Anda di halaman 1dari 7

Obat TB yang digunakan

Obat-obat yang digunakan dalam pengobatan tuberkulosis dapat dibagi dalam 2 kategori
yaitu OAT primer dan OAT sekunder. OAT primer adalah isoniazid,rifampisin, ethambutol,
pyrazinamide, streptomisin. Dengan OAT primer tersebut kebanyakan penderita tuberkulosis dapat
disembuhkan. Bila dengan OAT primer timbul resistensi, maka yang resisten itu digantikan
dengan paling sedikit 2-3 macam OAT sekunder yang belum resisten,sehingga penderita
menerima 5 atau 6 macam obat sekaligus. OAT sekunder adalah asam para-aminosalisilat,
ethionamide, thioacetazone, fluorokinolon, aminoglikosid, capreomycin, cycloserine, penghambat
betalaktam, clarithromycin, linezolid dan lain-lain.
Seperti kita ketahui, pengobatan TB mempunyai 2 tujuan utama, efektivitas penyembuhan yang
maksimal dan mencegah terjadinya resitensi. Pengobatan juga harus mampu mencegah seminimal
mungkin terjadinya kekambuhan, sehingga harus mampu membunuh semua kuman TB. Prinsip
dasar obat antituberkulosis harus dapat menembus berbagai jaringan termasuk selaput otak.
Farmakokinetik obat anti tuberkulosis pada anak berbeda daripada orang dewasa. Pengobatan TB
dibagi dalam 2 fase yaitu fase intensif (2 bulan pertama) dan sisanya sebagai fase lanjutan.
Berbeda dengan orang dewasa, OAT pada anak diberikan setiap hari, bukan 2 atau 3 kali dalam
seminggu. Hal ini bertujuan mengurangi ketidakteraturan minum obat yang lebih sering terjadi jika
obat tidak diminum setiap hari. Evaluasi hasil pengobatan dilakukan setelah 2 bulan.
Resistensi harus dipikirkan jika ditemukan tanda-tanda berikut:

Pada kasus sumber yang dicurigai resisten

Kontak dengan kasus yang resisten

Kasus sumber yang pemeriksaan dahak mikroskopiknya tetap positif setelah 3 bulan
pengobatan

Riwayat pengobatan TB sebelumnya

Riwayat terhentinya pengobatan TB

Pada anak yang dicurigai resisten

Kontak dengan kasus yang resisten

Tidak adanya respon terhadap pengobatan TB

Kembalinya TB setelah pengobatan patuh

OAT PRIMER
Isoniazid
Isoniazid (INH) adalah obat antituberkulosis yang sangat efektif saat ini, bersifat
bakterisid dan sangat efektif terhadap terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif yaitu
kuman yang sedang berkembang dan bersifat bakteriostatik terhadap kuman yang diam. INH
diberikan secara oral. Dosis harian yang biasa diberikan (5-15 mg/kg/hari), maksimal 300
mg/hari. INH mempunyai dua efek toksik utama yaitu hepatotoksik dan neuritis perifer, tetapi
keduanya jarang terjadi pada anak, tetapi frekuensinya meningkat dengan bertambahnya usia.
Hepatotoksik akan meningkat apabila diberikan bersama rifampisin dan PZA. INH tidak dilanjutkan
pemberiannya pada keadaan kadar transaminase serum naik lebih dari 3 kali harga normal atau
terjadi manifestasi klinik hepatitis, berupa mual, muntah, nyeri perut dan kuning. Isoniazid harus
diberikan piridoksin,10 mg per 100 mg isoniazid untuk mencegah neuritis.
Ada sumber lain yang menyebutkan klasifikasi lain dalam hal jenis OAT :

