Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISIS KIMIA KUANTITATIF

Disusun Oleh :
Prima W. Subagja
41204720109035

UNIVERSITAS NUSA BANGSA


MIPA KIMIA
2011

1.

Penetapan Pola Kurva pH Titrasi

Dasar Teori
Asam menurut Arhenius adalah zat yang di dalam air menghasilkan H+ dan
basa adalah zat di dalam air menghasilkan OH-. Kandungan H+/OH- di dalam
larutan dapat ditentukan melalui analisa pH dengan menggunakan pH meter.
Semakin tinggi kandungan H+ dalam larutan maka semakin rendah/kecil nilai pH
yang diperoleh, begitu juga sebaliknya bila kandungan OH- tinggi dalam larutan
maka nilai pH yang diperoleh semakin tinggi.
Menurut bronsted asam adalah suatu spesi yang bias memberikan protonnya
atau kelebihan proton, sedangkan basa adalah spesi yang biasa menerima proton.
Teori

asam-basa

dari

Arrhenius

banyak

digunakan

orang

karena

kesedarhanaannya. Tetapi, teori tersebut memiliki keterbatasan yaitu hanya dapat


menjelaskan asam-basa senyawa organik dalam larutan air. Senyawa-senyawa
yang dapat dijelaskan adalah senyawa-senyawa yang memiliki jenis rumus kimia
HX untuk asam dan LOH untuk basa.
Titrasi larutan dengan metode pH metri dapat memeberikan pola kurva
titrasi yang berbeda-beda tergantung dari jenis larutan yang dititrasi. Dalam
praktikum kali ini dilakukan titrasi antara :
1.

Asam kuat oleh basa kuat

2.

Basa kuat oleh asam kuat

3.

Asam lemah oleh basa kuat

4.

Basa lemah oleh asam kuat

5.

Asam lemah oleh basa lemah

Reaksi
1. Asam kuat oleh basa kuat
HCl + NaOH

NaCl + H2O

2. Basa kuat oleh asam kuat


NaOH + HCl

NaCl + H2O

3. Asam lemah oleh basa kuat


CH3COOH + NaOH

CH3COONa + H2O

4. Basa lemah oleh asam kuat


NH4OH + HCl

NH4Cl + H2O

5. Asam lemah oleh basa lemah


CH3COOH + NH4OH

CH3COONH4 + H2O

Alat dan Bahan


1. NaOH, HCl, CH3COOH, NH4OH, indicator.

2. Buret, corong, Erlenmeyer, gelas piala, pengaduk, pH meter, pipet ukur.

Cara Kerja
1. Disiapkan instrument pH meter beserta elektrodanya.
2. Disiapkan larutan baik sebagai titran ataupun sebagai titrat sesuai dengan
pola kurva pH yang akan ditetapkan.
a. CH3COOH + NaOH
b. CH3COOH + NH4OH

3. Ditambahkan indicator yang sesuai bebrapa tetes, untuk pengamatan titik


akhir.
4. Dilakukan penitaran, catat nilai pH (larutan) yang diperoleh terutama pada
tahap :
a.

Sebelum penitaran

b.

Menjelang titik akhir

c.

Titik akhir

d.

Setelah titik akhir

5. Dibuat kurva pH dari data pengamatan tersebut.

Data Pengamatan
Normalitas NaOH

: 0.0715 N

Volume NaOH

: 10 ml

Volume penitar (HCl)

: 8.6 ml

NHClxVHCl = NNaOHxVNaO
0.0715 x10
NHCl =
8.6
= 0.0831 N HCl

Indikator

: Fenolftalein

Perubahan Warna

: Tidak Berwarna Sedikit Merah

Reaksi : HCl + NaOH NaCl + 4HCl


CH3COOH + NaOH CH3COOH + H2O
A. Titrasi basa kuat (NaOH) dengann asam kuat (HCl)
Percobaan I
ml HCl
6.30
6.60
6.70
6.80
6.90
7.10
7.20
7.30
7.40
7.45
7.50
7.55
7.60
7.65

pH
13.74
13.40
12.62
12.38
12.14
11.90
11.52
11.31
11.08
10.73
9.61
9.37
7.55
6.79

Percobaan II
ml HCl

ph

6.00
6.50
6.85
6.90
6.95
7.00
7.20
7.40
7.45
7.55
7.60
6.00

13.90
13.39
12.20
12.09
12.00
11.90
11.50
11.12
10.75
9.38
7.55
6.79

Keterangan

Sebelum TA

Titik Akhir
Sesudah TA

Grafik Percobaan 1. Titrasi basa kuat (NaOH) dengan HCl

Grafik Percobaan 2. Titrasi basa kuat (NaOH) dengan asam kuat (HCl)

B. Titrasi Asam Lemah CH3COOH dengan basa kuat (NaOH)

ml Asam Asetat pH
0
1
2
3
4
4.1
4.2
4.3
4.4
4.5
4.6

Keterangan
2.95
3.17
4.14
4.52
5.1
5.05 Sebelum TA
5.25
5.34
5.56
5.70
10.44 Titik Akhir

