Anda di halaman 1dari 12

TEKNIK-TEKNIK DASAR PEMAHAMAN INDIVIDU

(Pendalaman dari pengumpulan data: aspek-aspek yang perlu dipahami


serta teknik pemahamannya)

A. MATERI
1. Pengertian Pemahaman Individu
Pemahaman objek yang akan dikerjakan atau digarap dituntut
dilakukan hampir pada semua jenis pekerjaan. Dalam bimbingan dan
konseling objek yang digarapnya atau dibantunya adalah klien atau
para

peserta

didik

yang

merupakan

individu.

Sebelum

konselor

memberikan layanan atau bantuan bimbingan dan konseling terlebih


dahulu perlu melakukan pemahaman individu. Pemahaman tentang
potensi, kemampuan, karakteristik, kebutuhan dan masalah-masalah
yang dihadapinya. Jenis layanan dan teknik bimbingan yang diberikan
harus

disesuaikan

dengan

hasil-hasil

pemahaman

tersebut.

(Sukmadinata, Nana Syaodih. 2007:147-148).


Subjek sasaran bimbingan dan konseling adalah individu sebagai
pribadi dengan karakteristiknya yang unik. Artinya tidak ada dua orang
individu yang memiliki karekteristik yang sama. Atas dasar karakteristik
pribadinya, guru pembimbing memberikan bantuan agar individu dapat
berkembang optimal melalui proses pemahaman diri, penerimaan diri,
pengarahan diri dan aktualisasi diri. Untuk itu seyogyanya Guru
Pembimbing memahami pribadi setiap individu yang dibimbing sehingga
dapat melakukan tugasnya membantu siswa ke arah perkembangan
yang optimal (Moh Surya.1998: 4.1)
Pemahaman individu oleh Aiken (1997:454) diartikan sebagai
Appraising the presence or magnitude of one or more personal
characteristic. Assessing human behavior and mental processes includes
such procedures as observations, interviews, rating scale, check
list,inventories, projective techniques, and tests. Pengertian tersebut

diartikan

bahwa

pemahaman

individu

adalah

suatu

cara

untuk

memahami, menilai atau menaksir karakteristik, potensi, dan atau


masalah-masalah

(gangguan

yang

ada

pada

diri

individu

atau

sekelompok individu. Cara yang digunakan meliputi observasi, interview,


skala penilaian, daftar cek, inventori, teknik projektif, dan beberapa jenis
tes.

Adapun data yang perlu dihimpun dalam pemahaman individu,

menurut Sukmadinata, Nana Syaodih (2007:223)meliputi aspek-aspek


yaitu:
a) Kepribadian: konsep aku dan kesadaran diri, kesehatan mental,
watak, temperamen, kecenderungan intropert-ekstravert, kelainan
penyimpangan mental, dll.
b) Kecakapan: kecerdasan (umum dan khusus), bakat skolastik dan
vokasional-profesional,

prestasi

belajar

dalam

semua

mata

pelajaran.
c) Sosial: interaksi sosiao, penyesuaian diri, komunikasi, bahsa,
kepemimpinan, kemandirian, disiplin, tanggung jawab, dll.
d) Afektif; perasaan, emosi, sikap, minat, motivasi
e) Fisik dan kesehatan: kondisi fisik, pancaindra, kesehatan,
kebugaran, penyakit menetap/lama diderita, alergi, cacat fisik, dll.
f) Cita-cita: harapan masa depan, rencana lanjutan studi,
pengembangan karir, pekerjaan.
g) Keunggulan-keunggulan dalam bidang: akademik, keagamaan,
h)
i)
j)
k)

olahraga, kesenian, keterampilan, sosial, dll


Pengalaman istimewa dan prestasi yang pernah diraih.
Struktur, kondisi dan kehidupan keluarga.
Lingkungan, pergaulan sosial, dan kegiatan sebaya.
Kebiasaan: hidup, belajar, bekerja, kebiasaan buruk, dll

