Anda di halaman 1dari 12

KORELAKSI ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN KEPATUHAN DIET

DENGAN TERKONTRANYA KADAR GLUKOSA DARAH PADA


PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DI DESA
NYATYONO KECAMATAN UNGARAN BARAT
KABUPATEN SEMARANG
Diah Sri Unik*) Faridah Aini Skep.,Ns., M.Kep.,Sp.KMB**)
Tina Mawardika, S.Kep.,Ns**)
*) Mahasiswa PSIK Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo
**) Dosen pembimbing Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo
ABSTRAK
Diabetes mellitus merupakan masalah kesehatan masyarakat, khususnya kelompok lansia.
Tujuan penelitian ini mengetahui korelasi antara tingkat pengetahuan kepatuhan diet dengan
terkontrolnya kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe II di Desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang.
Metode penelitian yang digunakan deskriptif corelatif dengan pendekatan crosssectional.
Jumlah populasi 53 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan jumlah sampel 53
orang pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling dan usia data menggunkan uji
chisquare.
Hasil penelitian menunjukkan 26,4 % responden memiliki pengetahuan yang baik, 45,3%
responden patuh menjalankan diet, dan 47,2% glukosa darah responden dengan kadar glukosa
darah terkontrol. Dari uji statistic didapatkan kesimpulan yaitu ada hubungan yang signifikan
antara tingkat pengetahuan dengan terkontrolnya kadar glukosa darah dengan p-value 0,024 <
0,05 dan x2 = 7,478, dan ada hubungan yang signifikan antara diabetes mellitus tipe II dengan pvalue 0,001 <0,05 dan x2= 11,668.
Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada pasien dan keluarga sehingga diharapkan
pasien dan keluarga pengetahuan bertambah dan dapat mematuhi diet diabetes mellitus sehingga
kadar glukosa darah dapat tetap terkontrol.
Kata Kunci
Kepustakaan

: Pengetahuan, kepatuhan diet, terkontrolnya kadar glukosa darah pada penderita


diabetes mellitus tipe II
: 29 (2002-2009)

PENDAHULUAN
Meningkatnya
prevalensi
diabetes
mellitus di beberapa negara berkembang
akibat peningkatan kemakmuran di negara
yang bersangkutan, akhir-akhir banyak
disoroti. Peningkatan pendapatan per kapita
dan perubahan gaya hidup terutama di kotakota besar, menyebabkan peningkatan
prevalensi penyakit degeneratif, salah
satunya adalah penyakit diabetes mellitus.
Diabetes mellitus merupakan salah satu
masalah kesehatan yang berdampak pada
produktivitas dan dapat menurunkan sumber
daya manusia. Penyakit ini tidak hanya
berpengaruh secara individu, tetapi sistem
kesehatan suatu negara ( Suyono, 2007 ).

Diabetes mellitus sangat erat kaitannya


dengan mekanisme pengaturan kadar gula
darah. Diabetes melitus ditandai dengan
kadar gula darah yang semakin meningkat
akan memicu produksi hormone insulin oleh
kelenjar pankreas, diabetes mellitus
merupakan penyakit yang paling banyak
menyebabkan terjadinya penyakit lain (
komplikasi ). Komplikasi yang sering terjadi
dan mematikan adalah serangan jantung dan
stroke. Hal ini berkaitan dengan gula darah
meninggi secara terus menerus, sehingga
berakibat rusaknya pembuluh darah , syaraf,
dan pembuluh darah internal lainnya. Zat
kompleks yang terdiri dari gula di dalam
dinding pembuluh darah menyebabkan

Korelaksi Antara Tingkat Pengetahuan Dan Kepatuhan Diet Dengan Terkontranya Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Di Desa Nyatyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang

pembuluh darah menebal. Akibat penebalan


ini, maka aliran darah akan berkurang,
terutama yang akan menuju ke kulit dan
syaraf ( Badawi, 2009 ).
Berdasarkan
pola
pertambahan
penduduk saat ini diperkirakan jumlah
penderita diabetes mellitus di dunia tahun
2010 sebanyak 306 juta jiwa, di negaranegara ASEAN 19,4 juta pada tahun 2010
dan di Indonesia pada tahun 2000 berjumlah
8,4 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun
2030 dapat mencapai 21,3 juta jiwa (
Diabetes Care, 2004 ). Indonesia menempati
urutan keempat dengan jumlah penderita
diabetes terbesar di dunia setelah India,
Cina, dan Amerika Serikat (WHO, 2008 ).
Jumlah penderita diabetes mellitus di
Indonesia sekitar 17 juta atau mencapai
8,6% dari 220 juta populasi negeri ini dan
diperkirakan akan terus meningkat. Menurut
penelitian epidemiolgi prevalensi diabetes
melitus di Indonesia untuk saat ini berkisar
1,5-2,3%. Daerah semi urban seperti jawa
tengah melaporkan prevalensi diabetes
melitus sebesar 9,2% ( Depkom, 2008).
Perserikatan bangsa-bangsa membuat
perkiraan bahwa pada tahun 2000 jumlah
pengidap diabetes melitus diatas umur 20
tahun berjumlah 150 juta orang dan dalam
kurun waktu 25 tahun kemudian, pada tahun
2025, jumlah itu akan membengkak menjadi
300 juta orang. Selain itu, berdasarkan data
departemen kesehatan jumlah pasien
diabetes melitus rawat inap maupun rawat
jalan di rumah sakit menempati urutan
pertama dari seluruh penyakit endokrin dan
4% wanita hamil menderita diabetes
gestasional (EpidemiologiDM, 2010 ).
Melihat tendensi kenaikan kekerapan
diabetes melitus yang terutama disebabkan
peningkatan kemakmuran suatu populasi,
maka dengan demikian dapat dimengerti
bila dalam kurun waktu 1 atau 2 dekade
yang akan datang kekerapan diabetes
melitus di Indonesia akan meningkat dengan
drastis.
Diabetes mellitus merupakan penyakit
yang berjangka panjang, maka bila
diabaikan komplikasi penyakit diabetes
melitus dapat menyerang seluruh anggota
tubuh yang diakibatkan dari kadar gula
darah yang tidak terkontrol pada pengidap