A. OAT jalur 1
INH (Isoniazid), Rifampisin, Pyrazinamyde, Streptomisin, dan Ethambutol
B. OAT jalur 2
Etionamide, PAS, Sikloserin, Kanamisin/Amikasin/Capreomisin
C. OAT Eksperimental
Kuinolon, Derivat Rifampisin, Makrolid, Laktam, Laktamase S, Cephalosporin.
Anak-anak atau dewasa muda yang tes kulit tuberkulinnya berubah dari negatif ke positif
mungkin dapat diberikan INH, 5-10mg/kg/hari (maksimum 300 mg/hari), selama 1 tahun sebagai
pofilaksi terhadap 5-15% risiko meningitis atau penyebaran milier. Untuk profilaksi, INH diberikan
sebagai obat tunggal. Disamping bagi yang mengalami konversi tes kulit tanpa penyakit aktif, INH
profilaktik juga dianjurkan untuk anggota keluarga atau orang lain yang berkontak sangat erat
(terutama anak-anak, tetapi juga penghuni rumah perawatan) ke kasus aktif yang baru dikenal;
dan pada orang dengan tes kulit positif yang menjalani kemoterapi imunosupresif atau anti kanker
dan yang pada masa lalu belum menerima pengobatan antimikobakterium yang adekuat.
Rifampisin
Rifampisin bersifat bakteriosid pada intrasel dan ekstrasel, dapat memasuki semua
jaringan, dapat membunuh kuman semi-dormand yang tidak dapat dibunuh oleh INH. Saat ini
rifampisin diberikan dalam bentuk oral dengan dosis 10-20 mg/kgbb/hari, dosis maksimal 600
mg/hari, dengan dosis satu kali pemberian. Efek samping rifampisin adalah gangguan
gastrointestinal (mual dan muntah) dan hepatotoksisitas (ikterus/hepatitis) yang biasanya ditandai
oleh peningkatan kadar transaminase serum yang asimtomatik. Jika rifampisin diberikan bersama
INH, terdapat peningkatan risiko hepatotoksisitas, yang dapat diperkecil dengan cara menurunkan
dosis harian INH menjadi maksimal 10 mg/kg/hari. Rifampisin tidak boleh diracik dalam satu puyer
dengan OAT lain karena dapat mengganggu bioavailabilitas rifampisin.
Pirazinamid
Pirazinamid adalah derivat nikotinamid, berpenetrasi baik pada jaringan dan cairan tubuh
termasuk SSP, cairan serebrospinal, bakterisid hanya pada cairan intrasel pada suasana asam,
diresorbsi baik pada saluran pencernaan. Pemberian PZA secara oral dengan dosis 15-30
mg/kg/hari dengan dosis maksimal 2 gram/hari. Penggunaan PZA aman pada anak. PZA diberikan
pada fase intensif karena PZA sangat baik diberikan pada saat suasana asam yang timbul akibat
jumlah kuman masih sangat banyak.
Etambutol
Etambutol (EMB) jarang diberikan pada anak karena potensi toksisitasnya pada mata.
Dosis EMB 15-20 mg/kg/hari, maksimal 1,25 gram/hari, dengan dosis tunggal. Memiliki aktivitas
bakteriostatik, dan berdasarkan pengalaman, dapat mencegah timbulnya resistensi terhadap obat
lain. Kemungkinan toksisitas utama adalah neuritis optik dan buta warna merah-hijau.
Streptomisin
Streptomisin bersifat bakteriosid dan bakteriostatik kuman ekstraseluler pada keadaan
basal atau netral, jadi tidak efektif membunuh kuman intraseluler. Saat ini, streptomisin jarang
digunakan dalam pengobatan TB, tetapi penggunaannya penting dalam pengobatan yang resistenobat. Toksisitas utama streptomisin terjadi pada nervus kranial VII yang mengganggu
keseimbangan dan pendengaran berupa telinga berdengung (tinismus) dan pusing.
OAT SEKUNDER
PAS (Asam Para-amino Salisilat)
Ditemukan tahun 1940, dahulu merupakan OAT garis pertama yang digunakan bersama
dengan isoniazid dan streptomycin; kemudian kedudukannya digantikan oleh ethambutol. PAS
memperlihatkan efek bakteriostatik terhadap M tuberculosis dengan menghambat secara
kompetitif pembentukan asam folat dari asam para-amino benzoat. Penggunaan PAS sering
disertai efek samping yang mencakup keluhan saluran cerna, reaksi hipersensitifitas (10%
penderita), hipotiroid, trombositopeni, dan malabsorbsi.
Ethionamide

