Anda di halaman 1dari 24

yang berharga untuk dikaji ulang terus-menerus, dan boleh

jadi suatu saat nanti, kembali tampil ke depan dengan


bentuk baru.
Aliran-aliran filsafat hukum yang akan dibicarakan da
0

lam tulisan meliputi: (1) Aliran Hukum Alam; (2) Po


sitivisme Hukum; (3) Utilitarianisme; (4) Mazhab Sejarah,
(5) Sociologizal Jurisprudence; (6) Realisme Hukum; dan (7)
Freirechslehre. Tata urutan pembahasan tersebut tidak me
nunjukkan bahwa suatu aliran yang dibicarakan lebih dulu
selalu mendahului aliran yang dibicarakan kemudian. Urut
an di atas lebih didasarkan kepada sistematikan pemikiran
dari masing-masing aliran, yang dalarn suatu situasi sesuai
dengan tata urutan kronologis, namun di sisi lain juga
tidak lagi sesuai.
B. ALIRAN HUKUM ALAMo.

Aliran Hukum Alam telah berkembang sejak kurun waktu


2.500 tahun yang lalu, dan muncul dalam 'berbagai bentuk
pemikiran. Dilihat dari sejarahnya, menurut Friedmann (1990:
47), aliran ini timbul karena kegagalan umat manusia dalam
mencari keadilan yang absolut. Hukum alam di sini di an
dang sebagai hukum yang berlaku unive~dan
abadi
Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi
bahwa melalui penalaran, hakikat makhluk hidup akan da
pat diketahui, dan pengetahuan tersebut mungkin menjadi
dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi ma
nusia.
ukurn alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang
sengaja dibentuk oleh manusia (Soekanto, [985: 5-6).
Secara sederhana, menurut sumbernya, Aliran Hukum
Alam dapat dibedakan dalam dua macam: (1) Irasionat, dan

"Agar tidak kacau antara pengertian hukum alam atau hukum positif sebagai suatu
jenis hukum dengan nama aliran filsafat hukum, penulisan semua nama aliran
filsafat hukum selalu dimulai dengan huruf kapital.
'"Catatan: ada buku Jain yang menyebutnya sebagai Aliran Hukum Kodrat.

102

Marsilius Padua, William Occam, John Wycliffe, dan Johan


nes Huss.

Thomas Aquinas (1225-1274)


Filsafat Thomas Aquina bsrkaitan erat dengan teologia. Ia
mengaKui bahwa di samping kebenaran wahyu juga tertaapat-kebenaran akal. Menurutnya, ada pengetahuan yang
tidak dapat ditembus oleh akal, dan untuk itulah diper
lukan iman. Sekalipun akal manusia tidak dapat memecah
kan misteri, ia dapat meratakan jalan menuju pemahaman
terhadapnya.
Dengan demikian, menurut Aquinas, ada dua penge
tahuan yang berjalan bersama-sama, yattu: (1) pengetahuan
alamiah (berpangkal pada akal), dan (2) pengetahuan !man
&erpangkal pJilla wah)::u Ilahi). Pembedaan tersebut juga
- digunakan oleh Aquinas dalam menjelaskan perbedaan an
tara filsafat dan teologia.
Berbicara tentang hukum, Aquinas mendefinisikannya se
bagai ketentuan akal untuk kebaikan umum, yang dibuat
oleh orang yang mengurus masyarakat. Lengkapnya, dalam
tulisannya Treatise on Law, Aquinas mengatakan, "Law is
nothing else than an ordinance of reason for the common good,
promulgated by him who has the care of the communittj" (Lyons,
1983: 7).
Mengenai pembagian hukum, Friedmann (1990: 62)
menggambarkan pemikiran Aquinas dengan menyatakan,
Sejak dunia diatur oleh ketentuan-ketentuan yang ditetapkan
Tuhan, seluruh masyarakat di alam semesta diatur oleh akal
yang berasal dari Tuhan. Hukum Tuhan berada di atas segala
galanya. Sekalipun demikian, tidak seluruh hukum Tuhan dapat
diperoleh oleh manusia. Bagian semacam ini dapat dimengerti
oleh manusia, dan diungkapkan melalui hukum abadi sebagai
penjelmaan kearifan Tuhan, yang mengatur semua tindakan dan
pergerakan. Hukum alam adalah bagian dari hukum Tuhan,
bagian yang diungkapkan dalam pikiran alamo Manusia, sebagai
mahluk yang berakal, menerapkan bagian dari hukum Tuhan

ini terhadap kehidupan rnanusia, sehingga ia dapat membeda-

104

itu. Menurutnya,
Gereja dan negara perlu bekerja sarna
ibarat hubungan organis antara jiwa dan raga.
Dalam menjalankan
pernerintahannyg,
penguasa wajib
memperhatikan
hukum tertulis dan fidak tertulis (htrkum
alam), :y:ang men.cerminkan hukum-hukum
Allan. Tugas ro
haniawan
adalah membimbing
penguasa
agar tidak me
rugikan kepentingan
rakyat, dan menurutnya:, bahkan pen
guasa itu seharusnya menjadi abdi Gereja.
Menurut Salisbury, jikalau masing-masing
penduduk
be
kerja untuK: l<epentingaMya' sendiri, kepentingan
masyara
kat akan terpelil1ara aengan sebaik-baiknya
(Schmid, 1965:
91). Salisbury juga melukiSkan kehidupan
bernegara
itu
seperti kehidupan dalam sarang lebah, yang sangat me mer
lukan kerja sarna dari semua unsur: suatu pandangan
yang
bertitik tolak dari pendekatan organis.
Pemikiran Salisbury dituangkannya
dalam satu kumpul
an buku (delapan jilid) yang diberi judul Policraticus sive de
Nubis Curialtum et Vestigiis Philosophorum Libri VIII. Selain
itu, terdapat bukunya yang berjudul Metalogicus.
Dante Alighieri

(1265-1321)

Seperti halnya dengan filsuf-filsuf Abad Pertengahan, fil


safat Dante sebagian besar merupakan tanggapan terhadap
situasi yang kacau balau pada mas a itu.
Baik Jerman maupun Prancis pada Abad Pertengahan
menghadapi perselisihan dengan kekuasaan Paus di Roma.
Dante, dalam hal ini berada pada kubu penguasa. Ia amat
menentang penyerahan kekuasaan duniawizkepada Gereja.
Baginya, keadilan baru dapat ditegakkan aE.iibila pelak
sanaan hukum diserahkan kepada satu tan);an saja beru a
pemerintahan y:an~ absol~f.
.
Eante l5eru aha mem~erikan.le?itimasi terh~dap ~ek.u~sa
an monarkhi yang berstfat mondial. Monarkhi duma inilah
yang menjadi badan tertinggi yang.memuruska
perselisih
an antara penguasa yang satu dengan lainnya. Dasar hu
kum yang dijadikan pegangan adalah hukum alam, yang
kencerminkan hukum-hukum Tuhari. Menurutnya, badan
106

duanya banyak persarnaannya.


