Anda di halaman 1dari 29

KONSEP DESA SIAGA

TUGAS COMMUNITY HEALTH NURSING 1


Untuk Memenuhi Persyaratan Tugas CHN 1

KELOMPOK 3
Maulana Rahmat H
Youshian Elmy
Henky Indra Laksono
Rindika Illa K
Defi Destyaweny
Ervina Ayu Misgiarti
Merchilliea Eso Navy
Novita Wulan Dari
Anita Nur Mayasari

115070200111030
115070200111032
115070200111034
115070200111036
115070200111042
115070200111044
115070200111046
115070200111048
115070200111050

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas blog Community Health
Nursing 1 dengan tema Kesehatan Komunitas.
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas
Community Health Nursing 1 yang mana tugas ini juga merupakan
tanggung

jawab

kami

berterimakasih kepada:

sebagai

mahasiswa.

Maka

dari

itu

kami

1. Dr. dr. Karyono Mintaroem. Sp PA, Dekan Fakultas Kedokteran


Universitas Brawijaya
2. Dr. dr. Kusworini, M. Kes, Sp. PK Ketua Jurusan Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
3. NS.

Kumboyono,

M.Kep.,Sp.Kom

serta

NS.

Setyoadi,

M.Kep.,Sp.Kom sebagai PJMK blok CHN dan telah memberikan


bantuan, yang dengan sabar membimbing untuk dapat menulis
dengan baik, dan senantiasa memberi semangat, sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas ini
4. Sahabat-sahabatku yang tercinta PSIK pada umumnya dan
sahabatku kelompok 3 pada khususnya yang telah memberikan
motivasi, jalan keluar, serta tawa dan canda selama penulisan
tugas ini.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan ridho-Nya
kepada semua pihak yang telah membantu menyusun tugas ini. Kami
kelompok 3 menyadari bahwa penulisan tugas ini jauh dari sempurna,
oleh karena itu kami kelompok 3 mengharapkan saran dan kritik yang
membangun untuk kesempurnaan tugas ini.

Semoga tugas ini dapat

bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Malang,

Juni 2014

Penulis

DAFTAR ISI
Judul ...............................................................................................
Kata Pengantar...............................................................................
Daftar Isi..........................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..............................................................
1.2 Tujuan Penelitian...........................................................
1.2.1 Tujuan Umum.............................................
1.2.2 Tujuan Khusus............................................
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi...........................................................................
2.2 Karakteristik Pedesaan..................................................
2.2.1 Definisi Desa.........................................................
2.2.2 Karakteristik Pedesaan.........................................
2.3 Isu Populasi...................................................................
2.4 Konsep Desa Siaga........................................................
2.4.1 Definisi Desa Siaga...............................................
2.4.2 Tujuan Desa Siaga................................................
2.4.3 Kriteria Desa Siaga...............................................
2.4.4 Tahap Pengembangan Desa Siaga......................

Halaman
i
ii
iv
??
??
??
??
??
??
??
??
??
??
??
??
??
??

2.4.5 Kegiatan Desa Siaga............................................


2.4.6 Indikator Keberhasilan Desa Siaga......................
2.4.7 Peran Perawat Pada Desa Siaga.........................

??
??
??

DAFTAR PUSTAKA.............................................................

??

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pedesaan merupakan suatu wilayah dengan penduduk kurang
dari 2.500 jiwa selain itu pedesaan juga sebagai perwujudan atau
kesatuan

geografi,

sosial,

ekonomi,

politik

dan

kultural

dalam

hubungannya dan pengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain


(Bintarto, 2010) . Masyarakat desa adalah komunitas yang tinggal di
dalam satu daerah yang sama, yang bersatu dan bersama-sama, memiliki
ikatan yang kuat dan sangat mempengaruhi satu sama lain.
Pada

daerah

pedesaan

mayoritas

penduduknya

bermata

pencaharian sebagai petani (agraris) karena dipengaruhi oleh keadaan


alam seperti iklim, letak geografis, dan sebagainya. Oleh sebab itu
masyarakat pedesaan mayoritas berpenghasilan rendah dan tingkat
perekonomiannyapun juga rendah. Permasalahan utama pada pedesaan
adalah kemiskinan. Kemiskinan juga bisa berpengaruh pada tingkat
pendidikan. Kawasan pedesaan bisa diartikan sebagai daerah dimana
masyarakatnya masih kurang pengetahuan dan informasi sehingga
masalah kesehatan masyarakat masih menjadi masalah yang cukup

besar. Permasalahan tersebut antara lain masalah buang air besar


sembarangan, penggunaan air yang tercemar dan masalah kotoran
(Andrika, 2013). Permasalahan kesehatan yang lain terkait pelayanan
kesehatan di pedesaan yang masih sangat kurang dan belum maksimal.
Sehingga diperlukan infrastruktur untuk memperbaiki keadaan tersebut.
Program terbaru pemerintah yang sudah dicanangkan sejak tahun 2006
melalui Keputusan Menteri Kesehatan nomor 564. Pada dasarnya
program ini bertujuan untuk menguatkan layanan kesehatan dasar
(primary health care) di tingkat desa (Harnowo, 2012).
Dari penjabaran tersebut dapat diketahui pentingnya layanan
kesehatan dasar (primary health care) di tingkat desa sebagai landasan
kesehatan pedesaan. Sehingga dalam makalah ini penulis akan
menjabarkan tentang kesehatan pedesaan.
1.2 TUJUAN
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui konsep desa siaga yang berhubungan
dengan kesehatan komunitas.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat mengetahui karakteristik pedesaan.
2. Mahasiswa dapat mengetahui isu populasi pedesaan.
3. Mahasiswa dapat mengetahui konsep desa siaga.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan lingkungan
adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan
lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia (WHO,
2008). Lalu menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan
Indonesia) kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang
mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia
dan lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia
yang sehat dan bahagia.
Yang

