Anda di halaman 1dari 13

CASE REPORT SESSION (CRS)

CATARACT
Preseptor:
dr. Maya Sari W. K., SpM, M.Kes

Oleh:
Josephine Paul Durai

1301-1212-3527

Rialta Hamda

1301-1212-0622

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
RUMAH SAKIT MATA CICENDO
BANDUNG
2013

I. Identitas umum
Nama

: Tn. H

Umur

: 49 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: -

Alamat

: Bandung

Tanggal Pemeriksaan : 16 Agustus 2013


II. Anamnesis
Keluhan Utama

: Penglihatan berangsur-angsur buram

Sejak satu tahun yang lalu pasien merasakan penglihatan berangsur-angsur


menjadi buram. Pada mulanya penglihatan mata kiri menjadi buram kemudian
mata kanan juga mulai menjadi buram sehingga hanya dapat melihat sesuatu dari
jarak dekat. Pasien juga merasa silau saat terdedah kepada sinaran matahari
sehingga kedua-dua matanya mulai berair. Pasien tidak mempunyai keluhan nyeri
pada kedua-dua belah matanya. Pasien berobat ke Rumah Sakit Cicendo karena
merasakan penglihatannya semakin memburuk.
Riwayat nyeri kepala hebat, nyeri pada mata, mual dan muntah disangkal.
Riwayat menggunakan kaca mata, oprasi mata dan penyakit mata lain sebelumnya
disangkal. Riwayat trauma diakui oleh pasien bahawa dia pernah mengalami
cedera pada kepala karena kecelakaan lalu-lintas 20 tahun yang lalu. Namun,
penglihatan pasien tidak terjejas oleh kecelakaan itu dan masih berada dalam
kondisi yang baik.
Riwayat tekanan darah tinggi disangkal oleh pasien. Riwayat sering
merasa lapar, sering haus, atau sering kencing disangkal. Riwayat mengkonsumsi
obat-obatan tertentu dalam jangka waktu lama disangkal. Riwayat penyakit serupa
pada keluarga disangkal.

III. Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
Kesadaran

: Kompos Mentis

Keadaan Umum

: Tampak sakit ringan

Tanda Vital

: dalam batas normal

Status Ophthalmologis
1. Pemeriksaan Subjektif
Visus

2.

VOD : SC

: 1/300

VOS

: 1/300

: SC

Pemeriksaan Objektif
a.

Inspeksi
Muscle Balance

OD
Ortotropia

OS
Ortotropia

Duksi:baik

Duksi:baik

Versi:baik
Tidak ada kelainan
Tenang
Tenang
Lakrimasi (-)

Versi:baik
Tidak ada kelainan
Tenang
Tenang
Lakrimasi (-)

Epiphora (-)

Epiphora (-)

Tenang

Tenang

Tenang

Tenang

Injeksi (-)
Jernih

Injeksi(-)
Jernih

Pergerakan Bola Mata

Silia
Palpebra Superior
Palpebra Inferior
Apparatus Lakrimalis
Konjungtiva tarsalis
superior
Konjungtiva tarsalis
inferior
Konjungtiva bulbi
Kornea

COA
Pupil
Iris
Lensa

Sedang
Bulat
Sinekia (-)
Keruh

Sedang
Bulat
Sinekia (-)
Keruh

b. Pemeriksaan Slit Lamp

Terlihat arkus senilis di sekitar kornea pada kedua-dua mata

Terlihat jaringan sikatriks(bekas inflamasi pada jaringan) di kornea


pada kedua-dua mata

Terlihat lensa keruh dilapisi suatu lapisan berwarna putih pada keduadua mata

c. Palpasi:
OD: normal

OS: normal

3. Pemeriksaan Objektif dengan alat-alat lain


Tonometer

: tidak dilakukan

Funduskopi

: tidak dilakukan

Shadow test

: OD: (-)

Refleks cahaya

: Direct : +/+

OS: (-)

Indirect : +/+
Diagnosis Banding
- Katarak Komplikata
- Katarak Traumatika
- Glaukoma kronis sudut terbuka/tertutup
Diagnosa Kerja
- Katarak Senilis

Usul Pemeriksaan
-

Funduskopi

TIO dengan tonometer Schiotz

USG mata

Laboratorium :
darah : Hb, Leukosit, Hematokrit, Trombosit, GDP, ureum, kreatinin,
BT/CT, PT/APTT.
Urin : protein, reduksi

Terapi
Umum : Edukasi
Khusus:

Extracapsular Cataract Extraction (ECCE)

Intraocular lense (IOL)

Prognosis
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam : ad bonam

PEMBAHASAN
I.

