang
subur biasanya mengandung bahan organik (horizon Ap, A1 atau horizon
A seluruhnya)
c. Tanah permukaan (surface soil), lapisan tanah
permukaan setebal 12 – 20 cm (5 – 8 inches) yang biasanya terpindahkan
saat penggarapan tanah.
d. Tanah bawah permukaan (subsurface soil),
horizon A yang terdapat di bawah surface soil
e. Tanah bawahan (subsoil), horizon B bagi
tanah-tanah yang profilnya jelas.
f. Lapisan bawah tanah (substratum), tiap
lapisan dibawah solum baik horizon C atau R
Lahan merupakan bagian dari bentangalam (landscape) yang mencakup
pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, tanah, hidrologi, dan
bahkan keadaan vegetasi alami (natural vegetation) yang semuanya secara
potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan (FAO, dalam Djaenudin
dkk, 2003:3).
Menurut FAO dalam Asdak (1989 :207), lahan didefinisikan sebagai
berikut:
9

“Lahan merupakan lingkungan fisik yang terdiri atas iklim, relief, tanah,
air dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada
pengaruhnya terhadap perubahan penggunaan lahan. Termasuk di
dalamnya juga hasil kegiatan manusia di masa lalu dan sekarang seperti
hasil reklamasi laut, pembersihan vegetasi, dan juga hasil yang merugikan
seperti tanah yang tersalinasi. Dalam hal ini lahan juga mengandung
pengertian ruang atau tempat.”
Dalam identifikasi morfologi lahan yang perlu diamati adalah sebagai
berikut : (Darmawijaya, 1990:184)
a. Relief
Relief digunakan untuk menunjukkan secara sederhana perbedaan elevasi
(tinggi tempat) suatu bidang lahan
b. Miring tanah atau lereng (slope)
Miring tanah biasanya diukur dengan alat penyipat datar antara lain abney
level, kompas geologi dan klinometer yang dinyatakan dengan derajat atau
persen
c. Drainase
Drainase tanah adalah kecepatan perpindahan air dari suatu bidang lahan,
baik berupa run-off maupun peresapan air kedalam tanah (Darmawijaya,
1990:187)
d. Vegetasi
Pengamatan vegetasi lebih ditekankan pada penentuan perakaran dalam
profil tanah
e. Erosi
Pengikisan tanah, batuan dipermukaan bumi oleh kerja air, angin, es, dan
gravitasi. Dalam hal ini ditekankan pada air.
Karakteristik lahan adalah suatu parameter lahan yang dapat diukur atau
diestimasi, misalnya kemiringan lereng, curah hujan, tekstur tanah dan sebagainya
(Yunianto, 1991:3). Sitorus (1995:5) mendefinisikan karakteristik lahan sebagai
suatu proses yang meliputi penentuan ciri lahan (land properties) yang ada
hubungannya dan dapat diukur atau dianalisis tanpa memerlukan usaha-usaha
yang besar.
10

Satuan lahan merupakan kelompok dari lokasi yang berhubungan, yang


mempunyai bentuklahan tertentu di dalam sistem lahan dan seluruh satuan lahan
yang sama yang tersebar akan mempunyai asosiasi lokasi yang sama. Sistem
lahan merupakan area yang mempunyai pola yang berulang dari topografi, tanah
dan vegetasi (Sitorus, 1995:93).
Karakteristik lahan berbeda dengan kualitas lahan, karakteristik lahan
merupakan parameter yang akan digunakan dalam mengetahui kualitas lahan.
Kualitas lahan Kualitas tanah merupakan hasil interaksi antara karakteristik tanah,
penggunaan tanah, dan keadaan lingkungan (Darmawijaya, 1992:272). FAO
dalam Sitorus (1995:5) mendefinisikan kualitas lahan adalah suatu sifat lahan
yang komplek atau sifat komposit yang sesuai untuk suatu penggunaan yang
ditentukan oleh seperangkat karakteristik lahan yang berinteraksi.

2. Longsor
Longsoran menurut Sharpe (1938) dalam Thornbury (1969:46) adalah tipe
gerakan masa batuan yang diamati dan melibatkan masa kering bahan rombakan
bumi (earth debris). Sharpe membagi tiga gerakan yang termasuk longsoran
menjadi lima kategori, yaitu:
a. Nendatan (slump)
Nendatan adalah longsoran yang bergerak secara rotasi pada bidang
gelincir yang diakibatkan oleh berkurangnya tahanan geser pada masa
yang tidak terkonsolidasi dengan baik. Ciri jenis longsoran ini adalah masa
gelinciran bergerak secara rotasi dan cenderung ke arah dalam lereng
dengan bagian atas gelinciran membentuk cekungan.
b. Gelinciran bahan rombakan (debris slide)
Gelinciran bahan rombakan merupakan tipe longsoran yang terjadi pada
zona bagian terlapuk. Pada batuan terlapuk terbentuk masa rombakan yang
berupa pecahan-pecahan (ductile) batuan yang terakumulasi pada lereng
bukit dan memiliki potensi yang besar untuk bergerak terutama pada
waktu hujan turun. Jika hujan turun akan terjadi aliran permukaan pada
11

lereng bukit maka masa rombakan tersebut akan ikut bergerak meluncur
menuruni lereng bukit sebagai gelinciran.
c. Jatuhan bahan rombakan (debris fall)
Debris fall merupakan material kasar dan halus yang saling bercampur
(mixed) yang bergerak jatuh bebas pada lereng yang vertikal akibat
pengaruh gaya gravitasi.
d. Gelinciran batuan (rock slide)
Gelinciran batuan merupakan tipe longsoran yang masa batuannya
menuruni lereng bukit akibat pengaruh dari struktur geologinya.
e. Jatuhan batu (rock fall)
Jatuhan batu prosesnya sama dengan debris fall tetapi masa yang bergerak
adalah masa batuan yang ukuran masanya lebih besar daripada masa
rombakan batuan.
Dalam longsoran yang sebenarnya, gerakan ini terdiri dari peregangan
secara geser dan peralihan sepanjang suatu bidang atau beberapa bidang gelincir
yang dapat nampak secara visual. Gerakan ini dapat bersifat progresif yang berarti
bahwa keruntuhan geser tidak terjadi seketika pada seluruh bidang gelincir
melainkan merambat dari suatu titik. Masa yang bergerak menggelincir di atas
lapisan batuan/tanah asli dan terjadi pemisahan dari kedudukan semula. Sifat
gerakan biasanya lambat hingga amat lambat.
Longsoran berdasarkan bentuk bidang gelincirnya dapat dibagi menjadi :
(Schutcer dan Raimond, 1978:13)
a. Longsoran Rotasi (rotasional slides)
Longsoran rotasi adalah yang paling sering dijumpai oleh para
rekayasawan sipil. Longsoran jenis ini dapat terjadi pada batuan maupun
tanah. Pada kondisi tanah homogen, longsoran rotasi dapat berupa busur
lingkaran, tetapi dalam kenyataan sering dipengaruhi oleh diskontinuitas
oleh adanya sesar, lapisan lembek dan lain-lain.
b. Longsoran Translasi (translational slides)
Dalam longsoran translasi, longsoran bergerak sepanjang bidang gelincir
berbentuk bidang rata. Perbedaan terhadap longsoran rotasi dan translasi
12

merupakan kunci penting dalam penanggulannya. Gerakan dari longsoran


translasi umumnya dikendalikan oleh permukaan yang lembek. Longsoran
translasi ini dapat bersifat menerus, luas, dan dapat pula dalam blok.

Dalam http://merapi.vsi.esdm.go.id mengungkapkan ada 6 jenis longsoran,


yaitu:
a. Longsoran Translasi
Longsoran translasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada
bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

Gambar 1: Longsor Translasi


b. Longsoran Rotasi
Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang
gelincir berbentuk cekung.

Gambar 2: Longsor Rotasi


c. Pergerakan Blok
Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang
gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok
batu.
13

Gambar 3: Pergerakan Blok


d. Runtuhan batu
Runtuhan batu terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain
bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng
yang terjal hingga menggantung terutama di daerah pantai. Batu-batu besar
yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.

Gambar 4: Runtuhan Batu


e. Rayapan Tanah
Rayapan tanah dalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis
tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis longsor ini hampir tidak
dapat dikenali. Setelah waktu cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa
menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.

Gambar 5: Rayapan Tanah


f. Aliran Bahan Rombakan
Aliran bahan rombakan terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh
air. Kecepatan aliran tergantung kemiringan lereng, volume dan tekanan
air, dan jenis materialnya. Gerakan terjadi di sepanjang lembah dan
mampu mencapai ratusan meter. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan
meter seperti di DAS sekitar gunung api. Aliran tanah dapat menelan
korban cukup banyak.
14

Gambar 6: Aliran Bahan Rombakan

Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng
lebih besar dari gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh
kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sementara, gaya pendorong dipengaruhi
oleh besarnya sudut kemiringan lereng, air, beban serta berat jenis tanah dan
batuan.
Faktor-faktor penyebab gerakan tanah antara lain:
a. Hujan
Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena
meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan
menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah
besar. Hal itu mengakibatkan munculnya poripori atau rongga tanah
hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah permukaan. Ketika hujan, air
akan menyusup ke bagian yang retak sehingga tanah dengan cepat
mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang
tinggi biasanya sering terjadi, sehingga kandungan air pada tanah menjadi
jenuh dalam waktu singkat. Hujan lebat pada awal musim dapat
menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk
dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan
lateral. Bila ada pepohonan di permukaannya, tanah longsor dapat dicegah
karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga akan
berfungsi mengikat tanah.
b. Lereng terjal
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng
yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan
15

angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah 180


apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar.
c. Tanah yang kurang padat dan tebal
Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah liat dengan ketebalan lebih
dari 2,5 m dan sudut lereng lebih dari 220. Tanah jenis ini memiliki
potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan. Selain
itu tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi
lembek terkena air dan pecah ketika hawa terlalu panas.
d. Batuan yang kurang kuat
Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan
campuran antara kerikil, pasir, dan liat umumnya kurang kuat. Batuan
tersebut akan mudah menjadi tanah bila mengalami proses pelapukan dan
umumnya rentan terhadap tanah longsor bila terdapat pada lereng yang
terjal.
e. Jenis tata lahan
Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan,
perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan
persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat
tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi
longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnya adalah karena
akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan
umumnya terjadi di daerah longsoran lama.
f. Getaran
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan,
getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang
ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah
menjadi retak.
g. Susut muka air danau atau bendungan
Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng
menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi
longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.
16

h. Adanya beban tambahan


Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan
kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama
di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering
terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya relatif lembah.

