Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kepada Tritunggal Allah Yang Mahakudus karena atas karunia-Nya penulis
dapat menyelesaikan tesis yang berjudul Implementasi Pendidikan Karakter di SMP Negeri 8
Merauke. Tesis ini dibuat sebagai syarat guna mendapatkan gelar Magister Pendidikan pada
Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Cenderawasih.
Tesis ini dapat terselesaikan berkat bantuan berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini
penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Rektor Universitas Cenderawasih Jayapura yang telah membuka Program Pascasarjana
Magister Manajemen Pendidikan Universitas Cendrawasih.
2. DR. Leonard Sagisolo, M.Pd. sebagai Ketua Program Studi Magister Manajemen Pendidikan
(MMP) Universitas Cenderawasih Jayapura.
3. DR. F.X. Soewarto CT, MS Sebagai Pembimbing I, yang telah membantu penulis sampai dengan
menyelesaikan tesis ini.
4. DR. C. Tanto, M.Si, Sebagai Pembimbing II, yang telah membantu penulis sampai dengan
menyelesaikan tesis ini.
5. Dosen Pengajar pada Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas Cenderawasih
yang telah membekali penulis dengan banyak ilmu pengetahuan.
6. Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC (Uskup Agung Merauke) yang telah berkenan menjadi
perantara rahmat Tuhan berupa pemberian beasiswa kepada penulis melalui kerjasama dengan
PT. Mahanusa Capital.
7. PT. Mahanusa Capital yang telah memberikan bantuan biaya studi secara penuh kepada penulis
melalui program Mahanusa Capital Scholarship
8. Bapak Widjaja Tannady sebagai Direktur PT Mahanusa Capital yang telah memfasilitasi
penulis dalam mendapatkan Mahanusa Capital Scholarship.
9. Bapak Bupati Kabupaten Merauke yang telah memberikan bantuan biaya studi kepada penulis
untuk menyelesaikan tugas akhir.
10. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Merauke yang telah memberikan dukungan dan
motivasi kepada penulis.
11. Kepala Sekolah dan Dewan Guru dan staf TU SMP Negeri 8 Merauke yang banyak
memberikan dukungan pada penulis.
12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu dalam penulisan
tesis ini.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna, untuk itu koreksi dan masukan dari
berbagai pihak sangat diharapkan demi perbaikan.

Merauke, 27 Januari 2015

Stephanus Triyono

Implementasi Pendidikan Karakter di SMP Negeri 8 Merauke

Stephanus Triyono
Universitas Cencerawasih Program Pascasarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Program Magister Manajemen Pendidikan
e-mail: stefsmp8@yahoo.co.id
Abstrak: Penelitian tentang implementasi pendidikan karakter di SMP Negeri 8 Merauke ini
bertujuan: 1) untuk mengetahui perencanaan dan pengorganisasian implementasi pendidikan
karakter; 2) untuk mengetahui implementasi pendidikan karakter; 3) untuk mengetahui monitoring
dan evaluasi implementasi pendidikan karakter; dan 4) untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi implementasi pendidikan karakter di SMP Negeri 8 Merauke.
Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif digunakan karena
penelitian ini menekankan pada upaya untuk mengkaji secara natural (alamiah) fenomena yang
tengah terjadi dalam implementasi pendidikan karakter di SMP Negeri 8 Merauke. Penelitian
menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data dan menemukan fakta-fakta berdasarkan hasil
data yang diperoleh.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Implementasi pendidikan karakter secara umum
sudah direncanakan dengan baik, pendidikan karakter diintegrasikan dalam semua mata pelajaran
dan kegiatan ekstra kurikuler; Tetapi dari segi pengorganisasian tidak ada sosialisasi maupun
pelatihan secara khusus; 2) Implementasi pendidikan karakter sudah sangat baik, meskipun ada
nilai-nilai karakter yang tidak dimasukkan dalam silabus maupun RPP, namun terlaksana dalam
pembelajaran di kelas maupun kegiatan pengembangan diri atau ekstrakurikuler; 3) Monitoring dan
evaluasi implementasi pendidikan karakter dilakukan oleh kepala sekolah maupun guru.
Monitoring dapat dilakukan dengan baik, tetapi evaluasi tidak dilakukan; 4) Faktor pendukung
dalam implementasi pendidikan karakter yang utama adalah adanya dukungan dari semua pihak
baik Pemerintah, Kepala Sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, Orang tua maupun siswa. Faktor
penghambat yang utama adalah masih kurangnya sarana prasarana dan tidak adanya sosialisasi.
Kata Kunci : Implementasi, Pendidikan, Karakter
A.

