Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

HIDROLOGI
INFILTRASI & KURVA INFILTRASI MODEL HORTON

Oleh:
Rahmania Dwi Aini
A1H014007

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu sifat fisik tanah yang penting untuk diketahui adalah laju infiltrasi
tanah, infiltrasi tanah, yaitu kecepatan maksimum masuknya air secara vertical ke
dalam profil suatu tanah. Berdasarkan definisi ilmiahnya, pengertian infiltrasi
tanah adalah proses pergerakan masuknya air ke dalam lapisan tanah yang
dikendalikan oleh gaya gravitasi, gerakan kapiler, dan porositas tanah (USDA,
1998).
Data laju infiltrasi dapat dimanfaatkan untuk menduga kapan suatu limpasan
permukaan (run off) akan terjadi apabila suatu jenis tanahtelah menerima
sejumlah air tertentu, baik melalui curah hujan ataupun irigasi dari suatu tandon
air di permukaan tanah.
Banyaknya air yang masuk ke dalam tanah melalui proses infiltrasi
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain tekstur dan struktur tanah,
kelembaban tanah awal, kegiatan biologi dan unsur organik, jenis dan tebal
serasah, tipe vegetasi tumbuhan dan tumbuhan bawah (Asdak, 1995). Laju
infiltrasi umumnya dinyatakan dalam satuan yang sama dengan satuan intensitas
curah hujan, yaitu millimeter per jam (mm/jam).
Salah satu proses yang berkaitan dengan distribusi air hujan yang jatuh ke
permukaan bumi adalah infiltrasi. Infiltrasi adalah proses masuk atau meresapnya
air dari atas permukaan tanah ke dalam bumi. Jika air hujan meresap ke dalam
tanah maka kadar lengas tanah meningkat hingga mencapai kapasitas lapang. Pada

kondisi kapasitas lapang air yang masuk menjadi perkolasi dan mengisi daerah
yang lebih rendah energi potensialnya sehingga mendorong terjadinya aliran
antara (interflow) dan aliran bawah permukaan lainnya (base flow). Air yang
berada pada lapisan air tanah jenuh dapat pula bergerak ke segala arah (ke
samping dan ke atas) dengan gaya kapiler atau dengan bantuan penyerapan oleh
tanaman melalui tudung akar. Proses infiltrasi sangat ditentukan oleh waktu.
Jumlah air yang masuk kedalam tanah dalam suatu periode. waktu disebut laju
infiltrasi. Laju infiltrasi pada suatu tempat akan semakin kecil seiring kejenuhan
tanah oleh air. Pada saat tertentu laju infiltrasi menjadi tetap. Nilai laju inilah yang
kemudian disebut laju perkolasi.
Kurva kapasitas merupakan hubungan antara kapasitas infiltrasi dengan
waktu yang terjadi selama dan beberapa saat setelah terjadinya hujan.Kapasitas
infiltrasi secara umum akan tinggi pada awal terjadi nya hujan ,akan tetapi
semakin lama kapasitas nya maka akan mencapai penurunan hingga mencapai
titik konstan. Besarnya penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti,
kelembapan tanah, kompaksi, penumpukan bahan liatan, tekstur tanah, struktur
tanah.
Menurut knaap(1978) untuk mengumpulkan data infiltrasi dapat dilakukan
dengan tiga cara: (1) Inflow-outflow (2) Analisis data hujan dan hidrograf
(3) Double ring inflometer. Dari ketiga cara tersebut yang paling sering
digunakan pengukuran infiltrasi dilapangan yaitu dengan menggunakan doble ring
inflometer.double ring infiltometer merupakan cara yang termudah dilakukan
dimana selain pengukuran yang mudah dilakukan juga bahan untuk membuat

alatnya mudah dicari,inilah yang menjadi alasan mengapa cara ini paling sering
dilakukan.

