Anda di halaman 1dari 246

ARCHAEBACTERIA DAN EUBACTERIA

Rabu, September 05, 2012 Biologi SMA 4 comments

Kompetensi Dasar:
mendeskripsikan ciri-ciri Archaebacteria dan Eubacteria serta peranannya bagi kehidupan.
A. Pengertian
Setelah Carl Woose melakukan analisis molekular, maka Archaebacteria yang semula
dikelompokkan dengan Eubacteria dalam Kingdom Monera sekarang menjadi kelompok
yang terpisah. Sekarang Kingdom Monera tidak dipakai lagi dan sebagia gantinya muncul
kingdom Archaebacteria dan Eubacteria.
B. Archaeobacteria
1. Ciri-Ciri Umum
Susunan tubuh sangat sederhana, dinding sel tidak tersusun atas peptidoglikan;

1.

habitat pada lingkungan ekstrim yang tidak semua organisme mampu hidup di

2.

sana;
3.

2.

1.

terdiri atas satu sel yang hidup berkoloni atau berupa filamen berukuran kecil.
Klasifikasi
Berdasarkan habitatnya, Archaeobacteria dibedakan menjadi:
Metanogen
Hidup pada lingkungan anaerobik yang ekstrim seperti pada lumpur di dasar rawa dan
danau, saluran pencernaan hewan dan manusia, serta di bawah lapisan es Greenland.
Kelompok ini mampu menghasilkan gas metana (CH 4) dari H2 dan CO2.
Contoh: Lachnospira
multiporus(memecah
pektin), Succinomonas
amylolytica dan Ruminococcus albus (memecah selulosa).

2.

Halofil
Habitat pada lingkungan yang berkadar garam tinggi 12 15% (sementara kadar garam air
laut sekitar 3,5%). Contoh: genus Halobacterium, Halorubrum, Halococcus, dan Haloarcula.

3.

Termofil
Hidup pada lingkungan bersuhu tinggi dan bersifat asam. Contohnya genus Sulfolobus
dan Pyrolobus fumarii.

C. Eubacteria (Bakteri Sejati)


1. Ciri-Ciri Umum
1.

Mikroorganisme dengan rata-rata panjang 2 3 m, lebar 1 2 m, dan


diameter 1 mikron;

2.

bersifat uniseluler, hidup secara sendiri-sendiri (soliter) atau berkelompok (koloni);

3.

bentuk sel relatif tetap karena dinding sel tersusun atas peptidoglikan;

4.

mampu membentuk endospora yaitu spora berdinding tebal yang tahan terhadap
kondisi lingkungan yang buruk;

5.

struktur tubuh tersusun atas kapsul, dinding sel, membran plasma, sitoplasma,
DNA, mesosom, ribosom, dan plasmid;

6.

reproduksi terjadi secara aseksual dan seksual, secara aseksual melalui


pembelahan biner dan seksual meliputi konjugasi, transformasi, dan transduksi.

Gambar 3.1 Struktur Tubuh Bakteri


2.
1.

Klasifikasi
Berdasarkan cara memperoleh makanan, bakteri dibedakan:

1) Bakteri heterotrof (tidak mampu menyusun makanan sendiri), dibedakan:


Saprofit: mengambil nutrisi dari organisme yang masih hidup.Contohnya Escherichia coli
Parasit: mengambil nutrisi dari organisme yang telah mati. Contohnya Mycobacterium
tuberculosis.
2) Bakteri autotrof (dapat menyusun makanannya sendiri), dibedakan:
fotoautotrof (menggunakan sumber energi cahaya matahari), contohnya bakteri hijau
(bakterioklorofil) dan bakteri ungu (bakteriopurpurin);
kemoautotrof (energi kimia), contohnya Nitrobacter, Nitrosomonas, dan Nitrosococcus.
2.

Berdasarkan kebutuhan oksigen, bakteri dibedakan:

1) Bakteri aerob (Membutuhkan O2 bebas), contohnya Nitrosomonas dan Mycobacterium


tuberculosis.
2) Bakteri anaerob (tanpa menggunakan O2 bebas), ContohnyaClostridium tetani dan bakteri
denitrifikasi.
3.

