Anda di halaman 1dari 19

Bauksit

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Bauksit dengan uang sen Amerika Serikat

Bauksit dengan inti batu


Bauksit (bahasa Inggris: bauxite) adalah biji utama aluminium terdiri dari hydrous
aluminium oksida dan aluminium hidroksida yakni dari mineral gibbsite Al (OH) 3, boehmite
-ALO (OH), dan diaspore -ALO (OH), bersama-sama dengan oksida besi goethite dan
bijih besi, mineral tanah liat kaolinit dan sejumlah kecil anatase Tio 2 . Pertama kali
ditemukan pada tahun 1821 oleh geolog bernama Pierre Berthier pemberian nama sama
dengan nama desa Les Baux di selatan Perancis.
Artikel bertopik mineral ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia
dengan mengembangkannya.
Kategori:

Aluminium mineral

Batuan sedimen

Bauksit
Bauksit (bahasa Inggris: bauxite) adalah biji utama aluminium terdiri dari hydrous aluminium
oksida dan aluminium hidroksida yaitu berupa mineral buhmit (Al2O3H2O), mineral gibsit
(Al2O3 .3H2O), dan diaspore -ALO (OH), bersama-sama dengan oksida besi goethite dan
bijih besi, mineral tanah liat kaolinit dan sejumlah kecil anatase Tio 2. Secara umum bauksit

mengandung Al2O3 sebanyak 45 65%, SiO2 1 12%, Fe2O3 2 25%, TiO2 >3%, dan
H2O 14 36%.
Bauksit pertama kali ditemukan pada tahun 1821 oleh geolog bernama Pierre Berthier
pemberian nama sama dengan nama desa Les Baux di selatan Perancis. Di Indonesia Bauksit
pertama kali ditemukan pada tahun 1924 di Kijang, pulau Bintan, di provinsi Kepulauan
Riau.
Bijih bauksit terjadi di daerah tropika dan subtropika dengan memungkinkan pelapukan
sangat kuat. Bauksit terbentuk dari batuan sedimen yang mempunyai kadar Al nisbi tinggi,
kadar Fe rendah dan kadar kuarsa (SiO2) bebasnya sedikit atau bahkan tidak mengandung
sama sekali. Batuan tersebut (misalnya sienit dan nefelin yang berasal dari batuan beku, batu
lempung, lempung dan serpih. Batuan-batuan tersebut akan mengalami proses lateritisasi,
yang kemudian oleh proses dehidrasi akan mengeras menjadi bauksit.
Kegunaan Bauksit: Bahan Industri Keramik, Logam, Abrasive, Kimia dan Metelurgi
Bauksit dapat ditemukan dalam lapisan mendatar tetapi kedudukannya di kedalaman tertentu.
Potensi dan cadangan endapan bauksit terdapat di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Pulau
Bangka, dan Pulau Kalimantan.

PEMBENTUKAN BAUKSIT
PROSES PEMBENTUKAN DAN GENESA BAUKSIT Genesa bijih bauksit, alumina
dpat bersumber dari batuan primer (magmatic dan hidrotermal) maupun dari
batuan sekunder (pelapukan dan metamorphosis). Namun, secara luas yang
berada dipermukaan bumi ini berasal dari batuan sekunder hasil proses
pelapukan dan pelindian. Genesa dari bauksit sendiri dapt terbentuk dari 4
proses yaitu : magamatik, Hidrotermal, metamorfosa, dan pelapukan (lebih jelas
silahkan download DISINI). KLASIFIKASI BAUKSIT Berdasarkan genesanya, bijih
bauksit terbagi atas 5 yaitu, bauksit pada batuan klastik kasar, bauksit pada
terrarosa, bauksit pada batuan karbonat, bauksit pada batuan sedimen klastik
dan bauksit pada batuan fosfat. Sedangkan berdasarkan letak depositnya
bauksit terbadi atas 4 yaitu deposit bauksit residual, deposit bauksit koluvial,
deposit bauksit alluvial pada perlapisan dan deposit bauksit alluvial pada
konglomerat kasar. SYARAT TERBENTUKNYA BAUKSIT 1. Iklim humid tropis dan
subtropics 2. Batuan sumber mengandung alumina tinggi 3. Reagent yang sesuai
pH dan Eh, sehingga mampu merubah silikat 4. Infiltrasi air meteoric prmukaan
secara lambat 5 kondisi bawah permukaan (larutan bawah permukaan) yang
mampu melarutkan unsure batuan yang dilaluinya 6. Sublitas tektinik yang
berlangsung lama 7. Preservation METODE EKSPLORASI BAUKSIT Tahapan
eksplorasi bauksit meliputi pengukuran dan pemetaan, pembuata sumur uji,
pengambilan conto laterit bauksit, perhitungan cadangan, ketebalan tanah
penutup (OB) swell factor dan factor konkresi. METODE PENAMBANGAN Tambang
bauksit berupa surface mining. Endapan bauksit di setiap lokasi mempunyai
kadar yang berbeda-beda, sehingga penambangannya dilakukan secara selektif

dan pencampuran (blending) merupakan salah satu cara untuk memenuhi


persyaratan ekspor. SISTEM PENAMBANGAN Metode dan urutan penambangan
bijih bauksit secara umum adalah : 1. Pembersihan local (land clearing) dari
tumbuh tumbuhan yang terdapat diatas endapan bijih bauksit. 2. Pengupasan
lapisan penutup (stripping OB) yang umumnya memiliki ketebalan 0.2 meter.
Untuk pengupasan lapisan digunkan bulldozer. 3. Penggalian (digging) endapan
bauksit dengan excavator dan pemuatan bijih digunakan dump truck.

Proses terbentuknya mineral Bauksit dan mineral Magnetit


Mineral bauksit terbentuk karena adanya endapan dari pelapukan batuan induk. Bauksit
terbentuk dari bahan baku aluminia dan aluminium. Bauksit mempunyai rumus kimia A

Bauksit terjadi dari hasil pelapukan prapis yang efektif pada batuan beku alumunial.
Miberal magnetit dihasilkan dari peridoties dan dunite oleh serpentinization. Magnetit
mempunyai rumus kimia

Magenetit larut dalam air asam. Mineral magnetit

bereaksi dengan oksigen untuk memproduksi bijih besi.


C. Hasil dan Pembahasan :
1. Mineral Bauksit :

Mineralbauksit dilihat dengan menggunakanmikroskop.

MineralBauksit dilihat dengan mata telanjang.

Struktur :
Mineral bauksit merupakan mineral yang tersusun oleh mineral anorganik yakni merupakan
senyawa kimia yang ada secara alami.

Tekstur :
Secara alami, alumunium oksida terdapat dalam Kristal corundum. Terdapat adanya kristalkristal berwarna hitam dengan lebih banyak bintik merah agak orange.
Senyawa Kimia penyusun mineral :
Mineral Magnetit tersusun atas unsur alumina dan aluminium dengan rumus kimia

. Alumunium yang merupakan golongan III A yang sangat bermanfaat bagi kehidupan.
Jenis :
Bauksit merupakan jenis mineral sekunder karena bauksit terbentuk dari mineral-mineral
primer yang mengalami pelapukan.
Warna :

Jika dilihat dengan menggunakan mata telanjang bauksit memiliki warna coklat orange agak
kekuning-kuningan. Namun apabila dilihat dengan menggunakan mikroskop akan terlihat
adanya Kristal yang berwarna kehitaman.
Tempat :
Lokasi penemuan bauksit yakni banyak terdapat di Pulau Bintan, Riau, Tanjung Sauh, Pulau
Kijang, Angkut, Temebling dan Kelong.

Kegunaan :
Bauksit memiliki banyak manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Kandungan alumina yang
terdapat di dalam mineral bauksit dapat dimanfaatkan sebagai penyangga (buffer) katalis
yang digunakan dalam proses Hydrotreating yang bertujuan untuk menghilangkan pengotorpengotor yang masih terdapat pada minyak bumi seperti senyawa sulfur, nitrogen dan logam.
Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk membuat perabotan rumah tangga seperti wajan,
panci dan lain-lain. Bauksit juga dapat digunakan sebagi bahan industry, keramik, logan dan
abrasive.
BATUAN BAUKSIT
07.56 GEOGRAFI No comments

Proses Terjadinya
Bauksit terbentuk dari batuan yang mengandung unsur Al. Batuan
tersebut antara lain nepheline, syenit, granit, andesit, dolerite, gabro, basalt,
hornfels, schist, slate, kaolinitic, shale, limestone dan phonolite. Apabila batuanbatuan tersebut mengalami pelapukan, mineral yang mudah larut akan
terlarutkan, seperti mineral mineral alkali, sedangkan mineral mineral yang
tahan akan pelapukan akan terakumulasikan.
Bauksit terbentuk dari batuan yang mempunyai kadar alumunium
nisbi tinggi, kadar Fe rendah dan tidak atau sedikit mengandung kuarsa (SiO2)
bebas atau tidak mengandung sama sekali. Bentuknya menyerupai cellular atau
tanah liat dan kadang-kadang berstruktur pisolitic. Secara makroskopis bauksit
berbentuk amorf. Kekerasan bauksit berkisar antara 1 3 skala Mohs dan berat

