Anda di halaman 1dari 89

EDISI 2015

TEKNIK TELEKOMUNIKASI
(ENEE 600025)
untuk Program Sarjana Reguler dan Paralel

LABORATORIUM TELEKOMUNIKASI
Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Kampus UI Depok, Jawa Barat 16424
Telepon : (021) 7270077, 7270078 ext. 131

MODUL PRAKTIKUM

TEKNIK TELEKOMUNIKASI
(ENEE 600025)
Untuk Program Sarjana Reguler dan Paralel

Dipublikasikan oleh Laboratorium Telekomunikasi


Departemen Teknik Elektro
Fakultas Teknik Universitas Indonesia
2015

Penanggung Jawab : Dr. Fitri Yuli Zulkifli, S.T., M.Sc.


selaku Kepala Laboratorium Telekomunikasi DTE FTUI

Penyusun

: Adhitya Satria Pratama


Aisyah
Ina Gustiana
Budiman Budiardhianto
Sayid Hasan A.S.
Muhammad Haekal
Rifqi Ramadhan
Angga Hilman Hizrian
Muhammad Erfinza
Ubay Muhammad Noor

Hanya untuk kalangan internal Universitas Indonesia.


Dilarang mereproduksi atau menggandakan sebagian atau seluruh bagian tanpa izin.

Petunjuk Keselamatan

SETIAP PENGOPERASIAN PERALATAN PRAKTIKUM WAJIB


DIDAMPINGI ASISTEN LABORATORIUM. BACALAH BAIK-BAIK
PETUNJUK KESELAMATAN UMUM INI DAN PETUNJUK
KESELAMATAN PADA SETIAP MODUL SERTA BERDOA
SEBELUM MELAKUKAN PRAKTIKUM.

Praktikan wajib membaca buku


panduan praktikum dan
memperhatikan petunjuk
keamanan pada setiap modul
sebelum melakukan
praktikum.Kerusakan peralatan
akibat kecerobohan praktikan
harus dipertanggungjawabkan.

Harap menyimpan telepon


selular atau perangkat elektronik
komunikasi lainnya agar dapat
fokus berpraktikum. Dilarang
bermain telepon selular atau
perangkat elektronik komunikasi
lainnya selama praktikum.

Selalu berhati-hati pada saat


menggunakan perangkat listrik.
Matikan peralatan terlebih
dahulu sebelum mencabut kabel
atau mengubah konfigurasi
peralatan praktikum. Hati-hati
bahaya listrik statis.

Dilarang makan dan minum


selama mengoperasikan
peralatan praktikum.

Praktikan wajib mengenakan


sepatu yang memadai
(menutupi kaki) agar terhindar
dari bahaya tersengat listrik dan
tertimpa benda-benda dalam
praktikum. Praktikan yang tidak
bersepatu dilarang mengikuti
praktikum, kecuali sakit yang
tidak memungkinkan
mengenakan sepatu dan atas
izin asisten.

JIka terjadi kebakaran, tabung


pemadam api terletak di sebelah
kiri pintu masuk. Jika terjadi halhal yang tidak diharapkan,
lakukan prosedur darurat
dengan tenang.

Beberapa peralatan praktikum


menggunakan frekuensi radio
yang tinggi. Hindari kontak
radiasi dengan tubuh langsung.
Dilarang mengintip waveguide
pada praktikum. Selalu berhatihati dalam percobaan.

Dilarang merokok di setiap


tempat pada lingkungan
Departemen Teknik Elektro.

Dlarang bercanda dan berkelahi di Laboratorium


Telekomunikasi selama kegiatan berlangsung.
Perhatikan langkah dan gerak ketika sedang
bergerak agar tidak menyenggol peralatan.

ASISTEN LABORATORIUM BERHAK MENEGUR ATAU MENINDAK PRAKTIKAN


YANG DIANGGAP MEMBAHAYAKAN ATAU MELAKUKAN HAL-HAL YANG TIDAK
SEPATUTNYA SELAMA PRAKTIKUM.
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

Kata Pengantar

Modul praktikum ini telah banyak disesuaikan dari tahun ke


tahun untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa, khususnya dalam
mempelajari tentang Teknik Telekomunikasi di Departemen Teknik
Elektro FTUI ini. Maksud dari penyusunan modul ini adalah untuk
menyediakan mahasiswa suatu modul manual yang user-friendly
untuk membantu mahasiswa memahami aspek praktis dari Teknik
Telekomunikasi dengan melakukan kegiatan percobaan di laboratorium.
Setiap modul praktikum berisi petunjuk manual yang lengkap tentang prinsip dan
teknis kegiatan praktikum di laboratorium. Pada modul ini, terdapat sepuluh modul yang
akan dilakukan percobaan pada praktikum Teknik Telekomunikasi untuk Mahasiswa S1
Reguler dan Paralel Tahun Ajaran 2014/2015. Setiap modul terdiri dari tujuan, teori dasar,
peralatan yang digunakan, dan langkah-langkah percobaan yang diharapkan dapat
memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam memahami praktikum ini.
Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam
penyusunan modul praktikum ini. Saya dan segenap tim asisten juga menerima kritik dan
saran untuk perbaikan modul praktikum ini menuju arah yang lebih baik ke depannya.
Saya berharap agar mahasiswa dapat menggunakan modul praktikum ini dengan
sebaik-baiknya dan dapat membantu mahasiswa dalam memahami lebih jauh tentang
Teknik Telekomunikasi.
Depok, 16 Februari 2015
Kepala Laboratorium Telekomunikasi
Departemen Teknik Elektro FTUI

Dr. Fitri Yuli Zulkifli, S.T., M.Sc.


NIP. 19740719 199802 2 001

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

Peraturan Praktikum Teknik Telekomunikasi (ENEE 600025)


Semester Genap Tahun Akademik 2014/2015

1.

Praktikan wajib mengikuti seluruh rangkaian Praktikum Teknik Telekomunikasi yang


terdiri atas 10 Modul Praktikum.

2.

Praktikan wajib membaca Petunjuk Keselamatan Umum dan Petunjuk Keselamatan


pada setiap modul praktikum untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

3.

Selama rangkaian kegiatan praktikum (termasuk saat Tes Pendahuluan), setiap


praktikan wajib berpakaian sopan, memakai baju berkerah dan sepatu. Apabila
praktikan tidak berpakaian sesuai peraturan, maka tidak boleh mengikuti rangkaian
kegiatan praktikum tersebut.

4.

Praktikan wajib melakukan persiapan materi praktikum, melalui modul praktikum,


materi-materi kuliah, serta sumber lain yang berhubungan.

5.

Praktikan harus membawa kartu praktikum dan Tugas pendahuluan dan dikumpulkan
kepada asisten ketika akan praktikum dimulai.

6.

Praktikan yang lupa membawa kartu praktikum tidak diperbolehkan mengikuti


praktikum.

7.

Setiap praktikan wajib mengikuti Tes Pendahuluan. Apabila praktikan tidak mengikuti
Tes Pendahuluan tanpa alasan yang jelas, kelompok praktikan dianggap tidak lulus.

8.

Alasan yang dapat diterima adalah sakit (disertakan Surat Keterangan Dokter/Rumah
Sakit), musibah mendadak, dan force major (banjir, kebakaran, dan lainnya).

9.

Apabila salah seorang praktikan dalam kelompok tidak lulus Tes Pendahuluan, maka
kelompok tersebut dan pasangan kelompoknya tidak lulus dan berhak mengikuti Tes
Remedial pada Pekan yang sama.

10. Batas maksimum ketidaklulusan pada Tes Pendahuluan adalah 1 (satu) kali pada
modul yang sama. Apabila lebih dari 1 (satu) kali kelompok praktikan tidak lulus pada
modul yang sama, maka kelompok tersebut tidak akan mendapat nilai praktikum
untuk Modul tersebut.
11. Setiap praktikan wajib mengerjakan dan mengumpulkan Tugas Pendahuluan sebelum
mengikuti Praktikum.
12. Setiap praktikan wajib mengisi daftar kehadiran Tes Pendahuluan, Praktikum, dan
Pengumpulan Tugas Tambahan.
13. Toleransi keterlambatan untuk setiap Modul Praktikum adalah 15 menit. Jika lewat
waktu yang telah ditentukan tanpa memberikan alasan yang jelas, maka praktikan
tidak mendapat nilai praktikum pada modul tersebut.
14. Praktikan diizinkan bertukar jadwal dengan praktikan kelompok lain pada modul yang
sama (dengan syarat kedua kelompok tersebut telah lulus Tes Pendahuluan), dengan
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

pemberitahuan paling lambat sebelum pekan praktikum selanjutnya dimulai ke


koordinator praktikum.
15. Apabila praktikan tidak mengikuti praktikum, maka nilai praktikum modul tersebut
adalah nol.
16. Bobot Penilaian:
Komponen
Tes Pendahuluan
Tugas Pendahuluan

Persentase
5%
12,5 %

Praktikum

30 %

Borang

40 %

Tugas Tambahan

12,5 %

17. Nilai praktikum ditentukan oleh tingkah laku dan keaktifan praktikan selama mengikuti
praktikum, termasuk saat tes lisan sebelum praktikum dimulai.
18. Tugas Tambahan dikerjakan dengan tulis tangan, dan dikumpulkan paling lambat 1 x
24 jam setelah praktikum berakhir melalui scele atau web.
19. Seluruh perizinan dan pengaduan harap disampaikan ke Koordinator Praktikum
Saudari Aisyah (085711004444).

Mengetahui,

Koordinator Praktikum

Kepala Laboratorium Telekomunikasi

Dr. Fitri Yuli Zulkifli, S.T., M.Sc.

Aisyah

NIP. 19740719 199802 2 001

NPM 1106001776

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

Asisten Laboratorium
Praktikum Teknik Telekomunikasi (ENEE 600025)
Semester Genap Tahun Akademik 2014/2015

SAYID HASAN A.S.


Teknik Elektro 2011
Koordinator Asisten
085328064101

sayid.hasan @rocketmail.com
AISYAH
Teknik Elektro 2011
Koordinator Praktikum Teknik Telekomunikasi Kelas Reguler & Paralel
085711004444

aisyah.rendusara @gmail.com

INA GUSTIANA
Teknik Elektro 2011
Koordinator Praktikum Teknik Telekomunikasi KKI
085695710075
inainagus@gmail.com
BUDIMAN
BUDIARDHIANTO

MUHAMMAD HAEKAL

Teknik Elektro 2011


081578461684
budiman.budiardhianto
@gmail.com

Teknik Elektro 2012


081316106027
m.haekal11@rocketmail.com

UBAY MUHAMMAD NOOR

MUHAMMAD ERFINZA

Teknik Elektro 2012


087788945594
ubaymnoor@gmail.com

Teknik Elektro 2012


083898345760
m.erfinza@gmail.com

ANGGA HILMAN HIZRIAN

RIFQI RAMADHAN

Teknik Elektro 2012


085966116036
anggahh@gmail.com

Teknik Elektro 2012


087781870722
rifqi.ramadhan@gmail.com

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

Daftar Isi
Petunjuk Keselamatan.................................................................................................... 3
Kata Pengantar ............................................................................................................... 4
Peraturan Praktikum Teknik Telekomunikasi (ENEE 600025) ..................................... 5
Asisten Laboratorium ..................................................................................................... 7
Daftar Isi .......................................................................................................................... 8
Pengantar Teknik Telekomunikasi .............................................................................. 10
Tujuan ......................................................................................................................... 10
Era Klasik : Jaringan Telekomunikasi Berkabel ........................................................... 10
Era Baru : Jaringan Telekomunikasi Nirkabel .............................................................. 12
Ledakan Teknologi : Komunikasi Selular ..................................................................... 13
Kebutuhan Baru : Komunikasi Multimedia Pita Lebar .................................................. 17
Saluran Transmisi ......................................................................................................... 20
Tujuan ......................................................................................................................... 20
Dasar Teori ................................................................................................................. 20
Peralatan..................................................................................................................... 25
Prosedur Percobaan ................................................................................................... 26
Modulasi Amplitudo...................................................................................................... 28
Tujuan ......................................................................................................................... 28
Dasar Teori ................................................................................................................. 28
Peralatan..................................................................................................................... 34
Prosedur Percobaan ................................................................................................... 35
Modulasi Frekuensi ...................................................................................................... 37
Tujuan ......................................................................................................................... 37
Dasar Teori ................................................................................................................. 37
Peralatan..................................................................................................................... 41
Prosedur Percobaan ................................................................................................... 41
Sistem Teleponi ............................................................................................................ 43
Tujuan ......................................................................................................................... 43
Dasar Teori ................................................................................................................. 43
Peralatan..................................................................................................................... 46
Prosedur Percobaan ................................................................................................... 46
PULSE CODE MODULATION DAN TIME DIVISION MULTIPLEXING .......................... 48
Tujuan ......................................................................................................................... 48
Dasar Teori ................................................................................................................. 48
Peralatan..................................................................................................................... 52
Prosedur Percobaan ................................................................................................... 52
MODULASI DIJITAL ...................................................................................................... 54
Tujuan ......................................................................................................................... 54

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

Dasar Teori ................................................................................................................. 54


Peralatan..................................................................................................................... 60
Prosedur Percobaan ................................................................................................... 60
FILTER FINITE IMPULSE RESPONSE.......................................................................... 62
Tujuan ......................................................................................................................... 62
Dasar Teori ................................................................................................................. 62
Peralatan..................................................................................................................... 68
Prosedur Percobaan ................................................................................................... 69
SIMULASI JALUR KOMUNIKASI NIRKABEL MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK
RADIO MOBILE .................................................................................................... 73
Tujuan ......................................................................................................................... 73
Dasar Teori ................................................................................................................. 73
Peralatan..................................................................................................................... 75
Prosedur Percobaan ................................................................................................... 75
SIMULASI AKSES RADIO KOMUNIKASI NIRKABEL MENGGUNAKAN PERANGKAT
MINILINKTM ........................................................................................................... 77
Tujuan ......................................................................................................................... 77
Dasar Teori ................................................................................................................. 77
Peralatan..................................................................................................................... 88
Prosedur Percobaan ................................................................................................... 88

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

Modul 1

Pengantar Teknik Telekomunikasi

Tujuan
Dengan mempelajari modul Pendahuluan ini, diharapkan Saudara mampu mengenal
secara umum tentang Teknik Telekomunikasi. Topik yang akan diperkenalkan adalah
tentang Perkembangan Teknologi Telekomunikasi Seluler dan aplikasinya di kehidupan
sehari-hari.

Era Klasik : Jaringan Telekomunikasi Berkabel


Saat ini kita melihat bagaimana perkembangan pesat telepon selular yang menjadi
salah satu gadget yang paling popular di dunia. Diperkirakan pada tahun 2008, terdapat
1,4 milyar unit televisi di dunia dan jumlah telepon selular telah mencapai tiga kali lipatnya.
Institute of Engineering and Technology memperkirakan pada akhir tahun 2012 terdapat
lebih banyak jumlah telepon selular dibandingkan populasi manusia di bumi ini.
Telekomunikasi artinya adalah komunikasi jarak jauh dengan menggunakan suatu
media tertentu. Komunikasi dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
1. Komunikasi Satu Arah (simplex). Contohnya : pager, televisi, radio.
2. Komunikasi Dua Arah (duplex). Contohnya : telepon
3. Komunikasi Semi Dua Arah (Half Duplex). Contohnya : handy talkie
Telekomunikasi sendiri mulai berkembang sejak Alexander Graham Bell
menemukan telepon. Telekomunikasi akhirnya terus berkembang sampai memasuki era
telekomunikasi

seluler.

Teleponi

seluler

atau

teknologi

telekomunikasi

seluler

memungkinkan terjadinya komunikasi tanpa kabel untuk menerima atau membuat


panggilan telepon. Telekomunikasi seluler menganggap setiap daerah geografis terdiri atas
sel-sel kecil yang dapat saling terhubung. Setiap selnya diselubungi oleh transmitter radio
lokal dan receiver yang cukup kuat untuk berhubungan dengan cellular phone itu sendiri,
dalam hal ini dengan menggunakan mobile terminal. Kumpulan dari sel-sel tersebut
membentuk radio access network dan frekuensi radio digunakan untuk transmisi panggilan
dan data yang digunakan di antara sel sel tersebut. Suara dan data yang ditukarkan

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

10

ditransmisikan melalui jaringan mobile yang terdiri dari radio access network dan core
network dari operator selular.
Sistem teleponi mulai berkembang pada tahun 1838 ketika Samuel Morse
menemukan sistem persinyalan titik dan garis untuk alfabet sehingga pesan-pesan yang
kompleks dapat dikirimkan dan diterima dengan lebih mudah. Baru enam tahun kemudian,
sistem tersebut didukung oleh Kongres Amerika Serikat hingga terpasang sistem jalur
telegraf pertama di dunia dengan kabel tembaga antara Washington dan Baltimore sejauh
sekitar 40 mil.
Pada titik tersebut, kabel tembaga mulai menghubungkan berbagai kota besar di
Amerika Serikat yang dibangun dan dioperasikan oleh Western Union, yang mana masih
aktif hingga saat ini sebagai agen transfer uang antarnegara. Sistem kabel tembaga
tersebut juga dikembangkan di Eropa dan dimulailah era pertukaran informasi melalui
sistem kabel tembaga.

