Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Apendisitis atau radang apendiks merupakan kasus infeksi intraabdominal yang sering
dijumpai pada anak. Di Amerika 60.000-80.000 kasus apendisitis didiagnosa per tahun,
rata-rata usia anak yang mengalami apendisitis adalah 10 tahun. Di Amerika Serikat
angka kematian akibat apendisitis 0.2-0.8% (Santacroce & Craig, 2006).
Di Indonesia Apendisitis menjadi penyakit terbanyak diderita dengan urutan keempat
tahun 2006 setelah dyspepsia, gastritis dan duodenitis (DepKes RI, 2006). Kelompok usia
yang umumnya mengalami apendisitis yaitu pada usia 10 30 tahun. Satu dari 15 orang
pernah mengalami apendisitis dalam hidupnya (Sisk, 2004).
Apendisitis lebih sering terjadi di negara-negara maju, pada masyarakat barat (Sulu,
Gunerhan, Ozturk & Arslan, 2010). Sebuah hasil penelitian menunjukkan masyarakat
urban Afrika Selatan yang mengkonsumsi makanan rendah serat daripada orang
Caucasian, insiden apendisitis terjadi lebih rendah pada orang Caucasian (Carr, 2000).
Urbanisasi mempengaruhi transisi demografi dan terjadi perubahan pola makan dalam
masyarakat seiring dengan peningkatan penghasilan yaitu konsumsi tinggi lemak dan
rendah serat (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).
Apendisitis dapat disebabkan oleh gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari yang tidak
sehat seperti kurangnya mengkonsumsi makanan berserat dalam menu sehari-hari.
Makanan rendah serat memicu terbentuknya fecalith yang dapat menyebabkan obstruksi
pada lumen appendiks (Marianne, Susan & Loren, 2007).
Apendisitis dapat disebabkan oleh penyebab lainnya antara lain; hyperplasia jaringan
limfoid, infeksi virus, parasit Enterobius vermicularis yang dapat menyumbat lumen
appendiks (Hockenberry & Wilson, 2007).
Gejala klasik yang terjadi pada anak yang menderita apendisitis antara lain nyeri
periumbilikal, mual, muntah, demam, dan nyeri tekan pada kuadaran kanan bawah perut,
(Marianne, Susan & Loren, 2007).

Beberapa tanda nyeri yang terjadi pada kasus apendisitis dapat diketahui melalui
beberapa tanda nyeri antara lain; Rovsings sign, Psoas sign, dan Jump Sign, (Lynn,
Cynthia & Jeffery, 2002).
Peradangan akut pada apendiks memerlukan tindakan pembedahan segera untuk
mencegah terjadinya kompilkasi berbahaya (Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Apendiktomi
merupakan tindakan pembedahan untuk mengangkat apendiks dilakukan segera mungkin
untuk mengurangi risiko perforasi (Brunner & Suddarth, 2001).

1.2 Tujuan Penulisan


a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien apendisitis.
b. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui definisi dari apendisitis.
2. Untuk mengetahui etiologi dari apendisitis.
3. Untuk mengetahui klasifikasi dari apendisitis.
4. Untuk mengetahui komplikasi dari apendisitis.
5. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari apendisitis.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Apendisitis


