Anda di halaman 1dari 18

HUKUM PEMBIAYAAN

PEMBIAYAAN adalah penyediaan dana, tagihan yang dipersamakan


dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara pemberi
biaya (bank, perusahaan, perorangan) dengan pihak penerima biaya
yang mewajibkan pihak debitur untuk melunasi pembiayaan tsb dalam
jangka waktu tertentu, dimana sebagai imbalan jasanya kepada pihak
kreditur diberikan hak untuk mendapatkan bunga, pembagian hasil
keuntungan atau sewa selama masa pembiayaan berlangsung.
PERKREDITAN adalah suatu penyediaan uang atau yang
dipersamakan dengannya, yang didasari atas perjanjian pinjammeminjam antara pihak kreditur (bank, perusahaan atau perorangan)
dengan pihak debitur (peminjam), yang mewajibkan pihak debitur
untuk melunasi hutangnya dalam jangka waktu tertentu, dimana
sebagai imbalan jasanya, kepada pihak kreditur (pemberi pinjaman)
diberikan hak untuk mendapatkan bunga, imbalan atau pembagian
hasil keuntungan selama masa kredit tersebut berlangsung.
LEMBAGA KEUANGAN BANK (bank finance institution) adalah badan
usaha yang melakukan kegiatan dibidang keuangan dengan
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau
bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak.
Dari pengertian ini, bank merupakan perusahan yang bergerak dalam
bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dalam
bidang keuangan.
Dari segi FUNGSI-nya, bank dibedakan atas 3 (tiga) jenis yaitu Bank
Indonesia, Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Bank Indonesia
berfungsi sebagai Bank Sentral. Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun
1999 Pasal 4, Bank Indonesia mempunyai 3 (tiga) macam status yaitu
sebagai Bank Sentral, Lembaga Negara Independen dan Badan Hukum
Publik.
BANK UMUM menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Pasal 1
angka (3), adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara

konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam


kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Dengan
demikian, Bank Umum berfungsi sebagai bank yang dapat
menjalankan segala jenis usaha dibidang jasa perbankan.
Dalam MENJALANKAN USAHA, Bank Umum maupun Bank
Perkreditan Rakyat menerapkan dua cara yaitu :
a. Konvensional, artinya menjalankan usaha di bidang jasa
perbankan menurut cara yang lazim atau biasa dengan
memperoleh keuntungan berupa bunga.
b. Prinsip Syariah, artinya menjalankan usaha dibidang jasa
perbankan menurut aturan perjanjian berdasarkan Hukum
Islam dengan memperoleh keuntungan bukan berupa bunga.
Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Pasal 1 angka (4), BANK
PERKREDITAN RAKYAT adalah bank yang melaksanakan kegiatan
usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang
dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran. Dengan demikian Bank Perkreditan berfungsi sebagai
bank yang menjalankan usaha dibidang jasa perbankan tidak termasuk
jasa lalu lintas pembayaran, terutama untuk melayani usaha kecil dan
rakyat pedesaan.
Dalam perkembangan system keuangan Indonesia pernah dikenal suatu
jenis lembaga keuangan yang disebut Lembaga Keuangan Bukan Bank
(Nonbank Financial Institution).
LEMBAGA KEUANGAN BUKAN BANK, adalah badan usaha yang
melakukan kegiatan dibidang keuangan yang secara langsung atau
tidak langsung menghimpun dana dengan jalan mengeluarkan surat
berharga dan menyalurkannya ke dalam masyarakat guna membiayai
investasi perusahaan. Lembaga Keuangan Bukan Bank diatur dengan
undang-undang yang mengatur masing-masing bidang jasa keuangan
bukan bank. Bidang usaha yang termasuk Lembaga Keuangan Bukan
Bank adalah asuransi, pegadaian, dana pensiun, reksa dana dan bursa
efek.

