Anda di halaman 1dari 22

PROTOZOA

Protozoa adalah sekelompok organisme yang bersel satu, jumlahnya kurang lebih
50.000 species yang telah diidentifikasi dan 20.000 species yang berupa fosil. Ribuan spesies
dideskripsikan sebagai organisme yang bebas sedangkan lainnya hidup secara parasit pada
hewan lain.
Protozoa hidup di lingkungan yang basah, misalnya dalam air baik tawar, maupun air
bergaram atau dalam tanah yang basah sampai kedalaman kurang lebih 20 cm, dalam tubuh
manusia atau hewan tingkat tinggi lainnya yang bercairan, atau di semua tempat di mana saja.
Jumlah hewan protozoa dalam suatu tempat sering sangat menakjubkan, misalnya dalam
suatu kolam dapat mencapai jutaan hewan, bahkan milyaran. Alat gerak protozoa bermacammacam dari yang sederhana berupa pseudopodia sampai flagella dan silia. Pseudopodia selalu
dibentuk dari ektoplasma, walaupun endoplasma akan mengikutinya dan pada tubuh protozoa
akan dijumpai plastida dan benda-benda sejenisnya, misalnya khromatofora, piroid, stigmata,
pigmen dan alat-alat simbiotik.
Hewan paling sederhana di dunia ini adalah protozoa. Disebut paling sederhana
karena hewan tersebut hanya terdiri dari satu sel dan biasanya berukuran mikroskopis antara
5-5.000 mikron, rata-rata antara 30-300 mikron (Sugiarji, 2005: 26).
Protozoa berasal dari bahasa yunani, yaitu protos yang artinya pertama dan zoon yang
artinya hewan. Protozoa merupakan hewan bersifat uniseluler, dimana setiap satu sel
protozoa merupakan keseluruhan dari organisme itu sendiri. Protoplasma dari protozoa dapat
mengadakan modifikasi-modifikasi atau penonjolan-penonjolan yang dapat bersifat
sementara atau tetap (Hartati, 2009: 17).
Protozoa merupakan sekelompok makhluk yang bersel tunggal, yang heterogen,
meliputi kurang lebih 50.000 species yang telah diberi nama, dan 20.000 species yang telah
berupa fosil. Ribuan species telah berhasil dideskripsikan sebagai makhluk yang hidup bebas

dan sebagian lainnya hidup secara parasit pada hewan lain, terutama hewan tingkat tinggi.
Jumlah hewan protozoa dalam suatu tempat sering sangat menakjubkan, misalnya dalam
suatu kolam dapat mencapai jutaan hewan, bahkan milyaran (Maskoeri, 1984: 31).
Protozoa yang jumlahnya besar itu mempunyai ciri-ciri yang berbeda, dan beberapa
ahli membagi menjadi 3 kingdom dan puluhan phyla. Sehubungan dengan hal tersebut
Whittaker (1969) mencoba mengklasifikasikan protozoa yang beraneka ragam itu satu
kingdom lain. Seperti kita ketahui bahwa hewan pada masa lalu hanya terdapat satu kingdom
yaitu kingdom Animalia, yang banyak diterima orang (Maskoeri, 1984: 31).
Seperti halnya sel makhluk hidup lain, sel protozoa terdiri dari protoplasma yang
dibungkus membran sel (plasmolemma) yang berfungsi sebagai dinding sel. Protoplasma
terdiri dari dua komponen utama yaitu inti sel (nukleus) dan isi sel atau sitoplasma. Dengan
menggunakan mikroskop akan terlihat bahwa sitoplasma terdiri atas dua bagian. Bagian
terluar tampak homogen dan jernih (hyalin) disebut ektoplasma, dan bagian dalam disebut
endoplasma. Dalam endoplasma terlihat benda-benda seperti butir-butir kecil dan serabut
benang halus yang ternyata adalah materi mengandung protein, karbohidrat, lemak, garam
mineral, serta organel. Protozoa tidak memiliki organ sejati seperti alat pencernaan dan alat
reproduksi sebagaimana layaknya metazoa. Akan tetapi mampu melakukan semua kegiatan
biologis seperti bergerak, makan, bernapas, dan reproduksi. Proses-proses tersebut dilakukan
oleh bagian di dalam sel, yang disebut vakuola kontraktil (Sugiarji, 2005: 26).
Sebagian besar Protozoa berkembang biak secara aseksual (vegetatif) dengan cara :
pembelahan mitosis dan spora. Pembelahan mitosis (biner), yaitu pembelahan yang diawali
dengan pembelahan inti dan diikuti pembelahan sitoplasma, kemudian menghasilkan 2 sel
baru. Pembelahan biner terjadi pada Amoeba, Paramaecium. sp, dan Euglena. sp.
Paramaecium membelah secara membujur/ memanjang setelah terlebih dahulu melakukan
konjugasi. Euglena membelah secara membujur /memanjang (longitudinal). Spora,

Perkembangbiakan aseksual pada kelas Sporozoa (Apicomplexa) dengan membentuk spora


melalui proses sporulasi di dalam tubuh nyamuk Anopheles. Spora yang dihasilkan disebut
sporozoid. Perkembangbiakan secara seksual pada Protozoa dengan cara : konjugasi dan
sporozoa. Konjugasi, Peleburan inti sel pada organisme yang belum jelas alat kelaminnya.
Pada Paramaecium. sp mikronukleus yang sudah dipertukarkan akan melebur dengan
makronukleus, proses ini disebut singami. Peleburan gamet Sporozoa (Apicomplexa) telah
dapat menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Peleburan gamet ini berlangsung di
dalam tubuh nyamuk (Anonim, 2010).
Pernapasan atau pertukaran oksigen dan karbondioksida berlangsung secara difusi
karena adanya perbedaan tekanan gas di dalam sel dan di luar sel. Protozoa bergerak dengan
menggunakan kaki semu (pseudopodia), cilia, atau flagella. Pseudopodia berasal dari
penjuluran sitoplasma, dan bersifat sementara terutama untuk berpindah tempat atau makan.
Gerakan tersebut timbul akibat dari kontraksi protoplasma memanjang dan memendek secara
lambat. Protozoa yang bergerak dengan pseudopodia

adalah dari kelas Sarcodina.

