Anda di halaman 1dari 30

PRESENTASI KASUS

B20 dengan ANEMIA pada G2P1A0

Disusun oleh:
MARITA PUSPITASARI
20100310030

Pembimbing: dr. Ferry K, Sp.PD


RSUD Kota Muntilan

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER FAKULTAS
KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui dan disahkan, refleksi kasus dengan judul

B20 dengan ANEMIA pada G2P1A0

Disusun oleh:
Nama: Marita Puspitasari
No. Mahasiswa: 20100310030

Telah dipresentasikan
Hari/Tanggal:

Disahkan oleh:
Dosen Pembimbing,

dr. Ferry K, Sp. PD

BAB 1
1. Rangkuman Kasus
a. Identitas Pasien
Nama
: Ny. M
Umur
: 26 tahun
Jenis Kelamin : perempuan
Agama
: Islam
Alamat
: kec Borobudur Kab Magelang
b. Anamnesa
Keluhan utama : anemia
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang dengan keluhan hamil 6 bulan, B20 putus ARV,
belum mulai ARV lagi karena anemia. Pusing (-), lemas (-), mual (-),
muntah (-).
Riwayat Penyakit Dahulu:
-

Riwayat TBC (selesai pengobatan)

Riwayat Penyakit Keluarga :


-

Riwayat TBC : anak pertama

Tinjauan Sistem:
Kepala leher

: tidak ada keluhan

Kulit

: tidak ada keluhan

THT

: tidak ada keluhan

Respirasi

: tidak ada keluhan

Gastrointestinal

: tidak ada keluhan

Kardiovaskular

: tidak ada keluhan

Perkemihan

: tidak ada keluhan

Sistem Reproduksi

: tidak ada keluhan

Ekstremitas

: tidak ada keluhan

c. Riwayat Perjalanan Penyakit Pasien


S( Subyektif):
Lemas (+), pusing (-), mual (-), muntah (-), kaki terasa pegal-pegal
O (Obyektif) :

o Keadaan Umum : CM, sedang


TD
: 85/60 mmHg
Nadi
:108x/menit, regular, isi dan tegangan cukup
RR
: 22 x/menit
Suhu
: 36,8 0C
o Kepala dan Leher :
Conjungtiva anemis : +/+
Sklera Ikterik: -/ Pembesaran Limfonodi: (-)
o Cor
Cardiomegali (-), bising (-)
Suara S1 dan S2 terdengar regular dan tidak ditemukan
bising atau suara tambahan jantung
o Pulmo
Bentuk paru simetris, tidak terdapat jejas dan kelainan

bentuk.
Tidak ada ketinggalan gerak, vocal fremitus tidak ada

peningkatan maupun penurunan.


Tidak ada nyeri tekan pada lapang paru.
Perkusi : sonor
Suara dasar vesikuler : +/+ (positif di lapang paru kanan

dan kiri)
Suara ronkhi : -/- ( tidak terdengar di kedua lapang paru)
Suara wheezing : -/- (tidak terdengar di kedua lapang paru)

o Abdomen
Bentuk supel (+)
Nyeri tekan (-)
o Ekstremitas
Udem : (-) baik di ekstremitas atas maupun bawah
Akral hangat : (+) baik di ekstremitas atas maupun bawah
o Pemeriksaan penunjang
GDS : 88 mg/dL
HbsAg : (-) negatif
Darah Rutin :
Leukosit
: 8.88
(N: 5-10)
Eritrosit
: 2.11
(N: 4.5-5.5)
Hemoglobin
: 6.5
(N: 13-16)
Hematokrit
: 20.9
(N: 40-48)
Trombosit
: 480
(N: 150-400)

Ureum
: 15
(N: 15-45)
Creatinin
: 0.76
(N: 0.60-1.13)
SGOT
: 19
(N: 14-38)
SGPT
:9
(N: 4-41)
Hasil pemeriksaan morfologi darah tepi
Kesan eritrosit : anisositosis ringan, dominasi normosit

+, makrosit +, polikromasi +, normokromik, NRBC +


Kesan lekosit : jumlah cukup, netrofilia, eosinofilia
Kesan trombosit : jumlah meningkat, penyebaran

merata, trombosit besar +


Kesimpulan
:
gambaran

anemia

normositik

normokromik dengan peningkatan eritropoesis disertai


proses infeksi dan reaksi hipersensitivitas

A (Assessment)

Terapi
o Infus NaCl 0.9 % 12 tpm
o PRC I-II kolf per hari
o Extra dexametason 1 Amp
o SF 3 x 1
o Asam folat 3 x 1
o Licurmin 3 x C 1

: B20 dengan anemia pada G2P1A0

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Human Immunodeficiency Virus (HIV), merupakan retrovirus yang
menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4+, T-sel
dan makrofag komponen-komponen utama sistem kekebalan sel) dan
menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan
terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan
mengakibatkan

defisiensi

kekebalan

tubuh.

