Anda di halaman 1dari 3

PENDAHULUAN

Dermatitis Paederus disebut juga dermatitis linier atau dermatitis linearis, merupakan iritasi kulit
akibat kontak dengan hemolimf (darah kumbang) rove beetle (kumbang penjelajah) yang termasuk
kelompok genus paederus. Nama lokal lain : tomcat, spider-lick., whiplash dermatitis, dan Nairobi
dermatitis fly. Dermatitis Paederus merupakan dermatitis kontak iritan akut yang dapat sembuh
dengan sendirinya, timbul akibat paparan toksin pederin.
Kumbang ini menyerang semua kelompok umur, (bisa menyerang bayi, anak-anak maupun orang
dewasa), jenis kelamin, ras, dan berbagai kondisi ekonomi, tergantung aktivitas dan habitat
serangga. Rasio untuk laki-laki: perempuan adalah 1.8:1 dan rasio anak-anak dibanding dewasa
adalah 1.4:1. Sebagian besar kasus adalah pada anak di usia 7 sampai 12 tahun
Kejadian kasus banyak terjadi pada masa bulan-bulan akhir tahun atau setelah musim hujan.
Bertambahnya jumlah kumbang penjelajah ini menunjukkan adanya perubahan keseimbangan
lingkungan hidup akibat alih fungsi lahan atau perubahan cuaca ekstrem seperti musim hujan yang
berkepanjangan.
KUMBANG PAEDERUS
Serangga penyebab dermatitis yaitu tomcat atau kumbang penjelajah (Paederus littorarius,
Paedreus fuscipes). Ukuran dewasa kumbang ini panjang 7-10 mm, lebar 0.5 mm, terdapat warna
hitam pada kepala, abdomen bawah, dan elytral (daerah meliputi sayap dan sepertiga segmen
abdomen), terdapat warna merah pada toraks dan abdomen atas. Dalam klasifikasinya kumbang ini
masuk dalam klas insekta, ordo Coleoptera, famili Staphylinidae, genus Paederus yang
keberadaanya umum di seluruh dunia, khususnya banyak ditemukan di daerah tropis.
Kumbang ini sesungguhnya tergolong serangga berguna karena berperan sebagai predator aktif
pada beberapa serangga penganggu tanaman padi, seperti wereng batang coklat, wereng
punggung putih, wereng zigzag, wereng hijau dan hama kedelai yang banyak terdapat di iklim
tropis. Kumbang dewasa berpindah dari habitatnya dengan berjalan di permukaan tanah atau
melalui tajuk tanaman. Tomcat seringkali muncul saat hari menjelang petang. Pada malam hari ia
tertarik pada lampu pijar dan neon, dan sebagai akibatnya, secara tidak sengaja bersentuhan
dengan kehidupan manusia. Kumbang ini akan menjadi penggganggu utama ketika jendela atau
pintu bangunan rumah dibiarkan terbuka.
ETIOPATOGENESIS
Kumbang ini tidak menggigit maupun menyengat. Racun dikeluarkan saat kumbang tergencet, atau
tidak sengaja tertekan. Paparan secara langsung maupun tidak langsung (penyebaran toksin
melalui tangan atau melalui handuk, baju, atau alat lain yang tercemar oleh racun serangga
tersebut) terhadap racun dapat menyebabkan iritasi pada kulit atau mata.
Darah kumbang (hemolimf) mengandung racun hewan yang berbahaya yang disebut pederin
(C24H43O9N), yang toksisitasnya 12 kali lebih tinggi dibandingkan dengan racun kobra. Dalam
bentuk kering masih bersifat toksis hingga 8 tahun. Respon inflamasi pada kulit akibat paparan
toksin tersebut mengaktifkan mediator inflamasi tanpa keterlibatan sel T memori ataupun
immunoglobulin spesifik. Terjadi pelepasan sitokin terutama berasal dari keratinosit, yang
menimbulkan sensasi / rasa panas pada regio kulit yang terkena diikuti oleh plak eritematosa
dengan lesi melepuh yang muncul 12-36 jam berikutnya. Lesi akan mengering menjadi krusta
dalam waktu seminggu. Respon hipersensitifitas IgE-mediated sistemik sangat jarang terjadi.
GEJALA KLINIS
Bentuk dermatitis yang timbul berupa dermatitis linearis atau whiplash dermatitis. Pada daerah
leher lesi berbentuk Y-shaped kissing lesion. Lesi yang dangkal tidak akan menimbulkan skar,
namun bila dermis terlibat akan muncul ulserasi. Kadang kelainan sulit dibedakan shingles atau
herpes zoster, perbedaannya adalah pada pola distribusinya yang tidak mengikuti pola alur saraf.

