Anda di halaman 1dari 14

I.

Identitas
Nama

: An. K

Tanggal lahir

: 24 September 2013

Usia

: 1 tahun 4 bulan

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pendidikan

: Belum Sekolah

Alamat

: Jln. Bojong Larang RT 03 RW 04 Tangerang

Keluarga yang bisa dihubungi: 085883697477


Tanggal masuk RS

: 26 Januari 2015

Tanggal pemeriksaan : 26 Januari 2015


Tanggal pulang
II.

: 29 Januari 2015

Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis di bangsal RSUS pada tanggal 26
Januari 2015
Keluhan utama:
Pasien datang bersama kedua orang tuanya dengan keluhan kejang sejak 2 jam
SMRS
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien datang bersama kedua orang tuanya dengan keluhan kejang sejak 2 jam
SMRS. Kejang terjadi saat pasien sedang demam, lama pasien kejang 5 menit.
Kejang terjadi di seluruh badan (tanpa didahului gerakan badan sebagian). Sikap
badan pasien saat kejang adalah badan, kaki, tangan kaku lurus, dan gigi saling
merapat kaku, setelah kejang pasien langsung lemas tetapi tetap dalam keadaan sadar.
Hal yang dilakukan orang tua saat pasien kejang adalah memasukan handuk

kemulutnya dan memeluk pasien erat. Demam sudah dialami pasien sejak 4 hari
SMRS, suhu naik turun dengan suhu paling tinggi adalah 40,2 oC. Orang tua pasien
sempat memberikan parasetamol sebanyak tiga kali, setelah pemberian obat suhu
tubuh pasien sempat turun sebentar lalu meningkat lagi. Tidak ada riwayat batuk
maupun pilek. Pasien memiliki keluhan BAB cair sejak 3 hari SMRS,hari ini sudah
BAB cair sebanyak 4 kali, berwarna kuning, lebih banyak air dari pada ampasnya,
tidak terdapat lendir, darah,dan tidak terdapat bau asam. Pasien juga mengalami
muntah sejak 2 hari SMRS, hari ini sudah muntah sebanyak 5 kali berisi susu dan
makanan. Muntah terjadi setiap kali pasien makan. Minum ASI masih mau, BAK
tidak ada keluhan.
Riwayat penyakit dahulu:
Pasien tidak pernah mengalami riwayat kejang demam sebelumnya. Biasanya
setiap kali pasien demam pasien tidak pernah berobat, demam langsung turun ketika
sudah di kompres. Tidak ada riwayat alergi terhadap suatu makanan/minuman, obatobatan tertentu. Riwayat trauma didaerah kepala khususnya disangkal oleh orang tua
pasien.
Riwayat penyakit keluarga :
Di keluarga tidak ada yang memiliki riwayat kejang demam, epilepsi, ataupun
keluarga yang sedang menderita diare.
Riwayat kehamilan:
Selama kehamilan, ibu pasien tidak pernah menderita sakit tertentu, hanya
terdapat keluhan keputihan di minggu awal kehamilan. Ibu pasien tidak
mengkonsumsi obat-obatan tertentu selain vitamin yang didapat dari bidan. Ibu pasien
mengandung dua kali, tidak ada riwayat keguguran.
Kesan : tidak ada yang bermakna
Riwayat persalinan:
Pasien lahir pada usia kandungan yang sudah aterm, sectio secarea a/i tidak
adanya kontraksi, usia kehamilan 42 minggu. Berat badan lahir 3800 gram , panjang

badan lahir 49 cm dan lingkar kepala 35 cm langsung menangis. Pasien tidak


memiliki riwayat kuning ataupun sianosis.
Kesan : tidak ada yang bermakna
Riwayat nutrisi :
Pasien mengkonsumsi ASI sejak lahir sampai usia 6 bulan. Pada saat pasien
berusia 6 bulan,ASI diganti dengan susu formula dan mulai diberikan sereal serta
buah-buahan ( seperti pisang ). Pasien mulai mengkonsumsi nasi biasa pada saat usia
pasien 1 tahun, dan hingga saat ini pasien mengkonsumsi nasi dengan lauk pauk.
Namun pasien cenderung memilih-milih makanan dan jarang mengkonsumsi sayur
sayuran. Dalam sehari pasien makan sebanyak 3 kali.
Kesan : kuantitas cukup, tetapi kualitas kurang
Riwayat tumbuh kembang :
Tengkurap : 4 bulan

Bicara (1 kata) : 12bulan

Duduk : 6- 7 bulan

Coret-coret : 12bulan

Merangkak : 7 bulan

Mengerti perintah : 12bulan

Berdiri : 9 bulan
Berjalan : 12 bulan
Riwayat imunisasi :
Hepatitis B

: 0,1,6 bulan

Polio

: 0, 2,4,6 bulan

BCG

: 1 bulan

DTP

: 2,4,6 bulan

Hib

: 2,4,6 bulan

Campak

: 9 bulan

Ibu pasien mengaku sudah melakukan imunisasi lengkap hingga imunisasi campak.

Riwayat sosial ekonomi dan kondisi lingkungan :


Pasien tinggal bersama kedua orangtuanya. Ayah bekerja sebagai wiraswasta, ibu
sebagai ibu rumah tangga.
III.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 26 Januari 2015
Keadaan umum : Tampak rewel
Kesadaran : komposmentis
Tanda-tanda vital :
Laju nadi

: 130 x/menit (reguler, isi cukup, equal)

Laju napas

: 38 x/menit

Suhu

: 37,6oC

Status gizi dan antropometri :


Berat badan

: 10 kg (diantara garis Z-score 0 s/d +2 kurva WHO status gizi

baik)
Panjang badan : 80 cm (di garis Z-score +2 kurva WHO perawakan normal )
BB/PB : 11 kg (di antara garis Z-score 0 s/d -1 kurva WHO status gizi baik)
Lingkar kepala: 45 cm (di garis Z-score ) kurva WHO normocefali)
Kesan : status gizi baik, perawakan normal

Status Generalisata :
Kulit : warna kulit sawo matang, tidak terdapat lesi, tidak terdapat perdarahan
ataupun jaringan parut.
Kepala: bentuk normosefali, ubun-ubun besar sudah tertutup
Wajah : simetris, tidak tampak adanya parese pada wajah

Mata : konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor 2mm/2mm, Refleks
cahaya langsung dan tidak langsung +/+, Gerakan bola mata tidak terbatas
( baik ke segala arah).
Hidung: tidak tampak adanya sekret.
Telinga: tidak tampak adanya sekret.
Mulut : mukosa bibir kering, lidah kotor (bekas susu), tidak tampak adanya karies,
tidak tampak adanya gusi yang berdarah/bengkak, bau napas (-)
Tenggorokan: T1/T1, faring tenang.
Leher : tidak terdapat kaku kuduk, tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening
ataupun tiroid.
Thorax: bentuk simetris, retraksi (-)
Paru :
Inspeksi : tidak tampak adanya gerakan napas yang tertinggal, simetris pada saat statis
maupun dinamis
Palpasi : ekspansi paru simetris
Perkusi : terdengar sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi: suara napas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/Jantung:
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis tidak teraba
Auskultasi : suara jantung S1S2 reguler, terdengar murmur(-),gallop (-)
Abdomen : datar, supel, NT (-), BU (+) normal, tidak teraba pembesaran hepar/limpa.
Punggung: skoliosis (-)
Ekstremitas : akral hangat, edem (-), CRT < 2 detik

Neurologis : reflek fisiologis (+), reflek patologis (-),rangsang meningeal (-)


Kekuatan otot :

IV.

