Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

SIMULASI PERSILANGAN MONOHIBRIDA

KELOMPOK 12
ASNI PURAEDAH

4411413001

MAILLY PAITICEN

4411413034

ISMA NURVAIZAH

4411413039

ROMBEL 1 BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

KEGIATAN 1
SIMULASI PERSILANGAN MONOHIBRID
A. Tujuan.
1. Membuktikan adanya prinsip segresi secara bebas
2. Membuktikan perbandingan Mendel pada F2 persilanagn
monohibrid yaitu perbandingan genotipe 1:2:1 dan perbandingan
fenotie 3:1
3. Dapat menggunakan uji chi-square (khi-kuadrat) dalam analisis
genetika Mendel.
B. Tinjauan Pustaka
Genetika berasal dari bahasa Yunani genno yang berarti
melahirkan, dalam ilmu biologi genetika dapat diartikan sebagai
cabang ilmu biologi yang mempelajari perwarisan sifat pada suatu
organisme maupun suborganisme. Dalam genetika kita dapat
mempelajari gen beserta seluruh aspeknya, seperti pewarisan
warna bunga pada suatu tanaman. Di dalam genetika terdapat juga
sifat-sifat tertentu seperti sifat dominan dan resesif, sifat-sifat inilah
yang nantinya akan mempengaruhi terbentuknya suatu sifat suatu
organisme.
a. Gen
Pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Hunt Morgan, ahli
Genetika dan Embriologi Amerika Serikat (1911), yang mengatakan
bahwa substansi hereditas yang dinamakan gen terdapat dalam
lokus, di dalam kromosom.
Menurut W. Johansen, gen merupakan unit terkecil dari suatu
makhluk hidup yang mengandung substansi hereditas, terdapat di
dalam lokus gen. Gen terdiri dari protein dan asam nukleat (DNA
dan RNA), berukuran antara 4 8 m (mikron).
b. Fungsi Gen
Fungsi gen antara lain:
a. Menyampaikan informasi kepada generasi berikutnya.
b. Sebagai penentu sifat yang diturunkan.
c. Mengatur perkembangan dan metabolisme.
c. Simbol-Simbol Gen

a. Gen dominan, yaitu gen yang menutupi ekspresi gen lain, sehingga
sifat

yang

dibawanya

terekspresikan

pada

turunannya

(suatu

individu) dan biasanya dinyatakan dalam huruf besar, misalnya A.


b. Gen resesif, yaitu gen yang terkalahkan (tertutupi) oleh gen lain (gen
dominan) sehingga sifat yang dibawanya tidak terekspresikan pada
keturunannya.
c. Gen heterozigot , yaitu dua gen yang merupakan perpaduan dari sel
sperma (A) dan sel telur (a).
d. Gen homozigot, dominan, yaitu dua gen dominan yang merupakan
perpaduan dari sel kelamin jantan dan sel kelamin betina, misalnya
genotipe AA.
e. Gen homozigot resesif, yaitu dua gen resesif yang merupakan hasil
perpaduan dua sel kelamin. Misalnya aa
f. Kromosom homolog, yaitu kromosom yang berasal dari induk betina
berbentuk serupa dengan kromosom yang berasal dari induk jantan.
g. Fenotipe, yaitu sifat-sifat keturunan pada F1, F2, dan F3 yang dapat
dilihat, seperti tinggi, rendah, warna, dan bentuk.
h. Genotipe, yaitu sifat-sifat keturunan yang tidak dapat dilihat,
misalnya AA, Aa, dan aa.
Tiap sifat makhluk hidup dikendalikan oleh sepasang faktor
keturunan yang dikenal dengan nama gen. Sepasang gen ini satu
berasal dari induk jantan dan yang lainnya dari induk betina. Gen yang
satu pasang ini disebut sebagai gen yang satu alela. Menurut Mendel
gen yang satu alela akan memisah pada waktu pembentukan gamet,
yang selanjutnya dikenal dengan prinsip segregasi secara bebas dan
gen akan berpasangan kembali pada waktu fertilisasi sehingga setiap
individu akan diploid. (Widianti, 2014)
Di waktu mendel mengawinkan tanaman ercis berbatang tinggi
dengan yang berbatang kerdil, hasil keturunan pertama seragam
berbatang tinggi. Suatu tanda bahwa sifat tinggi mengalahkan sifat
kerdil. Sifat demikian disebut sifat dominan. Sifat yang dikalahkan
disebut sifat resesif. Ketika tanaman keturunan pertama dibiarkan
menyerbuk

sendiri

didapatkan tanaman

keturunann

kedua

yang

mempelihatkan pemisahan dengan perbandingan kira-kira batang


tinggi dan batang kerdil. (Suryo,1984)
Menurut hukum Mendel I atau hukum segregasi secara bebas
(The Law of Segregation of Allelic Genes ) menyebutkan bahwa pada
pembentukan gamet, gen-gen akan memisah secara bebas menjadi
dua sel gamet. Dari hukum tersebut dapat diketahui melalui percobaan
persilangan

monohibrida.