Apendiks adalah ujung seperti jari yang kecil yang panjangnya kira-kira 10 cm (4
inci), melekat pada sekum tepat dibawah katup ileosekal. Apendiks berisi makanan dan
mengosongkan diri secara teratur kedalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif
dan lumennya kecil, apendiks cenderung terjadi sumbatan dan terutama rentan terhadap
infeksi (apendisitis) (Smeltzer, 2001: 1097).
Apendisitis merupakan peradangan pada appendiks dan menjadi penyebab umum
terjadinya tindakan emergency bedah abdomen pada anak (Hockenberry & Wilson,
2008). Definisi lain Apendisitis merupakan peradangan pada appendiks, sebuah kantung
buntu yang berhubungan dengan bagian akhir secum yang umumnya disebabkan oleh
obstruksi pada lumen appendiks (Luxner, 2005). Jadi dapat disimpulkan apendisitis
merupakan peradangan yang terjadi pada appendiks (kantung buntu yang berhubungan
dengan akhir secum) yang disebabkan oleh obstruksi pada lumen appendiks.
2.2 Etiologi Apendisitis
Penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dari rongga
abdomen, adalah penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat. Kira-kira 7 %
dari populasi akan mengalami apendisitis pada waktu yang bersamaan dalam hidup
mereka; pria lebih sering diperngaruhi daripada wanita, dan remaja lebih sering pada
orang dewasa. Meskipun ini dapat terjadi pada usia berapapun, apendisitis paling sering
terjadi antara usia 10 dan 30 tahun (Smeltzer, 2001: 1097).
Etiologi apendisitis yang terjadi antara lain disebabkan oleh obstruksi lumen
appendiks. Obstruksi lumen pada appendiks yang menyebabkan apendisitis antara lain
karena; material feses yang keras (fecalith), hyperplasia jaringan limfoid, dan infeksi
virus (Hockenberry & Wilson, 2007). Penyebab lainnya dari apendisitis antara lain;
benda asing, infeksi bakteri, parasit, dan tumor appendiks atau sekum (Lynn, Cynthia, &
Jeffery, 2002).

2.3 Klasifikasi Apendisitis


Terdapat Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi dua yaitu apendisitis akut dan kronis

(Sjamsuhidayat & Jong, 2005).


1. Apendisitis Akut
Peradangan pada appendiks dengan gejala khas yang memberikan tanda setempat.
Gejala apendisitis akut antara lain nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri
visceral di daerah epigastrium di sekitar umbilicus. Keluhan ini disertai rasa mual muntah dan
penurunan nafsu makan. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke titik McBurney. Pada
titik ini nyeri yang dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan
nyeri somatic setempat (Sjamsuhidayat, 2005).
Nyeri tekan dan nyeri lepas disertai rigiditas pada titik McBurney sensitive untuk
apendisitis akut. Komplikasi dari apendisitis akut yang paling sering terjadi adalah perforasi.
Perforasi dari appendiks dapat menimbulkan abses periapendisitis yaitu terkumpulnya pus
yang terinfeksi bakteri. Appendiks menjadi terinflamasi, bisa terinfeksi dengan bakteri, dan
bisa dipenuhi pus hingga pecah, jika appendiks tidak diangkat tepat waktu. Pada apendisitis
perforasi isi pus yang di dalam appendiks dapat ke luar ke rongga peritoneum. Gejala dari
apendisitis perforasi mirip dengan gejala apendisitis akut biasa, namun keluarnya pus dari
lubang appendiks menyebabkan nyeri yang lebih saat mencapai rongga perut (Lee, 2009).
2. Apendisitis Kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika ditemukan 3 hal yaitu;
pertama, pasien memiliki riwayat nyeri pada kuadran kanan bawah abdomen selama paling
sedikit 3 minggu tanpa alternative diagndosis lain. Kedua, setelah dilakukan appendiktomi
gejala yang dialami pasien akan hilang dan yang ketiga, secara histopatologik gejalanya
dibuktikan sebagai akibat dari inflamasi kronis yang aktif pada dinding appendiks atau
fibrosis pada appendiks, (Santacroce & Craig, 2006). Gejala yang dialami oleh pasien
apendisitis kronis tidak jelas dan progresifnya lambat. Terkadang pasien mengeluh merasakan
nyeri pada kuadran kanan bawah yang intermiten atau persisten selama berminggu-minggu
atau berbulan-bulan.
2.4 Manifestasi Klinis Apendisitis
Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam disertai oleh demam
rigan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan lokal pada titik McBurney bila
dilakukan tekanan. Nyeri tekan lepas (hasil atau intensifikasi dari nyeri bila tekanan
dilepaskan) mungkin dijumpai. Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat

konstipasi atau diare tidak bergantung pada beratnya infeksi dan lokasi apendiktis. Bila
apendiks melingkar dibelakang sekum, nyeri dan nyeri tekan dapat terasa didaerah lumbar;
bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini hanya dapat diketahui dengan pemeriksaan
rektal. Nyeri pada defekasi menunjukkan ujungan apendiks berada dekat rektum; nyeri pada
saat perkemihan menunjukkan bahwa apendiks berada didekat kandung kemih atau ureter.
Adanya kekakuan pada bagian otot rektus kanan dapat terjadi (Smeltzer, 2001: 1098).
Tanda Rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri, yan secara
paradoksial meyebabkan nyeri yang terasa di kuadran kanan bawah. Apabila apendiks telah
ruptur, nyeri menjadi lebih menyebar; distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitis, dan
kondisi pasien memburuk (Smeltzer, 2001: 1099).

2.5 Patofisiologi Apendisitis


Apendisitis terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat,
kemungkinan oleh fekalit massa keras dari feses), tumor, atau benda asing. Proses inflamasi
meningkatkan tekanan inflmasi, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat
secara progresif, dalam beberapa jam, terlokalisasi dikuadran kanan bawah dari abdomen.
Akhirnya, apendiks yang terinflamasi berisi pus (Smeltzer, 2001: 1097).
Berdasarkan definisi, apendisitis merupakan inflamasi apendiks vermiformis. Karena
struktur yang terpuntir, apendiks merupakan tempat ideal bagi bakteri untuk berkumpul dan
multiplikasi. Apendisitis dapat terjadi pada segala usia kendati lebih sering ditemukan pada
remaja dan dewasa muda (Chang, 2009: 313).
Kemungkinan penyebab apendisitis meliputi obstruksi lumen apendiks oleh faecalith
(massa feses yang keras), batu, benda asing, tumor, atau edema; pelekukan apendiks;
pembengkakan dinding usus; dan oklusi eksternal usus oleh pelekatan. Terlepas dari
penyebabnya, ketika apendiks tersumbat, tekanan didalam lumen meningkat. Keadaan ini
mengganggu suplai darah sehingga terjadi inflamasi, edema, nekrosis, gangren atau perforasi
(Chang, 2009: 313).

2.6 Pemeriksaan Diagnostik

Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan fisik lengkap dan tes laboratorium dan sinar-x.
Hitung darah lengkap dilakukan dan akan menunjukkan peningkatan jumlah darah putih.
Jumlah leukosit mungkin lebih besar dari 10.000/mm 3 dan pemeriksaan ultrasound dapat
menunjukkan densitas kuadran kanan bawah atau kadar aliran-udara terlokalisasi (Smeltzer,
2001: 1099).
Diagnosis apendisitis dibuat, terutama berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik pasien.
Namun, hasil pemeriksaan laboratorium akan membantu menegakkan diagnosis yang benar.
Hasil abnormal meliputi kenaikan jumlah sel darah putih dan protein C-reaktif kendati kedua
hasil pemeriksaan ini tidak khas hanya pada apendisitis. Sinar-X dan USG abdomen dapat
mengungkapkan kepadata pada abdomen kuadran kanan bawah atau distensi lokal pada usus
kendati hasil radiograf yang negatif tidak boleh digunakan untuk menyingkirkan
kemungkinan diagnosis apendisitis (Chang, 2009: 313).

2.7 Penatalaksanaan Apendisitis


Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan. Antibiotik dan
cairan IV ddiberikan sampai pembedahan dilakukan. Analgesik dapat diberikan setelah
diagnosa ditegakkan (Smeltzer, 2001: 1099).
Apendektomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera mungkin
untuk menurunkan risiko perforasi. Apendektomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum
atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi, yang merupakan metode
terbaru yang sangat efektif (Smeltzer, 2001: 1099).
Tidak ada terapi farmakologi yang spesifik untuk apendisitis. Terapi, terutama terdiri
dari pengangkatan apendiks dengan pembedahan. Asuhan pra bedah meliputi pemberian infus
dan antibiotik. Karena perforasi dapat terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam sesudah awitan
gejala, laparotomi merupakan satu-satunya tindakan yang aman jika apendisitis merupakan
diagnosis sementara. Bayak uji coba memperlihatkan efektivitas terapi antibiotik prabedah
dalam menurunkan komplikasi infeksi, akan tetapi, jika yang ditemukan hanya apendisitis
akut sederhana, pemberian antibiotik lebih dari 24 jam tidak membawa manfaat (Chang,
2009: 314).
Karena adanya orgaisme Gram-negatif didalam usus, terapi antibiotik harus meliputi
pemberian sefalosporingenerasi-ketiga yang efektif melawan banyak bakteri Gram-Negatif.

Contoh sefalosporin generasi-ketiga adalah sefotaksim, seftriakson, dan seftazidim. Ketiga


preparat ini menghancurkan bakteri dengan menghambat sintesis dinding selnya (Chang,
2009: 314).

2.8 Komplikasi Apendisitis


Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks, yang dapat berkembang
menjadi peritonitis atau abses. Insidens perforasi adalah 10% sampai 32% . insiden lebih
tinggi pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri.
Gejala mencakup demam dengan suhu 37,7o C atau lebih tinggi, penampilan toksik, dan nyeri
atau nyeri tekan abdomen yang kontinyu (Smeltzer, 2001: 1099).

2.9 Asuhan Keperawatan


2.5.1 Pengkajian
Riwayat kesehatan meliputi gambaran lengkap masalah telinga, termasuk infeksi
otalgia, otorea, kehilangan pendengaran. Data dikumpulkan dari durasi dan
intensitas masalahnya, penyebab, dan pengangan sebelumnya. Informasi perlu
diperoleh mengenai masalah kesehatan lain dan semua obat yang diminum pasien.
Selain itu, pertanyaan mengenai alergi obat dan riwayat keluarga penyakit telingan
harus ditanyakan.
Pengkajian fisik meliputi observasi adanya eritema, edema, otoria, lesi,dan bau
cairan yang keluar. Hasil audiogram harus dikaji (Smeltzer, 2001).
2.5.2 Diagnosa
Berdasarkan pada data pengkajian, diagnose yang mungkin mucul meliputi:
1. Ansietas yang berhungan dengan prosedur pembedahan, potensial kehilangan
pendengaran, potensial gangguan pengecap dan potensial kehilangan gerakan
vasial.
2. Nyeri akut yang berhubungan dengan pembedahan mastoid .
3. Resiko terhadap infeksi bd mastoidektomi Pemasangan graft protesis, dan
elektroda, trauma beda terhadap jaringan dan struktur disekitarnya.
4. Perubahan persepsi sensori auditoris bd kelainan telingan / pembedahan
telinga.
5. Resiko terhadap trauma bd kesulitan keseimbangan / vertigo Selama periode
pasca operasi segera.
6. Perubahan persepsi sensoro bd potensial kerusakan nervus vasialis( nervus
kranialis Vll) dan saraf korda timpani.
7. Kerusakan integritas kulit bd pembedahan telinga, insisi, dan tempat graft.

8. Kurang pengetahuan mengenai penyakit mastoid, prosedur bedah dan asuhan


pascaoperatif dan harapan.

BAB III
PEMBAHASAN
Kasus:
Seorang pasien bernama Nn. Aq saat ini menjalani hari ke 2 dirawat di RSUD AA. Ketika
dilakukan pengkajian oleh perawat, pasien mengeluhkan nyeri di kuadran kanan bawah.
Nyeri hilang timbul dan bisa muncul meskipun dalam keadaan istirahat. Pasien juga
mengeluhkan mual sehinggan pasien menjadi tidak selera makan. Klien tampak lemah dan
pucat. Didapatkan hasil TTV Td=110/90 mmHg, Hr= 84x/i, Sh= 37 o C, dan RR= 19x/i.
Diagnosa medis pasien adalah apendisitis. Pasien mengatakan sebelumnya suka
mengkonsumsi makanan pedas. Pemeriksaan laboratorium didapatkan WBC=9000,
HGB=12 dan PLT=276.000. selain itu pasien mendapatkan terap medikasi cepotaxin dan
ketorolax.

Pengkajian:
1. Anamnesa
a. Identitas pasien
1) Inisial nama
2) Usia
3) Jenis kelamin
4) Agama
5) Suku
6) Pendidikan
7) Alamat

: Tn. Aq
: 13 tahun
: perempuan
: Islam
: Melayu
: SMP
: jalan satria no. 117

2. Riwayat penyakit
a. Keluhan utama
1) Nyeri abdomen kuadran kanan bawah

2) Rasa mual
b. Riwayat penyakit sekarang
Sebelumnya pasien suka makanan yang pedas/ cabe, pada awalnya pasien
mengeluhkan nyeri di abdomen kuadran kanan bawah, semakin lama pasien
merasakan nyeri semakin bertambah. Pasien pun mengalami penurunan selera
makan karena adanya rasa mual.
Diagnosa medis adalah apendisitis.
c. Riwayat penyakit dahulu
Tidak ada.
d. Riwayat penyakit keluarga (Genogram)
Tidak ada dan tidak dilakukan pengkajia genogram.
e. Riwayat alergi
Tidak ada
3. ROS (review of system)
a. Keadaan umum
: baik
b. Kesadaran / GCS
: compos mentis
c. Tanda vital : TD: 110/90 mmHg
Nadi: 84 x/i Suhu: 37oC RR : 19 x/i
d. Pernapasan
1) Bentuk dada
: Normoches
2) Pola napas/ irama
: Teratur/ reguler
3) Suara napas
: normal
e. Kardiovaskuler
1) Irama jantung
: Regular/ teratur
2) S1/S2 tunggal
: S1 dan S2 tunggal, tidak ada bunyi tambahan
3) Bunyi jantung
: lup dup
4) CRT
: < 3 derik
5) Akral
: Hangat
6) JVP
: tidak dilakukan tindakan
f. Persyarafan dan pengindraan
Refleks fisiologis
: Normal, tidak ada kelainan
Refleks patologis
: Tidak ada kelainan dari lahir
Istirahat/ tidur
: 7 jam/ hari
Gangguan tidur
: Susah tidur dimalam hari karena nyeri hilang timbul
Pusing
: tidak ada
Nyeri
: ada Skala nyeri: 8 Lokasi: abdomen kuadran kanan
bawah
Durasi: 3-5 menit
g. Penglihatan
1) Skelra
: Tidak ikterik
2) Pupil
: Mengecil jika terkena cahaya
3) Konjungtiva
: tidak anemis
4) Gangguan pendengaran : tidak ada gangguan pendengaran
5) Bentuk hidung
: simetris
h. Perkemihan
1) Keluhan
: tidak ada keluhan saat BAK
2) Alat bantu
: tidak menggunakan alat bantu
3) Bladder
: tidak ada nyeri tekan
4) Produksi urin
: warna: kuning
Bau: khas
5) Intake cairan
: Parenteral 500 cc/hari

i. Pencernaan
1) BB: 44 kg
2) Mukosa mulut
: Bibir kering
3) Gigi
: tidak ada caries pada gigi
4) Tenggorokan
: tidak ada nyeri saat menelan
5) Abdomen
: nyeri abdomen kuadran kanan bawah
6) BAB
: belum ada BAB
7) Diet
Frekuensi
: 3x/hari
Jenis
: bubur
j. Musculoskeletal/ integumen
1) Pergerakan sendi
: sendi bebas, tidak ada gangguan
2) Kulit
: lembut dan tidak kering
3) Turgor
: elastis
4) Luka dan balutan
: tidak ada
k. Personal hygyne
1) Mandi /dilap
: - x/hari
Sikat gigi
: 2 x/hari
2) Keramas
: - x/hari
Kuku
: pendek dan bersih
3) Rambut
: bersih
4) Ganti pakaian
: 1x/hari
l. Psiko-sosio-spritual
1) Persepsi klien terhadap penyakitnya
: klien takut dan cemas dengan
penyakitnya
2) Ekspresi klien terhadap penyakitnya