Setelah penemuan isoniazid beberapa turunan pyridine lainnya telah diuji dan ditemukan
ethionamide dan prthionamide memperlihatkan aktifitas antimikobakteri. Mekanisme kerjanya
sama seperti isonoazid, yaitu menghambat sintesis asam mikolat. In-viro kedua turunan pyridine
ini bersifat bakterisid, tetapi resistensi mudah terjadi. Dosis harian adalah 500-1000mg, terbagi
dua dosis. Efek samping utama adalah gangguan saluran cerna, hepatotoksisitas (4,3%
penderita); ethionamide memperlihatkan kekerapan efek samping yang sedikit lebih rendah dari
efek samping prothiamide. Efek samping yang lain adalah neuritis, kejang, pusing, dan
ginekomastia. Untungnya, basil yang sudah resisten terhadap isoniazid masih entan dengan
ethionameride, walaupun keduanya berasal dari senyawaan induk yang sama yaitu asam nikotinat.
Antara ethionamide dan prothionamide terjadi resistensi silang.
Thioacetazone
Secara in viro dan in vivo diperlihatkan mempunyai khasiat bakteriostatik terhadap M.
Tuberculosis. Resistensi silang sering terlihat antara thioacetazone dengan isoniazid dan
ethionamide. Karena kerap menimbulkan reaksi hipersensitivitas berat (sindroma Steven Johnson),
thioacetazone tidak dianjurkan untuk digunakan pada penderita dengan HIV3.
Fluorokinolon
Fluorokinolon menghambat tropoisomerase II (DNA gyrase), dan tropoisomerase IV
tetapi enzim ini tidak ada pada mikobakteri. Sifat penting fluorokinolon adalah kemampuannya
untuk masuk ke dalam makrofag dan memperlihatkan efek mikobakterisidnya di dalam sel itu.
Yang diakui berkhasiat sebagai OAT adalah ciprofloxacin, ofloxacin, dan levofloxacin. Belakangan
ini bahwa levofloxacin lebih unggul khasiatnya ofloxacin yang dicakupkan ke dalam pengobatan
penderita MDR TB. Efek samping yang berkaitan dengan penggunaan fluorokinolon mencakup
gangguan saluran cerna, efek neurologik, artopathy dan fotosensitivitas. Percobaan in vitro dengan
fluorokinolon baru yakni gatifloxacin dan moxifloxacin, memperlihatkan aktivitas anti mikibakteri
yang lebih baik dari levofloxacin.
Aminoglikosid dan Capreomycin
Kelompok obat suntik ini mempunyai mekanisme kerja mengikat ribosom di subunit 30S
yang selanjutnya berakibat penghambatan sintesis protein. Pada pH rendah yaitu di dalam kavitas
dan abses, penetrasi obat melewati dinding sel mikobakteri terhalang, dan ini dapat menerangkan
kekurangmajuran glikosida sebagai obat antituberkulosis. Aminoglikosid berkhasiat bakterisid
terhadap mikobakteri yang sedang membelah. Oleh karena itu, aminoglikosid hanya bermanfaat
pada fase induksi.
II.5.1.2. Paduan Obat TB
Prinsip dasat pengobatan TB adalah minimal 2 macam obat dan diberikan dalam waktu
relatif lama (6-12 bulan). Pengobatan TB dibagi dalam 2 fase yaitu fase intensif (2 bulan pertama)
dan sisanya sebagai fase lanjutan. Pemberian obat jangka panjang selain untuk membunuh kuman
juga untuk mengurangi kemungkinan terjadinya relaps.
II.5.1.3. Fixed Dose Combination (FDC)
Salah satu masalah dalam terapi TB adalah kepatuhan pasien dalam menjalani
pengobatan yang relatif lama dengan jumlah obat yang banyak. Untuk mengatasi hal tersebut
maka dibuat suatu sediaan obat kombinasi dalam dosis yang telah ditentukan.
Keuntungan penggunaan FDC dalam pengobatan TB adalah sebagai berikut :

