Anda di halaman 1dari 11

Daftar Pertanyaan:

1. Menurut Bp/Ibu, apakah visi dan misi PGRI sudah dapat berjalan dengan baik di era
pendidikan sekarang ini?
Bagaimana pandangan Bp/Ibu mengenai hal tersebut?
2. Apakah Bp/Ibu aktif dalam kegiatan MGMP di Kota Surakarta ini?
Dan menurut Bp/Ibu apakah keberadaan PGRI dapat menyuarakan atau mengkover
keberadaan maupun kegiatan MGMP? Bisakah Bp/Ibu menjelaskan mengenai hal
tersebut?
3. Bagaimanakah pandangan Bp/Ibu mengenai supervisi pendidikan di Sekolah (SMA N
3 SKA) tempat Bp/Ibu bekerja? Apakah sudah berjalan dengan baik?
(Terkait teknik dan pendekatan supervisi pendidikan):
Dari pengetahuan Bp/Ibu, apabila supervisor datang ke Sekolah, tindakan apa yang
biasanya dilakukan? Dapatkah Bp/Ibu mendeskripsikan mengenai pelaksanaan
supervisi tersebut?
4. (Terkait organisasi dan perannya dikaitkan dengan kasus):
Kami ingin meminta pendapat Bp/Ibu, apabila hasil supervisi yang telah dilakukan
menunjukkan kualitas yang tidak baik dari suatu sekolah, apakah PGRI dan MGMP
dapat memberikan kontribusi untuk memperbaiki kualitas sekolah tersebut?
Kontribusi seperti apa yang dapat diberikan?

TAMBAHAN
Teknik dan Pendekatan supervisi pendidikan
Pendekatan supervisi antara lain:
1. Pendekatan langsung (direktif)

Yang dimaksud dengan pendekatan direktif adalah cara pendekatan


terhadap masalah yang bersifat langsung. Supervisor memberikan
arahan langsung. Sudah tentu pengaruh perilaku supervisor lebih
dominan. Pendekatan direktif ini berdasarkan pemahaman terhadap
psikologi behaviorisme.
Prinsip behaviorisme ialah bahwa segala perbuatan berasal dari
refleks, yaitu respon terhadap rangsangan / stimulus. Oleh karena guru
ini mengalami kekurangan, maka perlu diberikan rangsangan agar ia
bereaksi. Supervisor dapat menggunakan penguatan (reinforcement)
atau hukuman (punishment). Pendekatan seperti ini dapat dilakukan
dengan

perilaku

supervisor

seperti

menjelaskan,

menyajikan,

mengarahkan, memberi contoh, menetapkan tolak ukur, menguatkan.


2. Pendekatan tidak langsung (Non-Direktif)
Yang dimaksud pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalah cara
pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung.
Perilaku supervisor tidak secara langsung menunjukkan permasalahan,
tapi ia terlebih dulu mendengarkan secara aktif apa yang dikemukakan
guru-guru. Ia memberi kesempatan sebanyak mungkin kepada guru
untuk mengemukakan permasalahan yang mereka alami. Pendekatan
non-direktif berdasarkan pemahaman terhadap psikologi humanistik.
Psikologi Humanistik sangat menghargai orang yang akan dibantu.
Oleh karena pribadi guru yang dibina begitu dihormati, maka ia lebih
banyak mendengarkan permasalahan yang dihadapi guru-guru. Guru
mengemukakan

masalah,

Supervisor

mencoba

mendengarkan,

memahami apa yang dialami guru-guru. Perilaku supervisor dalam


pendekatan non-direktif adalah seperti: mendengarkan, memberi
penguatan, menjelaskan, menyajikan, memecahkan masalah.

3. Pendekatan Kolaboratif
Yang dimaksud dengan pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan
yang memadukan cara pendekatan direktif dan non-direktif menjadi
cara pendekatan baru. Pada pendekatan ini baik supervisor maupun
guru bersama-sama sepakat untuk menetapkan struktur, proses dan
kriteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah
yang dihadapi guru. Pendekatan ini berdasarkan pada psikologi
Kognitif.