i. Pengikisan/erosi
Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai relative tebing. Selain itu
akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi
terjal.
j. Adanya material timbunan pada tebing
Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya
dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan
pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang
berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah
yang kemudian diikuti dengan retakan tanah.ikirs
k. Bekas longsoran lama
Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadipengendapan
material gunung api pada lereng yang relatif terjal ataupada saat atau
sesudah terjadi patahan kulit bumi. Bekas longsoran lama memiliki ciri-
cirisebagai berikut:
1) Adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuktapal
kuda
2) Umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang relatif tebalkarena
tanahnya gembur dan subur
3) Daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif landai
4) Dijumpai longsoran kecil terutama pada tebing lembah
5) Dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang merupakan bekas
longsoran kecil pada longsoran lama
6) Dijumpai alur lembah dan pada tebingnya dijumpai retakan
danlongsoran kecil
17

7) Longsoran lama ini cukup luas


l. Adanya bidang diskontinuitas (bidang tidak sinambung)
Bidang tidak sinambung ini memiliki ciri:
1) Bidang perlapisan batuan
2) Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan dasar
3) Bidang kontak antara batuan yang retak-retak dengan batuan yang
kuat.
4) Bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air dengan
batuan yang tidak melewatkan air (kedap air).
5) Bidang kontak antara tanah yang lembek dengan tanah yang padat.
6) Bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah dan dapat
berfungsi sebagai bidang luncuran tanah longsor.
m. Penggundulan hutan
Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul
dimana pengikatan air tanah sangat kurang. Longsoran lama umumnya
terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung api pada
lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah terjadi patahan kulit
bumi. Bekas longsoran lama memilki ciri:
1) Adanya tebing terjal yang panjang
melengkung memmembentuk tapal kuda.
2) Umumnya dijumpai mata air,
pepohonan yang relatif tebal karena tanahnya gembur dan subur.
3) Daerah badan longsor bagian atas
umumnya relative landai.
4) Dijumpai longsoran kecil terutama
pada tebing lembah.
5) Dijumpai tebing-tebing relatif terjal
yang merupakan bekas longsoran kecil pada longsoran lama.
6) Dijumpai alur lembah dan pada
tebingnya dijumpai retakan dan longsoran kecil. Longsoran lama ini
cukup luas.
18

n. Daerah pembuangan sampah


Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam
jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah
dengan guyuran hujan.

3. Daerah Aliran Sungai


a. Pengertian Daerah Aliran Sungai
Konsep Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan dasar dari semua
perencanaan hidrologi. Secara umum DAS dapat di definisikan sebagai suatu
wilayah yang dibatasi oleh batas alam, seperti punggungan bukit atau gunung,
maupun batas buatan seperti jalan atau tanggul dimana titik hujan yang turun di
daerah tersebut memberi kontribusi aliran ke titik keluaran (outlet). Menurut
Asdak (1995:4) Daerah Aliran Sungai (DAS) diartikan sebagai daerah yang
dibatasi punggung-punggung gunung dimana air hujan yang jatuh di daerah
tersebut akan ditampung oleh punggung gunung tersebut dan dialirkan melalui
sungai-sungai kecil di sungai utama.
Menurut kamus webster DAS juga didefinisikan sebagai suatu wilayah
daratan yang dipisahkan dari wilayah lain disekitarnya oleh pemisah alam
topografi, seperti punggung bukit atau gunung dan menerima air hujan,
menampung, dan mengalirkannya melalui sungai utama ke laut/danau. Apapun
definisi yang kita anut, DAS merupakan suatu ekosistem dimana di dalamnya
terjadi proses interaksi antara faktor-faktor biotik, non biotik dan manusia.
Sebagai suatu ekosistem maka setiap ada masukan ke dalamnya, proses yang
terjadi dan berlangsung di dalamnya dapat dievaluasi berdasarkan keluaran dari
ekosistem tersebut. Komponen masukan dari ekosistem DAS adalah curah hujan,
sedangkan keluaran berupa debit air dan muatan sedimen. Komponen-komponen
DAS yang berupa vegetasi, tanah dan saluran air dalam hal ini bertindak sebagai
prosessor.
19

Ekosistem DAS merupakan bagian yang penting karena mempunyai


fungsi perlindungan terhadap DAS. Aktifitas dalam DAS yang mengakibatkan
perubahan ekosistem, misalnya tata guna lahan, khususnya di daerah hulu dapat
memberikan dampak di daerah hilir yang mengakibatkan perubahan fluktuasi
debit air dan muatan sedimen serta material terlarut lainnya. Adanya keterkaitan
antara masukan dan keluaran pada suatu DAS dapat dijadikan dasar untuk
mengetahui dampak suatu tindakan atau aktifitas bangunan di dalam DAS
terhadap lingkungan, khusunya tanah. Sebagai pertimbangan berikut ini gambar
model siklus hidrologi yang menjelaskan proses memutarnya alur air.

Gambar 7: Siklus Hidrologi (Sumber: Miller, 1990 dalam Sartohadi, 2005)

b. Fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS)


Tanah longsor, bencana banjir dan kekeringan silih berganti terjadi di
suatu wilayah merupakan dampak negatif kegiatan manusia pada suatu DAS.
Keadaan sosial ekonomi penduduk setempat berpengaruh mutlak dalam
berlangsungnya ekosistem DAS, rendahnya taraf ekonomi masyarakat memaksa
lahan disekitarnya untuk dijadikan lahan produktif. Dalam hal ini dapat dikatakan
bahwa kegiatan manusia telah menyebabkan DAS gagal menjalankan fungsinya
sebagai penampung air hujan yang jatuh dari langit, menyimpan dan
mendistribusikan air tersebut ke saluran-saluran atau sungai.
20

Ekosistem DAS, terutama DAS bagian hulu merupakan bagian yang


penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan bagian
DAS. Perlindungan ini, antara lain dari segi fungsi tata air. Keterikatan antara
hulu dan hilir menurut Asdak (1995:572) dapat dipakai sebagai satuan monitoring
dan evaluasi pengelolaan sumberdaya air. Fungsi Pemantauan (monitoring)
didefinisikan sebagai aktifitas pengamatan yang dilakukan secara terus-menerus
atau secara periodik terhadap pelaksanaan salah satu atau beberapa program
pengelolaan DAS untuk menjamin bahwa rencana-rencana kegiatan yang
diusulkan, jadwal kegiatan, hasil-hasil yang diinginkan dan kegiatan-kegiatan lain
yang diperlukan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Sedangkan fungsi evaluasi
didefinisikan sebagai suatu proses yang berusaha untuk menentukan relevansi,
efektifitas dan nampak dari aktifitas-aktifitas yang dilaksanakan untuk mencapai
sasaran yang telah ditentukan (Asdak, 1995:573).
c. Pembagian Daerah Aliran Sungai (DAS)
DAS yang sering disebut juga dengan Daerah Pengaliran Sungai (DPS)
terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian hulu, bagian tengah dan bagian hilir
(Asdak, 1995:11). Seperti dijelaskan pada gambar berikut.

Gambar 8: Penampang 3 Dimensi Struktur Memanjang Sungai ( Miller,


1990 dalam Sartohadi, 2005)

1) Daerah hulu
Derah hulu mempunyai ciri-ciri :
a). Proses pendalaman lembah sepanjang aliran sungai
21

b). Laju erosi lebih cepat daripada pengendapan


c). Merupakan daerah konservasi.
d). Mempunyai kerapatan drainase yanng lebih tinggi.
e). Pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase.
f). Lereng terjal
g). Pola penggerusan tubuh sungai berbentuk huruf “V”

2) Daerah tengah
Bagian tengah DAS merupakan daerah peralihan antara bagian hulu
dengan bagian hilir dimana masih terdapat sedikit proses erosi dan mulai
terjadi pengendapan. Dicirikan dengan daerah yang relatif datar.
3) Daerah hilir
Bagian hilir dicirikan dengan :
a). Merupakan daerah deposisional
b). Kerapatan drainase kecil.
c). Merupakan daerah dari kemiringan lereng landai.
d). Potensi bahan galian golongan C
e). Pola penggerusan tubuh sungai berbentuk huruf “U”
f). Pengaturan air sebagian besar ditentukan oleh bangunan irigasi
g). Pada beberapa tempat merupakan daerah banjir (genangan) dan
mulai terbentuk delta serta meander.

Kondisi topografi suatu daerah akan mempengaruhi pola dan bentuk DAS
sebagai contoh pada daerah dengan topografi pegunungan akan menjadikan
bentuk DAS berpola radial, berbeda dengan dengan pola DAS pada daerah
topografi perbukitan karst. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai bagian hulu akan
berpengaruh pada ekosistem pada bagian hilir. Oleh karenanya DAS bagian hulu
merupakan daerah yang sangat penting karena mempunyai fungsi perlindungan
terhadap seluruh bagian DAS, jadi apabila terjadi pengelolaan yang tidak benar
terhadap bagian hulu maka dampak yang ditimbulkan akan dirasakan juga pada
22

bagian hilir. Dalam pengelolaan DAS digunakan tiga pendekatan analisis yaitu :
(Asdak,1995 : 537 )
a. Pengelolaan DAS sebagai proses yang melibatkan langkah-langkah
perencanaan dan pelaksanaan yang terpisah tetapi erat berkaitan.
b. Pengelolaan DAS sebagai sistem perencanaan pengelolaan dan sebagai alat
implementasi program pengelolaan DAS melalui kelembagaan yang relevan
dan terkait.
c. Pengelolaan DAS sebagai serial aktivitas yang masing-masing berkaitan dan
memerlukan perangkat pengelolaan yang spesifik.
4. Satuan Lahan
Satuan lahan adalah pengelompokan lahan berdasarkan persamaan
karakteristiknya. Dalam penelitian ini satuan lahan berperan sebagai satuan
analisis. Satuan lahan diperoleh dengan menumpangsusunkan (overlay) Peta
Tanah, Peta Geologi, Peta Lereng, dan Peta Penggunaan Lahan. Setiap satuan
lahan dilakukan pengenalan sifat morfologi tanah dan karakteristik lingkungan
fisik dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Data-data tersebut
meliputi jenis tanah, formasi batuan, kelerengan, kedalaman efektif, solum tanah,
singkapan batuan, banyaknya kerikil dan batuan, dinding terjal, kenampakan
erosi, banjir, struktur tanah, drainase, konservasi, jenis dan kerapatan vegetasi,
permeabilitas karakteristik kimia tanah, serta luas daerah pada setiap satuan lahan.

