Anda di halaman 1dari 6

Tugas Makalah

Teknik Pembakaran dan Bahan


Bakar

Nama

: Ahmad Afif Hidayat

Nim

: 125524235

Prodi

: S1 Pendidkan Teknik Mesin

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN

2014

Pembuatan Biogas dari Kotoran Ternak sebagai Alternatif


Energi
I.

PENDAHULUAN

Pesatnya laju pertumbuhan penduduk menyebabkan kebutuhan sumber daya alam semakin
bertambah, salah satunya kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). Hal yang saat ini banyak
dikhawatirkan orang bahwa jumlah cadangan minyak yang menurun dari hari ke hari terancam habis.
Karena itu perlu adanya energi alternatif untuk menghemat cadangan minyak yang ada saat ini.
Biogas adalah salah satu energi yang dapat dikembangkan dengan memberikan cukup bahan baku
yang tersedia dan bersifat renewable (terbarukan). Dengan menggunakan sumber energi terbarukan
yang relatif mudah didapat, biaya operasionalnya rendah, serta tidak mengakibatkan masalah limbah,
kekurangan bahan bakar minyak dapat diatasi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Departemen Pertanian tahun 2007, disebutkan bahwa kotoran sapi mengandung selulosa,
hemisellulosa, lignin, karbonat organik, nitrogen, fosfor dan kalium. Sapi memiliki sistem pencernaan
khusus yang menggunakan mikroorganisme dalam sistem pencernaan yang berfungsi untuk mencerna
selulosa dan lignin dari rumput berserat tinggi. Oleh karena itu, pupuk sapi kandang memiliki
kandungan selulosa yang tinggi sehingga nilai kalor yang dihasilkan oleh biogaspun cukup tinggi,
yaitu kisaran 4800-6700 kkal/m3, untuk metana murni (100%) memiliki nilai kalori 8900 kkL/m3.
Berikut ini Tabel Komposisi biogas (%) kotoran sapi dan campuran kotoran ternak dengan sisa
pertanian.
Biogas
Jenis gas

Kotoran sapi

Campuran kotoran + sisa pertanian

Metan (CH4)

65,7

54 70

Karbon dioksida (CO2)

27,0

45 57

Nitrogen (N2)

2,3

0,5 - 3,0

Karbon monoksida (CO)

0,1

Oksigen (O2)

0,1

6,0

Propena (C3H8)

0,7

Hidrogen sulfida(H2S)

Sedikit

Nilai kalor (kkal/m2)

6513

4800 6700

Sumber: Harahap, dkk (1978)

II.

PEMBAHASAN

Biogas adalah campuran beberapa gas hasil fermentasi atau dekomposisi bahan organik dalam kondisi
anaerob. Gas yang dominan dihasilkan adalah metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Dalam

Wikipedia.org disebutkan bahwa, Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik
atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk di antaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah
domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable
dalam kondisi anaerobik.
Melalui biokonversi, limbah organik seperti tinja, sampah domestik dan limbah
pertanian dapat dikonversi menjadi bioenergi. Bioenergi merupakan gas
kompleks yang terdiri dari Metana, karbondioksida, Asam sulfida, dan gas-gas lainnya.
Biokonversi limbah organik ini melibatkan proses fermentasi. Proses biokonversi
seperti ini dikenal pula sebagai proses Pencernaan Anaerob.Proses biokonversi
secara alami terjadi pula di alam, yakni dalam pembentukan gas rawa atau
sebagai produk samping dari pencernaan hewan, khususnya hewan-hewan
pemamah biak. Gas rawa sebenarnya merupakan gas metan yang terbentuk dari
bahan-bahan organik tanaman melalui proses dekomposisi tanaman oleh bakteri.
Selanjutnya, gas ini dikeluarkan dari rawa dan dalam kondisi tertentu dapat
terbakar secara spontan. Gas ini secara ekonomi merupakan bahan bakar
penting yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak, tetapi
karena tumbuhan yang didekomposisi secara alami jumlahnya terbatas, maka
perlu dicari bahan baku dan teknologi penggantinya.
Pembentukan gas pada hewan pemamah biak terjadi di dalam lambung dan
berlangsung bersamaan dengan proses pencernaan makanan. Di dalam
lambung, bahan-bahan berselulosa dari rumput-rumputan atau bahan lain yang
menjadi makanan hewan pemamah biak dengan penambahan air diubah
menjadi asam organik. Asam organik ini selanjutnya diurai secara anaerob
menjadi gas metan dan karbondioksida. Diperkirakan sekitar 75 jutan ton gas
metan dikeluarkan oleh hewan pemamah biak setiap tahunnya.
Proses pembuatan gas metan secara anaerob melibatkan interaksi kompleks dari
sejumlah bakteri yang berbeda, protozoa maupun jamur. Beberapa bakteri yang
terlibat adalah Bacteroides, Clostridium butyrinum, Escericia coli dan beberapa
bakteri usus lainnya, Methanobacterium, dan Methanobacillus. Dua bakteri terakhir
merupakan bakteri utama penghasil metan dan hidup secara anaerob. Proses
pembuatan metan ini terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu :

1. Hidrolisis secara enzimatik, bahan-bahan organik tak larut menjadi bahanbahan organik dapat larut. Enzim utama yang terlibat adalah selulase yang
menguraikan selulosa.

2. Perubahan bahan-bahan organik dapat larut menjadi asam organik.


Pembentukan asam organik ini terjadi dengan bantuan bakteri non
methanogenik, protozoa dan jamur.

3. Perubahan asam organik menjadi gas metan dan karbondioksida. Proses


perubahan ini dapat terjadi karena adanya bantuan bakteri Metanogenik
(Methanobacterium dan Methanobacillus).

Keseluruhan reaksi
metan

perubahan

bahan

organik

menjadi gas

dan karbondioksida dapat dituliskan dengan persamaan

reaksi sebagai berikut :


(C6 H10 O5)n + n H2O ------ 3n CO2 + 3n CH4
Persamaan di atas berlaku bila yang menjadi substrat adalah selulosa. Untuk
substrat yang berupa senyawa organik kompleks, seperti Lignin dan tanin dan
senyawa Polimer Aromatik lainnya, pembentukan gas metan tidak melalui reaksi
seperti di atas. Substrat yang berupa senyawa aromatik yang lebih sederhana
melalui aktifitas aerobik beberapa enzim ekstraselular yang dihasilkan oleh
sejumlah mikroorganisme. Senyawa-senyawa aromatik sederhana ini umumnya
Benzenoid. Selanjutnya, senyawa benzenoid ini melalui aktifitas bakteri
metaorganik, seperti Methanobacterium formicum dan Methanospirilum hungati,
seca anaerob diubah menjadi gas metan dan karbondioksida. Proses perubahan
ini terjadi melalui tahapan reaksi seperti berikut :
4 C6H5 COOH + 24 H2 O
12 H3COOH
4COOH

------ 12 CH3COOH + 4 HCOOH + 8 H2

------ 12 CH4 + 12 CO2


------ 4 CO2 + H2

3CO2 + 12 H2

------ 3 CH4 + 6 H2O

Secara singkat reaksi keseluruhan di atas dapat disederhanakan menjadi:


4C6H5 COOH + 18 H2 O

------ 15 CH4 + CO2

Instalasi Biogas

a. Prinsip Teknologi Biogas


Pada prinsipnya, teknologi biogas adalah teknologi yang memanfaatkan fermentasi bahan organik
oleh bakteri anaerob yang menghasilkan gas metana. Gas metana adalah gas yang mengandung satu
atom C dan empat atom H yang memiliki sifat mudah terbakar. Gas metana yang dihasilkan kemudian
dapat dibakar sehingga panaspun dapat dihasilkan. Sifat gas ini tidak berwarna, tidak berbau dan
sangat cepat menyala.
Menurut Direktorat Jenderal PPHP-Departemen Pertanian (2006), 1 m3 biogas setara dengan: a.
LPG: 0,46 Kg

b. Minyak Tanah: 0,62 Ltr


c. Minyak solar: 0,52 Ltr
d. Bensin: 0,80 Ltr
e. Kayu bakar: 3,50 Kg

b.

Jenis Pabrik Biogas

Jenis Pabrik biogas dapat dilihat dari konstruksi dan bahan baku. Dalam hal konstruksi, secara umum,
pabrik biogas diklasifikasikan menjadi dua jenis:

Kubah tetap : Kubah tetap merupakan konstruksi yang memiliki volume tetap sehingga
produksi gas akan meningkatkan generator tekanan.