Gambar 1. 1. Kabel Trans Atlantik yang dioperasikan oleh Great Eastern.

Pada tahun 1851, kabel tembaga bawah laut mulai beroperasi antara Perancis dan
Inggris kemudian menyusul kabel bawah laut Trans Atlantik pada tahun 1858. Tingkat
kompleksitas kabel bawah laut yang cukup tinggi membuat proyek kerja sama EropaAmerika Serikat ini menjadi salah satu proyek keteknikan utama pada masanya. Diperlukan
lima kali percobaan sampai kabel bawah laut yang kompak diselesaikan. Sayangnya, kabel
ini digunakan oleh para insinyur dengan sangat antusias yang mengirimkan tegangan yang
terlalu tinggi melalui kabel ini hingga terjadi kegagalan sistem hanya tiga minggu setelah
dioperasikan. Pada tahun 1865, pembangunan kabel bawah laut Trans Atlantik yang kedua
dimulai sejauh 1200 mil, namun tetap mengalami kegagalan. Proyek ketiga pun dimulai
pada 1886 oleh Brunels Great Eastern sejauh 1686 mil laut antara Irlandia dan
Newfoundland dan berlangsung tanpa hambatan yang berarti. Setelah itu, Great Eastern
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

11

mulai mengelola jaringan ini dan membaginya menjadi dua hingga terdapat dua kabel
Trans Atlantik yang beroperasi.
Perkembangan besar selanjutnya adalah pada tahun 1876, Alexander Graham Bell
melakukan percobaan dengan suatu diafragma yang menggetarkan sebuah jarum pada air
untuk memvariasikan arus pada rangkaian, yang dikenal sebagai transmitter cair. Dengan
divais ini, percakapan suara melalui kabel tembaga terjadi pertama di dunia walaupun
hanya antar dua ruangan yang berdekatan dengan alat bernama telepon. Bell kemudian
memperbaiki

penemuannya

menghantarkan

percakapan

tersebut
suara

selama

sejauh

lima

lima

bulan

dan

mil. Western

akhirnya
Union

dapat

kemudian

mengembangkan sistem telegrafi Morse mereka melalui jaringan telepon ini.

Era Baru : Jaringan Telekomunikasi Nirkabel


Pada tahun 1880, Bell juga membuat komunikasi nirkabel pertama dengan
menggunakan

device

fotofon.

Fotofon

menggunakan

pancaran

cahaya

untuk

menghantarkan sinyal suara antara dua gedung yang berjarak 215 meter. Penggunaan
atmosfer sebagai media propagasi gelombang yang belum banyak dikembangkan saat itu
menyebabkan teknologi komunikasi nirkabel saat itu tidak berkembang hingga
dikembangkan teknologi kabel serat optik pada tahun 1920an oleh militer Amerika Serikat.
Teori tentang laser pun baru dikembangkan oleh Einstein pada tahun 1917 dan
membutuhkan waktu yang cukup lama hingga model laser yang beroperasi dengan baik
diproduksi.

Gambar 1. 2. Mikrofon pertama.

Pasca Perang Dunia Kedua, telepon nirkabel mulai dikembangkan oleh AT&T,
Amerika Serikat. Pada awalnya, telepon selular mirip seperti walkie talkie dimana
komunikasi hanya terjadi satu arah bergantian (simpleks). Penggunanya pun harus
mencari frekuensi yang tersedia antara 35 MHz 150 MHz untuk mengadakan suatu

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

12

percakapan telepon. Untuk memungkinkan percakapan telepon, pengguna telepon selular


tersebut harus membawa baterai yang sangat besar hingga berbobot 35 kg.
Di Inggris pada tahun 1912, General Post Office merupakan perusahaan pertama
yang membangun dan mengoperasikan infrastruktur telegrafi dan teleponi untuk panggilan
komersial menggunakan kabel tembaga. Pada tahun 1981, General Post Office dipecah
menjadi dua, yaitu Post Office dan British Telecom. British Telecom merupakan
perusahaan induk Cellnet yang memberikannya akses masuk menuju pasar telepon selular
yang sangat menguntungkan. Cellnet sendiri kemudian berubah menjadi O2.

Gambar 1. 3. Kabel Serat Optik.

Pada tahun 1970, kabel serat optik ditemukan oleh Corning Glass Works dan telah
terbukti dapat menghantarkan sinyal dengan kecepatan 45 Mbps dengan menggunakan
penguat sinyal setiap 10 km. Pada tahun 1981, kabel serat optik single-mode ditemukan
dan memberikan terobosan baru dalam transmisi sinyal kabel serat optik. Pada tahun 1987,
generasi kedua kabel serat optik beroperasi pada kecepatan 1,5 Gbps dengan penguat
pada setiap 50 km. Pada tahun 1988, kabel serat optik Trans Atlantik pun dikembangkan.
Teknologi generasi ketiga kabel serat optik mampu beroperasi pada kecepatan sekitar 2,5
Gbps dengan penguat pada setiap 100 km.

Ledakan Teknologi : Komunikasi Selular


Telepon genggam pertama kali diluncurkan pada tahun 1985 di Inggris oleh
Vodaphone dan Cellnet, yang kemudian kedua perusahaan bergabung menjadi O2.
Namun demikian, telepon genggam ini sangat tidak praktis karena berbobot 20 kg dengan
sistem baterai yang sangat besar. Pada masa itu, kita bisa melihat para pengusaha
menjinjing dua tas sekaligus, yaitu tas berkas dan perlengkapan telepon.
Pada tahun 1992, teknologi generasi keempat kabel serat optik dikembangkan
dengan

prinsip

Wavelength

Division

Multiplexing

yang

membuatnya

mampu

menggandakan kecepatannya dua kali setiap enam bulan hingga pada tahun 2006 telah
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

13

mencapai kecepatan 14 Tbps dengan penguat setiap 160 km. Teknologi kabel serat optik
ini yang membuat kita dapat menikmati TV kabel dan layanan pita lebar (broadband) ke
berbagai wilayah. Namun demikian, biaya untuk menggelar teknologi pita lebar berbasis
kabel serat optik sangat besar dan resikonya pun tinggi. Hal ini menyebabkan kebutuhan
akan komunikasi nirkabel pita lebar sangat tinggi hingga kini.

Gambar 1. 4. Perkembangan teleponi selular bergerak (mobile cellular phone)

Pada uraian sebelumnya, kita telah membahas tentang kelahiran dan proses
perkembangan secara singkat komunikasi dengan jaringan kabel sejak penemuan kode
Morse pada tahun 1800an hingga pengembangan sistem komunikasi serat optik yang
dimulai pada akhir abad ke-20. Ketika kabel serat optik mampu menghantarkan
percakapan dengan jumlah sangat besar secara simultan, kita juga perlu melihat langkahlangkah pertama komunikasi personal secara nirkabel yang kemudian akan menjadi
ledakan teknologi yang sangat pesat hingga kini.
Pada prinsipnya, terdapat perbedaan yang sangat penting antara sistem
komunikasi selular generasi pertama dengan perkembangan berikutnya. Pada generasi
pertama (1G), komunikasi nirkabel masih menggunakan sistem analog. Suara dikirimkan
secara langsung sebagaimana diucapkan oleh manusia. Perkembangan 2G dan generasi
berikutnya, jaringan bertransformasi menjadi sistem dijital, dimana suara dicuplik dan
dipecah-pecah menjadi data sebelum ditransmisikan. Sisi pengirim kemudian akan
menyusun ulang paket-paket data tersebut menjadi suara utuh yang dapat kita dengar. Era
ini merupakan awal dari komunikasi dijital yang berkembang sangat pesat ini.
Generasi pertama sistem telekomunikasi nirkabel diluncurkan di Jepang pada tahun
1979 oleh NTT dan mampu mencakup 20 juta penduduk Tokyo dengan 23 base
transmission station (BTS) dan akhirnya pada tahun 1984 telah mampu mencakup seluruh
pelosok negeri Jepang. Jaringan 1G dimulai di Eropa oleh Nordic Mobile Telephone dan
pada tahun 1981 telah mencakup wilayan Swedia, Finlandia, dan Denmark. Pada tahun
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

14

1983, Motorola memulai pengembangan jaringan selular di Amerika dan pada 1 Januari
1985, Vodaphone memulai era telepon selular di Inggris.

Gambar 1. 5. Telepon selular yang dikembangkan oleh Motorola.

Generasi awal 1G berkembang pada tahun 80-an dan masih menggunakan sistem
analog. Sistem analognya menggunakan FDMA (Frequency Division Multiple Access),
yang mana memungkinkan membagikan alokasi penggunaan frekuensi pada masing
masing pelanggan di sel tersebut. Teknologi yang digunakan pada sistem analog ini biasa
dikenal dengan AMPS (Advance Mobile Phone Service) yang dioperasikan pada band 800
MHz.
Kekurangan dari generasi 1G adalah ukurannya yang terlalu besar untuk dipegang,
performa baterai yang kurang baik, kapasitas trafik yang kecil, dan suara tidak jernih. Pada
saat itu handphone yang digunakan masih berukuran cukup besar dan beterainya relatif
boros.
Generasi kedua dari telekomunikasi mobile ini adalah saat memasuki era digitlal
dimana Eropa mulai menemukan GSM (Global System for Mobile Communication) dan US
mulai mengembangkan CDMAone (Code Division Multiple Access). GSM adalah sistem
TDMA (Time Divison Multiple Access) dengan menggunakan carrier band sebesar 200 KHz.
Dengan GSM, frekuensi radio yang digunakan untuk carrier bands dapat digunakan
kembali selama transmitter radio dengan frekuensi yang sama tidak berada dalam sel yang
berdekatan. Sedangkan CDMAone menggunakan teknologi yang berbeda yaitu spread
spectrum, dimana spektrum radio dibagi menjadi beberapa pembawa yang lebar pitanya
mencapai 1.23MHz. Dalam CDMA, user menggunakan frekuensi yang sama dalam waktu
yang bersamaan sehingga lebih efisien.
Teknologi GSM saat ini adalah yang paling banyak digunakan di dunia karena
memiliki kemampuan roaming yang sangat luas. Keunggulan CDMA dibandingkan dengan
GSM adalah suaranya lebih jernih, kapasitas lebih besar, dan kemampuan akses data yang
lebih tinggi.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

15

Jaringan 2G ini memulai layanan SMS pada tahun 1993 dan dikembangkan menjadi
sistem prabayar mulai akhir tahun 1990an. Nordic Mobile Telepone mulai memperkenalkan
sistem pembayaran melalui telepon selular dengan sistem parkir kendaraan dan mesin
penjual otomatis Coca-Cola sehingga teknologi ini menjanjikan metode pembayaran yang
baru pada tahun 1998. Sistem komersial pertama yang bekerja seperti kartu kredit ini mulai
tahun 1999 di Filipina oleh dua operator, yaitu Globe dan Smart.
Layanan iklan pada telepon selular pertama kali muncul di Finlandia pada tahun
2000 yang memungkinkan pengguna telepon selular menerima kabar terbaru dari suatu
merek yang ingin diikutinya. Layanan ini juga membuka peluang penjualan ringtone untuk
konsumen individual. Ringtone ini pun berkembang dari monoponik hingga menjadi
poliponik. Ringtone poliponik kemudian mulai tergeser dengan teknologi MP3 yang
berkembang kemudian. Pada tahun 1999, NTT DoCoMo Jepang menghadirkan layanan
internet mobile pertama di dunia, namun kecepatan layanan ini masih terbatas karena
faktor keterbatasan teknologi 2G.
Karena sangat kecilnya kemampuan akses data GSM yang hanya mencapai 9.6
Kbps, mulai berkembang GPRS (General Packet Data Radio Services). Kemudian
diperkenalkanlah teknologi Wireless Application Protocol (WAP), namun hasilnya tidak
begitu memuaskan. Sampai akhirnya GPRS dikembangkan sampai mampu mengakses
data dengan kecepatan sampai 115 Kbps dan throughput hanya 20-30 Kbps. GPRS juga
memungkinkan akses internet dimana saja dan real time. GPRS kurang diminati karena
harganya yang cukup mahal saat itu. Teknologi yang berkembang lagi adalah EDGE
(Enhanced Data for Global Evolusion) yang hanya sempat diimplementasikan sebentar,
kecepatannya mencapai 3-4 kali dari kecepatan GPRS.
Perkembangan layanan 3G, dimulai oleh NTT DoCoMo pada awal tahun 2001 dan
jaringan 3G komersial pertama diluncurkan pada Oktober 2001 dengan teknologi WCDMA
(Wideband Code Division Multiple Access). Pada tahun 2002, jaringan 3G diluncurkan di
Korea Selatan dan di Amerika Serikat yang bernama Monet. Keduanya menggunakan
standar CDMA/EV-DO yang merupakan Betamax dari 3G dan Monet pun telah kolaps.
Jaringan kedua dengan standar WCDMA diluncurkan oleh Vodaphone KK (saat ini dikenal
sebagai Softbank) di Jepang. Pada waktu yang sama di Eropa dikembangkan pula oleh
Three/Grup Hutchison di Italia dan Inggris.
Generasi ketiga ini merupakan kelanjutan dari GSM, GPRS, EDGE, dan CDMA
pada generasi sebelum-sebelumnya. Teknologi lanjutan ini disebut dengan Universal
Mobile Telecommunication Service (UMTS). Tujuannya adalah memberikan kecepatan
akses data yang lebih tinggi mencapai 385 kbps pada frekuensi 5 KHz. Teknik modulasi
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

16

yang dipilih UMTS adalah Wide-CDMA. Pada WCDMA digunakan frekuensi radio sebesar
5 MHz pada band 1900 Mhz. HSDPA (High Speed Packet Downlink Access) merupakan
kelanjutan dari UMTS dimana menggunakan frekuensi radio sebesar 5 MHz dengan
mencapai kecepatan 2 Mbps. Untuk mengaplikasikan UMTS dibutuhkan biaya yang lebih
besar karena perlu membayar lisensi ke pemerintah dan vendor 3G, penambahan base
station, dan biaya capex (capital expenditure) dan opex (operational expenditure) lainnya.
Penerapan 3G ini antara lain untuk video call, live streaming, dan layanan multimedia pita
lebar lainnya.
Pada tahun 2003, 4 layanan 3G diluncurkan kembali di Eropa, dua di antaranya
menggunakan teknologi WCDMA dan dua lainnya menggunakan CDMA/EV-DO. WCDMA
lebih banyak berkembang dibandingkan CDMA/EV-DO karena hampir dua pertiga pasar
telekomunikasi selular mengadopsi teknologi ini dan telah menjadi standar teknologi
industri untuk layanan 3G. Penemuan teknologi HSDPA (High Speed Downlink Packet
Access) memungkinkan layanan internet mobile yang lebih cepat dengan kecepatan 1,8
Mbps hingga 14,4 Mbps. Layanan HSDPA ini kemudian terus berkembang hingga telah
menjadi gaya hidup tersendiri bagi sebagian orang.
Kemudian generasi ketiga ini diperkaya lagi dengan keluarnya generasi 3.5G.
Kecepatannya mencapai 3,6 Mbps sehingga dapat melayani komunikasi multimedia lebih
cepat, seperti akses internet dan video sharing.

Kebutuhan Baru : Komunikasi Multimedia Pita Lebar

Gambar 1. 6. Telepon pintar.