Pseudopodia dibagi dalam empat tipe atas dasar bentuk penjuluran protoplasmanya yaitu;
lobopodia, filopodia, reticulopodia, dan axopodia (Sugiarto, 2005: 26-27).
Cilia atau bulu getar merupakan alat gerak yang berbentuk bulu-bulu halus, biasanya
banyak dan selalu bergetar. Ada beberapa tipe-tipe cilia, yaitu; Holotrich, Heterotrich,
Peritrich, dan Hypotich (Hartati, 2009: 28).
Flagela (bulu cambuk) merupakan alat gerak berupa protoplasma panjang seperti
cambuk, berjumlah satu atau lebih tetapi umumnya dua helai. Flagela berfungsi sebagai alat
gerak maju dengan kecepatan antara 15 sampai 300 mikron per detik (Sugiarto, 2005: 28).
Cara makan protozoa ada 3 macam; yaitu autotrof, heterotrof, dan amfitrof. Autotrof
artinya dapat mensintesis makanan sendiri seperti layaknya tumbuh-tumbuhan dengan jalan
fotosintesis. Protozoa yang tidak dapat melakukan fotosintesis, mendapatkan makanannya

dengan jalan menelan benda padat, atau memakan organisme lain seperti bakteri, jamur atau
protozoa lain bersifat heterotrof. Protozoa yang bersifat autotrof dan heterotrof disebut
amfitrof (Sugiarto, 2005: 28).
Protozoa yang bersifat heterotrof dan dinding selnya terdiri dari suatu membran tipis,
mengambil makanannya dengan cara membungkus makanan kemudian menelannya ke dalam
sitoplasma. Cara ini disebut fagositosis. Pada jenis yang berdinding tebal (petikula), cara
mengambil mangsanya dengan menggunakan mulut sel yang disebut cytostome, dan biasanya
dilengkapi cilia untuk mengalirkan air hingga bila ada makanan yang lewat dapat ditangkap
dan dimasukkan ke dalam sitoplasma (Sugiarto, 2005: 28).
Makanan yang masuk ke dalam sitoplasma bersama air akan ditempatkan dalam
suatu rongga kecil yang disebut gastriola (vakuola makanan). Makanan di dalam gastriola
dicerna secara enzimatis. Hasil pencernaan disebarkan ke seluruh bagian protoplasma dengan
proses dengan proses pynocytose, sedangkan sisa pencernaan dibuang melalui lubang
sementara pada membrane sel; pada flagelata dan ciliata adakalanya terdapat lubang
permanen yang disebut cytopyge atau cytoproct. Kelebihan air dalam sel akan dikeluarkan
oleh organel yang disebut vakuola kontraktil dengan gerakan sistol dan diastolnya. Dalam
suatu sel protozoa biasanya ditemukan beberapa vakuola kontraktil yang terdapat dekat
dinding sel. Vakuola kontraktil pada protozoa yang hidup di air tawar berkembang dengan
baik, sedangkan yang di laut kurang berkembang (Sugiarto, 2005: 28-29).
Sampai saaat ini diperkirakan ada 50.000 spesies protozoa yang sudah diidentifikasi.
Habitat hidupnya di laut, air payau, air tawar dan daratan yang lembab maupun pasir kering.
Diantaranya banyak yang hidup bebas dan merupakan makanan bagi organisma dari
tingkatan yang lebih tinggi. Beberapa jenis flagelata dan ciliate merupakan makanan bagi
anak ikan. Akan tetapi banyak juga yang hidup sebagai parasit baik pada hewan, tumbuhan
maupun pada manusia. Parasit pada ikan antara lain Trichodina dan Ichthyophthirius dari

kelas ciliate, serta Heneguya dari kelas Myxosporea. Adapula jenis protozoa yang dapat
menghasilkan racun seperti Pyrodinium bahamense yang diduga sebagai penyebab red tide
atau pasang merah di berbagai pantai daerah Indopasifik, misalnya India, Thailand,
Singapura, Sabah, Philipina, Indonesia, dan Australia. Disamping itu ada juga jenis protozoa
yang dapat digunakan untuk mencegah serangan protozoa jenis tertentu. Misalnya
Tetrahymena pyriformis digunakan sebagai vaksin pencegah serangan jenis Ichthyophthirius
multifiliis (Anonim, 2010).

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, kaca preparat,
deck glass dan pipet biasa.
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut methylen
blue encer, sampel air yang diperoleh dari tempat genangan air seperti pada genangan air
selokan, air kolam, air jerami, dan tissue.
3. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang digunakan pada praktikum ini sebagai berikut;
1. Mengambil sampel air dengan menggunakan pipet, meletakkan dengan hati-hati di atas objek
gelas lalu mengamati pada mikroskop (mengusahakan mulai pada perbesaran terkecil).
2. Mengamati struktur morfologi ataupun anatomi dari organisme yang telah diamati kemudian
mencatat jenisnya.
3. Dapat memberi pewarna pada organisme tersebut, misalnya methylen blue encer dengan cara
meneteskan pada salah satu sisi deck glass dan menghisapnya dengan menggunakan tissue
atau kertas saring pada sisi lain deck glass.
Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini yaitu sebagai berikut :

1. Air selokan (Paramecium sp)


Perbesaran : 10 X 10
Keterangan :
1.

Cilia

2.

Membrane plasma

3.

Endoplasma

4.

Mikronukleus

5.

Makronikleus

6.

Cell mulut

7.

Sitoplasma

8.

Ektoplasma

9.