jenis berkisar antara 2,5 2,6. . Bauksit dapat ditemukan dalam lapisan
mendatar
tetapi
kedudukannya
di
kedalaman
tertentu.
Di daerah tropis, pada kondisi tertentu batuan yang terbentuk dari
mineral silikat dan lempung akan terpecah-pecah dan silikanya terpisahkan
sedangkan oksida alumunium dan oksida besi terkonsentrasi sebagai residu.
Proses ini berlangsung terus dalam waktu yang cukup dan produk pelapukan
terhindar dari erosi, akan menghasilkan endapan lateritik.Kandungan alumunium
yang tinggi di batuan asal bukan merupakan syarat utama dalam pembentukan
bauksit, tetapi yang lebih penting adalah intensitas dan lamanya proses
laterisasi.
Kondisi kondisi utama yang memungkinkan terjadinya endapan bauksit secara
optimum
adalah
;
1. Adanya batuan yang mudah larut dan menghasilkan batuan sisa yang kaya
alumunium
2. Adanya vegetasi dan bakteri yang mempercepat proses pelapukan
3. Porositas batuan yang tinggi, sehingga sirkulasi air berjalan dengan mudah
4. Adanya pergantian musim (cuaca) hujan dan kemarau (kering)
5.
Adanya
bahan
yang
tepat
untuk
pelarutan
6. Relief (bentuk permukaan) yang relatif rata, yang mana memungkinkan
terjadinya
pergerakan
air
dengan
tingkat
erosi
minimum
7. Waktu yang cukup untuk terjadinya proses pelapukan

Persebaran bauksit
Di Indonesia bauksit diketemukan di Pulau Bintan dan sekitarnya, Pulau
Bangka dan Kalimantan Barat. Sampai saat ini penambangan bauksit di Pulau
Bintan satu-satunya yang terbesar di Indonesia. Beberapa tempat antara lain:

Sumatera utara

: Kota Pinang (kandungan Al2O3 = 15,05 58,10%).

Riau
: P.Bulan, P.Bintan (kandungan SiO2 = 4,9%,
Fe2O3 = 10,2%,
TiO2 = 0,8%, Al2O3 = 54,4%), P.Lobang
(kepulauan Riau), P.Kijang (kandungan SiO2 = 2,5%, Fe2O3 = 2,5%, TiO2
= 0,25%, Al2O3 = 61,5%, H2O = 33%),merupakan akhir pelapukan
lateritic setempat, selain ditempat tersebut terdapat juga diwilayah lain
yaitu, Galang, Wacokek, Tanah Merah,dan daerah searang.

Kalimantan Barat
: Tayan Menukung, Sandai, Pantus, Balai Berkuah,
Kendawangan dan Munggu Besar.

Bangka Belitung

: Sigembir.

Gambar

bauksit

Produksi bauksit Indonesia pada tahun 1971 adalah 1.237.610 ton


sebagian besar di ekspor ke jepang. Endapan bauksit di daerah Bintan
ditemukan pada tahun 1924 dan pihak pertama yang memanfaatkannya adalah
perusahaan Belanda, NV Nederlansch Indische Bauxiet Exploitatie Maatschapij
(NV NIBEM), dari tahun 1935 sampai 1942. Pada tahun 1942 sampai 1945, usaha
ini diambil alih Jepang melalui perusahaan Furukawa Co Ltd, dan tahun 1959
usaha ini kembali ditangani NV NIBEM. Setelah tahun 1959, kegiatan
pertambangan bauksit di daerah ini diambil alih Pemerintah Republik Indonesia
dengan mendirikan PT Pertambangan Bauksit Indonesia (PERBAKI), dan
kemudian dilebur menjadi PN Pertambangan Bauksit Indonesia yang berada di
lingkungan BPU PERTAMBUN Tahun 1968 bersama-sama dengan BPU
PERTAMBUN, PN, PT, dan proyek-proyek lainnya dalam lingkungan BPU
PERTAMBUN dilebur ke dalam PN. Aneka Tambang (Persero) yang kemudian
menjadi PT. Aneka Tambang .Sebaran bahan galian bauksit (lempung alumina)
tersebar secara luas di wilayah Pulau Bintan dan sekitarnya. Bauksit merupakan
hasil proses pelapukan dari batuan granit yang merupakan batuan dasar dari P.
Bintan, umumnya tersebar pada morfologi dataran sampai dengan landai yang
memungkinkan proses pelapukan dapat berlangsung intensif. Berdasarkan data
PT. Aneka Tambang membagi kualitas cadangan bauksit menjadi 3 (tiga) kategori
A, B dan C.
Kelas Cadangan A ,kandungan Al2O3 > 50% dan SiO2 6 %
Kelas Cadangan B ,kandungan Al2O3 48%-50% dan SiO2 6%-13%
Kelas Cadangan C, kandungan Al2O3 < 48% dan SiO2 < 13%
Potensi sebaran bauksit cukup besar terdapat di wilayah Kecamatan
Bintan Timur, pada wilayah daratan utama dan pulau-pulau di sekitarnya,
merupakan wilayah tambang dan sebagian bekas tambang bauksit. Wilayah
yang mempunyai sebaran bauksit cukup luas terdapat di Desa Gunung
Lengkuas, Busung, Toapaya dan Ekang Anculai, serta di pulau-pulau yang
termasuk dalam wilayah Kecamatan Bintan Timur Terdapat beberapa wilayah
bekas tambang di P. Bintan di antaranya P. Koyang, daerah Wacopek, daerah
Tanjung Pinang dan sekitarnya. Daerah tersebut merupakan wilayah bekas
tambang bauksit PT. Aneka Tambang, dimana terdapat bijih bauksit tertinggal
dengan ketebalan sampai batuan dasar sekitar 40 hingga 50 cm (rata-rata 45
cm), sedangkan bahan galian bijih bauksit sebelum ditambang mempunyai
ketebalan 1 - 5 meter. Bekas tambang di daerah Tanjung Pinang Terdapat dan
sekitarnya, telah menjadi wilayah perkantoran, perumahan padat penduduk dan
pertokoan.