Qlla – An – I – Pmk Satuan Lahan


Penggunaan Lahan Permukiman
Lereng Kelas I
Jenis Tanah Andosol
Batuan Qlla

B. Hasil Penelitian Yang Relevan


Agung Hartono (2008) mengadakan penelitian dengan judul “Arahan
Konservasi Daerah Aliran Sungai Samin Kabupaten Karanganyar dan Sukoharjo
23

Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006”. Penelitian tersebut bertujuan untuk (1)
mengetahui persebaran satuan lahan dengan pengenalan karakteristik lingkungan
fisik, (2) mengetahui tingkat bahaya erosi, (3) mengetahui tingkat bahaya longsor,
(4) mengetahui kemampuan lahan, (5) mengetahui kesesuaian lahan, (6)
menentukan prioritas penanganan konservasi tanah, dan (7) menentukan cara
penanganan dalam arahan konservasi tanah di Daerah Aliran Sungai Samin.
Penelitian tersebut menggunakan metode survei yang disertai analisis data
sekunder. Populasi dalam penelitian adalah seluruh satuan lahan di DAS Samin
yang berjumlah 152 satuan. Sampel yang diamati sebanyak 45 titik dengan
menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data satuan lahan dengan
menggunakan analisi dokumentasi. Data untuk menghitung tingkat bahaya erosi,
tingkat bahaya longsor, kemampuan lahan, kesesuaian lahan, menentukan
prioritas penanganan, dan menentukan arahan konservasi diperoleh dengan
wawancara, observasi lapangan, analisis laboratorium, dan analisis dokumentasi
dengan instrumen lembar pertanyaan dan checklist. Teknik analisis data yang
digunakan adalah teknik analisis kualitatif dari faktor-faktor penyebab erosi, besar
erosi, tingkat bahaya erosi, sedangkan teknik analisis data untuk penentuan tingkat
bahaya longsor, kemampuan lahan, kesesuaian lahan, dan prioritas penanganan
dilakukan adengan teknik skoring. Untuk menentukan arahan konservasi lahan
dilakukan dengan membandingkan indeks C P dengan indeks alternatifnya
sehingga diketahui besar erosi yang melebihi erosi wajar dan lahan yang tidak
sesuai denagn kemapuannya. Analisis peta menggunakan aplikasi SIG.
Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) DAS Samin tersusun dari 15 jenis
tanah, 8 formasi batuan penyusun, 5 kelas kemiringan lereng, 5 jenis penggunaan
lahan yang kemudian membentuk 152 satuan lahan, (2) Tingkat Bahaya Erosi di
DAS Samin terbagi ke dalam 5 kelas yaitu Sangat Ringan (SR), Ringan (R),
Sedang (S), Berat (B), dan Sangat Berat (SB) dengan luas secara berurutan
22163,786 ha (68,487%), 3719,420 ha (11,493%), 2330,879 ha (7,202%),
2639,904 ha (8,157%), dan 1508,143 ha (4,660%), (3) Tingkat Bahaya Longsor
dibagi menjadi 5 kelas yaitu Sangat Ringan (SR), Ringan (R), Sedang (S), Berat
(B), dan Sangat Berat (SB) yang secara berurutan memiliki luas 8472,69 ha
24

(26,18%), 6363,4 ha (19,66%), 10557,07 ha (32,62%), 6337,181 ha (19,58%), dan


631,79 ha (1,95%), (4) klasifikasi kelas kemampuan lahan daerah penelitian
sebagian besar berupa subkelas kemampuan lahan VIIIw dengan luas 15349,21 ha
(47,3%) yang diikuti sub kelas Vw, VIIs, VIIes, IVe, VIe, VIIIe, VIIe yang secara
berurutan memiliki luas 8145,48 ha (25,17%), 3208,7 ha (9,91%), 964,31 ha
(2,97%), 826,3 ha (2,53%), 2327,94 ha (7,19%), 656,10 ha (2,02%), 272,82 ha
(0,84%), 30,55 ha (0,09%). Faktor penghambat untuk klasifikasi kemampuan
lahan adalan ancaman erosi, drainase, dan hambatan yang berada pada daerah
perakaran. (5) Berdasarkan kondisi fisik di lapangan maka sebagian besar
(57,11%) lahan-lahan di daerah penelitian dinilai tidak layak secara aktual utnuk
pengembangan secara langsung dari jenis tanamn padi, jagung, dan ketela pohon.
Faktor penghambat yang domiann adalah kondisi perakaran, ketersediaan hara,
potensi mekanisasi dan tingkat bahaya erosi. (6) prioritas penanganan konservasi
tanah sebagian besar mempunyai prioritas penanganan 4 dengan luas 19378,18 ha
(59,88%) yang diikuti oleh prioritas 2, 3, 5, 1 yang masing-masing memilki luas
5959,88 ha (18,42%), 2663,56 ha (8,23%), 2366,78 ha (7,31%), dan 1993,73 ha
(6,16%). Artinya bahwa lahan-lahan di daerah penelitian perlu mendapatkan
perhatian yang serius. (7) secara vegetatif pada lahan yang mempunyai
kemiringan lereng curam – sangat curam diarahkan sebagai penggunaan lahan
hutan lindung, sedangkan pada lereng datar- sedang diarahkan sebagai wanatani
(agroforesty). Secara teknik alternatif arahan konservasinya sebagian besar berupa
pembuatan dan penyempurnaan bentuk teras yang sudah ada.
Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Sub Sistem DAS
Samin bagian hulu dicirikan dengan karakteristik tanah jenis Andosol, Litosol,
Latosol, Kompleks Andosol Regosol dan Litosol, Kompleks Andosol Latosol,
Asosiasi Regosol dan Andosol. Sebagian besar vegetasi berupa tanaman yang
mampu tumbuh optimal pada suhu rendah seperti akasia, pinus, wortel, stroberi.
Sub Sistem DAS Samin bagian tengah dicirikan dengan karakteristik tanah jenis
Mediteran dan Kompleks Mediteran dan Grumosol. Vegetasi yang dapat tumbuh
optimal pada lahan ini adalah ketela pohon dan kacang tanah. Sub Sistem DAS
Samin bagian bawah mempunyai karakteristik tanah jenis Gleisol, Asosiasi
25

Grumosol dan Mediteran, Asosiasi Kambisol dan Grumosol, dan Kompleks


Mediteran dan Grumosol yang sebagian besar tanahnya dimanfaatkan untuk
tanaman padi sawah. Tingkat Bahaya Erosi dan Tingkat Longsor di DAS Samin
mempunyai kelas Sangat Ringan (SR) sampai Sangat Berat (SB). Kelas
kemampuan lahan IV sampai dengan VIII dengan 5 kelas prioritas penanganan.
Arahan konservasi yang disusun disampaikan secara vegetatif dan teknik.

C. Kerangka Pemikiran
Peristiwa tanah longsor atau dikenal sebagai gerakan masa tanah, batuan,
atau kombinasinya sering terjadi pada lereng-lereng dan sebenarnya merupakan
proses alami. Longsor berkaitan erat dengan kemampuan daya dukung lahan dan
besaran gangguan pada lahan. Semakin tinggi kemampuan daya dukung lahan dan
semakin kecil besaran gangguan maka tingkat bahaya longsornya semakin kecil
dan sebaliknya.
Penelitian ini menggunakan satuan lahan sebagai satuan analisisnya.
Satuan lahan diperoleh dari menumpangsusunkan (overlay) peta tanah, peta
geologi, peta lereng, dan peta penggunaan lahan dengan menggunakan program
SIG. Peta satuan lahan tersebut digunakan dalam mengambil sampel di lapangan
yang diambil dengan teknik random sampling.
Besarnya Tingkat Bahaya Longsor (TBL) dilakukan dengan memberikan
pengharkatan terhadap parameter penentu longsor. Tingkat Bahaya Longsor
kemudian diklasifikasikan berdasarkan total skor dari parameter di setiap satuan
lahan. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam
diagram alur sebagai berikut:

Daya Dukung Lahan Besaran Gangguan

Peta Geologi

Peta Tanah
Peta Satuan Lahan
sebagai Satuan
Analisis
26

OVERLAY

Peta Lereng

Peta Penggunaan
Lahan

Peta Curah Hujan

SKORING

Peta Tingkat Bahaya Longsor


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Penelitian Tingkat Bahaya Longsor dilakukan di DAS Jlantah Bagian
Hulu. Secara administrasi DAS Jlantah Bagian Hulu terletak di dua kecamatan
yaitu Kecamatan Tawangmangu dan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar.
Berdasarkan letak astronomis, DAS Jlantah Bagian Hulu berada pada posisi
0508733mT – 0520518mT dan 9146742mU – 9151575mU.
2. Waktu Penelitian
Penelitian Tingkat Bahaya Longsor di DAS Jlantah Bagian Hulu akan
dilaksanakan pada hari Selasa - Kamis, tanggal 2 – 4 Juni 2009.

B. Bentuk dan Strategi Penelitian


Bentuk penelitian ini adalah kualitatif. Menurut Moleong (1990:3)
metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang
diamati. Strategi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif,
yaitu penelitian yang melukiskan atau menafsirkan keadaan yang ada atau yang
sedang terjadi pada saat penelitian sedang berlangsung.
27

Untuk mencapai tujuan penelitian ini, digunakan metode survei. Metode


Survei adalah metode yang digunakan untuk memperoleh data di lapangan dengan
cara pengamatan, pengukuran, dan pencatatan secara sistematik terhadap
fenomena yang diselidiki dan melakukan observasi, pengukuran, dan deskripsi
sifat-sifat lahan di setiap satuan lahan sebagai satuan analisisnya.

C. Populasi dan Teknik Sampling


1. Populasi
Populasi pada penelitian ini ada 21 unit satuan lahan di sebagian Desa
Tlobo yang berada di DAS Jlantah Bagian Hulu.
2. Sampel
26
Teknik pengambilan data pada penelitian ini dilakukan dengan teknik
sampling, yaitu menggunakan teknik random sampling, artinya pengambilan
sampel dilakukan secara acak di setiap satuan lahan, karena anggota populasi
dianggap memiliki peluang sama untuk dijadikan sebagai sampel.

D. Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 macam, yaitu data primer
dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung di lapangan,
yaitu diperoleh dari hasil wawancara, pengukuran dan pengujian di lapangan,
sedangkan data sekunder adalah data penunjang yang diperoleh dari instansi-
instansi terkait dan dari hasil penelitian terdahulu. Adapun data yang diperlukan
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut ini :
1. Data Primer
Data primer yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Kemiringan
lereng
b. Penggunaan
lahan
c. Solum tanah
d. Tekstur tanah
28

e. Permeabilitas
f. Kedalaman
pelapukan
2. Data Sekunder
Data sekunder yang digunakan meliputi :
a. Data letak, luas, batas dan ketinggian tempat daerah
penelitian yang diperoleh dari Peta Rupabumi Indonesia lembar 1508 – 131
TAWANGMANGU dan 1508 – 132 PONCOL.
b. Data kemiringan lereng dari Peta Rupabumi Indonesia
lembar 1508 – 131 TAWANGMANGU dan 1508 – 132 PONCOL.
c. Data jenis batuan diperoleh dari Peta Geologi lembar
Ponorogo.
d. Data macam tanah diperoleh dari Peta Tanah dari
BAPPEDA Kabupaten Karanganyar.
e. Data iklim, yang meliputi curah hujan, iklim dan suhu
yang diperoleh dari Balai Sungai Surakarta.
f. Data penggunaan lahan dari Peta Rupabumi Indonesia
lembar 1508 – 131 TAWANGMANGU dan 1508 – 132 PONCOL.

E. Teknik Pengumpulan Data


Berdasarkan uraian tentang sumber data diatas, ada beberapa teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi lapangan,
dokumentasi, dan wawancara, yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut :
1. Observasi lapangan
Observasi lapangan adalah suatu cara pengumpulan data dengan
pengamatan langsung di lapangan. Observasi lapangan ini dilakukan untuk
mengambil sampel tanah untuk analisis fisik tanah, pengukuran kemiringan
lereng, kedalaman pelapukan, dan penggunaan lahan.
2. Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan menelaah segala
bentuk catatan atau literatur yang terkait dengan penelitian, termasuk peta. Data
29

yang dikumpulkan berupa data sekunder, seperti data data jenis tanah dari Peta
Tanah dari BAPPEDA Kabupaten Karanganyar, data penggunaan lahan dari Peta
Rupabumi Indonesia, data jenis batuan dari Peta Geologi lembar Ponorogo –
Ngawi dan Surakarta – Giritontro, dan data curah hujan dari Balai Sungai
Surakarta.

F. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data untuk penentuan Tingkat Bahaya Longsor dilakukan
dengan teknik skoring, yaitu dengan memberikan pengharkatan terhadap faktor
penentu longsor. Pengharkatan dilakukan secara bertingkat, dimana harkat terkecil
(dalam hal ini adalah 1) menunjukan bahwa peranannya terhadap longsor paling
kecil, sedangkan harkat terbesar (dalam hal ini adalah 5) menunjukan peranannya
yang paling besar terhadap terjadinya longsor. Pembobotan disusun atas dasar
pemahaman faktor penyebab dan faktor pemicu longsor. Faktor yang
menyebabkan terjadinya longsor adalah gaya gravitasi yang bekerja pasa suatu
massa tanah dan atau batuan. Di lapangan, besarnya pengaruh gaya gravitasi
tersebut ditentukan oleh besarnya kemiringan lereng. Oleh karena itu dalam
penilaian Tingkat Bahaya Longsor, faktor kemiringan lereng diberikan bobot yang
paling tinggi (bobot 10) dibandingkan faktor-faktor lain.
Pemberian bobot pada faktor pemicu adalah dengan memperhatikan faktor
dinamik dan faktor statis. Faktor yang bersifat dinamik diberi bobot yang lebih
tinggi karena longsor selalu dipicu oleh adanya perubahan gaya/energi akibat
faktor dinamik, seperti hujan dan penggunaan lahan. Faktor hujan memiliki bobot
yang lebih tinggi (bobot 5,6) dibandingkan penggunaan lahan (bobot 2,4) karena
hujan dapat mempengaruhi perubahan besar terhadap beban masa batuan atau
tanah seacra lebih cepat. Faktor-faktor yang bersifat statis dikelompokkan menjadi
2, yaitu faktor tanah dan batuan. Faktor batuan diberi bobot lebih tinggi
dibandingkan dengan tanah karena batuan merupakan alas tanah. Perubahan-
perubahan yang terjadi pada batuan secara otomatis mempengaruhi kestabilan
tanah yang menumpang diatasnya.
30

Tingkat Bahaya Longsor selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan total


skor dari parameter di setiap satuan lahan. Penentuan kelas interval ditentukan
sebagai berikut :
a −b
X =
n
Keterangan: X = nilai interval a = harkat tertinggi
N = jumlah kelas b = harkat terendah
Adapun klasifikasi Tingkat Bahaya Longsor disajikan pada tabel berikut:
Tabel 1. Tingkat Bahaya Longsor
No Tingkat Bahaya Longsor Skor Total
1. Sangat Rendah (SR) 24 – 43,2
2. Rendah (R) > 43,2 – 62,4
3. Sedang (S) > 62,4 – 81,6
4. Tinggi (T) > 81,6 – 100,8
5. Sangat Tinggi (ST) > 100,8 – 120
Tabel 2. Pengharkatan Parameter Penentu Longsor
No Parameter Kriteria Harkat
1. Kemiringan lereng (%)
0–8 Datar 1
8 – 15 Landai 2
15 – 25 Agak curam 3
25 – 45 Curam 4
> 45 Sangat curam 5
2. Curah hujan (mm/hr)
0 – 13,6 Sangat rendah 1
13,6 – 20,7 Rendah 2
20,7 – 27,7 Sedang 3
27,7 – 34 Tinggi 4
> 34 Sangat tinggi 5
3. Penggunaan lahan
Hutan - 1
Tegalan berteras + kebun campuran - 2
berteras
Permukiman + semak belukar - 3
Tegal + kebun campuran tak berteras - 4
Sawah - 5
4. Kedalaman pelapukan (cm)
<50 Dangkal 1
50 – 75 Agak dangkal 2
75 – 100 Sedang 3
100 – 150 Dalam 4
>150 Sangat dalam 5
5. Solum tanah (cm)
31

0 – 25 Sangat dangkal 1
25 – 50 Dangkal 2
50 – 90 Sedang 3
90 – 120 Dalam 4
>120 Sangat dalam 5
6. Permeabilitas tanah (cm/jam)
>12,5 Cepat 1
6,25 – 12,5 Agak cepat 2
2,0 – 6,25 Sedang 3
0,5 – 2,0 Agak lambat 4
< 0,5 Sangat lambat 5
7. Tekstur tanah
Geluh - 1
Pasir - 2
geluh lempungan, geluh lempung pasiran, -
3
geluh lempung debuan
geluh debuan, debu, pasir geluhan - 4
lempung, lempung pasiran - 5
Sumber: Sunarto Goenadi, dkk (2003), Kuswaji (2006), dengan modifikasi
Tabel 3. Pengharkatan dan Pembobotan Parameter Penentu Longsor
No Jenis Parameter B K BxK Harkat Harkat x
Faktor Bobot x
Konstanta
Min Maks Min Maks
1. Penyebab Kemiringan 10 1 10 1 5 10 50
lereng
2. Pemicu Curah hujan 8 0,7 5,6 1 5 5,6 28
3. (Dinamik) Penggunaan 8 0,3 2,4 1 5 2,4 12
lahan
4. Pemicu Kedalaman 6 0,7 4,2 1 5 4,2 21
(Statis) pelapukan
5. Solum tanah 6 0,1 0,9 1 5 0,9 4,5
5
6. Permeabilitas 6 0,0 0,54 1 5 0,54 2,7
9
7. Tekstur 6 0,0 0,36 1 5 0,36 1,8
tanah 6
Jumlah 24 120
Sumber: Sunarto Goenadi, dkk (2003) dan Kuswaji (2006) dengan modifikasi

G. Prosedur Penelitian
1. Tahap Persiapan dan Pengajuan Proposal
32

Pada tahap ini dilakukan observasi awal terhadap daerah penelitian


kemudian mencari literatur yang sesuai dengan tema penelitian.
2. Penyusunan Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk menggumpulkan
data yang diperlukan . Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah peta
satuan lahan kemudian diperlukan juga lembar checklist.
3. Tahap Pengumpulan data
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data berupa data primer dan data
sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan pengambilan sampel tanah
guna analisis sifat fisik tanah. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan
diperoleh dari instansi-instansi terkait, penelitian yang relevan, dan analisis pada
Peta RBI, Peta Geologi dan Peta Tanah.
4. Tahap Analisis Data
Tahap ini merupakan tahap dimana data yang diperoleh dihitung,
dianalisis dan diklasifikasikan untuk dapat menyimpulkan hasil dari penelitian.
5. Tahap Penulisan Laporan Penelitian
Merupakan tahap terakhir dalam penelitian dimana hasil penelitian yang
diperoleh dilaporkan atau disajikan dalam bentuk tulisan, tabel, gambar, dan peta.
33

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian


1. Letak, Luas dan Batas Daerah Penelitian
a. Letak Daerah Penelitian
Penelitian dilaksanakan di sebagian Desa Tlobo di Daerah Aliran Sungai
Jlantah Bagian Hulu. Secara astronomis, DAS Jlantah Bagian Hulu berada pada
posisi 0508733mT – 0520518mT dan 9146742mU – 9151575mU. Letak tersebut
diketahui berdasarkan Peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1 : 25.000 Tahun 2003
lembar 1508–132 Poncol, lembar 1508–131 Tawangmangu, yang dikeluarkan
oleh Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).
Secara administratif DAS Jlantah Bagian Hulu terletak di sebagian
Kecamatan Tawangmangu, dan Kecamatan Jatiyoso. Pembagian wilayah
administrasi DAS Jlantah Bagian Hulu secara rinci dapat dilihat pada tabel 4
berikut:
34