Dengan demikian, pemahaman individu adalah suatu kegiatan yang


dilakukan oleh seseorang untuk mengerti dan memahami individu lain.
Dalam konteks bimbingan dan konseling, mengerti dan memahami
tersebut dilakukan oleh konselor terhadap konseli, atau menemukan
sumber data yang bisa memberikan keterangan tentang konseling.
2. Langkah Bimbingan dan konseling
Dalam memahami individu perlu adanya langkah-langkah yang dilalui
sebelum konselor melakukan pendekatan yaitu 1) Mengidentifikasi

masalah, 2) Diagnosis, 3) Menetapkan Prognosis, 4) Pemberian bantuan,


dan 5) Evaluasi dan tindak lanjut. (Ulum, Syaiful.2010:4)
Mengidentifikasi masalah adalah langkah yang penting yang tidak
boleh di tinggalkan bagi seorang guru bimbingan dan konseling yang
ingin berhasil dalam memberikan bantuan kepada anak didiknya. Pada
langkah ini, yang harus diperhatikan oleh seorang guru atau konselor
adalah mengenal gejala gejala awal dari suatu masalah yang sedang
dihadapi oleh anak didik. Gejala gejala awal ini biasanya dapat diketahui
dari tingkah laku yang berbeda atau menyimpang dari kebiasaan yang
sebelumnya dilakukan oleh peserta didik.
Melakukan diagnosis setelah masalah dapat diidentifikasi, pada
langkah diagnosis ini adalah menetapkan masalah tersebut bedasarkan
analisis latar belakang yang menjadi penyebab timbulnya masalah pada
anak didik. Hal yang paling penting dari tahapan diagnosis ini adalah
kegiatan

pengumpulan

data

mengenai

berbagai

hal

yang

melatarbelakangi atau menyebabkan gejala yang terjadi. Setelah


informasi terkumpul selanjutnya dilakukan analisis maupun sistesis
kemudian dilakukan keterkaitan antara informasi latar belakang dengan
gejala yang nampak atau yang terjadi pada peserta didik.
Menetapkan prognosis dalam tahapan prognosis ini seorang guru
bimbingan dari konseling menetapkan alternatif tindakan bantuan yang
akan diberikan kepada anak didik. Prognosis ini ditetapkan berangkat
dari diagnosis atau masalah yang sedang dihadapi oleh peserta didik.
Dari rumusan jenis dan bentuk masalah yang sedang dihadapi peserta
didik, selanjutnya dibuat alternatif tindakan bantuan.
Pemberian bantuan merupakan langkah penting dalam pelayanan
bimbingan dan konseling kepada anak didik setelah menetapkan
prognosis

adalah

merealisasikan

langka-langkah

alternatif

bentuk

bantuan bedasarkan masalah dan latar belakang yang dilakukan guru


bimbingan dan konseling efektik dalam mencapai keberhasilan.
Evaluasi dan Tindak Lanjut Pelayanan bimbingan dan konseling
kepada anak didik di sekolah yang baik harus ada evaluasi. Tanpa
adanya

evaluasi

akan

sulit

pelayanan

bimbingan

dan

konseling

mencapai keberhasilan. Evaluasi ini dilakukan apabila guru bimbingan


dan konseling dan anak didik melakukan beberapa kali pertemuan.

Evaluasi dapat dilakukan selama proses bimbingan dan konseling


berlangsung sampai akhir pemberian bantuan. Sedangkan, bahan untuk
melakukan evaluasi adalah data data primer yang muncul atau
terkumpul selama pertemuan dengan anak didik dan data data sekunder
yang terus dikumpulkan selama proses pemberian bimbingan dan
konseling.
3. Prinsip-prinsip dan Pengumpulan Data dalam Pemahaman Individu
Menurut Sukmadinata, Nana Syaodih (2007) dalam program
bimbingan dan konseling, data mempunyai fungsi yang sangat penting,
banyak layanan dan bantuan bimbingan dan konseling yang diberikan
harus didasarkan atas data yang tepat. Tim atau seksi bimbingan dan
konseling di sekolah hendaknya memiliki program pengumpulan dan
penyimpanan data yang lengkap, relevan, akurat, efisien, dan efektif.
Kelengkapan data
Data yang lengkap dapat mendukung kelancaran dan keberhasilan
pemberian layanan dan konseling sehingga dapat mendukung semua
kebutuhan pemberian layanan bimbingan dan konseling. Data yang
lengkap hendaknya mencakup beberapa hal, yaitu:
a. data potensi dan data kekuatan atau kecakapan-kecakapan
yang dimilikinya,
b. aspek intelektual, sosial, emosional, fisik dan motorik,
c. kebutuhan,
d. tantangan ancaman dan masalah yang dihadapi,
e. karakteristik permanen ataupun temporer.
Relevansi data
Data yang dihimpun hendaknya data yang sesuai atau relevan
dengan kebutuhan layanan bimbingan dan konseling.
Keakuratan data
Data yang akurat berhubungan dengan prosedur

