Anda di halaman 1dari 13

PAJAK INTERNASIONAL

Makalah Yurisdiksi Pemajakan

Oleh:
Laura Yohana

(1210533034)

Novi Haryani

(1210533027)

Rizka Mukhlisa

(1210533024)

Program Studi Akuntansi


Fakultas Ekonomi
Universitas Andalas
2014/2015

YURISDIKSI PEMAJAKAN
I.

Pendahuluan

Indonesia sebagai negara yang berdaulat mempunyai (kewenangan untuk


mengatur), termasuk yurisdiksi pemajakan berkenaan dengan orang, barang atau
objek yang berada di dalam wilayah kekuasaannya. Yurisdiksi pemajakan (tax
jurisdiction) sebagai kedaulatan dalam bidang perpajakan merupakan konsekuensi
dari kedaulatan wilayah suatu negara. Hak dan kewajiban utama suatu negara
adalah untuk mengamankan dan melestarikan keberadaannya. Untuk keperluan
tersebut, negara mempunyai hak untuk meminta sesuatu (kontribusi pajak) dari
siapa saja yang berada dibawah kewenangan hukumnya.
Menurut Owen (1980) dan Ongwamuhana (1991) yurisdiksi pemajakan
merupakan kewenangan suatu negara untuk merumuskan dam memberlakukan
ketentuan perpajakan. Di kebanyakan negara, pajak dipungut berdasar
kewenangan yang diberikan oleh konstitusi atau ketentuan (undang-undang)
produk lembaga legislatif (parlemen). Bahkan di berbagai negara penganut
common law (yaitu hakim yang membuat hukum), pajak dapat dipungut berdasar
keputusan hakim. Sehubungan dengan hal itu, konstitusi Indonesia telah
mengukuhkan yurisdiksi pemajakan negara ini dalam Pasal 23 (2) UUD 1945 dan
berdasarkan ketentuan konstitusi tersebut undang-undang perpajakan
diberlakukan. Yurisdiksi pemajakan atas penghasilan seseorang atau entitas
nexusnya (keterkaitannya) dapat didasarkan pada status personal atau subyek dan
kaitan ekonomis yang dapat berupa menjalankan usaha atau kegiatan profesional
serta penerimaan penghasilan yang bersumber dari negara pemungut pajak serta
adanya kepemilikan kekayaan yang terletak di negara pemungut pajak.
Sebagaimana sering terjadi dalam kebiasaan internasional, berdasarkan
ketentuan Pasal 2 UU PPh Indonesia membangun yurisdiksi pemajakannya
berdasarkan dua kaitan (pertalian) fiskal yaitu subjektif dan objektif. Sementara
pertalian subjektif memperhatikan status wajib pajak (tempat tinggal/ domisili),
keberadaan atau niat dalam kasus wajib pajak orang pribadi, tempat pendirian atau
kedudukan dalam kasus badan), pertalian objektif mendasarkan kepada letak

geografis sumber penghasilan. Surrey (1987) dan Tillinghast (1984) serta the
American Law Institute (1987) menyatakan bahwa yurisdiksi yang mendasarkan
pada pertalian subjektif disebut yurisdiksi domisili sedangkan yurisdiksi yang
merujuk pada sumber penghasilan disebut yurisdiksi sumber.

II.

