Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Limbah adalah suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi kita
tidak mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan
bermanfaat jika diproses secara baik dan benar.Bila dikembalikan ke alam dalam
jumlah besar, limbah ini akan terakumulasi di alam sehingga mengganggu
keseimbangan ekosistem alam. Di bidang kesehatan, limbah dapat berasal dari
unit pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit umum, rumah sakit gigi dan mulut,
klinik bersalin, klinik umum, dan lain sebagainya. Limbah dari unit pelayanan
kesehatan mampu mencemari lingkungan penduduk di sekitar rumah sakit dan
dapat menimbulkan masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan dalam limbah rumah
sakit dapat mengandung berbagai jasad renik penyebab penyakit pada manusia
termasuk demam typoid, kholera, disentri dan hepatitis sehingga limbah harus
diolah sebelum dibuang ke lingkungan. Secara umum, limbah dapat digolongkan
menjadi 2 jenis, yaitu limbah medis dan non medis. Bentuk dari limbah biasanya
berhubungan langsung dengan suatu penderita (pasien), yaitu limbah infeksius,
limbah kimiawi, limbah farmasi, dan lain-lain sedangkan limbah non medis
biasanya tidak berhubungan langsung dengan pasien, seperti kertas diagnose dari
pasien dan bungkus makanan.
B. Skenario
Sebuah Koran di Kota Sehat mengabarkan bahwa ditemukan mainan anakanak berupa jarum suntik bekas diperjualbelikan di pasar. Jarum suntik tersebut
masih beraroma obat-obatan. Jarum suntik merupakan salah satu limbah medis
yang berdampak negatif bagi kesehatan lingkungan dan masyarakat karena dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan. Sebuah rumah sakit menghasilkan limbah
medis dan non medis. Rumah sakit harus memiliki alat pengelolaan limbah medis.
Izin rumah sakit bisa dikeluarkan jika memiliki alat tersebut. Terkait dengan itu,
Dinas Kesehatan terus melakukan pendataan dan pengawasan terhadap perasional
rumah sakit di kota tersebut.

C. Rumusan Masalah
1. Apa itu kesehatan lingkungan dan bagaimana konsep dasar kesehatan
2.
3.
4.
5.
6.

lingkungan ?
Apa saja klasifikasi dari limbah medis ?
Bagaimana parameter suatu limbah medis ?
Apa alat yang digunakan untuk mengelola limbah medis ?
Bagaimana dampak limbah medis bagi orang dan lingkungan sekitar ?
Bagaimana hubungan jarum suntik mainan dengan limbah medis dan

pencemaran lingkungan ?
D. Learning Object
1. Mahasiswa mampu mengetahui,

memahami,

menjelaskan,

dan

mengkomunikasikan pengertian umum limbah


2. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami,

menjelaskan,

dan

mengkomunikasikan klasifikasi limbah medis


3. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami,

menjelaskan,

dan

mengkomunikasikan parameter limbah medis


4. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami,

menjelaskan,

dan

mengkomunikasikan cara pengolahan limbah medis dan non medis


5. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami, menjelaskan,

dan

mengkomunikasikan dampak terhadap pencemaran lingkungan

6. BAB II
7. PEMBAHASAN
8.
9. STEP 1 : Kata-kata Sulit
1. Limbah Medis adalah limbah yang berasal dari suatu kegiatan pelayanan
kesehatan, yang biasanya berkontak langsung dengan pasien, contoh jarum
suntik.
2. Limbah Non Medis adalah limbah yang dihasilkan di luar kegiatan pelayanan
kesehatan dan biasanya tidak berkontak dengan pasien, contohnya bungkus
makanan, kertas diagnose pasien.
3. Operasional Rumah Sakit adalah system yang ada di rumah sakit yang
berhubungan dari bagian operasional rumah sakit (hasil perawatan tiap poli).
10. STEP 2 : Pertanyaan-pertanyaan
1. Apa itu kesehatan lingkungan dan bagaimana konsep dasar kesehatan
2.
3.
4.
5.
6.

lingkungan ?
Apa saja klasifikasi dari limbah medis ?
Bagaimana parameter suatu limbah medis ?
Apa alat yang digunakan untuk mengelola limbah medis ?
Bagaimana dampak limbah medis bagi orang dan lingkungan sekitar ?
Bagaimana hubungan jarum suntik mainan dengan limbah medis dan
pencemaran lingkungan ?

11. STEP 3 : Brain Storming


1. Konsep Dasar Kesehatan Lingkungan
12.
Suatu kondisi lingkungan

yang

mampu

menopang

keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungannya


untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan
bahagia. Dalam hal ini, yang termasuk dalam komponen ekologi meliputi
manusia dan lingkungan baik biotik maupun abiotik. Lingkungan biotic
sendiri meliputi hewan dan tumbuhan sedangkan lingkungan abiotik meliputi
tempat tinggal, sarana prasarana dan lain-lain. Dalam interaksi antara semua
komponen ini haruslah seimbang agar tercapai apa yang dinamakan
kesehatan lingkungan.

2. Klasifikasi Limbah
a) Limbah Medis
Limbah umum : limbah yang tidak berbahaya dan tidak membutuhkan
penanganan khusus, contoh : limbah domestik, limbah kemasan non

infeksius.
Limbah benda tajam : obyek atau alat yang memiliki sudut tajam, sisi, ujung
atau bagian menonjol yang dapat memotong atau menusuk kulit seperti jarum
hipodermik, perlengkapan intravena, pipet pasteur, pecahan gelas, pisau

bedah.
Limbah patologis : Jaringan atau potongan tubuh manusia, contoh bagian

tubuh, darah dan cairan tubuh yang lain termasuk janin.


Limbah farmasi : Limbah yang mengandung bahan farmasi contoh obat-

obatan yang sudah kadaluwarsa atau tidak diperlukan lagi.


Limbah genotoksik : Limbah yang mengandung bahan dengan sifat
genotoksik contoh limbah yang mengandung obat-obatan sitostatik (sering
dipakai dalam terapi kanker), yaitu zat karsinogenik (benzen,antrasen), zat
sitotoksik, (tamoksifen, semustin) zat yang mungkin bersifat karsoinogenik

(chloramphenicol, chlorozotocin, cisplatin).


