Anda di halaman 1dari 1
Bandara Karawang Masuki Tahap Studi Kelayakan Oleh Laila Ramdhini > JAKARTA — Proyek Bandara Karawang, Jawa Barat memasuki tahap studi kelayakan (feasibility study/FS). Direktur Kebandarudaraan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Bambang Tjahjono mengatakan, desain awal bandara masih dalam proses penyelesaian dan menunggu hasil FS tersebut. “Terkait Bandara Karawang, kini sedang dilakukan survei foto udara oleh pihak pemberi grant, Japan International Coo- peration Agency (ICA). Tahun ini, FS-nya diharapkan selesai dan masalah tata ruangnya juga sedang diajukan ke BKPRN (Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional),” kata Bambang saat dihubungi Investor Daily, belum lama ini. Plt Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Santoso Eddy Wibowo menambahkan, pembangunan Bandara Karawang sudah masuk dalam rancangan proyek Metropolitan Priority Area (MPA) yang berada di bawah arahan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Termasuk didalam proyek MPA, kata dia, adalah pembangunan Pelabuhan Cilamaya. Santoso juga menuturkan, pembangunan Bandara Kara- wang akan menjadi jawaban atas kebutuhan fasilitas bandara yang tidak bisa dipenuhi oleh Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) yang sudah kelebihan kapasitas, Desain awal Bandara Karawang juga dibuat serupa dengan Soetia. Saatini, kapasitas penumpang di Soetta tahun 2020 diperkirakan mencapai 70 juta orang dan sampai 100 juta pada 2030, sedangkan daya tam- pungnya hanya 60 jula orang per tahun. “Bandara Karawang ini yang nantinya menjadi solusi untuk kebutuhan bandara di Jakarta dan sekitarnya,” papar dia. Di sisi lain, pengembangan Bandara Soekarno-Hatta, lanjut Santosa , tidak memungkinkan adanya campur tangan dari pemerintah pusat. Kendati pe- merintah memang bertanggung jawab atas transportasi udara, Bandara Soetta sudah di bawah pengelolaan PT Angkasa Pura IT atau sudah komersial. “Pengembangan Soetta bisa dikerjakan oleh AP II yang bisa mencari dan mengelola uang sendiri. Karena kalau APBN masuk ke sana, bagaimana dengan kebutuhan di daerah? Kami kan harus fokus ke sana juga,” jelas dia. Sebelumnya pemerintah mendorong AP II bekerja sama dengan pihak swasta atau in- vestor guna membangun lan- dasan pacu (runway) ketiga dan terminal 4 Bandara Soetta. Itu dilakukan menyusul batalnya campur tangan pemerintah mendukung pengembangan proyek itu. Bambang Tjahjono meng- ungkapkan, pemerintah lebih memilih memprioritaskan da- na anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk mengembangkan bandara-ban- dara nonkomersial, atau di luar bandara yang dikelola oleh Ang- kasa Pura I dan II “Bandara-bandara itu khu- susnya yang berada di kawasan timur Indonesia (KTD, daerah rawan bencana, daerah perba- tasan, daerah terpencil, dan pulau-pulau terluar,” ujar dia baru-baru ini, Bandara Kertajati Di sisi lain, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp 160 miliar untuk pembangunan landasan pacu Bandara Kertajati, Majalengka (awa Barat). Pemerintah sudah mengeluarkan dana Rp 80 miliar pada 2013 dan Rp 80 miliar pada tahun ini. Proyek multiyears ini akan dikerjakan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah (pem- da), dan PT Angkasa Pura II, dengan perkiraan total investasi tahap I sekitar 7 triliun. “Untuk pembangunan fasilitas sisi darat, seperti terminal akan dibangun oleh Pemda bekerja sama dengan PT Angkasa Pura II. Saat ini, biayanya sedang dalam tahap perhitungan,” kata Bambang Tjahjono . Santoso Eddy Wibowo juga mengungkapkan, pihaknya sudah mengadakan rapat koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekono- mian untuk membahas pem- bangunan Bandara Kertaja Pembangunan Bandara Ker- tajati akan dipercepat untuk mengakomodasi kebutuhan bandara di Jawa Barat. “Pembangunan Bandara Ker- tajati ini untuk: mengakomodasi masyarakat di Bandung dan sekitarnya. Kemungkinan, ban- dara ini akan dibuat sekelas bandara di Makassar (Bandara Sultan Hassanudin),” kata dia. Sementara itu, pengamat pe- nerbangan Arista Atmadjati mengungkapkan, pembangunan bandara baru seperti Karawang dan Kertajati sudah mendesak, mengingat Bandara Soekarno- Hatta sudah mustahil diperluas karena terkendala masalah lahan. Sedangkan pengoperasian Bandara Halim Perdanakusuma hanya bersifat sementara, ka- rena fungsi ‘ercanya sebagai pusat kegiatan TNIAl “Pembangunan awlata Ke rawang dan Kertajati adalah jawaban untuk merespons per- kembangan bisnis aviasi di Indonesia dan kawasan regional yang maju pesat, yakni growth penumpang di Indonesia mendud- uki ranking ke3 di dunia,” jelas dia. Arista berharap sudah sela- yaknya Bandara Karawang dan Majalengka dibangun segera sebagai bandara dengan konsep terpadu. Dengan konsep tersebut akses bandara ke Karawang bisa sekalian dibangun moda transportasi kereta api komuter dari Jabodetabek ke Karawang.