Anda di halaman 1dari 10

Tokoh Teori Organisasi Modern

Posted on April 13, 2010 | Leave a comment


Teori Organisasi Modern memberi perhatian pada analisis yang didasarkan
konseptualisasi dan penilitian empiris. Diatas semua itu teori organisasi
modern mencoba meletakan semua elemen kualitas kedalam perspektif
dan pijakan sistem manusia. Sebuah sistem menurut pandangan teoritisi
organisasi modern harus bergantung kepada sebuah metode analisis atau
melibatkan berbagai variabel dependent. Bagi penganut teori organisasi
modern, sistem manusia tentu saja mengandung banyak variabel yang
harus dipertimbangkan dalam memecahkan persoalan pada organisasi
yang kompleks.
Jadi sebenarnya terlihat bahwa selain studi tentang perilaku, kerasionalan
atau
penggunaan akal sehat kembali digunakan lagi pada paradigma teori
organisasi modern, rasionalitas dan studi perilaku sebenarnya merupakan
pilihan atau kompromi tentang pandangan organisasi sebagai sistem
tertutup dan sistem terbuka. Pada tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an
para teoritikus melihat organisasi sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Mereka berkonsentrasi pada sasaran, tehnologi, dan ketakpastian
lingkungan sebagai variable-variabel kontingensi akan membantu
pencapaian tujuan organisasi.
Sebaliknya, penerapan struktur yang salah akan mengancam
kelangsungan hidup organisasi. Akan tetapi pendekatan mutakhir untuk
memahami organisasi kemudian dikembangkan dalam paradigma teori
organisasi modern yang mengembangkan studi perilaku sebagai
determinan penting dalam memahami organisasi. Perspektif sosial atau
studi perilaku digunakan kembali dalam kerangka organisasi sebagai
sistem terbuka.
Robbins (1994), melihat bahwa hasilnya adalah pandangan tentang
struktur bukanlah merupakan usaha yang rasional dari para manajer
untuk menciptakan struktur yang paling efektif, tetapi merupakan hasil
dari suatu pertarungan politis diantara koalisikoalisi di dalam organisasi
untuk memperoleh kontrol.

Teori Organisasi Modern; terdiri atas berbagai pandangan, konsep, dan


teori yang berorientasi pada sistem dan dikembangkan atas dasar
penilitian empiris. Para ahli teori modern memandang organisasi sebagai
sebuah sistem yang adaptif, agar dapat bertahan, harus menyesuaikan
diri dengan perubahan lingkungan. Tokoh-tokoh tersebut antara lain:
1. E.A. Trist dan K.W. Bamforth.
Trist memperoleh gelar master psikologi dari Cambridge University
pada tahun 1933. Ia merupakan salah seorang anggota pendiri Tavistock
Institute of Human Relations yang berdiri pada tahun 1946. Trist juga
mengabdi pada Yale University, UCLA, dan Warthon University. Bamforth
pada awalnya adalah seorang pekerja tambang batu bara. Pekerjaan ini
dilakukannya sejak usia 18 tahun. Kemudian ia belajar privat di Tavistock.
Mereka berdua mengeksplor cara untuk meningkatkan produktifitas dan
moral organisasi lewat aksi penilitian. Secara keseluruhan mereka
mengasumsikan organisasi terdiri atas hubungan antara sistem non
manusia dan sistem manusia. Trist dan Bamforth berusaha menjelaskan
beberapa konsekwensi yang terjadi pada metode pengorganisasian
perusahaan batubara tersebut.
Pada pandangan sosio-tehnikal kedua sistem tersebut butuh
dukungan secara optimal ketika keduanya disatukan. Tidak seperti
pendekatan manajerial yang bersifat top-down, mereka menekankan
partisipasi bottom-up yang berperilaku bijak, pengaturan internal dan
otonomi bagi kelompok kerja.
Mereka selalu mengeksplorasi bagaimana organisasi mencoba
bertahan dalam
lingkungan sosial dan ekonomi melalui pengembangan semi-otonomi
yang fleksibel merupakan jawaban terhadap keadaan yang terbaik buat
para pekerja. Mereka mencoba menciptakan bentuk organisasi yang
melayani komunitas manusia dan kepentingan efisiensi tehnis (worker and
technology). Mereka percaya bahwa pekerjaan harus didukung oleh
komitmen dan motivasi kelompok kerja dalam berbagai tingkatan,
kompetisi dan pengawasan melekat akan menimbulkan stress, penipuan
yang licik, mengorbankan orang lain dan moral yang rendah. Hal ini

merupakan temuan awal mereka pada penilitian di British Coal Mines.


