Anda di halaman 1dari 4

DISPERSI DAN DAYA PEMECAH PRISMA

Abdurrohman (140310130008)
Program Studi Fisika, FMIPA Universitas Padjadjaran
Kamis, 9 April 2015
Asisten : Renie Adinda P
Abstrak
Dispersi merupakan salah satu sifat dari cahaya sebagai gelombang yang mempunyai
definisi sebagai gejala peruraian cahaya putih (polikromatik) menjadi cahaya berwarnawarni dengan alat spectrometer, gejala dispersi dapat dilihat dengan alat tersebut, selain
itu dari spectrometer akan didapat pula sudut dan setelah itu dapat dihitung indeks bias
dan panjang gelombang dari masing masing spectrum warna yang terlihat dalam
spectrometer, dengan meletakkan prisma di tengah tengah antara teleskop dan
kolimator, dalam percobaan ini ada 3 prisma yang dipakai, yakni prisma kaca, prisma
berisi methanol dan prisma berisi glyserin, untuk prisma kaca dari hasil percobaan
didapat indeks biasnya sebesar 1.13 dengan KRS sebesar 25.6 % karena n literaturnya
sebesar 1.5,sedangkan untuk prisma methanol didapat indeks bias sebesar 1.08, dan
prisma glyserin sebesar 1.05 Kata Kunci : Dispersi, Spektrometer, indeks bias

I. Pendahuluan

Dispersi

Cahaya merupakan gelombang


elektromagnetik yang memiliki sifat dualisme
gelombang-partikel. Salah satu sifat gelombang
cahaya ialah cahaya bisa didispersikan oleh
suatu prisma. Dengan adanya dispersi ini
cahaya polikromatik bisa menjadi cahaya
monokromatik. Sehingga akan ada sinar yang
memiliki panjang gelombang tertentu yang
akan menghasilkan warna ungu hingga merah.
Untuk
bisa
mengidentifikasi
panjang
gelombang sinar, maka kita harus mengetahui
indeks bias prisma yang digunakan. Maka dari
itu dilakukan percobaan Dispersi dan Daya
Pemecah Prisma dengan bertujuan untuk
mempelajari
cara
kerja
spectrometer,
menentukan indeks bias dari berbagai cairan
dalam prisma berrongga, menentukan indeks
bias berbagai prisma gelas, menentukan garis
spectrum air raksa dan menunjukkan hubungan
antara indeks bias dengan panjang gelombang.

Kebergantungan panjang gelombang cahaya


terhadap indeks bias suatu bahan disebut juga
dispersi.
Ketika seberkas cahaya putih jatuh ke
permukaan gelas prisma. Sudut refraksi (yang
terukur relatif terhadap normal) untuk panjang
gelombang yang lebih pendek sedikit lebih
kecil daripada sudut refraksi untuk panjang
gelombang yang lebih panjang. Panjang
gelombang cahaya yang lebih pendek (ke arah
spektrum violet) akan membengkok ke arah
normal sebanding dengan panjang gelombang
cahaya yang lebih panjang. Dengan demikian,
berkas cahaya putih akan terdispersikan
menjadi beberapa komponen warna atau
beberapa panjang gelombang.[2]

II. Teori Dasar


Cahaya
merupakan
gelombang
transversal
yang
termasuk
gelombang
elektromagnetik. Cahaya dapat merambat
dalam ruang hampa dengan kecepatan 3 x 108
m/s . [1]

Gambar 1. Peristiwa dispersi cahaya[7]

Pembiasan
Prisma

Cahaya

Pada

Prisma adalah benda bening


(transparan) terbuat dari bahan gelas
yang dibatasi oleh dua bidang
permukaan yang membentuk sudut
tertentu.
Bidang
permukaan
ini
disebut bidang pembias, dan sudut
yang dibentuk oleh kedua bidang
pembias disebut sudut pembias
(sudut A ).
Jika kita lewatkan suatu sinar
dilewatkan kepada suatu priema,
maka sinar datang dari udara masuk
ke prisma disisi sebelah kiri (sinar
AB).
Sinar
ini
akan
dibiaskan
mendekati garis normal pertama N1
(sinar BC). Sinar BC adalah sinar yang
datang dari prisma gelas menuju sisi
sebelah kanan (bidang batas gelasudara).
Sinar
ini
dibiaskan
menjauhigaris normal kedua N2 ketika
meninggalkan prisma (sinar CE). Anda
dapat melihat bahwa sinar yang
keluar dari prisma tidak sejajar
dengan sinar datang mula-mula. Jadi ,
arah sinar diubah setelah memasuki
prisma.
Jika sinar datang mula-mula (sinar
AB) dan sinar bias akhir (sinar CE)
kita perpanjang di dalam prisma,
maka keduanya berpotongan di titik P.
Sudut deviasi D ialah sudut apit yang
dibentuk oleh perpanjangan sinar
datang mula-mula dengamn sinar
akhir dalam prisma.