Psikologi Kognitif beranggapan bahwa belajar adalah hasil paduan


antara kegiatan individu dengan lingkungan pada gilirannya nanti
berpengaruh dalam pembentukan aktivitas individu. Dengan demikian
pendekatan dalam supervisi berhubungan pada dua arah. Dari atas ke
bawah dan dari bawah ke atas. Perilaku supervisor dalam pendekatan
kolaboratif

seperti:

menyajikan,

menjelaskan,

mendengarkan,

memecahkan masalah, negosiasi.

4. Pendekatan Humanistik[7]

Pendekatan humanistik timbul dari keyakinan bahwa guru tidak dapat


diperlakukan sebagai sebagai alat semata- mata untuk meningkatkan
kualitas belajar mengajar. Guru bukan masukan mekanistik dalam
proses pembinaan, dan tidak sama dengan masukan sistem lain yang
bersifat kebendaan.
Dalam proses pembinaan, guru mengalami perkembangan secara terus
menerus, dan program supervisi harus dirancang untuk mengikuti pola
perkembangan itu. belajar harus dilakukan melalui pemahaman
tentang pengalaman nyata yang diambil secara nyata.
Teknik supervisi yang digunakan oleh para supervisor

yang

menggunakan humanistik tidak mempunyai format yang standar,


tetapi tergantung pada kebutuhan guru. Mungkin ia hanya melakukan
observai tanpa melakukan analisis dan interpretasi, mungkin ia hanya
mendengar tanpa membuat observasi atau mengatur penataan
dengan atau tanpa memberi sumber dan bahan belajar yang diminta
guru.

Jika

tahapan

pembicaraan

awal,

supervisi

dibagi

observasi,analisis

menjadi
,dan

tiga

bagian

interpretasi

yaitu
serta

pembicaraan akhir, maka bias di gambarkan tahapan implementasinya


dilakukan dengan :
1) Pembicaraan awal.
Dalam pembicaraan awal, supervisor memancing apakah dalam
mengajar guru menemui kesulitan. Pembicaraan ini dilakukan
secara informal. Jika dalam pembicaraan ini guru tidak minta
dibantu, maka proses supervisi akan berhenti. Ini disebut dengan
titik lanjutan atau berhenti (go or no point)

2) Observasi.
Jika guru perlu bantuan, supervisor mengadakan observasi kelas.
Dalam

observasi

kelas,

supervisor

masuk

kelas

dan

duduk

dibelakang tanpa mengambil catatan. Ia hanya mengamati kegiatan


kelas.

3) Analisis dan interpretasi.

Sesudah

melakukan

observasi,

supervisor

kembali

ke

kantor

memikirkan kemungkinan kekeliruan guru dalam melaksanakan


proses belajar mengajar. Jika menurut supervisor, guru telah
menemukan jawaban maka supervisor tidak akan memberikan
nasihat kalau tidak diminta. Apabila diminta nasehat oleh guru,
supervisor hanya melukiskan keadaan kelas tanpa memberikan
penilaian. Kemudian menanyakan apakah yang dapat dilakukan
oleh guru tersebut untuk memperbaiki situasi itu. Kalau diminta
sarannya supervisor akan memberikan kesempatan kepada guru
untuk mencoba cara lain yang kiranya tepat dalam upaya
mengawasi kesulitannya.
4) Pembicaraan akhir.
Jika perbaikan telah dilakukan, pada periode ini guru dan supervisor
mengadakan pembicaraan akhir. Dalam pembicaraan akhir ini,
supervisor berusaha membicarakan apa yang sudah dicapai guru,
dan menjawab kalau ada pertanyaan dan menanyakan kalau
kalau guru perlu bantuan lagi.

5) Laporan.
Laporan

disampaikan

secara

deskriptif

dengan

interpretasi

berdasarkan judgment supervisor. Laporan ini ditulis untuk guru,


kepala sekolah atau atas kepala sekolah (kakandep), untuk bahan
perbaikan selanjutnya
5. Pendekatan Kompetensi
Pendekatan ini mempunyai makna bahwa guru harus mempunyai
kompetensi tertentu untuk melaksanakan tugasnya. Pendekatan
kompetensi di dasarkan atas asumsi bahwa tujuan supervisi adalah
membentuk kompetensi minimal yang harus dikuasai guru. Guru tidak
memenuhi kompetensi itu dianggap tidak akan produktif. Tugas
supervisor adalah menciptakan lingkungan yang sangat terstruktur
sehingga secara bertahap guru dapat menguasai kompetensi yang
dituntut dalam mengajar. Situasi yang terstruktur ini antara lain
meliputi adanya:
1) definisi tentang tujuan kegiatan supervisi yang dilaksanakan untuk
tiap kegiatan ,
2) penilaian kemampuan dasar guru dengan segala pirantinya,
3) program supervisi yang dilakukan dengan segala rencana terinci
dengan pelaksanaannya dan
4) monitoring kemajuan guru dan penilaian untuk mengetahui apakah
program itu berhasil atau tidak.
Teknik supervisi yang menggunakan pendekatan kompetensi adalah
sebagai berikut :

