Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

GASTRITIS PADA LANSIA


A. TINJAUAN KEPERAWATAN
1. PENGERTIAN
Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan sub mukosa
lambung (Mansjoer, 2001). Gastritis pada lansia adalah suatu peradangan
mukosa lambung yang dapat bersifat kronis, difus atau lokal yang sering
terjadi pada lansia: dua jenis gastritis yang paling sering terjadi : gastritis
superfisial akut dan gastritis atropik kronik. Gastritis pada lansia adalah
suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat kronis, difus atau
lokal yang sering terjadi pada lansia: dua jenis gastritis yang paling sering
terjadi : gastritis superfisial akut dan gastritis atropik kronik (Smeltzer, S.C,.
2001)
2. ANATOMI FISIOLOGI
Lambung adalah sebuah kantong otot yang kosong, terletak dibagian
kiri atas perut tepat dibawah tulang iga. Lambung orang dewasa memiliki
panjang berkisar antara 10 inci dan dapat mengembang untuk menampung
makanan atau minuman sebanyak 1 gallon. Bila lambung dalam keadaan
kosong, maka ia akan melipat, mirip seperti sebuah akordion. Ketika
lambung mulai terisi dan mengembang, lipatan lipatan tersebut secara
bertahap membuka.
Lambung memproses dan menyimpan makanan dan secara bertahap
melepaskannya kedalam usus kecil. Ketika makanan masuk kedalam
esofagus, sebuah cincin otot yang berada pada sambungan antara esofagus
dan lambung ( Esophangeal Sphincer ) akan membuka dan membiarkan
makanan masuk lewat lambung. Setelah masuk kelambung cincin ini
menutup. Dinding lambung terdiri dari lapisan otot yang kuat. Ketika
makanan berada dilambung, dinding lambung akan mulai menghancurkan
makanan tersebut. Pada saat yang sama, kelenjar kelenjar yang berada
dimucosa pada dinding lambung mulai mengeluarkan cairan lambung

( termasuk enzim enzim dan asam lambung ) untuk lebih menghancurkan


makanan tersebut.
Suatu komponen cairan lambung adalah Asam Hidroklorida. Asam ini
sangat korosif sehingga paku besipun dapat larut dalam cairan ini. Dinding
lambung dilindungi oleh mucosa mucosa bicarbonate (sebuah lapisan
penyangga yang mengeluarkan ion bicarbonate secara reguler sehingga
menyeimbangkan keasaman dalam lambung ) sehingga terhindar dari sifat
korosif hidroklorida. Fungsi dari lapisan pelindung lambung ini adalah agar
cairan asam dalam lambung tidak merusak dinding lambung. Kerusakan
pada lapisan pelindung menyebabkan cairan lambung yang sangat asam
bersentuhan langsung dengan dinding lambung dan menyebabkan
peradangan atau inflamasi.Gastritis biasanya terjadi ketika mekanisme
pelindung ini kewalahan dan mengakibatkan rusak dan meradangnya
dinding lambung (Smeltzer, Suzanne C. 2001)
3. ETIOLOGI
Gastritis seringkali akibat dari stress.
a) Endotoksin bakteri (masuk setelah menelan

makanan

yang

terkontaminasi), kafein, alkohol, dan aspirin merupakan agen-agen


penyebab yang sering.
b) Penyebab lain adalah obat-obatan seperti : sulfonamida, steroid.
c) Beberapa makanan berbumbu termasuk lada, cuka dapat menyebabkan
gejala yang mengarah pada gastritis.
d) Gastritis kronik umumnya disebabkan akibat minum alkohol berlebihan,
teh panas, merokok, merupakan predisposisi timbulnya gastritis atropik.
e) Pada kasus anemia pernisiosa, patogenesis agaknya berkaitan dengan
gangguan mekanisme imunologik. Kebanyakan penderita mempunyai
antibodi terhadap sel parietal dalam darahnya, lebih spesifik lagi,
penderita ini juga mempunyai antibodi terhadap faktor intrinsik.
4. MANIFESTASI KLINIS
a) Manifestasi klinis dari gastritis akut dapat bervariasi dari keluhan
abdomen yang tidak jelas, seperti anoreksia atau mual, sampai gejala
lebih berat seperti nyeri epigastrium, muntah, perdarahan dan
hematemesis. Pada pemeriksaan fisis biasanya tidak ditemukan kelainan,