diabetes. Komplikasi akut yang paling


berbahaya adalah terjadinya hipoglikemia
(kadar gula darah sangat rendah), karena
dapat mengakibatkan koma (tidak sadar)
bahkan kematian bila tidak cepat ditolong.
Keadaan hipoglikemia ini biasanya dipicu
karena penderita tidak patuh dengan jadwal
makanan (diet) yang telah ditetapkan.
Komplikasi juga berhubungan dengan
perubahan metabolik. Ginjal, misalnya,
terjadi gangguan atau perubahan pada
sirkulasi serta fungsi penyaringan yang
akibat lanjutnya adalah gagal ginjal.
Komplikasi lainnya ialah gangguan terhadap
jantung. Sekitar 75-80% kematian pada
diabetes karena kelainan jantung dan
pembuluh darah, hal ini karena timbulnya
timbunan lemak di pembuluh darah
sehingga aliran darah terhambat. Jika itu
terjadi di pembuluh darah jantung, dapat
menimbulkan serangan jantung. Selain itu,
komplikasi juga dapat mengenai pembuluh
darah lain di mata (kebutaan), gangguan
fungsi seksual, kaki, dan otak (Smeltzer &
Bare, 2008).
Tindakan pengendalian diabetes untuk
mencegah terjadinya komplikasi sangat
diperlukan, khususnya dengan menjaga
tingkat gula darah sedekat mungkin dengan
normal ( Sustrani, Alam dan Hadibroto,
2005). Akan tetapi, kadar gula darah yang
benar-benar
normal
sulit
untuk
dipertahankan. Hal ini disebabkan karena
pasien
kurang
berdisiplin
dalam
menjalankan diet atau tidak mampu
mengurangi jumlah kalori makanannya
(Soegondo, 2007).
Panduan Federasi Diabetes Internasional
(IDF) tentang pengelolaan gula darah
sesudah makan merekomendasikan pasien
diabetes untuk menjaga kadar gulanya tidak
lebih dari 140 mg/dL pada dua jam sesudah
makan. Patokan ini dipublikasi pertama kali
pada september 2007 di Amsterdam,
Belanda. Rekomendasi ini lebih kecil
dibanding patokan sebelumnya, yang di
batas 200 mg/dL. Panduan IDF ini
menekankan pentingnya menjaga gula darah
sesudah makan agar terhindar dari resiko
komplikasi diabetes.
Cara menjaga kadar gula darah tetap
terkontrol pada penderita diabetes mellitus

Korelaksi Antara Tingkat Pengetahuan Dan Kepatuhan Diet Dengan Terkontranya Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Di Desa Nyatyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
2

tipe II seharusnya menerapkan pola makan


seimbang untuk menyesuaikan kebutuhan
glukosa sesuai dengan kebutuhan tubuh
melalui
pola
makan
sehat.
Cara
pengendalian kadar glukosa darah diabetes
mellitus sebesar 86,2% penderita diabetes
mellitus harus mematuhi pola diet diabetes
mellitus yang dianjurkan, namun secara
faktual jumlah penderita diabetes mellitus
yang disiplin menerapkan program diet
hanya berkisar 23,9%. Permasalahan ini
terjadi karena kurangnya pengetahuan
tentang kesehatan dan perilaku pencegahan
penyakit. Kurangnya pengetahuan tentang
penyakit yang diderita akan mengakibatkan
tidak terkendalinya proses perkembangan
penyakit, termasuk deteksi dini adanya
komplikasi penyakit. Hal ini menjadi salah
satu faktor resiko memperberat terjadinya
gangguan metabolisme tubuh sehingga
berdampak terhadap keberlansungan hidup
penderita diabets mellitus (Suyono, 2007).
Keberhasilan
perencanaan
makan
tergantung pada perilaku dan pengetahuan
penderita diabetes mellitus tipe II dalam
menjalani anjuran makan yang di berikan,
kegagalan dalam perencanaan makan
merupakan salah satu kendala dalam
pengobatan diabetes mellitus tipe II. Data
laporan WHO tahun 2003 menunjukkan
hanya 50% pasien diabetes mellitus tipe II
di negara maju yang patuh diet dan rutin
dalam melakukan pengobatan (WHO,
2003).
kepatuhan diet pasien merupakan suatu
perubahan perilaku yang positif dan
diharapkan, sehingga proses kesembuhan
penyakit lebih cepat dan terkontrol.
Pengaturan diet yang seumur hidup bagi
pasien diabetes mellitus menjadi sesuatu
yang
sangat
membosankan
dan
menjemukan, jika dalam diri pasien tidak
timbul pengertian dan kesadaran yang kuat
dalam menjaga kesehatannya, perubahan
perilaku diet bagi pasien diabetes mellitus
yang
diharapkan
adalah
keinginan
melakukan perubahan pada pola makannya
dari yang tidak teratur menjadi diet yang
terencana (Perkeni, 2006).
Kepatuhan Diet adalah penatalaksanaan
gizi paling penting pada penderita DM.
Prinsip gizi dan perencanaan makan

merupakan salah satu kendala pada


pelayanan diabetes, terapi gizi merupakan
komponen
utama
keberhasilan
penatalaksanaan diabetes. Tanpa pengaturan
jadwal dan jumlah makanan serta kualitas
makanan sepanjang hari, sulit mengontrol
kadar gula darah agar tetap dalam batas
normal. Penderita DM sangat dianjurkan
untuk menjalankan diet sesuai yang
dianjurkan, yang dapat pengobatan anti
diuretik atau insulin, harus mentaati diet
secara terus menerus baik dalam jumlah
kalori, komposisi dan waktu makan harus
diatur. Pengaturan makanan bagi penderita
DM secara umum bertujuan menjaga dan
memelihara tingkat kesehatan optimal
sehingga dapat melakukan aktivitas seperti
biasanya dan diet adalah awal untuk
mengendalikan diabetes.
Menurut studi epidemologi bahwa
permasalahan yang berhubungan dengan
kesehatan yang ditemukan paling banyak di
masyarakat adalah kurangnya pengetahuan
tentang kesehatan dan perilaku pencegahan
penyakit. Pengetahuan akan berpengaruh
pada sikap seseorang, selanjutnya sikap
akan berpengaruh pada perilaku peningkatan
derajat kesehatan masyarakat (Notoadmojo,
1997).
Berdasarkan studi kasus yang dilakukan
oelh Febriana (2005), kadar gula darah
buruk (>200mg/dL) dengan presentase
terbanyak pada sampel dengan pola makan
tidak baik (41,20%). Hasil penelitian
menunjukkan ada hubungan yang signifikan
antara pola makan dengan kadar gula darah
pada penderita diabetes mellitus. Pengaturan
diet yang sesuai anjuran yaitu 3 (jam, jenis,
dan jumlah) mengakibatkan asupan zat gizi
akan tersebar sepanjang hari sudah terbukti
mampu meningkatkan kestabilan kadar gula
darah menjadi lebih baik (Waspadji, 2009).
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan
pada tanggal 15 November 2012.
Berdasarkan hasil wawancara dengan rekan
medik di Desa Nyatnyono jumlah penderita
diabetes mellitus adalah sebanyak 53
penderita diabetes.
Hasil wawancara
dengan klien pada 6 penderita diabetes
mellitus tipe
II di Desa Nyatnyono
didapatkan bahwa 2 penderita diabetes
memiliki kadar gula darah diatas normal

