Anda di halaman 1dari 24

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Kiambang (Azolla pinnata)

Kiambang berasal dari Bahasa Latin yaitu dari kata Azollaceae, yang merupakan
tumbuhan paku air yang termasuk ordo Salviniales, family Azollaceae, dan
mempunyai 6 spesies. Sangat mudah berkembang terkadang dianggap petani sebagai
gulma, penduduk Indonesia menyebutnya Kiambang. Kiambang pada daerah
persawahan akan mengambang diatas permukaan air dan bila air surut akan menempel
pada tanah yang lembab. Pemanfaatan Kiambang sebagai pupuk pengganti urea telah
banyak dilaporkan karena dapat mengikat nitrogen yang cukup besar. Spesies yang
banyak terdapat di Indonesia terutama di Pulau Jawa adalah Kiambang, dan biasa
tumbuh bersama sama padi di sawah ( Lumpkin dan Plucknet, 1982 ).

2.1.1

Kiambang sebagai pengganti Urea

Meski sudah diperkenalkan dan dipopulerkan sejak awal tahun 1990-an, ternyata
belum banyak petani yang memanfaatkan tanaman Kiambang untuk usaha taninya.
Padahal manfaat tanaman air yang satu ini cukup banyak. Selain biasa untuk pupuk
dan media tanaman biasa, Kiambang juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan
ikan.

Di Bali, Kiambang biasa dan sering dijumpai terapung diperairan sawah dan
kolam ikan, karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk
dan dibuang begitu saja. Padahal bila dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman padi di
sawah, Kiambang ini bisa menekan penggunaan pupuk urea sampai 65 kg / Ha.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Bila melihat kandungan unsur hara yang tertera pada tabel 2.1, maka
Kiambang sudah dapat dijadikan pupuk. Bila Kiambang diberikan secara rutin setiap
musim tanam, maka suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk lagi. Dibanding
pupuk buatan, Kiambang memang lebih ramah lingkungan. Cara kerjanya juga mudah
karena Kiambang mampu mengikat Nitrogen langsung dari udara.

2.1.2

Kandungan nutrisi Kiambang

Berikut susunan unsur hara dan asam amino yang terkandung didalam Kiambang.

Tabel 2.1 Susunan unsur hara kiambang ( % ) berdasarkan berat kering.


Unsur

Kandungan

Abu

10,50

Lemak kasar

3,0 3,30

Protein kasar

24 30

Nitrogen

4,5

Fospor

0,5 0,9

Kalium

2,0 4,5

Pati

6,54

Magnesium

0,5 0,6

Mangan

0,11 0,16

Zat besi

0,06 0,26

Gula terlarut

3,5

Kalsium

0,4 1,0

Serat kasar

9,1

Klorofil

0,34 0,55

(http://tanggamushelau.blogspot.com/2012/05/manfaat-azolla-kiambang.html)

2.2 Tanah

Penghancuran batuan pada kerak bumi terjadi secara fisik maupun kimia. Energi sinar
matahari yang mengenai bumi berpengaruh besar terhadap penghancuran batuan bumi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ditambah dengan adanya air yang mempercepat lapuknya batuan menjadi bagian yang
lebih kecil dan halus, inilah awal terjadinya tanah.

Tanah, sebenarnya tersusun atas mineral primer dan mineral sekunder serta
bahan organik, tetapi kemudian diklasifikasikan berdasarkan komponen komponen
penyusun tanah, yaitu :
1. Partikel mineral yang merupakan hasil perombakan batuan dipermukaan bumi
dan ini merupakan bagian terbesar tanah
2. Bahan organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran binatang serta
bangkainya
3. Air
4. Udara
5. Kehidupan mikroorganisme

Secara umum tanah mempunyai fungsi :


1. Memberi unsur hara dan sebagai media perakaran
2. Menyediakan air sekaligus sebagai tempat penampungan air
3. Menyediakan udara untuk respirasi akar
4. Sebagai tempat bertumpunya akar untuk menahan berdirinya tanaman.

2.3.

Unsur Hara yang Diperlukan Tanaman

Unsur hara yang diperlukan tanaman terbagi dua yaitu unsur hara makro dan mikro.

2.3.1. Unsur Hara Makro yang Diperlukan Tanaman

1. Unsur Karbon ( C ), Oksigen ( O ), dan Hidrogen ( H )

Ketiga unsur ini didapat dari udara dan air. Karbon diambil dari udara dalam bentuk
CO2, oksigen selain berasal dari CO2 juga berasal dari udara dan bahan organik.
Hidrogen banyak terdapat dalam air juga pada bahan organik. Unsur tersebut dapat
langsung diserap oleh tanaman.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2. Unsur Nitrogen ( N )

Unsur ini diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif ( pertumbuhan daun dan batang ),
dan untuk berkembangnya mikroorganisme dalam tanah. Nitrogen diserap akar
tanaman dalam bentuk nitrat atau ammonium, yang berpengaruh mempercepat sintesis
karbohidrat diubah menjadi protein. Nitrogen memang banyak terdapat diudara yaitu
sekitar 78%, tetapi untuk dapat diserap tanaman harus dalam bentuk nitrat dan
amoniak ( Isnaini, M., 2006 ).

Fungsi nitrogen yang selengkapnya bagi tanaman adalah sebagai berikut :


1. Untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman
2. Dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar dengan warna
yang lebih hijau. Kekurangan nitrogen dapat menyebabkan klorosis ( pada
daun muda menjadi berwarna kuning pucat ).
3. Meningkatkan kadar protein dalam tanaman
4. Meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun daunan
5. Meningkatkan perkembangbiakan mikroorganisme didalam tanah (Mulyadi,
M., 2002).