Layanan internet pita lebar dimulai dengan penggunaan dongles atau yang kita
kenal sebagai modem sehingga kita dapat menikmati layanan internet berkecepatan tinggi
pada laptop yang fleksibel. Kemudian perkembangan teknologi membuat telepon selular

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

17

mampu menjalankan fungsi sebagai kantor dengan layanan surat elektronik dan
organizer. Saat ini, layanan aliran video waktu nyata pun dapat kita nikmati dalam
genggaman tangan dengan mudah. Bahkan , percakapan video pun sempat berkembang
walaupun perkembangannya kurang diterima dengan baik. Pada masa ini lah, kita akhirnya
mengenal telepon selular sebagai smartphone, telepon pintar.
Saat ini kita mulai beranjak menuju layanan 4G di dekade kedua milenium ini.
Standar 4G memiliki kecepatan data yang sangat tinggi hingga 100 Mbps pada kondisi
mobilitas tinggi (di dalam mobil atau kereta api) dan hingga 1 Gbps pada kondisi mobilitas
rendah (misalnya lingkungan pedestrian atau pengguna stasioner). Teknologi kecepatan
tinggi ini menggunakan prinsip OFDMA (Orthogonal Frequency Division Multiple Access)
dengan berbagai algoritma pengkodean hingga kecepatan tinggi pun tercapai. Beberapa
keunggulan pada teknologi 4G selain kecepatan tinggi antara lain adalah struktur arsitektur
yang flat untuk semua teknologi dan tingkat latensi yang rendah.
Teknologi 4G yang dikenal pertama adalah WiMAX (Worldwide Interoperability for
Microwave Access) pada tahun 2006 yang menawarkan layanan berkecepatan hingga 128
Mbps pada aliran unduh dan 56 Mbps pada aliran unggah. WiMAX perlahan ditinggalkan
karena ketidakefisienannya serta kurang mendukung layanan dengan mobilitas tinggi. LTE
kemudian hadir pada tahun 2009 yang menawarkan layanan berkecepatan hingga 100
Mbps pada aliran unduh dan 50 Mbps pada aliran unggah. Dikenal pula teknologi HSPA+
(High Speed Packet Access) yang beroperasi pada kecepatan hingga 84 Mbps pada aliran
unduh dan 22 Mbps pada aliran unggah. Perkembangan LTE pun semakin ditunjang
dengan berkembangnya sistem antena MIMO (multi input multi output) dan smart antenna
yang dapat meningkatkan performa layanan berkecepatan tinggi.
Di Amerika Serikat, AT&T, Verizon, dan Sprint telah memulai jaringan berbasis LTE
dan beroperasi secara optimal pada tahun 2013. Kemudian terdapat Rencana
Lightsquared yang akan menggunakan satelit untuk menjangkau 92% populasi Amerika
Serikat dengan layanan LTE pada tahun 2015, walaupun dengan teknologi ini kecepatan
akan menjadi konsiderasi tersendiri.
Di Indonesia, layanan 4G komersial dimulai pada tahun 2010 oleh PT. FirstMedia,
Tbk dengan merek dagang Sitra. Sitra WiMAX menyediakan layanan pita lebar kecepatan
tinggi nirkabel pertama di Indonesia di daerah-daerah padat seperti Jabodetabek,
Sumatera Utara, dan Aceh. Sitra sendiri merupakan pemegang izin BWA termahal di
wilayah Jabodetabek. Namun seiring perkembangan teknologi, WiMAX mulai ditinggalkan
karena biayanya yang besar dan kendala teknologi lainnya hingga digantikan oleh LTE.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

18

Telkomsel kemudian menjadi operator pertama yang mengadakan percobaan


jaringan 4G LTE pada konferensi APEC di Bali pada Oktober 2013. Jaringan ini
dioperasikan pada frekuensi 1800 MHz dengan lebar pita sekitar 5 MHz.
Di akhir tahun 2013, PT. Internux kemudian meluncurkan layanan 4G LTE
komersial pertama sejak 14 November 2013 pada cakupan wilayah Jabodetabek. Potensi
pasar yang diharapkan dapat mencapai 30 juta orang. Teknologi 4G LTE yang digunakan
menggunakan prinsip TDD-LTE (Time Division Duplex-LTE) pada frekuensi 2300 MHz.
Perkembangan 4G di Indonesia saat ini masih terkesan jalan di tempat saja.
Persoalan utama yang mengganjal adalah masalah regulasi dari pemerintah yang tidak
juga kunjung selesai. Selain itu penempatan frekuensi yang sesuai untuk layanan 4G ini
masih belum jelas. Pada pita frekuensi di atas 1800 MHz masih perlu dilakukan pengaturan
ulang frekuensi atau frequency refarming, sedangkan pada pita frekuensi 700 MHz masih
terkendala sistem televisi analog yang belum berpindah ke televisi dijital.
Dewasa ini pula mulai dikembangkan layanan 5G yang jauh lebih canggih. Berbeda
dengan layanan 2G hingga 4G, 5G merupakan teknologi radio akses tunggal yang akan
menggantikan makrosel. Layanan 5G merupakan kombinasi antara teknologi akses yang
terlisensi dan tidak berlisensi ataupun optimasi akses radio. 5G menjanjikan layanan
berkecepatan tinggi dengan latensi hingga nol. Teknologi ini didukung dengan
berkembangnya teknologi antena MIMO dan penggunakan gelombang milimeter untuk
aplikasi komunikasi.

Gambar 1. 7. Skenario Layanan 5G.


Ditulis berdasarkan beberapa sumber.
Adhitya Satria Pratama, Teknik Elektro 2010.

---o0o--Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

19

Modul 2

Saluran Transmisi

Tujuan
Aplikasi utama dari teori medan elektromagnetika adalah studi tentang saluran
transmisi (transmission line, T-Line). Saluran transmisi dikarakterisasi berdasarkan
kemampuannya untuk memandu dan mempropagasikan gelombang elektromagnetik dan
panjangnya terhadap panjang gelombang elektromagnetik yang dipropagasikan.
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Memahami konsep Voltage Standing Wave Ratio pada saluran transmisi;
2. Memahami konsep impedansi dan admitansi pada saluran transmisi;
3. Memahami penggunaan Smith Chart pada penentuan nilai impedansi dan
admitansi pada saluran transmisi.

Dasar Teori
Dasar Saluran Transmisi
Suatu saluran transmisi dapat dimodelkan sebagai suatu konfigurasi dua kutub
sederhana. Pada Gambar 2.1., terlihat parameter saluran transmisi yang terdistribusi
secara seri, yaitu R (resistansi per meter) dan L (induktansi per meter) serta secara paralel,
yaitu G (konduktansi per meter) dan C (kapasitansi per meter). Tanda apostrof
menunjukkan nilai terdistribusi terhadap satuan panjang (meter). Parameter terdistribusi ini
semakin berlipat ganda terhadap panjang segmen diferensial z dalam meter dan
menghasilkan nilai elemen murni R, L, G, dan C.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

20

Gambar 2. 1. Parameter terdistribusi pada saluran transmisi dengan panjang segmen


diferensial tertentu. (a). Saluran transmisi, (b) Pemodelan saluran transmisi.

Untuk geometri dan komposisi material tertentu, parameter terdistribusi pada


saluran transmisi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

G'

2 d
ln b a

C'

2
ln b a

1
2

(2.2)

ln b a
2

(2.3)

1 1 f

a b c

(2.4)

L'
R'

(2.1)

Parameter Dasar Saluran Transmisi


Pada Gambar 2.1b. diperhitungkan tegangan dan arus sesaat pada setiap ujung
segmen. Saudara perhatikan bahwa v (z, t) menunjukkan tegangan sebagai fungsi waktu t
dan jarak z. Notasi z menunjukkan perbedaan jarak antara titik awal dan titik akhir.
Demikian pula pada arus.
Persamaan Telegrafis merupakan persamaan dasar pada saluran transmisi yang
memperhitungkan arus dan tegangan sesaat pada segmen saluran transmisi sehingga
saluran transmisi dapat dilihat sebagai model dua kutub. Persamaan ini menggambarkan
karakteristik dasar pada saluran transmisi, yaitu :

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

21

1. Konstanta propagasi, yang menggambarkan karakteristik propagasi gelombang


pada saluran transmisi tersebut.

R' jL'G' jC'


(2.5)

dimana adalah komponen riel, yaitu konstanta atenuasi dan adalah komponen
imajiner, yaitu konstanta fasa.
2. Impedansi karakteristik, yaitu perbandingan antara amplitudo gelombang tegangan
yang merambat pada arah positif terhadap amplitudo gelombang arus yang
merambat pada arah positif.

Z0

R ' j L '
G ' j C

(2.6)

3. Impedansi karakteristik pada saluran tanpa rugi (lossless line). Suatu saluran dapat
diasumsikan sebagai saluran tanpa rugi jika nilai R jauh lebih kecil daripada L'
dan G jauh lebih kecil daripada C' sehingga nilai R = G = 0.

Z0

L'
C'

(2.7)

Saluran Transmisi yang Diterminasi

Gambar 2. 2. Saluran transmisi yang diterminasi oleh sebuah beban. Arah positif
menunjukkan arah menuju sisi beban, dan negatif menunjukkan arah yang berlawanan.

Beberapa fenomena menarik muncul ketika suatu saluran transmisi diterminasi


dengan suatu beban yang diletakkan pada z = 0. Impedansi beban adalah perbandingan
antara tegangan terhadap arus pada sisi beban.

Z L Z0

V0 V0
V0 V0

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

(2.8)

22

dimana Z0 adalah impedansi karakteristik dari saluran transmisi. Persamaan 1.8 dapat
disusun ulang menjadi :

V0

Z L Z0
V0
Z L Z0

(2.9)

Dari persamaan 2.9. terlihat bahwa jika nilai impedansi beban ZL sama dengan impedansi
karakteristik saluran Z0, maka tidak ada gelombang yang dipantulkan kembali ke sisi
sumber. Kondisi demikian ini disebut sebagai keadaan bersesuaian (matching).
Pada kasus dimana impedansi beban tidak sama dengan impedansi saluran atau
tidak sesuai (mismatched), terdapat gelombang yang memantul balik ke arah sumber dan
ini dianggap merugikan. Tingkat ketidaksesuaian impedansi terhadap saluran dinyatakan
dalam parameter koefisien pantul (refflection coefficient) pada sisi beban, yaitu :

V0

V0

Z L Z0
Z L Z0

(2.10)

Pada beban terhubung singkat (ZL = 0), beban bersesuaian (ZL = Z0), dan beban hubung
terbuka (ZL = ) nilai koefisien pantul masing-masing adalah 1, 0, dan + 1.
Gelombang pantul akan bersuperposisi dengan gelombang datang dan membentuk
suatu pola saling menguatkan pada suatu titik dan saling melemahkan pada titik lainnya di
saluran transmisi. Superposisi gelombang ini membentuk gelombang berdiri (standing
wave), dimana perbandingan antara nilai amplitudo maksimum superposisi gelombang
terhadap amplitudo minimum superposisi gelombang dinyatakan dalam parameter VSWR
(voltage standing wave ratio).

VSWR

1 L
1 L

(2.11)

yang memiliki rentang 1 sampai tak hingga.


Pada setiap titik sepanjang saluran transmisi, Saudara dapat mengetahui
perbandingan tegangan total terhadap arus total, yang dikenal sebagai impedansi input.

Zin Z 0

Z L Z 0 tanh l
Z 0 Z L tanh l

(2.12)

Pada kasus saluran tanpa rugi, impedansi input dapat dihitung sebagai :

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

23

Zin Z 0

Z L jZ 0 tan l
Z 0 jZ L tan l

(2.13)

The terminated T-line can be replaced by an equivalent lumped-element input


Gambar 2. 3. Impedansi input saluran transmisi.
impedance.

Fundamentals of Electromagnetics With Engineering Applications by Stuart M. Wentworth


Copyright 2005 by John Wiley & Sons. All rights reserved.

Terdapat dua cara pada penentuan nilai VSWR, yaitu:


1. Metode Langsung
Metode langsung dilakukan dengan mengukur nilai arus di sepanjang saluran
transmisi. Hasil pengukuran tersebut akan didapatkan nilai arus pada setiap titik di
saluran transmisi. Grafik VSWR didapatkan dengan memplot setiap nilai arus pada
setiap titik di saluran transmisi.
2. Metode Tidak Langsung (Double minimum method)
Metode tidak langsung digunakan untuk memperbaiki metoda langsung jika nilai
VSWR > 10. Detector mendeteksi sinyal minimum. Kemudian detector digerakkan
pada dua tempat dimana sinyal memiliki ampitudo dua kali amplitudo sinyal
minimum. Jarak kedua tempat tersebut, d, dapat digunakan untuk menentukan
VSWR dengan :

VSWR

E max
1
1
2
E min
sin d / g

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

(2.14)

24

Gambar 2. 4. Metode tidak langsung.

Pada percobaan ini, Saudara akan melakukan pengukuran VSWR dengan teknik
slotted coaxial air line. Suatu probe dapat digeser-geser sepanjang saluran untuk
mengukur ampltudo medan listrik yang terjadi. Pada pengukuran VSWR yang
menggunakan slotted line detector, terdapat karakteristik hukum kuadrat yang dimiliki
detector :
i ke 2
2
imax ke max

VSWR 2
2
imin
ke min

VSWR

imax
imin

(2.15)
(2.16)

(2.17)

dengan i adalah arus keluaran DC, k adalah konstanta, dan e adalah tegangan.

Diagram Smith
Diagram Smith adalah diagram yang biasa digunakan untuk memahami
karakteristik saluran transmisi dan elemen rangkaian microwave. Diagram ini terdiri dari
bilangan real dan imajiner, dimana komponen real ditunjukkan oleh bentuk lingkaran penuh,
sedangkan komponen imajiner ditunjukkan oleh bentuk lengkung. Beberapa karakteristik
saluran transmisi yang dapat dihitung dengan Diagram Smith antara lain adalah VSWR,
impedansi beban, admitansi beban, dan koefisien refleksi. Berdasarkan Diagram Smith
dapat diketahui kondisi saluran transmisi apakah matching atau tidak.

Peralatan
Praktikum modul ini menggunakan peralatan Microwave Trainer (MWT530) yang
diproduksi Feedback Instruments Ltd. Peralatan yang digunakan terdapat pada Tabel 2.1
berikut ini.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

25

Tabel 2. 1. Peralatan yang digunakan pada Modul Saluran Transmisi.


No

Nama Alat

Jumlah

1.

Microwave Trainer Board

2.

Variabel Attenuator

3.

X-band CW Gunn Oscilator Source

4.

Slotted line

5.

Probe diode detector

6.

Terminal hubung singkat

7.

Terminal resistif

8.

Waveguide Antena horn

9.

H-plane tee

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Dilarang melihat/mengintip saluran transmisi dan antena horn
yang digunakan pada saat percobaan ketika generator X-band dalam keadaan
menyala! Hal ini dapat menyebabkan iritasi pada mata, bahkan kebutaan.
Selalu perhatikan instruksi asisten dan berhati-hati dalam percobaan,
mengingat percobaan ini menggunakan frekuensi yang cukup tinggi!

Pengukuran VSWR
Pengukuran VSWR pada praktikum ini menggunakan metode langsung. Berikut ini
adalah prosedur percobaan pengukuran VSWR.
1.

Susun peralatan seperti Gambar 2.9. Set tombol pada posisi "internal keying";

2.

Atur sensitivitas pada posisi tengah. Atur sumber redaman pada posisi 20;

3.

Bila detektor digerakkan sepanjang saluran maka penunjukkan ampere meter akan
berubah-ubah. Atur sensitivitas dan bila perlu atur attenuator untuk mendapatkan
pembacaan yang mendekati skala maksimum;

4.

Secara hati-hati gerakkan probe detector untuk mendapatkan pembacaan arus


minimum yang pertama. Catat sebagai imin1 dan posisinya sebagai x1;

5.

Secara hati-hati gerakkan probe detector untuk mendapatkan pembacaan arus


maksimum yang pertama. Catat sebagai imax2 dan posisinya sebagai x2. Catat juga
arus minimun selanjutnya (imin3) dan posisinya sebagai x3 ;

6.

Gunakan prosedur yang sama untuk beban yang lain.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

26

Resistive termination

Gambar 2. 5. Rangkaian percobaan pengukuran VSWR

Pengukuran Impedansi Beban Ternormalisasi


Berikut ini adalah cara menentukan impedansi beban dengan menggunakan
Diagram Smith :
1.

Tentukan besarnya VSWR dengan metode langsung;

2.

Gambar lingkaran VSWR tersebut pada Smith Chart;

3.

Titik Q dimana r = 1/VSWR merepresentasikan impedansi masukan beban pada


medan listrik minimum;

4.

Hitung panjang gelombang waveguide (g) dengan rumus :

g 2x 3SC x1SC
5.

(2.18)

Jarak beban terhadap sumber ditentukan dengan :


d x1 x1SC x 3 x 3SC

(2.19)

6. Temukan nilai impedansi beban ternormalisasi.


---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

27

Modul 3

Modulasi Amplitudo

Tujuan
Modulasi adalah proses modifikasi sinyal pembawa terhadap sinyal informasi
sedemikian sehingga sinyal informasi dapat ditransmisikan dengan baik. Demodulasi
merupakan proses kebalikan dari modulasi, yaitu proses ekstraksi sinyal informasi
baseband dari sinyal pembawa sedemikian sehingga informasi dapat diterima, diproses,
dan diinterpretasikan pada sisi penerima.

Gambar 3. 1. Ilustrasi proses modulasi dan demodulasi sinyal informasi.

Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :


1. Memahami jenis dan proses modulasi analog AM
2. Memahami proses demodulasi sinyal AM

Dasar Teori
Pengantar Teknik Modulasi
Modulasi adalah proses penumpangan sinyal informasi ke sinyal pembawa
(carrier). Suatu sinyal sinusoidal dapat direpresentasikan dengan persamaan
() = sin( + )

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

(3.1)

28

dengan () adalah sinyal sinusoidal, adalah amplitudo (), adalah frekuensi


sudut dan adalah phasa. Terdapat dua macam modulasi analog, yaitu modulasi
amplitudo dan modulasi frekuensi.
Amplitudo modulation (AM) menggunakan variasi amplitudo untuk membawa
sinyal informasi. Gelombang yang amplitudonya dibuat bervariasi disebut gelombang
carrier (pembawa). Sinyal yang membuat variasi itu disebut modulating signal (sinyal
informasi). Modulasi amplitudo terbagi menjadi tiga jenis, AM DSB SC, AM SSB, AM DSB
FC. Pada AM DSB SC jika dilihat dalam komponen domain frekuensi, nilai daya dari
frekuensi carriernya ditekan sehingga dianggap bernilai 0. Sedangkan Sinyal AM SSB
menekan salah satu sideband dengan menggunakan filter, sehingga akan dihasilkan
sinyal SSB-LSB dan sinyal SSB-USB.
Spektrum frekuensi modulasi AM double side band suppressed carrier (DSB-SC)
dapat dilihat pada Gambar 3.2. berikut :

Gambar 3. 2. Spektrum Frekuensi AM DSB-SC.


Spektrum frekuensi modulasi AM single side band lower sideband (SSB-LSB)
dapat dilihat pada Gambar 3.3. berikut :

Gambar 3.3. Spektrum Frekuensi AM SSB-LSB.


Spektrum frekuensi modulasi AM double side band full carrier (DSB-FC) dapat
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

29

dilihat pada Gambar 3.4. berikut :

Gambar 3. 4. Spektrum Frekuensi AM DSB-FC.

Proses Modulasi Amplitudo


Misalkan sinyal carrier mempunyai indeks dan sinyal informasi mempunyai
indeks yang ditunjukkan densgan persamaan:
() = sin( )

(3.2)

() = sin( )

(3.3)

Karena yang diinginkan adalah sinyal informasi memvariasikan amplitudo carrier, maka :
() = ( + sin( ))sin( )

(3.4)

Pada persamaan (3.4) di atas,( + sin( )) melambangkan variasi amplitudo sinyal


hasil modulasi. Persamaan (3.4) dapat diubah menjadi
() = (sin( ) + sin( )sin( ))

(3.5)

dengan = / adalah indeks modulasi.


Karena sin( )sin( )) = (1/2)[cos(( )) cos(( + ))] , maka
pada persamaan (3.5) terlihat terdapat tiga komponen frekuensi yang berbeda, yaitu:
a. Gelombang pembawa (carrier) yang asli, dengan frekuensi , yang tidak
terdapat variasi apa pun dan tidak membawa informasi.
b. Komponen dengan frekuensi ( ) , yang amplitudonya proporsional
dengan indeks modulasi. Komponen ini disebut lower side frequency.
c. Komponen dengan frekuensi ( + ) , yang amplitudonya proporsional
dengan indeks modulasi. Komponen ini disebut upper side frequency.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

30

Persamaan sinyal termodulasi AM VAM dapat pula dinyatakan sebagai berikut :


VAM = VC (1 + m cos mt) cos ct

(3.6)

dimana VC adalah amplitudo gelombang pembawa dan m adalah indeks modulasi.


Perhatikan Gambar 3.5 berikut ini. Saudara dapat melihat bahwa informasi terdapat
pada lower side band dan upper side band bukan pada gelombang pembawa.

Sinyal informasi atau sinyal pemodulasi Vm.

Sinyal pembawa (carrier) Vc.

Sinyal termodulasi AM VAM.


Gambar 3. 5. Sinyal-sinyal pada modulasi AM DSB-FC dalam domain waktu.
Kualitas dari sinyal hasil modulasi AM dapat dilihat dari indikator indeks modulasi.
Nilai indeks modulasi mAM berkisar antara 0 1 atau 0% - 100 %, yaitu :
1. mAM < 1 yang disebut kondisi under-modulated.
2. mAM = 1 yang disebut kondisi fully-modulated.
3. mAM > 1 yang disebut kondisi over-modulated.
Pada kondisi over-modulated, terjadi tumpang tindih fasa pada envelope sehingga
penerima tidak dapat mengekstraksi sinyal informasi dari sinyal pembawa akibat distorsi

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

31

sinyal. Bentuk gelombang sinyal termodulasi AM untuk nilai indeks modulasi yang berbeda
terlihat pada Gambar 3.6.

Gambar 3. 6. Bentuk gelombang sinyal termodulasi AM dengan nilai indeks modulasi yang
berbeda-beda.

Kualitas dari sinyal termodulasi AM juga dapat dilihat dari sisi daya yang mana
harus dilihat dari domain frekuensi. Untuk mengubah sinyal dari domain waktu ke domain
frekuensi, seperti telah Saudara ketahui pada perkuliahan sebelumnya, digunakan metode
Transformasi Fourier. Transformasi Fourier digunakan karena sinyal termodulasi AM
dianggap sebagai sinyal yang kontinu dan memiliki periode tertentu.
Gambar 3.7. menunjukkan spektrum sinyal termodulasi AM dimana magnitudo spektrum
merupakan fungsi segitiga. Seperti yang terlihat, spektrum sinyal AM terdiri dari sebuah
impuls pada frekuensi sinyal carrier dengan dua sideband yang menggandakan spektrum
sinyal pesan. Sideband pada frekuensi yang lebih rendah disebut sebagai lower sideband
(LSB) dan pada frekuensi yang lebih tinggi disebut upper sideband (USB). Panjang pita
bandwidth (BW) dari sinyal AM adalah :
v B AM 2 fm

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

(3.7.)

32

Gambar 3. 7. Bentuk spektrum sinyal termodulasi AM. (a). Spektrum sinyal pesan, (b)
Spektrum sinyal AM.

Proses Demodulasi AM
Proses demodulasi AM dapat dibagi menjadi :
1. Demodulasi Envelope atau Non-Koheren
Pada demodulasi non-koheren, digunakan detektor selubung (envelope).
Detektor selubung terdiri dari transformator step-up untuk menaikkan level
tegangan, dioda untuk menyearahkan sinyal, dan filter RC.

Gambar 3. 2. Detektor selubung.

Sinyal yang akan didemodulasikan harus sinyal dengan nilai indeks modulasi m
< 1. Berikut ini adalah proses demodulasinya.

Gambar 3. 3. Proses demodulasi non-koheren dengan m < 1.

Jika m > 1, maka akan terjadi pertukaran fasa pada selubung dan menyebabkan
sinyal terdistorsi dan tidak bisa diinterpretasikan pada sisi penerima.

Gambar 3. 4. Proses demodulasi non-koheren dengan m > 1.

2. Demodulasi Sinkron atau Koheren


Pada demodulasi sinkron, digunakan rangkaian phase-locked loop (PLL)
sebagai local oscillator (LO). Sinyal termodulasi AM masuk ke rangkaian
demodulator, kemudian dibangkitkan sinyal dari LO yang sesuai dengan
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

33

frekuensi carrier yang diinginkan. Jika frekuensi carrier tersebut sesuai dengan
frekuensi LO, maka sinyal akan keluar dan difilter kemudian diinterpretasikan
sebagai sinyal informasi. Prinsip ini digunakan pada radio konvensional, dimana
Saudara perlu melakukan tuning atau mencari frekuensi carrier yang sesuai
dengan memutar-mutar knob LO pada radio.

Gambar 3. 5. Proses demodulasi koheren dengan PLL.

Peralatan
Pada praktikum modul ini digunakan perangkat keras dan perangkat lunak produksi
Feedback Teknikit. Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 2.1
berikut ini.
Tabel 3. 1. Peralatan yang digunakan pada Modul Modulasi dan Demodulasi AM.
No

Nama Alat

Jumlah

1.

53-100 RAT Measuring system

2.

Amplitude Modulation Workboard 53-130

3.

Perangkat komputer

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Ikuti petunjuk asisten dalam setiap percobaan. Matikan RAT
Measurement System jika ingin mengganti board. Gambarlah terlebih dahulu
seluruh bentuk gelombang atau spektrum sinyal dan berikan tanda-tanda
seperlunya. Pengisian borang akan diberikan waktu tersendiri. Lakukan
seluruh prosedur percobaan dengan waktu yang seefisien mungkin.

Prosedur Umum
Prosedur kerja umum dilakukan pada saat mulai menggunakan software Feedback.
1. Dari menu utama untuk mengetahui tugas yang akan dilakukan, klik icon perangkat
lunak pada desktop;
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

34

2. Pilih System;
3. Pilih Index;
4. Klik assignment sesuai dengan praktikum Saudara;
5. Klik toolbar Practical sesuai dengan practical yang sedang Saudara lakukan.
Jika akan melanjutkan ke Practical selanjutnya :
1. Klik toolbar System, lalu klik End practical;
2. Kemudian memulai kembali dengan mengklik toolbar Practical selanjutnya;
3. Untuk berhenti, klik toolbar System, lalu klik Quit.

Percobaan AM DSB-FC
1. Set carrier level maksimum, dan Modulation level minimum;
2. Amati sinyal di setiap titik menggunakan oscilloscope dan spectrum analyzer dan
catat hasil pengamatan;
3. Perbesar Modulation level sedikit demi sedikit hingga amplitudo carrier mendekati
nol;
4. Amati sinyal di setiap titik menggunakan oscilloscope dan spectrum analyzer dan
catat.

Percobaan AM DSB-SC
1. Ikuti petunjuk umum. Setelah mengklik toolbar Practical, lalu klik Amplitude
Modulation with No Carrier;
2. Amati sinyal di setiap titik dengan menggunakan oscilloscope dan spectrum
analyzer dan catat hasil pengamatan;
3. Set Carrier balance ke skala posisi tengah;
4. Amati sinyal di titik 6 dan catat hasil pengamatan;
5. Tingkatkan level Carrier balance;
6. Tingkatkan level Modulation level dan Carrier level;
7. Amati sinyal dan tingkatkan level IIFO frequency, sehingga BFO berada pada
phasa yang sama (in phase)dengan carrier. Perhatikan bahwa hasil dari
detector output adalah sama dengan modulating signal.
---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

35

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

36

Modul 4

Modulasi Frekuensi

Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Memahami jenis dan proses modulasi analog FM
2. Membedakan antara modulasi analog secara AM dan FM

Dasar Teori
Pendahuluan
Modulasi FM adalah teknik modulasi analog yang paling populer dibandingkan AM,
khususnya pada aplikasi sistem radio. Pada modulasi FM, amplitudo sinyal carrier dibuat
konstan, sedangkan frekuensi sinyal carrier divariasikan terhadap perubahan amplitudo
sinyal informasi. Dengan demikian, informasi pada modulasi FM dikandung pada
komponen sudut sinyal

Proses Modulasi FM
Misalkan sinyal carrier :
vc t = Vc cosct

(4.1)

Persamaan sinyal FM dasar adalah :


vs t = Vc cos2 fc + deviasi frekuensit

(4.2)

dimana deviasi frekuensi bergantung pada m (t). Frekuensi sinyal carrier akan berubahubah, sehingga persamaan sinyal carrier sesaat dapat dituliskan sebagai :
vs t = Vc cosi t = Vc cos2fi t = Vc cosi

(4.3)

dimana i adalah sudut sesaat it = 2fit dan fi adalah frekuensi sesaat.


Karena i = 2fit , maka :

di
= 2 fi
dt

atau

fi =

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

1 di
2 dt

(4.4)

37

Berdasarkan persamaan 4.4 tersebut dapat dilihat bahwa frekuensi sebanding dengan laju
perubahan sudut. Jika fc adalah frekuensi sinyal carrier dan fm adalah frekuensi sinyal
pesan, maka dapat diambil :

fi = fc + fc cosmt =

1 di
2 dt

(4.5)

dimana fc adalah deviasi puncak frekuensi carrier, yaitu f c k f Vm dengan kf adalah


konstanta sensitivitas deviasi frekuensi (Hz/volt) dan Vm adalah amplitudo maksimum sinyal
pesan. Oleh karena itu, diperoleh :
1 di
= fc + fc cosmt
2 dt

(4.6)

di
= 2 fc + 2 fc cosmt
dt

(4.7)

sehingga

Untuk memperoleh nilai sudut, maka dilakukan integrasi :

+ 2fc cosmt dt

(4.8)

Diperoleh :

i = ct +

2fc sin mt
m

i = ct +

fc
sin mt
fm

(4.9)

(4.10)

Dengan mensubstitusikan persamaan 4.9. ke persamaan 4.3., diperoleh


persamaan sinyal termodulasi FM :

f
vs t = Vc cos ct + c sin mt
fm

Perbandingan

(4.11)

fc
disebut sebagai indeks modulasi FM, yaitu :
fm
=

Deviasi puncak frekuensi sinyal pembawa f c

frekuensi sinyal pesan


fm

(4.12)

Bentuk gelombang sinyal termodulasi FM dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

38

Gambar 4. 1. Bentuk gelombang sinyal FM dalam domain waktu.

Persamaan 4.11. dapat dinyatakan dalam deret fungsi Bessel :


vs t = Vc

J cos
n

+ nm t

(4.13)

n=

Gambar 4. 2. Fungsi Bessel untuk orde tertentu terhadap nilai .

dimana Jn () adalah fungsi Bessel jenis pertama. Dengan melakukan ekspansi, diperoleh :
vs (t ) Vc J 0 ( ) cos(c )t Vc J1 ( ) cos(c m )t Vc J 1 ( ) cos(c m )t

Amp

fc

Amp

fc fm

Amp

Vc J 2 ( ) cos(c 2m )t Vc J 2 ( ) cos(c 2m )t

Amp

fc 2 fm

Amp

fc fm

(4.14)

fc 2 fm

Dengan menggunakan ekspansi fungsi Bessel, spektrum frekuensi dari sinyal FM


dapat diperoleh. Pada Gambar 4.3. terlihat ilustrasi spektrum frekuensi sinyal FM dan

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

39

terlihat bahwa sinyal FM menempati bandwidth yang cukup lebar dibandingkan dengan
sinyal AM.

Gambar 4. 3. Ilustrasi spektrum sinyal FM.

Nilai magnitudo setiap sideband dapat dilihat pada tabel fungsi Bessel untuk tiap
nilai indeks modulasi tertentu seperti pada Gambar 4.4.

Gambar 4. 4. Tabel Fungsi Bessel untuk setiap nilai indeks modulasi tertentu.

Lebar bandwidth sinyal FM dapat dihitung dengan pendekatan Aturan Carson,


yaitu :
BW 2fc fm

(4.15)

Pendekatan ini dilakukan karena panjang bandwidth dari sinyal FM adalah tak hingga.
Pada FM lebih dikenal istilah pasangan sideband daripada LSB dan USB dan bandwidth
tidak dihitung dari LSB hingga ke USB.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

40

Sinyal FM dengan nilai indeks modulasi yang cukup kecil ( < 0,3) disebut sebagai
narrowband FM yang hanya memiliki 2 significant sideband pairs. Sementara itu sinyal FM
dengan > 0,3 akan memiliki lebih dari 2 significant sideband pairs dan disebut sebagai
wideband FM.

Peralatan
Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 4.1 berikut ini.
Tabel 4. 1. Peralatan yang digunakan pada Modul Proses Modulasi FM.
No
Nama Alat
Jumlah
1.

Arbitrary function generator AFG 3081

2.

Dijital Storage Oscilloscope GDS-820C

3.

Spectrum Analyzer GSP827

Spectrum Analyzer adalah alat untuk meyelidiki distribusi energi sepanjang


spektrum frekuensi dari suatu sinyal listrik yang diketahui. Dari penyelidikan ini, diperoleh
informasi yang sangat berharga mengenai lebar bidang frekuensi (bandwidth), rapat daya
sinyal, efek berbagai jenis modulasi, pembangkitan sinyal interferensi dan begitu juga pada
semua manfaatnya dalam perencanaan dan pengujian rangkaian RF dan pulsa. Alat yang
ditampilkan dalam domain frekuensi ini biasa dipergunakan untuk analisis sinyal
elektromagnetik pada rentang frekuensi tertentu apabila ada sumber gangguan pada
perangkat nirkabel, seperti Wi-Fi dan wireless router.

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Ikuti petunjuk asisten dalam setiap percobaan. Matikan
peralatan jika ingin mengganti kabel. Jangan memaksakan kabel jika konektor
tidak sesuai atau tidak mau masuk! Perhatikan instruksi dan label pada
peralatan agar tidak terjadi bahaya tersengat listrik.

1. Buat sinyal carrier dengan cara : menekan tombol MOD, kemudian pilih FM. Tekan
tombol waveform, dan pilih bentuk sinyal sinusoidal.
2. Tentukan besar frekuensi carrier dengan menekan tombol FREQ/Rate dan
masukkan besar sinyal yang diinginkan.
3. Atur amplitudo sinyal dengan menekan AMPL.
4. Buat sinyal informasi dengan cara : menekan tombol MOD, kemudian pilih FM, dan
pilih FM freq dan masukkan besar sinyal informasi yang diinginkan. Kemudian klik
return. (Sinyal informasi besarnya 2 mHz 20 kHz, default: 100 Hz)

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

41

5. Atur besarnya Deviasi dengan cara : Pilih Freq Dev dan masukkan besarnya sesuai
yang diinginkan. (default: 100 Hz). Frekuensi deviasi adalah deviasi frekuensi
puncak dari gelombang pembawa dan gelombang termodulasi.
6. Lihat tampilan sinyal informasi dan sinyal hasil modulasi pada osiloskop dengan
menghubungkan terminal MOD dan MAIN ke osiloskop.
7. Lihat

tampilan

sinyal

hasil

modulasi

pada

spectrum

analyzer

dengan

menghubungkan terminal MAIN ke spectrum analyzer.


---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

42

Modul 5

Sistem Teleponi

Tujuan
Ilmu telekomunikasi selalu berusaha untuk menyediakan layanan komunikasi jarak
jauh. Layanan ini dapat bersifat privat ataupun terbuka untuk akses publik. Layanan
telekomunikasi modern yang paling tua dan sangat umum digunakan adalah layanan
telepon. Layananan telepon dua kawat analog yang paling tua adalah public switched
telephone network (PSTN) atau plain old telephone service (POTS).
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Memahami sistem kerja telepon analog
2. Memahami prinsip kerja transduser

Dasar Teori
Pendahuluan
Sistem teleponi secara umum dibagi menjadi tiga elemen, yaitu telepon, handset
dan saluran yang terhubung ke switching center. Pada Gambar 5.1 ditampilkan sistem
teleponi secara umum.

Gambar 5. 1. Diagram blok sistem telepon secara umum.

Untuk membangun sistem komunikasi yang berhasil, selain didukung topologi


sentral dan saluran transmisi yang baik, juga harus terdapat prosedur untuk mengendalikan
panggilan yang disebut sebagai persinyalan. Pada telepon terdapat bagian yang mengatur
fungsi persinyalan, yaitu switch hook, keypad dan allerter. Proses persinyalan pada switch

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

43

hook dimulai saat pertama kali gagang telepon diangkat. Fungsi rangkaian switch hook,
yaitu:
1. Melakukan pensinyalan antara sentral dengan pesawat telepon yang digunakan;
2. Memutuskan alerter dan menyambungkan ke rangkaian telepon lainnya.

Telepon Rotary Dial


.

Pada telepon jenis rotary dial digunakan persinyalan dengan pulse dialling. Pada
persinyalan pulse dialling, hook switch ditekan untuk men-dial nomor telepon yang dituju.
Jika tombol 9 ditekan, maka hook switch akan membuka-tutup sebanyak 9 kali serta
mengirimkan sinyal pulsa. Keuntungan dari persinyalan ini adalah sistemnya yang
sederhana dan murah. Namun demikian, Saudara akan merasakan adanya sidetone
(suara sendiri melalui speaker ketika berbicara) dan echo (jeda waktu antara sinyal suara
yang dikirim dari mikrofon dengan suara pantulan yang masuk ke speaker, sehingga
muncul seperti gaung).

Gambar 5. 2. Grafik persinyalan pulse dialling, dimana jumlah pulsa yang dikirimkan adalah
seperti angka tombol yang ditekan. Pada setiap pergantian angka, disisipkan IDP ( Inter-Dial
Pulse) untuk membatasi antar angka.

Telepon Touch Tone Dialling/Dual Tone Multi Frequency (DTMF)


Pada prinsipnya telepon jenis ini tidak terlalu berbeda pada rangkaian telepon rotary
dial, dengan perbedaan hanya pada sistem persinyalan yang digunakan. Pada sistem
telepon touch tone, digunakan persinyalan dengan dual tone multi-frequency (DTMF)
dimana nomor telepon yang ditekan akan dikirimkan sebagai gabungan dua frekuensi yang
berbeda.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

44

(a)

(b)

Gambar 5. 3. Sistem DTMF (a). Pengirim dan (b) Detektor DTMF pada penerima.

Sinyal-sinyal pertama diamplifikasi dan dipisahkan berdasarkan kelompok frekuensi


tinggi dan rendah menggunakan filter lowpass (LP) dan filter highpass (HP). Pembatas (L)
digunakan untuk mengkonversikan tone yang terpisahkan tersebut menjadi gelombang
kotak-kotak. Tone individual diidentifikasikan menggunakan 7 filter HP, dimana setiap filter
melewatkan satu tone dan menolak tone yang lain. Setiap filter diikuti dengan sebuah
detektor yang akan bekerja ketika tegangan input telah mencapai level tertentu. Output
detektor akan menghasilkan sinyal DC yang dibutuhkan oleh switching centre untuk
menghubungkan Saudara dengan pihak yang ditelepon.

Rangkaian Hibrid 2-Kawat-4-Kawat


Rangkaian hibrid telepon adalah komponen pada sisi pelanggan dari suatu sistem
PSTN yang berfungsi untuk mengkonversi antara sistem dua kawat dengan sistem empat
kawat sehingga membentuk jalur sinyal audio bidireksional. Pada hakikatnya, sifat alami
dari saluran telepon adalah dua sinyal audio bergerak pada dua arah yang berlawanan,
yaitu suara dari pengirim dan penerima yang bergerak secara bersama-sama. Dua sinyal
yang bergerak ini kemudian diproses secara terpisah pada sistem switching dan transmisi
telepon yang menggunakan sistem 4 kawat. Untuk mengubah sinyal telepon pada sistem
dua kawat menjadi empat kawat digunakanlah rangkaian hibrid ini untuk mencegah
bercampurnya dua sinyal suara yang berbeda. Saat ini, pada sistem telepon modern,
digunakan line card untuk melakukan antarmuka antar saluran analog sehingga konversi
berlangsung lebih efisien. Rangkaian hibrid ini juga berfungsi untuk mengamplifikasi sinyal
dan sebagai echo cancelers.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

45

Gambar 5. 4. Rangkaian hibrid pada telepon.

Peralatan
Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 5.1. berikut ini.
Tabel 5.1. Peralatan yang digunakan pada Modul Sistem Teleponi.
No

Nama Alat

Jumlah

1.

Telephone & Interface Workboard 58-110

2.

53-100 RAT Measuring system

3.

Perangkat komputer

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Ikuti petunjuk asisten dalam setiap percobaan. Matikan
peralatan jika ingin mengganti kabel. Jangan memaksakan kabel jika konektor
tidak sesuai atau tidak mau masuk! Perhatikan instruksi dan label pada
peralatan agar tidak terjadi bahaya tersengat listrik.

Prosedur Umum Percobaan


Prosedur kerja umum dilakukan pada saat mulai menggunakan software Feedback.
1. Dari menu utama untuk mengetahui tugas yang akan dilakukan, klik icon
perangkat lunak pada desktop;
2. Pilih System;
3. Pilih Index;
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

46

4. Klik assignment sesuai dengan praktikum Saudara;


5. Klik toolbar Practical sesuai dengan practical yang sedang Saudara lakukan.
Jika akan melanjutkan ke Practical selanjutnya :
1. Klik toolbar System, lalu klik End practical;
2. Kemudian memulai kembali dengan mengklik toolbar Practical selanjutnya;
3. Untuk berhenti, klik toolbar System, lalu klik Quit.

Percobaan Sistem Teleponi


Switch Hook
1. Tekan tombol pada bagian handset
2. Lihat perubahan yang terjadi pada bagian switch dan baca nilai yang tertera pada
ammeter.
Operasi Papan Tombol
1. Set telepon pada posisi TONE
2. Jaga posisi off hook pada telepon, pastikan posisi line current control berada pada
tengah-tengah atau dalam posisi normal
3. Tekan tombol pada keypad. Perhatikan sinyal pada saluran yang tertera pada
osiloskop.
Pengkodean Papan Tombol
1. Tekan tombol keypad
2. Amati sinyal pada saluran
3. Amati frekuensi sinyal pada output masing-masing filter.
---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

47

Modul 6

PULSE CODE MODULATION DAN


TIME DIVISION MULTIPLEXING

Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Mengenal prinsip pengkodean dijital dan transmisi pada sistem audio dijital.
2. Mengenal prinsip-prinsip pengubahan sinyal analog menjadi dijital dalam PCM.
3. Mengenal teknik jalur jamak berdasarkan waktu (TDM).

Dasar Teori
Pengubahan Sinyal Analog Menjadi Sinyal Dijital
Sinyal yang ditransmisikan akan mengalami penurunan kualitas. Penurunan
kualitas ini disebabkan oleh adanya hal-hal, antara lain redaman, derau (noise), dan
interferensi. Dampak penurunan kualitas sinyal dapat dikurangi dengan merubah sinyal
analog ke bentuk dijital karena lebih tahan terhadap noise dan redaman. Pengubahan
bentuk sinyal analog menjadi dijital dilakukan melalui tiga tahapan proses yaitu pencuplikan
(sampling), kuantisasi, dan pengkodean (coding).
Sampling adalah metode untuk mencacah/mencuplik gelombang analog dengan
menggunakan pulsa diskrit sebagai pencupliknya. Sampling merupakan metode yang
digunakan dalam mentransmisi sinyal analog dalam bentuk sinyal dijital.
Frekuensi sampling yang biasanya digunakan pada proses dijitalisasi sinyal suara
adalah 8 KHz untuk teleponi dijital. Secara matematis sampling dapat dianalogikan sebagai
suatu hasil perkalian sinyal yang dicuplik dengan sinyal yang mencuplik. Pulse Amplitude
Modulation mengkonversi sinyal analog menjadi sekumpulan pulsa yang memiliki
amplitudo yang berbeda. Pada sistem transmisi telepon modern, amplitudo pulsa tersebut
dikonversi menjadi kode biner. Proses pengubahan tersebut dinamakan Pulse Code
Modulation (PCM).

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

48

Setelah dilakukan sampling, sinyal kemudian dilakukan kuantisasi dan coding.


Kuantisasi adalah proses memetakan level amplitudo dari hasil sampling yang masih
kontinu ke dalam level amplitudo yang diskrit. Setelah melalui proses kuantisasi, maka
sinyal keluarannya merupakan sinyal yang memiliki waktu diskrit dan level amplitudo diskrit.
Coding adalah proses pengubahan amplitudo sinyal diskrit hasil kuantisasi ke dalam bit-bit
biner sehingga sinyal hasil PCM hanya diwakili oleh nilai 1 dan 0. Pada Gambar 6.1 sampai
6.3 di bawah ini masing-masing ditampilkan contoh proses pencuplikan sinyal analog, hasil
pencuplikan sinyal analog, ukuran step quantization, dan hasil pengkodean.

(a)

(b)

Gambar 6. 1. (a) Proses pencuplikan sinyal analog, dan (b) Hasil pencuplikan sinyal analog.

Gambar 6. 2. Ukuran step quantization.

Gambar 6. 3. Hasil pengkodean PCM.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

49

Teknik Jalur Jamak

Gambar 6. 2. Contoh aplikasi jalur jamak menggunakan serat optik.

Teknik jalur jamak atau multiplexing adalah metode penggunaan suatu resource
komunikasi secara bersama. Multiplexing bertujuan untuk menghemat resource dari kanal
komunikasi. Pada teknik jalur jamak dikenal terminologi timeslot, yaitu sekumpulan bit-bit
(8 bit) yang ditransmisikan pada waktu yang bersamaan dan frame yaitu sekumpulan
timeslot yang biasanya berjumlah 32 timeslot untuk sistem E-1.

Gambar 6. 3.Konsep dasar teknik jalur jamak.

Gambar 6. 4. Konsep tentang frame dan timeslot pada sistem komunikasi GSM-TDMA.

Beberapa teknik jalur jamak dijelaskan sebagai berikut:

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

50

1. Frequency Division Multiplexing (FDM). Teknik ini merupakan teknik yang paling
popular dan biasanya digunakan pada transmisi radio dan TV. Spektrum frekuensi
dibagi menjadi beberapa kanal berdasarkan frekuensi-frekuensi yang dimilikinya.

Gambar 6. 5. Teknik FDM, (a). Sinyal dengan frekuensi yang berbeda -beda, (b) Sinyal
ditumpangkan pada sinyal pembawa dengan frekuensi yang lebih tinggi, dan (c) Sinyal hasil
multiplexing.

2. Time Division Multiplexing (TDM). Pada teknik ini, sinyal ditransmisikan pada
suatu medium yang sama dengan frekuensi yang sama, namun pewaktuannya
yang berbeda-beda pada masing-masing timeslot.

Gambar 6. 6. Teknik TDM.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

51

Peralatan
Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 6.1 berikut ini.
Tabel 6.1. Peralatan yang digunakan pada Modul Pengkodean Dijital dan Teknik
Jalur Jamak Berdasarkan Waktu.
No
Nama Alat
Jumlah
1.

TDM & PCM Principle Board

2.

53-100 RAT Measuring system

3.

Perangkat komputer

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Ikuti petunjuk asisten dalam setiap percobaan. Matikan
peralatan jika ingin mengganti kabel. Jangan memaksakan kabel jika konektor
tidak sesuai atau tidak mau masuk! Perhatikan instruksi dan label pada
peralatan agar tidak terjadi bahaya tersengat listrik.

Pencuplikan
1. Ikuti petunjuk umum. Setelah mengklik toolbar practical, klik basic sampling;
2. Atur frekuensi osiloskop 1 menjadi sekitar 800 Hz dengan output VPP adalah 2 Volt.
Ukuran tampilan dan osiloskop dapat diubah dengan menggunakan menu Option;
3. Amati bentuk gelombang pada osiloskop 1, clock, gelombang sampel, dan keluaran
pada low pass filter;
4. Ubah waktu sample dengan menggunakan menu option ke . Amati bentuk
gelombang yang terjadi;
5. Ulangi langkah 3 dengan mengubah waktu sample menjadi 1/8;
6. Ulangi langkah 1-3 untuk frekuensi 500 dan 2 kHz.

Kuantisasi
1. lkuti petunjuk umum. Setelah mengklik toolbar Practical, klik Quantization;
2. Atur tegangan sehingga menjadi 0 (nol) menggunakan pengendali DC Test Linear
pada workboard dan kalibrasi kembali untuk mendapatkan hasil yang akurat;
3. Atur tegangan masukan menjadi 1 V, amati keluaran dijitalnya;
4. Ulangi untuk nilai masukan sebesar 2 V dan tegangan maksimum hingga tampilan
dijital tidak berubah. Amati keluaran dijitalnya;
5. Ulangi untuk 1 V dan 2 V dan untuk minimum.
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

52

6. Amati perubahan kode pada tegangan nol.

Derau Kuantisasi
1. Ikuti petunjuk umum. Setelah mengklik toolbar Practical, lalu klik Quantisation noise;
2. Set frekuensi pada 300 Hz dan amplitudo tegangan (peak) 0.2 Volt dengan
menggunakan pengendali Fine control;
3. Set resolusi pada 4 bit , lewat menu Option;
4. Amati keluaran dijitalnya (tespoint 7) serta hasil filter keluarannya (testpoint 8);
5. Ulangi untuk resolusi bit-bit yang berbeda;
6. Gunakan spectrum analyzer untuk melihat output.

Teknik Jalur Jamak Berdasarkan Waktu (TDM)


1. Ikuti petunjuk umum. Setelah mengklik toolbar Practical, lalu klik Introduction to
multiplexing;
2. Amati keluaran pada osilator 4 yang merupakan bentuk hasil demultiplexing dan
output filter;
3. Bandingkan bentuk gelombangnya dengan menggunakan tampilan yang besar;
4. Set Osilator 1 menjadi 0 (zero) dan variasikan amplitudo untuk menentukan slot
waktu yang digunakan pada setiap sinyal;
5. Tingkatkan nilai output Osilator 1;
6. Bandingkan bentuk gelombang masukan untuk tiap osilator dengan gelombang
keluarannya dengan menggunakan menu Option untuk memilih time slot.
---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

53

Modul 7

MODULASI DIJITAL

Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Mengenal jenis teknik modulasi dijital.
2. Mengamati modulasi dan demodulasi ASK.
3. Mengamati modulasi FSK.

Dasar Teori
Pendahuluan Komunikasi Dijital
Modulasi adalah proses penumpangan sinyal informasi

terhadap frekuensi

pembawa yang memiliki frekuensi lebih tinggi. Pada umumnya sumber informasi berbentuk
sinyal analog. Untuk mengefektifkan transmisi maka pada modulasi dijital informasi harus
dalam bentuk dijital. Modulasi dijital sebetulnya adalah proses mengubah-ubah
karakteristik dan sifat gelombang pembawa (carrier) sedemikian sehingga bentuk hasilnya
memiliki ciri-ciri dari bit (0 atau 1) yang dikandungnya.
H al yang menjadi masalah besar dalam pentransmisian informasi adalah saat
transmitter dan receiver dipisahkan oleh free space, dimana sinyal sinyal yang dikirim
transmitter akan mengalami distorsi dan noise sehingga menyebabkan error pada informasi
yang akan diterima. Sistem komunikasi dijital digunakan untuk meminimalisasi efek yang
terjadi di kanal, maksimalisasi transfer rate, dan keakuratan transmisi informasi.
Keuntungan sistem komunikasi dijital yaitu:
1. Terjadinya interferensi yang sangat kecil;
2. Tahan terhadap noise;
3. Dapat mengoreksi terjadinya error;
4. Mudah untuk memanipulasi;
5. Mudah untuk diproses dan multipleksing.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

54

Kerugian sistem komunikasi dijital yaitu:


1. Membutuhkan permintaan sistem yang lebih tinggi;
2. Membutuhkan biaya tambahan untuk mengkonversi sistem analog ke dijital.

Pada Gambar 7.1 ditampilkan blok-blok pada sistem komunikasi dijital.


PENGIRIM
Antena
Transmitter (Tx)

i re
W

Carrier Transmission

le
ss

Analog
Waveform

Source
Encoder

Encryption
and
Scrambling

Channel
Encoder

Digital
Modulation

Baseband Transmission
Line
Coder

Digital Data

Wireline

Antena
Receiver (Rx)

PENERIMA
SINYAL INFORMASI
(ANALOG)

Digital-toAnalog
Analog
Waveform Converter

Source
Decoder

Baseband
Processing

Channel
Decoder

Line
Decoder

Digital Data

i re
W

le

CHANNEL

SUMBER
SINYAL INFORMASI
(ANALOG)

Analog-toDigital
Converter

ss

Demodulator

Signal
Regeneration

Wireline

PENERIMA

Gambar 7. 1. Blok Diagram Komunikasi Dijital.

1. Information Source
Sumber informasi dapat berbentuk diskrit atau kontinu. Informasi yang
dihasilkannya juga dapat berupa analog ataupun dijital. Pada sistem komunikasi
dijital, sinyal analog yang dihasilkan sumber yang kontinu harus diubah menjadi
bentuk dijital dengan menggunakan analog to digital converter (ADC).
2. Source Encoder dan Decoder
Source coding digunakan untuk mengkodekan sumber informasi menjadi bentuk
yang lebih sesuai untuk transmisi. Dengan demikian, source encoder mencoba
mengurangi jumlah bit yang dibutuhkan untuk mengirimkan informasi tertentu,
sehingga bandwidth yang didapatkan lebih kecil. Sedangkan source decoder

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

55

(receiver) digunakan untuk memasukkan kembali konten informasi yang hilang


melalui suatu proses filtering.
3. Line Coding dan Decoding
Line coding digunakan untuk pemformatan data dijital tanpa adanya modulasi.
Informasi dalam sistem transmisi berupa sekuensial data dijital (0 atau 1) yang
panjang. Transmisi data dijital (0 atau 1) yang panjang ini dapat menyebabkan
hilangnya sinkronisasi pada sistem. Oleh karena itu, line coding dapat mencegah
hilangnya sinkronisasi pada sistem.
4. Encryption dan Scrambling
Pada sistem komunikasi dijital informasi dapat dimanipulasi untuk tujuan security.
Hal ini dapat dilakukan dengan encryption dan scrambling. Encryption berguna
untuk confidentiality dan authentication yang mencegah orang yang tidak berhak
mengambil atau memasukkan informasi dari/ke channel. Scrambling digunakan
mengacak-acak informasi agar tidak dapat dimengerti oleh pihak lain.
5. Channel Coding dan Decoding
Channel coding berguna untuk memproses aliran data untuk menjamin
kompatibilitasnya dengan channel yang digunakan. Channel coding dapat
mengontrol jumlah eror pada aliran data dengan menambah bit ekstra pada data
yang sudah di-source code secara sistematis
6. Digital Modulator dan Demodulator
Modulasi dijital adalah proses dimana simbol-simbol dijital diubah menjadi
gelombang yang kompatibel dengan karakteristik channel.
7. Communication Channel
Channel merupakan jalur elektris antara sumber dan tujuan. Channel dapat berupa
kawat, link radio, link telepon dan lain sebagainya. Tidak ada channel yang ideal.
Semua channel mempunyai bandwidth yang terbatas dan sinyal informasi sering
mengalami distorsi amplitudo dan fasa saat melewatinya. Selain itu terdapat
distorsi, noise serta interferensi yang sulit dihindari sehingga menyebabkan error
pada sinyal dijital yang diterima.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

56

Sistem Transmisi Baseband


Pada dunia telekomunikasi dikenal dua macam sistem transmisi yaitu baseband
dan bandpass. Sistem transmisi baseband adalah sistem transmisi yang melakukan
transmisi

tanpa

melakukan

translasi

frekuensi

(modulasi)

sebelumnya.

Untuk

meningkatkan akurasi sistem, dilakukan line coding. Line code tersebut harus dipilih secara
teliti agar sesuai dengan karakteristik channel. Terdapat berbagai bentuk teknik line coding
diantaranya Non Return to Zero (NRZ), Return to Zero (RZ), Manchester, Alternate Mark
Inversion (AMI), HDB3 dll. Media transmisi pada sistem baseband dapat berupa coaxial
cable dan biasa digunakan dalam jaringan lokal berskala kecil.
Beberapa jenis line coding dapat dilihat pada Gambar 7.2. berikut ini.

Gambar 7. 2. Skema line coding.

Sistem Transmisi Bandpass


Sistem transmisi bandpass merupakan sistem transmisi yang sudah mengalami
modulasi, yaitu sinyal informasi (diskrit) memodulasi sinyal pembawa (kontinu). Sebelum
dimodulasi menggunakan teknik modulasi dijital maka sinyal informasi harus berbentuk
data dijital. Oleh karena itu, sinyal informasi yang masih berupa analog harus dikonversi
dulu dengan menggunakan ADC (Analog to Digital Converter). Terdapat berbagai macam
teknik modulasi dijital diantaranya ASK (Amplitude Shifted Keying), FSK (Frequency

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

57

Shifted Keying) dan PSK (Phase Shifted Keying). Dikenal juga teknik modulasi QAM
(Quadrature Amplitude Modulation) yang merupakan kombinasi antara ASK dan PSK.
Amplitude Shift Keying (ASK) merupakan modulasi dijital berdasarkan pergeseran
amplitudo. Pada ASK, dua nilai biner diwakili oleh dua amplitudo sinyal pembawa, pada
umumnya salah satu amplitudo adalah nol untuk mewakili biner 0, sedangkan biner 1
diwakili oleh adanya sinyal pembawa dengan amplitudo yang konstan.
A cos2ft ; Biner 0
s(t )
0
; Biner 1

(7.1)

Pada Gambar 7.3 ditampilkan bentuk sinyal dijital setelah melalui modulasi ASK.

Gambar 7. 3. Bentuk sinyal dijital setelah melalui modulasi ASK.

Keuntungan metode ASK adalah bit rate yang dihasilkan lebih besar.
Kekurangannya adalah untuk menentukan level acuan yang dimilikinya, setiap sinyal yang
terdapat pada saluran transmisi jarak jauh selalu dipengaruhi oleh noise dan distorsi
lainnya. Oleh karena itu, metode ASK hanya menguntungkan bila dipakai untuk transmisi
jarak dekat saja. Dalam hal ini faktor noise atau gangguan juga harus diperhitungkan
dengan teliti.
Frequency Shift Keying (FSK) merupakan modulasi sinyal dijital dengan
menggunakan penggeseran frekuensi sesuai dengan nilai sinyal dijital. FSK mewakili dua
nilai biner dengan dua buah frekuensi yang letaknya berdekatan dengan frekuensi tengah,
seperti persamaan berikut :
A cos2f1t ; Biner 0
s(t )
A cos2f2t ; Biner 1

(7.2)

dengan f1 dan f2 diperoleh dari pengurangan dan/atau penjumlahan frekuensi carrier, fc,
dengan suatu selisih frekuensi tertentu. Pada proses ini frekuensi gelombang carrier

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

58

berubah-ubah sesuai perubahan biner sinyal informasi dijital. Pada Gambar 7.4 ditampilkan
bentuk sinyal dijital setelah melalui modulasi FSK.

Gambar 7. 4. Bentuk sinyal dijital setelah melalui modulasi FSK

Keuntungan modulasi FSK adalah hanya ada sedikit kesalahan pada saat transmisi
karena informasinya terkandung pada frekuensi diskrit, serta sistem modulasi dijital relatif
sederhana. Karena tidak terpengaruh oleh besarnya amplitudo sinyal. Kekurangannya
adalah modulasi FSK memiliki bandwith yang lebar. Modulasi FSK banyak diaplikasikan
untuk frekuensi tinggi.
Phase Shift Keying (PSK) merupakan teknik modulasi sinyal dijital melalui
pergeseran fasa. Pada PSK fasa gelombang carrier akan berubah sesuai dengan
perubahan nilai biner sinyal informasi dijital. Pada Gambar 7.5. ditampilkan bentuk sinyal
dijital setelah melalui modulasi FSK.

Gambar 7. 5. Bentuk sinyal dijital setelah melalui modulasi PSK

Peralatan
Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 7.1 berikut ini.
Tabel 7.1. Peralatan yang digunakan pada Modul Modulasi Dijital.
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

59

No

Nama Alat

Jumlah

1.

53-100 RAT Measuring system

2.

Modulation & Keying Workboard 53-160

3.

Perangkat komputer

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Ikuti petunjuk asisten dalam setiap percobaan. Matikan
peralatan jika ingin mengganti kabel. Jangan memaksakan kabel jika konektor
tidak sesuai atau tidak mau masuk! Perhatikan instruksi dan label pada
peralatan agar tidak terjadi bahaya tersengat listrik.

Prosedur Umum Percobaan


Prosedur kerja umum dilakukan pada saat mulai menggunakan software Feedback.
1. Dari menu utama untuk mengetahui tugas yang akan dilakukan, klik icon perangkat
lunak pada desktop;
2. Pilih System;
3. Pilih Index;
4. Klik assignment sesuai dengan praktikum Saudara;
5. Klik toolbar Practical sesuai dengan practical yang sedang Saudara lakukan.
Jika akan melanjutkan ke Practical selanjutnya :
1. Klik toolbar System, lalu klik End practical;
2. Kemudian memulai kembali dengan mengklik toolbar Practical selanjutnya;
3. Untuk berhenti, klik toolbar System, lalu klik Quit.

Percobaan Amplitude Shift Keying (ASK)


1. Atur semua potensiometer workboard pada posisi tengah;
2. Atur MS bit switch <7> dan LS bit switch <8> sesuai dengan data bit word yang
dibutuhkan.
3. Amati sinyal di setiap titik menggunakan osciloscope dan spectrum analyzer.
Saudara dapat mengubah besar osciloscope dan spectrum analyzer menjadi
tampilan yang lebih besar dengan memilih toolbar Condition Menu, lalu Change
size. Catat hasil pengamatan;

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

60

Percobaan Amplitude Shift Keying (ASK)


1. Set semua potensiometer ke posisi tengah;
2. Set Switch MS bit dan Switch LS bit sesuai dengan data bit word yang
dibutuhkan.;
3. Amati sinyal di setiap titik menggunakan osciloscope dan spectrum analyzer.
Saudara dapat mengubah besar osciloscope dan spectrum analyzer menjadi
tampilan yang lebih besar dengan memilih toolbar Condition Menu , lalu klik
Change size. Catat hasil pengamatan.
---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

61

Modul 8

FILTER FINITE IMPULSE RESPONSE

Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Mengerti tentang pemrosesan sinyal dijital dan aplikasinya
2. Mengerti konsep filter
3. Merancang filter FIR sederhana

Dasar Teori
Filter Dijital
Salah satu proses penting dalam pengolahan sinyal adalah terkait dengan
penyeleksian informasi melalui proses pemfilteran. Berdasarkan tipe sinyalnya, filter dibagi
menjadi filter analog dan filter dijital. Filter analog dibangun berdasarkan sifat-sifat listrik
dari komponen-komponen elektronika, seperti tahanan, induktor, kapasitor, dan lainnya.
Filter dijital adalah suatu prosedur matematika atau algoritma yang mengolah sinyal
masukan dijital dan menghasilkan isyarat keluaran dijital yang memiliki sifat tertentu sesuai
dengan tujuan filter. Penggunaan filter ini banyak dan luas sekali. Sebagian besar aplikasi
pemrosesan sinyal menggunakan filter.
Pada pengolahan sinyal dijital, filter yang didesain adalah filter dijital. Filter dijital
dapat dibagi menjadi dua yaitu Filter Dijital IIR (infinite impulse response) dan FIR (finite
impulse response). Pembagian ini berdasarkan pada tanggapan impuls filter tersebut. FIR
memiliki tanggapan impuls yang panjangnya terbatas, sedangkan IIR tidak terbatas. FIR
tidak memiliki pole, maka kestabilan dapat dijamin sedangkan IIR memiliki pole-pole
sehingga lebih tidak stabil. Pada filter dijital orde tinggi, kesalahan akibat pembulatan
koefisien filter dapat mengakibatkan ketidakstabilan.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

62

Secara umum filter dibagi menjadi :


1. Finite Impulse Response (FIR)
Formula FIR dapat dilihat sebagai berikut :
y(n)

N 1

h(k)x(n k)
k 0

(8.1)

Karena h [n] adalah koefisien filter, yaitu :

hn b0 , b1 ,bq

(8.2)

maka persamaan 8.1. dapat dituliskan ulang menjadi :


q

yn

b x n m
m

m 0

(8.3)

Gambar 8. 1. Diagram blok filter.

2. Infinite Impulse Response (IIR)


Formula IIR dapat dilihat sebagai berikut :
y(n)

h(k)x(n k)
k 0

(8.4)

Spesifikasi Filter

Gambar 8. 2. Spesifikasi Filter.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

63

Passband adalah daerah dimana frekuensi yang diinginkan dilewatkan, sedangkan


stopband adalah daerah dimana frekuensi yang tidak diinginkan diatenuasi (dilemahkan
dayanya hingga hampir tidak ada magnitudonya). Pada kedua daerah ini biasanya terdapat
ripple dengan p deviasi ripple pada passband dan s deviasi ripple pada stopband.
Transition region adalah daerah dimana terjadi pergantian dari rentang frekuensi yang ingin
dilewatkan dan yang akan diatenuasi. Pada perancangan filter selalu digunakan
normalisasi frekuensi, sehingga memudahkan dalam perancangan.
Perhitungan koefisien filter dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu metode
windowing, metode optimal, dan metode pencacahan frekuensi. Pada modul ini hanya
dibahas metode windowing untuk menghitung koefisien filter.
Pada prinsip metode windowing, dinyatakan bahwa jika suatu fungsi memiliki fungsi
yang terbatas (non-periodik) dalam domain frekuensi, maka fungsi tersebut akan tidak
terbatas (periodik) pada domain waktu dan demikian sebaliknya. Karena filter bersifat
terbatas pada frekuensi tertentu saja, maka dalam domain waktu fungsi filter adalah tak
terbatas. Hal ini tentunya bertentangan dengan keinginan kita untuk merancang filter
dengan panjang h [n] yang terbatas. Untuk membatasi panjang filter dalam domain waktu
dengan suatu batasan yang disebut window. Namun demikian, efeknya adalah dengan
membatasi filter pada domain waktu, maka pada domain frekuensi panjang filter menjadi
tak terbatas.

Gambar 8. 3. Fungsi window Hamming dan transformasinya.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

64

Metode windowing yang terkenal adalah metode rektangular, Hanning, Hamming,


Blackman, dan Kaiser. Pada modul ini hanya akan dibahas metode windowing dengan
Hamming. Fungsi window Hamming adalah :

N 1
N 1

n
2n
2
2 ; N ganjil
wn 0,54 0,46 cos

N
N
; N genap
N

n
2
2

(8.5)

Untuk melihat respon frekuensi perlu dilakukan discrete time fourier transform
(DTFT) dan Gambar 8.4 menunjukkan fungsi window Hamming pada domain waktu dan
transformasinya dengan DTFT pada domain frekuensi. Terlihat window Hamming
menggunakan fungsi raised cosine.

