Anda di halaman 1dari 20

Praktikum PWM

(Modulasi Lebar Pulsa)


Nama
NIM
Kelas

: Fida Annisa Imron Hafsah


: 1341160072
: JTD 2B

Kelompok 4:
Anky Ismas S. P.
Fida Annisa I. H.
Kaleka Panji G.
Risqi Nurfadillah

(JTD 2B / 05 / 1341160066)
(JTD 2B / 13 / 1341160072)
(JTD 2B / 16 / 1341160008)
(JTD 2B / 23 / 1341160075)

Program Studi Jaringan Telekomunikasi Digital

Teknik Elektro

Politeknik Negeri Malang


2015

Praktikum PWM (Modulasi Lebar Pulsa)


1.1 Tujuan Percobaan
1. Untuk mengimplementasikan modulasi lebar pulsa dengan menggunakan
A741.
2. Untuk memahami karakteristik dan rangkaian dasar LM555.

3. Untuk

mengimplementasikan lebar pulsa modulasi dengan menggunakan


LM555.

4. Untuk mengukur dan menganalisa rangkaian modulasi lebar pulsa.


1.2 Peralatan dan Modul yang Digunakan
1. Modul GOTT DCT-6000-02
2. LM555
3. Generator Fungsi
4. Osiloskop
1.3 Teori Dasar
Modulasi lebar pulsa (PWM) adalah metode modulasi antara digital dan
analog yang dapat digunakan untuk mengolah transmisi data digital dan analog.
Amplitudo modulasi lebar pulsa adalah tetap, namun lebar pulsa akan divariasikan
dan dikontrol oleh input amplitudo sinyal audio. Jika kita mengendalikan variasi
waktu tingkat elektrik, maka ini berarti bahwa kita dapat mengontrol lebar pulsa.
Ketika amplitudo sinyal audio semakin besar, maka lebar pulsa akan menjadi lebar;
di sisi lain, ketika amplitudo sinyal audio semakin kecil, maka lebar pulsa akan
menjadi sempit. Oleh karena itu, PWM dapat diterapkan dengan cepat dan lambat
dari kecepatan rotasi motor yang kuat dan lemah dari sumber cahaya dari bola
lampu, dan sebagainya. Hubungan antara audio dan sinyal modulasi lebar pulsa
ditunjukkan pada Gambar 3-1. Umumnya, modulasi gelombang pulsa dapat
diklasifikasikan sebagai amplitudo pulsa modulasi (PAM), modulasi posisi pulsa
(PPM), modulasi lebar pulsa (PWM) dan sebagainya. Tabel 3-1 menunjukkan
perbandingan antara masing-masing modulasi dan Gambar 3-2 menunjukkan
karakteristik output diagram PAM, PPM dan modulasi PWM.
Gambar 3-3 adalah rangkaian osilasi gelombang persegi, sinyal output lebar
pulsa dikendalikan oleh R2, C2 dan Vin (+) tegangan terminal input. Op-amplifier
A741 adalah pembanding di rangkaian ini. Input Vin (+) (pin 3) tegangan referensi
ditentukan oleh resistor R1 dan variabel resistor VR1. R2 dan C2 dibangun untuk
menjadi jalur biaya/debit. Bila tidak ada pasokan sinyal audio terminal input, jika
kita menyesuaikan VR1, maka Vin (+) terminal input tegangan operasi akan
berubah, yang berarti tegangan referensi komparator akan berubah, dengan
demikian, sinyal output dari lebar pulsa juga akan berubah.

Gambar 3-1 Sinyal gelombang sinyal audio dan sinyal PWM.


Tabel 3-1 Perbandingan antara tiga jenis modulasi.
Tipe
Modulasi

Fitur

PAM

Amplitudo pulsa akan bervariasi


dengan amplitudo sinyal input.

PPM
PWM

Posisi pulsa akan divariasikan


dengan amplitudo sinyal input.
Lebar pulsa akan bervariasi
dengan amplitudo sinyal input.

