Anda di halaman 1dari 15

I.

Identitas
Nama

: An. N

Tanggal lahir

: 22 November 2013

Usia

: 1 tahun 3 bulan 15 hari

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Kristen

Pendidikan

: Belum Sekolah

Alamat

: Jln. Peusar Gg. Angrek 033/033


Tangerang Kabupaten Banten
Indonesia

Keluarga yang bisa dihubungi: Tn. Sendro Atendoikus Sitinjak ( 081316505073 )


Tanggal masuk RS

: 09 Maret 2015

Tanggal pemeriksaan : 09 Maret 2015

II.

Anamnesis
Anamnesis dilakukan Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis di bangsal
RSUS pada tanggal 9 Maret 2015, pukul 17.00
Keluhan utama:
Pasien datang bersama kedua orang tuanya dengan keluhan BAB cair sejak 3
hari SMRS.
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien datang bersama kedua orang tuanya dengan keluhan BAB cair sejak 3
hari SMRS. Frekuensi BAB pasien awalnya hanya dua kali sehari, kemudian semakin
lama frekuensi BAB pasien semakin bertambah yaitu lima kali sehari. BAB berwarna

kuning, lebih banyak air dibandingkan ampasnya (kadang tidak ada ampas), dengan
volume kurang lebih sebanyak gelas akua, tidak ada lendir, darah dan tidak berbau
asam. Pasien menjadi lebih rewel sejak mengalami diare. Sebelum BAB cair tersebut
terjadi, ibu pasien tidak merasa memberikan ataupun melihat pasien mengkonsumsi
makanan yang tidak biasa dikonsumsi. Pasien sudah berobat dari tiga hari yang lalu
ke klinik dekat rumah, namun setiap kali diberikan obat pasien memuntahkannya.
Pasien juga mengalami demam sejak tiga hari SMRS, demam dirasakan naik turun.
Suhu paling tinggi yang diukur oleh ibu pasien adalah 38,7C, setiap diberikan obat
demam, suhu tubuh pasien turun, tidak ada kejang. Ibu pasien lupa apa saja obat yang
diberikan. Pasien juga memuntahkan setiap makanan yang diberikan, namun masih
mau meminum ASI. Pasien meminum ASI dalam 1 harinya 5 kali selama 10 15
menit (biasanya lebih dari 8 kali minum ASI). Hari ini pasien juga mengalami muntah
sebanyak 2 kali. Muntah pasien sebanyak kurang lebih gelas akua, muntah berisi
obat bercampur ASI ( berwarna putih ). Pasien juga memiliki keluhan pilek sejak
kemarin, pilek yang dialami adalah cair dan bening. BAK tidak ada keluhan.
Riwayat penyakit dahulu:
Pasien memiliki riwayat kejang disertai demam saat usia 9 bulan. Pasien
memiliki dirawat di RS Anisa sejak tanggal 2-5 Maret 2015 dengan keluhan demam
yang naik turun, batuk, pilek dan didiagnosis menderita radang saluran pernafasan.
Pasien tidak memiliki riwayat alergi maupun asma.
Riwayat penyakit keluarga :
Di dalam keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat alergi maupun
asma. Di dalam keluarga pasien juga tidak ada yang sedang mengalami penyakit
diare.
Riwayat kehamilan:
Selama mengandung ibu pasien rutin melakukan pemeriksaan kandungan ke
bidan dan dokter. Tidak ada keluhan yang dialami ibu pasien selama mengandung. Ibu
pasien juga rutin mengkonsumsi vitamin dan susu selama masa kehamilan.
Kesan : tidak ada yang bermakna

