Anda di halaman 1dari 51

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Alhamdulillah, segala puji kehadirat Allah S.W.T atas rahmat dan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan tugas Metrologi Industri.
Tugas ini diselesaikan sebagai syarat untuk memenuhi mata kuliah
Metrologi Industri. Penulis sangat menyadari bahwa tugas ini masih terdapat
banyak kekurangan baik dari subtansi isi materi maupun bahasa serta tata
letaknya, sehingga kritik dan saran yang konstruktif, diharapkan kedepan tugas ini
akan lebih mempunyai mutu yang lebih baik.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penyusunan tugas Metrologi
Industri ini , baik secara langsung maupun tidak langsung memberikan bahan
masukan dan sebagai penyemangat selama penulis menulis tugas ini sehingga
tugas ini dapat selesaikan. Semoga apa yang telah penulis susun ini dapat
bermanfaat bagi Adik- adik tingkat Teknik Mesin maupun masyarakat luas dan
mendapatkan ridho dari Allah S.W.T. Amin.

Bengkulu, Oktober 2013


Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jangka sorong dan mikrometer skrup merupakan salah satu dari alat ukur
linier. Jangka sorong memiliki ketelitian yang cukup tinggi, namun mikrometer
skrup lebih teliti lagi dibandingkan dengan jangka sorong. Selain itu mikrometer
skrup disamping memiliki kelebihan juga memiliki kekurangan karena bentuknya
yang kecil dan hanya digunakan untuk pengukuran dengan ketelitian yang tinggi
0,01 mm, oleh sebab itu didalam kehidupan sehari-hari kita harus dapat
menentukan alat ukur apa yang sesuai dengan bidang atau kontruksi bidang suatu
benda yang hendak diukur.
Dalam laporan ini akan di bahas cara kerja dan cara pembacaan dari alat ukur
linier yaitu jangka sorong dan mikrometer, sehingga kita dapat mengamati secara
jelas alat ukur apa yang lebih teliti serta apa kegunaan dan kelebihan dari masingmasing alat ukur tersebut sehingga kita dapat mengerti dalam penggunaan jangka
sorong dan mikrometer skrup dalam kehidupan sehari-hari, seperti di industriindustri atau perusahaan yang kerap kali menggunakan alat ukur tersebut.
1.2 Tujuan
Tujuan pengukran menggunakan jangka sorong dan mikrometer skrup:
Kegunaan dan fungsi dari masing-masing alat ukur.
Cara pembacaan dari alat ukur yang digunakan.
Memilih metode pengukuran dan alat ukur yang tepat.
1.3 Manfaat
Adapun manfaatnya adalah :
Kita dapat menggunakan jangka sorong dan mikrometer dengan benar.
Kita dapat membaca hasil dan mengetahui cara kerja dari alat ukur
tersebut.
Kita dapat mengetahui ketelitian dari masing-masing alat ukur.

BAB II
DASAR TEORI

A. Klasifikasi Pengukuran
Untuk mendapatkan pengukuran dengan tepat, dituntut adanya
pengetahuan dan kemampuan mengoperasikannya yang memadai dan kemampuan
untuk
membedakan
berbagai
sistem
pengukuran
sesuai
dengan
spesifikasi/geometris benda yang akan diukur.
Dengan kata lain setiap orang yang bekerja dalam bidang teknik harus
mengetahui teknik pengukuran yang mempunyai ruang Iingkup tentang
bagaimana cara menggunakan alat ukur dengan benar dan pengetahuan lain yang
berkaitan erat dengan masalah pengukuran.
Hanya saja penggunaan alat ukur tersebut juga akan dipengaruhi oleh
berbagai hal diantaranya :
Besar benda yang akan diukur,
kondisi (fisik) benda yang akan diukur,
posisi benda yang akan diukur,
Tingkat ketelitian yang direncanakan
efesien
dsb

Dalam praktiknya pengkuran dapat diklasifikasikan antara lain ;


Panjang
Berat
Temperatur
Sudut
Kerataan

2.1 Jangka Sorong


Alat ukur ini dalam praktik sehari-hari mempunyai banyak sebutan antara
lain: Jangka Sorong, Mistar Ingsut, Sketmat, sigmat atau Vernier Cliper Jangka
Sorong.

Gambar 2.1 komponen-komponen jangka Sorong

Untuk melakukan pengukuran yang mempunyai ketelitian 0,1 mm diperlukan


jangka sorong sebangai alat ukur. Jangka sorong mempunyai fungsi fungsi
pengukuran sebagai berikut :
1. Pengukuran panjang bagian luar benda
2. Pengukuran panjang rongga bagian dalam benda
3. Pengukuran kedalaman lubang pada benda
Alat ini merupakan merupakan suatu alat ukur yang cepat dan relatif teliti
untuk pengukuran diameter dalam, diameter luar dan kedalaman suatu benda.
2.2 Mikrometer
Mikrometer merupakan alat ukur linier langsung dengan tingkat ketelitian
yang lebih tinggi.Mikrometer luar digunakan untuk mengukur pengukuran yang teliti
dari bagian luar. Alat ini dirancang dalam tiga ukuran seperti terlihat pada gambar 4.
Skala pada Mikrometer dapat dalam satuam Metrik (Cm) atau Imperial (Inchi).
Mikrometer dalam skala metrik lebih banyak digunakan, sedangkan mikrometer luar

memiliki bentuk yang bermacam-macam yan disesuaikan dengan bentuk bidang


yang akan diukur.

Gambar 2.2. Komponen-komponen Mikrometer

Ada enam macam mikrometer, yaitu micrometer dimeter dalam ,


mikrometer

tiga kaki (triobor), micrometer lubang, mikrometer V-Anvil,

mikrometer ulir dan mikrometer roda gigi.


Berikut ini adalah contoh-contoh mikrometer.

(a)

(b)

(d)

(e)

(c)

(f)

Gambar 2.3. Jenis-jenis Mikrometer,(a) micrometer diameter dalam, (b) micrometer tiga
kaki, (c) mikrometer lubang, (d) micrometer v-anvil, (e) micrometer ulir, (f) micrometer roda
gigi.