3. Unsur Fosfor ( P )

Unsur ini penting untuk mempercepat pertumbuhan akar, mempercepat pendewasaan


tanaman, dan mempercepat pembentukan buah dan biji serta meningkatkan produksi.
Sumber fosfat yang terdapat didalam tanah berasal dari batu kapur fosfat mineral
misalnya, sisa sisa tanaman dan bahan organik lainnya, dan juga pupuk buatan yang
masih tersisa dalam tanah. Pada pemupukan fosfor yang dilakukan bersamaan dengan
ammonium NH4+ dalam larikan tanaman akan menyebabkan tanaman tumbuh pesat.
Kekurangan fosfor mengakibatkan pertumbuhan akar terhambat, pematangan buah
terhambat, dan biji menjadi tidak normal.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4. Unsur Kalium ( K )

Meskipun bukan elemen pembentuk bahan organik tetapi peran kalium penting untuk
pembentukan karbohidrat protein, mengeraskan batang tanaman, meningkatkan
ketahanan tanaman dari penyakit, dan meningkatkan kualitas biji. Ion kalium sangat
penting bagi berlangsungnya fotosintesis, tanpa kalium fotosintesis berhenti. Sumber
sumber kalium adalah beberapa jenis mineral, sisa tanaman, air irigasi, abu tanaman,
dan pupuk buatan.

5. Unsur Kalsium ( Ca )

Unsur ini penting untuk pertumbuhan ujung tanaman bulu bulu akar. Kalsium
berhubungan

langsung

dengan

pembentukan

dinding

sel

sehingga

sangat

mempengaruhi kesegaran tanaman. Kalsium juga dapat menetralkan asam dalam


tanah. Sumber kalsium yang paling umum adalah batu kapur.

6. Unsur Magnesium ( Mg )

Merupakan bagian dari klorofil yang sangat berpengaruh pada proses fotosintesis.
Unsur ini banyak terdapat dalam buah atau bagian generatif tanaman. Sumber
magnesium antara lain adalah hasil dekomposisi batuan yang mengandung mineral
misalnya batu kapur dolomite.

7. Unsur Belerang ( S )

Unsur ini diperlukan oleh tanaman yang masih muda, dan penting untuk pembentukan
klorofil, dan meningkatkan daya tahan pada penyakit. Sumber sumber belerang
adalah sisa tanaman atau hewan yang banyak mengandung protein yang telah
mengalami dekomposisi, juga dari pupuk ( ammonium sulfat, superfosfat ).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2.3.2. Unsur Hara Mikro yang Diperlukan Tanaman

Selain unsur hara makro yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah banyak, ada
unsur hara yang diperlukan dalam jumlah yang sedikit, biasa disebut unsur hara
mikro, unsur hara minor atau trace element. Dalam satu hektar lahan misalnya hanya
memerlukan beberapa gram sampai satu kilogram unsur hara mikro saja. Sumber
utama unsur hara mikro ini antara lain batu batuan mineral, sisa sisa bahan
organik, dan air irigasi. Unsur unsur hara mikro ini yaitu Besi ( Fe ), Boron ( B ),
Mangan ( Mn ), Tembaga ( Cu ), Seng ( Zn ), Molybdenum ( Mo ), dan yang terakhir
adalah Khlor ( Cl ) (Isnaini, M., 2006).

2.4.

Pupuk

Pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah, karena berisi satu atau lebih unsur yang
akan habis dihisap tanaman. Jadi, memupuk berarti menambah unsur hara kedalam
tanah dan tanaman ( Lingga, P., 2004 ).

Bagi tanaman, pupuk sama seperti makanan pada manusia. Oleh tanaman,
pupuk digunakan untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Jika dalam makanan
manusia dikenal ada istilah gizi, maka dalam pupuk dikenal dengan nama zat atau
unsur hara. Pupuk yang beredar saat ini terdiri dari bermacam macam jenis, bentuk,
warna, dan merk. Namun, berdasarkan cara aplikasinya hanya ada dua jenis pupuk,
yaitu pupuk akar dan pupuk daun ( Sigit, P., 2001 ).

Pupuk didefenisikan sebagai material yang ditambahkan ke tanah atau tajuk


tanaman dengan tujuan untuk melengkapi ketersediaan unsur hara (Novizan, 2005).

2.4.1. Jenis jenis Pupuk

Berdasarkan cara pemberiannya, pupuk digolongkan menjadi pupuk akar dan pupuk
daun.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

1. Pupuk Akar
Disebut pupuk akar karena lebih tepat sasaran bila diberikan lewat akar atau
tanah. Pupuk akar merupakan pupuk yang pertama dikenal manusia.
Pemberian pupuk lewat akar sebenarnya relatif aman tetapi efisiensinya relatif
rendah. Pada pemberian pupuk akar, sebagian unsur hara didalamnya akan
hilang tercuci lewat air penyiraman atau air hujan. Dengan demikian, sebagian
unsur yang dibutuhkann tanaman menjadi berkurang ( Sigit, P., 2001 ).

Menurut cara melepaskan unsur hara, pupuk akar dibedakan menjadi dua,
yaitu :
a. Pupuk Fast Release
Jika pupuk ini ditebarkan ke tanah, dalam waktu singkat, unsur hara yang
dikandungnya dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Kelemahan pupuk ini
adalah cepat habis, bukan hanya diserap oleh tanaman, tetapi juga
menguap atau tercuci oleh air. Contohnya, urea.
b. Pupuk Slow Release
Sering disebut dengan pupuk lepas terkendali ( controlled release ) akan
melepaskan unsur hara yang dikandungnya sedikit demi sedikit sesuai
dengan kebutuhan tanaman. Dengan demikian, manfaat yang dirasakan
dari satu kali aplikasi lebih lama dibandingkan dengan pupuk diatas.
Mekanisme ini dapat terjadi karena unsur hara yang dikandung pupuk slow
release dilindungi secara kimiawi dan mekanis ( Novizan, 2005 ).