J.J. von Schmid (1965: 109)
rnenyebutkan,
kedua orang ini terrnasuk tokoh penting
Abad ke-14, sama-sama dari ordo Fransiscan, dan pernah
rnemberi kuliah di universitas di kota Paris. Karena perten
tangannya terhadap pernikiran Gereja, kedua orang ini juga
sama-sama dikeluarkan dari Gereja oleh paus.
faaua
berpendapat
oahwa negar
berada di atas ke
kuasaan paus. Kedaulatan
tertinggi ada di tang an rak:yat.
Pendapatnya
ten tang kenegaraan banyak dipengaruhi-oIeh
Aristoteles. Padua juga berpendapat
bahwa tujua negara
aaalan untuk rnernajukan kernakmuran
d~rn~e
sempatan seluas-Iuasny:
kepada warga negara agar dapat
meflgembangKan
dirinya secara bebas. Oengan dernikian,
hukwn harus rnengabdi kepada rakyat. Bahkan, rakyat pula
yang berwenang
memilih pernerintahnya.
Rakyat boleh
rnenghukurn
penguasa
{raja) yang melanggar
undang
undang, termasuk memberhentikannya.
Kekuasaan raja bu
kanlah kekuasaan absolut melainkan dibatasi oleh undang
undang.
Pendapat Padua ini sangat rnenarik perhatian, karena
termasuk progresif untuk ukuran Abad Pertengahan. Oalarn
banyak hal, pemikiran ini mirip dengan Rousseau.
Oi sisi lain, filsafat Occam sering disebut Nominalisme,
sebagai lawan dari pemikiran Thomas Aquinas (yang se
sungguhnya
sarna-sama Aliran Hukurn Alam yang irasio
nal). [ika Thomas rnenyakini kernarnpuan
rasio rnanusia
untuk mengungkgpkan
kebenaran, Occam berpendapat
se
baliknya. RaslO manusia tidak dapat memastikan suatu ke
benaran. Pengetahuan
(ide) yang ditangkap oleh rasio ha
nyalah nama-nama
tnomen, nominal) yang dig~akan
ma
nusia dalam hidupnya.
-:Karangan
Padua yang terpenting berjudul Defensor Pacis,
sedangkan
salah satu karya Occam (sering pula ditulis
Ockharn ) berjudul De Imperatorum et Pontificum Potestate.

John Wycliffe (1320-1384) dan Johannes Huss (1369-1415)


Jika Marsilius Padua

sering

dibicarakan bersarna
108

dengan

konsep hukum dalam hubungan


antarnegara,
seperti hu
kum perang dan damai, serta hukum laut.
Menurut Grotius, sumber hukum adalah rasio man usia.
Karena karakteristik
yang membedakan
manusia dengan
mahluk lain adalah kernampuan akalnya, seluruh kehidup
an manusia harus "berdasarkan pada kemampuan akal (ra
sio) itu.
Hukum alam, menurutnya,
adalah hukum yang muncub
sesuai kodrat manusia. Hukum alam ini tidak mtmgkin

dapat diiibah, (secara ekstrim) Grotius mengatakan, bahkan


oleh Tuhan sekalipunl lHukum alam itu diperoleh manusia
dari akalnya, teta12iTuhanlah yang rnernberikan kekuatan
mengikatnya.
Karya Grotius yang termasyhur berjudul: (1) De Jure
Belli ac Pacis, dan- (2) Mare Liberium.
Samuel von Pufendorf (1632-1694) dan Christian Thomasius
(1655-1728)

Pufendorf adalah penganjur pertama hukum alam di Jer


man. Pekerjaannya dilanjutkan oleh Christian Thomasius.
lPufendorf berpenaapat, bahwa hiikum alam adalah atur
an yang berasal dari akal pikiran yang murni, Dalam hal
ini unsur naluriah manusia yang lebih berperan. Akibatnya,
ketika manusia mulai hidup bermasyarakat: timbul Rerten
tangan kepentinga satu dengan yang lainnya. Agar tidak
terjadi f?ertentangan terus-menerus dibuatlah perjanjlan se
cara sukarela di antara rakyat. Baru setelah itu, diadakan
perjanjian oerikutnya, berupa 12erjanjian penaklukan oleh
raja. Dengan aaanya-perjanjian itu,-berarti tidak ada.je
kuasaan yang absolut. Semua kekuasaan itu dibatasi oleh
Tuhan, hu~lam,
ksbiasaan, Elan tujuan dari, negara
y:ang dtdiriRan.
Karangan Pufendorf tentang dasar-dasar hukum alam dan
hukum antarnegara memberikan pembedaan yang tegas an
tara hukum dan moral (pendapat ini jelas lebih dekat ke aliran
Positivisme Hukum daripada Hukum Alam). Schmid (1965:
188-189) menyatakan, karangan Pufendorf justru penting ka110

nya. Setelah itu, Kant mulai mengubah pandangan filsafat


nya menjadi pandangan yang bersifat kritis.
Hume sendiri dalam filsafat dikenal sebagai tokoh em
pirisme, suatu aliran yang bertentangan
dengan rasiona
lisme. Empirisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan
manusia bukan rasio, melainkan pengalaman (empiri), te
patnya pengalaman yang berasal dari pengenalan inderawi.
Filsafat Kant merupakan sintesis dari rasionalisme dan
empirisme itu. Kritisisme adalah filsafat yang memulai per
jalanannya dengan terlebih dulu menyelidiki kemampuan
dan batas-batas rasio. Kant adalah filsuf pertama yang me
ngusahakan penyelidikan ini. Para filsuf yang tergolong
dalam dogmatisme sebelumnya menyakini kemampjian ra
sio tanpa penyelidikan lebih dulu. Kant menyelidiki UIlSUr
unsur mana dalanu.pemikiran
manusia yang berasal dari
rasio (sudah ada terlebih dulu tanpa dibantu oleh peng
alaman) dan mana yang mumi berasal dari empir".
Ada tiga buku utama yang menjadi tempat Kant meng
ungkapkan pandangan filsafatnya, yaitu: (1) Kritik der
reinen Vernunft (1781) atau "Kritik atas Rasio Murni", (2)
Kritik der praiischen Vernunft (1788) atau "Kritik atas Rasio
Praktis", dan (3) Kriiik der Urteilskraft (1790) atau "Kritik
atas Daya Pertimbangan". Rasio murni akan melahirkan
ilmu penge tahuan, dan rasio praktis melahirkan etika,
edangkan da,ya pertlmoangan melahirkan kesenian. Bagi
Kant, titik berat dari kritisismenya ada pada kritik yang
pertama, yakni pada rasio yang murni.
Pengikut Kant dikenal dengan sebutan kaum Kantian.
Selain buku-buku
yang disebutkan
di muka, buku yang
juga penting dari Kant adalah Metaphysische Anfangsgrunde

der Rechtslehre.
C. POSITIVISME HUKUM
Positivism
Hukurn (Ali ran Hukum Positif)
emandang
perlu memisahkan secara tegas antara hukum dan moral
(an tara hukum
ang berlaku dan hukum yang seharusnya,
antara das Sein daft das Sollen). Dalam kaca mata positivis,