kecuali mereka yang mengalami perdarahan yang hebat sehingga


menimbulkan tanda dan gejala gangguan hemodinamik yang nyata
seperti hipotensi, pucat, keringat dingin, takikardia sampai gangguan
kesadaran. Klien juga mengeluh kembung, rasa asam di mulut.
b) Sedangkan manifestasi klinis dari gastritis kronik ; gejala defisiensi B 12,
sakit ulu hati setelah makan, bersendawa rasa pahit dalam mulut, mual
dan muntah (Soeparman, S.W,. 2001)
5. KOMPLIKASI
a) Gastritis Akut
Terdapat perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa
hematemesis dan melena, dapat berakhir sebagai syok hemoragik, khusus
untuk perdarahan SCBA perlu dibedakan dengan tukan peptik. Gambaran
klinis yang diperlihatkan hampir sama, namun pada tukak peptik
penyebab utamanya adalah infeksi. Helicobakteri pulori sebesar 100%
pada tukak lambung. Diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan endoskopi
b) Gastritis Kronik
Perdarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, periforasi, dan anemia
karena gangguan absorbsi vitamin B12 ( Mansjoer Arief M, dkk, 2001 )
6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Gastritis erosif harus selalu diwaspadai pada setiap pasien dengan keadaan
klinis yang berat atau pengguna aspirin dan anti inflamasi nonsteroid.
Diagnosa ini ditegakkan dengan pemeriksaan gastroduodenoskopi. Pada
pemeriksaan akan tampak mukosa yang sembab, merah, mudah berdarah
atau terdapat perdarahan spontan, erosi mukosa yang bervariasi dari yang
menyembuh sampai tertutup oleh bekuan darah dan kadang ulserasi.
Pada gastritis kronis diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan
endoskopi dan histopatologi. Untuk pemeriksaan histopatologi sebaiknya
dilakukan biopsi pada semua segmen lambung. Perlu pula dilakukan kultur
untuk membuktikan adanya infeksi helicobacter pylori apalagi jika
ditemukan ulkus baik pada lambung ataupun pada duodenum, mengingat
angka kejadian yang cukup tinggi yaitu hampir mencapai 100%. Kriteria
minimal untuk menegakkan diagnosis H. Pylori jika hasil PA positif.
7. PENATALAKSANAAN
Gastritis akut :

a) Mengatasi kedaruratan medis yang terjadi.


b) Mengatasi atau menghindari penyebab apabila dijumpai / ditemukan.
c) Pemberian obat obat H2 blocking, antasid atau obat obat ulkus
lambung yang lain.
Gastritis kronis :
Pada umumnya gastritis kronik tidak memerlukan pengobatan, yang harus
diperhatikan ialah penyakit penyakit lain yang keluhannya dapat
dihubungkan dengan gastritis kronik. Anemia yang disebabkan oleh gastritis
kronik biasanya bereaksi baik terhadap pemberian vitamin B 12 atau preparat
besi, tergantung dari defisiensinya.
8. PERUBAHAN FISIOLOGIS SISTEM PENCERNAAN PADA LANSIA
Penuaan dicirikan dengan kehilangan banyak sel tubuh dan penurunan
metabolism di sel lainnya.Proses ini menyebabkan penurunan fungsi
tubuh dan perubahan komposisi tubuh
Perubahan pada sistem pencernaan :

1) Kehilangan gigi,penyebab utama adanya periodontal desease


yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun.Penyebab lain meliputi
kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.

2) Indera pengecap menurun.Adanya iritasi yang kronis dari selaput


lendir.atropi indera pengecap (80%),hilangnya sensitivitas dari
syaraf

pengecap

di

lidah

teritama

rasa

manis,asin,asam,pahit.Selain itu sekresi air ludah berkurang


sampai kira-kira 75% sehingga mengakibatkan rongga mulut
menjadi kering dan bisa menurunkan cita rasa.
3) Usofagus melebar.Penuaan usofagus berupa pengerasan sfringfar
bagian bawah sehingga menjadi mengendur (relaksasi) dan
mengakibatkan usofagus melebar (presbyusofagus).Keadaan ini
memperlambat pengosongan usofagus dan tidak jarang berlanjut
sebagai hernianhiatal.Gangguan menelan biasanya berpangkal
pada

daerah

presofagus

tepatnta

di

daerah

osofaring

penyebabnya tersembunyi dalam system saraf sentral atau akibat


gangguan neuromuskuler seperti jumlah ganglion yang menyusut

sementara lapisan otot menebal dengan manometer akan tampak


tanda perlambatan pengosongan usofagus.
4) Lambung,rasa
lapar
menurun
(sensitivitas

lapar

menurun).Lapisan lambung menipis diatas 60 tahun,sekresi HCL


dan

pepsin

berkurang,asam

lambung

menurun,waktu

pengosongan lambung menurun dampaknya vitamin B12 dan zat


besi menurun.