Korelaksi Antara Tingkat Pengetahuan Dan Kepatuhan Diet Dengan Terkontranya Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Di Desa Nyatyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
3

(230mg/dL).
Pasien
mengaku
telah
membatasi konsumsi makanan yang banyak
mengandung karbohidrat dan gula, namun
kurang memperhatikan keteraturan waktu
makan bahkan beberapa mengalami
peningkatan nafsu makan terutama pada
malam hari, sedangkan 2 penderita diabetes
masih mengkonsumsi makanan sesuai
dengan
menu
keluarga
namun
mempetimbangkan jumlah asupannya dan 2
penderita diabetes tidak pernah menjalankan
diet atau menjaga asupan makanannya.
Berdasarkan hasil uraian diatas dan
mengingat pentingnya peran kepatuhan diet
diabetes mellitus untuk pengobatan dan
untuk pengontrol kadar gula darah secara
non farmakologis pada diabetesi, maka
mendorong peneliti untuk mengetahui
korelasi
antara tingkat
pengetahuan
kepatuhan diet dengan terkontrolnya kadar
gula darah pada penderita DM tipe II di desa
Nyatnyono.

yang sudah diketahui sebelumnya dengan


cara mengidentifikasi semua karateristik
populasi.

Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah
deskriptif korelasi. Desain penelitian yang
digunakan dalam penelitian inia dalah
dengan studi potong lintang (cross-sectional
study) yang menekankan waktu pengukuran
atau observasi data variable independen dan
variable dependen hanya sekali, yaitu pada
saat pengukuran (Nursalam, 2003).

Pendidikan
SD
SMP
SMA
PerguruanTinggi
Jumlah

Populasi dan Sampel


Populasi penelitian adalah wilayah
generalisasi yang terdiri atas obyek atau
subyek yang mempunyai kualitas yang
ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari
dan kemudian ditarik kesimpulan. Populasi
dalam penelitian ini adalah semua penderita
Diabetes Mellitus tipe II yang ada di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat
sejumlah 53 orang.
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan
karateristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut.
Teknik sampling yang digunakan pada
penelitian ini menggunakan purposive
sampling yaitu pengambilan sampel yang
didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu
yang dibuat oleh peneliti sendiri,
berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi

HASIL PENELITIAN
Karakteristik Responden
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan
Pekerjaan
Penderita
Diabetes Mellitus
Pekerjaan
IRT
Petani
Buruh
PNS
Jumlah

Frekuensi
18
6
23
6
53

Persentase (%)
34,0
11,3
43,4
11,3
100,0

Berdasarkan tabel 5.1, dapat diketahui


bahwa dari 53 penderita DM di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat,
paling banyak bekerja sebagai buruh, yaitu
sejumlah 23 orang (43,4%).
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan
Pendidikan
Penderita
Diabetes Mellitus
Frekuensi
29
15
7
2
53

Persentase (%)
54,7
28,3
13,2
3,8
100,0

Berdasarkan tabel 5.2, dapat diketahui


bahwa dari 53 penderita DM di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat,
sebagian besar berpendidikan SD, yaitu
sejumlah 29 orang (54,7%).
Analisis Univariat
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan
Tingkat
Pengetahuan
Penderita DM tentang Diabetes
Mellitus
Tingkat
Pengetahuan
Kurang
Sedang
Baik
Jumlah

Frekuensi
20
19
14
53

Persentase
(%)
37,7
35,8
26,5
100,0

Berdasarkan tabel 5.3, dapat diketahui


bahwa tingkat pengetahuan penderita DM
tentang diet diabetes mellitus di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat,
paling banyak dalam kategori kurang, yaitu
sejumlah 20 orang (37,7%).

Korelaksi Antara Tingkat Pengetahuan Dan Kepatuhan Diet Dengan Terkontranya Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Di Desa Nyatyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
4

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kepatuhan Diet pada


Penderita
DM
di
Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran
Barat, 2013
Kepatuhan Diet
Tidak Patuh
Patuh
Jumlah

Frekuensi
28
25
53

Persentase (%)
54,7
45,3
100,0

Berdasarkan tabel 5.4, dapat diketahui


bahwa dari 53 penderita DM di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat, lebih
banyak yang tidak patuh terhadap diet
diabetes mellitus, yaitu sejumlah 29 orang
(54,7%).
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan
Terkontrolnya
Kadar
Glukosa Darah pada Penderita
DM
Terkontrolnya Kadar
Glukosa Darah
Tidak Terkontrol
Terkontrol
Jumlah

Frekuensi

Persentase
(%)
52,8
47,2
100,0

28
25
53

Berdasarkan tabel 5.5, dapat diketahui


bahwa dari 53 penderita DM di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat, lebih
banyak yang memiliki kadar glukosa darah
yang tidak terkontrol, yaitu sejumlah
sejumlah 28 orang (52,8%).
Analisis Bivariat
Tabel 5.6 Hubungan
antara
Tingkat
Pengetahuan
dengan
Terkontrolnya Kadar Glukosa
Darah pada Penderita DM
Terkontrolnya Glukosa
Darah
Pengetahuan
Tidak
Terkontrol
Terkontrol
f %
f
%
Kurang
15 75,0
5
25,0
Sedang
9 47,4
10 52,6
Baik
4 28,6
10 71,4
Jumlah
28 52,8
25 47,2

Total
f
20
19
14
53

pvalue

%
100 7,478 0,024
100
100
100

Berdasarkan tabel 5.6, dapat diketahui


bahwa responden dengan pengetahuan
kurang lebih besar memiliki kadar glukosa
darah yang tidak terkontrol sejumlah 75,0%
daripada responden dengan pengetahuan
sedang sebagian besar memiliki kadar
glukosa darah yang terkontrol sejumlah
52,6%, dan responden dengan pengetahuan
baik sebagian besar juta memiliki kadar

glukosa darah yang terkontrol sejumlah


71,4%.
Tabel 5.7 Hubungan antara Kepatuhan
Diet dengan Terkontrolnya
Kadar Glukosa Darah pada
Penderita DM
Terkontrolnya Glukosa
Darah
Total
pTidak
2
Terkontrol
value
Terkontrol
F
%
f
%
f
%
Tidak Patuh 22 75,9 7 24,1 29 100 11,66 0,001
Patuh
6
25,0 18 75,0 24 100
8
Jumlah
28 52,8 25 47,2 53 100
Kepatuhan
Diet