Pendahuluan
Krisis karakter adalah fenomena yang
kini melanda bukan saja di Indonesia tapi juga
hampir di seluruh negara di dunia. Krisis
karakter ini tidak saja melanda generasi tua,
tetapi juga generasi muda bahkan anak-anak.
Kini sering sekali tersaji di media massa baik
di televisi, radio atau surat kabar, berita-berita
tentang kasus pembunuhan, korupsi, konflik
antar warga, antar suku, tawuran pelajar,
perilaku menyimpang dan lain-lain, yang juga
dapat ditemukan di lingkungan hidup
masyarakat luas, juga di sekolah-sekolah.
Krisis ini sebenarnya mengakar pada
menurunnya kualitas moral bangsa. Manusia
Indonesia
tidak
bermasalah
dengan
kecerdasannya, IQ atau otaknya, tapi yang
menjadi masalah justru pada hati nuraninya

dan secara eksplisit berkaitan langsung


dengan jati diri dan karakternya (Soemarsono,
2008: 7). Dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara akhir-akhir ini, jiwa nasionalisme
Indonesia semakin terkikis atau semakin
memudar,
yang
ditandai
dengan
berkembangnya semangat individualisme,
hedonisme, bahkan separatisme.
Sahetapey
dalam
Sigit
Dwi
Kusrahmadi (2007:2) mengatakan bahwa
pembusukan moral bangsa ini bagaikan ikan
yang rusak berawal dari kepalanya. Para
pemimpin negara pada hakekatnya tidak
memperjuangkan
kepentingan
rakyat,
melayani rakyat dengan sebaik-baiknya, tetapi
justru haus kekuasaan dan materi untuk
memuaskan diri.

Persoalan yang tidak kalah serius


adalah pada bidang pendidikan. Praktikpraktik kebohongan dalam dunia pendidikan
mulai dari menyontek pada saat ujian sampai
plagiarisme (http:/ilman05.blogspot.com, 5
Agustus 2014). Jika sebagai peserta didik
sudah terbiasa dengan tipu menipu atau
manipulasi ujian, bagaimana nanti apabila
sudah lulus kuliah atau bekerja? Bukankah itu
akan melahirkan kembali koruptor-koruptor
baru? Hal inilah kiranya yang menjadi
penyebab mengapa korupsi seakan tidak
pernah mati dan bahkan menjadi budaya
lestari yang turun temurun di negara kita.
SMP Negeri 8 Merauke berdiri pada
tahun 1988. Terletak di wilayah eks
transmigrasi Satuan Pemukiman 2 (SP 2)
Kampung Yasa Mulya. Lokasi ini merupakan
lokasi pertama yang dibuka di wilayah Tanah
Miring. Ditilik dari peserta didik, SMP
Negeri 8 Merauke mempunyai peserta didik
yang sangat majemuk. Bagi SMP Negeri 8
Merauke, penerapan pendidikan karakter
bangsa adalah suatu keharusan sebagai
tanggung jawab terhadap masa depan anakanak negeri.
Keseriusan
pemerintah
untuk
mengoptimalkan fungsi dan mewujudkan
tujuan pendidikan nasional di atas, antara lain
tampak dari adanya kebijakan pendidikan
karakter yang disuarakan sejak tahun 2003.
Pendidikan
karakter
diharapkan
agar
diterapkan oleh semua satuan pendidikan
secara terintegrasi dalam pembelajaran di
kelas dan kultur sekolah. Senada dengan
komitmen pemerintah di atas, Koesoema
(2010:116) menegaskan bahwa pendidikan
karakter bisa menjadi salah satu sarana
pembudayaan dan pemanusiaan. Peran
pendidikan karakter bukan saja bersifat
integratif, dalam arti mengukuhkan moral
intelektual subjek didik, melainkan juga
bersifat kuratif, baik secara personal maupun
sosial, yakni bisa menjadi salah satu sarana
penyembuh penyakit sosial.
Persoalan pendidikan karakter yang
telah demikian mendesak. Hal inilah yang
mendorong penulis untuk mempertanyakan
dan menelusuri sejauh mana sekolah sebagai
lembaga pendidikan formal menjalankan
perannya mengimplementasikan kebijakan
pendidikan karakter. Selain itu, penulis juga