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Jangka Sorong
3.1.1 Alat dan bahan
1.Alat
- Jangka sorong

Gambar 3.1 jangka sorong

2.Bahan
- Karburator

Gambar 3.2 karburator

- Poros bertingkat

Gambar 3.3 poros bertingkat

- Piston

Gambar 3.4 piston

- Bering

Gamabar 3.5 bearing

Plat

Gambar 3.6 plat

3.1.2 Prosedur peraktikum

Menyiapkan spesimen yang akan diukur

Menyiapkan alat ukur yakni jangka sorong

Memeriksa alat ukur apakah dalam keadaan baik atau tidak

Melakukan pengukuran pada specimen


Jangka sorong.

o Pengukuran diameter luar poros bertingkat


o Pengukuran diameter dalam piston, bearing, dan karburator
o Pengukuran kedalaman piston dan karburator
o Pengukuran ketebalan plat, dilakukan pada sisi atas dan sisi bawah
Mikrometer
o Pengukuran diameter luar poros bertingkat
o pengukuran ketebalan plat, pada sisi atas dan bawah

Mengamati angka yang diperoleh alat ukur

Mencatat skala yang diperoleh alat ukur

Mengulangi pengukuran lima kali untuk mencapai ketelitian yang


akurat.

3.1.3 Cara kerja alat


A. Mengukur diameter luar benda
Langkah Mengukur diameter luar benda adalah:
1. Putar pengunci ke kiri
2. Buka rahang
3. Masukkan benda kerahang bawah jangka soromg
4. Geser rahang agar tetap pada benda
5. Putar pengunci ke kanan
6. Baca skala yang ada pada jangka sorong

B. Mengukur diameter dalam benda

Gambar 3.7 Cara mengukur diameter dalam benda

Langkah Mengukur diameter dalam benda adalah:


1. Putar pengunci ke kiri
2. Masukkan rahang atas kedalam benda
3. geser rahang tepat pada benda
4. Putar pengunci ke kanan
5. Baca skala yang ada pada jangka sorong
C. Mengukur kedalaman benda

Gambar 3.8 Cara mengukur kedalaman benda

Langkah Mengukur kedalaman benda adalah:


1. Putar pengunci kekiri
2. Buka rahang hingga lidah jangka sorong menyentuh dasar benda
3. Putar pengunci kekanan
4. baca skala yang ada pada jagka sorong

D.Cara pembacan Skala

Gambar 3.9 Kaliper vernier

Vernier terdiri dari bilah utama dan bilah pembantu. Bilah Utama dibagi
dalam milimeter. Bilah pembantu dibagi 100. 100 garis pada bilah pembantu sama
dengan 49 milimeter pada bilah utama. Jadi panjang satu garis pada bilah
pembantu adalah = 100/49 mm. Bila suatu garis bilah pembantu berhimpit dengan
suatu tanda pada skala utama, maka harga ukurnya adalah jumlah skala dihitung
dari angka 0 x 0,02 mm. Misal : Garis yang berhimpit pada bilah utama adalah
garis keempat seperti gambar diatas.
Untuk pengukuran dalam :
Skala Utama = 70 + 8

= 78,00 mm

Vernier

= 0,08 mm

= 4 garis x 0,02

ukuran dalam

= 78,08 mm

Untuk pengukuran luar :


Skala Utama = 70 + 0
Vernier= 4 garis x 0,02

= 70,00 mm
= 0,08 mm

ukuran dalam

= 70,08 mm

3.1.4 Data hasil pengukuran


Pengukuran Diameter luar Poros
Tabel 3.1 pengukuran jangka sorong terhadap diameter luar poros

NO
1

JANGKA SORONG
1
27.8 mm

2
31.3 mm

3
36

mm

2
3
4
5

27.7 mm
27.9 mm
27.8 mm
27.8 mm

31.3 mm
31.3 mm
31.4 mm
31.3 mm

35.8 mm
36 mm
36 mm
35.9 mm

rata

Tabel 3.2 pengukuran jangka sorong terhadap ketebalan plat

NO
1
2
3
4
5
rata

Tabel 3.3

JANGKA SORONG
1
2
6 mm
6 mm
6 mm
6.1 mm
6 mm
6.1 mm
5.9 mm
6 mm
5.8 mm
5.8 mm

Pengukuran jangka sorong terhadap diameter dalam piston, bearing, dan

karburator

NO

PISTON

BEARING

KARBURATOR

1
2
3
4
5
rata

41.1 mm
41.1 mm
41.0 mm
41.0 mm
41.0 mm

40.0 mm
40.0 mm
39.8 mm
39.7 mm
39.6 mm

15.65 mm
15.60 mm
15.62 mm
15.60 mm
15.50 mm

Tabel 3.4 pengukuran jangka sorong terhadap kedalaman piston dan karburator

NO

PISTON

KARBURATOR

1
2
3
4
5
rata

37.0 mm
36.8 mm
37.0 mm
36.7 mm
37.0 mm

43.35 mm
43.30 mm
43.35 mm
43.40 mm
43.35 mm

3.2 Mikrometer
3.2.1 Alat dan bahan
1. Alat
- Micrometer sekrup

Gambar 3.10 Mikrometer

2. Bahan
- Plat

Gambar 3.11 Plat

- Poros bertngkat

Gambar 3.12 poros bertingkat

3.2.2 Prosedur praktikum

Menyiapkan spesimen yang akan diukur

Menyiapkan alat ukur yakni mikrometer

Memeriksa alat ukur apakah dalam keadaan baik atau tidak

Melakukan pengukuran pada specimen

Mengamati agka yang diperoleh alat ukur

Mencatat skala yang diperoleh alat ukur

Mengulangi pengukuran lima kali untuk mencapai ketelitian yang


akurat

3.2.3 Cara kerja alat


A. Pegang Mikrometer dengan tanpa tekanan.

Memegang skala putar dengan hati-hati

menggunakan jempol

dengan jari tengah

Melingkarkan jari tengah dan jari manis dengan kuat ke kerangka


Mikrometer

Memutar skala putar berlawanan dengan arah jarum jam sampai


jarak antara kedua ujung cukup lebar dan benda kerja dapat nasuk di
antara kedua ujung spindle dan anvil

Gambar 3.13 Cara penggunaan Mikrometer

B. Pegang dengan kuat benda kerja yang akan di ukur dengan tangan kiri
1. Masukka benda kerja yang akan diukur kedalam kedua celah alat ukur,
kemudian stel kedua ujung benda kerja.