1) Menetapkan kriteria unjuk kerja yang dikendaki. Misalnya


kompetensi untuk mengajarkan sejarah dapat diuraikan kedalam
kompetensi yang lebih rinci seperti kompetensi dalam membuat
persiapan mengajar dengan memakai lebih dari satu sumber
keterampilan mengelola kelas dimana digunakan metode diskusi
atau keterampilan evaluasi tentang reaksi siswa dalam belajar
sejarah dan sebagainya.
2) Pengetahuan ini dipakai untuk menentukan target supervisi yang
akan datang.
3) Menetapkan target unjuk kerja. Dari komponen dan analisis
kemampuan, supervisor dan guru menentukan target yang akan
dicapai.
4) Menentukan aktifitas unjuk kerja. Misalnya, apabila tujuan supervisi
itu adalah untuk mengubah aspek prilaku guru, maka harus
dinyatakan secara jelas perubahan apa yang dikehendakinya dan
kegiatan apa yang digunakan untuk mencapai perubahan itu.
Dalam kegiatan ini, harus jelas jenis, jadwal, dan sumber yang perlu
digunakan.
5) Memonitor kegiatan untuk mengetahui unjuk kerja. Dalam
memonitoring ini supervisor mengumpulan dan mengelola data
menjadi informasi tentang seberapa jauh pencapaian target yang
telah disetujui.
6) Melakukan penilaian terhadap hasil monitoring. Menilai berarti
manafsirkan informasi yang telah diperoleh untuk menetapkan
sampai dimana target yang telah ditetapkan tercapai. Dalam hal ini
perlu dilakukan penilaian diri sendiri oleh guru dan kemudian
dibandingkan dengan penilaian supervisor terhadap unjuk kerja
guru.
7) Pembicaraan akhir. Pembicaraan ini menyangkut diskusi secara
intensif tentang pencapaian target, supervisor harus memusatkan
perhatiannya untuk membantu guru melihat secara positif hasil
penilaian itu. Dalam pembicaraan akhir ini harus dirumuskan tindak
lanjut yang perlu dilakukan untuk meningkatkan unjuk kerja yang
menjadi tanggung jawab guru.
Instrumen supervisi yang digunakan dalam pendekatan ini adalah
format format yang berisi :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

tujuan supervisi
target yang akan dicapai
tugas supervisor dan guru untuk memperbaiki unjuk kerja guru
kriteria pencapaian target
pengumpulan data monitoring
evaluasi dan tindak lanjut

Analisis dilakukan secara bersama sama (kolaboratif) antara


supervisor dan guru, sehingga dicapai kesepakatan tentang status
kompetensi guru setelah pelaksanaan supervisi. Kesepakatan ini
dilakukan melalui pembicaraan akhir.