Vakuola kontraktil

10. Vakuola makanan


11. Sitosoma

2.Air selokan (Chlamidomonas sp)


Perbesaran : 10 X 10
Keterangan :
1. Dinding sel
2. Mitokondria
3. Badan golgi
4. Nukleus
5. Pyrenoid body
6. Kloroplas

7. Star granule
8. Vakuola kontraktil
9. Flagella
1. Paramecium sp
a.

Morfologi
Paramecium ini berukuran sekitar 50-350m. yang telah memiliki selubung inti
(Eukariot). Protista ini memiliki dua inti dalam satu sel, yaitu inti kecil (Mikronukleus) yang
berfungsi untuk mengendalikan kegiatan reproduksi, dan inti besar (Makronukleus) yang
berfungsi untuk mengawasi kegiatan metabolisme, pertumbuhan, dan regenerasi. Sistem
reproduksi pada protista yaitu secara aseksual (membelah diri dengan cara transversal), dan
seksual (dengan konjugasi). Paramecium bergerak dengan menggetarkan silianya, yang
bergerak melayang-layang di dalam air. Cara menangkap makanannya adalah dengan cara
menggetarkan rambut (silianya), maka terjadi aliran air keluar dan masuk mulut sel. Saat
itulah bersamaan dengan air masuk bakteri bahan organik atau hewan uniseluler lainnya.
memiliki vakuola makanan yang berfungsi untuk mencerna dan mengedarkan makanan, serta
vakuola berdenyut yang berguna untuk mengeluarkan sisa makanan.

b.

Anatomi
Paramecium memiliki bentuk oval, sandal, bulat di bagian depan / atas dan menunjuk
di belakang / bawah. Kulitnya tipis dan elastis. Adapun yang menutupi kulit tipis adalah
rambut-rambut kecil banyak, yang disebut silia. Lubang bagian belakang disebut pori anal.
Pada bagian luar paramecium ditemukan vakuola kontraktil dan kanal. Dan bagian dalam
paramecium terdapat sitoplasma, trichocysts, kerongkongan, vakuola makanan, macronucleus
dan mikronukleus itu sendiri. Paramecium sering disebut sepatu animalcules karena
bentuknya seperti sepatu. Paramecia adalah organisme uniseluler biasanya kurang dari 0,25
mm (0,01 in) panjang dan ditutupi dengan rambut yang disebut silia. Silia digunakan dalam

gerak dan selama makan. Ketika bergerak melalui air, paramecia mengikuti jalan spiral
sementara berputar pada sumbu panjang. Paramecium memiliki inti besar yang disebut
macronucleus, dan satu atau dua inti kecil yang disebut micronuclei. Reproduksi aseksual
biasanya oleh pembelahan biner melintang, kadang-kadang seksual dengan konjugasi, dan
jarang oleh endomixis, proses nuklir yang melibatkan reorganisasi total DNA organisme
individu. Macronuclear di Paramecium memiliki gen kepadatan tinggi sangat. macronucleus
dapat berisi sampai 800 eksemplar dari setiap gen. Paramecia berlimpah-limpah di kolam air
tawar di seluruh dunia; satu spesies hidup di perairan laut.
Paramecium menggunakan pemukulan silia pada saat berenang. Bergeraknya
paramecium oleh spiral melalui air pada sumbu yang tak terlihat. Paramecium bergerak
mundur, para silia hanya mengalahkan maju di sudut. Jika paramecium berjalan ke arah
benda padat berubah silia dan memukul ke depan, menyebabkan paramecium untuk pergi ke
belakang. paramecium itu berbalik sedikit dan berjalan maju lagi.
Paramecium memakan mikroorganisme seperti bakteri, alga, dan ragi. paramecium
menggunakan silia untuk menyapu makanan bersama dengan air ke dalam mulut sel setelah
jatuh ke dalam alur lisan. Makanan berjalan melalui mulut ke dalam tenggorokan dalam sel.
Jika ada cukup makanan di dalamnya sehingga telah mencapai ukuran tertentu, melepaskan
diri dan membentuk vakuola makanan. Vakuola makanan berjalan menuju sel. Lalu bergerak
sepanjang enzim dari sitoplasma masuk vakuola dan mencernanya. Makanan dicerna
kemudian masuk ke dalam sitoplasma dan vakuola semakin kecil dan lebih kecil. Ketika
vakuola mencapai pori anal limbah sisa belum dicernakan akan dihapus. Paramecium dapat
mengeluarkan trichocyts ketika mereka mendeteksi makanan, dalam rangka untuk lebih
menangkap mangsanya. Trichocyts ini diisi dengan protiens. Trichocysts juga dapat
digunakan sebagai metode pertahanan diri. Paramecium adalah heterotrophs. bentuk umum
mereka dari mangsanya adalah bakteri. Organisme tunggal memiliki kemampuan untuk

makan sehari 5.000 bakteri. Mereka juga dikenal untuk makan ragi, alga, dan protozoa kecil
ambil. Paramecium mangsanya melalui fagositosis.
c.

Habitat
Habitat dari Paramecium yaitu hidup di perairan, biasanya stagnan, air hangat. Spesies
Paramecium bursaria bentuk hubungan simbiotik dengan ganggang hijau. Ganggang ini
hidup di sitoplasma nya. fotosintesis ganggang menyediakan sumber makanan untuk
Paramecium. Beberapa spesies membentuk hubungan dengan bakteri. Mereka tidak bisa
tumbuh di luar organisme ini. Spesies ini mengakuisisi-shock perlawanan panas ketika
terinfeksi obtusa Holospora, yang berkontribusi terhadap gerakan silia. Paramecium juga
dikenal sebagai mangsa untuk Didinium .
Paramecia berperan dalam siklus karbon karena bakteri mereka makan sering
ditemukan pada tanaman membusuk. Paramecium akan memakan materi tanaman membusuk
di samping bakteri, lebih lanjut membantu dekomposisi.

d.