Sedangkan

Acquired

Immunodeficiency Syndrome (AIDS) diartikan sebagai kumpulan gejala atau


penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh tubuh akibat
infeksi oleh oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang termasuk
famili retroviridae. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV. Pasien
HIV/AIDS biasanya dipanggil dengan sebutan ODHA (orang dengan
HIV/AIDS).
B. Epidemiologi
Penularan HIV/AIDS terjadi akibat melalui cairan tubuh yang
mengandung virus HIV yaitu melalui hubungan seksual, baik homoseksual
maupun heteroseksual, jarum suntik pada pengguna narkotika, transfusi
komponen darah dan dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi yang
dilahirkannya. Sejak 1985 sampai tahun 1996 kasus AIDS masih amat jarang

ditemukan di Indonesia. Sebagian besar ODHA pada periode itu berasal dari
kelompok homoseksual. Kemudian jumlah kasus baru HIV/AIDS semakin
meningkat dan sejak pertengahan tahun 1999 mulai terlihat peningkatan tajam
yang terutama disebabkan akibat penularan melalui narkotika suntik.
Distribusi kasus HIV di Indonesia mayoritas berusia reproduktif aktif usia 1549 tahun dan sebanyak 28% adalah perempuan. Diperkirakan pada waktu
mendatang akan terdapat peningkatan jumlah infeksi baru HIV pada
perempuan. Selain itu, risiko penularan dari ibu ke bayi berpotensi meningkat
karena terdapat 3.200 ibu rumah tangga pengidap HIV di Indonesia.
Faktor risiko penularan HIV dari ibu ke anak diantaranya, jumlah virus
selama hamil, status imunitas ibu hamil, riwayat infeksi pada genetalia ibu,
gaya hidup dan faktor perilaku, faktor obstetri seperti cara melahirkan bayi
dan proses persalinan bayi, dan pemberian ASI kepada bayi sesudah lahir .
Hasil penelitian Purnaningtyas and Dewantiningrum (2011), menunjukan
bahwa pemberian ASI pada bayi berisiko tiga belas kali lipat dibandingkan
dengan bayi yang diberikan susu non ASI, hal ini dikarenakan ASI diketahui
banyak mengandung HIV dalam jumlah cukup banyak. Kemudian persalinan
pervaginam berisiko enam kali lipat dibandingkan dengan persalinan bedah
sesar, hal ini dikarenakan selama persalinan bayi dapat tertular darah atau
cairan vagina yang mengandung HIV melalui paparan virus yang tertelan
pada jalan lahir. Pada ibu yang terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan
vagina dan cairan aspirasi lambung pada bayi yang dilahirkan. Jumlah virus
HIV yang tinggi di sekret vagina dan ASI berhubungan dengan konsumsi obat
antiretroviral (ARV) yang dikonsumsi oleh ibu hamil.
Berdasarakan laporan Kemenkes RI tahun 2012 faktor risiko penularan
dari ibu ke anaknya, diperkirakan kasusunya lebih dari 90% kasus anak yang
terinfeksi HIV yang ditularkan melalui proses penularan dari ibu ke anak.
Faktor risiko HIV yang ditularkan dari ibu ke anak, secara nasional pada
tahun 2012 sebesar 2,6%. Demikian pula dengan kasus AIDS, jumlah kasus
AIDS yang ditularkan dari ibu ke anak pada tahun 2011 sebanyak 181 kasus
dan pada tahun 2012 sebanyak 126 kasus atau terjadi peningkatan sebesar
1,4% dari tahun sebelumnya.

C. Etiologi
HIV adalah suatu retrovirus anggota subfamili lentivirinae. Retrovirus
berdiameter 70-130 nm. Masa inkubasi virus ini selama sekitar 10 tahun.
Virion HIV matang memiliki bentuk hampir bulat. Selubung luarnya, atau
kapsul viral, terdiri dari lemak lapis ganda yang banyak mengandung tonjolan
protein. Duri-duri ini terdiri dari dua glikoprotein; gp120 dan gp41. Terdapat
suatu protein matriks yang disebut gp17 yang mengelilingi segmen bagian
dalam membran virus. Sedangkan inti dikelilingi oleh suatu protein kapsid
yang disebut p24.

Di dalam kapsid terdapat dua untai RNA identik dan molekul


preformed reverse transcriptase, integrase dan protease yang sudah
terbentuk. Reverse transcriptase adalah enzim yang mentranskripsikan RNA
virus menjadi DNA setelah virus masuk ke sel sasaran.

D. Patofisiologi
HIV menginfeksi sel dengan mengikat permukaan sel sasaran yang
memiliki molekul reseptor membran CD4. Sejauh ini, sasaran yang disukai
adalah limfosit T helper positif, atau sel T4 (limfosit CD4+). Gp120 HIV
berikatan kuat dengan limfosit CD4+ sehingga gp41 dapat memperantarai
fusi membran virus ke membran sel.
Baru-baru ini ditemukan bahwa dua koreseptor permukaan sel, CCR5
atau CXCR4 diperlukan, agar gp120 dan gp41 dapat berikatan dengan
reseptor

CD4+.

Koreseptor

ini

menyebabkan

perubahan-perubahan

konformasi sehingga gp41 dapat masuk ke membran sel sasaran. Individu


yang mewarisi dua salinan defektif gen reseptor CCR5 (homozigot) resisten
terhadap timbulnya AIDS, walupun berulang kali terpajan HIV (sekitar 1%
orang Amerika keturunan Caucasian). Individu yang heterozigot untuk gen
defektif ini tidak terlindung dari AIDS, tetapi awitan penyakit agak melambat.