merasa perlu untuk menelaah bagaimana


mengelola
pendidikan karakter di
lingkungan sekolah.
Hasil observasi awal di atas dikuatkan
oleh pernyataan Kepala Sekolah melalui
wawancara informal yang dilakukan peneliti.
Kepala Sekolah menegaskan bahwa SMP
Negeri 8 Merauke adalah sekolah yang sangat
menekankan pendidikan karakter, bahkan
jauh sebelum pemerintah menyuarakan
urgensi pendidikan karakter.
Bertitik tolak dari latar belakang
masalah di atas, peneliti yang adalah salah
seorang guru di SMP Negeri 8 Merauke,
tertarik untuk mendalami implementasi
pendidikan karakter pada SMP Negeri 8
Merauke. Peneliti memilih satuan pendidikan
SMP Negeri 8 Merauke sebagai obyek
penelitian. Alasannya, sekolah ini memiliki
komitmen
yang
kuat
untuk
mengimplementasikan pendidikan karakter.
Pendalaman tentang implementasi pendidikan
karakter ini diungkapkan dalam tesis yang
berjudul Implementasi Pendidikan Karakter
pada SMP Negeri 8 Merauke
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah pada
latar belakang di atas, maka fokus penelitian
dibatasi pada: (1) Penyusunan rencana dan
pengorganisasian implementasi pendidikan
karakter (2) Implementasi pendidikan
karakter (3) Monitoring dan evaluasi
pendidikan karakter dan (4) Faktor yang
pendukung
dan
faktor
penghambat
pendidikan karakter di SMP Negeri 8
Merauke.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
masalah dalam penelitian ini dapat
dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai
berikut: (1) Bagaimanakah perencanaan dan
pengorganisasian pendidikan karakter?, (2)
Bagaimanakah implementasi
pendidikan
karakter?, (3) Bagaimanakah monitoring dan
evaluasi pendidikan karakter?, dan (4)
Apakah faktor pendukung dan penghambat
implementasi pendidikan karakter di SMP
Negeri 8 Merauke?
D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai


berikut: (1) Untuk memperoleh gambaran
yang komprehensif tentang perencanaan dan
pengorganisasian pendidikan karakter, (2)
Untuk
memperoleh
gambaran
yang
komprehensif
tentang
implementasi
pendidikan karakter, (3) Untuk memperoleh
gambaran yang komprehensif tentang
monitoring dan evaluasi pendidikan karakter,
(4) Untuk mengetahui faktor penghambat dan
pendukung implementasi pendidikan karakter
di SMP Negeri 8 Merauke .

1. Konsep Dasar Pendidikan Karakter


a. Pengertian Pendidikan

E.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana


untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
Negara.

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan dua manfaat yaitu (1) manfaat
teoretik yakni mengembangkan keilmuan
dalam mengimplementasikan pendidikan
pendidikan karakter dan menjadi acuan bagi
para peneliti selanjutnya untuk fokus yang
sama atau dengan kajian yang lebih luas, (2)
manfaat praktis pada bidang-bidang atau
institusi-institusi, sebagai berikut: a) Bagi
sekolah, penelitian ini memberikan manfaat
praktis yaitu sebagai acuan untuk menyusun
rencana
dan
pengorganisasian,
mengimplementasikan,
monitoring
dan
evaluasi pendidikan karakter di sekolah. b)
Bagi guru penelitian ini memberikan
gambaran bagaimana masing-masing guru
menyusun persiapan, melaksanakan dan
mengorganisasikan
serta
mengevaluasi
pendidikan karakter di dalam proses
pembelajaran. c) bagi Siswa sebagai subyek
didik tentu saja dapat mengetahui nilai-nilai
karakter bangsa dan menemukan cara untuk
menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari.
d) Bagi orang tua, penelitian ini dapat
membantu
bagaimana
orang
tua
memposisikan diri dalam mendukung
pendidikan
anaknya,
terutama
dalam
mendukung sekolah untuk menerapkan
pendidikan karakter. e) komite sekolah pun
dapat mengambil peran dalam membantu
sekolah menerapkan pendidikan karakter. f)
Bagi Dinas Pendidikan dan Pengajaran
Kabupaten, penelitian ini tentu merupakan
sumbangan bagi implementasi pendidikan
karakter di sekolah-sekolah di Kabupaten
Merauke.
F.

Tinjauan Pustaka

Menurut John Dewey dalam Muslich


(2011:67)
pendidikan
adalah
proses
pembentukan kecakapan fundamental secara
intelektual dan emosional ke arah alam dan
sesama manusia. Sementara itu dalam konteks
Indonesia, pengertian pendidikan secara
sistematis tertuang dalam Undang-Undang
Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1
ayat 1 yang berbunyi demikian:

Jadi, pengertian pendidikan mencakup


keseluruhan aspek kehidupan manusia.
Bahkan, pendidikan adalah hidup itu sendiri,
sebab pendidikan berlangsung seumur hidup
(long life education), mencakup segala
lingkungan dan situasi hidup yang
mempengaruhi
pertumbuhan
individu
(Mudyahardjo, 2001:3).
b. Pengertian Karakter
Secara etimologis istilah karakter
berasal dari bahasa Yunani karasso, berarti
cetak biru, format dasar, atau sidik
seperti dalam sidik jari. Interpretasi atas
istilah ini bermacam-macam. Mounier (dalam
Koesoema, 2010:90-91) mengajukan dua cara
interpretasi, yaitu pertama, karakter sebagai
sekumpulan kondisi yang telah diberikan
begitu saja, atau telah ada begitu saja, yang
lebih kurang dipaksakan dalam diri kita
(karakter bawaan atau given character).
Kedua, karakter sebagai tingkat kekuatan
melalui mana seorang individu mampu
menguasai kondisi tersebut. Karakter adalah
sebuah proses yang kehendaki (willed).
Senada dengan pengertian karakter di atas,
Ohoitmur (dalam Rataq dan Korompis,
2011:11), menegaskan bahwa karakter
personal terdiri dari dua unsur yakni karakter

