Anda di halaman 1dari 102

TINJAUAN TEORI

1. Suhu Tubuh
Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah
elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin
dan hewan berdarah panas. Atau biasa disebut dengan menggunakan istilah ektoterm dan
endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah hewan
yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan
ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini
adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Sedangkan endoterm adalah hewan
yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Termoregulasi merupakan proses
homeostasis untuk menjaga agar suhu tubuh suatu hewan tetap dalam keadaan stabil
atausteady state, dengan cara mengontrol dan mengatur keseimbangan antara banyaknya energi
(panas) yang diproduksi (termogenesis) dengan energi (panas) yang dilepaskan (termolisis).
(Suripto, 2010).

Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok
burung (Aves), dan mamalia. Pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi menjadi dua
golongan, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh
lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar.
Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Dan hewan homoiterm sering disebut
hewan berdarah panas. Suhu inti adalah suhu didalam bagian tengah tubuh (organ-organ
abdomen dan toraks, susunan saraf pusat, dan otot rangka) yang secara homeostatis
dipertahankan pada suhu sekitar 37,8oC (Sherwood, 2001).
Pemakaian energi oleh tubuh, menghasilkan panas yang penting dalam pengaturan suhu.
Sebagian besar energi makanan akhirnya diubah menjadi energi panas. Perlunya tubuh
menghasilkan panas secara internal karena manusia hidup di lingkungan yang suhunya lebih
dingin dari suhu tubuhnya. Pembentukkan panaspun akhirnya bergantung pada peristiwa
oksidasi bahan metabolik makanan. Interaksi/pertukaran panas antara hewan dan
lingkungannya dapat terjadi melalui empat cara yaitu konduksi, konveksi, radiasi, dan
evaporasi. Dalam lingkungan akuatik, hewan tidak mungkin melepaskan panas tubuh dengan
cara evaporasi. Pelepasan panas melalui radiasi juga sangat kecil kemungkinannya karena air
merupakan penyerap radiasi inframerah yang efektif. (Isnaeni,2006).
Suhu tubuh yang biasa dikatakan normal berkisar pada 37 oC. Namun, sebenarnya tidak
ada suhu yang normal, karena suhu bervariasi dari organ ke organ. Dalam termoregulatorik,
tubuh dapat dianggap sebagai suatu inti di tengah (central core) dengan lapisan pembungkus di
sebelah luar (outer shell). Yang termasuk suhu inti berada pada organ-organ abdomen dan
toraks, sistem saraf pusat serta otot rangka. Suhu inti internal inilah yang dianggap sebagai suhu
tubuh yang harus dipertahankan kestabilannya. Penambahan panas harus seimbang dengan
pengurangan panas agar suhu inti tetap stabil. Suhu inti mengandung panas total tubuh maka
untuk mempertahankan kandungan panas yang konstan sehingga suhu inti stabil. Pemasukan
panas melalui penambahan panas dari lingkungan eksternal dan produksi panas internal.
Sedangkan pengurangan panas terjadi melalui pengurangan panas dari permukaan tubuh yang
terpejan ke lingkungan eksternal. Biasanya manusia berada di lingkungan yang suhunya lebih

dingin daripada tubuh mereka, sehingga ia harus terus menerus menghasilkan panas secara
internal untuk mempertahankan suhu tubuhnya. Pembentukan panas akhirnya bergantung pada
oksidasi bahan bakar metabolik yang berasal dari makanan (Isnaeni, 2006).

1.

2.
3.

4.

Karena fungsi sel peka terhadap fluktuasi suhu internal, manusia secara homeostatis
mempertahankan suhu tubuh pada tingkat yang optimal bagi kelangsungan metabolisme yang
stabil. Bahkan peningkatan suhu tubuh sedikit saja sudah dapat menimbulkan gangguan
fungsi saraf dan denaturasi protein yang ireversibel. Suhu tubuh normal secara tradisional
dianggap berada pada 370C (98,60F). Namun sebenarnya tidak ada suhu tubuh normal
karena suhu bervariasi dari organ ke organ. Dari sudut pandang termoregulatorik, tubuh dapat
dianggap sebagai suatu inti di tengah (central core) dengan lapisan pembungkus di sebelah
luar (outer shell). Suhu di inti bagian dalam yang terdiri dari organ-organ abdomen dan
toraks, sistem saraf pusat, serta otot rangka, umumnya relative konstan sekitar 37,80C (1000F)
. Suhu inti internal inilah yang dianggap sebagai suhu tubuh dan menjadi subjek pengaturan
ketat untuk mempertahankan kestabilannya. Suhu kulit dapat berfluktuasi antara 200C (680F)
dan 400C (1040F) tanpa mengalami kerusakan. Ini karena suhu kulit sengaja diubah-ubah
sebagai tindakan kontrol untuk membantu mempertahankan agar suhu di tengah tetap
konstan (Sherwood, 2001)
Suhu oral rata-rata adalah 370C (98,60F), dengan rentang normal 36,1 sampai 37, 0C
(97-990F). Suhu rektum rata-rata sekitar 0,60C (10F) lebih tinggi, yaitu 37,60C (99,70F),
berkisar dari 36,1 sampai 37,80C (97-1000F). ukuran tersebut bukan merupakan petunjuk
absolute suhu inti internal, yang rata-rata sekitar 37,80C (1000F). Walaupun suhu inti
dipertahankan relatif konstan, terdapat beberapa faktor yang sedikit dapat mengubahnya,
antara lain :
Sebagian besar suhu inti manusia dalam keadaan normal bervariasi sekitar 10C (1,80F)
selama siang hari, dengan tingkat terendah terjadi di pagi hari sebelum bangun (jam 6-7 pagi)
dan titik tertinggi terjadi di sore hari (jam 5-7 sore). Variasi ini disebabkan oleh irama
biologis inheren atau jam biologis.
Suhu inti wanita juga mengalami irama bulanan dalam kaitannya dengan daur haid. Suhu inti
rata-rata 0,50C (0,90F) lebih tinggi selama separuh terakhir siklus dari saat ovulasi ke haid.
Suhu inti meningkat selama olahraga karena peningkatan luar biasa produksi panas oleh otototot yang berkontraksi. Selama olahraga berat, suhu inti dapat meningkat sampai setinggi
400C (1040F).
Karena mekanisme pengatur suhu tidak 100% efektif, suhu inti dapat sedikit berubah-ubah
jika tubuh terpajan ke suhu yang ekstrim.
Dengan demikian, suhu inti dapat bervariasi antara sekitar 35,60C sampai 400C (960F1040F), tetapi biasanya menyimpang kurang dari beberapa derajat. Nilai yang relatif konstan ini
dimungkinkan oleh adanya berbagai mekanisme termoregulatorik yang dikoordinasikan oleh
hipotalamus.
Hipotalamus berfungsi sebagai thermostat tubuh. Hipotalamus sebagai pusat intergrasi
termoregulasi tubuh, menerima informasi aferen mengenai suhu di berbagai bagian tubuh dan
memulai penyesuaian-penyesuaian terkoordinasi yang sangat rumit dalam mekanisme
penambahan atau pengurangan panas sesuai dengan keperluan untuk mengkoreksi setiap

penyimpangan suhu inti dari patokan normal. Hipotalamus mampu berespons terhadap
perubahan suhu darah sekecil 0,01 0C. tingkat respons hipotalamus terhadap penyimpangan
suhu tubuh disesuaikan secara sangat cermat, sehingga panas yang dihasilkan atau dikeluarkan
sangat sesuai dengan kebutuhan untuk memulihkan suhu ke normal (isnaeni, 2006).
Untuk membuat penyesuaian-penyesuaian hingga terjadi keseimbangan antara
mekanisme pengurangan panas dan mekanisme penambahan serta konservasi panas,
hipotalamus harus secara terus menerus mandapat informasi mengenai suhu kulit dan suhu inti
melalui reseptor-reseptor khusus yang peka suhu yang disebut termoreseptor. Termoreseptor
perifer memantau suhu kulit di seluruh tubuh dan menyalurkan informasi mengenai perubahan
suhu permukaan ke hipotalamus. Suhu inti dipantau oleh termoreseptor sentral, yang terletak di
hipotalamus itu sendiri serta di tempat lain di susunan saraf pusat dan organ-organ abdomen
(Isnaeni, 2006).
Di hipotalamus terdapat dua pusat pengaturan suhu. Regio posterior diaktifkan oleh
suhu dingin dan kemudian memici reflex-refleks yang memperantarai produksi panas dan
konservasi panas. Regio anterior, yang memperantarai pengurangan panas(Sherwood, 2001).
Ganong, William F. 1999. Buku Ajar Fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC.
Ganong, William F. 2001. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Bandung : PT. Rineka Cipta.
Lauralee, Sherwood. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta :EGC.
Pearce, Evelyn C. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustak Utama.
Sherwood, Lauralee. 1996. Fisiologi Manusia. Jakarta: ECG.
Suripto. 2010. Fisiologi Hewan. Bandung : Penerbit ITB.\

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit
dimana dapat diukur dengan menggunakan thermometer yang dapat di bagi beberapa
standar penilaian suhu, antara lain : normal, hipertermi, hipotermi, dan febris.Suhu
tubuh kita sering kali berubah-ubah tanpa kita tau sebab-sebabnya dan
mekanismenya,dikarenakan hal tersebut dalam makalah ini kami akan membahas
tentang mekanisme perubahan suhu tubuh. B. Rumusan masalah 1. Bagaimana
mekanisme perubahan suhu tubuh pada manusia? 2. Dari mana asal panas pada tubuh
manusia? 3. Bagaimana system pengaturan suhu tubuh? 4. Apa fungsi dari reseptor
suhu? 5. Bagaimana penjalaran sinyal suhu tubuh pada system saraf? 6. Apa factor yang
mempengaruhi suhu tubuh? 7. apa saja yang mengganggu pengaturan suhu tubuh? C.
Tujuan 1. Menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa tentang mekanisme
perubahan suhu tubuh. 2. Dapat mengetahui tentang asal panas suhu tubuh manusia,
system pengaturan suhu tubuh, reseptor suhu, penjalaran sinyal suhu tubuh pada
system saraf. 3. Mengetahui tentang faktor yang mempengaruhi suhu tubuh serta
gangguan suhu suhu tubuh. BAB II PEMBAHASAN A. ASAL PANAS PADA TUBUH
MANUSIA Pembentukan panas (heat production) dalam tubuh manusia bergantung
pada tingkat metabolisme yang terjadi dalam jaringan tubuh tersebut. Hal ini
dipengaruhi oleh: 1. BMR, terutama terkait dengan sekresi hormon tiroid. 2. Aktivitas
otot, terjadi penggunaan energi menjadi kerja dan menghasilkan panas. 3. Termogenesis
menggigil (shivering thermogenesis); aktivitas otot yang merupakan upaya 4.
Termogenesis tak-menggigil (non-shivering thermogenesis) Hal ini terjadi pada bayi
baru lahir. Sumber energi pembentukan panas ini ialah brown fat. Pada bayi baru lahir,

brown fat ditemukan pada skapula, aksila, dan area ginjal. Brown fat berbeda dengan
lemak biasa, ukurannya lebih kecil, mengandung lebih banyak mitokondria, banyak
dipersarafi saraf simpatis, dan kaya dengan suplai darah. Stimulasi saraf simpatis oleh
suhu dingin akan meningkatkan konsentrasi cAMP di sel brown fat, yang kemudian akan
mengativasi fosforilasi oksidatif di mitokondria melalui lipolisis. Hasil dari fosforilasi
oksidatif ialah terbentuknya panas yang kemudian akan dibawa dengan cepat oleh vena
yang juga banyak terdapat di sel brown fat. Brown fat ini merupakan sumber utama dietinduced thermogenesis. Pengeluaran panas (heat loss) dari tubuh ke lingkungan atau
sebaliknya berlangsung secara fisika. Permukaan tubuh dapat kehilangan panas melalui
pertukaran panas secara radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi air. Radiasi ialah
emisi energi panas dari permukaan tubuh dalam bentuk gelombang elektromagnetik
melalui suatu ruang. Konduksi ialah perpindahan panas antara obyek yang berbeda
suhunya melalui kontak langsung obyek tersebut. Konveksi ialah perpindahan panas
melalui aliran udara/ air. Evaporasi ialah perpindahan panas melalui ekskresi air dari
permukaan kulit dan saluran pernapasan saat bernapas. Keseimbangan panas
(Silverthorn, 2004) B. SISTEM PENGATURAN SUHU TUBUH Suhu tubuh adalah suatu
keadaan kulit dimana dapat diukur dengan menggunakan thermometer yang dapat di
bagi beberapa standar penilaian suhu, antara lain : normal, hipertermi, hipotermi, dan
febris. Suhu dapat di bagi, antara lain: a) Suhu inti (core temperature) Suhu inti
menggambarkan suhu organ-organ dalam (kepala, dada, abdomen) dan dipertahankan
mendekati 37C. b) Suhu kulit (shell temperature) Suhu kulit menggambarkan suhu
kulit tubuh, jaringan subkutan, batang tubuh. Suhu ini berfluktuasi dipengaruhi oleh
suhu lingkungan. c) Suhu tubuh rata-rata (mean body temperature) merupakan suhu
rata-rata gabungan suhu inti dan suhu kulit. Pengukuran suhu tubuh Ada beberapa
macam thermometer untuk mengukur suhu tubuh: 1. The mercury-in-glass
thermometer 2. The electrical digital reading thermometer 3. A radiometer attached to
an auriscope-like head (untuk pengukuran suhu timfani) C. RESEPTOR SUHU
Setimulus dapat datang dari lingkungan luar salinitas, suhu udara, kelembapan,cahaya.
Alat penerima rangsang reseptor,sedangkan alat penghasil tanggapan disebut efektor.
Reseptor saraf yang paling sederhana hanya berupa ujung denrit dari suatu sel syaraf
(neuron) , tidak meliputi selubung / selaput myelin dan dapat di temukan pada reseptor
rasa nyeri (free nerve ending) atau nociresetor. BERDASARKAN LOKASI SUMBER
RANGSANG 1.INTERORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi untuk menerima
rangsang dari dalam tubuh. KHEMORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi
memantau pH,kadar gula dalam darah dan kadar kalsium dalam cairan tubuh atau
darah. 2.EKSTERORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi menerima rangsang dari
lingkungan di luar tubuh Reseptor penerima gelombang suara (pada alat pendengaran)
dan cahaya (dalam alat pengelihatan). HUBUNGAN ANTARA RESEPTOR DENGAN
EFEKTOR Dalam system syaraf,reseptor biasanya berhubungan dengan syaraf sensorik
(AFFERENT) sedang efektor erat dengan syaraf motorik(EFERENT). Reseptor berfungsi
sebagaipengubah energy, mengubah bentuk suatu energy menjadi bentuk tertentu. dan
di dalam reseptor semua energy di ubah menjadi energy listrik dan selanjutnya akan
membawa ke perubahan elektrolit sehingga timbul potensial aksi. LANJUTAN
HUBUNGAN RESEKTOR DAN EFEKTOR Apabila suatu resektor menerima rangsangan
yang sesuaimaka membrane reseptor akan mengalami peritiwa potensial aksi. Jika
rangsangan yang diterima reseptor cukup kuat potensial reseptor yang timbul akan lebih

kuat. Makin besar rangsangan yang di terima, makin besar pula potensial local yang di
hasilkan sehingga dapat melampoi batas ambang perangsangan pada membrane
potensial generator. D. PENJALARAN SINYAL SUHU TUBUH PADA SISTEM SARAF
Pusat pengaturan suhu tubuh yang berfungsi sebagai termostat tubuh adalah suatu
kumpulan neuron-neuron di bagian anterior hypothalamus yaitu: Preoptic area. Area ini
menerima impuls-impuls syaraf dari termoreseptor dari kulit dan membran mukosa
serta dalam hipotalamus. Neuron-neuron pada area peroptic membangkitkan impuls
syaraf pada frekwensi tinggi ketika suhu darah meningkat dan frekwensi berkurang jika
suhu tubuh menurun. Impuls-impuls syaraf dari area preoptic menyebar menjadi 2
bagian dari hipotalamus diketahui sebagai pusat hilang panas dan pusat peningkatan
panas, dimana ketika distimulasi oleh area preoptic, mengatur kedalam serangkaian
respon operasional yang meningkatkan dan menurunkan suhu tubuh secara berturutturut. Termoregulasi adalah proses fisiologis yang merupakan kegiatan integrasi dan
koordinasi yang digunakan secara aktif untuk mempertahankan suhu inti tubuh
melawan perubahan suhu dingin atau hangat (Myers, 1984). Pusat pengaturan tubuh
manusia ada di Hipotalamus, oleh karena itu jika hipotalamus terganggu maka
mekanisme engaturan suhu tubuh juga akan terganggu dan mempengaruhi thermostat
tubuh manusia. Mekanisme pengaturan suhu tubuh manusia erat kaitannya antara kerja
sama system syaraf baik otonom, somatic dan endokrin. Sehingga ketika membahas
mengenai pengaturan suhu oleh system persyarafan maka tidak lepas pula kaitannya
dengan kerja system endokrin terhadap mekanisme pengaturan suhu tubuh seperti TSH
dan TRH. E. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SUHU TUBUH Setiap saat suhu tubuh
manusia berubah secara fluktuatif. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai factor
yaitu : 1. Exercise: semakin beratnya exercise maka suhunya akan meningkat 15 x,
sedangkan pada atlet dapat meningkat menjadi 20 x dari basal ratenya. 2. Hormon:
Thyroid (Thyroxine dan Triiodothyronine) adalah pengatur pengatur utama basal
metabolisme rate. Hormon lain adalah testoteron, insulin, dan hormon pertumbuhan
dapat meningkatkan metabolisme rate 5-15%. 3. Sistem syaraf: selama exercise atau
situasi penuh stress, bagian simpatis dari system syaraf otonom terstimulasi. Neuronneuron postganglionik melepaskan norepinephrine (NE) dan juga merangsang
pelepasan hormon epinephrine dan norephinephrine (NE) oleh medulla adrenal
sehingga meningkatkan metabolisme rate dari sel tubuh. 4. Suhu tubuh: meningkatnya
suhu tubuh dapat meningkatkan metabolisme rate, setiap peningkatan 1 % suhu tubuh
inti akan meningkatkan kecepatan reaksi biokimia 10 %. 5. Asupan makanan: makanan
dapat meningkatkan 10 20 % metabolisme rate terutama intake tinggi protein. 6.
Berbagai macam factor seperti: gender, iklim dan status malnutrisi. 7. Usia:Pada saat
lahir, mekanisme kontrol suhu masih imatur. Produksi panas meningkatseiring dengan
pertumbuhan bayi memasuki masa anak-anak. regulasi suhu akannormal setelah anak
mencapai pubertas.Lansia sensitif terhadap suhu yang ekstrem akibat turunnya
mekanisme kontrolsuhu (terutama kontrol vasomotor), penurunan jumlah jaringan
subkutan,penurunan aktivitas kelenjar keringat, penurunan metabolism 8.
Olahraga:aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan metabolisme lemak
dankarbohidrat. 9. Kadar Hormon:suhu tubuh wanita lebih fluktuatif dibandingkan pria
10. Irama sirkardiansuhu tubuh berubah secara normal 0,5-1 derajat Celcius selama
periode 24 jam.suhu tubuh rendah antara pukul 01:00 dan 04:00 dini hari. 11.
Stres:stress fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan

persyarafan 12. Lingkungan:mekanisme kontrol suhu tubuh akan dipengaruhi oleh suku
disekitar. Walaupun terjadi perubahan suhu tubuh, tetapi tubuh mempunyai mekanisme
homeostasis yang dapat dipertahankan dalam rentang normal. Suhu tubuh yang normal
adalah mendekati suhu tubuh inti yaitu sekitar 37 0 C. suhu tubuh manusia mengalami
fluktuasi sebesar 0,5 0,7 0 C, suhu terendah pada malam hari dan suhu tertinggi pada
siang hari. Panas yang diproduksikan harus sesuai dengan panas yang hilang. F.
GANGGUAN PENGATURAN SUHU TUBUH Diantaranya disebabkan oleh: 1. Demam:
mekanisme pengeluran panas tidak mampu mengimbangi produksipanas. Demam
terjadi karena perubahan set point hipotalamus. 2. Kelelahan akibat panas: terjadi
apabila diaforesis yang banyak mengakibatkan kehilangan cairan dan elektrolit secara
berlebih. 3. Hipertermia: peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidakmampuan
tubuh untuk mengeluarkan panas. 4. Heat stroke: terpapar oleh panas dalam jangka
yang cukup lama. 5. Hipotermia: pengeluaran panas akibat terpapar suhu dingin. Kita
dapat mengukur suhu tubuh pada tempat-tempat berikut: 1. ketiak/ axilae: termometer
didiamkan selama 10-15 menit 2. anus/ dubur/ rectal: termometer didiamkan selama 35 menit 3. mulut/ oral: termometer didiamkan selama 2-3 menit Adapun suhu tubuh
normal menurut usia dapat dilihat pada tabel berikut: USIA SUHU (DERAJAT
CELCIUS) 3 BULAN 37,5 6 BULAN 37,5 1 TAHUN 37,7 3 TAHUN 37,2 5 TAHUN 37,0 7
TAHUN 36,8 9 TAHUN 36,7 11 TAHUN 36,7 13 TAHUN 36,6 DEWASA 36,4 >70
TAHUN 36,0 FISIOLOGI TERKAIT DENGAN MEKANISME PENGATURAN SUHU
Bagian otak yang berpengaruh terhadap pengaturan suhu tubuh adalah hipotalamus
anterior dan hipotalamus posterior. Hipotalamus anterior (AH/POA) berperanan
meningkatkan hilangnya panas, vasodilatasi dan menimbulkan keringat. Hipotalamus
posterior (PH/ POA) berfungsi meningkatkan penyimpanan panas, menurunkan aliran
darah, piloerektil, menggigil, meningkatnya produksi panas, meningkatkan sekresi
hormon tiroid dan mensekresi epinephrine dan norepinephrine serta meningkatkan
basal metabolisme rate. Jika terjadi penurunan suhu tubuh inti, maka akan terjadi
mekanisme homeostasis yang membantu memproduksi panas melalui mekanisme feed
back negatif untuk dapat meningkatkan suhu tubuh ke arah normal (Tortora, 2000).
Thermoreseptor di kulit dan hipotalamus mengirimkan impuls syaraf ke area preoptic
dan pusat peningkata panas di hipotalamus, serta sel neurosekretory hipotalamus yang
menghasilkan hormon TRH (Thyrotropin releasing hormon) sebagai
tanggapan.hipotalamus menyalurkan impuls syaraf dan mensekresi TRH, yang
sebaliknya merangsang Thyrotroph di kelenjar pituitary anterior untuk melepaskan TSH
(Thyroid stimulating hormon). Impuls syaraf dihipotalamus dan TSH kemudian
mengaktifkan beberapa organ efektor. Berbagai organ fektor akan berupaya untuk
meningkatkan suhu tubuh untuk mencapai nilai normal, diantaranya adalah : 1. Impuls
syaraf dari pusat peningkatan panas merangsang syaraf sipatis yang menyebabkan
pembuluh darah kulit akan mengalami vasokonstriksi. Vasokonstriksi menurunkan
aliran darah hangat, sehingga perpindahan panas dari organ internal ke kulit.
Melambatnya kecepatan hilangnya panas menyebabkan temperatur tubuh internal
meningkatkan reaksi metabolic melanjutkan untuk produksi panas. 2. Impuls syaraf di
nervus simpatis menyebabkan medulla adrenal merangsang pelepasan epinephrine dan
norepinephrine ke dalam darah. Hormon sebaliknya , menghasilkan peningkatan
metabolisme selular, dimana meningkatkan produksi panas. 3. Pusat peningkatan panas
merangsang bagian otak yang meningkatkan tonus otot dan memproduksi panas. Tonus

otot meningkat, dan terjadi siklus yang berulang-ulang yang disebut menggigil. Selama
menggigil maksimum, produksi panas tubuh dapat meningkat 4x dari basal rate hanya
dalam waktu beberapa menit 4. Kelenjar tiroid memberikan reaksi terhadap TSH
dengan melepaskan lebih hormon tiroid kedalam darah. Peningkatan kadar hormon
tiroid secara perlahan-lahan meningkatkan metabolisme rate, dan peningkatan suhu
tubuh. Jika suhu tubuh meningkat diatas normal maka putaran mekanisme feed back
negatif berlawanan dengan yang telah disebutkan diatas. Tingginya suhu darah
merangsang termoreseptor yang mengirimkan impuls syaraf ke area preoptic, dimana
sebaliknya merangsang pusat penurun panas dan menghambat pusat peningkatan
panas. Impuls syaraf dari pusat penurun panas menyebabkan dilatasi pembuluh darah
di kulit. Kulit menjadi hangat, dan kelebihan panas hilang ke lingkungan melalui radiasi
dan konduksi bersamaan dengan peningkatan volume aliran darah dari inti yang lebih
hangat ke kulit yang lebih dingin. Pada waktu yang bersamaan, metabolisme rate
berkurang, dan tidak terjadi menggigil. Tingginya suhu darah merangsang kelenjar
keringat kulit melalui aktivasi syaraf simpatis hipotalamik. Saat air menguap melalui
permukaan kulit, kulit menjadi lebih dingin. Respon ini melawan efek penghasil panas
dan membantu mengembalikan suhu tubuh kembali normal. Skema Mekanisme
Feedback Negatif Menghemat Atau Meningkatkan Produksi Panas Menurun menurun
Diambil dari Tortora, 2000 halaman 900 BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Suhu
tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan menggunakan
thermometer yang dapat di bagi beberapa standar penilaian suhu, antara lain : normal,
hipertermi, hipotermi, dan febris. Pengeluaran panas (heat loss) dari tubuh ke
lingkungan atau sebaliknya berlangsung secara fisika. Permukaan tubuh dapat
Kehilangan panas melalui pertukaran panas secara radiasi, konduksi, konveksi, dan
evaporasi air. Alat penerima rangsang disebut reseptor,sedangkan alat penghasil
tanggapan disebut efektor. Suhu tubuh dipengaruhi oleh exercize,hormone,system
saraf,asupan makanan,gender iklim(lingkungan),usia,aktivitas otot,stress. B. SARAN
Sebaiknya kita selalu menerapkan cara hidup sehat,agar tubuh kita selalu sehat dan
tidak mengganggu aktivitas kita sehari-hari,agar suhu tubuh selalu dalam keadaan
normal dan dapat menyesuaikan dengn kondisi lingkungan sekitar kita. DAFTAR
PUSTAKA Tortora, J.T., Grabowski, S.R. (2000). Principles of anatomy and physiology.
(9th ed.). Toronto: John Wiley & Sons, Inc _______(2000). Temperature regulation.
Diambil pada 14 Februari 2006. dari
http://www.science.uwc.ac.za/physiology/temperatur/temperature.html Journal of
Endocrinology. (2005). Hypothalamic hormon a.k.a. hypothalamic releasing factors.
Diambil pada 14 Februari 2006 dari http://joe.endocrinologyjournals.
org/cgi/content/full Journal of Endocrinology. (2005). Functional anatomy of
hypothalamic homeostatic systems. Diambil pada 13 Februari 2006 dair
http://www.endotxt.org/neuroendo/neuroendo3b.html Myers, R.D. (1984).
Neurochemistry of thermoregulation. The Physiologist,27, (1), 41-46

pemeriksaan kehamilan
DESEMBER 11, 2011MITSUKORAYNZZ MENINGGALKAN KOMENTAR

LAPORAN PRAKTIKUM SEROLOGI IMUNOLOGI


PEMERIKSAAN KEHAMILAN
DI SUSUN OLEH :
Yogi Vebrin Anda (0801027)
Kelompok VI
Tanggal praktikum: 24 November 2011
Dosen: Adriani Susanty, M.Farm., Apt
Asisten:
May Christiani
Gusti Wahyu Ramadhani
PROGRAM STUDI S1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
YAYASAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2011
PEMERIKSAAN KEHAMILAN
I. TUJUAN PRAKTIKUM :
Untuk mengetahui cara pemeriksaan kehamilan menggunakan metode galli manini
dengan reaksi biologic.
Untuk mrngetahui cara pemeriksaan kehamilan dengan uji kehamilan test pack.
Untuk menentukan adanya Beta hCG pada urin wanita hamil.
I. TINJAUAN PUSTAKA
Uji kehamilan yang paling sering ditemui adalah dengan pemeriksaan urin. Kadar
minimal beta-hCG dalam urin untuk menghasilkan hasil yang positif, sepanjang
pengetahuan saya, berkisar antara 20-100 mIU/mL (meskipun tespek tersebut
mengatakan mempunyai batas deteksi minimal 5 mIU/mL). Padahal, sampai 5 minggu
dari hari pertama menstruasi terakhir, kadar beta-hCG dalam urin kadang masih dibawah
20 mIU/mL (meskipun pada beberapa wanita 4 minggu setelah hari pertama menstruasi
terakhir sudah lebih dari ratusan mIU/mL).
Hormone gonadotropin chronik (HCG) merupakan hormon glikoprotein yang unik untuk
plasenta yang sedang tumbuh. Sebelum immunoassay tersedia pada tahun 1960-an uji
uji kehamilan menggunakan bioassay yang memerlukan hewan (kelinci, tikus, dan katak)
untuk membuktkan adanya HCG dalam serum atau urine. Tes yang menggunakan kelinci,
tikus, dan katak pada waktu ini telah diganti oleh tes imunologik yang menggunakan
antibody terhadap HCG (Sacher, 2004).
hCG memiliki dua berkas genetik CGA dan CGB. Hormon hCG (Human chorionic
gonadotropin) adalah hormon glikoprotein dari keluarga gonadotropin yang awalnya
disintesis oleh embrio manusia, dan kemudian dilanjutkan oleh syncytiotrophoblast,
bagian dari plasenta, selama masa kehamilan. Keduanya merupakan sel trofoblastik
yang menstimulasi sekresi steroid dari ovarium untuk kestabilan kandungan.
Fungsi dari Hormone gonadotropin chronik (HCG):
hCG berinteraksi dengan reseptor LHCG dan mempromosikan pemeliharaan korpus
luteum selama awal kehamilan, hingga menyebabkan ia mensekresikan hormon
progesteron. Progesteron memperkaya rahim dengan tebal lapisan dari pembuluh darah
dan kapiler sehingga dapat menopang pertumbuhan janin. Karena sangat negatif dengan
sendirinya, hCG dapat mengusir sel-sel kekebalan ibu, melindungi janin selama trimester
pertama. Ini juga telah dihipotesiskan bahwa hCG juga bisa merupakan link plasenta
untuk pengembangan immunotolerance ibu lokal. Sebagai contoh, hCG-diperlakukan sel
endometrium menginduksi peningkatan apoptosis sel T (pembubaran T-sel).
Hasil ini menunjukkan bahwa hCG juga bisa merupakan link dalam pengembangan
toleransi kekebalan peritrophoblastic, dan dapat memfasilitasi invasi trofoblas, yang
dikenal untuk mempercepat perkembangan janin di endometrium. Hal ini juga telah
menyarankan bahwa kadar hCG terkait dengan keparahan mual pagi hari pada wanita

hamil.
Karena kemiripannya dengan LH , hCG juga dapat digunakan secara klinis untuk
menginduksi ovulasi dalam ovarium serta testosteron produksi di testis. Sebagai sumber
biologis yang paling berlimpah adalah perempuan yang saat ini hamil, beberapa
organisasi mengumpulkan urin dari wanita hamil untuk mengekstrak hCG untuk
digunakan dalam perawatan kesuburan . HCG juga memainkan peran dalam diferensiasi
selular / proliferasi dan dapat mengaktifkan apoptosis .
Ada beberapa cara yang di gunakan untuk uji kehamilan pada zaman dahulu, berbagai
macam reaksi antara lain, yaitu :
a. Reaksi dari Hogben
Untuk reaksi ini diperlukan kodok dari Afrika Selatan, yaitu Xenopus laevis.
b. Reaksi dari Consulof
Untuk reaksi ini digunakan kodok berwarna yang disebu Rana exculenta.
c. Reaksi dari Friedman
Friedman adalah dokter gynacologi dari Jerman. Binatang yang digunakan adalah kelinci
betina yang telah diasingkan 3 minggu supaya tidak kawin, karena kelinci tidak akan
ovulasi bila tidak berhubungan dengan jantan.
d. Reaksi Galli Mainini
Menggunakan kodok jantan buffo vulgaris disuntikan 5 c air kemih wanita yang sedang
hamil pada bagian bawah kulit peerut kodok. Jika hasil dari uji tersebut adalah positif
maka akan di temukan sperma pada air kemih kodok yang telah didiamkan selama 3
jam.
Ada beberapa cara atau metode pengujian kehamilan yang digunakan pada saat ini,
yaitu:
Reaksi Hogben
Menggunakan kodok xenopus laevis, disuntikan dengan 2 cc urin wanita yang sedang
hamil. Bila reaksi positif maa kodok akan mengadakan ovlasi dengan tanda mengeluarka
telur dalam waktu 12 24 jam.
Reaksi dari Consulof
Menggunakan kodok rana exculenta, sebelum di gunakan kodok ini di ambil kelenjar
hypohysenya lebih dahulu hingga warna kodok menjadi pucat. Kemudian kodok ini
disuntikan dengan 2,5 cc urin wnta yang sedang hamil, bila setelah disuntik warna kodok
tersebut menjai cokelat, maka reaksi kehamilan positif.
Reaksi dari Galli Mainini
Menggunakan kodok jantan buffo vulgaris disuntikan 5 c air kemih wanita yang sedang
hamil pada bagian bawah kulit peerut kodok. Jika hasil dari uji tersebut adalah positif
maka akan di temukan sperma pada air kemih kodok yang telah didiamkan selama 3
jam.
Reaksi Friedman
Menggunakan kelinci betina yang telah 2 minggu diasingkan dari jantan. Disuntikan 5 cc
air kencing wanita yang sedang hamil intravena pad vena telinga kelinci selama 2 hari
berturut turut. Setelah 24 jam laludilakukan laparotomi, diambil ovarium, diperiksa, bila
ada korpus rubra dan lutea maka hasil tersebut adalah positif.
Reaksi Aschiem Zondek
Menggunakan 5 ekor tikus betina imatur, pada hari kelima di dakan operasi pada tikus
tikus betina yang telah di suntik itu. Operasi di titik beratkan pada perubahan ovarium
tikus putih, apakah ada korpus rubrum. Jika ada maka hasilnya adalah positif, yang
menandakan adanya prognandiol dalam air kemih menyebabkan adanya ovulasi pada
tikus yang belum dewasa.
Test pack