Sel-sel lain yang mungkin rentan terhadap infeksi HIV mencakup


monosit dan makrofag. Monosit dan makrofag yang terinfeksi dapat berfungsi
sebagai reservoar untuk HIV tetapi tidak dihancurkan oleh virus. HIV bersifat
politrofik dan dapat menginfeksi beragam sel manusia, seperti sel natural
killer (NK), limfosit B, sel endotel, sel epitel, sel Langerhans, sel dendritik,
sel mikroglia dan berbagai jaringan tubuh.
Setelah

berfusi

dengan

limfosit

CD4+,

maka

berlangsung

serangkaian proses kompleks yang apabila berjalan lancar, menyebabkan


terbentuknya partikel virus baru dari sel yang terinfeksi. Limfosit CD4 yang

terinfeksi mungkin tetap laten dalam keadaan provirus atau mungkin


mengalami proses-proses replikasi sehingga menghasilkan banyak virus.
HIV-1 awalnya menginfeksi sel T dan makrofag secara langsung atau
dibawa oleh sel dendrit. Replikasi virus pada kelenjar getah bening regional
menimbulkan viremia dan penyebaran virus yang meluas pada jaringan
limfoid. Viremia tersebut dikendalikan oleh respon imun pejamu, kemudian
pasien memasuki fase laten klinis. Selama fase ini, replikasi virus pada sel T
maupun makrofag terus berlangsung, tetapi virus tetap tertahan. Pada tempat
itu berlangsung pengikisan bertahap sel CD4+ melalui infeksi sel yang
produktif. Jika sel CD4+ yang hancur tidak dapat tergantikan, jumlah sel
CD4+ menurun dan pasien mengalami gejala klinis AIDS. Makrofag pada
awalnya juga ditumpangi virus, makrofag tidak dilisiskan oleh HIV-1, dapat
mengangkut virus ke berbagai jaringan, terutama ke otak.
E. Transmisi HIV/AIDS
Transmisi HIV/AIDS terjadi melalui cairan tubuh yang mengandung
virus HIV yaitu melalui hubungan seksual, baik homoseksual maupun
heteroseksual, jarum suntik pada pengguna narkotika, transfusi komponen
darah dan dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi yang dilahirkannya. Oleh
karena itu kelompok risiko tinggi terhadap HIV/AIDS dapat diketahui,
misalnya pengguna narkotika, pekerja seks komersial dan pelanggannya, serta
narapidana.
1. Transmisi Seksual
Transmisi HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara
sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum,
alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan
seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual
insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan seks anal lebih besar
daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Kekerasan seksual
secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung
umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga
vagina yang memudahkan transmisi HIV.

Cara hubungan seksual ano-genital merupakan perilaku seksual


dengan risiko tertinggi bagi penularan HIV, khususnya bagi mitra seksual
yang pasif menerima ejakulasi semen dari seorang pengidap HIV. Hal ini
disebabkan karena tipisnya mukosa rektum sehingga mudah sekali
mengalami perlukaan saat berhubungan seksual ano-genital. Risiko
perlukaan ini semakin bertambah apabila terjadi perlukaan dengan tangan
(fisting) pada anus/rektum. Tingkat risiko kedua adalah hubungan orogenital termasuk menelan semen dari mitra seksual pengidap HIV.
Tingkat risiko ketiga adalah hubungan genito-genital/hetero seksual,
biasanya terjadi pada hubungan suami istri yang salah seorang telah
mengidap HIV.
2. Transmisi non seksual
HIV dapat menular melalui transmisi parenteral yaitu akibat
penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya seperti alat tindik yang
terkontaminasi HIV. Penggunaan jarum suntik yang berganti-gantian
menyebabkan tingginya kasus HIV/AIDS pada kelompok pengguna
napza suntik (IDU). Pada umumnya, ibukota dan kota-kota metropolitan
mempunyai jumlah pengguna napza suntik yang besar. Di negara
berkembang, cara ini juga terjadi melalui jarum suntik yang dipakai oleh
petugas kesehatan. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik yang
mengandung darah yang terkontaminasi merupakan penyebab sepertiga
dari semua infeksi baru HIV.
Transmisi parenteral lainnya adalah melalui donor/transfusi darah
yang mengandung HIV. Risiko tertular infeksi HIV lewat transfusi darah
adalah >90%, artinya bila seseorang mendapat transfusi darah yang
terkontaminasi HIV maka dapat dipastikan orang tersebut akan menderita
HIV sesudah transfusi itu. Di negara maju resiko penularan HIV pada
penerima transfusi darah sangat kecil, hal ini dikarenakan pemilihan
donor yang semakin bertambah baik dan pengamatan HIV telah
dilakukan. Namun demikian, mayoritas populasi dunia tidak memiliki
akses terhadap darah yang aman.

Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in
utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan
dan saat persalinan. HIV tidak menular melalui peralatan makanan,
pakaian, handuk, sapu tangan, toilet yang dipakai secara bersama-sama,
ciuman pipi, berjabat tangan, hidup serumah dengan penderita HIV yang
bukan mitra seksual dan hubungan sosial lainnya. Air susu ibu pengidap
HIV, saliva/air liur, air mata, urin serta gigitan nyamuk belum terbukti
dapat menularkan HIV/AIDS.
F. Gejala Klinis
Ada tiga tahapan yang dikenali yang mencerminkan dinamika interaksi
antara HIV dan sistem imun :
1. Fase akut.
Fase ini ditandai dengan gejala nonspesifik yaitu nyeri
tenggorok, mialgia, demam, ruam dan kadang-kadang meningitis
aseptik. Pada fase ini terdapat produksi virus dalam jumlah yang
besar, viremia dan persemaian yang luas pada jaringan limfoid perifer,
yang secara khas disertai dengan berkurangnya sel T CD4+. Segera
setelah hal itu terjadi, muncul respon imun yang spesifik terhadap
virus, yang dibuktikan melalui serokonversi (biasanya dalam rentang
waktu 3 hingga 17 minggu setelah pajanan) dan melalui munculnya
sel T sitotoksik CD8+ yang spesifik terhadap virus. Setelah viremia
mereda, sel T CD4+ kembali mendekati jumlah normal. Namun,
berkurangnya jumlah virus dalam plasma bukan merupakan penanda
berakhirnya replikasi virus, yang akan terus berlanjut di dalam
2.

makrofag dan sel T CD4+ jaringan.