dan

teknik

pengumpulan data. Empat hal yang berkenaan dengan pengumpulan


data ini, yaitu:
a. Validitas data
b. Validitas instrumen
c. Proses pengumpulan data yang benar
d. Analisis data yang tepat
Efisiensi penyimpanan data
Data yang sudah diolah, selanjutnya disimpan dalam kartu atau buku
catatan pribadi atau cumulative record.

Sekarang data

tersebut

disimpan

secara

elektronik

dalam

komputer

(soft

file/CD)

sehinggatidak memerlukan tempat yang banyak dan ruang data yang


luas.
Efektivitas penggunaan data
Data yang tersedia hendaknya

dapat

memberikan

dukungan

terhadap pemberian layanan bimbingan dan konseling, sehingga


layanan tersebut dapat memebrikan dampak atau hasil secara optimal.
4. Teknik Pemahaman Individu
Menurut Sukmadinata, Nana Syaodih (2007) banyak cara atau teknik
pemahaman individu yang berkaitan dengan pengumpulan data yang
dapat digunakan dalam program bimbingan dan konseling. Secara garis
besar teknik-teknik tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
teknik pengumpulan data yang bersifat mengukur (teknik tes) dan
menghimpun atau tidak mengukur (teknik non tes).
1) Teknik Tes
Pengumpulan data yang bersifat mengukur atau pengukuran
(measurement) kadang-kadang disebut juga pengumpulan data
dengan teknik tes, menggunakan instrument standar atau yang
sudah distandarisasi. Karena instrumen yang digunakan bersifat
mengukur, maka hasil pengumpulan data atau hasil pengukurannya
berupa skor atau angka-angka hasil ukur.
Teknik pengukuran data berdasarkan aspek yang diukur atau dites
dibedakan antara tes kecerdasan, bakat, hasil belajar, dan tes
kepribadian, berdasarkan bentuk tesnya ada tes objektif, uraian,
skala, dan tes proyeksi.
a)

Tes Kecerdasan
Kecerdasan dapat diartikan sebagai kemampuan berpikir yang
bersifat abstrak. Dapat juga diartikan sebagai kemampuan umum
individu untuk berperilaku yang jelas tujuannya, berpikir rasional,
dan berhubungan dengan lingkungannya secara efektif. Tingkat
kecerdasan(IQ) dengan klasifikasinya:
Superior atau genius adalah murid yang dapat bertindak jauh
lebih cepat dan dengan kemudahan dibandingkan dengan
murid yang lainnya

Normal adalah murid yang rata-rata atau pada umumnya


Subnormal atau mentally deffective atau mentally retarded
adalah

murid

yang

bertindak

jauh

lebih

lambat

dari

kecepatannya, dan jauh lebih banyak ketidaktepatannya dan


kesulitannya, dibandingkan dengan murid yang lain.
Dibedakan lebih lanjut kedalam kategori murid-murid;
Debil (moron) yang masih mendekati murid normal yang

b)

berusia sekitar 9-190 tahun.


Imbecil mendekati murid normal sekitar usia 5-6 tahun.
Idiot mendekati murid normal berusia dibawah 4 tahun.

Tes Bakat
Tes bakat mengukur kecerdasan potensial yang bersifat khusus
murid. Ada dua jenis bakat, yaitubakat sekolah dan bakat
pekerjaan-jabatan. Bakat sekolah berkenaan dengan kecakapan
potensial khusus yang mendukung penguasaan bidang-bidang
ilmu atau mata pelajaran. Sedangkan bakat pekerjaan-jabatan
berkenaan dengan kecakapan potensial khusus yang mendukung
keberhasilan dalam pekerjaan.Untuk mengetahui bakat murid,
telah dikembangkan beberapa macam tes, seperti:
Rekonik adalah tes yang mengukur kemampuan fungsi motorik,

persepsi dan berpikir mekanis.