Cara penambangan bauksit


Perlu melakukan eksplorasi kembali beberapa daerah yang pernah di tambang
sampai kedalaman maksimal yang masih mengandung endapan bauksit
sehingga daerah tersebut layak tambang mencapai 5 (lima) meter kedalaman.

Tetap menggunakan metoda yang sama dalam perhitungan cadangan, akan tetapi
sumur uji untuk percontohan perlu dirapatkan.
Perlunya pendistribusian air bersih dari perusahaan kepada masyarakat sekitar
tambang, tidak hanya lingkungan kompleks tambang saja.
Tanah penutup yang kondisinya asam, perlu dilakukan netralisir dengan ditaburi
kapur/dolomit sehingga mudah ditanami serta memilih tanaman yang mudah
daunnya lapuk.
Mineral ikutan seperti; Rutil, Zirkon dan lainya dapat dimanfaatkan sebagai nilai
tambah untuk dipergunakan dalam keperluan teknologi tinggi.
Kolam-kolam sedimentasi hanya berfungsi sebagai pengendapan pasir dan
lumpur, sedangkan air hasil pencucian yang dibuang kelaut perlu dipantau
secara periodik, karena bisa mencemari laut sekitar.
Penataaan kembali lahan bekas penambangan pasir darat dan granit di wilayah
Bintan Timur dan bisa dimanfaatkan sebagai tempat obyek wisata, tempat
penampungan air bersih dan kolam ikan darat.
Agar dilakukan sosialisasi Rencana PenutupanTambang, serta meng antisifasi
dampak langsung terhadap masyarakat dan pemerintah daerah.
Harus kerjasama antar intansi terkait (antara lain Dinas Pemukiman dan Prasarana
Wilayah) mengenai kondisi tanah agar aman mendirikan bangunan dan tidak
membahayakan masyarakat.

Kegunaan bauksit
*Bahan Industri keramik,
* logam,
* abrasive,
* kimia, dan
* metalurgi
Bauksit Dan Cara Pengolahannya
09.10
Irfan Hikari

No comments

A. Tentang Bauksit
Bauksit (Inggris:bauxite) adalah biji utama aluminium terdiri dari hydrous
aluminium oksida dan aluminium hidroksida yakni dari mineral gibbsite Al (OH)3,