4.7
4.9
5

10.59
11.10
11.28

Sesudah TA

Grafik 3. Titrasi asam lemah (CH3COOH) dengan Basa Kuat (NaOH)

Pembahasan
Saat melakukan penetapan dengan metode titrasi, hal yang harus diperhatikan
adalah penggunaan indikator. Indikator memiliki peranan yang sangat penting, ini
dikarenakan indikator dapat memberitahu keadaan saat titik akhir. Suatu indikator
dapat memberitahu keadaan suatu asam dan basa yang dicampurkan, untuk saling
"menetralkan" satu sama lain. Setiap indikator memiliki range tertentu tergantung
kebutuhan. Untuk titrasi asam-basa kita dapat menggunakan indikator PP
(phenolphtalin), atau untuk lebih lengkapnya bias dilihat pada tabel dibawah ini.
Indikator

Warna Larutan
Asam
Basa

Jarak
Perubahan pH

Sindur metal (SM)


Merah
Sindur
Merah metal (MM)
Merah
Kuning
Lakmus ((L)
Merah
Biru
Merah netral (MN)
Merah
Kuning
Phenolphtalin (PP)
Tak berwarna
Merah
Thymolphtalin (TP)
Tak berwarna
Biru
Indikator yang Digunakan dalam Titrasi Asam- Basa

3.7-4.4
4.2- 6.2
5.0- 8.0
6.8- 8.0
8.2- 10.0
9.3- 10.5

Adapun kurva titrasi adalah sebagai berikut:


1. Asam kuat oleh basa kuat
HCl + NaOH

NaCl + H2O

Pada mulanya pH HCl sangat rendah dan meningkat secara perlahan setelah
ditambahkan NaOH, Kurva meningkat drastis saat titik ekvalen.

2. Basa kuat oleh asam kuat


NaOH + HCl

NaCl + H2O

pH turun dalam jumlah yang sangat sedikit sekali sampai mendekati titik
ekivalen. Kemudian kurva tersebut turun drastic saat titik ekivalen.

3. Asam lemah oleh basa kuat


CH3COOH + NaOH

CH3COONa + H2O

Permulaan gambar menunjukkan kenaikan pH yang relatif cepat tetapi mereda


seiring

dengan

pembentukan

larutan

penyangga

yang

mengandung

CH3COONa. Setelah melewati titik ekivalen (ketika terjadi kelebihan natrium


hidroksida) kurva sama seperti pada bagian akhir gambar HCl-NaOH.

4. Basa lemah oleh asam kuat


NH4OH + HCl

NH4Cl + H2O

Pada bagian permulaan kurva, pH menurun dengan cepat seiring dengan


penambahan asam, tetapi kemudian kurva segera berubah dengan tingkat
kecuraman yang berkurang. Hal ini karena terbentuk larutan penyangga,
sebagai akibat dari kelebihan amonia dan pembentukan amonium klorida.
Titik ekivalen sedikit bersifat asam (sedikit lebih kecil daripada pH 5), karena
amonium klorida murni tidak netral. Karena itu, titik ekivalen tetap turun
sedikit curam pada kurva.

5. Asam lemah oleh basa lemah


CH3COOH + NH4OH

CH3COONH4 + H2O

Larutan bersifat lemah, pada kasus tersebut, titik ekivalen kira-kira terletak
pada pH 7. Sebelum titik ekivalen sama seperti kasus amonia HCl. Setelah
titik ekivalen seperti bagian akhir kurva asam asetat NaOH.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum pola kurva pH titrasi didapatkan titik setara
merah muda seulas (MMS) pada pH yang sangat jauh dengan pH awal dengan
menggunakan indikator phenolphtalin (PP) dan pHmeter. Penentuan nilai-nilai
tersebut dilakukan dengan titrasi netralisasi adapun pola kurva titrasi asidimetrialkalimetri ini pada percobaan kali ini dapat dikatakan kurang berhasil sehingga
menyebabkan pola kurva yang dihasilkan tidak sesuai teori.

2. Penetapan Kesadahan Total Air Keran Dengan


Metode Khelatometri
Dasar Teori
Kesadahan atau hardness adalah salah satu sifat kimia yang dimiliki oleh
air. Penyebab air menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca2+ , Mg2+ . Atau
dapat juga disebabkan karena adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam
bervalensi banyak) seperti Al, Fe, Mn, Sr dan Zn dalam bentuk garam sulfat,
klorida dan bikarbonat dalam jumlah kecil (Giwangkara, 2006).
Kesadahan merupakan ukuran yang menunjukkan jumlah ion Kalsium
(Ca2+) dan ion Magnesium (Mg2+) dalam air, ion-ion lain sebenarnya ikut pula
mempengaruhi nilai kesadahan tetapi relative kecil. Dikenal dua jenis kesadahan
yaitu:
1. Kesadahan umum (generale hardness)
2. Kesadahan carbonate (carbonate hardness)

Selain dua jenis kesadahan di atas dikenal pula total yaitu penjumlahan
kesadahan umum dan kesadahan carbonate. Air sudah dapat merugikan dalam
kehidupan umum bahkan pada dunia industry. Pada air sadah pemakaian sabun
menjadi tidak efektif karena terjadi pertukaran ion dari Na+ pada sabun dengan
Ca2+ atau Mg2+ pada air sadah mengendap sebagai garam.
2 C17H35COOH + CaSO4

2 C17H35COOCa + H2SO4

Analisa kesadahan air dalam praktikum kali ini ditetapkan dengan metode
titrasi kompleksometri yang berdasarkan pembentukan senyawa kompleks antara
ion Kalsium/Magnesium dengan pereaksi pengkelat Etilen Diamin Tetra Asetat.
Dengan bantuan indicator Eriocrom Black T maka titik akhir titrasi dapat
ditentukan.