B. Tujuan
Adapun tujuan praktikum ini adalah :
1. Melatih mahasiswa agar mengetahui peralatan dan cara kerja pengukur
infiltrasi.
2. Melatih mahasiswa agar mengetahui cara pengukuran infiltrasi.
3. Mahasiswa mampu menentukaan nilai parameter infiltrasi : fo, fc, dan K.
4. Mahasiswa mampu menetapkan persamaan penduga dan membuat kurva
infiltrasi model horton.
5. Mahasiswa dapat menghitung volume infiltasi total selama waktu (t)
tertentu.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Infiltrasi didefinisikan sebagai proses masuknya air ke dalam tanah melalui


permukaan tanah. Umumnya, infiltrasi yang dimaksud adalah infiltrasi vertikal,
yaitu gerakan ke bawah dari permukaan tanah (Jury dan Horton, 2004). Infiltrasi
tanah meliputi infiltrasi kumulatif, laju infiltrasi dan kapasitas infiltrasi. Infiltrasi
kumulatif adalah jumlah air yang meresap ke dalam tanah pada suatu periode
infiltrasi. Laju infiltrasi adalah jumlah air yang meresap ke dalam tanah dalam
waktu tertentu. Sedangkan kapasitas infiltrasi adalah laju infiltrasi maksimum air
meresap ke dalam tanah (Haridjaja, Murtilaksono dan Rachman, 1991).
Laju infiltrasi tertinggi dicapai saat air pertama kali masuk ke dalam tanah
dan menurun dengan bertambahnya waktu (Philip, 1969 dalam Jury dan Horton,
2004). Pada awal infiltrasi, air yang meresap ke dalam tanah mengisi kekurangan
kadar air tanah. Setelah kadar air tanah mencapai kadar air kapasitas lapang, maka
kelebihan air akan mengalir ke bawah menjadi cadangan air tanah (ground water)
(Jury dan Horton, 2004).
Kurva kapasitas merupakan hubungan antara kapasitas infiltrasi dengan
waktu yang terjadi selama dan beberapa saat setelah terjadinya hujan.Kapasitas
infiltrasi secara umum akan tinggi pada awal terjadi nya hujan ,akan tetapi
semakin lama kapasitasnya maka akan mencapai penurunan hingga mencapai titik
konstan.
Besarnya penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu: (1)
Kelembapan tanah, (2) Kompaksi, (3) Penumpukan bahan liatan, (4) Tekstur
tanah, (5)Struktur tanah

Menurut knaap(1978) untuk mengumpulkan data infiltrasi dapat dilakukan


dengan tiga cara yakni: (1) Inflow-outflow, (2) Analisis data hujan dan hidrograf,
(3) Double ring inflometer
Dari ketiga cara tersebut yang paling sering digunakan pengukuran infiltrasi
dilapangan yaitu dengan menggunakan double ring inflometer. Double ring
infiltometer merupakan cara yang termudah dilakukan dimana selain pengukuran
yang mudah dilakukan juga bahan untuk membuat alatnya mudah dicari,inilah
yang menjadi alasan mengapa cara ini paling sering dilakukan.
Model Horton adalah salah satu model infiltrasi yang terkenal dalam
hidrologi. Horton mengakui bahwa kapasitas infiltrasi berkurang seiring dengan
bertambahnya waktu hingga mendekati nilai yang konstant. Ia menyatakan
pandangannya bahwa penurunan kapasitas infiltrasi lebih dikontrol oleh faktor
yang beroperasi di permukaan tanah dibanding dengan proses aliran di dalam
tanah. Faktor yang berperan untuk pengurangan laju infiltrasi seperti penutupan
retakan tanah oleh koloid tanah dan pembentukan kerak tanah, penghancuran
struktur permukaan lahan dan pengangkutan partikel halus dipermukaan tanah
oleh tetesan air hujan.

Persamaan kurva kapasitas infiltrasi ( Infiltration Capacity Curve ) yang


dikemmukakan Horton adalah sebagai berikut:
f = fc + (f0 - fc)e- kt

Keterangan:
f = laju infiltrasi pada waktu t (cm/jam)
fc

= kapasitas infiltrasi pada waktu t (cm/jam)

f0 = kapasitas infiltrasi awal pada t=0 (cm/jam)


t = waktu terhitung mulainya hujan
K = konstanta
e = 2,713
Untuk memperoleh persamaan konnstanta K untuk melengkapi persamaan
kurva kapasitas infiltrasi, maka persamaan Horton diolah sebagai berikut:
f = fc + (f0-fc) e-Kt
f-fc = (f0-fc) e-Kt
Dilogaritmakan sisi kiri dan kanan,
log (f-fc) = log (f0-fc) e-Kt atau,
log (f-fc) = log (f0-fc)-Kt log e
log (f-fc) - log (f0-fc)= -Kt log e
maka,
t = (-1/(K log e)) [log (f-fc) log (f0-fc)]
t =(-1/(K log e)) log (f-fc)+ (1/(K log e)) log (f0-fc)

