Anda di halaman 1dari 5

INDAH NOVITASARI 1

RANGKUMAN DRILLING

Jenis sumur geothermal


1. Sumur Produksi

Sumur Produksi dapat berupa produksi uap (steam) maupun air panas
(brine)
2. Sumur Injeksi
Sumur injeksi berfungsi untuk menginjeksikan kembali air sisa dari
proses di power plant (condensate) ke lapangan geothermal
3. Sumur Deliniasi/ Pemantauan
Melakukan pemantauan terhadap suatu area geothermal. Sumur ini
tidak melakukan injeksi ataupun produksi.

Tantangan utama pemboran di geothermal


1. Loss circulation

Target dalam sumur gothermal merupakan rekahan-rekahan (fracture)


yang terhubung ke dalam heat source. Ketika pengeboran terkena
fracture, maka bisa saja lumpur masuk ke dalam rekahan-rekahan yang
mengakibatkan temperatur semakin rendah, dan bisa saja mud
kembali ke permukaan (loss circulation). Di geothermal, tekanan pada
heatsource tergolong sub normal yakni di bawah tekanan normal air.
Maka kemungkinan yang terjadi yakni mud hilang/loss saat
dimasukkan.

2. Temperature

Seperti kita ketahui temperatur di sumur geotermal sangat tinggi, hal


ini mempengaruhi dalam pemilihan casing nantinya, karena pada oil
suhunya tidak terlalu tinggi sedangkan equipment geothermal
mengacu pada oil, maka ini menjadi salah satu pertimbangan selain
burst, collapse, dan tension.

Lumpur Pemboran
Lumpur dalam pemboran merupakan hal yang sangat penting untuk
membantu pengoperasian sumur minyak maupun gas demi mencapai target
yang direncanakan.
Fungsi Lumpur :
Mengangkat cutting dari dalam lubang bor dan mengendapkannya ketika
dipermukaan
Mendinginkan mata bor
Meminimalkan gesekan antar pipa bor dengan dinding lubang bor
Menahan dinding lubang bor agar tidak runtuh
Memberikan informasi gambaran bawah permukaan
Menahan cutting agar tidak mengendap ke dasar lubang bor ketika
sirkulasi berhenti

Cementing/Penyemenan

INDAH NOVITASARI 2
RANGKUMAN DRILLING

Tujuan utama dari penyemenan casing adalah mengisi kekosongan yang


ada akibat proses pengeboran sehingga dapat mengikat formasi dengan
casing.
Salah satu fungsi semen disini adalah agar casing tidak terkontaminasi
dengan fluida formasi yang dapat menyebabkan casing menjadi korosi
contohnya brine.
Ketika penyemenan sering terjadi hal terjebaknya fluida berupa air
didalam semen. Karena suhu sangat tinggi maka air berubah fasa
menjadi gas. Fluida gas ini akan menekan semen dan mencari jalan
keluar sehingga merusak formasi semen bahkan dapat menyebabkan
collapse
Penyemenan dibagi menjadi 2 yaitu primary cementing dan secondary
cementing. primary cementing proses penyemenan yang pertama kali
dilakukan setelah casing diturunkan ke dalam lubang bor. secondary
cementing penyemenan yang dilakukan dikarenakan tidak sempurnanya
penyemenan yang pertama.

Pore, fracture, Overbuden pressure


1. Tekanan pori/pore pressure atau biasa disebut tekanan formasi adalah
tekanan fluida yang mengisi di dalam pori-pori batuan.
Tekanan pori atau tekanan formasi merupakan faktor utama dan sangat
penting dalam operasi pemboran. Tekanan formasi merupakan besaran
pertama yang harus dihitung atau diperkirakan dalam suatu perencanaan
sumur.
Tekanan pori dibagi menjadi 3 yakni :
a) Tekanan normal
Tekanan normal pori umumnya atau hampir sama dengan tekanan
hidrostatik air yakni memiliki gradien sekitar 0,433 psi/ft
b) Tekanan abnormal /geopressured
Tekanan abnormal dapat terjadi karena adanya suatu penyekat
tekanan yang dapat terjadi karena keadaan geologi, misalnya
terbentuknya kubah garam. Tekanan abnormal dapat dibawah
tekanan normal ataupun diatas overpressured.
c) Tekanan subnormal
Tekanan subnormal pori umumnya di bawah tekanan hidrostatik air
yakni kurang dari 0,433 psi/ft.
Kondisi ini umumnya yang terjadi pada sumur geotermal. Reservoar
umumnya memiliki tekanan subnormal sehingga sering terjadi loss
circulation saat pemboran dengan menggunakan lumpur ataupun
pada saat penyemenan.
2. Fracture pressure adalah tekanan hidrostatik maksimum yang dapat
ditahan batuan sebelum formasi tersebut retak atau hancur. Besarnya
fracture pressure dipengaruhi oleh besarnya tekanan overburden, tekanan
formasi dan kondisi kekuatan batuan. Ini penting diketahui untuk
menentukan kekuatan dasar casing.
Ada 2 cara untuk menentukan tekanan rekahan yakni dengan perhitungan
atau leak off test. Leak off test adalah memberikan tekanan secara terus

INDAH NOVITASARI 3
RANGKUMAN DRILLING
menerus sampai batuan itu pecah ini ditunjukkan dengan kenaikan
tekanan secara terus menerus kemudian tiba-tiba turun.
3. Overbuden Pressure adalah tekanan akibat berat total formasi
diatasnya yakni matriks batuan dan fluida pada pori batuan. Overbuden
Pressure bergantung pada kedalaman maka dapat dikatakan merupakan
hasil dari perkalian densitas rata-rata dengan kedalaman. Besarnya
gradien tekanan overburden normal biasanya dianggap sebesar 1 psi/ft
atau 0,226 bar/m yang diambil dengan menganggap berat jenis batuan
rata-rata sebesar 2,3 kali berat jenis air. Jika gradien tekanan air sama
dengan 0,433 psi/ft maka gradien tekanan overburden sebesar 0,433 psi/ft
x 2,3 = 1 psi/ft.