Amplitudo
Pulsa
Bermacam
macam
Amplitudo
konstan
Amplitudo
konstan

Lebar
Pulsa
Lebar
konstan
Lebar
konstan
Bermacam
macam

Interval Pulsa
Tak berubah
Bermacam
macam
Tak berubah

Gambar 3-2 Karakteristik output diagram PAM, PPM dan modulasi PWM.

Gambar 3-3 Diagram rangkaian dari PWM menggunakan A741.

Gambar 3-4 Diagram bentuk gelombang pada penggunaan dan pelepasan dari uA741.
Jika VR1 sudah ditentukan, itu berarti bahwa tegangan operasi dari Vin (+)
terminal input sudah ditentukan. Jika input sinyal audio menuju ke sinyal audio terminal
input, maka tegangan sinyal audio akan ditambahkan ke tegangan operasi dari Vin (+)
terminal input. Disamping itu, dengan mengikuti penggunaan dan pelepasan dari R dan
C2, tegangan operasi dari Vin (-) akan berubah dengan teratur, seperti ditunjukkan pada

Gambar 3-4. Tetapi, saat kita mengubah titik bias dengan menala resistor variabel VR1,
kita dapat mengubah tingkat (level) dan lebar dari output gelombang kotak dari Vin (+)
dan Vin (-) pada waktu yang bersamaan. Pada keadaan ini, tegangan referensi dari
pembanding (comparator) akan divariasikan dan dikontrol oleh tegangan dari sinyal
audio. Oleh karena itu, sinyal output dari lebar pulsa juga akan berubah berbanding
lurus dengan sinyal input audio, maka modulasi lebar pulsa akan dihasilkan.
Diagram rangkaian dari LM555 astablemultivobrator ditunjukkan pada Gambar
3-5. Pada Gambar 3-4, rangkaian dapat dibagi menjadi 5 bagian penting, yaitu
pembanding bawah, pembanding atas, flip-flop (FF), discharge transistor, dan driver
output. Jika terminal tegangan kontrol (pin 5) tidak di-inputkan sinyal apapun, maka
tegangan referensi pembanding atas adalah 2Vcc/3 dan tegangan referensi pembanding
bawah adalah Vcc/3. Jika kita menambahkan tegangan kontrol ke terminal tegangan
kontrol (pin 5), tegangan referensi pembanding dapat terkontrol dengan sendirinya. Saat
terminal tegangan kontrol tidak digunakan, maka kita dapat membuat terminal tegangan
kontrol terhubung dengan kapasitor 0.01 F menuju ground untuk menghindari adanya
interferensi karena noise.

Gambar 3-5 Diagram rangkaian dari LM555 astablemultivibrator.

Gambar 3-5 adalah diagram rangkaian dari astablemultivibrator dengan


menggunakan IC Lm555. Sinyal output pada rangkaian ini adalah gelombang kotak.
Frekuensi osilasi ditentukan oleh R1, R2, dan C1. Pergantian waktu (t1) dari kapasitor
0.693 x (R1+R2) x C1; pergantian waktu kedua (t2) dari kapasitor C1 adalah 0.693 x R2
x C1. Jadi periode T adalah pergantian waktu t1 ditambah dengan t2 hasilnya adalah
0.693 x (R1+ 2 R2) x C1. Gambar 3-6 menunjukkan bentuk gelombang output dari
LM555 astablemultivibrator pada titik yang berbeda.
Gambar 3-7 adalah diagram rangkaian dari monostablemultivibrator dengan
menggunakan IC LM555. Saat input trigger berubah dari tegangan tinggi (+12 V) ke
tegangan rendah (0 V), terminal output akan menghasilkan pulsa. Lebar pulsa T ini
ditentukan oleh R1 x C1 yang kurang lebih 1.1 x R1 x C1. Jika R1 = 10 k dan C1=
0.01 F, maka lebar pulsa kurang lebih 110 s. jika frekuensi kurang dari 9.1 kHz pada
trigger sinyal terminal input (pin 2) (mengacu pada bentuk gelombang dari
astablemultivibrator pada Gambar 3-6), maka output akan menjadi 50% sinyal pulsa
duty cycle. Sinyal audio di-inputkan oleh terminal tegangan kontrol. Oleh karena itu, ini
akan mengkasilkan sinyal PWM.
Gambar 3-8 adalah diagram rangkaian dari PWM dengan menggunakan 2 buah
IC LM555, dimana U1 adalah astablemultivibrator dan U2 adalah
monostablemultivibrator. Dengan mengombinasikan kedua bagian ini, maka kita akan
mendapatkan sebuah rangkaian PWM. Monostablemultivibrator (U2) membutuhkan
pulsa trigger dari astablemultivibrator (U1 terminal outputpin3), sinyal audio diinputkan pada tegangan kontrol (pin 5) pada monostablemultivibrator (U2). Sinyal
PWM memiliki output pada terminal output (pin 3) pada monostablemultivibrator.