dimaksud

desa

menurut

Sutardjo

Kartohadikusuma

mengemukakan sebagai berikut: Desa adalah suatu kesatuan hukum di


mana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri.
Sedangkan menurut Bintarto desa merupakan perwujudan atau kesatuan
geografi, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang terdapat di situ (suatu
daerah) dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal-balik
dengan daerah lain.
Dari pengertian diatas dapat disimpulakan bahwa kesehatan desa
adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan
lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia suatu desa.
2.2 KARAKTERISITIK PEDESAAN
2.2.1 Definisi Desa

Menurut

Paul

H.

Landis,

desa

adalah

masyarakat

yang

penduduknya kurang dari 2.500 jiwa dengan karakteristiknya sebagai


berikut:
a. Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara
ribuan jiwa.
b. Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap
kebiasaan.
c. Cara berusaha (perekonomian) adalah agraris yang paling umum
yang sangat dipengaruhi alam seperti; iklim, keadaan alam,
kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah
bersifat sambilan.
2.2.2 Karakteristik Pedesaan
Adapun yang menjadi karakteristik yang lainnya dari masyarakat
pedesaan adalah:
a. Hubungan masyarakat pedesaan
Di

dalam

masyarakat

pedesaaan

diantara

warganya

mempunyai hubungan yang lebih mendalam bila dibandingkan


dengan masyarakat pedesaan lainnya yang diluar batas-batas
wilayahnya. Corak kehidupan masyarakat di desa dapat dikatakan
masih

homogen

dipengaruhi

oleh

dan

pola

sistem

interaksinya
kekeluargaan.

horizontal,
Semua

banyak

pasangan

berinteraksi dianggap sebagai anggota keluarga. Serta hal yang


sangat berperan dalam interaksi dan hubungan sosialnya adalah
motif-motif sosial. Interaksi sosial selalu djusahakan supaya
kesatuan sosial (social unity) tidak terganggu, konflik atau
perte~ntangan sosial sedapat mungkin dihindarkan jangan sampai
terajadi. Prinsip kerukunan inilah yang menjiwai hubungan sosial
pada masyarakat pedesaan. Kekuatan yang mempersatukan

masyarakat pedesaan itu timbul karena adanya kesamaaankesamaan kemasyarakatan,-seperti kesamaan adat kebiasaan,
kesamaan tujuan dan kesamaan pengalaman.
Sosial kemasyarakatan desa ditandai dengan pemilikan
ikatan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap
warga/anggota masyarakat yang amat kuat yang hakikatnya bahwa
seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari masyarakat dimana ia hidup dan dicintainya serta mempunyai
perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakat
atau anggota-anggota masyarakat. Karena beranggapan samasama sebagai anggota

masyarakat yang

saling mencintai,

menghormati, mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama


terhadap

keselamatan

dan

kebahagian

bersama

di

dalam

dengan

dasar

masyarakat.
b. Sistem

kehidupan

umumnya

berkelompok

kekeluargaan (Gemeinschaft atau paguyuban).


Oleh karena masyarakat pedesaan mempunyai kepentingan
pokok yang hampir sama, maka mereka selalu bekerjasama untuk
mencapai kepentingan-kepentingan mereka. Seperti pada waktu
mendirikan rumah, upacara pesta perkawinan, memperbaiki jalan
desa, membuat saluran air dan sebagainya. Adapun bentuk-bentuk
kerja sama dalam masyarakat sering diistilahkan dengan gotongroyong dan tolong-menolong. Pekerjaan gotong-royong sekarang
lebih popular dengan istilah kerja bakti. Sedangkan mengenai
macamnya pekerjaan gotong-royong atau kerja bakti itu ada dua
macam, yaitu:
1) Kerja sama untuk pekerjaan-pekerjaan yang timbulnya dari
inisiatif warga masyarakat itu sendiri,

2) Kerja sama untuk pekerjaan-pekerjaan yang inisiatifnya tidak


timbul dari masyarakat itu sendiri, berasal dari luar.
Kerja sama jenis pertama biasanya sungguh-sungguh
dirasakan manfaatnya bagi mereka, sedangkan jenis yang kedua
biasanya kurang difahami kegunaannya. Hal ini memberikan
gambaran bahwa masyarakat pedesaan yang agraris dinilai oleh
orang-orang kota sebagai masyarakat yang tentram, damai dan
harmonis sehingga dijadikan tempat untuk meiepaskan lelah dari
segafa kesibukan, keramain dan keruwetan pikiran.
c. Sebagian besar masyarakat pedesaan hidup dari pertanian.
Pada masyarakat pedesaan mata pencaharian bersifat
homogen yang berada di sektor ekonomi primer, yaitu bertumpu
pada bidang pertanian. Kehidupan ekonomi terutama tergantung
pada usaha pengelolaan tanah untuk keperluan pertanian,
petrnakan dan termasuk juga perikanan darat. Jadi kegiatan di
desa adalah mengolah alam untuk memperoleh bahan-bahan
mentah. Baik bahan kebutuhan pangan, sandang maupun lainlainnya untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia.
Pada umumnya masyarakat pedesaan menganut sistem
ekonomi

tradisional

atau

"sistem

ekonomi

tertutup,

cukup

memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekonomi masyarakat terbatas