Limbah kimia : Limbah yang mengandung bahan kimia contoh reagen di
laboratorium, film untuk rontgen, desinfektan yang kadaluwarsa atau sudah
tidak diperlukan, solven. Limbah ini dikategorikan limbah berbahaya jika
memiliki beberapa sifat (toksik, korosif (pH12), mudah terbakar, reaktif

(mudah meledak, bereaksi dengan air, rawan goncangan), genotoksik


3. Parameter Limbah Medis
13. Limbah dikatakan Bahan Berbahaya Beracun, bila :

Mudah Terbakar
Korosif
Mengiritasi Kulit
pH asam kurang dari atau sama dengan dua ; pH basa lebih dari atau sama

dengan 12,5
Beracun
4. Alat untuk mengelola Limbah Medis
a) Insenerator

14. Kriteria yang ditentukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang
diantaranya adalah sebagai berikut:
Pengurangan sampah yang efektif
Lokasi jauh dari area penduduk
Adanya sistem pemisahan sampah
Desain yang bagus
Pembakaran sampah mencapai suhu 1000 derajat
Emisi gas buang memenuhi standar baku mutu.
Perawatan yang teratur/periodik
Ada Pelatihan Staf dan Manajemen
5. Dampak limbah medis bagi orang dan lingkungan sekitar
15. Depkes RI (2001) Pengaruh limbah rumah sakit terhadap kualitas
lingkungandan kesehatan dapat menimbulkan berbagai masalah seperti :
16. 1.Gangguan kenyamanan dan estetika
17. Ini berupa warna yang berasal dari sedimen, larutan, bau phenol,
eutrofikasidan rasa dari bahan kimia organik.
18. 2.Kerusakan harta benda
19. Dapat disebabkan oleh garam-garam yang terlarut (korosif, karat), air
yangberlumpur dan sebagainya yang dapat menurunkan kualitas bangunan
disekitar rumah sakit.
20. 3.Gangguan/kerusakan tanaman dan binatang
21. Ini dapat disebabkan oleh virus, senyawa nitrat, bahan kimia,
pestisida, logam, nutrien tertentu dan fosfor.
22. 4.Gangguan terhadap kesehatan manusia
23. Ini dapat disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, virus, senyawasenyawakimia, pestisida, serta logam seperti Hg, Pb, dan Cd yang berasal dari
bagiankedokteran gigi.
24. 5.Gangguan genetik dan reproduksi

25. Meskipun mekanisme gangguan belum sepenuhnya diketahui secara


pasti,namun

beberapa

senyawa

dapat

menyebabkan

gangguan

atau

kerusakangenetik dan sistem reproduksi manusia misalnya pestisida, bahan


radioaktif.
6. Hubungan Jarum Suntik dan Pencemaran Lingkungan
26.

Jarum suntik bekas yang diperjual belikan secara bebas di

kalangan anak sekolah sangatlah berbahaya. Masyarakat awam tidak tahu


menahu mengenai bahaya dari limbah medis tersebut. Jarum suntik atau spuit
sendiri merupakan salah satu limbah medis yang sifatnya infeksius dan tidak
dapat diuraikan di dalam tanah. Anak-anak yang bermain dengan jarum
suntik bekas tersebut bisa saja membuangnya di sembarang tempat. Selain
resiko akan tertularnya penyakit, jarum suntik ini juga dapat menyebabkan
pencemaran lingkungan karena tidak dapat diuraikan di dalam tanah.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34. STEP 4 : Mapping
35.
36.
37.
38.
Limbah
39.
Medis
40.
Klasifikasi
41.
42.
43.
Parameter
44.
45.
46.
Cara
47.
Pengolaha
48.

Limbah

Tidak Baik

Limbah Non
Medis

Pencemara
n
6

49.
50.
51. STEP 5 : Learning Object (LO)
1. Mahasiswa

mampu

mengetahui,

memahami,

menjelaskan,

dan

mengkomunikasikanpengertian limbah secara umum


2. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami,

menjelaskan,

dan

mengkomunikasikan klasifikasi dari limbah


3. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami,

menjelaskan,

dan

mengkomunikasikan parameter limbah medis


4. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami,

menjelaskan,

dan

mengkomunikasikan cara pengolahan limbah medis dan non medis


5. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami, menjelaskan,

dan

mengkomunikasikan dampak limbah medis dan non medisterhadap


pencemaran lingkungan
52.
53. STEP 7 :
A. Pengertian Limbah
54. Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan
dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga,
industry, pertambangan, dll. Kehadiran limbah pada suatu saat dan tempat
tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis
55. Oleh sebab itu, masyarakat urang menaruh perhatian akan kedatangan
limbah. Terdapat sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa letak septic
tank, cubluk (balong), dan pembuangan sampah berdekatan dengan sumber
air tanah,
56. akan menyebabkan kualitas air menurun. Dari 636 sampel, 285 titik sampel
sumber air tanah telah tercemar bakteri coli. Secara kimiawi, 75 % dari smber
tersebut tidak memenuh baku mutu air minum yang parameternya dinilai dari
unsure nitrat, nitrit, besi, dan mangan.http://contohsimpel.blogspot.com/
a. Bentuk-Bentuk Limbah
57. Pada dasarnya limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu
proses produksi baik industry maupun domestic (rumah tangga, yang lebih
dikenal dengan sampah). Limbah merupakan buangan yang berbentuk cair,
gas, dan padat.Limbah mengandung bahan kimia yang sukar untuk

