Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN

A. Uji Kelayakan Giemsa


Pewarnaan giemsa adalah pewarnaan yang digunakan untuk pewarnaan
dengan material darah. Cat giemsa adalah campuran dari eosin yang berwarna
merah, metilen biru yang berwarna biru, dan metilen azur yang berwarna ungu.
Dalam pewarnaan giemsa, eosin berfungsi untuk memberi warna pada eritrosit,
perpaduan antara eosin dan metilen azur berfungsi untuk memberi warna merah
pada inti sel parasit, dan metilen biru berfungsi untuk memberi warna pada
sitoplasma sel. Dalam praktikum yang dilaksanakan di Laboratorium Parasitologi
B2P2VRP pada tanggal 12 Juni 2014, pewarnaan giemsa dilakukan untuk
mengidentifikasi adanya plasmodium dan mikrofilaria dalam darah. Plasmodium
dalam darah sebagai uji laboratorium untuk diagnosis adanya infeksi penyakit
malaria, sedangkan mikrofilaria dalam darah dilakukan sebagai uji laboratorium
untuk diadnosis adanya infeksi penyakit filariasis.
Sebelum giemsa digunakan sebagai reagen untuk uji plasmodium dan
mikrofilaria, giemsa yang akan dipakai harus diuji kelayakan terlebih dahulu.
Tujuan dari uji kelayakan giemsa adalah untuk mengetahui apakah giemsa
tersebut masih layak untuk digunakan atau giemsa telah mengalami kerusakan.
Giemsa yang telah mengalami kerusakan sebaiknya tidak digunakan untuk
pemeriksaan parasit dalam darah karena dapat menyebabkan kesalahan
pemeriksaan.
Alat dan bahan yang digunakan untuk uji kelayakan giemsa adalah giemsa,
metil alkohol, kertas whatman, pipet tetes, dan gelas beaker. Langkah langkah
uji kelayakan giemsa adalah sebagai berikut :
1. Letakkan kertas whatman di atas gelas beaker.
2. Ambil giemsa dengan pipet tetes, kemudian teteskan pada kertas
whatman sebanyak 3 4 cc.
3. Tambahkan metil alkohol sebanyak 5 cc.
4. Diamkan beberapa saat.
5. Amati warna yang muncul pada lingkaran ( bidang ) yang telah ditetesi
giemsa.
Giemsa yang masih layak untuk dipakai akan muncul 3 warna saat uji
kelayakan. Warna yang muncul yaitu warna merah pada bagian tepi dari bidang
pewarnaan, lingkaran cincin yang lebar berwarna ungu, dan warna biru yang

terlihat pada bagian tengah bidang pewarnaan. Apabila ketiga warna tersebut
tidak muncul, kemungkinan telah terjadi kerusakan pada giemsa. Kerusakan
pada giemsa antara lain disebabkan karena panas dan cahaya matahari
langsung, tempat penyimpanan giemsa yang sering dibuka tutup (memungkinkan
adanya kontaminasi), serta pipet yang digunakan untuk beberapa reagen secara
bergantian. Hal lain yang mungkin menyebabkan giemsa tidak layak untuk
digunakan adalah pengenceran giemsa sekaligus dalam jumlah besar kemudian
disimpan dalam jangka waktu yang lama. Giemsa yang sudah diencerkan harus
segera digunakan (tidak boleh disimpan lagi).
Pada uji kelayakan giemsa yang dilakukan pada praktikum di Laboratorium
Parasitologi di B2P2VRP, terlihat 3 warna pada kertas uji whatman. Hal ini
membuktikan bahwa giemsa tersebut masih layak digunakan untuk pemeriksaan
sediaan darah.
B. Teknik Pewarnaan Giemsa
Pewarnaan Giemsa (Giemsa Stain) adalah teknik pewarnaan untuk
pemeriksaan mikroskopis yang namanya diambil dari seorang peneliti malaria
yaitu Gustav Giemsa. Pewarnaan ini digunakan untuk pemeriksaan sitogenetik
dan untuk diagnosis histopatologis parasit malaria dan parasit lainnya. Prinsip
dari

pewarnaan

giemsa

adalah

presipitasi

hitam

yang

terbentuk

dari

penambahan larutan metilen biru dan eosin yang dilarutkan di dalam metanol.
Pewarnaan giemsa digunakan untuk membedakan inti sel dan morfologi
sitoplasma dari sel darah merah, sel darah putih, trombosit dan parasit yang ada
di dalam darah. Pewarnaan giemsa adalah teknik pewarnaan yang paling bagus
digunakan untuk identifikasi parasit yang ada di dalam darah (blood-borne
parasite).
Sebelum digunakan untuk pemeriksaan parasit dalam darah, giemsa harus
diencerkan terlebih dahulu. Giemsa diencerkan dengan menggunakan air buffer
atau air mineral. Untuk pemeriksaan plasmodium, ada 3 jenis pengenceran
giemsa

sesuai

dengan

jenis

pewarnaannya.