bawaan dan karakter binaan. Karakter bawaan


merupakan karakter yang secara hereditas
menjadi ciri khas kepribadiannya. Sedangkan
karakter binaan merupakan karakter yang
berkembang
melalui
pembinaan
dan
pendidikan secara sistematis.
Menurut Pusat Bahasa Depdiknas
dalam Kemendiknas (2010:12) karakter
diartikan sebagai bawaan, hati, jiwa,
kepribadian,
budi
pekerti,
perilaku,
personalitas, sifat, tabiat, temperamen,
watak. Berkarakter berarti berkepribadian,
berperilaku,
bersifat,
bertabiat,
dan
berwatak. Individu yang berkarakter baik
atau unggul adalah seseorang yang berusaha
melakukan hal-hal yang terbaik terhadap
Tuhan, dirinya, sesama dan lingkungannya
dengan cara mengoptimalkan potensi dirinya
dan disertai dengan kesadaran, emosi dan
motivasinya.
Penulis sependapat dengan Marvin W.
Berkowitz (2002:69) bahwa karakter adalah
sebagai berikut: Character as an individuals
set of psychological characteristics that affect
that persons ability and inclination to
function morally. Simply put, character is
comprised of those characteristics that lead
person to do the right thing or not to do the
right thing. Karakter adalah kumpulan dari
karakteristik psikologis individual yang
mempengaruhi
bakat
seseorang
dan
kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan
moralitas. Dengan kata lain karakter itu terdiri
dari karakteristik-karakteristik yang menuntun
seseorang untuk melakukan sesuatu yang baik
atau melakukan sesuatu yang tidak baik.
c. Pengertian Pendidikan Karakter
Elkind dan Sweet dalam Kemendiknas
(2010:13) menyebutkan pendidikan karakter
dimaknai sebagai berikut: character
education is the deliberate effort to help
people understand, care about, and act upon
core ethical values. Pendidikan karakter
adalah suatu usaha sengaja untuk membantu
orang memahami, peduli dan bertindak
menurut nilai-nilai etika. Sementara itu
menurut
Ramli
dalam
Kemendiknas
(2010:13), pendidikan karakter memiliki
esensi dan makna yang sama dengan
pendidikan moral dan pendidikan akhlak.
Tujuannya adalah membentuk pribadi anak,

supaya menjadi manusia yang baik, warga


masyarakat, dan warga negara yang baik.
Dalam
konteks
Indonesia,
Kemendiknas
(2011)
secara
detail
menyebutkan delapan belas nilai dalam
pendidikan karakter, yaitu religius, jujur,
toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif,
mandiri, demokratis, rasa ingin tahu,
semangat kebangsaan, cinta tanah air,
menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif,
gemar membaca, peduli lingkungan, dan
peduli sosial, serta tanggung jawab.
2. Desain Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter yang efektif dan
utuh menyertakan tiga basis desain dalam
pemrogramannya. Tiga basis yang dimaksud
adalah basis kelas, basis kultur sekolah dan
basis komunitas. Berikut intisari desain
pendidikan karakter menurut Koesoema
(2012:105-153).
a.

Pendidikan karakter berbasis kelas

Desain kurikulum pendidikan karakter


berbasis kelas terjadi melalui dua ranah yang
berjalan seiring, yaitu intstruksional dan noninstruksional. Ranah instruksional terkait
secara
langsung
dengan
tindakan
pembelajaran dan pengajaran di dalam kelas,
yakni proses pembelajaran bersama terhadap
materi kurikulum yang diajarkan. Sedangkan
ranah non-instruksional mengacu pada unsurunsur di luar dinamika belajar mengajar di
dalam kelas, seperti motivasi, keterlibatan,
manajemen kelas, pembuatan norma, aturan
dan prosedur, komitmen bersama, dan
lingkungan fisik.
b. Pendidikan karakter berbasis kultur
sekolah
Dalam konteks pendidikan, kultur
sekolah merupakan sebuah pola perilaku dan
cara bertindak yang telah terbentuk secara
otomatis menjadi bagian yang hidup dalam
sebuah komunitas pendidikan. Dasar pola
perilaku dan cara bertidaknya adalah norma
sosial, peraturan sekolah, dan kebijakan
pendidikan di tingkat lokal. Oleh karena itu
kultur sekolah dapat dikatakan seperti
kurikulum tersembunyi (hidden curriculum)
yang lebih efektif memengaruhi pola perilaku
dan cara berpikir seluruh anggota komunitas