Fase kronis
Fase kronis menunjukan tahap penahanan relatif virus. Pada fase
ini, sebagian besar sistem imun masih utuh, tetapi replikasi virus
berlanjut hingga beberapa tahun. Para pasien tidak menunjukkan
gejala ataupun menderita limfadenopati persisten dan banyak
penderita yang mengalami infeksi opotunistik ringan, seperti sariawan
(Candida) atau herpes zoster.

Replikasi virus dalam jaringan limfoid terus berlanjut.


Pergantian virus yang meluas akan disertai dengan kehilangan CD4+
yang berlanjut. Namun, karena kemampuan regenerasi sistem imun
yang besar, sel CD4+ akan tergantikan dalam jumlah yang besar.
Setelah melewati periode yang panjang dan beragam, pertahanan
pejamu mulai menurun dan jumlah CD4+ mulai menurun, dan jumlah
CD4+ hidup yang terinfeksi oleh HIV semakin meningkat.
3. Fase kritis
Tahap terakhir ini ditandai dengan kehancuran pertahanan
pejamu yang sangat merugikan, peningkatan viremia yang nyata, serta
penyakit klinis. Para pasien khasnya akan mengalami demam lebih
dari 1 bulan, mudah lelah, penurunan berat badan, dan diare; jumlah
sel CD4+ menurun di bawah 500 sel/L. Setelah adanya interval yang
berubah-ubah, para pasien mengalami infeksi oportunistik yang serius,
neoplasma sekunder dan atau manifestasi neurologis (disebut dengan
kondisi yang menentukan AIDS). Jika kondisi lazim yang menentukan
AIDS tidak muncul, pedoman CDC yang digunakan saat ini
menentukan bahwa seseorang yang terinfeksi HIV dengan jumlah sel
CD4+ kurang atau sama dengan 200 sel/L sebagai pengidap AIDS .
Stadium Klinis Infeksi HIV

Stadium 1
- Tidak ada gejala
- Limfadenopati generalisata persisten
Stadium 2
- Penurunan berat badan bersifat sedang yang tak diketahui penyebabnya
(<10% dari perkiraan berat badan atau berat badan sebelumnya)
- Infeksi saluran pernafasan yang berulang (sinusitis, tonsilitis, otitis media,
faringitis)
- Herpes zooster
- Keilitis angularis
- Ulkus mulut yang berulang
- Ruam kulit berupa papel yang gatal (Papular pruritic eruption)
- Dermatitis seboroik
- Infeksi jamur pada kuku

Stadium 3
- Penurunan berat badan bersifat berat yang tak diketahui
penyebabnya (lebih dari 10% dari perkiraan berat badan atau berat
badan sebelumnya)
- Diare kronis yang tak diketahui penyebabnya selama lebih dari 1
bulan
- Demam menetap yang tak diketahui penyebabnya
- Kandidiasis pada mulut yang menetap
- Oral hairy leukoplakia
- Tuberkulosis paru
- Infeksi bakteri yang berat (contoh: pneumonia, empiema, meningitis,
piomiositis, infeksi tulang atau sendi, bakteremia, penyakit inflamasi
panggul yang berat)
- Stomatitis nekrotikans ulserative akut, gingivitis atau periodontitis
- Anemi yang tak diketahui penyebabnya (<8 gr/dl), netropeni (<0.5 x
109/l) dan atau trombositopenia kronis (<50 x 109/l)
Stadium 4
- Sindrom wasting HIV
- Pneumonia Pneumocystis jiroveci
- Pneumonia bacteri berat yang berulang
- Infeksi herpes simplex kronis (orolabial, genital, atau anorektal selama
lebih dari 1 bulan atau viseral di bagian manapun)
- Kandidiasis esofageal (atau kandidiasis trakea, bronkus atau paru)
- Tuberkulosis ekstra paru
- Sarkoma Kaposi
- Penyakit Cytomegalovirus (retinitis atau infeksi organ lain, tidak termasuk
hati, limpa dan kelenjar getah bening)
- Toksoplasmosis di sistem saraf pusat
- Ensefalopati HIV
- Pneumonia kriptokokus ekstrapulmoner, termasuk meningitis
- Infeksi mycobacteria non tuberkulosis yang menyebar
- Leukoencephalopathy multifocal progresif
- Cyrptosporidiosis kronis
- Isosporiasis kronis
- Mikosis diseminata (histoplasmosis, coccidiomycosis)
- Septikemi yang berulang (termasuk Salmonella non-tifoid)
- Limfoma (serebral atau Sel B non-Hodgkin)
- Karsinoma serviks invasif
- Leishmaniasis diseminata atipikal
- Nefropati atau kardiomiopati terkait HIV yang simtomatis

G. Diagnosis

Di negara-negara berkembang, sistem WHO untuk infeksi HIV


digunakan dengan memakai data klinis dan laboratorium, sementara di
negara-negara maju digunakan sistem klasifikasi Centers for Disease Control
(CDC) Amerika Serikat.
Tes diagnostik
1. ELISA (enzyme linked immunosorbent assay)
ELISA digunakan untuk mengidentifikasi antibodi terhadap
HIV. Kelebihan teknik ELISA yaitu sensitifitas yang tinggi yaitu 98,1
%-100%. Biasanya memberikan hasil positif 2-3 bulan setelah
infeksi. Tes ELISA telah menggunakan antigen recombinan, yang
sangat spesifik terhadap envelope dan core .
2. Western Blot
Western blot biasanya digunakan untuk menentukan kadar
relatif dari suatu protein dalam suatu campuran berbagai jenis protein
atau molekul lain. Biasanya protein HIV yang digunakan dalam
campuran adalah jenis antigen yang mempunyai makna klinik, seperti
gp120 dan gp41. Western blot mempunyai spesifisitas tinggi yaitu
99,6%

100%.