dihilangkan dan berbahaya.Bahan kimia tersebut dapat member kehidupan


bagi kuman-kumannpenyebab penyakit disentri, tipus, kolera, dsb.Dengan
konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak
negative terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga
perlu dilakukan penanganan terhadap limbah.Tingkat bahaya keracunan yang
ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.
58. Berikut ini adalah karakteristik limbah :
59. 1. Karakteristik limbah
60. - berukuran mikro ataupun makro
61. - dinamis
62. - berdampak luas ( penyebarannya )
63. - berdampak generasi panjang ( antar generasi )
64. 2. Faktor yang mempengaruhi kualitas limbah
65. - Volume limbah
66. - kandungan bahan pencemar
67. - Frekuensi pembuangan limbah
68. 3.
Berdasarkan karakteristiknya, limbah industry dapat digolongkan
menjadi 4 jenis:
69. - limbah cair
70. - limbah padat
71. - limbah gas & partikel
72. - limbah B3 ( Bahan Berbahaya dan Beracun )
73.
Diantara berbagai limbah diatas, jenis limbah B3 adalah
limbah yang bersifat beracun atau berbahaya.Suatu limbah digolongkan
menjadi limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun yang
sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung dpat merusak
atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan
manusia. Bahan limbah yang termasuk limbah B3 antara lain adlahbahan
baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak,
sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan
penanganan dan pengolahan khusus. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3
bila memiliki salah satu atau lebih karakteristik mudah meledak, mudah
terbakar, besifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif , dll ,
yang bila diuji dengan toksikologi dapat diketahui termasuk limbah B3.
74. Sedangkan limbah beracun dapat digolongkan menjadi :
75. a. Limbah mudah meledak
76. b. limbah mudah terbakar
77. c. limbah reaktif ( menyebabkan kebakaran )

78. d.

limbah yang menyebabkan infeksi karena mengandung kuman

79. e.
80.

limbah yang bersifat korosif ( menyebakan iritasi )

B. Klasifikasi Limbah
a. Limbah medis
81. Penggolongan kategori limbah medis dapat diklasifikasikan potensi
bahaya yang tergantung didalamnya, serta volume dan sifat persistensinya
yang menimbulkan masalah
a) Limbah benda tajam
82. Limbah benda tajam merupakan objek atau alat yang memiliki sudut
tajam, sisi ujung tau bagian menonjol yang dapat memotong atau menusuk
kulit, seperti jarum suntik, pisau bedah, pecahan gelas, dll.Semua benda tajam
ini memiliki potensi berbahaya dan dapat menyebabkan cedera melalui
sobekan

atau

tusukan.Benda-benda

tajam

yang

terbuang

mungkin

terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh, bahan mikrobiologi dan beracun,


bahan sitotoksik atau radioaktif.Limbah tajam mempunyai potensi bahaya
tambahan yang dapat menyebabkan infeksi atau cedera karena mengandung
bahan kimia beracun atau radioaktif. Potensi untuk menularkan penyakit akan
sangat besar bila benda tajam tersebut digunakan untuk pengobatan pasien
infeksi atau penyakit infeksi.
b) Limbah infeksius
83. Mencakup pengertian limbah yang berkaitan dengan pasien yang
memerlukan isolasi penyakit menular (perawatan intensif) dan limbah
laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik
dan ruang perawatan/isolasi penyakit menular.Namun, beberapa institusi
memasukkan juga bangkai hewan percobaan yang terkontaminasi atau yang
diduga terkontaminasi oleh organisme patogen ke dalam kelompok limbah
infeksius.
84.

Kategori yang meliputi limbah infeksius yaitu:

Kultur dan stok agens infeksius dari aktivitas di laboratorium

85. Limbah buangan hasil operasi dan otopsi pasien yang menderita penyakit
menular (mis; jaringan dan materi atau peralatan yang terkena darah atau
cairan tubuh yang lain)

Limbah pasien yang menderita penyakit menular dari bangsal isolasi


(misalnya ekskreta, pembalut luka bedah atau luka yang terinfeksi, pakaian

yang terkena darah pasien atau cairan tubuh yang lain)


Limbah yang sudah tersentuh pasien yang menjalani haemodialisis (misalnya
peralatan dialisis seperti slang dan filter, handuk, baju RS, apron, sarung

tangan sekali pakai dan baju laboratorium)


Hewan yang terinfeksi dari laboratorium
Instrumen atau materi lain yang tersentuh orang atau hewan yang sakit.7
86.
c) Limbah patologi

87. Jaringan tubuh meliputi organ badan, darah dan cairan tubuh biasanya
dihasilkan pada saat pembedahan.Limbah ini dikategorikan berbahaya dan
mengakibatkan resiko tinggi infeksi kuman terhadap pasien lain, staf rumah
sakit, dan populasi umum (pengunjung RS dan penduduk sekitar RS)
sehingga dalam penaganannya membutuhkan labelisasi yang jelas.
d) Limbah farmasi
88.

Limbah farmasi dapat berasal dari obat-obat yang kasaluarsa, obat-

obatan yang terbuang karena batch yang tidak memenuhi spesifkasi atau
kemasan yang terkontaminasi, obat-obatan yang dikembalikan oleh pasien
atau dibuang oleh masyarakat, obat-obatan yang tidak lagi diperlukan oleh
institusi yang bersangkitan dan limbah yang dihasilkan selama produksi obatobatan.
e) Limbah kimia
89. Limbah kimia dihasilkan dari penggunaan kimia dalam tindakan
medik, veterinari, laboratorium, proses sterilisasi, dan riset. Limbah kimia

10

mengandung zat kimia yang berbentuk padat, cair maupun gas yang berasal,
misalnya dari aktivitas diagnostik dan eksperimen serta dari pemeliharaan
kebersihan, aktivitas keseharian, dan prosedur pemberian desinfektan.Limbah
kimia dari instalasi kesehatan berupa limbah berbahaya, bisa juga tidak.
Untuk melindungi kesehatan, limbah ini dikategorikan sebagai limbah
berbahaya jika memiliki sedikitnya satu dari beberapa sifat berikut:

Toksik
Korosif (yaitu asam dengan pH <2 dan basa dengan pH >12)
Mudah terbakar
Reaktif (mudah meledak, bereaksi dengan air, rawan goncangan)
Genetoksik (misalnya:obat-obatan sitotoksik)
Limbah kimia yang tidak berbahaya (misalnya: gula, asam amino, dan garamgaram organik dan non organik) pada umunya mengandung zat kimia yang
tidak memiliki sifat diatas.
a) Limbah Kimia Limbah bahan kimia untuk fiksasi, developer dan cleaner

pada pencucian foto rontgen.