Riwayat persalinan:
Pasien lahir pada usia kandungan yang sudah aterm, dilakukan sectio secarea
a/i CPD oleh spesialis kandungan di rumah sakit bersalin dengan berat badan saat
lahir 3.900 gr, panjang badan saat lahir 52 cm. Pasien tidak memiliki riwayat kuning
ataupun sianosis.
Kesan : tidak ada yang bermakna
Riwayat nutrisi :
Pasien sejak lahir mengkonsumsi ASI hingga saat ini. Pada usia 1 tahun pasien
diberikan susu formula tetapi pasien tidak mau. Pada saat usia 8 bulan pasien mulai
diberikan makanan pendaping ASI yaitu bubur saring sebanyak 3 kali sehari.
Kemudian saat usia 9 bulan pasien mulai diberikan buah dan sayur seperti apel dan
melon. Pasien cenderung tidak mau mengkonsumsi daging. Saat ini pasien sudah
mengkonsumsi nasi tim sebanyak tiga kali sehari.
Kesan : kualitas dan kuantitas makanan pasien baik
Riwayat tumbuh kembang :
Pasien mulai dapat mengangkat kepala dan tengkurap pada saat usia pasien 5
bulan. Pasien mulai dapat berdiri pada saat usia 1 tahun 1 bulan. Pada usia 1 tahun
juga pasien mulai dapat berbicara dengan kalimat-kalimat seperti mama, papa,
minum, dan mamam. Saat ini pasien sedang dalam tahap belajar berjalan.
Riwayat imunisasi :
Hepatitis B

: 0,1,6 bulan

Polio

: 0, 2,4,6 bulan

BCG

: 1 bulan

DTP

: 2,4,6 bulan

Hib

: 2,4,6 bulan

Campak

: 9 bulan

Imunisasi sudah lengkap diberikan sampai usia 9 bulan yang dilakukan di bidan.
Imunisasi BCG dilakukan di dokter SpA.
Riwayat sosial ekonomi dan kondisi lingkungan :
Pasien tinggal bersama kedua orang tuanya di kontrakan di Cikura. Ayah pasien
merupakan seorang karyawan di sebuah bengkel sedangkan ibu pasien merupakan
seorang ibu rumah tangga. Perawatan pasien dibiayai dengan BPJS.
III.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 09 Maret 2015
Keadaan umum : tampak rewel
Kesadaran : CM
Tanda-tanda vital :
Laju nadi

: 115 x/m (reguler, kuat, equal)

Laju napas

: 35 x/m (teratur)

Suhu

: 37oC

Status gizi dan antropometri :


Berat badan

: 10 kg (di antara garis Z-score 0 s/d -1 kurva WHOstatus gizi baik )

Panjang badan : 75 cm (di garis Z-score -2 kurva WHO perawakan pendek )


Berat badan/tinggi badan : 9,5 kg (di antara garis Z-score 1 s/d 0 SD kurva WHO
status gizi baik )
Lingkar kepala: 44,5 cm (Z-score -2 normocefali)
Kesan : status gizi baik, perawakan pendek

Status Generalisata :
Kulit : warna kulit sawo matang, tidak terdapat lesi, tidak ada pendarahan ataupun
jaringan parut.
Kepala: bentuk normosefali, ubun-ubun besar cekung
Wajah : simetris, tidak tampak adanya parese pada wajah
Mata : konjungtiva CA -/-, sklera SI -/-, pupil isokor 3mm/3mm, Refleks cahaya
RC+/+, Gerakan bola mata tidak terbatas ( baik ke segala arah). Kedua mata
cekung dan tampak sedikit air mata.
Hidung: tampak adanya sekret bening
Telinga: tidak tampak adanya sekret
Mulut : mukosa bibir kering, lidah bersih, belum ada gigi yang tumbuh, tidak tampak
peradangan maupun bengkak pada daerah gusi, bau napas (-), sianosis (-)
Tenggorokan: T1/T1, faring tenang
Leher : tidak terdapat kaku kuduk, tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening
ataupun tiroid.
Thorax: bentuk simetris, retraksi interkostal dan epigastrium (-)
Paru :
Inspeksi : simetris pada saat statis maupun dinamis
Palpasi : teraba taktil fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi : terdengar sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi: suara napas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/Jantung:
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis tidak teraba

Auskultasi : suara jantung S1S2 reguler, murmur(-),gallop (-)


Abdomen : datar, supel, timpani, tidak teraba pembesaran hepar/limpa, auskultasi
bising usus (+) meningkat, turgor kulit > 2 detik.
Punggung: skoliosis (-)
Genitalia : tidak tampak adanya eritema, eritema natum (-)
Ekstremitas : akral hangat, edem (-), sianosis (-)

IV.