5) Peristaltic lemah dan biaanya timbul konstipasi


6) Fungsi absopsi melemah (daya absorpsi terganggu).Berat total
usus halus berkurang diatas usia 40 tahun meskipun penyerapan
zat gizi pada umumnya masih dalam batas normal,kecuali kalsium
(diatas 60 tahun)dan zat besi.
7) Liver (hati).Penurunan enzim hati yang terlibat dalam oksidasi dan
reduksi,yamg menyebabkan metabolisme obat dan detoksifikasi
zat kurang efisien.

B. TINJAUAN KEPERAWATAN
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN DENGAN KASUS GASTRITIS PADA LANSIA
Pengkajian ini meliputi identitas klien, status kesehatan saat ini, riwayat kesehatan
masa lalu, riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik sistem gastrointestinal,
pola aktivitas sehari-hari, serta pengkajian pola psikososial dan spiritual.
Identitas Klien

Nama
Umur
Jenis kelamin
Status perkawinan
Agama
Suku
Status kesehatan saat ini

status kesehatan secara umum


keluhan kesehatan saat ini
Pengetahuan, pemahaman, dan penatalaksanaan masalah kesehatan

Riwayat kesehatan masa lalu:


penyakit masa kanak-kanak
penyakit kronik
Pernah mengalami trauma
Observasi penampilan umum
Pucat (kehilangan darah dari GI)
Kelelahan dan kelemahan (malnutrisi, ketidakseimbangan elektrolit, atau
perdarahan). Obesitas atau penurunan berat badan yang tidak biasa.
Bau
Bau mulut (kurangnya kebersihan mulut, penyakit pada rongga mulut dan paru
paru, infeksi abses paru, penyakit paru dan uremia).
Kulit
Turgor kulit yang jelek dihubungkan dengan dehidrasi, kulit bersisik, gatal, kulit
yang pucat, pengikisan kulit bisa disebabkan oleh bermacam-macam defisiensi
nutrisi. Kaji adanya edema akibat gangguan sistem lain.
Pemeriksaan rongga mulut :
Bibir
Kesimetrisan, warna, kelembaban, kebiru-biruan (rendahnya kadar O2). Bibir
pecah-pecah (defisiensi riboflafin atau perlukaan oleh gigi yang tajam).
Rongga mulut
Inspeksi kelembaban dan kemerahan membran mukosa. Membran mukosa dan
lidah kering (dehidrasi), bintik putih pada mukosa (infeksi moniliasis).
Gusi bengkak penyakit periodontal juga akibat fenitoin atau leukimia. Keracunan
timah dideteksi dengan timbulnya garis biru kehitaman jika gigi masih ada.
Faring
Selama proses menelan, nervus fagus palatun lunak terangkat dan menutup
nasofaring aspirasi tidak terjadi.
Kaji fungsi gangguan refleks, tekan lidan pada bagian tengah, tetapi tidak terlalu
jauh kebelakang respon tersedak. Suruh lansia mengatakan ah Palatum
lunak terangkat. Jika terjadi rasa sakit dan kemerahan, atau adanya bintik putih
dikerongkongannya.
Pemeriksaan abdomen

Suruh pasien mengosongkan abdomen, lihat (tanya) apakah ada bekas luka akibat
apendektomi 50 tahun yang lalu.
Lihat apakan ada striae (biasanaya biru-pink atau warna perak) Hasil dari
obesitas, ansites, kehamilan, atau tumor. Lihat adanya ruam.
Kaji kesimetrisan abdomen dan mencakup semua keempat kuadran. Catat adanya
temuan dan lokasi.distensi bagian bawah abdomen (dibawah pusar)distensi
kandung kemih atau tumor pada uterus dan ovarium.
Kaji adanya nyeri atau ketegangan.
Perkusi (bunyi abnormal pada sebagian organ abdomen, misal hati, lambung, dll).
Kaji bising usus normal (terdengar satu kali setiap 5-15 detik, biasanya tidak
teratur), jika tidak terdengar, stimulasi dengan jari. Tidak adanya bising usus
kurang dari 5 menit dibutuhkan evaluasi medis. Peningkatan suara sampai
penurunan peristaltik. Palpasi seharusnya tidak ada masa.
Pemeriksaan rektum
Inspeksi perianal (hemoroid), lakukan DRE untuk mengkaji (fisura, tumor,
inflamasi, dankebersihan yang kurang)
Minta klien untuk meneran (ada tambahan hemoroid atau rectal prolaps). Masa
yang keras bias menghalangi palpasi penuh pada rektum.
Pemeriksaan feses
DRE (pemeriksaan spesimen feses)
Feses hitam (makanan yang tinggi besi atau perdarahan usus proksimal)
Darah merah segar (perdarahan usus bagian distal atau hemoroid). Pucat atau
berlemak (masalah absorbsi). Feses yang abu-abu (obstruksi jaundice) mukus
(inflamasi) (Eliopoulus, 2005)
Wawancara
a) Gigi dan gusi
Status gigi atau gigi palsu?
Kapan lagi pemeriksaan gigi?
Bagaimana perawatan gigi atau gigi palsu
Kapan mengenakan gigi palsu
Apakah merasa nyeri, perdarahan, dan gejala lain yang dirasakan
Riwayat pengobatan, alkohol, zat adiktif lainnya.
b) Nafsu makan