Alat dan Bahan


Alat

Bahan

1. Buret

1. Air Kran

2. Corong

2. Air Sumur

3. Erlenmeyer

3. Buffer pH 10

4. Piala gelas

4. Indikator EBT

5. Pengaduk

5. EDTA

6. pH-meter
7. Pipet ukur

Cara Kerja
1. Diambil 100 ml air kran, ditambah 2 ml buffer pH 10, 2-4 tetes EBT (jika ada
endapan disaring).
2. Dititrasi hingga titik akhir tercapai (terjadi perubahan warna dari merah ke
biru, tetes terakhir harus jelas menunjukkan lenyapnya shade kemerahmerahan yang terakhir). Lakukan minimal duplo.
3. Hitung total kesadahan total air kran dalam ppm.

Data Pengamatan
Penitaran Sampel
Sampel
Air sumur
Air kran

ml sampel
100
100

ml EDTA yang dibutuhkan


16,30
16,28
0,60
0,63

PERHITUNGAN
Penentuan kesadahan total dalam air
Diketahui [EDTA]
BM CaCO3

= 0,0992 M
= 100.5 mg/mmol

a. Air sumur
Rata-rata vol EDTA = 16,30 + 16,28
2
= 16,29 ml

Berat CaCO3 = M EDTA x V EDTA x BM CaCO3


ppm CaCO3

= mg CaCO3 / Vol. Sampel

Berat CaCO3

= 0.0992 N x 16,29 ml x 100.5 mg/mmol

Berat CaCO3

= 162.40 mg

Kadar CaCO3 (ppm) = 162.40 mg


0.1 L
= 1624 ppm

b. Air Kran
Rata-rata vol EDTA = 0,60 + 0,63
2
= 0,615
Berat CaCO3 = 0,615 ml x 1,00 mg
Berat CaCO3

= 0.0992 N x 0.615 ml x 100.5 mg/mmol

Berat CaCO3

= 6.1313 mg

Kadar CaCO3 (ppm)

= 6.1313 mg
0.1 L
= 61.3130 ppm

Pembahasan
Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air,
umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat.
Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi,
sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Selain ion
kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa merupakan ion logam lain
maupun garam-garambikarbonat dan sulfat. Metode paling sederhana untuk

menentukan kesadahan air adalah dengan sabun. Dalam air lunak, sabun akan
menghasilkan busa yang banyak. Pada air sadah, sabun tidak akan menghasilkan
busa atau menghasilkan sedikit sekali busa. Cara yang lebih kompleks adalah
melalui titrasi. Kesadahan air total dinyatakan dalam satuan ppm berat per
volume (w/v) dari CaCO3.
Dalam air tanah atau air permukaan seperti air sumur terdapat sejumlah
garam kalsium dan atau magnesium terlarut baik dalam bentuk garam klorida atau
sulfat. Demikian pula pada air PDAM yang sering terdapat kalsium terlarut.
Adanya garam-garam ini menyebabkan air menjadi sadah yaitu tidak dapat
menghasilkan busa jika dicampurkan dengan sabun. Ukuran kesadahan air
dinyatakan dalam ppm (satu per sejuta bagian CaCO3). Dikenal tiga macam
kesadahan yaitu kesadahan total, kesadahan tetap dan kesadahan sementara.
Kesadahan ada dua jenis, yaitu (Giwangkara, 2008) :
1. Kesadahan sementara
Adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-garam bikarbonat,
seperti Ca(HCO3)2, Mg(HCO3)2. Kesadahan sementara ini dapat / mudah
dieliminir dengan pemanasan (pendidihan), sehingga terbentuk encapan CaCO3
atau MgCO3.
Reaksinya:
Ca(HCO3)2 dipanaskan CO2 (gas) + H2O (cair) + CaCO3 (endapan)
Mg(HCO3)2 dipanaskan CO2 (gas) + H2O (cair) + MgCO3
(endapan)
2. Kesadahan tetap

Adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-garam klorida,


sulfat dan karbonat, misal CaSO4, MgSO4, CaCl2, MgCl2. Kesadahan tetap dapat
dikurangi dengan penambahan larutan soda-kapur (terdiri dari larutan natrium
karbonat dan magnesium hidroksida) sehingga terbentuk endapan kaslium
karbonat (padatan/endapan) dan magnesium hidroksida (padatan/endapan)
dalam air.
Reaksinya:
CaCl2 + Na2CO3 CaCO3 (padatan/endapan) + 2NaCl (larut)
CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 (padatan/endapan) + Na2SO4 (larut)
MgCl2 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaCl2 (larut)