Part of casing

Casing adalah sebuah pipa berdiameter besar yang dirangkai dan


dimasukkan ke dalam lubang bor dan umumnya disemen dan berfungsi
untuk memindahkan fluida produksi dari bawah.
A. Fungsi casing secara umum
1. Mencegah runtuhnya dinding lubang bor sehingga tidak
terjadi collapse atau caving
2. Mencegah
masuknya
fluida
formasi
yang
dapat
mengkontaminasi fluida saat pemboran maupun produksi
3. Membuat diameter lubang sumur tetap
4. Mencegah hubungan langsung dengan formasi
5. Sebagai tempat dudukan BOP dan peralatan produksi
B. Fungsi masing-masing bagian casing/klasifikasi casing
1. Conductor casing
Casing ini merupakan casing yang berukuran paling besar
yang dipasang dipermukaan sumur. Biasanya jika lubang
sumur 26 maka dipasang casing berukuran 20.
Fungsi :
Sebagai pelindung apabila dipermukaan tidak cukup kuat
atau dengan kata lain mudah runtuh/ supaya kokoh

INDAH NOVITASARI 4
RANGKUMAN DRILLING
2. Surface casing
Dipasang setelah konduktor casing dan di semen sampai
permukaan. Apabila lubang sumur berukuran 17 maka
surface casing yang dipasang adalah 13 3/8. Biasanya
surface casing digunakan yang berat karena salah satu
fungsinya yaitu menyangga berat semua rangkaian casing
saat di run. Kedalaman rata-rata 1000-2500 ft.
Fungsi :
Melindungi air tanah dari kontaminasi lumpur pemboran
Sebagai tempat dudukan BOP (Blow Out Preventer) dan
wellhead
Menyangga seluruh beban casing yang selanjutnya yang
telah masuk ke dalam lubang sumur
3. Intermediate Casing
Dipasang setelah surface casing. Apabila lubang sumur
berukuran 12 maka surface casing yang dipasang adalah
9 5/8.
Fungsi :
Mengisolasi zona garam atau Menutup zona-zona yang
dapat menimbulkan kesulitan dalam lubang sumur pada
saat pemboran berlangsung
4. Production Casing
Dipasang setelah intermediate casing. Apabila lubang sumur
berukuran 8 maka surface casing yang dipasang adalah
7. Ukuran bervariasi tergantung tipe sumur big atau
standard hole.
Fungsi :
Melindungi alat-alat produksi yang terdapat di bawah
lubang sumur
5. Liner
Liner berada dibawah production casing dan di gantungkan
pada production casing tidak sampai ke permukaan. Pada
sumur geotermal menggunakan perforated liner biasa
disebut casing yang berlubang. Liner tidak disemen.
Fungsi :
Tempat masuknya fluida panas bumi.
6. Tie back Casing
Tidak semua pemboran menggunakan tie back. Tie back
casing adalah casing yang dipasang dari permukaan sampai
ke kedalaman tertentu, disemen dan umumnya dipasang
karena terjadi kerusakan di production casing.

Design casing

Tujuan utama yang ingin dicapai dari casing design adalah untuk
mendapatkan rangkaian casing yang kuat dan aman untuk mengontrol

INDAH NOVITASARI 5
RANGKUMAN DRILLING

sumur selama pemboran maupun produksi dengan biaya yang


seefisien mungkin.
Pertimbangan desain casing berkaitan erat dengan kondisi geologi
yakni tekanan pori atau formasi dan tekanan rekah.
Dalam mendesain casing langkah pertama yang dilakukan adalah
memilih kedalaman casing yang akan disemen.
Kriteria pertama dalam menentukan kedalaman casing adalah
menentukan berat lumpur yang dapat mengontrol tekanan formasi
tanpa terjadinya fracture pada kedalaman formasi yang rendah.
Umumnya dalam mendesain kedalaman casing dimulai dari bawah
kemudian ke atas (production casing, intermediate casing dan surface
casing).
Kesalahan desain kedalaman casing dapat menyebabkan kegagalan
rangkaian casing, yang terjadi karena casing setting depth terlalu
dangkal atau terlalu dalam.
Rangkaian casing yang akan dipasang adalah rangkaian yang optimum
artinya rangkaian tersebut mampu menahan beban-beban terburuk
selama proses berlangsung dengan biaya yang seekonomis mungkin.
Spesifikasi casing adalah pengklasifikasian yang digunakan untuk
mempermudah pemilihan casing yang digunakan sesuai keadaan
sumur.
Casing standar yang digunakan dalam industri mengacu pada API
(American Petroleum Institute).
Ukuran casing faktor yang paling penting dalam mendesign casing
karena setiap ukuran casing memiliki kekuatan yang berbeda.
Secara umum, desain casing yang dilakukan pada rangkaian casing
mempertimbangkan tiga kriteria utama yaitu Burst, Collapse, dan
Tension. Namun, khusus untuk desain production casing pada sumur
geothermal,dibutuhkan tambahan pertimbangan yang berkaitan
dengan ciri khas sumur geothermal, yaitu: 1. Thermal stress yang
merupakan pertimbangan untuk memperkirakan material casing
sehingga casing masih dalam kondisi yang aman walaupun memasuki
kondisi plastik. 2. Korosi yang merupakan pertimbangan untuk
memilih grade casing yang cocok dalam lingkungan asam akibat
adanya kandungan H2S.

Burst , Collapse, tension