Resume
Pasien laki-laki berusia 1 tahun, datang bersama kedua orang tuanya dengan
keluhan BAB cair sejak 3 hari SMRS. Frekuensi BAB pasien awalnya hanya dua kali
sehari, kemudian semakin lama frekuensi BAB pasien semakin bertambah yaitu lima
kali sehari. BAB berwarna kuning, lebih banyak air dibandingkan ampasnya (kadang
tidak ada ampas), dengan volume kurang lebih sebanyak gelas akua, tidak ada
lendir, darah dan tidak berbau asam. Pasien menjadi lebih rewel sejak mengalami
diare. Pasien juga mengalami demam sejak tiga hari SMRS, demam dirasakan naik
turun, dengan suhu paling tinggi adalah 38,7C. Setiap kali makan pasien pasti
memuntahkannya, namun pasien masih mau minum ASI walaupun ada penurunan
dari frekuensi biasanya. Hari ini muntah sebanyak 2 kali, sebanyak gelas akua,
muntah berisi makanan, obat bercampur ASI ( berwarna putih ). Pasien juga memiliki
keluhan pilek sejak kemarin, pilek yang dialami adalah cair dan bening. Pasien
memiliki riwayat kejang disertai demam saat usia 9 bulan. Pasien memiliki dirawat di
RS Anisa sejak tanggal 2 - 5 Maret 2015 dengan keluhan demam yang naik turun,
batuk, pilek dan didiagnosis menderita radang saluran pernafasan. Pasien tidak
memiliki riwayat alergi maupun asma. Di keluarga tidak ada yang memiliki riwayat
diare. Nutrisi pasien memiliki kualitas dan kuantitas makanannya baik. Pemeriksaan
fisik didapatkan keadaan umum : tampak rewel, kesadaran : komposmentis. Laju
nadi: 115 x/m (reguler, kuat, equal), laju napas: 35 x/m (teratur), suhu: 37oC, status
gizi baik, perawakan pendek ,ubun-ubun besar cekung, kedua mata cekung dan
tampak sedikit air mata, mukosa bibir kering, tampak adanya sekret bening di hidung,

auskultasi abdomen bising usus (+) meningkat, turgor kulit > 2 detik, eritema natum
(-), akral hangat.
V.

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
Pemeriksaan

09 Maret 2015
Pemeriksaan darah lengkap
Hemoglobin
11,9 g/dL
Hematokrit
36,5 %
Eritrosit (RBC)
5,09 x 106/l
Leukosit (WBC)
12,71 x 103/l
Diff. count
Basofil
1%
Eosinofil
0%
Neutrofil batang
3%
Neutrofil segmen
41 %
Limfosit
47%
Monosit
8%
Trombosit
342 x 103/l
ESR
8 mm/jam
MCV
71,70 fL
MCH
23,4 pg
MCHC
32,6 g/dL
Blood Random Glucose
83 mg/dL
Elektrolit
Sodium (Na)
136 mmol/L
Potasium (K)
3,6 mmol/L
Chloride (Cl)
103 mmol/L
Kesan : neutropenia, limfositosis

Nilai Normal
10,8 12,8 g/dl
35 - 43 %
3,6 -5,2 x 106/l
6 17,5 x 103/l
01%
13%
26%
50 70 %
25 40 %
28%
150 440 x 103/l
0 15 mm/jam
73 101 fL
23 31 pg
26 34 g/dl
33 111 mg/dL
137 145 mmol/L
3,6 5 mmol/L
98 107 mmol/L

Pemeriksaan Urin Lengkap


Pemeriksaan
Color
Appearance
Specific Gravity
pH
Leucocyte Esterase
Nitrit
Protein

10 Maret 2015
Makroskopik
Yellow
Clear
1,005
7
Negative cells/L
Negative
Negative mg/dL

Nilai Normal
Yellow
Clear
1,000 1,030
4,5 - 8
Negative cells/L
Negative
Negative mg/dL

Glucose
Keton
Urobilinogen
Bilirubin
Occult Blood
Erythrocyte
Leucocyte
Epithel
Casts
Crystals
Others
Kesan : normal

Negative mg/dL
Negative mg/dL
0,20 mg/dL
Negative
Negative cells/L
Mikroskopik
1 cells/L
1 cells/L
(1+)
Negative
Negative
Negative

