Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka kematian Ibu ( AKI ) merupakan salah satu indikator untuk
menentukan derajat kesehatan suatu Negara. Menurut SDKI ( Survei Demogarafi
Kesehatan Indonesia ) 2002/2003 AKI di Indonesia masih tergolong tinggi
dibandingan dengan Negara Asia lainnya yaitu sebasar 307/100.000 kelahirn
hidup padatahun 20032003,lebih banyak 15x dibnading Malaysia , lebih banyak
10x disbanding Thailand dan lebih banyak 5x dibandingkan philipina. Sedangkan
AKI propinsi Jawa Tengah sebesar 121/100.000 kelahiran hidup ( Rifai,2008).
Kematian ibu umumnya dapat dicegah bila komplikasi kehamilan dan
keadaan resiko tinggi lainnya dapat dideteksi

sejak dini dan mendapatkan

penanganan yang memadahi ( Winkjosastro, 2006). Angka kematian ibu di


Indonesia yang masih tinggi di Indonesia disebabkan oleh beberapa factor utama
yaitu, perdarahan (67%), infeksi (8%), toksimia( 7%), aborsi (10%), lain-lain
(8%). Factor- factor penyebab angka kematian ibu tersebut dapat terjadi pada
waktu hamil, bersao dan nifas. Karena seti ap kehamilan mengandung resiko bagi
ibu (Kodim, 2001). World Health Organitation (WHO) memperkirakan bahwa
(15%) dari semua kehamilan akan menimbulkan komplikasi yang dapat
mengancam jiwa berkaitan dengan kehamilan akan menimbulkan komplikasi
yang dapat mengancam jiwa berkaitan dengan kehamilan (BKKBN,2005).
Ketua departemen gi zi masyarakat IPB, Evy Damayanthi, dalam makalahnya
menyatakan,

peningkatan

peningkatan

BBM

(Bahan

Bakar

Minyak

mempengaruhi pola produksi, distribusi dan konsumsi pangan. Penigkatan


hargapangan akan meyebabkan akses keluarga miskin terhadap panagan menurun
( Damayanthi, 2008). Dengan kondisi seperti ini dikhawatirkan memperbesar
jumlah penderita gizi kurang pada kelompok rentan yaitu ibu hamil, ibu bersalin,
ibu menyusui, serta bayi dan balita khususnya pada masyarakat miskin. Dari hasil
pemeriksaan 640 ibu hamil terdapat 500 ibu hamil yang mengatakan tidak rutin
meminum tablet FE, anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh yang kurang
baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun dalam nifas. Berbagai
penyakit dapat timbul akibat anemia seperti abortus, partus premature, partus
lama, akibat insersi uteri, syok, infeksi baik intra partum maupun post partum
(Manuaba,2001).
Frekuensi ibu hamil dengan anemia di Indonesia masih relative tinggi yaitu
63.5%. dalam mengatasi masalah anemia pada ibu hamil Dinas Kesehatan
Propinsi Jawa Tengah mempunyai program suplementasi tablet tambah darah
yang bisa didapatkan di Puskesmas. Tablet tambah darah dapat menghindari
anemia besi dan anemia asam folat. Pada ibu hamil dianjurkan untuk
mengknsumsi tablet Fe minimal 90 tablet selama hamil. Kekurangan gizi dan
perhatian yang kurang terhadap ibu hamil merupakan predisposisi anemia
defisiensi besi ibu hamil di Indonesia ( Wiknjosastro, 2006). Menurut WHO
dalam ( Wiknjosastro, 2006) 40 % kematian ibu di negara berkembang berkaitan
dengan anemia dalam kehamilan. Kebanyakan anemia dalam kehamilan
disebabkan oleh defisiensi

besi dan perdarahan akut, bahkan tidak jarang

keduanya saling berinteraksi. Prevelensi Anemia Gizi Besi (AGB) tinggi terdapat
baik pada laki-laki dan perempuan. Penyebab masalah AGB adalah kurangnya

daya beli masyarakut untuk mengkonsumsi makanan sumber zat besi, terutama
dengan ketersediaan biologi tinggi ( asal hewan) dan pada perempuan ditambah
dengan kehilangan darah melalui haid pada persalinan ( Almatsier, 2002).
Wanita yang hamil memerlukan zat besi yang lebih tinggi dari pada wanita
yang sedang tidak hamil. Zat besi merupakan mineral yang diperlukan oleh semua
system biologi di dalam tubuh.

Besi merupakan unsure esensial sistesis

hemoglobin, karena proporsi asupan zat berkaitan langsung dengan asupan kalori,
banyak

ibu hamil tidak memiliki simpanan zat besi pada kehamilannya.

Disamping itu kehamilannya. Disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat


besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah
merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan
melahirkan, akan banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis
(Manuaba, 1998).
Salah satu factor yang mneyebakan hal tersebut adalah rendahnya
pengetahuan ibu untuk mengknsumsi tablet besi. Rendahnya tingkat pengetahuan
yang ternyata masih membuat frekuensi anemia di Indonesia masih tinngi.
Dengan pemberian Konseling Informasi dan Edukasi (KIE) dari tenaga kesehatan,
terutama bidan dalam member pelayanan kebidanan, diharapkan dapat menambah
pengetahuan ibu, yang berdampak bagi peningkatan kesadaran ibu untuk
mengkonsumsi tablet besi dengan tidak memperdulikan rasa tidak nyaman akibat
efek sam[ing yang ditimbulkan (Manuaba, 1998).
Dengan demikian kebutuhan total zat besi pada kehamilan berkisar antara
580-1340 mg dan 440 1050 mg diantaranya akan hilang dalam tubuh ibu pada
saat melahirkan (Hilmansyah, 2008). Suplementasi asam folat akan disertai kadar
feritin serum serts kadar hemoglobin yang lebih tinggi dan penurunan resiko

anemia. Absorbs Fe dan asam folat akan diperkuat dengan pemberian vitamin C
(Fatimah, 2007).
Dari hasil survey pendahuluan di Puskesmas Kledung Kecamatan Kledung
pada bulan Agustus 2011 ditemukan beberapa wanita hamil dengan kadar
hemoglobin yang masih kurang. Dari hasil pengukuran kadar HB, 8 orang ibu
hamil trimester 1 terdapat 5 orang (62,50 %) dengn kadar HB 9 gr%, 1 orang
(12,50 %) 10,5 gr% dan 2 orang (25,0%) kadar HB 11 adar HB 11 gr%. Ibu hamil
trimester II, 5 orang dengan kadar HB 11 gr%, 4 orang (80,0%) kadar HB 10 gr%
1 orang ( 20,0%). Pada ibu hamil trimester III terdapat 12 orang dengan kadar HB
9 gr% sejumlah 7 orang (58,33%), 3 orang (25,0%) drngan kadar HB 10 gr% dan
2 orang (16,67%) dengan kadar HB 11 gr%.
Berkaitan uraian di atas, maka penelititertarik untuk mengetahui hubungan
konsumsi Fe dan asam folat dengan perubahan kadar haemoglobin pada ibu hamil
trimester I dan trimester III di desa Kwadungan Gunung, Kecamatan Kledung
Kabupaten Temanggung.