Klasifikasi
Adapun klasifkasi Paramecium .sp yaitu :
Kingdom

: Protista

Filum

: Ciliophora

Class

: Ciliatea

Subkelas

: Rhabdophorina

Ordo

: Peniculida

Subordo

: Hymenostomatida

Family

: Parameciidae

Genus

: Paramecium

Species

: Paramecium .sp

Sedangkan jenis-jenis Paramecium itu sendiri terbagi atas :


Paramecium Aurelia
Paramecium bursaria
Paramecium caudatum
Paramecium tetraurelia

4.2

Pembahasan

1. Paramecium Sp
a.

Morfologi
Paramecium memiliki tubuh yang seluruhnya atau sebagian ditutupi oleh cilia atau
rambut getar, mempunyai satu makronukleus dan satu atau beberapa mikronukleus,
Paramecium bereproduksi secara vegetatif dengan pembelahan melintang, makronukleus
membelah secara amitosis sedangkan mikronukleus secara mitosis. Paramecium memiliki
tubuh streamline yang dapat digunakan untuk berenang. Laju renang dibantu oleh silia yang
menutupi permukaan tubuh. Paramecium

bergerak dengan kecepatan 1500 /detik atau

lebih. Selama bergerak, silia membuat gerakan yang simultan dari anterior ke posterior,
disebut ritme metakronal.
b. Anatomi
Bentuk sel pada paramecium seperti sandal (alas kaki), memiliki makronuklesus satu,
mikronukleus satu atau lebih,dimana mikronukleus berfungsi sebagai alat reproduksi dan
mikronekleus sebagai konjugasi . Habitat Paramecium

pada air tawar yang berenang.

Memiliki vakuola denyut yang terletak pada permukaan aboral yang berfungsi sebagai sistem
ekskresi dan mengedarkan makanan keseluruh tubuh . Ujung sel bagian anterior lebih tumpul
atau membulat . vakuola makanan banyak dan makronukleus bundar atau letaknya ditengah.
Paramecium

merupakan salah satu protista mirip hewan. Protista ini berukuran

sekitar 50-350 m. Paramecium telah memiliki selubung inti (Eukariot). Uniknya Protista
ini memiliki dua inti dalam satu sel, yaitu inti kecil (Mikronukleus) yang berfungsi untuk
mengendalikan kegiatan reproduksi, dan inti besar (Makronukleus) yang berfungsi untuk
mengawasi kegiatan metabolisme, pertumbuhan, dan regenerasi. Paramecium bereproduksi
secara aseksual (membelah diri dengan cara transversal), dan seksual (dengan konjugasi).
Paramecium Sp bergerak dengan menggetarkan silianya. Hal ini akan terlihat jika

menggunakan mikroskop. Mereka menangkap makanan dengan cara menggetarkan silianya,


maka terjadi aliran air keluar dan masuk mulut sel. Saat itulah bersamaan dengan air masuk
bakteri bahan organik atau hewan uniseluler lainnya. memiliki vakuola makanan yang
berfungsi untuk mencerna dan mengedarkan makanan, serta vakuola berdenyut yang berguna
untuk mengeluarkan sisa makanan.
Tubuh paramecium memiliki dua vakuola kontraktil dan sejumlah vakuola makanan.
Panjang tubuh berkisar antara 80-350 m. permukaan ventral mengandung celah mulut.
paramecium bereproduksi secara aseksual dengan pembelahan transversal.
c.

Habitat
Habitat alami mereka adalah air tawar, Paramecium

Sp mengambil air dari

hipotonik lingkungan melalui osmosis dan menggunakan kandung kemih seperti kontraktil
vakuola untuk mengumpulkan kelebihan air dari kanal radial dan mengusir berkala melalui
membran plasma oleh kontraksi sekitarnya sitoplasma. Paramecium

distribusi diseluruh

dunia diair tawar kolam, aliran air, sungai, danau, sawah.


d. klasifikasi
Adapun klasifikasinya adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Philum

: Protozoa

Sub phylum

: Ciliophora

Class

: Ciliate

Subclass

: Holotricha

Ordo

: Hymenostomatida

Family

: Paramecidae

Genus

: Paramaecium

Species

: Paramaecium caudatum

2. Euglena
a.

Morfologi
Euglena memiliki tubuh yang menyerupai gelendong dan diselimuti oleh pelikel
Euglena viridis. Ukuran tubuhnya 35 60 mikron dimana ujung tubuhnya meruncing dengan
satu bulu cambuk. Hewan ini memilki stigma (bintik mata berwarna merah) yang digunakan
untuk membedakan gelap dan terang. Euglena juga memiliki kloroplas yang mengandung

klorofil untuk berfotosintesis. Euglena memasukkan makanannnya melalui sitofaring menuju


vakuola dan ditempat inilah makanan yang berupa hewan hewan kecil dicerna.
b. Anatomi
Euglena memiliki satu flagella yaitu ekor sebagai alat gerak, satu panjang dan satu
pendek organieme ini dapat melakukan simbiosis dengan jenis ganggang tertentu dan
tubuhnya dapat memancarkan sinar bila terkena rangsangan mekanik. Untuk reproduksi
Euglena berkembang biak secara vegetatif, yaitu dengan pembelahan biner secara membujur.
Pembelahan ini dimulai dengan membelahnya nukleus menjadi dua. Selanjutnya flagel dan
sitoplasma serta selaput sel juga terbagi menjadi dua. Akhirnya terbentuklah dua sel euglena
baru. Sistem sirkulasi euglena mengambil zat organik yang terlarut di sekitarnya.
Pengambilan zat organik dilakukan dengan cara absorbsi melalui membran sel. Selanjutnya,
zat makanan itu dicernakan secara enzimatis di dalam sitoplasma.
Euglena adalah sel tunggal memanjang runcing diujung posterior, dan tumpul pada
ujung anterior. Euglena viridis adalah sejenis alga bersel tunggal yang berbentuk lonjong
dengan ujung anterior (depan) tumpul dan meruncing pada ujung posterior (belakang). Setiap
sel Euglena dilengkapi dengan sebuah bulu cambuk (flagel) yang tumbuh pada ujung anterior
sebagai alat gerak. Pada ujung anterior ini juga terdapat celah sempit yang memanjang ke
arah posterior. Pada bagian posterior, celah ini melebar dan membentuk kantong cadangan
atau reservoir. Flagel terbentuk di sisi reservoir. Di sisi lain dari flagel terdapat bintik mata
yang sangat peka terhadap rangsangan sinar matahari. Tubuh Euglena terlindung oleh selaput
pelikel, sehingga bentuk tubuhnya tetap.
c.