Setelah alat spectrometer tersebut


diset
seperti
gambar
di
atas,
nyalakan power supply nya, tunggu
beberapa menit. Kemudian letakkan
prisma di tengah tengah antara
teleskop
dan
kolimator,
lalu
spectrometer tersebut dikalibrasi,
setelah itu cari spectrum warna pada
prisma pada teleskop spectrometer
dengan menggerakkan teleskop kea
rah kiri dan kanan, catat sudut dari
warna tersebut dari arah kiri dan arah
kanan. Lakukan yang sama dengan
mengganti prisma yang dipakai
dengan prisma methanol dan prisma
glyserin.
IV. Data dan Analisa
Prisma kaca

Hubungan antara n terhadap panjang gelombang prisma biasa

III. Percobaan
3.1 Alat dan bahan
Spektrometer
Pemegang lampu
Lampu Hg
Power supply
Prisma kaca
Prisma Methanol dan Glyserin
3.2 Metode eksperimen

1.13
indeks bias

1.13
1.13

Hubungan
antara n
terhadap pnjg
gel

panjang gelombang (nm)

Prisma Methanol

hubungan antara n terhadap pnjg gel


hubungan
antara n
indeks bias
terhadap pnjg
gel

Linear
(hubungan
antara n
terhadap pnjg
gel)

panjang gel (nm)

Prisma Glyserin

Hubungan antara n dengan panjang gelombang

1.06
indeks bias 1.05
1.04
200 400 600 800
panjang gel. (nm)

Analisa
Pada percobaan dispersi cahaya ini
terbukti bahwa cahaya polikromatik yang
melewati sebuah prisma akan diuraikan
menjadi cahaya monokromatik. Namun, pada
percobaan setiap cahaya monokromatik
memiliki intensitas yang berbeda-beda, Selain
itu, cahaya monokromatik yang teramati sangat
sempit, sehingga terjadi kesulitan dalam
pengukuran sudut deviasinya. Agar tidak

demikian,
sebaiknya
teleskop
pada
spektrometer yang digunakan memiliki
perbesaran yang lebih tinggi lagi, agar cahaya
monokromatik yang teramati menjadi jelas.
Pada data percobaan yang diperoleh
teramati bahwa sudut deviasi yang dihasilkan
oleh berbagai jenis prisma (prisma kaca
berukuran besar, prisma berongga berisi
gliserin, dan prisma berongga berisi methanol )
yang digunakan memiliki sudut deviasi yang
berbeda. Hal ini membuktikan bahwa indeks
bias prisma sangat mempengaruhi sudut deviasi
dari cahaya monokromatik. Selain itu, pada
pengukuran sudut putarn spektrometer ke arah
kanan dan ke arah kiri, tidak memiliki besar
sudut yang sama. Hal ini dikarenakan kanan
merupakan sudut datang, sedangkan kirimerupakan sudut biasnya. Sehingga, selisih
dari sudut tersebut merupakan deviasi
minimumnya.
Pada pengolahan data bisa ditentukan
indeks bias dari masing-masing prisma yang
digunakan dari sudut deviasi yang telah
diperoleh, karena pada dasaranya sudut deviasi
itu bergantung pada indeks bias prisma dan
kecepatan cahaya dalam medium juga
bergantung pada indeks bias mediumnya.
Dengan sudut sebesar 600 didapat . yang
kemudian dihitung nilai indeks bias tidap
warna. Kemudian dari setiap indeks bias dari
setiap warna tersebut dirata-ratakan sebagai
indeks bias dari prismanya. Untuk prisma
kaca dari hasil percobaan didapat
indeks biasnya sebesar 1.13 dengan
KRS sebesar 25.6 % karena n
literaturnya sebesar 1.5,sedangkan
untuk prisma methanol didapat
indeks bias sebesar 1.08, dengan KSR
sebesar 22,7 % dan prisma glyserin
sebesar 1.05 dengan KSR sebesar
28.4 %. Dari hasil tersebut dapat
dilihat KSR yang didapat cukup besar
yang
membuktikan
bahwa
ada
kendala saat mencatat sudutnya.
Setelah itu dari data panjang
gelombang literature nya sesuai
dengan spectrum warnanya, didapat
grafik hubungan antara indeks bias

setiap
warna
dengan
panjang
gelombangnya, seharusnya grafik
tersebut linier ke bwah karena
hubungan antara indeks bias dengan
panjang
gelombang
adalah
berbanding terbalik semakin besar
panjang
gelombangnya
maka
semakin kecil indkes biasnya, akan
tetapi yang terjadi pada percobaan ini
tidak
seperti
teorinya,
menjadi
fluktuatif kadang naik dan kadang
turun. Hal ini dikarenakan penglihatan
saat mengamati spectrum warna
yang terlihat pada spectrometer
kurang akurat sehingga warna yang
tercatat dan terlihat tidak sesuai.
Kendala tersebut yang membuat
hubungan antara indeks bias warna
dan panjang gelombangnya menjadi
tidak sesuai.

sudut yang berbeda. Selanjutnya


ditangkap
oleh
teleskop
yang
posisinya dapat digerakkan

V. Simpulan

Daftar Pustaka

Dari hasil percobaan


disimpulkan bahwa :

ini

dapat

1. Cara kerja dari spectrometerganiometer dapat dipelajari yaitu,


cahaya dari sumber cahaya datang
melewati celah sempit kolimator. Lalu
jatuh ke prisma, yang akan dibiaskan
cahayanya dan dideviasika dengan

2. Indeks bias dari berbagai cairan


dalam prisma berrongga (methanol
dan glyserin) dapat ditentukan. Yaitu
besar indeks biasnya sebesar 1.08
(methanol) dan 1.05 (glyserin)
3. Indeks bias prisma dari prisma
gelas juga dapat ditentukan dengan
nilai sebesar 1.13 dengan KSR 25.6
%
4. Garis spectrum air raksa dapat
dietentukan
5. Hubungan antara indeks bias
dengan panjang gelombang dapat
ditunjukkan dari grafik percobaan

[1]
mohtar.staff.uns.ac.id/files/2008/08/cahayaoptika.ppt (akses pukul 16:18 tgl 8-4-2015)
[2] Tipler, Paul A & Mosca, Gene. 2008.
Physics For Scientist and Engineers Six
Edition. New York :W. H. Freeman and
Company