Yurisdiksi Domisili

Pasal 2 (3) UU PPh menegaskan ketentuan tentang yurisdiksi domisili


terhadap orang pribadi atau badan. Dalam rumusan Pasal 2 (1), nampak jelas
bahwa yang tersurat sebagai subjek pajak adalah termasuk warisan yang belum
terbagi dan bentuk usaha tetap (permanent stablishment). Namun karena warisan
yang belum terbagi pada hakikatnya adalah menggantikan (beberapa) subjek pajak
orang pribadi ahli waris (atau subjek yang meninggalkan warisan) dan bentuk
usaha tetap (BUT) sebagai kriteria ambang batas pemajakan penghasilan usaha
(dan kegiatan) dari perusahaan luar negeri yang dapat merujuk kepada orang
pribadi dan badan, maka pada dasarnya subjek pajak yang sebenarnya adalah tetap
orang pribadi dan badan. Penjelasan UU PPh menyebutkan bahwa subjek pajak
orang pribadi dalam negeri menjadi wajib pajak apabila telah menerima atau
memperoleh penghasilan dari Indonesia (yang besarnya melebihi PTKP),
sedangkan subjek pajak orang pribadi luar negeri otomatis menjadi WPLN dengan
diterimanya penghasilan yang bersumber dari Indonesia atau dioperasikannya
BUT di negara tersebut.
a. Orang Pribadi
Indonesia mempunyai yurisdiksi domisili atas orang pribadi dengan status
wajib pajak dalam negeri. Menurut ketentuan Pasal 2 (6), apakah seseorang
berdomisili (tempat tinggal) di Indonesia ditentukan menurut keadaan yang
sebenarnya. Keadaan yang sebenarnya tersebut, misalnya dapat berupa petunjuk
formal (kependudukan) atau substansial (keberadaan keluarga, tempat tinggal,
alamat tetap, atau kepentingan ekonomis dan sosial). Dengan demikian orang
yang tidak berada di Indonesia (selama lebih dari 183 hari) masih dapat dianggap
bertempat tinggal di Indonesia apabila keadaan yang sebenarnya dapat
menunjukkan hal tersebut dan oleh karenanya termasuk WPDN.

Apabila kriteria domisili dapat bersifat subjektif formal, criteria


keberadaan kehadiran merupakan criteria yang bersifat objektif kuantitatif.
Namun kedua criteria tersebut dibangun berdasar keterkaitan ekonomis seseorang
terhadap

Negara

pemungut

pajak,

sedangkan

pemajakan

berdasar

kewarganegaraan sering dianggap dibangun berdasar keterkaitan politis. Kalau


keterkaitan ekonomis lebih bernuansa substantive (material), keterkaitan politis
bersifat formal dengan mendasarkan pada ikatan emosi, primordial seseorang
terhadap Negara pemungut pajak. Secara umum diakui bahwa secara
administrative, pemajakan berdasar keterkaitan ekonomis lebih efektif dari
keterkaitan politis. Tillinghast (1984) menyatakan bahwa seseorang dapat
dianggap sebagai WPDN apabila secara substansial ia berada (hadir) dinegara
tersebut. Seseorang dapat dianggap sebagai WPDN apabila ia berada di Indonesia
lebih dari 183 hari selama masa 12 bulan. Apakah orang itu bekerja atau tidak
selama masa itu tampak kurang relevan.
Berbeda dengan tes tempat tinggal dan tes keberadaan, niat untuk
bertempat tinggal di Indonesia lebih bersifat subjektif kualitatif sehingga
pengukurannya kurang jelas. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Kep 701
tahun 2001) beberapa penentu tempat tinggal (domisili) seseorang adalah :

Rumah tetap sebagaimana tercantum dalam KTP


Tempat kepentingan pribadi dan ekonomi dilakukan
Tempat ia lebih lama tinggal
Tempat tinggal menurut keadaan sebenarnya

Menurut Rothchild & Magiligan (1988), niat seseorang untuk tinggal di


Amerika Serikat dapat dilihat dari status keimigrasiannya ketika memasuki
Negara tersebut. Sementara itu menurut Bierlaagh (1985) tes penentu niat
seseorang untuk bertempat tinggal di Negara Kincir Angin, termasuk tersedianya
rumah, keluarga, hubungan social. Dalam keadaan tertentu tes subjektif (niat)
dapat menjadi pelengkap terhadap tes kehadiran substansial yang sekaligus juga
semakin memperluas yurisdiksi pemajakan suatu Negara dan hal ini tentu saja
sejalan dengan kebijakan perpajakan yang bertujuan memobilisasi penggalangan
perolehan penerimaan Negara. Selanjutnya tes ini dapat menjadi titik awal dari tes