Usaha Per-ASURASI-an (insurance) diatur dengan Undang-Undang


No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Jenis usaha
perasuransian yang diatur dalam undang-undang tersebut dapat
digolongkan lagi menjadi :
a. usaha asuransi yang terdiri atas asuransi kerugian, asuransi jiwa,
asuransi social dan reasuransi.
b. Usaha penunjang asuransi terdiri atas pialang asuransi, pialang
reasuransi, penilai kerugian, konsultas akturia dan agen asuransi.
PEGADAIAN (Pawnshop) merupakan salah satu bentuk lembaga
perkreditan dengan system gadai yang diperuntukkan bagi masyarakat
luas berpenghasilan rendah yang membutuhkan dana dalam waktu
segera. Usaha pegadaian diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 10
Tahun 1990 tentang pengalihan bentuk Perjan Pegadaian menjadi
Perum Pegadaian. Kegiatan operasional Perum Pegadaian yang
dilakukan saat ini antara meliputi :
a. menyalurkan uang pinjaman kepada masyarakat berdasarkan
hukum gadai
b. menerima jasa taksiran bagi masyarakat yang ingin mengetahui
besarnya nilai riil barang miliknya
c. menerima jasa penitipan bagi masyarakat yang akan menitipkan
barang-barangnya
d. bekerja sama dengan pihak ketiga dalam memanfaatkan asset
perusahaan dalam bidang bisnis property, seperti dalam
pembangunan gedung dengan system BOT (build, operate and
transfer)
e. kredit pegawai yaitu kredit yang diberikan kepada pegawai yang
berpenghasilan tetap
DANA PENSIUN (pension fund) merupakan salah satu alternative
untuk memberikan jaminan kesejahteraan kepada karyawan. Dasar
hukum dana pension adalah Undang-Undang No. 11 Tahun 1992
tentang Dana Pensiun.
DANA PENSIUN
adalah badan hukum yang mengelola dan
menjalankan program yang menjanjikan manfaat pension.
Penyelenggaraan program pension ini dapat dilakukan oleh pemberi
kerja atau dengan menyerahkan kepada lembaga keuangan lain yang

menawarkan jasa pengelolaan program pension, misalnya bank umum


atau perusahaan asuransi jiwa.
REKSA DANA (investment fund) diatur dalam Undang-Undang No. 8
Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Reksa Dana adalah wadah yang
dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal
untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manejer
investasi. Dari definisi tersebut terdapat tiga unsure penting dalam
reksa dana yaitu adanya kumpulan dana masyarakat atau pool of fund.
LEMBAGA PEMBIAYAAN (financing institution) adalah badan usaha
yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana
atau barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari
masyarakat
Kegiatan lembaga pembiayaan diatur dengan Keppres No. 61 Tahun
1988 tentang Lembaga Pembiayaan dan Keputusan Menteri Keuangan
No. 1251 Tahun 1998 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan
Lembaga Pembiayaan. Berdasarkan kedua peraturan tersebut yang
dapat melakukan kegiatan dalam lembaga pembiayaan adalah Bank,
Lembaga Keuangan Bukan Bank dan Perusahaan Pembiayaan.
Perusahaan Pembiayaan ini harus berbentuk badan hukum Perseroan
Terbatas atau Koperasi.
Bidang Usaha yang termasuk dalam lingkup pembiayaan adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sewa Guna Usaha (leasing)


Modal Ventura (ventura capital)
Anjak Piutang (factory)
Usaha Kartu Kredit (credit card)
Pembiayaan Konsumen (consumer finance)
Pembiayaan Proyek (project finance)

Sebagai perusahaan pembiayaan yang menjalankan kegiatan di bidang


lembaga pembiayaan menurut ketentuan dilarang :
a. menghimpun dana dari masyarakat secara langsung dalam
bentuk giro, deposito dan tabungan
b. menerbitkan surat sanggup bayar (promissory notes), kecuali
sebagai jaminan atas utang pada bank yang menjadi kreditornya.