Habitat
Euglena berhabitat di habitat air tawar dan melimpah di daerah ini, seperti di kolam

peternakan atau parit saluran air, yang mengkonsumsi kotoran binatang. Euglena dapat hidup
secara autotrop maupun secara heterotrop. Pada saat sinar matahari mencukupi, Euglena
melakukan fotosintesis. Tetapi bila tidak terdapat sinar matahari, Euglena mengambil zat
organik yang terlarut di sekitarnya. Pengambilan zat organik dilakukan dengan cara absorbsi
melalui membran sel. Selanjutnya, zat makanan itu dicernakan secara enzimatis di dalam
sitop. Euglena adalah hewan bersel satu berwarna hijau, karena berklorofil, merupakan suatu
marga dari hewan-hewan mastigophora. Hidup dalam kolam dan sering membuat lapisan
permukaana air yang berwarna hijau

Euglena banyak dijumpai di kolam-kolam dan sering memberikan warna hijau pada
air kolam. Hal in disebabkan hewan tersebut memiliki kloroplas didalam tubuhnya. Euglena
terdapat di air tawar, misal di sawah. Bentuk tubuh sel oval memanjang, pada mulut sel
terdapat cambuk atau flagel dan digunakan untuk bergerak. Dekat mulut terdapat bintik mata
(stigma) yang gunanya untuk membedakan gelap dan terang. Di dalam sitoplasmanya
terdapat butir kloroplas yang berisi klorofil. Oleh karena itu Euglena berwarna hijau.
Contohnya Euglena viridisz.
d. Klasifikasi
Hewan-hewan yang termasuk dalam kelas Mastigopora (flagellata) ini mempunyai
satu atau lebih flagella (bulu cambuk). Contoh dari Mastigopora (flagellata) hewan ini adalah
Euglena viridis, adapun klasifikasinya adalah sebagai berikut:
Philum

: Protozoa

Sub Philum

: Sarcomastigophora

Kelas

: Phitomastigophora

Family

: Euglenoidae

Genus

: Euglena

Species

: Euglena Viridis

Rhizopoda
a) Dinding tubuh plasmolemma dan bentuk berubah-ubah.
b) Bergerak dengan pseudopodium : lobopodia (berkantung tumpul), filopodia (bentuk jarum/tabung),
aksopodia (jarum/tabung tidak bercabang), dan retikulopodia (berrcabang lebih dari satu).
c) Memiliki inti jelas.
d) Respirasi dengan permukaan tubuh secara difusi.
e) Ekskresi dengan permukaan tubuh, selain itu dengan vakuola kontraktil bagi yang hidup bebas,
sementara yang parasit tidak ada vakuola kontraktil.
f) Vakuola kontraktil selain sebagai alat ekskresi juga berfungsi sebagai osmoregulator (mengatur
keseimbangan air).
g) Pencernaan makanan secara internal pada vakuola makanan.
h) Reproduksi vegetatif dengan pembelahan biner secara ortodhox.
Rhizopoda ada yang hidup bebas dan ada juga yang parasit. Rhizopoda yang hidup bebas : Amoeba
proteus, Arcella, Difflugia, Globigerina, Actinophrys. Rhizopoda yang hidup parasit : Entamoeba
dysentriae, Entamoeba gingivalis, Entamoeba coli.

3) Cilliata
a. Dinding tubuh berupa pellicle (periskel), bentuk relative tetap.
b. Bergerak dengan cilia.
c. Memiliki inti dan beberapa spesies intinya lebih dari satu. Contohnya : Paramecium Aurelia.
d. Respirasi dengan permukaan tubuh secara difusi.
e. Ekskresi dengan permukaan tubuh, selain itu dengan vakuola kontraktil bagi yang hidup bebas,
sementara yang parasit tidak ada vakuola kontraktil.
f. Vakuola kontraktil selain sebagai alat ekskresi juga berfungsi sebagai osmoregulator (mengatur
keseimbangan air).
g. Pencernaan makanan secara internal pada vakuola makanan.
h. Reproduksi secara vegetatif dengan pembelahan biner secara transversal. Reproduksi generatif
dengan konyugasi pada Paramecium caudatum dan autogami pada paramecium Aurelia.
Cilliata ada yang hidup bebas dan ada juga yang parasit. Cilliata yang hidup bebas : Paramecium
caudatum, Paramecium Aurelia, Stentor, Spirostomum, Stylonichia, Euplotes, Prorodon, Dileptus,
Coleps, Vorticella, Carchecium, Epistylis, Podophrya. Cilliata yang hidup parasit : Balantidium coli.
4) Sporozoa
a. Dinding tubuh berupa pellicle, bentuk relatif tetap.
b. Tidak memiliki alat gerak, bergerak dengan sel itu sendiri.
c. Memiliki inti , pada waktu pembelahan ganda, inti membelah berulang-ulang. Setiap inti
membentuk pembungkusnya dan dihasilkan individu baru yang cukup banyak.
d. Respirasi dengan permukaan tubuh secara difusi.
e. Ekskresi dengan permukaan tubuh.
f. Tidak memiliki vakuola kontraktil karena hidupnya parasit.
g. Merupakan hewan saprofitik (menyerap zat yang terlarut di sekitarnya).
h. Reproduksi vegetatif dengan pembelahan berganda dengan banyak individu baru. Reproduksi
generatif pada Plasmodium dengan pergiliran keturunan. Fase vegetatif pada tubuh manusia dan fase
generatif pada tubuh nyamuk Anopheles betina.
Sporozoa di antaranya : Plasmodium Vivax, Plasmodium Malariae, Plasmodium falcifarum,
Plasmodium cynomologi, Plasmodium knowlest, Plasmodium gonderi, Plasmodium berghei,
Plasmodium gallinaceum, Monocystis.

