Anda di halaman 1dari 11

Makalah Filsafat Pancasila

June 11, 2011 by abgheo


MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA
PANCASILA DITINJAU DARI SEGI FILSAFAT
FILOSOFI, CAKUPAN, DAN FUNGSI PANCASILA

Disusun oleh :
Andreas Billy Graham Harianja ( H1F010039 )

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
JURUSAN TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
PURBALINGGA
2010
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas kasih dan
rahmat-Nya akhirnya makalah berjudul Filsafat Pancasila Sebagai Dasar Pandangan
Negara ini dapat dibuat untuk memenuhi salah satu tugas dari matakuliah Pendidikan
Pancasila. Terima kasih juga kepada orangtua penulis yang telah memberikan dukungan

spiritual dan materi, begitupun penulis ucapkan terima kasih atas peran serta seorang
pendidik Pendidikan Pancasila di Universitas Jenderal Soedirman, Drs. Soewarno M.Hum.
Dan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa yang telah memberikan bantuan dalam
memberikan semangat.
Diharapkan penulisan makalah ini dapat menjadi bahan referensi untuk materi Pendidikan
Pancasila kedepannya. Diharapkan juga kritik dan saran untuk penulis agar dapat
memberikan yang terbaik kedepannya.
Purbalingga, 12 Maret 2011
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar

Daftar isi.

ii

Bab I
Pendahuluan..

Bab II Pembahasan
Pancasila sebagai Ideologi....

Pancasila sebagai Ideologi Ekonomi..

Pelaksanaan Sila-sila Pancasila dalam Ekonomi

Pancasila, Etika Ekonomi, dan Dunia Bisnis..

Ekonomi Pancasila Sebagai Ekonomi Moral.

10

Bab III
Penutup..
Daftar Pustaka

12
14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Berawal dari pemikiran founding fathers atau bapak pencetus kemerdekaan yaitu yang sangat
kita kenal Ir. Soekarno, Mr. Moh. Yamin, Mr. Soepomo yang terkemudian memberikan
pendapatnya mengenai dasar negara ini. Mereka menyatakan pendapatnya hampir sama satu

dengan yang lain namun hanya perbedaan panjang kalimatnya saja, namun mereka belum
mempunyai judul yang pas untuk menamai pendapat mereka tersebut, dan setelah diputuskan
pendapat Soekarno lah yang tepat maka Moh. Yamin memberikan nama yang pas yaitu
Pancasila. Yang tercantum dalam alinea ke-IV Pembukaan UUD 1945 yang bertuliskan Satu
Ketuhanan Yang Maha Esa; Dua, Kemanusian yang Adil dan Beradab; Tiga, Persatuan
Indonesia; Empat, Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat dan Kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan; lima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Pancasila yang banyak mendapatkan perlawanan pada akhirnya akan tetap berdiri sampai saat
ini.
Namun pernah seorang yang kita kenal baik yaitu Ir. Soekarno pernah mengganti Pancasila
dengan ideologi Nasakom yang adalah akronim dari nasionalisme, agama, dan komunis.
Karena pada waktu itu Soekarno ingin memberikan penyatuan segala aspek dari seluruh
paham dan pemikiran seluruh bangsa. Godaan untuk mengganti Pancasila memang banyak
sampai saat ini, namun yang paling terkenal akibat efek dari Nasakom adalah peristiwa
G30S/PKI. Pada saat itu PKI yang berhaluan komunis diperbolehkan Presiden pada saat itu
untuk berdiri, namun ternyata paham komunis yang dalam pemikiran kita adalah suatu paham
yang bersifat kebersamaan atau komuniti, dimana tidak ada perlakuan yang baik kepada
setiap individu untuk mengembangkan dirinya.
Namun pada akhirnya gerakan pemikiran komunis tersebut dapat dilumpuhkan oleh segenap
kekuatan paham yang terkandung didalam pancasila, bahkan sampai ada hari Kesaktian
Pancasila. Mengapa ada penyebutan Pancasila sebagai hal yang sakti? Karena pancasila
adalah suatu pemikiran bangsa Indonesia yang menjadi jatidiri suatu bangsa ini, karena sifat
Pancasila yang menyatukan namun tidak menolak suatu pengekangan terhadap suatu
individu, dan adanya persatuan namun tetap mengutamakan asas musyawarah agar tidak
terjadi kontradiksi antar pendapat yg berlainan.
Begitu juga dikemukakan mengapa Pancasila itu sakti dan selalu dapat bertahan dari
guncangan kisruh politik di negara ini saat ini, yaitu pertama ialah karena secara intrinsik
dalam Pancasila itu mengandung toleransi, dan siapa yang menentang Pancasila berarti dia
menentang toleransi.
Isu ideologi agama pun sudah dapat diatasi berkat sila pertama, karena banyaknya agama di
Indonesia maka tak lantas Indonesia dijadikan negara agama karena lebih baik kita megaku
masing-masing bila Tuhan diagama kita adalah satu.
1.2.