Berdasarkan tabel 5.7, dapat diketahui


bahwa responden yang tidak patuh dalam
melakukan diet DM lebih besar memiliki
kadar glukosa darah yang tidak terkontrol
sejumlah 75,9% dari pada responden yang
patuh dalam melakukan diet DM sebagian
besar memiliki kadar glukosa darah yang
terkontrol sejumlah 75,0%.
PEMBAHASAN
Analisis Univariat
Gambaran Tingkat Pengetahuan pada
Penderita Diabetes Mellitus Tipe II di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat
Hasil penelitian menggunakan kuesioner
menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan
penderita DM tentang diet diabetes mellitus
di Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran
Barat, dalam kategori kurang sejumlah 20
orang (37,7%). Pengetahuan responden
dalam kategori kurang di mana mereka tidak
mengetahui bahwa kadar glukosa darah
pada waktu puasa > 120 mg/dL dan kadar
glukosa darah sewaktu > 200 mg/dL disebut
dengan diabetes mellitus, penyakit Diabetes
Mellitus dapat mengakibatkan gangguan
pendengaran,
cara
pencegahan
penyakit Diabetes Mellitus adalah dengan
diet gizi sehat dan seimbang, berolahraga,
dan mengontrol kadar glukosa darah, untuk
pencegahan penyakit Diabetes Mellitus juga
diperlukan pemeriksaan kadar glukosa darah
berkala atau teratur, pengaturan pola makan
merupakan pilar utama dalam pengelolaan
penyakit Diabetes Mellitus. Hal tersebut
disebabkan oleh faktor pendidikan.
Pendidikan responden tamat SD
sejumlah 29 orang (54,7%), tamat SMP
sejumlah 15 orang (28,3%), tamat SMA
sejumlah 7 orang (13,2%) dan
tamat

Korelaksi Antara Tingkat Pengetahuan Dan Kepatuhan Diet Dengan Terkontranya Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Di Desa Nyatyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
5

perguruan tinggi sejumlah 2 orang (3,8%).


Hal tersebut menunjukkan sebagian besar
tingkat pendidikan responden adalah rendah
(SD dan SMP). Pendidikan yang rendah
tersebut menyebabkan mereka sukar
menerima informasi dari luar, termasuk
tentang diabetes mellitus. Mereka juga pasif
untuk menggali informasi yang berkaitan
dengan
penyakit
tersebut,
sehingga
pengetahuan mereka tentang diabetes
rendah.
Hasil penelitian menggunakan kuesioner
menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan
penderita DM tentang diet diabetes mellitus
di Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran
Barat dalam kategori sedang sejumlah 19
orang (35,8%). Pengetahuan responden
dalam kategori sedang dimana mereka
mengetahui bahwa penyakit Diabetes
Melitus yang tergantung insulin yaitu tipe I,
penglihatan kabur, mulut kering, dan berat
badan menurun merupakan gejala-gejalanya,
sering kali merasakan lapar sehingga banyak
makan (polypagia) merupakan gejala yang
lain. Faktor usia, pola makan yang salah dan
kegemukan menjadi salah satu penyebab
penyakit Diabetes Mellitus tipe II. Diabetes
Mellitus dapat mengakibatkan gangguan
pendengaran,
cara
pencegahan
penyakit Diabetes Mellitus adalah dengan
diet gizi sehat dan seimbang, berolahraga
dan mengontrol kadar glukosa darah.
Tingkat pengetahuan penderita DM tentang
diet diabetes mellitus di Desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat dalam kategori
sedang disebabkan oleh faktor pekerjaan.
Penderita DM tipe II di Desa Nyatnyono
Kecamatam Ungaran Barat yang berkerja
sebagai PNS sebanyak 6 orang (11,3%),
yang bekerja sebagai buruh sebanyak 23
orang (43,4%), yang bekerja sebagai petani
sebanyak 6 orang (11,3%) dan hanya
sebagai ibu rumah tangga sebanyak 18
orang (34,0%). Hal tersebut menunjukkan
sebagian besar responden adalah pekerja.
Lingkungan
tempat
mereka
bekerja
mendukung bertambahnya interaksi dengan
orang lain yaitu teman bekerja. Mereka bisa
berbagi pengetahuan dan pengalaman
khususnya yang berkaitan dengan diabetes
mellitus. Semakin banyak mereka menggali
informasi dari lingkungan bekerja maka

pengetahua mereka tentang diabetes


semakin baik.
Berdasarkan studi kasus yang dilakukan
oleh Rusimah (2010) dapat diketahui bahwa
responden dengan tingkat pengetahuan
tinggi sebanyak 32,1%
patuh dengan
dietnya. Sedangkan responden dengan
tingkat pendidikan rendah sebanyak 44,4%
tidak patuh dengan dietnya. Hal ini
menggambarkan bahwa semakin rendah
tingkat pengetahuan maka semakin rendah
pula persentase responden yang patuh
terhadap
dietnya.
Hasil
penelitian
menunjukkan adanya hubungan yang
bermakna antara tingkat pengetahuan
dengan kepatuhan diet.
Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan
seseorang memperoleh pengalaman dan
pengetahuan baik secara langsung maupun
secara tidak langsung. Pekerjaan merupakan
faktor yang mempengaruhi pengetahuan.
Ditinjau dari jenis pekerjaan yang sering
berinteraksi dengan orang lain lebih banyak
pengetahuannya bila dibandingkan dengan
orang tanpa ada interaksi dengan orang lain.
Pengalaman belajar dalam bekerja yang
dikembangkan memberikan pengetahuan
dan
keterampilan
profesional
serta
pengalaman belajar dalam bekerja akan
dapat mengembangkan kemampuan dalam
mengambil keputusan yang merupakan
keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik
(Ratnawati, 2009).
Hasil penelitian dengan menggunakan
kuesioner menunjukkan bahwa tingkat
pengetahuan penderita DM tentang diet
diabetes mellitus di Desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat dalam kategori
baik sejumlah 14 orang (26,4%).
Pengetahuan responden dalam kategori baik
di
mana
mereka
mengetahui
penyakit diabetes mellitus adalah penyakit
kelebihan kadar glukosa dalam darah,
disebut juga dengan penyakit kencing
manis, penyakit diabetes melitus yang tidak
tergantung insulin merupakan diabetes
mellitus tipe II, salah satu gejala
penyakit diabetes mellitus adalah sering
buang air kecil, jika kadar glukosa darah
pada waktu puasa > 120 mg/dl dan kadar
glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl disebut