Klasifikasi protozoa
Berdasarkan struktur alat geraknya , filum protozoa dibedakan menjadi empat kelas:

Kelas Rhizopoda (sarcodina)


Kelas Ciliata
Kelas Flagellata
Kelas sporozoa

1. Kelas Rhizopoda
Bergerak dengan kaki semu (pseudopodia) yang merupakan penjuluran protoplasma sel, yang
berfungsi sebagai alat penangkap mangsa. Hidup di air tawar, air laut, tempat-tempat basah, dan
sebagian ada yang hidup dalam tubuh hewan atau manusia. Perkembangbiakan secara tidak kawin
melalui pembelahan biner dan pembentukkan kista. Jenis yang paling mudah diamati adalah Amoeba.
Pada Amoeba , pergerakkan Amoeba dengan menggunakan kaki semu terjadi karena adanya
rangsangan makanan. Makananya dapat berupa ganggang, bacteri atau sisa-sisa organik. Ektoamoeba
adalah jenis Amoeba yang hidup liar di luar tubuh organisme lain (hidup bebas). Contohnya Amoeba
proteus, Foraminifera , Arcella, Radiolaria. Entamoeba adalah jenis Amoeba yang hidup di dalam
tubuh organisme , contohnya Entamoeba histolityca, dan Entamoeba coli.
Struktur tubuh Amoeba:
Sel dilindungi oleh membrane sel. Didalam selnya terdapat organel organel, diantaranya inti sel,
vakuola kontraktil, dan vakuola makanan.

Membrane sel atau membran plasma


Membrane sel disebut juga plasmalema dan berfungsi melindungi protoplasma.
Sitoplasma dibedakan atas ekstoplasma dan endoplasma. Ektoplasma merupakan lapisan luar
sitoplasma yang letaknya berdekatan dengan membrane plasma dan umumnya ektoplasma merupakan
bagian dalam plasma, umumnya bergranula. Didalam endoplasma terdapat 1 inti, satu vakuola
kontraktil, dan beberapa vakuola makanan. Inti sel (nukleus) berfungsi untuk mengatur selurug
kegiatan yang berlangsung di dalam sel.
Rongga berdenyut (Vakuola Kontraktil)
Rongga berdenyut disini berfungsi sebagai organ eksresi sisa makanan. Vakuola kontraktil juga
menjaga agar tekanan osmosis sel selalu lebih tinggi dari tekanan osmosis di sekitarnya.
Rongga makanan (vakuola makanan )
Rongga makanan atau sering disebut dengan vakuola makanan berfungsi sebagai alat pencernaan.
Makanan yang tidak dicerna akan dikeluarkan melalui rongga berdenyut.
Tempat hidup dan habitat

Berdasarkan tempat hidupnya Amoeba dibedakan menjadi :


a. Ektamoeba : hidup di luar tubuh organisme (hidup bebas). Misalnya Amoeba proteus
b. Entamoeba : hidup di dalam organisme , misalnya manusia: contohnya Entamoeba histolityca, yang
hidup di dalam usus halus manusia, bersifat parasit dan menyebabkan penyakit perut (Disentri).
Entamoeba coli, hidup dalam colon (usus besar manusia). Amoeba ini tidak bersifat parasit , tetapi
kadang-kadang dapat menyebabkan buang air besar terus-menerus. Entamoeba ginggivalis, hidup
dalam rongga mulut dan menguraikan sisa-sisa makanan, sehingga merusak gigi dan gusi.
Terdapat juga contoh dari Rhizopoda lainnya seperti:
1. Arcella
Memiliki rangka luar yang tersusun dari zat kitin. Hewan ini banyak terdapat di air tawar. Berbentuk
seperti piring, dengan satu permukaan cembung dan permukaan lainnya cekung atau datar , yang
ditengahnya terdapat lubang tempat keluarnya kaki palsu.
2. Diffugia
Rangka luar diffugia dapat menyebabkan butir-butir pasir halus dan benda-benda laindapat melekat.
3. Foraminifera
Memiliki rangka luar yang terdiri dari silica atau zat kapur (mengandung kalsium karbonat). Semua
anggota foraminifera ini hidup di laut. Genus yang paling terkenal dari Foraminifera ini adalah
Globigerina, karena lapisan Foraminifera dapat digunakan sebagai petunjuk dalam pencarian sumber
minyak bumi.
4. Radiolaria
Merupakan organisme laut bertubuh bulat seperti bola dan memilki banyak duri yang terbuat dari zat
kitin dan stonsium sulfat. Radiolaria yang mati akan mengendap yang disebut dengan Lumpur
radiolaria yang digunakan sebagai bahan alat penggosok serta bahan peledak. Contoh genusnya :
Achantometro dan Collosphaera.

2. Kelas Flagellata (Mastigophora)


Bergerak dengan flagel (bulu cambuk) yang digunakan juga sebagai alat indera dan alat bantu untuk
menangkap makanan. Dibedakan menjadi dua yaitu:

Flagellata autotrofik (berkloroplas) , dapat berfotosintesis. Contohnya Euglena viridis, Noctiluca


mliliaris, volvox globator.
Flagellata heterotrofik (tidak berkloroplas), tidak dapt berfotosintesis. Contohnya Trypanosoma
gambiense, Leishmania. Sebagian besar hidup bebas dan ada pula yang sebagai parasit pada manusia
dan hewan, atau saprofit pada organisme mati.

Flagellata juga dibagi menjadi dua yaitu : Fitoflagellata dan zooflagellata.