112

penguasa,

sehingga

tidak memenuhi persyaratan sebagai hu


dati suatu organisasi olahraga. Hu
kum yang sebenarnya memiliki empat unsur, yaitu: (1) perin
tah (command), (2) sanksi (sanction), (3) kewajiban (duty), dan
(4) kedaulatan (sovereignty).
Buku terpenting yang pemah ditulis Austin adalah
The Porvince of Jurisprudence Determined, dan ajarannya
dikenal dengan sebutan The Imperative School.

kum, seperti ketentuan

2. Aliran Hukum

Mumi: Hans Kelsen (1881-1973)

flenurut
Kelsen, hukum harus dibersihkan dari anasir-ana
sir yaDg nonyuridis, seperti unsur sosiologis, politis.Lhis
tOris:t3anKan etis. Pemikiran inilah yang dikenal, dengan
Teori Hukum Murni (Reine Rechtlehre) dari Kelsen. [adi,
flu (urn adalah suatu SoLlenskategorie (kategori keharusan Z
ideal), bukan Seinskategorie (kategori faktual).
maginya,
hukum adalah suatu keharusan yang rnengatur
tingkah laku rnanusia sebagai rnahluk rasional. Dalam hal
~ni yang dipersoalkan oleh hukurn bukanlah "bagaimana
hukurn itu seharusnya" (what the law ought to be), tetapi
"apa hukumnya" (what the law is). Dengan demikian, wa
laupun hukurn itu Sollenkaiegorie, yang dipakai adalah hu
kum positif {illS constitutums, bukan
yang dicita-citakan
iiu constituendumy.
Pada dasarnya
pemikiran
Kelsen sangat dekat dengan
pemikiran
Austin, walaupun
Kelsen mengatakan bahwa,
waktu ia mulai mengembangkan
teori-teorinya, ia sarna
sekali tidak mengetahui karya Austin (Friedmann, 1990:
169). Walaupun
dernikian, asal usul filosofis antara pe
mikiran Kelsen dan Austin berbeda. Kelsen mendasarkan
pemikirannya
pada Neokantianisme,
sedangkan
Austin
pada Utilitarianisme.
Kelsen dimasukkan sebagai kaum Neokantian karena ia
menggunakan pemikiran
Kant tentang pemisahan
antara
bentuk dan isi. Bagi Kelsen, hukum berurusan dengan ben
tuk (forma), bukan isi (materia). [adi, keadilan sebagai isi
hukum berada di Iuar hukum. Suatu hukum dengan de114

tersebut. Hal ini tarnpak jelas dalam Ketetapan MPRS No.


XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR-GR Mengenai
Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan
Peraturan Perundangan Republik Indonesia. Ketetapan
MPRS tersebut diperkuat lagi dengan Ketetapan MPR No.
V /MPR/1973 tentang Peninjauan Produk-produk yang
Be rupa Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Sementara Republik Indonesia dan Ketetapan MPR
No. IX/ MPR/1978 ten tang Perlunya Penyempumaan yang
Terrnak tub dalam Pasal 3 Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rak yat Republik Indonesia No. V
/MPR/1973.
Dua ketetapan yang disebutkan terakhir memperkuat ke
berlakuan Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966, sekalipun
dengan catatan "perlu disempurnakan".
Sayangnya,
penyempurnaan yang diamanatkan oleh dua ketetapan ter
sebut sampai sekarang belum diwujudkan. Beberapa ahli
hukum, seperti A. Hamid S. A ttamimi, telah mencoba
memberikan beberapa catatan untuk menyempumakan Ke
tetapan MPRS No. XX/MPRS/1966. Pembahasan mengenai
hal ini akan dibicarakan dalam Bab VI buku ini.

D. UTILITARIANISME
Utilitarianisme atau Utilisme adalah aliran yang meletakkan
kemanfaatan sebagai tujuan utama hukum. Kemanfaatan di
sini diartikan sebagai kebahagiaan (happiness). Jadi, baik
buruk atau adil tidaknya suatu hukum, bergantung kepada
apakah hukum itu memberikan kebahagiaan kepada ma
nusia atau tidak.
Kebahagiaan ini selayaknya dapat dirasakan oleh setiap
individu. Tetapi jika tidak mungkin tercapai (dan pasti
tidak mungkin), diupayakan agar kebahagiaan itu dinikmati
oleh sebanyak mungkin individu dalam masyarakat (bang
sa) tersebut (the greatest happines for the greatest number of
people).
Aliran ini sesungguhnya dapat pula dimasukkan ke da
lam Positivisme Hukum, mengingat faham ini pad a akhir
nya sampai pad a kesimpulan bahwa tujuan hukum adalah
116

boleh melebihi jumlah yang dibutuhkan


untuk mencegah
dilakukannya penyerangan-penyerangan
tertentu. Pemidana
an hanya bisa diterima apabila ia memberikan harapan bagi
tercegahnya kejahatan yang lebih besar (Rahardjo, 1986: 239).
Ajaran seperti ini didasarkan atas hedonistic utilitarianism.

Ada dua kekurangan pemikiran Bentham yang dicatat


oleh Friedmann (1990a: 116-117). Pertama, rasionalisme
Bentham yang abstrak dan doktriner mencegahnya melihat
individu sebagai keseluruhan yang kompleks. Ini menye
babkannya terlalu melebih-lebihkan kekuasaan pembuat un
dang-undang dan meremehkan perlunya individualisasi ke
bijakan dan keluwesan dalam penerapan hukum. Ia juga
terlalu yakin dengan kemungkinan kodifikasi ilmiah yang
lengkap melalui prinsip-prinsip yang rasional, sehingga ia
tidak lagi menghiraukan perbedaan-perbedaan nasional
atau historis. Padahal, pengalaman terhadap kodifikasi di
berbagai negara menunjukkan, bahwa penafsiran yang elas
tis dan bebas dari hakim senantiasa dibutuhkan. Kelemahan
kedua, adalah kegagalan Bentham untuk menjelaskan kon
sepsinya sendiri mengenai keseimbangan antara kepenting
an individu dan masyarakat.
Tulisan-tulisan Bentham (aslinya dalam bahasa Prancis)
.antara lain berjudul: (1) An Introduction to the Principles of
Moral and Legislation, (2) Theory of Legislation, Principles of the
Civil Code, (3) A Fragment on Government, (4) Constitutional
Code (dua volume), (5) The Rationale of Judicial Evidence
(editor: John Stuart Mill), (6) Of Laws in General (editor:
H.L.A. Hart).