Pilihan-pilihan terhadap pertanyaan krusial sebuah pekerjaan dibuat oleh
para pekerja itu sendiri, dan direfleksikan terhadap lingkungan sosial dan
ekonomi. Tekanan-tekanan realitas sosial dan ekonomi akan berinteraksi
dengan kemampuan pengetahuan yang ada diantara satu karyawan
dengan karyawan lainnya. Hubungan yang stabil merupakan hasil yang
ditunjukkan oleh ketangguhan organisasi menghandle persoalan
hubungan tersebut. Dengan kesadaran demikian ketika seseorang
mengalami kecelakaan atau terbunuh, persoalannya akan menjadi hal
yang umum pada lingkungan sosial bahwa rekan kerjanya harus
mengurus keluarga korban. Hubungan kerja selalu dikuatkan oleh ikatan
kekeluargaan. Sistem kontrak dan otonomi kelompok pada sebuah sistem
tertutup akan selalu berubah secara spontan ketika organisasi
diperhadapkan pada hubungan antara keluarga dan pekerjaan yang
menunjukkan adanya ikatan seseorang terhadap yang lain.
2. Joan Woodward (-)22
Woodward bekerja sebagai peneliti pada South East Essex College of
Technology. Penilitian terhadap seluruh perusahaan di South Essex dimulai
pada tahun 1954. Woodward merupakan orang pertama yang
memperhatikan determinan tehnologi dan struktur. Dalam penilitiannya,
Woodward berfokus pada tehnologi produksi struktur organisasi dan
tingkatan tehnologi, secara meyakinkan menunjukkan bahwa tidak ada
cara terbaik untuk mengorganisasi suatu bisnis dan bahwa bentuk
organisasi berdasarkan prinsip klasik, yang menekankan kesatuan
perintah, hirarki, dan kejelasan struktur, dalam kenyataannya jarang
dipraktekkan oleh perusahaan yang sukses. Penilitiannya merupakan
usaha besar pertama yang melihat struktur organisasi dari perspektif
tehnologi yang menghasilkan karya dengan judul Management and
Technology yang dipublikasikan tahun 1958 dan Industrial Organization:
Theory and Practice, tahun 1965.
Penyelidikan Woodward memperlihatkan adanya hubungan antara
tehnologi, struktur, dan keefektifan. Perusahaan yang kurang lebih
mendekati struktur yang khas bagi tehnologi adalah yang paling efektif.

Perusahaan yang menyimpang dari struktur ideal mereka adalah yang


kurang berhasil. Oleh karenanya Woodward menyatakan bahwa
keefektifan adalah fungsi dari suatu kesesuaian tehnologi-struktur yang
tepat. Organisasi yang mengembangkan struktur yang sesuai dengan
tehnologi adalah yang paling berhasil dibandingkan dengan yang tidak
mengembangkannya sesuai dengan tehnologi.
Woodward juga berhasil menjelaskan perbedaan antara temuannya
dan petunjuk klasik dari para teoritikus manajemen. Prinsip ini didasarkan
atas pengalaman para teoritikus tersebut dengan organisasi yang
menggunakan tehnologi mass-production. Perusahaan mass-production
memililki garis wewenang yang jelas, formalisasi yang tinggi, proporsi
kerja terampil yang rendah yang dicapai melalui suatu pembagian kerja
yang tinggi, rentang kendali yang lebar pada tingkat supervisor, dan
pengambilan keputusan yang tersentralisasi. Tetapi karena semua
organisasi tidak menggunakan tehnologi massproduction, prinsip
demikian tidak bersifat umum. Dengan demikian penilitian dari Woodward
menjadi pertanda awal dari berakhirnya pandangan bahwa ada prinsip
universal tentang manajemen dan organisasi. Karyanya mewakili transisi
awal para pakar teori organisasi dari perspektif prinsip kepada teori
kontingensi tentang organisasi.
Iktisar Karya Woodward dalam hubungan antara kompleksitas
tehnologi dan struktur terlihat dalam tabel sebagai berikut:
Karakteristik Struktural
Rendah ke Tinggi
Tehnologi
Produksi Produksi Produksi
Unit Massal Proses 22 Penulis tidak memperoleh data tentang
tanggal kelahiran beliau.
Jumlah tingkat vertikal
Rentang kendali supervisor
Rasio manajer/total pegawai
Proporsi pegawai terampil
Komponen keseluruhan