Surat sanggup tersebut tidak dapat dialihkan dan dikuasakan


kepada pihak manapun (non-negoiable)
c. memberikan jaminan dalam segala bentuknya kepada pihak lain
BENTUK HUKUM PERUSAHAAN PEMBIAYAAN
Lembaga Pembiayaan dalam menjalankan kegiatannya dilaksanakan
oleh Perusahaan Pembiayaan. Menurut Keppres No. 61 Tahun 1988
yang dimaksud dengan Perusahaan Pembiayaan adalah Badan Usaha
di luar bank dan lembaga keuangan bukan bank yang khusus didirikan
untuk melakukan kegiatan yang termasuk dalam bidang usaha lembaga
pembiayaan.
Perusahaan Pembiayaan dimaksud menurut Pasal 3 ayat (2) Keppres
No. 61 Tahun 1988 berbentuk Perseroan Terbatas atau Koperasi.
Dengan demikian untuk dapat menjalankan usaha di bidang
pembiayaan maka perusahaan pembiayaan harus berbentuk badan
hukum baik berbentuk Perseroan Terbatas (PT) atau Koperasi.

LEMBAGA PEMBIAYAAN
(KEPPRES RI NO. 61 TAHUN 1988)

LE AS I N G
(Sewa Guna Usaha)
Pengertian Leasing :
Berasal dari kata lease, yang berarti sewa menyewa.
Leasing merupakan suatu bentuk derivatif dari sewa menyewa, yang sudah
menjadi salah satu jenis pembiayaan. Dalam bahasa Indonesia sering
diistilahkan dengan sewa guna usaha.
Pihak yang terlibat dalam sistem pembiayaan berpola leasing :
1.

Lessor, merupakan pihak yang memberikan pembiayaan dengan cara


leasing kepada pihak yang membutuhkannya.

2.

Lessee, merupakan pihak yang memerlukan barang modal, barang


modal mana dibiayai oleh lessor dan diperuntukkan kepada lessee.

3.

Supplier, merupakan pihak yang menyediakan barang modal yang


menjadi objek leasing, barang modal mana dibayar oleh lessor kepada
supplier untuk kepentingan lessee.

Terdapat berbagai alternatif mekanisme sehingga terjadinya hubungan


hukum antar pihak yaitu, Lessor, Lessee dan juga Supplier : (Mahkamah
Agung RI, 1989 : 6) :
1. Lessor membeli barang atas permintaan Lessee, selanjutnya memberikan
kepada Lessee secara leasing.
2. Lesse membeli barang sebagai agennya Lessor dan mengambil barang secara Leasing dari Lessor.
3. Lessee membeli barang atas namanya sendiri, tetapi dalam kenyataannya
sebagai agen dari Lessor, dan mengambil barang secara Leasing dari
Leasor.
4. Setelah Lessee membeli barang atas namanya sendiri, kemudian melakukan Novasi, sehingga Lessor kemudian meng-hak-i barang dan mem yarnya.
5. Setelah Lessee membeli barang untuk dan atas namanya sendiri, kemudi
an menjualnya kepada Lessor, dan mengambil kembali barang secara
Leasing. Ini contoh Sale and Lease Back.
6. Lessor sendiri yang mendapatkan barang secara leasing dengan hak untuk
melakukan subleasing kepada leassee.
Dalam Surat keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri
Perindustrian dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia tentang
Perizinan Usaha Leasing, yang dimaksud dengan leasing adalah :
Setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barangbarang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu
tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai
dengan hak pilih (opsi) dari perusahaan tersebut untuk membeli barangbarang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing
berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama.