2. John Stuart Mill (1806-1873)

Pemikiran Mill banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psi


kologis, yang pada awalnya dikembangkan oleh ayahnya
sendiri, James Mill. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia
adalah kebahagiaan. Manusia berusaha memperoleh keba
hagiaan itu melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya.
Jadi, yang ingin dicapai oleh manusia itu bukanlah bend a
118

syarakat, walaupun tidak mengenai dirinya sendiri. Sebalik


nya, orang-orang yang baik tidak menyesalkan perbuatan
tidak baik terhadap diri sendiri, walaupun menimbulkan
rasa sakit, kecuali kalau masyarakat bermaksud menindas
nya. Apa yang digambarkan tersebut merupakan ungkapan
dari rasa adil. Ia berpendapat bahwa perilaku kita akan
sedemikian rupa, sehingga semua mahluk berakal dapat
menyesuaikan keuntungan dengan kepentingan mereka ber
sarna. "Nafsu binatang untuk menolak atau membalas per
buatan jahat yang melukai atau yang merugikan diri sen
diri" bertambah, dan dengan demikian "memperbaiki akh
lak". Penonjolan diri dan kesadaran atas kebaikan bersama
bergabung dengan rasa adil.
Karangan Mill menonjol antara lain berjudul On Liberty.
3. Rudolf von Jhering (1818-1892)

Ajaran Bentham dikenal sebagai Utilitarianisme individual,


sedangkan rekannya Rudolf von [bering (dalam beberapa
buku ditulis "Ihering")mengembangkan ajaran yang bersifat
sosial. Teori von Jhering merupakan gabungan antara teori
Bentham, Stuart Mill, dan Positivisme Hukum dari John
Austin (Rasjidi, 1990:45).
Mula-mula von Jhering menganut Mazhab Sejarah yang
dipelopori von Savigny dan Puchta, tetapi lama-kelamaan
ia melepaskan diri, bahkan menentang pandangan von Sa
vigny tentang hukum Romawi (Huijbers, 1988: 130). Perlu
diketahui bahwa pemikiran yang gemilang dari Jhering me
mang timbul setelah ia melakukan studi yang mendalam
tentang hukum Romawi. Huijbers memasukkan [hering se
bagai salah satu tokoh penting Positivisme Hukum.
Menurut von Savigny, seluruh hukum Romawi merupa
kan pernyataan jiwa bangsa Romawi, dan karenanya me
rupakan hukum nasianal. Hal ini dibantah oleh von [he
ring. Seperti dalam hidup sebagai perkembangan biologis,
senantiasa terdapat asimilasi dari unsur-unsur yang mern
pengaruhinya, demikian pula halnya dalam bidang kebuda
yaan karena pergaulan intensif antarbangsa terdapat asi120

1. rasionalisme Abad ke-18 yang didasarkan


atas hukurn
alam, kekuatan akal, dan prinsip-prinsip
dasar yang se
muanya berperan pada filsafat hukurn, dengan terutama
mengandalkan
jalan pikiran deduktif tanpa memperhati
kan fakta sejarah, kekhususan,dan
kondisi nasional;
2. semangat Revolusi Perancis yang menentang wewenang
tradisi dengan misi kosmopolitannya
(kepercayaan
ke
pada rasio dan daya kekuatan
tekad manusia untuk
mengatasi
lingkungannya,
yaitu seruannya
ke segala
penjuru dunia (Soekanto, 1979: 26);
3. pendapat

yang berkembang saat itu yang melarang ha


kim menafsirkan hukurn karena undang-undang diang
gap dapat memecahkan semua masalah hukum. Code
Civil dinyatakan sebagai kehendak legislatif dan harus
dianggap sebagai suatu sistem hukum yang harus disim
pan dengan baik sebagai sesuatu yang sud karena ber
asal dari alasan-alasan yang murni.

Di samping itu, terdapat faktor lain, yaitu masalah ko


difikasi hukum Jerman setelah berakhirnya masa Napoleon
Bonaparte, yang diusulkan oleh Thibaut (1772-1840), guru
besar pada Universitas Heidelberg di Jerman dalam tulisan
nya yang terbit tahun 1814, berjudul Uber die Notwendigkeit
eines Allegemeinen Burgerlichen Rechts [ur Deuichland (Ten
tang Keharusan Suatu Hukum Perdata bagi Jerman). Ka
rena dipengaruhi oleh keinginannya akan kesatuan negara,
ia menyatakan keberatan terhadap hukum yang tumbuh
berdasarkan sejarah. Hukum itu sukar untuk diselidiki, se
dangkan jurnlah sumbernya bertambah banyak sepanjang
mas a, sehingga hilanglah keseluruhan gambaran darinya.
Karena itulah harus diadakan perubahan yang tegas de
ngan jalan penyusunan undang-undang dalam kitab. Hal
ini merupakan kebanggaan Jerman. Keberatan yang di
kemukakan ialah bahwa di berbagai daerah, hukum itu
harus disesuaikan dengan keadaan setempat yang khas dan
bahwa orang harus menghormati apa yang dijadikan adat,

tidak dapat mengimbangi keuntungan yang dibawa oleh122

sebagai Volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya;


(2) tidak selamanya peraturan perundang-undangan itu
timbul begitu saja, karena dalam kenyataannya banyak ke
tentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan
terbentuk tanpa perjuangan keras; (3) jangan sampai pe
ranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat per
hatian, karena walaupun Volksgeist itu dapat menjadi bahan
kasamya, tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali
untuk diproses menjadi bentuk hukum; (4) dalam banyak
kasus peniruan rnemainkan peranan yang lebih besar dari
pada yang diakui penganut Mazhab Sejarah. Banyak bangsa
yang dengan sadar mengarnbil alih hukum Romawi dan
rnendapat pengaruh dari hukurn Prancis.

2. Puchta (1798-1846)

Puchta adalah murid von Savigny yang mengernbangkan


lebih lanjut pernikiran gurunya. Sarna dengan Savigny, ia
berpendapat bahwa hukum suatu bangsa terikat pada jiwa
bangsa (Volksgeist) yang bersangkutan.
Hukum tersebut, menurut Puchta, dapat berbentuk: (1)
langsung berupa adat istiadat, (2) rnelalui undang-undang,
(3) melalui ilmu hukurn dalarn bentuk karya para ahli
hukurn (Huijbers, 1988: 120).
Lebih lanjut Puchta membedakan pengertian "bangsa" ini
dalam dua jenis: (1) bangsa dalam pengertian etnis, yang
disebutnya "bangsa alam", dan (2) bangsa dalarn arti nasio
nal sebagai kesatuan organis yang rnembentuk satu negara.
Adapun yang rnerniliki hukum yang sah hanyalah bangsa
dalam pengertian nasional (negara), sedangkan "bangsa
alam" rnerniliki hukum sebagai keyakinan belaka.
Menurut Puchta, keyakinan hukurn yang hid up dalam
jiwa bangsa harus disahkan rnelalui kehendak urnurn rna
syarakat yang terorganisasi dalam negara. Negara menge
sahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang.
Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara
sedemikian rupa, sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi
124

