Anda di halaman 1dari 9

DAFTAR ISI

COVER
i
KATA
PENGANTAR
ii
DAFTAR
ISI
iii
BAB I
1.1

: PENDAHULUAN
Latar

belakang
1.2

Rumusan

masalah
1.3

Tujuan

1
1
1

BAB II
: PEMBAHASAN
2.1
Sistem

Endokrin

Neonatus
2.1.1 Kelenjar-Kelenjar
Endokrin
2.1.2 Plasenta
Endokrin
2.2.
Sistem
Uterin
: PENUTUP
Kesimpulan
9

PUSTAKA
10

2
Sebagai

Organ
7

Endokrin

Ekstra
8

BAB III
3.1

DAFTAR

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pematangan janin dan kelangsungan hidup neonatus diatur oleh
berbagai jenis hormon. Tujuan dari pengaturan hormon ini adalah agar
seorang bayi dapat bertahan hidup baik di dalam rahim maupun di luar
rahim. Salah satu hormon yang berperan adalah hormon-hormon yang
dihasilkan dari kelenjar endokrin.
Kelenjar endokrin adalah kelenjar tanpa saluran atau kelenjar buntu
sebab sekresi yang dibuat tidak meninggalkan kelenjarnya melalui suatu
saluran tetapi langsung masuk ke dalam darah yang beredar di dalam

jaringan kelenjar.
Macam-macam kelenjar endokrin adalah :
Kelenjar hipofisis
Kelenjar tiroid dan paratiroid
Kelenjar adrenal
Kelenjar timus
Kelenjar dari sistem endokrin menghasilkan bahan-bahan kimia yang
mempengaruhi seluruh tubuh. Selama masa kehamilan, banyak perubahan
yang terjadi pada kelenjar ini. Tidak hanya perubahan pada masa kehamilan,
tetapi juga perubahan ketika bayi sudah lahir. Dalam makalah ini akan
dibahas tentang bagaimana perubahan-perubahan sistem endokrin yang

terjadi dari intra uterin sampai ekstra uterin.


1.2 Rumusan masalah
v Bagaimana endokrin masa janin dan perubahan pada saat neonatus dan
pada bayi dilahirkan?
v Apa sajakah kelenjar kelenjar pada Endokrin?
1.3 Tujuan penulisan
Mengetahui perkembangan dan persiapan sistem endokrin pada kehidupan
neonatus.
Memahami kelenjar kelenjar pada Endokrin.
BAB II
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN DAN PERSIAPAN SISTEM ENDOKRIN PADA
KEHIDUPAN NEONATUS
2.1 SISTEM ENDOKRIN NEONATUS
2.1.1
Kelenjar-Kelenjar Endokrin
1.
Hipofisis Anterior

Mulchahey dan kawan-kawan (1987), dalam suatu tinjauan yang bagus


sekali tentang ontogenesis fungsi dan regulasi kelenjar hipofisis janin,
mengetengahkan suatu pandangan yang menarik dan patut diacungi jempol.
Pertama, mereka mengabaikan validitas konsep bahwa pengendalian
sekresi hipofisis anterior janin tergantung pada pematangan system saraf
pusat.
Kedua, mereka menyebutkan bahwa sistem endokrin janin berfungsi
selama

beberpa

waktu

sebelum

sistem

saraf

pusat

melengkapi

sinaptogenesisnya dan sistem-sistem integrative lainnya telah mencapai


status maturitas, sehingga mampu melaksanakan banyak tugas yang
berkaitan dengan homeostasis.
Ketiga, mereka melanjutkan dengan mengusulkan bahwa sistem
endokrin janin tidak perlu menyerupai sistem endokrin dewasa, tetapi dapat
merupakan satu dari sistem homeostasik pertama kali yang dikembangkan.
Akhirnya, hipofisis anterior janin berdiferensiasi menjadi lima tipe sel,
yang mensekresi enam hormon protein:
1. Laktotrop memproduksi prolaktin (PRL)
2. Somatotrop, memproduksi hormon pertumbuhan (GH)
3. Kortikotrop, memproduksi kortikotropin (ACTH)
4. Tirotrop, memproduksi thyroid-stimulating horomone (TSH)
5.Gonadotrop, memproduksi luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating
hormone (FSH).
ACTH pertama kali dideteksi pada hipofisis janin pada minggu ke-7
kehamilan dan sebelum akhir minggu ke-17, hipofisis janin mampu
mensintesis dan menyimpan semua hormon hipofisis. GH, ACTH dan LH telah
diidentifikasi pada hipofisis janin manusia pada kehamilan 13 minggu. Lebih
jauh, hipofisis janin responsif terhadap hormon-hormon hipofisiotropik dan
mampu mensekresi hormon-hormon ini sejak kehamilan dini.
Kadar hormon pertumbuhan hipofisis agak tinggi pada darah tali pusat,
meskipun

peranan

perkembangan

untuk

janin

tidak

hormon

tersebut

dalam

pertumbuhan

jelas.