domisili. Dengan demikian ketiga tes ini saling melengkapi dan terkait satu sama
lain.
b. Badan
Pasal 2 (3) (b) menyebut dua criteria penentu yurisdiksi domisili Indonesia
atas badan yaitu tempat pendirian dan tempat kedudukan. Setiap badan yang
didirikan di Indonesia merupakan WPDN. Menurut Frommel (1987) dan Van
Raad (1986) suatu badan, pada umumnya dapat dianggap memperoleh status
hokum (kewarganegaraan atau nasionalitas) di neagar berdasarkan hukum siapa
badan tersebut didirikan (incorporated). Akibatnya semua badan yang didirikan di
Indonesia, tanpa memperhatikan tempat manajemen, usaha atau kedudukannya,
merupakan WPDN Indonesia.
Berdasar ketentuan yang berlaku (Kep 701 tahun 2001) tempat kedudukan
suatu badan dapat menunjuk pada:
a. Tempat kantor pimpinan perusahaan dan pusat administrasi dan keuangan
(sebagaimana tercantum dalam Akte Pendirian)
b. Tempat kantor pinjaman perusahaan
c. Tempat kedudukan menurut keadaan sebenarnya yang ditentukan
Direktur Jenderal Pajak
Namun selain itu mungkin petunjuk tentang tempat kedudukan suatu badan
juga dapat diperoleh dari:
a.
b.
c.
d.
e.

Tempat kedudukan statuter (sesuai dengan akta pendirian)


Tempat manajemen (pusat atau efektif)
Lokasi kantor pusat (nyata atau terdaftar)
Tempat domisili pengurus
Tempat pertemuan pimpinan

Implikasi dari criteria tempat kedudukan ialah bahwa semua badan yang
(dianggap) bertempat kedudukan di Indonesia, tanpa memperhatikan tempat
pendiriannya, merupakan WPDN Indonesia. Secara administrative, tampak bahwa
criteria tempat kedudukan lebih efektif daripada criteria nasionalitas. Penerapan
standar kembar yuridiksi domisili berdasarkan tempat pendirian dan tempat

kedudukan atas badan dapat menyebabkan terjadinya residensi ganda dari suatu
badan.

III.

Yuridiksi Sumber

Pasal 2 (4) PPh menegaskan yuridiksi sumber (source jurisdiction) yang


berlaku di Indonesia. Selaras dengan norma yang diterima secara global
(misalnya, Surrey (1987) dan Van Raad (1986)) yuridiksi sumber Indonesia
mendasarkan pada dua unsur:
a. Menjalankan suatu aktivitas ekonomi secara signifikan
b. Menerima atau memperoleh penghasilan yang bersumber di Negara
tersebut
UU PPh menegaskan bahwa apakah seseorang telah menjalankan suatu
aktivitas ekonomi secara signifikan (lumayan) ditentukan dengan keberadaan
BUT. Apabila aktivitas ekonomi tersebut sudah mencapai tingkat BUT
sebagaimana diatur dalam Pasal 2(5), Indonesia dapat mengenakan pajak atas
penghasilan dari kegiatan tersebut seperti pemajakan dan penghasilan atau usaha
yang dijalankan oleh orang Indonesia. Dalam bahasa UU PPh, aktivitas ekonomi
ini dapat berupa menjalankan usaha atau melakukan kegiatan bebas.apabila dalam
P3B Model OECD sebelum tahun 2000 terdapat dua konsep, yaitu permanent
establishment (untuk usaha) dan pangkalan tetap (untuk profesi), maka dalam
rumusan UU PPh kedua konsep tersebut diintegrasikan dalam satu konsep BUT
(yang berlaku baik untuk usaha maupun pekerjaan bebas profesi).
Namun dengan penghapusan ketentuan Pasal 14 tentang pangkalan tetap
(fixed base), dalam P3B model OECD 2000 telah terjadi integrasi konsep BUT
dengan pangkalan tetap. Sehingga dala P3B model OECD sekarang ini yang
berlaku hanya konsep BUT saja. Secara umum (Surrey, 1987 dan American Law
Institue, 1987) terdapat asumsi bahwa yuridiksi sumber dianggap lebih utama dari
yuridiksi domisili. Argument yang mendukung hal itu ialah, antara lain bahwa
karena factor pemroduksi penghasilan terletak di Negara sumber dan
kemungkinan Negara tersebut telah memberikan perlindungan dan menciptakan
keadaan yang mendukung terjadinya produksi penghasilan, maka Negara tersebut