Gambar 3-6 Bentuk gelombang sinyal output LM555 astablemultivibrator pada titik
yang berbeda.

Gambar 3-7 Diagram rangkaian monostablemultivibrator dengan menggunakan IC


LM555.

Gambar 3-8 Diagram rangkaian PWM dengan menggunakan 2 buah IC LM555.

1.4 Langkah Kerja


Percobaan 1: A741 lebar pulsa modulasi
1. Mengacu pada gambar 3-3 atau mencari DCT3-1 pada modul GOTT DCT6000-02, jika J1 menjadi rangkaian terbuka, itu berarti R1 tidak digunakan.

Gambar 3-3 Diagram rangkaian dari PWM menggunakan A741.

2.

Sesuaikan variabel resistor VR1 sehingga tegangan Vin (+) terminal input 0 V.
Kemudian biarkan J1 menjadi hubung singkat, yang berarti membiarkan R1
digunakan.

3. Pada
4.

5.
6.
7.

input sinyal audio frekuensi sinyal terminal (Audio I/P), masukan


gelombang frekuensi 3 V amplitudo dan 500 Hz.
Dengan menggunakan osiloskop, mengamati gelombang dari sinyal audio.
Terminal input dan terminal output (pin 6). Kemudian mencatat hasil
pengukuran pada tabel 3-2.
Biarkan J1 menjadi rangkaian terbuka, kemudian merekam sinyal input audio.
Sesuaikan VR1 sehingga Vin (+) tegangan terminal input 6 V.
Biarkan J1 menjadi hubung singkat, yang berarti membiarkan R1 digunakan.
Kemudian masukan sinyal audio terminal menjadi sinyal audio asli.
Dengan menggunakan osiloskop, mengamati bentuk gelombang sinyal audio
sinyal input dan output terminal terminal (pin 6). Kemudian mencatat hasil
pengukuran pada tabel 3-2.

8. Biarkan J1 menjadi rangkaian terbuka, itu berarti R1 adalah tidak terpakai dan
merekam sinyal input audio. Sesuaikan VR1 sehingga Vin (+) tegangan terminal
input 6V.

9. Biarkan J1 menjadi hubung singkat, maka masukan sinyal audio asli ke audio
terminal sinyal input.

10.

Dengan menggunakan osiloskop, mengamati bentuk gelombang sinyal

audio sinyal input dan output terminal terminal (pin 6). Kemudian mencatat
hasil pengukuran pada tabel 3-2.

11.

Biarkan J1 menjadi rangkaian terbuka dan merekam sinyal input audio.

Sesuaikan VR1 sehingga Vin (+) tegangan terminal input 0 V, maka biarkan J1
akan opencircuit.
12. Mengubah amplitudo sinyal audio ke 5 V, yang lain tetap sama. Ulangi langkah
4 sampai 10 kemudian mencatat hasil yang diukur pada tabel 3-3.
Percobaan 2: LM555 lebar pulska modulasi

1. Melihat gambar 3-8 atau mencari DCT3-2 pada modul GOTT DCT-6000-02.

Gambar 3-8 Diagram rangkaian PWM dengan menggunakan 2 buah IC LM555.