Tes bakat musik.
Tes bakat artistik.
Tes bakat klerikal (perkantoran).
Tes bakat yang multifactor adalah tes bakat mengukur berbagai
kemampuan khusus.

c)

Tes Prestasi Belajar (Achievement Tests)


Tes prestasi belajar adalah suatu perangkat kegiatan atau alat
yang

dimaksudkan

untuk

mengukur

ketercapaian

tujuan

pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya dalam domain


kogniitif, afektif dan psikomotor. Penggunaan teknik tes khususnya
tes prestasi belajar bagi guru bertujuan untuk:
Menilai kemampuan belajar murid.
Memberikan bimbingan belajar kepada murid.
Mengecek kemajuan belajar murid.
Memahami kesulitan-kesulitan belajar murid.
Memperbaiki teknik mengajar guru.

Menilai efektifitas (keberhasilan) mengajar guru.


Tes prestasi belajar ini disusun untuk mengukur hasilpembelajaran
atau kemajuan belajar murid. Tes ini meliputi:
Tes diagnostik, yang dirancang agar guru dapat menentukan

letak kesulitan murid, dalam mata pelajaran yang diajarkan.


Tes prestasi belajar kelompok yang baku.
Tes prestasi belajar yang disusun oleh para guru, misalnya
dalam bentuk ulangan sehari-hari.

d)

Tes Kepribadian
Beberapa ahli mengartikan bahwa tes kepribadian adalah tes
yang berkenaan dengan aspek-aspek diluar kecerdasan, bakat
dan keterampilan, atau aspek sosial-afektif. Atau pengertian lebih
sempit nya merupakan tes yang berkenaan dengan karakteristik
atau

sifat-sifat

yang

hanya

menyangkut

karakter

(watak)

temperamen.
Pada aspek-aspek kepribadian tidak ada atau tidak dapat dibuat
standar atau criteria, sebab aspek-aspek tersebut menunjukkan
karakteristik, sifat-sifat. Kumpulan sifat-sifat seseorang dalam
satu

aspek

atau

segi

kepribadian

hanya

menunjukkan

kecenderungan. Kecenderungan tersebut tidak dapat dinilai


menurut criteria umum apakah dalam ketgori tinggi, sedang,
maupun rendah. Kecenderunan-kecenderungan tertentu mungkin
dinilai sesuai atau tidak sesuai atau cocok atau tidak cocok untuk
sesuatu tugas, jabatan, pekerjaan, atau ukuran lingkungan
tertentu.
2) Teknik Non-tes
Pengumpulan data yang bersifat menghimpun, umumnya tidak
menggunakan instrument yang bersifat mengukur, tetapi menghimpun
atau mendeskripsikan. Instrumen yang digunakan mungkin juga telah
distandarisasi

tetapi

cara

penstandarisasiannya

berbeda

dengan

instrument pengukuran.
Instrumen tersebut tidak menghasilkan data hasil ukur, skor, atau
angka-angka

dengan

kualifikasi

standar

tertentu,

tetapi

berupa

deskripsi atau gambaran. Namun, untuk tujuan tertentu suatu deskripsi


dapat saja disederhanakan dengan menggunakan angka. Teknik bukan

pengukuran ada beberapa macam yaitu wawancara, observasi, angket


atau inventori, catatan anekdot, otobiografi, sosiometri, studi kasus,
dan konferensi kasus.
a) Observasi (pengamatan)
Memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Dilakukan sesuai dengan tujuan yang dirumuskan terlebih
dahulu.
Direncanakan secara sistematis.
Hasilnya dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan.
Perlu diperiksa ketelitiannya.

Teknik observasi dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis:

Observasi sehari-hari (daiily observation).


Observasii sistematis (systematic observation).
Observasi partisipatif (participative observation).
Observasi non-partisipasif (non participative observation).

b) Wawancara (interview)
Wawancara merupakan teknik untuk mengumpulkan informasi
melalui komunikasi langsung dengan responden (orang yang minta
informasi). Kelebihan dan kekurangan wawancara diantaranya
adalah sebagai berikut:
Kelebihan wawancara yaitu
Merupakan teknik yang paling tepat untuk mengungkapkan

keadaan pribadi murid secara mendalam


Dapat dilakukan terhadap setiap tingkatan umur
Dapat diselenggarakan serempak dengan observasi
Digunakan untuk pelengkap data yang dikumpulkan dengan
teknik lain.