Namun

pemeriksaan

cukup

sulit,

mahal

membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Tes Western Blot mungkin juga


tidak bisa menyimpulkan seseorang menderita HIV atau tidak. Oleh
karena itu, tes harus diulangi setelah dua minggu dengan sampel yang
sama. Jika test Western Blot tetap tidak bisa disimpulkan, maka test
Western Blot harus diulangi lagi setelah 6 bulan.
3. PCR (Polymerase Chain Reaction)
Kegunaan PCR yakni sebagai tes HIV pada bayi, pada saat zat
antibodi maternal masih ada pada bayi dan menghambat pemeriksaan
secara serologis maupun status infeksi individu yang seronegatif pada
kelompok risiko tinggi dan sebagai tes konfirmasi untuk HIV-2 sebab
sensitivitas ELISA rendah untuk HIV-2.
Pemeriksaan

CD4

dilakukan

dengan

melakukan

imunophenotyping yaitu dengan flow cytometry dan cell sorter. Prinsip


flowcytometry dan cell sorting (fluorescence activated cell sorter, FAST)
adalah

menggabungkan

kemampuan

alat

untuk

mengidentifasi

karakteristik permukaan setiap sel dengan kemampuan memisahkan selsel yang berada dalam suatu suspensi menurut karakteristik masingmasing secara otomatis melalui suatu celah, yang ditembus oleh seberkas
sinar laser. Setiap sel yang melewati berkas sinar laser menimbulkan
sinyal elektronik yang dicatat oleh instrumen sebagai karakteristik sel
bersangkutan. Setiap karakteristik molekul pada permukaan sel manapun
yang terdapat di dalam sel dapat diidentifikasi dengan menggunakan satu
atau lebih probe yang sesuai. Dengan demikian, alat itu dapat
mengidentifikasi setiap jenis dan aktivitas sel dan menghitung jumlah
masing-masing dalam suatu populasi campuran.

Diagnosis HIV
Ada dua sistem klasifikasi yang biasa digunakan untuk dewasa dan

remaja dengan infeksi HIV yaitu menurut WHO dan CDC (Centre for
Diseases Control and Prevention)
Klasifikasi menurut CDC
CDC mengklasifikasikan HIV/AIDS pada remaja (>13 tahun dan
dewasa) berdasarkan dua sistem, yaitu dengan melihat jumlah supresi
kekebalan tubuh yang dialami pasien serta stadium klinis. Jumlah supresi
kekebalan tubuh ditunjukkan oleh limfosit CD4+. Sistem ini terdiri dari tiga
kategori yaitu :
1. Kategori Klinis A : CD4+ > 500 sel/ml
Meliputi infeksi HIV tanpa gejala (asimptomatik), Limfadenopati

generalisata yang menetap, infeksi HIV akut primer dengan penyakit


penyerta atau adanya riwayat infeksi HIV akut.
2. Kategori Klinis B : CD4+ 200-499 sel/ml
Terdiri atas kondisi dengan gejala (simptomatik) pada remaja atau
orang dewasa yang terinfeksi HIV yang tidak termasuk dalam kategori C
dan memenuhi paling sedikit satu dari kriteria berikut yaitu keadaan yang
dihubungkan dengan infeksi HIV atau adanya kerusakan kekebalan dengan
perantara sel (cell mediated immunity), atau kondisi yang dianggap oleh
dokter

telah

memerlukan

penanganan

klinis

atau

membutuhkan

penatalaksanaan akibat komplikasi infeksi HIV. Termasuk kedalam kategori

ini yaitu Angiomatosis basilari, Kandidiasis orofaringeal, Kandidiasis


vulvovaginal, Dysplasia leher rahim, Herpes zoster, Neuropati perifer,
penyakit radang panggul.
3. Kategori Klinis C : CD4+ < 200 sel/ml
Meliputi gejala yang ditemukan pada pasien AIDS dan pada tahap ini
orang yang terinfeksi HIV menunjukkan perkembangan infeksi dan
keganasan yang mengancam kehidupannya, meliputi : Sarkoma Kaposi,
Kandidiasis bronki/trakea/paru, Kandidiasis esophagus, Kanker leher rahim
invasif, Coccidiodomycosis, Herpes simpleks, Cryptosporidiosis, Retinitis
virus

sitomegalo,

Bronkitis/Esofagitis

Ensefalopati
atau

yang

Pneumonia,

berhubungan
Limfoma

dengan

Burkitt,

HIV,

Limfoma

imunoblastik dan Limfoma primer di otak, Pneumonia Pneumocystis


carinii.

Klasifikasi menurut WHO


Pada beberapa negara, pemeriksaan limfosit CD4+ tidak tersedia,
dalam hal ini seseorang dapat didiagnosis berdasarkan gejala klinis, yaitu
berdasarkan tanda dan gejala mayor dan minor. Dua gejala mayor ditambah
dua gejala minor didefinisikan sebagai infeksi HIV simptomatik.
Dewasa
Definisi kasus AIDS dicurigai bila paling sedikit mempunyai 2 gejala mayor
dan 1 gejala minor dan tidak terdapat sebab-sebab penekanan sistem imun
lain yang diketahui, seperti kanker, malnutrisis berat atau sebab-sebab
lainnya.
Gejala Mayor
- Penurunan berat badan > 10% berat badan per bulan.
- Diare kronis lebih dari 1 bulan
- Demam lebih dari 1 bulan.
Gejala Minor
- Batuk selama lebih dari 1 bulan.
- Pruritus dermatitis menyeluruh.
- Infeksi umum yang rekuren, misalnya herpes zoster.
- Kandidiasis orofaringeal.
- Infeksi herpes simpleks kronis progresif atau yang meluas.
- Limfadenopati generalisata.