MgSO4 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaSO4 (larut)

Cara paling mudah untuk mengetahui air yang digunakan adalah air sadar
atau bukan yaitu dengan menggunakan sabun. Ketika air yang digunakan adalah
air sadah, maka sabun akan sukar berbuih, Untuk mengetahui jenis kesadahan
air yakni dengan pemanasan. Jika ternyata setelah dilakukan pemanasan, sabun
tetap sukar berbuih, berarti air tersebut adalah air sadah tetap.
Untuk menghilangkan kesadahan sementara ataupun kesadahan tetap
pada air dapat dilakukan dengan menggunakan zeolit. Cukup menyediakan
wadah yang dapat menampung zeolit. Pada dasar wadah sudah dibuat keran. Air
yang akan digunakan dilewatkan pada zeolit terlebih dahulu. Air yang telah
dilewatkan pada zeolit dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga, seperti
mencuci, mandi dan keperluan masak. Zeolit memiliki rumus kimia
Na2(Al2SiO3O10).2H2O atau K2(Al2SiO3O10).2H2O. Zeolit mempunyai struktur
tiga dimensi yang memiliki pori-pori yang dapat dilewati air. Ion Ca2+ dan Mg2+
akan ditukar dengan ion Na+ dan K+ dari zeolit, sehingga air tersebut terbebas
dari kesadahan.

Kesimpulan
Pada praktek menentukan tingkat kesadahan suatu sampel air dengan
menggunakan reaksi pembentukkan ion kompleks. Pada air sumur penentuan
kesadahan tetap didapatkan massa CaCO3 sebesar 162.40 mg dengan nilai ppm
sebesar 1624 ppm. Sedangkan kesadahan total pada air keran didapatkan massa
CaCO3 sebesar 6.313 mg dan nilai ppm CaCO3 sebesar 61.313 ppm. Dengan
konsentrasi EDTA adalah 0.0992 M.

3. Penetapan Kadar Asam Buah Dengan Menggunakan


Metode Titrasi Asidi-Alkalimetri

Dasar Teori
Asam yang terkandung dalam buah dapat berbentuk asam askorbat
(vitamin C) juga mengandung asam sitrat. Kandungan asam buah sebagai asam
sitrat dapat ditetapkan dengan metode titrimetri berdasarkan reaksi asam basa.
Dimana asam yang terdapat buah diekstrak dengan metode ekstraksi sederhana
kemudian ditritrasi dengan larutan basa hingga tercapai titik akhir. Indikator
diperlukan dalam pencapaian titik akhir titrasi. Titik akhir didapatkan ketika
terjadi perubahan warna larutan (tergantung dari indicator yang digunakan).
Asidimetri ini dilakukan pada penetapan asam buah pada jeruk. Asam
yang terkandung dalam buah dapat berbentuk asam askorbat (Vitamin C) juga
mengandung asam sitrat. Kandungan asam buah sebagai asam sitrat dapat
ditetapkan dengan metode titrimetri berdasarkan reaksi asam basa. Dimana asam
yang terdapat dalam buah diekstrak dengan metode ekstraksi sedrhana kemudian
dititrasi dengan larutan basa hingga tercapai titik akhir. Indikator diperlukan
dalam pencapaian titik akhir titrasi. Titik akhir didapatkan ketika terjadi
perubahan warna larutan (sesuai dengan indikator yang digunakan.

Reaksi
C6H8O7 + NaOH

C6H7O6Na + H2O

Alat dan Bahan


Alat

Bahan

Buret 50 ml

Sampel

Erlenmeyer 150 ml

NaOH 0,1 N

Corong

Asam Oksalat

Labu ukur 50 ml

Pipet Volumetrik 5 ml

Indikator Phenolpthalein

Cara Kerja
1. Ditetapkan Normalitas NaOH dengan Asam Oksalat
2. Ditimbang 1-5 garam daging buah, haluskan dengan penggerus , atau parut,dll.
3. Dipindahkan secara kuantitatif ke dalam Erlenmeyer, ditambahkan beberapa
tetes indikator PP
4. Dititrasi dengan NaOH 0.1 N sampai terjadi perubahan warna
5. Dihitung kadar asam buah sebagai % asam sitrat dalam daging buah

Data Pengamatan
Penetapan Normalitas NaOH
Bobot asam oksalat

= 1.0081 gram

Volume rata-rata NaOH


Faktor pengenceran

No
.