Kelemahannya dari wawancara yaitu

Tidak efisien, yaitu tidak bisa menghemat waktusacara

singkat
Sangat tergantung pada kesediaan kedua belah pihak
Menuntut penguasaan bahasa dari pihak pewawancara.

Dalam

bimbingan

wawancara, yaitu:

dan

konseling

dikenal

beberapa

macam

o
o
o
o

Wawancara
Wawancara
Wawancara
Wawancara

pengumpulan data (informational interview)


konseling (counseling interview)
disiplin (diciplinary interview)
penempatan (placement interview).

c) Angket
Angket (kuesioner) merupakan alat pengumpul data melalui
komunikasi tidak langsung, yaitu melalui tulisan.
Beberapa petunjuk untuk menyusun angket :
o Gunakan kata-kata yang tidak mempunyai arti rangkap
o Sususnan kalimat sederhana tapi jelas
o Hindarkan kata-kata yang bersifat negatif dan menyinggung
perasaan responder.
d) Catatan Anekdot
Catatan anekdot, yaitu catatan otentik hasil observasi. Dengan
mempergunakan catatan anekdot, guru dapat:
o Memperoleh pemahaman yang lebih

tepat

tentang

perkembangan murid
o Memperoleh pemahaman tentang penyebab dari gejala
tingkah laku murid
o Memudahkan dalam menyesuaikan diri dengan kbutuhan
murid.
Catatan anekdot yang baik dimiliki syarat sebagai berikut :

Objektif, yaitu catatan yang dibuat secara rinci tentang

perilaku murid
Deskriftif, yaitu catatan yang menggambarkan diri murid

secara lengkap tentang suatu peristiwa mengenai murid


Selektif, yaitu dipilih suatu situasi yang dicatat.

e) Otobiografi (Riwayat atau Karangan) dan Catatan Harian


Karangan pribadi ini merupakan ungkapan pribadi murid tentang
pengalaman hidupnya, cita-citanya, keadaan keluarga, dsb. Yang
Penggunaan

otobiografi

mempunyai

bebrapa

kelemahan.

Pertama, seringkali murid hanya menuliskan peristiwa-peristiwa


yang berarti bagi murid tapi belum tentu berarti untuk guru dalam
kepentingan layanan bimbingan dan konseling. Kedua, peristiwaperistiwa lama seringkali banyak yang terlupakan. Ketiga, ada
kecenderungan murid membuang hal-hal yang kurang sesuai

dengan harapan murid dan menggantinya dengan halyang sesuai.


Keempat, seringkali murid tidak mau memberikan otobiografinya
untuk dibaca oleh orang lain. Karangan pribadi ini dalam
pembuatannya dibagi ke dalam dua jenis, yaitu terstruktur dan
tidak terstruktur.
o Terstruktur yaitu karangan pribadi

disusun berdasarkan

tema (judul) yang telah ditentukan sebelumnya


o Tidak terstruktur yaitu murid diminta untuk membuat
karangan pribadi secara bebas.
f) Sosiometri
Teknik ini bertujuan untuk memperoleh
hubungan

atau

interaksi

sosial

(saling

informasi

tentang

penerimaan

atau

penolakan) di antara murid dalam suatu kelas, kelompok,


kegiatan ekstrakurikuler, organisasi kesiswaan, dll. Melalui teknik
ini guru dapat mengetahui tentang:
Murid yang populer
Yang terisolir
Klik (kelompok kecil dengan anggota 2-3 orang murid).
Sosiometri dapat digunakan untuk :
o Memperbaiki hubungan insani
o Menentukan kelomppok belajar/kerja
o Meneliti kemampuan memimpin seorang individu (murid)
dala kelompok.
g) Studi Kasus
Studi kasus
seorang

merupakan

murid

menggungkap

secara
seluruh

teknik

mempelajari

menyeluruh
aspek

pribadi

dan

perkembangan

mendalam

murid

yang

serta

datanya

diperoleh dari berbagai pihak. Dalam melaksanakan studi kasus


ini dapat ditempuh langkah-langkah :
o Menentukan murid yang bermasalah
o Memperoleh data
o Menganalisis data
o Memberikan layanan bantuan.
h) Konferensi Kasus
Konferensi kasus