boehmite -ALO (OH), dan diaspore -ALO (OH), bersama-sama dengan oksida
besi goethite dan bijih besi, mineral tanah liat kaolinit dan sejumlah kecil anatase
Tio 2 .
Pertama kali ditemukan pada tahun 1821 oleh geolog bernama Pierre Berthier
pemberian nama sama dengan nama desa Les Baux di selatan Perancis.
B. Sumber Bijih Bauksit
Bijih bauksit merupakan mineral oksida yang sumber utamanya adalah:
1. Al2O3.3H2O, Gibbsit yang sifatnya mudah larut
2. Al2O3.3H2O, Bohmit yang sifarnya susah larut dan Diaspore yang tidak larut.
Sumber lain nya adalah :
1. Nephelin : (Na,K)2O.Al2O3.SiO2
2. Alunit : K2SO4.Al2(SO4)3.4Al(OH)3
3. Kaolin & Clay : Al2O3.2SiO2.2H2O
C. Proses Pengolahan Bauksit
Penambangan bauksit dilakukan dengan penambangan terbuka diawali dengan
land
clearing. Setelah pohon dan semak dipindahkan dengan bulldozer, dengan alat
yang sama diadakan pengupasan tanah penutup. Lapisan bijih bauksit kemudian
digali dengan shovelloader yang sekaligus memuat bijih bauksit tersebut
kedalam dump truck untuk diangkut ke instalansi pencucian.
Bijih bauksit dari tambang dilakukan pencucian dimaksudkan untuk
meningkatkan kualitasnya dengan cara mencuci dan memisahkan bijih bauksit
tersebut dari unsur lain yang tidak diinginkan, missal kuarsa, lempung dan
pengotor lainnya. Partikel yang halus ini dapat dibebaskan dari yang besar
melalui pancaran air (water jet) yang kemudian dibebaskan melalui penyaringan
(screening). Disamping itu sekaligus melakukan proses pemecahan (size
reduction) dengan menggunakan jaw crusher.
Cara-cara Leaching :
1. Cara Asam (H2SO4)
Hanya dilakukan untuk pembuatan Al2(SO4)3 untuk proses pengolahan air
minum dan pabrik
kertas.
Reaksi dapat dipercepat dengan menaikkan temperatur sampai 180 C
(Autoclaving)
KalsinasiCocok untuk lowgrade Al2O3 tetapi high SiO2 yang tidak cocok
dikerjakan dengan cara basa.
Hasil Basic-Al-Sulfat dikalsinansi menjadi Al2O3, kelemahan cara ini adalah
Fe2O3 ikut larut.

2. Cara Basa (NaOH), Proses Bayers (Th 1888)


Ada 2 macam produk alumina yang bisa dihasilkan yaitu Smelter Grade Alumina
(SGA) dan Chemical Grade Alumina (CGA). 90% pengolahan bijih bauksit di dunia
ini dilakukan untuk menghasilkan Smelter Grade Alumina yang bisa dilanjutkan
untuk menghasilkan Al murni.
Reaksi Pelindian:
Mineral Bijih:
Al2O33H2O + 2 NaOH = Na2OAl2O3 + 4 H2O (T =140 C, P= 60 psi)
Impurities:
SiO2 + 2 NaOH = Na2OSiO2 + H2O (Silika yang bereaksi adalah silika reaktif)
2(Na2OSiO2) + Na2OAl2O3+2H2O = Na2OAl2O3SiO2 (Tidak larut) + 4
NaOH
Dalam proses ini dibatasi jumlah silika reaktifnya karena sangat mengganggu
dengan menghasilkan doubel Na-Al-Silikat yang mempunyai sifat tidak larut.
Fe2O3 dan TiO2 tidak bereaksi dengan NaOH dan tetap dalam residu (Red Mud),
sedangkan V2O5, Cr2O3, Ga2O3 larut sebagai by product.
- Reaksi Presipitasi:
Dilakukan dengan memanfaatkan hidrolisa karena pendinginan T=60-65 C
sampai 38-43 C, t = 100 jam
Na2O33H2O + 4 H2o = Al2O33H2O(s) + 2 NaOH
- Kalsinasi:
Al2O33H2O = Al2O3(pure) + 3 H2O(g) (T=1200 C)
3. Cara Sintering dengan Na2CO3 (Deville-Pechiney)
Sintering dilakukan dalam Rotary Kiln 1000 C selama 2-4 jam, cocok untuk bijih
dengan high Fe2O3 dan SiO2.
Reaksi-reaksi:
Al2O3 + Na2CO3= NaAlO2 + CO2(g)
Fe2O3 + Na2CO3 = Na2OFe2O3 + CO2(g)
TiO2 + Na2CO3 = Na2OTiO2 + CO2(g)
SiO2 + Na2CO3 = Na2OSiO2 + CO2(g)
4. Dengan proses elektolisa
Bahan utamanya adalah bauksit yang mengandung aluminium oksida. pada
katoda terjadi reaksi reduksi, ion aluminium (yang terikat dalam aluminium
oksida) menerima electron menjadi atom aluminium,