untuk

bertahan

hidup

dan

memenuhi

kebutuhan-kebutuhan

bersama. Pola produksi dalam masyarakat tradisional terutama


mendasarkan pada tenaga keluarga dan tenaga ternak pun
dimanfaatkan. Dalam proses produksi tradisional tadi, umumnya
laki-laki mengerjakan pekerjaan pengolahan tanah yang paling
berat baik di sawah ataupun di ladang. Untuk mengerjakan
pekerjaan-pekerjaan yang lebih ringan seperti menyiang terutama
pada sawah anak-anak di atas sepuluh tahun dan istri juga turut

membantu. Selanjutnya pada waktu panen dan setelah panen


banyak tenaga istri dimanfaatkan.
Sistem nilai budaya petani Indonesia disinyalir bahwa di
kalangan petani pedesaan ada suatu cara berpikir dan mehtalitas
yang hidup dan bersifat religio- magic. Sistem nilai budaya itu
antara lain sebagai berikut:

Para petani di Indonesia terutama di Jawa pada dasarnya


menganggap bahwa hidupnya itu sebagai suatu hal yang buruk,
penuh dosa dan kesengsaraan. Tetapi itu tidak berarti bahwa ia
harus menghindari hidup yang nyata dan menghindarkan diri
dengan-bersembunyi di dalam kebatinan atau dengan bertapa
bahkan sebaliknya wajib menyadari keburukan hidup itu dengan
jelas berlaku prihatin dan kemudian sebaik- baiknya dengan
penuh usaha atau ikhtiar.

Mereka beranggapan bahwa bekerja itu untuk hidup dan


kadang-kadang untuk mencapai kedudukan.

Mereka

berorientasi

pada

masa

sekarang,

kurang

memperdulikan masa depan bahkan kadang-kadang mereka


rindu masa lampau, mengenang kekayaan masa lampau
(menanti datangnya kembali sang ratu adil yang membawa
kekayaan bagi mereka).

Mereka menganggap alam tidak menakutkan bila ada bencana


a!am atau bencana lain itu hanya merupakan sesuatu yang
wajib diterima. Kurang adanya kesadaran agar peristiwaperistiwa semacam itu tidak berulang kembali. Mereka cukup
saja menyesuaikan diri dengan alam, kurang adanya usaha
untuk menguasainya.

Untuk

menghadapi

alam

mereka

cukup

dengan

hidup

bergotong-royong, mereka sadar bahwa dalam hidup itu pada


hakikatnya tergantung pada sesamanya.
d. Masyarakat tersebut sifatnya homogen, seperti dalam hal mata
pencaharian, agama, adat istiadat dan sebagainya.
Kebudayaan adalah cara hidup yang dibina oleh suatu
masyarakat guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok seperti
untuk bertahan hidup, kelangsungan jenis manusia dan penerbitan
pengalaman

sosial.

Kebudayaan

adalah

penjumlahan

atau

akumulasi semua obyek materil, pola organisasi kemasyarakatan,


cara tingkah.taku, pengetahuan, kepercayaan dan lain-lain yang
dikembangkan dalam pergaulan hidup manusia.
Kebudayaan tidaklah diwariskan secara biologis. Setiap
angkatan mempelajari sendiri dan meneruskan pada generasi yang
berikutnya

dan

ditambah

dengan

apa

yang

dirubah

atau

dikembangkan selama masa hidupnya dengan transmisi ini maka


dimungkinkan adanya kelangsungan kebudayaan selama beberapa
generasi. Kebudayaan yang diturunkan kepada generasi berikutnya
itu dapat dilakukan dengan cara memperkenalkan:
a) Kebiasaan, yaitu cara yang sudah menetap dan umum untuk
melakukan sesuatu, dan sudah diakui oleh masyarakat.
b) Adat, yaitu cara tingkah laku dalam masyarakat yang diberi
sanksi dan dianggap sebagai cara yang tetap dan baik.
c) Upacara peribadatan, yaitu suatu rangkaian gerak dan perkataan
yang dilakukan oleh orang-orang tertentu dengan para var
simbolik perkataan tertentu cara-cara yang mempunyai arti.
2.3 ISU POPULASI
Menurut Aisha (2012) isu pedesaan dibagi menjadi dua yaitu:

1. Isu di Pedesaan Negara Maju


Walaupun

sudah

maju,

suatu

negara

pasti

memiliki

permasalahan terutama di daerah pedesaan. Di Amerika Serikat,


permasalahan

utama

pedesaannya

adalah

kemiskinan

dan

kriminalitas. Dua hal ini sangat berkaitan. Kriminalitas yang ada


timbul karena permasalahan kemiskinan. Kedua isu atau masalah
ini biasanya dialami di pedesaan yang berpenduduk African
American. Selain kemiskinan dan kriminalitas, masalah pedesaan
lainnya adalah masalah kesehatan. Lain dengan kemiskinan dan
kriminalitas, isu kesehatan biasanya terjadi di pedesaan dengan
penduduk lanjut usia. Banyak desa di Amerika yang penduduknya
berusia lanjut dan mulai membutuhkan perlakuan khusus mengenai
kesehatan mereka.
Sedangkan di Inggris, isu atau masalah di pedesaan antara
lain adalah kriminalitas dan transportasi. Kriminalitas di kawasan
pedesaan di Inggris cukup berbeda dengan yang terjadi di kawasan
pedesaan di Amerika Serikat. Kriminalitas di kawasan pedesaan di
Inggris umumnya tidak terjadi karena dampak dari kemiskinan
namun ini terkait dengan isu sosial seperti rasisme. Sedangkan isu
transportasi