Perumusan masalah

Penulisan makalah ini dibuat berdasar masalah-masalah yang dihimpun dan dijadikan
patokan dalam penulisan makalah ini, adapun masalah pokok didalam makalah ini adalah :
1. Apakah landasan filosofi Pancasila
2. Cakupan pemikiran yang terkandung didalam Pancasila
3. Fungsi utama Pancasila didalam filsafat bernegara dan berbangsa
1.3.

Tujuan

Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah :


1. Pemenuhan tugas Pendidikan Pancasila
2. Dapat mengerti akan suatu hal yang berupa landasan paham bernegara dan berbangsa
3. Dapat mengerti cakupan filosofi Pancasila

1.4.

Manfaat
Adapun manfaat setelah membuat makalah ini adalah :
1. Mahasiswa dapat mengerti akan paham yang terkandung didalam Pancasila
2. Mahasiswa dapat mengerti akan contoh cakupan dalam filosofi Pancasila
3. Mahasiswa dapat mengerti fungsi filosofi Pancasila

1.5.

Ruang Lingkup

Adapun ruang lingkup yang menjadi pembatas pokok didalam makalah ini berupa Apakah
landasan filosofi Pancasila, Fungsi utama Pancasila didalam filsafat bernegara dan berbangsa,
Cakupan pemikiran yang terkandung didalam Pancasila.
BAB II
METODE PENULISAN

2.1.

Objek Penulisan

Objek penulisan makalah ini adalah mengenai falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah
negara Indonesia. Dalam makalah ini dibahas mengenai landasan filosofis Pancasila, fungsi
utama filsafat Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia, dan bagaimana falsafah Pancasila
dijadikan sebagai dasar falsafah negara Indonesia.
2.2.

Dasar Pemilihan Objek

Makalah ini membahas mengenai falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia.
Falsafah Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa
Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma,
nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi
bangsa Indonesia. Maka dari itu masyarakat perlu mengetahui bahwa falsafah Pancasila

dijadikan sebagai falsafah negara Indonesia yang terdapat dalam beberapa dokumen historis
dan di dalam perundang-undangan negara Indonesia.
2.3.

Metode Pengumpulan Data

Dalam pembuatan makalah ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah kaji
pustaka terhadap bahan-bahan kepustakaan yang sesuai dengan permasalahan yang diangkat
dalam makalah ini yaitu dengan tema wawasan kebangsaan. Sebagai referensi juga diperoleh
dari situs web internet yang membahas mengenai falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah
negara Indonesia.
2.4.

Metode Analisis

Penyusunan makalah ini berdasarkan metode deskriptif analistis, yaitu mengidentifikasi


permasalahan berdasarkan fakta dan data yanag ada, menganalisis permasalahan berdasarkan
pustaka dan data pendukung lainnya, serta mencari alternatif pemecahan masalah
BAB III
ANALISIS PERMASALAHAN
3.1.

Apakah Landasan Filosofi Pancasila

Bila dilihat pembagian kata, terdapat dua arti kata pada permasalahan kali ini yaitu filosofi
dan Pancasila.
Ditinjau dari artinya filosofi adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran
manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar.Filsafat tidak didalami dengan
melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan
masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang
tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses
dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Pengetahuan bijaksana memberikan kebenaran, orang, yang mencintai pengetahuan
bijaksana, karena itu yang mencarinya adalah oreang yang mencintai kebenaran. Tentang
mencintai kebenaran adalah karakteristik dari setiap filosof dari dahulu sampai sekarang. Di
dalam mencari kebijaksanaan itu, filosof mempergunakan cara dengan berpikir sedalamdalamnya (merenung). Hasil filsafat (berpikir sedalam-dalamnya) disebut filsafat atau
falsafah. Filsafat sebagai hasil berpikir sedalam-dalamnya diharapkan merupakan suatu yang
paling bijaksana atau setidak-tidaknya mendekati kesempurnaan.
Menurut Hegel hakikat filsafatnya ialah suatu sintese pikiran yang lahir dari antitese pikiran.
Perkataan Pancasila mula-mula terdapat dalam perpustakaan Buddha yaitu dalam Kitab
Tripitaka dimana dalam ajaran buddha tersebut terdapat suatu ajaran moral untuk mencapai
nirwana/surga melalui Pancasila yang isinya 5 J.
Namun Pancasila yang terdapat pada perpustakaan Buddha bukanlah Pancasila milik bangsa
Indonesia, namun hanya sebagai bentuk penginsipirasi terbentuknya Pancasila bangsa
Indonesia sekarang ini.

Kita lihat Pancasila adalah keadaan berbangsa yang sangat lekat dalam bangsa Indonesia
dimana Pancasila dijadikan Ideologi tertinggi bangsa ini. Karena lahirnya suatu ideologi
adalah hasil lahirnya dari suatu pemikiran yang kita sebut sebagai filsafat. Jadi bangsa
Indonesia mempunyai
Proklamasi 17 Agustus 1945 telah melahirkan Negara RI untuk melengkapai alat2
Perlengkapan Negara PPKI mengadakan sidang pada tanggal 18 Agustus 1945 dan berhasil
mengesahkan UUD 45 dimana didalam bagian Pembukaan yang terdiri dari 4 Alinea
didalamnya tercantum rumusan Pancasila. Rumusan Pancasila tersebut secara Konstitusional
sah dan benar sebagai dasar negara RI yang disahkan oleh PPKI yang mewakili seluruh
Rakyat Indonesia.
Wakil bangsa yang telah membuat Pancasila adalah terdiri 3 orang yang mencetuskan idenya
pada siding PPKI I tersebut, yang terselanggara selama 3 hari, peserta membuat idenya satu
orang satu hari, adapun wakil bangsa Indonesia tersebut adalah :
A.
Pancasila menurut Mr. Moh Yamin adalah yang disampaikan di dalam sidang
BPUPKI pada tanggal 29 Mei 1945 isinya sebagai berikut:
1.

Perikebangsaan;

2.

Perikemanusiaan;

3.

Periketuhanan;

4.

Perikerakyatan;

5.

Kesejahteraan Rakyat

B.
Pancasila menurut Ir. Soekarno yang disampaikan pada tangal 1 Juni 1945 di depan
sidang BPUPKI, sebagai berikut:
1.

Nasionalisme/Kebangsaan Indonesia;

2.

Internasionalisme/Prikemanusiaan;

3.

Mufakat/Demokrasi;

4.

Kesejahteraan Sosial;

5.

Ketuhanan yang berkebudayaan;

C.
Pancasila menurut Mr Soepomo pada tanggal 31 Mei 1945 antara lain dalam
pidatonya menyampaikan usulan lima dasar negara, yaitu sebagai berikut :
1. Paham Negara Kesatuan
2. Perhubungan Negara dengan Agama
3. Sistem Badan Permusyawaratan
4. Sosialisasi Negara
5. Hubungan antar Bangsa

Mr. Soepomo dalam pidatonya selain memberikan rumusan tentang Pancasila, juga
memberikan pemikiran tentang paham integralistik Indonesia. Hal ini tertuang di dalam salah
satu pidatonya , bahwa jika kita hendak mendirikan Negara Indonesia yang sesuai dengan
keistimewaan sifat dan corak masyarakat Indonesia, maka negara kita harus berdasar atas
aliran pikiran (staatsidee) negara yang integralistik, negara yang bersatu dengan seluruh
rakyatnya, yang mengatasi seluruh golongan-golongannya dalam lapangan apapun.
Pancasila terinspirasi konsep humanisme, rasionalisme, universalisme, sosiodemokrasi,
sosialisme Jerman, demokrasi parlementer, dan nasionalisme. Namun pancasila dalam halnya
secara harafiah bisa menginsipirisi dibidang spiritual, kultural, universal, nasionalis,
demokrasi, dan sosialis.
Kalau dibedakan anatara filsafat yang agamis dan non agamis, maka filsafat Pancasila
tergolong filsafat yang agamis. Ini berarti bahwa filsafat Pancasila dalam hal kebijaksanaan
dan kebenaran mengenal adanya kebenaran mutlak yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa
dan sekaligus mengakui keterbatasan kemampuan manusia, termasuk kemampuan
berpikirnya.
Dan kalau dibedakan filsafat dalam arti teoritis dan filsafat dalam arti praktis, filsafast
Pancasila digolongkan dalam arti praktis. Ini berarti bahwa filsafat Pancasila di dalam
mengadakan pemikiran yang sedalam-dalamnya, tidak hanya bertujuan mencari kebenaran
dan kebijaksanaan, tidak sekedar untuk memenuhi hasrat ingin tahu dari manusia yang tidak
habis-habisnya, tetapi juga dan terutama hasil pemikiran yang berwujud filsafat Pancasila
tersebut dipergunakan sebagai pedoman hidup sehari-hari (pandangan hidup, filsafat hidup,
way of the life, Weltanschaung dan sebagiannya); agar hidupnya dapat mencapai kebahagiaan
lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat.
Tinjauan Pancasila adalah tersusun secara harmonis dalam suatu sistem filsafat. Marilah kita
peringatkan secara ringkas bahwa ajaran Pancasila itu dapat kita tinjau menurut ahli filsafat
ulung, yaitu Friedrich Hegel (1770-1831) bapak dari filsafat Evolusi Kebendaan seperti
diajarkan oleh Karl Marx (1818-1883) dan menurut tinjauan Evolusi Kehewanan menurut
Darwin Haeckel, serta juga bersangkut paut dengan filsafat kerohanian seperti diajarkan oleh
Immanuel Kant (1724-1804).
Menurut Hegel hakikat filsafatnya ialah suatu sintese pikiran yang lahir dari antitese pikiran.
Dari pertentangan pikiran lahirlah paduan pendapat yang harmonis. Dan ini adalah tepat.
Begitu pula denga ajaran Pancasila suatu sintese negara yang lahir dari antitese.
Semua sila itu adalah susunan dalam suatu perumahan pikiran filsafat yang praktis dan
hierarkis.
3.2.

Cakupan Pemikiran yang Terkandung Didalam Pancasila

Seperti yang telah kita ketahui sejak awal, bahwa pancasila adalah suatu hal yang berawal
dari pemikiran tokoh-tokoh bangsa ini, nah sekarang pertanyaan yang sesuai dengan kalimat
tersebut, pemikiran apakah yang terdapat didalam pancasila tersebut. Padahal setelah ketiga
tokoh yang disebutkan sebelumnya bahwa pemikiran dari mereka hampir serupa satu dengan
yang lain seperti yang kita ketahui, Pancasila pada awalnya belum terbentuk jelas. Namun
setelah siding maka anggota sidang membuat suatu kesimpulan bahwa Pancasila sebaiknya
dibuat dengan memakai kajian milik Ir. Soekarno. Dan anggota yang bernama Mr. Nuh.

Yamin, yang sebagaimana diketahui pula adalah seorang ahli bahasa, yang dengan
bantuannya memperhalus dan memperbaiki kata-kata kajian milik Ir. Soekarno, dan
menamakannya Pancasila. Cakupan tersebut tertulis dalam butir-butir Pancasila. Seperti yang
telah ditunjukkan oleh Ketetapan MPR No. XI/MPR/1978, Pancasila itu merupakan satu
kesatuan yang bulat dan utuh dari kelima silanya. Dikatakan sebagai kesatuan yang bulat dan
utuh, karena masing-masing sila dari Pancasila itu tidak dapat dipahami dan diberi arti secara
sendiri-sendiri, terpisah dari keseluruhan sila-sila lainnya. Memahami atau memberi arti
setiap sila-sila secara terpisah dari sila-sila lainnya akan mendatangkan pengertian yang
keliru tentang Pancasila.
Namun karena kajian Pancasila tersebut banyak kontroversi diawalnya, yang Pancasila hasil
Panitia 9 yang merumuskan Pancasila yang kita kenal, dengan memakai kalimat Ketuhanan
dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya; karena cakupan
yang terlalu hanya mencakup sebagian kaum Muslim, dan banyak gejolak pun terjadi
terutama dari masyarakat timur Indonesia yang sebagaian adalah kaum Kristiani. Sehingga
untuk meredam amarah ini, maka disusunlah cakupan yang jelas yang berupa penggantian
kalimat yang kontroversi tersebut.
Maka dari itu disusunlah suatu permasalahan bagaiamanakah cara mengerti cakupan filsafat
Pancasila agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan yang dapat merusak kebersamaan bangsa.
Maka disusunlah suatu Pancasila yang sekarang ini yang tertuang di alinea IV UUD 1945.
Yang sekarang ini bertuliskan :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Dan Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Bangsa Indonesia
Adapun butir-butir yang terkandung didalam Pancasila adalah :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
(1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.
(2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan
agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.
(3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama
dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.
(5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
(6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan
agama dan kepercayaannya masing-masing.

(7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada
orang lain.
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
(1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa
membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial,
warna kulit dan sebagainya.
(3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
(4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
(5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
(6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
(7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
(8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
(9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
(10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
3. Persatuan Indonesia
(1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan
negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
(2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
(3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
(4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
(5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial.
(6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
(7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
(1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai
kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
(2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil
musyawarah.
(6) Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil
keputusan musyawarah.
(7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan
golongan.
(8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
(9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan
Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan
keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
(10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan
pemusyawaratan.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


(1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana
kekeluargaan dan kegotongroyongan.
(2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
(3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
(4) Menghormati hak orang lain.
(5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
(6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang
lain.
(7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup
mewah.
(8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan
umum.
(9) Suka bekerja keras.
(10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan
kesejahteraan bersama.
(11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan
berkeadilan sosial.
3.3.

Fungsi Utama Pancasila Didalam Filsafat Bernegara dan Berbangsa

1.

Sosio Nasional : Nasionalisme dan Internasionalisme;

2.

Sosio Demokrasi : Demokrasi dengan kesejahteraan rakyat;

3.

Ketuhanan YME

Setelah rangkuman Pancasila tersebut maka akan didapatlah suatu hal yang menarik sebagai
fungsi Pancasila dalam filsafat bernegara, yaitu :
a.
Dasar negara kita, Republik Indonesia, yang merupakan sumber dari segala sumber
hukum
yang berlaku di negara kita.
b.
Pandangan hidup bangsa Indonesia yang dapat mempersatukan kita serta memberi
petunjuk dalam masyarakat kita yang beraneka ragam sifatnya.
c.
Jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia, karena Pancasila memberikan corak yang
khas kepada bangsa Indonesia dan tak dapat dipisahkan dari bangsa Indonesia, serta
merupakan ciri khas yang dapat membedakan bangsa Indonesia dari bangsa yang lain.
Terdapat kemungkinan bahwa tiap-tiap sila secara terlepas dari yang lain bersifat universal,
yang juga dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini, akan tetapi kelima sila yang
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan itulah yang menjadi ciri khas bangsa
Indonesia.
d.
Tujuan yang akan dicapai oleh bangsa Indonesia, yakni suatu masyarakat adil dan
makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila di dalam wadah negara
kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu dan berkedaulatan rakyat

dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman, tenteram, tertib dan dinamis serta dalam
lingkungan pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib dan damai.
e.
Perjanjian luhur rakyat Indonesia yang disetujui oleh wakil-wakil rakyat Indonesia
menjelang dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan yang kita junjung tinggi, bukan sekedar
karena ia ditemukan kembali dari kandungan kepribadian dan cita-cita bangsa Indonesia yang
terpendam sejak berabad-abad yang lalu, melainkan karena Pancasila itu telah mampu
membuktikan kebenarannya setelah diuji oleh sejarah perjuangan bangsa.
BAB IV
PENUTUP
4.1.

Kesimpulan

Sehubungan dengan Pancasila dipandang dari sisi filosofi maka dapat disimpulkan bahwa
Pancasila adalah sesuatu hal yang sangat esensial bangsa Indonesia karena mencakup banyak
hal yang sangat menuangkan pikiran otak bangsa Indonesia. Seperti manusia ingin beragama,
dan bukan hanya tujuan mencari hal duniawi tapi juga untuk mencari hal akhirat. Begitu juga
dengan hal dengan sesama yang dapat dikatakan pemikiran manusia yang adalah makhluk
sosialis tanpa mengasimpingkan sisi religius. Begitu juga dengan manusia yang harus
menghormati hak dan pendapat orang lain dengan baik. Hubungan Dan semua itu
terkandung didalam isi Pancasila tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Notonagoro. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9. Jakarta: Pantjoran
Tujuh.
Salam, H. Burhanuddin, 1998. Filsafat Pancasilaisme. Jakarta: Rineka Cipta
Sumber lain :
http://lasonearth.wordpress.com/
http://bandunglover.wordpress.com/indonesia/butir-butir-pancasila/

http://www.goodgovernance-bappenas.go.id/artikel_148.htm