Memutar skala putar searah putaran jarum jam dengan jempol dan
jari telunjuk anda.

Putar skala sampai ada tekanan

Memutar sedikit sksla putar maju-mundur sampai terasa tekanan


yang merata pada kedua ujung alat ukur.

2. Putar pengunci pengunci sampai skala putar tidak dapat digerakkan dan
terdengar bunyi KLIK
3. Mengunci spindle dengan perlengkapan pengunci, pastikan tidal dalam
keadan terbuka.
C.

Cara pembacaan pada skala mirometer

Gambar 3.15 cara pembacaan Mikrometer

Mikrometer mempunyai ketelitian 0,002 mm dan pengukuran bisa


dilakukan
dengan cepat. Mikrometer terdiri dari sekrup yang berskala samapi 50 dimana
setiap skala bernilai 0,01 mm. Disamping itu terdapat skala linier pada barrel yang
mempunyai skala 1 mm untuk bagian bawah dan 0,5 mm untuk bagian atas. Cara
membaca skala pada mikrometer : Pertama-tama perhatikan bilangan bulat pada
skala utama barrel, lalu perhatikan apakah terbaca skala setengah milimeter pada
bagian atas skala utama (ada kalanya dibawah), dan akhirnya bacalah skala
perseratusan pada lingkaran. Nilai ukuran dari gambar dibaca sbb :
- Skala utama

= 10 x 1,00 mm

= 10,00 mm

- Skala minor

= 1 x 0,50 mm

= 0,50 mm

- Skala pemutar

= 16 x 0,01 mm

= 0,16 mm

Nilai

= 10,66 mm

3.2.4 Data hasil pengukuran


Pengukuran diameter luar Poros
Table 3.1 hasil pengukuran micrometer terhadap poros bertingkat

NO
1
2
3
4
5

MIKROMETER
1
27.72 mm
27.73 mm
27.73 mm
27.73 mm
27.74 mm

2
31.26 mm
31.28 mm
31.29 mm
31.27 mm
31.27 mm

3
35.82 mm
35.77 mm
35.78 mm
35.78 mm
35.76 mm

rata
Pengukuran ketebalan Plat
Tabel 3.2 hasil pengukuran mikrometer terhadap ketebalan plat

NO
1
2
3
4
5
rata

MIKROMETER
1
2
5.91 mm
6.10 mm
6.09 mm
6.44 mm
6.02 mm
6.04 mm
6.08 mm
6.10 mm
6.03 mm
6.46 mm

BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa Data hasil Pengukuran

Dari hasil pengukuran maka kami analisis sebagai berikut


4.1.1 Jangka Sorong
Pengukuran diameter luar poros
Tabel 4.1 pengukuran jangka sorong terhadap diameter luar poros

NO

JANGKA SORONG

1
2
3
4
5

1
27.8 mm
27.7 mm
27.9 mm
27.8 mm
27.8 mm
27.8 m m

2
31.3 mm
31.3 mm
31.3 mm
31.4 mm
31.3 mm
31.32 mm

3
36 mm
35.8 mm
36 mm
36 mm
35.9 mm
35.94 mm

rata
Nilai

rata-rata didapat dari persamaan sebagai berikut

rata pada titik 1 = jumlah hasil pengukuran


Banyaknya pengukuran
= 27.8 + 27.7 + 27.9 + 27.8 + 27.8
5
= 27.8 mm
rata pada titik 2 = jumlah hasil pengukuran
Banyaknya pengukuran
= 31.3 + 31.3 + 31.3 + 31.4 + 31.3
5
= 31.32 mm
rata pada titik 3 = jumlah hasil pengukuran
Banyaknya pengukuran
= 36 + 35.8 + 36 + 36 + 35.9
5
= 35.94 mm
Pengukuran ketebalan plat
Tabel 4.2 pengukuran jangka sorong terhadap ketebalan plat

NO

JANGKA SORONG
1
6 mm
6 mm
6 mm
5.9 mm
5.8 mm
5.94 mm

1
2
3
4
5
rata
Nilai

2
6 mm
6.1 mm
6.1 mm
6 mm
5.8 mm
6 mm

rata-rata diperoleh dari persamaan sebagai berikut :

rata pada posisi 1 = jumlah hasil pengukuran


Banyaknya pengukuran
= 6 + 6 +6 + 5.9 + 5.8
5
= 5.94 mm
rata pada posisi 2 = jumlah hasil pengukuran
Banyaknya pengukuran
= 6 + 6.1 +6.1 + 6 + 5.8
5
= 6 mm
Pengukuran diameter dalam
Tabel 4.3 hasil pegukuran jangka sorong terhadap diameter dalam piston, bearing, dan
karburator

NO

PISTON

BEARING

KARBURATOR

1
2
3
4
5
rata

41.1 mm
41.1 mm
41.0 mm
41.0 mm
41.0 mm
41.1 mm

40.0 mm
40.0 mm
39.8 mm
39.7 mm
39.6 mm
39.82 mm

15.65 mm
15.60 mm
15.62 mm
15.60 mm
15.50 mm
15.59 mm

Nilai

rata-rata diperoleh dari persamaan sebagai berikut :

rata pada piston= jumlah hasil pengukuran


Banyaknya pengukuran
= 41.1+ 41.1 + 41 + 41 + 41

5
= 41.1 mm

rata pada bearing = jumlah hasil pengukuran


Banyaknya pengukuran
= 40 + 40 + 38.8 + 39.7 + 39.6
5
= 39.82 mm
rata pada karburator

= jumlah hasil pengukuran


Banyaknya pengukuran
= 15.65 + 15.6 + 15.62+ 15.6+ 15.5
5
= 15.59 mm

Pengukuran kedalaman
Tabel 4.4 hasil pengukuran jangka sorong terhadap kedalaman piston dan karburator