Bahan fiksasi film X-ray adalah larutan yang tertinggi pada proses
pencucian film X-ray, merupakan limbah yang toksik karena kandungan

silver yang tinggi.


Bahan developer x-ray dilarang dibuang sembarangan mengingat

kandungan hydroquinone yang merupakan limbah berbahaya.


X-raycleaner merupakan limbah berbahaya bila mengandung chromium.
Bungkus film x-ray yang mengandung Pb, dapat dilebur (recyded).
Karenanya bahan ini menjadi limbah yang tidak berbahaya bila dalam

bentuk scrap metal.


Film x-ray sendiri termasuk limbah berbahaya karena kandungan
silvernya. Untuk mengindari limbah berbahaya dari x-ray tersebut

dianjurkan menggunakan alat digital x-ray.


b) Limbah bahan sterilisasi alat kedokteran gigi merupakan limbah berbahaya
apabila mengandung alkohol, glutaraldehyde dan bahan berbahaya lain,
seperti ortho-phthaldehyde (OPA). Untuk mensterilisasi ditambah glycine.
c) Cairan bleaching merupakan limbah yang berbahaya apabila konsentrasinya
tinggi. Penurunanan konsentrasi kurang dari 1% tidak membahayakan.
90.

11

91. d)Limbah radioaktif


92. Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio
isotop yang berasal dari penggunan medik atau riset radionucleida. Limbah
ini

dapat

berasal

antara

lain

dari

tindakan

kedokteran

nuklir,

radioimmunoassay, dan bakteriologis, dapat berbentuk padat, cair, atau


gas.Limbah radioaktif juga mencakup benda padat, cair, dan gas yang
terkontaminasi radionuklida.Limbah ini berbentuk akibat pelaksanaan
prosedur seperti analisis in-vitro pada jaringan dan cairan tubuh, pencitraan
organ dan lokalisasi tumor secara in-vivo, berbagai jenis metode investigasi
dan terapi lainnya.Radionuklida yang digunakan dalam layanan kesehatan
biasanya berada dalam sumber yang tidak tersegel (terbuka) atau sumber
yang tersegel (tertutup rapat). Sumber yang tidak tertutup biasanya berupa
cairan siap pakai dan tidak ditutup lagi selama penggunaanya, sumber yang
tertutup misalnya zat radioaktif yang terkandung dalam bagian perlengkapan
atau peralatan atau terbungkus dalam kemasan antipecah atau kedap air sepert
seeds dan jarum. Cairan yang tidak dapat larut air, misalnya: residu
berkilau yang digunakan dalam radioimmunoassay dan minyak pelumas yang
terkontaminasi.
93.
b. Limbah Non-Medis
94.

Limbah padat non-medis adalah limbah padat yang dihasilkan dari

kegiatan di rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur,


perkantoran/administrasi, ruang tunggu, unit pelayanan, taman, dan halaman
yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya.
95.

C. Parameter Limbah
a. Mudah Meledak
96.
Limbah mudah meledak (explosive) adalah limbah yang pada
temperatur dan tekanan standar dapat meledak atau melalui reaksi kimia
dan/atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang
dengan cepat dapat merusak lingkungan sekitarnya.Limbah B3 yang paling
berbahaya adalah limbah kimia jenis peroksida organik, karena selain bersifat

12

oksidator kuat juga mempunyai sifat kimia tidak stabil.Kebanyakan senyawa


ini sangat sensitif terhadap guncangan, gesekan, dan panas, serta dapat
terdekomposisi secara eksotermis dengan melepas panas yang sangat tinggi.
Contohnya antara lain adalah asetil peroksida, benzoil peroksida, kumen
peroksida, dan asam perasetat. Limbah lain yang bersifat eksplosif adalah
limbah kimia jenis monomer yang mempunyai kemampuan berpolimerisasi
secara spontan sambil melepaskan gas bertekanan serta panas yang tinggi.
Contohnya antara lain butadiena dan metakrilat.
97.
b. Mudah Terbakar
98.
Limbah mudah terbakar (flammable) adalah limbah yang
mempunyai salah satu sifat sebagai berikut:
99.
- Limbah berupa cairan: mengandung alkohol kurang dari 24%
(vol) dan/atau mempunyai titik nyala tidak lebih dari 60 derajat Celcius.
100. - Limbah bukan berupa cairan: pada suhu dan tekanan standar
dapat mudah menyebabkan kebakaran melalui gesekan, penyerapan uap air
atau perubahan kimia secara spontan, dan apabila terbakar dapat
menyebabkan kebakaran yang terus menerus.
101. - Merupakan limbah bertekanan yang mudah terbakar.
102. - Merupakan limbah pengoksidasi.Walaupun limbah ini
kebanyakan adalah jenis pelarut organik, namun dapat pula berbentuk padat
seperti kalium, litium hidrida, dan natrium hidrida, yang apabila berkontak
dengan udara dapat terbakar secara spontan.Limbah B3 jenis ini dinamakan
limbah pyrophoric.
103.
c. Reaktif
104. Limbah reaktif adalah limbah yang mempunyai salah satu sifat
berikut:
105.

- Pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan

perubahan tanpa peledakan.


106. - Dapat bereaksi hebat dengan air.
107. - Apabila bercampur dengan air berpotensi menimbulkan
ledakan, menghasilkan gas, uap, atau asap beracun dalam jumlah yang
membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
108. - Merupakan limbah sianida, sulfida, atau amoniak yang pada
kondisi pH antara 2 dan 12,5 dapat menghasilkan gas, uapa, atau asap

13

beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan


lingkungan.
109.
110.

- Mudah meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar.