Formalisasi
Sentralisasi
346
24 48 14
1:23 1:16 1:8
Tinggi Rendah Tinggi
Rendah Tinggi Rendah
Rendah Tinggi Rendah
Rendah Tinggi Rendah
Tabel ini merupakan sebuah analisis yang cermat dari Woodward
untuk setiap kategori pada skala tehnologi (unit, mass, process) dan untuk
setiap komponen strukutural, terdapat kisaran (range) yang optimal
disekitar titik median yang mencakup posisi perusahaan yang lebih
efektif. Artinya, pada setiap kategori tehnologi, perusahaan yang paling
sesuai dengan angka median untuk setiap komponen struktural adalah
yang paling efektif.
Kesimpulan Woodward dari tabel diatas adalah; pertama, adanya
hubungan yang jelas antara klasifikasi tehnologi dengan struktur
selanjutnya dari sebuah perusahaan.
Kedua, keefektifan organisasi ada kaitannya dengan kesesuaian antara
tehnologi dan struktur.
3. T. Burns dan G.M Stalker
Dalam karya mereka The Mangement of Inovation, tahun 1961,
Burns dan Stalker melakukan penyelidikan terhadap hubungan antara
organisasi dengan lingkungannya. Mereka memfokuskan pada perusahaan
elektronik di Tavistock yang menghadapi perubahan pasar produk
tehnologi yang semakin kompetitif dan inovatif, yang selalu memunculkan
produk terbaru. Studi mereka yang orisinil, menyelidiki tentang dua
bentuk organisasi: bentuk mekanis dan organis. Bentuk mekanis biasanya
melakukan pengendalian dari atas ke bawah dalam sebuah hirarki,
komunikasi bersifat vertikal. Organisasi membutuhkan loyalitas dan
penyesuaian dari satu anggota terhadap lainnya, terhadap para manajer
dan terhadap organisasi itu sendiri dalam hubungan pembuatan kebijakan

dan metode-metode. Para anggota butuh legitimasi yang memadai untuk


beroperasi dalam batasan organisasional.
Sementara bentuk organis diperuntukkan bagi organisasi yang
menghadapi situasi yang pada mulanya stabil kemudian berubah menjadi
tidak stabil, tak terkedali, dan kondisi yang berubah. Perusahaan yang
menerapkan bentuk organis akan membentuk kembali dirinya dalam
menghadapi persoalan baru dan menciptakan sistem kontingensi (jadi
mereka adalah penggagas awal teori kontingensi). Katimbang struktur
yang kaku dan terspesialisasi menurut pekerjaan, sebuah organisasi yang
cair didesain sebagai adaptasi dengan fasilitas yang fleksibel dan
meredefinisikan kembali pekerjaan. Departemen-departemen,seksi-seksi,
dan team dimaknai sebagai bagian yang sudah ada dan akan dibentuk
lagi, komunikasi diciptakan secara lateral katimbang komunikasi vertikal,
dengan penekanan pada sebuah jaringan atau network, katimbang
sebagai sebuah hirarki. Anggota organisasi merupakan pribadi yang
memiliki komitmen dibalik pekerjaanpekerjaan penting. Burns dan Stalker
menemukan adanya kecenderungan perubahan bentuk dalam organisasi
dari bentuk mekanis yang statis mirip dengan birokrasi Weber kepada
bentuk organis yang dinamis dan partisipatoris. Kekritisan mereka
didasarkan atas beberapa persoalan yang muncul yang memungkinkan
mereka merumuskan adanya bentuk mekanis dan organis dalam
organisasi. Persoalan yang dimunculkan dalam karya mereka terutama
tentang terlalu terfokusnya organisasi dalam merumuskan persoalan
internal yaitu sistem dan prosedur internal serta lambat dalam merespons
perubahan eksternal karena keterbatasan rangkaian perangkat prosedural
dan pemikiran. Kekritisan mereka sangat bermanfaat bagi perubahan dan
pengembangan lebih lanjut tentang budaya dan strategi organisasi selain
pengembangan teori organisasi itu sendiri.
Burns dan Stalker mendemontrasikan bahwa prinsip manajemen klasik
berjalan dengan baik dalam perusahan yang memiliki tehnologi tinggi,
mapan dan pasar yang baik, tetapi tidak cocok bagi perusahaan yang
menghadapi keadaan perubahan setiap saat.