Persilangan

monohibida

merupakan

persilangan dengan satu sifat beda. Dengan melakukan percobaan


persilangan monohibrid dapat mengetahui pola pewarisan sifat dari
induk kepada generasi berikutnya. Persilangan ini untuk membuktikan
hukum Mendel I yang menyatakan bahwa pasangan alel pada proses
pembentukkan sel gamet dapat memisah secara bebas.
Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa pada pembentukan
gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan
pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu
gen dari induknya. Secara garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok :
1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada
karakter turunannya. Ini adalah konsep mengenai dua macam alel;
alel resisif (tidak selalu nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf
kecil, misalnya w dalam gambar di sebelah), dan alel dominan
(nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf besar, misalnya R).
2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan
(misalnya ww dalam gambar di sebelah) dan satu dari tetua betina
(misalnya RR dalam gambar di sebelah).
3. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda (Sb dan sB
pada gambar 2), alel dominan (S atau B) akan selalu terekspresikan
(nampak secara visual dari luar). Alel resesif (s atau b) yang tidak
selalu terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet yang
dibentuk pada turunannya. (Syafitra, 2013)
Contoh

persilangan

monohibrida

dapat

dilakukan

dengan

menyilangkan dua tanaman yang memiliki satu sifat beda. Misalnya


tanaman yang memiliki sifat batang tinggi dengan tanaman yang
bersifat batang pendek. Dari persilangan tersebut akan menghasilkan

keturunan pertama (F1) yang seragam yang semuanya berbatang


tinggi. Ketika dilakukan penyilangan antara F1 akan menghasilkan
keturunan kedua (F2) yang memiliki perbandingan genotip 1 : 2 : 1 dan
perbandingan fenotip 3 : 1.
Untuk menguji teori Mendel tersebut, kami melakukan praktikum
di laboratorium genetika dengan menggunakan bantuan media kancing
genetika. Kancing genetika digunakan untuk mewakili gen dan sifat
yang dimiliki tanaman yang disilangkan. Kami menggunakan kancing
genetika dengan dua warna yang berbeda masing masing sebanyak
50 buah.
Kami melakukan percobaan persilangan monohibrida dimana
tanaman yang kami misalkan adalah antara tanaman kacang berbiji
Bulat (genotip KK) dengan kacang yang berbiji keriput (genotip kk).
Kancing genetika yang digunakan berwarna merah untuk mewakili gen
kacang berbiji bulat dan kancing berwarna putih untuk mewakili kacang
yang berbiji keriput.
Dengan melakukan percobaan persilangan monohibrid, kami
berharap dapat membuktikan apakah ada prinsip segregasi bebas
seperti yang telah disampaikan Mendel yaitu Hukum Mendel I.
Kemudian kami juga dapat membuktikan apakah persilangan antara
keturunan pertama (F1) dari galur murni menghasilkan keturunan (F2)
dengan perbandingan genotip 1 : 2 : 1 dan perbandingan fenotip 3 : 1.
Hukum Mendel I berlaku pada gametogenesis F1xF1 itu memiliki
genotif heterozigot. Gen yang terletak dalam lokus yang sama pada
kromosom, pada waktu gametogenesis gen sealel akan terpisah,
masing-masing pergi ke satu gamet (Yatim, 1986).
Perbandingan fenotip yang ditemukan dalam

persilangan

monohibrid tidak sepenuhnya merupakan perbandingan yang pasti.


Dalam

kejadian

nyata

terdapat

penyimpangan

atau

deviasi.

Perbandingan hasil persilangan di dalam kenyataan berbeda atau


memiliki selisih dengan perhitungan. Maka dari itu perlu diadakan
evaluasi. Cara evaluasi tersebut adalah dengan mengadakan chi-square
test(2) (Suryo, 1990).
C. Metode

1. Alat dan Bahan


Alat Kantung (Kantung plastik atau kantung baju) dan alat tulis.
Bahan 50 kancing genetika warna Merah dan 50 kancing genetika warna
Putih.
2. Cara Kerja
1) Mengambil dua warna kancing masing-masing 50,
menentukan simbol-simbol gen dan sifat yang diwakili oleh
setiap warna kancing.
2) Memisakan 50 kancing misal warna merah menjadi dua
bagian, masing-masing terdiri dari 25 gamet jantan dan 25
gamet betina. Demikian pula dengan 50 kancing dengan
warna yang lain.
3) Memasukan 25 kancing merah dengan 25 kancing putih
sebagai gamet jantan kedalam kantong yang sama. Demikian
pula dengan gamet betina
4) Mengambil satu secara acak sari kantong pertama dan
kantong kedua, mempertemukannya dan mentabulasikannya.
5) Melakukan terus hingga ancing genetika habis. Dengan dua
kali pengulangan percobaan.
6) Menghitung perbadingan yang diperoleh baikperbandingan
genotipe maupun fenotipe.
7) Mencari hasil uji percobaan dengan khi-kuadrat.