F. SOCIOLOGICAL JURISPRUDENCE
Istilah sociological dalam menamai aliran ini, menurut Paton
(1951: 17-21), kurang tepat dan dapat menimbulkan
ke
kaca uan. Ia lebih senang menggunakan
istilah "metode
fungsional". Oleh karena itu, ada pula yang menyebut So
ciological Jurisprudence ini dengan Functional Anthropological.
Dengan menggunakan
istilah "metode fungsional" seperti
diungkapkan
di atas, Paton ingin menghindari
kerancuan
antara Sociological Jurisprudence dan sosiologi hukum

(the
sociologtj of law).
Menurut Lily Rasjidi (1990: 47-48), perbedaan antara So
ciological Jurisprudence dan sosiologi hukum adalah sebagai
berikut. Pertama, Sociological Jurisprudence adalah nama alir
an dalam filsafat hukum, sedangkan sosiologi hukum ada
lah cabang dari sosiologi. Kedua, walaupun
objek yang
dipelajari oleh keduanya adalah tentang pengaruh timbal
balik antara hukum dan masyarakat, namun pendekatannya
berbeda. Sociological Jurispru.dence menggunakan
pendekatan
hukum ke masyarakat, sedangkan sosiologi hukum memilih
pendekatan dari masyarakat ke hukum.
Perbedaan yang mencolok antara kedua hal tersebut ada
lah, bahwa sosiologi hukum berusaha menciptakan
suatu
ilmu mengenai kehidupan sosial sebagai suatu keseluruhan
dan pembahasannya
meliputi bagian terbesar dari sosiologi
(secara umum) dan ilmu politik. Titik berat penyelidikan
sosiologi hukum terletak pada masyarakat dan hukum se
bagai suatu manifestasi sernata, sedangkan Sociological Juris
prudence (seperti yarig dikemukakan
Pound) menitikberat
kan pada hukum dan memandang
masyarakat dalam hu
bungannya dengan hukum (Paton, 1951: 21).
Menurut aliran Sociological Jurisprudence ini, hukum yang
baik haruslah hukum yang sesuai dengan hukum yang
hidup di masyarakat. Aliran ini memisahkan
secara tegas
antara hukum positif (the positive law) dan hukum yang
hidup (the living law). Aliran ini timbul dari proses dialek
tika antara (tesis) Positivisme Hukum dan (antitesis) Maz
hab Sejarah.
126

dak akan mungkin efektif, oleh karena ketertiban dalam


masyarakat didasarkan pada pengakuan sosial terhadap hu
kum, dan bukan karena penerapannya secara resmi oleh
negara. Bagi Ehrlich, tertib sosial didasarkan pada fakta
diterimanya hukum yang didasarkan pada aturan dan nor
ma sosial yang tercermin dalam sistem hukum. Secara kon
sekuen Ehrlich beranggapan bahwa mereka yang berperan
sebagai pihak yang mengembangkan sistem hukum harus
mempunyai hubungan yang erat dengan nilai-nilai yang
dianut dalam masyarakat bersangkutan. Kesadaran itu ha
rus ada pada setiap anggota profesi hukum yang bertugas
mengembangkan
hukum yang hidup dan menentukan
ruang lingkup hukum positif dalam hubungannya dengan
hukum yang hidup (Soekanto, 1985: 20-21).
Sampai di sini terlihat bahwa pendapat Ehrlich mirip
dengan von Savigny. Hanya saja, Ehrlich lebih senang
menggunakan istilah kenyataan sosial daripada istilah tiolks
geist sebagaimana yang digunakan Savigny. Kenyataan-ke

nyataan sosial yang anormatif itu dapat menjadi normatif,


sebagai kenyataan hukum lfacts of law) atau hukum yang
hidup (living law, yang juga dinamakan Ehrlich dengan
Rechtsnormen), melalui empat cara. Huijbers (1988:213) me
nyebut empat cara (jalan) itu: (1) kebiasaan (Uebung), (2)
kekuasaan efektif, (3) milik efektif, dan (4) pemyataan ke
hendak pribadi.
Friedmann (1990a: 108) membentangkan tiga kelemahan
utama pemikiran Ehrlich karena keinginannya meremehkan
fungsi negara dalam pembentukan undang-undang. Per
tama, Ehrlich tidak memberikan kriteria yang jelas yang
membedakan norma hukum dengan norma sosial yang lain.
Akibatnya, teori sosiologi dari Ehrlich dalam garis besarnya
merupakan sosiologi umum saja. Kedua, ia meragukan po
sisi kebiasaan sebagai sumber hukum dan sebagai suatu
bentuk hukum. Pada masyarakat primitif posisi kebiasaan
ini sangat penting sebagai sumber dan bentuk hukum,
tetapi tidak demikian lagi pada masyarakat modern. Pada
masyaraka t modern, posisi tersebut digantikan oleh un
dang-undang, yang selalu-dengan
derajat b errnacam-

128

c.

Kepentingan

(private

pribadi

interest):
1. kepentingan individu;
2. kepentingan keluarga;
3. kepentingan hak milik.
Dari klasifikasi tersebut, dapat ditarik dua hal. Pertama,
Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von
Jhering dan Bentham, yaitu berupa pendekatan terhadap
hukum sebagai jalan ke arah tujuan sosial dan sebagai alat
dalam perkembangan sosial (Rasjidi, 1990: 134). Memang,
penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya melanjutkan
apa yang telah dilakukan oleh von Jhering. Karena itu,
dilihat dari hal tersebut, Pound sebenarnya dapat pula
digolongkan sebagai penganut Utilitarianisme sebagai pe
nerus Jhering dan Bentham.
Kedua, klasifikasi tersebut membantu menjelaskan
premis-premis hukum, sehingga membuat pembentuk un
dang-undang, hakim, pengacara, dan pengajar hukum me
nyadari akan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait
dalam tiap-tiap persoalan khusus. Dengan perkataan lain,
klasifikasi itu membantu
menghubungkan antara prinsip
(hukum) dan praktiknya.
Karya Roscoe Pound sangat banyak jumlahnya, dan be
berapa telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, se
perti: (1) Pengantar Filsafat Hukum, dan (2) Tugas Hukum.
Beberapa karangannya antara lain berjudul: (1) The History
and System of the Common Law, (2) Social Control through
Law, (3) Justice According to Law.
Aliran yang dianut Pound berangkat dari pemikiran ten
tang pengaruh tirnbal balik antara hukum dan masyarakat.
Di Indonesia, konsep Pound ini dikembangkan oleh Moch
tar Kusurnaatmadja, yang uraian lebih lengkapnya akan
diberikan pada Bab V, pada saat rnernbicarakan masalah
hukum sebagai saran a pembaruan masyarakat.
G.
HUKUM