Menyederhanakan pengobatan dan mengurangi kesalahan penulisan resep

Meningkatkan penerimaan dan kepatuhan pasien

Memungkinkan petugas kesehatan memberikan pengobatan standar dengan tepat

Mempermudah pengelolaan obat (mempermudah proses pengadaan, penyimpanan, dan


distribusi obat pada setiap tingkat pengelola program pemberantasan TB)

Mengurangi kesalahan penggunaan obat TB (monoterapi) sehingga mengurangi resistensi


terhadap obat TB

Paduan FDC mengurangi kemungkinan kegagaln pengobatan dan terjadinya kekambuhan

Mempermudah penentuan dosis berdasarkan berat badan.

Regimen Pengobatan berdasar kategori beserta alternatifnya


Kategori
Pengobatan TB

Regimen
Pasien TB

Fase Initial (tiap hari atau

Fase Kontinu

3x/minggu)
Kasus baru :

BTA (+), TB paru

2 RHEZ (RSHZ)

6 HE

BTA (-) lesi luas

2 RHEZ (RHSZ)

4 HR

Sakit berat

2 RHEZ (RHSZ)

4 H3R3

Gagal terapi

2 RHEZS/1RHEZ

5 H3R3E3

Pernah minum obat

2 RHEZS/1RHEZ

5 HRE

BTA (-), Ro

2 RHZ

6 HE

mendukung

2 RHZ

4 HR

Ekstraparu ringan

2 RHZ

4 H3R3

TB ekstraparu berat
BTA (+) relaps
II

sebulan/>
III
IV

TB kronik

Not applicable

Efek Samping OAT

OBAT

REAKSI
SERING

KADANG

JARANG

Hepatitis

Kejang

Reaksi kulit

Neuritis optik

Neuropati

Gejala mental

perifer

Anemia

ISONIAZID

hemolitik
Anemia aplastik
Agranulositosis
Reaksi lupoid
Ginekomastia

RIFAMPISIN

Hepatitis

ARF

Reaksi kulit

Syok

Gejala GIT

Anemia

Purpura

hemolitik

trombositopenia
Febris
Flu like
syndromes
Anoreksia
PIRAZINAMID

Nausea
Flushing

ETHAMBUTOL

Hepatitis

Anemia

Vomiting

sideroblastik

Arthralgia

Fotosensitifitas

Reaksi kulit
Neuritis

Reaksi kulit

retrobulbar

Hepatitis

Arthralgia

Neuropati
perifer

STREPTOMISIN

Reaksi

Vertigo

Kerusakan

kulit

Ataksia

ginjal

Tinnitus

Ketulian

Anemia aplastik

Baal

Agranulositosis

Penatalaksanaan Efek Samping Obat anti Tuberkulosis

Efek Samping

Kemungkinan obat
penyebab

Minor
- Anoreksia, nausea,
abdominal pain

Rifampisin

- Nyeri sendi

Pirazinamid

Aspirin

Isoniazid

Piridoksin 100 mg

Rifampisin

Penyuluhan

Mayor
- Gatal, skin rash

Tiaoacetazon,
streptomisin

Stop OAT, setelah timbul


gatal beri terapi
simptomatik dan teruskan
obat, bila kemudian timbul
skin rash, stop OAT

- Ketulian

Streptomisin

Stop streptomisin, ganti


ethambutol

- Dizziness (vertigo
dan nystagmus)

Streptomisin

Stop streptomisin, ganti


ethambutol

- Rasa terbakar di
kaki
- Urine
orange/merah

- Jaundice

Penatalaksanaan
Teruskan OAT, cek dosis.
Obat diberikan malam
sebelum tidur

Kebanyakan OAT
Stop OAT, singkirkan
(terutama INH,
etiologi lain, bila klinis (+)
Rifampisin, Pirazinamid) (ikterik,mual,muntah) stop
OAT, bila klinis (-),
periksa :
- bilirubin > 2 OAT stop
- trasaminase>5xOAT stop