Dalam Keputusan Menteri keuangan RI No.1169/KMK.01/1991 tentang


kegiatan Sewa Guna Usaha (leasing), yang dimaksud dengan leasing
adalah :
Suatu kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal
baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa
guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk dipergunakan oleh lessee
selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.
Dari berbagai pengertian diatas, elemen-elemen dari leasing adalah :
A. Suatu Pembiayaan Perusahaan
B. Penyediaan Barang Modal
C. Keterbatasan Jangka Waktu
D. Pembayaran Kembali Secara Berkala
E. Hak Opsi untuk Membeli Barang Modal
F. Nilai Sisa (Residu)
MACAM-MACAM LEASING
Pada Prinsipnya ada 2 macam prototipe leasing yaitu yaitu leasing yang
berbentuk operating dan leasing yang berbentuk finansial. Disamping itu
terdapat bentuk lain yang merupakan derifatif dari kedua bentuk pokok ini.
Bentuk dimaksud adalah :
a. Operating Lease
b. Financial Lease, selain ini terdapat :
a. Sales and Lease Back
b. Direct Lease
c. Leveraged Lease
d. Cross Border Lease
e. Net Lease
f. Net-net Lease
g. Full Service Lease
h. Big Ticket Lease
i. Captive Leasing
j.Third Party Leasing
k. Wrap Lease

l. Straight Payable Lease, Seasonal Lease dan Return on Invesmet Lease


PERBEDAAN LEASING DENGAN PERJANJIAN LAIN
Terdapat beberapa bentuk perjanjian yang mirip dengan leasing tetapi
sebetulnya terdapat perbedaan tertentu. Perjanjian tersebut adalah :
a. Beda Loan dengan Leasing
Terdapat perbedaan antara loan (yang diberikan oleh bank) dengan leasing
(yang diberikan oleh perusahaan pembiayaan)
1.

Loan bertujuan menyediakan dana sementara leasing bertujuan


menyewakan barang modal. Karena itu leasing dikategorikan juga
sebagai assets based finance.

2.

Loan terfokus pada uang, jadi kreditur bukan pemilik barang yang
didanai, sementara dalam leasing paling tidak secara yuridis, lessor
merupakan pemilik fasilitas/barang modal.

3.

Pada loan, risikonya berupa financial risk, sementara pada leasing,


risikonya berupa financial risk dan physical risk atas barang modal.

4.

Jaminan hutang pada loan adalah barang bergerak atau tidak bergerak
yang sering kali tidak ada hubungannya dengan tujuan penggunaan
dana pinjaman. Sementara pada leasing jaminannya berupa barang
modal yang dibeli dengan dana dari leasing tersebut.

5.

Pada loan, jika ada wanprestasi dari pihak debitur, maka barang
jaminan dilelang, dan kelebihan harganya dikembalikan kepada
debitur. Sementara jika wanprestasi lessee pada leasing, pada
prinsipnya lessor harus tinggal mengambil kembali barang modal
tersebut tanpa harus memperhitungkan/mengembalikan kelebihan
harga. Hal ini disebabkan karena barang modal tersebut masih
merupakan milik lessor. Sungguhpun dalam praktek leasing, hal ini
tidak selamanya konsisten diikuti.

b. Beda Sewa Menyewa dengan Leasing

Pada prinsipnya leasing tidak sama dengan sewa menyewa, leasing


merupakan bentuk stereotype dari sewa menyewa.
Beberapa perbedaan leasing dengan sewa menyewa adalah :
1. Dalam sewa menyewa biasa masalah jangka waktu sewa atau umur pe
makaian barang tidak menjadi fokus utama, tetapi tidak demikian halnya
dengan leasing.
2. Leasing merupakan metode pembiayaan bisnis, tidak demikian halnya
dengan perjanjian sewa menyewa.
3. Obyek dari perjanjian sewa menyewa merupakan barang berwujud yang
berbentuk apa saja, sementara obyek leasing umunya adalah barang
modal, alat produksi atau beberapa bentuk barang konsumsi.
4. Jika leasing menjadi kegiatan bisnis,maka lessornya haruslah berbentuk
perusahaan pembiayaan, sedangkan lessor pada sewa menyewa biasa
tidak ada pembatasan khusus.
5. Pada leasing, lessor berkedudukan sebagai penyandang dana, baik tung
gal atau bersama-sama dengan penyandang dana lainnya, sementara
barang obyek leasing disediakan oleh pihak ketiga atau oleh lessee sendiri. Sebaliknya pada sewa menyea biasa, barang obyek sewa adalah
memang miliknya lessor. Jadi kedudukan lessor adalah sebagai pihak
yang menyediakan barang obyek sewa.
6. Jangka waktu dalam leasing terbatas, sementara jangka waktu dalam sewa menyewa bisa terbatas dan bisa tidak.
7. Dokumen dalam perjanjian leasing jauh lebih complicated dibandingkan
dengan sewa menyewa biasa.
8. Pada leasing masih dibutuhkan jaminan-jaminan tertentu sementara pada
sewa menyewa umumnya tidak ada jaminan tersebut. Jaminan umumnya
berupa personal guarantee fidusia terhadap modal yang bersangkutan,
kuasa menjual barang modal dan sebagainya.