2. Pupuk Daun
Jenis pupuk ini baru dikembangkan setelah manusia mengenal penyerapan
unsur hara lewat mulut daun ( stomata ). Pemberian pupuk ini juga lebih
efisien diserap oleh tanaman bila dibandingkan dengan pupuk akar. Namun,
pemberiannya harus dilakukan dalam jumlah yang tepat karena pupuk daun
yang diberikan secara berlebihan dapat menyebabkan daun seperti terbakar
dan dapat merusak daun.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Berdasarkan bentuknya, pupuk dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu :


1. Pupuk Padat
Bila diperinci pupuk padat dapat terdiri dari bermacam macam bentuk,
seperti serbuk, butiran, tablet, dan kapsul.
2. Pupuk Cair
Dibedakan atas kekentalan atau konsentrasinya yang berkaitan dengan kadar
unsur yang dikandungnya ( Sigit, P., 2001 ).

Berdasarkan komponen utama penyusunnya, pupuk dibagi menjadi :


1. Pupuk Organik
Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari sisa sisa makhluk hidup yang
diolah melalui proses pembusukan ( dekomposisi ) oleh bakteri pengurai.
Contohnya adalah pupuk kandang dan pupuk kompos. Pupuk kompos berasal
dari sisa sisa tanaman, dan pupuk kandang berasal dari kotoran ternak.
Pupuk organik mempunyai komposisi kandungan unsur hara yang lengkap,
tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut rendah.
2. Pupuk Buatan ( Anorganik )
Adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara meramu berbagai
bahan kimia sehingga memiliki presentase kandungan hara yang tinggi.
Contoh pupuk anorganik adalah urea, TSP, dan gandasil. Jenis pupuk buatan
sangat banyak ( Novizan, 2005 ).

Menurut unsur hara yang dikandungnya, pupuk buatan dapat dibagi menjadi 3
jenis, yaitu :
a. Pupuk Tunggal
Ialah pupuk yang hanya mengandung satu jenis unsur, misalnya urea
b. Pupuk Majemuk
Ialah pupuk yang mengandung lebih dari satu jenis unsur, misalnya NPK,
beberapa jenis pupuk daun, dan kompos
c. Pupuk Lengkap
Ialah pupuk yang mengandung unsur secara lengkap ( keseluruhan ), baik
unsur mikro maupun makro ( Lingga, P., 2004 ).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2.5.

Kompos

Kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik alami yang banyak dikenal oleh
petani. Istilah kompos lazim digunakan untuk pupuk organik yang berasal dari daun
atau bagian tanaman lainnya. Setelah dilapukkan, daun atau bagian tanaman lain akan
menjadi bahan yang berbeda dengan asalnya dan sebagai penyedia unsur hara bagi
tanaman. Selain sisa tanaman, untuk membuat kompos dapat juga digunakan sampah
kota atau sampah rumah tangga. Secara alamiah, bagian atas tanah yang disebut
serasah merupakan kompos hasil pelapukan sisa tanaman.

Kompos yang baik adalah kompos yang sudah mengalami pelapukan yang
cukup dengan dicirikan warna sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya,
tidak berbau, kadar air rendah, dan mempunyai suhu sesuai dengan suhu ruangan.

Cara membuat kompos sangat bervariasi. Namun, pada dasarnya cara


pembuatannya sama, yaitu mengubah bahan bahan yang bersifat organik menjadi
bahan anorganik atau siap diserap tanaman. Terjadinya perubahan pada bahan kompos
tersebut disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme atau bakteri pembusuk. Oleh
karena itu, salah satu kunci agar didapat kompos yang berkualitas baik adalah dengan
cara merangsang dan mengembangkan bakteri bakteri pembusuk.

Pengomposan juga dimaksudkan untuk menurunkan kadar karbon terhadap


nitrogen atau sering disebut C/N ratio. Kompos yang bahan dasarnya masih mentah
atau kadar C/N nya masih tinggi tidak baik bagi tanaman dan tanah. Sisa tanaman
dan sisa rumah tangga yang belum dikomposkan bila diberikan langsung kedalam
tanah akan terjadi proses pengomposan dalam tanah. Oleh karena didalam tanah
kandungan air dan udara cukup tersedia maka proses pengomposan berlangsung cepat
dan mengakibatkan kadar CO2 tanah juga meningkat cepat. Kondisi ini sangat tidak
menguntungkan bagi tanah dan tanaman diatasnya. Kalau proses ini terjadi pada tanah
tanah yang ringan maka dapat menyebabkan daya ikat tanah terhadap air menurun,
struktur tanah berubah kasar, dan seperti berserat. Secara uji kimiawi ukuran yang
digunakan untuk kadar C/N ratio kompos yang sudah matang berkisar antara 10 30
(Sigit, P., 2001).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2.5.1. Metode Pembuatan Kompos


Metode pembuatan kompos terbagi atas dua ( 2 ) yaitu :
1. Metode aerob
Pada pengomposan secara aerob, proses dekomposisi bahan baku menjadi
kompos akan berlangsung optimal jika ada oksigen.
2. Metode anaerob
Pada pengomposan anaerob, tidak memerlukan oksigen. Pengomposan secara
anaerob akan lebih efektif jika diterapkan dalam skala besar, seperti untuk
mengolah tandan kosong kelapa sawit . Proses pengomposan anaerob lebih
efisien karena tidak perlu proses pembalikan seperti yang dilakukan pada
pengomposan secara aerob ( Sofian, 2008 ).

2.5.2. Manfaat Kompos Bagi Tanaman

Kompos sangat berperan dalam proses pertumbuhan tanaman. Kompos tidak hanya
menambah unsur hara, tetapi juga menjaga fungsi tanah sehingga tanaman dapat
tumbuh dengan baik. Manfaat kompos yaitu :
1. Memberikan nutrisi bagi tanaman
Berdasarkan jumlah yang dibutuhkan tanaman, unsur hara terbagi atas unsur
hara makro dan unsur hara mikro, yang keduanya dapat dilengkapi apabila
menggunakan kompos sebagai pupuk.
2. Memperbaiki struktur tanah
Kompos merupakan perekat pada butir butir tanah dan mampu menjadi
penyeimbang tingkat kerekahan tanah. Kehadiran kompos pada tanah juga
menjadi daya tarik bagi mikroorganisme untuk melakkukan aktivitas pada
tanah. Dengan demikian, tanah yang semula keras dan sulit ditembus air dan
udara, kini dapat menjadi gembur akibat dari adanya mikroorganisme tersebut.
3. Meningkatkan kapasitas tukar kation
Kapasitas tukar kation ( KTK ) adalah sifat kimia yang berkaitan erat dengan
kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi akan lebih mampu menyediakan
unsur hara yang diperlukan oleh tanaman dari pada tanah yang memiliki KTK
yang rendah.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4. Menambah kemampuan tanah untuk menahan air


Tanah mempunyai pori pori ( suatu bagian yang tidak terisi bahan padat ).
Bagian ini biasanya diisi oleh air dan udara. Tanah yang dicampur dengan
kompos akan mempunyai pori pori yang mempunyai daya rekat dengan
tanah yang baik sehingga mampu mengikat dan mempertahankan ketersediaan
air didalam tanah. Secara tidak langsung penambahan kompos membantu
untuk menahan terjadinya erosi.
5. Membantu meningkatkan aktivitas biologi
Kompos

yang diberikan kepada tanah berisi mikroorganisme yang

menguntungkan tanaman. Jika berada didalam tanah, mikroorganisme tersebut


akan membantu kehidupan mikroorganisme didalam tanah. Selain berisi jamur
dekomposer dan bakteri, keberadaan kompos akan membuat tanah menjadi
sejuk, kondisi inilah yang disenangi oleh banyak mikroorganisme.
6. Meningkatkan pH pada jenis tanah asam
Unsur unsur hara didalam tanah, akan lebih mudah diserap oleh tanaman
apabila tanah tersebut memiliki pH netral.
7. Meningkatkan unsur hara mikro
Kompos membantu mencukupkan kebutuhan tanaman akan unsur hara mikro
yang jumlahnya sangat sedikit didalam tanah.
8. Kompos tidak menimbulkan masalah lingkungan
Berbeda dengan jenis pupuk kimia yang akhir dari penggunaannya hanya
menambah kerusakan lingkungan karena zat kimia yang dipakai tidak dapat
diuraikan kembali oleh mikroorganisme yang terdapat didalam tanah
(Yuwono, D., 2007).

2.5.3. Faktor yang Mempengaruhi Pengomposan

Faktor faktor yang mempengaruhi proses pengomposan adalah yaitu :


1. Rasio C/N
Kecepatan dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh perubahan rasio C/N
selama proses demineralisasi, akan berkurang sedemikian rupa menurut waktu.
Apabila ratio C/N sudah mencapai angka 10 - 20, maka dapat dikatakan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

bahwa proses dekomposisi sudah mencapai tingkat akhir atau kompos sudah
matang.
2. Suhu
Faktor suhu sangat berpengaruh terhadap pengomposan. Suhu optimum bagi
pengomposan adalah 40 60oC. Jika suhu pengomposan mencapai angka
60oC, bakteri akan berhenti bekerja.
3. Tingkat Keasaman ( pH )
Pengaturan pH selama proses pengomposan sangat penting untuk selalu
dilakukan. Pada awal pengomposan, reaksi cenderung agak asam karena masih
terjadi perombakan asam asam organik sederhana. Namun pH akan beralih
naik sejalan dengan proses pengomposan yang mulai berhenti dan akhirnya
akan stabil pada pH netral.
4. Jenis mikroorganisme yang terlibat
Proses pengomposan cenderung menghabiskan banyak waktu. Untuk itu sering
digunakan bakteri atau starter atau aktivator yang berfungsi untuk
mempercepat berlangsungnya proses pengomposan. Biasanya aktivator ini
mengandung mikroorganisme ( kultur bakteri ), enzim, dan asam humat.
Mikroorganisme yang ada didalam aktivator ini akan merangsang aktivitas
mikroorganisme yang ada dalam bahan bahan yang akan dikomposkan tadi
agar cepat berkembang. Akibatnya, mikroorganisme yang ada dalam bahan
kompos akan semakin banyak dan proses dekomposisi pun akan semakin
cepat.
5. Aerasi
Dalam proses pengomposan, aerasi yang baik sangat diperlukan agar proses
pengomposan dapat berjalan dengan lancar. Pada umumnya pengaturan aerasi
dilakukan dengan cara membolak balikkan tumpukan bahan kompos secara
berkala.
6. Kelembapan
Kelembapan optimum yang diperlukan dalam proses pengomposan ini adalah
sekitar 50 60% setelah dilakukan pencampuran bahan organik.
7. Ukuran bahan baku
Semakin kecil ukuran bahan baku maka proses pengomposan akan
berlangsung dengan lebih cepat.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2.5.4. Standart Kualitas Kompos

Kompos dikatakan bagus dan siap digunakan jika sudah memiliki tingkat kematangan
yang sempurna. Kompos yang baik dapat dikenali dengan memperhatikan bentuk
fisiknya, yaitu sebagai berikut :
a. Jika diraba, suhu tumpukan bahan yang dikomposkan sudah dingin, mendekati
suhu normal ruangan.
b. Tidak berbau busuk
c. Bentuk fisiknya sudah menyerupai tanah yang berwarna kehitaman
d. Jika dilarutkan kedalam air, kompos yang sudah matang tidak akan larut
e. Strukturnya remah dan tidak menggumpal

Jika dianalisis dilaboratorium, kompos yang sudah matang akan mempunyai


ciri sebagai berikut :
a. Tingkat keasaman ( pH ) kompos antara 6,5 7,5
b. Memiliki C/N sebesar 10 20
c. Kapasitas tukar kation ( KTK ) tinggi, mencapai 110 me/100gram
d. Daya absorbsi tinggi ( Simamora, S., 2006 ).

2.5.5. Aktivator

Membuat kompos sebenarnya sangat mudah, bahkan tanpa tempat dan peralatan /
mesin khusus sekalipun, secara alami sampah organik akan terurai menjadi kompos.
Namun, dengan membiarkannya begitu saja, proses pengomposan tersebut akan
memakan waktu lama. Saat ini, banyak aktivator yang beredar dipasaran.
Aktivator merupakan bahan

yang terdiri dari enzim, asam humat, dan

mikroorganisme ( kultur bakteri ) yang berfungsi untuk mempercepat


proses pengomposan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Beberapa aktivator yang sering digunakan yaitu :


1. Dectro ( cair )
Dectro berisi mikroorganisme menguntungkan yang diambil dari tanah dan
tanaman

melalui

kultur

jaringan

dalam

biakan

cair.

Hasil

kerja

mikroorganisme ini mampu mempercepat proses dekomposisi limbah dan


sampah

organik,

mempercepat

pelepasan

unsur

hara,

meningkatkan

tersedianya unsur hara bagi tanaman, dan mampu menekan aktivitas


mikroorganisme yang merugikan ( pathogen ).
Dectro terdiri dari Lactobacillussp., Actynomycetes sp., Streptomycetes sp.,
Rhizobium sp., Acetybacter sp., mould, dan yeast. Activator Dectro memiliki
beberapa keunggulan sebagai berikut :
a. Melapukkan bahan organik
b. Menguraikan bahan organik menjadi senyawa dasar ( hara ) yang diserap
tanaman
c. Mempercepat proses pengomposan bahan organik
d. Menekan dan menghilangkan bakteri merugikan ( pathogen )
e. Menetralkan pH tanah
f. Media pengantar dalam proses fermentasi bahan organik
g. Menetralisir kadar racun dalam tanah yang merupakan akumulasi sisa
penggunaan pupuk kimia

2. Organic Decomposer (Orgadec)


OrgaDec atau Organic Decomposer merupakan bioaktivator yang bahannya
berupa

mikroorganisme

asli

Indonesia

yang

memiliki

kemampuan

menurunkan C/N ratio dalam waktu relatif singkat dan bersifat antagonis
terhadap beberapa penyakit akar. Mikroba yang terkandung dalam OrgaDec
terdiri dari Trichoderma pseudokoningii dan Cythophaaga sp.
Formula bioaktivator OrgaDec ditemukan oleh Balai Penelitian Bioteknologi
Perkebunan Indonesia Bogor. Bioaktivator OrgaDec tidak bersifat sebagai
penghancur bahan lognoselulosa, melainkan sebagai biang untuk mempercepat
pelapukan ( menguraikan komponen menjadi lebih sederhana sehingga mudah
diserap oleh tanaman ). Karena itu, secara visual kompos yang dihasilkan
masih menyerupai bahan asalnya dan tidak hancur.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Berikut ini sifat kimia kompos dari berbagai limbah padat organik yang
diproses menggunakan bioaktivator OrgaDec. Data ini merupakan hasil
analisis yang dilakukan di Laboratorium Tanah dan Daun, Balai Penelitian
Bioteknologi Perkebunan Indonesia ( BPBPI ), Bogor.

Tabel 2.5.5 Sifat kimia kompos yang diproses menggunkan bioaktivator


OrgaDec
Jenis Kompos

Sifat
Kimia

pH

0,0

4,2

5,4

Ntotal ( % )

1,5

2,1

1,3

1,76

1,41

Corganik (%)

35,1

34,6

33,7

35,25

35,25

C/N rasio

23,0

16,0

26,0

20,0

18,0

P2O5 (%)

0,8

0,4

0,2

0,8

0,11

K2O ( % )

2,5

0,7

5,5

4,21

1,74

CaO ( % )

1,0

1,5

0,2

0,67

0,11

MgO (%)

0,9

0,4

0,6

0,53

0,13

Keuntungan menggunakan bioaktivator OrgaDec sebagai berikut :


a. Sesuai dengan kondisi tropis
b. Menurunkan C/N secara cepat
c. Tidak membutuhkan tambahan bahan lain
d. Tidak perlu dilakukan pembalikan
e. Antagonis terhadap penyakit jamur ( Sofian, 2008 ).

3. Effective Microorganism 4 ( EM4 )


EM4 merupakan kultur campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan,
berasal dari alam Indonesia asli, bermanfaat bagi kesuburan tanah maupun
pertumbuhan dan produksi tanaman, serta ramah lingkungan. Mikroorganisme
yang ditambahkan akan membantu penyerapan unsur hara. EM4 mengandung
mikroorganisme fermentasi dan sintetik yang terdiri dari bakteri asam laktat

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(Lactobacillus

sp.),

bakteri

fotosintetik

(Rhodopseudomonas

sp.

),

Actinomycetes sp., dan ragi ( yeast ).


Satu hal yang menjadi pembatas dalam aplikasi EM4 adalah jangka hidup dari
mikroorganisme yang terkandung didalamnya. Dalam kondisi dorman
dikemasan, EM4 dapat disimpan selama satu tahun ( Sigit, P., 2001 ).

2.5.6. Dedak padi

Dedak padi adalah hasil samping dari pabrik penggilingan padi dalam memproduksi
beras, yaitu bagian luar (kulit ari) beras yang dibuang pada waktu dilakukan
(pemutihan) beras. Definisi dedak (bran) adalah hasil samping proses penggilingan
padi, terdiri atas lapisan sebelah luar butiran padi dengan sejumlah lembaga biji.
Sementara bekatul (polish) adalah lapisan tipis dari butiran padi yang melindungi
butiran beras termasuk sebagian kecil endosperm berpati. Namun, karena alat
penggilingan padi tidak memisahkan antara dedak dan bekatul maka umumnya dedak
dan bekatul bercampur menjadi satu dan disebut dengan dedak atau bekatul saja.

Dedak padi per 100 gramnya mengandung 600 700 mg Mg, Kalsium
sebanyak 500 700 mg, Zink 1,7 mg dan Phosfor sebesar 1000 2000 mg (Kurniati
dan Nugrahaeni, 2009). Dedak padi kaya akan thiamin dan sangat tinggi dalam niasin
(Bidura, 1998).

Tabel 2.5.6 Komposisi kimia dari Dedak Padi


Keterangan

Dedak padi

Protein ( % ) (Nx6,25)

12,0 - 15,6

Lemak ( % )

15,0 19,7

Serat kasar ( % )

7,0 - 11,4

Karbohidrat ( % )

34,1 52,3

Abu (%)

6,6 6,9

Kalsium (mg/g)

0,3 1,2

Magnesium (mg/g)

5 13

Fosfor (mg/g)

11 25

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Fitin fosfor (mg/g)

9 22

Silika (mg/g)

6 11

Seng (mg/g)

43 528

Tiamin (g/g)

12 24

Riboflavin (g/g)

1,8 4,3

Niasin (g/g)

267 - 499
(http://chapter-II/2012/dedak-padi.html)

2.6.

Penentuan Kadar Unsur Hara Makro

2.6.1. Penentuan Nitrogen

Cara ini terutama penting dalam penentuan kadar protein. Pada dasarnya, bahan
didestruksi dengan asam sulfat pekat panas hingga hancur. Disini nitrogen diubah
menjadi ion amonium. Pada tahap berikutnya, larutan ditambah basa kuat sehingga
bereaksi basa lalu didestilasi. Hasil destilasi ditampung dengan HCl baku yang
tertentu jumlahnya untuk mengikat NH3. Destilat dititrasi dengan NaOH baku untuk
menentukan kelebihan asam.

Reaksi reaksi :
X + oksidator

NH4+ + CO2 + H2O + lain lain (destruksi)

NH4+ + OH-

NH3 + H2O (destilasi)

NH3 + HCl

NH4Cl (penampungan)

NH4Cl + NaOH

NaCl + NH4OH (titrasi)

Atau :
NH3 + H3BO3

NH4BO2 (penampungan)

NH4BO2 + HCl

HBO2 + NH4Cl (titrasi) (Harjadi, 1990)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Cara Kjeldahl digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan
makanan secara tidak langsung, karena yang dianalisis dengan cara ini adalah kadar
nitrogennya. Dengan mengalikan hasil analisis tersebut dengan angka konversi 6,25,
diperoleh nilai protein dalam bahan makanan itu. Untuk beras, kedelai, dan gandum
angka konversi berturut turut sebagai berikut : 5,95; 5,71; dan 5,83. Angka 6,25
berasal dari angka konversi serum albumin yang biasanya mengandung 16% nitrogen.

Tabel 2.6.1. Faktor yang Digunakan untuk Konversi Nitrogen menjadi Protein

Komoditi

Faktor konversi untuk protein


dalam tabel komposisi bahan

Faktor koreksi dari


harga protein menjadi
protein kasar

Beras ( semua jenis )

5,95

1,05

Gandum biji

5,83

1,07

Tepung

5,70

1,10

Produk

5,70

1,10

Kacang tanah

5,46

1,14

Kacang kedelai

5,71

1,09

Kelapa

5,30

1,18

Susu ( semua jenis ) / keju

6,38

0,98

Makanan lain (umum)

6,25

1,0

Prinsip cara analisis Kjeldahl adalah sebagai berikut: mula mula bahan
didestruksi dengan asam sulfat pekat menggunakan katalis selenium oksiklorida atau
butiran Zn. Ammonia yang terjadi ditampung dan dititrasi dengan bantuan indikator.
Cara Kjeldahl umumnya dapat dibedakan atas dua cara, yaitu cara makro dan
semimakro ( Sudarmadji, 1992 ).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2.6.2. Penentuan C Organik

Material organik tanah merupakan sisa tumbuhan, hewan, dan organisme tanah, baik
yang telah mengalami dekomposisi maupun yang sedang mengalami dekomposisi.
Material organik tanah yang tidak terdekomposisi menjadi humus yang berwarna
coklat sampai hitam dan bersifat koloidal. Pengukuran kandungan bahan organik
tanah berdasarkan jumlah organik yang mudah teroksidasi akan mereduksi Cr2O72yang diberikan secara berlebihan. Reaksi ini terjadi karena adanya energi yang
dihasilkan oleh reaksi H2SO4 pekat dan K2Cr2O7. Keadaan ini menyebabkan Cr6+
direduksi oleh C Organik menjadi warna hijau dari Cr3+ (Nurdin, M. S., 2002 ).

Teknik penetapan C Organik yang paling standart adalah oksidasi bahan


organik oleh dikromat yang mana metode ini sering disebut Metode Walkey Black.
Dalam prosedurnya kalium dikromat ( K2Cr2O7 ) dan asam sulfat pekat (H2SO4)
ditambahkan kedalam bahan organik, dimana larutan tersebut harus didinginkan
terlebih dahulu sebelum ditambahkan dengan air. Penambahan asam posfat ( H3PO4 )
kedalam larutan tersebut berguna untuk mengurangi interferensi dari Fe3+ yang
mungkin sering terjadi.
Persamaan reaksi :
2 Cr2O72- + 3 C + 16 H+

4Cr3+ + 3 CO2 + 8H2O

Prosedur Walkey Black ini sangat luas digunakan, sederhana, cepat, dan tidak
memerlukan peralatan yang yang mahal ( Zimmerman, 1997 ).

2.6.3. Penentuan Posfor

Ada beberapa metode analisis kuantitatif fosfor, yaitu :


1. Metode asam askorbat
Asam askorbat merupakan salah satu pereduksi yang dapat menghasilkan
senyawa kompleks berwarna. Dalam metode asam askorbat, ammonium molibdat
bereaksi dalam medium asam dengan fosfor membentuk kompleks fosfomolibdat
berwarna kuning yang akan direduksi menjadi kompleks biru-molibdem (molybdenum
blue) oleh asam askorbat yang mempunyai panjang gelombang absorbansi maksimum

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

itu, metode ini lebih sederhana, cepat dan akurat. Akan tetapi reagen yang digunakan
kurang stabil (Bernhart, 1954).

2. Metode SnCl2 (Deniges methods)


SnCl2 merupakan salah satu pereduksi yang mempunyai kesensitifan besar,
tetapi pereaksi ini kurang stabil dan harus digunakan dalam keadaan baru. Dalam
metode ini, SnCl2 bereaksi dengan ammonium molibdat membentuk kompleks
berwarna biru yang mengabsorpsi maksimum cahaya pada panjang gelombang 690
nm. Kepekatan warna yang dihasilkan tergantung pada proporsi reagen yang
ditambahkan, temperatur dan waktu reaksi. Metode ini terganggu oleh silikat dan
arsenit (positif) sedangkan arsenat, fluorida, thorium, bismut, sulfida, tiosianat
(negatif). Warna yang terbentuk lebih stabil dibandingkan dengan metode asam
askorbat (Abbott, 1963).

3. Metode Vanadat
Fosfor bereaksi dengan vanadat membentuk senyawa kompleks berwarna
kuning. Pencampuran pereaksi vanadat dan molibdat harus dilakukan beberapa hari
sebelum digunakan karena sangat cenderung untuk mengendap. Bahan-bahan organik
yang turut tercampur harus terlebih dahulu dihilangkan agar tidak mengganggu warna
yang dihasilkan menggunakan pereaksi pengoksidasi (The Tintometer, 1967) .

4. Metode Hidroquinon-molibdat
Salah satu pereduksi yang paling klasik adalah hidrouinon yang pada saat
sekarang ini kurang dianggap penting, namun masih digunakan dalam Association of
Official Analytical chemistry (AOAC). Pada metode ini ammonium molibdat
direaksikan dengan larutan fosfor membentuk ammonium fosfomolibdat berwarna
kuning, kemudian direduksi dengan hidroquinon menjadi senyawa kompleks
berwarna biru (molydenum blue). Waktu tunggu untuk pembentukan warna
maksimum adalah selama 5 menit.
5. Metode molibdat-metol (Tschopp ,s method)
Metol (-methylamino phenol sulphate) salah satu pereduksi yang cukup stabil
dengan harga yang murah. Dalam metode ini, bila sampel mengandung NO3- lebih

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

dari 1 mg boleh digunakan Comparator, dan jika lebih dari 3 mg harus menggunakan
pereaksi Neshler. Metode ini 500 kali kurang sensitif terhadap silika dibanding fosfat.
Selain itu reaksi arsenit dan fosfor akan memberi warna yang hampir sama sehingga
arsenit perlu dihilangkan dengan penambahan H2S, diikuti penyaringan dan
penguapan. Komponen lain seperti gula, laktat, citrat, tartarat, oksalat dan garamgaram organik lainnya akan menekan intensitas warna yang dihasilkan sehingga
semua komponen tersebut juga harus dihilangkan terlebih dahulu.

6. Metode amino-naftol-asam sulfonat


Metode ini didasarkan atas modifikasidari fisk dan prosedur Subbarow. Fosfor
anorganik direaksikan dengan ammonium molibdat, selanjutnya direduksi dengan
amino-naftol-asam sulfonat sehingga dihasilkan kompleks berwarna biru. Metode ini
pada umumnya kurang sensitif. Waktu reaksi yang diperlukan untuk pengembangan
warna adalah 15 menit (Snell, 1984).

7. Metode Valin Vanadomolibdat Tablet


Metode ini telah disederhanakan dengan menggunakan pereaksi dalam bentuk
tablet. Sama halnya seperti vanadat, kompleks yang dihasilkan berwarna kuning (The
Tintometer, 1967).

2.6.4. Penentuan Kalium dengan Spektrofotometer Serapan Atom

Spektrofotometer serapan atom berprinsip pada absorpsi cahaya oleh atom dimana
atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu tergantung
pada sifat unsurnya. Cahaya pada panjang gelombang ini mempunyai cukup energi
untuk mengubah tingkat elektronik suatu atom. Transisi elektronik suatu unsur
bersifat spesifik. Dengan absorpsi energi, berarti lebih banyak memperoleh energi,
suatu atom pada keadaan dasar dinaikkan tingkat energinya ke tingkat eksitasi
(Khopkar, 2002).

Berdasarkan proses atomisasi, maka metode spektrofotometri serapan atom


dibagi menjadi 2 bagian yaitu :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

1. Spektrofotometri Serapan Atom dengan Atomisasi Nyala

Gambar berikut menunjukkan dalam bentuk skema komponen-komponen dasar dari


suatu spektrofotometer serapan atom.

Gambar 1. Komponen-komponen dari suatu SSA


Keterangan :
1. Lampu katoda berongga
2. Nyala
a. Bahan bakar
b. Contoh
c. Oksigen
3. Monokromator
4. Detektor
5. Penguat arus searah
6. Pencatat

Sumber umum pada absorpsi atomik adalah tabung katoda berongga.Tabung


ini mengandung katoda dan anoda yang cekung dan silindrik dalam suatu atmosfir gas
inert (seringkali argon) pada tekanan rendah. Tabungnya dijalankan dengan sumber
tenaga yang memberikan beberapa ratus volt. Atom-atom gas terionisasikan didalam
lucutan listrik dan benturan ion-ion berenergi dengan permukaan katoda. Mengusir
atom-atom logam yang telah tereksitasikan. Hal ini mengakibatkan terjadinya
spektrum garis dari logam yang menampakkan diri sebagai suatu basa didalam
ruangan pada katoda cekung (Underwood, 1994).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2. Spektrofotometri Serapan Atom dengan Atomisasi tanpa nyala

Metode tanpa nyala lebih disukai daripada metode nyala. Bila ditinjau dari sumber
radiasi, haruslah bersifat sumber yang kontiniu. Disamping itu sistem dengan
penguraian optis yang sempurna diperlukan untuk memperoleh sumber sinar dengan
garis absorbsi yang semonokromatis mungkin. Perangkat sumber yang dapat
memberikan garis emisi yang tajam dari suatu unsur spesifik tertentu dikenal sebagai
lampu pijar hollow cathode. Lampu ini memiliki 2 elektroda, 1 diantaranya berbentuk
silinder dan terbuat dari unsur yang sama dengan unsur yang dianalisis. Lampu ini di
isi dengan gas mulia bertekanan rendah. Dengan pemberian tegangan pada arus
tertentu, logam mulai memijar dan atom-atom logam katodanya akan teruapkan
dengan pemercikan. Atom akan tereksitasi kemudian mengemisikan radiasi pada
panjang gelombang tertentu. Suatu garis yang diinginkan dapat diisolasi dengan suatu
monokromator (Khopkar, 2002).

Cara kerja Spektrofotometer Serapan Atom :


1. Sumber sinar yang berupa tabung katoda berongga (Hollow Chatode Lamp)
menghasilkan sinar monokromatis yang mempunyai beberapa garis resonansi
2. Sampel diubah fasenya dari larutan menjadi uap atom bebas di dalam atomizer
dengan nyala api yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dengan
oksigen
3. Monokromator akan mengisolasi salah satu garis resonansi yang sesuai dengan
sampel dari beberapa garis resonansi yang berasal dari sumber sinar
4. Energi sinar dari monokromator akan diubah menjadi energi listrik dalam
detektor
5. Energi listrik dari detektor inilah yang akan menggerakkan jarum dan
mengeluarkan grafik
6. Sistem pembacaan akan menampilkan data yang dapat dibaca dari grafik
(http://mcfirmansyah.blogspot.com/2012/04/spektrofotometer-serapan-atomatomic.html)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Beberapa faktor yang dapat menimbulkan gangguan dalam SSA di antaranya:


1. Laju aspirasi cuplikan ke dalam nyala. Ini tergantung pada tekanan udara,
ukuran kapiler dan viskositas larutan.
2. Derajat dispersi atau atomisasi larutan; hanya tetesan lebih halus tersedot
dalam nyala, sedangkan tetesan lebih besar turun dan keluar lewat
pembuangan. Bagian tetesan halus tergantung dari tekanan udara, suhu
nozzle tempat terjadinya atomisasi, dan tegangan permukaan larutan.
3. Suhu nyala. Faktor ini mempengaruhi derajat penguraian senyawa menjadi
atom-atom dan berpengaruh terhadap garis serapan.
4. Kedudukan berkas sinar dalam nyala. Populasi atom berubah terhadap tinggi
nyala dengan cara yang rumit. Jika penguraian menjadi atom-atom lambat,
populasi atom naik di bagian makin tinggi dalam nyala sampai dekat ujung
nyala dan populasi atom berkurang ditempat nyala yang dingin. Jika
penguraian berlangsung cepat, populasi atom sesuai dengan tinggi suhu nyala.
5. Pengaruh antar unsur, yang paling nyata disebabkan oleh reaksi kimia dalam
nyala. Unsur yang dapat menyebabkan gangguan itu berasal dari larutan itu
sendiri.
6. Gangguan pada pengerjaan sampel, yaitu terjadinya pencampuran bahan-bahan
kimia

lain

pada

sampel

(http://bhendjhen.blogspot.com/2010/12/

spektrofotometer-serapan-atom-ssa.html).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA