Anda di halaman 1dari 4

Desain Studi Potong Lintang (Cross sectional)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Epidemiologi K3 dan Surveilans


Penyakit Akibat Kerja

Oleh :
Devina Koesnatasha Alvionita

1112101000045

Nurazizah

1112101000053

Richard Wahyu Pratama

1112101000085

PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015

A. Konsep Desain Cross sectional


Pada umumnya terdapat dua desain umum studi cross sectional, pertama
adalah survei yang dilakukan untuk menentukan prevalensi penyakit atau
status fisiologis populasi pekerja di satu titik waktu atau biasa disebut dengan
one-time survey. Pendekatan kedua yaitu repeated survey yang merupakan
perpanjangan dari one-time survey dimana selanjutnya dilakukan penilaian
kesehatan (dan pajanan) pada tenaga kerja. Unsur umum dari studi cross
sectional adalah hasil kesehatan berupa jumlah kasus penyakit yang ada di
populasi pada satu titik waktu
Karakteristik yang membedakan studi cross sectional yaitu selalu
melibatkan pengukuran prevalensi daripada insidens penyakit. Prevalensi
penyakit menunjukkan jumlah kasus yang ada dalam populasi. Point
prevalence mengacu pada perkiraan prevalensi pada satu titik waktu
(misalnya, jumlah pekerja dengan bronkitis kronik ditentukan selama survei
yang dilakukan pada 1998). Sedangkan period prevalence menunjukkan
jumlah kasus yang ada selama beberapa interval waktu (misalnya, jumlah
pekerja dengan CTS selama tahun 1974 1988). Namun dalam epidemiologi
kerja, point prevalence yang selanjutnya disebut prevalensi, lebih sering
digunakan dibandingkan dengan period prevalence.
Prevalensi dihitung sebagai jumlah kasus dibagi dengan jumlah pekerja.
Dengan demikian, prevalensi adalah proporsi. Kebanyakan penelitian
prevalensi terbatas pada pekerja aktif sehingga tidak dapat mendeteksi
penyakit yang mengakibatkan penghentian kerja. Osteroarthritis adalah contoh
dari kondisi pekerjaan yang melibatkan tekanan muskoloskeletal berulang
sehingga cocok menggunakan studi cross sectinal.

B. Sumber Data (Outcome dan Pemajan)


Keuntungan utama dari studi cross sectional adalah spektrum yang luas
dari hasil kesehatan yang dapat dipelajari. Mulai dari penyakit klinis
(misalnya, infark miokard) yang mungkin juga termasuk dalam kohort atau

kasus-kontrol studi hingga perubahan fisiologi (misalnya, tingkay enzim hati)


yang hanya dapat dideteksi di laboratorium. Akibatnya, banyak sumber dan
metode yang digunakan untuk memperoleh informasi hasil kesehatan seperti
pemeriksaan fisik, survei radiografi, laporan laboratorium, catatan medis,
klaim asuransi, dan kuesioner yang diberikan kepada pekerja.
Sedangkan sumber data pajanan yang berguna untuk studi cross sectional
bergantung pada sifat hasil kesehatan yang diselidiki. Sebagai contoh, untuk
mengetahui hubungan paparan timbal dan fungsi ginjal, udara dan konsentrasi
kemih menjadi faktor paparan yang relevan. Apabila ingin mengetahui
paparan kumulatif pekerja, perlu dilengkapi dengan data kompilasi paparan
timbal selama bekerja. Beberapa sumber paling berguna dari data pajanan
adalah pengukuran terakhir industri kesehatan, sejarah pekerjaan, sampel
biologis, dan kuesioner yang diberikan kepada pekerja dan pengawas.

C. Karakteristik Subyek Penelitian


Penelitian cross sectional memiliki beberapa pilihan cara untuk memilih
pekerja yang akan diikutsertakan dalam penelitian. Pendekatan yang ideal
adalah mempelajari semua pekerja yang aktif serta pensiunan yang pernah
bekerja di pabrik atau industri, tetapi cara ini dirasa kurang praktis. Sedangkan
pendekatan yang paling lengkap dan layak biasanya mencakup semua pekerja
aktif di pabrik atau industri. Strategi lain yaitu memilih pekerja berdasarkan
karakteristik paparan atau pengalaman kesehatan.

D. Nilai Asosiasi (OR atau RR)


Prevalence odds ratio yang merupakan rasio odds prevalens pajanan
hingga prevalence odds di non-pajanan, adalah dasar pengukuran efek dalam
studi cross sectional. Hal ini berarti bahwa metode untuk memperkirakan
odds ratio dalam studi casse control dapat diterapkan dalam studi cross
sectional. Secara khusus, prevalensi odds ratio dapat dihitung dengan
menggunakan Metode Mantel-Haenszel yaitu (Mantel dan Haenszel, 1959):

E. Sumber Bias dalam Desain Cross sectional

Anda mungkin juga menyukai