Lesi vesikuler akut akan sembuh sempurna dalam kurun waktu 10 hingga 12 hari, dengan bercak
kehitaman pasca-inflamasi yang bersifat transien. Lokasi lesi terbanyak di kepala 35%, kemudian
di ekstremitas atas 31%, tubuh 18%, ekstremitas bawah 14% dan paha 2%.
Gejala dermatitis Paederus ini bisa ringan, sedang berat dan bisa disertai infeksi sekunder di
daerah yang terkena. Gejala ringan, terdapat sedikit eritema yang dimulai pada 24 jam dan
berlangsung selama sekitar 48 jam. Pasien mengeluh rasa pedas, panas, dan gatal. Gejala sedang
terdapat eritema mulai sekitar 24 jam setelah kontak, setelah sekitar 48 jam, diikuti tahap vesikular,
dengan lepuh yang membesar secara bertahap dan mencapai maksimal dalam 48 jam. Vesikula
mengering selama sekitar 8 hari, terkelupas meninggalkan bekas halus, hiperpigmentasi linier
dengan kerutan pada daerah kulit yang terkena yang dapat bertahan selama satu bulan atau lebih.
Gejala berat terdapat lecet dan bekas luka berpigmen biasanya lebih luas. Racun dapat
mengakibatkan neuralgia, arthralgia, demam, dan muntah. Eritema dapat bertahan hingga
beberapa bulan. Gejala lain meliputi konjungtivitis toksik dengan sekrit mukoid. Kontak pederin
dengan kornea menyebabkan keratitis punctata superficial biasanya disertai perdarahan
subkonjungtiva karena mekanik (garukan berlebihan pada mata).
GEJALA KLINIS PADA ANAK
Pada bayi atau anak yang gemuk, dermatitis nampak sebagai pola mirror imagekarena kontak
toksin pada daerah lipatan kulit, disebut juga sebagai kissing lesion yaitu sepasang lesi kulit yang
sama yang terjadi akibat lesi kulit pertama menempel pada kulit yang lain. Pada kejadian luar biasa
pada anak sekolah dasar menunjukkan dermatitis kontak muncul dalam waktu 24 jam setelah
paparan terhadap kumbang, dan rasa terbakar dalam 4 jam. Daerah kulit yang sering terserang
adalah daerah kulit yang terbuka seperti wajah, leher, atau ekstremitas. Sering disertai dermatitis
periorbital.
Prosentase keluhan yang sering adalah rasa gatal 87,9%, rasa terbakar 57,6%, edema periorbital
57,6%, plak eritematosa dengan vesikel pada ekstremitas 57,6%, plak eritematosa dengan vesikel
di punggung 36,4%, plak eritematosa dengan vesikel pada tengkuk 24,2%, dan plak eritematosa
dengan vesikel pada perut 6.1%.
DIAGNOSIS BANDING
Kewaspadaan dermatitis kontak ini penting untuk mencegah misdiagnosis. Gejala klinis dermatitis
paederus menyerupai herpes simplex, herpes zoster, alergi akut, luka bakar karena zat cair khusus,
dan dermatitis kontak iritatif. Aspek pengelolaannya sangat berbeda pada tiap kasus tersebut.
PENGELOLAAN
Karena lesi yang disebabkan oleh Paederus hanya "dermatitis kontak iritan", pendekatan yang
masuk akal adalah: cuci bagian yang terkena dengan sabun mandi dan air bersih dapat mencegah
munculnya dermatitis linearis atau bentuk yang lebih berat. Untuk menghilangkan iritasi berikan
steroid topikal dan antihistamin oral. Pemberian salep antibakteri atau antibiotik oral karena
sebagian besar spesies Paederus bersimbiosis dengan bakteri gram negatif yang mungkin
mencemari area yang terkena toksin pederin.
PENCEGAHAN
Untuk mencegah manusia kontak dengan kumbang/pederin, maka tindakan untuk penencegahan
antara lain dengan: hindari kontak kumbang tersebut langsung dengan area kulit. Bila kumbang
tersebut hinggap di badan kita, cobalah untuk mengusirnya dengan hati-hati (misalnya, meniupnya
pergi, mencoba untuk kumbang berjalan ke secarik kertas dan kemudian membuangnya, dll), dan
mencuci daerah kulit yang kontak dengan kumbang tersebut.
Jika kita menghancurkan kumbang itu, maka cuci tangan yang kontak dengan kumbang itu, juga
pakaian yang mungkin telah terkontaminasi dengan pederin.

Jika kita berpikir bahwa kumbang tersebut kontak/hancur tetapi tidak yakin jika hal ini terjadi
(misalnya saat tidur), maka kita perlu segera mandi dan mencuci seprai dan pakaian. Matikan
lampu neon atau beralih ke lampu pijar. Menjaga pintu dan jendela tertutup. Tidur di dengan
kelambu. Periksa sebelum tidur barangkali ada kumbang (terutama pada dinding dan plafon area
sekitar lampu).Jika kita melihat ada kumbang, bunuh kumbang tersebut. Alat untuk membunuh
kemudian dimasukkan kedalam kantong plastik dan buang di tempat sampah.
REFERENSI
1.

Al-Dhalimi MA. Paederus dermatitis in Najaf Province of Iraq. Saudi Med J 2008;
29(10):1490-3.

2.

Burns DA .Diseases caused by arthropods and other noxious animals. In: Burns DA,
Breathnach SM, Cox NH, Griffi CEM, editors. Rooks textbook of dermatology, 8th edition.
Blackwell Publishing. p.1-38, 61.

3.

Chambers JA. Staphylinid beetle dermatitis in operation enduring freedom. J Spec Ops
Med 2003; 3(4):43-6.

4.

Dursteler BD, Nyquist RA. Outbreak of rove beetle (staphylinid) pustular contact
dermatitis in Pakistan among deployed US personnel. Milit. Med 2004; 169(1):57-60.

5.

Mokhtar N, Singh R, Ghazali W. Paederus dermatitis amongst medical students in


USM, Kelantan. Med J Malaysia 1993; 48(4).

6.

Rahmah E, Norjaiza MJ. An outbreak of paederus dermatitis in a primary school,


Trengganu, Malaysia. Malaysian J Pathol 2008; 30(1):53-6.

7.
8.

Verma R, Agarwal MS. Blistering beetle dermatitis: An outbreak. MJAFI 2006; 62:42-4.
Qadir SNR, Raza N, Rahman SB. Paederus dermatitis in Sierra Leone. Dermatology
Online Journal 12(7): 9.

Penulis : Dr.Sumadiono, Sp.A(K), DR. Dr. Anang Endaryanto, Sp.A(K), Dr.Wistiani, Sp.A(K).

Unit Kerja Koordinasi Alergi Imunologi


Ikatan Dokter Anak Indonesia