Negative mg/dL
Negative mg/dL
0,10 1 mg/dL
Negative
Negative cells/L

10 Maret 2015
Yellow
Smooth
Negative
Negative
01
12
Not found
Negative
Negative
Negative
Negative
Positive
Negative

Nilai Normal
Yellow
Smooth
Negative
Negative
01
12
Negative
Negative
Negative
Negative
Negative
Negative
Negative

0 3 cells/L
0 10 cells/L
(1+)

Pemeriksaan Feses Lengkap


Pemeriksaan
Colour
Consistency
Mucus
Blood
Erytrosit
Leukosit
Amoeba
Egg worm
Yeast
Amylum
Fat
Fiber
Occult blood
Kesan: Normal
VI.

Diagnosis kerja
Diare akut e.c infeksi virus dengan dehidrasi ringan sedang.

VII.

Tatalaksana
Tatalaksana yang diberikan di RS:
IVFD Kaen 3 B 1000 ml/24jam
PCT 3x5 ml PO
Zinc 1x20mg PO
Oralit 100ml/diare

Diet bubur saring

VIII.

Prognosis
Ad vitam : ad bonam
Ad functionam : ad bonam
Ad sanactionam : ad bonam

IX.

Follow up
Tanggal/jam
10 Maret 2015

Follow up
S: BAB sebanyak 7 kali, siang 4 kali berwarna kuning air &

09.00

ampas. Malam 3 kali berwarna agak hijau air semua (1 pampers


penuh). Lendir (+) darah (-) bau asam (+). Sejak jam 9 malam
hingga pagi ini belum BAB, BAK (+),pilek (+) kental agak hijau.
Demam (-), tidak mau makan sama sekali, ASI (+) sering selama
kurang lebih 5-10 menit, mual (+), muntah (-).
O: CM, tampak aktif
Nadi : 110x/menit (reguler, isi cukup, equal),
RR: 30x/menit, Suhu: 36,5oC
Ubun-ubun besar : datar
Mata: ca-/-, si-/-, pupil isokor, RC +/+, mata cekung (-),
air mata (+)
THT : faring hiperemis (-), T1/T1, sekret hidung bening
(+), mulut lembab
Thorax:bentuk

simetris,

epigastrium(-)

retraksi

interkostal

dan

Paru :
Inspeksi : tidak tampak adanya gerakan napas yang
tertinggal, simetris pada saat statis maupun dinamis
Palpasi : teraba taktil fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi : terdengar sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi: suara napas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing
-/Jantung:
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis tidak teraba
Auskultasi : suara jantung S1S2 reguler, murmur (-),
gallop (-)
Abdomen : datar, supel, bising usus (+) normal, timpani,
tidak teraba pembesaran hepar/limpa, turgor < 2 detik
Ekstremitas : akral hangat, edem (-), sianosis (-)
A: diare akut e.c infeksi virus tanpa dehidrasi
P:

IVFD Kaen 3 B 500 ml/24jam

PCT 3x5 ml PO

Zinc 1x20mg PO

Oralit 100ml/diare

Diet bubur saring

11 Maret 2015

S: pagi ini BAB sebanyak 1 kali. Cairan BAB berwarna kuning,

06.00

lendir (+), darah (-). Pilek (+) cair bening, demam (-), ASI (+)

sering 5-10 menit, makan tidak mau, minum air tidak mau, BAK
(+), muntah (-) mual (+).
O: CM, tampak aktif
Nadi : 110x/menit (reguler, isi cukup, equal),
RR: 30x/menit, Suhu: 37,2oC
Ubun-ubun besar : datar
Mata: ca-/-, si-/-, pupil isokor, RC +/+, mata cekung (-),
air mata (+)
THT : faring hiperemis (-), T1/T1, sekret hidung bening
(+), mulut lembab
Thorax:bentuk

simetris,

retraksi

interkostal

dan

epigastrium(-)
Paru :
Inspeksi : tidak tampak adanya gerakan napas yang
tertinggal, simetris pada saat statis maupun dinamis
Palpasi : teraba taktil fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi : terdengar sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi: suara napas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing
-/Jantung:
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis tidak teraba
Auskultasi : suara jantung S1S2 reguler, murmur (-),
gallop (-)
Abdomen : datar, supel, bising usus (+) normal, timpani,
tidak teraba pembesaran hepar/limpa, turgor < 2 detik

Ekstremitas : akral hangat, edem (-), sianosis (-)


A: diare akut e.c infeksi virus tanpa dehidrasi
P:

X.