c. Beda Jual Beli dengan Leasing


Perbedaan yang penting antara leasing dengan jual beli adalah, pada jual beli
barang demi hukum menjadi miliknya pembeli segera setelah adanya
levering, sementara pada transaksi leasing, terjadi peralihan hak tidak demi
hukum, tetapi terjadi jika hak opsi digunakan.
Pada leasing, levering dianggap terjadi tidak segera setelah transaksi leasing
dilakukan, tetapi nanti setelah hak opsi dilaksanakan oleh lessee yaitu pada
akhir masa leasing.
d. Beda Sewa Beli dengan Leasing
Kecuali untuk bentuk operating lease, bentuk transaksi yang paling mirip
dengan leasing adalah transaksi sewa beli. Keduanya serupa tapi tak sama.
Sewa beli merupakan anak dari hasil perkawinan antara jual beli dengan
sewa menyewa, karena disatu pihak sewa beli punya sifat-sifat yang sama
dengan jual beli, tetapi di pihak lain juga mempunyai sifat-sifat yang sama
dengan sewa menyewa.
Meskipun antara leasing dengan sewa beli mirip-mirip, tetapi terdapat
perbedaan yakni :
1. Dalam sewa beli, lessee otomatis (demi hukum) jadi pemilik barang diakhir masa sewa, sementara pada leasing, kepemilikan lessee hanya terjadi apabila hak opsinya dilaksanakan oleh lessee.
2. Pihak lessor dalam leasing hanya bermaksud untuk membiayai perolehan
barang modal oleh lessee, dan barang tersebut tidak berasal dari pihak
lessor tetapi dari pihak ketiga atau dari pihak lessee sendiri. Pada sewa
beli, pihak lessor bermaksud melakukan semacam investasi dengan ba
rang yang disewakan itu dengan uang sewa sebagai keuntungannya.
karena itu biasanya barang berasal dari milik pemberi sewa beli sendiri.
3. Leasing termasuk dalam salah satu metode pembiayaan yang diperkenankan dilakukan oleh perusahaan pembiayaan, sementara sewa beli terma
suk kegiatan lembaga pembiayaan.

UNTUNG RUGINYA MENGGUNAKAN LEASING


Kelebihan leasing dibandingkan dengan metode pembayaran lain, terutama
dengan kredit bank adalah :
1. Unsur Fleksibilitas
Unsur Fleksibilits ini terutama dalam hal dokumentasi, collateral, struk
tur kontrak, besar dan jangka waktu pembayaran cicilan oleh lessee, hak
Opsi dll.
2. Ongkos yang Relatif Murah
Karena sifatnya sederhana, untuk dapat direalisasikannya leasing tidak
memerlukan biaya besar, biasanya dalam satu paket. Termasuk dalam
komponen biaya ini adalah konsultan fee, pengadaan dan pemasangan
barang, asuransi dll.
3. Penghematan Pajak
4. Pengaturan yang tidak terlalu complicated
5. Kriteria bagi lessee yang longgar
6. Pemutusan kontrak leasing oleh lessee
7. Pembukuan yang lebih mudah
Disamping keuntungan leasing terdapat juga kelemahan yakni :
1. Biaya Bunga yang Tinggi
2. Biaya Marginal yang Tinggi
3. Kurangnya Perlindungan Hukum
4. Proses Eksekusi Leasing Macet yang Sulit.
JAMINAN HUTANG DALAM LEASING