sekolah. Kultur sekolah berjiwa pendidikan


karakter terbentuk ketika dalam merancang
sebuah program, setiap individu dapat bekerja
sama satu sama lain melaksanakan visi dan
misi sekolah melalui berbagai macam
kegiatan.
Pada pendidikan karakter berbasis
kultur sekolah terdapat integrasi antara
idealisme lembaga pendidikan, yakni visi dan
misi, dengan berbagai macam struktur yang
mendefinisikan kinerja individu melalui
cakupan
tanggung
jawabnya.
Dalam
mengembangkan pendidikan karakter berbasis
kultur sekolah, berbagai macam momen
dalam dunia pendidikan dapat menjadi titik
temu. Momen pendidikan ini dapat bersifat
struktural, polisional, dan eventual. Momen
pendidikan yang struktural adalah peristiwa
yang berkaitan erat dengan proses regulasi
dan administrasi sekolah. Momen struktural
ini di antaranya adalah proses pembentukan
kesepakatan kerja, peraturan yayasan,
peraturan sekolah, job description setiap
jabatan dan kedudukan.
Sasaran pertama pendidikan karakter
berbasis kultur sekolah mengarah pada
pertumbuhan lembaga pendidikan sebagai
komunitas moral. Prinsip-prinsip moral dasar
semestinya menjadi dasar bertindak dan
pengambilan keputusan. Prinsip-prinsip yang
dimaksud adalah berbuat baik, jangan
merusak, setiap individu berharga di dalam
dirinya, dan prinsip moral dasar tersebut mesti
senantiasa diingat oleh para pendidik dan
pengambil keputusan.
Di samping itu, menumbuhkan kultur
demokratis dalam lingkungan sekolah
merupakan salah satu strategi pengembangan
pendidikan karkater berbasis kultur sekolah.
c.

Pendidikan
karakter
berbasis
komunitas
Lembaga pendidikan tidak berdiri
sendiri, melainkan memiliki ikatan yang erat
dengan komunitas-komunitas lain, baik yang
terlibat secara langsung atau tidak langsug.
Komunitas-komunitas itu antara lain:
1) Komunitas
sekolah:
siswa,
guru,
karyawan, staf sekolah, dll.
2) Komunitas keluarga: orang tua, wali siswa,
komite sekolah.

3) Komunitas masyarakat: LSM, pengusaha,


berbagai perkumpulan sosial, dll.
4) Komunitas politik: pejabat birokrasi negara
bidang pendidikan, mulai dari pejabat di
tingkat
dinas
pendidikan
sampai
kementrian pendidikan nasional.
Pendidikan
karakter
berbasis
komunitas berusaha merancang berbagai
macam corak kerja sama dan keterlibatan
antara
lembaga
pendidikan
dengan
komunitas-komunitas dalam masyarakat.
Tujuannya adalah agar kehadiran lembaga
pendidikan semakin bermakna dan bermutu,
mampu menjawab aspirasi setiap anggota
komunitas tentang harapan mereka, fungsi,
dan peran lembaga pendidikan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
3. Tahapan Pendidikan Karakter
Karakter dikembangkan melalui tahap
pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting),
dan kebiasaan (habit). Karakter tidak terbatas
pada pengetahuan saja. Seseorang yang
memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu
mampu
bertindak
sesuai
dengan
pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi
kebiasaan) untuk melakukan kebaikan
tersebut. Karakter juga menjangkau wilayah
emosi dan kebiasaan diri. Dengan demikian
diperlukan tiga komponen karakter yang baik
(components of good character) yaitu moral
knowing (pengetahuan tentang moral), moral
feeling atau perasaan (penguatan emosi)
tentang moral, dan moral action atau
perbuatan bermoral. Hal ini diperlukan agar
peserta didik dan atau warga sekolah lain
yang terlibat dalam sistem pendidikan
tersebut
sekaligus
dapat
memahami,
merasakan, menghayati, dan mengamalkan
(mengerjakan) nilai-nilai kebajikan (moral).
Dimensi-dimensi
yang
termasuk
dalam moral knowing yang akan mengisi
ranah kognitif adalah kesadaran moral (moral
awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai
moral (knowing moral values), penentuan
sudut pandang (perspective taking), logika
moral
(moral
reasoning),
keberanian
mengambil sikap (decision making), dan
pengenalan diri (self knowledge). Moral
feeling merupakan penguatan aspek emosi
peserta didik untuk menjadi manusia
berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan

bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan


oleh peserta didik, yaitu kesadaran akan jati
diri (conscience), percaya diri (self esteem),
kepekaan terhadap derita orang lain
(emphaty), cinta kebenaran (loving the good),
pengendalian diri (self control), kerendahan
hati (humility). Moral action merupakan
perbuatan atau tindakan moral yang
merupakan hasil (outcome) dari dua
komponen
karakter
lainnya.
Untuk
memahami apa yang mendorong seseorang
dalam perbuatan yang baik (act morally)
maka harus dilihat tiga aspek lain dari
karakter yaitu kompetensi (competence),
keinginan (will), dan kebiasaan (habit).
Pengembangan karakter dalam suatu
sistem pendidikan adalah keterkaitan antara
komponen-komponen
karakter
yang
mengandung nilai-nilai perilaku, yang dapat
dilakukan atau bertindak secara bertahap dan
saling berhubungan antara pengetahuan nilainilai perilaku dengan sikap atau emosi yang
kuat untuk melaksanakannya, baik terhadap
Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan,
bangsa dan negara serta dunia internasional.
Kebiasaan berbuat baik tidak selalu
menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa
tersebut secara sadar menghargai pentingnya
nilai karakter (valuing). Karena mungkin saja
perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa
takut untuk berbuat salah, bukan karena
tingginya penghargaan akan nilai itu.
Misalnya ketika seseorang berbuat jujur hal
itu dilakukan karena dinilai oleh orang lain,
bukan karena keinginannya yang tulus untuk
mengharagi nilai kejujuran itu sendiri. Oleh
karena itu dalam pendidikan karakter
diperlukan juga aspek perasaan (domain
affection atau emosi). Komponen ini dalam
pendidikan karakter disebut dengan desiring
the good atau keinginan untuk berbuat
kebaikan. Pendidikan karakter yang baik
dengan demikian harus melibatkan bukan saja
aspek knowing the good (moral knowing),
tetapi juga desiring the good atau loving
the good (moral feeling), dan acting the
good (moral action). Tanpa itu semua
manusia akan sama seperti robot yang
terindoktrinasi oleh sesuatu paham. Dengan
demikian jelas bahwa karakter dikembangkan
melalui tiga langkah, yakni mengembangkan
moral knowing, kemudian moral feeling, dan

moral action. Dengan kata lain, makin


lengkap komponen moral dimiliki manusia,
maka akan makin membentuk karakter yang
baik atau unggul/tangguh.
4. Penyelenggaraan Pendidikan Karakter
di SMP
Menurut Kemendiknas (2010: 2932), penyelenggaraan pendidikan karakter di
SMP dilakukan secara terpadu melalui 3 (tiga)
jalur, yaitu: pembelajaran, manajemen
sekolah, dan kegiatan pembinaan kesiswaan.
Langkah pendidikan karakter meliputi:
perencanaan, implementasi, monitoring dan
evaluasi, serta tindak lanjut.
G.

METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah deskriptif
kualitatif yaitu penelitian yang berusaha
mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa,
kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian
deskriptif memusatkan perhatian kepada
masalah-masalah aktual sebagaimana adanya
pada saat penelitian berlangsung. Melalui
penelitian deskriptif peneliti berusaha
mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang
menjadi pusat perhatian tanpa memberikan
perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut.
Penelitian dilakukan pada kondisi yang
alamiah atau natural setting (Sugiyono,
2011:14).
Pengujian
kredibilitas
data
dipergunakan
teknik
perpanjangan
pengamatan, meningkatkan ketekunun, dan
triangulasi
(Sugiyono,
2006:367-378).
Aktivitas dalam analisis data mengikuti flow
model yang dikemukakan oleh Miles dan
Huberman (Sugiyono, 2006:337), yaitu data
reduction, data display dan conclusion
drawing/verification.
H.

Hasil Penelitian Dan Pembahasan


Berdasarkan hasil penelitian diperoleh
data mengenai implementasi pendidikan
karakter bangsa di SMP Negeri 8 Merauke
sebagai berikut:
1. Perencanaan
dan
pengorganisasian
implementasi pendidikan karakter.
a. Perencanaan
dan
pengorganisasian
implementasi pendidikan karakter pada
bidang studi.
1) Pada umumnya semua guru sudah
mengintegrasikan 18 nilai karakter

