Anda di halaman 1dari 3

Soal Imun II (dr.Wira & dr.

Arif Muchlis)

Glumerulonefritis Akut Pasca Streptococcus (GNAPS)


Seorang anak laki-laki umur 3 tahun 2 bulan masuk rumah sakit dengan keluhan bengkak seluruh
badan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Bengkak awalnya terjadi pada mata saja saat bangun
tidur, menghilang saat siang hari. Lama-kelamaan bengkak menetap dan meluas keseluruh tubuh. Sejak
Sejak 7 hari sebelum masuk Rumah sakit, BAK anak berwarna merah kehitaman, tidak ada rasa nyeri saat
BAK, tidak ada kesulitan untuk BAK, tidak ada nyeri pinggang, nyeri perut dan tidak ada riwayat terjatuh
sebelumnya. Anak juga menjadi jarang BAK, hanya dua kali dalam sehari dengan jumlah yang tidak
terlalu banyak. Sejak 10 hari sebelum masuk Rumah Sakit anak menderita panas, panas tidak naik, panas
turun dengan obat penurun panas, siang dan malam sama, selama panas tidak ada kejang, mengigau dan
menggigil. Nafsu makan menurun dan minum kurang dari biasanya, buang air besar normal. Tidak ada
perdarahan gusi maupun mimisan. Anak juga ada menderita batuk dan pilek. Tidak ada riwayat
pemakaian obat tertentu, dan riwayat keluarga yang menderita sakit ginjal. Sejak anak sering bermain di
tanah, muncul luka-luka yang akhirnya menjadi koreng menetap bila digaruk.
Pengukuran tanda Vital : Tekanan Darah 140/100 mmHg
Nadi : 118x/menit, regular
Suhu : 36,6 oC
Respirasi 30x/ menit.
Pemeriksaan Laboratorium: Darah lengkap : Hb :11,3 g%, WBC : 14.400, RBC : 4.4x 106/Ul.
Kimia Darah : Albumin: 3,5 g/dl, Total protein : 6,6 g/dl.
Globulin: 3.1g/dl. Ureum : 22 mg/dl, Kreatinin : 0.9 mg/dl.
Urinalisis: eritrosit 20-25 lpb, protein +2. Bakteri dan Kristal (-)
1. Apa diagnosis kerjanya dan alasannya?
Jawab : Diagnosis adalah GNAPS
Alasanya : Sindrom glomerulonefritis akut adalah adanya kelainan pada glomerulus berupa
proteinuria, hematuria, edema, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal, yang dapat terlihat
secara tersendiri atau secara bersama. Dari anamnesis penderita, didapatkan keluhan utama
berupa kencing berwarna merah, tanpa rasa nyeri, dan tidak ada riwayat trauma. Selain itu
didapatkan pula keluhan berupa edema yang berawal dari palpebrae dan menyebar hingga
seluruh tubuh. Gejala klinis ini mengarah kepada kelainan glomerulus. Hal ini dilengkapi
pula dengan ditemukannya hipertensi dan edema anasarka pada pemeriksaan fisik dan
ditemukannya eritrosit 20-25 lpb pada pemeriksaan sedimen urin serta proteinuria pada
pemeriksaan laboratorium.
2. Usulan pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan?
Jawab :
a. Tes Streptozim : Tes skrining untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen streptokokus.
b. Tes Anti Streptolisin Titer O (ASTO) : Tes untuk mendeteksi antibodi antistreptolisin O yang
terdapat dalam darah
c. Tes Antihyaluronidase (AH) : tes untuk mendeteksi adanya streptokokus.
d. Tes antiDnase B : Setelah infeksi streptokokus maka didalam tubuh diproduksi antibodi Dnase B
yang mulai muncul pada minggu kedua setelah infeksi dan mencapai puncaknya pada minggu ke6 sampai 8. Tes ini mendeteksi antibodi Dnase B yang muncul setelah infeksi streptokokus.