Menggunakan persamaan umum linier, y = m X + C, sehingga


y=t
m = (-1/(K log e))

X = log (f-fc)
C = (1/(K log e)) log (f0-fc)
Mengambil persamaan, m = -1/(K log e), maka
K = -1/(K log e) atau K = -1/(m log 2,718)
Atau K = -1/10,434 m, dimana m = gradient.

III. METODOLOGI PRKTIKUM

A. Alat dan Bahan


1. Double Ring Infiltrometer

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ember
Mistar/Penggaris
Stopwatch
Alat Tulis
Komputer/Laptop
Microsoft Excel

B. Cara Kerja
1. Pilih daerah yang mewakili utuk diukur.
2. Catat tentang:
a. Bekas pelapukan.
b. Berbongkh berkerak atau retak.
3. Pasang tabung infilometer tegak lurus permukaan tanah dengan kdalaman
10 cm. dalam pemasaangan ini diusahakan jangan sampai merusak kondisi
permukaan tanah.
4. Pasang silinder pelindung dengan kedlaman 5 cm.
5. Isi bagian luar (bagian pelindung) dengan air sampai setinggi 5 cm dan
dipertahankan mempunyai kedalaman tetap selama pengukuran.
6. Isi bagian silinder pengukur dengan air, cara pegisian harus hati-hati
jangan sampai merusak lapiran tanah. Isi silinder pengukur sesuai dengan
kedalaman yag dikehendaki.
7. Catat jam dan waktu pengukuran.
8. Awasi penurunan air dengan interval tertentu (lihat table pengamatan
infiltrasi). Pengamatan dilakukan sampai infiltrasi hamper konstan.
9. Membuat table seperti ini :
Waktu (t)
(jam)

Kapasitas infiltrasi
(f) (cm/jam)

fc

f-fc

10. Buat tabel dan input data kedalam program Microsoft excel.

log(f-fc)

11. Persamaan linier regensi y = M x + C atau y = t dan X = log (f-fc).


Dengan memplot hubungan t dal log (f-fc) pada kertas grafik atau
menggunakan kalkulator maka diperoleh persamaan sebagai berikut:

12. Mencari gradient dari persamaan linier tersebut misalnya dalam grafik
diatas diperoleh gradient, m = -0,7527 dengan menggunakan rumus K =
-1/0,434 m, maka K = 3,06
13. Setelah diketahui fc, f0 dan K, lalu masukan kedalam persamaan f = fc +
(f0 fc) e-Kt
14. Lalu dibuat grafik persamaan Horton.
15. Kemudian menghitung volume infiltrasi dengan persamaan
(f0 fc)
V(t) = fc.t + (1 e-Kt)
K

IV. HASIL dan PEMBAHASAN

A. Hasil

Waktu (t)
0
2
4
6
8
10
12
14

fc

18
14
11.7
10
8.3
7
5.9
5

5
5
5
5
5
5
5
5

f-fc
13
9
6.7
5
3.3
2
0.9
0

log (fo-fc)
1.113943
0.954243
0.826075
0.69897
0.518514
0.30103
-0.04576
0

Persamaan
Horton
18
5
5
5
5
5
5
5

K
25.79263
25.79263
25.79263
25.79263
25.79263
25.79263
25.79263
25.79263

KAPASITAS INFILTRASI
16
14
12 f(x) = - 11.19x + 13.11
R = 0.97
10
KAPASITAS8INFILTRASI
waktu (t)
6

Linear (KAPASITAS INFILTRASI)

4
2
0
-0.2

0.2

0.4

0.6

log(f-fc)

0.8

1.2

f(x) =
R = 0

KURVA HORTON

12
10
8

KURVA HORTON

Linear (KURVA
HORTON)