Leasing juga memerlukan jaminan tertentu seperti metode pembiayaan


lainnya, agar dana yang telah dikeluarkan oleh lessor ditambah dengan
keuntungan tertentu dapat diterima kembali oleh lessor.
Jaminan hutang untuk leasing dalam prakteknya dapat dikategorikan sbb :
a. Jaminan Utama
Jaminan utama dalam transaksi leasing adalah keyakinan dari lessor bahwa lessee akan dan sanggup membayar kembali cicilan sebagaimana
mestinya. Prinsip yang sama dalam UU Perbankan No. 10 Tahun 1998
tentang jaminan utama tentang keyakinan juga diterapkan dalam leasing
maupun berbagai jenis pembiayan lain.
Untuk sampai pada keyakinan dimaksud, lessor harus hati-hati menganalisis keadaan lessee. Cara-cara penilaian debitur dalam pemberian kredit
Bank dapat dipakai sebagai pedoman dalam pemberian leasing yakni :
1) Prinsip 5 C
Untuk menilai kemampuan debitur/lessee adalah pemberlakuan prinsip
5 C yaitu (1) Character, (2) Capacity (3) Capital (4) Condition of EconoMy dan (5) Collaterals.
2) Prinsip 5 P
Prinsip ini terdiri dari : (1) Party (2) Purpose (3) Payment (4) Profitability
(5) Protection dalam arti perlindungan atas perusahaan dan atas jaminan.
3) Prinsip 3 R
Prinsip ini terdiri dari (1) Returns artinya hasil yang dicapai oleh debitur
Untuk mencicil kembali hutangnya (2) Repayment, misalnya penetapan
Schedule pengembalian kredit yang sesuai dengan kemampuan debitur
(3) Risk Bearing Ability artinya kemampun debitur dalam hal adanya
Risiko tertentu, misalnya apakah cukup jaminan atau asuransi.
b. Jaminan Pokok
Jaminan pokok ini berupa barang modal hasil pembelian dari transaksi
Leasing itu sendiri.
c. Jaminan Tambahan
Jaminan tambahan atas transaksi leasing dapat berupa jaminan kebendaan
seperti fiducia (atas barang leasing atau bukan), gadai, saham bahkan

mungkin juga hipotik jika hal tersebut untuk leasing atas benda tetap
seperti tanah (dan bangunan) atau kapal laut.
Disamping itu, jaminan perorangan sering juga dimintakan dalam suatu
Leasing seperti personal garansi, corporate garansi, bahkan juga bank
Garansi (meskipun bank garansi jarang). Disamping itu mungkin juga dimintakan jaminan semata-mata kontraktual, seperti kuasa menjual barang
modal ataupun pengakuan hutang.

HUKUM TENTANG MODAL VENTURA


Sifat multi dimensi dari pendanaan dengan sistem modal ventura adala
berupa penempatan posisi dari bisnis modal ventura sebagai berikut :
1.
Sebagai lembaga finansial,
2.
Sebagai Corporate Institution, karena ada penyertaan equity,
3.
Sebagian modal ventura juga berfungsi sebagai lembaga penolong
pengusaha lemah (missi Humanistis).
Pengertian Modal Ventura :
Merupakan terjemaan dari terminologi bahasa Inggris yaitu Venture Capital.
Menurut Keppres No. 61 tahun 1988, tentang Lembaga Pembiayaan, dalam
Pasal 1 ayat (11), Modal Ventura didefinisikan sebagai usaha pembiayaan
dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima
bantuan pembiayaan (investee company) untuk jangka waktu tertentu.
Karakteristik Modal Ventura :
1.
Pemberian bantuan finansial tidak hanya menginvestasi modal saja,
tetapi juga dalam managemen perusahaan yang dibantunya.
2.
Investasi yang dilakukan tidak bersifat permanen, tetapi hanya
sementara, untuk kemudian sampai masanya dilakukanlah divestasi.

3.
4.
5.
6.
7.
8.