sudah sepantasnya mempunyai hak pertama dan utama untuk memanen


(memajaki) penghasilan tersebut. Pemikiran bahwa hak pemajakan oleh Negara
sumber lebih punya prioritas (primary taxing rights) untuk didahulukan dari hak
pemajakan Negara domisili sumber sebagai pemegang hak pemajakan sekunder
(secondary taxing rights) dimaksud juga diaplikasikan secara internasional
termasuk Amerika (Drenrberg, 1989) dan Singapura (CCH, 1993). Dengan
merujuk pada prinsip yang berterima secara internasional atas asumsi tersebut,
maka hak pemajakan Indonesia atas penghasilan yang sumbernya (dianggap)
berada di Negara tersebut mempunyai prioritas untuk didahulukan dari Negara
pemegang yurisdiksi domisili. Sehubungan dengan hal itu, Indonesia dapat
merumuskan ketentuan pemajakan sumber (source taxation) dengan asumsi
bahwa Negara pemegang yurisdiksi domisili (kalau mengenakan pajak atas
penghasilan sumber Indonesia) akan menyediakan keringanan atas pajak ganda
yang akan terjadi.
Menurut Ongwamuhana (1991), yurisdiksi sumber mendasarkan pada
suatu asumsi bahwa negara sumber memberikan kontribusi kepada perusahaan
milik bukan WPDN untuk memperoleh penghasilan dari Negara tersebut.
Implikasi dari yurisdiksi sumber ialah bahwa Indonesia secara sah dapat
memungut pajak dari orang pribadi atau badan bukan WPDN yang menerima atau
memperoleh penghasilan dari kegiatan atau sumber yang terletak di Indonesia.

IV.

Bentuk Usaha Tetap

Istilah bentuk usaha tetap dalam UU PPh dapat disetarakan dengan


ekspresi permanent establihment yang terdapat dalam P3B. Dalam bahasa P3B,
istilah tersebut dipakai untuk menentukan hak pemajakan negara sumber atas
penghasilan dari bisnis (dan profesi) yang dijalankan oleh bukan WPDN. William
dan Patrick menyatakan bahwa istilah permanent establihsment (PE) merupakan
sebagai ambang batas atau kriteria yang memungkinkan suatu negara sumber
untuk secara legal dapat memajaki penghasilan dari bisnis transnasional. Sebagai
titik ambang batas, maka setiap usaha dan kegiatan transnasional yang belum
memenuhi kriteria BUT dibebaskan dari pengenaan pajak di negara sumber. Hal
ini bukan berarti penghasilan tersebut bebas dari pemajakan dengan alasan bahwa

sesuai dengan kelaziman internasional penghasilan tersebut hanya dikenakan


pajak oleh negara domisili pengusaha karena aktivitas pemberi pennghasilan
tersebut secar signifikan masih dijalankan di negara dimaksud.
BUT sebagai titik ambang batas pemajakan merupakan kristalisasi dari
aktivitas ekonomi WPLN yang sudah pantas untuk diminta berpartisipasi dalam
sistem perpajakan karena sudah setara dengan aktivitas yang dijalankan oleh
orang pribadi atau badan WPDN sehubungan dengan terdapatnya risiko berusaha
agar usaha tersebut tidak secara prematur dikenakan pajak. Hak demikian akan
memberikan tenggang waktu bagi perusahaan pemula atau marjinal agar bisa
hidup dan berkembang dahulu. Karena kativitas ekonomi tersebut merupakan
salah satu unnsur pembentuk yurisdiksi sumber maka adanya BUT memberikan
pertalian fiskal objektif dan yurisdiksi sumber bagi negara tempat BUT.

V.

Kewajiban Pajak WPDN dan WPLN

Seluruh kewajiban yang timbul sebagai aklibat dari keterkaitan fiskal


seseorang dengan negara secara umum disebut sebagai kewajiban pajak. Knechtle
(1979) menyatakan bahwa kaitan fiskal personal (subjektif) memberikan
kewajiban pajak penuh sedangkan kaitan ekonomi menimbulkan kewajiban pajak
terbatas. Kewajiban pajak penuh yang dibangun berdasarkan kaitan personal
memberi hak kepada negara pemungut pajak untuk mengenakan pajak dari
seluruh kemampuan ekonomis WP dimanapun berada melampaui batas
kedaulatan wilayah teritorialnya (worldwide). Perluasan kewenangan pajak ini
secara administratif dapat dilaksanakan secara efektif karena WP berada dalam
wilayah kekuasaan negara dimaksud.
Keterkaitan personal dalam penerapan administratifnya, sebagimana
tersurat dalam pasal 2 (2) UU PPh mengelompokkan wajib pajak dalam WPDN
dan WPLN. Perbedaan kewajiban pajak WPDN dengan WPLN sebagai berikut:
a. WPDN dikenakan pajak atas penghasilan global sedangkan WPLN
dikenakan pajak terbatas atas penghasilan yang diperoleh dari sumber
Indonesia.