= 10

ml Asam
Oksalat

Normalitas

= 18.85 ml

10

NaOH =

ml NaOH yang dibutuhkan


rata
1
2
rata
18.
18.
18.8
8
9
5

bobot Asam Oksalat


Fp x volume NaOH X BST

1008 .1 g
63 g .mol 1 x 18 .85 ml x 10

= 0.0849 N

Penitaran Asam Sitrat dengan NaOH


Sampel
Volume NaOH Rata-rata
9.15 ml
Jeruk
9.23
9.30 ml

Perhitungan
Molaritas NaOH

= 0.0849 M

Vol penitar (NaOH)

= 9.23 ml

Bobot buah jeruk

= 24.1987 gram

Volume Asam Sitrat

= 5 ml

Faktor Pengencer (fp)

= 50 ml/5 ml = 10x

BM asam sitrat (C6H8O7) = 192 gram/mol


M (NaOH) x V(NaOH)
M Asam Sitrat =

= M (Asam sitrat) x V (Asam sitrat)


ml NaOH N NaOH
ml AsamSitrat

9.23 ml 0.0849 N
5 ml
= 0.1567 M

M Asam Sitrat =

gram asam sitrat


Mr x V asam sitrat x fp

M Asam Sitrat

gram asam sitrat


gram asam sitrat

= 0.1567 M x 192 g .mol


=1.5043 gram

x 5.10 3 L x 10

gram asam sitrat


X 100 %
gram buah jeruk
1.5043 gram
=
X 100 %
24 .1987 gram

% Asam Sitrat dalam buah jeruk =

= 6.22 % b / b

Pembahasan
Asidi dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion
hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa
untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan
sebagai reaksi antara pemberi proton (asam) dengan penerima proton (basa).
Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap
senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam.
Sebaliknya alkalimetri merupakan penetapan kadar senyawa-senyawa yang
bersifat asam dengan menggunakan baku basa.
Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun
dan buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini merupakan bahan
pengawet yang baik dan alami, selain digunakan sebagai penambah rasa masam
pada makanan dan minuman ringan. Dalam biokimia, asam sitrat dikenal sebagai
senyawa antara dalam siklus asam sitrat, yang penting dalam metabolisme
makhluk hidup, sehingga ditemukan pada hampir semua makhluk hidup. Zat ini
juga dapat digunakan sebagai zat pembersih yang ramah lingkungan dan sebagai

antioksidan. Rumus kimia Asam Sitrat adalah C6H8O7 atau CH2(COOH)COH(COOH)-CH2(COOH), struktur asam ini tercermin pada nama IUPAC-nya,
asam 2-hidroksi-1,2,3-propanatrikarboksilat. Keasaman Asam Sitrat didapatkan
dari tiga gugus karboksil COOH yang dapat melepas proton dalam larutan. Jika
hal ini terjadi, ion yang dihasilkan adalah ion sitrat. Penggunaan utama Asam
Sitrat saat ini adalah sebagai zat pemberi cita rasa dan pengawet makanan dan
minuman, terutama minuman ringan. Kode Asam Sitrat sebagai zat aditif
makanan (E number) adalah E330. Sifat sitrat sebagai larutan penyangga
digunakan sebagai pengendali pH dalam larutan pembersih dalam rumah tangga.
Kemampuan Asam Sitrat untuk mengikat ion-ion logam menjadikannya berguna
sebagai bahan sabun dan deterjen.

Kesimpulan
Penetapan kadar asam buah dalam jeruk dilakukan dengan metode titrasi
asidi-alkalimetri yaitu metode titrasi yang dilakukan secara langsung dengan
menggunakan larutan NaOH. Analisis data menunjukkan bahwa total asam pada
buah jeruk adalah 6.22 % b/b dalam 24.1987 g daging buah jeruk.

4. PENETAPAN VITAMIN C DENGAN CARA IODOMETRI


LANGSUNG

Dasar Teori
Vitamin C adalah vitamin yang mudah larut dalam air, dan dapat
berbentuk sebagai asam L-Askorbat dan L-Dehidroaskorbat. Asam askorbat
(Vitamin C) bersifat pereduksi sehingga dengan adanya I2 maka vitamin C tadi
dapat teroksidasi. Titik akhir terbentuk saat semua vitamin C teroksidasi oleh I2.
Amilum dengan I2 membentuk suatu kompleks berwarna biru yang masih sangat
jelas meskipun konsentrasi I2 di dalam larutan sangat kecil

Reaksi

Alat dan Bahan


Alat

Erlenmeyer Asah 250 ml

Gelas Ukur 100 ml

Bahan

Buah Jeruk

Tablet vitamin C

Larutan I2

Buret Scelbach 50 ml

Indikator Kanji

Pipet Tetes

Air Suling

Statip

Neraca Analitik

Cara Kerja
1. Tetapkan Normalitas I2.
2. Timbang 20 gram daging buah jeruk, haluskan.
3. Tambahkan 100 ml air destilasi dan pindahkan secara kuantitatif ke dalam
erlenmeyer.
4. Tambahkan 1 ml amilum dan titrasi dengan I2 0.01 N.

