Anda di halaman 1dari 10

Ustad DR.

Soeroso pada Kamis, 10/04/2014 09:04


Yang Terlarang dalam Memahami Ayat-Ayat Sifat dan Asma
Allah

1. Tahrif (menyimpangkan makna)


yaitu mengubah atau mengganti makna yang ada pada nama dan sifat Allah,
tanpa dalil.
Misalnya: Sifat Allah marah, diganti maknanya menjadi keinginan untuk
menghukum, atau sifat Allah istiwa (bersemayam), diselewengkan menjadi
istaula (menguasai). Sebagaimana firmanNya:








Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas
Arsy. (Thaha: 5)
Tangan Allah, disimpangkan maknanya menjadi kekuasaan dan nikmat
Allah, dan lain sebagainya.
Tahrif seperti ini adalah bathil ditinjau dari dua segi:
Secara global: Asli dalam ungkapan seseorang adalah hakekat (bukan
majaz) sehingga ada dalil yang memalingkannya kepada makna majaz. Sungguh
amat mustahil sekali, bila Nabi Muhammad seringkali dan berulangkali
mengucapkan suatu ungkapan yang didengar oleh banyak sahabatnya, namun
kemudian beliau tidak menjelaskan makna sesungguhnya!. Siapakah orang yang
lebih sayang terhadap umat manusia?! Nabi kita Muhammad ataukah kaum
Mutazilah dan Asyairah?! Tidakkah mereka menyadari bahwa merubah arti dari
dhahirnya adalah perilaku kaum Yahudi yang dikecam oleh Allah?!:.
(QS. An-Nisa: 46)

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka


berkata: "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan
pula): "Dengarlah" sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka
mengatakan): "Raa`ina", dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya
mereka mengatakan: "Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah
kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk
mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.

Lalu orang-orang yang zhalim


diperintahkan kepada mereka.

mengganti

ucapan

yang

tidak

(QS. Al-Baqarah: 59)

(59) Maka menggantilah orang-orang yang durhaka dengan katakata


yang tidak diperintahkan kepada mereka, lalu Kami turunkan atas
orang-orang yang zalim itu siksaan dari langit, oleh karena mereka
melanggar perintah.

Semoga Allah merahmati Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah


tatkala mengatakan dalam Nuniyahnya 1923-1930:
:

:
:

Orang Yahudi diperintahkan untuk mengatakan Hithah (ampunilah).


Mereka enggan, bahkan berkata: Hinthah (gandum) demi kehinaan.
Demikian pula Jahmi dikatakan padanya: Istawa (tinggi)
Mereka enggan dan menambah huruf (istaula/berkuasa)[25].

Tambahan huruf Nun Yahudi dan Lam Jahmi


Keduanya dalam timbangan syarI adalah tambahan.
Adapun secara terperinci:
Urusan dan nikmat Allah tidaklah turun pada saat khusus sepertiga
malam terakhir saja, bahkan kapanpun waktunya. Allah berfirman,
yang artinya:




Dan apa saja nikmat yang ada ada kamu, maka dari Allah-lah
(datangnya).
(QS. An-Nahl: 53)
Kemudian apalah faedahnya nikmat dan urusan Allah hanya turun
ke langit dunia saja tetapi tidak turun ke bumi?!
Adapun kalau diartikan malaikat maka kita jawab: Apakah masuk
akal kalau malaikat mengatakan: Siapa yang berdoa kepadaKu,
maka akan Aku kabulkan?! Maka jelaslah bahwa tahrif ini adalah
bathil, termentahkan oleh hadits fakta lapangan. [26]
Alangkah bagusnya ucapan Syaikh Al-Allamah Imam Abdul Aziz
bin Baz tatkala membantah perubahan makna seperti ini:

Ini merupakan kesalahan yang nyata sekali, bertentangan


dengan nash-nash yang shahih yang menetapkan nuzul
(turunnya) Allah. Pendapat yang benar adalah pendapat salaf
shaleh, yaitu menyakini turunnya Allah dan memahami
riwayat
ini
sebagaimana
datangnya,
tanpa takyif (membagaimanakan),
dan
tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Inilah jalan
yang paling benar, paling selamat, paling cocok, dan paling
bijaksana. Pegangilah keyakinan ini dan gigitlah dengan gigi
gerahammu serta waspadalah dari keyakinan-keyakinan
yang menyelisihnya. Semoga engkau bahagia dan
selamat. [27]

1. 2.
Tathil (menolak)
Yaitu menolak penetapan nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam dalil
alquran maupun as sunnah. Baik secara keseluruhan maupun hanya
sebagian.
Contoh menolak secara keseluruhan adalah sikap sekte Jahmiyah, yang
tidak mau menetapkan nama maupun sifat untuk Allah. Mereka menganggap
bahwa siapa yang menetapkan nama dan sifat untuk Allah berarti dia
musyrik.
Contok menolak sebagian adalah sikap yang dilakukan sekte Asyariyah atau
Asyairah, yang membatasi sifat Allah hanya bebeberapa sifat saja dan
menolak sifat lainnya. Atau menetapkan sebagian nama Allah dan menolak
nama lainnya.

1.

3.
Takyif (membahas bagaimana bentuk dan hakikat
nama dan sifat Allah)

yaitu menggambarkan bagaimanakah hakikat sifat dan nama yang dimiliki


oleh Allah. Misalnya, Tangan Allah, digambarkan bentuknya bulat, panjangnya
sekian, ada ruasnnya, dan lain-lain. Kita hanya wajib mengimani, namun
dilarang untuk menggambarkannya.
Karena hal ini tidak mungkin dilakukan makhluk. Untuk mengetahui bentuk
dan hakikat sebuah sifat, hanya bisa diketahui dengan tiga hal:
a)
Melihat dzat tersebut secara langsung. Dan ini tidak mungkin kita
lakukan, karena manusia di dunia tidak ada yang pernah melihat Allah
Subhanahu wa Taala.
b)
Ada sesuatu yang semisal zat tersebut, sehingga bisa dibandingkan.
Dan ini juga tidak mungkin dilakukan untuk Dzat Allah, karena tidak ada
makhluk yang serupa dengan Allah. Maha Suci Allah dari hal ini.
c)
Ada berita yang akurat (khabar shadiq) dan informasi tentang Dzat dan
sifat Allah. Baik dari Al Quran maupun hadis. Karena itu, manusia yang paling
tahu tentang Allah adalah Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam. Namun
demikian, beliau Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah menggambarkan
bentuk dan hakikat sifat Allah Subhanahu wa Taala.

1.

4.
Tamtsil (Menyerupakan Allah dengan makhlukNya)
Misalnya, berkeyakinan bahwa tangan Allah sama dengan tangan budi, Allah
bersemayam di arsy seperti joki naik kuda. Mahasuci Allah dari adanya
makhluk yang serupa dengan-Nya.
Allah Taala berfirman,







Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang
Maha Mendengar dan Melihat. (Asy-Syuura: 11)


:

Sebagaimana atsar ketika ditanyakan tentang Istiwa kepada Imam
Malik Rahimahullahu, beliau menjawab: Istiwa itu diketahui maknanya,
adapun bagaimananya tidak diketahui, beriman dengannya wajib, bertanya
tentang bagaimananya adalah bidah.
Makna perkataan istiwaa itu tidaklah majhul; Karena dalam bahasa
Arab kata istawa bermakna tinggi dan naik, sebagaimana dikatakan oleh
para ulama ahli tafsir, hadits dan bahasa. (Lihat Shahih Bukhari)
Atsar ini merupakan kaidah berharga dalam memahami masalah sifat-sifat
Allah yang banyak diperbincangkan oleh manusia tanpa ilmu sehingga
menjerumuskan kebanyakan mereka dalam kebingungan dan kesesatan.
Syaikhul Islam berkata: Jawaban Imam Malik dalam istiwa sangatlah
memuaskan dan mencakup seluruh sifat Allah seperti turun, datang, tangan,
wajah dan selainnya. Maka dikatakan dalam sifat turun misalnya: Turun itu
maknanya diketahui, adapun bagaimananya tidak diketahui, beriman
dengannya hukumnya wajib, bertanya tentangnya adalah bidah. Demikian
pula dalam semua sifat-sifat Allah lainnya. (Majmu Fatawa 4/4)
Ucapan semisal juga dikatakan oleh Imam Ibnul Qoyyim, lalu beliau
mengatakan: Maka jalan yang selamat dalam masalah ini adalah dengan
mensifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk diriNya dan apa yang
disifatkan oleh Rasulullah tanpa tahrif (perubahan makna) dan tathil
(mengingkari) dan tanpa takyif (membagaimanakan) dan tamtsil
(menyerupakan dengan makhluk). Namun hendaknya kita tetapkan nama dan
sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk. (Madarijus Salikin)
Sebenarnya kaidah dalam masalah sifat ini sangatlah mudah sekali. Bila kita
menerapkannya dan berpegang teguh dengannya sampai ajal menjemput kita
maka kita akan selamat dari penyimpangan yaitu:

a)

Menetapkan semua nama dan sifat yang ditetapkan oleh Allah dalam
Al-Quran dan Nabi Muhammad dalam hadits-haditsnya yang
shahih. (As-Syura: 11)

(11).