b. WPDN dikenakan pajak dari penghasilan neto dengan tarif umum


(progresif), sedangkan WPLN dikenakan pajak dari penghasilan bruto
dengan tarif sepadan.
c. WPDN wajib menyampaikan SPT, sedangkan WPLN tidak wajib
menyampaikan SPT karena potongan pajaknya dianggap final.
d. WPDN dikenakan pajak dengan assessment (ketetapan), sedangkan
WPLN (kecuali yang menjalankan usaha dengan BUT yang juga
dikenakan berdasar SPT dan ketetapan) pada umumnya dikenakan pajak
dengan metode pemotongan pajak oleh pihak ketiga.
Walaupun terhadap WPLN yang memperoleh pengahsilan usaha melalui
BUT di Indonesia administrasi pengenaan pajak dilakukan dengan penetapan
(SPT dan SKP), namun sebagai subjek pajak sui generis BUT yang dimilliki
WPLN orang pribadi tidak diberikan PTKP oleh UU PPh. Hal ini berbeda dengan
perusahaan orang pribadi WPDN yang kepadanya diberikan PTKP.

VI.

Cakupan Geografis Pemajakan Penghasilan

Yurisdiksi domisili dapat berlaku atas semua orang pribadi yang bertempat
tinggal, berada atau berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia baik orang
tersebut warga negara Indonesia maupun orang asing. Demikian juga dengan
badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. Karena hak
pemajakan Indonesia didasarkan atas pertalian personal subjek pajak maka
menurut Martha (1989) sesuai dengan kelaziman internasional, negara tersebut
dibenarkan untuk memperluas pengenaan pajak atas penghasilan dari mana pun
diperoleh. Sementara itu, yurisdiksi sumber yang merujuk pada pertalian fiskal
objektif memberikan hak pemajakan kepada negara tempat sumber penghasilan
berada.

VII. Dimensi Internasional Aplikasi Yurisdiksi


a) Pemajakan atas Penghasilan dari Transaksi Transnasional
Transaksi transnasional dapat berupa transaksi keluar dari atau masuk ke
Indonesia. Pemajakan atas penghasilan dari transaksi keluar merujuk kepada
perlakuan perpajakan atas penghasilan yanng diperoleh atau diterima WPDN dari
menjalankan usaha atau dari investasi di luar Indonesia. Karena mendasarkan
pada pertalian subjektif, Indonesia dapat mengaplikasikan yurisdiksi pemajakan
tehadap WPDN dengan menjangkau objek yang berada di luar wilayah negara
tersebut (ekstra teritorial).
Atas transaksi keluar, Indonesia mengenakan pajak berdasarkan yurisdiksi
domisili. Semua WPDN dikenakan pajak atas penghasilan global termasuk
penghasilan dari usaha dan kegiatan serta investasi di mancanegara. sehubungan
dengan penghasilan dari investasi saham yang diterima oleh badan WPDN
terdapat perbedaan perlakuan antara investasi di dalam dan di luar negeri. Berbeda
dengan dividen dari investasi di dalam negeri, dengan persyaratan tertentu yang
bukan merupakan objek pajak (pasal 4(3)(F) UU PPh), dividen yang diterima dari
sumber di luar Indonesia selalu dikenakan pajak. Penghasilan dari investasi di
Indonesia dikenakan pajakn berdasarkan sistem pemotongan dengan basis bruti
dan tarif proporsional (20%) atau sesuai dengna tarif P3B yang berlaku.
b) Keterbatasan Jangkauan Yurisdiksi
Pembatasan tersebut dapat berasal dari hukum internasional atau
supranasional atau dari ketentuan umum dari undang undang domestik negara
dimaksud. Selain itu, penegakan (enforcement) yurisdiksi fiskal dan hasil dari
pelaksanaan klaim pemajakn mancanegara akan terbentur dengan beberapa
hambatan legal maupun faktual.
Secara faktual, pelaksanaan yurisdiksi pemajakan hanya dapat berlaku
efektif apabila subjek dan objek dimaksud berada di bawah wilayah kekuasaan
Indonesia. Prinsip cakupan teritorial tersebut membatasi jangkauan aplikasi
hukum administratif termasuk hukum pajak suatu negara. Apabila tidak ada
pengaturan dalam perjanjian bilateral dan multilateral, kegiataan pelaksanaan