IVFD stopper

PCT 3x5 ml PO

Zinc 1x20mg PO

Oralit 100ml/diare

Diet bubur saring

Analisis Kasus
Diare adalah buang air besar yang frekuesinya lebih sering dan konsistensi tinja lebih

encer dari biasanya. Selama terjadi diare, tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit secara
cepat. Pada saat yang bersamaan, usus kehilangan kemampuannya untuk menyerap cairan
dan elektrolit yang diberikan kepadanya. Infeksi baik itu oleh virus, bakteri dan parasit
merupakan penyebab diare tersering. Virus, terutama Rotavirus merupakan penyebab utama
(60-70%) diare infeksi pada anak, sedangkan sekitar 10-20% adalah bakteri dan kurang dari
10% adalah parasit. Diare terjadi karena adanya gangguan proses absorpsi dan sekresi cairan
serta elektrolit di dalam saluran cerna. Pada keadaan normal, usus halus akan mengabsorbsi
Na+, Cl-, HCO3-. Timbulnya penurunan dalam absorpsi dan peningkatan sekresi
mengakibatkan cairan berlebihanmelebihi kapasitas kolon dalam mengabsorpsi.Mekanisme
ini sangat dipengaruhi oleh faktor mukosa maupun faktor intra luminal saluran cerna. Faktor
mukosa dapat berupa perubahan dinamik mukosa yaitu adanya peningkatan cell turnoverdan
fungsi usus yang belum matang dapat menimbulkan gangguan absorpsi-sekresi dalam saluran
cerna. Penurunan area permukaan mukosa karena atrofi vilus, jejas pada brush border serta
pemotongan usus dapat menurunkan absorpsi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi berulangnya diare diantaranya adalah usia muda (2
tahun pertama kehidupan). Insiden tertinggi pada golongan umur 6-11 bulan, pada masa
diberikan makanan pendamping. Terdapat beberapa perbedaan pada saluran pencernaan bayi

dan dewasa. Sistem pertahanan saluran cerna pada bayi masih belum matang. Sekresi asam
lambung belum sempurna saat lahir dan membutuhkan waktu hingga beberapa bulan untuk
dapat mencapai kadar bakteriosidal dimana pH < 4. Status gizi juga mempengaruhi
berulangnya diare seperti malnutrisi cenderung lebih berat diarenya,lebih lama dan angka
kematiannya lebih tinggi dibandingkan dengan diare pada anak dengan gizi baik. Malnutrisi
terjadi melalui beberapa mekanisme, meliputi penekanan faktor imunitas, perubahan struktur
mukosa usus serta defisiensi mikronutrien seng dan vitamin A. Seng berperanan dalam
imunitas tubuh melalui peranannya dalam proses limfoproliferatif maupun efek antioksidan.
Pemberian ASI juga berpengaruh, dimana anak yang mengkonsumsi ASI lebih terlindungi
terhadap penyakit infeksi terutama diare. Hal ini dikarenakan adanya faktor peningkatan
pertumbuhan sel usus sehingga vilus dinding usus cepat mengalami penyembuhan setelah
rusak karena diare. ASI mengandung antibodi. ASI terutama kolustrum sangat kaya akan
imunoglobulin A. ASI mengandung laktooksidase dan asam neuraminik yang mempunyai
sifat antibakterial terhadap E.coli dan Staphylococcus. Tingkat higienis-sanitasi yang buruk
dapat berakibat masuknya bakteri secara berlebihan ke dalam usus, sehingga dapat
mengalahkan pertahanan tubuh normal. Adanya keterbatasan dalam sosial ekonomi akan
berpengaruh terhadap kepadatan lingkungan tempat tinggal, penyediaan sumber air bersih,
keadaan higiene sanitasi lingkungan yang berhubungan dengan proses transmisi infeksi
enterik, khususnya pada negara berkembang. Tingkat pendidikan orang tua berpengaruh
terhadap perilaku dan pola hidup, dalam hal ini pendidikan ibu lebih berperanan. Pada pasien
faktor yang mungkin menyebabkan terjadinya diare adalah dari segi usia pasien yang
merupakan golongan usia dengan insiden tinggi karena telah diberikannya makanan
pendamping ASI, dan hal ini juga berhubungan erat dengan tingkat kebersihan di lingkungan
sekitar dan dalam rumah, serta sanitasi di rumahnya. Berdasarkan pemeriksaan penunjang
juga didapatkan adanya limfositosis yang menunjukan adanya infeksi virus, walaupun pada
pemeriksaan feses didapatkan hasil normal. Sehingga tidak diindikasikan untuk pemberian
antibiotik.
Berikut adalah tatalaksana yang dapat diberikan pada pasien dengan diare akut
diantaranya adalah mencegah atau mengatasi dehidrasi pada anak yang mengalami diare
dengan cara mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi, mengganti kehilangan cairan
yang sedang berlangsung, dan pemberian cairan rumatan. Cairan rehidrasi oral (CRO) atau
yang dikenal dengan nama oralit adalah cairan yang dikemas khusus, mengandung air dan
elektrolit digunakan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi saat diare.