5 5
5 5

Resume
Pasien datang bersama kedua orang tuanya dengan keluhan kejang sejak 2 jam
SMRS. Kejang terjadi saat pasien sedang demam, lama pasien kejang 5 menit.
Kejang terjadi di seluruh badan (tanpa didahului gerakan badan sebagian). Sikap
badan pasien saat kejang adalah badan, kaki, tangan kaku lurus, dan gigi saling
merapat kaku, setelah kejang pasien langsung lemas tetapi tetap dalam keadaan sadar.
Demam sudah dialami pasien sejak 4 hari SMRS, suhu naik turun dengan suhu paling
tinggi adalah 40,2oC. Orang tua pasien sempat memberikan parasetamol sebanyak tiga
kali, setelah pemberian obat suhu tubuh pasien sempat turun sebentar lalu meningkat
lagi. Pasien memiliki keluhan BAB cair sejak 3 hari SMRS,hari ini sudah BAB cair
sebanyak 4 kali, berwarna kuning, lebih banyak air dari pada ampasnya, tidak terdapat
lendir, darah,dan tidak terdapat bau asam. Pasien juga mengalami muntah sejak 2 hari
SMRS, hari ini sudah muntah sebanyak 5 kali berisi susu dan makanan. Muntah
terjadi setiap kali pasien makan. Minum ASI masih mau. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan keadaan umum : tampak rewel, kesadaran : komposmentis, laju nadi : 130
x/menit (reguler, isi cukup, equal), laju napas: 38 x/menit, suhu: 37,6oC. Status gizi
baik, perawakan normal. Pemeriksaan fisik generalisatanya dalam batas normal,
reflek fisiologis (+), reflek patologis (-), rangsang meningeal (-) kaku kuduk(-),
kekuatan otot baik.

V.

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium

Pemeriksaan
Hemoglobin
Hematokrit
Eritrosit (RBC)
Leukosit (WBC)
Basofil
Eosinofil
Neutrofil batang
Neutrofil segmen

Hasil 09/02/2015
11,41 g/dL
36,88 %
6,7 x 106/l
7,57 x 103/l
1%
0%
3%
61%

Nilai Normal
10,8 15,6 g/dl
33 45 %
3,8 5,8 x 106/l
4,5 13,5 x 103/l
01%
13%
26%
50 70 %

Limfosit
Monosit
Trombosit
ESR
MCV
MCH
MCHC
Blood Random Glucose
Sodium (Na)
Potasium (K)
Chloride (Cl)

VI.

27%
10%
238,2 x 103/l
8 mm/jam
72,09 fL
25,03 pg
33,92 g/dL
102 mg/dl
139 mmol/L
4,9 mmol/L
105 mmol/L

25 40 %
28%
150 440 x 103/l
0 15 mm/jam
69 73 fL
22 34 pg
32 36 g/dl
<200
137 145 mmol/L
3,6 5 mmol/L
98 107 mmol/L

Diagnosis kerja
Kejang demam sederhana e.c diare akut

VII.

Tatalaksana
Tatalaksana yang diberikan di RS:
IVFD D5 NS 1000 ml/24 jam
Paracetamol syr 3 x 100 mg (jika demam)
Diazepam supp 5 mg ( jika kejang)

VIII.

Prognosis
Ad vitam : ad bonam
Ad functionam : ad bonam
Ad sanactionam : dubia ad bonam

IX.

Follow up
Tanggal/jam
27 Januari 2015

Follow up
S: kejang (-), demam (-), BAB belum, BAK tidak ada keluahan,

09.00

Ma/mi baik
O: CM, tampak aktif
Nadi : 90x/menit (reguler, isi cukup, equal),

RR: 28x/menit, Suhu: 36,8oC


Mata: ca-/-, si-/-, pupil isokor, RC +/+, mata cekung (-),
air mata (+)
THT : faring hiperemis (-), T1/T1, sekret hidung bening
(+), mulut lembab
Thorax:bentuk

simetris,

retraksi

interkostal

dan

epigastrium(-)
Paru :
Inspeksi : tidak tampak adanya gerakan napas yang
tertinggal, simetris pada saat statis maupun dinamis
Palpasi : teraba taktil fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi : terdengar sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi: suara napas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing
-/Jantung:
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis tidak teraba
Auskultasi : suara jantung S1S2 reguler, murmur (-),
gallop (-)
Abdomen : datar, supel, bising usus (+) normal, timpani,
tidak teraba pembesaran hepar/limpa, turgor < 2 detik
Ekstremitas : akral hangat, edem (-), sianosis (-)