e. Tes Komplemen : Komplemen serum hampir selalu menurun pada GNAPS, yang paling sering
diperiksa adalah komplemen C3.
f. Kultur : Merupakan tes konfirmasi untuk menegakkan diagnosa GNAPS. Diagnosa pasti bila
biakan positif untuk streptokokus hemolitikus grup A.
3. Mengapa pada GNAPS terjadi hematuria dan Proteinuri?
Jawab : disebabkan oleh terjadinya inflamasi yang mengakibatkan kerusakan pada ginjal yang
didahului oleh proses sebagai berikut :
1.Terbentuknya plasmin sebagai akibat pemecahan plasminogen oleh streptokinase yang akan
mengaktivasi reaksi kaskade komplemen.
2. Terperangkapnya kompleks antigen-antibodi yang sudah terbentuk sebelumnya kedalam
glomerulus.
3. Antibodi antistreptokokus yang telah terbentuk sebelumnya berikatan dengan molekul tiruan
(molecule mimicry) dari protein ginjal yang menyerupai antigen streptokokus (jaringan glomerulus
normal yang bersifat autoantigen).
Kompleks antigen-antibodi tersebut kemudian secara mekanis terperangkap didalam membran
basalis, selanjutnya komplemen akan terfiksasi mengakibatkan lesi dan peradangan yang menarik
netrofil dan trombosit menuju tempat lesi. Fagositosis dan pelepasan enzim lisosom juga merusak
endotel dan membran basalis glomerulus. Respon terhadap lesi yang terjadi adalah timbulnya
proliferasi sel-sel endotel yang diikuti sel-sel mesangium dan sel-sel epitel. Peningkatan kebocoran
kapiler gromelurus menyebabkan protein dan eritrosit dapat keluar ke dalam urin yang sedang
dibentuk oleh ginjal, mengakibatkan proteinuria dan hematuria
4. Diagnosis banding GNAPS adalah
GNAPS

Nefropati
Ig A

GN

MPGN

Kronis

Hematuri

(+)
setelah

Nefro

Renal TB

lithiasis

(+) bersama
faringitis

(+)

(+)

(+)

(+/-)

10 hari
pasca
faringitis
Hipertensi

(+)

(+/-)

(+)

(-)

(-)

(+/-)

Edema

(+)

(+/-)

(+)

(-)

(-)

(+/-)

Menurun
lalu
kembali
normal
dlm 6-8

Normal

Menurun lalu
kembali normal

Normal

Normal

Menurun

Kadar C3

> 8 minggu

minggu
ASTO

(+/-)

(-)

(-)

(-)

(-)

(-)

Antistreptozim

(+)

(-)

(-)

(-)

(-)

(-)

Antihialuronidase

(+)

(-)

(-)

(-)

(-)

(-)

Anti Dnase B

(+)

(-)

(-)

(-)

(-)

(-)

5. Penatalaksanaan dari penyakit ini ?


Jawab : Penatalaksanaan pasien GNAPS meliputi eradikasi kuman dan pengobatan terhadap gagal
ginjal akut dan akibatnya. Pemberian penisilin pada fase akut dianjurkan hanya untuk 10 hari,
sedangkan pemberian profilaksis yang lama tidak dianjurkan
6. Komplikasi dari penyakit ini ?
Jawab : - Oliguria sampai anuria yang dapat berlangsung 2-3 hari, terjadi sebagai akibat
berkurangnya filtrasi glomerulus.
- Gambaran seperti insufisiensi ginjal akut dengan uremia, hiperkalemia, dan
hiperfosfatemia.
- Hipertensi ensefalopati, didapatkan gejala berupa gangguan penglihatan, pusing, muntah
dan kejang-kejang. Ini disebabkan spasme pembuluh darah lokal dengan anoksia dan
edema otak.
- Gangguan sirkulasi berupa dispne, ortopne, terdapatnya ronki basah, pembesaran jantung
dan meningginya tekanan darah yang bukan saja disebabkan spasme pembuluh darah,
melainkan juga disebabkan oleh bertambahnya volume plasma.
- Anemia yang timbul karena adanya hipervolemia di samping sintesis eritropoetik yang
menurun.