Test pack merupakan alat uji kehamilan yang amat simple dan dapat dilakukan di rumah.
Bentuk test pack ini ada 2 macam, Strip dan Compact. Bentuk Strip harus dicelupkan ke
dalam urine yang telah di tampung pada sebuah wadah atau disentuhkan pada urine
waktu buang air kecil. Sedangkan bentuk Compact dengan meneteskan urine langsung
pada bagian tertentu dari alatnya.
Alat uji kehamilan ini memiliki dua buah garis. Garis yang pertama mengisyaratkan
bahwa tes dilakukan dengan benar, yang biasa disebut dengan garis kontrol. Garis
kontrol akan tampak bila test pack mendapatkan cukup air seni untuk diuji. Sementara
garis kedua menunjukkan hasil tes, yang merupakan bagian alat yang memiliki antibodi
yang bereaksi dengan hCG dan dapat berubah warna bila hormon ini terdeteksi. Setipis
apapun garis ini, kemunculannya tetap menunjukkan adanya kehamilan.
Test kehamilan Plano-test
Tes ini menggunakan urin ibu hamil dipagi hari dengan meraksikan Kit neo planotest
duoclon. Dengan melihat terjadi atau tidaknya aglutinasi saat pencampuran. Jika terjadi
aglutinasi berarti positif hamil, jika tidak maka negatif
II. BAHAN DAN ALAT
Alat :
Spuit
Pipet tetes
Wadah
Tali rafia
Test pack
Objek gelas
mikroskop
Bahan :
Urin ibu hamil
Katak jantan
III. CARA KERJA
Metode galli manini :
1. Ambil seekor katak pegangg erat-erat, tapi jangan terlalu kencang
2. Cubit daerah punggung belakang atau perut bagian bawah sampai kulitnya tertarik
keatas.
3. Suntikkan urin ibu hamil sebanyak 3 cc dengan jarum suntik.
4. Lepasskan katak tersebut, biarkan diair, ikatlah salah satu kakinya dengan tali rafia
diamkan selama 30 menit.
5. Setelah 30 menit, ambil katangnya, rangsang bagian kloakanya menggunakan pipet
dengann cara berputar-putar secara perlahan sampai urinnya keluar, kemudian dipipet.
6. Teteskan urin tersebut di objek gelas dan tutup dengann cover glass.
7. Amati sperma katak tadi dengan mikroskop (perbesaran 10 x), apabila tidak terdapat
sperma katak seperti cabe merah, ambil kembali urin katak 30 menit kemudian dengan
cara seperti diatas.
8. Bila dalam urin katak terdapat sperma maka urin pasien tersebut positif (+)
mengandung HCG dan dapat dikatakan hamil.
Penyuntikan urin ibu hamil merangsang katak agar urin keluar
Metode test pack:
1. urin pagi ibu hamil letakkan dalam wadah yang bersih.
2. celupkan strip kedalam urin sesuai dengan tanda panah batas garis maksimum selama
30-60 detik.
3. Angka strip, tunggu 1-3 menit, baca hasilnya
4. Jika muncul 2 garis hasilnya positif, artinya positif hamil.
5. Jika muncul 1 garis hasilnya negatif, artinya tidak hamil.

IV. HASIL
Metode galli manini
Katak tidak mengeluarkan urin, yang artinya hasil negativ (-).
Metode test pack
Pada metode ini diperoleh garis 2, yang atri nya positif bahwa urin ibu ini mengandung
hCG dan ibu tersebut hamil.
V. PEMBAHASAN
Metode galli manini
Pada metode galli manini ini tidak didapatkan sperma pada katak, hal ini terjadi
dikarenakan :
Tidak didapatkan urin (katak tidak pipis)
Katak yang diinjeksikan urin ibu hamil tersebut bukan katak jantan.
Kurag tepat dalam menyuntikan jumlah urin, sehingga jumlah urin yang masuk kurang
banyak atu berlebihan, sebaiknya jumlah urin yang di suntikan pada katak disesuaikan
dengan besarnya kodok. Atau bahkan dikarenakan cara penyuntikan yang salah.
Pemilihan urin ibu hamil yang melewati standar (seharusnya urin ibu hamil kurang dari
3 bulan). Karena hCG akan berkurang selama meningkatnya usia kehamilan, hingga hCG
tidak dapat merangsang katak.
Metode test pack
Metode alat test pack ini akan bereaksi jika didalam urin wanita hamil ada hCG, dan
tanda pada uji ini menunjukkan dua garis. Yang artinya wanita ini hamil. Pada wanita
hamil akan terdeteksi kadar hCG yang cukup tinggi dalam urinenya (sedikitnya akan
mencapai 25 mlU/ml). Namun, kadar sensitivitas setiap alat tes kehamilan berbeda-beda.
Semakin sensitif tentu semakin baik. Ada alat tes yang mampu mendeteksi kadar hCG
sebanyak 5 mlU/ml saja.
Pada garis yang pertama mengisyaratkan bahwa tes dilakukan dengan benar, yang biasa
disebut dengan garis kontrol. Garis kontrol akan tampak bila test pack mendapatkan
cukup air seni untuk diuji. Sementara garis kedua menunjukkan hasil tes, yang
merupakan bagian alat yang memiliki antibodi yang bereaksi dengan hCG dan dapat
berubah warna bila hormon ini terdeteksi.
VI. KESIMPULAN
Katak tidak mengeluarkan urin, ini artinya katak tidak terangsang oleh urin wanita,
hingga menghasilkan hasil yang negativ. Urin wanita tidak hamil atau hCG kurang.
Pada uji test pack didapatkan dua garis pada dua jendela alat, ini menandakan urin
wanita positive hamil.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1989. Serologi. Jakarta : Pendidikan Tenaga Kesehatan RI.
Ibrahim. Zr. Christina.S. 1971. Perawatan Kebidanan I. Jakarta : Bhratara.
Muhayat, Ali. 1998. Pengaruh Hormon Terhadap Fase Kehamilan. Bandung: Surya
Aditama Media.
Sacher, Ronald A. Richard, A.Mc Pherson.2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan
Laboratorium Edisi 2. Jakarta : EGC.

Tes kehamilan Metode Gali Mainini

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Arti hamil atau kehamilan adalah bila seseorang wanita mengandung sel telur yang
telah dibuahi atau di hamilkan oleh sperma. Dahulu untuk menguji kehamilan, di
gunakan berbagai macam reaksi, antara lain yaitu :
a. Reaksi dari Hogben
Untuk reaksi ini diperlukan kodok dari Afrika Selatan, yaitu Xenopus laevis.
b. Reaksi dari Consulof
Untuk reaksi ini digunakan kodok berwarna yang disebu Rana exculenta.
c. Reaksi dari Friedman
Friedman adalah dokter gynacologi dari Jerman. Binatang yang digunakan adalah
kelinci betina yang telah diasingkan 3 minggu supaya tidak kawin, karena kelinci tidak
akan ovulasi bila tidak berhubungan dengan jantan.
d. Reaksi Galli Mainini
Pada praktikum kali ini akan dilakukan uji kehamilan dengan metode Galli Mainini.
Walaupun, pada jaman sekarang ini sudah banyak dilakukan uji kehamilan yang lebih
sederhana, mudah, dan lebih modern, tidak ada salahnya kita sebagai mahasiswa
mengetahui cara melakukan uji kehamilan secara Galli Mainini.

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui cara uji kehamilan (Galli Mainini) dengan menggunakan
katakBuffo vulgaris jantan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanda-tanda kehamilan


Dalam urine perempuan yang sedang hamil terdapat semacam hormon sifatnya
menyerupai hormone Gonadotropin (yang berbentuk glikoprotein) dari bagian depan
(lobus anterior) kelenjar hypofisis. Hormone ini tidak hanya pada perempuan hamil tetapi
juga terdapat pada cancer dan ovarium. Permukaan menopause, kehamilan yang
abnormal, abortus mola, tumor dari testis, dan lain sebagainya. (Zr. Cristina Ibrahim,
1971).
Tanda tanda kehamilan ada yang di bagi menjadi dua saja, yaitu :
Tandatanda tidak pasti
Tandatanda pasti
Dan ada pula yang membaginya menjadi tiga macam, yaitu :
Tandatanda tidak pasti
Tandatanda kemungkinan
Tandatanda pasti
(Zr. Cristina Ibrahim, 1971).
Adapun gunanya mengetahui tandatanda kehamilan itu agar benar-benar
mengetahui apakah ibu yang perutnya besar itu hamil atau tidak, karena tidak semua
ibu yang perutnya besar itu hamil. Perut besar biasa disebabkan karena asitues, ovarial
cyste, myoon, tumor dan lain sebagainya (Zr. Cristina Ibrahim, 1971).
.
2.2 Tanda tanda tidak pasti
a. Amenorhoe
Pendarahan yang disebabkan k arena implantasi dari ovum ke dalam deciduas.
Pendarahan ini tidak terlalu banyakdan lama bila dibandingan dengan menstruasi biasa.

b. Perubahan buah dada


c. perasaan mual di waktu pagi (morning sickness)
d. Pergerakan janin yang pertama, disebut juga Quickening . quick ini berarti pula hidup,
adanya Quickening menandakan adana individu yang hidup.
e. Sering buang air kemih.
f. Membesarkan perut.

2.3

Tanda tanda kemungkinan

a.Tanda tanda dari hegar


Berdasarkan adanya uterus segmen bawah yang lebih lunak daripada bagian yang
lain dan embrio belum mengisi bagian seluruh ruangan uterus, tetapi biasanya
bertempat diatas dekat fundus uterine.
b.Tanda tanda dari piskacek
Berdasarkan adanya tempat yang kosong pada rongg uterus karena embrio
biasanya terletak di sebelah atas, sehingga pada pemeriksaan dimanual akan terasa
benjolan yang asimetris.
c.Tanda tanda Braxton Hicks
Berdasarkan adanya kontraksi retraksi, dan relaksasi pada otot otot utrus yang
sedang membesar.
d.Tanda tanda Chadwick
Berdasarkan adanya kongesti setempat ialah pada uterus karena uterus sangat
banyak membutuhkan darah.
e. Reaksi biologik
- Reaksi Hogben
Menggunakan kodok xenopus laevis, disuntikan dengan 2 cc urin wanita yang sedang
hamil. Bila reaksi positif maa kodok akan mengadakan ovlasi dengan tanda
mengeluarka telur dalam waktu 12 24 jam.

- Reaksi dari Consulof

Menggunakan kodok rana exculenta, sebelum di gunakan kodok ini di ambil kelenjar
hypohysenya lebih dahulu hingga warna kodok menjadi pucat. Kemudian kodok ini
disuntikan dengan 2,5 cc urin wnta yang sedang hamil, bila setelah disuntik warna
kodok tersebut menjai cokelat, maka reaksi kehamilan positif.
- Reaksi dari Galli Mainini
Menggunakan kodok jantan buffo vulgaris disuntikan 5 c air kemih wanita yang
sedang hamil pada bagian bawah kulit peerut kodok. Jika hasil dari uji tersebut adalah
positif maka akan di temukan sperma pada air kemih kodok yang telah didiamkan
selama 3 jam.
- Reaksi Friedman
Menggunakan kelinci betina yang telah 2 minggu diasingkan dari jantan. Disuntikan 5
cc air kencing wanita yang sedang hamil intravena pad vena telinga kelinci selama 2
hari berturut turut. Setelah 24 jam laludilakukan laparotomi, diambil ovarium, diperiksa,
bila ada korpus rubra dan lutea maka hasil tersebut adalah positif.
- Reaksi Aschiem Zondek
Menggunakan 5 ekor tikus betina imatur, pada hari kelima di dakan operasi pada
tikus tikus betina yang telah di suntik itu. Operasi di titik beratkan pada perubahan
ovarium tikus putih, apakah ada korpus rubrum. Jika ada maka hasilnya adalah positif,
yang menandakan adanya prognandiol dalam air kemih menyebabkan adanya ovulasi
pada tikus yang belum dewasa.
f.

Reaksi Imunologik

Dasarnya adalah reaksi antigen antibody, dimana hcg bersifat antigen, sebagai
antibody di kenal pregnosticon, gravidex dan qoravis.

2.4 Tanda tanda pasti


a. Terdengarnya detik jantung anak
b. Terabanya bagian bagian anak
c. Pergerakan anak
d. Pemeriksaan roentgen (Zr. Cristina Ibrahim, 1971)

2.5 Alat Reproduksi

Alat kelamin pada katak jantan terdiri atas satu pasang testis yang berwarna putih
kekuning kuningan. Disebelah mukanya terdapat badan lemak yang dinamakan
korpus adiposum.testis menghasilkaan spermatozoa di keluarkan melalui saluran halus
menuju ke ginjal dan dikelarkan bersama sama air kencing melalui ureter.alat kelamin
betina terdiri ats satu pasang ovarium yang terletak pada rongga perut. Pada musim
birahi, ovarium ini membesar dan berisi ovum, yang kemudian akan di keluarkan masuk
dalam corong oviduct (infundibulum) dan di lanjutkan ke saluran telur (oviduct). Letak
corong ovidut yaitu disebelah cranial dari ovarium. Dalam saluran telur itu, ovum di
lengkapi dengan selaput telur berbentuk selai yang di keluarkan oleh dinding saluran
telur di keluarka pada saat kopulasi. (Soedarjatmo, 1991).
Pada laki-laki dan perempuan, gonad memiliki fungsi endokrin dan reproduksi
sperma dan ovum berasal dari epitel germinatifum, sedang epitel sekretorik yang secara
embriologis berbeda menghasilkan testosteron pada laki laki, dan estrogen serta
progesterone pada laki laki. (Sacher, 2004)
Hormonehormone hipofisis yang mengatur sekresi endokrin sehingga
mempengaruhi fungsi reproduksi. Hormone hormn tropic ini baik pada lakilaki
maupun perempuan, disebut follicle stimulating hormone (FSH) dan lutoinizing hormone
(LH). (Sacher, 2004)
Hormone gonadotropin chronik (HCG) merupakan hormone glikoprotein yang unik
untuk plasenta yang sedang tumbuh. Sebelum immunoassay tersedia paa tahun 1960an ujiuji kehamilan menggunakan bioassay yang memerlukan hewan (kelinci, tikus,
dan katak) untuk membuktkan adanya HCG dalam serum atau urine. Tes yang
menggunakan kelinci, tikus, dan katak pada waktu ini telah diganti oleh tes imunologik
yang menggunakan antibody terhadap HCG, (Sacher, 2004)
Dari kelima reaksi yang dilakukan untuk menguji adantya kehamilan pada seorang
wnita, yang banyak di gunakan pada rumah sakit besar maupun kecil adalah reaksi Galli
Mainini hal ini disebabkan karena reaksi ini menggunakan kodok yang mudah di dapat.
Kodok yang di gunakan adalah kodok biasa yaitu Buffo vulgarisdengan berat katak
antaa 2530 gram yang hidup di padang rumput dekat rumahrumah, tetapi katak jantan
tersebut tidak mempunyai sel mani. Jadi kodok ini sebelum disuntikan dengn urin wanita
yang sedang hamil, diperiksa terlebih dahulu urin katak tersebut apakah mengandung
sel mani atau tidak mengandung sel mani, lalu urin penderiuta disuntikan pada katak,
jika mengandung sel mani berarti menandakan bahwa reaksi kehamilan positif,
sehingga dapat di ketahui pregnandiol mempengaruhi keluarnya sel mani. (Zr. Christina
Ibrahim, 1971)
Telah kita ketahui bahwa dalam melakukan reaksi Galli Mainini harus di gunakan
katak Buffo vulgaris jantan. Adapun ciri ciri dari katak Buffo vulgaris jantan adalah
sebagai berikut :

1. Pada telapak kaki depan terdapat penebalan berwarna hitam.


2. Pada kulit leher bagian ventral terdapat warna agak merah yang
kuningan.

kekuning

3. Warna tubuh biasanya lebih agak gelap di banding dengan betina.


(Anonim, 1989).

2.6 Ciri-ciri Kelas Amphibia


Ciriciri dari kelas Amphibia adalah :
Kulit selalu basah karena mengandung lendir, kebanyakan tidak bersisik, kecuali
memiliki dua pasang anggota gerak untuk jalan atau berenang,jari kaki 45 atau kurang,
tidak berkuku atau cakar, ada yang tidak berkaki, jantung beruang tiga, dua atrium satu
ventrikel, sel darah merah bentuknya oval dan memiliki inti sel, bernafas dengan insang,
paru paru, dan kulit atau lapisan dinding rongga mulut(Soedarjatmo, 1991).
Berdarah dingin, suhu tubuh berubah ubah sesuai suhu di sekitarnya (poikiloterm),
fertilisasi umumnya eksternal, tetapi ada yang internal,n kebanyaka ovipar, telur
dibungkus lapisan lendir, diletakkan di air, larva hidup di air bernafas dengan insang luar,
insang dalam, bentuk ewasa bernafas dengan paru paru atau kulit dan hidup di air
atau termasuk tempat yang lembab di darat (Soedarjatmo, 1991).
Hormone HCG tidak hanya terdapat pad perempuan hamil saja, tetapi terdapat juga
pada cancer dari ovarium, permulaan menopause, kehamilan yang abnormal, abnrtus,
tumor dari testis, dan lain lain. Bentuk dari chonon gonadotropin belum begitu jelas,
(Anonim, 1989).
Penetapan HCG dalam urin sejak lama di pakai sebagai indikator kehamilan. Saat ini
uji serologic, HCG dalam cairan tubuh, di samping digunakan untuk kehamilan, juga
dapat dipakai untuk menunjang diagnosis kehamilan I luar kandungan, memperkirakan
terjadinya abnotus, tumor tiofoblastik, tumor testicular, bahkan beberapa jenis tumor lain
yang tidak berasal dari tiofoblas, (Kresno, 1985).

BAB III

METODE KERJA

3.1 Waktu dan tempat praktikum


Praktikum pemeriksaan tes kehamilan biologik (Galli Mainini), dilaksanakan pada
hari selasa, 12 april 2011. Di laboratorium STIKES Wiyata Husada Samarinda.

3.2 Metode
Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah dengan metode galli mainini,
dengan hewan percobaannya adalah menggunakan katak jantan (buffo vulgaris).

3.3 Prinsip
Hormon HCG (Human Choironic Gonadotropin) yang terdapat didalam urine wanita
hamil yang dimasukkan ke dalam kloaka katak jantan. Dan akan merangsang katak
tersebut untuk mengetahui ada atau tidaknya spermatozoa didalammya.

3.3 Alat dan Bahan


3.3.1 Alat
Adapun alat yang dipergunakan pada praktikum ini adalah:
- Mikroskop
- Beker glass
- Spuit
- Kaca penutup
- Kaca benda

- Pipit pasteur
- Lidi kapas
- Stopwatch
- Tempat katak

3.3.2 Bahan
Adapun bahanbahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
- Katak jantan (buffo vulgaris)
- Urine wanita hamil

3.4 Cara kerja


- Di sediakan beberapa ekor katak bengkerok (Buffo Vulgaris) jantan dewasa.
- Di rangsang dengan menggunakan lidi berbungkus kapas pada bagian kloakanya,
kemudian jika keluar sesuatu,maka letakkan cairan tersebut pada objek glass.
- Di Periksa cairan tersebut dengan mikroskop menggunakan perbesaran 40X.
- Diperhatikan apakah cairan tersebut mengandung sperma atau tidak. Jika mengandung
sperma, maka katak tidak dapat digunakan untuk praktikum. Jika tidak mengandung
sperma, maka :
- Disiapkan 3ml urine wanita hamil dengan menggunakan spuit.
- Disuntikkan urine tersebut secara sub-kutan (dibawah kulit) dengan cara mencubit atau
menarik kulit katak kemudian disuntikkan.
- Dikembalikan katak pada tempatnya, ditunggu hingga 1 jam untuk dapat melihat
reaksinya. Setelah 1 jam, maka :
- Dirangsang lagi katak pada bagian kloaka dengan lidi kapas. Liha adanya cairan yang
keluar.
- Di amati cairan yang keluar tersebut dengan menggunakan mikroskop perbesaran 40x.

3.5 Interpretasi Hasil


Hasil positif

: Bila pada urine katak di temukan adanya sperma.

Hasil negatif : Bila pada urine katak tidak di temukan adanya sperma.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Dari hasil pemeriksaan uji kehamilan cara biologis reaksi Galli Mainini diketahui
bahwa :
Kodok 1 : tidak mendapatkan hasil (tidak ada urine katak setelah disuntikkan urine wanita hamil).
Kodok 2 : tidak mendapatkan hasil (tidak ada urine katak setelah disuntikkan urine wanita hamil).

4.2 Pembahasan
Dalam melakukan praktikum pemeriksaan uji kehamilan cara biologis reaksi Galli
Mainini, bias di peroleh hasil negative palsu, hal ini disebabkan oleh :
a. Urine umur kehamilan yang di pilih kurang sesuai, karena jika umur kehamilan sudah
mencapai > 5 bulan, maka HCG yang ada dalam wanita hamilsemakin lama akan
semakin berkurang,sehingga menyebabkan berkurangnya rangsangan katak untuk
mengeluarkan sperma.
b. Kurang teliti dalam menyuntikan bagian tubuh katak.
c. Kurang tepat dalam cara menyuntikan urin, bias jadi pada saat penyuntikan , banyak
urine yang tidak masuk atau keluer dari area yang diinginkan.
d. Kurang tepat dalam menyuntikan jumlah urine, sehingga jumlah urin yang masuk
kurang banyak atau berlebihan, sebaiknya jumlah urine yang di suntikan pada katak
disesuaikan dengan besarnya katak.
Dapat diperoleh hasil positif palsu, di sebabkan oleh karena :
a. Pada saat katak belum di suntikan dengan urin orang hamil, pada urin katak tersebut
sudah terdapat sperma, sehingga setelah katak di suntikan dengan urin orang hamil,
urin dari katak tersebut dapat terlihat sperma juga dan tidak dapat di bedakan, apakah
sperma tersebut berasal dari rangsangan HCG yang terdapat dalam urin orang hamil
atau sperma karena katak yang sedang birahi karena pada saat meletakan di suatu
tempat, katak jantan tersebut tercampur dengan katak betina.

b. Pada praktikum kali ini kita tidak menggunakan katak betina tetapi melainkan katak
jantan dengan cirri ciri sebagai berikut :
- Tubuhnya ramping
- Tadannya kecil sedang
- Kaki depannya ada kaitnya
- Kakinya mencengkram
- Kantung suaranya besar, tidak birahi.
Produksi HCG meningkat sampai kurang lebih hari ke 60 kehamiln dan untuk
kemudian menurun kembali. Satu minggu postpartum HCG tidak di temukan kembali
dalam serum dan air kencing. Fungsi dari HCG ini adalah mempertahankan korpus
ikteum yang membuat estrogen dan progsteron sampai pada saat plasenta
terbentuksepenuhnya dan dapat membuat sendiri cukup estrogen dan progesterone.
Pada saat it kadar HCG juga turun , HCG di buat di plasenta.
HCG berguna untuk mendeteksi kehamilan sedini mungkin sebaiknya urin yang
digunakan untuk pemeriksaan kehamilan adalah urin pertama pagi yang pekat karena
mengandung lebih banyak hormone HCG/satuan volume.
Karena uji kehamilan ini mnggunakan kadar hormone HC dalam urin untuk
mengetahui kehamilan, kadang kadang memang menunjukan hasil yang negative
pada kasusu kasus tertentu, misalnya pada kehamilan yang terlalu dini. Jika kadar
hormone pada urin belum tinggi, otomatis hantya muncul satu garis dan dianggap
negatif (pada pemeriksaan strip tes).

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
- Dari pemeriksaan kehamilan reaksi Galli Mainini, di dapatkan kesimpulan bahwa,
urine wanita hamil bereaksi positif, ditandai dengan adanya sel sperma pada urinekatak
yang di periksa.
- Keadaan katak stres dapat menyebabkan katak tidak dapat atau susah untuk
mengeluarkan urine.

5.2 Saran
- Pada pemeriksaan kehamlan Galli Mainini sebaiknya menggunaan pagi atau urine yang
pekat.
- Sebaiknya menggunakan urine orang hamil yang masih berusia 5 bulan karena pada
usia tersebut, hormone HCG kadarnya sangat tinggi.
- Sebaiknya pada saat melakukan praktikum di gunaka sarung tangan karena urine katak
mengandung toksin yang menyebabkan dermatitis pada kulit.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1989. Serologi. Jakarta : Pendidikan Tenaga Kesehatan RI.


Anonim. 2009. http://one:indoskripsi.com/content/Uji-Kehamilan-Galli-Mainini.
Corwin, J. Elizabeth.2000. Patofisiologi. EGC : Jakarta.
Ibrahim. Zr. Christina.S. 1971. Perawatan Kebidanan I. Jakarta : Bhratara.

Kresno, Siti Boerding. Imunologi Penuntun Praktikum Imunologi Serologi, Jakarta : FKUI.
Sacher, Ronald A. Richard, A.Mc Pherson.2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Edisi 2. Jakarta : EGC.
Soedarjatmo, dkk. 1991. Biologi. Klaten : Intan Pariwara.

Laporan praktikum anfismen Tes Kehamilan


TES KEHAMILAN

A.Tujuan
1. Untuk mengetahui cara mengetes kehamilan
2. Mahasiswa dapat menjelaskan dasar dari tes kehamilan
3. Mahasiswa dapat membandingkan dari berbagai test kehamilan
B.Dasar teori
Kehamilan adalah masa diman seseorang wanita membawa embrio atau fetus didalam
tubuhnya.diawali dgn keluarnya sel telur yang matang pada saluran telur yg kemudian bertemu dgn
sperma dan keduanya menyatu membentuk sel yang akan tumbuh yg membuat terjadinya proses
konsepsi dan fertilasasi sampai lahirnya janin.
Tanda-tanda kehamilan :
1. Muncul bercak darah/flek yg diikuti dg kram perut
2. Mual/ muntah di pagi hari
3. Sering buang air keccil
4. Sering meludah
5. Sering lemah letih lesu
Normalnya kehamilan berlangsung sekitar 40 minggu,terhitung dari hari pertama menstruasi
terakhir dgn siklus teratur,dlm 40 minggu ini dibagi mjd 3 tahap kehamilan yg sering disebut dgn
trismester.
1.Trismeter pertama (pekan ke 1-12)
Pada tahap pertama ini tumbuh akan mengalami banyak perubahan terutama perubahan
hormonal,perubahan ini hampir mempengaruhi sistem organ dalam tubuh.
contoh perubahan : -cepat lelah
- ngidam
- morning siclines
pada thanpan ini asupan gizi garus di perhatikan.
2. Trismester kedua (pekan ke 13-29)
Pada tahapan ini mungkin agak sedikit ringan karena moring siclines tidak terlalu
merepotkan,pada trismester ini jenis akan semakin membesar yang akan mengakibatkan perubahan
pada perut.janin juga akan bergerak-gerak.
3. Trismester ketiga ( pekan ke 29-40)
Tahap ini merupakan tahap akhir untuk menuju proses persalinan.semakin besar pertumbuhan
janin makan tekanan organ-organ semakin besar pula.ketika tiba minggu terakhir/pekan ke 40,leher
rahim menjadi tipis dan lebih lembut,ini adanya proses persalinan alami yg normal membantu jalan
lahirnya untuk pembukaan selama proses melahirkan.
SIKLUS ENDOMETRIUM :
a. Stadium I

Yaitu satdium prolifererasi : ini atas pengaruh hormone progesterone pada stadium ini
endometrium mjd tebal dan kelenjar berkelak-kelok.lamanya satdium ini dari hari ke 5-14 dr pertama
haid.
b. Stadium II
Yaitu stadium sekresi : ini atas pengaruh hormone progesterone pada stadium ini endometrium mjd
tebal dan kelenjar mjd tambah panjang mengeluarkan getah,dan dalam endometrium juga
dideposisikan glycogen dan zat kapur untuk persiapan makan,kaloau nanti mjd nidasi pd
endometrium,disini endometrium mjd 3 lapisan :
1.stratum compactum
2. stratum spongiosum
3.stratum basale
sadium ini berlang dari hari ke 14-28
c.Sradium III
Yaitu menstraticum/desquamasi:satium ini terjadi oleh karena penurunan hormone estrogen
progesterone disin statum compactum dan stratum spongiosum terlepas dari endometrium dan
terjadilah perdarahan sehingga tgl stratum basale,jadi yang dikeluarkan yaitu sel-sel endometrium +
darah + lendir ceruix yg bnyknya + 50 cc,hanya lebih kurang 4 hari
jadi menstruasi yaitu peristiwa perdarahan pada wanita dewasa dan tak hamil yg terjadi setiap bulan
dan teratur yg berasal dari alat kandungan,lamanya + 28 hari placenta,selama kehamilan produkproduk hormone-hormon :
1. Human chorionic gonadotropin ( HCG)
2. Estrogen
3. Human placental lactogen
Fungsi HCG :
a. Mempertahankan corpus luteum dan mencegah menstruasi fungsi hampir sma dgn LH yaitu
mencegah involusi korpus luteum sehingga tetap menstruai estrogen dan progesterone
b. Memacu sel-sel intertitial testil janin sehingga mampu mengahasilkan testoteron.
Dasar dari berbagai tes kehamilan pada umumnya adl semua yaitu adanya hormon human chorionic
gonadotropin (HCG).hormon HCG ini disekresi oleh placenta dan beredar dalam darah dan di sekresi
dalam urine wanita hamil.jadi dalam tes kehamilan kita mencari / mendeteksi adanya HCG dlm urine
si ibu yg hamil atau di curigai hamil.dalam hal ini dapat dibedakan mjd dua macam :
a. Percobaan hayati,yang mengunaakan hewan percobaan seperti galli manini test.
b. Percobaan immunologi,dalam hal ini reaksi antigen-antibody seperti :
1. Pregnostikon plano test : aglutination inhibition test
2. Neoplano test duoclon : aggutonation test

C.Alat dan Bahan


1. Urine wanita Hamil
2. Test pack
3. Gelas beker
D.Cara kerja
1. Tampung urine dalam beker glass,sekitar 40 ml
2. Sentulkan test pack kedlm urine tunggu sampai 1-3 menit,angkat test pack
3. Lihat hasilnya dgn cara :
4. Jika ada dua garis yang muncul maka tandanya positif/hamil
5. Jika ada satu garis yang muncul maka tandanya negatif/tdk hamil

E.Hail pengamatan

No

URINE

WARNA

BACAAN ALAT

KESIMPULAN

Wanita Hamil

Kuning pekat

Positf (+)

-Hamil
-ada 2 garis

Wanita tidak
hamil

Kuning jernih

Negatif (-)

-Tidak hamil
-ada 1 garis

F.Pembahasan
Pada praktikum ini melakukan tes kehamilan pada manusia,diagnosaa kehamilan pad praktikum
kali ini berdasarkan pendeteksi keberadaan hormon HCG (human choembrio gonototropin) pada urin
wanita hamil,HCG di produksi oleh embrio ibu hamil,beberapa tes paling moderen dan canggih dapat
mendeteksi kehamilan melalui darah atau urine satu minggu setelah pembuahan,tes urin bisa
dilakukan di rumah sendiri dgn alat test kehamilan yg tersedia di apotik dan lain-lain.
Pada praktikum kali ini melakukan test kehamilan pada manusia,mebeakan warna urine wanita
hamil dgn wanita tdk hamil,kalau wanita hamil urin berwarna kuning pucat,sedangkan wanita tidak
hamil urine berwarna kuning jernih,dan car membaca test pack adalah jika muncul dua garis pada
test pack dikatakan positi hamil,jika muncul satu garis pada test pack dikatakan negatif/tidak hamil.
Pada praktikum kali ini kita menggunakan alat test pack adalah sebuah alat yg digunakan untuk
mengetahui kehamilan,alat ini di rancang sedemikiaan rupa untuk mempermudah penggunaan bagi
org awam,tes kehamilan tidak harus dipagi hari,namun jika hasil lebih akuratnya sebaiknya dilakukan
setelah bangun tidur hal ini dikarenakan urine msh dlm keadaan terkonsentrasi,urine yg diuji
tergantung konsentrasinya urine,hal ini dpt di pengaruhi dari cairan yg kita minum,karena air yg kita
minum dpt mempengaruhi keenceran urine .seseorg dikatakan hamil hamil apabila kadar hormon
HCG diatas 25 mlu/ml,kadar hormon HCG akan naik secara dratis sepanjang kehamilan.
HCG (human chorionic gonodropin) adalah hormon yg di produksi selama hamil,di awal
kehamilan hormon ini di produksi oleh indung telur.dalam perkembangan selanjutnya hormon
dihasilkan oleh plasenta.hormon ini sudah bisa terdeteksi di darah sekitar 11 hari setelah pembuahan
dan sekitar 12-14 pd test urine.kadar HCG selama kehamilan trismeter pertama biasanya diukur
dalam satuan mili-intertional units permililiter/mlu/ml kisaran kadar hormon ini dpt sangat bervariasi dr
wanita ke wanita lain,secara umum sktr 3 minggu usia kehamilan HCG abtara 5-50 mli/ml.sekitar 4
minggu antara 5-426 mli/ml,pd minggu ke 5 antara 18- 7340 mli/ml.sampai minggu ke 6 antara 108056500 mli/ml.7-8 trimester pertama kehamilan antara 7650-229000 kadar ini akan mencapai
puncaknya antara ke 9-12 kehamilan sekitar 25700-288000 mli/ml.pd minggu ke 13-14 kdr HCG akan
menurun sampai sekitar 1300-254000 mlu/ml.

G.Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat di simpulkan bahwa :
1. wanita hamil
: terdapat hormon HCG dan dinyatakan hamil pada test pack muncul dua garis
itu dinyataka hamil atau positif hamil
2.Wanita tidak hamil : tidak terdapat hormon HCG dan dinyatakan tidak hamil pada test pack
muncul satu garis itu dinyatakan tidak hamil atau negatif

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi Kehamilan
Kehamilan yaitu peristiwa dibuahinya ovum oleh sel sperma yang akhirnya berkembang sampai
menjadi fetus yang aterm, (Guyton & Hall, 1997 : 1305).
suatu keadaan fisiologis, akan tetapi pentingnya diagnosis kehamilan tidak dapat diabaikan.
Dalam kehidupan wanita, hanya sedikit diagnosis yang lebih penting daripada diagnosis
kehamilan. Hanya sedikit pengalaman hidup yang dapat memicu emosi, baik berupa
kebahagiaan luar biasa atau sebaliknya kesedihan mendalam.(F.Gary Cunningham, 2006 : 23)
2. Proses Kehamilan
Proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari : ovulasi
pelepasan ovum, terjadi migrasi spermatozoa dan ovum, terjadi konsepsi, terjadi nidasi
(implantasi) pada uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai
aterm. (Ida Bagus Gde Manuaba, 2000 : 95).
Skema dari pembuahan sampai bayi, (Rustam Muchtar, 2000 :22)
Peristiwa Hasil Tempat
Spermatogenesis Sperma Testis
Oogenesis Ovum Ovarium
Konsepsi Zygote Tuba
Pembelahan Morula Tuba
Nidasi Blastula Endometrium
Trofoblas
Desidua
Lempeng embrional
embriogenesis Mudigah (embrio) Endometrium
Rongga rahim
Organogenesis Janin Rongga rahim
Plasenta
Tali pusat
Persalinan Bayi (neonatus) Jalan lahir
1. Konsepsi
Pertemuan inti ovum dengan inti spermatozoa disebut konsepsi atau vertilisasi dan membentuk
zigot. Proses konsepsi dapat berlangsung sebagai berikut, (Ida Bagus Gde Manuaba, 2000 :
99) :
a. Ovum yang dilepaskan dalam proses ovulasi, diliputi oleh korona radiate, yang mengandung
persediaan nutrisi.
b. Pada ovum dijumpai inti dalam bentuk metaphase ditengah sitoplasma yang disebut vitellus.

c. Dalam perjalanan korona radiate makin berkurang pada zona pelusida. Nutrisi dialirkan ke
dalam vittellus, melalui saluran pada zona pellusida.
d. Konsepsi terjadi pada pars ampularis tuba :
- Tempat yang paling luas
- Dindingnya penuh jonjot, tertutup sel yang mempunyai silia.
- Ovum mempunyai waktu terlama dalam ampula tuba.
e. Ovum siap dibuahi setelah 12 jam dan hidup selam 48 jam.
- Spermatozoa ditumpahkan, masuk melalui kanalis servikalis dengan kekuatan sendiri.
- Dalam kavum uteri terjadi proses kapasitasi, yaitu pelepasan sebagian dari Liproteinnya
sehingga mampu mengadakan fertilisasi.
- Spermatozoa hidup selama 3 hari dalam genetalia interna.
- Spermatozoa melanjutkan perjalanan menuju tuba
- Spermatozoa akan mengelilingi ovum yang telah siap dibuahi serta mengikis korona radiate
dan pellusida dengan proses enzimatik, hialuronidase.
- Melalui stomata spermatozoa memasuki ovum.
- Setelah kepala spermatozoa masuk ke dalam ovum, ekornya lepas dan tertinggal di luar.
- Kedua inti ovum dan initi spermatozoa bertemu dengan membentuk zigot.
Keseluruhan proses tersebut merupakan mata rantai fertilisasi atau konsepsi.
2. Proses nidasi atau implantasi
Dengan masuknya inti spermatozoa ke dalam sitoplasma vitellus membangkitkan kembali
pembelahan dalam inti ovum yang dalam keadaan metaphase . Proses pemecahan dan
pematangan mengikuti bentuk anaphase dan telofase sehingga pronukleusnya menjadi Haploid
. Pronukleus spermatozoa dalam keadaan haploid saling mendekati dengan inti ovum yang kini
haploid dan bertemu dalam pasangan pembawa tanda dari pihak pria dan pihak wanita. (Ida
Bagus Gde Manuaba, 2000 : 99)
Setelah pertemuan kedua inti ovum dan spermatozoa terbentuk zigot yang dalam beberapa jam
telah mampu membelah dirinya menjadi dua dan seterusnya. Berbarengan dengan pembelahan
inti, hasil konsepsi terus berjalan menuju uterus. Hasil pembelahan sel memenuhi seluruh
ruangan yang besarnya 100 MU atau 0,1 mm dan disebut stadia morula. (Ida Bagus Gde
Manuaba, 2000 : 101).
Selama pembelahan sel di bagian dalam, terjadi pembentukan sel di bagian morula yang
kemungkinan berasal dari korona radiate yang menjadi sel tropoblas. Sel tropoblas dalam
pertumbuhannya, mampu mengeluarkan hormone korionik gonadotropin, yang mempertahankan
korpus luteum gravidarum. ( Ida Bagus Gde Manuaba, 2000 : 102).
Pembelahan berjalan terus dan di dalam morula terjadi ruangan yang mengandung cairan yang
disebut blastula . Perkembangan dan pertumbuhan berjalan blastula dengan vilik korealisnya
yang dilapisi sel tropoblas telah siap untuk mengadakan nadiasi. Sementara itu fase sekresi
endometrium telah makin gembur dan makin banyak mengandung glikogen yang disebut
desidua, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 102).
Sel trofoblas yang meliputi primer villi korealis melakukan dekstruksi enzimatik-proteolitik,
sehingga dapat menanamkan diri di dalam endometrium. Proses penanaman blastula disebut
nidasi atau implantasi terjadi pada hari ke 6 sampai 7 setelah konsepsi, (Ida Bagus Gde
Manuala, 2000 : 102).
Pada saat tertanamnya blastula ke dalam endometrium, mungkin terjadi pendarahan yang
disebut tanda Hartman.

3. Pembentukan plasenta
Nidasi atau implantasi terjadi pada bagian fundus uteri di dinding depan atau belakang. Pada
blastula penyebaran sel tropoblas yang tumbuh kembang tidak rata sehingga bagian blastula
dengan inner cell mass akan tetanam ke dalam endometrium sel tropoblas mendestruksi
endometrium sampai terjadi pembentukan plasenta yang berasal dari primer villi korealis, (Ida
Bagus Gde Manuala, 2000 : 102).
Terjadinya nidasi atau implantasi mendorong sel blastula mengadakan deferensiasi. Sel yang
dekat dengan ruangan eksoselom membentuk endoterm dan yolk sac (kantung yolk).
Sedangkan sel lain membentuk ektoderm dan ruangan amnion. Plat embrio (embryonal plate)
terbentuk diantara dua ruangan yaitu ruangan amnion dan kantung yolk. Plate embrio terdiri atas
unsure ektoderm, entoderm, dan meroderm. Ruangan amnion dengan cepat mendekati karion
sehingga jaringan yang terdapat antara amnion dan embrio padat dan berkembang menjadi tali
pusat, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 102).
Plasenta itu adalah satu organ/ bagian badan, yang terikat pada lapisan kandungan, yang
berguna sebagai saluran penyedia darah pada bayi , dan juga menjaga dua bagian.. Dengan
penghubung penyediaan darah, plasenta menyelesaikan fungsi-fungsi pada bayi yang belum
lahir yang tidak bisa dilaksanakan sendiri. Bayi yang belum lahir mengambang dan pindah ke
suatu kantong dari cairan disebut kantung amniotic, yang dibuat dari selaput-selaput. Plasenta
itu terhubung dengan bayi oleh tali pusar, (http://www.nhsdirect.nhs.uk/articles/article.aspx?
articleId=2309, 30 Mei 2008).
Oksigen dan makanan lewat melalui darah menyediakan ke dalam plasenta. Dari sana, tali pusar
membawa oksigen dan makanan kepada bayi yang belum lahir. Sisa buangan dari bayi, seperti
gas asam-arang, dikembalikan sepanjang tali pusar kembali ke plasenta dan lalu ke dalam aliran
darah, (http://www.nhsdirect.nhs.uk/articles/article.aspx?articleId=2309, 30 Mei 2008).
Antibodi pada bayi masuk melalui cara yang sama, untuk melindungi dari infeksi/peradangan.
Plasenta melindungi bayi melawan kebanyakan bakteri; termasuk bakteri yang menyebabkan
sipilis dan TBC. Alkohol, nikotin dan narkoba lain dapat juga melewati khatulistiwa plasenta dan
dapat menyebabkan kerusakan pada bayi yang belum lahir,
(http://www.nhsdirect.nhs.uk/articles/article.aspx?articleId=2309, 30 Mei 2008).
Plasenta menghasilkan hormon-hormon bahwa bayi untuk bertumbuh dan berkembang.
Plasenta lewat zat darah penyerang kuman dari ibu ke bayi, memberikan imunitas untuk tiga
yang pertama bulan setelah kelahiran, (http://www.nhsdirect.nhs.uk/articles/article.aspx?
articleId=2309, 30 Mei 2008).
Pada permulaan kantong berfungsi sebagai pembentuk darah bersama dengan hepar , limpa,
dan sumsum tulang. Pada minggu kedua sampai ketiga terbentuk bakal jantung dengan
pembuluh darahnya yang menuju body stalk (bakal tali pusat). Jantung bayi mulai dapat
dideteksi pada minggu 6 sampai 8 dengan mempergunakan Ultrasonografi atau system Doppler,
(Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 102).
Pembuluh darah pada body stalk terdiri dari arteri umbikalis dan vena umbilikalis. Cabang arteri
dan vena umbilikalis masuk ke villi korealis sehingga dapat melakukan pertukaran nutrisi dan
sekaligus membuang hasil metabolisme yang tidak diperlukan, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 :
102).
Dengan berbagai bentuk implantasi (nidasi) dimana posisi plat embrio berada, akan dijumpai
berbagai variasi dari insersio tali pusat, yaitu insersio sentralis, parasentralis, marginalis atau
insersio vilamentosa, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 102).
Vili korealis menghancurkan desidua sampai pembuluh darah, mulai dengan pembuluh darah

vena pada hari ke 10 sampai ke 11 setelah konsepsi, sehingga sejak saat itu embrio mendapat
tambahan nutrisi dari darah ibu secara langsung. Selanjutnya vili korealis menghancurkan
pembuluh darah arteri sehingga terjadilah aliran darah pertama reptroplasenter pada hari ke 14
sampai ke 15 setelah konsepsi, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 102).
Bagian desidua yang tidak dihancurkan membagi plasenta menjadi sekitar 15 sampai 20
kotiledon maternal. Sedangkan dari sudut vetus, maka plasenta akan dibagi menjadi seitar 200
kotiledon fetus. Setiap kotiledon fetus terus bercabang dan mengambang di tengah aliran darah
untuk menunaikan fungsinya memberikan nutrisi, pertumbuhan, dan perkembangan janin dalam
rahim ibu, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 103).
Darah ibu dan darah janin tidak berhubungan langsung dan dipisahkan oleh lapisan tropoblast,
dinding pembuluh darah janin. Fungsinya dilakukan berdasarkan system osmosis dan enzimatik
serta pinositosis. Situasi olasenta demikian disebutkan system plasenta hemokorial, (Ida Bagus
Gde Manuala, 2000 : 103).
Sebagian dari vili korealis tetap berhubungan langsung dengan pars basalis desidua, tetapi tidak
sampai menembusnya. Hubungan vili korealis dengan lapisan desidua tersebut dibatasi oleh
jaringan fibrotic yang disebut lapisan Nitabusch. Melalui lapisan Nitabusch, plasenta dilepaskan
pada saat persalinan kala ketiga (kala uri), (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 103).
3. Tanda dan Gejala Kehamilan
a. Tanda-tanda presumptife, (Rustam Mocthar, 2000 : 43-44)
Amenorea (tidak dapat haid)
Wanita harus mengetahui tanggal hari pertama haid terakhir (HT) supaya dapat ditaksir umur
kehamilan dan taksiran tanggal persalinan (TTP), yang dihitung dengan menggunakan rumus
dari Naegele :
TTP = (Hari pertama HT + 7) dan (bulan HT + 3)
Mual dan muntah (nausea and vomiting).
Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan hingga akhir triwulan pertama. Karena
sering terjadi pada pagi hari, disebut morning sickness (sakit pagi). Bila mual dan muntah terlalu
sering disebut hiperemesis.
Mengidam (ingin makanan khusus).
Ibu hamil sering meminta makanan atau minuman tertentu terutama pada bulan-bulan triwulan
pertama.
Tidak tahan suatu bau-bauan
Pingsan (pangsan)
Bila berada pada tempat-tempat ramai yang sesak dan padat bisa pingsan.
Tidak ada selera makan (anoreksia)
Hanya berlangsung pada triwulan pertama kehamilan, kemudian nafsu makan timbul kembali.
Lelah (fatigue)
Payudara membesar, tegang, dan sedikit nyeri, disebabkan pengaruh estrogen dan
progesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara. Kelenjar Montgomery terlihat lebih
membesar.
Miksi sering, karena kandung kemih tertekan oleh rahim yang membesar. Gejala ini akan
hilang pada triwulan kedua kehamilan. Pada akhir kehamilan, gejala ini kembali, karena kandung
kemih ditekan oleh kepala janin.
Konstipasi/obstipasi karena tonus otot-otot usus menurun oleh pengaruh hormon steroid.
Pigmentasi kulit oleh pengaruh hormon kortikosteroid plasenta, dijumpai di muka (chloasma
gravidarum), areola payudara, leher, dan dinding perut (linea nigra = grisea).

Epulis : hipertrofi dari papil gusi.


Pemekaran vena-vena (varices) dapat terjadi pada kaki, betis, dan vulva biasanya dijumpai
pada triwulan akhir.
b. Tanda-tanda kemungkinan hamil, (Rustam Mocthar, 2000 : 44-45).
a. Perut membesar
b. Uterus membesar: terjadi perubahan dalam bentuk, besar, dan konsistensi dari rahim.
c. Tanda Hegar
d. Tanda Chadwick
e. Tanda Piscascek
f. Kontraksi-kontraksi kecil uterus bila dirangsang (brakston-hicks)
g. Teraba ballotement
h. Reaksi kehamilan positif
c. Tanda pasti(tanda positif), (Rustam Mocthar, 2000 :45).
a. Gerakan janin yang dapat dilihat atau dirasa atau diraba, juga bagian-bagian janin.
b. Denyut jantung janin :
1. Didengar dengan stetoskop-monoral Laennec
2. Dicatat dan didengar dengan alat Doppler
3. Dicatat dengan veto-elektrokardiogram
4. Dilihat pada ultra sonografi
c. Terlihat tulang-tulang janin dalam foto rontgen
4. Tes-tes kehamilan
Untuk mengetahui kehamilan dapat dilakukan beberapa tes berikut, (Irene M Bobak, et. Al,
2003 : 104-105) :
a. Human chorionic gonadotropin( hCG)
Human chorionic gonodotropin (hCG) dapat diukur dengan radio imunoesai dan dideteksi dalam
darah enam hari setelah konsepsi atau sekitar 20 hari sejak periode menstruasi terakhir (LMT =
Last menstrual periode). Keberadaan hormone ini dalam urine pada awal kehamilan merupakan
dasar berbagai tes kehamilan di laboratorium dan kadang-kadang dapat dideteksi di dalam urine
14 hari setelah konsepsi, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 104-105).
Spesimen urine yang pertama kali dikeluarkan di pagi hari( urine yang didiamkan minimal
selama 6 jam) mengandung kadar hCG yang kira-kira sama dengan kadar hCG di dalam serum.
Kadar hCG di dalam serum meningkat secara eksponensial antara hari ke-21 dan ke-70
(dihitung hari pertama LMP). Sampel urine yang diambil secara acak biasanya memiliki kadar
yang lebih rendah. Kemampuan untuk mengenali sub unit beta hCG merupakan inovasi terbaru
evolusi tes endokrin untuk mendeteksi kehamilan, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 104-105).
b. Tes Lateks aglutinotion inhibition(LAI)
Tes ini mudah dilakukan dan hasil diperoleh dalam dua menit. Tes- tes ini akurat 4-10 hari
setelah terlambat haid. Contoh tes tipe ini ialah preparat Gravidex, Pregnosticon, dan UCG beta,
(Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 105).
c. Tes Hemagglutination Inhibition (HAI)
Tes ini lebih sensitif daripada tes LAI, tetapi memerlukan satu sampai dua jam sampai hasil
diperoleh. Akan tetapi, Neocept, yang memberi hasil yang akurat sebelum atau pada haid
terlambat, semua tes HAI akurat sekitar empat hari sesudah terlambat haid. Di pasaran juga
dijual e.p.t (early pregnancy test = tes kehamilan dini), suatu tes HAI yang dapat dilakukan di
rumah dijual umum, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 105).
d. Radioreceptor Assay

Tes ini adalah salah satu kategori terbaru tes kehamilan. Tes serum 1 jam ini memerlukan
peralatan yang cukup canggih. Assay radioreceptor biasanya akurat pada saat haid terlambat
(14 hari setelah konsepsi). Biocept G adalah contoh tes tipe ini, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 :
105).
e. Tes Hamil Radioimunoesai.
Tes hamil radioimunoesai untuk subunit beta hCG memakai tanda berlabel radioaktif sehingga
tes harus dilakukan di laboratorium. Bergantung kepada derajat sensitivitas yang diinginkan,
waktu tes bervariasi dari 1 sampai 48 jam. Radioimunoesai adalah tes kehamilan yang paling
sensitif saat ini. Kehamilan dapat didiagnosis 8 hari setelah ovulasi atau enam hari sebelum haid
berikutnya, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 105).
f. Enzim Imunoassay
Tes ini memakai kompleks anti-hCG monoklonal dan enzim. Perubahan warna membuat hasil
mudah dibaca. Tes baru ini memberi harapan di masa depan. Confidot adalah tes kehamilan
essay imunoenzimatik yang dikerjakan di rumah, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 105).
g. Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA)
Tes ELISA adalah tes kehamilan yang paling popular. Tes ini menggunakan anti body
monoklonal spesifik yang dihasilkan oleh teknologi cell-line hibrida. Suatu enzim, yang bukan
merupakan senyawa radioaktif, mengidentifikasi antigen substansi yang akan diukur. Enzim
menginduksi reaksi perubahan warna. Hasil akhir tes dapat dibaca dengan mata telanjang atau
spectrometer, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 105).
Tes ELISA memiliki banyak kelebihan. Antigen enzim berkonjugasi dan reagen tes stabil,
peralatan yang diperlukan sederhana, dan tidak ada produk sampah nuklir. Baik di rumah atau di
klinik, prosedur ELISA memerlukan waktu minimal dan member hasil dalam 5 menit dengan tikat
sensitifitas dari 2550 mIU/ml hCG dalam spesimen. Teknologi adalah dasar tes-tes baru yang
dapat dibeli bebas, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 105).
h. Ultrasonografi (USG).
Dibandingkan dengan pemeriksaan rontgen, USG tidak berbahaya untuk janin, karena memakai
prinsip sonar (bunyi). USG menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan
gambaran organ atau jaringan. Refleksi gelombang suara ditransmisikan pada layar monitor
sebagai lapisan jaringan dengan densitas yang berbeda. Ultrasonografi aman bagi ibu dan janin
kapan saja dilakukan saat kehamilan dan dapat digunakan berulang bila digunakan.
Ultrasonografi telah berhasil dengan baik menentukan embrio paling cepat minggu ke-6 dan
menjadi alat diagnostik yang amat berguna dalam praktik obstetrik, secara luas menggantikan Xray. Pada layar dapat dilihat letak, gerakan, dan gerakan jantung janin, (Persis Mary Hamilton,
2000 : 77).
5. Hormon yang dihasilkan oleh Plasenta
Hormon yang dikeluarkan oleh plasenta, yaitu :
1) Gonadotrofin korion manusia (human chorionic gonadotrophin, hCG). hCG diproduksi
diproduksi pada awal hari ke-9 setelah konsepsi, dan hormon ini mencapai puncaknya pada hari
ke-60. Kadar hormon ini kemudian turun dan tetap rendah sampai pada akhir kehamilan. Fungsi
hormon ini adalah memelihara corpus luteum sampai plasenta dapat menggantikannya
memproduksi estrogen dan progesteron. Seperti telah disebutkan di depan, hCG diekspresikan
ke dalam urine dan menjadi dasar untuk uji diagnostic kehamilan secara imunologis, (Sylvia
Verralls, 2000 : 219).
2) Human Chorionic Somato-mammotropin
Human Chorionic Somato-mammotropin menyebabkan penurunan sensitivitas insulin dan

menurunkan penggunaan glukosa pada ibu, sehingga membuat jumlah glukosa yang tersedia
untuk fetus lebih besar. Karena glukosa merupakan zat utama yang dipakai fetus untuk
meningkatkan pertumbuhan, maka arti pengaruh hormone ini menjadi jelas. Lebih lanjut, horman
ini meningkatkan asam lemak bebas dari cadangan lemak ibu, sehingga menyediakan sumber
energi pengganti untuk metabolisme ibu, (Guyton & Hall, 1997 : 1312).
Hormon untuk metabolisme protein
Bersifat laktogenik dan luteotropik
Menimbulkan pertumbuhan janin
Mengatur metabolisme karbohidrat dan lemak, (Ida Bagus Gde Manuaba, 2000 : 113-114).
3) Estrogen
Kadar hormon ini meningkat selama kehamilan dan membantu mempengaruhi endometrium dan
minggu-minggu awal kehamilan. Estrogen juga mengembangkan fungsi sekresi payudara. Pada
akhir kehamilan kenaikan estrogen maternal dominan, dan bersama dengan steroid fetus akan
merangsang produksi prostaglandin. Keadaan ini pada gilirannya merangsang produksi oksitosin
dari glandula pituitari anterior. Estrogen juga meningkatkan kepekaan otot-otot uterus terhadap
oksitosin yang memulai konstraksi uterus dan mulainya persalinan, (Sylvia Verralls, 2000 : 219).
4) Progesteron
Sejumlah besar progesterone disintesis dari kolesterol maternal, tetapi plasenta tidak mempunyai
enzim yang dibutuhkan untuk mengubah sejumlah kolesterol ini menjadi estrogen (estrol, estron,
dan estradiol). Sintesis ini sebenarnya dilakukan oleh glandula adrenalis fetus imatur.
Kelihatannya aneh bahwa walaupun fetus tidak dapat membuat estrogen sendiri, tetapi fetus
dapat mengubah dan menggunakan estrogen ibu, (Sylvia Verralls, 2000 : 219).
6. Perubahan Fisiologis pada saat Kehamilan
a. Sistem Reproduksi, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 70).
o Suplai darah meningkat disebabkan oleh hormon; menyebabkan gejala-gejala dan tanda
khas.
o Serviks lebih lunak (tanda Goodells) dan dipenuhi dengan mucus (operculum); berubah
menjadi bentuk oval setelah kelahiran pertama.
o Uterus perubahan yang sangat dalam bentuk, ukuran, dan ketebalan dinding; disokong oleh
ligamen yang menahan ditempatnya; melemah pada minggu ke 8 (tanda Hegars).
o Vagina bercak keunguan (tanda Chadwick) pada minggu ke 8 disebabkan oleh
meningkatnya vaskularisasi, sebagai leucorrhea kehamilan dan meningkatkan rangsangan
seksual.
b. Sistem Integumen, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 70).
Payudara nyeri tekan, membesar, kolostrum, areola menjadi lebih gelap.
Kulit
Steriae gravidarum peregangan jaringan yang menyebabkan rasa gatal dan meninggalkan
rasa gatal dan meninggalkan bekas.
Pigmentasi terjadi penumpukan sementara pada midline aabdomen (linea nigra), pada wajah
(chloasma), dan pada aerola.
Sekresi kelenjar lemak dan perspirasi meningkat selama kehamilan, memerlukan mandi yang
lebih sering.
c. Sistem Endokrin, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 70).
Ovarium dan plasenta korpus luteum membentuk estrogen dan progesterone; plasenta
membentuk juga hCG, hPL dan hCT.
Kelenjar tiroid membesar selama kehamilan, tetapi jumlah tiroksin tetap konstan.