Lakukan hal yang sama pada Vitamin C tablet yang ada di pasaran sebagai
pembanding

Data Pengamatan
Perhitungan Normalitas Natrium Tiosulfat
Bobot K2Cr2O7

= 0.1284 g

Volume Tio

= 20.0 ml

Bst K2Cr2O7

= 49

N tio

= bobot K2Cr2O7 / (Vtio X bst K2Cr2O7)

Ntio

= 128.4 / (20x49) = 0.131 N

Perhitungan Normalitas Iod yaitu :


Volume Na-tiosulfat

= 10 ml

Volume Iod

= 73.35 ml

Normalitas Na-tiosulfat = 0.131 N


N I2

= (V.N)Tio = (V.N)Iod

N Iod

= (V.N)Tio / VIod

N Iod

= (10 x 0.131)/73.35

N Iod

= 0.0179 N

Perhitungan
Normalitas Iod

: 0.0179 N

Bobot buah jeruk

: 24.1987 gram

Bobot tablet

: 0.2497 g

Volume Jeruk

: 5 ml

Faktor Pengencer (fp)

: 50 ml/5 ml = 10x

BM Askorbat

: 88 gram/mol

Vol.
Iod
0.8
ml
0.7
ml
1.4
ml
1.3
ml

Sampel
Jeruk

Tablet

Rata rata
0.75 ml

1.35 ml

% vitamin C (jeruk) = Vol Iod x Bst Asam Askorbat x N. Iod x fp X 100%


Bobot Sampel
% vitamin C (jeruk) = 0.75 ml x 88 x 0.0179 x 10 X 100%
24198.7 mg
= 0.0488 % dalam 24.1987 g daging buah jeruk
% vitamin C (tablet) = 1.275 ml x 88 x 0.0179 x 100%
249.7 mg
= 0.804 % dalam @ tablet

Pembahasan
Vitamin C dalam buah-buahan termasuk jeruk secara ilmiah telah terbukti
mampu

melindungi

tubuh

terhadap

serangan

kanker.

Hasil

penelitian

epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi vitamin C dari buah-buahan (salah


satunya jeruk) dan sayuran yang tinggi, memiliki efek perlindungan terhadap
kanker yang paling baik dibandingkan dengan konsumsi vitamin C dalam bentuk
tablet atau suplemen lainnya. Dalam praktikum ini dilakukan penetapan kadar
vitamin C dalam sampel buah jeruk dan tablet IPI 50 mg, dengan menggunakan
titrasi Iodimetri langsung.
Penetapan vitamin C ini dilakukan dengan metode titrasi Iodimetri yaitu
titrasi dengan I2 sebagai penitar. Dalam reaksi redoks harus selalu ada oksidator
(yang mengalami reduksi) dan reduktor (yang mengalami oksidasi). Sebab bila
suatu unsur bertambah bilangan oksidasinya (melepaskan e-) maka harus ada suatu
unsur berkurang bilangan oksidasinya (menangkap e-).Jadi tidak mungkin hanya
ada oksidator saja ataupun reduktor saja.

Larutan Baku.
a.

Larutan baku primer.


Jika zat untuk larutan baku mempunyai cirri-ciri stabil tidak mudah berubah
menjadi senyawa lain, kemurnian tinggi, BM tinggi.

b. Larutan baku sekunder.


Jika zat untuk larutan baku mempunyai cirri-ciri tidak stabil, BM rendah,
kemurnian tidak cukup tinggi, mudah berubahmenjadi senyawa lain.
Dalam metode ini analat dioksidasi oleh I2 tereduksi menjadi Ion Yodida
Ared + I2

= Aoks + I-

Yod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat, sehingga hanya zat-zat
yang merupakan reduktor yang cukup kuat yang dapat dititrasi. Indikator yang
digunakan adalah amilum, dengan perubahan dari tak berwarna menjadi biru. Yod
(I2) sebagai zat padat sukar larut dalam air, yaitu hanya sekitar 0,0013 mol/liter
pada 25oC, tetapi sangat mudah larut dalam larutan KI karena membuat ion I3.
Larutan Yod ini tidak stabil. Sehingga standarisasi perlu dilakukan
berulang kali. Pada praktikum ini digunakan larutan Tio Sulfat untuk
membakukan larutan Yod. Ketidakstabilan larutan Yod disebabkan oleh :
1. Penguapan Yod
2.

Reaksi Yod dengan karet, gabus, dan bahan oraganik lain yang

mungkin masuk dalam larutan lewat debu dan asap


3.

Oksidasi oleh udara pada pH rendah, oksidasi ini dipercepat

oleh cahaya dan panas.


Kandungan vitamin C sangat beragam atas varietas, berkisar antara 27,49
mg/100 gram daging buah, atau sebesar 270-490 ppm. Sari buah jeruk
mengandung 40-70 mg vitamin C plam sampel er 100 ml atau sebesar 400-700
ppm, tergantung pada jenis buahnya, semakin tua buah jeruk, biasanya makin
berkurang kandungan vitamin Cnya, tetapi semakin manis rasanya. Dari hasil
praktikum yang dilakukan didapatkan hasil kadar vitamin C dalam sampel buah
jeruk adalah sebesar 500 ppm, atau sebesar 50 mg/100 gram buah jeruk.
Selain sumber vitamin C, jeruk juga merupakan sumber asam folat yang
potensial. Satu buah jeruk dapat memenuhi 20 % dari kebutuhan asam folat
sehari-hari. Tingkat konsumsi makanan dengan kandungan folat tinggi, seperti

jeruk segar atau dalam bentuk jus, akan meningkatkan kadar folat. Peningkatan
kadar folat akan menurunkan kadar homosistein, resiko penyakit kardioraskolar
juga berkurang.