Tabel 4.Pembagian Wilayah Administrasi DAS Jlantah Bagian Hulu


Kabupaten Kecamatan Desa
Karanganyar Tawangmangu - Gondosuli
- Blumbang
- Kaliboro
- Tawangmangu
- Beruk
Jatiyoso - Wonorejo
- Tlobo
- Karangsari

b. Luas DAS Jlantah Bagian Hulu


Luas suatu DAS merupakan hasil kali antara panjang rata-rata DAS
dengan lebar rata-rata DAS. Berdasarkan hasil digitasi dengan menggunakan
Sistem Informasi Geografis (SIG) luas DAS Jlantah Bagian Hulu adalah
32.378,787 Ha dimana dua pertiga luasnya berada di Kecamatan Tawangmangu
dan sepertiga luasnya berada di Kecamatan Jatiyoso.
c. Batas DAS Jlantah Bagian Hulu
Secara umum batas DAS Jlantah adalah sebagai berikut:
1) Bagian Utara berbatasan dengan DAS Samin di Kecamatan
Tawangmangu.
2) Bagian Timur berbatasan dengan DAS Gandong di Kabupaten
Magetan dan Ngawi.
3) Bagian Selatan berbatasan dengan DAS Walikan di Kecamatan
Jatiyoso.
4) Bagian Barat berbatasan dengan DAS Jlantah Bagian Tengah
Kecamatan Jatiyoso.
Daerah Aliran Sungai Jlantah Bagian Hulu yang terletak di Kabupaten
Karanganyar membentang dari arah timur yaitu di Kecamatan Tawangmangu
bagian selatan meliputi 4 (empat) desa yaitu Desa Gondosuli, Kelurahan
Blumbang, Kelurahan Kaliboro dan Kelurahan Tawangmangu, serta Kecamatan
35

Jatiyoso bagian timur meliputi Desa Beruk, ke arah barat meliputi Desa
Wonorejo, Desa Tlobo dan Desa Wonosari di wilayah Kecamatan Jatiyoso.
2. Iklim
Iklim adalah sintesis atau kesimpulan dari perubahan nilai unsur-unsur
cuaca (hari demi hari dan bulan demi bulan) dalam jangka panjang di suatu
tempat atau pada suatu wilayah (Handoko, 1995:3), sedangkan cuaca adalah suhu
rata-rata udara di suatu daerah dalam waktu yang singkat dan di daerah yang
sempit. Sintesis tersebut dapat diartikan sebagai nilai statistik yang meliputi rata-
rata, maksimum, minimum, frekuensi kejadian, atau peluang kejadian dan
sebagainya. Maka iklim dapat dikatakan sebagai nilai statistik cuaca jangka
panjang di suatu tempat atau suatu wilayah.
Iklim dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu radiasi matahari,
evapotranspirasi, curah hujan, temperatur, kelembaban, angin dan sebagainya.
Jumlah curah hujan merupakan faktor iklim yang berperan dalam terbentuknya air
di suatu tempat. Sebagian curah hujan yang jatuh mengalami evaporasi, sebagian
menjadi aliran permukaan dan sebagian lagi mengalami infiltrasi. Berkaitan
dengan penelitian ini hanya akan dikemukakan data temperatur dan curah hujan
yang terjadi di DAS Jlantah Bagian Hulu dan sekitarnya.
a. Temperatur
Temperatur udara rata-rata di DAS Jlantah Bagian Hulu dan sekitarnya
dihitung dengan menggunakan Rumus Braack, pendekatan ini dilakukan karena
keterbatasan data sekunder maupun data lapangan mengenai temperatur udara
yang diperoleh.
T = 26,3 ºC – 0,61 h
Keterangan :
• T = Suhu udara rata-rata (0C)
• 26,3 ºC = Temperatur rata-rata di permukaan air laut tropis.
• h = Ketinggian tempat dari permukaan air laut (dalam 100
meter).
Berdasarkan Peta RBI lokasi DAS Jlantah Bagian Hulu paling tinggi 3.150
m dpl yang merupakan Puncak Gunung Lawu dan paling rendah 100 m dpl yang
36

merupakan muara Sungai Jlantah. Berdasarkan rumus di atas maka rata-rata


temperatur tertinggi adalah 25,69 ºC dan temperatur terendah adalah 7,08 ºC.
b. Curah Hujan
Data iklim yang berpengaruh langsung terhadap aktivitas suatu DAS
adalah curah hujan. Curah hujan (presipitasi) merupakan turunnya air dari
atmosfer ke permukaan bumi dan laut. Curah hujan ini merupakan faktor utama
yang mengendalikan proses daur hidrologi di suatu DAS. Pengukuran curah hujan
akan menunjukkan adanya rerata bulan basah maupun bulan kering pada suatu
DAS. Data curah hujan DAS Jlantah Bagian Hulu diperoleh dari pencatatan yang
dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum Sub Dinas Pengairan Kabupaten
Karanganyar, yaitu data curah hujan harian selama 10 tahun (1995-2004). Data
curah hujan rerata, jumlah hari hujan dan intensitas hujan dari stasiun meteorologi
di DAS Jlantah Bagian Hulu dan sekitarnya selama 10 tahun (tahun 1995–2004)
disajikan dalam tabel 5. berikut:

Tabel 5. Rerata Curah Hujan, Jumlah Hari Hujan dan Intensitas Hujan
Tahun 1995-2004
Curah Intensitas Curah
Hari Hujan
No. Stasiun Hujan Hujan
(hari / tahun)
(mm / th) (mm / hari)
1. Tawangmangu 2.786,60 137,3 20,3
2. Matesih 2.690,00 110,0 24,5
3. Jatiyoso 2.186,43 99,6 22,0
4. Jumantono 2.189,44 88,1 24,9
5. Jumapolo 2.112,70 92,0 23,0
6. Waduk Mulur 1.849,81 85,2 21,7
7. Bekonang 1.794,91 89,3 20,1
8. Trani 2.077,66 94,6 22,0
9. Lalung 1.850,87 86,6 21,4
10
Giriwondo 2.216,93 103,0 21,5
.
11 Polokarto 1.800,02 79,1 23,0
37

.
12
Jetu 1.749,83 83,8 20,9
.
13
Delingan 1.523,25 76,7 19,9
.
14
Tawangsari 1.730,78 83,2 20,8
.
15
Sukoharjo 1.796,08 85,8 20,9
.
16
Nguter 1.661,79 86,4 19,2
.
17
Ngegoh 1.933,43 96,8 20,0
.
18
Silamat 1.311,80 78,8 16,6
.
Sumber : Hasil Perhitungan Tabel Curah Hujan Tahun 1995-2004

Penentuan iklim suatu daerah dapat ditentukan dengan pendekatan


berbagai metode. Salah satu metode yang sangat terkenal dan banyak digunakan
adalah klasifikasi iklim menurut Schmidth dan Fergusson. Klasifikasi ini
sebenarnya merupakan modifikasi atau perbaikan dari sistem klasifikasi Mohr
yang telah ada sebelumnya dan digunakan di Indonesia.
Penentuan tipe iklim menurut klasifikasi ini hanya memperhatikan salah
satu unsur iklim saja yaitu hujan dan memerlukan data hujan bulanan paling
sedikit 10 tahun. Kriteria yang digunakan adalah penentuan bulan kering, bulan
lembab dan bulan basah dengan pengertian sebagai berikut :
1) Bulan kering (BK) : bulan dengan hujan < 60 mm.
2) Bulan lembab (BL) : bulan dengan hujan 60 – 100 mm.
3) Bulan basah (BB) : bulan dengan hujan > 100 mm.
(Handoko, 1995:168)
38

Penentuan tipe curah hujan menurut Schmidth dan Fergusson tersebut


dinyatakan dengan nilai “quotient” (Q). Q merupakan perbandingan rerata jumlah
bulan kering dan rerata jumlah bulan basah.
Rata – Rata Bulan Kering (BK)
Q= x 100 %
Rata – Rata Bulan Basah (BB)

Selanjutnya Schmidth dan Fergusson menentukan jenis curah hujan


berdasarkan nilai Q sebagai berikut :
Tabel 6. Tipe Curah Hujan Menurut Schmidth dan Fergusson

Tipe CH Nilai Q Sifat


A 0 < Q < 0,143 Sangat basah
B 0,143 < Q < 0,333 Basah
C 0,333 < Q < 0,666 Agak basah
D 0,666 < Q < 1,000 Sedang
E 1,000 < Q < 1,670 Agak kering
F 1,670 < Q < 3,000 Kering
G 3,000 < Q < 7,000 Sangat kering
H 7,000 < Q Luar biasa kering
Sumber : Kartasapoetra, 1986:26

Tipe iklim DAS Jlantah Bagian Hulu berdasarkan hasil perhitungan data
curah hujan rata-rata bulanan selama 10 tahun dari beberapa stasiun di daerah
penelitian, didapat hasil bahwa di DAS Jlantah Bagian Hulu memiliki tipe iklim
C-D yang berarti agak basah sampai sedang. Tipe iklim C meliputi daerah
Tawangmangu dan Matesih. Tipe iklim D meliputi daerah Jatiyoso, Jumantono,
Jumapolo, Karangpandan, Karanganyar, Polokarto, Bendosari, Mojolaban, Grogol
dan Sukoharjo.

Tabel 7 . Perhitungan Tipe Iklim Menurut Schmitdt dan Ferguson Dari Tiap-
Tiap Stasiun Pengamatan
Stasiun Q = (Bln Kering / Bln Basah) x Tipe
No.
Pengamatan 100 % Iklim
39

1. Tawangmangu (4,0 / 7,0) x 100 % = 57,1429 % C


2. Matesih (4,1 / 7,1) x 100 % = 57,7465 % C
3. Jatiyoso (4,9 / 6,7) x 100 % = 73,1343 % D
4. Jumantono (4,9 / 7,1) x 100 % = 69,0141 % D
5. Jumapolo (4,4 / 6,9) x 100 % = 63,7681 % D
6. Bekonang (5,1 / 6,5) x 100 % = 78,4615 % D
7. Waduk Mulur (4,7 / 6,3) x 100 % = 74,6032 % D
8. Polokarto (5,0 / 6,3) x 100 % = 79,3651 % D
9. Delingan (5,5 / 6,0) x 100 % = 91,6667 % D
10. Sukoharjo (4,7 / 6,2) x 100 % = 75,8065 % D
Sumber : DPU Sub Pengairan Kabupaten Karanganyar dan analisis data
Jumlah rata-rata bulan kering

12

11
700 %
10
300%
9
Nilai Q ( % )
8
H 167 %
7
G
6 100 %
F (6,4 ; 4,6)
5
E 60 %
4 (6,4 ; 4,6)
D
3 33,3 %
C
2
B 14,3 %
1
A
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Jumlah rata-rata bulan basah
40

Gambar 1. Diagram Tipe Curah Hujan DAS Jlantah Tahun 1995-2004


Menurut Schmidth dan Fergusson

Berdasarkan nilai Q tersebut, dapat diketahui bahwa DAS Jlantah Bagian


Hulu memiliki dua tipe iklim, yaitu :
Tipe iklim C : Daerah agak basah dengan vegetasi hutan rimba.
Tipe iklim D : Daerah sedang dengan vegetasi hutan musim.