NO

PISTON

KARBURATOR

1
2
3
4
5
rata

37.0 mm
36.8 mm
37.0 mm
36.7 mm
37.0 mm
36.90 mm

43.35 mm
43.30 mm
43.35 mm
43.40 mm
43.35 mm
44.15 mm

Nilai

rata-rata diperoleh dari persamaan sebagai berikut :

rata pada piston= jumlah hasil pengukuran


Banyaknya pengukuran
= 37+ 36.8 + 37 +36.7 + 37
5
= 36.9 mm
rata pada karburator

= jumlah hasil pengukuran

Banyaknya pengukuran
= 43.35 + 43.3 + 43.35 + 43.40+ 43.35
5
= 44.15 mm

4.1.2 Mikrometer
Pengukuran Diameter luas Poros
Tabel 4.5 pengukuran micrometer terhadap diameter luar poros bertingkat

NO
1
2
3
4
5
rata
Nilai

MIKROMETER
1
2
27.72 mm 31.26 mm
27.73 mm 31.28 mm
27.73 mm 31.29 mm
27.73 mm 31.27 mm
27.74 mm 31.27 mm
27.57 mm 31.27 mm

3
35.82 mm
35.77 mm
35.78 mm
35.78 mm
35.76 mm
35.78 mm

rata rata diperoleh dari persamaan :

rata pada titik 1 = jumlah hasil pengukuran


Banyaknya pengukuran
= 27.72 + 27.73 + 27.73 + 27.3 + 27.4
5
=27.57 mm
rata pada titik 2 = jumlah hasil pengukuran
Banyaknya pengukuran
= 31.26 + 31.28 + 31.29 + 31.27+ 31.27

5
= 31.27 mm
rata pada titik 3 = jumlah hasil pengukuran
Banyaknya pengukuran
= 35.82 + 35.77 + 35.78 + 35.78 + 35.79
5
= 35.78 mm
Pengukuran ketebalan Plat
Tabel 4.6 pengukuran micrometer terhadap ketebalan plat

NO
1
2
3
4
5
rata
Nilai

MIKROMETER
1
2
5.91 mm
6.10 mm
6.09 mm
6.44 mm
6.02 mm
6.04 mm
6.08 mm
6.10 mm
6.03 mm
6.46 mm
6.03 mm
6.23 mm
rata-rata diperoleh persamaan :

rata pada posisi 1 = jumlah hasil pengukuran


Banyaknya pengukuran
= 5.91 + 6.09 + 6.02 + 6.08 + 6.03
5
= 6.03 mm

rata pada posisi 2 = jumlah hasil pengukuran


Banyaknya pengukuran
= 6.1 + 6.44 +6.04 + 6.1 + 6.46
5
= 6.23 mm

4.2 Data & Grafik


Tabel 4.7 hasil pengukuran jangka sorong terhadap diameter luar poros bertingkat

NO

JANGKA SORONG

1
2
3
4
5

1
27.8 mm
27.7 mm
27.9 mm
27.8 mm
27.8 mm
27.8 m m

2
31.3 mm
31.3 mm
31.3 mm
31.4 mm
31.3 mm
31.32 mm

3
36 mm
35.8 mm
36 mm
36 mm
35.9 mm
35.94 mm

rata

Grafik 4.1 hubungan banyaknya pengukuran dan hasil pengukuran pada pengukuan
jangka sorong terhadap poros bertingkat
Tabel 4.8 hasil pengukuran jangka sorong terhadap ketebalan plat

NO
1
2
3
4
5
rata

JANGKA SORONG
1
6 mm
6 mm
6 mm
5.9 mm
5.8 mm
5.94 mm

2
6 mm
6.1 mm
6.1 mm
6 mm
5.8 mm
6 mm

Grafik 4.3 hubungan antara banyaknya pengukuran dan hasil pengukuran jangka sorong
terhadap plat trapesium
Tabel 4.9 hasil pengukuran jangka sorong terhadap diameter dalam piston, bearing, dan
karburator

NO

PISTON

BEARING

KARBURATOR

1
2
3
4
5
rata

41.1 mm
41.1 mm
41.0 mm
41.0 mm
41.0 mm
41.1 mm

40.0 mm
40.0 mm
39.8 mm
39.7 mm
39.6 mm
39.82 mm

15.65 mm
15.60 mm
15.62 mm
15.60 mm
15.50 mm
15.59 mm

Grafik 4.4 hubungan antara banyaknya pengukuran dengan hasil pengukuran jangka
sorong terhadap piston, bearing dan karburator
Tabel 4.10 hasil pengukuran jangka sorong terhadap kedalaman piston dan karburator

NO

PISTON

KARBURATOR

1
2
3
4
5
rata

37.0 mm
36.8 mm
37.0 mm
36.7 mm
37.0 mm
36.90 mm

43.35 mm
43.30 mm
43.35 mm
43.40 mm
43.35 mm
44.15 mm

Grafik 4.5 hubungan antara banyaknya pengukuran dan hasil pengukuran jangka sorong
terhadap piston dan karburator
Table 4.11 hasil pengukuran micrometer terhadap diameter luar poros bertingkat

NO
1
2
3
4
5
rata

MIKROMETER
1
2
27.72 mm 31.26 mm
27.73 mm 31.28 mm
27.73 mm 31.29 mm
27.73 mm 31.27 mm
27.74 mm 31.27 mm
27.57 mm 31.27 mm

3
35.82 mm
35.77 mm
35.78 mm
35.78 mm
35.76 mm
35.78 mm

Grafik 4.6 hubungan banyaknya pengukuran dan hasil pengukuran micrometer terhadap
diameter luar poros bertingkat
Tabel 4.12 hasil pengukuran micrometer terhadap ketebalan plat trapesium

NO
1
2
3
4
5
rata

MIKROMETER
1
2
5.91 mm
6.10 mm
6.09 mm
6.44 mm
6.02 mm
6.04 mm
6.08 mm
6.10 mm
6.03 mm
6.46 mm
6.03 mm
6.23 mm

Grafik 4.7 hubungan antara banyaknya pengukuran dan hasil pengukuran terhadap plat
trapezium