REALISME

Realisme Hukum berkembang dalarn waktu yang bersamaan


dengan Sosicological Jurisprudence. Ada penulis yang me130

rum us an lain, Llewellyn menyebutkan formula dari Rea


lisme sebagai berikut: DOIl't get your law from rules, but
get your rules from the law that is (Shuchman, 1979: 554).
Karl N. Llewellyn, yang juga dikenal sebagai seorang ahli
sosiologi hukurn, menyebutkan beberapa ciri dari Realism
ini, yang terpenting di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Tidak ada mazhab realis; realisme adalah gerakan dari
pemikiran
dan kerja tentang hukum. Tepatnya Llewellyn
menyatakan,
"Realism is not a philosophy, but a technol
ogy ... What realism was, and is, is a method nothing
more" (Harris, 1980: 98).
2. Realisme adalah konsepsi hukum yang terus berubah
dan alat untuk tujuan-tujuan sosial, sehingga tiap bagian
harus diuji tujuan dan akibatnya. Realisme mengandung
konsepsi tentang rnasyarakat yang berubah lebih cepat
daripada hukum.
3. Realisme menganggap adanya pernisahan semen tara an
tara hukum yang ada dan yang seharusnya ada, untuk
tujuan-tujuan studio Pendapat-pendapat
ten tang nilai ha
rus selalu diminta agar tiap penyelidikan
ada sasaran
nya, tetapi selama penyelidikan, gambaran harus tetap
sebersih mungkin karena keinginan-keinginan pengamat
atau tujuan-tujuan etis.
4. Realisme tidak percaya pada ketentuan-ketentuan
dan
konsepsi-konsepsi
hukum,
sepanjang ketentuan-keten
tuan dan konsepsi hukum menggambarkan
apa yang
sebenarnya
dilakukan
oleh pengadilan-pengadilan
dan
orang-orang. Realisrne menerima definisi peraturan-per
aturan sebagai "ramalan-ramalan
umurn tentang apa
yang akan dilakukan oleh pengadilan-pengadilan".
Se
suai dengan kepercayaan itu, Realisme menggolongkan
kasus-kasus ke dalam kategori-kategori yang lebih kecil
daripada yang terdapat dalam praktik di masa lampau.
5. Realisme menekankan
dengan mengingatkan
192).

evolusi tiap bagian dari hukum


akibatnya (Friedmann, 1990: 191-

132

uraikan secara terinci suatu filsafat ten tang nilai-nilai. De


ngan kata-kata Llewellyn, mereka mengasumsikan adanya
pemisahan sementara yang ada (maksudnya: das Sein) dari

yang seharusnya (das SolIen) untuk tujuan-tujuan studio Se


baliknya, Realisme Skandinavia (Friedmann menuliskan
realisme dalam tanpa petik) adalah semata-mata kritik fal
safiah atas dasar-dasar metafisis dari hukum. Dengan me
nolak pendekatan bahasa yang sederhana dari para realis
Amerika, Realisme Skandinavia jelas bercorak kontinental
dalam pembahasan yang kritis, dan seeing sangat abstrak,
tentang prinsip-prinsip yang pertama.
Pendapat di atas mirip dengan pandangan RW.M. Dias,
yang menyatakan bahwa apabila di Amerika Serikat para
realis hukum itu berasal dari kalangan praktik maupun
pengajaran, maka di Skandinavia mereka mendekati tugas
nya pada peringkat yang lebih abstrak, dengan dasar pen
didikan sebagai filsuf (Rahardjo, 1986:269).
1. Realisme Amerika
Sebagaimana dikatakan oleh Oliver Wendell Holmes Jr.,
dugaan-dugaan tentang apa yang akan diputuskan oleh
pengadilan itulah yang disebut dengan hukum. Pendapat
Holmes ini menggambarkan secara tepat pandangan realis
Amerika yang pragmatis itu.
Pendekatan pragmatis tidak percaya pada bekerjanya hu
kum menurut ketentuan-ketentuan hukurn di atas kertas.
Hukurn bekerja mengikuti peristiwa-peristiwa konkret yang
muncul. Oleh karena itu, dalil-dalil hukum yang universal
harus diganti dengan logika yang fleksibel dan eksperimen
tal sifatnya. Hukum pun tidak mungkin bekerja menurut
disiplinnya sendiri. Perlu ada pendekatan yang interdisipli
ner dengan memanfaatkan ilmu-ilmu seperti ekonomi, so
siologi, psikologi, dan kriminologi. Dengan penyelidikan
terhadap faktor-faktor sosial berdasarkan pendekatan ter
sebut dapat disinkronkan antara apa yang dikehendaki hu
kurn dan fakta-fakta (realita) kehidupan sosial. Semua ini
diarahkan agar hukum dapat bekerja secara lebih efektif.
134

les Sanders Peirce, John Chipman Gray, Oliver Wendell


Holmes [r., William James, John Dewey, B.N. Cardozo, dan
Jerome Frank.

Charles Sanders Peirce (1839-1914)


Peirce disebut-sebut sebagai orang pertama yang memulai
pemikiran pragmatisme ini, walaupun ia juga menyebutkan
jasa seorang ahli hukum sahabatnya, Nicholas St. John
Green. Dari Peirce kemudian muncul nama-nama William
James (dalam buku ini beliau dimasukkan ke golongan
Realisme Amerika), John Dewey, George Mead, dan prag
matis dari Inggris, F.S.c. Schiller.
Pragmatisme menyangkal kemungkinan bagi manusia
untuk mendapat suatu pengetahuan teoretis yang benar.
Oleh karena itu ide-ide perlu diselidiki dalam praktik hi
dup. Hal ini diuraikan oleh Peirce dalam makalahnya ber
judul How to Make Our Ideas Clear? (1878). Menurut Peirce,
ide-ide diterangkan dengan jalan analitis. Metode analitis
ini harus digunakan secara fungsional, yakni dengan me
nyelidiki seluruh konteks suatu pengertian dalam praktik
hidup. Bagaimana pengertian tertentu ditanggapi dalam su
atu situasi tertentu? Maka kebenaran merupakan hasil pe
nyelidikan situasi secara empiris. Oleh karena itu tepatlah,
bahwa kata pragmatis dipakai oleh Peirce dalam arti em
piris atau eksperimental. Dirnengerti juga apa yang di
katakan James, yakni bahwa pragmatisme adalah suatu
empirisme radikal (Huijbers, 1988: 175).
Karya Peirce antara lain berjudul Pragmatism and Prag
maticism.