Adanya Sarkoma Kaposi meluas atau meningitis cryptococcal sudah cukup


untuk menegakkan AIDS.
Anak
Definisi kasus AIDS terpenuhi bila ada sedikitnya 2 tanda mayor dan 2 tanda
minor dan tidak terdapat sebab-sebab penekanan imun yang lain yang
diketahui, seperti kanker, malnutrisi berat atau sebab-sebab lain.
Gejala Mayor
- Berat badan turun atau pertumbuhan lambat yang abnormal
- Diare kronis lebih dari 1 bulan
- Demam lebih dari 1 bulan.
Gejala Minor
- Limfadenopati generalisata
- Kandidiasis orofaringeal
- Infeksi umum yang rekuren
- Batuk-batuk selama lebih dari 1 bulan
- Ruam kulit yang menyeluruh
Konfirmasi infeksi HIV pada ibunya dihitung sebagai kriteria minor.
H. Penatalaksanaan
Tabel 1. Daftar obat ARV di Indonesia berikut nama dagang yang sering
digunakan, dosis dan efek sampingnya.
Golongan

Sediaan dan dosis

Efek samping

Keterangan

yang
direkomendasika
n
Nucleoside Reverse Trancriptase Inhibitor (NRTI)
Zidovudine
250 - 300 mg
Perlu dilakukan
(AZT)
setiap 12 jam
Pemantauan efek
(Reviral)
Dosis 250 mg
samping supresi
dapat diberikan
sumsum tulang
tanpa mengurangi (anemi makrositik
efektifivatas AZT atau netropeni)
dengan
ES lain: asidosis
kemungkinan
laktat dengan
timbulnya efek
steatosis hepatitis
samping yang
(jarang);
lebih rendah
intoleransi
Dosis 250 mg
gastrointestinal;

Dalam suhu
kamar
Duviral
merupakan FDC
dari AZT+3TC

sementara tidak
tersedia di
Indonesia
Stavudine
(d4T)
(Staviral)

30 mg; diberikan
tiap 12 jam

Lamivudine
(3TC)
(Hiviral)

150 mg;
diberikan tiap 12
jam atau 300 mg
setiap 24 jam

Didanosine
(ddI)

sakit kepala; sukar


tidur; miopati;
pigmentasi kulit
dan kuku
Neuropati perifer,
lipodistrofi dan
laktat asidosis
merupakan efek
samping yang
sering timbul.
Pemeriksaan
ketiga gejala
tersebut diatas
perlu dilakukan
secara terus
menerus
ES lain
Pankreatitis
Toksisitas rendah
Efek samping
asidosis laktat
dengan steatosis
hepatitis (jarang)
.

Dalam suhu
kamar

Dalam suhu
kamar. Jika
ODHA telah
mendapatkan
Lamivudin untuk
tujuan
pengobatan
Hepatitis B
sebelumnya,
maka
Lamivudine tidak
dapat digunakan
karena telah
terjadi resisten.
Duviral
merupakan FDC
dari AZT+3TC
250 mg ( BB < 60 Didanosine
Tablet dan kapsul
mg) dan 400 mg ( merupakan obat
dalam suhu
BB > 60 mg):
dari golongan d kamar. Puyer
diberikan single
drugs bersama
harus dalam
dose setiap 24
dengan d4T dan
refrigerator,
jam (tablet bufer
ddC. ddI tidak
suspensi oral/
atau kapsul
dapat digunakan
formula pediatrik
enteric coated)
bersama dengan
dapat tahan
d4T karena
hingga 30 hari
memperkuat
bila disimpan
timbulnya efek
dalam lemari es.

Abacavir
(ABC)
(Ziagen)

300 mg;
diberikan tiap 12
jam ATAU 600
mg setiap 24 jam

samping seperti
pankreatitis,
neuropati, asidosis
laktat, lipoatrofi.
Efek samping lain:
asidosis laktat
dengan steatosis
hepatitis (jarang);
mual; muntah;
diare
ddI tidak boleh
digunakan
bersama dengan
Tenovofir karena
interaksi obat yang
menyebabkan
kadar Tenofovir
dalam darah turun
sehingga
menyebabkan
kegagalan
pengobatan
ddI juga tidak
direkomendasikan
untuk digunakan
bersama dengan
Abacavir karena
data pendukung
yang tidak cukup
Abacavir
mempunyai efek
samping
hipersensitivitas
dengan insiden
sekitar 5 8 %
(dapat fatal).
Demam, ruam,
kelelahan, mual,
muntah, tidak
nafsu makan
Gangguan
pernafasan (sakit
tenggorokan,
batuk) asidosis
laktat dengan
steatosis hepatitis

Sudah tidak
digunakan di
Indonesia

Dalam suhu
kamar
Hanya digunakan
untuk formula
anak

Emtricitabin
e (FTC)

200 mg setiap 24
jam

Tenofovir

300 mg;

(jarang)
Penggunaan
Abacavir harus
dihentikan jika
terjadi reaksi alergi
dan TIDAK boleh
digunakan lagi
( re-start)
Efek samping
abacavir sama
dengan efek
samping
Nevirapine dan
kotrimoksasol
sehingga
penggunaan
Abacavir bersama
dengan Nevirapine
merupakan kontra
indikasi
Pada negara maju,
pemeriksaan HLA
*B 5701 sebelum
memberikan
Abacavir, jika
HLA*B5701
negatif maka
Abacavir dapat
digunakan
Penggunaan
Abacavir dapat
menyebabkan
cardiomiopati,
terjadi terutama
jika viral load >
100,000 copies/ml
Merupakan
turunan dari 3TC,
dapat digunakan
pada Hepatitis B