Bermotif bisnis, yaitu untuk mendapatkan keuntungan yang relatif


tinggi, walaupun dengan resiko yang relatif tinggi pula.
Investasi yang dilakukan ke dalam perusahaan pasangan usaha
bukanlah investasi jangka pendek, tetapi jangka menengah atau
jangka panjang.
Investasi bukan bersifat pembiayaan dalam bentuk pinjaman, tetapi
dalam bentuk partisipasi equity, atau setidak-tidaknya loan yang dapat
dialihkan ke equity (convertible).
Merupakan investasi tanpa pinjaman Collateral, karena itu dibutuhkan
kehati-hatian dan kesabaran.
Pembiayaan ditujukan pada perusahaan kecil atau perusahaan baru,
tetapi menyimpan potensi besar untuk berkembang.
Investasi dilakukan terhadap perusahaan yang tidak punya akses untuk
mendapat kredit perbankan.

Pihak yang terlibat dalam Modal Ventura :


1.
Pihak perusahaan Modal Ventura
Merupakan pihak yang memberikan bantuan dana kepada perusahaan
yang membutuhkan dana.
2.
Pihak perusahaan pasangan usaha
Disebut juga sebagai investee merupakan perusahaan yang
membutuhkan bantuan dana untuk bisa mengembangkan produknya.
3.
Pihak Penyandang Dana
Kadang dalam bisnis modal ventura juga dibutuhkan pihak
penyandang dana pihak ketiga. Di sini perusahaan modal ventura
berkedudukan hanya sebagai fund management,di samping
kedudukannya sebagai investee management.

HUKUM TENTANG PEMBIAYAAN KONSUMEN


Pembiayaan konsumen merupakan salah satu model pembiayaan yang
dilakukan oleh perusahaan finansial, di samping kegiatan seperti leasing,
kartu kredit dan sebagainya.
Pengertian pembiayaan konsumen :

Diambil dari terjemahan istilah Consumer Finance. Pembiayaan konsumen


ini tidak lain dari sejenis kredit konsumsi (Consumer Credit). Hanya saja
jika pembiayaan konsumen dilakukan oleh perusahaan pembiayaan,
sementara kredit konsumsi diberikan oleh bank.
Namun pengertian keduanya secara substantif sama saja, yaitu :
Kredit yang diberikan kepada konsumen-konsumen guna pembelian
barang-barang konsumsi dan jasa-jasa seperti yang dibedakan dari pinjamanpinjaman yang digunakan untuk tujuan-tujuan produktif atau dagang. Kredit
yang demikian itu dapat mengandung resiko yang lebih besar dari pada
kredit dagang biasa: maka dari itu, biasanya kredit itu diberikan dengan
tingkat bunga yang lebih tinggi. (A.Abdurrahman, 1991:242).

Pengertian Kartu Kredit


Kartu kredit merupakan suatu kartu yang umumnya dibuat dari bahan
plastik, dengan dibubuhkan identitas dari pemegang dan penerbitnya, yang
memberikan hak terhadap siapa kartu kredit diisukan untuk menandatangani
tanda pelunasa pembayaran harga dari jasa atau barang yang dibeli di
tempat-tempat tertentu. Selanjutnya membebankan kewajiban kepada pihak
penerbit kartu kredit untuk melunasi harga barang atau jasa tersebut ketika
ditagih oleh pihak penjual barang atau jasa. Kemudian pihak penerbitnya
diberikan hak untuk menagih kembali pelunasan harga tersebut dari pihak
pemegang kartu kredit plus biaya-biaya lainnya, seperti bunga, biaya
tahunan, uang pangkal, denda dan sebagainya.
Pihak yang terlibat dalam hubungan dengan kartu kredit :
1.
Pihak Penerbit (Issuer)
Terdiri dari :
a.
Bank
b.
Lembaga Keuangan khusus yang bergerak di bidang penerbitan
kartu kredit.
c.
Lembaga Keuangan yang di samping bergerak di dalam
penerbitan kartu kredit, bergerak juga di bidang kegiatankegiatan lembaga keuangan lainnya.