3. Geologi
Geologi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi karakter suatu
daerah. Setiap daerah memiliki ciri khas sendiri berdasarkan struktur geologi yang
menyusun daerah tersebut. Keadaan geologi suatu daerah secara langsung
berpengaruh terhadap keberadaan dan sifat sumberdaya air yang selanjutnya
berpengaruh terhadap sumberdaya alam. Secara garis besar keadaan geologi di
daerah penelitian dapat dibedakan menjadi 2 yaitu Geologi Regional dan Geologi
Daerah Penelitian.
a. Geologi Regional
Menurut Van Bemmelen (1968:80), wilayah DAS Jlantah secara geologi
regional masuk dalam fisiografi Zona Cekungan Solo (Solo Depresion Zone).
Zone ini menempati bagian selatan dan tengah daerah penelitian. Depresi ini
bagian utara dibatasi oleh Pegunungan Kendeng dan bagian selatan dibatasi oleh
Pegunungan Selatan. Depresi ini di daerah penelitian telah terisi oleh endapan
41

vulkanik Gunung Lawu, sehingga secara umum daerah ini mempunyai ketebalan
tanah yang dalam dan subur.
Diantara Pegunungan Kendeng dan Pegunungan Selatan di Jawa Timur
yang terjadi zone depresi, terbentuk percabangan di Jawa Tengah menjadi zone
Serayu dan Dataran Pantai Selatan Jawa Tengah yang berdampingan dengan
Rangkaian Pegunungan Serayu Selatan. Di lembah Progo dekat Yogyakarta kedua
cabang tersebut bertemu membentuk Zone Solo yang lebar di Jawa Timur.
Depresi yang memanjang di Jawa Timur ini sebagian terisi dan tertutup oleh
sederetan gunungapi muda dan dapat dibagi lagi menjadi tiga jalur yang sejajar
Subzone Ngawi, Zone Solo (Solo Zone Sensu Stricto) dan Subzone Blitar.
Zone Solo (Sensu Stricto) dibentuk oleh sederetan besar vulkan Kuarter
dengan dataran antar pegunungan dimana daerah penelitian berada pada
Gunungapi Lawu.

Tabel 8. Zona Solo di Jawa Timur


Gunungapi Dataran Antar Tinggi (dpal)
Sundoro 3.135 m
Sumbing 3.371 m
Dataran Magelang atau Progo 380 m
Merbabu 3.142 m
Merapi 2.911 m
Dataran Surakarta atau Solo 104 m
Lawu 3.265 m
Dataran Madiun 66-95 m
Wilis 2.563 m
Dataran Kediri atau Brantas 62-85 m
Kelud 1.731 m
Kawi 2.651 m
Butak 2.868 m
42

Andjasmoro 2.282 m
Wedrang 3.156 m
Arjuna 3.339 m
Dataran Malang 445 m
Sumber : Van Bemmelen, 1968:80-81

b. Geologi Daerah Penelitian


Jenis batuan dan struktur batuan mempengaruhi kualitas dan karakteristik
lahan suatu Daerah Aliran Sungai. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Ponorogo
Tahun 1989, DAS Jlantah Bagian Hulu merupakan daerah yang struktur
batuannya berupa sesar yang dijumpai di Kecamatan Tawangmangu dan
sekitarnya. Proses secara geologis banyak dipengaruhi dari Vulkan Lawu Tua dan
Vulkan Lawu Muda. Bagian timur laut DAS Jlantah Bagian Hulu didominasi
oleh material-material hasil Aliran Lava Andesit dari Komplek Gunung
Sidoramping dan bagian timur sebelah selatan hingga bagian tengah didominasi
oleh material hasil proses Lawu Tua, sedangkan pada bagian barat didominasi
oleh material–material Lawu Muda.
Formasi batuan penyusun DAS Jlantah Bagian Hulu terdiri dari :
1) Endapan Lahar Lawu (Qlla), terdapat pada bagian lereng bawah
Gunung Lawu. Batuannya tersusun olehbatuan andesit.
2) Lava Jobolarangan (Qvjl), berupa batuan hasil pengendapan Lava
Andesit yang berasal dari Gunung Jobolarangan (Lawu Tua) dan Gunung
Cemoropenganten.
4. Geomorfologi
Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuklahan, proses-
proses yang mempengaruhi pembentukannya dan menyelidiki hubungan
timbalbalik antara bentuklahan dan proses-proses dalam tatanan keruangannya
(Van Zuidam dan Cancelado, 1979:3). Salah satu aspek kajian geomorfologi
adalah bentuklahan (landform) yang merupakan bagian dari permukaan bumi
yang terbentuk akibat pengaruh dari proses geomorfologis, proses geologis, dan
43

struktur geologis pada material batuan dalam ruang dan waktu dalam urutan
tertentu.
Bentuklahan (landform) adalah bentukan pada permukaan bumi sebagai
hasil dari perubahan bentuk permukaan bumi oleh proses-proses geomorfologis
yang beroperasi di permukaan bumi (Sunardi, 1985:9). Informasi geomorfologis
memuat tentang morfologi, morfogenesa, morfokronologi, dan morfoaransemen.
Dalam penelitian ini akan dijelaskan kondisi geomorfologi yang meliputi
morfologi dan proses geomorfologi untuk mengetahui asal pembentukannya dan
sebagai informasi bagaimana lahan di daerah penelitian terbentuk.
Menurut Pannekoek (1989:2) secara umum Pulau jawa terbagi atas tiga
zone:
a. Zone Selatan: kurang lebih berupa plato, berlereng (miring) kearah
selatan menuju Laut Hindia dan di sebelah utara berbentuk tebing patahan.
Kadang-kadang zona ini begitu terkikis–kikis sehingga kehilangan bentuk
platonya. Di Jawa Tengah sebagian dari zone ini telah diganti (ditempati) oleh
dataran aluvial.
b. Zona Tengah: merupakan zone depresi. Di tempat-tempat tersebut
muncul kelompok gunung berapi besar. Proses geomorfologi yang terjadi
adalah vulkanisme.
c. Zona Utara: terdiri dari rangkaian gunung lipatan berupa bukit
rendah atau pegunungan dan diselingi oleh beberapa gunung-gunung api dan
biasa berbatasan dengan dataran aluvial.
DAS Jlantah Bagian Hulu merupakan bagian dari Zone Tengah yang
merupakan jalur vulkan dan depresi yang diisi oleh material vulkan. Hal ini lebih
lanjut dijelaskan dengan teori tektonik lempeng, bahwa akibat gerakan lempeng
Eurasia yang menumbuk lempeng Pasifik yang terdiri dari Kepulauan Indonesia
yang salah satunya adalah Pulau Jawa, maka menghasilkan deretan gunungapi di
bagian tengah pulau tersebut.
Bentuklahan yang ada di DAS Jlantah Bagian Hulu sangat menentukan
proses geomorfologi yang terjadi. Pada bentuklahan lereng atas vulkanbukit
terdenudasi dan bukit gamping terisolasi proses geomorfologi yang terjadi adalah
44

erosi dan longsor lahan. Proses erosi yang terjadi disamping dipengaruhi oleh
kemiringan lereng juga disebabkan oleh penggunaan lahan yang tidak sesuai
dengan fungsi kawasannya. Misalnya yang terjadi di lereng atas dan tengah
Gunungapi Lawu di wilayah Kecamatan Tawangmangu yaitu pada lahan yang
mempunyai kemiringan > 30 % digunakan untuk tanaman semusim (sayuran).
Disamping itu erosi juga diperbesar oleh adanya penebangan hutan di kawasan
lindung.
5. Tanah
Tanah merupakan suatu benda alami heterogen yang terdiri atas
komponen-komponen padat, cair dan gas dan mempunyai sifat serta perilaku yang
dinamik, yang terbentuk sebagai hasil kerja interaksi antara iklim, jasad hidup,
terhadap suatu bahan induk yang dipengaruhi oleh relief tempatnya terbentuk dan
waktu. Berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat diketahui bahwa faktor-
faktor pembentuk tanah terdiri dari: iklim, bahan induk, relief, organisme dan
waktu. Dalam mempengaruhi pembentukan dan perkembangan tanah, faktor-
faktor tersebut tidak mempunyai intensitas yang sama, sehingga berakibat bahwa
pada setiap tempat di permukaan bumi mempunyai sifat dan karakteristik tanah
yang tidak homogen atau sama. Dari perbedaan tersebut dimungkinkan terjadi
perbedaan penamaan dalam setiap kategorinya. Disamping itu lahan pada
berbagai tempat dimungkinkan pula mempunyai perbedaan dalam kemampuan
dan kesesuaian tanah dalam kaitannya dengan penggunaannya.
Pembentukan tanah di DAS Jlantah Bagian Hulu sangat dipengaruhi oleh
bahan induk dan relief. Menurut klasifikasi tanah Departemen Ilmu Tanah
Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Tahun 1979, di DAS Jlantah Bagian
Hulu terdapat 2 (dua) satuan macam tanah, yaitu:
a. Komplek Andosol Coklat, Andosol Coklat Kekuningan dan
Litosol
Macam tanah ini menempati proporsi paling luas di DAS Jlantah Bagian Hulu
yaitu 144,66 Ha. Tanah Andosol merupakan tanah yang sangat porous,
mengandung bahan organik dan lempung. Sedangkan Tanah Litosol tergolong
ke dalam tanpa diferensiasi horison. Tanah Litosol merupakan tanah yang
45