dalam perencanaan pembelajaran yaitu


pada silabus dan RPP.
2) Ada beberapa nilai karakter yang tidak
dimasukkan dalam perencanaan karena
materi yang tidak sesuai.
3) Ada juga beberapa nilai karakter yang
tidak diintegrasikan karena guru kurang
memahami adanya 18 nilai karakter.
b. Perencanaan
dan
pengorganisasian
implementasi pendidikan karakter pada
kegiatan ekstra kurikuler.
1) Semua nilai karakter yang berjumlah 18
nilai karakter dapat diintegrasikan
dalam
perencanaan
dan
pengorganisasian kegiatan kepramukaan
dan OSIS.
2) Pada kegiatan UKS dan karate, hanya
beberapa nilai karakter yang dapat
dimasukkan
dalam
perencanaan
implementasi pendidikan karakter. Hal
ini dikarenakan materi kegiatan atau
latihan yang tidak sesuai.
109
c. Perencanaan
dan
pengorganisasian
implementasi pendidikan karakter pada
manajemen sekolah
- Kepala sekolah sebagai manajer di
sekolah tidak membuat perencanaan
khusus untuk implementasi pendidikan
karakter. Hal ini disebabkan karena
untuk menjalankan tugas pengelolaan
sekolah sebenarnya sudah ada acuannya
yaitu semua peraturan atau regulasi
yang terkait dengan pengelolaan
pendidikan di sekolah, antara lain UU
No 20 tahun 2003 beserta peraturanperaturan pelaksanaannya.
d. Faktor pendukung dan penghambat
1) Kegiatan
perencanaan
dan
pengorganisasian ini sangat didukung
oleh pemerintah baik pusat maupun
daerah, kepala sekolah, guru, TU dan
komite sekolah.
2) Yang menjadi penghambat dalam
kegiatan
perencanaan
dan
pengorganisasian adalah tidak adanya
sosialisasi pendidikan karakter pada
guru. Selain itu, sekolah juga tidak
melakukan analisis konteks terhadap
kondisi sekolah/satuan pendidikan
(internal dan eksternal) yang dikaitkan
dengan nilai-nilai karakter yang akan
dikembangkan di sekolah.

2. Implementasi pendidikan karakter pada


SMP Negeri 8 Merauke
a. Pada
umumnya
semua
guru
mengintegrasikan 18 nilai karakter pada
proses pembelajaran, termasuk nilai
religius yang oleh beberapa guru tidak
dibuat perencanaannya.
b. Seperti yang direncanakan, kegiatan
ekstra kurikuler kepramukaan dan OSIS
dapat mengintegrasikan 18 nilai karakter.
Sementara kegiatan UKS dan karate
hanya dapat mengintegrasikan beberapa
nilai karakter yang sesuai dengan materi
pelatihan.
c. Pada kegiatan manajemen sekolah,
kepala sekolah dan guru melaksanakan
dengan penciptaan budaya sekolah yang
berkarakter, yang dilakukan dengan
pembiasaan dan keteladanan.
d. Faktor pendukung dan penghambat
1) Kegiatan implementasi pendidikan
karakter pada SMP Negeri 8 Merauke
sangat didukung oleh kepala sekolah
dan guru.
2) Yang
menjadi
penghambat
implementasi pendidikan karakter
pada SMP Negeri 8 Merauke adalah
adanya guru yang belum memahani
akan 18 nilai karakter.
3. Monitoring dan Evaluasi implementasi
pendidikan karakter pada SMP Negeri 8
Merauke
a. Monitoring dilakukan secara berjenjang
dimana pengawas memonitoring kepala
sekolah, kepala sekolah kepada guru
dan guru kepada siswa.
Monitoring kepala sekolah terhadap
guru biasanya dilakukan melalui
supervisi baik secara administrasi
maupun
supervisi
pada
proses
pembelajaran di kelas. Sedangkan
monitoring guru terhadap siswa
dilakukan
dengan
menerapkan
pemberian reward and punishment.
b. Evaluasi secara khusus terhadap
implementasi pendidikan karakter di
SMP Negeri 8 Merauke belum
dilaksanakan.
c. Faktor pendukung dan penghambat
1) Factor pendukung monitoring dan
evaluasi implementasi pendidikan
karakter di SMP Negeri 8 Merauke

adalah adanya kegiatan pembiasaan


dan keteladanan yang dilakukan
kepala sekolah dan guru.
2) Faktor penghambat monitoring dan
evaluasi implementasi pendidikan
karakter
adalah belum adanya
instrument
evaluasi
pendidikan
karakter di SMP Negeri 8 Merauke.
I.
Saran
Dari hasil penelitian yang dilakukan,
dapat diberikan saran sebagai berikut.
1. Pengintegrasian nilai-nilai karakter dalam
pembelajaran hendaknya sudah terungkap
dalam langkah-langkah yang jelas dalam
RPP dan dilaksanakan dalam proses
pembelajaran.
2. Sekolah sebaiknya melaksanakan analisis
konteks terhadap kondisi sekolah/satuan
pendidikan (internal dan eksternal) yang
dikaitkan dengan nilai-nilai karakter yang
akan dikembangkan di sekolah.
3. Guru sebagai pendidik, hendaknya
memanfaatkan
perannya
dengan
maksimal. Guru menjadi sosok figur
dalam pandangan anak, guru akan
menjadi patokan bagi sikap anak didik,
sehingga hendaknya guru dapat menjadi
teladan bagi siswa.
4. Berkaitan dengan monitoring, hendaknya
kepala sekolah dapat menjalankan salah
satu tugas pokoknya sebagai supervisor
dengan baik, sehingga implementasi
pendidikan karakter bangsa
dapat
berjalan optimal.
5. Sosialisasi kepada guru dan siswa
sebaiknya dilakukan, terutama kaitannya
dengan implementasi pendidikan karakter
bangsa.
6. Sosialisasi dengan orang tua siswa perlu
dilakukan sehingga orang tua terdorong
untuk mendukung dalam implementasi
pendidikan karakter bangsa ini.