disebabkan

oleh

tingginya

tingkat

commuting

masyarakat pedesaan yang bekerja ke kota namun belum


difasilitasi dengan cukup baik dalam hal moda transportasi.
Sama seperti negara-negara maju lainnya, Jepang juga
mengalami perubahan dari negara agrikultur menjadi negara
industri. Hal ini memberi berbagai dampak, salah satunya emigrasi.
Penduduk keluar dari desa ke kota. Penduduk yang keluar dari
pedesaan biasanya mengalami bullying saat kembali ke desa
mereka. Selain itu, isu yang dianggap sudah cukup serius adalah
isu pedesaan berpenduduk lanjut usia. Namun tidak seperti di
Amerika, pedesaan berpenduduk lanjut usia kaitannya bukan
dengan isu kesehatan namun dengan isu sosial. Sebagian besar

penduduk di pedesaan berpenduduk lanjut usia tinggal, bertambah


usia, lalu meninggal dalam suasana terisolasi. Hal ini tentu menjadi
salah satu masalah sosial di pedesaan bahkan di seluruh wiayah
tempat desa-desa tersebut berada.
2. Isu di Pedesaan Negara Berkembang
Permasalahan utama pada pedesaan adalah kemiskinan.
Kemiskinan menimbulkan permasalahan ikutan lainnya yakni
malnutrisi. Di Kamboja sekitar 33% anak dibawah umur 5 tahun
dan 22% wanita rentang usia 15 -49 tahun di daerah pedesaan
terserang malnutrisi. Angka kematian anak di daerah pedesaan
juga cukup besar yakni sejumlah 126 per 1000 anak. Ketiadaan
lapangan pekerjaan di pedesaan Kamboja juga berkontribusi
terhadap penyebaran penyakit HIV-AIDS dengan banyaknya jumlah
remaja perempuan dari desa yang bekerja sebagai pekerja dunia
hiburan. Penduduk pedesaan di Kamboja juga kekurangan akses
terhadap fasilitas pendidikan yakni hanya 27% penduduk pedesaan
yang dapat mengenyam bangku pendidikan sekolah dasar.
Masyarakat desa di Kamboja juga memiliki akses yang terbatas
terhadap lahan yang produktif akibat adanya penguasaan lahan
oleh pihak-pihak tertentu. Hal tersebut menimbulkan marak
terjadinya konflik akibat sengketa lahan.
Diskriminasi gender terdapat di pedesaan Pakistan dan
Kamboja yakni adanya pembatasan bagi wanita untuk bekerja,
pembatasan kepemilikan lahan dan property dan akses terbatas
terhadap

pendidikan.

Sebagian

negara

berkembang

masih

menganut sistem kasta seperti di India dan Kamboja. Pada negara


tersebut daerah pedesaan dihuni oleh kasta terendah dalam sistem
sosial

yakni

petani

dan

pekerja

kasar

sehingga

adanya

keengganan masyarakat dari kasta yang lebih tinggi untuk


membangun pedesaan. Di pedesaan Pakistan masih berkembang
sistem feodal yakni terdapat tuan tanah yang menguasai ratusan

hektar tanah

namun pengelolaannya dilakukan oleh buruh

pertanian dengan gaji yang sangat rendah. Pemilik tanah mengikat


pekerjanya dengan cara memberikan bantuan pinjaman uang.
Sedangkan di Indonesia pada umumnya memiliki kesamaan
permasalahan
kesehatan.

yaitu
Dari

dari
analisis

bidang

pangan,

perkembangan

kebersihan
dan

dan

masalah

pembangunan kesehatan, dan peran Departemen Kesehatan


dalam pembangunan kesehatan, sebagaimana diuraikan dalam
Renstra Departemen Kesehatan yang telah ditetapkan pada bulan
Agustus 2005, maka isu yang masih dihadapi oleh DepKes
diantaranya yaitu (Depkes, 2006 ; Depkes, 2008 ; Rikesdas, 2008;
IBP, 2012) :
1. Masih tingginya jumlah kelahiran pada masyarakat pedesaan
antar wilayah dan antar kelompok tingkat sosal ekonomi. Hal ini
akibat masih tingginya persepsi masyarakat bahwa semakin
banyak anak maka semakin bayak rejeki.
2. Kondisi sanitasi yang masih buruk, hal ini akibat masalah social
budaya dan perilaku penduduk yang terbiasa buang air besar
(BAB) di sembarang tempat, khususnya ke badan air yang juga
digunakan untuk mencuci, mandi dan kebutuhan higienis
lainnya.
3. Meningkatnya kasus penyakit menular (filariasis, demam
berdarah dengue dan malaria, ISPA, pnemonia, tuberkulosis
(TB), dan campak, tifoid, hepatitis, diare), sedangkan penyakit
tidak menular mulai meningkat (penyakit sendi, asma, stroke,
jantung, DM, hipertensi, tumor/kanker, gangguan jiwa berat,
buta warna, glaukoma, bibir sumbing, dermatitis, rinitis,
talasemiaa, dan hemophilia). Di samping itu telah muncul
berbagai penyakit baru di masyarakat. Hal ini akibat sulitnya
akses