Korelaksi Antara Tingkat Pengetahuan Dan Kepatuhan Diet Dengan Terkontranya Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Di Desa Nyatyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
6

dengan diabetes mellitus. Hal tersebut


disebabkan oleh faktor informasi
Informasi adalah data yang telah
diproses ke dalam suatu bentuk yang
mempunyai arti bagi si penerima dan
mempunyai nilai nyata dan terasa bagi
keputusan saat ini atau keputusan
mendatang, informasi yang datang dari
pengirim pesan yang ditujukan kepada
penerima pesan. Sumber informasi adalah
segala sesuatu yang menjadi perantara
dalam penyambungan informasi baik media
maupun non media (Maulana, 2009).
Responden mendapat informasi tentang
diabetes melitus dari tenaga kesehatan yaitu
dokter atau bidan desa. Mereka mendapat
informasi dari dokter ketika melakukan
pemeriksaan kadar glukosa darah atau
ketika menjalani perawatan kesehatan.
Informasi yang diterima dari bidan desa
diperoleh ketika mengikuti posyandu lansia.
Salah satu kegiatan posyandu lansia adalah
memberikan
bimbingan
perawatan
kesehatan untuk lansia. Seumber informasi
yang lain bagi penderita diabetes adalah
penyuluhan yang diadakan oleh petugas
penyuluh kesehatan yang diberikan ketika
pelaksanaan posyandu lansia. Semakin
banyak informasi yang diperoleh maka
semakin baik pengetahuan responden
tentang diabetes mellitus.
Gambaran Kepatuhan Diet pada Penderita
Diabetes Mellitus Tipe II di Desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dari 53 penderita DM di Desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat yang tidak patuh
terhadap diet diabetes mellitus, yaitu
sejumlah 29 orang (54,7%). Responden
tidak patuh dalam melakukan diet
ditunjukkan dengan perilaku mereka apabila
diberikan semangka, pisang, sawo oleh
anggota keluarga maka akanmemakannya,
apabila lapar maka langsung makan tetapi
memperhatikan jadwal makan, sering lapar
dan ingin makan pada malam hari serta
makan 1 piring penuh setiap kali makan. Hal
tersebut disebabkan kurangnya dukungan
sosial keluarga.
Keluarga
kurang
mendukung
pelaksanaan diet yang dilakukan oleh

responden di mana keluarga kurang


memberikan dukungan informasi Mereka
kurang dalam memberi nasehat, petunjukpetunjuk, sarana-sarana atau umpan balik.
Keluarga kurang memberi semangat,
pemberian nasehat atau mengawasi tentang
pola makan sehari-hari dan pengobatan
sehingga responden tidak patuh dalam
melakukan diet terutama jumlah karbohidrat
yang dikonsumsi.
Keluarga dapat menjadi faktor yang
sangat berpengaruh dalam menentukan
keyakinan dan nilai kesehatan bagi individu
serta memainkan peran penting dalam
program perawatan dan pengobatan.
Pengaruh normatif pada keluarga dapat
memudahkan atau menghambat perilaku
kepatuhan, selain dukungan keluarga,
dukungan tenaga kesehatan diperlukan
untuk mempertinggi tingkat kepatuhan,
dimana tenaga kesehatan adalah seseorang
yang berstatus tinggi bagi kebanyakan
pasien, sehingga apa yang dianjurkan akan
dilaksanakan (Bart, 2004).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dari 53 penderita DM di Desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat yang patuh
terhadap diet diabetes mellitus, yaitu
sejumlah 25 orang (45,3%). Responden
patuh dalam melakukan diet ditunjukkan
dengan mengkonsumsi glukosa khusus,
mengkonsumsi makanan pengganti seperti
kentang dan ubi, menepati jadwal makan
yaitu 3 kali sehari, memperhatikan jumlah
makanan setiap kali makan, banyak
mengkonsumsi asupan serat larut air seperti
buah-buahan dan sayur-sayuran. Responden
patuh dalam melakukan diet di dukung oleh
pengetahuan mereka yang baik tentang
diabetes mellitus.
Berdasarkan studi kasus yang dilakukan
oelh Febriana (2005), kadar glukosa darah
buruk (>200mg/dL) dengan presentase
terbanyak pada sampel dengan pola makan
tidak baik (41,20%). Hasil penelitian
menunjukkan ada hubungan yang signifikan
antara pola makan dengan kadar glukosa
darah pada penderita diabetes mellitus.
Pengaturan diet yang sesuai anjuran yaitu 3
(jam, jenis, dan jumlah) mengakibatkan
asupan zat gizi akan tersebar sepanjang hari
sudah terbukti mampu meningkatkan

Korelaksi Antara Tingkat Pengetahuan Dan Kepatuhan Diet Dengan Terkontranya Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Di Desa Nyatyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
7

kestabilan kadar glukosa darah menjadi


lebih baik (Waspadji, 2009).
Responden mempunyai pengetahuan
yang baik tentang diabetes mellitus dimana
mereka
mengetahui
penyakit diabetes
mellitus adalah penyakit kelebihan kadar
glukosa dalam darah, disebut juga dengan
penyakit kencing manis, penyakit diabetes
melitus yang tidak tergantung insulin
merupakan diabetes mellitus tipe II, salah
satu gejala penyakit diabetes mellitus adalah
sering buang air kecil, jika kadar glukosa
darah pada waktu puasa > 120 mg/dl dan
kadar glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl
disebut
dengan
diabetes
mellitus.
Pengetahuan mereka yang baik tentang
diabetes tersebet mendukung kepatuhan
mereka dalam menjalani diet dan lebih hatihati dalam mengkonsumsi makanan seharihari.
Pengetahuan tentang penyakit diabetes
melitus pada penderita diabtes melitus, akan
mendukung dalam penatalaksanaan diet
diabetes melitus terhadap normalnya
glukosa darah. Apabila tingkat pengetahuan
tinggi maka diharapkan pasien taat dalam
melaksanakan
dietnya
dan
apabila
pengetahuan pasien kurang maka pasien
kurang taat dalam melaksanakan dietnya.
Dari kepatuhan atau ketaatan diharapkan
dapat menjaga kadar glukosa darah dan
terjadinya
komplikasi
lebih
lanjut
(Notoatmodjo, 2003).
Gambaran Kadar Glukosa Darah Puasa
Penderita Diabetes Melitus Tipe II di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat
Hasil penelitian dengan menggunakan
kuesioner menunjukkan bahwa dari 53
penderita DM di Desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat yang memiliki
kadar glukosa darah yang tidak terkontrol
sejumlah 28 orang (52,8%). Kadar glukosa
darah dapat dikontrol dengan tiga cara yakni
menjaga berat badan ideal, diet makanan
seimbang dan melakukan olahraga atau
latihan fisik. Seiring dengan berjalannya
waktu, ketiga cara tersebut sering kali
kurang memadai lagi. Kadar glukosa darah
mungkin tidak terkontrol dengan baik. Pada
keadaan yang seperti inilah baru diperlukan
Obat Anti Diabetes (OAD). Jadi, pada