Dekapitasi

in

tidak

utero

dan

banyak

mengganggu pertumbuhan sisa lainnya pada janin binatang, seperti yang


diperlihatkan oleh Bearn (1967) dan lainnya. Lagipula, janin-janin anensefalik

manusia dengan jaringan hipofisis kecil tidak banyak berbeda dari janin-janin
normal.
Hipofisis janin menghasilakn dan melepaskan endorfin- dengan cara
yang berbeda dari kadar plasma ibunya. Lagipula, kadar endorfin- dan
lipotrofin- darah tali pusat ditemukan menurun sesuai dengan menurunnya
2.

pH janin, tetapi berkorelasi dengan cara yang positif dengan PCO2 janin.
Neurohipofisis
Neurohipofisis janin berkembang dengan baik pada kehamilan 10
sampai 12 minggu dan sudah dapat ditemukan oksitosin dan arginin
vasopresin (AVP). Di samping itu, hormon vasotosin (AVT) terdapat di
hipofisis janin dan kelenjar pineal. AVT hanya terdapat pada kehidupan janin
manusia. Pada binatang-binatang dewasa, infus AVT meningkatkan tidur dan
merangsang pelepasan prolaktin.
Ada kemungkinan oksitosin dan AVP berfungsi pada janin untuk
menghemat air tetapi aksi-aksi ini sebagian besar pada tingkat paru dan
plasenta dibandingkan pada tingkat ginjal. Pembentukan PGE2 di dalam
ginjal janin dapat melemahkan kerja AVP di organ ini.
Beberapa peneliti telah menemukan bahwa kadar AVP di plasma tali
pusat meningkat secara menyolok dibandingkan dengan kadar yang
ditemukan dalam plasma ibu. Di samping itu, AVP dalam darah tali pusat dan

3.

darah janin tampak meninggi pada stress janin.


Hipofisis Intermedia Janin
Ada lobus intermedie hipofisis yang berkembang baik pada janin
manusia. Sel-sel dalam struktur ini mulai menghilang sebelum cukup bulan
dan tidak ada lagi pada hipofisis dewasa. Produk sekresi utaria dari sel-sel
lobus intermedia adalah hormon stimulasi -melanosit (-MSH) dan endorfin. Kadar -MSH janin menurun secara progesif sesuai dengan umur

4.

kehamilan.
Tiroid
Sistem hipofisis-tiroid mampu berfungsi pada akhir tri trimester
pertama. Tetapi

sampai

tengah-tengah

kehamilan,

sekresi

thyroid-

stimulating hormone dan hormon tiroid masih rendah. Ada peningkatan yang
lumayan besar setelah waktu ini. Mungkin sangat sedikit tirotropin melintasi
plasenta dari ibu ke janin sementara stimulator-stimulator. Tiroid berjangka

panjang LATS dan LATS-protektor demikian juga, bila terdapat dalam


konsentrasi tinggi pada ibunya. Juga, antibody-antibaodi IgG ibu terhadap
thyroid-stimulating hormon (TSH) juga dapat melintasi plasenta sehingga
mengakibatkan kadar TSH tinggi palsu pada neonatus.
Fase-fase pematangan tiroid pada janin dan neonatus manusia
Fase Peristiwa Umur Kehamilan
v Embriogenesis sumbu hipofisis-tiroid 2 sampai 12 minggu
v Pematangan hypothalamus 10 sampai 35 minggu
v Perkembangan pengendalian neuroendorin 20 minggu sampai 4 minggu
setelah lahir
v Pematangan system monodeyodinasi perifer 30 monggu sampai 4 minggu
setelah lahir
Plasenta manusia secara aktif mengkonsentrasikan yodida pada sisi
janin dan sepanjng trimester kedua dan ketiga kehamilan, tiroid janin
mengkonsentrasikan yodida lebih kuat daripada tiroid ibu. Karena itu,
pemberian raip-yodida atau jumlah yodida yang lebih banyak dari biasa,
jelas berbahaya bagi janin.
Hormon tiroid yang berasal dari ibu melintasi plasenta pada tingkat
yang sangat terbatas dengan triyodotironin lebih mudah lewat darpada
tiroksin. Ada aksi terbatas hormon tiroid selama kehidupan janin. Janin
manusia yang atiroid tumbuh secara normal pada waktu lahir. Hanya
jaringan-jaringan tertentu yang mungkin responsive terhadap hormon tiroid,
5.

yaitu otak dan paru.