dianggap paling muda sehingga bahan induknya seringkali dangkal (<45 cm)
atau tampak tanah sebagai batuan yang kompak dan padu. Tanah ini belum
mengalami perkembangan tanah sebagai akibat pengaruh iklim yang lemah,
letusan vulkan, atau topografi yang terlalu miring atau bergelombang
(Darmawijaya, 1990:287).
b. Latosol Coklat Kemerahan
Tanah latosol memiliki fraksi lempung rendah, kadar mineral rendah,
stabilitas agregat tinggi, dan berwarna coklat kemerahan. Tanah ini
mengalami pelapukan intensif dan perkembangan tanah lanjut. Di DAS
Jlantah Bagian Hulu, macam Tanah Latosol Coklat Kemerahan menempati
daerah seluas 749,974 Ha.
6. Hidrologi
Deskripsi hidrologi DAS Jlantah Bagian Hulu dapat dicerminkan melalui
kondisi air permukaan dan kondisi air tanah. Kondisi air permukaan dapat
menunjukan bagaimana perlakuan konservasi tanah pada suatu daerah, apabila air
permukaan tampak keruh menandakan bahwa konservasi belum maksimal karena
masih terjadi erosi. Penggunaan lahan berupa hutan dapat berfungsi untuk
menyimpan air hujan sebagai cadangan air di musim kemarau. Daerah hulu sungai
memiliki penggunaan lahan hutan yang dapat mengalirkan air sepanjang tahun
dipengaruhi oleh musim, lain halnya denga daerah yang mempunyai konservasi
buruk, maka saat hujan hanya sebagian kecil yang mengalami infiltrasi dan
sebagian besar yang lain akan menjadi aliran permukaan. Daerah degan
karakteristik tersebut yang menyebabkan daerah penelitian (DAS Jlantah Bagian
Hulu) rawan longsor saat musim penghujan dan kekurangan debit air saat musim
kemarau.
Kabupaten Karangayar merupakan bagian dari Cekungan Air Tanah
Surakarta yang mempunyai luas 144.300 Ha. Menurut Direktorat Geologi Tata
Lingkungan dan Kawasan Pertambangan dalam Nugraha, dkk (2006 : 29),
dijelaskan bahwa Cekungan Surakarta di bagian selatan dibatasi oleh batuan padu
berumur tersier, bagian utara dibatasi oleh Sungai Cemoro dan Batuan Tufaan dari
Formasi Notopuro, bagian timur dibatasi oleh Sungai Wotgalih dan Sungai Mider
46

yang mengalir kea rah utara, di bagian selatan dibatasi oleh Batuan Breksi dan
Batu Gamping tersier, sedangkan bagian barat dibatasi Oleh Sungai Opak.
Secara keruangan Kabupaten Karanganyar dan Sukoharjo merupakan satu
cekungan dengan Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen, Kabupaten Klaten dan
Kota Surakarta. Cekungan Surakarta membentang dari puncak Merapi- Merbabu
di bagian barat sampai dengan puncak Gunung Lawu di bagian timur. Sedangkan
di bagian utara mulai dari Pendem sampai Bukit Watu Kelir di bagian selatan.
Bentuk DAS Jlantah Bagian Hulu memanjang dari timur ke barat dengan
tipe aliran sungai paralel. Muara DAS Jlantah Bagian Hulu mempunyai orde
sungai 4 (empat) yang menandakan bahwa Sungai Jlantah memiliki banyak
percabangan dan berkelok membentuk sudut-sudut. Tipe Sungai Jlantah sebagai
sungai utama adalah Perenial dengan iar mengalir setiap tahun.
Hal tersebut dikarenakan keberadaan air tanah yang berada di atas rata-rata
air sungai, tetapi cabang-cabang Sungai Jlantah pada orde 1 (satu) banyak bertipe
intermitten yaitu air hanya mengalir apabila musim penghujan. Kondisi ini
menandakan bahwa keberadaan muka air tanah berada di bawah rata-rata dasar
percabangan Sungai Jlantah pada Orde 1 (satu). Sungai-sungai yang terdapat di
DAS Jlantah Bagian Hulu mempunyai bentuk lembah “V”, gambaran ini
mengindikasikan bahwa erosi secara vertikal lebih intensif dibandingkan erosi
secara horizontal. Tipe lebah sungai seperti di atas menunjukan bahwa sungai
tersebut masih berumur muda.
7. Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan merupakan bentuk setiap campur tangan manusia
terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material
maupun spiritual. Pembagian penggunaan lahan dibedakan menjadi 2 yaitu untuk
pertanian dan non pertanian. Pertanian meliputi: ladang (perladangan), tegalan
dan sawah, sedangkan penggunaan lahan non pertanian adalah untuk hutan,
perkebunan, permukiman (pekarangan) dan lahan kosong.
Penggunaan lahan yang terdapat di DAS Jlantah Bagian Hulu dipengaruhi
oleh kualitas dan karakteristik lahan. Disamping itu bentuk penggunaan lahan
saling berpengaruh dengan perekonomian masyarakat di DAS Jlantah Bagian
47

Hulu Bentuk penggunaan lahan yang terdapat di DAS Jlantah Bagian Hulu
meliputi: sawah, permukiman, tegalan, perkebunan, dan semak belukar. Luas
masing-masing penggunaan lahan dapat dilihat pada Tabel 9 di bawah ini.
Tabel 9 . Penggunaan Lahan di DAS Jlantah Bagian Hulu
No. Bentuk Penggunaan Lahan Luas (Ha)
1. Permukiman 142,716
2. Kebun/Perkebunan 965,568
3. Sawah 61,687
4. Tegalan/Ladang 526,136
5. Semak belukar 498,567
Sumber : Hasil Analisis SIG Peta Penggunaan Lahan DAS Jlantah Bagian Hulu
Kabupaten Karanganyar Tahun 2009

8. Kondisi Kependudukan
Penduduk mempunyai peranan penting dalam kegiatan pengelolaan lahan.
Jumlah dan komposisi penduduk di DAS Jlantah Bagian Hulu dapat menjadi
faktor tekanan penduduk terhadap lingkungan terutama fungsi DAS Jlantah
Bagian Hulu. Tetapi dalam penelitian ini tidak dibahas kondisi kependudukan di
seluruh kawasan DAS, melainkan hanya di Desa Tlobo yang merupakan salah
satu desa di DAS Jlantah Bagian Hulu sebagai sampel dari kondisi kependudukan
di keseluruhan DAS. Komposisi penduduk di Desa Tlobo dapat disajikan dalam
table 10 berikut:
Tabel 10. Komposisi Penduduk Desa Tlobo Kecamatan Jatiyoso
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Luas Kepadatan
Desa Prempua
Laki-Laki Jumlah (Km2) (Jiwa / Km2)
n
Tlobo 49.865,
1623 1.608 3.231 7 15
Sumber: Data Monografi Desa/Kelurahan Tlobo Kecamatan Jatiyoso Kabupaten
Karanganyar Bulan Desember Tahun 2008
48

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan


1. Satuan Lahan Daerah Penelitian
Satuan lahan merupakan satuan wilayah dengan satu atau lebih
karakteristik lahan tertentu yang dapat digambarkan dalam suatu peta. Penelitian
ini menggunakan satuan lahan sebagai satuan analisis dan satuan pemetaannya.
Parameter penyusun satuan lahan diperoleh dari tumpangsusun (overlay) peta-peta
dasar dan peta tematik, yaitu: peta geologi, peta tanah, peta lereng, dan peta
penggunaan lahan.
1. Parameter Penyusun Satuan Lahan
1) Formasi Batuan
Satuan batuan yang digunakan sebagai penyusun satuan lahan
menggunakan nama formasi batuan. Hal ini karena setiap formasi batuan
mempunyai jenis dan struktur batuan yang berbeda, sehingga karakteristik dalam
menanggapi tenaga asal luar (eksogen) juga berbeda. Pada batuan yang keras dan
kompak akan lebih sulit terlapuk dan tererosi dibandingkan sifat batuan yang
lunak dan banyak terdapat struktur retakan (joint) dan patahan (fault).
Berdasarkan litologinya, Desa Tlobo tersusun atas 2 formasi batuan.
Untuk lebih jelasnya, formasi batuan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 11. Formasi Batuan di Desa Tlobo
No. Formasi Batuan Simbol
1. Endapan Kuarter Lahar Lawu Qlla
2. Lava Jobolarangan Qvjl
Sumber: Peta Geologi Lembar Ponorogo Tahun 1992 Skala 1:100.000
(Puslitbang Geologi, Bandung)
2) Tanah
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap sifat fisik tanah, menunjukkan
bahwa tanah di daerah penelitian hanya ada satu macam yaitu Latosol Coklat
Kemerahan (Lack). Tanah ini memiliki fraksi lempung rendah, kadar mineral
rendah, stabilitas agregat tinggi, dan berwarna coklat kemerahan, mengalami
pelapukan intensif dan perkembangan tanah lanjut.
3) Kemiringan Lereng
49

Penyusun satuan lahan yang ketiga adalah kemiringan lereng. Variabel


kemiringan lereng merupakan salah satu variabel yang sangat berpengaruh
terhadap penentuan besar longsor dan Tingkat Bahaya Longsor (TBL). Klasifikasi
kemiringan lereng yang digunakan di Desa Tlobo berdasarkan klasifikasi menurut
Asdak (2004), disajikan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 12. Kemiringan Lereng di Desa Tlobo
No. Kemiringan Lereng (%) Keterangan Simbol
1. 8 – 15 Landai II
2. 15 – 25 Agak Curam III
3. 25 – 45 Curam IV
4. > 45 Sangat Curam V
Sumber : - Interpretasi Peta Rupa Bumi Indonesia Tahun 2001
Lembar 1508 – 131 TAWANGMANGU
- Hasil Perhitungan Tahun 2009
4) Penggunaan Lahan
Penyusun satuan lahan yang keempat adalah penggunaan lahan.
Penggunaan lahan (land use) adalah setiap bentuk intervensi manusia terhadap
lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik materiil maupun spiritual
(Arsyad, 1989:207). Penggunaan lahan merupakan hasil interaksi antara aktivitas
manusia dengan lingkungan alami. Berdasarkan jenis penggunaan lahan, di Desa
Tlobo dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, seperti yang terlihat pada Tabel
berikut ini.
Tabel 13. Jenis Penggunaan Lahan di Desa Tlobo
No. Penggunaan Lahan Simbol
1. Permukiman Pmk
2. Sawah Sw
3. Tegalan Tg
4. Kebun Kb
5. Semak belukar Sb
Sumber : - Interpretasi Peta Rupa Bumi Indonesia Tahun 2001
Lembar 1508 – 131 TAWANGMANGU
- Hasil Cek Lapangan Tahun 2009
2. Satuan Lahan
50

Berdasarkan tumpang susun (overlay) dari peta geologi, peta tanah, peta
lereng, dan peta penggunaan lahan, satuan lahan di daerah penelitian (Desa Tlobo)
dapat dikelompokkan menjadi 21 satuan lahan. Pemberian nama untuk masing-
masing satuan lahan adalah dengan menggunakan simbol dari setiap unsur yang
menyusun satuan lahan secara berurutan mulai dari jenis batuan, macam tanah,
kemiringan lereng dan penggunaan lahan.