D. Hasil
1. Data kelompok
Misalkan menyilangkan kacang berbiji bulat dengan kacang berbiji keriput.
T = Pohon Mangga tinggi
t = Pohon Mangga pendek

NO

Kombinasi
kancing
(kombinasi
) gen
Merahmerah
TT

Tally
Fenoti
pe
Tinggi

IIIII IIIII
IIII

II

IIIII IIIII
IIII

Frekuensi
I
II

14

14

Jumla
h
28

Mera-putih
Tt

Tinggi

IIIII IIIII
IIIII
IIIII
I

IIIII IIIII
IIIII
IIIII
I

21

21

42

Putih-putih
tt

tinggi

IIIII IIIII
IIIII

IIIII IIIII
IIIII

15

15

30

50

50

100

E. Analisa Data
Ho : Percobaan sesuai dengan Hukum Mendel 1
Ha : Percobaan tidak sesuai Hukum Mendel 1
Rumus Khi-kuadrat :

x=

(fo fh)
fh

Genotip

Fenotip

fh

fo

(fo-fh)2

(fo-fh)2/fh

1MM

Tinggi

25

28

0,36

2Mm

Tinggi

50

42

64

1,28

1mm

Pendek

25

30

25

1
2,64

= 0,05
db = n-1 = 3-1 = 2
Kriteria Pengujian
Ho diterima bila X2hitung X2 (0,05 ; 2)
X2hitung X2 (0,05;2 ) = 2,64 5,99
Kesimpulan Ho diterima
Jadi percobaan yang dilakukan sesuai dengan Hukum Mendel 1
F. Pembahasan
1. Genotip

Pada
percobaan
simulasi
persilangan
monohibrid
ini
kami
menggunakan total 100 kancing genetika dimana 50 kancing berwarna
merah dan 50 kancing berwarna putih sebagai perumpamaan gen. Kami
melakukan percobaan persilangan antara tanaman mangga dengan pohon
tinggi yang dalam hal ini diwakili oleh kancing berwana merah dan
bergenotip TT dengan tanaman mangga pohon pendek yang diwakili
kancing bewana putih bergenotip tt.
Kelimapuluh dari masing-masing warna kancing diperumpamakan
sebagai alel, dengan setiap satu kancing merupakan satu gamet, yang
berarti dari masing-masing kancing terdapat 25 pasang gamet yang
nantinya akan memisah saat proses pembentukan gamet atau segresi dan
nantinya akan berpasangan kembali pada saat proses fertilisasi, dalam
praktikum ini ditunjukan dengan pemasukan 25 dari masing-masing
kancing kedalam satu kantong, dan sisanya kedalam kantong lainnya.
Kantong-kantong yang berisi kancing genetika diibaratkan sebagai
lokus pada betina dan jantan. Saat pencampuran kedua dari masingmasing jenis kancing telah didapatkan F1 yaitu pohon mangga tinggi
dengan genotipe Tt. Untuk menentukan F2 dari masing-masing kantong
diambil satu kancing kemudian dipasanyakan sampai kancing habis, hal
ini menggambarkan pasangan genotipe yang terbetuk dari persilangan
monohibrid. Simulasi ini kemudian diulang sampai dua kali guna
membandingkan hasil persilangan.
Hasil dari simulasi yang dilakukan menunjukan bahwa dari 100 sampel
yang didapatkan pebandingan antara genotipe TT : Tt : tt, yang
menyatakan bahwa dari hasil persilangan genotipe seharusnya
didapatkan perbandingan 1 : 2 : 1, sedangkan hasil simulasi
perbandingannya 0,9 : 1,4 : 1. Namun meskipun angka yang diperoleh tidak sama
persis dengan teori, setidaknya angka ini mendekati.
Sehingga untuk mengetahui penyebab terjadinya kesalahan serta
presentasi kesalahan digunakan analisa khi-kuadrat.
Uji khi-kuadrat berguna untuk menguji hubungan atau pengaruh dua
buah variabel nominal dan mengukur kuatnya hubungan antara variabel
yang satu dengan variabel nominal lainnya (C = Coefisien of contingency).
Karakteristik khi-kuadrat yaitu nilai khi-kudrat selalu positip, terdapat beberapa
keluarga distribusi khi-kudrat, yaitu distribusi khi-kuadrat dengan DK=1, 2, 3, dst
dan bentuk distribusi khi-kaudrat adalah menjulur positip (Widjayanto, 2009).
Dalam hitungan,harus di perhatikan besarnya derajat kebebasan (bahasa inggrisnya :
degree of freedom),yang nilainya sama dengan jumlah kelas fenotip di kurangi dengan
satu.Dalam tabel,makin kekanan nilai kemumgkinan itu makin menjauhi nilai 1,yang berarti
bahwa data hasil percobaan yang di peroleh itu tidak baik.Makin kekiri nilai kemungkinan