Kelenjar Paratiroid
Ada bukti yang baik bahwa paratiroid menguraikan parathormon pada
akhir trimester pertama dan kelenjar tersebut tampaknya memberi respon in
utero

terhadap

stimulasi

pengaturan.

Neonatus

dari

ibu-ibu

dengan

hiperparatiroidisme, misalnya dapat menderita tetani hipokalsemik. Kadar


kalsium plasma dalam janin, 11 sampai 12 mg per dL, dipertahankan oleh
transpor aktif dari darah ibu. Kadar paratiroid dalam darah janin relatif
rendah dan kadar kalsitonin tinggi.
Pada biri-biri, paratiroidektomi

janin

menyebabkan

turunnya

konsentrasi kalsium plasma janin. Nefrektomi juga menyebabkan turunnya


kalsium dan 1-hidroksilasi dari 25-OH-kolekalsiferol terjadi di ginjal janin.
6.
Kelenjar Adrenal

Adrenal janin manusia disbanding dengan ukuran badan totalnya jauh


lebih besar daripada perbandingan ukuran tersebut pada orang dewasa,
seluruh pembesaran tersebut merupakan bagian dalamnya atau yang
disebut zone janin korteks adrenal. Zone janin yang normalnya mengalami
hipertrofi tersebut, mengalami involusio dengan cepat setelah lahir. Zone
janin tersebut tidak ada dalam kejadian yang jarang, dimana hipofisis janin
secara kongenital tidak ada.
Adrenal janin juga mensintesis aldosteron. Pada satu penelitian, kadar
aldosteron di plasma tali pusat mendekati cukup bulan, melebihi kadarnya di
plasma ibu, seperti juga rennin dan substrat rennin. Tubulus-tubulus ginjal
bayi baru lahir dan barangkali juga janin tampak relatif tidak sensitif
terhadap aldosteron.
Pada awal kehidupan embrional, adrenal janin tersusun dari sel-sel
yang mirip dengan sel-sel zona fetal korteks adrenal janin, sel-sel ini dengan
cepat muncul dan berproliferasi sebelum waktu vaskularisasi hipofisis oleh
hipotalamus sempurna. Hal ini memberi kesan bahwa perkembangan awal
adrenal janin berada di bawah pengaruh-pengaruh trofik yang mungkin tidak
sepenuhnya sesuai dengan pengaruh trofik pada orang dewasa.
Kemungkinan, ACTH disekresi oleh hipofisis janin tanpa adanya factor
corticotropin-releasing factor (CRF) atau ACTH (atau CRF) lain yang timbul
dari suatu sumber selain hipofisis janin, misalnya dari ACTH (atau CRF)
korionik yang disintesis oleh trofoblas. ACTH tidak menyebrangi plasenta.
Tetapi ada kemungkinan lain, ini mencakup kemungkinan bahwa ada suatu
agen selain ACTH yang meningkatkan replikasi sel-sel adrenal zona fetal.
Korteks adrenal fetus normal terus menerus berkembang sepanjang
kehamilan dan selama 5 sampai 6 minggu kehamilan terakhir, terjadi
kenaikan cepat ukuran adrenal fetus manusia. Jelas bahwa laju pertumbuhan
adrenal fetus dan sekresi steroid tidak dikendalikan oleh rangsang trofik
tunggal (ACTH), tetapi lebih diatur oleh lebih dari satu jenis agen yang
7.

menunjang pertumbuhan.
Gonad
Siiteri dan Wilson (1974) mendemontrasikan sintesis testosteron oleh
testis janin dari progesterone dan pregnenolon pada kehamilan 10 minggu.

Lebih lanjut, Leinonen dan Jaffe ( 1985) menemukan bahwa sel-sel Leydig
testis janin luput dari desensitisasi yang khas pada testis dewasa, yang
diberi tantangan-tantangan hCG berulang.
Fenomena dalam testis janin ini mungkin disebabkan oleh:
1.
Tidak adanya reseptor estrogen di dalam testis janin
2.
Stimulasi prolaktin pada reseptor-reseptor hCG/LH pada testis janin
Karena itu, ada hubungan yang erat antara gambaran perkembangan
sel-sel Leydig dalam testis janin dan kadar hCG, pembentukan testosteron
testis dan kadar hCG, konsentrasi reseptor untuk kadar LH/hCG dan tidak
adanya regulasi penurunan reseptor LH/hCG dan sekresi testosteron
testikuler janin yang terus menerus pada waktu kadar hCG tinggi.
Pembentukan estrogen di ovarium janin telah didemonstrasikan tetapi
pembentukan estrogen di ovarium tidak diperlukan untuk perkembangan
2.1.2