pelayanan

kesehatan

oleh

masyarakat,

sehingga

masyarakat lebih sering menangani masalah penyakit tersebut


berdasarkan pengetahuan yang minim
4. Upaya pemerataan, dan keterjangkauan pelayanan kesehatan
yang bermutu belum optimal.
a. Perhatian pada masyarakat miskin, rentan dan berisiko
tinggi serta penanganan masalah kesehatan akibat bencana
masih belum memadai. Kondisi ini juga antara lain
disebabkan karena jumlah, kualitas, dan pemerataan tenaga
kesehatan yang belum memadai.
b. Kurang efektifnya upaya pengendalian harga obat melalui
peraturan penggunaan obat generic oleh pemerintah serta
lembaga asuransi di puskesmas, yang diakibatkan karena
kelangkaan obat jenerik, persepsi masyarakat dan harga
yang menyerupai obat paten.
c. Kurang efektifnya upaya pemerataan pelayanan persalinan
dan posyandu melalui penempatan tenaga medis di tempat
terpencil.
d. Kurang

efektifnya

penggunaan

poskesdes

karena

masyarakat masih banyak yang lebih menyukai pengobatan


oleh dukun dan praktek swasta, hal ini didukung dengan
kurangnya pemahaman masyarakat tentang poskesdes.
5. Peran Departemen Kesehatan sebagai pelaksana dan sebagai
penggerak/fasilitator pembangunan kesehatan masih terbatas.
Keterbatasan tersebut terutama dalam penanganan penduduk
miskin,

promosi

penanggulangan

kesehatan,
masalah

penanggulangan
kesehatan

akibat

gizi

buruk,

bencana,

surveilans, imunisasi, pelayanan kesehatan di daerah terpencil,


dan perbatasan, serta pendayagunaan tenaga kesehatan.

6. Kemampuan masyarakat pedesaan untuk mengemukakan


pendapat

dan

memilih

dalam

rangka

penyelenggaraan

pembangunan kesehatan masih sangat terbatas. Peran aktif


masyarakat dalam pembangunan kesehatan, yang meliputi
pengabdian masyarakat (to serve), pelaksanaan advokasi
kesehatan (to advocate), dan pelaksanaan pengawasan sosial
(to watch), masih kurang, dan bahkan cenderung menurun.
2.4 KONSEP DESA SIAGA
2.4.1 Definisi Desa Siaga
Konsep desa siaga adalah membangun suatu sistem di suatu desa
yang bertanggung jawab memelihara kesehatan masyarakat itu sendiri, di
bawah bimbingan dan interaksi dengan seorang bidan dan 2 orang kader
desa. Di samping itu, juga dilibatkan berbagai pengurus desa untuk
mendorong peran serta masyarakat dalam program kesehatan seperti
imunisasi dan posyandu (Depkes 2009). Sedangkan desa siaga adalah
desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan
serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah
kesehatan, bencana dan kegawat daruratan kesehatan, secara mandiri.
Jadi desa siaga merupakan suatu daerah atau desa yang memiliki sistem
yang menyangkut kesehatan dan keselamatan warganya. Keselamatan
akan bencana, kegawat daruratan dan lain-lain. Kesehatan melalui
imunisasi, posyandu dan lain-lain.
Desa yang dimaksud di sini dapat berarti kelurahan atau nagari
atau istilah-istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki
batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asalusul dan adat-istiadat
setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (Depkes, 2007). Desa siaga ini merupakan
program pemerintah Indonesia untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010.

2.4.2 Tujuan Desa Siaga


Secara

umum,

tujuan

pengembangan

desa

siaga

adalah

terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli dan tanggap terhadap


permasalahan kesehatan di wilayahnya. Selanjutnya, secara khusus,
tujuan pengembangan desa siaga (Depkes, 2006), adalah

Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa


tengtang pentingnya kesehatan

Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat


desa.

Meningkatnya keluarga yang sadar gizi dan melaksanakan


perilaku bersih dan sehat

Meningkatnya kesehatan lingkungan di desa.

2.4.3 Kriteria Desa Siaga


Suatu desa dikatakan menjadi desa siaga apabila memenuhi
kriteria berikut (Depkes, 2006) :
1. Memiliki 1 orang tenaga bidan yang menetap di desa tersebut dan
sekurang-kurangnya 2 orang kader desa.
2. Memiliki minimal 1 bangunan pos kesehatan desa (poskesdes)
beserta peralatan dan perlengkapannya. Poskesdes tersebut
dikembangkan oleh masyarakat yang dikenal dengan istilah Upaya
Kesehatan

Bersumberdaya

Masyarakat

(UKBM)

yang

melaksanakan kegiatan-kegiatan minimal :

Pengamatan

epidemiologis

penyakit

menular

dan

yang

berpotensi menjadi kejadian luar biasa serta faktor-faktor


risikonya.

Penanggulangan

penyakit

menular

dan

yang

berpotensi

menjadi KLB serta kekurangan gizi.

Kesiapsiagaan

penanggulangan

bencana

dan

kegawatdaruratan kesehatan.

Pelayanan

kesehatan

dasar,

sesuai

dengan

kompetensinya.

Kegiatan pengembangan seperti promosi kesehatan, kadar gizi,


PHBS, penyehatan lingkungan dan lain-lain.