: klien tampak tenang namun

terlihat pucat
3) Reaksi saat interaksi
m. Pemeriksaan laboratorium/ penunjang

: klien kurang kooperatif

Pemeriksaan

Hasil

Nilai Normal

WBC

9.000

5.000-10.000

HGB

12

12-14 (wanita)
14-16 (pria)

PLT

276.000

150.000-450.000

n. Terapi Medikasi
Obat
cepotaxin

Dosis

Kegunaan

Efek Samping

Sebagai obat infeksi Radang pada tempat


bakteri

suntikan

ketorolax

ampul

Anti nyeri (analgesik) Ulkus,


saluran

perdarahan
cerna

perforasi

FORMAT ANALISA DATA


No.

Data

Bagan etiologi

Masalah keperawatan

DS:
Klien mengatakan nyeri

sering makan cabe

Gangguan rasa nyaman

dibagian
bawah

perut
dan

muncul

kanan

nyeri

saat

bisa

kedaan

istirahat. Skala nyeri: 8.


Klien mengatakan nyeri

massa keras feses

nyeri

obstruksi lumen
suplai aliran darah
menurun
mukosa terkikis

hilang timbul.
DO:
Klien tampak pucat, lemah

peradangan pada apendiks

dan sesekali memegang

nyeri

area nyeri. TD: 110/90


Sh:37,5oC HR: 84x/i RR:
19x/i
2

DS:
Klien mengatakn ketika
sedang makan muncul rasa
mual,

tidak

ada

nafsu

makan
DO: klien tampak pucat
dan lemah

penyebab belum diketahui


kerja fisik yang keras
massa feses keras
obstruksi umen
suplai darah menurun
distensi abdomen
menekan gaster
peningkatan produk HCl
mual, muntah

Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh

dan

perubahan nutrisi kurang


dari kebutuhan tubuh
Diagnose keperawatan:
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d distensi jaringan usus oleh inflamasi
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan pada HCl, tekanan pada
abdomen

No

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Keperawatan
1

1. Gangguan rasa Setelah


nyaman
b.d

nyeri tindakan
distensi 3x24

jaringan

jam

dilakukan

1. Kaji nyeri, catat lokasi dan

keperawatan

karakteristik nyeri
2. Pertahankan istirahat dengan

diharapkan

usus nyeri hilang/ berkurang.

oleh inflamasi

posisi semi fowler


3. Ajarkan teknik relaksasi
napas dalam
4. Kolaborasi: analgesik

KH: -skala nyeri <5


- klien merasa nyaman

1. Perubahan
nutrisi

Setelah

kurang tindakan

dari kebutuhan selama


tubuh

1. Lakukan oral higiene pada

keperawatan

klien
2. Berikan makanan sedikt tap

3x24

jam

b.d diharapkan nafsu makan

peningkatan
pada

HCl,

tekanan

pada

abdomen

dilakukan

meningkat.
KH:

seimbang
teratasi

sering
3. Kolaborasi dalam pemberian
obat-obatan

intake

cairan
-

mual

BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Apendiks adalah ujung seperti jari yang kecil, melekat pada sekum tepat dibawah katup
ileosekal, berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur kedalam sekum. Karena
pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil, apendiks cenderung terjadi sumbatan dan
terutama rentan terhadap infeksi (apendisitis).

3.2 Saran
Diharapkan penulisan makalah ini bisa memberikan masukan untuk tambahan ilmu
bagi mahasiswa ilmu keperawatan yaitu tentang apendisitis, dan menjadikan ilmu yang
bermanfaat ini untuk pengaplikasiannya dan praktik bila menghadapi kasus apendisitis.

DAFTAR PUSTAKA
Chang, Ester. 2009. Patofisiologi: Aplikasi pada Praktik Keperawatan. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth.
Edisi 8. Jakarta: EGC.
http://www.search?q=pdf+asuhan+keperawatan+apendisitis&oq diakses tanggal 4 April
2015.

Anda mungkin juga menyukai