4
2
0
0

10

12

B. Pembahasan
Infiltrasi adalah suatu proses masuknya air, baik air hujan maupun air
irigasi, dari permukaan tanah ke dalam tanah. Aliran air ini bisa ke arah vertikal
ke bawah maupun ke arah samping (horizontal). Infiltrasi merupakan proses yang
sangat penting dalam daur air di suatu wilayah. Proses ini berkaitan erat dengan
laju pemberian air irigasi, agar air irigasi dapat diberikan secara efektif dan
efisien. Di samping itu, infiltrasi berhubungan pula dengan aliran permukaan dan
erosi. Usaha konservasi air dan tanah di DAS bisa diarahkan dengan memperbesar
infiltrasi tanah yang dapat memperkecil limpasan permukaan, dan pada akhirnya
akan memperkecil erosi dan sedimentasi DAS (Asdak, 2007).
Laju maksimal gerakan air masuk kedalam tanah dinamakan kapasitas
infiltrasi. Kapasitas infiltrasi terjadi ketika intensitas hujan melebihi kemampuan
tanah dalam menyerap kelembaban tanah. Sebaliknya apabila intensitas hujan
lebih kecil dari pada kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi sama dengan laju
curah hujan. Laju infiltrasi umumnya dinyatakan dalam satuan yang sama dengan
satuan intensitas curah hujan, yaitu millimeter per jam (mm/jam). Air infiltrasi
yang tidak kembali lagi ke atmosfer melalui proses evapotranspirasi akan menjadi
air tanah untuk seterusnya mengalir ke sungai disekitar.
Salah satu proses yang berkaitan dengan distribusi air hujan yang jatuh ke
permukaan bumi adalah infiltrasi. Infiltrasi adalah proses masuk atau meresapnya
air dari atas permukaan tanah ke dalam bumi. Jika air hujan meresap ke dalam
tanah maka kadar lengas tanah meningkat hingga mencapai kapasitas lapang. Pada

kondisi kapasitas lapang air yang masuk menjadi perkolasi dan mengisi daerah
yang lebih rendah energi potensialnya sehingga mendorong terjadinya aliran
antara (interflow) dan aliran bawah permukaan lainnya (base flow). Air yang
berada pada lapisan air tanah jenuh dapat pula bergerak ke segala arah (ke
samping dan ke atas) dengan gaya kapiler atau dengan bantuan penyerapan oleh
tanaman melalui tudung akar. Proses infiltrasi sangat ditentukan oleh waktu.
Jumlah air yang masuk kedalam tanah dalam suatu periode. waktu disebut laju
infiltrasi. Laju infiltrasi pada suatu tempat akan semakin kecil seiring kejenuhan
tanah oleh air. Pada saat tertentu laju infiltrasi menjadi tetap. Nilai laju inilah yang
kemudian disebut laju perkolasi.
Pengukuran infiltrasi di lapang selain membutuhkan waktu, tenaga, dan
biaya yang tidak sedikit, juga terkadang terlalu memberatkan sehingga sering
terabaikan. Untuk itu diperlukan transformasi data empiris di lapangan menjadi
suatu pendekatan model yang tepat dengan kondisi di suatu daerah sebagai dasar
estimasi dalam menentukan besarnya infiltrasi tanah (Hidayah dkk., 2000).
Penentuan model infiltrasi yang sesuai untuk suatu daerah perlu diketahui,
sebelum analisis lainnya dilakukan. Dua pendekatan pemodelan infiltrasi yang
paling banyak digunakan hingga saat ini ialah model empiris dan model analitik.
Model analitik lebih sukar dalam penyelesaiannya, sehingga banyak orang yang
lebih memilih model empiris. Model empiris ini terdapat dua pendekatan yang
berbeda, yaitu pendekatan fungsi waktu ( time dependent model) dan fungsi
kelembaban tanah (Dhalhar, 1972).