Filter FIR dengan DSK TMS320C6713


Operasi dasar yang digunakan pada pemrosesan sinyal hanya berupa perkalian
dan penjumlahan sederhana saja. Namun demikian, kedua operasi yang dilakukan ini
sangat banyak jumlahnya, sehingga untuk menerapkannya dalam aplikasi diperlukan suatu
prosesor yang sangat cepat dalam melakukan perhitungan matematis. Untuk itulah
didesain suatu mikroprosesor yang bekerja khusus untuk memproses sinyal dijital yang
disebut Digital Signal Processor (DSP).
FIR filter berfungsi untuk mengoperasikan real-time digital filter pada DSP.
Dinamakan finite atau terbatas dikarenakan tidak ada feedback pada jenis filter ini. Tidak
ada feedback dikarenakan nilai sampel suatu sinyal dibatasi sampai nilai N 1 sehingga
banyaknya sampel tergantung dari banyaknya nilai koefisien N. Pada DSK TMS320C6713,
penggunaan FIR filter meliputi penggunaan dari ADC dan DAC yang terintegrasi dengan
DSP board. ADC berfungsi untuk menangkap dan merubah sinyal menjadi bentuk diskrit,
sedangkan DAC berfungsi merubah kembali sinyal menjadi analog.
Salah satu alat yang dapat mensimulasikan pemrosesan sinyal dijital adalah
menggunakan DSK TMS320C6713. DSK TMS320C6713 adalah salah satu tipe C6000
yang dapat bekerja pada fixed-point maupun floating-point. Akan tetapi, DSP ini masih
berupa starter kit, yaitu suatu platform yang dapat mensimulasikan DSP C6713 yang
sebenarnya. DSK tipe ini lebih ditujukan untuk keperluan edukasi, penelitian, serta evaluasi.
Namun, hasil dari aplikasi yang kita buat di DSK tipe ini sangat mungkin untuk diterapkan
pada DSP C6713 yang sebenarnya.
Texas Instruments mengeluarkan beberapa seri DSP board untuk pengaplikasian
procesor DSP dengan biaya yang murah, salah satunya adalah DSP board seri DSK

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

65

TMS320C6713. Pada dasarnya board ini dikembangkan sebagai low-cost platform yang
memiliki high performance, untuk lebih memudahkan pembelajaran pemrosesan sinyal
dijital bagi semua orang. Pada DSP board ini sudah diintegrasikan komponen-komponen
yang berhubungan dengan pemrosesan sinyal dengan menggunakan DSP (Digital Signal
Processor). Komponen yang ada dalam board sifatnya statis secara hardware, namun
dapat diprogram dengan menggunakan software Code Composer Studio. Pada Gambar
8.4. dan Gambar 8.5. ditampilkan tampilan dan blok diagram DSK TMS320C6713.

Gambar 8. 4. Tampilan DSK TMS320C6713.

Gambar 8. 5. Blok diagram DSK TMS320C6713

Komponen DSK TMS320C6713


Komponen utama serta pendukung dari DSK TMS320C6713 antara lain:

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

66

1. Prosesor TMS320C6713
Merupakan prosesor dengan kecepatan clock 225 Hz yang mendukung operasi
fixed-point dan floating-point. Kecepatan operasinya dapat mencapai 1350 juta
operasi floating-point per detik (MFLOPS) dan 1800 juta instruksi per detik (MIPS).
Selain itu, prosesor ini dapat melakukan 450 juta operasi multiply-accumulate per
detik.
2. CPLD (Complex Programmable Logic Device)
CPLD berisi register-register yang berfungsi untuk mengatur fitur-fitur yang ada
pada board. Pada DSK C6713, terdapat 4 jenis register CPLD, yaitu :
a. USER_REG Register untuk mengatur switch dan LED sesuai yang diinginkan
user.
b. DC_REG Register untuk memonitor dan mengontrol daughter card.
c. VERSION Register untuk indikasi yang berhubungan dengan versi board dan
CPLD.
d. MISC Register untuk mengatur fungsi lainnya pada board.
3. Flash memory
DSK menggunakan memori flash untuk booting. Pada flash berisi sebuah program
kecil yang disebut POST (Power On Self Test). Program ini berjalan saat DSK
pertama kali dinyalakan. Program POST akan memeriksa fungsi-fungsi dasar board
seperti koneksi USB, audio codec, LED, switches, dan sebagainya.
4. SDRAM
Memori utama yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan instruksi maupun data.
5. AIC23 Codec
Berfungsi sebagai ADC maupun DAC bagi sinyal yang masuk ke board.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

67

6. Daughter card interface


Konektor-konektor tambahan yang berguna untuk mengembangkan aplikasiaplikasi pada board. Terdapat tiga konektor, yaitu memory expansion, peripheral
expansion, dan Host Port Interface.
7. LED dan Switches
LED dan switches ini merupakan fitur yang dapat membantu dalam membangun
aplikasi karena dapat deprogram sesuai keinginan user.
8. JTAG (Joint Test Action Group)
Merupakan konektor yang dapat melakukan transfer data dengan kecepatan yang
sangat tinggi. Hal ini akan berguna dalam aplikasi real-time.
DSK dapat digunakan untuk banyak hal, mulai dari simulasi komunikasi, sistem
kendali hingga pengolahan gambar dan suara. DSP umumnya digunakan pada aplikasi
komunikasi (seluler). Embedded DSP dapat ditemukan pada cellular phones, fax/modems,
disk drives, radio, printers, hearing aids (alat bantu pendengaran), MP3 player, highdefinition television (HDTV), kamera dijital, dan lain-lain. Penggunaan DSP pada alat-alat
tersebut dapat menurunkan harga produksi, karena DSP dapat diprogram sesuai dengan
kebutuhan, memiliki softaware yang murah dan dukungan hardware yang cukup.

Peralatan
Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 8.1 berikut ini.
Tabel 8.1. Peralatan yang digunakan pada Modul Filter FIR.
No

Nama Alat

Jumlah

1.

DSK TMS320C6713

2.

Perangkat lunak MATLAB

3.

Perangkat lunak Code Composer Studio

4.

Mikrofon

5.

Audio Speaker

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

68

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Selalu ikuti petunjuk asisten dalam melakukan praktikum!!
Jangan menyimpan set-up yang Saudara lakukan karena akan menghapus
data default!!! Hati-hati dalam melakukan targetting karena jika mengalami
kegagalan, akan merusak sistem keseluruhan. Kecilkan suara speaker karena
frekuensi yang digunakan cukup bising. Hati-hati dalam mengoperasikan
peralatan board dan tekanlah dengan halus tombol-tombol yang diminta.
Kerusakan
pada
board
akibat
kesalahan
praktikan
harus
dipertanggungjawabkan.

Secara umum percobaan ini menggunakan perangkat MATLAB Simulink dan CCS
Studio yang diintegrasikan sehingga dapat diprogramkan pada DSK TMS320C6713.
Proses tersebut dinamakan sebagai proses targeting. Untuk perancangan filter dijital
sendiri dilakukan pada Simulink dengan bantuan FDA Tool.

Targeting Simulink ke DSK TMS320C6713


Secara sederhana, pada proses targeting digunakan SIMULINK dan CCS. Untuk
menghubungkan SIMULINK dengan DSK dibutuhkan Real Time Workshop, Embedded
Target for TI C6000 DSP, dan Link for CCS. Ketiga hal tersebut dapat ditemukan di
SIMULINK dan harus dilakukan pengaturan konfigurasi. Hubungan ketiga hal tersebut
dapat dilihat pada Gambar 8.6. di bawah ini.

Gambar 8. 6. Diagram alir targetting ke C6000 DSP.

Pada Gambar 8.6. di atas menunjukkan proses debugging dan verifikasi dilakukan
oleh software CCS. Penggunaan CCS memungkinkan untuk menghasilkan code-code

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

69

yang akan digunakan dalam C6000 DSP sehingga tidak diperlukan lagi pembuatan
program dengan manual karena sudah dilakukan oleh CCS.

Perancangan Filter
Perancangan Filter dilakukan dengan menggunakan bantuan Filter Design and
Analysis (FDA) Tool yang terdapat pada software MATLAB. Hasil yang dari penggunaan
tool ini akan didapatkan koefisien FIR filter dari spesifikasi yang diinginkan. Pada
perancangan ini, digunakan Metode Hamming.
Pada percobaan ini, Saudara diminta untuk mendesain sebuah filter dengan
spesifikasi sebagai berikut :
1. Low Pass Filter
2. Sampling Frequency (fs) = 16000 Hz
3. Cut off Frequency (fc) = 3000 Hz
4. Transition Width = 1000 Hz
Pada perancangan ini digunakan metode Hamming :

transition width 1000 Hz

0,0625
frekuensi cuplikan 16000 Hz

(8.6)

Banyaknya koefisien (N) dengan menggunakan metode Hamming :

3,3
3,3

52,8 53
f
0,0625

(8.7)

Selanjutnya jumlah koefisien tersebut akan dimasukan ke dalam FDA tool.


Dengan menggunakan spesifikasi filter seperti contoh di atas, maka langkahlangkah untuk membuat filter adalah sebagai berikut :
1. Buka file Simulink FIR.mdl. Selanjutnya hubungkan DSK dengan komputer,
Lakukan diagnostik dan aktifkan program CCS studio apabila tidak ada alarm;
2. Selanjutnya buka blok FDA Tool pada FIR.mdl (tersedia 3 blok FDA Tool dimana
setiap FDA tool akan dikendalikan oleh satu tombol pada DSK). Pada Gambar 8.7.
di bawah ini ditampilkan tampilan simulasi FIR filter;

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

70

Gambar 8. 7. Tampilan simulasi FIR filter

3. Isi spesifikasi filter yang diinginkan pada tampilan simulasi seperti terdapat pada
Gambar 8.8.
4. Lakukan targetting dari Simulink ke DSK TMS320C6713 dengan menekan tombol
incremental build seperti terdapat pada Gambar 8.9. di bawah ini. Ingat JANGAN
DI SAVE!!!

Gambar 8. 8. Tampilan pengisian parameter simulasi

Gambar 8.9. Tampilan icon untuk melakukan targetting

5. Hubungkan Line in DSK dengan output pada komputer, dan Line Out DSK pada
input microphone komputer. Hubungkan juga headphone pada DSK dengan
Loudspeaker;
6. Buka file 44100.wav yang akan berfungsi sebagai inputan sinyal audio. File ini
merupakan sinyal yang dihasilkan pada frekuensi 100-7000 Hz;
7. Buka file spectrumliat.mdl dan jalankan.;

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

71

8. Tekan tombol DIP Switch pada DSK untuk melihat hasil filter;
9. Isi borang pengamatan dan lakukan langkah-langkah di atas untuk mendesain
filter dengan spesifikasi yang diberikan oleh asisten kemudian.

---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

72

Modul 9

SIMULASI JALUR KOMUNIKASI


NIRKABEL MENGGUNAKAN
PERANGKAT LUNAK RADIO MOBILE

Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1) Memahami konsep komunikasi nirkabel.
2) Mempelajari membuat simulasi satu atau lebih jalur radio dengan parameter
yang diubah-ubah dengan perangkat lunak Radio Mobile.
3) Memahami konsep perhitungan link budget

Dasar Teori
Gelombang radio yang berpropagasi di udara akan mengalami beberapa
fenomena fisik yang berbeda, misalnya refleksi, transmisi, difraksi, dan scattering.
Lingkungan propagasi adalah lingkungan geografis di mana gelombang radio merambat
dari transmitter ke receiver. Lingkungan propagasi sangat dipengaruhi oleh parameterparameter fisik medium, seperti tekanan, temperatur, kelembapan, indeks refraksi, dan dari
database area geografis tertentu seperti topografi, persebaran vegetasi, jalan, dan gedung.
Propagasi gelombang radio dapat ditentukan dengan pemodelan berbagai mekanisme fisik
yang berbeda, seperti redaman ruang hampa, redaman atmosfer, redaman akibat vegetasi,
dan lain-lain.
Mode propagasi gelombang radio yang paling sederhana adalah propagasi radio
pada jalur line-of-sight karena sinyal gelombang mikro tidak dapat diblok oleh gedung atau
lembah. Untuk melakukan transmisi harus dihindari adanya penghalang atau kemiringan
bumi, sehingga jika posisi antar gedung terhalang, maka diperlukan menara untuk
menempatkan antena lebih tinggi lagi, agar tetap dalam posisi saling melihat (line of sight).
Secara umum, propagasi dikatakan line-of-sight jika tidak terdapat akibat-akibat
difraksi gelombang, hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat obstacle daerah first Fresnel

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

73

ellipsoid.

Pada Gambar 9.1 di bawah ini ditunjukkan model sederhana analisa jalur

propagasi radio line-of-sight.

Gambar 9. 1. Model jalur propagasi radio sederhana.

Pada Gambar 9.1, rugi daya propagasi ruang hampa (free space loss) dapat
dihitung dengan persamaan 9.1. di bawah ini.
v FSLdB 32,45 20 log Dkm 20 log FMHz

(9.1)

Berdasarkan analisa link budget, maka daya yang dierima receiver adalah :
= + +

(9.2)

Langkah pertama untuk membuat sistem nirkabel adalah membuat rancangan dan
simulasi kerja sistem. Salah satu alat untuk merancang dan menyimulasi sistem nirkabel
adalah perangkat lunak Radio Mobile.
Radio Mobile adalah sebuah perangkat lunak yang dikembangkan oleh Roger
Coud untuk para pelaku radio amatir. Radio Mobile menggunakan model digital daerah
ketinggian untuk perhitungan cakupan dan kekuatan sinyal yang diterima di berbagai
tempat di sepanjang jalur radio. Radio Mobile secara otomatis membangun profil antara
dua titik di peta digital yang menunjukkan cakupan wilayah dan zona Fresnel pertama.
Pada saat simulasi, perangkat lunak ini akan memeriksa line-of-sight dan menghitung path
loss. Dengan menggunakan Radio Mobile, sangat mungkin untuk dibuat jaringan dari
beberapa topologi yang berbeda, termasuk jaringan master/slave, point-to-point, dan pointto-multipoint. Perangkat lunak ini dapat digunakan untuk menghitung wilayah cakupan dari
base stasion pada sebuah sistem point-to-multipoint, bekerja untuk sistem yang memiliki
frekuensi dari 100 kHz sampai 200 GHz.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

74

Peralatan
Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 9.1 berikut ini.
Tabel 9.1. Peralatan yang digunakan pada Modul Simulasi Jalur Komunikasi
Nirkabel Menggunakan Perangkat Lunak Radio Mobile.
No

Nama Alat

Jumlah

1.

Perangkat Lunak Radio Mobile

2.

Perangkat computer

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Selalu ikuti petunjuk asisten dalam melakukan praktikum!!
Jangan menyimpan set-up yang Saudara lakukan karena akan menghapus
data default!!!

Sistem Radio Titik ke Titik


1. Buka perangkat lunak Radio Mobile (rmweng.exe);
2. Buka Map properties (F8), pilih nama kota dengan Select a city name atau
masukkan posisi (lattitude dan longitude) kota tersebut dan pilih berapa ukuran
pengambilan gambar (Size height);
3. Buka Network properties (ctrl N), lalu buka System. Buat sistem yang diinginkan.
Atur parameter-parameter dari sistem tersebut;
4. Buka Unit properties (ctrl U), tempatkan unit sesuai lokasi yang diinginkan;
5. Buka Network properties, lalu buka Membership, tentukan sistem yang
digunakan untuk masing-masing unit;
6. Untuk menampilkan semua unit pada peta, klik View, lalu klik Show networks,
lalu klik All;
7. Hitung link budget untuk link tersebut dengan cara klik Tools, lalu klik Radio link
(F2). Dapat juga menampilkan detail keluaran dari simulasi. (Tools Radio link
view details);
8. Ubah parameter-parameternya, misal tinggi antena, unit yang menjadi TX/RX.
Silakan Saudara analisa!

Pengulang (Repeater) pada Sistem Radio Titik ke Titik


1. Buka perangkat lunak Radio Mobile (rmweng.exe);
2. Buka Map properties (F8), pilih nama kota dengan Select a city name atau
masukkan posisi (lattitude dan longitude) kota tersebut dan pilih berapa ukuran
pengambilan gambar (Size height);

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

75

3. Buka Network properties (ctrl N), lalu buka Parameters. Buat paramater yang
diinginkan. Atur parameter-parameter dari parameter tersebut;
4. Pilih System. Buat dua sistem (repeater dan hand held) yang diinginkan. Atur
parameter-parameter dari parameter tersebut;
5. Pilih Membership.
Untuk repeater :

Pilih Command pada tabel Role of Repeater;

Repeater pada System.

Untuk hand held :

Pilih Subordinate pada tabel Role of Repeater;

Hand held pada System.