A: Kejang demam sederhana e.c diare akut


P: IVFD D5 NS 1000 ml/24 jam

Paracetamol syr 3 x 100 mg (jika demam)


Diazepam supp 5 mg ( jika kejang)

28 Januari 2015

S: kejang (-), demam (-), BAB cair (-), sudah lembek/ lebih

08.00

berbentuk, BAK tidak ada keluahan, Ma/mi baik


O: CM, tampak aktif
Nadi : 100x/menit (reguler, isi cukup, equal),
RR: 31x/menit, Suhu: 36,2oC
Mata: ca-/-, si-/-, pupil isokor, RC +/+, mata cekung (-),
air mata (+)
THT : faring hiperemis (-), T1/T1, sekret hidung bening
(+), mulut lembab
Thorax:bentuk

simetris,

retraksi

interkostal

dan

epigastrium(-)
Paru :
Inspeksi : tidak tampak adanya gerakan napas yang
tertinggal, simetris pada saat statis maupun dinamis
Palpasi : teraba taktil fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi : terdengar sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi: suara napas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing
-/Jantung:
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis tidak teraba
Auskultasi : suara jantung S1S2 reguler, murmur (-),
gallop (-)

Abdomen : datar, supel, bising usus (+) normal, timpani,


tidak teraba pembesaran hepar/limpa, turgor < 2 detik
Ekstremitas : akral hangat, edem (-), sianosis (-)

A: Kejang demam sederhana e.c diare akut


P: IVFD D5 NS stopper
Paracetamol syr 3 x 100 mg (jika demam)
Diazepam supp 5 mg ( jika kejang)

29 Januari 2015

S: kejang (-), demam (-), BAB lunak, BAK tidak ada keluahan,

08.00

Ma/mi baik
O: CM, tampak aktif
Nadi : 120x/menit (reguler, isi cukup, equal),
RR: 34x/menit, Suhu: 36oC
Mata: ca-/-, si-/-, pupil isokor, RC +/+, mata cekung (-),
air mata (+)
THT : faring hiperemis (-), T1/T1, sekret hidung bening
(+), mulut lembab
Thorax:bentuk

simetris,

retraksi

interkostal

dan

epigastrium(-)
Paru :
Inspeksi : tidak tampak adanya gerakan napas yang
tertinggal, simetris pada saat statis maupun dinamis
Palpasi : teraba taktil fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi : terdengar sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi: suara napas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing

-/Jantung:
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis tidak teraba
Auskultasi : suara jantung S1S2 reguler, murmur (-),
gallop (-)
Abdomen : datar, supel, bising usus (+) normal, timpani,
tidak teraba pembesaran hepar/limpa, turgor < 2 detik
Ekstremitas : akral hangat, edem (-), sianosis (-)

A: Kejang demam sederhana e.c diare akut


P: IVFD D5 NS stopper
Paracetamol syr 3 x 100 mg (jika demam)
Diazepam supp 5 mg ( jika kejang)

X.

