Anda di halaman 1dari 10

VI.1.

TITRASI ASAM BASA


Titrasi asam basa dapat memberikan titik akhir yang cukup tajam dan untuk itu
digunakan pengamatan dengan indikator bila pH pada titik ekivalen antara 4-10.
Demikian juga titik akhir titrasi akan tajam pada tirasi asam atau basa lemah jika
pentitrasian adalah basa atau asam kuat dengan perbandingan tetapan disosiasi asam lebih
besar dari 104. Selama titrasi asam basa, pH larutan berubah secara khas. pH berubah
secara drastis bila volume titrannya mencapai titik ekivalen. Kecuraman perubahan pH
untuk tiga asam yang berbeda terlihat pada kurva titrsi pada gambar dibawah ini.
Kesalahan titik akhir dan pH pada titik ekivalen merupakan tujuan pembuatan kurva
titrasi. Kurva ini dapat dimodifikasi dengan menggunakan pelarut bukan air.

Pada reaksi asam basa, proton di tranfer dari suatu molekul ke molekul lain.
Dalam air, proton biasanya tersolvasi sebagai HO. Reaksi asam basa bersifat reversiblel.
Reaksi dapat digambarkan sebagai berikut:
HA + H2O

H3O+ + A-

air sebagai basa

B + H2O

BH+ + OH-

air sebagai asam

Di sini [A-] adalah basa konjugasi, H+B adalah asam konjugasi. Berarti secara umum:
Asam + basa

basa konjugasi + asam konjugasi

CH3COOH + H2O

CH3COO- + H3O+

[basa]

CH3COO- + H2O

CH3COOH + OH-

[asam]

H3 O A
Ka
HA H2 O

Disini
Jika K w

H OH adalah

H2O

dan

HBOH

B-

hasil kali ionik air, maka adalah mungkin untuk

menyatakan H+ dalam persamaan yang mengandung suku Ka, Kb dan Kw untuk


kombinasi berbagai tipe asam kuat dan lemah serta basa.

Titrasi
Umum
Asam kuat basa kuat

[H+]
K aK w (a K )
b
K b (a K a )

Ka [H+]

Kw

Ka [OH-]

Basa kuat asam lemah

K aK w

Asam kuat basa lemah

K W a/a

Asam lemah basa lemah


Asam lemah berbasa dua

Pendekatan

K aK
K

[HA] = [OH-]
[B] = [H+]

[B] = [HA]

K K
1 2

[H3A] = [A-]

Adalah mungkin untuk menyatakan H+ dalam persamaan yang mengandung suku


Ka, Kb dan Kw untuk kombinasi berbagai tipe asam kuat dan lemah serta basa. Sebagian
besar titrasi asam basa dilakukan pada temperatur kamar, kecuali titrasi yang meliputi
basa-basa yang mengandung CO2. Jadi titrasi dengan Na2CO3 dilakukan pada temperatur
00C. Temperatur mempengaruhi titrasi asam basa. pH dan perubahan warna indikator
tergantung secara tidak langsung pada temperatur. Ka akan bertambah besar dengan
kenaikan temperatur sampai suatu batas tertentu, kemudian akan turun kembali pada
kenaikan lebih lanjut. Ini sesuai dengan turunnya tetapan dielektrikum air dengan
kenaikan temperatur sehingga air sulit untuk memisahkan muatan ionik. Jika tetapan
ionisasi semakin kecil, maka makin tergantung pada temperatur.

Kurva Titrasi Asam-Basa


Hal ini berguna untuk membentuk kurva titrasi dengan mempertimbangkan aspek
kesetimbangan dari reaksi asam-basa. Pada kurva tersebut kita mengamati perubahan
terhadap pH baik sebelum maupun sesudah titik ekivalen dan perubahan drastis pada
sekitar titik ekivalen dengan hanya penambahan sedikit volume titran. Kita akan
membahas sedikit tipe kurva titrasi:
a. asam kuat dan basa kuat
Contoh:
Jika 50 mL 0,1 M HCl dititrasi terhadap 0,1 N NaOH, hitung pH pada saat mulai titrasi
dan setelah penambahan 10, 50, 60 mL NaOH. Lukiskan perubahan demikian dengan
kurva titrasi yang sesuai.
Jawab:
1) pH mula-mula:
Karena HCl asam kuat ia terurai sempurna menjadi [H3O+] = 0,1
pH = - log [0,1] = 1
2) pH setelah penambahan 10 mL basa
[R] VT =

VR MR - VT MT
(VR VT )

Dimana: VR = volume pereaksi


VT = volume titran
MR = molaritas pereaksi
MT = molaritas titran
[H3O+] =

(50 0,1) - (10 0,1)


= 6,67 10-2 M
(50 10)

pH = -log [6,67 10-2] = 2 log 6,67 = 1,18


3) pH pada titik ekivalen: titik ini tercapai pada 50 mL NaOH ditambahkan sehingga
larutan menjadi netral [H3O+] = [OH-] = 1 10-7, sehingga pH = 7,0 (karena
1 10-14)
4) pH setelah penambahan 60 mL basa.
[R] VT =

V M -V M
T T
R R
(V V )
T
R

Kw =

(60 0,1) - (50 0,1)


1

0,0091 M = [OH-]
110
(60 50)

pOH = - log [0,0091] = 3 log 9,1


pH = 14 3 + log 9,1 = 11,96

mL NaOH

Volume total (mL)

[H3O+]

pH

50

0,1

1,0

10

60

0,0667

1,18

20

70

0,0429

1,37

30

80

0,025

1,60

40

90

0,0111

1,95

50

100

1 10

-7

7,0

50,1

100,1

0,0001

10

60

110

0,0091

11,96

70

120

0,0167

12,22

80

130

0,0231

12,36

90

140

0,0286

12,46

100

150

0,0333

12,52

110

160

0,0375

12,57

120

170

0,0412

12,61

Kurva Titrasi Basa Kuat dan Asam Kuat


14
12

pH

10
8
6
4
2
0
0

10

20

30

40

50

60

70

mL NaOH 0,1 M

80

90

100

110 120

b. basa kuat dan asam lemah


Contoh:
Jika 50 mL asam lemah 0,1 M HB (Ka = 10 -5) dititrasi terhadap 0,1 N NaOH. Hitung pH
pada saat mulai titrasi dan setelah penambahan 10, 50, 60 mL NaOH. Lukiskan
perubahan demikian dengan kurva titrasi yang sesuai.
Jawab:
Kita harus mempertimbangkan berbagai disosiasi seperti:
HB + H2O

H3O+ + B-

Ka = 1 10-5 (disosiasi basa lemah)

B- + H2O

HB + OH-

Kb = 1 10-9 (disosiasi basa lemah)

H3O+ + OH-

2H2O
HB + OH-

B- + H2O

Maka Ka Kb = Kw
1)

pH mula-mula:
[H3O+] = [B-]
[HB] = 0,1 - [H3O+] = 0,1
Ka =

[H O ][B - ]
3
[HB]

1 10-5 =

[H O ] 2
3
[0,1]

Kw = 1 10-14 (disosiasi air)


Kt = 1 10+9 (kebalikan reaksi titrasi)
dan Kt = 1/Kb

[H3O+] =

1 10 -5 0,1 1 10 -3

pH = - log [1 10-3] = 3,0


2)

pH setelah penambahan 10 mL basa. Jika berlangsung baik, Kt = 1 10+9


[R] VR =

V M -V M
R R
T T
(V V )
R
T

Ka = 1 10-5 =

(50 0,1) - (10 0,1)


0,0667
(50 10)

[H O ][B - ]
[H O ][0,0167]
3
= 3
[HB]
[0,0667]

sehingga larutan

[H3O+] = 4 10-5
pH = - log [4 10-5] = 5 log 4 = 4,40 atau pH = pKa log
3)

[HB]
[B ]

pH pada titik ekivalen: titik ini tercapai pada 50 mL NaOH [B-] = 0,05
karena [HB] = [OH-]
kita menggunakan sebuah ekspresi untuk Kb sebagai,
Kb = 1 10-9 =

[HB][OH - ] [OH- ] 2 [OH - ] 2

0,05
[B - ]
[B - ]

5 10 -11 = [OH-]2

[OH-] =

5 10 - 11 7,07 10 - 6

pOH = - log [7,07 10-6] = 5,15


pH = 14 5,15 = 8,85
pH setelah penambahan 60 mL basa, kita sekarang mempunyai kelebihan NaOH.
[R]VT =

V M -V M
T T
R R (60 0,1) - (50 0,1) 1
=
Kurva
Kuat
dan Asam Kuat
(V V ) Titrasi Basa
110
(60
50)
T
R

0,0091 M = [OH-]

pOH =14- log [0,0091] = 3 log 9,1


pH = 14
12 3 + log 9,1 = 11,96
10
8
pH

4)

6
4
2
0
0

10

20

30

40

50

60

70

mL NaOH 0,1 M

80

90

100 110 120

Volume total (mL)

[H3O+]

pH

50

1 10

3,0

10

60

4 10-5

70

1,5 10

30

80

6,67 10

40

90

2,5 10-6

mL NaOH

20

-3

4,40

-6

4,82

-6

5 10

-11

5,17
5,60
-

50

100

50,1

100,1

9,9 10-5 (OH-)

10

60

110

9,1 10-3 (OH-)

11,96

70

120

1,67 10 (OH )

12,22

80

130

2,31 10-2 (OH-)

12,36

140

2,86 10 (OH )

12,46

100

150

3,33 10 (OH )

12,52

110

160

3,75 10-2 (OH-)

12,57

170

4,12 10 (OH )

12,61

90

120

(OH )

-2

-2
-2

-2

8,85

Pada kedua kurva titrasi diatas diamati perubahan pH yang bertahap sebelum dan
sesudah titik ekivalen. Perubahan drastis terlihat pada titik ekivalen titrasi asam kuat
dengan basa kuat. Untuk titrasi asam lemah dengan basa kuat, perubahan pH pada titik
ekivalen makin kurang tajam bila asamnya semakin lemah. Ini disebabkan reaksi
netralisasinya tidak selengkap reaksi netralisasi asam kuat basa kuat.
Tetapan kesetimbangan Kt untuk reaksi:

HB + OH-

B- + H2O

Lebih kecil asam lemah HB. Ketajaman perubahan pH pada titik ekivalen ini
berhubungan juga dengan perubahan warnaindikator dan presisi penentuan titik akhir.
Indikator Asam Basa
Adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan
pada suatu rang (trayek) pH tertentu.
Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH.
Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa, larut, stabil dan menunjukkan perubahan
warna yang kuat serta biasanya adalah zat organik.
Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Berbagai indikator
mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna
pada range pH yang berbeda.
Indikator asam basa secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan:
a). Indikator ftalein dan indikator sulfoftalein
Indikator ftalein dibuat dengan kondensasi anhidrida ftalein dengan fenol,
fenolftalein. Pada pH 8,0 9,8 berubah warnanya menjadi merah. Anggota-nggota
lainnya: thymol-ftalein, -naftolftalein.
Indikator sulfoftalein dibuat dari kondensasi anhidrida ftalein dan sulfonat. Yang
termasuk dalam kelas ini: thymol blue, bromofenol red, bromofenol blue,
bromocresol red.
b). Indikator Azo
Diperoleh dari reaksi amina romatik dengan garam dizonium, misal: methyl yellow
atau dimetil azo benzena. Indikator yang masuk kelas ini adalah methyl yellow,
methyl red dan tropaelino.
c). Indikator trifenilmetana
Yang termasuk golongan ini adalah malachite green, methyl violet, kristal violet.
Indikator Campuran

Pada titrasi H3PO4 oleh basa kuat ataupun NaHCO3 oleh asam, pengendalian pH
yang seksama mutlak diperlukan. Untuk titrasi demikian indikator campuran yang
berubah warnanya pada range pH yang sempit sangatlah bermanfaat. Contohnya:
campuran bromocresol green (pK 4,9) dan methyl red (pK 5) memberikan transisi yang
tajam pada pH = 5,1 yaitu berwarna abu-abu yang disebabkan hasil komplementer dari
kedua indikator tersebut.
Beberapa Indikator Campuran
Indikator (I) + Indikator
Warn
No.
Perbandingan
pH
Pelarut
(II)
a
Methyl yellow + methylene
1
1:1
B H 3,25 Alkohol
blue
Methyl
orange
+
2
1:5
J BH 4,3 Air
bromocresol green
Methyl orange + xylene
3
2:3
MH
3,8 Alkohol
cyanol FF
Methyl red + bromocresol
4
2:3
MH
5,1 Alkohol
green
5 Fenol red + bromotyhmol
1:1
KU
7,5 Air
6 Tyhmol blue + fenolftalein
1:3
KU
9,0 alkohol
B = biru; H = hijau; M = merah; K = kuning; U = ungu, BH = biru-hijau; J = jingga
Indikator Fluoresen
Indikator asam basa tidak dapat digunakan pada larutan yang warnanya pekat atau
larutan yang keruh. Untuk larutan tersebut biasanya digunakan indikator yang
menunjukkan pendar-fluor (fluoroscene), misal -naftilamin. Indikator ini menunjukkan
penda-fluor biru pada sinar ultraviolet. Kelebihan indikator ini adalah pengamatan titik
akhir titrasi sangat mudah meskipun warna titrannya sendiri cukup kuat, bahkan seorang
yang buta warna dapat mengamati proses pendar-fluor.

Beberapa Indikator Fluoresen


No.
Nama Indikator
1 Rosin
2 Asam salisilat
3 -naftilamin

Trayek pH
0 3,0
0,2 4,0
3,4 4,8

Bentuk Asam
-

Bentuk Basa
Hijau
Biru
Biru

4
5
6
7

Diklorofluorosein
-naftol
Kuinin
Kuinolin

4,0 6,6
8,0 9,0
9,5 10,0
6,2 7,2

Biru ungu
Biru

Hijau
Biru
-

Soal-soal:
1. Berapa banyak NaOH 0,6 N harus ditambahkan pada 750 mL NaOH 0,2 N untuk

memperoleh larutan 0,3 N.


2. Jika 0,5 g campuran K2CO3 dan Li2CO3 memerlukan 30 mL 0,25 N larutan asam

untuk netralisasi, berapakah komposisi campuran tersebut.


3. Jika 1,2 g sampel campuran Na2CO3 + NaHCO3 dilarutkan dan dititrasi dengan HCl

4.
5.

6.
7.

ternyata indikator fenolftalein menunjukkan titik akhirnya adalah 15 mL, sedangkan


titik akhir kedua teramati 22 mL dengan indikator methyl orange. Hitung persentase
komposisi campuran.
Berapa volume 0,1421 N Lithium hidroksida yang diperlukan untuk menetralkan 13,
72 mL 0,06860 N asam fosfat.
Suatu sampel H2SO4 mengandung SO2 dan SO3 beratnya 1,0 g memerlukan 23,4 mL 1
N alkali untuk netralisasi. Diketahui kadar SO2 adalah 1,3%, hitung persen SO3 bebas,
H2SO4 dan SO3 terikat dalam sampel.
Suatu campuran mengandung Li2CO3 + BaCO3 beratnya 1,0 g dan memerlukan 15
mL 1 N asam HCl untuk netralisasi. Berapa persen BaCO3 dalam sampel.
Berapa volume H2SO4 6 N dan 3 N harus dicampur untuk memperoleh satu liter
H2SO4 3 N.