Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN KEUANGAN SEKTOR PUBLIK

Laporan keuangan organisasi sektor publik merupakan komponen


penting untuk menciptakan akuntabilitas sektor publik. Laporan Keuangan
Sektor publik merupakan representasi informasi keuangan dari transaksitransaksi yang dilakukan oleh suatu entitas sektor publik. Informasi
keuangan yang terdapat dalam laporan ini yang nantinya akan digunakan
oleh pihak-pihak yang berkepentingan, baik itu internal maupun eksternal.
Dilihat dari sisi pengguna eksternal, laporan keuangan sebagai alat
pengendalian dan evaluasi kinerja manajerial organisasi Sektor Publik.
Adanya tuntutan yang semakin besar terhadap pelaksanaan akuntabiltas
publik menimbulkan implikasi bagi manajemen sektor publik untuk
memberikan informasi kepada publik, salah satunya adalah informasi
akuntansi yang berupa laporan keuangan.
PERBEDAAN LAPORAN KEUANGAN SEKTOR PUBLIK DENGAN
SEKTOR SWASTA
Sebagian besar perbedaan dan persamaan laporan keuangan
sector public dan swasta adalah sebagai berikut:
Perbedaan
Departemen Laporan

Laporan

Keuangan

Pemerintah
Swasta
Fokus financial dan politik
Fokus financial
Kinerja diukur secara financial dan Sebagian besar
non-financial
Pertanggungjawaban

secara financial
kepada Pertanggungjawaban

parlemen dan masyarakat luas


Berfokus pada bagian organisasi
Melihat

ke

masa

kinerja

depan

Sektor

diukur
kepada

pemegang saham dan kreditur


Berfokus kepada organisasi secara

keseluruhan
secara Tidak dapat melihat masa depan

detail
Aturan pelaporan ditentukan oleh

secara detail
Aturan pelaporan ditentukan oleh

departemen keuangan

undang-undang, standar akuntansi,

Laporan diperiksa oleh treasury

pasar modal, dan praktik akuntansi


Laporan diperikssa oleh auditor

Cash accounting
Persamaan

independen
Accrual accounting

Dokumen-dokumen sumber
Berperan sebagai hubungan masyarakat (public relations)

A. Tujuan Umum dari Laporan Keuangan Sektor Publik


1. Kepatuhan dan Pengelolaan (compliance and stewardship)
Laporan keuangan digunakan untuk memberikan jaminan
kepada pengguna laporan keuangan dan pihak otoritas penguasa
bahwa pengelolaan sumber daya telah dilakukan sesuai dengan
ketentuan hukum dan peraturan lain yang telah ditetapkan.
2. Akuntabilitas dan Pelaporan Retrospektif (accountability
and retrospective reporting).
Laporan
keuangan
digunakan

sebagai

bentuk

pertanggungjawaban kepada publik, untuk memonitor kinerja dan


mengevaluasi manajemen, memberikan dasar untuk mengamati
trend antar kurun waktu, pencapaian atas tujuan yang telah
ditetapkan, dan membandingkannya dengan kinerja organisasi lain
yang sejenis jika ada, serta memungkinkan pihak luar untuk
memperoleh informasi biaya atas barang dan jasa yang diterima dan
untuk menilai efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya
organisasi.
3. Perencanaan

dan

Informasi

Otorisasi

(planning

and

authorization information)
Laporan

keuangan

berfungsi

untuk

memberikan

dasar

perencanaan kebijakan dan aktivitas di masa yang akan datang dan


untuk

memberikan

informasi

pendukung

mengenai

otorisasi

penggunaan dana.
4. Kelangsungan Organisasi (viability)
Laporan keuangan berfungsi untuk membantu pembaca
dalam menentukan apakah suatu organisasi atau unit kerja dapat
meneruskan menyediakan barang dan jasa (pelayanan) di masa yang
akan datang.
5. Hubungan Masyarakat (public relation)

Laporan keuangan berfungsi untuk memberikan kesempatan


kepada organisasi, untuk mengemukakan pernyataan atas prestasi
yang telah dicapai kepada pemilik yang dipengaruhi karyawan dan
masyarakat serta sebagai alat komunikasi dengan public dan pihakpihak lain yang berkepentingan.
6. Sumber Fakta dan Gambaran (source of facts and figures)
Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi
kepada kelompok kepentingan yang ingin mengetahui organisasi
secara lebih mendalam.
B. TUJUAN LAPORAN KEUANGAN MENURUT SFAC NO 4

Sebagai bagian dari usaha untuk membuat rerangka konseptual,

Financial

Accounting

Standards

Board

(FASB,

1980)

mengeluarkan

Statement of Financial Accounting Concepts No.4 (SFAC 4) mengenai


tujuan laporan keuangan untuk organisasi nonbisnis/nirlaba (objectives of
financial

reporting

by

nonbusiness

organizations).

Tujuan

laporan

keuangan organisasi nirlaba dalam SFAC 4 tersebut adalah:


1.
Laporan keuangan organisasi nonbisnis hendaknya dapat
memberikan

informasi

yang

bermanfaat

bagi

penyedia

dan

calon

penyedia sumber daya, serta pemakai dan calon pemakai lainnya dalam
pembuatan keputusan yang rasional mengenai alokasi sumber daya
organisasi.
2. Memberikan informasi untuk membantu para penyedia dan calon
penyedia sumber daya, serta pemakai dan calon pemakai lainnya dalam
menilai

pelayanan

yang

diberikan

oleh

organisasi

nonbisnis

serta

kemampuannya untuk melanjutkan member pelayanan tersebut.


3. Memberikan informasi yang bermanfaat bagi penyedia dan calon
penyedia sumber daya, serta pemakai dan calon pemakai lainnya dalam
menilai kinerja manajer organisasi nonbisnis atas pelaksanaan tanggung
jawab pengelolaan serta aspek kinerja lainnya.
4. Memberikan informasi mengenai

sumber

daya

ekonomi,

kewajiban, dan kekayaan bersih organisasi, serta pengaruh dari transaksi,


peristiwa dan kejadian ekonomi yang mengubah sumber daya dan
kepentingan sumber daya tersebut.
5. Memberikan informasi mengenai kinerja organisasi selama satu
periode.

Pengukuran

secara

periodic

atas

perubahan

jumlah

dan

keadaan/kondisi sumber kekayaan bersih organisasi nonbisnis serta


informasi

mengenai

usaha

dan

hasil

pelayanan

organisasi

secara

bersama-sama yang dapat menunjukkan informasi yang berguna untuk


menilai kinerja.
6. Memberikan

informasi

mengenai

bagaimana

oganisasi

memperoleh dan membelanjakan kas atau sumber daya kas, mengenai


utang dan pembayaran kembali utang, dan mengenai factor-faktor lain
yang dapat mempengaruhi likuiditas organisasi.
7. Memberikan penjelasan dan interprestasi untuk membantu
pemakai dalam memahami informasi keuangan yang diberikan.

C. Kebutuhan Informasi Pemakai Laporan Keuangan Pemerintah


Kebutuhan informasi pemakai laporan keuangan pemerintah
tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Masyarakat pengguna pelayanan publik membutuhkan
informasi atas biaya, harga, dan kualitas pelayanan yang
diberikan.
2. Masyarakat pembayar pajak dan pemberi bantuan ingin
mengetahui keberadaan dan penggunaan dana yang telah
diberikan. Publik ingin mengetahui apakah pemerintah
melakukan etaatan fiskal dan ketaatan pada peraturan
perundangan
dilakukan.
3. Kreditor dan

atas

pengeluaran

investor

pengeluaran

membutuhkan

informasi

yang
untuk

menghiitung tingkat risiko, likuiditas, dan solvabilitas.


4. Parlemen dan kelompok politik memerlukan informasi
keuangan untuk melakukan fungsi pengawasan, encegah
terjadinya

laporan

yang

bias

atas

kondisi

keuangan

pemerintah, dan penyelewengan keuangan negara.


5. Manajer publik membutuhkan informasi akuntansi sebagai
komponen sistem informasi manajemen untuk membantu
perencanaan dan pengendalian organisasi, pengukuran
kinerja, dan membandingkan kinerja organisasi antar kurun
waktu dan dengan organisasi lain yang sejenis.
6. Pegawai membutuhkan informasi atas gaji dan manajemen
kompensasi.

2.1

Teori Pelaporan dalam Sektor Publik


Ada 2 jenis pelaporan yang dikenal dalam Sektor Publik,
yaitu Pelaporan Kinerja dan Pelaporan Keuangan.
Pelaporan Kinerja, merupakan refleksi kewajiban
mempresentasikandan
aktivitas

serta

melaporkan
sumber

kinerja

daya

untuk

keseluruhan

yang

harus

dipertanggungjawabkan. Pelaporan ini juga merupakan wujud


dari

proses

akuntanbilitas.

Entitas

yang

berkewajiban

(sebaiknya) untuk membuat laporan ini antara lain adalah


pemerintah

pusat,

pemerintah

daerah,

unit

kerja

pemerintahan, unit pelaksana teknis, LSM, partai politik


(ParPol), Yayasan dan organisasi kemasyarakatan lainnya.
Pelaporan Keuangan, merupakan refleksi dari posisi keuangan
serta transaksi yang telah dilakukan suatu organisasisektor
public dalam kurun waktu tertentu.
2.1.1 Laporan Keuangan di Organisasi Sektor Publik
2.1.1.1
Tujuan Umum Laporan Keuangan Untuk
Organisasi Sektor Publik
Bagi

organisasi

Sektor

Publik

seperti

halnya

pemerintahan, tujuan umum laporan keuangan adalah :


Untuk memberikan informasi yang digunakan dalam
pembuatan keputusan ekonomi, sosial, dan politik
serta

sebagai

bukti

pertanggungjawaban

(accontability) dan pengelolaan (stewardship).


Untuk memberikan informasi yang digunakan untuk
2.1.1.2

mengevaluasi kinerja manajerial dan organisasional.


Tujuan Khusus Laporan Keuangan Untuk

Organisasi Sektor Publik


Tujuan khusus dari pelaporan

keuangan

untuk

organisasi Sektor Publik adalah menyediakan informasi yang


relevan dalam pengambilan keputusan dan menunjukkan
akuntanbilitas entitas atas sumber daya yang dipercayakan
dengan cara :

Menyediakan

alokasi, dan penggunaan sumber daya keuangan.


Menyediakan
informasi
mengenai
bagaimana
enntitas

informasi

mendanai

kasnya.
Menyediakan

mengenai

aktivitasnya

informasi

yang

sumber

dan

daya,

memenuhi

berguna

untuk

mengevaluasi kemampuan entitas dalam membiayai


aktivitasnya

dan

memenuhi

kewajiban

serta

komitmennya.
Menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan

suatu entitas dan perubahan yang terjadi.


Menyediakan informasi secara kesuluruhan yang
berguna

dalam

mengevaluasi

kinerja

entitas

menyangkut biaya jasa, efisiensi, dan pencapaian


tujuan.
2.1.2 Komponen- komponen

Laporan

Keuangan

Sektor

Publik
Penyajian Laporan Keuangan Terdiri dari :
2.1.2.1
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Atau

biasa dikenal juga dengan Neraca, adalah

laporan keuangan yang menyajikan posisi aktiva, utang,


dan modal pemilik selama suatu periode tertentu. Secara
minimumnya, laporan keuangan harus memasukkan akunakun yang menyajikan jumlah berikut :
Properti, Pabrik, dan Peralatan
Aktiva tidak berwujud
Aktiva Keuangan [selain pada point (d), (f), dan
(h)
Investasi yang diperlakuakan dengan metode
ekuitas
Persediaan
Pemulihan transaksi non-pertukaran, termasuk
pajak dan transfer
Piutang dari transaksi Pertukaran
Kas dan setara kas
Utang pajak dan transfer
Utang karena transaksi pertukaran
Cadangan (provision)
Kewajiban tidak lancer

Partisipasi minoritas
Aktiva atau ekuitas neto

2.1.2.2

Laporan Kinerja keuangan (Lapoan Surplus-

Defisit)
Atau disebut juga Laporan Pendapatan dan Biaya,
Laporan Surplus-Rugi, Laporan Operasi atau yang lebih
biasa

digunakan,

Laporan

laba-Rugi,

adalah

laporan

keuangan yang menyajikan pendapatan dan biaya selama


satu

periode

minimum

tertentu.

Laporan

ini

harus

mencakup

:
Pendapatan dari aktivitas operasi
Surplus atau defisit dari aktivitas Operasi
Biaya Keuangan (Biaya pinjaman)
Surplus atau defisit neto saham dari asosiasi
dan joint venture yang menggunakan metode

2.1.2.3

ekuitas
Surplus atau defisit dari aktivitas biasa
Pos-pos luar biasa
Saham partisipasi minoritas dari surplus atau

defisit neto
Surplus atau defisit neto untuk periode
Laporan Perubahan Aktiva atau Ekuitas Neto
Menggambarkan kenaikan ataupun penurunan

kekayaan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang


diadopsi dan harus diungkapkan pada laporan keuangan.
Perubahan aktiva atau ekuitas neto secara keseluruhan
menyajikan

total

surplus/defisit

neto

selama

periode

tertentu. Pendapatan dan juga biaya lainnya diakui secara


langsung sebagai perubahan aktivaekuitas netodari tiap
kontribusi

dan

distribusi

kepada

pemilik

dalam

kapasitasnya sebagai pemilik.


Laporan ini mencakup :
a. Kontribusi oleh pemilik dan distribusi kepada
pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik

b. Saldo akumulasi surplus dan defisit pada awal


periode, pada tanggal pelaporan, dan pergerakan
selama periode
c. Pengungkapan
secara

komponen

terpisah

dan

asset/ekuitas

rekonsiliasi

antara

neto
nilai

tercatat setiap komponen asset/ekuitas neto pada


awal dan akhir periode yang mengungkapkan
setiap perubahan.
Laporan Arus Kas
Menyajikan informasi

2.1.2.4

tentang

penerimaan

dan

pengeluaran kas selama satu periode tertentu. Penerimaan


dan pengeluaran kas diklasifikasikan menurut kegiatan
operasi, kegiatan pembiayaan, dan kegiatan investigasi.
Informasi

arus

kas

sangat

bermanfaatbagi

pemakai

laporan keuangan karena menyediakan dasar estimasi


kemampuan entitas untuk menghasilkan kas dan setara
kas, serta kebutuhan entitas untuk menggunakan arus kas
tersebut.
2.1.2.5
Catatan

Atas

Laporan

Keuangan

Sektor

Publik
Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) merupakan
bagian penting dan tak terpisahkan dari setiap laporan
keuangan yang menyajikan informasi tentang penjelasan
akun-akun laporan keuangan dalam rangka pengungkapan
yang

memadai.

CALK

bertujuan

menginformasikan

pengungkapan yang diperlukan atas laporan keuangan.


Berdasarkan PP No. 8 Tahun 2006 dan Permendagri
No. 13 Tahun 2006 Juncto Permendagri No.59 Tahun 2007,
Catatan Atas Laporan Keuangan entitas publik harus
mencakup hal-hal berikut:
1. Informasi tentang Kebijakan Fiskal/Keuangan, Ekonomi
Makro, Pencapaian Target Undang-undang APBN/Perda
APBD, serta kendala dan hambatan yang dihadapi
dalam pencapaian target.
2. Ikhtisar Pencapaian Kinerja Kerja Keuangan yang harus
mencakup:

Menguraikan

strategi

dan

sumber

daya

yang

digunakan untuk mencapai tujuan


Memberikan gambaran yang jelas tentang realisasi
dan

rencana

kinerja

keuangan

dalam

satu

pelaporan entitas pelaporan.


Menguraikan prosedur yang telah dan dijalankan
oleh manajemen agar dapat memberikan keyakinan
yang beralasan bahwa informasi kinerja keuangan
yang dilaporkan itu relevan.
3. Kebijakan Akuntansi yang memuat :
a. Entitas Pelaporan
b. Entitas
akuntansi
yang

mendasari

penyusunan laporan keuangan


c. Basis pengukuran yang digunakan dalam
penyusunan laporan keuangan
d. Kesesuaian
kebijaka-kebijakan
yang

diterapkan

ketentuan

dengan

pernyataan

Standar

akuntansi
ketentuanAkuntansi

Pemerintahan oleh suatu entitas pelaporan


e. Setiap kebijakan akuntansi tertentu yang
diperlukan
keuangan
4. Penjelasan Tentang

untuk
Perkiraan

memahami

laporan

Laporan

Realisasi

Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas


i. Laporan Realisasi Anggaran
Pendapatan
Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan
persentase) atas selisih lebih/kurang antara
realisasi dengan anggaran pendapatan.
Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan
persentase)

atas

selisih

antara

pendapatanperiode berjalan dan pendapatan


periode yang lalu
Penjelasan
atas

pendapatan
Belanja

masing-masing

jenis

Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan


persentase) atas selisih lebih/kurang antara
realisasi dengan anggaran belanja.
Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan
persentase) atas selisih antara belanja periode
berjalan dan belanja periode yang lalu
Penjelasan atas masing-masing jenis belanja.

Transfer
Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan
persentase) atas selisih lebih/kurang antara
realisasi dengan anggaran transfer.
Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan
persentase) atas selisih antara transfer periode

berjalan dan transfer periode yang lalu


Penjelasan atas masing-masing jenis transfer
Pembiayaan
Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan
persentase) atas selisih lebih/kurang antara

realisasi dengan anggaran pembiayaan.


Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan
persentase) atas selisih antara pembiayaan
periode berjalan dan pembiayaan periode yang

lalu.
Penjelasan

atas

masing-masing

jenis

pembiayaan.
ii. Neraca
Pengungkapan akun-akun neraca yaitu :
Aset Lancar, menjelaskan akun-akun yang ada
pada pos atau bagian aset lancer seperti kas di
Bendahara Pengeluaran dan Penerimaan, Piutang
Investasi Jangka Panjang, menjelaskan akun-akun
seperti Penyertaan modal pemerintahan, investasi
dalam obligasi, dan Pinjaman kepada Perusahaan
Daerah
Aset Tetap, untuk seluruh akun yang ada dalam
kelompok ini diungkapkan dasar pembukuannya.
Juga harus diungkapkan (jika ada) perbedaan
pencatatan perolehan aset tetap yang terjadi

antara

bagian

keuangan

dengan

bagian

pengelola/pencatat aset. Daftar aset tetap juga


harus dilampirkan dalam laporan keuangan.
Aset Lainnya, menjelaskan akun-akun seperti
Tagihan Penjualan Angsuran, Tuntutan Ganti Rugi,
dan Kemitraan dengan pihak ketiga.
Kewajiban Jangka Pendek, menjelaskan akun-akun
seperti Uang Muka dari Kas Umum Negara (KUN),
Pendapatan yang Ditangguhkan, Bagian Lancar
Utang Jangka Panjang dan Utang Bunga
Kewajiban Jangka Panjang, menjelaskan

akun-

akunseperti Utang Dalam Negeri Obligasi, Utang


Dalam Negeri Sektor Perbankan, dan Utang Luar
Negeri
Ekuitas
seperi

Dana

Lancar,

Cadangan

menjelaskan

Piutang

dan

akun-akun
Cadangan

Persediaan
Ekuitas Dana Investasi, menjelaskan akun-akun
seperti

Diinvestasikan

jangka

Panjang

dan

Diinvestasikan Dalam Aset Tetap.


iii. Laporan Arus Kas
Arus Kas dari Aktivitas Operasi, menjelaskan
penerimaan dan pengeluaran kas (arus kas masuk
dan

keluar)

dari

aktivitas

operasi

seperti

Pendapatan Pajak dan belanja Pegawai.


Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset
Keuangan,

menjelaskan

penerimaan

Nondan

pengeluaran kas (arus kas masuk dan keluar) dari


aktivitas Investasi Aset Non-Keuangan seperti
Pendapatan Penjualan Aset tetap dan Belanja Aset
Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan, menjelaskan
penerimaan dan pengeluaran kas (arus kas masuk
dan keluar) dari aktivitas Pembiayaan

yang

mengakibatkan perubahan dalam jumlah dan

komposisi

ekuitas

dan

pinjaman

pemerintah

sehubungan dengan defisit/surplus anggaran.


Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran, penerimaan
dan pengeluaran kas yang tidak mempengaruhi
anggaran pemerintah yaitu perhitungan pihak
ketiga yang berasal dari potongan SPM Khusus
seperti potongan iuran Taspen, Askes, Jamsostek,
dan potongan PPN/Pajak lainnya yang menjadi hak
pemerintah pusat.
iv. Pengungkapan

Lainnya,

berisi

beberapa

hal

yang

mempengaruhi laporan keuangan antara lain:


Penggantian manajemen pemerintahan selama
tahun berjalan
Kesalahan manajemen pemerintahan lalu yang
telah dikoreksi manajemen pemerintah yang baru.
Kontijensi, yaitu kondisi yang belum memiliki
kepastian pada tanggal neraca. Hal ini harus
diungkapkan pada catatan atas neraca
Komitmen, yaitu bentuk perjanjian dengan pihak
ketiga yang hatus diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan.
Penggabungan atau

pemekaran

entitas

tahun

berjalan
Kejadian yang mempunyai dampak social, seperti
pemogokan yang harus diatasi pemerintah
Kejadian
penting
setelah
tanggal
neraca
(subsequent

event)

yang

berpengaruh

secara

signifikan pada akun yang tersaji di neraca.


2.2
Sistem Pelaporan Keuangan Sektor Publik
2.2.1 Dasar kas (cash base)
Sistem akuntansi dasar kas hanya mengakui arus kas masuk
dan arus kas keluar. Akun keuangan akhirnya akan dirangkum dalam
buku kas. Laporan keuangan tidak bisa dihasilkan apabila tidak ada
data tentang aktiva dan kewajiban. Data yang ada hanyalah
perimbangan kas. Penjualan hanya dicatat saat kas diterima,

sehingga tidak ada pos piutang. Pembelian dicatat saat kas


dibayarkan sehingga tidak ada utang. Penyesuaian saham tidak
dilakukan, karena akun tidak memerhatikan pencatatan, dimana
yang diperhatikan hanya kenyataan bahwa kas dibayar untuk
pembelian (sehingga tidak ada gambaran tentang penutupan
saham/closing stock figure.

2.2.2 Dasar akrual (accrual base)


Definisi konsep akuntansi akrual sebagaimana tercantum
pada SSAP 2 adalah sebagai berikut:
Penerimaan

dan

biaya

bertambah

(diakui

karena

diperoleh atau dimasukkan bukan sebagai uang yang diterima


atau dibayarkan) dalam jumlah yang sesuai satu sama lain,
dapat dipertahankan atau dianggap benar, dan berkaitan
dengan rekening laba dan rugi selama periode bersangkutan.
Penerapan dasar akrual akan sangat memengaruhi sistem
akuntansi yang digunakan seperti penambahan pos-pos akrual dan
berbagai

formulir

pembukuan.

Penerapan

dasar

akrual

lebih

mengutamakan laporan yang dihasilkan untuk kepentingan kreditor


dan debitor. Pengetahuan yang lengkap tentang siapa yang
meminjami uang dan berapa banyak, serta pada saat yang sama,
siapa yang dipinjami dan berapa banyak. Oleh karena itu,
organisasi sektor publik akan membuat catatan yang sangat teliti
dari para debitor dan kreditor. Jadi, sistem akuntansi yang dibangun
dapat dipilah mana yang berorientasi utang dan mana yang
berorientasi piutang.
2.2.3 Accounting Fund (Akuntansi Dana)
Akuntansi dana merupakan salah satu alternative system
akuntansi di sektor public yang dikembangkan dari dasar kas dan
prosedur pengendalian anggaran. Di sector swasta, akuntansi dana

tidak begitu popular karena kecilnya dana kas yang disimpan.


Namun, bagi sector public dana kas sector publik cukup penting dan
berpengaruh terhadap pengambilan keputusan.besarnya dana kas
sangat mempengaruhi anggaran organisasi sector public, sehingga
sistem akuntansi lebih memprioritaskan pengelolaan dana.
2.3
Siklus Akuntansi Keuangan Sektor Publik
2.3.1 Transaksi
Merupakansuatu kegiatan yang dapat mengubah posisi
keuangan suatu entitas dan pencatatannya memerlukan data,
bukti atau dokumen pendukung dalam kegiata operasi suatu
entitas (jual-beli). Pencatatan transaksi akuntansi adalah :

Pemegang Kas Bendahara Rutin (Belanja Administrasi


Umum,

Belanja

Operasi

dan

Pemeliharaan

Sarana

dan

Prasarana Fisik
Pemegang Kas Bendahara Proyek (Belanja Modal)
Pemegang Kas Bendahara Gaji
Pemegang Kas Bendahara Penerima

Siklus Akuntansi
Dokumen

Catatan

Laporan
Peringkasan

Dokumen
Transaksi

Buku
J urnal
Pencatatan & Penggolongan

Buku
Pembantu
Bukti Penerimaan
Kas

Buku J urnal
Penerimaan Kas

Bukti Pengeluaran
Kas

Buku J urnal
Pengeluaran Kas

Bukti Memorial

Buku J urnal Umum

Laporan

Buku
Besar

Kumpulan
Rekening
(Ringkasan dan
Rincian)

Keuangan
Daftar Saldo
Kertas Kerja
Penyesuaian

Laporan Realisasi Anggaran


Neraca
Laporan Arus Kas
Catatan atas Lap Keuangan
Laporan Kinerja Keuangan
Laporan Perubahan Ekuitas

Kebijakan Akuntansi

Gambar 2.3.1 Siklus Akuntansi

Jenis Transaksi menurut jenisnya terbagi menjadi :

Transaksi Kas, transaksi yang mengakibatkan pertambahan


atau pengurangan kas. Contohnya Penerimaan Piutang,
Pembayaran Belanja Gaji, dll.

Transaksi

Non-kas,

transaksi

yang

mengakibatkan

perubahan pada aset, utang, pendapatan, belanja tapi


tidak mempengaruhi kas. Contohnya penerimaan aktiva
tetap dari Donatur, Pembebasan Utang.
2.3.2 Analisis Bukti Transaksi
Dalam
pendukung

setiap
yang

transaksi

berisi

selalu

informasi

disertai

tentang

dengan

kegiatan

bukti

transaksi

tersebut. Dari bukti transaksi ini, nantinya akan dianalisis kemudian


digunakan untuk dasar pencatatan.
2.3.3 Mencatat Data Transaksi
Pencatatan data transaksi dilakukan oleh bendahara dalam
jurnal
2.3.4 Mengelompokkan dan Mengikhtisarkan Data yang
dicatat (Posting)
Sama hal-nya dengan posting pada perusahaan swasta,
posting dalam hal ini juga mengelompokkan berdasarkan daftar
nama akun yang ada pada buku besar.
2.3.5 Penerbitan Laporan dan Catatannya
Selama

satu

periode

akuntansi,

transaksi

dicatat

dan

dikelompokkan dalam buku besar yang kemudian sesuai dengan


catatan

tersebut,

disampaikan

pada

dibuat

laporan

pihak-pihak

keuangan Sektor Publik

keuangan

yang

yang

berkepentingan.

nantinya
Laporan

yang telah disusun tersebut kemudian

dianalisi untuk menilai kebenaran dan reliabilitasnya.


2.4
Teknik Pelaporan Keuangan Sektor Publik
2.4.1 Tahap pencatatan dan penggolongan
yaitu kegiatan pengidentifikasian dan pengukuran dalam
bentuk bukti transaksi dan bukti pencatatan yang dicatat
dalam buku jurnal. Jurnal adalah media pencatatan transaksi
secara

urut

waktu

(kronologis).

Manfaat

jurnal

adalah

menggambarkan pos-pos yang terpengaruh oleh transaksi,


dapat memberikan gambaran secara kronologis, jurnal dapat
dibagi menjadi berberapa jurnal khusus yang memungkinkan
pengerjaan

oleh

beberapa

orang

dalam

waktu

yang

bersamaan, apabila terjadi kesalahan maka akan lebih mudah


menemukannya dalam jurnal daripada mencari pada buku
besar.
2.4.2 Tahap pengikhtisaran
transaksi-transaksi yang sudah dicatat dan digolongkan
dalam jurnal, diringkas dan dibukukan dalam rekeningrekening buku besar dalam jangka waktu tertentu. Buku besar
dibagi menjadi buku besar umum dan buku besar pembantu.
Adapun fungsi dari buku besar umum adalah mengumpulkan
data

transaksi

divalidasi,

kemudian

mencatat

mengklasifikasikannya

penyesuaian

terhadap

akun

untuk
untuk

mempersiapkan laporan keuangan.


2.4.3 Tahap pelaporan
data akuntansi yang tercatat dalam rekening-rekening
buku besar akan disajikan dalam bentuk laporan keuangan.
Penyederhanaan penyusunan laporan keuangan biasanya
dilakukan melalui neraca lajur atau kertas kerja.
Sistem pencatatan dalam akuntansi terbagi menjadi dua
yaitu single book keeping entry dan double book keeping
entry. Single book keeping entry adalah sistem pencatatan
yang hanya melibatkan satu buku besar untuk pencatatan
seluruh transaksi yang terjadi. Sedangkan, double book
keeping entry adalah sistem pencatat transaksi pada lebih
dari satu akun buku besar. Pemilihan sistem pencatatan ini
tergantung pada karakteristik entitas, pada entitas yang tidak
begitu kompleks tidak terlalu memerlukan double book
keeping entry.
2.5

Contoh Laporan Keuangan Sektor Publik dan Unsur-

Unsurnya di Organisasi Sektor Publik


2.5.1 Pemerintah Pusat
Peraturan
pemerintahan

pemerintah
merupakan

tentang

standar

pelaksanaan

akuntansi

Undang-undang

Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara pasal 32 ayat


(2) yang menyatakan bahwa standar akuntansi disusun oleh

suatu komite standar yang independen yang di tetapkan


dengan

Peraturan

Pemerintah

setelah

mendapat pertimbangan dari badan

terlebih

dahulu

pemeriksa keuangan.

Menurut Standar Akuntansi Pemerintahan yang dijabarkan


dalam Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 dan UU No. 1
Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara mensyaratkan
setiap

instansi

pemerintahan

harus

menyusun

laporan

keuangan sebagai berikut: Laporan Keuangan Pemerintah


terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, Laporan
Arus Kas, dan disertai Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK).
Pihak yang mempunyai tanggung jawab untuk menyusun
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat adalah Menteri Keuangan
selaku pengelola fiscal yang akan
2.5.1.1 Laporan Realisasi Anggaran
Laporan

Realisasi

Anggaran

menggambarkan

perbandingan antara anggaran dengan realisasinya dalam


satu periode pelaporan. Di dalam Laporan Realisasi Anggaran
mengungkapkan kegiatan keuangan pemerintah pusat/daerah
yang menunjukkan ketaatan terhadap APBN/APBD. Laporan
Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi dan
penggunaan

sumber

daya

ekonomi

yang

dikelola

oleh

pemerintah pusat/daerah dalam satu periode pelaporan.


Laporan Realisasi Anggaran menyajikan sekurang-kurangnya
unsur-unsur sebagai berikut:
a)

pendapatan;

b)

belanja;

c)

transfer;

d)

surplus/defisit;

e)

pembiayaan;

f)

sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran

Gambar 2.5.1.1 contoh Laporan Realisasi Anggaran PemDa

2.5.1.2 Laporan Posisi Keuangan


Laporan

posisi

keuangan

menggambarkan

posisi

keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban,


dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. Neraca tingkat
pemerintah pusat, merupakan konsolidasi dari neraca tingkat
kementerian/lembaga.

Setiap

entitas

pelaporan

mengklasifikasikan asetnya dalam aset lancar dan nonlancar

serta mengklasifikasikan kewajibannya Neraca mencantumkan


sekurang-kurangnya pos-pos 39 berikut:
a)

kas dan setara kas;

b)

investasi jangka pendek;

c)

piutang pajak dan bukan pajak;

d)

persediaan;

e)

investasi jangka panjang;

f)

aset tetap;

g)

kewajiban jangka pendek;

h)

kewajiban jangka panjang;

i)

ekuitas dana.

2.5.1.3 Laporan Arus Kas


Laporan Arus Kas

menyajikan

informasi

mengenai

sumber, penggunaaan, perubahan kas dan setara kas selama


satu periode akuntansi, dan saldo kas dan setara kas pada
tanggal pelaporan. Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan
berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan,
pembiayaan, dan nonanggaran. Penyajian Laporan Arus Kas
dan pengungkapan yang berhubungan dengan arus kas diatur
dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 03
tentang Laporan Arus Kas.

Gambar 2.5.1.3 Laporan Arus Kas DKI Jakarta

2.5.1.4 Catatan Atas Laporan Keuangan


Catatan

atas

Laporan

Keuangan

disajikan

secara

sistematis. Setiap pos dalam Laporan Realisasi Anggaran,

Neraca, dan Laporan Arus Kas harus mempunyai referensi


silang dengan informasi terkait dalam Catatan atas Laporan
Keuangan.

Catatan

atas

Laporan

Keuangan

meliputi

penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos
yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan
Laporan Arus Kas. Termasuk pula dalam Catatan atas Laporan
Keuangan adalah penyajian informasi yang diharuskan dan
dianjurkan

oleh

Standar

Akuntansi

Pemerintahan

serta

pengungkapan-pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk


penyajian

yang

wajar

atas

laporan

keuangan,

seperti

kewajiban kontinjensi dan komitmen-komitmen lainnya. Dalam


keadaan tertentu masih dimungkinkan untuk mengubah
susunan penyajian atas pos-pos tertentu dalam Catatan atas
Laporan Keuangan. Misalnya informasi tingkat bunga dan
penyesuaian nilai wajar dapat digabungkan dengan informasi
jatuh tempo surat-surat berharga.
Selain mensyarat penyusunan laporan keuangan di atas,
PP SAP juga memuat prosedur yang dapat digunakan sebagai
pedoman

dalam

menyusun

dan

menyaksikan

laporan

keuangan baik bagi pemerintah pusat maupun daerah.


Dengan
pemerintah
dipahami,

adanya

SAP

pusat/daerah
relevan

,handal

maka

akan
dan

laporan

lebih

keuangan

berkualitas

dapat

(dapat

diperbandingkan).

Laporan tersebut akan diaudit terlebih dahulu oleh BPK untuk


diberikan
laporan,

opini

dalam

sebelum

rangka

disampaikan

meningkatkan
kepada

kredibilitas

para Stakeholder

antara lain: pemerintah (eksekutif), DPR/DPRD (legislatif )


,investor ,kreditor dan mesyarakat pada umumnya dalam
rangka transpaansi dan akuntanbilitas Keuangan Negara.

2.5.2 LSM
Tujuan

dari

menyediakan
keputusan,

pelaporan

informasi

di

keuangan

yang

samping

berguna

untuk

LSM

untuk

adalah

mengambil

menunjukan

akuntabilitas

organisasi serta menjaga tingkat kepercayaan sumber dana


dengan:
a. Menyediakan
b.

mengenai

sumber-sumber,

alokasi, dan penggunaan sumber daya keuangan;


Menyediakan informasi mengenai bagaimana organisasi
LSM

c.

informasi

mendanai

persyaratannya;
Menyediakan
mengevaluasi

aktivitasnya
informasi

kemampuan

dan

yang

memenuhi

berguna

organisasi

LSM

dalam
dalam

mendanai aktivitasnya dan memenuhi kewajiban serta


d.

komitmennya;
Menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan

suatu organisasi LSM dan perubahan di dalamnya; dan


e. Menyediakan informasi menyeluruh yang berguna dalam
mengevaluasi kinerja organisasi LSM dari segi biaya jasa,
efisiensi, dan pencapaian tujuan.
Laporan

keuangan

LSM

juga

peranan prediktif dan prospektif yang


informasi

yang

berguna

dalam

memainkan
menyediakan

memprediksi

banyaknya

sumber daya yang diisyaratkan untuk operasi berkelanjutan,


sumber daya yang dapat dihasilkan oleh operasi yang
berkelanjutan, dan risiko ketidakpastian di masa depan.
Laporan keuangan dapat juga menyediakan informasi kepada
pemakainya, seperti:
a. Mengindikasikan apakah sumber daya telah ditetapkan
dan

digunakan

sesuai

dengan

anggaran

yang

ditetapkan; dan
b. Mengindikasikan apakah sumber daya telah ditetapkan
dan digunakan sesuai dengan persyaratan, termasuk

batas

keuangan

yang

ditetapkan

oleh

pengambil

kebijakan di masing-masing LSM.


Untuk mencapai tujuannya, laporan keuangan LSM
harus disusun atas dasar akrual. Dengan dasar ini, pengaruh
transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat terjadinya (dan
bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar)
serta dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam
laporan keuangan periode bersangkutan.
Laporan keuangan LSM yang disusun atas dasar akrual
akan memberikan informasi kepada pemakai tidak hanya
transaksi

masa

lalu

yang

melibatkan

penerimaan

dan

pembayaran kas, tetapi juga kewajiban pembayaran kas di


masa depan. Oleh karena itu, dengan penggunaan dasar
akrual, laporan keuangan LSM dapat menyediakan jenis
transaksi masa lalu dan peristiwa lainnya yang paling berguna
bagi pemakai dalam pengambilan keputusan.
Laporan keuangan LSM biasanya disusun atas dasar
kelangsungan usaha organisasi LSM dan dalam melanjutkan
usahanya di masa depan. Oleh karena itu, organisasi ini
diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi
atau mengurangi secara material skala pelayanannya.
Laporan keuangan LSM mencakup :
1. Laporan Posisi Keuangan
2. Laporan Laba Rugi (Aktivitas)
3. Laporan Arus Kas
2.5.3 Organisasi Nirlaba (Yayasan)
Karakteristik organisasi nirlaba

berbeda

dengan

organisasi bisnis. Perbedaan utama yang mendasar terletak


pada

cara

organisasi

memperoleh

sumber

daya

yang

dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas operasinya.


Organisasi nirlaba memperoleh sumber daya dari sumbangan
para

anggota

dan

para

penyumbang

lain

yang

tidak

mengharapkan imbalan apapun dari organisasi tersebut.


Sebagai akibat dari karakteristik tersebut, dalam organisasi

nirlaba timbul transaksi tertentu yang jarang atau bahkan


tidak

pernah

terjadi

dalam

organisasi

bisnis,

misalnya

penerimaan sumbangan.
Para pengguna laporan keuangan organisasi nirlaba
memiliki kepentingan bersama yang tidak berbeda dengan
organisasi bisnis, yaitu untuk menilai:
a.

Jasa yang diberikan oleh organisasi nirlaba dan


kemampuannya

untuk

terus

memberikan

jasa

tersebut,
b.

Cara manajer melaksanakan tanggung jawabnya


dan aspek kinerja manajer.

c.

Kemampuan organisasi untuk terus memberikan


jasa

dikomunikasikan

melalui

laporan

posisi

keuangan yang menyediakan informasi mengenai


aktiva,

kewajiban,

aktiva

bersih,

dan

informasi

mengenai hubungan di antara unsur-unsur tersebut.


Laporan ini harus menyajikan secara terpisah aktiva
bersih

baik

yang

penggunaannya.

terikat

maupun

Pertanggungjawaban

yang

tidak

manajer

terikat

mengenai

kemampuannya mengelola sumber daya organisasi yang


diterima dari para penyumbang disajikan melalui laporan
aktivitas dan laporan arus kas. Laporan aktivitas harus
menyajikan informasi mengenai perubahan yang terjadi dalam
kelompok aktiva bersih.
2.5.3.1

Laporan Posisi Keuangan

Tujuan

laporan

posisi

keuangan

adalah

untuk

menyediakan informasi mengenai aktiva, kewajiban, dan aktiva


bersih dan informasi mengenai hubungan di antara unsur-unsur
tersebut pada waktu tertentu.
Informasi dalam laporan posisi keuangan yang digunakan
bersama pengungkapan dan informasi dalam laporan keuangan
lainnya,

dapat

membantu

para

penyumbang,

organisasi, kreditur dan pihak-pihak lain untuk menilai:

anggota

a. kemampuan

organisasi

untuk

memberikan

jasa

secara berkelanjutan dan


b. likuiditas, fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk
memenuhi kewajibannya, dan kebutuhan pendanaan
eksternal.
Laporan posisi keuangan, menyediakan informasi yang
relevan

mengenai

likuiditas,

fleksibilitas

keuangan,

dan

hubungan antara aktiva dan kewajiban. Informasi tersebut


umumnya

disajikan

dengan

pengumpulan

aktiva

dan

kewajiban yang memiliki karakteristik serupa dalam suatu


kelompok yang relatif homogen.
Sebagai

contoh,

organisasi

biasanya

melaporkan

masing-masing unsur aktiva dalam kelompok yang homogen,


seperti:
a. kas dan setara kas;
b. piutang pasien, pelajar, anggota, dan penerima jasa
yang lain;
c. persediaan;
d. sewa, asuransi, dan jasa lainnya yang dibayar di
muka;
e. surat berharga/efek dan investasi jangka panjang;
f. tanah, gedung, peralatan, serta aktiva tetap lainnya
yang digunakan untuk menghasilkan barang dan
jasa.
Kas atau aktiva lain yang dibatasi penggunaanya oleh
penyumbang harus disajikan terpisah dari kas atau aktiva lain
yang tidak terikat penggunaannya.
Laporan posisi keuangan menyajikan jumlah masingmasing kelompok aktiva bersih berdasarkan ada atau tidaknya
pembatasan

oleh

penyumbang,

yaitu:

terikat

secara

permanen, terikat secara temporer, dan tidak terikat.


Informasi mengenai sifat dan jumlah dari pembatasan
permanen

atau

temporer

diungkapkan

dengan

cara

menyajikan jumlah tersebut dalam laporan keuangan atau


dalam catatan atas laporan keuangan.
Pembatasan permanen terhadap (1) aktiva, seperti
tanah atau karya seni, yang disumbangkan untuk tujuan
tertentu, untuk dirawat dan tidak untuk dijual, atau (2) aktiva
yang disumbangkan untuk investasi yang mendatangkan
pendapatan secara permanen dapat disajikan sebagai unsur
terpisah dalam kelompok aktiva bersih yang penggunaannya
dibatasi secara permanen atau disajikan dalam catatan atas
laporan keuangan.
Pembatasan

permanen

kelompok

kedua

tersebut

berasal dari hibah atau wakaf dan warisan yang menjadi dana
abadi (endowment).
Pembatasan temporer terhadap (1) sumbangan berupa
aktivitas operasi tertentu, (2) investasi untuk jangka waktu
tertentu, (3) penggunaan selama periode tertentu dimasa
depan, atau (4) pemerolehan aktiva tetap, dapat disajikan
sebagai unsur terpisah dalam kelompok aktiva bersih yang
penggunaannya dibatasi secara temporer atau disajikan
dalam catatan atas laporan keuangan.
Pembatasan

temporer

oleh

penyumbang

dapat

berbentuk pembatasan waktu atau pembatasan penggunaan,


atau keduanya.
Aktiva

bersih

tidak

terikat

umumnya

meliputi

pendapatan dari jasa, penjualan barang, sumbangan, dan


dividen

atau

memperoleh

hasil

investasi,

pendapatan

dikurangi

tersebut.

beban

Batasan

untuk

terhadap

penggunaan aktiva bersih tidak terikat dapat berasal dari sifat


organisasi, lingkungan operasi, dan tujuan organisasi yang
tercantum

dalam

akte

pendirian,

dan

dari

perjanjian

kontraktual dengan pemasok, kreditur dan pihak lain yang


berhubungan dengan organisasi.

Informasi

mengenai

batasan-batasan

tersebut

umumnya disajikan dalam catatan atas laporan keuangan.

Gambar 2.5.3.1 Contoh Bentuk Laporan Posisi Keuangan Yayasan

2.5.3.2 Laporan Arus Kas


Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan
informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran kas dalam
suatu periode.
Laporan arus kas disajikan sesuai PSAK 2 tentang
Laporan Arus Kas dengan tambahan berikut ini:

Aktivitas pendanaan:
1. penerimaan kas dari penyumbang yang penggunaannya
dibatasi untuk jangka panjang.
2. penerimaan
investasi

kas
yang

dari

sumbangan

penggunaannya

dan

penghasilan

dibatasi

untuk

pemerolehan, pembangunan dan pemeliharaan aktiva


tetap, atau peningkatan dana abadi (endowment).
3. bunga dan dividen yang dibatasi penggunaannya untuk
jangka panjang.
Pengungkapan informasi mengenai aktivitas investasi
dan pendanaan nonkas: sumbangan berupa bangunan atau
aktiva investasi.

Gambar 2.5.3.2 Contoh bentuk Laporan Arus Kas Yayasan

2.5.3.3 Laporan Aktivitas


Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan
informasi mengenai pengaruh transaksi dan peristiwa lain
yang mengubah jumlah dan sifat aktiva bersih, hubungan
antar

transaksi,

dan

peristiwa

lain,

dan

bagaimana

penggunaan sumber daya dalam pelaksanaan berbagai


program atau jasa,
Informasi dalam laporan aktivitas, yang digunakan
bersama dengan pengungkapan informasi dalam laporan

keuangan lainnya, dapat membantu para penyumbang,


anggota organisasi, kreditur dan pihak lainnya untuk :
(a) mengevaluasi kinerja dalam suatu periode,
(b)

menilai upaya, kemampuan, dan kesinambungan

organisasi
dan memberikan jasa, dan
(c) menilai pelaksanaan tanggung jawab dan kinerja
manajer.
Laporan

aktivitas

mencakup

organisasi

secara

keseluruhan dan menyajikan perubahan jumlah aktiva bersih


selama suatu periode. Perubahan aktiva bersih dalam laporan
aktivitas tercermin pada aktiva bersih atau ekuitas dalam
laporan posisi keuangan.
Laporan
penambah

aktivitas

aktiva

menyajikan

bersih

tidak

pendapatan
terikat,

sebagai

kecuali

jika

penggunaannya dibatasi oleh penyumbang, dan menyajikan


beban sebagai pengurang aktiva bersih tidak terikat.
Sumbangan disajikan sebagai penambah aktiva bersih
tidak

terikat,

tergantung

terikat

pada

ada

permanen,
tidaknya

atau

terikat

temporer,

pembatasan. Dalam hal

sumbangan terikat yang pembatasannya tidak berlaku lagi


dalam

periode

yang

sama,

dapat

disajikan

sebagai

sumbangan tidak terikat sepanjang disajikan secara konsisten


dan diungkapkan sebagai kebijakan akuntansi.
Laporan aktivitas menyajikan keuntungan dan kerugian
yang diakui dari investasi dan aktiva lain (atau kewajiban)
sebagai penambah atau pengurang aktiva bersih tidak terikat,
kecuali jika penggunaannya dibatasi.
Klasifikasi
Kerugian

dalam

Pendapatan,
kelompok

Beban,

aktiva

Keuntungan

bersih

tidak

dan

menutup

peluang adanya klasifikasi tambahan dalam laporan aktivitas.


Laporan aktivitas menyajikan jumlah pendapatan dan
beban secara bruto. Namun demikian pendapatan investasi

dapat disajikan secara neto dengan syarat beban-beban


terkait,

seperti

beban

penitipan

dan

beban

penasihat

investasi, diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.


Laporan aktivitas menyajikan jumlah neto keuntungan
dan kerugian yang berasal dari transaksi insidental atau
peristiwa lain yang berada di luar pengendalian organisasi dan
manajemen. Misalnya, keuntungan atau kerugian penjualan
tanah dan gedung yang tidak digunakan lagi.
Program pemberian jasa merupakan aktivitas untuk
menyediakan

barang

dan

jasa

kepada

para

penerima

manfaat, pelanggan, atau anggota dalam rangka mencapai


tujuan

atau

misi

organisasi.

Pemberian

jasa

tersebut

merupakan tujuan dan hasil utama yang dilaksanakan melalui


berbagai program utama.
Aktivitas pendukung meliputi semua aktivitas selain
program pemberian jasa. Umumnya, aktivitas pendukung
meliputi aktivitas manajemen dan umum, pencarian dana, dan
pengembangan anggota.
Aktivitas manajemen dan umum meliputi pengawasan,
manajemen bisnis, pembukuan, penganggaran, pendanaan,
dan aktivitas administratif lainnya, dan semua aktivitas
manajemen dan administrasi kecuali program pemberian jasa
atau pencarian dana.
Aktivitas
kampanye

pencarian

pencarian

dana

dana;

meliputi

pengadaan

publikasi
daftar

dan

alamat

penyumbang; pelaksanaan acara khusus pencarian dana;


pembuatan dan penyebaran manual, petunjuk, dan bahan
lainnya;

dan

pelaksanaan

aktivitas

lain

dalam

rangka

pencarian dana dari individu, yayasan, pemerintah dan lainlain.


Aktivitas pengembangan anggota meliputi pencarian
anggota baru dan pengumpulan iuran anggota, hubungan dan
aktivitas sejenis.

Untuk

biaya

administrasi

meliputi

manajemen

dan

umum

serta

penghimpunan dana, yang mana manajemen dan umum digunakan untuk


membiaya gaji, sewa rumah dan peralatan dan kantor, serta perjalanan
dinas, penyusuran dan jasa profesional; sedangkan untuk penghimpunan
dana adalah biaya yang digunakan untuk penggalangan dana untuk
mendanai kegiatan Yayasan SUKMA.
Dalam Laporan Aktivitas dan Perubahan Aktiva Bersih tidak
terdapat komponen perubahan aktiva bersih terikat/dibatasi permanen
dan perubahan aktiva bersih terikat/dibatasi temporer. Untuk Laporan
Arus Kas Yayasan SUKMA terdapat perbedaan, dimana Yayasan SUKMA hanya
menyajikan arus kas dari aktivitas operasi dan arus kas dari aktivitas investasi.
Sehingga dalam laporan arus kas tidak terdapat penyajian arus kas dari aktvitas
pendanaan.

Sedangkan Catatan atas Laporan keuangan merupakan bagian yang


tidak terpisahkan dalam pelaporan keuangan yang memuat perincian atas
kejadian, transaksi dan keadaan atas entitas akuntansi.

DAFTAR PUSTAKA
Bastian, Indra, 2010. Akuntansi Sektor Publki (Edisi Ketiga).
Yogyakarta: Erlangga
Mardiasmo, 2009, Akuntansi Sektor Publik, Yogyakarta: Andi
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan. Standar Akuntansi
Pemerintahan. Published at http://www.ksap.org/
Pengertian Akuntansi Sektor Publik. Akutansi Sektor Publik. Published at

www.hestiku.blogspot.com