Analisis Kasus
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu

rektal di atas 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam terjadi
pada 2-4% anak berumur 6 bulan 5 tahun. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih
dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain misalnya
infeksi SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam. Kejang demam sederhana
adalah kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan
berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang
tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara
seluruh kejang demam. Kejang demam kompleks memiliki ciri sebagai berikut kejang lama
> 15 menit, kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial,
berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam. Kejang lama adalah kejang yang berlangsung

lebih dari 15 menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang anak
tidak sadar. Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam. Kejang berulang adalah kejang 2
kali atau lebih dalam 1 hari, di antara 2 bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi
pada 16% di antara anak yang mengalami kejang demam.
Pada pasien ini menunjukan tanda-tanda klinis seperti berusia 1 tahun dimana masih
berada dalam kategori rentang usia kejang demam. Kejang demam yang berlangsung singkat,
kurang dari 15 menit, dan berhenti sendiri, kejang berbentuk umum, tanpa gerakan fokal,
kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam dengan dasar ini maka pasien tersebut ditegakan
menderita kejang demam sederhana. Berdasarkan pemeriksaan fisik pun tidak ditemukan
adanya kelainan neurologis dan keadaan pasien yang komposmentis pada saat selesai kejang
dan juga tidak danya riwayat trauma dapat membantu dalam menyingkirkan adanya
penyebab intrakranium yang menyebabkan kejangnya. Kemudian adanya riwayat diare dan
muntah beberapa hari sebelumnya juga membantu dalam mencari tahu dasar penyebab terjadi
kejang demam pada pasien ini.
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi
dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain
misalnya gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat
dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit dan gula darah. Pemeriksaan cairan serebrospinal
dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Risiko terjadinya
meningitis bakterialis adalah 0,6%-6,7%. Pada bayi kecil seringkali sulit untuk menegakkan
atau menyingkirkan diagnosis meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas. Oleh
karena itu pungsi lumbal dianjurkan pada: bayi kurang dari 12 bulan sangat dianjurkan
dilakukan, bayi antara 12-18 bulan dianjurkan, bayi > 18 bulan tidak rutin. Bila yakin bukan
meningitis

secara

klinis

tidak

perlu

dilakukan

pungsi

lumbal.

Pemeriksaan

elektroensefalografi (EEG) tidak dapatmemprediksi berulangnya kejang, atau memperkirakan


kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh karenanya tidak
direkomendasikan. Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam
yang tidak khas. Misalnya: kejang demam kompleks. pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau
kejang demam fokal. Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti computed tomography scan
(CT-scan) atau magnetic resonance imaging(MRI) jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan
hanya atas indikasi seperti: kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis), paresis
nervus VI, dan papiledema.
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya

normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan kelainan neurologis pada sebagian
kecil kasus, dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang
berulang baik umum atau fokal.
Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor resiko
berulangnya kejang demam adalah : riwayat kejang demam dalam keluarga, usia kurang dari
12 bulan, temperatur yang rendah saat kejang, dan cepatnya kejang setelah demam. Bila
seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80%, sedangkan
bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya 10%-15%.
Faktor resiko menjadi epilepsi adalah :kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas
sebelum kejang demam pertama, kejang demam komplek dan riwayat epilepsi pada orang tua
atau saudara kandung. Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian
epilepsi sampai 4%-6%, kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan
epilepsi menjadi 10%-49%. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan
pemberian obat rumat pada kejang demam.
Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien datang kejang
sudah berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang obat yang paling cepat untuk
menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Dosis diazepam
intravena adalah 0,3-0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam
waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 20 mg.Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh
orang tua atau di rumah adalah diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg
atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk
berat badan lebih dari 10 kg. Atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak dibawah
usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun. Bila setelah pemberian
diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama
dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali pemberian diazepam rektal masih tetap
kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena
dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg.Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara
intravena dengan dosis awal 10-20 mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang
dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari, dimulai 12
jam setelah dosis awal.Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat
di ruang rawat intensif. Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung
dari jenis kejang demam apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor
risikonya.

Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai
berikut (salah satu):
1. Kejang lama > 15 menit
2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya
hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus.
3. Kejang fokal
4. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:

Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam

Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan

Kejang demam >4 kali per tahun