6. Pendekatan Klinis
Asumsi dasar pendekatan ini adalah proses belajar guru untuk
berkembang dalam jabatannya tidak dapat dipisahkan dari proses
belajar yang dilakukan guru tersebut. Belajar bersifat individual. Oleh
karena itu, proses sosialisasi harus dilakukan dengan membantu guru
secara tatap muka dan individual. Pendekatan ini mengkombinasikan
target yang terstruktur dan pengembangan pribadi.
Supervisi klinis adalah suatu proses tatap muka antara supervisor
dengan guru yang membicarakan hal mengajar dan ada yang
hubungannya dengan itu. Pembicaraan itu bertujuan untuk membantu.
Pengembangan profesional guru dan sekaligus untuk perbaikan proses
pengajaran itu sendiri. Pembicaraan ini biasanya dipusatkan kepada
penampilan mengajar guru berdasarkan hasil observasi. Anderson dan
Krajewski mengemukakan sembilan karateristik supervisi klinis, yaitu:
a) Merupakan teknologi dalam memperbaiki pengajaran
b) Merupakan intervensi secara sengaja ke dalam proses pengajaran
c) Berorientasi kepada tujuan, mengkombinasikan tujuan sekolah, dan
mengembangkan kebutuhan pribadi.
d) Mengandung pengertian hubungan kerja antara guru dan
supervisor.
e) Memerlukan saling kepercayaan yang dicerminkan dalam
pengertian, dukungan dan komitmen untuk berkembang.
f) Suatu usaha yang sistematik namun memerlukan keluwesan dan
perubahan metologi yang terus menerus.
g) Menciptakan ketegangan yang kreatif untuk menjembatani
kesenjangan antara keadaan real dan ideal.
h) Mengasumsikan bahwa supervisor mengetahui lebih banyak
dibandingkan dengan guru.
i) Memerlukan latihan untuk supervisor.
Sasaran supervisi klinis adalah perbaikan pengajaran dan bukan
perbaikan kepribadian guru. Untuk ini supervisor diharapkan untuk
mengajarkan berbagai keterampilan pada guru yang meliputi antara
lain:
a. keterampilan mengamati dan memahami (mempersepsi) proses
pengajaran secara analistis,
b. keterampilan menganalisis proses pengajaran secara rasional
berdasarkan bukti bukti pengamatan yang jelas dan tepat,
c. keterampilan dalam pembaharuan kurikulum, pelaksanaan, serta
percobaan dan
d. keterampilan dalam mengajar.
Seperti yang telah disebutkan sasaran supervisi klinis adalah perbaikan
cara mengajar dan bukan pengubahan kepribadian guru. Biasanya
sasaran ini dioperasikan dalam sasaran sasaran yang lebih kecil,
yaitu bagian keterampilan mengajar yang bersifat spesifik, yang
mempunyai arti sangat penting dalam proses mengajar. Analisis
konstruktif dilakukan untuk dapat secara tepat memberi penguatan
(reinforcement) kepada pola tingkah laku yang berhasil, dan

mengarahkan serta tidak mencela atau menghukum pola pola


tingkah laku yang belum sukses.
Dalam supervisi klinis, supervisor dan guru merupakan teman sejawat
dalam memecahkan masalah pengajaran di kelas. Sasaran supervisi
klinis seringkali dipusatkan pada :
a. kesadaran dan kepercayaan diri dalam melaksanakan tugas
menhgajar,
b. keterapilan keterampilan dasar yang diperlukan dalam mengajar
(generic skill) yang meliputi :
a) keterampilan dalam menggunakan variasi dalam mengajar dan
menggunakan stimulasi,
b) keterampilan melibatkan siswa dalam proses belajar serta ,
c) keterampilan dalam mengelola kelas dan disiplin kelas.
Terdapat lima langkah dalam melaksanakan supervisi klinis yaitu :
a. pembicaraan pra- observasi
b. melaksanakan observasi
c. melakukan analisis dan penentu strategi
d. melakukan pembicaraan tentang hasil supervisi, serta
e. melakukan analisis setelah pembicaraan
7. Pendekatan Profesional
Menunjuk pada fungsi utama guru yang melaksanakan pengajaran
secara profesional. Asumsi dasar pendekatan ini adalah bahwa karena
tugas utama profesi guru itu adalah mengajar maka sasaran supervisi
juga harus mengarahkan pada hal hal yang menyangkut tugas
mengajar itu, dan bukan tugas guru yang bersifat administratif.
Di bawah ini dikemukakan teknik supervisi profesional sebagai berikut
ini :
1) Penataran yang diberikan kepada guru harus diberikan bersama
dengan kepala sekolah (dan pengawas). Sekolah yang diberi
penataran langsung disebut sekolah inti, dan sekolah yang
mendapat penataran dari sekolah inti disebut sekolah imbas. Isi
penataran bersama ini meliputi :
a. metode umum tentang pemanfaatan waktu belajar, perbedaan
individual siswa, belajar aktif, belajar kelompok, teknik bertanya
dan umpan balik,
b. metode khusus IPA,matematika, IPS, dan bahasa,
c. pengalaman lapangan para penatar dalam menerapkan metode
umum dan metode khusus serta
d. pembinaan profesional.
2) Penggugusan merupakan teknik pembinaan di dalam masing
masing sekolah maupun di dalam kelompok sekolah yang
berdekatan.