2.4.4 Tahap Pengembangan Desa Siaga


Telah diterbitkan SK Menkes No. 564/2006 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pembangunan Desa Siaga, dengan mengambil kebijakan
bahwa seluruh desa di Indonesia menjadi Desa Siaga pada akhir tahun
2008. Selain itu, Depkes sejak 2006 sudah melatih 34.890 bidan yang
akan

menjadi

membahas

ujung

tombak program

pengembangan

desa

tersebut.

siaga,

berikut

Namun
adalah

sebelum
prinsip

pengembangan desa siaga (Depkes, 2008), yaitu :


1. Desa siaga adalah titik temu antara pelayanan kesehatan dan
program kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah dengan
upaya masyarakat yang terorganisir.
2. Desa siaga mengandung makna kesiapan dan kesiagaan
Kesiagaan masyarakat dapat didorong dengan memberi informasi
yang akurat dan cepat tentang situasi dan masalah-masalah yang
mereka hadapi.
3. Prinsip respons segera. Begitu masyarakat mengetahui adanya
suatu masalah, mereka melalui desa siaga, akan melakukan
langkah-langkah yang perlu dan apabila langkah tersebut tidak

cukup, sistem kesehatan akan memberikan bantuan (termasuk


pustu, puskesmas, Dinkes, dan RSUD).
4. Desa siaga adalah wadah bagi masyarakat dan sistem pelayanan
kesehatan untuk menyelenggarakan berbagai program kesehatan.
5. Secara organisasi, koordinasi dan kontrol proses pengembangan
desa siaga dilakukan oleh sebuah organisasi desa siaga.
Organisasi desa siaga ini berada di tingkat desa/kelurahan dengan
penanggung jawab umum kepala desa atau lurah. Sedangkan
pengelola kegiatan harian desa siaga, bertugas melaksanakan
kegiatan lapangan seperti pemetaan balita untuk penimbangan dan
imunisasi, pemetaan ibu hamil, membantu tugas administrasi di
poskesdes dan lain-lain.
Lalu pengembangan desa siaga harus bersifat siklus dan harus
menjadi kegiatan yang berkelanjutan. Setiap tahapan meliputi banyak
aktivitas.
1. Pada tahap 1 dilakukan sosialisasi dan survei mawas diri (SMD),
dengan kegiatan antara lain : Sosialisasi, Pengenalan kondisi desa,
Membentuk kelompok masyarakat yang melaksanakan SMD,
pertemuan pengurus, kader dan warga desa untuk merumuskan
masalah kesehatan yang dihadapi dan menentukan masalah
prioritas yang akan diatasi.
2. Pada tahap 2 dilakukan pembuatan rencana kegiatan. Aktivitasnya,
terdiri dari penentuan prioritas masalah dan perumusan alternatif
pemecahan masalah. Aktivitas tersebut, dilakukan pada saat
musyawarah masyarakat 2 (MMD-2). Selanjutnya, penyusunan
rencana kegiatan, dilakukan pada saat musyawarah masyarakat 3
(MMD-3). Sedangkan kegiatan antara lain memutuskan prioritas
masalah, menentukan tujuan, menyusun rencana kegiatan dan
rencana biaya, pemilihan pengurus desa siaga, presentasi rencana

kegiatan kepada masyarakat, serta koreksi dan persetujuan


masyarakat.
3. Tahap 3, merupakan tahap pelaksanaan dan monitoring, dengan
kegiatan berupa pelaksanaan dan monitoring rencana kegiatan.
4. Tahap 4, yaitu : kegiatan evaluasi atau penilaian, dengan kegiatan
berupa pertanggung jawaban.
Pada pelaksanaannya, tahapan diatas tidak harus berurutan,
namun disesuaikan dengan kondisi masing-masing desa atau kelurahan.
2.4.5 Kegiatan Desa Siaga
Kegiatan pokok desa siaga (Depkes, 2008) adalah:
1. Surveilans dan pemetaan
Setiap ada masalah kesehatan di rumah tangga akan dicatat dalam
kartu sehat keluarga. Selanjutnya, semua informasi tersebut akan
direkapitulasi dalam sebuah peta desa (spasial) dan peta tersebut
dipaparkan di poskesdes.
2. Perencanaan Partisipasif
Perencanaan partisipasif dilaksanakan melalui survey mawas diri
(SMD) dan musyawarah masyarakat desa (MMD). Melalui SMD,
desa siaga menentukan prioritas masalah. Selanjutnya, melalui
MMD, desa siaga menentukan target dan kegiatan yang akan
dilaksanakan

untuk

menggapai

target

tersebut.

Selanjutnya

melakukan penyusunan anggaran.


3. Mobilisasi Sumber Daya Masyarakat
Melalui forum desa siaga, masyarakat dihimbau memberikan
kontribusi dana sesuai dengan kemampuannya. Dana yang
terkumpul bisa dipergunakan sebagai tambahan biaya operasional

poskesdes. Desa siaga juga bisa mengembangkan kegiatan


peningkatan

pendapatan,

misalnya

dengan

koperasi

desa.

Mobilisasi sumber daya masyarakat sangat penting agar desa


siaga berkelanjutan (sustainable).
4. Kegiatan khusus
Desa siaga dapat mengembangkan kegiatan khusus yang efektif
mengatasi masalah kesehatan yang diprioritaskan.Dasar penetuan
kegiatan tersebut adalah pedoman standar yang sudah ada untuk
program tertentu, seperti malaria, TBC, dan lain-lain. Dalam
melakukan kegiatan ini pengurus desa siaga dibantu oleh fasilitator
dan pihak puskesmas.
5. Monitoring Kinerja
Monitoring menggunakan peta rumah tangga sebagai bahan dari
surveilans rutin. Setiap rumah tangga akan diberi Kartu Kesehatan
Keluarga untuk diisi sesuai dengan kondisi keluarga tersebut.
Kemudian pengurus desa siaga atau kader secara berkala
mengumpulkan data tersebut untuk dimasukkan dalam peta desa.
6. Manajemen Keuangan
Desa siaga akan mendapatkan dana hibah (block grant) setiap
tahun dari DHS-2 guna mendukun kegiatannya. Besarnya sesuai
dengan proposal yang diajukan dan proposal tersebut sebelumnya
sudah direview oleh Dewan Kesehatan Desa, kepala desa,
fasilitator dan puskesmas. Untuk menjaga transparansi dan
akuntabilitas, penggunaan dana tersebut harus dicatat dan
dilaporkan sesuai pedoman yang ada.
2.4.6 Indikator Keberhasilan Desa Siaga

Indikator keberhasilan pengembangan desa siaga dapat diukur dari


4 kelompok, yaitu: indikator input, proses, output dan outcome (Depkes,
2009).
1.