4 Al(3+) + 12 e(1-) > 4 Al


Pada anoda terjadi reaksi oksidasi, dimana ion-ion oksida melepaskan elektron
menghasilkan gas oksigen.
6 O(2-) > 3 O2 + 12 e(1-)
logam aluminium terdeposit di keping katoda dan keluar melalui saluran yang
telah disediakan.
Genesa Endapan Bauksit
Bauksit terbentuk dari batuan yang mengandung unsur Al. Batuan tersebut
antara lain nepheline, syenit, granit, andesit, dolerite, gabro, basalt, hornfels,
schist, slate, kaolinitic, shale, limestone dan phonolite. Apabila batuan-batuan
tersebut mengalami pelapukan, mineral yang mudah larut akan terlarutkan,
seperti mineral mineral alkali, sedangkan mineral mineral yang tahan akan
pelapukan akan terakumulasikan.
Di daerah tropis, pada kondisi tertentu batuan yang terbentuk dari mineral silikat
dan lempung akan terpecah-pecah dan silikanya terpisahkan sedangkan oksida
alumunium dan oksida besi terkonsentrasi sebagai residu. Proses ini berlangsung
terus dalam waktu yang cukup dan produk pelapukan terhindar dari erosi, akan
menghasilkan endapan lateritik.
Kandungan alumunium yang tinggi di batuan asal bukan merupakan syarat
utama dalam pembentukan bauksit, tetapi yang lebih penting adalah intensitas
dan lamanya proses laterisasi.
Kondisi kondisi utama yang memungkinkan terjadinya endapan bauksit secara
optimum adalah ;
1. Adanya batuan yang mudah larut dan menghasilkan batuan sisa yang kaya
alumunium
2. Adanya vegetasi dan bakteri yang mempercepat proses pelapukan
3. Porositas batuan yang tinggi, sehingga sirkulasi air berjalan dengan mudah
4. Adanya pergantian musim (cuaca) hujan dan kemarau (kering)
5. Adanya bahan yang tepat untuk pelarutan
6. Relief (bentuk permukaan) yang relatif rata, yang mana memungkinkan
terjadinya pergerakan air dengan tingkat erosi minimum
7. Waktu yang cukup untuk terjadinya proses pelapukan

Bauksit adalah salah satu bahan galian logam yang keterdapatannya tidak
jauh dari permukaan bumi dengan kata lain keadaan tanah penutup tidak
terlalu tebal, hal ini bisa kita lihat dari genesa bauksit itu sendiri dimana
bauksit merupakan hasil pelapukan yang terlarutkan. sehingga dalam
proses penambangannya dapat dilakukan dengan Metoda Penambangan
Terbuka.

Bauksit terbentuk dari batuan yang mengandung unsur Al. Batuan


tersebut antara lain nepheline, syenit, granit, andesit, dolerite, gabro,
basalt, hornfels, schist, slate, kaolinitic, shale, limestone dan phonolite.
Apabila batuan-batuan tersebut mengalami pelapukan, mineral yang
mudah larut akan terlarutkan, seperti mineral mineral alkali, sedangkan
mineral mineral yang tahan akan pelapukan akan terakumulasikan.
Di daerah tropis, pada kondisi tertentu batuan yang terbentuk dari
mineral silikat dan lempung akan terpecah-pecah dan silikanya
terpisahkan sedangkan oksida alumunium dan oksida besi terkonsentrasi
sebagai residu. Proses ini berlangsung terus dalam waktu yang cukup dan
produk pelapukan terhindar dari erosi, akan menghasilkan endapan
lateritik.
Kandungan alumunium yang tinggi di batuan asal bukan merupakan
syarat utama dalam pembentukan bauksit, tetapi yang lebih penting
adalah intensitas dan lamanya proses laterisasi.
Kondisi kondisi utama yang memungkinkan terjadinya endapan bauksit
secara optimum adalah ;
1. Adanya batuan yang mudah larut dan menghasilkan batuan sisa
yang kaya alumunium
2. Adanya vegetasi dan bakteri yang mempercepat proses pelapukan
3. Porositas batuan yang tinggi, sehingga sirkulasi air berjalan dengan
mudah
4. Adanya pergantian musim (cuaca) hujan dan kemarau (kering)
5. Adanya bahan yang tepat untuk pelarutan
6. Relief (bentuk permukaan) yang relatif rata, yang mana
memungkinkan terjadinya pergerakan air dengan tingkat erosi
minimum
7. Waktu yang cukup untuk terjadinya proses pelapukan