Daftar Kepustakaan:
Djohar, Pendidikan Agama yang Aktual bagi
Remaja, Naskah seminar, (Yogyakarta:
2007).

http://www.medukasi.web.id/2013/07/pendidikankarakter.html diakses 6 Januari 2014


Kambey, Daniel C. 2006. Landasan Teori
Administrasi/Manajemen. Manado:
Tri Ganesha Nusantara.
Koesoema, Doni A. 2010. Pendidikan
Karakter: Strategi Mendidik Anak Di
Zaman Global. Jakarta: Grasindo.
________________ 2012. Pendidikan
Karakter Utuh dan Menyeluruh.
Yogyakarta: Kanisius.
Kusdi, 2009. Teori Organisasi dan
Administrasi. Jakarta: Salemba
Humanika.
Lickona, Thomas. 1991. Educating for
Character: How Our Schools can Teach
Respect and Responsibility, (edisi
Indonesia oleh Juma Abdu Wamaungo,
2012, Mendidik untuk membentuk
karakter), Jakarta: Bumi Aksara.
Megapolitan, Tawuran Antarpelajar, [Online]
(http://www.megapolitan.com, diakses
21 Desember 2012).
Meitasari Tjandrasah (penerj). 2005. Mencari
Nilai-Nilai Moral: Bagaimana Anda
Dapat Hidup Seutuhnya dan Bahagia
Sepenuhnya Berasal dari Dalam
Keluar. Batam: Gospel Press.
Moleong, Lexy J., 2007. Metodologi
Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi).
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mudyahardjo, Redja. 2001. Pengantar
Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Muhammad Erwansyah (2010) tentang
Pendidikan Karakter Di Sekolah
Menengah Atas Oleh Guru Bimbingan
dan Konseling (BK).
http://dx.doi.org/10.12928/EMPATHY.v
2i1.1547, diakses 6 Januari 2014
114

10

Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan


Karakter: Menjawab Tantangan
Krisis Multidimensional. Jakarta:
Bumi Aksara.

Soemarsono, Soedarsono,H. 2008.


Membangun Kembali Jati Diri
Bangsa. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo.

Novan Ardy Wiyani. 2013. Konsep, Praktik,


& Strategi Membumikan Pendidikan
Karakter di SD. Jogyakarta: Ar-Ruzz
Media.

Sungkowo,M. 2002. Pedoman Pembangunan


Karakter Bangsa di Sekolah Lanjutan
Pertama. Jakarta: Depdiknas Dirjend.
Pendidikan Dasar dan Menengah
Direktorat Pendidikan Lanjutan
Pertama.

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter.


2010. Kementerian Pendidikan
Nasional.

Suwarno, Wiji. 2008. Dasar-dasar Ilmu


Pendidikan. Jogjakarta:Ar-Ruzz Media.

Pendidikan Karakter. 2013. (online)


(http://www.medukasi.web.id/2013/07/ pendidikankarakter.html)

Tim Dosen Administrasi Pendidikan


Universitas Pendidikan Indonesia,
2009. Manajemen Pendidikan.
Bandung: Alfabeta.

Poeji Noegroho. E, 2006, Biasa Menyontek


Melahirkan
Koruptor,
http:/ilman05.blogspot.com

Usman, Husaini, 2011. Manajemen: Teori,


Praktik, dan Riset Pendidikan.
Jakarta: Bumi Aksara.

Ratag, Mezak A. & Korompis, Ronald, 2009.


Kurikulum Berbasis Kehidupan:
Pandangan tentang Pendidikan
Menurut Ronald Korompis. Tomohon:
Yayasan Pendidikan Lokon.

Wikipedia Indonesia, Manajemen, [Online]


(http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia
.manajemen, diakses 5 April 2013).

Rifai, Muhammad. 2011. Sosiologi


Pendidikan. Jogjakarta:Ar-Ruzz Media.
Sagala, Syaiful, 2010. Manajemen Strategik
Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan.
Bandung: Alfabeta.
Sudrajat, Akhmad. 2008. Hakikat Pendidikan.
(online)
(http://akhmadsudrajat.wordpress.com
/2008/11/08/hakikat-pendidikan/)
diakses 6 Januari 2014.
Sugiyono, 2006. Metode Penelitian
Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sule, Ernie Tisnawati dan Saefullah,
Kurniawan, 2010. Pengantar
Manajemen. Jakarta: Kencana.