- Dapat menyebabkan kebakaran karena melepas atau

menerima oksigen, atau limbah peroksida organik yang tidak stabil dalam
suhu tinggi. Limbah jenis ini dapat bereaksi secara spontan jika berkontak
atau bercampur dengan air atau udara. Contohnya asam sulfat bereaksi secara
spontan dengan air menghasilkan panas yang tinggi (eksotermis). Beberapa
jenis logam seperti kalium, natrium, dan litium juga reaktif terhadap air
menghasilkan gas hidrogen yang mudah terbakar. Limbah lain yang
berbentuk debu yang sangat halus dari bahan logam, katalis, atau batu bara
reaktif terhadap udara dan berpotensi terbakar atau meledak. Adapun bahan
pengoksidasi (oksidan) bersifat reaktif terhadap bahan organik seperti asam
nitrat, hipoklorit, dan perklorat.
111.
d. Menyebabkan Infeksi
112. Limbah yang menyebabkan infeksi (infeksius) adalah limbahlimbah yang berpotensi menginfeksi makhluk hidup. Contohnya antara lain
peralatan medis bekas pakai, bagian tubuh yang diamputasi dan cairan dari
tubuh manusia yang terinfeksi, limbah laboratorium atau limbah lainnya yang
terinfeksi kuman penyakit yang dapat menular. Limbah jenis ini umumnya
berupa limbah rumah sakit atau laboratorium klinik.
113.
e. Korosif
114. Limbah korosif adalah limbah yang menyebabkan iritasi
(terbakar) pada kulit atau mengkorosikan baja. Limbah ini mempunyai pH
sama atau kurang dari 2 untuk limbah yang bersfat asam dan sama atau lebih
besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa. Limbah korosif dapat merusak atau
menghancurkan jaringan makhluk hidup akibat adanya efek kimia.
Contohnya adalah asam, basa, dan halogen yang mana efeknya terhadap
tubuh manusia antara lain iritasi, terbakar, dan hancurnya jaringan tubuh.
115.
D. Cara Pengolahan Limbah Medis dan Non Medis
116. Persyaratan pengelolaan limbah medis padat di rumah sakit
sesuai keputusan KEPMENKES No. 1204/Menkes/SK/X/2004:

14

117.
118.

a. Minimasi Limbah:
1. Setiap rumah sakit harus melakukan reduksi limbah dimulai dari

sumber.
119.
2. Setiap rumah sakit harus mengelola dan mengawasi penggunaan
bahan kimia yang berbahaya dan beracun.
120.
3. Setiap rumah sakit harus melakukan pengelolaan stok bahan kimia
dan farmasi.
121.
4. Setiap peralatan yang digunakan dalam pengelolaan limbah medis
mulai dari pengumpulan, pengangakutan, dan pemusnahan harus melalui
sertifikasi dari pihak yang berwenang.
122.
123.
b. Pemilahan, Pewadahan, Pemanfaatan kembali dan Daur Ulang
124.
1. Pemilahan limbah harus selalu dilakukan dari sumber yang
menghasilkan limbah.
125.
2. Limbah yang akan dimanfaatkan kembali harus dipisahkan dari
limbah yang tidak dimanfaatkan kembali.
126.
3. Limbah benda tajam harus dikumpulkan dalam satu wadah tanpa
memperhatikan terkontaminasi atau tidaknya. Wadah tersebut harus anti
bocor, anti tusuk dan tidak mudah untuk dibuka sehingga orang yang tidak
berkepentingan tidak dapat membukanya.
127.
4. Jarum dan srynges harus dipisahkan sehingga tidak dapat
digunakan kembali.
128.
5. Limbah medis padat yang akan dimanfaatkan kembali harus
melalui proses sterilisasi, untuk menguji efektifitas sterilisasi panas harus
dilakukan tes Bascillus stearothermophilus dan untuk sterilisasi kimia harus
dilakukan tes Bacillus subtilis.
129.
6. Limbah jarum hipodermik tidak dianjurkan untuk dimanfaatkan
kembali. Apabila rumah sakit tidak mempunyai jarum yang sekali pakai
(disposable), limbah jarum hipodermik dapat dimanfaatkan kembali setelah
melalui proses salah satu metode sterilisasi.
130.
7. Pewadahan limbah medis padat harus memenuhi persyaratan
dengan menggunakan wadah dan label seperti tabel
131.

Tabel. Jenis Wadah dan label Limbah Medis Padat Sesuai Kategorinya

15

132.

133.

Sumber : Depkes RI. Keputusan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Nomor:1204/Menkes/SK/X/2004 tentang persyaratan kesehatan


lingkungan Rumah Sakit. Direktorat Jenderal pemberantasan penyakit
menular&penyehatan lingkungan; 2004. p19
134.
135.

8. Daur ulang tidak bisa dilakukan oleh rumah sakit kecuali untuk

pemulihan perak yang dihasilkan dari proses film sinar X.


136.

9. Limbah Sitotoksik dikumpulkan dalam wadah yang kuat, anti

bocor, dan diberi label bertuliskan Limbah Sitotoksik.


137.

c. Tempat penampungan sementara

16

138.

1. Bagi rumah sakit yang mempunyai insinerator di lingkungannya

harus membakar limbahnya selambat-lambatnya 24 jam.


139.

2. Bagi rumah sakit yang tidak mempunyai insinerator maka limbah

medispadatnya harus dimusnahkan melalui kerjasama dengan rumah sakit


lain atau pihak lain yang mempunyai insinerator untuk dilakukan
pemusnahan selambat-lambatnya 24 jam apabila di simpan pada suhu ruang.
140.
141.

d. Transportasi
1. Kantong limbah medis padat sebelum dimasukkan ke kendaraan

pengangkut harus diletakkan dalam kontainer yang kuat dan tertutup.


142.

2. Kantong limbah medis padat harus aman dari jangkauan manusia

maupun binatang.
143.

3. Petugas yang menangani limbah, harus menggunakan alat

pelindung diri yang terdiri: Topi, Masker, Pelindung amta, pakaian panjang
(coverall), apron untuk industri, pelindung kaki/sepatu boot, dan sarung
tangan khusus (disposable gloves atau heavy duty gloves).
144.

e. Pengolahan, Pemusnahan dan pembuangan Akhir limbah

padat
145.
146.

1) Limbah infeksius dan benda tajam


a. Limbah yang sangat infeksius seperti biakan dan persediaan agen

infeksius dari laboratorium harus disterilisasi dengan pengolahan panas dan


basah seperti dalam autoclave sedini mungkin. Untuk limbahinfeksius yang
lain cukup dengan cara desinfeksi.
147.

b. Benda tajam harus diolah dengan insinerator bila memungkinkan

dan dapat diolah bersama dengan limbah infeksius lainnya. Kapsulisasi juga
cocok untuk benda tajam.