Pada kondisi tanpa dehidrasi dimana buang air kecil masih seperti biasa, mata tidak
cekung, adanya air mata pada saat menangis maka dapat diteruskan pemberian ASI, tidak
perlu membatasi atau mengganti makanan, termasuk susu formula. Dapat diberikan CRO 510 ml setiap buang air besar cair.
Pada keadaan dehidrasi ringan-sedang, anak terlihat haus dan buang air kecil mulai
berkurang. Mata terlihat agak cekung, kekenyalan kulit menurun, dan bibir kering. Pada
keadaan ini, anak harus diberikan cairan rehidrasi dibawah pengawasan tenaga medis,
sehingga anak perlu dibawa ke rumah sakit. CRO diberikan sebanyak 15-20 ml/kgBB/jam.
Setelah tercapai rehidrasi, anak segera diberi makan dan minum. ASI diteruskan. Muntah
bukan larangan untuk pemberian CRO. CRO harus diberikan secara perlahan-lahan dan
konstan untuk mengurangi muntah. Keadaan anak harus sesering mungkin direevaluasi.
Pada keadaan dehidrasi berat dapat terlihat gejala klinis pada dehidrasi ringan-sedang,
pada keadaan ini juga terlihat napas yang cepat dan dalam, sangat lemas, kesadaran menurun,
denyut nadi cepat, dan kekenyalan kulit sangat menurun. Perlu diperhatikan juga tanda-tanda
adanya intoleransi laktosa seperti diare cair profus, kembung, sering flatus, sakit perut,
kemerahan di sekitar anus dan tinja berbau asam.
Pada pasien ini ditemukan BAK masih seperti biasa,namun frekuensi dari minumnya
berkurang dari biasanya, adanya ubun-ubun cekung, mata cekung, produksi air mata saat
menangis yang berkurang, turgor kulit yang menurun, dan bibir kering merupakan tanda dari
dehidrasi. Pada pemeriksaan tanda-tanda vital, keadaan pasien masih dalam batas normal
( tidak ditemukannya takikardi,takipneu dan kesadaran masih komposmentis) sehingga dapat
digolongkan ke dalam dehidrasi ringan-sedang. Tatalaksana yang telah dilakukan di rumah
sakit sudah tepat, yaitu dengan memberikan cairan rumatan sesuai berat badannya, pemberian
oralit, dan terus dilanjutkan pemberian ASI.
Antibiotika tidak diberikan secara rutin pada diare akut, meskipun dicurigai adanya
bakteri sebagai penyebab keadaan tersebut, karena sebagian besar kasus diare akut
merupakan self limiting. Pemberian antibiotika yang tidak tepat akan memperpanjang
keadaan diare akibat disregulasi mikroflora usus.
Zinc adalah suatu mikronutrien essensial yang merupakan elemen dari banyak
metallo-enzyme dan bekerja sebagai koenzim pada berbagai sistem enzim. berperan dalam

menjaga stabilitas dinding sel,serta memiliki peran penting dalam fungsi imunitas
seluler.Pada diare akut, zinc berperan dalam menjaga integritas mukosa usus melalui
fungsinya dalam regenerasi sel dan stabilitas membran sel.