Kelenjar paratiroid ukuran meningkat antara minggu ke-15 sampai ke-35, ketika kebutuhan
kalsium janin meningkat.
Pankreas pembentukan insulin meningkat selama kehamilan, tetapi penyimpanan glikogen
terbatas.
Kelenjar pituitari FSH ditekan oleh hCG yang dihasilkan plasenta; prolaktin meningkat selama
kehamilan dan laktasi; oksitosin meningkat dan menstimulasi kontraksi otot uterus.
Kelenjar adrenal kortin meningkat tetapi epinefrin tetap konstan.
d. Sistem Kardiovaskular, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 71).
Volume darah meningkat 30 % sampai 50 %, tetapi tekanan darah tidak berubah; pembentukan
sel-sel darah meningkat tetapi karena terjadi hemodilusi, maka berkembang psedoanemia;
penekanan pada vena kava menyebabkan gejala sindrom supine hipotensi; stasis vena dan fibrin
meningkat membuat wanita lebih mudah mengalami thrombosis.
e. Sistem Muskuloskeletal, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 71).
Gigi, tulang, dan sendi kebutuhan kalium dan natrium meningkat; karies gigi tidak disebabkan
oleh dekalsifikasi; sendi-sendi melemah.
Otot-otot kram merupakan masalah yang umum.
f. Sistem Pernapasan, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 71).
Paru-paru dan pernapasan letak diafragma berubah karena pertumbuhan janin; tidal volume
meningkat, meningkatkan O2 dalam darah.
Membran mukosa pembengkakan umum terjadi, menyebabkan hidung tersumbat, serak,
dispnea, dsb.
g. Sistem Gastrointestinal, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 71).
Asam lambung menurun; mual dan muntah merupakan hal umum pada awal kehamilan;
melambatnya peristaltik menyebabkan rasa kembung; konstipasi dan nyeri ulu hati umum terjadi.
h. Sistem Perkemihan, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 71).
Ginjal yang normal mampu mengatasi kerja tambahan tanpa menyebabkan masalah, tekanan
karena pertumbuhan janin dapat menyebabkan stasis urin.
Sering berkemih pada awal masa kehamilan disebabkan karena penekanan uterus pada
kandung kemih.
i. Sistem Persarafan, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 71).
o Saraf perifer tidak terdapat perubahan.
o Otak tidak terdapat perubahan fisik, tetapi dipertimbangan penyesuaian psikis.
j. Penambahan berat badan, 25 sampai 40 pon.
Perhitungan Masa Subur
Masa subur perlu diperhitungkan untuk dapat menetapkan kapan melakukan hubungan seks
bagi mereka yang ingin punya anak serta menghindari hubungan seks bagi mereka yang tidak
ingin punya anak. Pelepasan ovum bervariasi waktunya sesuai dengan faktor emosi wanita yang
mempengaruhi refleks hipotalamus sehingga dapat mempengaruhi pengeluaran di releasing
factor FSH dan LH dan pengeluaran FSH dan LH, serta akan mempengaruhi waktu ovulasi, (Ida
Bagus Gde Manuaba, 2000 :93-94)
Untuk menetapkan masa subur dapat dipergunakan perhitungan sebagai berikut, (Ida Bagus
Gde Manuaba, 2000 :93-94) :
1. Perhitungan masa subur, mulai dari hari pertama menstruasi ditambah 12, dan masa subur
berakhir ditambah 19 dengan puncaknya hari keempat belas.
Contoh :
Menstruasi tanggal 7 Januari 1993. Perhitungan minggu suburnya adalah mulai dari tanggal 19

(7 + 12) sampai tanggal 26 (7 + 19) dengan puncaknya yaitu 21 Januari 1993 (7 + 14).
2. Memperhitungkan suhu basal, karena pengaruh estrogen dan progesterone yang dapat
menaikkan suhu basal dengan deviasi sekitar 0,5oC. Ovulasi menyebabkan suhu basal bersifat
bifasik.
3. Memperhatikan lendir cairan serviks yang bersifat :
Basis
Jernih dan transparan yang mudah ditembus spermatozoa.
Mempunyai kemampuan regang 15 sampai 20 cm (speinbarkeit).
4. Tes cairan serviks saat ovulasi dapat membentuk susunan daun fakis.
5. Mikrokuretage menjelang atau hari pertama menstruasi yang menunjukkan fase sekresi,
berarti terjadi ovulasi sehingga wanita mempunyai minggu subur, (Ida Bagus Gde Manuaba,
2000 :93-94).
Lama Kehamilan
Lama kehamilan yaitu 280 hari atau 40 pekan (minggu) atau 10 bulan (lunar months). Ibu
termuda yang hamil dan melahirkan adalah Lina Medina berumur 4 tahun 8 bulan, ibu tertua
hamil dan melahirkan berumur 52 tahun. Kehamilan terbagi atas tiga triwulan (trimester),
(Rustam Mochtar, 2000 : 43) :
Kehamilan triwulan I antara 0 12 minggu.
Kehamilan triwulan II antara 12 28 minggu.
Kehamilan triwulan III antara 28 40 minggu.
(Rustam Mochtar, 2000 : 43)

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1 Alat
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu :
1. Mikroskop
2. Kaca alas + kaca penutup
3. Gelas beker pyrex 600 ml + plat kaca
4. Spoit 5 ml
5. Katak jantan
6. Urine wanita yang diduga hamil
III.2 Cara Kerja
1. Tes Galli Mainini
Menyuntikkan ke dalam saccus lymphaticus katak. Memasukkan katak ke dalam gelas beker
yang berisi air sedikit dan menutup dengan plat kaca. Sesudah 2 jam, mengambil katak tersebut
dan mengusahakan mengeluarkan urinenya di atas plat kaca kering. Meneteskan 1 2 tetes
urine itu dengan pipet di atas kaca alas dan menutup dengan kaca penutup. Memeriksa sediaan
itu di bawah mikroskop. Tes ini dinilai positif jika dalam sediaan di bawah mikroskop nampak
gerakan aktif dari spermatozoa dengan bentuk yang sempurna yaitu adanya kepala, leher, dan
ekor. Tes ini negative bila tidak terdapat spermatozoa.
2. Tes Friedman
Mengasingkan kelinci betina yang telah 2 minggu dari kelinci jantan, menyuntikkan 5 ml urine
wanita yang diduga hamil pada vena di telinga kelinci selama 2 hari berturut-turut. Mengadakan

laparotomi setelah 48 jam dan memeriksa ovarium. Tes positif bila nampak follikel membesar dan
adanya corpus rubrum.
3. Tes Konsulof
Katak yang telah di-hipofisektomi sehingga kehilangan hormon intermedian yang berfungsi
mengatur pigmentasi kulit, menyuntikkan dengan 2 ml urine wanita hamil. Tes ini positif bila kulit
katak berubah menjadi gelap.
4. Tes Ascheim Zondek
Menyuntik 5 ekor tikus putih betina yang immature dengan 0,4 ml urine pada subkutan sebanyak
6 kali dalam 2 hari. Jadi, tiap tikus menerima 2,4 ml urine. Seratus jam sesudah penyuntikkan
pertama, mematikan tikus dan memeriksa ada tidaknya corpus rubrum atau corpus lutea. Tes
positif bila dapat menemukan salah satu corpora tersebut pada sekurang-kurangnya seekor
tikus.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan
Tabel hasil pengamatan tes kehamilan berdasarkan tes human Chorionic Gonadotropin
(hCG) :
Nama orang coba Hasil tes Urine
1. Ny. X ( + )
2. Ny. R ( + )
Ket :
( + ) = hamil
( - ) = tidak hamil
IV.2 Pembahasan
Kehamilan yaitu peristiwa dibuahinya ovum oleh sel sperma yang akhirnya berkembang sampai
menjadi fetus yang aterm. Kehamilan adalah suatu keadaan fisiologis, akan tetapi pentingnya
diagnosis kehamilan tidak dapat diabaikan. Dalam kehidupan wanita, hanya sedikit diagnosis
yang lebih penting daripada diagnosis kehamilan. Hanya sedikit pengalaman hidup yang dapat
memicu emosi, baik berupa kebahagiaan luar biasa atau sebaliknya kesedihan mendalam.
Setiap bulan wanita melepaskan satu atau dua sel telur (ovum) dari indung telur (ovulasi), yang
ditangkapmoleh umbai-umbai (fimbriae) dan masuk ke dalam saluran telur. Waktu persetubuhan,
cairan semen tumpah ke dalam vagina dan berjuta-juta sel mani (sperma) bergerak memasuki
rongga rahim lalu masuk ke saluran telur. Pembuahan sel telur oleh sperma biasanya terjadi di
bagian yang menggembung dari tuba fallopii.
Di sekitar sel telur, banyak berkumpul sperma yang mengeluarkan ragi untuk mencairkan zat-zat
yang melindungi ovum. Kemudian pada tempat yang paling mudah dimasuki, masuklah satu sel

mani dan kemudian bersatu dengan sel telur. Peristiwa ini disebut pembuahan (konsepsi =
fertilisasi).
Ovum yang telah dibuahi ini segera membelah diri sambil bergerak (oleh rambut getar tuba)
menuju ruang rahim, kemudian melekat pada mukosa rahim untuk selanjutnya bersarang di
ruang rahim, peristiwa ini di sebut nidasi (implantasi). Dari pembuahan sampai nidasi diperlukan
waktu kira-kira 6 7 hari. Untuk menyuplai darah dan zat-zat makanan bagi mudigah dan janin,
dipersiapkan uri (plasenta). Jadi, dapat dikatakan bahwa untuk setiap kehamilan harus ada ovum
(sel telur), spermatozoa (sel mani), pembuahan (konsepsi = fertilisasi), nidasi, dan plasentasi.
Banyak manifestasi dari adaptasi fisiologis terhadap kehamilan yang mudah dikenali dan
merupakan petunjuk penting bagi diagnosis dan evaluasi kemajuan kehamilan. Sebagian dari
perubahan-perubahan selama kehamilan dapat diperkirakan waktunya secara relative tepat
sehingga merupakan patokan penting untuk memperkirakan usia gestasi janin. Diagnosis
kehamilan biasanya sangat mudah ditegakkan; tetapi sayangnya, hal ini tidak selalu terjadi.
Proses farmakologis atau patofisiologis kadang-kadang memicu perubahan-perubahan endokrin
atau anatomis yang menyerupai kehamilan.
Banyak tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya kehamilan, diantaranya : Human
chorionic gonadotropin( hCG), Tes Lateks aglutinotion inhibition(LAI), Tes Hemagglutination
Inhibition (HAI), Radioreceptor Assay, Tes Hamil Radioimunoesai, Enzim Imunoassay, Enzymelinked Immunosorbent Assay (ELISA), dan Ultrasonografi (USG).
Pada percobaan ini, hanya dilakukan uji tes kehamilan berdasarkan atas adanya hormon
Chorionic Gonadotropin (hCG) dalam urine wanita hamil. Berdasarkan hasil pengamatan pada
orang coba (wanita hamil), setelah dilakukan tes hormon Chorionic Gonadotropin, diketahui
kedua orang coba tersebut hamil. Ditandai dengan adanya 2 strep (garis) warna merah pada alat
tes kehamilan hCG.
Tes ini dilakukan dengan cara mencelupkan alat tes kehamilan hCG sampai garis batas, yang
biasa dikenal dengan test pack ke dalam urine wanita hamil selama 30 60 detik. Lalu
dikeluarkan dan membaca hasilnya setelah didiamkan selama 1 3 menit. Jika terdapat dua
strep/garis merah, itu berarti positif ( + ) hamil, dan jika hanya terdapat satu strep/garis merah,
berarti negative ( - ) / tidak hamil.
Gonadotropin korionik penting bagi pengenalan kehamilan oleh ibu karena hormon ini bekerja
menyelamatkan korpus luteum, tempat pembentukan utama progesterone selama 6 minggu
pertama. Hormon ini mencegah involusi korpus luteum. Hormon ini hanya diproduksi oleh
sinsitiotrofoblas, dan tidak oleh sitotrofoblas. Produksinya sudah mulai pada awal kehamilan,
kira-kira pada hari implantasi. Setelah itu, kadar hCG dalam plasma dan urine ibu meningkat
sangat pesat. Dengan uji yang peka, hormone ini dapat dideteksi di plasma atau di urin ibu pada
hari ke-8 sampai hari ke-9 setelah ovulasi. Waktu yang dibutuhkan agar konsentrasi hCG plasma
berganda adalah 1,4 sampai 2,0 hari. Kadarnya meningkat sejak hari implantasi hingga
mencapai puncaknya pada sekitar hari ke-60 sampai 70. Setelah itu, konsentrasinya menurun
secara bertahap sampai titik terendah dicapai pada sekitar hari ke-100 sampai 130.
Bersamaan denganperkembangan sel-sel trofoblas dari ovum yang baru mengalami vertilisasi,
hormone gonadotropin korionik manusia disekresi kedalam cairan ibu. Gonadotropin korionik
manusia merupakan suatu glikoprotein yang mempunyai berat molekul 30.000 serta struktur
molekul dan fungsinya sangat mirip dengan hormon luteinisasi yang disekresi oleh hipofisis.
Sejauh ini, fungsinya yang terpenting adalah mencegah involusi normal korpus lateum pada akhir
siklus seksual wanita. Sebagai gantinya ia menyebabkan korpus lateum menyekresi jauh lebih
banyak hormon yang biasa disekresinya, progesteron dan estrogen. Berlebihnya hormon-hormon

ini menyebabkan endometrium terus tumbuh dan menyimpan zat-zat gizi dalam jumlah besar
lebih dari pada yang masuk kedalam menstrum.
Bila korpus lateum dibuang sebelum kira-kira minggu ke tujuh sampai kesebelas kehamilan,
biasanya terjadi abortus spontan, walaupun setelah waktu ini plasenta sendiri menyekresi
progesteron dan estrogen dalam jumlah cukup untuk mempertahankan kehamilan.
Zona antibodi pertama diendapkan sedemikian sehingga dapat dimobilisasi; zona ini terdiri dari
partikel lateks berwarna yang disensitisasi dengan antibodi monoclonal terhadap subunit -hCG,
yang diimobilisasi di membran. Apabila urin mengandung hCG, urin akan bereaksi dengan anti
-hCG di lateks, dan kompleks ini akan ditangkap oleh zona antibodi anti-subunit--hCG kedua,
sehingga terbentuk sebuah garis berwarna pada jendela perangkat tersebut.
Hasil percobaan yang dilakukan sesuai dengan teori (F. Gary Cunningham, 2005: 30), bahwa
adanya hormon Gonadotropin korionik (hCG) di dalam plasma ibu dan ekskresinya di urin
merupakan dasar bagi uji endokrin untuk kehamilan. Hormon ini dapat ditemukan di dalam
cairan tubuh dengan salah satu dari berbagai teknik bioassay atau immunoassay.

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pada kedua orang coba (Ny. X dan Ny. R) diketahui adanya kehamilan berdasarkan tes
human Chorionik Gonadotropin (hCG) yang mendeteksi adanya hormon hCG dalam urin wanita
hamil tersebut. Hormon Chorionik Gonadotropin (hCG) dapat dideteksi di plasma dan urin ibu
pada hari ke-8 sampai hari ke-9 setelah ovulasi dan mencapai puncaknya pada hari ke-60.
2. Tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya kehamilan, diantaranya : Human chorionic
gonadotropin( hCG), Tes Lateks aglutinotion inhibition(LAI), Tes Hemagglutination Inhibition
(HAI), Radioreceptor Assay, Tes Hamil Radioimunoesai, Enzim Imunoassay, Enzyme-linked
Immunosorbent Assay (ELISA), dan Ultrasonografi (USG).
3. Hormon Gonadotropin korionik manusia (hCG) di sekresi ke dalam cairan ibu bersamaan
dengan perkembangan sel-sel trofoblast dari ovum yang baru mengalami fertilisasi. Fungsinya
yaitu untuk mencegah involusi normal korpus luteum pada akhir siklus seksual wanita dan
memelihara korpus luteum sampai plasenta dapat menggantikannya memproduksi estrogen dan
progesteron.

V.2 Saran
Adapun saran pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi program studi, agar alat-alat/fasilitas laboratorium diperlengkap lagi.
2. Bagi asisten :
Tidak ada lagi saran dari kami, hanya ucapan terima kasih atas kesabaran dan keikhlasan
kakak-kakak asisten dalam membimbing praktikan serta waktu yang penuh toleransi ketika
asistensi.

DAFTAR PUSTAKA
Bobak, Irene M. 2003. Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC.
Cunningham, F. Gary. 2005. Obstetri Williams. Jakarta : EGC.
Hall & Guyton. 1997. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
Hamilton, Persis Mary. 2000. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC.
Manuaba, Ida Bagus. 2000. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana.
Jakarta : EGC.
Mochtar, Ruslam. 2000. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC.
Verralls, Sylvia. 2003. Anatomi & Fisiologi Terapan dalam Kebidanan. Jakarta : EGC.
http://www.nhsdirect.nhs.uk/articles/article.aspx?articleId=2309. 2008. Placenta.
www.Google.com : Jumat, 30 Mei 2008.

Test Kehamilan
Diposkan oleh . PooR pRinZa aPpLe . di 20.42.00

LAPORAN PRAKTIKUM
STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN II
TEST KEHAMILAN

Oleh:
Nama
NIM
Asisten
Kelompok

: Dian Octarina
: 08081004023
: Lintang Nugroho
: VIII (Delapan)

LABORATORIUM ZOOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2010

ABSTRAK

Praktikum yang berjudul, Test Kehamilan bertujuan untuk mendeteksi


kehamilan secara dini dan tanpa membutuhkan pengamatan klinis dan fisiologis.
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 3 November 2009, pukul 08.3010.30 WIB. Bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Inderalaya. Alat
yang digunakan adalah alat tulis, kertas catatan dan mikroskop. Dan bahan yang
digunakan adalah berbagai macam prerparat awetan jaringan epitel, yaitu
preparat Gaster Cavia cobaya, kelenjar adrenalin Mus musculus, penampang
melintang calun usus besar, dan Uterus Mencit. Adapun hasil yang didapat yaitu
gambar berbagai macam bentuk dan letak sel penyusun jaringan epitel.
Kesimpulan yang didapat pada praktikum ini yaitu jaringan epitel tersusun dari
sel-sel yang sangat rapat.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Pada hewan-hewan multiseluler, kehidupan biasanya dimulai dengan


penyatuan dua heterogamete, yaitu sperma dan sel telur. Sel tunggal yang
dihasilkan dari penyatuan itu adalah sel terfertilisasi, atau zigot. Fertilisasi
merupakan suatu proses kompleks yang melibatkan penetrasi
lapisanlapisan pelindung sel telur oleh sperma yang motil, inkorporasi nukleus sperma
ke dalam sitoplasma sel telur, dan pada akhirnya penyatuan dua pronuklei
(masing-masing nukleus gamet disebut pronkleus sebelum bergabung) untuk
menghasilkan nukleus tunggal yang diploid (Fried 2006).
Pada mamalia berplasenta, kehamilan (pregnancy) atau gestasi, adalah
kondisi mengandung satu atau lebih embrio, yaitu individu yang baru
berkembang dalam uterus. Kehamilan diawali oleh konsepsi, yaitu proses
fertilisasi atau pembuahan telur oleh sebuah sel sperma, dan berlangsung terus
sampai kelahiran sang anak. Kehamilan pada mamalia berlangsung rata-rata 266
hari (38 minggu) dari konsepsi, atau 40 minggu dari permulaan siklus menstruasi
terakhir. Lama kehamilan pada spesies lain berkorelasi dengan ukuran tubuh dan
seberapa jauh perkembangan anak pada saat kelahiran. Banyak hewan pengerat
(mencit dan tikus) mempunyai periode kehamilan, sekitar 21 hari, sementara
anjing kurang lebih 60 hari. Pada sapi, kehamilan rata-rata berlangsung 270 hari
(hampir sama seperti pada manusia). Pada jerapah, kehamilan berlangsung
sekitar 420 hari, dan pada gajah, kehamilan berlangsung lebih dari 600 hari
(Campbell 2004).

Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara


waktu menstruasiterakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah
medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya
disebut embrio(minggu-minggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran).
Dalam banyak masyarakat definisi medis dan legal kehamilan manusia dibagi
menjadi tiga periode triwulan, sebagai cara memudahkan tahap berbeda dari
perkembangan janin. Triwulan pertama membawa risiko
tertinggi keguguran (kematian alami embrio atau janin), sedangkan pada masa
triwulan ke-2 perkembangan janin dapat dimonitor dan didiagnosa. Triwulan ke-3
menandakan awal 'viabilitas', yang berarti janin dapat tetap hidup bila terjadi
kelahiran awal alami atau kelahiran dipaksakan. Karena kemungkinan viabilitas
janin yang telah berkembang, definisi budaya dan legal dari hidup seringkali
menganggap janin dalam triwulan ketiga adalah sebuah pribadi. Kehamilan
manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir
dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita hamil
adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (mingguminggu awal) dan kemudianjanin (sampai kelahiran) (Anonim 2010).
Trimester pertama merupakan periode utama organogenesis, yaitu
perkembangan organ tubuh. Jantung mulai berdenyut pada minggu keempat dan
dapat dideteksi dengan stetoskop pada akhir trimester pertama. Pada akhir
minggu kedelapan, semua struktur utama dewasa sudah ada dalam bentuk
rudimenter. Pada saat itu, embrio disebut fetus atau janin. Meskipun sudah
berdiferensiasi dengan baik, fetus hanya 5 cm panjangnya pada akhir trimester
pertama. Karena laju organogenesis yang cepat, embrio paling sensitive selama
trimester pertama terhadap ancaman seperti radiasi dan obat-obatan yang
dapat menyebabkan cacar lahir (Campbell 2004).

1.2.

Tujuan Praktikum

Praktikum kali ini bertujuan untuk mendeteksi kehamilan secara dini dan
tanpa membutuhkan pengamatan klinis dan fisiologis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Keadaan hormonal pada kehamilan, kadar Human Chorionik Gonadotropin
(HCG) dalam plasma mulai meningkat dengan segera pada saat implantasi ovum

di dinding uterus. Hormon tersebut mencapai puncaknya pada umur sekitar 8


minggu kehamilan, kemudian mulai menurun ke kadar yang tetap hingga terjadi
persalinan, HCG memelihara fungsi korpus luteum selama 8-10 minggu. Human
Chorionik Gonadotropin (HCG) mempunyai struktur yang hampir sama dengan
hormon pertumbuhan dan laju sekresinya seiring dengan muncul dan
berkembangnya placenta dan dapat digunakan untuk mengukur fungsi placenta.
Pertambahan berat dan komponennya, rata-rata pertambahan berat badan ibu
selama kehamilan adalah 12,5 kg. Pertambahan tersebut mewakili 2 komponen
besar, yaitu banding 1) produk kehamilan : fetus, cairan amnion, dan placenta,
2) pertambahan jaringan maternal : ekspansi dari darah dan cairan
ekstraselluler, pembesaran uterus dan glandula mammae serta cadangan
maternal (jaringan adiposa) (Suryani 2002).
Kehamilan manusia dapat dibagi ke dalam tiga trimester yang masingmasing sekitar 3 bulan lamanya. Trimester pertama adalah waktu terjadinya
perubahan yang paling radikal baik untuk ibu maupun untuk bayinya. Fertilisasi
terjadi dalam oviduk. Sekitar 24 jam kemudian, zigot yang dihasilkan mulai
membelah, suatu proses yang disebut permbelahan (cleavage). Pembelahan itu
terus berlangsung, dan embrio membentuk kumpulan sel berbentuk bola ketika
mencapai uterus sekitar 3 sampai 4 hari setelah pembuahan. Sekitar 1 seminggu
setelah pembuahan, proses pembuahan itu menghasilkan tahapan embrionik
yang disebut dengan blastosista (blastocyst), yaitu bola sel yang mengandung
rongga pipih. Dalam proses yang berlangsung kurang lebih 5 hari lagi,
blastosista tersebut menempel dan terimplantasi ke dalam endometrium.
Diferensiasi struktur tubuh sekarang mulai benar-benar berlangsung. Selama
implantasi, blastosista akan menempel ke endometrium, yang memberikan
respons dengan tumbuh menyelimuti blastosista tersebut. Embrio mendapatkan
nutriennya secara langsung dari endometrium selama 2 sampai 4 minggu
pertama perkembangan. Sementara itu, jaringan yang tumbuh dari embrio yang
sedang berkembang itu bercampur dengan endometrium dan membentuk
plasenta. Organ berbentuk cakram ini, yang mengandung pembuluh darah
maternal dan pembuluh darah embrio, tumbuh hingga mencapai ukuran piring
makan dan berbobot kurang dari 1 kg. Difusi zat-zat antara sirkulasi maternal
dan embrio menyediakan nutrien, mempertukarkan gas-gas respirasi, dan
pembuangan limbah metabolism untuk embrio tersebut. Darah dari embrio
mengalir ke placenta melalui arteri tali pusat dan kembali melalui vena pusar,
dan melewati hati embrio itu
(Campbell 2004).
Pembelahan-pembelahan awal berlangsung dan menghasilkan blastomerblastomer berukuran serupa. Blastomer-blastomer tersebut dapat berpisah
sehingga tersebut lebih dari satu embrio. Sekitar 5 hari setelah fertilisasi,
terbentuk sebuah tahapan blstula yang dikenal sebagai blastosista. Blastosista
terdiri atas sebuah lingkaran sel luar yang disebut trofoblas dan massa bulat di
sebelah dalam sel yang mengantung ke bawah pada salah satu ujung trofoblas.
Massa sel di sebelah dalam akan menghasilkan embrio, sedangkan tropoblas
akan menghasilkan korion dan komponen fetal placenta seperti spons.
Pertukaran gas dan cairan antara ibu dan anak terjadi dalam placenta. Pada
sekitar hari ketujuh, tropoblas tenggelam ke dalam uterus (endometrium), dan

terbentuk serangkaian penjuluran dari embrio ke uterus. Proses tersebut dinamai


implantasi. Segera setelah implantasi, terbentuk membran ekstraembrionik
(Fried 2006).
Trimester pertama juga merupakan waktu di mana terjadi perubahan
cepat pada ibu. Embrio mensekrasikan hormon yang memberi sinyal akan
kehadiran dan mengontrol sistem reproduksi ibunya. Satu hormon embrio,
yaitu human chorionic gonadothropin (HCG), bertindak seperti LH pituitari untuk
mempertahankan sekresi progesteron dan estrogen oleh luteum selama
trimester pertama. Dengan ketidakberatan hormon tersebut, penurunan kadar
LH maternal akibat inhibisi (penghambatan) pituitari oleh progesteron akan
mengakibatkan menstruasi dan aborsi embrio secara spontan. Kadar HCG dalam
darah ibu sedemikian tingginya sehingga sebagian di antaranya disekresikan
dalam urin, dan dapat dideteksi dalam uji kehamilan. Kadar progesteron yang
tinggi mengawali perubahan sistem reproduksi pada perempuan yang hamil,
termasuk peningkatan mukus dalam serviks yang membentuk sumbat
pelindung, pertumbuhan placenta bagian maternal milik ibu, pembesaran uterus,
dan (melalui umpan balik negatif pada hipotalamus dan pituitari) penghentian
ovulasi dan siklus menstruasi. Payudara juga membesar secara cepat dan
seringkali menjadi lembek (Campbell 2004).
Kelahiran atau partus atau pasturisi, terjadi melalui serangkaian kontraksi
uterus yang kuat dan berirama, yang umum dikenal sebagai labor. Tahapan
pertama adalah pembukaan dan pemipihan serviks, yang berakhir dengan
dilatasi sempurna. Tahapan kedua adalah ekspulsi atau pengeluaran bayi.
Kontraksi yang kuat terus memaksa fetus turun dan keluar dari uterus dan
vagina. Tali pusar dipotong dan dijepit setelah bayi keluar. Tahapan akhir
kelahiran adalah keluarnya placenta yang biasanya mengikuti keluarnya bayi.
Laktasi adalah suatu aspek perawatan dan pemeliharaan pascalahir bagi
mamalia (Campbell 2004).
Kebutuhan nutrisi pada saat laktasi jauh lebih besar dibandingkan pada
saat kehamilan. Pada 4-6 bulan pertama partus, berat seorang bayi menjadi dua
kali lipat dibandingkan pada saat umur sembilan bulan di dalam kandungan.
Susu yang dihasilkan selama empat bulan mengandung energi yang ekuivalen
dengan energi total pada waktu kehamilan. Tetapi, meskipun demikian sejumlah
energi dan banyak dari nutrien yang dimakan selama kehamilan dipergunakan
untuk mendukung produksi dari susu (Suryani 2002).
Haid yang keluar ketika hamil bisa merupakan pertanda adanya
gangguan, tapi bisa juga tidak. Sebagai tanda gangguan, bisa sebagai tandatanda keguguran, placenta lepas atau hamil anggur. Sebaliknya, bercak darah
pada trimester pertama kehamilan bisa pula untuk menandakan embrio sedang
membenamkan diri ke dalam jaringan selaput lendir dinding rahim. Hal ini terjadi
karena kadar hormon progesteron kurang, sehingga ada bagian dinding rahim
yang luruh dan tampak sebagai darah haid. Timbulnya bercak darah ini dapat
pula disebabkan pecahnya beberapa pembuluh darah di dinding rahim ketika
embrio membenamkan diri. Sebab keluarnya darah haid, bisa pula karena

adanya kelainan bentuk rahim. Akibat adanya ari-ari gagal menempel pada
dinding rahim. Tak jarang pendarahan timbul akibat pecahnya polip di leher
rahim, adanya benturan leher rahim akibat senggama atau infeksi pada selapit
lendir. Kehamilan kembar dapat juga menimbulkan pendarahan ringan. Hal ini
terjadi ketika kedua embrio berusaha membenamkan diri ke dalam dinding
rahim. Embrio yang tidak mampu bertahan akan keluar dalam bentuk
pendarahan yang cukup banyak (Kasdie 2005).