17

148.

c. Setelah insinerasi atau desinfeksi, residunya dapat dibuaang ke

tempat penampungan B3 atau di buang ke landfill jika residunya sudah aman.


149.

2) Limbah Farmasi
150.

Limbah farmasi dalam jumlah kecil dapat diolah dengan

insinerator pirolitik (pyrolitik incinerator), rotary klin, dikubur secara aman,


sanitary landfill, dibuang ke sarana air limbah atau insinerasi. Tetapi dalam
jumlah besar harus menggunakan fasilitas pengolahan yang khusus seperti
rotary kli, kapsulisasi dalam drum logam, dan inersisasi.
151.
152.

3) Limbah Sitotoksik
a. Limbah Sitotoksik sangat berbahaya dan tidak boleh dibuang

dengan penimbunan (landfiil) atau saluran limbah umum.


153.

b. Bahan yang belum dipakai dan kemasannya masih utuh karena

kadaluarsa harus dikembalikan ke distributor apabila tidak ada insinerator dan


diberi keterangan bahwa obat tersebut sudah kadaluarsa atau tidak dipakai
lagi.
154.

c. Insinerasi pada suhu tinggi sekitar 1200C dibutuhkan untuk

menghancurkan semua bahan sitotoksik. Insinerasi pada suhu rendah dapat


menghasilkan uap sitotoksik yang berbahaya ke udara.
155.

d. Apabila cara insinerasi maupun degradasi kimia tidak tersedia,

kapsulisasi atau inersisasi dapat di pertimbangkan sebagai cara yang dapat


dipilih.
156.

4) Limbah bahan kimiawi


157.

Limbah biasa yang tidak bisa daur ulang seperti asam amino,

garam, dan gula tertentu dapat dibuang ke saluran air kotor.Limbah bahan
berbahaya dalam jumlah kecil seperti residu yang terdapat dalam kemasan
sebaiknya dibuang dengan insinerasi pirolitik, kapsulisasi, atau ditimbun
(landfill).

18

158.

5) Limbah dengan kandungan logam berat tinggi


159.

Limbah dengan kandungan mercuri atau kadmium tidak boleh

dibakar atau diinsinesrasi karena berisiko mencemari udara dengan uap


beracun dan tidak boleh dibuang landfill karena dapat mencemari air tanah.
160.

6) Kontainer Bertekanan
161.

Cara yang terbaik untuk menangani limbah kontainer

bertekanan adalah dengan daur ulang atau pengunaan kembali. Apabila masih
dalam kondisi utuh dapat dikembalikan ke distributor untuk pengisian ulang
gas. Agen halogenida dalam bentuk cair dan dikemas dalam botol harus di
perlakukan sebagai limbah bahan kimia berbahaya untuk pembuangannya.
162.

7) Limbah radioaktif
163.

Pengelolaan limbah radioaktif yang aman harus diatur dalam

kibijakan dan strategi nasional yang menyangkut perturan, infrastruktur,


organisasi pelaksana dan tenaga yang terlatih. (Permenkes RI No.
1204/Menkes/SK/X/2004, Depkes RI, 2004).
164.

Peralatan yang Digunakan untuk Pengeolaan Limbah Medis

Padat
1. Needle Crusher
165. Alat ini digunakan untuk menghancurkan jarum suntik dengan
menggunakan tenaga listrik.

166.

19

2. Insenerator
167.

Insenator digunakan untuk memusnahkan sampah medis dan

non medis padat baik basah maupun kering dengan menggunakan bahan
bakar solar.

168.
169.

Incinerator yang baik harus meliputi berbagai aspek, seperti

aspek lingkungan, aspek ekonomis, aspek sosial dan lain sebagainya.


Incinerator yang baik dituntut untuk dapat menjawab permasalahan

permasalahan berikut:
Pengurangan sampah yang efektif
Lokasi jauh dari area penduduk
Adanya sistem pemisahan sampah
Desain yang estetis
Pembakaran sampah mencapai suhu 10000 celcius
Emisi gas buang yang ramah lingkungan.
Perawatan yang teratur/periodik
Pelatihan Staf dan Manajemen

170.

Teknology Incinerator Maxpell


171.

Teknologi incinerator Maxpell berbeda dengan teknologi

incinerator yang lainnya. Incinerator Maxpell didesain khusus untuk dapat


menjawab permasalahan sampah dan incinerator lain yang ada. Salah satu
penerapan teknologi incinerator Maxpell adalah pada aspek lingkungan dan
aspek ekonomis. Sehingga teknologi incinerator Maxpell dikenal sebagai
incinerator yang Mudah, Murah, Cepat serta Ramah Lingkungan.

20

172.

Keunggulan Teknologi

Teknologi Incinerator Maxpell dirancang agar memiliki beberapa kemudahan


untuk dioperasikan. Beberapa keunggulan incinerator Maxpell adalah:

Tidak membutuhkan tempat luas,

Bisa membakar sampah kering hingga sampah basah,

Daya musnah sistem pembakaran mencapai suhu diatas 900 o C,

Bekerja efektif tanpa bahan bakar tambahan,

Tingkat dari pencemaran rendah. Dalam operasional dibeberapa tempat


terbukti asap hasil pembakaran yang keluar dari cerobong hampir tidak
kelihatan dan tidak mengeluarkan bau yang menganggu,

Suhu pembuangan udara panas pada cerobong asap terkendali secara konstan,

Suhu dinding luar tetap dingin sama dengan suhu udara luar,

Perawatan yang mudah dan murah,

Abu sisa pembakaran bisa diolah menjadi beragam produk bahan bangunan.

3. Kantong Plastik
173.

Kantong plastik yang digunakan sebagai wadah limbah medis

padat memiliki warna dan penandaaan yang disesuaikan dengan kategori


dan jenis dari masing-masing limbah sesuai yang tertera pada Kepmenkes
1204/Menkes/SK/X/2004

Tentang

Persyaratan

Kesehatan

Rumah Sakit, mengenai persyaratan limbah medis padat.