2. Tingkat Bahaya Longsor (TBL)


Penentuan Tingkat Bahaya Longsor (TBL) di Desa Tlobo dilakukan
dengan teknik skoring, yaitu dengan memberikan pengharkatan terhadap faktor
penentu longsor yaitu: kemiringan lereng, solum tanah, permebilitas tanah,
kedalaman pelapukan, penggunaan lahan, curah hujan, dan tekstur tanah.
Selanjutnya, tabulasi hasil pengukuran parameter dan penskoran parameter
disajikan dalam tabel 14 dan 15.
Secara umum, pada curah hujan dan macam tanah yang sama, semakin
besar skor kemiringan lereng, kedalaman pelapukan batuan, dan solum tanah
menunjukkan tingkat bahaya longsor tanah yang semakin tinggi pula. Sementara,
penggunaan lahan, tekstur tanah, dan permeabilitas dengan skor lebih besar belum
tentu menyebabkan tingkat bahaya longsor tanah yang tinggi. Hal ini tampak pada
satuan lahan Qlla-Lack-V-Sb dan Qlla-Lack-IV-Pmk dengan skor 7,2 justru
tingkat bahaya longsornya lebih tinggi dibandingkan pada satuan lahan Qlla-
Lack-II-Sw dengan skor penggunaan lahan 12. Demikian pula dengan
permeabilitas tanah dimana pada satuan lahan Qlla-Lack-V-Pmk dan Qlla-Lack-
III-Tg yang ternyata menunjukkan kondisi yang berkebalikan. Selain itu, pada
satuan lahan Qvjl-Lack-IV-Tg dan Qvjl-Lack-V-Sb dimana masing-masing
memiliki tingkat bahaya longsor rendah dan tinggi ternyata memiliki skor
pemeabilitasnya sama.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan teknik skoring pada
tabel di atas, maka diperoleh klasifikasi Tingkat Bahaya Longsor (TBL) di Desa
Tlobo yang terbagi menjadi 4 kelas, yaitu mulai dari Sangat Rendah (SR), Rendah
51

(R), Sedang (S), dan Tinggi (T). Selanjutnya penjelasan dari masing-masing
Tingkat Bahaya Longsor adalah sebagai berikut:
a. Tingkat Bahaya Longsor Sangat Rendah (SR)
Daerah dengan Tingkat Bahaya Longsor Sangat Rendah adalah daerah
yang mempunyai potensi sangat rendah untuk terjadi gerakan massa. Pada kelas
ini sangat jarang atau hampir tidak pernah terjadi gerakan massa. Kelas ini
merupakan daerah yang bertopografi landai, dengan kemiringan lereng sebesar
14,07 %. Tanah pada daerah ini terbentuk dari pelapukan batuan dasar dari
Formasi Endapan Lahar Lawu. Tingkat Bahaya Longsor Sangat Rendah terdapat
pada satuan lahan Qlla-Lack-II-Pmk.

Gambar 9. Tingkat Bahaya Longsor Sangat Rendah (SR)

b. Tingkat Bahaya Longsor Rendah (R)


Daerah dengan Tingkat Bahaya Longsor Rendah adalah daerah yang
mempunyai potensi rendah untuk terjadi gerakan massa. Umumnya pada kelas ini
jarang terjadi gerakan massa jika tidak mengalami gangguan pada lereng dan jika
terjadi gerakan massa lama, lereng telah mantap kembali. Gerakan massa dalam
52

ukuran kecil terutama terjadi pada tebing sungai (alur sungai). Pada kelas ini
daerahnya bertopografi bergelombang sampai perbukitan dengan kemiringan
lereng 13,5 – 35,93%. Tingkat Bahaya Longsor Rendah terdapat pada satuan
lahan Qlla-Lack-II-Sw, Qlla-Lack-II-Kb, Qlla-Lack-III-Tg, Qlla-Lack-III-Kb,
Qvjb-Lack-III-Tg, Qvjb-Lack-IV-Tg, Qlla-Lack-IV-Tg.

Gambar 10. Tingkat Bahaya Longsor Rendah (R)

c. Tingkat Bahaya Longsor Sedang (S)


Daerah dengan Tingkat Bahaya Longsor Sedang adalah daerah yang
mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan massa. Pada kelas ini dapat
terjadi gerakan massa berdimensi kecil sampai dengan besar, terutama pada
daerah yang berbatasan dengan lembah sungai atau tebing jalan. Gerakan massa
yang lama dapat aktif kembali terutama disebabkan oleh curah hujan yang tinggi
dan erosi yang kuat. Daerah ini mempunyai topografi bergelombang sampai
perbukitan dengan kemiringan lereng 25 – >65%. Tingkat Bahaya Longsor
Sedang terdapat pada satuan lahan Qlla-Lack-III-Sw, Qlla-Lack-IV-Pmk, Qlla-
Lack-IV-Sb, Qlla-Lack-V-Sw, Qlla-Lack-V-Tg, Qlla-Lack-V-Sb, Qlla-Lack-V-
Kb, Qvjl-Lack-IV-Pmk, , Qlla-Lack-IV-Sw, Qvjl-Lack-V-Pmk, Qvjl-Lack-V-Tg.
53

Gambar 11. Tingkat Bahaya Longsor Sedang (S)

d. Tingkat Bahaya Longsor Tinggi (T)


Daerah dengan Tingkat Bahaya Longsor Tinggi adalah daerah yang
mempunyai potensi yang tinggi untuk terjadi gerakan massa. Pada kelas ini sering
terjadi gerakan massa, baik gerakan massa lama maupun gerakan massa baru.
Daerah ini mempunyai topografi bergelombang sampai perbukitan dengan
kemiringan lereng 45 – >65%. Tingkat Bahaya Longsor Tinggi terdapat pada
satuan lahan Qlla-Lack-V-Pmk, Qvjl-Lack-V-Sb.

Gambar 12. Tingkat Bahaya Longsor Tinggi (T)


54

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan yang
dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Di daerah penelitian terdapat 21 satuan lahan dengan 4
Tingkat Bahaya Longsor yaitu :
a. Sangat Rendah (SR), meliputi satu satuan lahan yaitu Qlla-Lack-II-Pmk
b. Rendah (R), meliputi satuan lahan Qlla-Lack-II-Sw, Qlla-Lack-II-Kb,
Qlla-Lack-III-Tg, Qlla-Lack-III-Kb, Qvjb-Lack-III-Tg, Qvjb-Lack-IV-Tg,
Qlla-Lack-IV-Tg
c. Sedang (S), meliputi satuan lahan Qlla-Lack-III-Sw, Qlla-Lack-IV-Pmk,
Qlla-Lack-IV-Sb, Qlla-Lack-V-Sw, Qlla-Lack-V-Tg, Qlla-Lack-V-Sb,
Qlla-Lack-V-Kb, Qvjl-Lack-IV-Pmk,Qlla-Lack-IV-Sw,Qvjl-Lack-V-Pmk,
Qvjl-Lack-V-Tg
d. Tinggi (T), meliputi satuan lahan Qlla-Lack-V-Pmk, Qvjl-Lack-V-Sb
2. Dari analisis hasil skoring terhadap parameter pemicu
terjadinya longsoran menunjukkan bahwa pada curah hujan dan macam tanah
yang sama, semakin besar skor kemiringan lereng, kedalaman pelapukan
batuan, dan solum tanah menunjukkan tingkat bahaya longsor tanah yang
semakin tinggi pula. Sementara, penggunaan lahan, tekstur tanah, dan
permeabilitas dengan skor lebih besar belum tentu menyebabkan tingkat
bahaya longsor tanah yang tinggi.
B. Implikasi
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan atau
arahan bagi pemerintah daerah setempat dalam usahanya untuk memanfaatkan
dan melestarikan sumberdaya alam di DAS Jlantah Bagian Hulu. Serta dapat
digunakan untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang adanya potensi
terjadinya longsor agar dapat mengantisipasi bahaya longsor yang mengancam,
sehingga masyarakat setempat dapat ikut serta meningkatkan kelestarian
55

sumberdaya alam di DAS Jlantah Bagian Hulu untuk meminimalkan bahaya


longsor yang berpotensi di daerah tersebut.

C. Saran
Agar bahaya longsor dapat diminimalkan perlu adanya analisis tingkat
bahaya longsor tanah di masing-masing DAS hulu di Kabupaten Karanganya.
rAnalisis tersebut dapat digunakan untuk penyusunan informasi penanggulangan
bencana yang digunakan sebagai masukan bagi perencanaan dan pembangunan
wilayah maupun penyempurnaan tataruang wilayah. Potensi terjadinya longsoran
ini dapat diminimalkan dengan memberdayakan masyarakat untuk mengenali
tipologi lereng yang rawan longsor tanah, gejala awal lereng akan bergerak, serta
upaya antisipasi dini yang harus dilakukan. Sistem peringatan dini yang efektif
sebaiknya dibuat berdasarkan prediksi, bilamana dan dimana longsor akan terjadi
juga tindakan-tindakan yang harus dilakukan pada saat bencana datang.
56

DAFTAR PUSTAKA

Agung Hartono. 2008. Arahan Konservasi Daerah Aliran Sungai Samin


Kabupaten Karanganyar dan Sukoharjo Propinsi Jawa Tengah Tahun
2006. Skripsi S1 FKIP UNS. Surakarta.
Aris poniman, dkk. 2009. Pemetaan Banjir dan Tanah Longsor Surakarta dan
Karanganyar. Surakarta.
Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: ITB
Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan DAS. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Darmawijaya, M Isa. 1990. Klasifikasi Tanah. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Dinas Pekerjaan Umum. 2009. Penanganan Resiko Bencana. Surakarta
Djaenudin, dkk. 2003. Kesesuaian Lahan Untuk Daerah Pertanian. Bogor: PT
Andal Adikarya Prima.
Hardjowigeno, Sarwono. 1987. Ilmu Tanah. Jakarta: PT Mediyatama Sarana
Perkasa.
Kabul Basah Suryolelono. 2002. Bencana Alam Tanah Longsor Perspektif Ilmu
Geoteknik, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar. Yogyakarta: Fakultas
Teknik UGM.
Kuswaji Dwi Priyono, dkk. 2006. Analisis tingkat bahaya longsor tanah di
Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara. Laporan Penelitian,
Surakarta: Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Moleong. 1994. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Sitorus, Santun. 1995. Evaluasi Sumberdaya Lahan. Bandung: Tarsito.
Sunarto Goenadi, dkk. 2003. Konservasi Lahan Terpadu daerah Rawan Bencana
Longsoran di Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta,
Laporan Penelitian, Yogyakarta: Lembaga Penelitian UGM.
http://merapi.vsi.esdm.go.id. “Pengenalan Gerakan Tanah”

56