- trasaminase>3x,gejala (+)
OAT stop
- transaminase <5x,gejala
(-) OAT diteruskan
Observasi ketat

- Muntah dan
confuse (drug
induced acute
failure)

Kebanyakan OAT

Stop OAT

- Gangguan
penglihatan

Ethambutol

Stop Ethambutol

- Syok purpura,
gagal ginjal akut

Rifampisin

Stop Rifampisin

Pengobatan tuberkulosis dapat dibagi kedalam 2 kategori yaitu OAT primer dan
OAT sekunder. a.
OAT Primer Prognosis baik jika pasien tidak mengalami
gangguan imun. Nutrisi yang baik, pengurangan konsumsi alkohol, dan
kepatuhan pada terapi obat merupakan faktor-faktor penting. Penyembuhan
penyakit umumnya terjadi setelah pengobatan selama 6 bulan. Pada awalnya
sekurang-kurangnya digunakan tiga obat, untuk mencegah perkembangan strain
yang resisten. Regimen yang dianjurkan adalah rifampisin, dan isoniazid selama
2 bulan, diikuti rifampisin dan isoniazid selama 4 bulan. Tambahan piridoksin
mencegah neuropati perifer akibat isoniazid. Fungsi hati sebaiknya dipantau,
karena rifampisin dan pirazinamid dapat menyebabkan disfungsi hati. Jika
dicurigai terjadi resistensi obat (rekurensi TB pada pasien yang tidak patuh),
maka regimen empat obat (tambahkan etambutol) dapat dimulai. Bila ada hasil
kultur, obat alternatif akan menggantikan obat yang tidak sensitif untuk
mikrobakterium. Etambutol (pantaulah penglihatan warna untuk neuritis
optikus), streptomisin (pantaulah kadar plasma untuk mneghindari gangguan
pendengaran) atau siprofloksasin dapat digunakan. Pada TB paru berat,
kortikosteroid kadang-kadang memperbaiki hasil (8). Di beberapa organ
(misalnya tulang), TB diobati lebih lama, sering dengan obat-obat tambahan.
Pada TB meningeal atau serebral, regimen empat obat selama 12 bulan dengan
tambahan steroid dianjurkan, untuk memastikan penetrasi otak yang adekuat
dan mencegah kompresi nervus kranialis akibat pembentukan parut meningeal
(8). Bila dengan OAT primer timbul resistensi, maka yang resisten itu digantikan
dengan paling sedikit 2-3 macam OAT sekunder yang belum resisten, sehingga
penderita menerima 5 atau 6 macam obat sekaligus. Strategi pengobatan yang
dianjurkan oleh WHO adalah DOTs (directly observed treatment, short course)
untuk penggunaan OAT primer dan DOTS-plus untuk penggunaan OAT sekunder
(9). b.
OAT Sekunder OAT sekunder adalah asam para-aminosalisilat,
ethionamide, thioacetazone, fluorokinolon, aminoglikosida dan capreomycin,
cycloserine, penghambat betalaktam, clarithromycin, linezolid, thioacetazone,

dan lain-lain.
Asam Para-Amino Salisilat (PAS) Ditemukan tahun 1940,
dahulu merupakan OAT garis pertama yang disunakan bersama dengan isoniazid
dan streptomycin; kemudian kedudukannya digantikan oleh ethambutol. PAS
memperlihatkan efek bakteriostatik terhadap M.tuberculosis dengan
menghambat secara kompetitif pembentukan asam folat dari asam para-amino
benzoate (10).
Thioacetazone Secara in-viro dan in-vivo diperlihatkan
mempunyai khasiat bakteriostatik terhadap M. tuberculosis. Resistensi silang
sering terlihat antara thioacetazone dengan isoniazid dan ethioonamide. Karena
kerap menimbulkan reaksi hipersensitifitas berat ( sindroma Steven-Johnson),
thioacetazone tak dianjurkan untuk digunakan pada penderita dengan HIV (11).
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ

Anda mungkin juga menyukai