John Chipman Gray (1839-1915)


Sebagaimana ciri Realisme Amerika, Gray menempatkan
hakim sebagai pusat perhatiannya. Semboyannya yang ter
kenaI adalah All the law is judge-made-law.
Ia menyatakan bahwa di samping logika sebagai faktor
penting dalarn pernbentukan perundang-undangan, unsur
136

Karya penting
of Law.
William

dari Holmes

antara lain berjudul

The Path

James (1842-1910)

Menurut James, pragmatisrne adalah "nama baru untuk


beberapa cara pemikiran yang sarna'', yang sebenarnya juga
positivis. Ia menyatakan bahwa seorang pragmatis menolak
abstraksi dan hal-hal yang tidak memadai, penyelesaian
secara verbal, alasan apriori yang tidak baik, prinsip yang
ditentukan, sistem yang tertutup, dan hal-hal yang diang
gap mutlak dan asli. Ia berbalik rnenentang kelengkapan
dan kecukupan, fakta, perbuatan, kekuasaan. Itu berarti
sifat memerintah berdasarkan pengalaman, dan sifat ra
sional melepaskan diri dengan sungguh-sungguh. Itu berar
ti suatu keterbukaan dan kemungkinan-kemungkinan yang
berbeda dari dogma, kepalsuan, dan anggapan final dari
kebenaran (Friedmann, 1990:189).
Karya-karya penting dari James antara lain berjudul: (1)
The Meaning of Truth, dan (2) Varieties of Religious Experience.
John Dewey (1859-1952)

Dewey termasuk salah satu peletak realisme dalam hukum


yang penting. Sebagaimana dikutip oleh Friedmann (1990:
190) dari artikel Dewey berjudul Logical Method of Law, (10
Cornell L.Q. 17) inti ajaran Dewey adalah bahwa logika
bukan berasal dari kepastian-kepastian dari prinsip-prinsip
teoretis, seperti silogisme, tetapi suatu studi tentang ke
rnungkinan-kemungkinan. Logika adalah teori tentang pe
nyelidikan mengenai akibat-akibat yang mungkin terjadi,
suatu proses dalam mana prinsip umum hanya bisa dipakai
sebagai alat yang dibenarkan oleh pekerjaan yang diker
jakan, Kalau diterapkan pada proses hukum, ini berarti
bahwa prinsip-prinsip umumnya telah ditetapkan sebelum
nya harus dilepaskan untuk logika yang lebih eksperirnen
tal dan luwes. Ahli hukum tidak mengambil konklusi-kon
klusinya dari prinsip-prinsip umum. Ia mulai dengan ke138

yang berlaku di masyarakat


dan menyesuaikan
putusan
hakim itu dengan kepentingan umum.
Cardozo beranggapan,
pelbagai kekuatan sosial mem
punyai pengaruh instrumental
terhadap pembentukan
hu
kum, misalnya, logika, sejarah, adat-istiadat, kegunaan, dan
standar moralitas yang telah diakui. Ia tidak menerima
pendapat bahwa hukum merupakan
suatu lembaga yang
tidak mempunyai segi umum dan kesatuan, sehingga ha
nya terdiri dari unsur-unsur yang terisolasikan atas dasar

urutan yang kacau. Cardozo berpendapat, adanya standar


standar yang diakui masyarakat serta pola nilai-nilai objek
tif merupakan suatu tanda adanya kesatuan serta konsisten
si dalam hukum, walaupun adanya keputusan-keputusan
subyektif dari para hakim tidak dapat dicegah dalam se
mua kasus yang dihadapi (Soekanto, 1985: 33).
Menurut Cardozo, perkembangan hukum sebagai gejala
sejarah ditentukan oleh perubahan-perubahan dalam masya
rakat, serta pandangan masyarakat mengenai adat-istiadat
dan moralitas. Ia beranggapan, para hakim dan legislator
harus senantiasa mempertimbangkan kondisi-kondisi sosial
serta masalah-masalah sosial dalam pembentukan hukum.
Prinsip-prinsip sosiologis, menurut Cardozo dalam buku
nya The Nature of the Judicial Process (1921), harus senantiasa
dipergunakan, agar hukum selalu serasi dengan kebutuhan
kebutuhan sosial dan cita-cita tertib sosial yang kontem
porer. Bagi Cardozo, hukum harus menyesuaikan diri de
ngan perubahan-perubahan dalam masyarakat, sedangkan
para legislator harus mendapatkan pengetahuan mengenai
perubahan dari pengalaman serta studi terhadap kehidupan
maupun pencerminannya (Soekanto, 1985: 33).
Prinsip-prinsip
yang dikemukakan tersebut tercermin
pula dad pernyataan Cardozo, sebagaimana dikutip oleh
Denning (1955: 65):
My duh) as judge may be to objectify in law, not my own aspirations
and convictions and philosophies, but the aspirations and convictions
and philosophies of the men and toomen of my time. Hardly shall I
do
this well if my own sympathies and beliefs and passionate devotions
are with a time that is past (Mertokusumo, 1991: 159).

140

kelakuan para hakim. Oleh karena itu, dengan melihat


norma-norma hukum itu dapat juga diramalkan ten tang
kelakuan seorang hakim di masa depan, walaupun ramalan
ini hanya berlaku dalam batas tertentu (Huijbers, 1988: 179).
Tulisan dari Frank antara lain berjudul: (1) Law and the
Modern Mind, dan (2) Courts on Trial.

2. Realisme Skandinavia
Tokoh-tokoh utama Realisme Skandinavia antara lain ada
lah Axel Hagerstrom, Olivecrona, Ali Ross, H.L.A. Hart,
Julius Stone, dan John Rawls.

Axel Hagerstrom (1868-1939)


Hagerstorm, seorang sarjana Swedia, menyelidiki asas-asas
hukurn yang berlaku pada jaman Romawi. Ia melihat bah
wa rakyat Romawi menaati hukum secara irasional, ber
dasarkan
bayangan yang bersifat magis atau ketakutan
pada tahyul. [adi, segalanya bersifat metafisis, dan segala
pikiran metafisis, menurut Hagerstrom, adalah khayalan

belaka.
Hagerstorm menyatakan bahwa hukurn seharusnya di
selidiki dengan bertitik tolak pada data ernpiris, yang dapat
ditemukan dalarn perasaan
psikologis. Adapun
yang di
maksud dengan perasaan psikologis ini adalah rasa wajib,
rasa kuasa dalam mendapat untung, rasa takut akan reaksi
dari lingkungan, dan sebagainya (Huijbers, 1988: 181).
Tulisan Hagerstorm antara lain berjudul Inquiries into the
Nature of Law and Morals.