BAUKSIT
Bauksit merupakan bahan yang heterogen, yang mempunyai mineral dengan susunan
terutama dari oksida aluminium, yaitu berupa mineral buhmit (Al2O3H2O) dan mineral
gibsit (Al2O3 .3H2O). Secara umum bauksit mengandung Al2O3 sebanyak 45 65%, SiO2 1
12%, Fe2O3 2 25%, TiO2 >3%, dan H2O 14 36%.
Bijih bauksit terjadi di daerah tropika dan subtropika dengan memungkinkan pelapukan
sangat kuat. Bauksit terbentuk dari batuan sedimen yang mempunyai kadar Al nisbi tinggi,

kadar Fe rendah dan kadar kuarsa (SiO2) bebasnya sedikit atau bahkan tidak mengandung
sama sekali. Batuan tersebut (misalnya sienit dan nefelin yang berasal dari batuan beku, batu
lempung, lempung dan serpih. Batuan-batuan tersebut akan mengalami proses lateritisasi,
yang kemudian oleh proses dehidrasi akan mengeras menjadi bauksit.
Bauksit dapat ditemukan dalam lapisan mendatar tetapi kedudukannya di kedalaman tertentu.
Potensi dan cadangan endapan bauksit terdapat di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Pulau
Bangka, dan Pulau Kalimantan.
Bauksit

Bauksit (bahasa Inggris: bauxite) adalah biji utama aluminium yang terutama terdiri dari
hydrous aluminium oksida dan aluminium hidroksida yaitu berupa mineral gibbsite Al (OH) 3,
boehmite -ALO (OH), dan diaspore -ALO (OH), bersama-sama dengan oksida besi
goethite dan bijih besi, mineral tanah liat kaolinit dan sejumlah kecil anatase Tio 2 . Secara
umum bauksit mengandung Al2O3 sebanyak 45 65%, SiO2 1 12%, Fe2O3 2 25%,
TiO2 >3%, dan H2O 14 36%. Pertama kali ditemukan pada tahun 1821 oleh geolog
bernama Pierre Berthier pemberian nama sama dengan nama desa Les Baux di selatan
Perancis.

Bijih bauksit dapat ditemukan di daerah tropika dan subtropika yang memungkinkan
terjadinya pelapukan yang sangat kuat. Bauksit terbentuk dari batuan sedimen yang
mempunyai kadar Al nisbi tinggi, kadar Fe rendah dan kadar kuarsa (SiO2) bebasnya sedikit
atau bahkan tidak mengandung sama sekali.

Batuan tersebut (misalnya sienit dan nefelin) yang berasal dari batuan beku, batu lempung,
lempung dan serpih. Batuan-batuan tersebut akan mengalami proses lateritisasi, yang
kemudian oleh proses dehidrasi akan mengeras menjadi bauksit.

Bauksit dapat ditemukan dalam lapisan datar, tetapi kedudukannya di kedalaman tertentu.
Potensi dan cadangan endapan bauksit banyak terdapat di Pulau Bintan (terbesar di
Indonesia), Kepulauan Riau, Pulau Bangka, dan Pulau Kalimantan.

Cara Pengolahan

Penambangan bauksit dilakukan dengan penambangan terbuka diawali dengan land


clearing. Setelah pohon dan semak dipindahkan dengan bulldozer, dengan alat yang sama
diadakan pengupasan tanah penutup. Lapisan bijih bauksit kemudian digali dengan shovel
loader yang sekaligus memuat bijih bauksit tersebut kedalam dump truck untuk diangkut ke
instalansi pencucian.

Bijih bauksit dari tambang dilakukan pencucian dimaksudkan untuk meningkatkan


kualitasnya dengan cara mencuci dan memisahkan bijih bauksit tersebut dari unsur lain
yang tidak diinginkan, misal kuarsa, lempung dan pengotor lainnya. Partikel yang halus ini
dapat dibebaskan dari yang besar melalui pancaran air (water jet) yang kemudian
dibebaskan melalui penyaringan (screening). Disamping itu sekaligus melakukan proses
pemecahan (size reduction) dengan menggunakan jaw crusher.

Cara-cara Leaching:

a. Cara Asam (H2SO4)

Hanya dilakukan untuk pembuatan Al2(SO4)3 untuk proses pengolahan air minum dan pabrik
kertas.

Reaksi dapat dipercepat dengan menaikkan temperatur sampai 180 C (Autoclaving)

KalsinasiCocok untuk lowgrade Al2O3 tetapi high SiO2 yang tidak cocok dikerjakan
dengan cara basa.

Hasil Basic-Al-Sulfat dikalsinansi menjadi Al2O3, kelemahan cara ini adalah Fe2O3 ikut
larut.

b. Cara Basa (NaOH), Proses Bayers (Th 1888)


Ada 2 macam produk alumina yang bisa dihasilkan yaitu Smelter Grade Alumina (SGA) dan
Chemical Grade Alumina (CGA). 90% pengolahan bijih bauksit di dunia ini dilakukan untuk

menghasilkan Smelter Grade Alumina yang bisa dilanjutkan untuk menghasilkan Al murni.
Berikut block diagram pengolahan bauksit melalui proses SGA:

c. Cara Sintering dengan Na2CO3 (Deville-Pechiney)

Sintering dilakukan dalam Rotary Kiln 1000 C selama 2-4 jam, cocok untuk bijih dengan high
Fe2O3 dan SiO2.