Indikator Input
a. Jumlah kader desa siaga.
b. Jumlah tenaga kesehatan di poskesdes.
c. Tersedianya sarana (obat dan alat) sederhana.
d. Tersedianya tempat pelayanan seperti posyandu.
e. Tersedianya dana operasional desa siaga.
f. Tersedianya data/catatan jumlah KK dan keluarganya.
g. Tersedianya pemetaan keluarga lengkap dengan masalah
kesehatan yang dijumpai dalam warna yang sesuai.
h. Tersedianya data/catatan (jumlah bayi diimunisasi, jumlah
penderita gizi kurang, jumlah penderita TB, malaria dan lainlain).

2.

Indikator proses
a. Frekuensi pertemuan forum masyarakat desa (bulanan, 2
bulanan dan sebagainya).
b. Berfungsi/tidaknya kader desa siaga.
c. Berfungsi/tidaknya poskesdes.
d. Berfungsi/tidaknya UKBM atau posyandu yang ada.
e. Berfungsi/tidaknya sistem penanggulangan penyakit/masalah
kesehatan berbasis masyarakat.

f. Ada/tidaknya kegiatan kunjungan rumah untuk kadarzi dan


PHBS.
g. Ada/tidaknya kegiatan rujukan penderita ke poskesdes dari
masyarakat.
3.

Indikator Output
a. Jumlah persalinan dalam keluarga yang dilayani.
b. Jumlah kunjungan neonates (KN2).
c. Jumlah BBLR yang dirujuk.
d. Jumlah bayi dan anak balita BB tidak naik ditangani.
e. Jumlah balita gakin umur 6-24 bulan yang mendapat M PASI.
f. Jumlah balita yang mendapat imunisasi.
g. Jumlah pelayanan gawat darurat dan KLB dalam tempo 24
jam.
h. Jumlah keluarga yang punya jamban.
i. Jumlah keluarga yang dibina sadar gizi.
j. Jumlah keluarga menggunakan garam beryodium
k. Adanya data kesehatan lingkungan.
l. Jumlah kasus kesakitan dan kematian akibat penyakit
menular tertentu yang menjadi masalah setempat.
m. Adanya peningkatan kualitas UKBM yang dibina.

4.

Indikator outcome

a. Meningkatnya jumlah penduduk yang sembuh/membaik dari


sakitnya.
b. Bertambahnya jumlah penduduk yang melaksanakan PHBS.
c. Berkurangnya jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia.
d. Berkurangnya jumlah balita dengan gizi buruk.
2.4.7 Peran Perawat Pada Desa Siaga
Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari sistem
pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Proporsi tenaga keperawatan
(perawat dan bidan) merupakan proporsi tenaga terbesar (48%) yang
dapat mempengaruhi kinerja rumah sakit dan puskesmas atau sarana
pelayanan kesehatan lainnya. Perawat berperan dalam UKP (Upaya
kesehatan perorangan) dan Upaya kesehatan masyarakat (UKM). Peran
perawat di semua tatanan pelayanan kesehatan di setiap level rujukan
dimana bentuk pelayanan yang diberikan berupa pelayanan bio-psikososio-spiritual yang komprehensif.
Perawat sebagai ujung tombak tenaga kesehatan di masyarakat
tentu harus juga dipersiapkan dalam pelaksanaan desa siaga ini. Dengan
mengacu dari prinsif-prinsif keperawatan komunitas yaitu (Astuti Yuni,
Nursari 2006) :

Kemanfaatan, yang berarti bahwa intervensi yang dilakukan harus


memberikan manfaat sebesar besarnya bagi komunitas.

Prinsip otonomi yaitu komunitas harus diberikan kebebasan untuk


melakukan atau memilih alternative yang terbaik yang disediakan
untuk komunitas.

Keadilan yaitu melakukan upaya atau tindakan sesuai dengan


kemampuan atau kapasitas komunitas.

Adapun peran perawat disini antara lain (Old, London, & Ladewig, 2000)

Sebagai pemberi pelayanan dimana perawat akan memberikan


pelayanan keperawatan langsung dan tidak langsung kepada klien
dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat.

Sebagai pendidik, perawat memberikan pendidikan kesehatan


kepada klien dengan resiko tinggi atau dan kader ksehatan.

Sebagai

pengelola

perawat

mengorganisasi,menggerakan
keperawatan

baik

dan

langsung

akan

merencanakan,

mengevaluasi

maupun

tak

pelayanan

langsung

dan

menggunakan peran serta aktif masyarakat dalam kegiatan


keperawatan komunitas.

Sebagai konselor, perawat akan memberikan konseling atau


bimbingan kepada kader, keluarga dan masyarakat tentang
masalah kesehatan komunitas dan kesehatan ibu dan anak.

Sebagai pembela klien (advokator) perawat harus melindungi dan


memfasilitasi

keluarga

dan

masyarakat

dalm

pelayanan

melakukan

penelitian

untuk

dalam

rangka

keperawatan komunitas.

Sebagai

peneliti

mengembangkan

perawat
keperawatan

komunitas

mengefektifkan desa siaga.