21

Lingkungan

174.
4. Needle Pit
175.

Needle pit berfungsi sebagai penampung hasil hancuran

limbah padat antara lain jarum suntik.


176.

177.
5. Safety Box
178.

Safety box berfungsi sebagai alat penampung sementara

limbah medis berupa jarum dan syringe bekas.

22

179.
180.
181.
6. Autoclave
182.

Autoclave adalah alat yang digunakan untuk mensterilkan

peralatan dan perlengkapan dengan menundukkan material untuk uap tekanan


tinggi jenuh pada 121 C selama sekitar 15-20 menit, tergantung pada ukuran
beban dan isi. Alat ini diciptakan oleh Charles Chamberland di 1879,
meskipun prekursor yang dikenal sebagai digester uap diciptakan oleh Denis
Papin pada tahun 1679.Nama ini berasal dari bahasa Yunani auto-, pada
akhirnya berarti diri, dan Latin yang berarti Clavis kunci-perangkat selflocking.
183.

Autoclave yang banyak digunakan dalam mikrobiologi,

kedokteran, tato, tindik, ilmu kedokteran hewan, mikologi, kedokteran gigi,


perawatan kaki dan fabrikasi prosthetics. Mereka bervariasi dalam ukuran
dan fungsi tergantung pada media yang akan disterilkan.
184. Beban khas termasuk laboratorium gelas, instrumen bedah,
limbah medis, peralatan pasangan pasien, tempat tidur hewan kandang, dan
kaldu lysogeny.
185.

23

186.
187.
E. Dampak Limbah Medis terhadap Pencemaran Lingkungan
1.
Resiko akibat limbah medis
188.

(komponen
189.

Limbah layanan kesehatan terdiri dari limbah umum


terbesarnya) dan limbah berbahaya (hanya sebgaian kecil).

a) Jenis risiko
190.
Pajanan pada limbah layanan kesehatan yang berbahaya dapat

mengakibatkan penyakit atau cedera. Sifat bahaya dari limbah medis tersebut
-

mungkin muncul akibat satu atau beberapa karakteristik berikut:


Limbah mengandung agens infeksius
Limbah bersifat genetoksik
Limbah mengandung zat kimia atau obat-obatan berbahaya atau beracun
Limbah bersifat radioaktif
Limbah mengandung benda tajam
191.
b) Mereka yang berisiko
192.
Semua orang yang terpajan limbah berbahaya dari fasilitas kesehatan
kemungkinan besar menjadi orang yang berisiko, termasuk yang berada
dalam fasilitas penghasil limbah berbahaya, dan mereka yang berada diluar
fasilitas serta memiliki pekerjaan mengelola limbah semacam itu, atau yang
berisiko akibat kecerobohan dalam sistem manajemen limbahnya. Kelompok
utama yang berisiko antara lain:
a Dokter, dokter gigi, perawat, pegawai layanan kesehatan dan tenaga bagian
b

pemeliharaan rumah sakit


Pasien yang menjalani perawatan di instansi layanan kesehatan atau

dirumah
Penjenguk pasien rawat inap.

24

Tenaga bagian layanan pendukung yang bekerja sama dengan instansi


layanan kesehatan, misalnya bagian binatu, pengelolaan limbah dan bagian

transportasi.
Pegawai pada

fasilitas

pembuangan

limbah

(misalnya,

ditempat

penampungan sampah terakhir atau insinerator) termasuk pemulung.


193.
c) Bahaya akibat limbah infeksius dan benda tajam
194.
Limbah
infeksius
dapat
mengandung

berbagai

macam

mikroorganisme patogen. Patogen tersebut dapat memasuki tubuh manusia


-

beberapa jalur:
Akibat tusukan, lecet atau luka di kulit
Melalui membran mukosa
Melalui pernafasan
Melalui ingesti
195.
Di fasilitas kesehatan, keberadaan bakteri yang resisten terhadap
antibiotik dan desinfektan kimia juga dapat memperbesar bahaya yang muncul
akibat limbah layanan kesehatan yang buruk pengelolaannya. Contoh, plasmid
dari strain laboratorium yang terkandung dalam limbah layanan kesehatan
ternyata dapat berpindah ke dalam bakteri di alam melalui sistem pembuangan
limbah. Selain itu, bakteri Escherichia coli yang resisten antibiotik ternyata
dapat bertahan hidup dalam kolam lumpur aktif walaupun pada kondisi normal
pembuangan dan pengelolaan limbah cair, perpindahan organisme tersebut
tampaknya tidak signifikan. Kultur patogen yang pekat dan benda tajam yang
terkontamonasi (terutama jarum suntik) mungkin merupakan jenis limbah yang
potensial bahayanya paling akut bagi kesehatan.
196.
Benda tajam tidak hanya dapat menyebabkan luka gores maupun luka
tusuk tetapi juga dapat menginfeksi luka jika benda ini terkontaminasi patogen.
Karena resiko ganda inilah (cedera dan penularan penyakit), benda tajam
termasuk dalam kelompok limbah yang sangat berbahaya. Kekhawatiran pokok
yang muncul adalah bahwa limbah infeksi yang ditularkan melalui subkutan
dapat menyebabkan masuknya agens penyebab penyakit, misalnya infeksi

virus pada darah dan berbahaya karena sering terkontaminasi darah pasien.
197.
d) Bahaya limbah kimia dan farmasi

25

198.

Bahaya zat kimia dan bahan farmasi berbahaya digunakan dalam

layanan kesehatan (misalnya, zat yang bersifat toksik, genotoksik, korosif,


mudah terbakar, reaktif, mudah meledak atau sensitif terhadap guncangan).
Kuantitas limbah yang besar umumnya ditemukan jika instansi membuang zat
kimia atau bahan farmasi ayng sudah tidak terpakai lagi atau kadaluarsa.
Kandungan zat itu di dalam limbah dapat menyebabkan intoksikasi atau
keracunan, baik akibat pajanan secra akut maupun kronis dan cedera, termasuk
luka bakar. Intoksikasi dapat terjadi akibat diabsorbsinya zat kimia atau bahan
farmasi melalui kulit atau membran mukosa atau melalui pernafasan atau
pencernaan. Zat kimia yang mudah terbakar, korosif atau reaktif (misalnya:
formaldehid atau zat volatil/mudah menguap lainnya) jika mengenai kulit, mata
atau membran mukosa saluran pernafasan dapat menyebabkan cedera (luka
bakar).
199.