KKG, KKKS, KKPS, dan PKG dipergunakan sebagai wadah pengorganisasian dan
pembinaan guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah untuk melakukan
kegiatan peningkatan kualitas pengajaran.

KKG singkatan dari Kelompok Kerja Guru , berfungsi sebagai wadah untuk
melakukan berbagai kegiatan penunjang , kegiatan belajar mengajar, antara lain
merencanakan strategi belajar mengajar, membuat alat pengajaran, membuat
lembar kerja/lembar tugas, dan mendiskusikan masalah masalah yang dijumpai
di kelas masing masing guru.

KKKS singkatan dari Kelompok Kerja Kepala Sekolah, berfungsi sebagai wadah
koordinasi dalam upaya pembinaan mata pelajaran, proses belajar mengajar,
dan hal hal lain yang berkenaan dengan pengelolaan sekolah umumnya dan
pembinaan profesional khususnya.

KKPS singkatan dari Kelompok Kerja Pengawas Sekolah, berfungsi sebagai wadah
diskusi, tukar menukar informasi dan pengalaman, mencari dan menemukan
alternatif penyelesaian masalah yang dijumpai di sekolah, serta menetapkan
keseragaman tindakan dalam pembinaan.

PKG singkatan dari Pusat Kegiatan Guru. Jika KKG, KKKS, dan KKPS menunjukan
pada kegiatan maka PKG merupakan tempat berlangsungnya KKG, KKKS,
Maupun KKPS.

D. Implementasi Supervisi Pendidikan[8]

Proses supervisi merupakan rangkaian yang dilaksanakan ketika supervisi


dilaksanakan. Tim Pakar Manajemen Pendidikan secara umum menjelaskan
proses pelaksanaan supervisi dilaksanakan melalui tiga tahap yaitu;
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

1.
Perencanaan Kegiatan, perencanaan mengacu pada kegiatan identifikasi
permasalahan. Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam perencanaan
supervisi adalah

a) mengumpulkan data melalui kunjungan kelas, pertemuan pribadi, rapat staf,

b) mengolah data dengan melakukan koreksi kebenaran terhadap data yang


dikumpulkan,

c) mengklasifikasi data sesuai dengan bidang permasalahan,

d) menarik kesimpulan tentang permasalahan sasaran sesuai dengan keadaan


yang sebenarnya,

e) menetapkan teknik yang tepat digunakan untuk memperbaiki atau


meningkatkan profesionalisme guru.

2. Pelaksanaan Kegiatan, pelaksanaan merupakan kegiatan nyata yang dilakukan


untuk memperbaiki atau meningkatkan kemampuan guru. Kegiatan pelaksanaan
merupakan kegiatan pemberian bantuan dari supervisor kepada guru agar
pelaksanaan dapat efetif harus sesuai dengan perencanaan yang telah
ditetapkan dan terlaksananya teknik supervisi melainkan ada follow up untuk
melihat keberhasilan proses dan hasil pelaksanaan supervisi.

3. Evaluasi Kegiatan, evaluasi merupakan kegiatan untuk menelaah keberhasilan


proses dan hasil pelaksanaan supervisi. Evaluasi dilaksanakan secara
komprehensif. Sasaran evaluasi supervisi ditujukan kepada semua orang yang
terlibat dalam proses pelaksanaan supervisi. Hasil dari evaluasi supervisi akan
dijadikan pedoman untuk menyusun program perencanan berikutnya. Soetopo
dan Soemanto mengemukakan evaluasi berpedoman pada tujuan yang telah
ditetapkan dan tujuan supervisi dirumuskan sesuai dengan corak dan tujuan
sekolah. Prosedur supervisi menempuh tiga langkah, yaitu; pertemuan
pendahuluan, observasi guru yang sedang mengajar, dan pertemuan balikan. Di
bawah ini diuraikan tentang tiga langkah tersebut.

(1) Tahap Pertemuan Pendahuluan

Supervisi dilaksanakan atas dasar kebutuhan guru, bukan kebutuhan kepala


sekolah atau supervisor. Untuk itu pada tahap pertemuan pendahuluan kepala
sekolah (supervisor) membicarakan kemampuan mengajar yang ingin
ditingkatkan oleh guru, ditentukan aspek-aspeknya, kemudian disepakati
bersama oleh guru dan supervisor. Pelaksanaan supervisi pada tahap

pendahuluan ini membutuhkan kiat supervisor dalam menciptakan suasana yang


menyenangkan, suasana kekeluargaan, kesejawatan, dan kehangatan.

Guru tidak merasa takut atau tertekan sehingga guru mau dan berani
mengungkapkan permasalahan dan kebutuhan dalam mengajar di kelas. Kalau
guru belum berani mengungkapkan permasalahan mengajar yang dihadapinya,
maka supervisor diharapkan mampu memancing pembicaraan guru dengan
pertanyaan yang baik. Demikian seterusnya sampai terjadi komunikasi yang baik
antara supervisor dan guru. Kalau guru sudah mengungkapkan apa yang ingin
dikembangkan atau kemampuan apa yang ingin ditingkatkan maka disepakati
bersama menjadi semacam kontrak antara guru dan supervisor. Kontrak inilah
yang menjadi pusat perhatian dalam tahap observasi kelas dan pertemuan
balikan.

Kegiatan di dalam tahap pendahuluan yaitu: Supervisor menciptakan suasana


intim dan terbuka, mereview rencana pembelajaran yang telah dibuat oleh guru,
yang mencakup tujuan pembelajaran, bahan, kegiatan belajar mengajar, serta
alat evaluasi, mereview komponen ketrampilan yang akan dicapai oleh guru
dalam kegiatan belajar mengaja. Supervisor bersama guru memilih dan
mengembangkan instrumen observasi yang akan digunakan dan mendiskusikan
instrumen tersebut termasuk tentang cara penggunaannya, serta data yang
akan dijaring. Hasilnya berupa kontrak yang disepakati bersama.

(2) Tahap Observasi Kelas (Observasi Guru yang sedang Mengajar)

Observasi kelas sangat perlu dilakukan oleh supervisor. Neagley dan Evan
mengemukakan bahwa observasi dan kunjungan kelas yang diikuti dengan
conference (pre dan post) adalah tulang punggung supervisi. Pada tahap ini guru
mengajar di kelas dengan menerapkan komponen-komponen keterampilan yang
telah disepakati pada pertemuan pendahuluan. Beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam pelaksanaan observasi ini yaitu:

Catatan observasi harus lengkap, supaya analisisnya tepat,

objek observasi harus terfokus pada aspek ketrampilan tertentu, selain


rekaman observasi, dalam hal tertentu supervisor perlu membuat komentarkomentar yang letaknya terpisah dengan hasil rekamaan observasi, kalau ada
kata-kata guru yang mengganggu proses belajar mengajar juga perlu dicatat
oleh supervisor,


supervisor hendaknya berusaha agar selama observasi guru tidak gelisah
tetapi berpenampilan secara wajar.

(3) Tahap Pertemuan Balikan Secara rinci kegiatan supervisor dan guru dapat
ditelaah pada paparan berikut ini:

Supervisor memberi penguatan serta mewujudkan perasaan guru secara


umum selama mengajar. Hal ini untuk menciptakan suasana akrab dalam
pertemuan balikan,

mereview tujuan pembelajaran, mereview tingkat ketrampilan serta


perhatian utama guru dalam mengajar, supervisor menanyakan perasaan guru
tentang jalannya pelajaran berdasarkan target dan perhatian utama. Pertanyaan
diawali dengan hal-hal yang menyenangkan guru karena keberhasilannya,
kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan yang dianggapkan kurang berhasil,
menunjukkan data hasil observasi yang telah dianalisis dan diinterpretasi awal
oleh supervisor,

memberi waktu guru untuk menganalisis dan menginterpretasikannya,


secara bersama-sama, menanyakan kembali perasaan guru tentang hasil analisis
dan interpretasinya, menanyakan perasaan guru tentang melihat keinginan yang
sebenarnya dicapai, menyimpulkan hasil dengan melihat keinginan yang
sebenarnya dicapai

menentukan bersama rencana mengajar yang akan datang baik berupa


dorongan untuk meningkatkan hal-hal yang belum dikuasai pada tahap
sebelumnya (proses belajar mengajar yang telah dilakukan) maupun
ketrampilan-ketrampilan yang perlu disempurnakan.