2. Dengan

menggunakan osiloskop, mengamati pada titik TP3 uji dan output


gelombang sinyal, pada saat yang sama menyesuaikan variabel resistor VR1
sampai kapan sinyal gelombang persegi titik uji TP3 di tingkat perbedaan
tegangan, sinyal output gelombang persegi memiliki lebar pulsa yang berbeda.
(yaitu berbeda duty-cycle).
3. Pada input audio sinyal terminal (Audio I/P), masukan amplitudo 2,5 V dan
frekuensi 1 kHz gelombang persegi. Kemudian mencatat hasil pengukuran pada
tabel 3-4.

4. Dengan menggunakan osiloskop, mengamati pada bentuk gelombang sinyal


output dari debit kapasitor TP1, TP2 titik kritis, memicu TP3 sinyal, titik kritis
dari TP4 debit kapasitor, dan PWM O/P.

5.Dengan menggunakan osiloskop dan beralih ke saluran DC, mengamati pada


bentuk gelombang sinyal output dan mencatat hasil pengukuran pada tabel 3-5.

6.

Mengubah sinyal input untuk gelombang segitiga, yang lain tetap sama,

mengulangi langkah 5.

7.

Mengubah sinyal input untuk gelombang sinusoidal, yang lain tetap

sama, mengulangi langkah 5.

8.

Mengubah amplitudo sinyal input menjadi 1,5 V, yang lain tetap sama,

mengulangi langkah 6 hingga langkah 7, kemudian mencatat hasil yang diukur


pada tabel 3-6.
9. Mengulangi langkah 3 hingga langkah 5, kemudian mencatat hasil yang diukur
pada tabel 3-7.
1.5 Hasil Pengamatan
Tabel 3-2 Mengukur hasil dari modulasi lebar pulsa A741 (Vm = 3V, fm = 500 Hz)
Tegangan Bias

Bentuk Gelombang Sinyal

Bentuk Gelombang Sinyal

DC pada Vin (+)

Input

Output

0V

6V

-6V

Tabel 3-3 Mengukur hasil dari modulasi lebar pulsa A741 (Vm = 5 Vin, fm = 500 Hz)
Tegangan Bias

Bentuk Gelombang Sinyal

Bentuk Gelombang Sinyal

DC pada Vin (+)

Input

Output

0V

6V

-6V

Tabel 3-4 Mengukur hasil modulasi lebar pulsa dengan LM555 (V m = 2.5 V, fm = 1
kHz)
Sinyal Input

Gelombang Kotak

Gelombang
Segitiga

Gelombang Sinus

Bentuk Gelombang Sinyal Input

Tabel 3-5 Mengukur hasil modulasi lebar pulsa dengan LM555 (Vm = 2.5 V, fm = 1
kHz gelombang kotak)
Sinyal Input

Bentuk Gelombang Sinyal Input

Gelombang Kotak

Gelombang
Segitiga

Gelombang Sinus

Tabel 3-5 Mengukur hasil modulasi lebar pulsa dengan LM555 (Vm = 2.5 V, fm = 1
kHz gelombang segitiga)

Titik Pengujian

TP1

TP2

TP3

TP4

PWM
O/P

Bentuk Gelombang Sinyal Output

Tabel 3-5 Mengukur hasil modulasi lebar pulsa dengan LM555 (Lanjutan)
(Vm = 2.5 V, fm = 1 kHz gelombang segitiga)
Titik Pengujian

TP1

TP2

TP3

TP4

PWM
O/P

Bentuk Gelombang Sinyal Output

Tabel 3-6 Mengukur hasil modulasi lebar pulsa dengan LM555 (V m = 1.5 V, f m =
1kHz)
Sinyal Input

Gelombang Kotak

Gelombang
Segitiga

Gelombang Sinus

Bentuk Gelombang Sinyal Input

Tabel 3-7 Mengukur hasil modulasi lebar pulsa dengan LM555 (Vm = 1.5 V, fm = 1
kHz gelombang kotak)
Titik Pengujian

TP1

TP2

TP3

TP4

PWM
O/P

Bentuk Gelombang Sinyal Output

Tabel 3-7 Mengukur hasil modulasi lebar pulsa dengan LM555 (Lanjutan)
(Vm = 1.5 V, fm = 1 kHz gelombang segitiga)
Titik Pengujian

TP1

TP2

TP3

TP4

Bentuk Gelombang Sinyal Output

PWM
O/P