Anda di halaman 1dari 1

Cross-Sectional Studies

2. DESIGN FITUR STUDI


Pada umumnya terdapat dua desain umum studi cross sectional, pertama adalah survei yang
dilakukan untuk menentukan prevalensi penyakit atau status fisiologis populasi pekerja di
satu titik waktu atau biasa disebut dengan one-time survey. Pendekatan kedua yaitu repeated
survey yang merupakan perpanjangan dari one-time survey dimana selanjutnya dilakukan
penilaian kesehatan (dan pajanan) pada tenaga kerja. Unsur umum dari studi cross sectional
adalah hasil kesehatan berupa jumlah kasus penyakit yang ada di populasi pada satu titik
waktu.
Karakteristik yang membedakan studi cross sectional yaitu selalu melibatkan pengukuran
prevalensi daripada insidens penyakit. Prevalensi penyakit menunjukkan jumlah kasus yang
ada dalam populasi. Point prevalence mengacu pada perkiraan prevalensi pada satu titik
waktu (misalnya, jumlah pekerja dengan bronkitis kronik ditentukan selama survei yang
dilakukan pada 1998). Sedangkan period prevalence menunjukkan jumlah kasus yang ada
selama beberapa interval waktu (misalnya, jumlah pekerja dengan CTS selama tahun 1974
1988). Namun dalam epidemiologi kerja, point prevalence yang selanjutnya disebut
prevalensi, lebih sering digunakan dibandingkan dengan period prevalence.
Prevalensi dihitung sebagai jumlah kasus dibagi dengan jumlah pekerja. Dengan demikian,
prevalensi adalah proporsi. Kebanyakan penelitian prevalensi terbatas pada pekerja aktif
sehingga tidak dapat mendeteksi penyakit yang mengakibatkan penghentian kerja.
Osteroarthritis adalah contoh dari kondisi pekerjaan yang melibatkan tekanan
muskoloskeletal berulang sehingga cocok menggunakan studi cross sectinal.