fenotip perempuan.
Plasenta Sebagai Organ Endokrin
Perubahan-perubahan endokrin yang menyertai kehamilan manusia
mungkin adalah yang paling unik dan paling mengherankan yang dicatat
pada fisiologi atau patofisiologi mamalia. Kalau diteliti niali-nilai ini, jelas
bahwa

perubahan-perubahan

endokrin

pada

kehamilan

merupakan

fenomena.
Di samping peningkatan pembentukan hormon steroid seks dan
mineralkortikoid

ini,

juga

ada

peningkatan

menyolok

kadar

rennin,

angiotensinogen dan angiotensin II plasma, bersamaan dengan produksi


harian 1 g laktogen plasenta manusia (hPL) dan jumlah gonadotropin
koroinik manusia (hCG) dalam jumlah banyak.
Plasenta juga memproduksi adrenokortikotropin (ACTH) korionik dan
produk-produk lain dari pro-opiomelanokortik, human korionik tirotropin
(hCT) dan juga hypothalamic-like releasing dan inhibiting hormon, yaitu
thyrotropin-releasing

hormone

(TRH),

gonadotropin-releasing

hormone

(GnRH) atau luteinizing hormon-releasing hormone (LHRH), corticotropinreleasing factor (CRF) dan somatostatin serta inhibin dan berbagai macam
protein yang unik untuk kehamilan (spesifik-kehamilan) atau proses-proses
neoplastik.
Hormon-Hormon Protein Plasenta :

1. Gonadotropin korionik
2. Adrenokortikotropin dan tirotropin korionik
3. Hormon-hormon hypothalamic like-releasing dari plasenta
4. Inhibin
2.2
SISTEM ENDOKRIN EKSTRA UTERIN (saat bayi baru lahir)
Sistem endokrin pada neonatus ekstra uterin jelas berbeda daripada
ketika berada dalam kandungan. Ketika janin berada dalam kandungan maka
masih

mendapatkan

segala

kebutuhannya

dari

ibu

melalui

plasenta

meskipun dalam perkembangan di dalam kandungan mulai terbentuk organorgan bagi aktivitas hidup. Bnamun, organ-organ tersebut, misalnya system
endokrin masih belum sempurna sempurna untuk dapat hidup mandiri.
Setelah janin lahir barulah system endokrin dapat bekerja sehingga bayi
dapat hidup diluar rahim ibunya kerena hilangnya ketergantungan dari
plasenta dan ibu.
Setelah lahir ada beberapa kelenjar yang mengalami daptasi agar

mampu bekerja misalnya :


Kelenjar Tiroid
Segera setelah lahir, kelenjar tiroid mngalami perubahan-perubahan
besar

funsi

dan

metabolisnya.

Pendinginan atmosfer

membangkitkan

peningkatan mendadak dan jelas sekresi tirotropsin, yang selanjutnya


menyebabkan peningkatan progresif kadar tiroksin serum maksimal 24-26
minggu setelah lahir. Ada peningkatan kadar tryiyodotironin serum yang

terjadi hampir bersamaan.


Kelenjar Timus
Pada bayi baru lahir ukurannya masih sangat kecil dan beratnya kirakira 10 gram atau sedikit ukurannya ertambah dan pada masa remaja
beratnya meningkat 30-40 gram kemudian mengerut lagi.

BAB I11
PENUTUP
3.1
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kesimpulan
Sistem endokrin terdiri dari beberapa kelenjar antara lain :
Hipofisis interior
Neuro hipofisis
Hipofisis intermedia janin
Tiroid
Paratiroid
Kelenjar adrenal
Gonad
Kelenjar kelenjar endokrin pada intra uterin belum bisa berfungsi

secara

maksimal

karena

pembentukan

belum

sempurna

dan

masih

mendapatkan bantuan dari plasenta dan kelenjar endokrin ibunya,


Pembentukan kelenjar-kelenjar endokrin dimulai dari trimester
I. Kelenjar-kelenjar endokrin pada ekstra uterin sudah bisa berfungsi secara
maksimal

karena

pembentukannya

juga

sudah

muali

sempurna

jadi

neonatus sudah tidak mendapatkan bantuan dari plasenta dan kelenjar


endokrin ibunya.

DAFTAR PUSTAKA
Hacker & Moore. 2001. Essensial Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : Hipocrates
Hamilton., Persis Mary. 1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Jakarta :
EGC
Mac Donald, dkk. 1995. Obstetri Williams. Jakarta :EGC
Pearce, Evelyn C. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta :
Gramedia
Prawirohardjo., Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka