Anda di halaman 1dari 7

RABIES

Penyebab rabies adalah virus famili Rhabdoviridae yang termasuk dalam


golongan ordo Mononegavirales, genus Lyssavirus (Greek lyssa : rabies).
Lyssavirus terbagi atas beberapa serotype yang terdiri dari 1. Rabies virus
(RABV); 2.Lagos bat virus (LBV); 3. Mokola virus (MOKV); 4. Duvenhage virus
(DUVV); 5. European bat lyssavirus 1 (EBLV-1); 6. European bat lyssavirus 2
(EBLV-2); dan 7. Australian bat lyssavirus (ABLV) (WHO, 2005 b).
Di bawah mikroskop elektron, virus rabies ini berbentuk seperti peluru (bahasa
Yunani : rhabdo= bentuk batang ), dengan ukuran panjang sekitar 180 x 10-7 mm
dan lebar 65 x 10-7 mm. Pada lapisan permukaan virus ini terdapat envelope yang
tersusun atas 50% lemak dan 50% protein tergolong RNA. Virus ini sensitif
dengan pelarut lemak (larutan sabun, eter, kloroform, aseton), etanol 45-70% dan
preparat iodine (Meslin, 1994). Virus rabies dapat menginfeksi semua hewan
berdarah panas, dan pada hampir semua kejadian infeksinya akan berakhir dengan
kematian (Fenner,1995).
Virus rabies menginfeksi sistem saraf pusat, akhirnya menyebabkan penyakit pada
otak dan kematian. Gejala awal rabies pada manusia mirip dengan banyak
penyakit lainnya, termasuk demam, sakit kepala, dan kelemahan umum atau
ketidaknyamanan. Sebagai penyakit berlangsung, gejala yang lebih spesifik
muncul dan mungkin termasuk insomnia, kecemasan, kebingungan, kelumpuhan
ringan atau parsial, eksitasi, halusinasi, agitasi, hipersalivasi (peningkatan air liur),
kesulitan menelan, dan penyakit anjing gila (takut air). Kematian biasanya terjadi
dalam beberapa hari setelah timbulnya gejala tersebut.

Sifat Fisika Kimia


Virus dalam jaringan yang tertulari bila disimpan pada glyserin yang tidak
diencerkan virus akan tahan beberapa minggu dan bisa tahan berbulan bulan
dalam suhu 4C. Di dalam suspensi kurang dan 10 % virus akan cepat mati
kecuali ditambahkan protein (2% serum Cavia/Kelinci atau 0,75 % serum
Albumin sapi) untuk menaga kelangsungan hidup dalam suspensi sebaiknya
disimpan suhu pada -70C pada pH 5-10 virus relatif stabil tetapi virus mudah
mati oleh sinar matahari, pemanasan pasteur (56C. 30 menit), terkena cahaya
ultra violet dan HgCl. Keadaan asam (<pH 4) dan basa (>pH 10) dan oleh zat
pelarut lemak seperti ether. Khloroform aceton, larutan sabun, etanol 45-70%,
preparat Iodine dan komponen ammonium kuartener. Virus mudah diaktivasi oleh
-propiolaktone dan dalam fenol 0,25-0,5 % virus masih resisten dan memerlukan
beberapa hari sampai menjadi inaktif sempurna.
Bagaimana rabies didiagnosis?
Pada hewan, rabies didiagnosis dengan menggunakan antibodi fluoresen langsung
(DFA) tes, yang mencari keberadaan antigen virus rabies di jaringan otak. Pada
manusia, beberapa tes yang diperlukan.
Diagnosis laboratorium yang cepat dan akurat dari rabies pada manusia dan
hewan lainnya sangat penting untuk administrasi tepat waktu profilaksis pasca
pajanan. Dalam beberapa jam, laboratorium diagnostik dapat menentukan apakah

atau tidak hewan rabies dan menginformasikan tenaga medis yang bertanggung
jawab.
Selain itu, identifikasi laboratorium kasus rabies positif dapat membantu dalam
menentukan pola epidemiologi penyakit saat ini dan memberikan informasi yang
tepat untuk pengembangan program pengendalian rabies.
Sifat penyakit rabies menyatakan bahwa tes laboratorium menjadi standar, cepat,
sensitif, spesifik, ekonomis, dan dapat diandalkan.
Diagnosis pada hewan dan manusia
Diagnosis pada hewan
Diagnosis rabies dapat dilakukan setelah deteksi virus rabies dari setiap bagian
dari otak yang terkena, tetapi untuk menyingkirkan rabies, tes harus mencakup
jaringan dari setidaknya dua lokasi di otak, sebaiknya batang otak dan otak kecil.
Tes mensyaratkan bahwa hewan akan eutanasia. Tes itu sendiri memakan waktu
sekitar 2 jam, tapi butuh waktu untuk menghapus sampel otak dari hewan yang
dicurigai memiliki rabies dan untuk kapal sampel tersebut untuk kesehatan
masyarakat negara atau laboratorium diagnostik hewan untuk diagnosis.
Di Amerika Serikat, hasil tes rabies biasanya tersedia dalam waktu 24 hingga 72
jam setelah hewan dikumpulkan dan eutanasia. Karena paparan rabies untuk
hewan tersangka adalah urgensi medis, tetapi tidak darurat, pengujian dalam
periode ini lebih dari cukup untuk menentukan apakah seseorang terkena hewan
rabies, dan membutuhkan rabies vaksinasi pasca pajanan.
Sekitar 120.000 hewan atau lebih diuji untuk rabies setiap tahun di Amerika
Serikat, dan sekitar 6% yang ditemukan fanatik. Proporsi hewan yang positif
sangat tergantung pada spesies hewan dan berkisar dari <1% pada hewan
domestik untuk> 10% spesies satwa liar.
Berdasarkan studi surveilans kesehatan masyarakat dan patogenesis rutin, kita
telah belajar bahwa tidak perlu untuk menidurkan dan menguji semua hewan yang
menggigit atau berpotensi mengekspos seseorang untuk rabies. Untuk hewan
dengan probabilitas rendah rabies seperti anjing, kucing, dan musang, periode
pengamatan (10 hari) mungkin tepat untuk menyingkirkan risiko potensial
paparan rabies pada manusia.
Konsultasi dengan seorang pejabat kesehatan setempat atau negara berikut potensi
eksposur dapat membantu menentukan tindakan yang terbaik berdasarkan
rekomendasi kesehatan publik saat ini.
Diagnosis pada manusia

Beberapa tes yang diperlukan untuk mendiagnosis rabies ante-mortem (sebelum


kematian) pada manusia; ada tes tunggal sudah cukup. Pengujian dilakukan pada
sampel air liur, serum, cairan tulang belakang, dan biopsi kulit folikel rambut di
tengkuk. Air liur dapat diuji dengan isolasi virus atau transkripsi terbalik diikuti
oleh polymerase chain reaction (RT-PCR). Serum dan cairan tulang belakang diuji
untuk antibodi terhadap virus rabies. Spesimen biopsi kulit diperiksa untuk rabies
antigen pada saraf kulit di dasar folikel rambut.
Uji antibodi fluoresen langsung
DFA Tes ini didasarkan pada pengamatan bahwa hewan yang terinfeksi oleh virus
rabies memiliki protein virus rabies (antigen) hadir dalam jaringan mereka.
Karena rabies hadir dalam jaringan saraf (dan bukan darah seperti banyak virus
lain), jaringan yang ideal untuk menguji rabies antigen adalah otak. Bagian paling
penting dari tes DFA adalah flouresecently-label anti-rabies antibodi. Ketika
antibodi berlabel diinkubasi dengan jaringan rabies-tersangka otak, maka akan
mengikat antigen rabies. Antibodi terikat dapat dibersihkan dan daerah di mana
antigen hadir dapat divisualisasikan sebagai daerah-neon-apel hijau dengan
menggunakan mikroskop fluoresensi. Jika virus rabies tidak ada tidak akan ada
pewarnaan.

Deteksi antigen dengan DFA


Rabies antibodi yang digunakan untuk tes DFA terutama ditujukan terhadap
nukleoprotein (antigen) virus (lihat Bagian Virus pada struktur virus). Virus
Rabies bereplikasi dalam sitoplasma sel, dan sel-sel yang terinfeksi dapat
mengandung bulat besar atau inklusi oval berisi koleksi nukleoprotein (N) atau
koleksi yang lebih kecil dari antigen yang muncul sebagai partikel neon debu
seperti jika diwarnai oleh prosedur DFA.
PATOLOGI

Biasanya tidak ada gambaran asca mati yang jelas, jikapun ditemukan biasanya
berupa efek sekunder dari gejala syaraf yang ada. Karkas biasanya mengalami
dehidrasi dan dalam keadaan buru. Kadang kadang ditemukan bekas trauma,
misalnya gigitan patah. Pada karnivora sering ditemukan benda-benda asing
(corpora aliena) dalam lambung berupa rambut, kayu dan lain-lain.
Secara mikroskopis perubahan yang paling signifikan adalah lesi pada susunan
syaraf pusat dan spinal cord. Pada otak biasanya ditemukan perivascular cuffing,
gliosis focal atau difus, degenerasi neuron dan inclusion bodies (Negri bodies)
Intrasitoplasmik pada neuron. Negri bodies ditemukan dalam berbagai ukuran dan
biasanya cukup besar pada anjing dan sapi dan relatif lebih kecil pada kucing.
Negri bodies paling mudah ditemukan pada barisan neuron pada hipocampus atau
pada sel Purkinje pada cerebellum. Negri bodies dapat juga ditemukan pada sel
glia, sel ganglion pada kelenjar saliva dan kelenar adrenal serta pada retina mata.
Lesi berupa ensefalitis pada otak yang terserang rabies disertai perivascular
cuffing yang bersifat limfoid.

PENGENDALIAN
Pencegahan, pengendalian dan pemberantasan.

1. Pencegahan
Anjing mulai divaksinasi pada umur 8 minggu. Daerah yang ingin bebas dari
rabies, vaksinasi harus dilakukan terhadap 70% dari populasi anjing.
2. Pengendalian dan Pemberantasan
a. Eliminasi
Pembunuhan anjing tak bertuan dilakukan dengan penembakan.
Penembakan harus dilakukan oleh penembak yang mahir. Cara yang
terbaik adalah dengan penangkapan dengan jaring dan kemudian
hewan diamankan.
b. Pemberantasan daerah rabies
Daerah dimana terdapat kasus rabies dinyatakan sebagai daerah
rabies atau daerah tertular.
1) Metode pembebasan sebagai berikut :
Vaksinasi dan eliminasi hanya dilakukan pada anjing.
Vaksinasi dilakukan hanya pada anjing yang berpemilik.
Eliminasi dilakukan terhadap anjing tidak berpemilik dan
anjing berpemilik tapi tidak divaksinasi.
2) Strategi Pembebasan
Lokasi sasaran dibagi dalam 3 kategori, yaitu :
Lokasi tertular :
Yaitu desa/kelurahan tertular yang dalam 2 tahun terakhir
pernah ada kasus, klinis. Epidemologis, laboratoris dan desadesa sekitarnya.
Lokasi terancam :
Yaitu desa kelurahan di luar lokasi tertular dalam satu wilayah
kecamatan.
Lokasi bebas kasus :
Yaitu kecamatan yang berada di luar lokasi tertular yang
terancam.
3) Tindakan pada masing-masing lokasi
Pada lokasi tertular dan terancam.
Dilakukan vaksinasi dan eliminasi 100% dari populasi anjing
minimal pada lokasi tertular .
Vaksinasi dan eliminasi massal dilakukan serentak. Secara
umum, perbandingan vaksinasi dan eliminasi adalah 70 % :
30%, namun secara spesifik di tiap daerah tergantung pada
kebijakan daerah masing-masing yang disesuaikan dengan
situasi sosial budaya setempat.
Setelah kegiatan massal vaksinasi dan eliminasi dilanjutkan
kegiatan konsolidasi pada anjing yang baru lahir, mutasi dan
belum divaksinasi pada kegiatan massal.

Kalau ada kasus gigitan positif rabies, maka di wilayah lokasi


tertular tersebut segera diadakan vaksinasi dan eliminasi.
Vaksinasi dan eliminasi massal dilokasi tertular dimulai dari
lokasi kasus mengarah keluar (sentripetal).
Pada saat bersamaan dari batas luar lokasi terancam dilakukan
vaksinasi dan eliminasi mengarah ke dalam lokasi tertular
(sentrifugal).
Menangkap dan melaksanakan observasi hewan menderita
rabies selama 10-14 hari, terhadap hewan yang mati selama
observasi atau dibunuh maka harus diambil spesimen untuk
dikirim ke laboratorium (BPPH/Lab.type)untuk diagnosa.

Diluar lokasi tertular dan terancam


Tindakan vaksinasi dan eliminasi hanya dilakukan pada lokasi
rawan yaitu lokasi yang merupakan jalur lalu lintas anjing yang
sulit dikontrol.
c. Bila terjadi kasus rabies maka dilakukan tindakan sebagai berikut :
1) Basuh luka dengan air sabun dengan air yang mengalir, ether
atau chlorofrm lalu bilas dengan air dan oles dengan Yodium
tinctura atau alkohol 70%, anti tetanus dan antibiotika.
2) Hewan penggigit supaya dibawa Dinas peternakan terdekat
untuk dilakukan observasi paling lama selama2 (dua) minggu.
3) Bila hewan mati maka diambil hypocampusnya dalam bentuk
segar (dalam es) dalam bahan pengawet glycerin atau dibuat
preparat sentuh kemudian dibawah secepatnya pada
laboratorium veteriner terdekat untuk peneguhan diagnosa.
4) Bila seseorang atau hewan telah menunjang gejala klinis rabies,
maka tidak ada obat yang efektif untuk mengatasinya.