Di antara model infiltrasi yang termasuk time dependent modelialah model


Horton, model Kostiokov, dan model Philip. Sebelum model-model tersebut dapat
digunakan untuk menduga limpasan permukaan, ataupun untuk tujuan lainnya,
maka parameter model harus dikalibrasi terlebih dahulu dengan kondisi lapangan.
Untuk tujuan tersebut, perlu dilakukan pengukuran infiltrasi pada berbagai jenis
penggunaan lahan dan jenis tanah yang ada di daerah penelitian.
Laju infiltrasi merupakan fluk aliran, atau disebut juga kecepatan infiltrasi.
Pada saat intensitas hujan atau irigasi melebihi laju infiltrasi, laju infiltrasinya
mencapai maksimum, yang biasa disebut kapasitas infiltrasi. Laju infiltrasi
(infiltrabilitas) menyatakan fluk dimana profil tanah menyerap air melalui
permukaan butir tanah dan menjaga agar hubungan tersebut tetap berada dalam
kondisi tekanan atmosfirnya. Sepanjang laju pemberian air irigasi masih lebih
kecil dari infiltrabilitas tanah, air akan berinfiltrasi dengan laju yang sama dengan
laju pemberian airnya. Pada kondisi ini laju infiltrasinya ditentukan oleh flux.
Akan tetapi pada saat laju pemberian air telah melebihi harga infiltrabilitas
tanahnya, maka proses infiltrasinya mulai ditentukan oleh profil tanah yang
bersangkutan (Hillel, 1980).
Infiltrabilitas tanah dan variasinya terhadap waktu banyak dipengaruhi oleh
kadar lengas awal tanah, tekstur dan struktur profil tanah, keterhantaran hidraulik,
keseragaman profil serta keadaan permukaan tanah. Pada umumnya infiltrabilitas
akan tinggi pada awal proses dan kemudian berangsur-angsur menurun sampai
kemudian menjadi konstan. Infiltrasi pada laju yang konstan ini disebut sebagai

kapasitas infiltrasi akhir, yang oleh Hillel (1980) disebut sebagai infiltrabilitas
steady.
Data infitrasi dapat digunakan sebagai menduga kapan suatu limpsan
permukaan (runoff) akan terjadi bila suatu jenis tanah telah menerima sejumlah air
tertentu, baik melalui curah hujan,ataupun irigasi dari suatu tondon air di
permukaan tanah. Oleh karena itu, informasi besarnya kapasitas infiltrasi tanah
trsebut berguna, baik dalam pengelolaan irigasi ( Noveras, 2002 ), maupun dalam
perencanaan konservasi tanah dan air ( Arsyad, 1989 ). Dengan mengamati aatau
menguji sifat ini dapat memberikanngambara tentang kebutuha air irigasi yang
diperlukan bagi suatu jenis tanah untuk jenis taaman tertentu pda suatu saat
( Siradz, et al., 2002)
Fator yang berpengaruh di dalam laju infiltrasi diantaranya kelembaban
tana mempengaruhi laju infiltrasi suatu lahan diantaranya:
a. Kelembaban tanah
Jumlah air tanah mempengaruhi kapasitas infiltrasi. Ketika air jatuh pada
tanah kering, permukaan atas dari tanah tersebut menjadi basah, sedang bagian
bawahnya relatif masih kering. Dengan demikian terdapat perbedaan yang besar
dari gaya kapiler antara permukaan atas tanah dan yang ada di bawahnya. Karena
adanya perbedaan tersebut, maka terjadi gaya kapiler yang bekerja sama dengan
gaya berat, sehingga air bergerak ke bawah (infiltrasi) dengan cepat.
Dengan bertambahnya waktu, permukaan bawah tanah menjadi basah,
sehingga perbedaan daya kapiler berkurang, sehingga infiltrasi berkurang. Selain
itu, ketika tanah menjadi basah koloid yang terdapat dalam tanah akan