Pembahasan

pada pengukurauan linier, hasil pengukuran jangka sorong dengan


mikrometer mengalami perbedaan karena kedua alat ukur linier ini memiliki
ketelitian yang berbeda. Mikrometer memiliki ketelitian yang lebih tinggi
dibandingkan jangka sorong, jika jangka sorong dengan ketelitian 0.05 mm maka
mikrometer dengan ketelitian 0.01 mm dan dapat mengungguli ketelitian dari
jangka sorong.
Saat melakuan pengukuran linier akan diperoleh data pengukuran, baik
dilakukan dengan jangka sorong maupun dengan mikrometer. Hal ini yang
menyebabkan

perlunya

dilakukan

pengukuran

berkali-kali

guna

mudah

mendapatkan hasil pengukuran yang akurat dan maksimal


Hasil pembacaan skala pada alat ukur linier, jangka sorong atau
mikrometer mengalami perubahan data setiap kali melakukan pengukukuran
disebabkan oleh beberapa faktor yaitu : Faktor speciment, faktor bentuk dari
spesimen itu sendiri yang artinya pada saat pengukuran posisi berubah dan
,mempengaruhi hasil pembacaan. Pengamatan yang dilakukan pada setiap kali
pembacaan skala alat ukur berubah-ubah karena disebabkan oleh berubahnya
posisi saat pembacaan atau kurang cermat melihat skala alat ukur.
Jika dilihat dari data-data yang yang dihasilkan setelah melakukan
pengukuran ternyata ketelitian dari jangka sorong lebih baik (lebih teliti/presisi)
dari pada mikrometer.
Faktor yang mempengaruhi ketelitian hasil ukuran bisa dari alat ukur
misalnya rumitnya cara pembacaan skala suatu alat ukur, yang menyebabkan
operator menjadi ragu, dan mengakibatkan hasil pengukuran yang tidak akurat.
Faktor yang mempengaruhi ketelitian pembacaan skala ukur bukan
hanya dari ketelitian alat ukur itu sendiri, tapi juga faktor operator atau orang yang
mengoperasikan alat ukur tersebut. Bisa jadi faktor kesalahan terdapat pada
operator, misalnya cara pengukuran yang salah, pembacaan skala ukuran yang
kurang teliti, dan juga posisi pembacaan skala yang kurang tepat (mata tidak tegak
lurus dengan skala ukur).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengukuran praktikum Metrologi Industri ini

dapat disimpulkan

bahwa:
Pada pengukuran diameter poros bertingkat kita mendapat kan
perbandingan antara pengukuran dengan menggunakan Jangka sorong
pada tingkat 1 sampai dengan 5 kali pengukuran dan begitu juga dengan
Mikrometer.
Setelah digunakan Mikrometer kita mendapatkan perbedaan yang jauh
dibandingkan menggunakan jangka sorong untuk Poros Bertingkat.
Setelah mendapatkan data hasil pengukuran, kita dapat menganalisis data
dan kita bisa mengetahui alat ukur manakah yang lebih teliti untuk
melakukan pengukuran.
Setelah melakukan pengukuran dan menganalisis data dapat disimpulkan
bahwa jangka sorong menunjukkan pengukuran yang lebih teliti
dibandingkan dengan mikrometer.
Untuk mengukur diameter dalam dan dan kedalaman kita hanya bisa
menggunakan jangka sorong karena mikrometer hanya dapat mengukur
ketebalan dan diameter pada praktikan ini.
Saran
Pada saat pengukuran diameter dan tebal plat dengan menggunakan jangka
sorong, sebaiknya bahan yang akan di ukur benar-benar tepat berada di
tengah-tengah rahang
Untuk mengukur kedalaman posisi jangka sorong harus tegak lurus
Mengukur tebal palat, harus benar-benar tepat, pada ujung jangka sorong
menjepit plat.
Untuk mendapatkan hasil yang akurat perlu dilakukan pengukuran berkalikali lalu menentukan nilai

rata rata

pengukuran yang lebih akurat.

supaya kita mengetahui mana

BAB I
PENDAHULAUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam laporan ini akan di bahas cara kerja dan cara pembacaan dari alat ukur
sudut (bevel protaktor ), sehingga kita dapat mengamati secara jelas alat ukur apa
yang lebih teliti serta apa kegunaan dan kelebihan dari alat ukur tersebut sehingga
kita dapat mengerti dalam penggunaan.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah aga kita lebih mengerti tentang :
Kegunaan dan fungsi dari bevel protaktor
Cara pembacaan dari alat ukur yang digunakan.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum metrologi industri ini adalah :
Praktikan memahami apa fungsi alat ukur bevel protaktor.
Praktikan dapat menggunakan bevel protektor dengan benar.
Praktikan dapat membaca hasil dan mengetahui cara kerja dari alat
ukur tersebut.
Praktikan dapat mengetahui ketelitian dari alat ukur.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Bevel Protactor
Bevel protaktor merupakan pengukur sudut universal digunakan untuk
pengukuran sudut secara tepat. Hal tersebut memungkinkan ketelitian hingga 5
menit. Pengukuran sududapat distel pada sembarang tempat dengan daerah
pengukuran dari nol sampai dengan 360.
Bevel protaktor merupakan alat ukur yang hasil pengukurannya langsung
dapat dibaca pada skalaukur. Alat ini dibuat dari plat baja dan dibentuk setengah
lingkaran dan diberi batang pemegang serta pengunci.pada plat setengal lingkaran
itulah dicatat skala pengukuran sudutnya. Untuk memudahkan, plat berbentuk
lingkaran yang berskala tersebut disebut dengan piringan skala utama. Antara
piringan skala utama dan batang pemegang dihubungkan dengan pengunci yang
mmempunyai fungsi untuk memetikan gerakan dari piringan sksls utama waktu
mengukur. Busur baja hanya mempunyai ketelitian 1 derajat. Piringan sksla
setengah lingkaran tersebut diberi ska sudu dari 0-180 derajat secara bolak-balik.

Gambar 2.1 Bevel Protactor

Skala terkecil besarnya sama dengan 1 derajat. Busur baca cocok


digunakan untuk pengukuran sudut-sudut benda ukur terutama yang terbuat dari
plat. Disamping itu untuk pengukuran cepat alat ukur ini dapat juga untuk
mengukur sudut-sudut alat potong.