BAB III

METODE PENELITIAN
3.1.

Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 23 Maret 2010, pukul 08.00-10.00 WIB.
Bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Universitas Sriwijaya, Inderalaya.

3.2.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah kaca objek, kaca penutup, mikroskop, pipet tetes, dan syringe
5 ml.. Dan bahan yang digunakan adalah Rana sp jantan, urine wanita di duga hamil dan urine
wanita yang tidak hamil.
3.3.

Cara Kerja

Terlebih dahulu diperiksa ke tiga empat ekor katak jantan tersebut, apakah didalam cairan
kloakanya ditemukan spermatozoa atau tidak. Kemudian katak yang urinnya mengandung sperma
tidak dipakai. Katak yang tidak mengandung sperma dibagi menjadi dua kelompok. Kemudian
disuntikkan 2-3 ml urin wanita tadi pada kantung limfa lateral katak. Dibiarkan kira-kira 30 menit.
Diambil urin katak dengan bantuan pipet melalui kloaka. Diteteskan pada kaca objek dan ditutup
dengan kaca penutup. Kemudian diamati di bawah mikroskop. Test positif apabila dalam urin katak
tersebut terdapat sperma.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil dan Gambar
Dari praktikum yang telah dilaksanakan, didapat hasil sebagai berikut:
Tabel Hasil Test Kehamilan

Katak
Kontrol

Perlakuan

Keterangan
Morfologi Sperma

2.

II

3.

III

4.

IV

5.

6.

VI

7.

VII

8.

VIII

No.

Kelompok

1.

Rana sp

Klasifikasi

4.2.

Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Classis

: Amphibia

Ordo

: Anura

Family

: Ranidae

Genus

: Rana

Spesies

: Rana sp

Pembahasan
Pada praktikum Test Kehamilan yang telah dilakukan, terdapat hasil yang positif dan hasil
negatif. Dikatakan negati karena pada kelompok kontrol dan perlakuan dalam urine Rana sp tersebut
tidak terdapat (tidak ditemukan) spermatozoa. Menurut (Sukra 2000) bahwa hasil negatif dalam
pengujian, kemungkinan dikarenakan faktor-faktor kesalahan dalam penyuntikan pada
kloaka Rana sp, usia kehamilan yang bisa kurang dari 35 hari atau bisa lebih dari 80 hari. Urine
wanita yang di duga hamil sudah rusak karena terlalu lama antara jarak pengambilan dengan
pengujian, urine wanita yang di duga hamil itu memang tidak hamil dan yang terakhir bisa juga
karena katak yang disuntikkan dengan urine wanita yang diduga hamil itu kemungkinan ada
spermanya. Hal ini dikarenakan tidak adanya HCG di dalam air kemih, namun sebaliknya bila HCG
yang terkandung banyak di dalam urine berarti dinyatakan hamil. Penyuntikan itu dapat dianggap
sebagai rangsangan yang akan mengikat dan menginduksikan terjadinya ovulasi pada betina. Untuk

mengetahui ada atau tidaknya spermatozoa, Rana sp diuji dahulu menggunakan larutan garam
fisiologis yang dimaksudnkan untuk menyeimbangkan tekanan osmotik pada Rana sp. jantan itu
sendiri serta lingkungan luarnya. Di mana dalam praktikum ini digunakan garam fisiologis 0,8
persen.
Pada saat wanita mengalami kehamilan, keadaan hormonal di dalam tubuh akan berubah.
Hormon yang memiliki pengaruh penting pada saat kehamilan, yaituHuman Choirionik
Gonadotropin (HCG) yang akan meningkat dengan segera menjalankan fungsinya dalam mingguminggu kehamilan seorang wanita. Hal ini sesuai dengan pendapat Suryani (2002) bahwa hormon
yang reproduktif yang terkandung dalam plasma wanita hamil adalah (1) HCG, yaitu hormon yang
berfungsi untuk mempertahankan korpus luteum selama 8-10 minggu. HCG dapat meningkat secara
tepat pada implentasi ovum, HCG juga dapat mencapai kadar puncak pada 8 minggu kehamilan dan
menurun pada tingkatan yang stabil hingga masa kelahiran, (2)Placental lactogen, yaitu hormone
yang dapat menstimulasi lipolisis, aksi insulin antagonis dan penting dalam menjaga aluran sustrat
menuju fetus. Placental lactogenjuga dapat digunakan sebagai pengukur fungsi dari plasenta, yang
akan meningkat seiring dengan usia kehamilan. Pada kadar puncaknnya, kecepatan sekresi
padaplacental lactogen dapat mencapai 1-2 gram/hari. (3) Progesteron, berfungsi untuk
menstimulasi respirasi maternal, merelaksasi otot polos, sebagai immunopressan pada placenta, juga
dapat memacu perkembangan lobuler payudara dan menginhibisi sekresi susu selama kehamilan,
hormon progesteron kadarnya akan meningkat terus sampai usia kehamilan. (4) Estrogen, dapat
digunakan untuk menstimulasi pertumbuhan uterus, meningkatkan aliran darah menuju uterus, juga
dapat digunakan untuk mengukur viabilitas. Kadar hormon estrogen dapat meningkatkan beberapa
kali lipat seiring dengan pertumbuhan kehamilan. (5) Prolaktin berfungsi untuk membantu
perkembangan peyudara, menginisiasi dan mempertahankan laktasi dan kadarnya dapat meningkat
sesuai dengan usia kehamilan.
Selain Human Choironik Gonadotropin (HCG), proses kehamilan pada wanita juga
dipengaruhi oleh beberapa hormon lain, diantaranya yaitu Releasing Factor (RF) dan estrogen.
Menurut Campbell (2004) bahwa tes kehamilan pada mammalia akan positif apabila terjadi
peningkatan yang banyak dari gonadotropin korionik hormon di air seni, yang mana inilah akan
menjadi suatu dasar dalam melakukan tes kehamilan. Macam-macam hormon yang mempengaruhi
kehamilan pada wanita yaitu Releasing Factor (RF), yang dikeluarkan dari hipotalamus ke hipofisis
yang merangsang pengeluaran Folicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH),
keduanya dikeluarkan dari hipfisis anterior. Selain kedua hormon tersebut, estrogen mempunyai
pengaruh terhadap endometrium yang telah berprolifikasi dan menyebabkan kelenjar berlekuk-lekuk
dan bersekresi.
Pada sperma terdapat spermatozoa yang tidak sedikit, produk sel-sel sperma dewasa adalah
proses yang terus menerus terjadi pada jantan dewasa. Spermatozoa terdiri dari struktus-struktus
yang menyusunnya dan memiliki fungsi masing-masing. Hal ini sesuai dengan pendapat Campbell
(2004) bahwa struktur sperma pada sebagian spesies terdiri dari kepala yang mengandung nukleus
haploid yang dilindungi oleh badan khusus, yaitu akrosom (acrosome), yang mengandung enzim yang
membantu sperma menembus sel telur. Di belakang kepala sel sperma, mengandung sejumlah besar
mitokondria (atau sebuah mitokondria yang berupa sebuah flagela. Bentuk sperma mamalia
bervariasi dari spesies satu ke spesies lainnya, dengan kepala berbentuk koma tipis, berbentuk oval
(seperti pada sperma manusia), atau berbentuk hampir bulat. Spermatogenesis terjadi dalam tubulus
seminiferus testis.

BAB V

KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.

Hormon yang terkandung dalam urin wanita hamil adalah HCG, estrogen, dan progesteron.

2.

Uji yang dilakukan dalam percobaan adalah uji galli mainini dengan menggunakan Ranasp jantan
sebagai pengontrol dan penguji

3.

Spermatozoa yang ditemukan dalam pengujian menunjukkan bahwa hasil test kehamilan positif

4.

Garam positif yang digunakan berfungsi untuk menyeimbanngkan tekanan osmotic pada Rana sp.
jantan itu sendiri serta lingkungan luarnya.

5.

Hormon-hormon yang mempengaruhi kehamilan, yaitu Releasing Factor (RF),Stimulating


Hormone (FSH), dan Luteinizing Hormone (LH).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori Medis


1. Kehamilan
a. Pengertian kehamilan
1)Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan
sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan
dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya
bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan
lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional (Prawirohardjo,2010;h.213.).

2) Proses kehamilan merupakan mata rantai yang bersinambung dan terdiri dari
ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi
(implantasi) pada uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil
konsepsi sampai aterm (Manuaba, 2012;h.75.).
pemeriksaan kehamilan

Kehamilan merupakan kodrat bagi setiap wanita. Seorang wanita akan merasa
sempurna bila wanita tersebut mampu menghasilkan keturunan. Proses
kehamilan sendiri di awali dengan masa kehamilan.
Kehamilan adalah suatu keadaan fisiologis, akan tetapi pentingnya diagnosis
kehamilan tidak dapat diabaikan. Diagnosis kehamilan biasanya sangat
ditegakkan, tetapi sayangnya hal ini tidak selalu terjadi. Proses farmakologis
atau patofisiologis kadang-kadang memicu perubahan-perubahan endoktrin atau
anatomis yang menyerupai kehamilan, sehingga membingungkan wanita, dan
kadang-kadang juga dokternya. Perubahan ini menimbulkan gejala dan tanda
yang memberikan bukti adanya kehamilan.

TUJUAN PRAKTIKUM:

Untuk mengetahui cara pemeriksaan kehamilan menggunakan metode galli


manini dengan reaksi biologic.

Untuk mengetahui cara pemeriksaan kehamilan dengan uji kehamilan


menggunakan test pack

Untuk menentukan adanya Beta hCG pada urin wanita hamil


TINJAUAN PUSTAKA

Uji kehamilan yang paling sering ditemui adalah dengan pemeriksaan urin. Kadar
minimal beta hCG dalam urin untuk menghasilkan hasil yang positif berkisar
antara 20-100 mlU/mL (meskipun pada test pack mengatakan mempunyai batas
minimal 5 mlU/mL). Padahal, sampai 5 minggu dari hari pertama menstruasi
terakhir, kadar beta hCG dalam urin kadang masih dibawah 20 mlU/mL
(meskipun pada beberapa wanita 4 minggu setelah hari pertama menstruari
terakhir sudah lebih dari ratusan mlU/mL).

Hormone Gonadotropin Chronik (HCG) merupakan hormon glikorotein yang unik


untuk plasenta yang sedang tumbuh. Sebelum immunoassay tersedia pada
tahun1960-an uji-uji kehamilan menggunakan bioassay yang memerlukan hewan
seperti kelinci, tikus dan katak untuk membuktikan adanya HCG dalam serum

atau urine. Dewasa ini tes tersebut telah diganti dengan tes imunologik yang
menggunakan antibody terhadap HCG (sacher, 2004).

HCG memiliki dua berkas genetikyaitu CGA dan CGB. Hormon hCG adalah
hormon glikoprotein dari keluarga gonadoprotein yang awalnya disintesis oleh
embrio manusia, dan kemudian dilanjutkan oleh syncytiotrophoblast (bagian dari
plasenta) selama masa kehamilan. Keduanya merupakan sekresi steroid dari
ovarium untuk kestabilan kandungan.

Fungsi dari hCG yaitu berinteraksi dengan reseptor LHCG dan mempromosikan
pemeliharaan korpus luteum selama awal kehamilan, sehingga menyebabkan ia
mensekresikan hormon progresteron. Progresteron memperkaya rahim dengan
tebal lapisan dari pembuluh darah dan kapiler sehingga dapat menopang
pertumbuhan janin. Karena sangat negativ dengan sendirinya, hCG dapat
mengusir sel-sel kekebalan ibu, melindungi janin selama trim ester pertama.
Dihipotesiskan juga bahwa hCG bisa merupakan link plasenta untuk
pengembangan immunotolerance ibu lokal. Sebagai contoh, hCG diperlakukan
sel endometrium menginduksi peningkatan apoptosis sel T (pembubaran sel-T).

Karena kemiripannya dengan LH. hCG juga dapat digunakan secara klinis untuk
menginduksi ovulasi dalam ovarium serta testosteron produksi ditestis.

Ada beberapa cara yang digunakan untuk uji kehamilan pada saat ini, berbagai
macam reaksi antara lain:

Reaksi dari hogben


Menggunakan kodok afrika selatan yaitu xenovus laevis dimana suntikkan 2 cc
urin wanita hamil. Reaksi positif ditandai dengan keluarnya telur dalam waktu
12-24 jam.

Reaksi dari consulof


Menggunakan kodok berwarna yaitu rana exculentayang seelumnya telah diamil
kelenjar hypohysenya lebih dahulu sehingga warna kodok memucat. Kemudian
disuntikkan 2,5 cc urin wanita hamil. Hasil positif bila warna kodok berubah
menjadi coklat.

Reaksi dari Friedman


Menggunakan kelinci betina yang telah 3 minggu di asingkan sehingga tidak
berhubungan dengan kelinci jantan, dimana disuntikkan 5 cc urin wanita hamil
intravena pada vena telinga kelinci selama 2 hari berturut-turut. Setelah 2 jam

dilakukan laparotomi, diambil ovarium dan diperiksa. Hasil psitif bila ditemukan
korpus rubra dan lutea.

Reaksi galli mainini


Menggunakan kodok jantan yaitu buffo vulgaris dimana disuntikkan 5 cc urin
wanita hamil pada bagian bawah kulit perut kodok. Hasil positif ditandai dengan
adanya sperma pada air kemih kodok yang telah didiamkan selama 3 jam.

Reaksi Aschim Zondek


Menggunakan 5 ekor tikus betina imatur, pada hari kelima diadakan operasi
pada tikus yang telah disuntik dengan urin wanita hamil tersebut. Operasi
dititikberatkan pada perubahan ovarium tikus putih. Hasil positif jika terdapat
korpus rubrum.

Test Pack
Test pack merupakan alat uji kehamilan yang sangat simple dan dapat dilakukan
dirumah. Bentuk test pack ini ada dua macam yaitu strip dan compact. Bentuk
strip harus dicelupkan kedalam urin yang telah ditampung pada sebuah wadah
atau disentuhkan pada saat buang air kecil. Sedangkan bentuk compact yaitu
dengan meneteskan urin langsung pada bagian tertentu dari alatnya.
Alat uji kehamilan ini memiliki dua buah garis. Garis yang pertama
mengisyaratkan test dilakukan dengan benar, yang biasa disebut dengan garis
kontrol. Garis tersebut akan tampak bila test pack mendapatkan cukup urin
untuk diuji. Sementara garis kedua menunjukkan hasil test, yang merupakan
bagian alat yang memiliki antibody yang bereaksi dengan hCG dan dapat
berubah warna apabila hormon ini terdeteksi.

Test kehamilan Plano-test


Tes ini menggunakan urin pagi wanita hamil dengan mereaksikan kit neo
planotest duoclon. Dengan melihat ada atau tidaknya aglutinasi saat
pencampuran. Hasil positif ditandai dengan adanya aglutinasi.

METODE PRAKTIKUM

Galli Mainini

Test Pack

PRINSIP PEMERIKSAAN

Hormon hCG pada urin wanita hamil merangsang terbentuknya sperma pada
kodok jantan (reaksi biologis)

Terjadinya reaksi antara antibody hCG yang terdapat pada alat dengan urin
wanita hamil yang mengandung hormon hCG.

ALAT DAN BAHAN


Spuit

Pipet tetes

wadah

Tali rafia

Test pack

Objek glass

Cover glass

Mikroskop

Katak jantan
urin ibu hamil

CARA KERJA
Metode Galli Mainini
a.
b.

Ambil seekor katak jantan, pegang erat-erat tapi jangan terlalu kencang
Cubit daerah punggung belakang atau perut bagian bawah sampai kulitnya
tertarik keatas

c.

Suntikkan urin wanita hamil sebanyak 3 cc dengan jarum suntik

d.

Lepaskan katak tersebut biarkan di air

e.

Ikatlah salah satu kakinya dengan tali rafia dan diamkan selama 30 menit

f.

Setelah 30 menit, ambil kataknya dan rangsang bagian kloakanya


menggunakan pipet tetes dengan cara diputar-putarkan secara perlahan sampai
urinnya keluar.

g.

Pipet urin yang keluar

h.

Teteskan pada objek glass dan tutup dengan cover glass

i.

Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran 10 kali.

Metode Test Pack


a.

Urin pagi wanita hamil diletakkan dalam wadah yang bersih

b.

Celupkan strip kedalam urin sesuai dengan tanda panah batas garis maksimum
selama 30-60 detik

c.

Jika menggunakan compact, maka cukup meneteskan urin pada bagian


tertentu yang telah disediakan pada alatnya

d.
e.

Tunggu sampai muncul garis kontrol dan garis test


Jika muncul 2 garis artinya positif hamil. Jika hanya satu garis maka berarti
tidak hamil

HASIL PENGAMATAN

Metode Galli Mainini : negative, karena tidak ditemukan sperma katak


Metode Test Pack : positif, karena pada strip maupun compact terdapat dua
garis yang muncul yaitu garis kontrol dan garis test
PEMBAHASAN
Pada metode Galli Mainini tidak ditemukan sperma katak berbentuk seperti
cabai. mungkin dikarenakan beberapa faktor antara lain:

Praktikan kurang tepat dalam menyuntikkan jumlah urin, sehingga jumlah urin
yang masuk kurang atau bahkan berlebihan

Praktikan salah menyuntikkan urin pada bagian katak yang seharusnya


disuntik, sehingga tidak bereaksi ketika disuntikkan urin

Urin umur kehamilan yang dipakai mungkin kurang sesuai (masih mengandung
HCG atau tidak) dll.

Pada metode test pack, alat ini akan bereaksi jika dalam urin wanita hamil
terdapat hCG dan tanda pada uji ini menunjukkan dua garis. Yang artinya wanita
ini hamil. Pada wanita hamil akan terdeteksi kadar hCG yang cukup tinggi
didalam urinnya (sedikitnya akan mencapai 25 mlU/mL). Namun, kadar
sensitifitas setiap alat tes kehamilan berbeda-beda. Semakin sensitif tentu
semakin baik. Ada juga alat tes yang mampu mendeteksi kadar hCG sebanyak 5
mlU/mL saja. Garis yang pertama mengisyaratkan test dilakukan dengan benar,
yang biasa disebut dengan garis kontrol. Garis tersebut akan tampak bila test
pack mendapatkan cukup urin untuk diuji. Sementara garis kedua menunjukkan

hasil test, yang merupakan bagian alat yang memiliki antibody yang bereaksi
dengan hCG dan dapat berubah warna apabila hormon ini terdeteksi.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan pada metode Galli mainini diketahui bahwa
sampel urin yang di uji negative. Karena tidak terdapat sperma katak yang
berbentuk seperti cabai. Pada test pack. Hasilnya menunjukkan dua garis yang
artinya wanita tersebut positif hamil.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1989. Serologi. Jakarta : Pendidikan Tenaga Kesehatan RI.

Muhayat, Ali. 1998. Pengaruh Hormon Terhadap Fase Kehamilan. Bandung:


Surya Aditama Media.

Sacher, Ronald A. Richard, A.Mc pherson.2004. Tinjauan Klinis Hasil


Pemeriksaan Laboratorium Edisi 2. Jakarta : EGC.

Ibrahim. Zr. Christina. S. 1971. Perawatan Kebidanan 1. Jakarta : Bhratara.

PEMBAHASAN PRAKTIKUM TES HCG


PEMBAHASAN

Praktikum ini bertujuan untuk menentukan adanya hormone HCG di dalam urin
untuk tes kehamilan dengan teknik imunologik. Hormone HCG atau human chorionic
gonadotropine merupakan hormon glikoprotein dari keluarga gonadotropin yang awalnya
disintesis oleh embrio manusia, dan kemudian dilanjutkan oleh syncytiotrophoblast,
bagian dari plasenta, selama masa kehamilan. Hcg berfungsi untuk memicu sel-sel
interstisial ovarium, memicu terjadinya ovulasi, memicu luteinisasi pada sel-sel
granulase, mempertahankan fungsi dan umur korpus luteum serta menaikkan sekresi
progesterone oleh sel-sel korpus luteum.
Pada praktikum ini pengujian kehamilan dilakukan dengan dua cara. Yang pertama
dengan menggunakan reagen beta gravindex dan yang kedua dengan menggunakan alat uji
kehamilan test pack.
Uji kehamilan dengan test gravindex didasarkan pada aglutinasi penghambatan
lateks. Adanya aglutinasi menunjukkan indikasi kehamilan. Tes menggunakn reagen beta
gravindex sangat sederhana, tidak mahal dan hanya membutuhkan waktu dua menit
untuk melakukannya. Tes menggunakan beta gravindex akan menunjukkan hasil positif 2

hari setelah terlambat menstruasi. Wanita yang akan melakukan tes kehamilan dengan
menggunakan reagen beta gravindex disarankan untuk membatasi asupan cairan pada
malam hari. Sampel urin yang baik digunakan untuk test uji kehamilan adalah urin segar
yaitu urin yang pertama keluar pada pagi hari, dikarenakan urin pada saat itu adalah urin
dengan konsentrasi hcg paling banyak.
Pengujian kehamilan dengan menggunakan reagen beta gravindex dilakukan
dengan cara menempatkan urin 1 sampai 3 tetes pada lempeng objek kemudian
ditambahkan dengan reagen beta gravindex, aduk dan tunggu selama 2 menit. Jika pada
campuran urin dengan reagen beta gravindex terbentuk agutinasi (butiran-butiran kecil
berwarna putih) maka urin tersebut positif dan jika tidak terbentuk aglutinasi maka urin
tersebut negative.
Reagen beta gravindex merupakan suatu reagen berisi serum hcg (latex), dasar
dari tes kehamilan dengan menggunakan reagen beta gravindex adalah reaksi antigenantibodi dengan hcg sebagai antigen. Pada suatu urin dengan tingkat hcg tinggi maka zat
antibody akan menggumpalkan partikel lateks HCG berlapis dan menyebabkan
terbentuknya aglutinasi sedangkan pada urin dengan tingkat hcg rendah, maka hcg akan
berikatan dengan antibody dan antibody yang tidak akan menggumpalkan partikel lateks
hcg berlapis sehingga aglutinasi tidak terbentuk.
Jika tidak yakin dengan suatu kehamilan maka dapat dilakukan tes dengan cara
meneteskan urin sebanyak 1- 2 tetes pada bagian tengah lempeng objek, kemudian pada
sisi kanan dan kiri diberi control positif dan control negative, control positif sudah
disediakan dalam botol dengan tutup berwarna merah dan control negative yang berisi
kotrol dan serum anti hcg ditandai dengan warna biru. Pada praktikum ini hal ini tidak
dilakukan karena urin yang dibawa sebagai sampel sudah jelas diketahui kebenarannya,
mana yang positif dan mana yang negative.
Pengujian kehamilan yang kedua dilakukan dengan menggunakan alat uji kehamilan
test pack. Pada praktikum ini uji kehamilan dengan menggunakan test pack hanya
dilakukan pada urin yang positif saja, tujuannya adalah hanya untuk melihat bagaimana
parameter positif pada test pack.
Test pack merupakan suatu alat uji kehamilan yang banyak diperjual belikan di
apotek. Test pack adalah alat uji kehamilan yang praktis karena dapat dilakukan sendiri
di rumah. Setiap strip test pack mengandung campuran nitrocellulose membrane dengan
0,6 mikogram Anti-HCG capture antibodi. 0,6 mikogram Anti-Mouse IgG. 0,07 mikogram
dan Anti-HCG antibodi gold. Test pack bekerja dengan cara mendeteksi adanya hormone
hcg dalam urin dengan kepekaan tertentu. Test pack yang kami gunakan memiliki
kepekaan 25 mIU / ml urin.
Test pack digunakan dengan cara mencelupkan bagian strip ke dalam urin yang
telah ditampung dalam suatu wadah yang bersih hingga batas, diamkan selama 1-3 menit,
angkat dan baca hasilnya.

Dalam test pack terdapat control line dan capture/test line. Alat test kehamilan
sebenarnya hanya terdiri dari membrane yang telah dilapisi dengan antigen-antibodi anti
hcg pada daerah capture/test linenya, sehingga daerah itu hanya akan membentuk garis
warna apabila ada hcg dalam urin sampel. Control line akan tetap berwarna merah pada
kondisi positif atau negative,sehingga control line menjadi tanda acuan ketepatan hasil
tes.

Laporan Praktikum Imunologi (Tes


Kehamilan dengan menggunakan
metode aglutinasi)
LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOLOGI

Praktikum Ke

: I (satu)

Hari, tanggal

: Kamis, 21 Maret 2013

: Tes Kehamilan dengan menggunakan metode aglutinasi Lateks (Kualitatif)


: Untuk mengetahui ada atau tidaknya hormone HCG (Human Chorionic
Gonadtropine) dalam tubuh.
: Terjadi reaksi immunologi secara kimiawi antara hormon HCG dalam urin
(antigen) dengan antibody pada lateks.

n Bahan

:
1.

Slide berwarna hitam

2.

Rotator

3.

Tangkai pengaduk

4.

Urin ibu hamil 3, 5, 7, 9 bulan dan urin asli (wanita tidak hamil)

5.

Control (-), (+)

6.

Lateks

Landasan Teori

Human Chorionic Gonadotropin juga disebut hormon kehamilan adalah


hormon yang dihasilkan selama kehamilan dalam plasenta manusia dan
bertanggung jawab atas pemeliharaan kehamilan. Melewati ginjal ke dalam
aliran darah dan sinyal indung telur dan kelenjar pituitary, bahwa wanita hamil.
Ini adalah ovulasi tidak ada yang lebih banyak untuk mendapatkan lapisan rahim
dan tidak menstruasi terjadi. Semua tes kehamilan biasanya menunjukkan
hormon ini.
Human chorionic gonadotropin berinteraksi dengan reseptor LHCG dan
mempromosikan pemeliharaan korpus luteum selama awal kehamilan,
menyebabkan ia mengeluarkan hormon progesteron. Progesteron memperkaya
rahim dengan lapisan tebal dan pembuluh darah kapiler sehingga dapat
menopang tumbuh janin. Karena biaya yang sangat-negatif, hCG mungkin
mengusir sel-sel kekebalan ibu, melindungi janin selama trimester pertama. Ini
juga telah dihipotesiskan bahwa hCG juga bisa merupakan link plasenta untuk
pengembangan immunotolerance ibu lokal. Sebagai contoh, sel-sel endometrium
hCG-diperlakukan mendorong peningkatan apoptosis sel T (pembubaran T-sel).
Hasil ini menunjukkan bahwa hCG juga bisa merupakan link dalam
pengembangan toleransi kekebalan peritrophoblastic, dan dapat memfasilitasi
invasi trofoblas, yang dikenal untuk mempercepat perkembangan janin di
endometrium. Hal ini juga telah diusulkan bahwa tingkat hCG yang terkait
dengan keparahan morning sickness pada wanita hamil.
Cara Kerja
Metode Langsung
1.

Teteskan urine secara terpisah dengan lateks 1 tetes pada kaca objek

2.

Aduk secara merata dengan tangkai pengaduk

3.

Goyang kaca objek dengan gerakan memutar atau dengan menggunakan


rotator selama 2 3 menit (tidak boleh lebih dari 3 menit)

Interpretasi Hasil
Cara kerja control (+), (-) sama dengan cara kerja diatas karena control
dianggap sebagai pengganti urin dan sebagai pembanding.
Pelaporan :
(+) terjadi aglutinasi berupa gumapalan berwarna putih

(-) tidak tejadi aglutinsi berupa cairan putih polos tanpa gumpalan

Hasil pengamatan :
Hasil ini di dapat dengan menggunakan aglutinasi lateks.

Urin ( bulan )

Aglutinasi

Urin ibu hamil 5 bulan

Urin wanita tidak hamil

Tidak terjadi aglutinasi

Kesimpulan :
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa urin ibu
hamil 5 bulan positif terjadi aglutinasi. Artinya terdapat hormone HCG pada ibu
hamil. Sedangkan pada urin wanita tidak hamil negative tidak terjadi aglutinasi.
Artinya wanita tersebut tidak hamil dan otomatis tidak terdapat hormon HCG
dalam tubuhnya.

Daftar Pustaka :
http://www.scribd.com/doc/46636395/Uji-kehamilan
http://www.scribd.com/doc?49979631/TES-KEHAMILAN

Laporan Praktikum Fisiologi


BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang

Kehamilan adakah masa saat berhentinya haid Dalam kehamilan


terbagi atas 2 bagian yaitu hamil mungkin dan hamil pasti.pada kehamilan muda
pembentukan HCG meningkat sehingga mengubah corpus uteum menjadi
luteum yang memproduksi estrogen dan progesterone sendiri.Pada semester

pertama peningkatan HCG mulai menurun estrogen dan progesterone tidak


dihasilkan lagi oleh corpus uteum melainkan pada plasenta.Pada semester kedua
dan ketiga plasenta steroid sex.

1.2

tujuan percobaan

Menentukan adanya Hormon HCG di dalam urine untuk tes kehamilan dengan
tekhnik
imunologik secara aglutinasi dan chromatografi.test atau one step.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian ( Human Chorionik Gonadotrofin)

adalah hormone yang mendukung perkembangan telur dalam ovarium dan


merangsang telur dalam pelepasan telur dalam ovulasi.
Hormone hcg tersusun atas gliko protein yangdihasilkan oleh protoblash
dan bakal plasenta.

Pembentukan HCG ( Human Chorionik Gonadotrofin)

Pembentukan HCG maksimal pada 60-90 hari, kemudian turun ke kadar


rendah yang menetap selama kehamilan. Kadar hcG yang terus menerus rendah
berkaitan dengan gangguan perkembangan plasenta atau kehamilan. Kadar
hCG memiliki struktur yang sangat mirip dengan yang bekerja pada reseptor LH
sehingga usia korpus luteum memanjang .

Dari mana hcG diproduksi dan kapan hcG dapat di deteksi


HCG mula-mula di produksi oleh sel lapisan luar blastokista.sel in
berdiperensiasi menjadi sel trofoblash, sinsitiotrofoblash,yang berkembang dari
trofoblash,terus menghasilkan hcg disekresikan dapat dideteksi disekresi vagina
sebelum inflantasi. biasanya hcg dapat dideteksi didarah ibu 8-10minggu. Di urin
saat ini dapat di ukur dalam dua minggu stelah pembuahan.

(hefta.R.N. Sardina. Amirudin tedi buku ajar biologi reproduksi,2009.)

Faktor- factor hormonal dalam kehamilan

a.

Humon Chorionic Gonadotrofin (HCG)

Intinya fungsi dari hormone ini adalah untuk mempertahankan korpus luteum
dan mencegah menstruasi.

HCG merupakan glikoprotein dengan berat molekul 39.000 dan memiliki


struktur dan fungsi yang sama dengan LH yang disekresi oleh kelenjer hipofisis.

HCG juga menyebabkan sekresi hormone seks, progesterone, dan estrogen


dalam jumlah besar oleh corpus luteum untuk beberapa bulan kedepan.

HCG juga mempengaruhi testis janin dengan merangsang sel-sel interstisial


leyding untuk menghasilkan testosterone dalam jumlah sedikit.

b.

Sekresi estrogen oleh plasenta


Kadar estrogen yang tinggi selama kehamilan menyebabkan
pembesaran uterus, pembesaran payudara dan pertumbuhan duktus payudara,
serta pembesaran genitalia eksterna wanita.

c.

Sekresi progesterone oleh plasenta

d.

Human chorionic somatomammotropin (HCS)

http://hackvermont.space.live.com/?cI I

Faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan:


1.

Faktor fisik yang dipengaruhi oleh status kesehatan dan status gizi ibu.

Tujuan dari pemeriksaan kehamilan atau Ante Natal Care (ANC):

Memantau kemajuan kehamilan.

Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik dan mental ibu

Mengenali secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi.

Mempersiapkan ibu agar dapat melahirkan dengan selamat.

2.

Faktor psikologis terdiri dari :

Stres

Dukungan keluarga

3.

Faktor lingkungan sosial, budaya dan ekonomi

http://www.kesrepro.info/?q=node/127

Beberapa hormone yang berperan penting dalam kehamilan

Hormon adalah zat yang dibentuk oleh bagian tubuh tertentu dalam jumlah
kecil dan dibawa kejaringan tubuh lainnya. Hormone berpengaruh untuk
merangsang dan menggiatkan kerja organ-organ tubuh.

Jenis-jenis hormone :

Progestron: berfungsi membngun lapisan di dinding rahim untuk menyangga

Estrogen
Hormone ini membuat putting payudara membesar dan merangsang
pertumbuhan kelejar susu,estrogen juga membantu memperkuat dinding rahim
untuk mengatasi kontraksi pada saat persalinan.

HCG
hanya ada di dalam darah dan urine wanita hamil yang berfungsi
dalam mempertahankan jaringan berwarna kuning dalam indung telur yang
terbentuk ketika indung telur yang baru saja melepaskan( corpus uteum ), yang
membuat esterogen ,progesterone dan plasenta terbentuk sepenuhnya.

Human plasenta lactogen ( HPL )


adalah hormone yang di produksi plasenta dan merupakan hormone
yang merangsang pertumbuhan .

Prolaktin
di hasilkan oleh kelenjar pituitary bertanggung jawab peningkatan
HCG yang memproduksi ASI dalam payudara.

Oksitosin

terlibat dalam proses reproduksi pada pria dan wanita,serta


merangsang kontraksi pada saat kehamilan dan persalinan ,dan juga berperan
penting pada terjadinya efek pengalihan susu pada saat ibu menyusui bayinya.

Relaksin
muncul pada awal kehamilan dan bertanggung jawab membantu
mengatasi aktivitas rahim dan melembutkan leher rahim dalam rangka
persiapan proses persalinan .

http://bundahilmy.multiply.com/journal/item/161/infoKenaliHormonhormonKehamilan

Plasenta

Plasenta terbentuk sempurna pada minggu ke 16 dimana desidu parietalis


dan desidua kapsularis telah meenjadi satu . Implementasi plasenta terjadi pada
fundus uteri depan dan belakang.fungsi plasenta dapat dilaksanakan melalui
sirkulasi retroplasenter dengan terbukanya arteri spiralis dan vena di dasar
desidu basalis.

Fungsi plasenta
Plasenta merupakan akar janin untuk mengisap nutrisi dari ibu dalam
bentuk O2.asam amino, vitamin , mineral, dan zat lainnya ke janin dan
membuang sisa metabolism janin dan CO2

Kehamilan
Kehamilan di diskusikan dengan istilah trimester, yang masing-masing
berlangsung dalam 3 bulan kalender

Lama kehamilan:

Tanggal kelahiran (tanggal saat bayi keluar) di hitung dari pertama haid
seseorang

Kehamilan berlangsung kira-kira 9 bulan penaggalan 10 bulan lunar,40 minggu


atau 280 hari

Konsepsi sebenarnya terjadi kira-kira 14 hari sebelum dimulai masa haid ibu
berikutnya.

(w.patricia ladewig.L.Marcia London.B salli olds.Buku saku asuhan ibu dan


bayi baru lahir)

(HCG) Human chorionic gonadotropin dan pengaruhnya dalam


menyebabkan korpus luteum bertahan dan mencegah menstruasi .

Fungsi human chorionic Gonadotropin . Human chorionic gonadotropin


merupakan glikoprotein yang mempunyai berat molekul kira-kira 39.000 dan
mempunyai berat molekul dan fungsi yang sama dengan hormone lutein yang di
sekresi oleh kelenjar hipofisis.hormone ini akan menyebabkan korpus luteum
yang di sekresi oleh kelenjar hipofisis . Hormone ini akan menyebabkan korpus
luteum menyekresi lebih banyak lagi

hormone-hormone kelamin progesterone dan estrogen untuk beberapa


bulan berikutnya. Hormone-hormen kelamin ini mencegah menstruasi dan
menyebabkan endometrium terus tumbuh dan menyimpan nutrisi dalam jumlah
besar dan tidak dibuang menjadi darah menstruasi.
Di bawah pengaruh human chorionic gonadotropin,korpus luteum di dalam
ovarium ibu tumbuh menjadi kira-kira dua kali dari ukuran awalnyamenjelang
satu bulan atau lebih setelah kehamilan di mulai estrogen,dan progesterone
yang terus menerus disekresi akan mempertahankan sifat asli desidu
endometrium uterus, yang diperlukan awal perkembangan fetus.

Hormon protein
Hormon yang tersusun atas protein secara umun terbagimenadi 3
golongan yaitu glikoprotein gonadotrofok. Polipeptida somatotrofik,dan sitokin.

Glikoprotein gonadotrofik
Golongan hormone ini terdiri atas Folikel stimulating
hormone(FSH),Luteinizing hormone (LH) ,Gonadotrofin korionik manusia (HCG)
,yang semuanya secara struktural serupa dengan TSH.HCG di produksi oleh
plasenta .
(Hefta,R.M.Sardina.Amiruddin,T.Buku ajar Biologi Reproduksi,2009)

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.I. Alat dan bahan

Alat:
1.

Pipet

2.

Pengaduk

3.

Lampu / penerang
Bahan:

1.

Urine wanita hamil

2.

Satu set diagnostic HCG:indirect pregnancy test atau direct pregnancy

a.

Indirect pregnancy test terdiri dari :

Antibody/antiserum /anti-HCG-kontrol positif


Control negative
Antigen lateks

b.

Direct pregnancy test terdiri dari

Antibody-lateks/antiserum/anti-HCG-lateks
Control positif
Control negative

c.

One step cassette pregnancy test terdiri dari :


Alat kaset yang memiliki bagian membrane yang telah dilabel dengan antibody
anti HCG zat warna .

3. II. Cara kerja

a.

1.

Tes HCG Secarang langsung

Menempatkan seluruh reagen dan specimen pada temperature kamar sebelum


digunakan

2.

Meletakkan masing_masing satu tetes:Control positif HCG, urine sample,control


negatif,HCG pada slide gelas yang telah bersih.

3.

Menambahkan masing-masing satu tetes anti Serum P-HCG-lateks dan campur


baik-baik dengan pengaduk masing-masing.

4.

Putar/goyanglah slide pelan dan tunggu 2 menit sebelum di baca


hasilnya.

5.

Hasil tes supaya dibaca sebelum 3 meniT.

b.Tes HCG secara tak langsung


1.

Menempatkan seluruh reagen dan specimen pada temperature kamar sebelum


digunakan.

2.

Meletakkan masing-masing satu tetes :control positif HCG,urine sample,control


negative HCG,pada slide gelas yang telah bersih.

3.

Menambahkan masing-masing satu tetes anti serum p-HCG-lateks dan campur


baikbaik dengan pengaduk masing-masing.

4.

Putar/goyanglah slide pelan pelan 30 detik.

5.

Tambahkan masinga-masing satu tetess antigen-lateks (HCG-lateks)dan aduk


kembali.

6.

Putar/goyanglah slide pelan pelan selama 2 menit segera dibaca hasilnya

7.

Hasilnya tes supaya dibaca sebelum 3 menit.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.hasil
Untuk one step cassette pregnancy test urine
I.Wanita hamil menghasilkan 2 garis merah muda yang menandakan bahwa dia
positif hamil
2.Wanita tidak hamil menghasilkan 1 garis merah muda yang menandakan bahwa dia
negative.

TES HCG secara langsung


Percobaan

1 .control negative+antiserum lateks tidak menghasilkan penggumpalan yang berarti


hamil
2.Urine+Antiserum lateks menhasilkan penggumpalan yang berarti hamil
3.control positif+Anti serum lateks Hasilnya menggumpal yang berarti tidak hamil.

4.2 pembahasan
Setelah kami melakukan tes hcg dengan menggunakan dua urin sampel.
Diperoleh hasil yang berbeda .hasil pemeriksaan dikatakan positif,karna pada tes
hcg secara langsung dengan menggunakan lateks yang di campur pada urine
terjadi aglutinasi (penggumpalan).hal ini menandakan adanyareaksi antara anti
body dan hormone hcg atau terjadi pendeteksian hormone hcg sehingga
dikatakan positif hamil.
Data pemeriksaan urin yang negative terlihat satu garis yang menandakan hcg
dalam urin tidak terdeteksi
Pada wanita hamil hormone hcg dapat terdeteksi karna hcg di produksi oleh
plasen hcg. Hcg berfungsi :

Merangsang pembentukan progesterone

Meransang pembentukan corpus loteum

Mencegah menstruasi

Menjaga atau memprtahankan endometrium tetap tumbuh.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Hormone hcg tersusun atas gliko protein yangdihasilkan oleh protoblash
dan bakal plasenta.

Hcg merupakan hormone khas yang ada pada saat hamil, sehingga dapat
dijadikan standar pemeriksaan kehamilan dengan cara mendeteksinya pada
urine atau darah. Hcg diproduksi oleh placenta. Placenta merupakan akar janin
untuk mengisap nutrisi dari ibu dan alat pembuang sisa metabolism.

5.2 Saran

Semoga adanya laporan percobaan praktikum ini bagi pembaca dan dapat
lebih menambah wawasan kita khususnya Mahasiswa Akademi Kebidanan
salewangan Maros.
Semoga fasilitas untuk praktikum lebih lengkap.
Kami harap kak asisten dosen mempertahankan metode pemberian materi
dan pembahasan karena cara yang diberikan

DAFTAR PUSTAKA

Hefta,R.M. Sardina.Amiruddin,T.Buku ajar Biologi Reproduksi.2009

Hefta,R.M.Sardina.Buku ajar dan Penuntun Praktikum Fisiologi 2010.

http:hackvermont.space.live.com/?Cii

http://www.kesrepro.info/?q=node/127.

http://bundahilmy.multiply.com/journal/item/161/infokenalihormonhormonkehamilan.

w.patricia ladewig.L.Marcia London.B salli olds.Buku saku asuhan ibu dan bayi
baru lahir)

BAHAN PRAKTIKUM V REPRODUKSI


MENENTUKAN HCG (Human Chorionic Gonadotropin) DALAM URIN

BAB I
PENDAHULUAN
Urin merupakan hasil filtrasi dari ginjal. Pada urine wanita hamil dilakukan
penelitian untuk mengetahui berapa bulan kandungan. Pada awal kehamilan diekskreikan
HCG (Human Chorionik Gonadotropin) yang mengadung galaktosa dan heksosamin ke
dalam urine yang terjadi reaksi antigen-antibodi.
Manfaat dalam praktikum ini adalah mengetahui kadar glukosa normal dalam darah
dan mengetahui apa yang dimaksud dengan HCG yang terdapat dalam urine serta dapat
mendeteksi kehamilan yang terjadi pada manusia.

BAB II
TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum menentukan HCG agar mengetahui prinsip dan cara penentuan
HCG dalam urin secara kualitatif. Selain itu praktikan diharapkan mampu menggunakan test
pack untuk mengadakan percobaan HCG dalam urine.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1.

Human Chorinic Gonadotropin (HCG)


Human Chorinic Gonadotropin (HCG) adalah suatu glikoprotein yang mengandung
galaktosa dan heksosamin. Kadar HCG meningkat setelah implantasi ovum yang sudah
dibuahi (Frandson, 1993). Prinsip kerja immunological HCG test adalah suatu reaksi
penghambatan aglutinasi yang digunakan untuk menunjukkan hormon Human Chorionic
Gonadotropin yang disekresikan kedalam urine selama masa kehamilan. Partikel-partikel
antigen secara kimia akan berikatan dengan antibodi HCG dan menyebabkan aglutinasi.
Terdapatnya HCG bebas didalam urine akan menetralisir antibodi sehingga tidak terjadi
aglutinasi (Prawirohardjo, 1991).

3.2.

Kadar HCG dalam Darah Pada Kehamilan Antibodi dan Antigen


Kira-kira sepuluh hari setelah sel telur dibuahi akan bergerak menuju rahim dan
melekat pada dindingnya. Sejak saat itulah plasenta mulai berkembang dan
memproduksi HCG yang dapat ditemukan dalam darah serta air seni. Keberadaan hormon
protein ini sudah dapat dideteksi dalam darah sejak hari pertama keterlambatan haid, kira-kira
hari keenam sejak pelekatan janin pada dinding rahim (Will, 1984). Kadar hormon ini terus
bertambah hingga minggu ke 14-16 kehamilan, terhitung sejak hari terakhir
menstruasi. Sebagian besar ibu hamil mengalami penambahan kadar hormonHCG sebanyak
dua kali lipat setiap 3 hari. Peningkatan kadar hormon ini biasanya ditandai dengan mual dan
pusing yang sering dirasakan para ibu hamil. Setelah itu kadarnya menurun terus secara

perlahan dan hampir mencapai kadar normal setelah persalinan. Tetapi


adakalanya kadar hormon ini masih di atas normal sampai 4 minggu setelah persalinan atau
keguguran (Rose, 2006).
Dalam urine yang normal komposisinya terdiri dari bahan sepaerti air, urea, dan
natrium klorida (Frandson, 1993). Kadar HCG yang lebih tinggi terjadi pada ibu kembar dan
kasus hamil anggur (mola). Perempuan yang tidak hamil menandakan kadar HCG di atas
normal. Kadar HCG yang terlalu rendah pada ibu hamil pun patut diwaspadai, karena dapat
berarti kehamilan terjadi di luar rahim (ektopik) atau kematian janin yang biasa disebut aborsi
spontan. Sebagian besar merk test pack yang beredar di pasaran sudah dapat
mendeteksi HCG dengan kadar 25 IU/L-50 IU/L, sehingga cukup akurat untuk menentukan
ada atau tidaknya kehamilan pada hari pertama keterlambatan menstruasi. Uji kehamilan
yang akurat adalah tes kuantitatif hormon HCG dalam darah. Biasanya yang diukur adalah
jumlah subunit beta hormon HCG (Pearce, 1997).

3.3.

Alat Uji Kehamilan - Urin

Cara mendeteksi HCG biasa dilakukan dengan uji kehamilan yang biasa dikenal dengantest
pack. Pengecekan kualitatif ini cukup mudah yakni dengan mencelupkan ujung alat ke dalam urin,
biasanya alat uji ini memiliki indikator berupa dua buah garis. Waktu yang tepat untuk melakukan tes
urin biasanya adalah 4-5 hari atau 1 minggu setelah terlambat haid, karena sebagian besar test
pack sudah dapat mendeteksi HCG dengan kadar 50 IU/ml. Tes dilakukan untuk mengetahui
diagnosa kehamilan HCG (human chorionic gonadotrophin) pada darah dan urin wanita. HCG
diproduksi oleh embrio bila seorang wanita sedang hamil. Beberapa test yang paling modern dan
canggih dapat mendeteksi kehamilan melalui darah dan urine hanya satu minggu setelah
pembuahan, hanya saja belum banyak tersedia (Prawirohardjo, 1991). Tes urine dapat dilakukan
sendiri dengan alat test yang sudah tersedia di supermarket ataupun apotik. Berupa test pack yang
direndam dalam urin untuk mengetahui terjadinya kehamilan atau tidak, hanya dengan melihat jumlah
garis setelah 5 menit perendaman. Test urine memiliki ketepatan 98% namun kesalahan dapat
terjadi, dikarenakan test yang terlalu dini dikerjakan, keenceran urine atau kerena terlalu lama
disimpan sebelum test dan urine terkontaminasi dengan zat sabun detergent atau yang lainnya
(Rose, 2006).

BAB IV
METODE PRAKTIKUM
Praktikum Dasar Fisiologi Ternak dengan materi Reproduksi dilaksanakan pada hari
Senin tanggal 21 Mei 2012 pada pukul 13.30-15.00 WIB di Laboratorium Biologi Struktur
dan Fungsi Hewan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Diponegoro, Semarang.

4.1.

Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum mengukur menentukan HCG (Human
Chorionic Gonadotropin) adalah aluminium foil, test pack, dan botol kering. Bahan yang
digunakan adalah urin pertama pagi hari pada ibu hamil umur 1-3 bulan dan urin pada ternak
sapi.

4.2.

Metode
Urin pertama pagi hari ibu hamil umur 1-3 bulan, ditampung dalam botol kering dan
bersih. Dibuka aluminium foil dari test pack dan dikeluarkan strip, kemudian
dicelupkan dalam sampel urin sampai batas maksimum selama 30 detik. Strip diangkat dari
sampel urin yang diuji dan diletakkan di tempat kering. Setelah 2-3 menit akan keluar hasil
dari test yang dilakukan bila pada strip muncul satu garis indikator, berarti hasilnya negatif
(tidak ada kehamilan), Bila pada strip muncul dua garis indikator, berarti hasilnya positif
(hamil). Test diulangi pada urin ibu hamil pada temperatur di bawah temperatur kamar.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.

Hasil Percobaan
Pada wanita hamil, garis indikator dua strip (positif), warna garis indikator merah.
Pada hewan bunting, garis indikator satu strip (negatif), warna garis indikator merah.
Ilustrasi 1. Hasil Observasi Urin
Sumber: Data primer praktikum Fisiologi, 2012.

5.2.

Pembahasan Percobaan
Hasil percobaan penentuan HCG (Human Chorionic Gonadotropin) dalam urin
diperoleh hasil yaitu wanita hamil menunjukkan dua strip pada test slide yang berarti
positif. Karena urin mengandung HCG. Test slide ini sangat tergantung pada kerja sama
antibodi dan antigen. Antibodi ini zat kimia yang dihasilkan oleh limfosit dan struktur lain di
dalam tubuh. Hal ini sesuai dengan Pearce (1997) yang menyatakan tiap antibodi hanya
bereaksi terhadap antigen tertentu. Oleh sebab itu HCG hanya terdapat pada manusia saja,
sedang pada hewan tidak dapat digunakan. Urin tersebut diambil dari wanita hamil 2,5 bulan,
sehingga HGC dalam urine ini akan diketahui pada wanita hamil antara 1-3 bulan. Hal ini
sesuai dengan Will (1984) yang menyatakan keberadaan hormon protein ini sudah dapat
dideteksi dalam darah sejak hari pertama keterlambatan haid yang kira-kira merupakan hari
keenam sejak pelekatan janin pada dinding rahimhingga usia kehamilan mencapai bulan
ketiga dan puncaknya pada bulan keempat setelah itu produksi HCG akan beransur turun
hingga akhirnya berhenti.
BAB VI
SIMPULAN
Urin wanita hamil mengadung HCG dan dapat dideteksi, sedangkan pada hewan
bunting tidak terjadi produksi HCG sehingga hasil pengujian testpack menghasilkan satu strip
yang menandakan hasil negatif. Hal ini karena tiap antibodiyang terdapat dalam HCG hanya
bereaksi terhadap antigen tertentu. Antibodi-antibodi itulah yang ditambatkan pada media tes
yang mempunyai dua strip (garis) indikator yang terdapat pada urin semasa
kehamilan hanya pada manusia.

DAFTAR PUSTAKA
Frandson R. D. 1993. Anatomi dan fisiologi Ternak. Yogyakarta, Gajah Mada University Press.
Pearce, E. 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
Prawirohardjo, S. 1991. Ilmu Kandungan. Cetakan kelima. Jakarta, Yayasan Bina Pustaka.
Rose. W. 2006. Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta, Dian Rakyat.
Will. 1984. Embriologi Untuk Mahasiswa Biologi dan Kedokteran. Bandung, Taksito.

LAPORAN PRAKTIKUM
FISOLOGI HEWAN
ENDOKRIN
(Uji Test Kehamilan)
Dosen Pembimbing
Dra. Retno Susilowati, M.Si
Kholifah Holil, M.Si

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
2009
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang

Sistem reproduksi memiliki 4 dasar yaitu untuk menghasikan sel telur yang
membawa setengah dari sifat genetik keturunan, untuk menyediakan tempat
pembuahan selama pemberian nutrisi dan perkembangan fetus dan untuk mekanisme
kelahiran. Lokasi sistem reproduksi terletak paralel diatas rektum. Sistem reproduksi
dalam terdiri dari ovari, oviduct, dan uterus (Shearer, 2008).

1.2 Rumusan masalah


1.3 Tujuan

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Ovari merupakan organ reproduki yang penting. Terdapat dua ovari yaitu sebelah
kanan dan kiri. Besarnya sekitar 1,5 inci dengan tebal sekitar 1 inci dan terletak di dalam
suatu membran seperti kantungn ovarian bursa. Ovari bertanggung jawab pada sekresi
hormon estrogen dan progesterone dan produksi telur yang baik untuk dibuahi. Telurtelur mulai matang di ovari dalam suatu cairan berisi folikel. Pertumbuhan folikel diatur
oleh hormon pituitary, yaitu Follicle Stimulating Hormone (FSH). Selanjutnya sel yang
mana dibatasi oleh folikel dan dikelilingi sel telur akan mensekresikan estrogen untuk

merespon jumlah hormone pituitary hormone lainnya meningkat yaitu Luteinizing


Hormone (LH). Jumlah estrogen mencapai maksimum pada saat fase standing heat.
Diikuti dengan meningginya LH pada telur yang dilepaskan dari folikel dan ovulasi yang
terjadi (Shearer, 2008).
Yatim (1982) menyatakan bahwa pertumbuhan embrio terdiri atas 5 periode
yaitu:
1. Periode persiapan
Periode persiapan adalah masa dimana kedua induk disiapkan untuk melakukan
perkawinan atau pembiakan. Gamet jantan maupun gamet betina mengalami proses
pematangan sehingga mampu melakukan pembuahan.
2. Periode pembuahan
Periode pembuahan adalah masa dimana kedua induk (jantan dan betina)
melakukan perkawinan.
3. Periode pembuahan awal
Periode pertumbuhan awal adalah periode pertumbuhan sejak zigot mengalami
pembelahan berulang sampai embrio memiliki bentuk primitif. Bentuk primitif adalah
bentuk dan susunan embrio masih sederhana dan kasar. Tahapan prainfalantasi setelah
terjadinya fertilisas. Ovum dibuahi ia mengalami meiosis II kemudia transformasi lalu
embrio genesis. Pada tikus tahap prainflantasi berlangsung selama 4-5 hari sesudah
pembuahan.

4. Periode antara
Periode antara merupakan masa perantaraan dari periode awal sampai periode
akhir. Pada masa ini embrio ini mengalami bentuk transformasi bentik dan susunan
tubuh secara berangsur sehingga akhirnya mencapai bentuk defenitif.
5. Periode pertumbuhan akhir
Periode pertumbuhan akhir adalah pertumbuhan penyempurnaan bentuk defenitif
sampai kelahiran.
Hormon progesteron dipersiapkan uterus untuk implantasi blatosis, memelihara
dan mengatur organ-organ reproduksi. Corpus luteum pada tikus merupakan sumber
progesteron utama, sehingga kadar hormon progesteron sangat erat kaitannya dengan
tingkat ovulasi. Semakin tinggi ovulasi, maka kadar hormon progesteron akan meningkat
(Hill, 2006).
Hormon progesteron bervariasi sesuai laju ovulasi (jumlah corpus luteum).
Kelenjar endometrium uterus berfungsi mengeluarkan zat-zat makanan yang berupa
susu uterus untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan embrio. Kelenjar kelenjar mensintesa susu uterus berada dibawah kontrol hormon (Hill, 2006).
Pertumbuhan dan perkembangan folikel primer dirangsang oleh hormon FSH.
Pada seat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang
haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel Graaf yang masak, folikel ini juga

menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen


yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang
habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH
dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel Graaf
yang masak untuk mengadakan ovulasi, waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase
estrus (Taw, 2008).
Uterus berbentuk Y terdiri dari kanan dan kiri yang terhuung pada oviduct. Jalan
dai kedua tanduknya membentuk tubuh uterus. Uterus berfungsi untuk membawa sel
sperma menuju oviduct dan membawa nutrisi dan menyediakan tempat untuk
perkembangan janin (Shearer, 2008).

BAB III
4.2 Pembahasan
Pada praktikum mengenai endokrin ini, dilakukan pengujian tes kehamilan
dengan menggunakan urin orang yang sedang hamil yakni dengan usia 0 bulan, 5
bulan, 6 bulan dan 9 bulan. Adapun langkah awal yang dilakukan adalah disiapkan alat
dan bahan yang dibutuhkan untuk praktikum yakni alat untuk menguji tes kehamilan
(test pack) dan bahan yang digunakan adalah urin dari probandus. Urin yang baik untuk
di uji adalah urin diambil ketika pagi hari setelah bangun tidur, hal ini dikarenakan pada
keadaan tersebut urin masih belum terkontaminasi oleh makanan atau pun faktor yang
lain. Dan pada keadaan tersebut kadar hormon HCG (human chronionic
gonadotropin)nya tinggi. Setelah alat dan bahan tersedia, maka urin diletakkan pada
tiap-tiap beaker glass. Kemudian dimasukkan test pack ke dalam tiap-tiap beaker glass.
Ditunggu sampai 3 menit, setelah tiga menit test diamati peubahan yang terjadi. Kalau
strip pada garis nomor satu (cotrol band) saja yang terlihat berarti probandus tersebut
tidak hamil atau negatif. Akan tetapi kalau pada strip pada garis nomor satu (cotrol band)
dan dua (test band) maka probandus tersebut hamil atau positif.
Dari hasil praktikum pada urin probandus usia 0 bulan terlihat di strip pada test
pack menunjuk pada garis satu (control band), hal tersebut menunjukkan bahwa
probandus tersebut tidak dalam keadan hamil atau negatif. Dan bila dilihat dari segi
kepekatan warna urinnya, probandus 0 bulan warna urinnya lebih terang. Hal tersebut
menandakan bahwa kadar HCG yang terkandung dalam urinnya banyak. Untuk
probandus dengan usia kehamilan 5 bulan terlihat di strip pada test pack menunjuk pada
garis satu (control band) saja, hal ini tentu saja merupakan hasil yang salah. Bisa
dikarenakan strip pada test pack rusak atau karena faktor dari informan yang salah
mengenai kehamilan probandus tersebut. Seharusnya yang terlihat pada strip adalah
terdapat garis satu (cotrol band) dan garis dua (test band) yang menandakan bahwa
probandus tersebut memang benar-benar hamil. Dan warna dari urinnya tidak seperti
pada probandus sebelumnya yakni warnanya tidak begitu terang. Untuk probandus
dengan usia kehamilan 6 bulan dan 9 bulan terlihat bahwa strip pada test pack

menunjuk pada garis satu dan dua, hal tersebut menunjukkan bahwa kedua probandus
tersebut memang benar-benar positif hamil. Dan dari urinnya terlihat bahwa warna urin
probandus 6 bulan lebih pudar daripada dua probandus yang sebelumnya, sama halnya
pada probandus 9 bulan urinnya lebih pudar lagi dari pada probandus usia 6 bulan. Hal
tersebut menunjukkan bahwa kadar HCG baik pada probandus usia 6 bulan atapun 9
bulan semakin menurun. Hal ini diindikasikan dengan kepekatan dari warna urinnya,
yakni semakin tua usia kehamilan seseorang, maka kadar HCG yang dikandung pun
semakin menurun atau berkurang.

Hill, Mark. 2006. Estrous Cycle. The university of new south wales.
Taw. 2008. Oviduct and Uterus Histology. http://www.siu.edu/~tw3a/utest.jpg. Tanggal
akses 5 Mei 2008. Tanggal akses 5 Mei 2008.
Shearer, J. K. 2008. Reproductive Anatomy and Physiology of Dairy Cattle. University Of
Florida. Florida
Laporan Imunologi
Judul Praktikum

: Pemeriksaan HCG (Human Chrorionic Gonadotropin)

Hari/Tanggal

Tujuan Praktikum : Untuk Mendiagnosis HCG (Human Chrorionic Gonadotropin)


dengan
metode direk dalam sampel urine

Metode Kerja

: Metode Direk ( Aglutinasi Langsung )

Prinsip Kerja
Chrorionic

: Terjadinya Reksi Imunologis antara hormone HCG (Human


Gonadotropin) dalam urine dengan anti HCG (Human

Chrorioni

Gonadotropin). Suspensi latek mengandung anti bodi


monokional anti HCG
(Human Chrorionic Gonadotropin). Pengujian ditetapkan
untuk mendeteksi
konsentrasi kisaran 200 100 ml HCG. (Standar terhadap
315 HCG).