Desinfektan merupakan anggota penting dalam kelompok ini karena

digunakan dalam jumlah besar dan seringkali bersifat korosif. Perlu kita
perhatikan bahwa zat kimia yang reaktif dapat membentuk senyawa sekunder
yang sangat toksik.
200.
Pestisida kadaluarsa, yang disimpan dalam drum atau kantongkantong

kemasan,

secara

langsung

maupun

tidak

langsung

dapat

mempengaruhi siapa saja yang berkontak dengan bahan tersebut. Ketika hujan
lebat, kontainer yang bocor dapat menyebabkan pestisida meresap ke dalam
tanah dan mencemari air tanah. Keracunan dapat terjadi akibat kontak langsung
dengan produk, menghirup uapnya dan meminum air yang terkontaminasi atau
memakan makanan yang terkontaminasi. Selain itu, cara pembuangan yang
tidak tepat, misalnya dibakar atau dikubur, juga dapat memperbesar potensi
munculnya bahaya kebakaran dan kontaminasi.
201.
Residu zat kimia yang dibuang ke dalam saluran air kotor dapat
menimbulkan efek merugikan pada pengoperasian pabrik pengelolaan limbah
biologis dan efek toksik pada ekositem lingkungan yang menampung air
tersebut. Masalah yang sama juga dapat disebabkan oleh residu bahan farmasi
yang mungkin mengandung antibiotik serta obat lainnya, logam berat seperti
merkuri, fenol dan turunannya, serta desinfektan dan antiseptik.

26

202.

e) Bahaya limbah radioaktif


203.
Jenis penyakit yang disebabkan oleh limbah radioaktif bergantung
pada jenis dan intensitas pajanan. Kesakitan yang muncul dapat berupa sakit
kepala, pusing dan muntah sampai masalah lain yang lebih serius. Karena
limbah radioaktif, seperti halnya limbah bahan farmasi bersifat genotoksik,
maka efeknya juga dapat mengenai sumber tertutup dalam instrumen
diagnostik, dapat menyebabkan cedera yang jauh lebih parah (misalnya:
kerusakan jaringan, keharusan untuk mengamputasi bagian tubuh) dan
karenanya harus dilakukan sdengan sangat hati-hati. Bahaya yang ditumbulkan
limbah dengan aktivitas rendah mungkin terjadi karena kontaminasi permukaan
luar kontainer atau karena cara serta durasi penyimpanan limbah yang tidak
layak. Tenaga layanan kesehatan atau tenaga kebersihan dan penanganan
limbah yang terpajan radioaktif merupakan kelompok yang berisiko.
204.
a

2.
Dampak limbah medis terhadap masyarakat
Dampak limbah infeksius dan benda tajam
205.
Untuk infeksi virus yang serius seperti HIV/AIDS serta hepatitis B
dan C, tenaga layanan kesehatan terutama perawat, merupakan kelompok yang
paling berisiko paling besar untuk terkena infeksi melalui cedera akibat benda
tajam yang terkontaminasi. Risiko serupa juga dihadapi tenaga kesehtan lain di
RS dan pelaksana pengelolaan limbah. Dikalangan pasien dan masyarakat,
risiko terkena infeksi tersebut jauh lebih rendah. Namun, beberapa infeksi yang
menyebar melalui media lain atau disebabkan oleh agens yang lebih resisten

dapat menimbulkan risiko yang bermakna pada masyarakat dan pasien RS.
206.
b Dampak limbah kimia dan farmasi
207. Walau belum ada adat ilmiah mengenai insidensi kesakitan yang
lazim terjadi di masyarakat akibat limbah kimia maupun farmasi yang bersal
dari RS, banyak contoh yang dapat diajukan mengenai kasus intoksikasi massal
yang disebabkan oleh limbah kimia industri. Selain itu juga kasus cedera atau
intoksikasi yang terjadi akibat penanganan zat kimia atau farmasi secar tidak
tepat di instalasi layanan kesehatan. Apoteker, ahli anestesi, tenaga perawat dan
tenaga pendukung serta pemeliharaan mungkin berisiko terkena penyakit

27

pernafasan atau kulit akibat terpajan zat yang berwujud uap, aerosol atau
cairan.
208.

Dampak limbah radioaktif


209. Ada laporan mengenai beberapa kecelakaan yang terjadi
akibat pembuangan zat radioaktif secara tidak tepat. Konsekuensinya banyak
individu yang menderita akibat terpajan zat tersebut.
210.
Di Brazil, salah satu kasus mengenai dampak kanker terhadap
penduduk yang dihubungkan dengan pejanan terhadap limbah radioaktif dari
RS sudah dikaji dan didokumentasikan dengan lengkap. Sewaktu pindah
sebuah institusi radioterapi meninggalkan sebuah sumber tertutup radioterapi
dibangunan lamanya. Namun, sumber tersebut diangkat dan dibawa pulang
oleh seseorang yang berhasil masuk ke bangunan. Akibatnya sekitar 249
orang terpajan dan beberpa diantaranya meninggal atau mengalami masalah
kesehatan.

28

211.

BAB III
212.

KESIMPULAN

213.
1

Limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses

produksi, baik pada skala rumah tangga, industry, pertambangan, dan lain-lain.
Limbah Medis adalah limbah yang berasal dari suatu kegiatan pelayanan
kesehatan, yang biasanya berkontak langsung dengan pasien, contoh jarum

suntik.
Limbah Non Medis adalah limbah yang dihasilkan di luar kegiatan pelayanan
kesehatan dan biasanya tidak berkontak dengan pasien, contohnya bungkus

makanan, kertas diagnose pasien.


Limbah harus dikelola sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan sesuai

dengan baku mutu lingkungan.


Pengelolaan limbah medis yang tidak baik dapat menimbulkan dampak, baik bagi
manusia maupun pencemaran lingkungan.
214.
215.
216.
217.

29