mengembang dan menutupi pori-pori tanah, sehingga mengurangi kapasitas


infiltrasi pada periode awal hujan.
b. Pemampatan oleh hujan ( kompaksi )
Ketika hujan jatuh di atas tanah, butir tanah mengalami pemadatan oleh
butiran air hujan. Pemadatan tersebut mengurangi pori-pori tanah yang berbutir
halus (seperti lempung), sehingga dapat mengurangi kapasitas infiltrasi. Untuk
tanah pasir, pengaruh tersebut sangat kecil.
c. Penyumbatan oleh butir halus
Ketika tanah sangat kering, permukaannya sering terdapat butiran halus.
Ketika hujan turun dan infiltrasi terjadi, butiran halus tersebut terbawa masuk ke
dalam tanah, dan mengisi pori-pori tanah, sehingga mengurangi kapasitas
infiltrasi.
d. Tanaman penutup
Banyaknya tanaman yang menutupi permukaan tanah, seperti rumput atau
hutan, dapat menaikkan kapasitas infiltrasi tanah tersebut. Dengan adanya
tanaman penutup, air hujan tidak dapat memampatkan tanah, dan juga akan
terbentuk lapisan humus yang dapat menjadi sarang/tempat hidup serangga.
Apabila terjadi hujan lapisan humus mengembang dan lobang-lobang (sarang)
yang dibuat serangga akan menjadi sangat permeabel. Kapasitas infiltrasi bisa
jauh lebih besar daripada tanah yang tanpa penutup tanaman.
e. Topografi
Kondisi topografi juga mempengaruhi infiltrasi. Pada lahan dengan
kemiringan besar, aliran permukaan mempunyai kecepatan besar sehingga air

kekurangan waktu infiltrasi. Akibatnya sebagian besar air hujan menjadi aliran
permukaan. Sebaliknya, pada lahan yang datar air menggenang sehingga
mempunyai waktu cukup banyak untuk infiltrasi.
f. Intensitas hujan
Intensitas hujan juga berpengaruh terhadap kapasitas infiltrasi. Jika
intensitas hujan I lebih kecil dari kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi aktual
adalah sama dengan intensitas hujan. Apabila intensitas hujan lebih besar dari
kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi aktual sama dengan kapasitas infiltrasi.
Kurva kapasitas infiltrasi merupakan kurva hubungan antara kapasitas
infiltrasi dan waktu yang terjadi selama dan beberapa saat setelah hujan. Kapasitas
infiltrasi secara umum akan tinggi pada awal terjadinya hujan, tetapi semakin
lama kapasitasnya akan menurun hingga mencapai konstan. Besarnya penurunan
ini dipengaruhi bebagai faktor, seperti kelembaban tanah, kompaksi, penumpukan
bahan liat dan lain-lain.
Model Horton adalah salah satu model infiltrasi yang terkenal dalam
hidrologi. Horton mengakui bahwa kapasitas infiltrasi berkurang seiring dengan
bertambahnya waktu hingga mendekati nilai yang konstant. Ia menyatakan
pandangannya bahwa penurunan kapasitas infiltrasi lebih dikontrol oleh faktor
yang beroperasi di permukaan tanah dibanding dengan proses aliran di dalam
tanah. Faktor yang berperan untuk pengurangan laju infiltrasi seperti penutupan
retakan tanah oleh koloid tanah dan pembentukan kerak tanah, penghancuran
struktur permukaan lahan dan pengangkutan partikel halus dipermukaan tanah

oleh tetesan air hujan. Model Horton dapat dinyatakan secara matematis
mengikuti persamaan
f = fc + (f0 - fc)e- kt
Keterangan:
f

= laju infiltrasi pada waktu t (cm/jam)

fc

= kapasitas infiltrasi pada waktu t (cm/jam)

f0

= kapasitas infiltrasi awal pada t=0 (cm/jam)

= waktu terhitung mulainya hujan

= konstanta

= 2,713

Model ini sangat simpel dan lebih cocok untuk data percobaan. Kelemahan
utama dari model ini terletak pada penentuan parameternya fo, fc, dan k dan
ditentukan dengan data-fitting. Meskipun demikian dengan kemajuan sistem
komputer proses ini dapat dilakukan dengan program spreadsheet sederhana.
Air hujan yang teresap ke dalam tanah akan mengalir sebagai air
tanah. Semakin besar infiltrasi yang terjadi, maka perbedaan antara intensitas
hujan yang terjadi dengan daya infiltrasi semakin kecil, demikian juga
sebaliknya (Soemarto, 1987).

Pemahaman mengenai infiltrasi dan laju infiltrasi yang terjadi serta


faktorfaktor yang mempengaruhinya sangat diperlukan sebagai acuan untuk
pelaksanaan manajemen air dan tata guna lahan yang lebih efektif (Asdak,
2007).
Ketersediaan air di dalam tanah sangat berpengaruh pada perubahan tata
guna lahan di suatu daerah, dan berdampak pada daerah resapan air hujan
(Hudson, 1976; Raghunath, 1985).
Laju infiltrasi tergantung pada besarnya kandungan air dalam tanah.
Ketika air jatuh pada tanah kering, permukaan atas dari tanah tersebut
menjadi basah, sedang bagian bawahnya relatif masih kering.

Dengan

demikian terdapat perbedaan yang besar dari gaya kapiler antara permukaan
atas tanah dengan yang ada di bawahnya.

Karena adanya perbedaan

tersebut, maka terjadi gaya kapiler yang bekerja bersama-sama dengan gaya
berat, sehingga terjadi infiltrasi (Arsyad, 1989; Harto, 1993).
Dari hasil praktikum diperoleh pada waktu 2 menit pertama terjadi
penguranga volume air sebanyak 4 cm dari 18 cm. Setelah 4 menit berkurang
sebanyak 2,3 cm menjadi 11,7 cm. Di 6 menit mengalami pengurangan sebanyak
1,7 cm menjadi 10 cm, dan pada 8 menit terjadi pengurangan 2,7 cm. Selajutnya
pada menit 10 menit terjadi pengurangan sebayak 1,7 cm dan air yag tersisa
setinggi 7 cm. Pada menit 12 terjadi pengurangan sebanyak 1,1 cm. karena tidak
terjadi penguragan yang signifikan maka pada menit ke 14 infiltrasi yang terjadi
dianggap konstan.

Pengaruh adanya hujan membuat tanah berpengruh terhadap infiltrasi.


Semakin besar infiltrasi yang terjadi, maka perbedaan antara intensitas hujan
yang terjadi dengan daya infiltrasi semakin kecil, demikian juga sebaliknya.

V. KESIMPULAN dan SARAN

A. Kesimpulan
Infiltrasi adalah suatu proses masuknya air, baik air hujan maupun air
irigasi, dari permukaan tanah ke dalam tanah. Aliran air ini bisa ke arah vertikal
ke bawah maupun ke arah samping (horizontal). Faktor yang berpengaruh

terhadap laju infiltrasi diantaranya kelembaban tanah, kompaksi, tanaman


penutup, topografi da intensitas hujan. Model Horton adalah salah satu model
infiltrasi yang terkenal dalam hidrologi. Model Horton dapat dinyatakan secara
matematis mengikuti persamaan f = fc + (f0 - fc)e- kt.

B. Saran
Didalam penyediaan alat harus diperbanyak agar praktikum lebih efektif.
Tiap kelompok di beri 1 alat agar semua anggota dalam kelompok tersebut dapat
menyimak tata cara atau langkah langkah dalam pelaksanaan praktikum

VI. DAFTAR PUSTAKA

Budianto, 2014. Infiltration Rate Difference ofIndustrial Plantation Forest Land


P
T

Pine,Teak and Mahogany atau Perbedaan Laju Infiltrasi Pada Lahan Hutan
Tanaman Industri Pinus, Jati, dan Mahoni.

Ritawati, Sri, Mawardi Muhjidin dan Goenadi Sunarto. Agustus 2012. Suitability
P

Philips Infiltration Model for Surface Runoff Prediction Using Curve

Number M

Method.

Agustina, Dewi, L.S. Dewi dan Sugiyanto. 2012. Analisis Kapasitas Infiltrasi
pada B
Gunung

Beberapa Penggunaan Lahan di Kelurahan Sekaran Kecamatan


P

Pati Kota Semarang.

Wirosoedarmo. 2008. Rate Infiltration Evaluation on Several Land Uses Using


Infil Infiltrationt Method of Horton at Sub DAS Coban Rondo Kecamatan Pujon
Kab Kabupaten Malang atau Evaluasi Laju Infiltrasi pada Beberapa
PenggunamPenggunaan Lahan Menggunakan Metode Infiltrasi Horton di Sub
Das

Das Coban Rondo Kecamatan Pujon Kabupaten Malang.

H., Arfan, A. R. Djamaluddin dan A. Pratama. Model Eksperimen Pengaruh


KepaKepadatan, Intensitas Curah Hujan dan Kemiringan Terhadap Resapan
pad

pada Tanah Organik.

Tim Asisten Praktikum Hidrologi. 2015. Modul Praktikum Hidrologi..