6. Klik Tools, pilih Coverage, pilih Find best site;


7. Silakan Saudara analisis.

---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

76

Modul 10

SIMULASI AKSES RADIO


KOMUNIKASI NIRKABEL
MENGGUNAKAN PERANGKAT
MINILINKTM

Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1) Memahami jenis dan fungsi komponen-komponen yang ada pada perangkat
MINI-LINKTM.
2) Memahami cara melakukan pemindaian frekuensi dan penyelesaian masalah
saat kejadian gagal koneksi trafik pada perangkat MINI-LINKTM.
3) Memahami prinsip rugi daya propagasi menggunakan perangkat MINI-LINKTM.

Dasar Teori
Pendahuluan
Ericsson adalah perusahaan yang telah mempunyai pengalaman di bidang
teknologi microwave selama lebih dari empat puluh tahun dan pengalaman di bidang
telekomunikasi selama lebih dari 130 tahun. Prestasi Ericsson pada beberapa waktu
terakhir adalah Ericsson merupakan perusahaan pertama yang telah berhasil
mendemonstrasikan secara langsung kecepatan 2,5 Gbps melalui udara dan juga yang
pertama yang memperkenalkan produk komersial dengan modulasi 512 QAM.
MINI-LINKTM diproduksi oleh Ericsson di pabriknya sendiri yang berada di Swedia.
Pabrik Ericsson tersebut merupakan pabrik yang mempunyai fasilitas produksi perangkat
gelombang mikro terbesar di dunia. Ericsson telah mempunyai pengalaman yang luas
tentang MINI-LINKTM mulai dari perencanaan hingga pembangunan jaringan MINI-LINKTM
di seluruh dunia. MINI-LINKTM merupakan perangkat teknologi transmisi microwave yang
paling banyak digunakan di seluruh dunia.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

77

Pada edisi microwave MINI-LINKTM ini, Ericsson mengeluarkan beberapa tipe


microwave, yaitu Mini Link CN, Mini Link E, Mini Link LH, dan Mini Link TN. Hal tersebut
terdapat pada Ericsson Microwave Portrofolio pada edisi MINI-LINKTM nya seperti terlihat
pada Gambar 10.1 di bawah ini.

Gambar 10. 1. Ericsson Microwave Portofolio.

Ericsson mengembangkan gelombang mikro sebagai teknologi transmisinya


karena beberapa alasan, yaitu:
a. Kondisi lingkungan yang sulit dijangkau. Terutama di Indonesia, kondisi
lingkungannya banyak yang berupa kepulauan, pegunungan, hutan, dll. Kondisi
lingkungan seperti ini tepat jika menggunakan teknik transmisi berbasis radio
(microwave).
b. Pengimplementasian yang tidak membutuhkan waktu cukup lama. Untuk
membangun

sebuah

jalur

transmisi

berbasis

serat

optik,

terkadang

membutuhkan waktu hingga lebih dari enam bulan.


c. Mahalnya biaya pemasangan teknologi serat optik tiap meternya.
d. Tidak bebasnya penggalian serat optik.
e. Teknologi transmisi mudah untuk ditambah kapasitasnya dan kapabilitasnya.
f.

Tingkat reliabilitas sistem yang tinggi, fleksibel, dan dapat digunakan sebagai
scalable connection untuk cadangan (back-up) jaringan backbone fiber optic.
Perlu diketahui, pada jaringan transmisi, kawat tembaga dirasa sudah tua dan
tidak ter-upgrade. last mile loops often have less than four nines reliability.

Selain alasan-alasan di atas, terdapat alasan khusus mengapa teknologi transmisi


menggunakan gelombang optik masih menjadi pilihan di Indonesia. Seperti yang Saudara
ketahui, operator-operator di Indonesia belum banyak yang mempunyai teknologi serat

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

78

optik sebagai teknologi transmisinya, sehingga untuk membangun sebuah jaringan tentu
akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Oleh karena itu, untuk mendapatkan proses
instalasi jaringan yang cepat, digunakanlah tenologi transmisi microwave. Biasanya,
proses instalasi microwave membutuhkan waktu 2 hingga 3 hari.
Beberapa aplikasi yang memanfaatkan MINI-LINKTM adalah jaringan mobile,
transmisi dari suatu perusahaan ke operator, jaringan transmisi pada pemerintahan dan
militer, dan jaringan backbone microwave. Pada Gambar 10.2. ditampilkan beberapa
aplikasi MINI-LINKTM.

Gambar 10. 2. Beberapa aplikasi MINI-LINK TM

Peralatan-peralatan MINI-LINKTM yang dihibahkan PT. Ericsson Indonesia kepada


Departemen Teknik Elektro FTUI terdiri dari beberapa bagian yang akan dijelaskan berikut
ini.

Outdoor Unit (ODU)


Outdoor Unit merupakan perangkat-perangkat yang berada di luar ruangan. ODU
terdiri dari radio unit (RAU) dan compact antenna. ODU merupakan bagian yang
berhubungan dengan alokasi pita frekuensi dan sama sekali tidak tergantung pada
kapasitas traffic. ODU terdiri dari :
1. Radio Unit (RAU)
Fungsi dasar radio unit (RAU) adalah untuk mentransmisikan dan menerima sinyal
RF dan mengkonversinya ke/dari format sinyal kabel radio (radio cable). Kabel radio
adalah bagian yang berfungsi untuk mengkoneksikan RAU dan MMU (Modem Unit).

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

79

RAU dapat disambungkan dengan sebuah antena yang mempunyai band width
lebar pada sebuah sistem yang terintegrasi maupun terpisah. RAU terhubung ke
antena melalui interface waveguide. Pelepasan dan penggantian RAU dapat
dilakukan tanpa mempengaruhi pengarahan antena.

Gambar 10. 3. Radio unit MINI-LINK TM

Spektrum frekuensi radio yang tersedia pada RAU MINI-LINKTM adalah 6, 7, 8, 10,
11,13, ,15, 18, 23, 26, 28, 32, 38 GHz untuk Radio Split dan 70/80 GHz untuk All
Indoor. Berikut ini adalah tabel performansi RAU.
Tabel 10. 1. Performansi RAU MINI-LINKTM

2. Antena
Antena microwave yang terdapat pada MINI-LINKTM memiliki variasi diamater
antara 0,2 m sampai dengan 3,7 m, dan terdiri dari polarisasi tunggal dan polarisasi
ganda. Semua antena adalah compact, atau dengan kata lain low profile. Pada
Gambar 10.4 ditampilkan antena microwave MINI-LINKTM.

Gambar 10. 4. Antena microwave

Cara penyusunan antena dengan RAU dapat berupa sebuah sistem yang terpisah
atau terintegrasi, seperti terdapat pada Gambar 10.5 a dan 10.5 b. Pada Tabel 10.2
ditampilkan spesifikasi antena yang digunakan pada MINI-LINKTM.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

80

Gambar 10. 5. Antena yang dipasang secara terpisah dengan RAU (a) dan antena yang
terpasang secara terintegrasi dengan RAU (b) pada MINI -LINK TM

Tabel 10. 2. Spesifikasi antena yang digunakan pada MINI-LINKTM

Indoor Unit (IDU)


Bagian indoor, the access module, merupakan bagian yang berada di dalam
ruangan. IDU disuplai dengan versi kapasitas traffic yang berbeda, skema-skema modulasi
(CQPSK atau 16 QAM), konfigurasi sistem, dan tidak tergantung dengan pita frekuensi
yang digunakan. Modul-modul yang terdapat pada Mini-Link E tidak semuanya sama
dengan modul-modul yang terdapat pada Mini-Link TN.
Berikut ini adalah perangkat-perangkat IDU yang, baik yang terdapat pada MiniLink E maupun pada Mini-Link TN, yang dihibahkan PT Ericsson Indonesia kepada
Departemen Teknik Elektro FTUI:
1. Access Module Magazine (AMM)
AMM merupakan sebuah tempat untuk meletakkan berbagai perangkat indoor.
AMM ini terdiri dari berbagai ukuran. Pada Mini-Link E, ukuran AMM antara lain:
AMM 2U-3, dan AMM 4U1, sedangkan pada Mini-Link TN, ukran AMM antara lain

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

81

AMM 1p, AMM 2p B, AMM 6p C, AMM 6p D, dan AMM 20p B. Perlu diketahui, U
merupakan sebuah satuan dimensi panjang yang biasa digunakan pada untuk
menunjukkan tinggi AMM, U = 44 mm. AMM dapat dipasang secara pas ke dalam
rak 19 inchi.
AMM yang terpasang pada perangkat MINI-LINKTM yang ada di Laboratorium
Telekomunikasi DTE FTUI adalah:
1) AMM 2U-3 untuk Mini-Link E
AMM 2U-3 dapat dipasang 1 buah SAU2, satu buah SMU, dan dua buah MMU.
Modul-modul yang terpasang pada AMM 2U-3 yang terdapat di Laboratorium
Telekomunikasi DTE FTUI adalah satu buah SMU dan satu buah MMU. Pada
Gambar 10.6 ditampilkan tampilan AMM 2U-3.

Gambar 10. 6. AMM 2U-3

Perlu diketahui, susunan modul-modul yang tepasang pada AMM harus sesuai
dengan ketentuan seperti terlihat pada Gambar 10.7. Jika hanya satu MMU
yang terpasang, maka MMU tersebut harus diletakkan di slot kedua (kedua dari
atas).

Gambar 10. 7. Susunan slot pada AMM 2U-3

2) AMM 2p B untuk Mini-Link TN


AMM 2p B terdiri dari empat slot, yaitu slot 00, 01, 02, dan 03. Slot 00
diperuntukkan untuk NPU3 atau NPU3B. Catu daya yang dibutuhkan untuk
AMM 2p B adalah tegangan DC sebesar - 48 V atau +24 V. Pada Gambar 10.8
ditampilkan tampilan AMM 2p B dan susunan slot pada AMM 2p B.
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

82

Gambar 10. 8. Tampilan AMM 2p B (a) dan susunan slot pada AMM 2p B (b)

2. Modem Unit (MMU)


MMU merupakan unit modulator dan demodulator. MMU dapat dipasang pada MiniLink E ataupun Mini-Link TN. MMU Mini-Link E yang diproduksi Ericsson terdiri dari
berbagai besaran kapasitas, antara lain 2x2 Mbit/s, 4x2/8 Mbit/s, 2x8 Mbit/s, 2x8
Mbit/s, 34+2 Mbit/s, dan MMU yang dapat langsung mempunyai kapasitas
2x2Mbit/s 34+2 Mbit/sMMU yang terpasang pada Laboratorium Telekomunikasi
DTE FTUI adalah MMU 2x8 Mbit/s yang digunakan untuk Mini-Link E. Pada Gambar
10.9 ditampilkan tampilan MMU 2x8 Mbit/s.

Gambar 10. 9. Tampilan MMU 2x8 Mbit/s

Pada Tabel 10.3 di bawah ini dijelaskan spesifikasi MMU yang ada di Laboratorium
Telekomunikasi DTE FTUI. Pada Gambar 10.10 ditampilkan blok diagram MMU 2x8
Mbit/s.
Tabel 10. 3. Spesifikasi MMU 2x8 Mbit/s

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

83

Gambar 10. 10. Blok diagram MMU 2x8 Mbit/s

3. Switch Multiplexer Unit (SMU)


SMU merupakan unit yang berfungsi untuk menurunkan traffic dari MMU dan/atau
menyediakan switching untuk kepentingan proteksi koneksi antar jaringan
microwave. SMU terdiri dari beberapa tipe, antara lain Sw (2 & 4 E1), 8x2 Mbit/s,
dan 16x2 Mbit/s. SMU terdapat pada Mini-Link E. SMU yang terdapat pada
Laboratorium Telekomunikasi DTE FTUI adalah SMU 8x2 Mbit/s. Pada Gambar
10.11 dan 10.12 masing-masing ditampilkan SMU 8x2 Mbit/s dan blok diagramnya.

Gambar 10. 11. Tampilan SMU 8x2 Mbit/s

Gambar 10. 12. Blok diagram SMU 8x2 Mbit/s

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

84

4. Node Processor Unit (NPU)


NPU merupakan otak dari Node. NPU memegang konfigurasi yang ada pada
keseluruhan Node. Koneksi LAN DCM terdapat pada NPU. Selain itu, terdapat juga
port USB jika kita ingin menggunakan Local Craft Tool (LCT). NPU terdiri dari
beberapa tipe, antara lain NPU1 B, NPU1C, NPU3, dan NPU3 B. NPU yang
terdapat pada Laboratorium Telekomunikasi

DTE FTUI adalah NPU3 sepert

terdapat pada Gambar 10.13.

Gambar 10. 13. Tampilan NPU 3

Perangkat Pendukung
1. Kabel Radio
Radio cable (kabel radio) merupakan kabel yang digunakan sebagai waveguide.
Dengan kata lain kabel radio diberfungsi untuk pemandu gelombang radio.
2. Konektor Koaksial
Coaxial connector disebut juga radio cable connector. Coaxial conector digunakan
baik untuk menghubungkan antar kabel coaxial mauun kabel coaxial dengan suatu
perangkat yang mempunyai port input/output gelombang radio. Pada Gambar 10.14
ditampilkan berbagai jenis coaxial connector yang digunakan pada perangkat MINILINKTM yang terdapat di Laboratorium Telekomunikasi DTE FTUI.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

85

Gambar 10. 14. Berbagai jenis coaxial connector yang digunakan pada perangkat MINILINK TM

3. Grounding Cable & Grounding Bar


Grounding cable & grounding bar merupakan perangkat grounding yang bertujuan
untuk proteksi jika terdapat arus berlebih. Pada Gambar 10.15 ditanpilkan
grounding bar.

Gambar 10. 15. Tampilan grounding bar

4. Mini Circuit Breaker (MCB)


MCB berfungsi sebagai kontak penghubung dan pemutus catu daya. Pada Gambar
10.16 ditampilkan tampilan MCB.

Gambar 10. 16. Tampilan MCB

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

86

5. LSA
LSA merupakan tempat koneksi kabel traffic. Pada Gambar 10.17 ditampilkan
tampilan LSA.

Gambar 10. 17. Tampilan LSA

6. Rak 19 inchi
Rak 19 inchi digunakan sebagai tempat untuk meletakkan modul-modul, catu daya,
distribusi daya DC, DDF panel, dan sebagainya. Pada Gambar 10.18 ditampilkan
rak 19 inchi.

Gambar 10. 18. Tampilan rak 19 inchi

7. Kabel E1
Kabel E1 merupakan tempat traffic disalurkan. Pada Gambar 10.19 ditampilkan
kabel E1.

Gambar 10. 19. Tampilan kabel E1

8. Dummy Unit
Dummy unit digunakan jika terdapat slot yang kosong pada AMM. Dummy unit
diperlukan sebagai perangkat yang esensial untuk me-maintain pendinginan udara
yang ada di dalam AMM. Dummy unit terdiri dari berbagai ukuran seperti terlihat
pada Gambar 10.20.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

87

Gambar 10. 20. Tampilan dummy unit

9. Cooling Arrangement (Fan Unit)


FAN unit berfungsi untuk menyediakan pendinginan yang baik dan benar bagi Node.
Tampilan fan unit terdapat pada Gambar 10.21.

Gambar 10. 21. Tampilan fan unit

Peralatan
Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 10.4 berikut ini.
Tabel 10. 4. Peralatan yang digunakan pada Modul Simulasi Akses Radio pada
Komunikasi Nirkabel Menggunakan Perangkat MINILINK TM.
No
Nama Alat
Jumlah
1.

Perangkat MINI-LINK E

2.

Perangkat MINI-LINK TN

3.

Perangkat lunak MINI-LINK Service Manager

4.

Insertion tool

5.

Perangkat komputer

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Selalu ikuti petunjuk asisten dalam melakukan praktikum!!
Jangan mengubah frekuensi kerja Mini-LinkTM melampaui batas frekuensi
yang diberikan oleh asisten!! Kesalahan dalam penentuan frekuensi akan
menyebabkan perangkat akan rusak dan harus di-restart secara menyeluruh
di kedua tempat dan praktikan harus melakukan restart tersebut.

Penyelesaian Masalah Saat Kejadian Gagal Koneksi Trafik


1. Buka perangkat lunak MSM;
2. Cabut dan koneksikan kabel traffic Mini-Link E. Amati tampilan alarm pada

MSM.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

88

Pemindaian Frekuensi
1. Buka perangkat lunak MSM;
2. Kilk Setup, lalu pilih Hop Setup pada Iuia;
3. Ubah-ubah frekuensi yang terdapat pada tampilan Hop Setup

Rugi Daya Propagasi


1. Buka perangkat lunak MSM;
2. Kilk Setup, lalu pilih Hop Setup pada Iuia;
3. Ubah-ubah daya transmit Iuia yang terdapat pada tampilan Hop Setup.

---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi Tahun 2015

89