Reaksi-reaksi:
Al2O3 + Na2CO3 = NaAlO2 + CO2(g)
Fe2O3 + Na2CO3 = Na2OFe2O3 + CO2(g)
TiO2 + Na2CO3 = Na2OTiO2 + CO2(g)
SiO2 + Na2CO3 = Na2OSiO2 + CO2(g)

d. Dengan proses elektolisa

Bahan utamanya adalah bauksit yang mengandung aluminium oksida. pada katoda terjadi
reaksi reduksi, ion aluminium (yang terikat dalam aluminium oksida) menerima electron
menjadi atom aluminium,

4 Al(3+) + 12 e(1-) > 4 Al

pada anoda terjadi reaksi oksidasi, dimana ion-ion oksida melepaskan elektron
menghasilkan gas oksigen.

6 O(2-) > 3 O2 + 12 e(1-)

logam aluminium terdeposit di keping katoda dan keluar melalui saluran yang telah
disediakan.

Proses Pemurnian Bauksit

Pemurnian bijih bauksit dari aluminium oksida dilakukan secara kontinyu. Cryolite
ditambahkan dalam titik leleh yang lebih rendah dan melarutkan bijih.

Ion-ion harus bebas bergerak menuju elektroda yang disebut katoda (elektroda
negatif) yang menarik ion positif, misalnya Al3+ dan anoda (elektroda positif) yang
menarik ion negatif, misalnya O2-

Ketika arus DC dilewatkan melalui plat aluminium pada katoda (logam) maka
aluminium akan diendapkan di bagian bawah tangki.

Pada anoda, gas oksigen terbentuk (non-logam). Ini menimbulkan masalah. Pada
suhu yang tinggi dalam sel elektrolit, gas oksigen akan membakar dan mengoksidasi
elektroda karbon menjadi gas beracun karbon monoksida atau karbon dioksida.
Sehingga elektrode harus diganti secara teratur dan gas buang dihilangkan.

Hal tersebut merupakan proses yang memerlukan biaya relatif banyak (6x lebih
banyak dari pada Fe) karena dalam proses ini membutuhkan energi listrik yang
mahal dalam jumlah yang banyak.

Dua aturan yang umum :


o

Logam dan hidrogen (dari ion positif), terbentuk pada elektroda negatif
(katoda).

Non-logam (dari ion negatif), terbentuk pada elektroda positif (anoda).

Bijih bauksit dari aluminium oksida tidak murni (Al2O3 terbentuk dari ion Al3+ dan ion
O2-).

Karbon (grafit) digunakan sebagai elektroda.

Cryolite menurunkan titik leleh bijih dan menyimpan energi, karena ion-ion harus
bergerak bebas untuk membawa arus.

Elektrolisis adalah penggunaan energi listrik DC yang megakibatkan adanya


perubahan kimia, misalnya dekomposisi senyawa untuk membentuk endapan logam
atau membebaskan gas. Adanya energi listrik menyebabkan suatu senyawa akan
terbelah.

Sebuah elektrolit menghubungkan antara anoda dan katoda. Sebuah elektrolit


adalah lelehan atau larutan penghubung dari ion-ion yang bergerak bebas yang
membawa muatan dari sumber arus listrik.

Proses reaksi redoks yang terjadi pada elektroda :

Pada elektroda negatif (katoda), terjadi proses reduksi (penagkapan elektron)


dimana ion aluminiun yang bermuatan positif menarik elektron. Ion aluminuim
tersebut menangkap tiga elektron untuk mengubah ion aluminuim menjadi atom.

aluminium dalam keadaan netral. Al3+ 3e- Al

Pada elektroda positif (anoda), terjadi proses oksidasi (pelepasan elektron) dimana
ion oksida negatif melepaskannya. Ion oksida tersebut melepaskan dua elektron dan
membentuk molekul oksigen yang netral.

2O2- O2 + 4eAtau
2O2- 4e- O2

Catatan : reaksi oksidasi maupun reduksi terjadi secara bersama-sama.


o

Reaksi dekomposisi secara keseluruhan adalah :

Aluminium oksida aluminium + oksigen


2 Al2O3 4Al + 3O2

Dan reaksi diatas merupakan reaksi yang sangat endotermis, banyak energi listrik yang
masuk.