dasarnya obat baru diperlukan jika dengan


cara diet dan olahraga glukosa darah belum
terkontrol dengan baik. Responden tidak
dapat mengontrol kadar glukosa darahnya,
sehingga glukosa darahnya meningkat atau
tidak bisa mendekati kadar normalnya. Hal
tersebut disebabkan mereka tidak dapar
mengendalikan asupan makanan setiap
harinya.
Asupan karbohidrat dalam jumlah yang
berlebihan dengan glycemic index (GI) yang
tinggi akan dapat mengganggu kesehatan
tubuh dalam hal ini adalah penyakit diabetes
mellitus. Ketika karbohidrat di pecah dan
glukosa dilepaskan ke dalam darah,
kehadiran glukosa ini memberi tanda
pancreas untuk mengeluarkan insulin, yaitu
suatu hormone yang menagangkat glukosa
ke dalam sel-sel tubuh. Jika karbohidrat
mempunyai glycemic index yang tinggi
maka glukosa akan menyebar ke dalam
system tubuh dan insulin, juga akan
dikeluarkan dengan cepat, sehingga akan
berdampak meningkatnya hormone insulin,
jika terjadi berulang kali dapat menaikkan
kadar glukosa dalam darah (Wirakusumah,
2004).
Kelebihan asupan lemak terutama jenis
lemak jenuh juga dapat menurunkan
efektifitas insulin. Semakin tinggi kadar
asam lemak jenuh di dalam sel maka
resistensi insulin semakin tinggi pula.
Disamping itu, asupan lemak yang tinggi,
juga dapat menyebabkan kegemukan.
Akibatnya, jumlah insulin tidak cukup untuk
mempertahankan kadar glukosa dalam batas
normal. Selain itu, lemak jenuh harus
diwaspadai karena berhubungan dengan
komplikasi klinis yang biasanya ditemui
pada
penderita
diabetes
mellitus
(Wirakusumah, 2004).
Hasil penelitian dengan menggunakan
kuesioner menunjukkan bahwa dari 53
penderita DM di Desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat yang memiliki
kadar glukosa darah yang terkontrol
sejumlah 25 orang (47,2%). Responden
dapat mengontrol kadar glukosa darah
dengan baik dimana mereka patuh
menjalankan diet, menghindari cemas dan
stres. Upaya yang responden lakukan untuk
menjaga kadar glukosa darah diantaranya

Korelaksi Antara Tingkat Pengetahuan Dan Kepatuhan Diet Dengan Terkontranya Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Di Desa Nyatyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
8

melakukan tes glukosa darah sebelum


makan dan 2 jam setelah makan. Tes ini
dapat menentukan seberapa baik obat untuk
mengontrol glukosa darah. Tes ini juga akan
menjelaskan jenis-jenis makanan yang
meningkatkan kadar glukosa darah dan
karena itu harus dihindari. Mereka juga
memeriksa makanan dan minuman yang
dikonsumsi Jika menemukan yang mungkin
menjadi pemicu, maka mereka menghindari
makanan tersebut serta rajin melakukan
konsultasi dengan tenaga kesehatan yaitu
dokter.
Analisis Bivariat
Hubungan antara Tingkat Pengetahuan
dengan Terkontrolnya Kadar Glukosa
Darah pada Penderita DM di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat,
2013
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
responden dengan pengetahuan kurang
sebagian besar memiliki kadar glukosa
darah yang tidak terkontrol sejumlah 15
orang (75,0%). Responden tidak mengetahui
bahwa penyakit Diabetes Mellitus disebut
juga dengan penyakit kencing manis dengan
gejala sering buang air kecil, penglihatan
kabur, mulut kering, dan berat badan.
Mereka juga tidak mengetahui bahwa berat
badan berlebih atau kegemukan merupakan
faktor resiko terjadinya Diabetes Mellitus
tipe II. Responden tidak mengetahui bahwa
diabetes
menyebabkan
terganggu
penglihatanya
(matanya),
gangguan
pendengaran, menyebabkan luka menjadi
sukar sembuh. Mereka tidak mengetahui
bahwa cara pencegahan penyakit diabetes
mellitus adalah dengan diet gizi sehat dan
seimbang, berolahraga dan mengontrol
kadar glukosa darah sehingga mereka tidak
menghindari makanan yang manis seperti es
krim, durian dan sawo dan tidak
memperhatikan jadwal makan. Hal tersebut
disebabkan oleh faktor umur dari responden.
Umur adalah umur individu yang
terhitung mulai saat dilahirkan sampai
berulang tahun. Semakin cukup umur,
tingkat kematangan dan kekuatan seseorang
akan lebih matang dalam berfikir dan
bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat
seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari

orang yang belum tinggi kedewasaannya.