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Bevel Protactor


3.1.1 Alat dan Bahan
1. Alat
- Bevel Protactor

Gambar 3.1 Bevel Protactor

2. Bahan
- Plat berbentuk Trapesium

Gambar 3.2 Plat Berbentuk Trapesium

3.2.2 Prosedur percobaan

Menyiapkan spesimen yang akan diukur

Menyiapkan alat ukur yakni bevel protactor

Memeriksa alat ukur apakah dalam keadaan baik atau tidak

Melakukan pengukuran pada specimen

Mengamati agka yang diperoleh alat ukur

Mencatat skala yang diperoleh alat ukur

Mengulangi pengukuran tujuh kali untuk mencapai ketelitian yang


akurat

3.2.3 Cara kerja alat

Gambar
3.3 cara kerja mistar baja

Cara pengukuran dengan busur baja dapat dijelaskan sebagai berikut


Pemukaan benda yang diukur dan permukaan dari busur bilah harus bersih

3.2.4 data hasil pengukuran


Table 3.1 Data hasil pengukuran Plat A

NO
1
2
3
4
5
6
7
rata

1
103
103
103
103
102
102
103

2
102
101
101
101
101
101
101

3
78
78
78
79
79
78
78

4
78
78
78
77
77
77
78

3
77
76
76
77
76
76
76

4
75
76
75
75
75
76
75

Table 3.2 Data hasil pengukuran Plat B

NO
1
2
3
4
5
6
7
rata

1
104
103
103
103
102
102
103

2
102
102
102
102
102
102
102

BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.3 Analisa Data hasil Pengukuran


4.1.1 Bevel Protaktor
Pada percobaan yang telah dilakukan benda kerja atau specimen yang akan
diukur adalah sebuah plat trapesium dengan sisi yang berukuran 80 mm dan 150
mm. Pada plat tersebut kita beri tanda 1, 2, 3, dan 4.
Setelah dilakukaan pengukuran dapat kita lihat berapa sudut yang didapat dari
hasil pengukuran.
Pada tabel hasil pengukuran plat dapat kita lihat bahwa besar antara sudut
plat A dan B tidak sama. Ada biknya pada saat mengukur sudut, posisi busur baja
dan posisi sudut plat harus benar-benar presisi, dengan begitu kita bisa mendapat
hasil pengukuran yang diinginkan.
Pengukuran Plat A
Table 4.1 Pengukuran menggunakan Bevel Protector terhadap Plat A

NO
1
2
3
4
5
6
7
rata
Nilai

1
103
103
103
103
102
102
103
102.7

2
102
101
101
101
101
101
101
101.1

3
78
78
78
79
79
78
78
78.3

rata-rata didapat dari persamaan sebagai berikut

rata pada titik 1 = jumlah hasil pengukuran


Banyaknya pengukuran

= 103 + 103 + 103 + 103 + 102 +102 + 103


7
= 102.7 mm
rata pada titik 2 = jumlah hasil pengukuran

4
78
78
78
77
77
77
78
77.6

Banyaknya pengukuran
= 102 + 101 + 101 + 101 + 101 +101 + 101
7
rata pada titik 3 = jumlah hasil pengukuran
Banyaknya pengukuran
= 78 + 78 + 78 + 79 + 79 +78 + 78
7
= 78.3 mm
rata pada titik 4 = jumlah hasil pengukuran
Banyaknya pengukuran
= 78 + 78 + 78 + 77 + 77 +77 + 78
7
= 77.6 mm

Table 4.2 Pengukuran menggunakan Bevel Protector terhadap Plat B

NO
1
2
3
4
5
6

1
104
103
103
103
102
102

2
102
102
102
102
102
102

3
77
76
76
77
76
76

4
75
76
75
75
75
76

7
rata
Nilai

103
101.1

102
102

76
76.2

rata-rata didapat dari persamaan sebagai berikut

rata pada titik 1 = jumlah hasil pengukuran


Banyaknya pengukuran
= 104 + 103 + 103 + 103 + 102 +102 + 103
7
= 103.1 mm
rata pada titik 2 = jumlah hasil pengukuran
Banyaknya pengukuran
= 102 + 102 + 102 + 102 + 102 +102 + 102
7
rata pada titik 3 = jumlah hasil pengukuran
Banyaknya pengukuran
= 77 + 76 + 76 + 77 + 76 +76 + 76
7
= 76.2 mm

rata pada titik 4 = jumlah hasil pengukuran


Banyaknya pengukuran
= 75 + 76 + 75 + 75 + 75 +76 + 75
7
=75.5 mm
4.4 Data & Grafik

75
75.5

Table 4.3 Pengukuran menggunakan Bevel Protector terhadap Plat A

NO
1
2
3
4
5
6
7
rata

1
103
103
103
103
102
102
103
102.7

2
102
101
101
101
101
101
101
101.1

3
78
78
78
79
79
78
78
78.3

4
78
78
78
77
77
77
78
77.6

Grafik 4.1 Pengukuran menggunakan Bevel Protector terhadap Plat A

Table4.4 Pengukuran menggunakan Bevel Protector terhadap Plat B

NO
1
2
3
4
5
6
7
rata

1
104
103
103
103
102
102
103
103.1

2
102
102
102
102
102
102
102
102

3
77
76
76
77
76
76
76
76.2

4
75
76
75
75
75
76
75
75.5

Grafik 4.2 Pengukuran menggunakan Bevel Protector terhadap Plat A

Pembahasan
pada pengukurauan sudut, hasil pengukuran Bevel Protactor mengalami
perbedaan pada setiap pengukurannya, tetapi perbedaan tersebut tidak terlalu
signifikan.karena ketelitian dari Bevel Protactor tersebut hanya 1 derajat, maka
selisih antara pengukuran ke 1 s/d 7 kali pengukuran perbandingannya hanya 1
derajat..
Saat melakuan pengukuran sudut akan diperoleh data pengukuran.. Hal
ini yang menyebabkan perlunya dilakukan pengukuran berkali-kali guna mudah
mendapatkan hasil pengukuran yang akurat dan maksimal
Hasil pembacaan skala pada alat ukur sudut.Bevel Protactor mengalami
perubahan data setiap kali melakukan pengukukuran disebabkan oleh beberapa
faktor yaitu : Faktor speciment, faktor bentuk dari spesimen itu sendiri yang
artinya pada saat pengukuran posisi berubah dan ,mempengaruhi hasil pembacaan.
Pengamatan yang dilakukan pada setiap kali pembacaan skala alat ukur berubahubah karena disebabkan oleh berubahnya posisi saat pembacaan atau kurang
cermat melihat skala alat ukur.
Jika dilihat dari data-data yang dihasilkan setelah melakukan
pengukuran ternyata ketelitian dari Bevel Protektor adalah 1..
Faktor yang mempengaruhi ketelitian hasil ukuran bisa dari alat ukur
misalnya rumitnya cara pembacaan skala suatu alat ukur, yang menyebabkan
operator menjadi ragu, dan mengakibatkan hasil pengukuran yang tidak akurat.