1. Fitoflagellata
Adalah flagellata yang dapat melakukan fotosintesis karena memiliki kromatofora. Fitoflagellata
mencerna makananya dengan berbagai cara, menelan lalu mencernanya di dalam tubuhnya (holozoik),
membuat sendiri makanannya (holofitrik), atau mencerna organisme yang sudah mati (saprofit).
Habitat fitoflagellata di perairan bersih dan perairan kotor. Fitoflagellata bergerak dengan
menggunakan flagella.
Fitoflagellata mempunyai
a. struktur tubuh
Tubuhnya diselubungi oleh membrane selulosa, misalnya Volvox. Ada pula yang memiliki lapisan
pelikel, misalnya euglena. Pelikel adalah lapisan luar yang terbentuk dari selaput plasma yang
mengandung protein.
b. Reproduksi
Cara reproduksi ada dua, yaitu secara konjugasi dan secara aseksual dengan membelah diri.
c. Klasifikasi
Dibagi menjadi 3 kelas:
1. Euglenoida : Tubuhnya menyerupai gelendong dan diselimuti oleh pelikel. Contohnya yang
terdapat pada Euglena viridis.
Euglena viridis mempunyai ciri-ciri :
1. Ukuran tubuhnya 35 60 mikron
2. Ujung tubuhnya meruncing dengan satu bulu cambuk
3. Hewan ini memilki stigma (bintik mata berwarna merah) yang digunakan untuk membedakan gelap
dan terang.
4. Memiliki kloroplas yang mengandung klorofil untuk berfotosintesis
5. Memasukkan makanannnya melalui sitofaring menuju vakuola dan ditempat inilah makanan yang
berupa hewan hewan kecil dicerna.

Gambar : Euglena sp
2. Dinoflagellata : contohnya terdapat pada Noctiluca milliaris, yang mempunyai ciri-ciri :
1. Memiliki satu flagella, satu panjang dan satu pendek
2. Dapat melakukan simbiosis dengan jenis ganggang tertentu

3. Tubuhnya dapat memancarkan sinar bila terkena rangsangan mekanik.


3. Volvocida yang mempunyai ciri-ciri mempunyai ciri-ciri :
1. bentuk tubuh umumnya bulat
2. koloninya terdiri dari ribuan hewan bersel satu yang masing-masing memiliki dua flagella
3. Setiap sel memiliki inti , vakuola kontraktil, stigma dan kloroplas.

2. Zooflagellata
Adalah flagellata yang tidak berkloroplas dan menyerupai hewan. Ada yang hidup bebas namun
kebanyakan bersifat parasit. Mempunyai :
a. Struktur tubuh
Bentuk tubuh mirip dengan sel leher porifera. Mempunyai flagella yang berfungsi untuk
menghasilkan aliran iar dengan menggoyangkan flagella, selain itu flagella juga berfungsi sebagai alat
gerak.
b. Reproduksi
Dilakukan secara aseksual dengan membelah biner secara longitudinal , sedangkan reproduksi seksual
belum diketahui.
Contohnya adalah:
1. Trypanosoma
Hewan ini bercirikan bentuk tubuh yang pipih dan panjang seperti daun , merupakan parasit dalam
darah vertebrata , dan tidak membentuk kista.
Jenis jenis Trypanosoma antara lain adalah:
a. Trypanosome lewisi hidup pada tikus , hospes perantaranya adalah lalat tse-tse
b. Trypanosoma evansi , penyebab penyakit sura (malas ) pada ternak; hospes perantaranya adalah
lalat tse tse.
c. Trypanosoma gambiense dan T. rhodesiensis hewan penyebab penyakit tidur pada manusia
manusia.
d.Trypanosoma cruzi, penyebab penyakit cagas (anemia pada anak kecil)

2. Leishmania
merupakan penyebab penyakit pada sel-sel endothelium pembuluh darah. Jenis-jenis Leismania
adalah :

a. Leishmania donovani, penyebab penyakit kalazar yang ditandai dengan demam dan anemia, hewan
ini banyak terdapat di Mesir , sekitar laut tengah , dan india.
b. Leishmania tropica, penyebab penyakit kulit , disebut penyakit oriental sore, terdapat di Asia
(daerah mediterania) dan sebagian Amerika selatan.
c. Leishmania brasiliensis, juga oenyebab oenyakit kulit dimeksiko dan amerika tengah selatan.

3. Kelas Ciliata
Anggota Ciliata ditandai dengan adanya silia (bulu getar) . Pada fase hidupnya yang digunakan
sebagai alat gerak dan mencari makanan. Ukuran silia lebih pendek dari flagel. Memilki 2 inti sel
(nukleus), yaitu makronukleus (inti besar), yang mengendalikan fungsi hidup sehari-hari dengan cara
mensintesis RNA, juga berperan penting dalam reproduksi aseksual, dan mikronukleus (inti kecil)
yang dipertukarkan pada saat konjugasi untuk proses reproduksi seksual. Ada vakuola kontraktil yang
berfungsi untuk menjaga keseimbangan air dalam tubuhya. Banyak hidup di air laut dan tawar.
Contoh : Paramaecium caudatum, Stentor, Didinium, Vorticella, Balantidium coli . Alat geraknya
berupa rambut getar (silia). Ciliata mempunyai beberapa ciri-ciri , antara lain :
a. Struktur tubuh
1. Kebanyakan ciliata berbentuk simetris kecuali ciliate primitiv, simetrinya radial.
2. Tubuhnya diperkuat oleh perikel, yaitu lapisan luar yang disusun oleh sitoplasma padat
3. Tubuhnya diselimuti oleh silia , yang menyelubungi seluruh tubuh utama disebut silia somatic
4. Ciliata mempunyai dua tipe inti sel (nukleus), yaitu makronukleus dengan mikronukleus.
5. Ciliata tidak mempunyai struktur khusus pertukaran udara dan sekresi nutrisi dan
cara makan
Ciliata memilki mulut atau sitosom yang terbuka menjadi saluran pendek. Di sitofaring pada hewan
primitiv , mulut terletak di ujung interior tetapi pada kebanyakan Ciliata , bagian tersebut diganti oleh
bagian posterior. Terdapat dua macam mulut pada ciliata yaitu:
1. Mulut membran berombak : merupakan ciliata yang menyatu dalam barisan panjang
2. Membran yang berupa barisan pendek dari cilia yang bersatu membentuk piringan
Fungsi ciliata pada mulut adalah untuk menghasilkan makanan dan mendorong partikel makanan
menuju sitofaring . Contoh anggota Ciliata yang terkenal misalnya Paramecium.
Gambar 1.1 Stentor

