Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PSORIASIS

KELOMPOK 2:
Maura Angelina (9103012005)
Maria N.A. Andriyani (9103012019)
Yovita S. Upsan (9103012033)
Agustina Ina B. Making (91030120 )

Fakultas Keperawatan
Universitas Katolik Widya Mandala
Surabaya
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Psoriasis merupakan sejenis penyakit kulit yang penderitanya mengalami proses
pergantian kulit yang terlalu cepat. Kemunculan penyakit ini terkadang untuk jangka waktu
lama atau timbul/hilang. Berbeda dengan pergantian kulit pada manusia normal yang
biasanya berlangsung selama tiga sampai empat minggu, proses pergantian kulit pada
penderita psoriasis berlangsung secara cepat yaitu sekitar 24 hari, (bahkan bisa terjadi lebih
cepat) pergantian sel kulit yang banyak dan menebal.
Psoriasis dapat dijumpai di seluruh belahan dunia dengan angka kesakitan (insidens
rate)yang berbeda. Segiumur, Psoriasis dapat mengenai semua usia, namun biasanya lebih
kerap dijumpai pada dewasa.
Di dunia, penyakit kulit ini diduga mengenai sekitar 2 sampai 3 persen penduduk. Data
nasional prevalensi psoriasis di Indonesia belum diketahui. Namun di RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo, selama tahun 2000 sampai 2001, insiden psoriasis mencapai 2,3 persen.
Penyakit ini tidak mengenal usia, semua umur dapat terkena. Tapi puncak insidensinya di usia
dua puluhan dan lima puluhan.
Tidak ada fakta yang menunjukkan bahwa penyakit ini lebih dominan menyerang salah
satu jenis kelamin. Pria maupun wanita memiliki peluang yang sama untuk terserang
penyakit ini.
1.2 Tujuan
A.

Tujuan Umum
Dengan makalah ini di harapkan mahasiswa mampu memahami tentang asuhan
keperawatan Psoriasis.

B.

Tujuan Khusus
Dengan makalah ini di harapkan pembaca khususnya mahasiswa mampu memahami
tentang Definisi, Etiologi, Manisfestasiklinik, Patofosiologi, Kompikasi,
PenatalaksanaanPsoriasis.

BAB II
KONSEP MEDIS
2.1 Definisi
Psoriasi adalah suatu penyakit peradangan kronis pada kulit dimana penderitanya
mengalami proses pergantian kulit yang terlalu cepat. Penyakit ini secara klinis sifatnya
tidak mengancam jiwa dan tidak menular tetapi karena timbulnya dapat terjadi pada
bagian tubuh mana saja sehingga dapat menurunkan kualitas hidup seseorang bila tidak
dirawat dengan baik (Effendy, 2005).
Psoriasis penyakit kulit kronik residif dengan lesi yang khas berupa bercak-bercak
eritema berbatas tegas di tutupi oleh skuama tebal berlapis-lapis berwarna putih
mengkilat.(Siregar, 2005).
2.2 Klasifikasi
Psoriasis dibagi kedalam beberapa bagian, yaitu :
1. Psoriasis Vulgaris
Merupakan bentuk yang paling umum dari psoriasis dan sering ditemukan
(80%). Psoriasis ini tampak berupa plak yang berbentuk sirkumskrip. Jumlah
lesi pada psoriasis vulgaris dapat bervariasi dari satu hingga beberapa dengan
ukuran mulai 0,5 cm hingga 30 cm atau lebih. Lokasi psoriasis vulgaris yang
paling sering dijumpai adalah ekstenor siku, lutut, sakrum dan scalp. Selain
lokasi tersebut diatas psoriasis ini dapat timbul juga di lokasi lain.
2. Psoriatik Eritroderma
Psoriasis Eritroderma sangat berbahaya, seluruh kulit penderita menjadi merah
dan bersisik, fungsi perlindungan kulit hilang, sehingga penderita mudah
terkena infeksi.
3. Psoriasis Pustular
Psoriasis Pustular terutama banyak ditemui pada orang dewasa. Pada Psoriasis
Pustular terdapat pustula-pustula (Pustules) putih berisi cairan nanah (Pus) noninfeksius yang dikelilingi oleh kulit yang berwarna kemerahan. Cairan nanah
(Pus) ini terdiri dari sel-sel darah putih yang bukan merupakan suatu infeksi dan
juga tidak menular. Psoriasis Pustular bisa muncul pada daerah tertentu pada
tubuh, contohnya pada tangan dan kaki, atau dapat ditemukan menutupi hampir
seluruh tubuh dengan kecenderungan membentuk suatu siklus : kemerahan pada
kulit yang diikuti oleh pembentukan pustules dan pengelupasan kulit (scaling).
4. Psoriasis gutata
Tampak sebagai papul eritematosa multipel yang sering ditemukan pada badan
dan kemudian meluas hingga ekstremitas, wajah, dan scalp. Lesi psoriasis ini