Tabel sistem mekanis dan organis yang orisinal dari Burns dan Stalker (1961):
Mechanistic Organic A mechanistic management system is appropriate to stable conditions. It is
characterized by:
(a) the specialized differentiation of functional tasks into which the problems and tasks
facing the concern are broken down.;
(b) the abstract nature of each individual task, which is pursued with techniques
and purposes more or less distinct from The organic form is appropriate to
changing conditions which give rise constantly to fresh problems and
unforseen requirements for action which cannot be broken down or distributed
automatically arising from the functional roles defined within a hierarchic structure.
It is characterized by:
(a) the contributive nature of special knowledge and experience to the common
those of the concern as a whole; i.e., the functionaries tend to pursue the technical improvement
of means, rather than the accomp lishment of the ends of the concern.;
(c) the reconciliation, for each level in the hierarchy, of these distinct performances
by the immediate superiors, who are also, in turn, responsible for seeing that each is
relevant in his own special part of the main task.
(d) The precise definition of rights and obligations and technical methods
attached to each functional role;
(e) the translation of rights, and obligations, and methods into the
responsibilities of a functional position;
(f) hierarchic structure of control,
authority and communication;
(g) a reinforcement of hierarchic structure by the location of knowledge of actualities
task of the concern;
(b) the realistic nature of the individual task, which is seen as set by the total
situation of the concern;
(c) the adjustment and continual redefinition of individual tasks through
interaction with others;
(d) the shedding of responsibility as a limited field of rights, obligations and
methods. (Problems may not be posted upwards, downwards or sideways as being
someone elses responsibility);
(e) the spread of commitment to the
concern beyond any technical definition;
(f) a network structure of control,
authority, and communication. The
sanctions which apply to the individuals
conduct in his working role derive more
from presumed community of interest

with the rest of the working organization


in the survival and growth of the firm, and
exclusively at the top of the hierarchy,
where the final reconciliation of distinct
tasks and assessment of relevant is made;
(h) a tendency for interaction between
members of the concern to be vertical, i.e.,
between superior and subordinate;
(i) a tendency for operations and working
behavior to be governed by the
instructions and decisions issued by
superiors;
(j) insistence on loyalty to the concern and
obedience to superiors as a condition of
membership;
(k) a greater importance and prestige
attaching to internal (local) than to general
(cosmopolitan) knowledge, experience,
and skill. (120-122).
Sumber Burns dan Stalker (1961, hlm.
119-120).
less from a contractual relationship
between himself and a non-personal
corporation, represented for him by an
immediate superior;
(g) omniscience no longer imputed to the
head of the concern; knowledge about the
technical or commercial nature of the here
and now task may be located anywhere in
the network; this location becoming the ad
hoc center of control, authority and
communication.
(h) a lateral rather than a vertical direction
of communication through the
organization, communication between
people of different rank, also, resembling
consultation rather than command:

(i) a content of communication which


consists of information and advice rather
than instructions and decisions;
(j) commitment to the concerns tasks and
to the technological ethos of material
progress and expansion is more highly
valued than loyalty and obedience;
(k) importance and prestige attach to
affiliations and expertise valid in the
industrial and technical and commercial
milieu external to the firm.
Sumber Burns dan Stalker (1961, hlm.
121-122).
4. Peter M. Blau dan Richard W. Scott
Peter M. Blau (1918-)
Peter M. Blau lahir di Vienna, Austria, tahun 1918. Ia datang ke Amerika Serikat pada
tahun 1939, kemudian memperoleh gelar Ph.D dari Collumbia University tahun 1952. Ia juga
memperoleh gelar profesor dari berbagai universitas dalam bidang sosiologi. Kepakaran Blau
dimanfaatkan oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat, ia diangkat sebagai staf ahli pada US
Army Intellegence. Blau menulis lebih dari 20 buku tentang birokrasi, organisasi dan lainnya.
Richard W. Scott (-)
Richard W. Scott memperoleh gelar Ph.D dari University of Chiqago tahun 1961, dan
selanjutnya ia dianugerahi gelar profesor oleh Stanford University dalam bidang sosiologi. Scott
melakukan studi terhadap evolusi dalam organisasi pelayanan kesehatan di San Fransisco Bay
Area sejak Perang Dunia II hingga kini.
Blau dan Scott dianggap memiliki kontribusi dalam teori organisasi khususnya teori
modern karena karya mereka dalam bentuk buku dengan judul Formal Organizations,
yang dipublikasikan tahun 1962. Analisis sosiologis dilakukan oleh mereka berdua
dalam rangka melihat berbagai persoalan utama yang terjadi dalam hidup organisasi. Dalam
pengantar buku ini Blau dan Scott menyebutkan sebagai berikut:
This books present a sosiolocal analyisis of some of the main facet of organization life. We shall
examine the nature and types of formal organization the conection between them and the larger
social context of wich they are part, and various aspect of their internal structure, such as peer
group and hierarchical relations in organizations procesess of communication, management and
impersonal mechanism of control
Buku tersebut secara teoritis melakukan generalisasi untuk menolong dan menjelaskan
struktur dan dinamika organisasi dengan melakukan studi komparatif lewat pembandingan

terhadap organisasi-organisasi yang mentranformasikan konsepkonsepnya, kemudian


menjalankannya.
James D. Thompson (1920-1973)
James D. Thompson dilahirkan di Indianapolis. Ia adalah seorang sosiolog di University
of North Carolina. Spesialisasinya adalah pada bidang organisasi sosial dan perubahannya dan
pengembangan organisasional. Karya utamanya adalah buku Organization in Action, yang
dipublikasikan pada tahun 1967.
Menurut Thompson organisasi membentuk inti (core) tehnologinya karena pengaruh
lingkungan. Semua organisasi memiliki motivasi yang tinggi untuk memperoleh stabilitas
keamanan, orientasi yang jelas, dan selalu tanggap secara efisien dan efektif dalam lingkungan
yang penuh dengan ketidakpastian. Thompson mengemukakan bahwa organisasi mau tidak
mau harus melakukan beberapa hal mendasar sebagai sebuah keharusan, karena kalau tidak
maka tujuan organisasi tidak akan tercapai karena organisasi diharapkan menghasilkan sesuatu,
maka tindakannya pun hendaknya masuk akal atau rasional. Konsep rasionalitas yang
dibebankan pada organisasi menentukan ruang lingkup dalam hal mana tindakan organisatoris
harus dilaksanakan. Berlainan dengan Woodward, Thompson sebenarnya bukan pendukung
imperative tehnologi. Kontribusi Thompson lebih terletak pada upayanya untuk menunjukkan
bahwa tekhnologi menentukan pemilihan strategi untuk mengurangi ketidakpastian dan bahwa
pengaturan struktur yang spesifik dapat mengurangi ketidakpastian. Ia berargumentasi bahwa
permintaan terhadap pengambilan keputusan dan komunikasi sebagai akibat dari tekhnologi
meningkat dari mediating (rendah) ke long-lingked (medium) lalu ke intensive (tinggi).
Koordinasi dalam memediasikan tehnologi yang paling efektif adalah melalui peraturan dan
prosedur. Long-lingked harus didampingi oleh perencanaan dan penjadwalan. Intensive
technology membutuhkan mutual adjusment. Ini berarti bahwa penyesuaian tersebut dapat
diurai dalam konfigurasi sebagai berikut:
Mediating technology = kompleksitas rendah, formalitas tinggi
Long-lingked = kompleksitas dan formalitas tinggi
Intensive technology = kompleksitas tinggi, formalitas rendah
Thompson memperlihatkan bahwa saling ketergantungan yang diciptakan oleh tehnologi
penting disaat menentukan struktur sebuah organisasi. Diidentifikasikan Thompson sebagai
long-linked, mediating dan intensive, yang menunjukkan adanya saling ketergantungan yang
khusus dari masing-masing tehnologi; menentukan bagaimana masing-masing menanggapi
ketidakpastian yang dihadapinya; dan meramalkan alat-alat koordinasi struktural yang paling
ekonomis bagi masing-masing tehnologi.

https://www.scribd.com/doc/89970435/Tokoh-Teori-Organisasi1