Insufisiensi fungsi

Dalam suhu
kamar
Truvada merupakan FDC
dari TDF+FTC
Atripla merupakan FDC
dari
TDF+FTC+EFV
Dalam suhu

(TDF)
(Viread)

diberikan single
dose setiap 24
jam
(Catatan:
interaksi obat
dengan ddI, tidak
lagi dipadukan
dengan ddI)

Nevirapine
(Neviral)

200 mg setiap 24
jam selama 14
hari, kemudian
200 mg setiap 12
jam

ginjal, sindrom
Fanconi, sehingga
perlu dilakukan
pemeriksaan
fungsi ginjal
sebagai data awal
(baseline data)
Astenia, sakit
kepala, diare,
mual, muntah,
perut kembung;
Penurunan bone
mineral density;
Osteomalasia.
Efek samping pada
nevirapine adalah
dose dependent,
sehingga untuk 2
minggu pertama
dilakukan eskalasi
dosis 200mg/dosis
tunggal dan 200
mg /12 jam pada
hari ke 15 dan
seterusnya
Jika Nevirapine
digunakan untuk
mengganti
( substitusi)
Efavirense maka
nevirapine
langsung diberikan
dengan dosis
penuh tanpa
escalating dosis
Efek samping
nevirapine lainnya
yang perlu
diperhatikan
adalah
hepatotoksik.
Nevirapine
dihentikan jika
terjadi kenaikan
SGPT > 5 kali dari
baseline

kamar
Truvada merupakan FDC
dari TDF+FTC
Atripla merupakan FDC
dari
TDF+FTC+EFV

Dalam suhu
kamar

Efavirenz
(Stocrine)
(Efavir)
(Sustiva)

600 mg;
diberikan single
dose 24 jam
(malam) hari

Nevirapine
dihentikan jika
terjadi steven
Johnson sindrom
dan tidak boleh di
ulang kembali.
Pemberian
Nevirapine pada
wanita dengan
CD4 > 250 dan
pria dengan CD4 >
400 perlu
dilakukan
Pemantauan ketat
terhadap
timbulnya reaksi
alergi
Nevirapine
TIDAK boleh
digunakan untuk
Post Exposure
Prophylaxis ( PEP)
Nevirapine dapat
dipertimbangkan
untuk digunakan
bersama dengan
Rifampisin jika
Efaviren
merupakan
kontraindikasi.
Efavirenz TIDAK
direkomendasikan
untuk digunakan
guna keperluan
substitusi jika telah
terjadi Steven
Johnson syndrom
Gejala SSP:
pusing,
mengantuk, sukar
tidur, bingung,
halusinasi, agitasi,
seperti susah
konsentrasi,
insomnia, vivid
dream, depresi,

Dalam suhu
kamar
Atripla merupakan FDC
dari
TDF+FTC+EFV

skizofrenia.
Peningkatan kadar
transaminase.
Hiperlipidemi.
Ginekomasti.
Ruam kulit.
Potensi teratogen
Merupakan obat
pilihan utama pada
ko-infeksi TB/HIV
Mempunyai
profile efek
samping yang
sama dengan
Nevirapine dengan
insiden yang lebih
rendah
Pemantauan efek
samping pada
gangguan mental
Pada wanita hamil,
Efavirenz
diberikan setelah
trimester pertama
Dilaporkan
menyebabkan false
positif pada
skrining cannabis
dan
benzodiazepine.
Protease Inhibitor (PI)
Lopinavir/
Tablet heat stable
ritonavir
lopinavir 200 mg
(LPV/ r)
+ ritonavir 50
(Aluvia)
mg:
400 mg/100 mg
setiap 12 jam
Untuk pasien
dalam terapi TB
yang
mengandung
Rifampisin
digunakan LPV
800 mg + RTV
200 mg dua kali
sehari, dengan

Efek samping
metabolic seperti
hiperglikemia
(diabetes),
hipercholestrolemi
, lipoakumulasi
perlu dimonitor
pada penggunaan
jangka panjang
Intoleransi
gastrointestinal,
mual, muntah,
peningkatan enzim
transaminase
Kontra indikasi

Dalam suhu
kamar

pemantauan ketat
keadaan klinis &
fungsi hati

relatif untuk
digunakan
bersama dengan
Rifampisin karena
adanya interkasi
obat yang
menyebabkan
kadar LPV/r hilang
hingga 90%

Penatalaksanaan obstetrik
Perinatal HIV Guidelines Working Group di Amerika Serikat
mengajukan rekomendasi penatalaksanaan obstetrik untuk mengurangi
transmisi HIV vertikal. Rekomendasi yang dianjurkan adalah :
1. Cara Persalinan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang
datang padakehamilan di atas 36 minggu, belum mendapat
antiretrovirus, dan sedang menunggu hasil pemeriksaan kadar HIV
dan CD4 yang diperkirakan adasebelum persalinan.
Rekomendasi : Ada beberapa regimen yang harus didiskusikan
dengan jelas.
2. Cara Persalinan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang
datang pada kehamilan awal, sedang mendapat kombinasi
antiretrovirus, dan kadar HIV tetap di atas 1000 kopi/mL pada
minggu ke 36 kehamilan.
Rekomendasi : Regimen antiretrovirus yang digunakan tetap
diteruskan.
3. Cara Persalinan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang
sedang mendapat kombinasi antiretrovirus, dan kadar HIV tidak
terdeteksi pada minggu ke 36 kehamilan.
Rekomendasi : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS
diberikan konseling
4. Cara Persalinan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang
sudah direncanakan seksio sesarea elektif, namun datang pada awal
persalinan atau setelah ketuban pecah.