Dasar Teori

Human chorionhic gonadotrofin korion atau gonadotrofin korion manusia


(hCG) adalah hormon glikoprotein dikeluarkan dalam kehamilan yang dibuat oleh
embrio berkembang selepas konsepsi dan kemudian oleh sinsitiotrofoblas
(bahagian plasenta). Peranannya adalah mencegah penyepaian korpus luteum
ovari dan dengan itu mengekalkan pengeluaran progesteron yang kritikal untuk
satu kehamilan pada manusia. hCG mungkin mempunyai fungsi-fungsi
tambahan; misalnya, ia difikirkan yang hCG melibatkan tolerans imun kehamilan.
Ujian kandungan awal, secara umum, adalah diasaskan pengesanan atau ukuran
hCG. Peranannya adalah mencegah penyepaian korpus luteum ovari dan dengan
itu mengekalkan pengeluaran progesteron yang kritikal untuk satu kehamilan
pada manusia. hCG mungkin mempunyai fungsi-fungsi tambahan; misalnya, ia
difikirkan yang hCG melibatkan tolerans imun kehamilan. Ujian kandungan awal,
secara umum, adalah diasaskan pengesanan atau ukuran hCG. Kerana hCG
dihasilkan juga dengan sesetengah jenis tumor, hCG ialah satu penanda tumor
penting terutama (dengan keertian klinikal) dalam Gestational trophoblastic
penyakit, tetapi ia tidak diketahui sama ada pengeluaran ini ialah satu sebab
sumbangan atau satu kesan tumorigenesis. (Lelono LP: 1986).
hCG merupakan hormon yang bersifat luteotrofik pada beberapa spesies,
termasuk manusia, tikus, kelinci, babi dan sebagainya. hCG disekresi oleh
plasenta, tidak seperti PMSG yang disekresi oleh endometrium uterus. hCG pada
wanita berperan untuk mempertahankan corpora lutea selama tahaptahap
permulaan kebuntingan. Segera setelah ovulasi, korpus luteum akan cukup
mendapat dorongan dari faktor-faktor luteotrofik hipofisa (Anonim: 2010.1)
Adanya dorongan ini menyebabkan korpus luteum tersebut secara fisiologis
tetap aktif sampai hCG mulai dibentuk dalam jumlah yang cukup untuk bertindak
sebagai luteotrofik. Sejumlah hCG yang dapat terukur timbul pada wanita hamil
pada hari ke-5 sampai 16 setelah ovulasi, tetapi titer hCG tidak mencapai
puncaknya sampai hari kehamilan yang ke-35 sampai 50.
hCG merupakan glikoprotein yang jauh lebih besar dengan berat molekul kirakira 45.000 Dalton, tetapi lebih banyak mengandung residu gula dibandingkan
dengan glikoprotein pituitary. Sifat-sifat khusus hCG yang diisolasi cenderung
kurang seragam dibandingkan dengan sifat-sifat khusus hormon glikoprotein

yang berasal dari pituitary, karena degradasi terutama rantai samping


karbohidratnya dapat terjadi selama pembentukan urin.
Kira-kira sepuluh hari setelah sel telur dibuahi sel sperma di saluran Tuba fallopii,
telur yang telah dibuahi itu bergerak menuju rahim dan melekat pada
dindingnya. Sejak saat itulah plasenta mulai berkembang dan memproduksi hCG
yang dapat ditemukan dalam darah serta air seni. ( Michels KB, Xue F, Colditz
GA, Willett WC : 2007).
Keberadaan hormon protein ini sudah dapat dideteksi dalam darah sejak hari
pertama keterlambatan haid, yang kira-kira merupakah hari keenam sejak
pelekatan janin pada dinding rahim. Kadar hormon ini terus bertambah hingga
minggu ke 14-16 kehamilan, terhitung sejak hari terakhir menstruasi. Sebagian
besar ibu hamil mengalami penambahan kadar hormon hCG sebanyak dua kali
lipat setiap 3 hari. Peningkatan kadar hormon ini biasanya ditandai dengan mual
dan pusing yang sering dirasakan para ibu hamil. Setelah itu kadarnya menurun
terus secara perlahan, dan hampir mencapai kadar normal beberapa saat
setelah persalinan.( Kayisli U, dkk:2009).
Hormon kehamilan ini hanya ditemukan pada tubuh seorang wanita hamil yang
dibuat oleh embrio segera setelah pembuahan dan karena pertumbuhan jaringan
plasenta. Hormon kehamilan yang dihasilkan oleh villi choriales ini berdampak
pada meningkatnya produksi progesteron oleh indung telur sehingga menekan
menstruasi dan menjaga kehamilan.
Produksi hCG akan meningkat hingga sekitar hari ke 70 dan akan menurun
selama sisa kehamilan. Hormon kehamilan hCG (human chorionic gonadotrofin)
mungkin mempunyai fungsi tambahan, sebagai contoh diperkirakan hCG
mempengaruhi toleransi imunitas pada kehamilan Tetapi adakalanya kadar
hormon ini masih di atas normal sampai 4 minggu setelah persalinan atau
keguguran. Kadar hCG yang tinggi dalam darah menyebabkan mual-muntah.
Human Chorionic Gonadatrophin (hCG) adalah hormon yang bekerja mirip LH
(luteinising hormone) yang secara normal diproduksi oleh kelenjar pituitari. Pada
anak laki-laki LH dan juga hCG memberitahu testis untuk memproduksi hormon
sex laki-laki (testosterone). Pada anak perempuan, hCG memberitahu ovarium
untuk memproduksi progesteron tetapi hal ini terjadi hanya pada masa
kehamilan. sehingga hCG lebih bemanfaat bagi anak laki-laki dibanding anak
perempuan (Muhayat, 1998). Human chorionic gonadotropin (hCG) adalah
hormon peptida yang diproduksi pada masa kehamilan, yang dibuat oleh embrio
segera setelah pembuahan dan selanjutnya oleh syncytiotrophoblast (bagian
dari plasenta).
hCG ( human chorionic gonadotrofin) mengatur untuk mencegah perpecahan
dari corpus luteum pada ovarium dan juga mempertahankan produksi
progesteron yang penting pada kehamilan pada manusia. hCG (human chorionic
gonadotrofin) mungkin mempunyai fungsi tambahan, sebagai contoh

diperkirakan hCG mempengaruhi toleransi imunitas pada kehamilan (Williams,


Tombak (8 Mei, 2009).

Fungsi hCG pada kehamilan


Hormon gonadotropin korionik (hCH) berinteraksi dengan reseptor LHCG dan
mempromosikan pemeliharaan luteum bahan selama awalnya kehamilan,
menyebabkan ia untuk mengeluarkan hormon progesteron, Progesteron
memperkaya kandungan dengan satu lapisan kental pembuluh-pembuluh darah
dan kapiler-kapiler agar dapat menahan janin bertambah.
hCG boleh menolak sel imun, karena ibu melindungi janin selama tiga bulan
pertama. Ia juga sudah berhipotesis yang hCG bisa jadi satu mata rantai
plasenta untuk pembangunan lokal keibuan immunotolerance. Sebagai contoh,
hCG-treated endometrial sel-sel membujuk suatu peningkatan dalam apoptosis
sel T (pemutusan T-cells) (Ali muhayati : 1998).
Ini hasil-hasil menyarankan yang hCG bisa jadi satu mata rantai dalam
pembangunan peritrophoblastic kesabaran imun, dan boleh memudahkan
pelanggaran trofoblas, yang dikenal untuk mempercepat perkembangan janin
dalam endometrium. Ia juga sudah diusulkan yang hCG level berkaitan dengan
kekerasan mabuk pagi dalam wanita-wanita hamil.
Karena persamaannya kepada LH, hCG juga bisa digunakan secara klinis untuk
membujuk ovulasi dalam ovaries serta produksi testosteron dalam tes-tes.
Sebagai sumber hayati kebanyakan lacak adalah wanita yang segera hamil,
beberapa perkumpulan-perkumpulan mengumpulkan air kencing dari wanitawanita hamil untuk mencabut hCG untuk digunakan di pengobatan kesuburan.
Human gonadotropin korionik juga bermain sebuah peranan dalam perbedaan
seluler / pembiakan dan boleh menggerakkan apoptosis.
Seperti lain gonadotropins, hCG dapat diekstrak dari air kencing atau oleh
perubahan genetik. Pregnyl, Follutein, Profasi, Choragon and Novarel
menggunakan mantan cara, berasal dari air kencing wanita-wanita hamil.
Ovidrel, pada sisi lain, adalah produk DNA rekombinan (Pickering,W.R.2000).
Referensi
: http://ritacuitcuit.blogspot.com/2011/05/pengaruhpemberian-hcghumanchorionic.html
Alat dan Bahan
Urine
Latex
Card / plate
Mikropipet 40

Card
Rak Tabung
Tabung Reaksi

Cara Kerja

1)

Siapkan alat dan bahan yang akan di gunakan.

2)

Letakkan card diatas meja yang datar

3)

1 tetes urine pada lingkaran hitam card sebanyak 40

4)

Dan tambahkan 1 tetes latex 40

5)

Homogenkan dengan cara menggoyangkan card

6)

Selanjutnya baca hasilnya dengan memperhatikan Aglutinasinya.

Pembacaan Hasil

Terbentu aglutinasi atau gumpalan yang mengidikasikan adanya HCG


dalam urine
maka pasien tersebut dinyatakan positif (+) hamil.

Diposkan oleh resky andrina Rina di 04.03

Judul Praktikum
Tes Kehamilan HCG

II.

Latar Belakang

Saat ini sudah sangat mudah mendeteksi atau untuk mengetahui seseorang hamil atau
tidak. Hanya dengan menggunakan air seni (urin) kita suda bisa mengetahui apakah
seorang wanita tersebut hamil atau tidak. Hal tersebut bisa diketahui dengan
mendeteksi apakah di dalam tubuhnya terdapat HCG yang dapat dideteksi pada
darah, urin dan plasenta. Salah satu cara mudah untuk menentukan seseorang hamil
atau tidak dengan uji dengan strip uji kehamilan.
Prinsip uji kehamilan dengan HCG urin strip adalah mendeteksi Human
Chorionic Gonadotropin tang diproduksi oleh plasenta. Plasenta itu sendiri terbentuk
setelah terjadi pembuahan. Produksi HCG biasanya dimulai setelah 6 hari pasca
konsepsi. Pada tahap ini kadar HCG biasanya masih rendah.kadar HCG pada hari
pertama terlambat haid biasanya sudah mencapai 100 mIU/ml. Interpretasi dari hasil
uji dengan HCG urine strip adalah jika muncul 2 garis merah muda, berarti hamil. Jika
hanya muncu 1 garis merah muda berarti tidak hamil. Jika tidak muncul garis berarti
strip rusak.
Adapun cara melakukan tes kehamilan dengan HCG urine strip adalah
Membuka label tes pack dan mencelupkan ke dalam urin 30 detik. Mengeluarkan
tes pack dari urin tersebut dan didiamkan 3 menit. Mengamati hasil tes yang
diperoleh dan hasil uji telah diperoleh. Oleh karena hal tersebut maka dilakukanlah
praktikum ini untuk mengetahui apakah di dalam tubuh probandus terdapat HCG
(Human Chorionic Gonadotropin) atau apakah seseorang/probandus hamil atau tidak
(tidak memiliki HCG (Human Chorionic Gonadotropin)).

III.

III. Tujuan Praktikum


Untuk menentukan adanya hormone human chorionic gonadotropin di dalam
urin untuk tes kehamilan dengan memakai tekhik immunologik.

V. Tinjauan Pustaka
Prinsip uji kehamilan dengan HCG urin strip adalah mendeteksi Human
Chorionic Gonadotropin tang diproduksi oleh plasenta. Plasenta itu sendiri terbentuk
setelah terjadi pembuahan. Produksi HCG biasanya dimulai setelah 6 hari pasca
konsepsi. Pada tahap ini kadar HCG biasanya masih rendah. Interpretasi dari hasil uji
dengan HCG urine strip adalah jika muncul 2 garis merah muda, berarti hamil. Jika
hanya muncu 1 garis merah muda berarti tidak hamil. Jika tidak muncul garis berarti
strip rusak (wartamedika , 2007).

Kurang lebih dua minggu setelah permulaan menstruasi, terjadi ovulasi.


Sehubungan dengan melambungnya LH yang mendadak folikel robek dan
melepaskan telur yang matang dan haploid. Telur tersebut bergerak dengan cepat ke
mulut tuba fallopi dan mulai bergerak turun dengan lambat sepanjang tubanya.
Setelah ,melepaskan sel telurnya, tidak berarti tugas folikel selesai, ia berubah
menjadi korpus luteum karena terangsang oleh LH. Untuk kira-kira 10 hari setelah
ovulasi kadar progesteron yang tinggi dalam darah mempersiapkan uterus untuk
memungkinkan hamil. Faktor pembebas untuk produksi FSH dan LH disebut hormon
gonadotropin (Kimball, 1999).
Hormone-hormon gonadotropik dari kelenjar hipofisis bagian anterior
mengendalikan (melalui aliran darah) produksi hormon ovarium. Hrmon perangsang
folikel penting untuk awal pertumbuhan folikel graaf. Terjadinya menstruasi diawali
oleh degenerasi korpus luteum yang mengakibatkan kadar progesterone darah
menurun, tetapi sewaktu hamil menstruasi tidak terjadi. Sebabnya ialah sebagai
berikut. Sel paling luar dari konseptus (chorion), pada waktu menembus
endometrium mengeluarkan sejenis hormone (gonadotropin chorionic dan hormone
ini bekerja atas korpus luteumdan menjamin tetap berlangsungnya segresi
progesteron. Dengan demikian sekresi ovarium diatur, bukan saja oleh kelenjar
hipofisis, melaiankan juga oleh chorionic plasenta yang berkembang dari chorion
pada masa kehamilan 8-12 minggu (Pearce, 2006).
Hasil konsepsi terpendam dalam endometrium uterus, mendapat makanan
dari darah ibu, selama 10 minggu organ-organ terbentuk. Embrio terbungkus dalam
dua membran sebelah dalam amnion dan sebelah luar chorion yang merupakan
kantung yang berisi cairan melindungi fetus agar bergerak bebas dan tumbuh secara
seimbang. Selama perkembangan 8 minggu pertama, terbentuk plasenta sehingga
fetus akan terikat oleh tali pusat (Syaifuddin, 2006). Pada kehamilan konsentrasi alfa
sub unit HCG bebas, tinggi dalam jaringan plasenta, plasma dan urin. Sedangan
konsentrasi beta sub unit sangat sedikit. Pada kehamilan, HCG bisa disekresikan
mulai dari 20 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 8 hari setelah
ovulasi. Deteksi HCG urin dapat dikerjakan dengan pengenceran, karena tingginya
konsentrasi HCG dengan urin (Ngitung, 2007).

VI. Alat dan Bahan


a.

Bahan :

1.

Wadah

2.

Tes pack

3.

Urin probandus hamil dan tidak hamil

VII. Prosedur Kerja


1.

Menyiapkan urin probandus hamil dan tidak hamil

2.

Membuka label tes pack dan mencelupkan ke dalam urin 30 detik

3.

Mengeluarkan tes pack dari urin tersebut dan didiamkan 3 menit

4. Mengamati hasil tes yang diperoleh. Apaabila terdapat 2 garis merah muda
menandakan positif hamil, apabila hanya terdapat satu garis merah muda maka
negatif atau tidak hamil.

VIII. Pembahasan
Pada praktikum ini mengamati kandungan HCG (Human Chorionic
Gonadotropin) melalui tes kehamilan. Pada pengamatan ini kita dapat mengetahui
seseorang positif hamil atau tidak. Pada hasil pengamatan dapat diketahui bahwa
dari dua urin probandus yang diuji, probandus I positif hamil sedangkan probandus II
negatif hamil (tidak hamil). Pada probandus I, pada tes pack setelah dicelupkan pada
urin nampak dua garis merah muda hal ini menandakan bahwa di dalam tubuh
probandus terdapat HCG (Human Chorionic Gonadotropin) yang diproduksi oleh
plasenta yang berarti probandus tersebut positif hamil. Sedangkan pada probandus II
pada tes pack setelah dicelupkan pada urin, hanya tampak satu garis merah muda.
Ini berarti di dalam tubuh probandus tidak terdapat HCG (Human Chorionic
Gonadotropin) artinya probandus tidak hamil.
HCG ini diproduksi oleh plasenta. Setelah sel telur dibuahi oleh sperma
dalam tubafallopi, telur ini kemudian bergerak menuju rahim dan melekat pada
dindingnya. Sejak pada saat itu plasenta berkembang dan memproduksi hormone
HCG atau human chorionic gonadotropin yang dapat ditemukan dalam urine. Kadar
HCG mencapai 100 mIU/ml ketika wanita sedang hamil. HCG Mulai terdeteksi setelah
8 hari ovulasi atau 10 ovulasi ada juga yang mengatakan 11 hari setelah ovulasi
atau 28 hari setelah setelah menstruasi.kadar HCG akan mencapai puncaknya pada
usia kehamilan 14-16 minggu. Setelah itu akan berangsur-angsur menurun. Kadar
HCG menurun pada usia kehamilan 9 bulan atau menjelang melahirkan. Akan
kembali normal setelah melahirkan.
Pada orang yang tidak hamil sel telur yang terdapat pada tubafallopi tidak dibuahi
oleh sperma sehingga wanita tetap mengalami haid. Oleh karena itu tidak terbentuk
plasenta yang akan memproduksi hormone HCG atau human chorionic gonadotropin
yang terkandung didalam urine.

Kesimpulan
1. kehamilan dapat diketahui dengan mendeteksi adanya human chorionic
gonadotropin (HCG) dalam urine dengan menggunakan home pregnancy test.

2. Apabila di dalam tubuh terdapat HCG (Human Chorionic Gonadotropin) maka akan
muncul dua garis merah muda pada tes pack berarti hamil. Apabila di dalam tubuh
tidak terdapat HCG (Human Chorionic Gonadotropin) maka akan muncul satu garis
merah muda pada tes pack berarti tidak hamil.

Saran
Diharapkan agar pada praktium dengan unit yang sama kita menggunakan
dua jenis alat tes sehingga kita dapat membandingkan hasil keakuratan kedua alat
tes tersebut, bukan hanya menggunakan urin tetapi diharapkan bisa menggunakan
darah.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Uji Kehamilan dengan HCG Urine
Strip.http://www.wartamedika.com/2007/12/uji-kehamilan-dengan-hcg-urinestrip.html. diakses pada 17 Januari 2008.

Kimball. 1999. Biologi. Jakarta. Erlangga.


Ngitung, R dan M Rijal. 2007. Petunjuk Praktikum Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jurusan
Biologi FMIPA UNM. Makassar

Pearce. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Para Medis. Jakarta. PT Gramedia.
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: penerbit Buku
Kedokteran ECG.

Tes Kehamilan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehamilan merupakan suatu proses yang alamia dan fisiologis. Setiap wanta yang memiliki organ
reproduksi sehat, yang telah mengalami menstruasi dan melakukan hubungan seksual dengan
seorang pria dan organ reproduksinya sehat sangat besar kemungkinanannya akan mengalami
kehamilan. Apabila kehamilan itu direncanakan akan memberi rasa kebahagian.
Selama pertumbuhan dan perkembangan kehmilan dari bulan ke buln diperlukan kemampuan
seorang ibu hamil untuk beradaptasi dengan perbuhan ynag terjadi pada fisik dan mentalnya.
Perubahan ini terjadi akibat adanya ketidakseimbangan hormone progesterone dan hormone

ostrogen yani hubungan kewanitaan yang ada pada dalam tubuh ibu sejak terjadinya proses
kehamilan.
Seoramg ibu yang sedang hamil semestinya bersyukur kepada Tuhan yang maha kuasa karena telah
diberi tugas mulia dan senantiasa harus beruhasa menjalankan sungguh-sungguh. Apabila ibu hamil
bis amenyadari keadaan ini, besar kemungkinannya tidak akan menoloak kehamilannya dan
merasabahagia dengan kehamilanya
Kehamilan yang sehat dan kondisi fisik yang aman dan keadaan emosi yang memuaskan baik bagi
ibu maupun janin adalah hasil akhir yang diharapkan dari perrawatan maternitas superfisi dan
pengawasan kesehatan yang konsisten sangat penting. Banya abaptasi maternal yang tidak diketahui
ibu hamil dan keluarganya. Perawat maternitas yang memilki pengetahuan dan kemampuan yang
dapat membantu ibi hamil mengenali antara status fisik dan rencana perawtanya. Berbagai informasi
membangun sengat ibu hamil untuk berpartipasi dalam perwatannya sendiri hal Iini kepada
pengetahuannya, kebutuhannya, dan pengetahuannya akan belajar

B. Tujuan Percobaan
Mengetahuia ada tidak kehamilan secara dini, berdasarkan aanya hormone chorionika gonadotropin
(HCG) dan urine wanita yanag sedang hamil
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. HCG, Hormon progesterone dan estrogen
Pada saat ibu hamil, wanita tersebut akan menghasilkan HCG (Human chorionik gonadotropin),
perannya adalah mempertahankan korpus lukum dalam menyekresi progesterone. HCG yang
disekresi adalah trofoblas juga dapat berperan dalam proses imunoregulasi yang berlangsung selama
kehamilan. Karena bersosialisasi dengan batas mikrovilus pada sirovoblas (sinsisotrovoblas), HCG
berhubunga langsung dengan darah dengan darah ini. Karena krovobla memproduksi antigen organ
yang spesifik, HCG dapt dilibatkandalam mudulasi ekspresi antigan-antigen tersebut. Saat juga
bahwa diduga ada peran tirotrofit HCG ada peran tirotrofit yang penting dalam mengatur kelenjar
tiroid selama kehamilan normal
Hormon progestero bekerja sama denagan hormone hesteroben, progestron menstimulasi
pertumbuhan uterus mendiferensiasi endometrium menjadi jaringan sekresi disertai pengingkatan
akumulasi glikogen dan menghambat kontraksi momentium. Progesteron melali difusi menembu
membran sel dan berintraksi dengan reseptor spesifikasinya. Komleks reseptor steroid ini berintraksi
dengan nukleous, dan menyebabkan peningkatan dalam kecepatan menyintesis protein.
Kemampua progesterone daam mengubah endometerium dari tipe politersi menjadi tipe sekresi
berlangsung melalui tanda-tanda yang diatur olegh asam. Deoksiribin ukleat (deoxyribunuclei acid,
DBA) dalam nucleus sel sebagai respon terhadap progesterone.
Progestero memiliki efek penghanbata kontraksi otot polo, yaknipada ureter, lambung dan usus.
Halini menyebabkan dilatasi ureter dan aktivitas peristalis menurun yang terjadi pada kehamilan.
Progesteron juga mengatur penyimpanan lemak tubuh, yang menyebabakan temperature rubuh
meningkat 0,5 sampai 10 C, kerja prosteron pada sel-sel otak dapat bertanggung jamab respon
tentang yang umum ditemukan pada wnita hamil. Respon terjadi jika wnita hamil mengalami
hiperventilasi. Sejumlah kecil prosgesteron plasenta masuk ke dalam sirkulsi janin Dalam sirkilsi,
progesterone dibawah ke kelenjar adrenal untuk bertindak sebagai precursor untuk kortikosterid janin.
Tanda-tanda dugaan hamil.
1. Amonerea (terlambat dating bulan)
KOnsespsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel Graaf dan ovulasi.
Mengetahuia tanggal haid terakhir dengan perhitungan rumus Naegle dapat ditentukan perkiraan

persalinan.
2. Mual ( Nuasea) dan muntah (emeis)
Pengaruh estrogen dan prosteron terjadi pengeluaran asam lambungyang berlebihan.
Menimbulkan mual dan muntah terutama opagi hari yang disebut morning sickness.
Daam batas fisiologi keadaan ini dapat di atasi.
Akibat mual dan nafsu makan berkurang.
3. Ngidam
Wanita hamil sering menginginkan makana tertentu, keinginan demikian disebut ngidam.
4. Sinkope atau pingsan.
Terjadinya gangguan sirkulasi ke daearh kepala (sentral) menyebabakan iskemia sususnan saraf
pusat dan menimbulkan sinkop atau pingsan.
Keadaan ini menghilang setelah umur hamil 16 minggu
5. Payudara tegang
Pengaruh strogen dan progesterone dan somatomamotropin menimbulkan deposit lemak, air dan
garam pada payudarah
Payudara memebesar dan tegang.
Ujung saraf tertekan menyebabkan rasa sakit terutama pada hamil pertama.
6. Sering miksi
Desakan rahim ke depan menyebabkan rasa sakit terutama pada hamil pertama.
Pada triwulan kedua sudah menghilng.
7. Kontipasi atau obstipasi.
Pengaruh prosteron dapat menghambat paristalti usus menyebabkan kesulitan buang air besar.
8. Pimentasi kulit
a. Sekitar pipi: Chloasma graviduram.
Keluarnya melonophore stimulating hormone hipfosis anterior menyebabakan pigmentasi kulit.
b. Dinding perut.
striae lividae
striae nigra
c. Sekitar payudara
Hirpigmentasi areola mamae
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
A. Alat yang Dibutuhkan
1. Mikroskop
2. Kaca alas + kaca penutup
3. Gelas beker pyrex 600 ml + plat kaca
4. Spoit 5 cc
5. Katak jantan
6. Urine wanita yang diduga hamil
B. Cara Kerja
1. Tes Galli Mainini
Menyuntikkan urine 2-5 ml ke dalam saccus lymphaticus katak. Memasukkan katak ke dalam gelas
beker yang berisi air sedikit dan menutup dengan plat kaca. Mengambil katak, setelah 2 jam
usahakan mengeluarkan urinenya di atas plat kaca kering. Meneteskan 1-2 tetes urine itu dengan
pipet di atas kaca atas dan menutup dengan kaca penutup. memeriksa sediaan itu di bawah
mikroskop. Tes ini dinilai positif jika dalam sediaan di bawah mikroskop nampak gerakan aktif dari
spermatozoa dengan bentuk yang sempurna yaitu adanya kepala, leher dan ekor. Tes ini negative
bila tidak terdapat spermatozoa.
2. Tes Friedman
Mengasingkan kelinci betina dengan kelinci jantan selama 2 minggu, kemudian menyuntikkan 5 ml

urine pada wanita yang diduga hamil pada vena di telinga kelinci selama 2 hari berturut-turut.
Pemeriksaan laparotomi dan ovarium diadakan setelah 48 jam. Tes positif bila nampak folikel
membesar dan adanya corpus rubrum.
3. Tes Konsulof
menghipofisektomikan katak sehingga kehilangan hormone intermedian yang berfungsi mengatur
pigmentasi kulit, menyuntikkan dengan 2 ml urine wanita hamil. Tes positif bila kulit katak berubah
menjadi lebih gelap.
4. Tes ascheim-Zondek
Menyuntikkan 5 ekor tikus putih betina yang immature dengan 0,4 ml urine pada subcutan sebanyak
6 kali dalam 2 hari. Jadi tiap tikus menerima 2,4 ml urine. Seratus jam sesudah
penyuntikan,kemudian mematikan tikus pertama dan memeriksa ada tidaknya corpus rubrum atau
corpus lutea. Tes positif bila dapat ditemukan salah satu korpora tersebut pada sekurang-kurangnya
seekor tikus.
AB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kehamilan
2.1.1 Pengertian Kehamilan
Kehamilan adalah merupakan suatu proses merantai yang berkesinambungan dan terdiri
dari ovulasi pelepasan sel telur, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan
pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh
kembang hasil konsepsi sampai aterm (Manuaba, 2010).
Kehamilan merupakan proses alamiah (normal) dan bukan proses patologis, tetapi
kondisi normal dapat menjadi patologi. Menyadari hal tersebut dalam melakukan asuhan
tidak perlu melakukan intervensi-intervensi yang tidak perlu kecuali ada indikasi
(Sulistyawati, 2009).
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal
adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari haid pertama haid terakhir.
Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan pertama dimulai dari hasil konsepsi sampai 3 bulan,
triwulan kedua dimulai dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan
ketujuh sampai 9 bulan (Saifuddin, 2008; 89 atau Prawiroharjo 2008).
Kehamilan adalah proses alamiah yang dialami oleh setiap wanita dalam siklus
reproduksi. Kehamilan dimulai dari konsepsi dan berakhir dengan permulaan persalinan.
Selama kehamilan ini terjadi perubahan-perubahan, baik perut, fisik maupun fsikologi ibu
(Varney, 2007).
2.1.2 Tanda-tanda kehamilan
Menurut Manuaba (2010), untuk dapat menegakkan kehamilan ditetapkan dengan
melakukanpenilaian terhadap beberapa tanda dan gejala kehamilan, yaitu sebagai
berikut :
1. Tanda Dugaan Kehamilan
a. Amenorea
Pada wanita hamil terjadi konsepsi dan nidasi yang menyebabkan tidak terjadi
pembentukan Folikel de graff dan ovulasi . Hal ini menyebabkan terjadinya amenorea
pada seorang wanita yang sedang hamil. Dengan mengetahui hari pertama haid terakhir
(HPHT) dengan perhitungan Neagle dapat ditentukan hari perkiraan lahir (HPL)nyaitu

dengan menambah tujuh pada hari, mengurangi tiga pada bulan, dan menambah satu
pada tahun.
b. Mual dan Muntah
Pengaruh estrogen dan progesteron menyebabkan pengeluaran asam lambung yang
berlebihan. Mual dan Muntah pada pagi hari disebut morning sickness. Dalam batas yang
fisiologis keadaan ini dapat diatasi. Akibat mual dan muntah nafsu makan berkurang.
c. Ngidam
Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu, keinginan yang demikian disebut
ngidam.
d. Sinkope atau pingsan
Terjadinya gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral) menyebabkan iskema susunan
saraf pusat dan menimbulkan sinkope atau pingsan. Keadaan ini menghilang setelah usia
kehamilan 16 minggu.
e. Payudara Tegang
Pengaruh hormon estrogen, progesteron, dan somatomamotrofin menimbulkan deposit
lemak, air, dan garam pada payudara. Payudara membesar dan tegang. Ujung saraf
tertekan menyebabkan rasa sakit terutama pada hamil pertama.
f. Sering Miksi (Sering BAK)
Desakan rahim kedepan menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh dan sering
miksi. Pada triwulan kedua, gejala ini sudah menghilang.
g. Konstipasi atau Obstipasi
Pengaruh hormon progesteron dapat menghambat peristaltik usus, menyebabkan
kesulitan untuk buang air besar
h. Pigmentasi Kulit
Terdapat pigmentasi kulit disekitar pipi (cloasma gravidarum). Pada dinding perut
terdapat striae albican, striae livide dan linea nigra semakin menghitam. Pada sekitar
payudara terdapat hiperpigmintasi pada bagian areola mammae, puting susu makin
menonjol.
i. Epulis
Hipertrofi gusi yang disebut epuils, dapat terjadi saat kehamilan.
j. Varices
Karena pengaruh dari hormon estrogen dan progesteron terjadi penampakan pembuluh
darah vena, terutama bagi mereka yang mempunyai bakat. Penampakan pembuluh
darah terjadi pada sekitar genetalia, kaki, betis, dan payudara. Penampakan pembuluh
darah ini menghilang setelah persalinan.
2. Tanda Tidak Pasti Kehamilan
a. Perut Membesar
b. Pada pemeriksaan dalam di temui :
1. Tanda Hegar yaitu perubahan pada rahim menjadi lebih panjang dan lunak sehingga
seolah-olah kedua jari dapat saling bersentuhan.
2. Tanda Chadwicks yaitu vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah
sehingga makin tampak dan kebiru-biruan karena pengaruh estrogen.
3. Tanda Piscaceks yaitu adanya pelunakan dan pembesaran pada unilateral pada
tempat implantasi (rahim).
4. Tanda Braxton Hicks yaitu adanya kontraksi pada rahim yang disebabkan karena
adanya rangsangan pada uterus.

c.