DIAGNOSIS
Diagnosa dari katarak senilis dibuat atas dasar anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Pengambilan anamnesa yang hatihati sangat penting untuk
menggambarkan progresifitas dan kerusakan fungsional dari penglihatan
yang disebabkan oleh katarak dan identifikasi penyebab lain yang mungkin
menyebabkan opasitas lensa. Seorang pasien dengan katarak senilis biasanya
memiliki riwayat kemunduran penglihatan progresif dan bertahap.
Penyimpangan penglihatan yang bervariasi tergantung pada tipe katarak
pasien tersebut.
1. Penurunan ketajaman penglihatan
Penurunan ketajaman penglihatan adalah keluhan umum pasien dengan
katarak senilis. Katarak betul betul dipertimbangkan secara klinis jika
terdapat efek pada ketajaman penglihatan yang berarti. Selanjutnya tipe
tipe yang berbeda dari katarak menghasilkan efek yang berbeda pada
ketajaman penglihatan.
Sebagai contoh, tingkat ringan dari katarak subkapsular posterior dapat
menyebabkan penurunan yang berat ketajaman penglihatan dengan efek
pada penglihatan dekat lebih berat dari efek pada gangguan penglihatan
jauh yang diperkirakan oleh karena akomadasi miosis. Bagaimanapun
katarak sklerosis nuklear sering disertai dengan penurunan penglihatan
jauh dan penglihatan dekat yang bagus. Katarak kortikal umumnya tidak
memberi gejala sampai tingkat progresifitas lanjut ketika jari-jari korteks
membahayakan axis penglihatan.
2. Silau
Peningkatan kesilauan adalah keluhan utama lain pada pasien dengan
katarak senilis
3. Pergeseran miopik

Progresifitas dari katarak akan sering meningkatkan kekuatan dioptri


lensa terlihat pada tingkat ringan sampai sedang dari miopia.
Selanjutnya, pasien pasien presbiop dilaporkan peningkatan
penglihatan dekat dan tidak membutuhkan kacamata baca yang disebut
second sight .
Khasnya, pergeseran miopik dan second sight tidak terlihat pada katarak
kortikal dan subkapsular posterior, lebih lanjut perkembangan kerusakan
asimetris lensa miopia menyebabkan gejala anisometropia yang
membutuhkan manajemen bedah.
4. Monookular diplopia
Pada saat perubahan nukleus terpusat pada lapisan paling dalam lensa
menyebabkan area refraksi pada sentral lensa, yang lebih sering jelas
terlihat pada reflek merah dengan retinoskopi atau ophtalmoskopi direk.
Seperti fenomena yang mengarah kepada diplopia monookular yang
tidak dikoreksi dengan kacamata, prisma dan kontak lensa.
Pemeriksaan seluruh tubuh terhadap adanya kelainan-kelainan harus
dilakukan untuk menyingkirkan penyakit sistemik yang berefek terhadap
mata dan perkembangan katarak.
a. Pemeriksaan mata yang lengkap harus dilakukan yang dimulai dengan
ketajaman penglihatan untuk gangguan penglihatan jauh dan dekat.
Ketika pasien mengeluh silau, harus diperiksa dikamar dengan cahaya
terang.
b. Pemeriksaan adneksa okular dan struktur intraokular dapat
memberikan petunjuk terhadap penyakit pasien dan prognosis
penglihatannya. Pemeriksaan yang sangat penting yaitu tes
pembelokan sinar yang dapat mendeteksi pupil Marcus Gunn dan
defek pupil aferent relatif yang mengindikasikan lesi saraf optik atau
keterlibatan difus makula

c. Pemeriksaan slit lamp tidak hanya difokuskan untuk evaluasi opasitas


lensa. Tapi dapat juga struktur okular lain( konjungtiva, kornea, iris,
bilik mata depan).

Ketebalan kornea dan opasitas kornea seperti kornea gutata harus


diperiksa hati-hati

Gambaran lensa harus dicatat secara teliti sebelum dan sesudah


pemberian dilator pupil

Posisi lensa dan integritas dari serat zonular juga dapat diperiksa
sebab subluxasi lensa dapat mengidentifikasi adanya trauma mata
sebelumnya, kelainan metabolik, atau katarak hipermatur

d. Kepentingan ofthalmoskopi direk dan indirek dalam evaluasi dari


integritas bagian belakang harus dinilai. Masalah pada saraf optik dan
retina dapat menilai gangguan penglihatan.
Stadium
Stadium katarak senilis dapat dijelaskan sebagai berikut :

Katarak insipien

Pada stadium ini kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk gerigi menuju
korteks anterior dan posterior (katarak kortikal). Katarak subkapsular posterior,
dimana kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk
antara serat lensa dan korteks jaringan berisi jaringan degeneratif (benda
morgagni) pada katarak insipien. Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh
karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini
kadang-kadang menetap dalam waktu yang lama. Pemeriksaan shadow test
negatif.

Katarak intumesen

Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa yang degeneratif


menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa mengaakibatkan lensa menjadi
bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi
dangkal dibanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat

memberikan penyulit glukoma. Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak


yang berjalan cepat dan mengakibatkan miopia lentikuler. Pada keadaan ini dapat
terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan mencembung dan daya biasnya akan
bertambah, sehingga memberikan miopisasi. Pada pemeriksan slit lamp terlihat
vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa.