pemajakan ke luar wilayah dapat menimbulkan benturan pengaturan dengan


otoritas pemajakan mancanegara.
Selain kedua pembatasan tersebut, secara legal sebagai penambah dari
pembatasan diatas, dalam ketentuan domestik dalam rangka melindungi
kedaulatan suatu negara, kegiatan pencarian fakta, tanpa sepengetahuan negara,
juga pada umumnya tidak diperbolehkan. Setiap negara pemungut pajak
mempunyai alasan tertentu untuk mempertahankan dan melindungi kepentingan
nasionalnya.

VIII. Keringanan Pajak Berganda


Yurisdiksi pemajakan atas penghasilan dari orang pribadi atau badan dapat
didasarkan atas status personal wajib pajak atau atas sumber dari penghasilan
yang akan dikenakan pajak. Sementara yurisdiksi pemajakan yang dibangun atas
dasar sumber penghasilan memberikan hak pemajakan limitatif atau teritorial,
yurisdiksi berdasar status personal memberikan hak pemajakan penuh tidak
terbatas atas penghasilan global wajib pajak. Karena kebanyakan negara
pemungut pajak pada umumnya membangun yurisdiksi pemajakn berdasar kedua
prinsip tersebut maka hal ini akan menimbulkan benturan yurisdiksi antarnegara
pemungut pajak. Multisitas keterkaitan pajak dapat menyebabkan satu fakta
ekonomi misalnya penghasilan dikenankan pajak oleh negara sumber dan oleh
Indonesia.
Penerapan hak pemajakan atas penghasilan global yang bernuansa
pemajakan ekstratorial kepada orang yang mempunyai pertalian pajak personal
oleh Indonesia dapat menyebabkan terjadinya pajak berganda internasional (PBI).
Pajak berganda terjadi karena negara sumber telah mengenakan pajak atas
penghasilan dari orang yang dikenakan pemajakan atas penghasilan global oleh
Indonesia. Sebagai pemegang yurisdiksi domisili dengan hak pengenaan sekunder
pajak atas penghasilan global, selaras dengan kebiasaan internasional, Indonesia
berkewajiban untuk menyediakan keringanan PBI. Untuk tujuan itu, pasal 24 UU
PPh memberikan keringanan PBI dalam bentuk kredit pajak luar negeri
berdasarkan metode ordinary yang dihitung per country basis.

IX.

PENUTUP

Kesimpulan
Yurisdiksi pemajakan merupakan kewenangan suatu negara untuk
merumuskan dan memberlakukan ketentuan perpajakan. Hal ini merupakan
konsekuensi dari kedaulatan wilayah suatu negara. Berdasarkan ketentuan Pasal 2
UU PPh Indonesia membangun yurisdiksi pemajakannya berdasarkan dua kaitan
(pertalian) fiskal yaitu subjektif dan objektif. Sementara pertalian subjektif
memperhatikan status wajib pajak (tempat tinggal/ domisili), keberadaan atau niat
dalam kasus wajib pajak orang pribadi, tempat pendirian atau kedudukan dalam
kasus badan), pertalian objektif mendasarkan kepada letak geografis sumber
penghasilan. Yurisdiksi domisili dapat berlaku atas semua orang pribadi yang
bertempat tinggal, berada atau berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia baik
orang tersebut warga negara Indonesia maupun orang asing. Demikian juga
dengan badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. Sementara
itu, yurisdiksi sumber yang merujuk pada pertalian fiskal objektif memberikan
hak pemajakan kepada negara tempat sumber penghasilan berada.

X.

DAFTAR PUSTAKA

Gunadi. 2007. Pajak Internasional. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas


Ekonomi Universitas Indonesia

Anda mungkin juga menyukai