Apakah ada penurunan nafsu makan terhadap makanan yang disukai pada masa

lalu
Bagaimana cara anda mengelola makanan agar berasa enak
c) Gejala
Luka, sulit mengunyah, tersedak, terasa masuk ketenggorokan, mual, muntah,
perdarahan mulut, muntah atau feses berdarah, nyeri, rasa terbakar pada
lambungdan usus, diare, konstipasi, gas, perdarahan rektum?
d)

e)

f)

g)

Berat badan
Apakah baru-baru ini mengalami penurunan berat badan?
Apakah terjadi peningkatan atau penurunan berat badan?
Pencernaan
Apakah sering mendapatkan keluhan pencernaan?
Apakah penyebab dan bagaimana penanganannya?
Apakah ada rasa penuh, ada tidaknya pada dada setelah makan?
Apakah regurgitasi atau sendawa pernah terjadi?
Eliminasi
Berapa kali BAB?
Apakah ada meneran saat BAB?
Apakah darah di BAB?
Bagaimana konsistensi pada warna feses?
Diet
Berapa kali makan sehari
Bagaimana cara mendapatkan makanan
Apakah ada perubahan pola makan
Riwayat pengobatan, alkohol, dan zat adiktif lainnya.

1. DIAGNOSA KEPERAWATAN (Lynda Juall, 2001)


1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan peradangan mukosa
lambung akibat peningkatan atau penurunan HCL.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang adekuat.
3. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri pada daerah
epigastrium.

2. RENCANA TINDAKAN
a) Diagnosa 1
Tujuan : Nyeri dapat hilang
Kriteria Hasil : Nyeri dapat hilang/berkurang
Pasien tampak tenang
Nyeri perut hilang
Expresi wajah rilex dan ceria
Intervensi
1. Lakukan pendekatan therapeutik pada klien
R/ Agar lebih mudah melakukan tindakan keperawatan
2. Berikan penjelasan sebab-sebab dan akibat terjadinya nyeri
R/ Agar lebih mudah melakukan tindakan keperawatan
3. Beri motivasi klien untuk makan teratur
R/ Diet teratur bisa menghindari kerusakan mukosa lambung
4. Berikan teknik relaxasi pada klien
R/ Agar klien merasa lebih nyaman
5. Observasi TTV pada klien
R/ Untuk mengetahui perkembangan pasien
6. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi
R/ terapi memberikan rasa nyaman pada pasien dan mengurangi rasa nyeri
b) Diagnosa 2
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang adekuat.
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi dalam waktu 3 hari
Kriteria Hasil : Mual menurun, tidak muntah
Turgor baik
Kulit lembab, wajah ceria
Porsi makan sesuai porsi

Intervensi :
1. Beri penjelasan terhadap pentingnya nutrisi bagi tubuh dan proses
penyembuhan
R/ Pengetahuan yang meningkat dapat meningkatkan perilaku hidup sehat
2. Berikan makanan yang menarik dan merangsang selera makan.
R/ Makanan dalam porsi besar lebih sulit dikonsumsi pasien saat anorexia
3. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian nutrisi parenteral.
R/ Dibutuhkan bila intake PO tidak mencukupi dan efek farmakologis
roboransia untuk meningkatkan nafsu makan
c) Diagnosa 3
Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri pada daerah
epigastrium.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan perawatan diharapkan tidur terpenuhi sesuai
kebutuhan
Kriteria Hasil :
Klien mengatakan sudah dapat tidur.
Intervensi :
1. Berikan penjelasan terhadap klien pentingnya istirahat tidur.
R/ Lingkungan yang nyaman menstimulasi pengurangan nyeri.
2. Ciptakan lingkungan yang nyaman.
R/ Dengan penjelasan diharapkan klien termotivasi untuk memenuhi
kebutuhan istirahat sesuai dengan kebutuhan.
3. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesic
R/ Analgesik bekerja mengurangi reseptor nyeri sehingga klien dapat
istirahat.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC
Doengos. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Mansjoer Arief. M, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedikteran, edisi 3. Jakarta: media
ausculapius FKUI
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &
Suddarth, Ed.8. Jakarta: EGC