Kepada pihak penerbit, oleh hukum dibebankan kewajiban :


a.
Memberikan kartu kredit kepada pemegangnya.
b.
Melakukan pelunasan pembayaran harga barang atau jasa atas
bills yang disodorkan oleh penjual.
c.
Memberitahukan kepada pemegang kartu kredit terhadap setiap
tagihannya dalam suatu periode tertentu, biasanya tiap
satu
bulan.
d.
Memberitahukan kepada pemegang kartu kredit berita-berita
lainnya yang menyangkut dengan hak, kewajiban dan
kemudahan bagi pemegang tersebut.

Kepada pihak penerbit, oleh hukum diberikan hak-hak :


a.
Menagih dan menerima dari pemegang kartu kredit pembayaran
kembali uang harga pembelian barang atau jasa.
b.
Menagih dan menerima dari pemegang kartu kredit pembayaran
lainnya, seperti bunga, uang pangkal, uang tahunan, denda dan
sebagainya.
c.
Menerima komisi dari pembayaran tagihan kepada perantara
penagihan atau kepada penjual.
2.

Pihak Pemegang Kartu Kredit (Card Holder)


Secara hukum kewajiabn pemegang kartu kredit adalah :
a.
Tidak melakukan pembelian dengan kartu kredit yang melebihi
batas maksimum.
b.
Menandatangani slip pembelian yang disodorkan oleh pihak
penjual barang/jasa.
c.
Melakukan pembayaran kembali harga pembelian sesuai
dengan tagihan oleh pihak penerbit kartu kredit.
d.
Melakukan pembayaran-pembayaran lainnya, seperti uang
pangkal, uang tahunan, denda, dan sebagainya.
Hak-hak pemegang kartu kredit :

a.
b.
via
c.
ada

Membeli barang/jasa dengan memakai kartu kredit, dengan atau


tanpa batas maksimum.
Hak untuk mengambil uang cash, baik pada mesin teller
tertentu denga memakai nomor kode tertentu, ataupun
bank-bank lain atau bank penerbit.
Mendapatkan informasi dari penerbit tentang perkembangan
kreditnya dan tentang kemudahan-kemudahan sekiranya
yang diperuntukkan kepadanya.

3.

Pihak Penjual Barang/jasa


Kewajiban pihak penjual :
a.
Memperkenankan pihak pemegang kartu kredit untuk membeli
barang atau jasa dengan memakai kartu kredit.
b.
Bila perlu melakukan pengecekan atau otorisasi tantang
penggunaan dan keabsahan kartu kredit yang
bersangkutan.
c.
Menginformasikan kepada pemegang tentang charge tambahan
selain harga jika ada.
d.
Menyodorkan slip pembelian untuk ditandatangani oleh pihak
pembeli/pemegang kartu kredit.
e.
Membayar komsisi ketika melakukan penagihan kepada
perantara (jika ada) atau kepada penerbit (jika dilakukan
langsung kepada penebit).
Hak dari penjual barang/jasa :
a.
Meminta pelunasan harga barang/jasa yang diberikan oleh
pembelinya dengan memakai kartu kredit.
b.
Meminta pembeli/pemegang kartu kredit untuk menandatangani
slip pembelian.

c.
4.

Menolak untuk menjual barang/jasa jika ada terdapat otorisasi


dari penerbit kartu kredit.

Pihak Perantara
Terdiri dari perantara penagihan (antara penjual dan penerbit), dan
perantara pembayaran (antara pemegang dan penerbit).
Pihak perantara penagihan (antara penjual dan penerbit) disebut juga
dengan acquirer, adalah pihak yang meneruskan tagihan kepada
penerbit berdasarkan tagihan yang masuk kepadanya yang diberikan
oleh penjual barang/jasa.
Pihak perantara pembayaran (antara pemegang dan penerbit) adalah
bank-bank dimana pembayaran kredit/harga dilakukan oleh pemilik
kartu kredit.