Sedangkan menurut Depkes RI (2005) perawat mempunyai peran
dalam mewujudkan Desa Siaga, diantaranya yaitu:
1. Peran sebagai pengelola
Peran perawat sebagi pengelola memiliki arti bahwa perawat
mempunyai peran dan tanggung jawab mengelola pelayanan maupun

pendidikan

keperawatan

sesuai

dengan

manajemen

keperawatan.

Sebagai pengelola perawat memantau dan menjamin kualitas asuhan


atau pelayanan keperawatan serta mengorganisasi dan mengendalikan
sistem pelayanan keperawatan.
2. Sebagai pendidik
Sebagai pendidik perawat berperan dalam mendidik individu ,
keluarga atau kelompok, serta tenaga kesehatan yang berada di
bawahnya (Sudarma 2008). Dalam jurnal tersebut perawat dapat
membantu tenaga kesehatan lainnya untuk melatih dan mendidik kader
kader kesehatan yang sudah terpilih dan memberikan materi pelatihan
kader

seperti

pengembangan

dan

pengelolaan

upaya

kesehtaan

bersumberdaya masyarakat ( UKBM ), hal penting terkait kehamilan dan


persalinan sehat, keluarga sadar gizi, posyandu, kesehatan lingkungan,
pencegahan penyakit menular,penyediaan air bersih, kegawat daruratan
sehari hari, serta meberikan informasi tentang perilaku hidup sehat.
3. Peran perawat sebagai konselor,
Dalam hal ini, perawat akan memberikan konseling atau bimbingan
kepada kader, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan
komunitas dan kesehatan ibu dan anak.
4. Peran perawat sebagai kolabolator
Perawat harus mampu bekerjasama dengan petugas kesehatan
lain seperti kepala puskesmas, dokter, bidan, petugas gizi, petugas
kesehatan lingkungan, dan petugas promosi kesehatan , agar tercapainya
tujuannya yaitu membentuk desa siaga.
5. Peran perawat sebagai motivator
Perawat harus mampu membangun motivasi masyarakat untuk
bersama sama membentuk desa siaga.

Mengacu dari BPPSDM Dep Kes 2005, mengenai sumber daya


manusia (SDM) Kesehatan di Desa Siaga dijelaskan bahwa SDM
pelaksana pada desa siaga ini menempati posisi yang sangat penting,
dimana mereka akan berperan dalam sebuah tim kesehatan yang akan
melaksanakan uapya pelayanan kesehatan. SDM Kesehatan yang akan
ditempatan di desa siaga ini memiliki kompetensi sebagai berikut:

Mampu

melakukan

pelayanan

kehamilan

dan

pertolongan

persalinan, kesehatan ibu dan anak

Mampu melakukan pelayanan kesehatan dasar

Mampu melakukan pelayanan gizi individu dan masyarakat

Mampu melakukan kegiatan sanitasi dasar

Mampu melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan

Mampu melakukan pelayanan kesiapsiagaan terhadap bencana ,


dan mampu melaksanakan pembangunan dan pemberdayaan
masyarakat.
Perawat dengan peran dan fungsinya untuk ikut mensukseskan

Desa Siaga, sebaiknya telah dipersiapkan dengan baik sehingga


beberapa persyaratan SDM seperti dijelaskan diatas bisa dicapai.

DAFTAR PUSTAKA
Aisha, I. Nur . 2012. Pedesaan dan Perkotaan. Diakses pada 15 Juni 2014
Pukul 08:24 http://id.scribd.com/doc/93614368/TUGAS-1-PERDES
Andrika, Saka. 2013. Kesehatan Masyarakat di Kawasan Pedesaan dan
Pemukiman

Kumuh.

http://www.tipssehatku.com/2013/08/kesehatan-masyarakat.html.
Astuti

Yuni.

Nursasi

(2006).

Peran

Perawat

Komunitas.

Tidak

dipublikasikan.
Bintarto.

2010.

Masyarakat

Pedesaan.

http://bimcibedug.bandungbaratkab.go.id/karakteristik-masyarakatdi-pedesaan/. Diakses 20 Juni 2014.


Departemen Kesehatan RI. 2005. Desa Siaga dan Komitmen Politik Untuk
Meningkatkan Drajat Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Depkes RI
Departemen Kesehatan RI. 2005. Desa Siaga dan Komitmen Politik Untuk
Meningkatkan

Derajat

Kesehatan

Masyarakat. Http://www.depkes.go.id/index.php? Option = news


&task = viewwarticle & sid= 1405 &itemid=2 diakses 16 Juni 2014
pukul 10.22.
Depkes RI. 2006. Rencana Strategis Departemen Kesehatan Tahun 20052009. Jakarta. Pdf
Depkes RI. 2008. Riset Kesehatan Dasar : Laporan Nasional 2007.
Jakarta
Harnowo, Putro Agus. 2012. Desa Siaga Jamin Masyarakat Miskin
Pedesaan

Dapat

Layanan

Kesehatan.

http://health.detik.com/read/2012/11/27/144156/2102733/763/desasiaga-jamin-masyarakat-miskin-pedesaan-dapat-layanankesehatan
IBP (Indonesia Core Team). 2012. JAMKESMAS dan Program Jaminan
Kesehatan Daerah : Laporan Pengkajian di 8 Kabupaten/Kota dan
2 Provinsi. Jakarta : Perkumpulan INISIATIF
Kemenkes. 2008. Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.
Jakarta. Pdf
Setiyabudi

R.

Dasar

Kesehatan

Lingkungan.

Disitasi

dari

http://www.ajago.blogspot.htm. Last Update : Desember 2007


World Health Organization (WHO). Environmental Health. Disitasi dari :
http://www.WHO.int. Last Update : Januari 2008