Rekomendasi : Zidovudin intravena segera diberikan. Jika


kemajuan persalinan cepat, wanita hamil yang terinfeksi HIVAIDS ditawarkan untuk menjalani persalinan pervaginam.

Terapi ARV untuk ibu hamil


Terapi

antiretroviral/ARV/HAART (Highly

Active

Antiretroviral

Therapy) dalam program PMTCT (Prevention Mother to Child Transmission


PPIA = Pencegahan Penularan Ibu ke Anak) adalah penggunaan obat
antiretroviral jangka panjang (seumur hidup) untuk mengobati perempuan
hamil HIV positif dan mencegah penularan HIV dari ibu ke anak.
Pemberian obat antiretroviral dalam program PMTCT/PPIA ditujukan
pada keadaan seperti terpapar berikut ini.
Tabel 2. Pemberian Antiretroviral pada ibu hamil dengan berbagai Situasi
Klinis
NO
1

Situasi klinis
ODHA dengan indikasi Terapi ARV
dan kemungkinan hamil atau sedang
hamil

ODHA sedang menggunakan Terapi


ARV dan kemudian hamil

3
4

ODHA hamil dengan jumlah CD4


>350/mm3 atau dalam stadium klinis
1.
ODHA hamil dengan jumlah CD4 <
350/mm3 atau dalam stadium klinis

Rekomendasi pengobatan
(paduan untuk ibu)
AZT + 3TC + NVP atau
TDF + 3TC(atau FTC) +
NVP
Hindari EFV pada trimester
pertama
AZT + 3TC + EVF* atau
TDF + 3TC (atau FTC) +
EVF*
Lanjutkan paduan (ganti
dengan NVP atau golongan
PI jika sedang
menggunakan EFV pada
trimester I)
Lanjutkan dengan ARV
yang sama selama dan
sesudah persalinan
ARV mulai pada minggu ke
14 kehamilan
Paduan sesuai dengan butir 1
Segera Mulai Terapi ARV

2, 3 atau 4
ODHA hamil dengan Tuberkulosis
aktif

OAT yang sesuai tetap


diberikan
Paduan untuk ibu, bila
pengobatan mulai trimester II
dan III:
AZT (TDF) + 3TC + EFV
Ibu hamil dalam masa persalinan dan Tawarkan tes dalam masa
tidak diketahui status HIV
persalinan; atau tes setelah
persalinan.
Jika hasil tes reaktif maka
dapat diberikan paduan
pada butir 1
ODHA datang pada masa persalinan Paduan pada butir 1
dan belum mendapat Terapi ARV

Keterangan :
*: Efavirenz tidak boleh diberikan pada ODHA hamil trimester perta

Terapi ARV pada bayi


Pemberian ARV berdasarkan pedoman WHO 2010, terdapat 2
opsi yang ditawarkan WHO untuk tindakan profilaksis:
Profilaksis Opsi A

Bayi
Bila diberikan ASI: NVP hingga 1 minggu lepas ASI
Tanpa pemberian ASI: AZT atau NVP x 6 minggu
Profilaksis Opsi B

Bayi: NVP/AZT setiap hari sejak lahir hingga umur 4-6 minggu
tanpa memandang pemberian ASI atau tidak.
Dosis obat :
AZT 4 mg/kgBB- setiap 12 jam
NVP 2 mg/kgBB (dosis tunggal)

Vaksinasi bayi
Setiap anak, termasuk yang terlahir dari ibu yang HIV-positif, seharusnya
diberi vaksinasi baku seperti anak lain. Vaksinasi ini boleh termasuk
vaksin BCG yang dapat diberi pada anak beberapa hari setelah lahir.

Namun, bila ditunda, sebaiknya vaksinasi BCG tidak diberikan pada anak
yang menunjukkan gejala AIDS, misalnya kurang bertumbuh, atau sering
terkena infeksi.
I. Prognosis
HIV/AIDS sampai saat ini belum dapat disembuhkan secara total. Tetapi
angka kematian dapat ditekan, harapan hidup lebih baik dan kejadian infeksi
oportunistik dapat berkurang jika dilakukan pengobatan yang lengkap.

BAB III
KESIMPULAN
1. Berdasarkan temuan tanda dan gejala klinis pasien ini melalui anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, mendukung bahwa pasien
terdiagnosis B20 dengan anemia pada G2P1A0.
2. Berdasarkan stadium HIV/AIDS, pasien ini lebih cenderung mengarah pada
stadium 3 dengan didukung adanya penurunan berat badan bersifat berat yang
tak diketahui penyebabnya (lebih dari 10% dari perkiraan berat badan atau
berat badan sebelumnya), mempunyai riwayat tuberkulosis paru, dan anemi
yang tak diketahui penyebabnya (<8 gr/dl).
3. Berdasarkan situasi klinis pasien tersebut maka terapi ARV harus tetap
diteruskan walaupun hamil. Obat ARV yang diberikan adalah AZT + 3TC +
NVP atau TDF + 3TC(atau FTC) + NVP atau AZT + 3TC + EVF* atau
TDF + 3TC (atau FTC) + EVF* (Hindari EFV pada trimester pertama).

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (DEPKES RI). 2011.


Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan terapi
Antiretroviral pada orang Dewasa. P. 14,46
Yayasan Spiritia, 2008. Strategi Nasonal Penanggulangan HIV/AIDS.
Diperoleh dari: http://spiritia.or.id/art/pdf/a1056.pdfhtm [Diakses 24
Desember 2014].
Djoerban Z, Djauzi S. HIV/AIDS di Indonesia. In: Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Edisi V. Editor: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi
I,Simadibrata M, Setiati S. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD FKUI. 2009;
p. 2861