Katarak imatur

Kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa. Volume lensa bertambah akibat
meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa
mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil sehingga terjadi glaukoma
sekunder. Pemeriksaan shadow test positif.

Katarak matur

Pada katarak matur, kekeruhan telah mengenai seluruh massa lensa. Kekeruhan ini
terjadi akibat deposit ion Ca yang menyeluruh. Cairan lensa akan keluar sehingga
lensa kembali pada ukuran yang normal. Akan terjadi kekeruhan seluruh lensa
yang bila lama akan mengakibatkan kalsifikasi lensa. Bilik mata depan akan
berukuran normal kembali. Pemeriksaan shadow test negatif.

Katarak hipermatur

Stadium ini telah mengalami proses degenerasi lanjut, dapat menjadi keras atau
lembek dan mencair. Massa lensa yang berdegenerasi keluar dari kapsul lensa
sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering. Pada pemeriksaan
dengan slit lamp terlihat bilik mata dalam dan adanya lipatan kapsul lensa. Bila
proses katarak progresif disertai dengan kapsul lensa yang tebal maka korteks
yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan
memperlihatkan bentuk seperti kantong susu disertai dengan nukleus yang
terbenam di dalam korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut sebagai
katarak morgagni.
II. TATA LAKSANA
Indikasi Operasi:

1. Optical indications
2. Medical indication
Hypermature cataract
Lens induced glaucoma
Lens induced uveitis
Dislocated/subluxated lens
Intra-lenticular foreign body
Diabetic Retinopathy to give Laser Photocoagulation
Retinal Detachment
3. Cosmetic indication
Pilihan operasi:
1. Extra-capsular cataract extraction

with Posterior Chamber Lens

Implantation (ECCE with PCL)


The nucleus and the cortex is removed out of the capsule leaving behind
intact posterior capsule, peripheral part of the anterior capsule and the
zonules
2. Intra-capsular cataract extraction (ICCE)
The lens is removed in toto
3. Pars plana lensectomy
-

A special techniques used in very young children

The lens and anterior part of vitreous is nibled out using an instrument
called Vitrectomy Probe or Vitreous irrigation Suction Cutting (VISC)

4. Phacoemulsification with Foldable Intra-ocular Lens (IOL)


-

It is essentially an advancement in the method of doing ECCE

The nucleus is converted into pulp or emulsified using high frequency


(40.000 MHz) sound waves and then sucked out of the eye through a
small (3.2) incision

A special foldable IOL is then inserted

10

Is the choice of the operation for cataract

Intra-ocular lens (IOL) types :


1. Posterior chamber lens (PCL)
2. Anterior chamber lens (ACL)
ECCE vs. ICCE

Lens removal

ECCE

ICCE

Nucleus removed out of the

Lens removed as single piece

capsule and cortex sucked out within its capsule


Posterior capsule

Intact

Removed

Incision

Smaller (8 mm)

Larger (10 mm)

Peripheral

Not performed

Required to avoid pupillary

& zonules

iridectomy
Sophisticated

block glaucoma
Required

Not required

More

Less

ECCE

ICCE

equipment
Time taken

IOL Implantation Posterior chamber

Anterior chamber

11

Expertise

Difficult technique

Easier to learn

Cost

More

Less

Complications

Posterior Capsular

which are

Opacification (PCO)

required

increased

1. Vitreous prolapse &


loss
2. CME
3. Endophthalmitis
4. Aphakic Glaucoma
5. Fibrous & endothelial
ingrowth
6. Neovasc. Glaucoma in
PDR

ECCE

ICCE

Complications

All the complications

PCO

which are

mentioned for ICCE

decreased
Indications

A routine procedure for all

1. Dislocated Lens

forms of cataract (except where

2. Subluxated Lens (>1/3

contra-indicated

zonules broken)
3. Chronic Lens Induced
Uveitis
4. Hypermature Shrunken
Cataract
5. Intraocular foreign body

Contraindications

1. Dislocated lens

Young patient (<35 years)

2. Subluxated lens (>1/3


zonules broken)
Edukasi Post-Op

12

1. Eye is cleaned routinely


2. The eye is examined :
Visual acuity
Apposisition of the wound
Corneal clarity
Anterior chamber depth
Pupil
IOL
Posterior capsule
Intra-ocular pressure (IOP)
3. Topical antibiotic-steroid eye drops every 4-6 hourly (4-6 weeks)
III.PROGNOSIS
-

Quo ad vitam: Ad bonam. Karena tidak ada hal yang mengancam jiwa.

Quo ad functionam: Ad bonam. Jika dilakukan operasi, maka struktur


abnormal-nya telah terangkat, maka tidak ada lagi yang mengganggu
media refraksi cahaya masuk ke mata. Jadi secara fungsi, matanya akan
bisa melihat jernih kembali.

13