Kesimpulan
Kadar vitamin C dalam jeruk dan tablet vitamin C dapat ditentukan dengan
titrasi iodometri. Kadar vitamin C yang didapat dalam jeruk sebesar 0.0488 %
dalam 24.1987 g daging buah jeruk dan pada tablet vitamin C sebesar 0.804 %
dalam @ tablet.

5. PENENTUAN KONSENTRASI CAMPURAN KMNO4

K2CR2O7 DENGAN SPEKTROFOTOMETRI

Dasar Teori
Dalam praktikum kali ini dilakukan analisis spektrofotometri terhadap larutan KMnO4
dan K2Cr2O7, dimana kedua larutan tadi adalah larutan berwarna, sehingga dalam
analisis sederhana ini tidak ada pereaksi kimia lain yang ditambahkan dengan tujuan
membentuk senyawa supaya berwarna. Terlebih dahulu dicari panjang gelombang
optimum yang mampu menyerap secvara maksimal dari masing-masing larutan tadi.
Setelah diketahui panjang gelombang optimumnya maka dilakukan analisis terhadap
analat (analat merupakan campuran antara KMnO4 dan K2Cr2O7), dengan adanya
kurva standar dari masing-masing larutan maka akan dapat diketahui berapa kadar
masing-masing larutab tadi dalam analat.

Alat dan Bahan


Alat

Bahan

1. Spektrofotometer

1.

2. Kuvet

0.001 M dan K2Cr2O7 0.01 M

3. Labu ukur

2.

4. Pipet Volumetri

K2Cr2O7 dan KMnO4)


3.

Larutan Standar KMnO4


Analat (campuran antara
H2SO4 0.5M

Cara Kerja
1.

Pembuatan kurva standar

Buat secara terpisah larutan standard KMnO4 dan K2Cr2O7, masing


masing dengan cara mengencerkan menjadi 25 ml larutan baku
sebanyak 4, 8, 12, 16, 20 ml (pengenceran dengan H2SO4 0.5 M).

Baca absorbansi kedua set larutan standar pada panjang gelomnbang


yang tepat untuk KMnO4 dan K2Cr2O7 (dari tahap awal), dan blanko
H2SO4.

Buat kurva standar masing masing zat pada 2 panjang gelombang,


tentukan pula nilai konstanta (k) nya.

2.

Penentuan konsentrasi campuran

Pindahkan secara kuantitatif larutan sampel (campuran KMnO4 dan


K2Cr2O7) ke dalam labu takar 25 ml, encerkan sampai tanda tera
dengan H2SO4 0.5 M.

Baca absorbansinya pada 2 panjang gelombang ( untuk KMnO4 dan


K2Cr2O7)

3.

Hitung konsentrasi masing masing zat dengan k dari tahap 1.

Pengukuran

Siapkan spektrofotometer, nyalakan hingga stabil.

Siapkan tissue kering.

Siapkan kuvet.

Siapkan gelas piala sebagai penampung.

Ukur serapan blanko pada panjang ggelombang yang sesuai, kemudian


set display pada 0 absorben atau 100% transmittan.

4.

Ukut serapan masing masing contoh.

Pembuatan kurva kalibrasi


Buat plot absorben sebagai sumbu tegak dan konsentrasi (ppm) sebagai
sumbu datar untuk serapan larutan standar. Tentukan nilai slopenya.

Data Pengamatan
Penentuan Kurva kalibrasi Untuk Larutan KMnO4
No
1
2
3
4
5

Konsentrasi KMnO4
4.10-5 N
8.10-5 N
1,2.10-4 N
1,6.10-4 N
2.10-4 N

Nilai serapan (Abs)


0.149
0.331
0.488
0.667
0.826

Slope = Y / X
Slope = 4225.0
Penentuan Kurva Kalibrasi untuk Larutan K2Cr2O7
No
1
3
4
5
6

Konsentrasi K2Cr2O7
4.10-5 N
8.10-5 N
1,2.10-4 N
1,6.10-4 N
2.10-4 N

Slope = Y / X
Slope = 4242.5

Nilai serapan (Abs)