Gambar 1.2 Didinium

Gambar 1.3 Vorticella

a. Struktur Paramecium
Ujung depan tubuh tumpul, sedangkan belakang meruncing hingga bentuknya seperti sandal atau
sepatu.
Terdapat contoh Ciliata yang lain antara lain seperti :
1. Stentor ; Bentuk seperti terompet dan menetap di air tawar yang tergenang atau mengalir. Makanan
hewan ini adalah Ciliata yang ukurannya lebih kecil.
2. Didinium ; Merupakan predator pada ekosistem perairan yaitu pemangsa Paramecium.
3. Vortisella ; Bentuk seperti lonceng, bertangkai panjang dengan bentuk lurus atau spiral yang
dilengkapi silia sekitar mulutnya. Hidup di air tawar , menempel dengan tangkai batang yang bersifat
kontraktil pada substrak. Makananya berupa bakteri atau sisa-sisa bahan organik yang masuk bersama
aliran air melalui celah mulutnya.
4. Styllonichia ; Bentuknya seperti siput, silia berkelompok
5. Ballanthidium coli ; habitatnya pada kolon atau usus besar manusia bagian asenden dan transenden
yang dapat menyebabkan gangguan pada perut.

4). Apicomplexa (Sporozoa)


Semua anggota dari Sporozoa ini bersifat endoparasit. Tubuhnya berbentuk bulat atau bulat panjang
dan Tidak memiliki alat gerak khusus, menghasilkan spora (Sporozoid) sebagai cara
perkembangbiakannya. Makanannya langsung diperoleh dari inang tempat hidupnya. Hidup parasit
pada tubuh manusia ataupun dapat juga parasit pada hewan. Sporozoid memiliki organel-organel
komplek pada salah satu ujung (apex) selnya yang dikhususkan untuk menembus sel dan jaringan
inang. Contoh : Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, Plasmodium vivax. Merupakan
golongan protista yang menyerupai jamur, karena sporotozoa dapat membentuk spora yang dapat
menginfeksi inangnya dan tidak memiliki alat khusus, sehingga geraknya mengubah ubah
kedudukan tubuh, sporozoa hidup sebagai parasit. Respirasi dan eksresi terjadi secara difusi.
1. Plasmodium vivax : Penyebab penyakit malaria tertiana, dengan gejala demam (masa sporulasi)
,selang waktu 48 jam
Gambar : Plasmodium vivax

2. Plasmodium malariae : Penyebab penyakit malaria quartana , dengan gejala demam (masa
sporulasi) , selang waktu 72 jam

3. Plasmodium falciparum : Penyebab penyakit malaria tropika, dengan gejala demam (masa
sporulasi) , yang tidak teratur. Bisa 1- 3 X 24 jam.
Gambar : Plasmodium falciparum

4. Plasmodium ovale : Penyebab penyakit malaria ovale tertiana (limpa), dengan gejala demam lebih
ringan daripada malaria tertiana yang disebabkan oleh Plasmodium vivax. Dengan masa sporulasi 48
jam. Tetapi plasmodium ini tidak ditemukan di Indonesia.

a. Struktur tubuh Sporozoa


a. Tubuhnya berbentuk bulat panjang,
b. Ukuran tubuhnya hanya beberapa micron, tetapi didalam usus manusia atau hewan yang dapat
mencapai 10 mm.
c. Tubuh dari kumpulan tropozoid berbentuk memanjang dan dibagian anterior kadang kadang
terdapat kait pengikat atau filament sederhana untuk melekatkan diri pada inang.
b. Reproduksi
Reproduksi secara aseksual dengan spizogoni, yaitu pembelahan diri yang berlangsung di dalam
tubuh inang tetap, dan sporogoni yaitu pembentukan spora yang terjadi pada inang sementara (hospes
intermediet).
Produksi secara seksual melalui persatuan gamet (mikro gamet = gamet jantan dan makro gamet =
gamet betina) yang berlangsung did dalam tubuh nyamuk.
Contohnya adalah Plasmodium.
Siklus hidup Plasmodium di dalam tubuh inang berhasil diungkapkan oleh Charles Laverans dan
Grasy, dengan siklus sebagai berikut :
- Bila seekor nyamuk anopheles menghisap darah , maka dikeluarkanlah zat anti pembekuan darah
agar darah korban tidak membeku . zat ini disebut dengan anti kougulan. Bersamaan dengan zat anti
kogulan maka keluarlah sporozoit zporozoit dari mulut nyamuk dan masuk melalui luka gigitan di
tubuh korban.
- Setelah tiga harisporozoit keluar dari inti, kemudian menyerang sel-sel darah merah dan
memasukinya. Fase ini disebut fase eritrositer.
- Sporozoit di dalam sel darah merah disebut tropozoit. Setelah sel-sel darah merah pecah, merezoit
keluar dan mencari sel-sel darah merah yang baru . kejadian ini berulang beberapa kali. Bersama
dengan pecahnya sel-sel darah merah itu, penderita merasa demam (panas).
- Setelah beberapa waktu mengalami skizogami, beberapa merezoit berubah menjadi gametogenesit
yaitu persiapan untuk menjadi gamet jantan dan betina.

- Jika saat itu sel darah manusia ini dihisap oleh nyamuk anopheles betina, maka di dalam tubuh
nyamuk , gametosit akan berubah menjadi gamet jantan dan betina, dua gamet ini kemudia melebur
menjadi satu membentuk zigot. Zigot ini akan menjadi ookinet, dan pengisap makanan dari nyamuk.
- Ookinet berubah menjadi bulat disebut oosita. Menghasilkan beribu-ribu sporozoit dengan cara
sporozoit. Dari tahapan inilah kemudian sporozoit akan sampai pada kelenjar liur nyamuk untuk
ditularkan .

1. Pandorina
Klasifikasi
Divisio

: Chlorophyta

Kelas

Ordo

: Volvocales

Familia

: Volvocaceae

Genus

: Pandorina

Spesies

Chlorophyceae

Pandorina sp. (Imam Prasetyo, 1967)

Habitat
Hidup sebagai plankton di dalam air tawar.
Perkembangbiakan
Aseksual dengan pembentukan koloni-koloni anak secara serentak oleh semua sel oleh
koloni.
Perkembangan seksual secara anisogami antar gamet heterotalus. (Imam Prasetyo, 1967).