Untuk

pewarnaan

cepat,

pengenceran dilakukan dengan mencampurkan 1 cc giemsa dengan 7 cc air,


dengan pewarnaan selama 10 15 menit. Untuk pewarnaan agak lambat,
pengenceran dilakukan dengan mencampurkan 1 cc giemsa dengan 10 cc air,
dengan pewarnaan selama 15 25 menit. Dan untuk pewarnaan lambat,
pengenceran dilakukan dengan mencampurkan 1 cc giemsa dengan 20 cc air

dengan pewarnaan selama 45 60 menit. Sedangkan untuk pengenceran


giemsa

pada

pemeriksaan

filariasis,

pengenceran

dilakukan

dengan

mencampurkan 1 cc giemsa dengan 20 cc air dengan pewarnaan selama 30


menit.
Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat preparat darah dengan
pewarnaan giemsa adalah kaca objektif, giemsa, material darah, dan air untuk
membilas. Pemeriksaan plasmodium untuk diagnosis malaria dengan pewarnaan
giemsa dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan menggunakan apusan darah
tebal dan apusan darah tipis. Langkah langkah membuat preparat untuk
pemeriksaan plasmodium adalah :
1. Siapkan semua alat dan bahan.
2. Ambil sampel darah dari jari ( pembuluh darah kapiler ) sebanyak 1 tetes
(darah pertama dibuang, kemudian darah yang selanjutnya keluar
diteteskan langsung dari jari ke bagian tengah kaca objektif ). Ratakan
dan kumpulkan bagian tebal di tengah.
3. Gunakan preparat lain untuk membuat sediaan darah tipis pada bagian
tepi preparat dengan cara dioleskan.
4. Diamkan dan tunggu hingga kering, kurang lebih selama 4 jam. Jangan
dikeringkan dengan menggunakan tissue.
5. Teteskan giemsa yang telah diencerkan ke sediaan darah secara merata
(hingga menutupi semua permukaan darah).
6. Bilas dengan air.
7. Diamkan hingga kurang labih 24 jam jika cuaca sering hujan, atau
selama 12 jam jika cuaca cerah tidak hujan.
8. Preparat yang telah selesai dibuat diamati di bawah mikroskop.
Sedangkan langkah langkah untuk membuat preparat untuk pemeriksaan
filariasis adalah :
1. Siapkan semua alat dan bahan.
2. Ambil sampel darah dari jari ( pembuluh darah kapiler ) sebanyak 3 tetes
( darah pertama dibuang, kemudian darah yang selanjutnya keluar
diteteskan langsung dari jari ke bagian tengah kaca objektif ). Ratakan
dan kumpulkan bagian tebal di tengah.
3. Lakukan haemodialisa dengan cara meneteskan 5 cc air, kemudian
keringkan selama 5 10 menit.
4. Teteskan metil alkohol.

5. Tetesi sediaan darah dengan giemsa.


6. Bilas dengan air.
7. Diamkan hingga kurang labih 24 jam jika cuaca sering hujan, atau
selama 12 jam jika cuaca cerah tidak hujan.
8. Preparat yang telah selesai dibuat diamati di bawah mikroskop.
Untuk pengambilan sampel darah pada bayi yang berusia kurang dari 1
tahun, darah diambil pada bagian tumit dan untuk anak usia 1 hingga 3 tahun
sampel darah diambil pada bagian ibu jari kaki. Hal ini disebabkan karena kulit
dari bayi dan anak anak yang masih sangat tipis. Preparat yang telah dibuat ini
dapat bertahan selama 12 tahun jika proses pembuatannya tepat. Yang dapat
menyebabkan kerusakan pada preparat adalah pembilasan yang terlalu cepat,
atau preparat yang belum kering langsung disimpan pada rak preparat.
Pada daerah endemis malaria, biasanya juga merupakan daerah endemis
filariasis. Oleh karena itu biasanya pengambilan sampel untuk pemeriksaan
plasmodium juga disertai dengan pengambilan sampel untuk pemeriksaan
mikrofilaria, kecuali pada sampel yang berusia kurang dari 13 tahun. Hal ini
disebabkan karena masa sirkulasi mikrofilaria adalah 13 tahun, jadi selama
kurang dari 13 tahun biasanya mikrofilaria tidak dapat terdeteksi.
Selain dengan apusan darah tipis dan apusan darah tebal, pemeriksaan
plasmodium dalam darah untuk diagnosis malaria juga dapat dilakukan dengan
cara rapid dianosa test ( RDT ). Rapid Diagnosa Test ( RDT ) ini dilakukan
dengan alat khusus RDT. Rapid Diagnosa Test ini hanya efektif dilakukan untuk
daerah endemis malaria, yang kepadatan plasmodium > 5 per ml darah. Jika
kurang dari itu, maka hasil RDT kurang valid ( plasmodium tidak terdeteksi ).
Kelemahan dari RDT adalah masih perlunya pemeriksaan lanjut secara
mikroskopik untuk mendapatkan kepastian sehingga dianggap seperti kerja dua
kali.
Kelebihan dari Rapid Diagnosa Test ( RDT ) antara lain adalah sebagai
berikut :
1. Dapat digunakan untuk tes cepat saat menghadapi wabah di lapangan.
2. Tes dilakukan tanpa harus menggunakan sampel sediaan darah ( hanya
dengan mengambil darah dari pembuluh kapiler di ujung jari ).
3. Pemakaiannya mudah tanpa harus dilakukan oleh orang terlatih.