Hal ini akan menjadi pengalaman dan
kematangan jiwa. Menurut WHO, umur
merupakan salah satu faktor penyebab
kenaikan kadar glukosa darah. Tiap
penambahan umur, kadar glukosa darah
akan naik 5,6-13 mg/dl pada 2 jam sesudah
makan (Fox & Kilvert, 2010).
Hasil penelitian dengan menggunakan
kuesioner menunjukkan bahwa responden
dengan pengetahuan sedang sebagian besar
memiliki kadar glukosa darah yang
terkontrol sejumlah 10 orang (52,6%).
Responden mempunyai pengetahuan yang
cukup baik tentang penyakit Diabetes
Melitus, di mana mereka tahu Diabetes
Mellitus tipe I tergantung insulin, berat
badan berlebih atau kegemukan merupakan
faktor resiko, pola makan yang salah
merupakan faktor penyebab. Mereka juga
mengetahui
rajin
berolahraga
dapat
mengontrol kadar glukosa darah penderita
diabetes melitus, pengetahuan yang cukup
baik tersebut mendorong mereka untuk
mengkonsumsi makanan yang disediakan
oleh keluarga sesuai dengan proporsi dan
terjadwal dengan baik. Hasil tersebut
dipengaruhi oleh pengalaman mereka
selama menderita diabetes mellitus.
Pengalaman merupakan guru yang
terbaik (experient is the best teacher),
pepatah tersebut bisa diartikan bahwa
pemngalaman
merupakan
sumber
pengetahuan,
atau
pengalaman
itu
merupakan suatu cara untuk memperoleh
suatu kebenaran pengetahuan. Oleh sebab
itu pengalaman pribadi pun dapat dijadikan
sebagai
upaya
untuk
memperoleh
pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara
menglukosang kembali pengetahuan yang
diperoleh dalam memecahkan persoalan
yang dihadapi pada masa lalu (Notoatmodjo,
2002).
Pengalaman akan menghasilkan
pemahaman yang berbeda bagi tiap
individu, maka pengalaman mempunyai
kaitan dengan pengetahuan. seseorang yang
mempunyai pengalaman banyak akan
menambah pengetahuan (Cherin, 2009).
Hasil penelitian dengan menggunakan
kuesioner menunjukkan bahwa responden
dengan pengetahuan baik sebagian besar
juta memiliki kadar glukosa darah yang

Korelaksi Antara Tingkat Pengetahuan Dan Kepatuhan Diet Dengan Terkontranya Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Di Desa Nyatyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
9

terkontrol sejumlah 10 orang (71,4%).


Responden mempunyai pengetahuan yang
baik tentang diabetes mellitus di mana
mereka
mengetahui
penyakit Diabetes
Mellitus adalah penyakit kelebihan kadar
glukosa dalam darah, disebut juga dengan
penyakit kencing manis, yang tergantung
insulin
untuk
tipe
I,
penglihatan
kabur, mulut kering, dan berat badan
menurun
merupakan
gejala-gejala
penyakit Diabetes Mellitus., pola makan yang
salah merupakan faktor penyebab timbulnya
penyakit Diabetes Mellitus tipe II sehingga
mereka menghindari makanan yang manis
seperti es krim, durian, dan sawo, memakai
glukosa khusus,
sering mengkonsumsi
makanan yang disediakan oleh keluarga,
memperhatikan jadwal makan. Hal ini
didukung oleh lingkungan keluarga yang
baik.
Lingkungan merupakan seluruh kondisi
yang
ada
disekitar
manusia
dan
pengaruhnya yang dapat mempengaruhi
perkembangan dan perilaku orang atau
kelompok (Nursalam, 2003). Lingkungan
merupakan segala sesuatu yang berada
disekitar manusia serta pengaruh-pengaruh
luas yang mempengaruhi perkembangan
manusia. Menurut berbagai penelitian,
lingkungan akan membentuk kepribadian
seseorang dimana lingkungan yang banyak
menyediakan informasi akan menambah
pengetahuan seseorang (Notoatmojo, 2003)
Berdasarkan uji Chi Square diperoleh
nilai 2 = 7,478 dengan p-value 0,024.
Terlihat bahwa p-value = 0,024 < (0,05),
maka Ho ditolak, dan disimpulkan bahwa
ada hubungan yang signifikan antara tingkat
pengetahuan dengan terkontrolnya kadar
glukosa darah pada penderita DM di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat.
Pengetahuan tentang definisi diabetes
mellitus, penyebab, tanda dan gejala
diabetes
mellitus,
pencegahan
serta
penatalaksanaan atau pengobatan diabetes
mellitus agar glukosa darah tetap terkontrol
dapat menimbulkan respon batin dalam
bentuk perubahan. Peningkatan pengetahuan
sendiri tidak selalu menyebabkan terjadinya
suatu perubahan secara langsung sebagai
respon terhadap kesadran, tetapi efek
komulatif dari peningkatan kesadaran,

pengetahuan berkaitan dengan nilai,


keyakinan, kepercayaan, minat, disiplin
serta taat dalam berperilaku, termasuk
perilaku yang berkaitan dengan bagaimana
menjaga kadar glukosa darah agar tetap
terkontrol.
Hubungan antara Kepatuhan Diet dengan
Terkontrolnya Kadar Glukosa Darah pada
Penderita DM di Desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat, 2013
Hasil penelitian dengan menggunakan
kuesioner menunjukkan bahwa responden
yang tidak patuh dalam melakukan diet DM
memiliki kadar glukosa darah yang tidak
terkontrol sejumlah 22 orang (75,9%).
Responden yang tidak patuh dalam
melakukan diet DM ditunjukkan dengan
tidak menghindari makanan yang manis
seperti es krim, durian, dan sawo,
mengkonsumsi makanan yang disediakan
oleh keluarga tidak sesuai jadwal, makan
pada malam hari, tidak memperhatikan
jumlah makanan setiap kali makan sehingga
kadar glukosa darah tidak terkontrol. Hal
tersebut disebabkan oleh gaya hidup yang
tidak sehat dan sikap yang negative terhadap
diabetes.
Hasil penelitian dengan menggunakan
kuesioner menunjukkan bahwa responden
yang patuh dalam melakukan diet DM
memiliki kadar glukosa darah yang
terkontrol sejumlah 18 orang (75,0%).
Responden yang patuh dalam melakukan
diet DM ditunjukkan dengan memakai
glukosa khusus, jadwal makan saya adalah 3
kali sehari, makan 1 piring penuh setiap kali
makan, banyak mengkonsumsi asupan serat
larut air seperti buah-buahan dan sayursayuran sehingga kadar glukosa darahnya
terkontrol.
Berdasarkan uji Chi Square diperoleh
nilai 2 = 11,668 dengan p-value 0,001.
Terlihat bahwa p-value = 0,001 < (0,05),
maka Ho ditolak, dan disimpulkan bahwa
ada hubungan yang signifikan antara
kepatuhan diet diabetes mellitus dengan
terkontrolnya kadar glukosa darah pada
penderita DM di Desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat.

Korelaksi Antara Tingkat Pengetahuan Dan Kepatuhan Diet Dengan Terkontranya Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Di Desa Nyatyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
10

PENUTUP
Kesimpulan
Gambaran
tingkat
pengetahuan
penderita DM tentang diet diabetes mellitus
di Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran
Barat setelah dilakukan penelitian dengan
pengisian kuesioner didapatkan jawaban
bahwa pengetahuan responden paling
banyak dalam kategori kurang, yaitu
sejumlah 20 orang (37,7%), sedangkan yang
sedang sejumlah 19 orang (35,8%), dan
responden dengan pengetahuan baik
sejumlah 14 orang (26,4%).
Gambaran Kepatuhan diet pada
penderita diabetes mellitus tipe II di Desa
Nyatnyono Kecamatan
Ungaran Barat
setelah dilakukan penelitian dengan
menggunakan kuesioner yang dijawab oleh
responden didapatkan data bahwa lebih
banyak responden yang tidak patuh yaitu
sejumlah 29 orang (54,7%) daripada yang
patuh sejumlah 25 orang (45,3%).
Gambaran Kadar glukosa darah puasa
penderita diabetes melitus tipe II di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat
setelah dilakukan penelitian dengan
dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah
puasa didapatkan data bahwa lebih banyak
responden yang memiliki kadar glukosa
darah yang tidak terkontrol, yaitu sejumlah
28 orang (52,8%) dari pada yang terkontrol
sejumlah 25 orang (47,2%).
Ada hubungan yang signifikan antara
tingkat pengetahuan dengan terkontrolnya
kadar glukosa darah pada penderita DM di
Desa Nyatnyono Kec. Ungaran Barat,
dengan p-value = 0,024 < (0,05)
Ada hubungan yang signifikan antara
kepatuhan diet diabetes mellitus dengan
terkontrolnya kadar glukosa darah pada
penderita DM di Desa Nyatnyono Kec.
Ungaran Barat, p-value = 0,001 < (0,05).
Saran
Penelitian dapat memberikan informasi
kepada pasien dan keluarga sehingga
diharapkan pasien dan keluarga pengetahuan
bertambah dan dapat mematuhi diet DM
sehingga kadar glukosa darah dapat tetap
terkontrol serta bagi para penderita
hendaknya lebih aktif dalam menggali dan
mencari

informasi khususnya tentang diabetes


mellitus kaitannya dengan diet dan cara
pengontrolan glukosa darah dengan cara
membaca, melihat, mendengarkan dari
media elektronik ataupun rajin mengikuti
seminar tentang diabetes mellitus.
DAFTAR PUSTAKA
Adam, J. M. F. (2011). Klasifikasi Dan Criteria
Diagnosis Diabetes Mellitus Yang Baru,
cermin dunia kedokteran, Juli 2012,
from
http://www.kompas.com/kesehatan/new
s/.htm.
Anne Kilvert, (2010). Bersahabat Dengan
Diabetes Tipe II,diabetes yang tidak
tergantung pada insulin. Jakarta : Niaga
Swadaya.
Almatsier S, (2007). Penuntun Diet. Jakarta :
Ikrar Mandiriabadi.
Arikunto. (2006). Metodologi penelitian suatu
pendektan praktek edisi 5. Jakarta:
Rineka Cipta.
Askandar.(2000). Penyakit diabetes mellitus.
Jakrta : Bumi Aksara.
Aziz, A.H. (2008). Riset keperawatan dan teknik
penulisan ilmiah. Jakarta: Salemba
Medika.
Brunner
&Suddarth,
(2001).Buku
Ajar
KeperawatanMedikalBedah.Jakarta
:BukuKedokteran EGC.
Corwin. (2007). , Handbook Of Pathophysiology
3rd Ed. Lippincott Williams & Wilkins:
USA.
DKK, (2010). Profil dinas kesehatan kabupaten
semarang. Jawa tengah.
Fox

Charles, (2010). Bersahabat Dengan


Diabetes
Tipe
I,diabetes
yang
tergantung pada insulin. Jakarta : Niaga
Swadaya.

Fox & Kilvert. (2010). Bershabat dengan


diabetes tipe II. Jakarta : Penebar Plus.
Garnadi Y, (2012). Hidup Nyaman Dengan
Diabetes Mellitus. Jakarta : AgroMedia
Pustaka.

Korelaksi Antara Tingkat Pengetahuan Dan Kepatuhan Diet Dengan Terkontranya Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Di Desa Nyatyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
11

Grover, J.K. Dan Yadan S.P. (2004). Medicinal


Plants Of India With Anti-Diabetes
Potensial
journal
of
ethnopharmacology juli 2012. From
http://www.kompas.com
kesehatan/news/htm.

Sugiyono. (2009). Metode penelitian kuantitatif,


kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Gunawan, sulistia. (2001). Farmakologi Dan


Terapi. Jakarta : Universitas Indonesia.

Sulisno. (2009). Dasar-dasar Etika Dalam


Praktik Keperawatan dan Kebidanan.
Semarang : Hasani.

Hasan Badawi. (2009). Melawan dan Mencegah


Diabetes Mellitus. Yogyakarta : Araska.
Notoatmodjo. (2003). Pendidikan dan Perilaku
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmodjo. (2005). Promosi Kesehatan Teori
& Aplikasi. Jakarta : EGC.
Notoatmodjo S, (2010). Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta : Asdi Mahasatya.

Sukardji. (2009). Penatalaksanaan diabetes


mellitus terpadu. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Wawan A. Dewi M. (2010). Pengetahuan, Sikap


dan Perilaku Manusia. Yogyakarta :
Nuha Medika.
Waspadji. (2009). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II,
Jakarta : Penerbit FKUI.
Wilson & Price. (2002). Patofisiologi. Jilid 2.
Jakarta: EGC.

Nugroho T, (2011). Asuhan Keperawatan


Maternitas, Anak, Bedah dan Penyakit
Dalam. Yogyakarta : Nuha Medika.
Nursalam, P.S. (2003). Pendekatan praktis
metodologi riset keperawatan. Jakarta :
CV Sagung Seto.
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika.
Nurrahman U, (2012). Stop Diabetes Mellitus,
Mengenal Diabetes Mellitus Dalam
Keluarga Sejak Dini. Yogyakarta :
Familia.
Perkeni. (2006). konsensus pengelolaan dan
pencegahan diabetes mellitus tipe 2
di Indonesia. Jakarta: Perkeni.
Pinzon,R. (2011), Diabetes di Indonesia,
Retrived, Juli 10, 2012, from :
http://www.sehatbebaspenyakit.com/diabetes-diindonesia.
Suyono

S, Soegondo S. ( 2007 ).
Penatalaksanaan Diadetes Mellitus
Terpadu, Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Smeltzer & Bare. (2002). Buku keperawatan


medikal bedah. Jakarta : EGC.
Sugiyono. (2006). Statistika untuk penelitian,
Cekatan 9, Bandung: Alfabeta.
Korelaksi Antara Tingkat Pengetahuan Dan Kepatuhan Diet Dengan Terkontranya Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Di Desa Nyatyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
12