Drum mengambang : Drum mengambang berarti ada bagian pada pabrik yang dapat
dipindahkan untuk menyesuaikan diri dengan peningkatan pembangkit tekanan.

c.

Proses Pembuatan Biogas

Bangunan utama dari instalasi biogas adalah digester, yang berfungsi untuk menampung gas metan
hasil perombakan bahan bahan organik oleh bakteri. Jenis digester yang paling banyak digunakan
adalah model continuous feeding dimana pengisian bahan organiknya dilakukan secara kontinu setiap
hari. Lokasi yang akan dibangun sebaiknya dekat dengan kandang sehingga kotoran ternak dapat
langsung disalurkan kedalam digester. Disamping digester harus dibangun juga penampung sludge
(lumpur) dimana slugde tersebut nantinya dapat dipisahkan dan dijadikan pupuk organik padat dan
pupuk organik cair.

Berikut adalah cara pembuatan biogas dari kotoran ternak.

1. Mencampur kotoran sapi dengan air sampai terbentuk lumpur dengan perbandingan 1:1 pada
bak penampung sementara.

2. Mengalirkan lumpur kedalam digester melalui lubang pemasukan. Pada pengisian pertama
kran gas yang ada diatas digester dibuka agar pemasukan lebih mudah dan udara yang ada
didalam digester terdesak keluar. Pada pengisian pertama ini dibutuhkan lumpur kotoran sapi
dalam jumlah yang banyak sampai digester penuh.

3. Melakukan penambahan starter (banyak dijual dipasaran) sebanyak 1 liter dan isi rumen segar
(bagian usus) dari rumah potong hewan (RPH) sebanyak 5 karung untuk kapasitas digester
3,5 - 5,0 m2. Setelah digester penuh, kran gas ditutup supaya terjadi proses fermentasi.

4. Membuang gas yang pertama dihasilkan pada hari ke-1 sampai ke-8 karena yang
terbentuk adalah gas CO2. Sedangkan pada hari ke-10 sampai hari ke-14 baru terbentuk gas
metan (CH4) dan CO2 mulai menurun. Pada komposisi CH4 54% dan CO2 27% maka biogas
akan menyala.

5. Pada hari ke-14 gas yang terbentuk dapat digunakan untuk menyalakan api pada kompor gas
atau kebutuhan lainnya. Mulai hari ke-14 ini kita sudah bisa menghasilkan energi biogas
yang selalu terbarukan.

III.

PENUTUP

Biogas dapat disimpulkan sebagai salah satu jenis energi yang dapat dibuat dari fermentasi berbagai
jenis bahan limbah seperti sampah, pupuk, kotoran manusia, jerami, dan bahan lainnya dalam kondisi
anaerob dan menghasilkan gas. Singkatnya, semua jenis bahan dalam hal kimia termasuk senyawa
organik, baik berasal dari limbah dan kotoran hewan atau sisa tanaman, dapat digunakan sebagai
biogas. Selain menghasilkan gas metan untuk memasak, biogas juga mengurangi pencemaran
lingkungan, menghasilkan pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Dengan adanya biogas
sebagai energi alternatif, permasalahan kekurangan bahan bakar minyak (BBM) dapat diatasi melalui
pengurangan ketergantungan terhadap pemakaian bahan bakar minyak bumi yang tidak bisa
diperbaharui.

IV.

DAFTAR PUSTAKA
Suhut Simamora, Salundik, Sri Wahyuni, & Surajudin (2006). Membuat Biogas :
Pengganti Bahan Bakar Minyak & Gas dari Kotoran Ternak. Agromedia Pustaka, 18-20.

Sugi Rahayu, D. P. (2009). Pemanfaatan KotoranTernak Sapi Sebagai Sumber Energi


AlternatifRamah Lingkungan Beserta Aspek Sosio Kulturalnya. Inotek, 150-160.

Pengertian Biogas. Diakses dari situs wikipedia.org pada tanggal 27 Oktober 2013, dengan
alamat http://id.wikipedia.org/wiki/Biogas#Referensi.

Peni Wahyu, Teguh Purwanto (2007). Petunjuk Teknis Pembuatan kompos Berbahan
Kotoran Sapi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.