Faktor yang mempengaruhi ketelitian pembacaan skala ukur bukan


hanya dari ketelitian alat ukur itu sendiri, tapi juga faktor operator atau orang yang
mengoperasikan alat ukur tersebut. Bisa jadi faktor kesalahan terdapat pada
operator, misalnya cara pengukuran yang salah, pembacaan skala ukuran yang
kurang teliti, dan juga posisi pembacaan skala yang kurang tepat (mata tidak tegak
lurus dengan skala ukur).

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengukuran praktikum Metrologi Industri ini

dapat disimpulkan

bahwa:
Pengukuran sudut kita mendapat kan perbandingan antara pengukuran
pada specimen 1 dan 2, tetapi perbandingan tersebut tidak terlalu
signifikan, kare masih dibawah batas toleransi.
Pembacaan hasil pada bevel protactor dapat dilihat langsung dari skala
utamanya.
Ketelitan dan ketepatan pengukuran tergantung dari garis imaginasi mata
pengukur terhadap pembacaan pada skala.
Pembacaan hasil pada bevel protactor dapat dapat dilihat langsung dari
skala utamanya.
Setelah digunakan bevel protactor pada pengukura specimen 1 dan 2 kita
mendapatkan ketelitian 1.

Setelah mendapatkan data hasil pengukuran, kita dapat menganalisis data


dan kita bisa mengetahui alat ukur sudut teliti atau tidak.

5.2 Saran
Pada saat pengukuran pada specimen1 dan 2 dengan menggunakan bevel
protactor, sebaiknya bahan yang akan di ukur benar-benar berimpit tepat di
antara skala utama dengan tangkai dari bevel protactor.
Untuk mendapatkan hasil yang akurat perlu dilakukan pengukuran berkalikali lalu menentukan nilai

rata rata

supaya kita mengetahui mana

pengukuran yang lebih akurat.


Waktu bembacaan hasil pengukuran posisi mata harus tegak lurus dengan
skala pada alat ukur.

BAB I
PENDAHULAUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam laporan ini akan di bahas cara kerja dan cara pembacaan darialat ukur
Kerataan ( Dial Indikator ), sehingga kita dapat mengamati secara jelas alat ukur
apa yang lebih teliti serta apa kegunaan dan kelebihan dari alat ukur tersebut
sehingga kita dapat mengerti dalam penggunaan.
Dial indicator memiliki penunjuk yang berupa jarum dihubungkan dengan
peraba. Ketika peraba bergerak jarum berputar. Pembagian skala dial memiliki
ketelitian 0,01 mm juga akan mengukur gerakan yang lembut dari peraba.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah aga kita lebih mengerti tentang :
Kegunaan dan fungsi dari dial indikator.
Bagian-bagian alat ukur kebulatan.
Cara pembacaan dari alat ukur yang digunakan.
1.3 Manfat
Adapun manfaat dari praktikum metrologi industri ini adalah :
Praktikan memahami apa fungsi alat ukur dial indikator.
Praktikan dapat menggunakan Dial Indikator dengan benar.
Praktikan dapat membaca hasil dan mengetahui cara kerja dari alat
ukur tersebut.
Praktikan dapat mengetahui ketelitian dari alat ukur.

BAB II
DASAR TEORI

2.1 Dial Indikator


Dial Indikator terdiri dari:
- Rumah indicator berbentuk silinder yang tebal.
- Spindel.
- Ujung keras yang dapat dilepas.
- Seperangkat roda gigi (peguat).
- Jarum penunjuk.
- Pinggiran bergerigi (cincin luar).
- Pelat dudukan baja
Dial Indikator atau dial gage, digunakan untuk mengukur kebengkokan, run
out, kekocakan, end play, back lash, kerataan dan sebagainya. Bidalam dial
indicator terdapat mekanisme yang dapat memperbesar gerakan yang kecil. Pada
saat spindle bergerak sepanjng permukaan yang diukur, gerakan tersebut
diperbesar oleh mekanisme pembesar dan selanjutnya di tunjukan oleh jarum
penunjuk.
Dial indicator mempunyai ketelitian satu per seratus millimeter (0,01 mm) dan
dan 10,00 mm. tingkat ketelitian dial indikatir menunjukkan skala terkecil.
Sedangkan kemampuan pengukuran adalah kemampuan maksimal alat ukur.
Sebagai contoh apabila pada panel depan tertulis 0.01-40mm, berarti tingkat
ketelitian dialindikator tersebut adalah 0,01 mm dan kemampuan mengukur
maksimal mm.
Alat ini merupakan merupakan suatu alat ukur yang cepat dan relatif teliti
untuk pengukuran kerataan permukan suatu benda.

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Dial Indikator
3.3.1 Alat dan Bahan
1. Alat
- Dial Indicator

Gambar 3.1 Dial Indikator

2. Bahan
- Poros bertngkat

Gambar 3.2 Poros Bertingkat

3.1.2 Prosedur praktikum

Menyiapkan spesimen yang akan diukur

Menyiapkan alat ukur yakni dial Indicator

Memeriksa alat ukur apakah dalam keadaan baik atau tidak

Melakukan pengukuran pada specimen

Mengamati angka yang diperoleh alat ukur

Mencatat skala yang diperoleh alat ukur

Mengulangi pengukuran sesuai yang ditentukan.

3.1.3 Cara Kerja Alat

Gambar 3.3 Tingkat ketelitian Dial Indikator

Pada panel depan terdapat jarum panjang dan jarum pendek yang berfungsi
sebagai penghitumg putara. Apabila jarum panjang berputar satu kali, maka jarum
pendek bergerak satu strip, artinya kalau jarum pendek menunjuk angka satu
berarti jarum panjang telah berputar satu kali.