merupakan

suatu

pertemuan

di

antara

beberapa unsur di sekolah untuk membicarakan seorang atau


beberapa murid yang mempunyai masalah. Unsur-unsur yang
dapat turut berpartisipasi dalam konferensi kasus dapat terdiri

atas, konselor, guru-guru yang mengenal benar murid yang


menjadi

kasus,

kepala

sekolah,

psikolog,

dokter,

petugas

perpustakaan, orang tua siswa atau personel lain yang mengenal


dekat dengan murid.
B. ANALISIS
Suatu bentuk layanan bimbingan dan konseling bertujuan untuk
dapat menyelesaikan masalah atau hambatan yang sedang dihadapi
individu dalam hal ini yaitu peserta didik yang dengan adanya layanan
bimbingan dan konseling, diharapkan masalah atau hambatan yang
sedang

dihadapi

tersebut

dapat

teratasi.

Namun,

untuk

dapat

mengatasi permasalahan atau hambatan yang sedang dialami peserta


didik ini seorang konselor atau guru yang dapat membantu mengatasi
masalah tentunya harus dapat mengenali dan memahami terlebih
dahulu individu yang akan diberikan layanan bimbingan dan konseling.
Karena setiap individu mempunyai aspek-aspek pribadi yang unik yang
berbeda antara individu satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu,
meskipun seorang peserta didik mempunyai masalah yang sama tapi
untuk dapat mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi nya tidak
dapat diselesaikan dengan jenis, layanan, dan teknik bimbingan dan
konseling yang sama karena harus disesuaikan juga dengan aspekaspek pribadi yang dimiliki peserta didik tersebut.
Maka selain melakukan identifikasi masalah, diagnosis, prognosis,
dan treatment juga dilakukan teknik pemahaman individu. Teknik
pemahaman individu ini adalah suatu cara yang digunakan untuk
dapat memahami aspek-aspek pribadi yang terdapat pada individu
sehingga tujuan layanan bimbingan dan konseling dapat tercapai
sesuai dengan kemampuan dan potensi yang ada pada individu
tersebut.
Di dalam memahami individu ini terdapat 2 cara yaitu ada yang
dengan teknik tes dan ada yang dengan non-tes. Penggunaan teknik
tes dan non tes ini tergantung pada aspek-aspek pribadi atau informasi
yang akan diperoleh dari individu dan juga instrument yang digunakan.
Apabila aspek-aspek pribadi tersebut dapat diketahui melalui skor atau
angka yang dapat menunjukkan tingkat kemampuan dan dapat

menggunakan

instrument

pengukuran

maka

teknik

pemahaman

individu yang dilakukan dengan cara test, sedangkan apabila aspek


individu

yang

menggunakan

diperoleh

tidak

instrument

dapat

pengukuran

diukur
maka

dan
teknik

tidak

dapat

pemahaman

individu menggunakan teknik non tes. Pada teknik non tes ini
dihasilkan suatu deskripsi atau gambaran tentang aspek-aspek pribadi
dari seorang individu.
Teknik pemahaman individu ini perlu dilakukan oleh seseorang
konselor maupun guru mata pelajaran atau wali kelas karena teknik
pemahaman individual ini merupakan suatu langkah awal untuk dapat
menentukan

treatment

atau

layanan

bimbingan

dan

konseling

berdasarkan data-data yang diperoleh. Sehingga treatment atau


layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada peserta didik
yang sedang mengalami masalah atau hambatan dapat teratasi
dengan tepat dan terarah.
C. REFERENSI
Aiken, L. R. (1997). Psychological testing and assessment. (edition).
Tokyo: Allin and Bacon.
Sukmadinata. Nana Syaodah. (2005). Landasan Psikologi proses
pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Surya,H.M. (1998). Buku Materi Pokok Bimbingan dan Konseling.
Yakarta. Universitas Terbuka.
Ulum, Syaiful. (2010). Bimbingan dan Konseling. [online] tersedia
http://www.academia.edu/8337664/Bimbingan_Konseling
Maret 2015]

[12