(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis
kamu

sendiri

pasangan-pasangan

dan

dari

jenis

binatang

ternak

pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan


jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah
Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

b)
Tidak menyerupakan Allah dengan makhluk. (lihat As-Syura: 11)
c)
Tidak membagaimanakan sifatnya karena itu di luar jangkauan akal
manusia.(Thaha: 110)

Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di
belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.
Kemudian ada satu kelompok yang jauh lebih menyimpang daripada
penyimpangan ke empat kelompok di atas, yaitu:
Tafwidh (penyerahan arti makna kepada Allah) yaitu meyakini bahwa
nash-nash sifat tidak menunjukkan tentang sifat-sifat Allah dan menyerahkan
maknanya kepada Allah Taala. Kebanyakan para Ahli kalam menyangka ini
adalah madzhab salaf dalam memahami nash-nash sifat. Anggapan mereka
tersebut jelas sekali kebohongannya, karena para ulama salaf menerangkan
makna nash-nash sifat. Yang mereka tafwidh adalah kaifiyah bukan
maknanya (lihat kitab Madzhab Ahli at-Tafwidh, oleh Ahmad bin

Abdurrahman al-Qadhy). Tidak sedikit ungkapan salaf yang menerangkan


tentang nash-nash sifat. Bahkan banyak yang mengumpulkan tentang
perkataan-perkataan mereka dalam menerangkan makna nash-nash sifat.
Seperti ; Imam al-Laalikaai Rahimahullahu dalam kitabnya Syarh Itiqod
Ahlus-Sunnah, Imam al-Ajurry Rahimahullahu dalam kitabnya Asy-Syariah,
Imam Ibnu Khuzaimah Rahimahullahu dalam kitabnya At-Tauhid, Imam Ibnu
Baththah Rahimahullahu dalam kitabnya At-Ibanah, Imam Ibnu Mandah
Rahimahullahu dalam kitabnya At-Tauhid. Dan masih banyak kitab-kitab para
ulama lain yang yang membahas tentang hal itu.
Bukti Kebatilan Faham Tafwidh
1)
Secara tidak langsung mereka menuduh para sahabat Radhiallahu
Anhum dan para ulama-ulama terdahulu tidak memahami al-Quran secara
utuh, terlebih khusus tentang ayat-ayat yang menerangkan tentang sifat-sifat
Allah Tabaraka Wa Taala.
2)
Secara tidak langsung mereka telah menghina dan mencela al-Quran
dan as-Sunnah karena didalamnya terdapat lafadz-lafaz yang kosong dari
faedah dan makna.
3)
Orang yang mentafwidh nash-nash sifat, sikap mereka sangat
kontradiktif (bersebrangan), mereka menilai nash-nash tersebut tidak
diketahui maknanya, lalu mengingkari makna yang terdapat dalam konteks
nash-nash tersebut. Bagaimana bisa mereka tidak mengetahui makna yang
sebenarnya. Karena boleh jadi makna yang mereka ingkari tersebut adalah
makna yang benar.
Imam Ahmad Rahimahullahu telah berkata tentang golongan
Mufawwidhah (orang-orang yang mentafwidh sifat-sifat Allah bahwa mereka
adalah sejelek-jelek golongan Jahmiyah. Tafwidh yaitu seseorang
berkata: Allah sajalah yang mengetahui maknanya. Maka ini tidak
boleh karena makna (dari sifat-sifat Allah) itu telah diketahui disisi para ahli
ilmu.

Imam Malik Rahimahullahu berkata: (Makna) istiwa telah diketahui dan


kaifiyat (bagaimana)nya itulah yang tidak diketahui. Demikian pula hal ini
datang dari Imam Rabiah bin Abdurrahman dan dari selainnya dari kalangan
para ulama. Maka makna dari sifat-sifat Allah adalah perkara yang diketahui,
diketahui oleh Ahlus sunnah wal jamaah, seperti sifat ridha, marah, cinta,
istiwa, tertawa dan selainnya. Maknanya bukanlah makna yang lain. Tertawa
tidak bermakna ridha, ridha tidak bermakna marah, marah tidak bermakna
cinta, mendengar tidak bermakna melihat. Tetapi semuanya telah diketahui
dan (sifat-sifat itu) tidaklah serupa dengan sifat-sifat makhluk.
Allah Subhanahu Wa Taala berfirman:


Janganlah kalian membuat permisalan untuk Allah. (An-nahl: 74)
Dan juga berfirman:







Tidak ada sesuatupun yang serupa dengannya dan Dia Maha
Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy-syura: 11)
Dan juga berfirman:


(4 :: )




Dan tidak ada sesuatupun yang serupa dengannya. (Al-ikhlas:
4)
Inilah yang benar yang dipegang oleh Ahlus sunnah wal jamaah dari
kalangan para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik. Siapa yang mentawilnya maka dia telah
menyelisihi Ahlus sunnah wal jamaah, baik satu sifat saja ataupun pada
kebanyakan sifat.

Jadi sekali lagi, menetapkan sifat turun bagi Allah bukan berarti
kita menyerupakannya dengan makhluk, tidak ada seorang ulama
salaf-pun yang berfaham demikian, bahkan kata Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa 5/252: Apabila seseorang
menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhlukNya, seperti
mengatakan istiwa Allah serupa dengan istiwa makhlukNya, atau
turunnya Allah serupa dengan turunnya makhluk, maka dia adalah
mubtadi (ahli bidah), sesat dan menyesatkan, karena Al-Quran
dan As-Sunnah serta akal menjelaskan bahwa Allah tidak serupa
dengan makhluk dalam segala segi.[22]