menetap selama 2-3 bulan dan akhirnya akan mengalami resolusi spontan. Pada
umumnya terjadi pada anak-anak dan remajayang sering kali diawali dengan
radang tenggorokan.
5. Fleksural psoriasis
Psoriasis Inverse ditemukan pada ketiak, pangkal paha, di bawah payudara, dan
di lipatan-lipatan kulit di sekitar kemaluan dan panggul. Tipe psoriasis ini
awalnya tampak sebagai bercak yang sangat merah dan biasanya berhubungan
dengan adanya psoriasis plak. Bercak psoriasis bisa tampak licin dan bersinar.
Psoriasis Inverse sangat menganggu karena adanya iritasi yang disebabkan oleh
gesekan serta keringat, mengingat lokasinya yang berada di lipatan-lipatan kulit
dan daerah-daerah yang sensitif. Psoriasis Inverse terutama sangat mengganggu
bagi penderita yang gemuk dan yang mempunyai lipatan kulit yang dalam.
2.3 Etiologi
Faktor-faktor yang dapat memicu psoriasis diantaranya adalah :
1. Trauma fisik (Koebner Phenomenon), akibat gesekan atau garukan.
2. Infeksi : infeksi streptokokus dapat menyebabkan psoriasis gutata
3. Stress : faktor lain yang memicu timbulnya psoriasis yaitu stress, insidensinya
sebanyak 40% dan lebih tinggi lagi pada anak-anak.
4. Obat : obat-obatan yang dapat memicu timbulnya psoriasi yaitu
glukokortikoid, lithium, obat antimalaria, dan B blocker.
2.4 Patofisiologi
Psoriasis merupakan penyakit kronik yang dapat terjadi pada setiap usia. Perjalanan
alamiah penyakit ini sangat berfluktuasi. Pada psoriasis ditunjukan adanya penebalan
epidermis dan stratum korneum dan pelebaran pembuluh-pembuluh darah dermis
bagian atas. Jumlah sel-sel basal yang bermitosis jelas meningkat. Sel-sel yang
membelah dengan cepat itu bergerak dengan cepat ke bagian permukaan epidermis
yang menebal. Proliferasi dan migrasi sel-sel epidermis yang cepat ini menyebabkan
epidermis menjadi tebal dan diliputi keratin yang tebal ( sisik yang berwarna seperti
perak). Peningkatan kecepatan mitosis sel-sel epidermis ini agaknya antara lain
disebabkan oleh kadar nukleotida siklik yang abnormal, terutama adenosin monofosfat
(AMP) siklik dan guanosin monofosfat (GMP) siklik. Prostaglandin dan poliamin juga
abnormal pada penyakit ini. Peranan setiap kelainan tersebut dalam mempengaruhi plak
psoriatik belum dapat dimengerti secara jelas.
2.5 Manifestasi klinis
Penderita biasanya mengeluh adanya gatal ringan pada tempat-tempat predileksi, yakni
pada kulit kepala, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas bagian

ekstensor terutama siku serta lutut, dan daerah lumbosakral. Kelainan kulit terdiri atas
bercak-bercak eritema yang meninggi (plak) dengan skuama diatasnya. Eritema
berbatas tegas dan merata. Skuama berlapis-lapis, kasar, dan berwarna putih seperti
mika, serta transparan. Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz dan
Kobner. Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubah warnanya menjadi putih
pada goresan, seperti lilin digores. Pada fenomena Auspitz serum atau darah berbintikbintik yang disebabkan karena papilomatosis. Trauma pada kulit, misalnya garukan,
dapat menyebabkan kelainan yang sama dengan kelainan psoriasis dan disebut kobner.
Psoriasis juga dapat menyebabkan kelainan kuku yang agak khas yang disebut pitting
nail atau nail pit berupa lekukan-lekukan miliar.
Ada lokasi-lokasi khusus dimana psoriasis sering terjadi, yaitu :
1. Kepala (scalp) : timbul plak yang berbatas tegas, dengan scaling yang tebal.
2. Telapak tangan dan kaki : adanya plak keabuan yang tebal, hyperkeratosis, dan
scaling. deskuamasi menunjukan proses inflamasi.
3. Batang tubuh (trunk) : lesi yang timbul biasanya berbentuk gutata.
4. Wajah : jarang mengenai area ini.
2.6 Penatalaksanaan medis
Sampai saat ini belum ditemukan pengobatan yang spesifik karena penyebabnya belum
jelas dan banyak faktor yang berpengaruh. Psoriasis sebaiknya diobati secara topikal.
Jika hasilnya tidak memuaskan, baru dipertimbangkan pengobatan sistemik karena efek
samping pengobatan sistemik lebih banyak.
1. Pengobatan Sistemik
a. Kortikosteroid (Prednison)
b. Obat sitostatik (Metroteksat)
c. Levodopa
d. DDS (diamino difenil sulfon)
e. Etretinat dan Asitretein
f. Siklosporin
2. Pengobatan Topikal
a. Preparat Ter (fosil, kayu, batubara)
b. Kortikosteroid (senyawa fluor)
c. Ditranol (antralin)
d. Pengobatan dengan peyinaran
3. Analog vitamin D.
4. Sinar UV-B
5. Psoralen PUVA (UV-A)

2.7 WOC Psoriosis

2.8 Asuhan Keperawatan Psoriosis