Anda di halaman 1dari 36

BAB VIII

METODE TITRIMETRI (VOLUMETRI) UNTUK ANALISA


Analisis titrimetri merupakan salah satu bagian utama kimia
analisa

dan

hubungan

perhitungan

stoikiometri

yang

digunakan

sederhana

dari

didasarkan

reaksi

kimia.

pada
Analisa

volumetri didasarkan pada pengukuran volume sejumlah larutan


pereaksi yang diperlukan untuk bereaksi dengan senyawa yang
hendak ditentukan.
Kelebihan analisa titrimetri dari analisa gravimetri :
-

Mengukur volume lebih cepat dari pada menimbang.

Akurasinya sama dengan analisa gravimetri.

Analisa yang dilakukan lebih cepat.

Metode yang dilakukan pada analisa gravimetri :


Zat yang akan dianalisa dibiarkan bereaksi dengan zat lain yang
konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk
larutan.

Larutan

perekasi

yang

digunakan

untuk

penentuan

volumetri disebut larutan baku. Konsentrasi larutan yang tidak


diketahui (analit) kemudian dihitung.
Syarat-syarat analisa titrimetri :
1. Reaksi antara larutan baku dan zat yang hendak ditentukan
harus berjalan secara kuantitatif dan stoikiometrik.
2. Reaksi harus berjalan cepat, yaitu secara praktis hanya sekejap.
3. Konsentrasi senyawa dalam larutan baku harus betul-betul
diketahui atau harus dapat ditentukan dengan percobaan
blanko.
4. Titik akhir penentuan titrimetrik harus dapat ditentukan dengan
indikator visual atau secara elektrometrik.

48

Suatu metode titrimetri untuk analisa didasarkan pada suatu reaksi


kimia seperti ,
aA

tT

produk

dimana a molekul analit A, bereaksi dengan t molekul


reagensia T. Reagensia T (titran) ditambahkan sedikit demi
sedikit (secara inkremental) dalam buret, dalam bentuk larutan
yang konsentrasinya diketahui. Titran (larutan standar) dapat
diketahui konsentrasinya dengan penetapan oleh suatu proses
yang disebut standardisasi.

Penambahan titran diteruskan sampai telah dimasukkan


sejumlah T yang secara kimia setara dengan A. Maka dikatakan
telah tercapai titik ekivalen.

Untuk mengetahui kapan penambahan titran itu harus


dihentikan digunakan suatu zat yang disebut indikator, yang
menanggapi munculnya kelebihan titran dengan perubahan
warna.

Perubahan warna ini dapat atau tidak dapat tepat pada titik
ekivalen. Titik dalam titrasi pada saat indikator berubah warna
disebut titik akhir. Tentu saja diinginkan agar titik akhir sedekat
mungkin ke titik ekivalen. Dengan memilih indikator untuk
mengimpitkan kedua titik itu )atau mengkoreksi selisih antara
keduanya) merupakan salah satu aspek yang pentik dari analisa
titrimetri.

Reaksi yang digunakan untuk titrasi


Reaksi kimia yang dapat berperan sebagai dasar untuk penetapan
titrimetri dikelompokkan dalam 4 (empat) jenis,
1. Titrasi Asam Basa
Meliputi reaksi asam dan basa kuat maupun lemah.
Jika HA = asam dan BOH = basa, malka reaksinya adalah :
HA
BOH

+
+

OHH3O+

A-

H2O
B+

49

dan
2H2O

Umumnya titran adalah larutan standar elektrolit kuat, seperti


natrium hidroksida (NaOH) dan asam klorida (HCl).
2. Titrasi Redoks
Adalah titrasi yang meliputi hampir semua reaksi oksidasi
reduksi. Misalnya,
-

Besi dalam keadaan oksidasi +2 dapat dititrasi dengan


suatu larutan standar serium (IV) sulfat.

Fe2+ + Ce4+

Fe3+ + Ce3+

Kalium permanganat, KmnO4 dengan besi (II) dalam larutan


asam.

5Fe2+ + MnO4- + 8H+

5Fe3+

Mn 2+

4H2O
3. Titrasi Pengendapan
Pengendapan kation perak dengan anion halogen merupakan
titrimetri

pengendapan

yang

sering

digunakan.

Reaksinya

adalah,
Ag+

X-

AgX (s)

Dimana X- dapat berupa klorida, bromida, iodida atau tiosianat


(SCN-).
4. Titrasi Kompleksometri (pembentukan kompleks)
Sebagian besar meliputi titrasi EDTA (asam etilenadiamina
tetraasetat)
Semua metode titrimetri tergantung pada larutan standar yang
mengandung sejumlah reagen persatuan volume larutan dengan
ketetapan yang tinggi.
Konsentrasi dinyatakan dalam normalitas (gr.ek/L).
Larutan standar disiapkan dengan menimbang reagen murni secara
tepat, karena tidak semua standar tersedia dalam keadaan murni.

50

Oleh karena itu dikenal standar primer, yaitu zat yang tersedia
dalam komposisi kimia yang jelas dan murni.
-

Larutan tersebut hanya bereaksi pada kondisi titrasi dan tidak


melakukan reaksi samping, tidak berubah ataupun bereaksi
ditempat terbuka (atmosfer).

Garam terhidrat tidak baik untuk larutan standar primer.

Berat ekivalennya sebaiknya besar, untuk menghindarkan


kesalahan akibat penimbangan.

Bila suatu asam atau basa maka hendaknya mempunyai


tetapan ionisasi yang besar.

Standar

primer

yang

biasa

digunakan

dalam

analisa

titrimetri adalah :
a. Asam

: C6H4(COOK)(COOH), C6H5COOH, HCl, H2SO4,


SO2(NH2)OH, KHIO3.

b. Basa

: Na2CO3, MgO dan Na3B4O7.

c. Oksidator : K2Cr2O7, (NH4)2 Ce(NO3)6, KBrO3, KIO3, KH(IO3)2, I2.


d. Reduktor

: Na2C2O4, Fe(N2H4N2H6)(SO4)2.4H2OFe, K4Fe(CN)6.

e. Lain-lain : NaCl, KCl

51

BAB IX
TITRASI ASAM BASSA
Titrasi asam basa dapat memberikan titik akhir yang cukup
tajam dan untuk itu digunakan pengamatan dengan indikator bila
pH pada titik ekivalen antara 4-10. Demikian juga titik akhir titrasi
akan tajam pada tirasi asam atau basa lemah jika pentitrasian
adalah basa atau asam kuat dengan perbandingan tetapan
disosiasi asam lebih besar dari 104. Selama titrasi asam basa, pH
larutan berubah secara khas. pH berubah secara drastis bila
volume titrannya mencapai titik ekivalen. Kecuraman perubahan
pH untuk tiga asam yang berbeda terlihat pada kurva titrsi pada
gambar dibawah ini. Kesalahan titik akhir dan pH pada titik ekivalen
merupakan tujuan pembuatan kurva titrasi. Kurva ini dapat
dimodifikasi dengan menggunakan pelarut bukan air.

52

Pada reaksi asam basa, proton di tranfer dari suatu molekul


ke molekul lain. Dalam air, proton biasanya tersolvasi sebagai HO.
Reaksi asam basa bersifat reversiblel. Reaksi dapat digambarkan
sebagai berikut:
H3O+ + A-

HA + H2O

air sebagai basa

BH+ + OH-

B + H2O

air sebagai asam

Di sini [A-] adalah basa konjugasi, H +B adalah asam konjugasi.


Berarti secara umum:
Asam + basa

basa konjugasi + asam konjugasi

CH3COOH + H2O

CH3COO- + H3O+

[basa]

CH3COO-

CH3COOH + OH-

[asam]

+ H2O
Ka

Disini
Jika K w
mungkin

H OH

H2O

untuk

H3O A
HA H2O

dan

HBOH

B-

adalah hasil kali ionik air, maka adalah


menyatakan

H+

53

dalam

persamaan

yang

mengandung suku Ka, Kb dan Kw untuk kombinasi berbagai tipe


asam kuat dan lemah serta basa.

[H+]

Titrasi
Umum

K aK w (a K )
b
K b (a K a )

Ka [H+]

Kw

Ka [OH-]

Asam kuat basa kuat


Basa kuat asam lemah

K aK w

Asam kuat basa lemah

K W a/a

lemah

[HA] = [OH-]

K aK

Asam lemah basa lemah


Asam

Pendekatan

berbasa

[B] = [H+]

[B] = [HA]

[H3A] = [A-]

K K
1 2

dua

Adalah mungkin untuk menyatakan H + dalam persamaan


yang mengandung suku Ka, Kb dan Kw untuk kombinasi berbagai
tipe asam kuat dan lemah serta basa. Sebagian besar titrasi asam
basa dilakukan pada temperatur kamar, kecuali titrasi yang
meliputi basa-basa yang mengandung CO2. Jadi titrasi dengan
Na2CO3 dilakukan pada temperatur 00C. Temperatur mempengaruhi
titrasi asam basa. pH dan perubahan warna indikator tergantung
secara tidak langsung pada temperatur. Ka akan bertambah besar
dengan

kenaikan

temperatur

sampai

suatu

batas

tertentu,

kemudian akan turun kembali pada kenaikan lebih lanjut. Ini sesuai
dengan

turunnya

tetapan

dielektrikum

air

dengan

kenaikan

temperatur sehingga air sulit untuk memisahkan muatan ionik. Jika


tetapan ionisasi semakin kecil, maka makin tergantung pada
temperatur.
Kurva Titrasi Asam-Basa

54

Hal

ini

berguna

untuk

membentuk

kurva

titrasi

dengan

mempertimbangkan aspek kesetimbangan dari reaksi asam-basa.


Pada kurva tersebut kita mengamati perubahan terhadap pH baik
sebelum maupun sesudah titik ekivalen dan perubahan drastis
pada sekitar titik ekivalen dengan hanya penambahan sedikit
volume titran. Kita akan membahas sedikit tipe kurva titrasi:
a. asam kuat dan basa kuat
Contoh:
Jika 50 mL 0,1 M HCl dititrasi terhadap 0,1 N NaOH, hitung pH pada
saat mulai titrasi dan setelah penambahan 10, 50, 60 mL NaOH.
Lukiskan perubahan demikian dengan kurva titrasi yang sesuai.
Jawab:
1) pH mula-mula:
Karena HCl asam kuat ia terurai sempurna menjadi [H3O+] = 0,1
pH = - log [0,1] = 1
2) pH setelah penambahan 10 mL basa
[R] VT =
Dimana:

V M -V M
R R
T T
(VR VT )

VR = volume pereaksi
VT = volume titran
MR = molaritas pereaksi
MT = molaritas titran

[H3O+] =

(50 0,1) - (10 0,1)


= 6,67 10-2 M
(50 10)

pH = -log [6,67 10-2] = 2 log 6,67 = 1,18


3) pH pada titik ekivalen: titik ini tercapai pada 50 mL NaOH
ditambahkan sehingga larutan menjadi netral [H3O+] = [OH-] = 1
10-7, sehingga pH = 7,0 (karena

-14
Kw = 1 10 )

4) pH setelah penambahan 60 mL basa.


[R] VT =

V M -V M
T T
R R
(V V )
T
R

55

(60 0,1) - (50 0,1)


1

0,0091 M = [OH-]
110
(60 50)

pOH = - log [0,0091] = 3 log 9,1


pH = 14 3 + log 9,1 = 11,96

Kurva Titrasi Basa Kuat dan Asam Kuat


14
12

pH

10
8
6
4
2
0
0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

110 120

mL NaOH 0,1 M

Ml NaOH

Volume total

[H3O+]

pH

0,1

1,0

(mL)
50

10

60

0,0667

1,18

20

70

0,0429

1,37

30

80

0,025

1,60

40

90

0,0111

1,95

50

100

1 10-7

7,0

50,1

100,1

0,0001

10

60

110

0,0091

11,96

70

120

0,0167

12,22

80

130

0,0231

12,36

90

140

0,0286

12,46

100

150

0,0333

12,52

110

160

0,0375

12,57

56

120

170

0,0412

12,61

b. basa kuat dan asam lemah


Contoh:
Jika 50 mL asam lemah 0,1 M HB (Ka = 10 -5) dititrasi terhadap 0,1 N
NaOH. Hitung pH pada saat mulai titrasi dan setelah penambahan
10, 50, 60 mL NaOH. Lukiskan perubahan demikian dengan kurva
titrasi yang sesuai.
Jawab:
Kita harus mempertimbangkan berbagai disosiasi seperti:
HB + H2O

H3O+ + B-

Ka = 1 10-5 (disosiasi basa

HB + OH-

Kb = 1 10-9 (disosiasi basa

lemah)
B- + H2O
lemah)
2H2O
HB + OH-

Kw = 1 10-14 (disosiasi air)

H3O+ + OH-

Kt = 1 10+9 (kebalikan reaksi

B- + H2O

titrasi)
Maka Ka Kb = Kw

dan Kt = 1/Kb

57

1) pH mula-mula:
[H3O+] = [B-]
[HB] = 0,1 - [H3O+] = 0,1
[H O ][B - ]
3
Ka =
[HB]

1 10

-5

[H O ] 2
= 3
[0,1]

[H3O+] =

1 10 -5 0,1 1 10 -3

pH = - log [1 10-3] = 3,0


2) pH setelah penambahan 10 mL basa. Jika berlangsung baik, Kt
= 1 10+9
[R] VR =

V M -V M
R R
T T
(V V )
R
T

Ka = 1 10-5 =

(50 0,1) - (10 0,1)


0,0667
(50 10)

[H O ][B - ]
[H O ][0,0167]
3
3
=
[HB]
[0,0667]

sehingga

larutan
[H3O+] = 4 10-5
pH = - log [4 10-5] = 5 log 4 = 4,40atau pH = pKa log

[HB]
[B ]

3) pH pada titik ekivalen: titik ini tercapai pada 50 mL NaOH [B -] =


0,05
karena [HB] = [OH-]
kita menggunakan sebuah ekspresi untuk Kb sebagai,
Kb = 1 10-9 =

[HB][OH - ] [OH- ] 2 [OH- ] 2

0,05
[B - ]
[B - ]

5 10 -11 = [OH-]2

[OH-] =

5 10 - 11 7,07 10 - 6

pOH = - log [7,07 10-6] = 5,15


pH = 14 5,15 = 8,85

58

4) pH setelah penambahan 60 mL basa, kita sekarang mempunyai


kelebihan NaOH.
[R]VT =

V M -V M
T T
R R
(V V )
T
R

(60 0,1) - (50 0,1)


1

0,0091 M =
110
(60 50)

[OH-]
pOH = - log [0,0091] = 3 log 9,1
pH = 14 3 + log 9,1 = 11,96
Kurva Titrasi Basa Kuat dan Asam Kuat
14
12
10

pH

8
6
4
2
0
0

10

20

30

40

Volume total

50

60

70

80

90

mL NaOH 0,1 M

100 110 120

pH

(mL)
50

[H3O+]

1 10-3

3,0

10

60

4 10-5

4,40

20

70

1,5 10

30

80

6,67 10

40

90

2,5 10-6

50

100

50,1

100,1

9,9 10-5 (OH-)

10

60

110

11,96

70

120

9,1 10-3 (OH-)


1,67 10-2

80

130

90

140

mL NaOH

5 10

-11

5,17

-6

5,60
-

(OH )

(OH-)
2,31 10-2
(OH-)
2,86 10-2

59

4,82

-6

8,85

12,22
12,36
12,46

100

150

110

160

120

170

(OH-)
3,33 10-2

12,52

(OH-)
3,75 10-2

12,57

(OH-)
4,12 10-2

12,61

(OH-)

Pada kedua kurva titrasi diatas diamati perubahan pH yang


bertahap sebelum dan sesudah titik ekivalen. Perubahan drastis
terlihat pada titik ekivalen titrasi asam kuat dengan basa kuat.
Untuk titrasi asam lemah dengan basa kuat, perubahan pH pada
titik ekivalen makin kurang tajam bila asamnya semakin lemah. Ini
disebabkan reaksi netralisasinya tidak selengkap reaksi netralisasi
asam kuat basa kuat.
Tetapan kesetimbangan Kt untuk reaksi:
HB + OH-

B- + H2O

Lebih kecil asam lemah HB. Ketajaman perubahan pH pada titik


ekivalen ini berhubungan juga dengan perubahan warnaindikator
dan presisi penentuan titik akhir.

Indikator Asam Basa


Adalah

zat

yang

berubah

warnanya

atau

membentuk

fluoresen atau kekeruhan pada suatu rang (trayek) pH tertentu.


Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH.
Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa, larut, stabil dan
menunjukkan perubahan warna yang kuat serta biasanya adalah
zat organik.
Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron.
Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan

60

akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang


berbeda.
Indikator

asam

basa

secara

garis

besar

dapat

diklasifikasikan dalam tiga golongan:


a). Indikator ftalein dan indikator sulfoftalein
Indikator ftalein dibuat dengan kondensasi anhidrida ftalein
dengan fenol, fenolftalein. Pada pH 8,0 9,8 berubah warnanya
menjadi merah. Anggota-nggota lainnya: thymol-ftalein, naftolftalein.
Indikator sulfoftalein dibuat dari kondensasi anhidrida ftalein
dan sulfonat. Yang termasuk dalam kelas ini: thymol blue,
bromofenol red, bromofenol blue, bromocresol red.
b). Indikator Azo
Diperoleh dari reaksi amina romatik dengan garam dizonium,
misal: methyl yellow atau dimetil azo benzena. Indikator yang
masuk

kelas

ini

adalah

methyl

yellow,

methyl

red

dan

tropaelino.
c). Indikator trifenilmetana
Yang termasuk golongan ini adalah malachite green, methyl
violet, kristal violet.

Indikator Campuran
Pada titrasi H3PO4 oleh basa kuat ataupun NaHCO 3 oleh asam,
pengendalian pH yang seksama mutlak diperlukan. Untuk titrasi
demikian indikator campuran yang berubah warnanya pada range
pH yang sempit sangatlah bermanfaat. Contohnya: campuran
bromocresol green (pK 4,9) dan methyl red (pK 5) memberikan

61

transisi yang tajam pada pH = 5,1 yaitu berwarna abu-abu yang


disebabkan hasil komplementer dari kedua indikator tersebut.
Beberapa Indikator Campuran
No
Indikator (I) +
Perbanding War
Pelar
pH
.
Indikator (II)
an
na
ut
Methyl
yellow
+
Alkoho
1
1:1
B H 3,25
methylene blue
l
Methyl
orange
+
J
2
1:5
4,3 Air
bromocresol green
BH
Methyl
orange
+
Alkoho
3
2:3
M H 3,8
xylene cyanol FF
l
Methyl
red
+
Alkoho
4
2:3
M H 5,1
bromocresol green
l
Fenol
red
+
5
1:1
K U 7,5 Air
bromotyhmol
Tyhmol
blue
+
alkoho
6
1:3
K U 9,0
fenolftalein
l
B = biru; H = hijau; M = merah; K = kuning; U = ungu, BH = biruhijau; J = jingga
Indikator Fluoresen
Indikator asam basa tidak dapat digunakan pada larutan yang
warnanya pekat atau larutan yang keruh. Untuk larutan tersebut
biasanya digunakan indikator yang menunjukkan pendar-fluor
(fluoroscene), misal -naftilamin. Indikator ini menunjukkan pendafluor biru pada sinar ultraviolet. Kelebihan indikator ini adalah
pengamatan titik akhir titrasi sangat mudah meskipun warna
titrannya sendiri cukup kuat, bahkan seorang yang buta warna
dapat mengamati proses pendar-fluor.

Beberapa Indikator Fluoresen


No
.
1
2
3
4

Nama
Indikator
Rosin
Asam salisilat
-naftilamin
Diklorofluorosein

Trayek
pH
0 3,0
0,2 4,0
3,4 4,8
4,0 6,6

62

Bentuk
Asam
-

Bentuk
Basa
Hijau
Biru
Biru
Hijau

5
6
7

-naftol
Kuinin
Kuinolin

8,0 9,0 9,5 10,0 Biru ungu


6,2 7,2 Biru

Biru
-

Soal-soal:
1. Berapa banyak NaOH 0,6 N harus ditambahkan pada 750 mL
NaOH 0,2 N untuk memperoleh larutan 0,3 N.
2. Jika 0,5 g campuran K2CO3 dan Li2CO3 memerlukan 30 mL 0,25 N
larutan asam untuk netralisasi, berapakah komposisi campuran
tersebut.
3. Jika 1,2 g sampel campuran Na 2CO3 + NaHCO3 dilarutkan dan
dititrasi dengan HCl ternyata indikator fenolftalein menunjukkan
titik akhirnya adalah 15 mL, sedangkan titik akhir kedua teramati
22 mL dengan indikator methyl orange. Hitung persentase
komposisi campuran.
4. Berapa volume 0,1421 N Lithium hidroksida yang diperlukan
untuk menetralkan 13, 72 mL 0,06860 N asam fosfat.
5. Suatu sampel H2SO4 mengandung SO2 dan SO3 beratnya 1,0 g
memerlukan 23,4 mL 1 N alkali untuk netralisasi. Diketahui kadar
SO2 adalah 1,3%, hitung persen SO 3 bebas, H2SO4 dan SO3 terikat
dalam sampel.
6. Suatu campuran mengandung Li2CO3 + BaCO3 beratnya 1,0 g
dan memerlukan 15 mL 1 N asam HCl untuk netralisasi. Berapa
persen BaCO3 dalam sampel.
7. Berapa volume H2SO4 6 N dan 3 N harus dicampur untuk
memperoleh satu liter H2SO4 3 N.

BAB X
TITRASI ARGENTOMETRI
Titrasi argentometri adalah cara penentuan kadar suatu zat
dengan menggunakan Ag+.

63

Perbedaan titik ekivalen dengan titik akhir :


Titik ekivalen
Bila suatu larutan A dititrasi dengan larutan B akan dicapai suatu
keadaan dimana persenyawaan B tepat cukup jumlahnya untuk
bereaksi dengan semua persenyawaan A. Keadaan ini disebut titik
ekivalen (suatu titik akhir teoritis dari titrasi tersebut).
Titik akhir titrasi
Pada saat berubahnya suatu indikator dimana penambahan larutan
B berhenti.
Indikator adalah zat yang ditambahkan dalam suatu titrasi untuk
melihat titik akhir.
Tidak selalu titik ekivalen sama dengan titik akhir titrasi, karena itu
perlu indikator yang tepat.
Penentuan titik akhir titrasi pada argentometri
I.

Kekeruhan

Ada 2 macam, yaitu :


a.

Menghilangkan kekeruhan, disebut cara Gay


Lussac.

Pada larutan Ag+ ditambahkan larutan baku NaCl sejumlah kurang


sedikit dari jumlah yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen,
kocok sampai berbentuk AgCl yang menggumpal. Kecepatan
menggumpalnya AgCl ini menunjukkan apakah titik ekivalen sudah
dekat atau belum. Kemudian diamkan sebentar sampai semua
endapan mengendap ke bawah.
Pada

supernatant

liquid

(larutan

bening

diatas

endapan)

ditambahkan sedikit NaCl (yang konsentrasinya larutan baku),


kalau masih ada Ag+ bebas, maka pada supernatant liquid masih
ada kekeruhan. Penambahan NaCl ini sampai tak ada kekeruhan.
Kekurangan :

64

Waktu yang diperlukan lama.

Sukar mengamati endapan yang terjadi.

Contoh :
50 mL larutan 0,1 M NaCl dititrasi dengan larutan 0,1 M AgNO 3. Ksp
AgCl = 10-10. Berapa mL larutan AgNO3 yang diperlukan ?
mL AgNO3

pCl-

semua pCl- = -log 10-1 = 1

10

sisa NaCl, [Cl-] =

(50 0,1) (10 0,1)


0,0666
50 10

pCl- = 1,176
[Cl-] =

20
(50 0,1) (20 0,1)
0,04286
50 20

pCl- = 1,37
30

pCl- = 1,60

40

pCl- = 1,96

49

pCl- = 3

50

pCl- = 5

50,1

Ag+ yang berlebih :


[Ag+] =

(50,1 0,1) (50 0,1)


10-4
50,1 50

pAg+ = 4

b.

maka pCl- = 10 4 = 6

51

pCl- = 10 3 = 7

60

pCl- = 7,96
Terjadinya kekeruhan, disebut cara Liebig.

Digunakan pada penentuan CN- dengan Ag+. Reaksi yang terjadi:


: CN-

Mula-mula

ii.

CN- berlebih

: AgCN

iii.

Pada titik ekivalen

: Ag+

Ag[Ag(CN)2]

65

Ag+

i.

AgCN
+

CNAg(CN)2

Ag(CN)2-

(titik akhir tercapai)

AgCN

II. Memakai Indikator


Yang membentuk suatu endapan berwarna dengan suatu reagen.
A. Titrasi Argentometri cara Mohr
B. Titrasi Argentometri cara Volhard
C. Titrasi Argentometri cara Fajans
:
A. Titrasi Argentometri cara Mohr
Indikator yang digunakan KCrO4.
2Ag+

Reaksi :

CrO42-

Ag2CrO4

merah daging

Dengan Ksp Ag2CrO4 = 9 10-12 dibandingkan dengan Ksp AgCl =


1,56 10-10. Sehingga AgCl lebih dulu mengendap dari pada
Ag2CrO4.
Ksp Ag2CrO4 = [Ag+]2 [CrO42-]

Ksp AgCl = [Ag+] [Cl-]

9 10-12 = [Ag+]2 [CrO42-]

[Ag+] =

1,56 10-10 = [Ag+] [Cl-]

9 10 -12
CrO 2-
4

Jadi [Ag+] =
[Cl- ]

2- =
[CrO
]
4

9 10 -12
CrO 2-
4

1,56 10 -10
Cl[Ag+] =

1,56 10 -10
Cl=

1,56 10 -10
5,2 10 -5
12
9 10

Dari Ksp AgCl didaapat [Cl-] =

Ksp AgCl 1,249 10 -5

bila

dikehendaki Ag2CrO4 harus mengendap pada waktu [Cl-] =1,249


10-5 maka konsentrasi CrO42- adalah :
1,249 10 - 5
CrO 2 -

5,2 10 - 5

maka

[CrO42-] = 5,77 10-2 = 0,058

Umumnya harga 0,058 M tak dapat dipakai karena K 2CrO4 adalah


garam yang berwarna kuning tua, pada konsentrasi 0,058 M

66

warnanya sangat kuning, sehingga perubahan warna (titik akhir


titrasi) sulit dilihat. Biasanya dipakai konsentrasi K 2CrO4 antara
0,005 - 0,01 M.

Selain itu harus diperhatikan pula bahwa titrasi Mohr harus


dilakukan dalam suasana netral atau basa lemah, yaitu pH 610.
Karena indikator K2CrO4 yang berada dalam air akan terionisasi
menjadi :
2K+

K2CrO4

CrO42-

dan CrO42- adalah sisa asam dari asam lemah H2CrO4 yaitu
CrO42-

H+

H2CrO4

(terisolasi lemah)

Kalau dalam suasana asam (pH < 6) berarti ada penambahan H +


yang banyak, karena itu CrO42- didesak menjadi H2CrO4 hingga
[CrO42-] sangat kecil, hingga juga pada titik ekivalen tak dapat
melampaui harga Ksp Ag2CrO4. Jadi Ag2CrO4 tak mengendap.
Karena itu perlu Ag+ yang harus banyak, yang berarti Titik Akhir
Titrasi (TAT) yang didapat jauh melampaui Titik Ekivalen (TE)
yang seharusnya.
Cara menanggulangi Titrasi Mohr bila larutan terlampau
asam :
1. Tambah NaOH dulu, lalu CH3COOH sampai pH masih lebih besar
dari 6.
Kelemahan : bila NaOH yang ditambahkan terlau banyak, maka
CH3COOH perlu banyak juga, hingga menggangu titrasi.
2. Tambah NaHCO3 (hanya oleh dipakai bila larutan tak terlampau
asam).
Ag+

H2CO3

Ag2CO3

Ag2O

3. Penetralan dengan cara BORAK, yaitu penambahan Na4B4O3.


(cara terbaik karena tidak mengganggu titrasi).

Titrasi Mohr tidak boleh terlampau basa (pH >10), sebab

67

Ag+

OH-

AgOH , berarti dapat terjadi endapan AgOH

sebelum AgCrO4 (mengendap).


Bila terlampau basa ( pH > 10), netralkan dulu dengan
CH3COOH.

Dalam titrasi Mohr, zat yang dipakai harus bebas halogenida


lain (Br-, I-, ...), Karena
Ag+

Br-

AgBr

Ag+

I-

AgI

Pengganggu Titrasi Mohr


1. Ion NH4+
Jika ada Ion NH4+, maka pH harus antara 6,37,2 karena bila
pH>7,2 dan Ion NH4+ besar, maka akan terjadi:
NH4+ +

AgCl

Ag(NH3)2Cl
senyawa komplek yang larut, jadi AgCl akan

larut
2. Kation yang berwarna
a. Cu2+ berwarna biru
b. Ni2+ berwarna hijau
c. Co2+ berwarna lembayung coklat
Warna-warna itu harus hilang, jadi harus ditambah CO 3 agar
mengendap sebagai garam karbonat, lalu disaring.
3. Kation-kation yang mudah terhidrolisa
Terutama halogenida dari AI, Fe, Bi, Sn, Zn dan Sb, misalnya :
BiCl3

H2O

BiOCl

2Cl-

2H+

Karena itu tidak dapat dititrasi dengan cara Mohr.


4. Ion-Ion Pb2+ dan Ba2+
Karena Pb2+

CrO42-

Ba2+

PbCrO4

kuning muda

BaCrO4

Jadi harus ditambah SO42- dulu, saring, baru dilakukan titrasi


Mohr.

68

B. Titrasi Argentometri cara Volhard


Prinsip

memakai

indikator

sehingga

terjadi

persenyawaan

kompleks yang larut dengan reagen.


Indikator yang digunakan : Fe(Al)4SO4 (Ferri Aluminium Sulfat =
Ferri Aluin).
Misal titrasi argentometri cara Volhard dengan cara tidak langsung.
Cl-

AgNO3 (berlebih)

AgCl

Kelebihan AgNO3 bereaksi dengan CNS- :


AgNO3

CNS-

AgCNS

dan kelebihan CNS- bereaksi dengan indikator Fe3+


CNS-

Fe3+

FeCNS2+

(merah darah)

Harus diperhatikan :
Cl-

Ag+

CNS-

Ag+

Ksp = 1,56 10-10

AgCl

Ksp = 1,16 10-12

AgCNS

Jadi AgCNS lebih sukar larut dari pada AgCl. Karena Ksp AgCNS <
Ksp AgCl. Maka dapat pula terjadi :
AgCl

CNS-

AgCNS

Cl-

Maka TAT tercapai jauh sesudah TE.


Pencegahan :
1. Pada waktu penambahan AgNO3 terjadi AgCl, saring dulu, baru
filtrat dititrasi dengan CNS-.
2. Tambahkan masking agent NITROBENZE, karena nitrobenzen
lebih berat dari air maka terjadi,

Catatan : nitrobenzen sangat beracun, jangan pilih cara ini.


3. Konsentrasi Fe3+ dibesarkan.
Konsentrasi Fe3+ menjadi 0,2 M hingga TAT dapat tercapai
dengan [CNS-] yang rendah.

69

Contoh : Titrasi Argentometri cara Volhard tidak langsung


25 mL larutan Cl- dengan konsentrasi A, ditambahkan 50 mL larutan
Ag+ dengan konsentrasi B, lalu diencerkan dengan air 100 mL,
saring. Ambil 25 mL filtrat, titrasi dengan larutan CNS - dengan
konsentrasi C (indikator Ferri Aluin).
Reaksi :
Cl-

Ag+

CNS-

Ag+

AgCl

saring

(berlebih)

AgCNS

Jadi AgCNS lebih sukar larut dari pada AgCl. Karena Ksp AgCNS <
Ksp AgCl. Maka dapat pula terjadi :
CNS- +

Fe3+

FeCNS

(merah darah)

Perhitungan :
= 25 mL A mgrek/mL = 25A mgrek

25 mL Cl- dari A

50 mL Ag+ dari B = 50 mL B mgrek/mL = 50B mgrek


Ag+ = (50B 25A) mgrek ................. (1)
Dari titrasi didapat :
25 mL filtrat V C mgrek CNSJadi dari 100 mL filtrat
=

100
VC 4 VC mgrek CNS- yang ekivalen dengan Ag+ ......(2)
25

(1)= (2)
4VC = 50B 25 A

(maka C dapat dihitung).

C. Titrasi Argentometri cara Fajans


Prinsip : Menggunakan indikator absorbsi yaitu zat warna asam/ zat
warna basa yang akan berubah warnanya bila diabsorbsi oleh
endapan pada titik akhir.
Mekanisme kerja indikator absorbsi :
a. Mula-mula indikator asam
H indikator

H+

Cl-

AgCl

Ag+

Ind-

70

Mula-mula terjadi endapan AgCl yang cenderung menyerap ion


sejenisnya yaitu Cl-.
Cl-

Cl-

Cl-

AgCl

Cl

Cl-

Cl-

Membentuk lapis dua listrik

Cl-

Cl-

b. Pada titik akhir


Cl-

Ag+

AgCl

Karena Ag+ atau Cl- tak dalam keadaan berlebih, maka hanya
terjadi endapan AgCl biasa.
c. Sesudah titik akhir, ion yang berlebih adalah Ag+, NO3- dan Ind-.
Lalu terjadi : NO3- dan Ind-.ditarik oleh lapis listrik menjadi
Ag
Ag

Ag

Ag+

IndAg

AgCl
+

Ag

Ag+
Ag

Ind

IndInd-

Ind-

Ind+
Ag+ Ag

Ind-

Ind-

Ag+
Ag
Ind-

AgCl
+

Ag+

Ind-

Ag+
Ag+

Ag+

Ind-

IndInd

Ind

Karena indikator yang terserap lebih luat bentuk Ind - ya maka


terjadi perubahan warna.
Indikator absorpsi yang digunakan :
1. Fluoroscene
Indikator untuk larutan yang warnanya pekat atau lautan yang
keruh. Indikator ini menunjukkan pendar-fluor (fluoroscene) biru
pada sinar ultraviolet. Kelebihannya pengamatan titik akhir titrasi
sangat mudah meskipun warna titrannya sendiri cukup kuat,
bahkan seorang yang buta warna dapat mengamati proses pendarfluor ini.
Warna tak terabsorpsi yaitu berwarna hijau, sedangkan warna
terabsorpsi adalah rose (pink).

71

Indikator fluoroscene merupakan asam lemah dengan pKa = 8. Baik


untuk Cl-, Br- dan I- tapi tak dapat dipakai untuk larutan yang sangat
asam.
2. Dikhloro Fluorescene
Dalam keadaan terabsorpsi eosin berwarna jingga, dapat untuk
asam lemah dengan pH > 4,5.
Tak dapat dipakai untuk titrasi Cl- karena
H eosin

H+

eosinat

Ternyata eosinat lebih kuat terserap dari Cl -, artinya eosinat


menggantikan Cl- pada lapis pertama listrik, hingga titik akkhir
terjadi jauh sebelum terjadi titik ekivalen.
3. Fenosafranin
Baik untuk titrasi Cl- dan Br- dengan mekanisme :
Fenosafranin sudah terabsorpsi pada mula-mula titrasi dengan
warna rose, lalu menjadi berubah warnanya pada titrasi :
a. Menjadi ungu muda (lila)
b. Menjadi ungu tua pada titrasi Br-.

4. Indikator asam basa


Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau
membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range pH
tertentu.zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa, larut, stabil
dn menunjukkan perubahan warna yang kuat serta biasanya adalah
zat organik.perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer
elektron. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang
berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada rnge pH
yang berbeda.

72

Indikator

asam

basa

secara

garis

besar

dapat

diklasifikasikan dalam tiga golongan :


a. Indikator ftalein dan indikator sulfoftalein.
Indikator ftalein dibuat dengan kondensasi anhidrida ftalein
dengan fenol, yaitu fenolftalein. Pada pH 8,0-9,8 berubah warnanya
menjadi merah. Macam-macam indikator ftalein: o-cresolftalein,
thimolftalein, -naftolftalein.
Indikator sulfoftlaein dibuat dari kondensat anhidrida ftalein
dan sulfonat. Yang termasuk indikator sulfoftalein : thymol blue, mcresolpurple,

chlorofenolred,

bromofenolred,

bromofenolblue,

bromocresolred.
b. Indikator azo.
Indikator azo diperoleh dari reaksi amina romatik dengan
garam dizonium. Yang termasuk indikator azo: methylyellow atau pdimetil amino azo benzena, methylred dan tropaelino.
c. Indikator trifenilmetana, malachite green, metil violet, kristal
violet.
Jika pH < 4 pakai Brom Phenol Blue paling baik, untuk Cl -, I-,
Br-, CNS-, Ag+ atau Hg+.
5. Indikator Turunan Chrysoidin, misalnya zat warna Azo.
Paling banyak dipakai : p-etoksi, chrysoidin untuk penentuan I-.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada titrasi Fajans :
1. Karena perubahan warna terjadi pada permukaan endapan
maka diperlukan permukaan yang luas, agar warna yang terjadi
lebih nyata. Permukaan endapan akan luas, bila makin kecil
butir-butir endapan, yaitu dalam keadaan koloid terflokulasi.
2. Larutan halogenida yang sangat encer tak dapat dititrasi secara
fajans, sebab endapan yang terjadi adalah sedikit sekali,
sehingga warna akan tidk jelas. Ternyata larutan Cl - konsenstrasi
< 0,05 N tak dapat dititrasi secara fajans.

73

3. Kekuatan terabsorpsinya indikator absorpsi berbeda-beda, jadi


harus dipilih tak terlalu kuat tapi tak terlalu lemah.
Yang ideal:
Mulai diabsorpsi disekitar titik ekivalen dan pada titik ekivalen
terserapnya paling banyak.
Juga ternyata tarikan listrik antara dua ion tak hanya disebabkan
oleh absorpsi, tapi juga disebabkan sifat polarnya. Semakin
polar suatu ion atau molekul semakin kuat terabsorpsi.
Lambang polar
Lambang non polar
Ternyata kekuatan terabsorpsinya zat pada titik ekivalen,
tergantung pada
kepolarannya. Anion dari indikator absorpsi dapat diabsorpsi
oleh endapan yang netral, endapan yang muatannya negatif
atau menggantikan ion negatif yang telah terabsorpsi terlebih
dulu.
4. Indikator absorspi umumnya merupakan basa lemah
lemah,

hingga

pH

sangat

mempengaruhi,

karena

/ asam
yang

dibutuhkan adalah sisa indikatornya.


Bila larutan asam :
H ind

H+

Ind+

H+

larutan asam

Hingga Ind- sangat kecil maka perubahan warna tak akan


kelihatan.
Misal pada indikator fluorescein dengan K = 10-8 pada pH < 7.
Maka :
HFL

H+

Fl-

Karena FL- kecil maka tak terjadi perubahan warna.


Kalau tetap ingin dititrasi maka halogenida + AgNO 3 berlebih,
kelebihan Ag+ dititrasi dengan Cl- dan dipakai indikator kationik.
5. Ion-ion indikator harus bermuatan berlawanan dengan ion
pereaksi.

74

Hingga absorpsi indikator tak akan terjadi sebelum pereaksi


dalam keadaan berlebihan.
Cara menghitung kesalahan pada titrasi argentometri
Contoh pada titrasi Mohr, misalnya Cl- dititrasi dengan Ag+,
Indikator CrO42-.
1. Bila CrO42- konsentrasinya pekat, maka lebih cepat terbentuk
warna, berarti TAT jauh sebelum TE

hasil titrasi salah.

2. Bila CrO42- konsentrasinya encer, maka TAT tercapai sesudah TE


hasil titrasi salah.
Hal ini karena :
Cl-

Ag+

2Ag+

CrO42-

AgCl
Ag2CrO4

Bila [CrO42-] pekat maka akan lebih cepat melampaui Ksp nya.
Bila [CrO42-] encer maka lambat Ksp dilampaui.

BAB XI
TITRASI PENGENDAPAN
Titrasi pengendapan adalah golongan titrasi dimana hasil
reaksi titrasinya berupa endapan atau garam yang sukar larut.
Prinsip dasar :

Reaksi pengendapan yang cepat mencapai kesetimbangan pada


setiap penambahan titran.

Tidak ada pengotor yang mengganggu.

Diperlukan indikator untuk melihat titik akhir.

75

Kelemahan metode argentometri


Sulit memperoleh indikator yang sesuai

untuk menentukan titik akhir pengendapan.


Komposisi

endapan

tidak

selalu

diketahui.
Teori kurva pengendapan
Contoh
Jika 50 mL NaCl 0,1 M dititrasi dengan 0,1 M AgNO 3, hitung
konsentrasi ion klorida selama titrasi pada (a) pada waktu mulamula titrasi (b) setelah penambahan 10 mL larutan 0,1 M AgNO 3
(c) setelah penambahan 49,9 mL larutan 0,1 M AgNO3 (d) pada titik
ekivalen (e) pada penambahan 60 mL larutan 0,1 M AgNO 3.
(Diketahui Ksp AgCl = 1,56 10-10).
Jawab:
Molaritas NaCl = Normalitas NaCl = 0,1
Molaritas AgNO3 = Normalitas AgNO3 = 0,1
Penentuan titik ekivalen:
V N V N
R R
T T

50 mL 0,1 N = VT 0,1 N
VT =

50 mL 0,1 N
50 mL
0,1 N

a). Pada waktu mula-mula titrasi [Cl-] = 0,1


sehingga pCl = - log [Cl-] = - log [0,1] = 1
b). Setelah penambahan 10 mL (VT) pada 50 mL (VR) kita dapatkan:
[Cl-] =

VR MR VT MT
(50 0,1) (10 0,1)

0,067
(VR VT )
(50 10)

pCl = - log [0,067] = 1,17


karena pCl + pAg = 9,8 maka pAg = 9,8 1,17 = 8,63
sehingga pAg = - log [Ag+] = 8,63

76

[Ag+] = e-8,63 = 2,34 10-9.


dalam persamaan di atas VR = volume reaktan, VT = volume
titran, MR = molaritas reaktan dan MT = molaritas titran.
c). Setelah penambahan 49,9 mL larutan 0,1 M AgNO3
[Cl-] =

(50 0,1) (49,9 0,1)


1 10 4
(50 49,9)

pCl = - log [1 10-4] = 4,0


d). Pada titik ekivalen
[Ag+] = [Cl-]
[Cl-][Cl-] = [Cl-]2
[Cl-]2 = [1,56 10-10] sehingga [Cl-] = 1,249 10-5.
Pada titik ekivalen tidak ada ion Cl - ataupun Ag+ yang tersisa
(berlebih) konsentrasi didapat dari Ksp.
Ksp = [Ag+][Cl-] sehingga [Ag+] = [Cl-] =

Ksp

1,56 10 - 10

e). Setelah penambahan 60 mL AgNO3 0,1 M, konsentrasi dari ion


Ag+ adalah
[Ag+] =

V M V M
T T
R R (60 0,1) (50 0,1) 9,1 10 - 3
(V V )
(60 50)
T
R

pAg = - log [9,1 10-3] = 2,04


karena pCl + pAg = 9,8 maka pCl = 9,8 2,04 = 7,76

Data-data tersebut dapat disusun menjadi tabel kurva titrasi dan


dari tabel ini dapat dibuat kurva titrasi pengendapannya.

Titik akhir dan titik ekivalen stoikiometrinya harus berimpit,


berarti pada titik akhir konsentrasi ion Cl- dalam batas

Ksp AgCl

Kurva titrasi tidak hanya untuk menentukan itik ekivalen, tetapi


juga untuk menghitung konsentrasi kation atau anion pada
setiap saat selama titrasi berlangsung.
Titik
Ekivalen

Titik Akhir
Titrasi

77

Tabel Kurva Titrasi


mL AgNO3

[Cl-]

0,1

pCl

PAg

[Ag+]

1,0

10

6,7 10

-2

1,18

8,62

2,38 10-9

20

4,3 10-2

1,37

8,43

3,70 10-9

30

2,5 10-2

1,60

8,20

6,34 10-9

40

1,1 10-2

1,95

7,85

1,43 10-8

50

1,249 10-5

4,90

4,9

1,249 10-5

50,1

1 10-6

9,99 10-5

60

1,74 10-8

7,76

2,04

9,091 10-3

70

9,51 10-9

8,02

1,78

1,67 10-2

80

6,87 10-9

8,16

1,64

2,31 10-2

90

5,55 10-9

8,26

1,54

2,86 10-2

100

4,76 10-9

8,32

1,48

3,33 10-2

78

110

4,23 10-9

8,37

1,43

3,75 10-2

120

3,85 10-9

8,41

1,39

4,12 10-2

130

3,57 10-9

8,45

1,35

4,44 10-2

140

3,35 10-9

8,48

1,32

4,74 10-2

150

3,1 7 10-9

8,50

1,30

5 10-2

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan


a) Temperatur: Kelarutan bertambah dengan naiknya temperatur.
Endapan yang baik terbentuk pada larutan panas, tetapi jangan
dilakukan

penyaringan

terhadap

larutan

panas

karena

pengendapan dipengaruhi oleh faktor suhu.


b) Sifat pelarut: Garam-garam anorganik lebih larut dalam air.
Berkurangnya

kelarutan

di

dalam

pelarut

organik

dapat

digunakan sebagai dasar pemisahan dua zat.


c) Efek ion sejenis: Kelarutan endapan dalam air berkurang jika
larutan tersebut mengandung satu dari ion-ion penyusun
endapan,

sebab

kelarutan).
mengurangi

Baik

pembatasan

Ksp

kation

anion

konsentrasi

atau
ion

(konstanta

penyusun

yang

hasil

kali

ditambahkan,

endapan

sehingga

endapan garam bertambah. Pada analisis kuantitatif, ion sejenis


ini digunakan untuk mencuci larutan selama penyaringan.
d) Efek ion-ion lain: Beberapa endapan bertambah kelarutannya
bila dalam larutan terdapat garam-garam yang berbeda dengan
endapan. Hal ini disebut sebagai efek garam netral atau efek
aktivitas. Semakin kecil koefisien aktivitas dari dua buah ion,
semakin besar hasil kali konsentrasi molar ion-ion

yang

dihasilkan.
e) Pengaruh pH: Kelarutan garam dari asam lemah tergantung
pada pH larutan.
f)

Pengaruh hidrolisis: Jika garam dari asam lemah dilarutkan


dalam air, akan menghasilkan perubahan (H +). Kation dari

79

spesies

garam

mengalami

hidrolisis

sehingga

menambah

kelarutannya.
g) Pengaruh kompleks: Kelarutan garam yang sedikit larut
merupakan

fungsi

konsentrasi

zat

lain

yang

membentuk

kompleks dengan kation garam tersebut.


Syarat titrasi pengendapan:
1. Reaksi pengendapan harus berlangsung cepat dan kuantitatif
serta titik akhir dapat dideteksi.
2. Beberapa

reaksi

pengendapan

berlangsung

lambat

dan

mengalami keadaan lewat jenuh.


3. Titrasi

pengendapan

tidak

dapat

menunggu

sampai

pengendapan berlangsung sempurna.


4. Hasil

kali

kelarutan

pengendapan

bersifat

(Ksp)

harus

kuantitatif

cukup
dalam

kecil
batas

sehingga
kesalahan

eksperimen.
5. Reaksi samping tidak boleh terjadi.
Titrasi dengan kekeruhan tanpa indikator
Untuk larutan yang mengandung Ag+, jika ditambahkan NaCl
maka mula-mula terbentuk suspensi yang kemudian terkoagulasi
(membeku). Laju terjadinya koagulasi menyatakan mendekatnya
titik ekivalen. Penambahan NaCl diteruskan sampai titik akhir
tercapai. Perubahan ini dilihat dengan tidak terbentuknya endapan
AgCl pada cairan supernatan (cairan bening diatas endapan). Akan
tetapi NaCl harus ditambahkan untuk menyempurnakan titik akhir,
yaitu keadaan dimana:
[Ag+] = [Cl-] =

1,56 10-10 1,25 10-5

Penentuan Ag+ sebagai AgCl dapat dilakukan dengan pengukuran


turbidimetri yaitu dengan pembauran sinar.
Titrasi Pengendapan Metode Volhard

80

Yaitu pembentukkan zat warna di dalam larutan. Contohnya:


titrasi Ag+ dengan NH4SCN dengan garam Fe(III) sebagai indikator.
Selama titrasi, Ag(SCN) terbentuk sedangkan titik akhir tercapai
bila NH4SCN yang berlebih bereaksi dengan Fe(III) membentuk
warna

merah

gelap

[FeSCN]++.

Jumlah

thiosianat

yang

menghasilkan warna harus sangat kecil. Jadi kesalahan pada titik


akhir sangat kecil, tetapi larutan harus dikocok dengan kuat pada
titik akhir, agar Ag+ yang teradsorpsi pada endapan dapat
didesorpsi. Pada metode Volhard, untuk menentukan ion klorida,
suasana haruslah asam karena pada suasana basa Fe akan
terhidrolisis. AgNO3 berlebih yang ditambahkan ke larutan klorida
tentunya tidak bereaksi. Larutan Ag+ tersebut kemudian dititrasi
balik dengan menggunakan Fe(III) sebagai indikator, tetapi cara ini
menghasilkan

suatu

kesalahan,

karena

AgSCN

kurang

larut

dibandingkan AgCl sehingga:


AgCl + SCN
Akibatnya

lebih

AgSCN + Clbanyak

NH4SCN

diperlukan

sehingga

kandungan Cl- seakan-akan rendah (~2% kesalahan). Kesalahan ini


dapat dikurangi dengan mengeluarkan endapan AgCl sebelum
titrasi balik berlangsung atau menambahkan sedikit nitrobenzen,
sehingga melindungi AgCl dengan thiosianat tetapi nitrobenzen
akan memperlambat reaksi. Hal ini dapat dihindari jika Fe(NO 3)3 dan
sedikit NH4SCN yang diketahui ditambahkan dahulu ke larutan
bersama-sama HNO3, kemudian campuran tersebut dititrasi dengan
AgNO3 sampai warna merah hilang.
Titrasi Pengendapan Metode Mohr
Pada metode ini titrasi halida dengan AgNO3 dilakukan
dengan indikator Na2CrO4-. Pada titrasi ini akan terbentuk endapan
baru yang berwarna. Pada titik akir titrasi, ion Ag yan berlebih

81

diendapkan sebagai Ag2CrO4 yang berwarna merah bata. Larutan


harus bersifat netral atau sedikit basa, tetapi tidak boleh terlalu
basa sebab Ag+ akan diendapkan sebagai Ag(OH)2. Jika larutan
terlalu

asam,

maka

titik

akhir

titrasi

tidak

terlihat

konsentreasi CrO42- berkurang, yaitu dengan terjadinya reaksi


+ CrO42-

sebab
H+

HCrO4-

pada kondisi yang cocok, metode Mohr cukup akurat dan dapat
digunakan pada konsentrasi klorida yang rendah. Pada jenis titrasi
ini, endapan indikator berwarna harus lebih larut dibanding
endapan utama yang terbentuk selama titrasi. Akan tetapi tidak
boleh terlalu banyak larut, karena akan dipergunakan lebih banyak
pereaksi dari yang seharusnya.
Pereaksi organik yang digunakan sebagai indikator antara
lain Na-rhodizonat dan garam Na-hidroksikuinon. Indikator tersebut
biasanya digunakan pada titrasi sulfat dengan BaCl 2, dengan titik
akhir ditentukan oleh terbentuknya endapan garam Ba berwarna
merah.
Indikator Adsorpsi pada Titrasi Pengendapan (cara Fajans)
Jika AgNO3 ditambahkan ke NaCl yang mengandung zat
berpendar fluor, titik akhir ditentukan dengan berubahnya warna
dari kuning menjadi merah jingga. Jika didiamkan, tampak endapan
berwarna, sedangkan lauan tidak berwarna disebabkan adanya
adsorpsi indikator pada endapan AgCl. Warna zat yang terbentuk
dapat berubah akibat adsorpsi pada permukaan.
Dengan indikator anion, reaksi tersebut:
Cl- berlebih:

(AgCl)Cl- + FL

tidak bereaksi

(jika FL = C20H11O5 yaitu zat berpendar


fluor)
Ag+ berlebih:

(AgCl)Ag+ + FL

(AgCl)(AgFL) adsorpsi

Dengan indikator kation, reaksi tersebut:

82

Cl- berlebih:

(AgCl)Cl- + (MV)+

(AgCl)(Cl-MV+)

adsorpsi
Ag+ berlebih:

(AgCl)Ag+ + (MV)+

tidak bereaksi

(MV = metil ungu)


Soal:
1,5 gram feldspar dilarutkan dan menghsilkan 0,1801 g campuran
natrium klorida (NaCl) dan kalium klorida (KCl). Garam-garam
tersebut dilarutkan dengan air, dicampurkan dengan 50 mL
0,08333 N AgNO3 sehingga menghasilkan endapan AgCl yang tidak
larut. AgNO3 yang berlebih dititrasi dengan 0,1 N amonium
thiosianat (NH4SCN) dan titik akhhir tercapai pada 16,47 mL. Hitung
persen oksida natrium dan kalium pada campuran.
Jawab:
Berat KCl = x gram, berat NaCl = (0,1801 x) gram, Mr KCl = 74,6 ;
NaCl = 58,5 ; K2O = 94,2 ; Na2O = 62
Mili ekivalen halida campuran:
x
Mr KCl/1000

0,1801 x
Mr NaCl/1000

= (mL AgNO3 N AgNO3) (mL NH4SCN N

NH4SCN)
x

0,0746

0,1801 x
0,0585

= (50 0,083330) (16,47 0,10)

Sehingga didapat: x = 0,152 gram KCl, berat NaCl = 0,1801 0,152


= 0,0281 gram
Faktor konversi untuk:
94,2

2 KCl = K2O adalah 2 74,6 0,631


62

2 NaCl = Na2O adalah 2 58,5 0,53


% K2O =

0,631 0,152 100


6,4%
1,5

% Na2O =

0,53 0,0281 100


0,99%
1,5

83