makin mendekati 1 (100%),yang berarti bahwa data percobaan yang di peroleh adalah
baik.Apabila nilai x2 yang di dapat dari perhitungan terletak di bawah kolom nilai
kemungkinan 0,05 atau kurang (0,1 atau 0,01) itu berarti bahwa faktor kebetulan hanya
berpengaruh sebanyak 5% atu kurang,sehingga data percobaan yang di dapat di nyatakan
buruk.Apabila nilai x2 yang di dapat dari perhitungan letaknya di dalam kolom kemungkinan
0,01 atau ahkan 0,001 itu berarti bahwa data yang di peroleh pada percobaan itu sangat
buruk, (Suryo,2004).
Dari hasil uji khi-kuadrat yang dilakukan didapatkan nilai X 2 hitung 2,64 sedangkan X2
diterima bernilai 5,99. Apabila X2 hitung bernilai lebih kecil dari x2 tabel maka ho diterima.
Hasil percobaan menujukan bahwa ho diterima dengan presentasi kesalahan 5% yang
mengindikasikan bahwa hukum mendel terbukti kebenarannya.
Kami menyimpulkan bahwaPresetasi kesalahan 5% yang didapatkan dapat dikarenakan
beberapa faktor diantaranya , kurang homogennya pengocokan kancing genetika sehingga
kancing genetika yang diperumpamakan sebagai gamet tidak tercampur merata dan
memungkinkan terjadinya kesalahan yang signifikan.
2. Fenotipe.
Hasil perbandingan fenotipe dari tumbuhan mangga tinggi dengan tumbuhan mangga
pendek yang di dapatkan dari hasil simulasi persilangan monohibrid yaitu 70 : 30 atau 2,33 :
1, sedangkan menurut hukum mendel perbandingan fenotipe yang di dpatkan seharusnya 3 :
1. Hal ini menunjukan bahwa hasil simulasi mendekati teori yang seharusnya.
Dan jika kita menuliskan persilangannya juga akan sesuai dengan hukum Mendel
tersebut, yaitu:
P:

TT

>< tt

(Tinggi) (Pendek)
F1:

Tt
(Tinggi)

F1>< F1: Tt

><

(Tinggi)
G:

T,t

Tt
(Tinggi)
T, t

F2 :
Fenotip (Genotip)

Tinggi(T)

Pendek (t)

Tinggi (T)

TT

Tt

Pendek (t)

tT

tt

Jadi berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, didapatkan hasil persilangan


dengan perbandingan yaitu sebagai berikut:
- Rasio Genotifnya = TT : Tt : tt = 28 : 42 : 30 = 0,9 : 1,4 : 1
- Rasio Fenotifnya = Tinggi : Pendek = 70 : 30 = 2,3 : 1
G. Simpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan, terbukti bahwa
perbandingan Mendel pada F2 persilangan monohibrida, yaitu perbandingan genotip 1 : 2 : 1
dan perbandingan fenotip 3 : 1 atau hampir mendekati yang dibuktikan dengan uji ChiSquare dan hasilnya Ho diterima.
Prinsip segregasi secara bebas memang benar adanya dengan dilakukannya percobaan
pemisahan 25 pasang kancing dengan jumlah sama besar dan di silangkan dengan 25 buah
kancing berbeda warna yang lainnya kemudian disilangkan kembali secara acak yang
kemudian menghasilkan keturunan F1 dan F2 dengan adanya perbandingan tertentu yang
cenderung stabil.

H. Daftar Pustaka.
Suryo, 2004. Genetika. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Suryo, 1990.Genetika Manusia.Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

http://www.biotech.iastate.edu/publications/mendel/ModuleI.pdf
Yatim, wildan. 1986. Genetika. Bandung: Penerbit Tarsito.

Anda mungkin juga menyukai