0.160
0.333
0.493
0.670
0.840

Penentuan Nilai Serapan Sampel Campuran


Konsentrasi = Abs/ Slope
No

450 nm

K2Cr2O7
(Abs)
Konsentrasi
0.450

1.06x10-4

550 nm

KMnO4
(Abs)
Konsentrasi
0.450

1.03x10-4

Pembahasan
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitans atau absorbans
suatu contoh sebagai fungsi panjang gelombang. Tujuan percobaan ini adalah
untuk memeriksa keaditifan, panjang gelombang maksimum dan absorbansi
KMnO4 dan K2Cr2O7 dengan melakukan pengukuran terhadap suatu deretan
contoh pada suatu panjang gelombang tunggal. Metode spektrofotometri sinar
tampak (visible) didasarkan pada penyerapan sinar tampak oleh suatu larutan
berwarna. Percobaan dilakukan dengan mengukur transmitan dari deret standar
sehingga diperoleh grafik antara panjang gelombang dengan absorbansi untuk
menentukan panjang gelombang maksimum.
Spektra UV-Vis telah lama digunakan untuk menentukan karakteristik
gambut. Metode yang seringkali digunakan untuk menentukan karakteristik zat
humus dari gambut adalah metode degradatif, dan non-degradatif, di samping itu
analisis komposisi kimia dan gugus fungsi. Salah satu metode non-degradatif ialah
penggunaan spektrofotometer UV-VIS .
Hasil perhitungan diketahui bahwa panjang gelombang maksimum untuk
KMnO4 525 nm dan untuk K2Cr2O7 395 nm. Panjang gelombang maksimum dapat
diketahui dengan melihat nilai absorbansi maksimum yang terukur pada
spektrofotometer untuk panjang gelombang tertentu. Larutan yang digunakan
sebagai larutan standar adalah larutan KMnO4 dan larutan K2Cr2O7. Masingmasing larutan dengan volume tertentu diencerkan hingga menjadi larutan standar
yang telah ditentukan. KMnO4 diencerkan dengan menambahan H2SO4 yang
berfungsi untuk memberikan suasana asam pada larutan tersebut sehingga tidak
terbentuk zat pengganggu seperti MnO2

Larutan standar dibuat dengan maksud untuk membuat kurva standar atau
kurva kalibrasi. Penetapan panjang gelombang maksimum dilakukan untuk
menetapkan panjang gelombang tertentu yang menyebabkan serapan maksimum.
Pada panjang gelombang tertentu, perubahan serapan untuk setiap satuan
konsentrasi adalah paling besar. Dengan demikian, akan didapatkan kepekaan dan
senditivitas pengukuran yang maksimum.

Kesimpulan
1. Dari hasil praktikum dan membuat kurva kalibrasi standar KMnO4 didapatkan:

Slope

= Y / X

Slope

= 4225.0

Abs Sampel

Konsentrasi

Sehingga konsentrasi KMnO4 dalam sampel didapatkan 1.03 x 10-4 N

= 0.434
= Abs/ Slope

2. Dari hasil praktikum dan membuat kurva kalibrasi standar K2Cr2O7


didapatkan:

Slope

= Y / X

Slope

= 4242.5

Abs Sampel

= 0.450

Konsentrasi

= Abs/ Slope

Sehingga konsentrasi KMnO4 dalam sampel didapatkan 1.06 x 10-4 N

DAFTAR PUSTAKA

Harvey David. 2000. Modern Analytical Chemistry. New York: McGraw-Hill Comp.
Khopkar.1984. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press.
Lukum, Astin P. 2005. Bahan Ajar Dasar-dasar Kimia Analitik. Gorontalo: UNG.
Teaching,Team . 2005. Modul Praktikum Dasar-dasar Kimia Analitik. Gorontalo:
UNG.
Underwood. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.
Patnaik Pradyot. 2004. Deans Analytical Chemistry Handbook Second Edition. New
York: McGraw-Hill Comp.
Skoog Douglas et al. 2002. Fundamentals of Analytical Chemistry Eight Edition.
Canada: Thomson Learning.
http://id.wikipedia.org/wiki/Titrasi_kompleksometri
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesadahan_air
Bintoro, 2008, Penentuan Kesadahan Sementara dan Kesadahan Permanen,
http://aabin.blogsome.com
Giwangkara, E., 2008,http://persembahanku.wordpress.com/2006/09/29/
mengapa mandi dipantai boros sabun
Indratmoko, S. dan Taufan R.H. (2010). Petunjuk Praktikum Kimia
Farmasi II, Cilacap : STIKES Al-Irsyad Al-Islaimyyah
Anonim.
(2009).
http://dxcommunitypha1.wordpress.com/2009/04/06/praktekkimia-titrasi-asam- basa/
Arrhenius.
(2009).
basa-arrhenius/,

http://belajarkimia.com/2009/01/definisi-asam-

Anonim.(2009).http://pdfdatabase.com/index.php?
q=titrasi+asam+basa+larutan+ kimia
Aisya. (2008). http://rgmaisyah.wordpress.com/2008/11/22/titrimetri/
Anonim.(2008). http://lppm.ubaya.ac.id/?d=3&id=135&m=1
Anonim. (2008). http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_sitrat

Day, RA dan Al. Underwood. (2002). Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta:


Erlangga
Harjadi, W. (1993). Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia
Day, RA dan Al. Underwood. (2002). Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta:
Erlangga
Harjadi, W. (1993). Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia
Yuliani, Dwi. (2009). Penentuan Kadar Logam Mangan (Mn) dan Krom (Cr)

dalam air minum hasil penyaringan Yamaha Water Purifier dengan


Metode Spektrofotometri Serapan Atom. Medan : Universitas
Sumatera Utara.