Karl Olivecrona (1897-1980)


Olivecrona (ahli hukurn Swedia) rnenyarnakan hukurn de
ngan perintah-perintah yang bebas (independent imperatives).
Menurutnya, adalah keliru untuk rnenganggap hukum se
bagai perintah dari seseorang manusia, sebab tidak rnung
kin ada manusia yang dapat rnernberikan semua perintah
yang terkandung dalam hukum itu. la juga menolak

untuk
142

nitas. Tahapan ini baru diterapkan


apabila orang mulai
takut akan paksaan, sehingga selanjutnya paksaan itu mulai
ditinggalkan. Ketiga, hukum adalah sesuatu yang berlaku
dan mewajibkan dalam arti yuridis yang benar. Ini terjadi

karena anggota komunitas sudah terbiasa dengan pola ke


taatan terhadap hukum. Keempat, supaya hukum berlaku,
harus ada kompetensi pada orang-orang yang mernben
tuknya.
Menurut Huijbers (1988:186-187), walaupun dalam teori
Ross terdapat unsur-unsur yang menerangkan timbulnya
peraturan-peraturan hukum tertentu, namun pada umum
nya ajarannya kurang memuaskan. Ross mau menerima
norma hukum, akan tetapi norma-norma itu ditafsirkannya
sebagai gejala psikologis belaka. Itu berarti bahwa norma
norma itu sebenarnya bukan norma-norma yang sesung
guFmya; dan juga gejala etis tidak dipahami oleh Ross. Apa
yang dilukiskan Ross tentang timbulnya hukum dapat ter
jadi juga dalam suatu gerombolan gangster, tetapi adat
suatu gerombolan gangster tidak pernah menjadi hukum.
Karya penting Ross antara lain berjudul: (1) Theorie der
Rechtsquellen, (2) Kritik der Sogenannten Praktischen
Erkentnis, (3) Towards A Realistic Jurisprudence, dan (4) On
Law and Justice.
H.L.A. Hart (lahir 1907)
Herbert Lionel Adolphus Hart mengatakan, hukum harus
dilihat, baik dari aspek ekstern maupun internnya. Oari
segi ekstern, berarti hukum dilihat sebagai perintah pe
nguasa, sebagaimana diartikan oleh Austin. Di samping itu,
ada aspek intern, yaitu keterikatan terhadap perintah dari
penguasa itu secara batiniah.
Norma-norma hukum dapat dibagi dua, yaitu norma
primer dan sekunder. Norma primer adalah norma yang
menentukan kelakuan subjek-subjek hukum, dengan me
nyatakan apa yang harus dilakukan dan apa yang dilarang.
Norma sekunder ini memastikan syarat-syarat bagi ber
lakunya norma-norma primer dan dengan demikian me-

144

Buku Hart yang terkenal berjudul: (1) The Concept of


Law, (2) Scandinavian Realism, dan (3) Law, Liberty, and
Morality.

Julius Stone
Julius Stone memandang hukum sebagai suatu kenyataan
sosial. Makna dari kenyataan sosial ini dapat ditangkap
melalui suatu penyelidikan logis-analitis, sebagaimana telah
dipraktikkan dalam mazhab hukum Austin dan kawan
kawan. Akan tetapi, niat Stone menjangkau lebih jauh lagi.
Stone bermaksud mengerjakan suatu ajaran tentang keadil
an yang menjadi ukuran bagi tata hukum yang berlaku.
Hal ini merupakan kemajuan, sebab secara tradisional da
lam mazhab hukum analitis norma-norma hukum sarna
sekali tidak dipelajari (Huijbers, 1988: 191).
Stone, yang rnulai tahun 1942 menjadi guru besar dari
the University of Sydney, kernudian rnengembangkan me
tode penyelidikan hukurn tersendiri, yang bersifat inter
disipliner, dengan mernanfaatkan hasil penelitian dalam 10gika, sejarah, psikologi, dan sosiologi. Tujuan penggunaan
tersebut semata-rnata untuk praktis belaka agar rnernudah
kan orang mempelajari atau menyelidiki hukum.
Pandangan Stone tentang hukum tidak jauh berbeda de
ngan Hart. Ia juga berpendapat bahwa hukurn harus di
bedakan dari moral. Hukum adalah sernua aturan, baik
yang mengandung aspek moral maupun tidak.
Buku karya Stone yang terpenting berjudul The Province
and Function of Law, yang kernudian dikernbangkan dalarn
tiga jilid, masing-masing berjudul: (1) Legal System and Law
yer's Reasonings, (2) Human Law and Human Justice, dan (3)
Social Dimensions of Law and
Justice.
John Rawls (lahir 1921)
Rawls adalah tokoh yang meyakini bahwa prinsip-prinsip
etika dapat rnenjadi dasar yang kuat da1am rnembangun
rnasyarakat yang adil. Rawls mengembangkan pemikiran
nya tentang rnasyarakat yang adil dengan teori keadilannya
146

konkret, sehingga peristiwa-peristiwa


berikutnya dapat di
pecahkan rnenurut norma yang telah diciptakan oleh ha
kim. Tidak rnustahil penggunaan rnetode penernuan hukurn
bebas ini akan rnenghasilkan pernecahan yang sarna seperti
rnetode-metode
yang lain. Ini adalah masalah titik tolak
cara pendekatan problematik. Seorang yang rnenggunakan
penernuan hukurn bebas tidak akan berpendirian:
"Saya
harus memutuskan dernikian karena bunyi undang-undang
adalah demikian." Ia harus rnendasarkan pada pelbagai ar
gurnen, antara lain undang-undang.
Friedmann (1990a: 148) menyebutkan
sejumlah eksponen
utama Freirechislehre, yaitu Ehrlich (1862-1922, yang dalam
buku ini dirnasukkan ke dalam penganut Sociological Juris
prudence), Starnpe, Ernst Fuchs (1859-1929), dan Herman
Isay. Sebagairnana
diungkapkan
oleh Friedmann
(19903:
148), Freirechtslehre-seperti
halnya Sociological Jurisprudence
-meragukan
kelengkapan
logika hukurn, dan mengang
gapnya sebagai fiksi atau ilusi.
Dalarn bukunya Freie Rechtsfindung (1903), Ehrlich men
dalilkan penemuan hukurn secara bebas dalarn semua, ka
sus, kecuali untuk kasus-kasus yang hukumnya sudah jelas.
Pengecualian ini, menurut Ehrlich, relatif sedikit. Stampe,
dalam bukunya Freirechisbeuiegung (1911), menuntut
agar
pengadilan berhak untuk mengubah hukurn apabila hukum
yang ada menghasilkan
suatu malapetaka urnum (Massen
kalamitat). Kemudian, Fuch mengembangkan
ajaran yang
sangat kuat ciri politiknya. Dari ajaran-ajarannya
dapat di
sebutkan an tara lain ajaran tentang hak pengadilan untuk
menguji keabsahan undang-undang,
dan ajaran yang di
kernbangkan oleh Mahkamah Agung rnengenai risiko ber
sarna antara rnajikan dan karyawan. Selanjutnya, Herman
Isay, rnenolak penemuan hukum berdasarkan suatu proses
rasional. Menurutnya, penemuan hukum merupakan suatu
proses intuitif yang dituntut oleh perasaan- perasaan dan
prasangka-prasangka
tertentu, sedangkan
alasan logis di
gantikan sebagai pemikiran sesudahnya
untuk proses na
luriah itu, dan dipakai untuk rneyakinkan
akan adanya
dunia yang lain.
148