Gambar 3.4 Dial Indikator lengkap dengan penyangga

Pada Dial Indicator juga terdapat outer ring yang dapat berputar. Apapbila
outer ring diputar, maka skala pengukuran yang terdapat pada panel depan juga
akan ikut berputar sehingga angka nol pada skala pengukuran dapat lurus dengan
jarum panjang. Hal tersesbut diperlukan pada saat menset nol sebelum melakukan
pengukuran. Dial indicator tidak dapat berdiri sendiri memerlukan batang
penyangga atau block magnet, apabila tuas penyetel di ON kan, maka dasar
magnet menempel pada komponen yang terbuat dari besi, tetapi jika di OFF kan
kemagnetannya hilang.
Cara pembacaan skala pada Dial Indikator

Gambar 3.5 Cara Pembacaan Dial Indikator

Dial Indikator mempunyai ketelitian 0.01


Sebagai contoh
Jika jarum penunjuk menunjukkan pada posisi skala ke 5 jadi pembacaannya
0.1 x 5 = 0.05
sedangkan jarum penunjuk menunjukkan 3 berarti jarum penunjuk utama sudah
berputar sebanyak 3 kali putaran.
Jadi hasil pembacaan 0.05 x 3 = 0.15
3+ 0.05 = 3.05 mm

3.1.4 Data hasil pengukuran


Tabel 3.1 hasil pengukuran pada titik 1

Posisi

90

180

270

360

(P- L/4)

D
error

0.09

0.15

0.10

0.08

0.03

0.15

0.09

0.06

0.12

P
0

0.05

0.12

0
0.05

Tabel 3.2 hasil pengukuran pada titik 2

Posisi

90

180

270

360

(P- L/4)

D
error

0.03

0.10

0.13

P
0.13

P
0

0.10

0.02

0.12

0.02

0.14

0.11

0.09

Tabel 3.3 hasil pengukuran poros pada titik 3

0.02

Posisi

90

180

270

360

(P- L/4)

D
error

0.02

0.14

0.12

0.11

0.01

0.13

0.11

0.11

P
0.14

P
0

0.01

0.13

0
0.01

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

1.4 Analisa Data hasil Pengukuran


Pada percobaan yang telah dilakukan benda kerja atau specimen yang akan
diukur adalah sebuah poros yang memiliki diameter 3.59 cm. Pada poros ini di
beri tanda 1 titik yang akan diukur tingkat kerataannya dengan menggunakan dial
indikator yang memiliki ketelitia ).01 mm. Pada pengukuran ini Dial Indikator di
pasang pada penyangga dimana posisi spindle harus tegak lurus

terhadap

permukaan poros yang di ukur dan garis imajnasi dari mata si pengukur harus
tegak lurus ke jarum penunjuk pada permukaan Dial Indikator pada saat sedang
membaca hasil pengukuran kemudian lakukan penyetelan jarum penujuk pada
posisi nol.
1.5 Data dan Grafik
Tabel 4.1 pengukuran dengan menggunakan dial indikator pada titik 1

Posisi

90
L

180
L

0.09

0.15

0.10

0.08

0.03

0.15

0.09

0.06

270
L

P
0.12

360
L
P

(P- L/4)

error

0.09

0.05

0.0325

0.12

0.01

0.037

0.05

Grafik 4.1 pengukuran dengan menggunakan dial indikator pada titik 1


4.3 Tabel pengukuran dengan menggunakan dial indikator pada titik 2

Posisi

90
L

0.03

0.10

180
L

270
L

0.13

P
0.13

360
L
P

(P- L/4)

error

-0.047

0.10

0.02

-0.005

0.12

-0.07

-0.045

0.02

0.14

0.11

0.09

0.02

Grafik 4.2 pengukuran dengan menggunakan dial indikator pada titik 2

Tabel 4.3 pengukuran dengan menggunakan dial indikator pada titik 3

Posisi

90

180

270

360

(P- L/4)

D
error

0.02

0.14

0.12

0.11

0.01

0.13

0.11

0.11

0.075

0.055

0.01

-0.0675

0.13

-0.0675

-0.0525

0.14

0.01

Grafik 4.3 pengukuran dengan menggunakan dial indikator pada titik 3

Pembahasan
Pada percobaan yang telah dilakukan benda kerja atau spesimen yang akan
diukur adalah poros yang memiliki diameter 32,4 mm. Pada poros ini diberi tanda
3 titik yang akan diukur tingkat kerataannya dengan menggunakan dial indikator
yang memiliki ketelitian 0,01 mm.pada pengukuran ini dial indikator dipasang
pada pada batang penyangga dimana posisi spindel tegak lurus terhadap
permukaan poros yang diukur dan digaris imajenasi dari mata sipengukur harus
tegak lurus kejarum penunjuk pada permukaan dial indikator pada saat sedang

membaca hasil pengukuran kemudian lakukan penyetelan jarum penunjuk ke


posisi 0.
Untuk mengetahui setiap kerataan dalam 90 nya perlu dilakukan
pencatatan , setiap penunjukaan yang dilakukan oleh jarum.jarum akan bergerak
karena spindel pada dial indikator mengubah gerakan yng kecil menjadi gerakan
yang besar.pada percobaan ini, jarum penunjuk berada dititik lembah permukaan
benda kerja,dan apabila bergerak kekanan maka berarti jarum penunjuk berada
dititik puncak permukaan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengukuran praktikum Metrologi Industri ini dapat disimpulkan bahwa
:
Pengukuran keratan kita mendapatkan perbandingan antara pengukuran
pada posisi 1, 2 dan 3, hal ini dapat dilihat dari tabel masing-masing
pengukuran.
Pembacaan hasil pada Dial Indikator dapat dapat dilihat langsung dari
skala utamanya.
Ketelitan dan ketepatan pengukuran tergantung dari kepresisian Dial
Indikator denga specimen.
Setelah mendapatkan data hasil pengukuran, kita dapat menganalisis data
dan kita bisa mengetahui alat ukur tersebut bekerja dengan baik atau tidak.
5.2 Saran
Pada saat pengukuran kerataan, hendaknya posisi Indikator harus tegak
lurus terhadap benda uji.
Untuk proses pengukuran hendaknya posisi alat ukur harus tepat dan
posisi jarum penunjuk sksla harus nol.
Untuk mendapatkan hasil yang akurat perlu dilakukan pengukuran berkali-

kali lalu menentukan nilai

pengukuran yang lebih akurat.

P L
4

supaya kita mengetahui mana