Pemeriksaan test kehamilan positif.

3. Tanda Pasti Kehamilan


a. Gerakan janin dalam rahim
b. Terlihat dan teraba gerakan janin, teraba bagian-bagian janin.
c. Denyut jantung janin
Didengar dengan stetoskop Laenec, alat Kardiotografi, dan Doppler. Dilihat dengan
ultrasonografi.
2.1.3 Pemeriksaan Diagnostik Kebidanan
1. Tes urine kehamilan (Tes HCG)
a. dilaksanakan seawal mungkin begitu diketahui ada amenore (satu minggu setelah
koitus).
b. Upayakan urine yang digunakan adalah urine pagi hari.
2. Palpasi abdomen
Menggunakan cara Leopod dengan langkah sebagai berikut :
a. Leopod I
- Bertujuan untuk mengetahui TFU dan Bagian janin yang ada di fundus.
- Cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
1) Pemeriksaan menghadap pasien
2) Kedua tangan meraba fundus dan mengukur berapa tinggi fundus uteri.
3) Meraba bagian apa yang ada di fundus, jika teraba benda bulat, melenting, mudah
digerakkan, maka itu adalah kepala. Namaun jika teraba benda bulat, besar, lunak, tidak
melenting, dan susah digerakkkan, maka itu adalah bokong janin.
b. Leopod II
- Bertujuan untuk mengetahui bagian janin yang ada disebelah kanan dan kiri perut
ibu.
- Cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
1) Kedua tangan pemeriksa berada disebelah kanan dan kiri perut ibu
2) Ketika memriksa sebelah kanan, maka tangan menahan perut sebelah kiri ke arah
kanan.
3) Raba perut sebelah kanan menggunakan tangan kiri, dan rasakan bagian apa yang
ada disebelah kanan (jika teraba benda yang rata tidak teraba bagian kecil, terasa ada
tahanan, maka itu adalah punggung bayi, namun jika teraba bagian-bagian yang terkecil
dan menonjol maka itu adalah bagian kecil janin).
c. Leopod III
- Bertujuan untuk mengetahui bagian janin yang ada di bawah uterus.
- Cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
1) Tangan kiri menahan fundus uteri.
2) Tangan kananmeraba bagian yang ada di bagian bawah uterus. Jika teraba yang
bulat, melenting, keras, dan dapat digoyangkan, maka itu adalah kepala. Namun jika
teraba bagian yang bulat, besar, lunak, dan sulit digerakkan, maka ini adalah bokong.
Jika di bagian bawah tidak ditemukkan kedua bagian seperti diatas, maka pertimbangkan
apakah janin dalam letak melintang.
3) Pada letak sungsang (melintang) dapat dirasakan ketika tangan kanan
menggoyangkan bagian bawah, tangan kiri akan merasakan ballottement (pantulan dari

kepala janin, terutama ini ditemukan pada usia kehamilan 5-7 bulan),
4) Tangan kanan meraba bagian bawah (jika teraba kepala, goyangkan, jika masih
mudah digoyangkan, berarti kepala belum masuk panggul, namun jika tidak dapat
digoyangkan, berarti kepala sudah masuk panggul), lalu lanjutkan pada pemeriksaan
Leopold IV untuk mengetahui seberapa jauh kepala sudah masuk panggul.
d. Leopold IV
- Bertujuan untuk mengetahui bagian janin yang ada dibawah dan untuk mengetahui
apakah kepala sudah masuk panggul atau belum.
- Cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut.
1) Pemeriksa menghadap kaki pasien
2) Kedua tangan meraba bagian janin yang ada di bawah
3) Jika teraba kepala, tempatkan kedua tangan di dua belah pihak yang berlawanandi
bagian bawah.
4) Jika kedua tangan konvergen (dapat saling bertemu) berarti kepala belum masuk
panggul.
5) Jika kedua tangan divergen (tidak saling bertemu) berarti kepala sudah masuk
panggul.
2.1.3 Perubahan Anatomi dan Fisiologi
1. Uterus
Selama kehamilan uterus akan beradaptasi untuk menerima dan melindungi hasil
konsepsi (janin, plasenta, amnion) sampai persalinan. Pada perempuan tidak hamil
uterus mempunyai berat 70 g dan kapasitas 10 ml atau kurang. Selama kehamilan,
uterus akan berubah menjadi suatu organ yang mampu menampung janin, plasenta dan
cairan amnion yang volume totalnya mencapai 5 l bahkan dapat mencapai 20l atau lebih
dengan berat rata-rata 1100 g.
Pembesaran uterus meliputi peregangan dan penebalan sel-sel otot sementara produksi
meosit yang baru sangat terbatas. Bersamaan dengan hal itu terjadi akumulasi jaringan
ikat dan elastik, terutama pada lapisan otot luar. Kerja sama tersebut akan meningkatkan
kekuatan dinding uterus. Daerah korpus pada bulan-bulan pertama akan menebal, tetapi
seiring dengan bertambahanya usia kehamilan akan menipis pada akhir kehamilan
ketebalanya hanya sekitar 1,5 cm bahkan kurang.
Pada awal kehamilan penebalan uterus distimulasi terutama oleh hormon esterogen dan
sedikit oleh progesteron.akan tetapi, setelah kehamilan 12 minggu lebih penambahan
ukuran uterus didominasi oleh desakan dari hasil konsepsi. Pada awal kehamilan tuba
fallopi, ovarium, dan ligamentum rotundum berada sedikit dibawah apeks fundus,
sementara pada akhir kehamilan akan berada sedikit di atas pertengahan uterus. Posisi
plasenta juga mempengaruhi penebalan sel-sel otot uterus,dimana bagian uterus yang
mengelilingi implantasi plasenta akan bertambah besar lebih cepat dibandingkan bagian
lainnya. Sehingga akan menyebabkan uterus tidak rata. Fenomena ini dikenal dengan
tanda piscaseck.
Pada minggu-minggu pertama kehamilan uterus masih seperti buah alpukat
kehamilannya, perkembangan kehamilannya,daerah fundus dan korpus akan membulat
dan akan menjadi bentuk sferis pada usia kehamilan 12 minggu.

Isthmus uteri pada minggu pertama mengadakan hipertrofi seperti korpus uteri yang
mengakibatkan isthmus menjadi lebih panjang dan lunak yang dikenal dengan tanda
Hegar.
Pada akhir kehamilan 12 minggu uterus akan menyentuh dinding abdominal mendorong
usus seiring perkembangannya, uterus akan menyentuh dinding abdominal mendorong
usus kesamping, dan keatas, terus tumbuh hingga hampir menyentuh hati. Sejak
trimester pertama kehamilan uterus akan mengalami kontraksi yang tidak teratur dan
umumnya tidak disertai nyeri. Pada trimester kedua kontraksi ini dapat dideteksi dengan
pemeriksaan bimanual. Fenomena ini disebut Braxton Hicks. Pada bulan terakhir
kehamilan biasanya kontraksi ini sangat jarang dan meningkat pada satu atau dua
minggu sebelum persalinan (Prawirohardjo, 2010).
2. Serviks
Perubahan yang penting pada serviks dalam kehamilan adalah menjadi lunak. Sebab
pelunakan ini adalah pembuluh darah dalam serviks bertambah dank arena timbulnya
oedema dari serviks dan hyperplasia serviks.
Pada akhir kehamilan serviks menjadi sangat lunak dan portio menjadi pendek (lebih dari
setengahnya mendatar) dan dapat dimasuki dengan mudah oleh satu. jari (Prawirihardjo,
2010).
3.Ovarium
proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan pematangan folikel baru juga
ditunda.hanya satu korpus luteum yang dapat ditemukan di ovarium. Folikel ini akan
berfungsi maksimal selama 6-7 minggu awal kehamilan dan setelah itu akan berperan
sebagai penghasil progeteron dlam jumlah yang relatif minimal (Prawirohardjo, 2010).
4.Vagina dan Vulva
Dinding vagina mengalami banyak perubahan yang merupakan persiapan untuk
mengalami peregangan pada waktu persalinan dengan meningkatnya ketebalan mukosa,
mengendorornya jaringan ikat dan hipertrofi sel otot polos.Peningkatan volume sekresi
vagina juga terjadi, dimana sektresi akan berwarna keputihan, menebal dan PH antara
3,5-6 yang merupakan hasil dari peningkatan produksi asam laktat glikogen yang
dihasilkan oleh epitel vagina sebagai aksi dari lactobacillus acidophilus (Prawirohardjo,
2010).
5. Payudara
Pada awal kehamilan perempuan akan merasakan payudaranya menjadi lunak. Setelah
bulan kedua payudara akan bertambah ukurannya dan vena-vena dibawah kulit akan
lebih terlihat. Putih payudara akan lebih besar, kehitaman dan tegak. Setelah bulan
pertama cairan kuning bernama kolostrum akan keluar. Kolostrum ini berasal dari
kelenjar-kelenjar asinus yang mulai bersekresi. Meskipun dapat dikeluarkan, air susu
belum dapat diprosuksi karena hormon prolaktin ditekan oleh prolaktin inhibiting
hormone. Setelah persalinan kadar progesteron dan estrogen menurun sehingga
pengaruh inhibisi progesterone terhadap -laktalbumin akan hilang. Peningkatan
prolaktin akan merangsang sintesis lactose dan pada akhirnya akan meningkatkan
produksi air susu (Prawirohardjo, 2010).

6.Sistem Kardiovaskuler
Sirkulasi darah ibu pada kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke placenta uterus
yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang membesar darah pula, mamae
dan alat lain yang memang berfungsi berlebihan dalam kehamilan. Tekanan darah akan
turun selama 24 minggu pertama kehamilan akibat terjadi penurunan dalam perifer
vaskuler resistensi yang disebabkan oleh pengaruh pergangan otot halus oleh
progesteron. Selama kehamilan normal cardiac output meningkat sekitar 30-50 % dan
mencapai level maksimumnya selama trimester pertama atau kedua tetap tinggi selama
persalinan.
Pada usia kehamilan 16 minggu mulai jelas terjadi hemodilusi. Setelah 24 minggu
tekanan darah sedikit demi sedikit naik kembali pada tekanan darah sebelum aterm.
Hemodilusi penambahan volume darah sekitar 25% dengan puncak pada usia kehamilan
32 minggu, sedangkan hematokrit mencapai level terendah pada minggu 30-32 minggu
(Kusmiyati, 2008).

LAPORAN GALLI MANINI


Rabu, 25 Juli 2012 | By LUQMAN

I.

Latar Belakang
Hormon seks merupakan zat yang dikeluarkan oleh kelenjar pada organ
seks dan kelenjar adrenalin langsung kedalam aliran darah. Hormon seks yang
bertanggung jawab dalam menentukan jenis kelamin janin dan bagi
perkembangan organ seks yang normal. HCG atau Hormon Chorionic
Gonadotropin merupakan suatu hormon seks yang dapat digunakan untuk
penentuan kehamilan secara sederhana. Hormon ini dieksresikan melalui urin ibu
yang sedang hamil.
Galli manini merupakan metode penentuan kehamilan secara biologik
dengan memanfaatkan HCG yang terkandung dalam urin wanita hamil. Metode
ini masih digunakan sampai sekarang meskipun di laboratorium-laboratorium
paling sering digunakan metode-metode imunologik.
Jumlah HCG yang dieksresikan dalam urine wanita hamil berbeda beda
untuk setiap wanita tergantung dari usia kehamilan. HCG dapat ditemukan
dengan mudah pada usia kandungan 1-3 bulan. Oleh sebab itu, metode Galli
Manini kurang tepat digunakan untuk menentukan kehamilan usia diatas 3
bulan. Berdasarkan permasalahan diatas, maka praktikum Galli Manini perlu
dilakukan untuk menentukan ada atau tidaknya hormon choriogonadotropin
dalam urin wanita hamil.

II.

Tujuan
Tujuan praktikum Galli manini adalah untuk menentukan adanya hormon
choriogonadotropin dalam urine wanita hamil.

III.

DASAR TEORI
Hormon adalah suatu substansi yang dihasilkan oleh kelenjar yang tidak ter
salurkan, akan tetapi langsung masuk ke dalam darah menuju alat-alat lain dari
bagian tubuh dan berpengaruh di bagian tersebut. Kelenjar penghasil hormon
dengan hormon-hormon di antaranya yaitu kelenjar pituitari atau hipofisis
mensekresikan hormon somatik, hormon myotropik, hormon adrenotropik dan
hormon gonadotropik meliputi FSH (Folikel Stimulating Hormon), atau hormon
prolaktin yang mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan gonad, yaitu
ovarium pada wanita dan testis pada pria (Frandson,1991).
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) adalah hormon yang disekresikan
oleh sel-sel tropoblas ke dalam cairan ibu segera setelah setelah nidasi terjadi.
HCG yang dihasilkan dapat ditemukan dalam dalam serum dan urine. Adanya
HCG dalam urine dapat digunakan untuk penentuan kehamilan dengan cara
sederhana (Siti, 1984).
Penentuan kehamilan dengan menggunakan urine dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu secara biologik dan dengan imunologik. Percobaan biologik dapat
dilakukan dengan tiga cara yaitu cara ascheim, zondek, Friedman, dan Galli
manini; masing-masing cara biologik ini menggunakan binatang uji. Sedangkan
pemeriksaan secara imunologik dapat dilakukan dengan cara Direct Latex
Agglutination (DLA) atau secara tidak langsung dengan cara Latex Agglutination
Inhibition (LAI) serta cara Hemaglutination Inhibition (HAI) (Siti,1984).
Mengingat pentingnya anti HCG untuk tes kehamilan secara imunologis,
HCG dapat diperoleh dari ekstraksi urin wanita hamil karena hormon yang
diproduksi oleh plasenta ini dieksresikan dalam jumlah besar melalui urin. HCG
mempunyai sifat seperti LH pada wanita dengan produksi gonadotropin yang
rendah atau non siklis. Hormon ini juga digunakan pada wanita dengan ovulasi
pada fase luteal sehingga terjadi infertilitas atau abortus habitualis (Cowie, dkk,
1980).
Kadar HCG dalam darah ibu sedemikian tinggi sehingga sebagian
disekresikan di dalam urine dan dapat dideteksi dalam uji kehamilan. Puncak
produksi hormon tersebut dicapai dalam bulan kedua kehamilan. Jika telur telah
dibuahi dan tertanam di dalam endometrium, sel-sel tropoblas dalam plasenta
yang sedang berkembang mensekresi gonadotropin chorion (Imam dan Fahriyan,
1992; Ville, 1984).
Pada hewan betina, FSH dan LH akan mempengaruhi indung telur
(ovarium). FSH, LH, dan estrogen bersama-sama akan terlibat dalam siklus

ovulasi dan sekaligus mempersiapkan uterus berkembang pada mamalia.


Sedangkan pada jantan, FSH dan LH akan mempengaruhi testis untuk mulai
memproduksi hormon testosteron dan sperma. Sekresi FSH diatur juga oleh
suatu faktor yang dihasilkan oleh hipotalamus yang disebut faktor pelepas
gonadotropin atau GnRF (Fried, dkk., 2006 ; Sumarmin, 2008).
Hormon LH dapat mendorong pertumbuhan folikel menjadi folikel praovulasi
dan diikuti terjadinya ovulasi. Peningkatan progesteron pada lapisan theka
menyebabkan lapisan granulosa menjadi lebih responsif terhadap LH pada saat
folikel mendekati ovulasi. Folikel ovari dan kadar estrogen di atas ambang akan
memberi respon terhadapa hipotalamus untuk menekan pelepasan FSH dan
selanjutnya memfasilitasi pelepasan LH untuk menandai proses ovulasi (Donald,
dkk, 1980 ; Hapez, 2000).
IV.

Metode Kerja

4.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Galli manini dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 22 Mei 2012
pada pukul 13.00 WIB-16.00 WIB di Laboratorium Zoologi Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura Pontianak.
4.2 Alat dan Bahan
4.2.1

Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Galli Manini yaitu gelas objek,
kertas saring, spuit, pipet teets, mikroskop, botol, dan stopwatch.
4.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum Galli Manini yaitu
aquades, 2 ekor Bufo sp., dan urin wanita hamil usia muda.

4.3 Cara Kerja


Dua ekor kodok (Bufo sp.) jantan untuk uji ini disiapkan. Kodok tersebut
diuji apakah mengandung sperma atau tidak dengan cara menggelitik ujung
pipet tetes kedalam kloakanya untuk meyakinkan kodok itu jantan, dan dapat
dilihat apakah ada tanda bintil-bintil pada jari dan kulit leher berwarna kuning
agak kemerahan dan bila dipegang akan meneluarkan suara. Satu ekor kodok
jantan disuntik dengan urine wanita hamil yang tidak diencerkan dan yang lain
disuntik dengan urin yang telah diencerkan menjadi 50% urine pada bagian
bawah kulit perut dekat kloaka. Setelah disuntik, kodok dibiarkan selama 1 jam
kemudian diambil sperma kodok dengan cara menggelitik kloaka kodok dengan
ujung pipet tetes. Sperma yang keluar diletakkan pada gelas objek dan diamati
di bawah mikroskop.

HASIL dan PEMBAHASAN

5.1 Hasil
Tabel 1. Jumlah sperma Bufo sp. Yang dihasilkan

Umur

urin

murni

50% urin
Kehamilan
I

II

2,1 bulan

I
+++

6 bulan

II

++

++

+
3,5

bulan

+++

++

Keterangan :
+++ : banyak
++
+
-

6.1

: sedang
: sedikit

: tidak ada

Pembahasan
Galli manini merupakan suatu uji kehamilan yang dapat digunakan untuk
mengetahui HCG pada urine wanita hamil. Percobaan ini menggunakan objek
yaitu Bufo sp. dan urine wanita hamil usia 2,1 3,5 bulan. Penggunaan Bufo sp.
jantan karena hewan uji ini mudah didapatkan, mudah dibedakan jenis kelaminnya,
dan sperma kodok dapat dipicu pengeluarannya dengan mudah. Urine wanita hamil
yang digunakan yaitu berkisar antara 2,1 3,5 bulan karena pada usia hamil ini,

urine wanita tersebut mengandung HCG. Hal ini didasarkan pada teori Basoeki
(1980) dan Theolihere (1979) yang menyatakan bahwa HCG telah beredar dalam
darah 1 minggu setelah fertilisasi dengan konsentrasi 120 IU pada hari ke 62
setelah menstruasi dan menurun dengan cepat pada hari ke 154 mencapai 0 IU.
HCG bisa dijumpai pada urine karena HCG didalam darah tinggi.
Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa urine wanita hamil yang digunakan
semuanya mengandung HCG, baik urine yang digunakan urine murni maupun urine
dengan konsentrasi 50%. Perlakuan dengan konsentrasi urine murni menghasilkan
jumlah sperma yang dihasilkan lebih banyak daripada konsentrasi urine 50%. Urine
murni dari usia kehamilan 3,5 bulan yang disuntikkan ke dalam jaringan kodok
merangsang pengeluaran sperma kodok lebih banyak daripada urine murni dari
urine murni dari usia kehamilan lainnya. Perbedaan banyakp atau sedikitnya
ditemukan sperma kodok tersebut bergantung pada konsentrasi urine yang
disuntikkan. Pada konsentrasi urine murni lebih besar memicu pengeluaran sperma
kodok karena di dalam urine murni lebih banyak mengandung hormon
choriogonadotropin. Hormon tersebut saat disuntikkan pada kodok merangsang
sperma kodok berkembang sehingga kodok tersebut mengalami estrus (birahi). Hal
ini dikarenakan HCG mempunyai sifat seperti LH. Menurut muhayat (1998), LH dan
HCG pada laki-laki memberitahu testis untuk memproduksi hormon seks laki-laki
(testosteron). HCG menyebabkan pelepasan spermatozoa apabila diberikan kepada
vertebrata rendah. Hormon ini disekresikan oleh embrio untuk memberikan sinyal
kehadirannya dan mengontrol sistem reproduksi wanita hamil. Produksi HCG akan
meningkat hingga sekitar hari ke 70 dan akan menurun selama sisa kehamilan.
Hormon-hormon kehamilan ini bertujuan guna mendukung kehamilan yang
berlangsung khususnya agar janin dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan
sehat (Ackering, 2000).
Jumlah atas banyaknya HCG di dalam urine tergantung pada faktor fisiologis
wanita hamil dan konsentrasi HCG pada darah.
7

Penutup

7.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil percobaan adalah sebagai berikut:
a.
b.

c.

Hormon choriogonadotropin terdapat pada urine wanita hamil 2,1-3,5 bulan.


Banyaknya sperma yang dihasilkan tergantung pada konsentrasi urine yang
disuntikkan padaBufo sp.
Urine murni lebih besar merangsang pengeluaran sperma Bufo sp.
DAFTAR PUSTAKA

Basoeki,S.1980. Anatomi dan Fisiologi Manusia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan


Nasional: Jakarta
Cowie, A.T.I.C.,dkk 1980. Hormon Control of Lactation, Berlin Heidelberg: Germany
Donal, Mc.L.E.1980. Veterinary Endocrinology and Reproduction, 3th Edition, Lea and
Febriger: Philadelphia
Frandson, R.D.1991. Anatomi dan Fisiologi Hewan Ternak, Penerjemah: B. Srigandono dan
K. Praseno,UGM Press: Yogyakarta
Fried, H dan George, J.H.2006. Schaums Outlines Biology, Edisi II, Penerjemah:
Damaningtyas, Erlangga: Jakarta
Hafez, E, S.E.2000. Reproduction In Farm Animal. 7th Edition, Lea and Febiger. Philadelphia
Imam dan Fahriyan.1992. In Vitro Fertilisasi Transfer Embrio dan Perkembangan Embrio,
Pusat Antar Universitas Bioteknologi, IPB: Bogor
Muhayat, Ali.1998. Pengaruh Hormon Terhadap Fase Kehamilan, Surya Aditama Media:
Bandung
Pickering, W.R.2000. Complete Biology. Oxford University Press:UK
Sumarmin,R,dkk.2008. Perkembangan

Folikel

dan

Viabilitas

Oosit

Domba

Pasca

Transplantasi Ovarium Domba Intra utenin Pada Kelinci Bunting Semu, Jurnal
Veteriner, Vol 9, No.3: 115-121
Siti,B.K.1984. Imunologi: Diagnosis dan Prosedur Laboratorium, FKUI: Jakarta
Thoelihere.1979. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak, Angkasa: Bandung
Ville, C.A., dkk.1984. Zoologi Umum, Edisi Keempat, Erlangga: Jakarta

an

sip

dan bahan

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOLOGI


Praktikum Ke-

3 (tiga)

Hari / Tanggal
:
kamis, 12 April 2012
Materi
:
Pemeriksaan kehamilan kualitatif
Metode
:
Galli Mainini
:
1. Dapat mendeteksi kehamilan walaupun secara klinis tanda-tanda kehamilan belum
teramati.
2. Mahasiswa dapat melakukan uji kehamilan (galli mainini ) dengan menggunakan katak
Bufo
Vulgaris jantan.
:
Berdasarkan pada meningkatnya konsentrsi
hormons kehamilan
yang terdapat pada urine.
:

Alat :
1. Spuit ( pompa suntik ) 5 ml
2. Mikroskop
3. Objek Gelas
4. Swab
1. Urine Ibu hamil 3 Bulan
2. Katak Bufo Vulgaris jantan.
3. Aquadest

Bahan :

dasan Teori

:
HCG merupakan hormon yang bersifat luteotrofik pada beberapa spesies , termasuk
manusia, tikus, kelinci, babi dan sebagainya. HCG disekresi oleh plasenta, tidak seperti PMSG yang
disekresi oleh endometrium uterus. HCG pada wanita berperan untuk mempertahankan corpora lutea
selama tahaptahap permulaan kebuntingan. Segera setelah ovulasi, korpus luteum akan cukup
mendapat dorongan dari faktor-faktor luteotrofik hipofisa. Adanya dorongan ini menyebabkan korpus
luteum tersebut secara fisiologis tetap aktif sampai HCG mulai dibentuk dalam jumlah yang cukup
untuk bertindak sebagai luteotrofik. Sejumlah HCG yang dapat terukur timbul pada wanita hamil pada
hari ke-5 sampai 16 setelah ovulasi, tetapi titer HCG tidak mencapai puncaknya sampai hari
kehamilan yang ke-35 sampai 50 (Nalbandov, 1990).
HCG merupakan glikoprotein yang jauh lebih besar dengan berat molekul kira-kira 45.000
Dalton, tetapi lebih banyak mengandung residu gula dibandingkan dengan glikoprotein pituitary. Sifatsifat khusus HCG yang diisolasi cenderung kurang seragam dibandingkan dengan sifat-sifat khusus
hormon glikoprotein yang berasal dari pituitary, karena degradasi terutama rantai samping
karbohidratnya dapat terjadi selama pembentukan urin. Hormon kehamilan ini hanya ditemukan pada
tubuh seorang wanita hamil yang dibuat oleh embrio segera setelah pembuahan dan karena
pertumbuhan jaringan plasenta . Hormon kehamilan yang dihasilkan oleh villi choriales ini berdampak
pada meningkatnya produksi progesteron oleh indung telur sehingga menekan menstruasi dan
menjaga kehamilan. Produksi HCG akan meningkat hingga sekitar hari ke 70 dan akan menurun
selama sisa kehamilan. Hormon kehamilan HCG mungkin mempunyai fungsi tambahan, sebagai
contoh diperkirakan HCG mempengaruhi toleransi imunitas pada kehamilan. Hormon ini merupakan
indikator yang dideteksi oleh alat test kehamilan yang melalui air seni. Jika, alat test kehamilan
mendeteksi adanya peningkatan kadar hormon HCG dalam urine, maka alat test kehamilan akan
mengindikasikan sebagai terjadinya kehamilan atau hasil test positif.
A. Prosedur Kerja
1.

2.

3.

4.
5.

Menyediakan tiga ekor katak bengkerok ( BUfo Vulgaris ) jantan dewasa, ciri-ciri katak jantak antara
lain : pada telapak kaki depan terdapat penebalan warna hitam, pada kulit leher bagian ventral
terdapat warna agak merah kekuningan, warna tubuh biasanya agak gelap di banding betina.
Merangsang dengan menggunakan lidi berbungkus kapas pada bagian kakinya kemudian kalau
keluar sesuatu menarunya pada objek , dan periksa dengan mikroskop. Jika sesuatutersebut sperma
maka yang harus dilakukan adalah membersikannya terlebih dahulu.
Menyiapkan 5 ml air kencing wanita yang diduga hamil sekitar 1-3 bulan kemudian gunakan pompa
dan jarum suntik ( spuit ) untuk menyuntikkan urine tersebut secara langsung ( d ibawah kulit )
dengan cara mencubit / menarik kulit katak kemudian suntikkan. Biasanya untuk menyuntikkan ini
dipilih tempat untuk kulit punggung.
Suntik katak yang satu dengan aquadest digunakan secara kontrol.
Mengembalikan katak pada tempatnya, kemudian menunggu kurang labih 30 menit untuk melihat
reaksinya. Setelah itu merangsang bagian kloakan dengan lidi, jika keluar sesuatu kemudian pariksa
dengan mikroskop.

A. Hasil Pengamatan
:
Setelah menyuntikkan urine wanita hamil secara sub-kutan (di bawah kulit) dengan
cara mencubit / menarik kulit katak menggunakan pompa dan jarum suntik (spuit). Setelah 30
menit, kemudian merangsang bagian kloaka dengan lidi da ada cairan yang keluar.
Setelah diperikasa di bawah mikroskop ternyata cairan tersebut adalah sperma, sehingga
dapat dikatakan bahwa reaksi ini positif.
Pembahasan :
Reaksi ini dapat negarif disebabkan oleh beberapa hal :
1. Praktikan kurang tepat dalam menyuntikkan jumlah urine, sehingga jumlah urine yang masuk
kurang banyak atau malah berlebihan.
2. Kurangnya ketepatan praktikan dalam cara menyuntikkan urine, bisa jadi pada saat penyuntikan
terjadi, banyak urine yang tidak masuk atau keluar dari area yang diinginkan.
3. Praktikan kurang teliti, bagian manakah dari tubuh katak yang seharusya disuntik (ini juga sangat
berpengaruh terhadap reaksi yang dihasiklka akan bersifat positif ataupun negatif.
4. Urine umur kehamilan yang dipilih kurang sesuai (masih mengandung HCG atau tidak).
5. Kurag teliti dalam meggunakan waktu (waktu yang digunakan berlebih atau bahkan kurang),
sehingga ketika waktu pada saat pengamatan kurag, maka urine wanita hamil tersebut belum
bereaksi pada tubuh katak atau sebaliknya
B. Kesimpulan
Berdasarkan praktikan yang dilakukan diatas bahwa ibu tersebut dinyatakan positif hamil..
C. PUSTAKA
www.bidanku.com akses tanggal 14 April 2012