Berdasarkan bentuknya, bakteri dibedakan:

Bentuk Bakteri

Macam

Contoh

1) batang (bacillus)a) monobasilus

Escherichia coli

b) diplobasil

Salmonella typhosa

c) streptobasil

Bacillus anthracis

2) bola (coccus) a) monokokus

Neisseria gonorrhoeae

b) diplokokus

Diplococcus
pneumoniae

c) streptokokus

Streptococcus mutans

d) sarkina

Thiosarcina rosea

e) stafilokokus

Staphylococcus aureus

3) spiral (spirillum)a) vibrio

Vibrio cholerae

b) spirochaeta

Treponema paliidium

c) spirillum

Thiospirillopsis
floridana

d. Berdasarkan letak flagelanya, bakteri dibedakan:


1)
2)
3)
4)
5)

Atrik, tidak memiliki flagela.


Monotrik, memiliki satu flagela dan melekat pada salah satu ujung sel.
Lofotrik, memiliki banyak flagela dan melekat pada salah satu ujung sel.
Amfitrik, memiliki satu flagela dan masing-masing melekat pada kedua ujung sel.
Peritrik, memiliki flagela yang tersebar pada seluruh pemukaan sel.

3.

Peranan

1.

Bakteri yang menguntungkan manusia

1) Escherichia coli, penghuni colon manusia yang membantu membusukkan makanan dan
pembentukan vitamin K.
2) Lactobacillus casei, digunakan dalam proses pembuatan keju.
3) Acetobacter xylinum, untuk pembuatan nata de coco.
4) Clostridium butiricum, penghasil asam butirat.
5) Lactobacillus bulgaricus, untuk pembuatan susu masam (yoghurt).
6) Streptomyces griceus, penghasil antibiotik streptomisin.
7) Bakteri nitrifikasi, membantu pembentukan nitrat dalam tanah, seperti Nitrosomonas,
Nitrosococcus, dan Nitrobacter.
8) Rhizobium leguminosorum, bersimbiosis mutualisme dengan akar tumbuhan polongpolongan, berfungsi mengikat nitrogen bebas dari udara
2.

Bakteri yang merugikan manusia

1)
2)
3)
4)

Mycobacterium tuberculosis, penyebab penyakit TBC


Treponema pallidum, penyebab penyakit raja singa (sifilis)
Vibrio cholerae, penyebab kolera
Shigella dysenteriae, penyebab disentri

A.
1.
a.
b.
c.

Alga Hijau-Biru (Cyanophyta)


Ciri-Ciri Umum
Fotoautotrof, melakukan fotosintesis;
mengandung pigmen biru (fikosianin), hijau (klorofil), dan jingga (karotenoid);
reproduksi secara aseksual dengan pembelahan biner (Cyanophyta bersel satu),
dan fragmentasi (Cyanophyta bentuk koloni).

2.
-

Klasifikasi
Bersel satu: Gleocapsa, Chroococcus
Bentuk koloni: Polycyshis
Bentuk benang: Nostoc, Anabaena, Oscillatoria.

3. Peranan
a. Menyuburkan tanah dengan mengikat N2, contohnya Anabaena azollae
b. Berperan sebagai fitiplankton dalam ekosistem perairan.
c. Berperan sebagai vegetasi perintis karena dapat membuka kemungkinan organism lain untuk
hidup ditempat yang sulit (batu-batuan, sumber air panas, air tercemar).
1.
A.
B.
C.
D.
E.

Contoh Soal Kompetensi dan Penyelesaian


Proses reproduksi paraseksual pada bakteri dengan bantuan virus disebut ....
transduksi
transformasi
fragmentasi
konjugai
translokasi
Penyelesaian
Reproduksi paraseksual disebut juga dengan reproduksi seksual pada bakteri, yang dapat
terjadi melalui beberapa cara, yaitu:
konjugasi, terjadi jika dua individu berdekatan dan membentuk saluran bersama untuk
menukar materi genetik dan sitoplasmanya.
Transformasi, merupakan pemindahan materi genetik (plasmid) antara dua individu yang
berdekatan tanpa melalui saluran khusus.
Transduksi, pemindahan materi genetik dengan perantara virus (bakteriofage).
Jawab A
http://www.generasibiologi.com/2012/09/archaeobacteria-dan-eubacteria.html

Pertahanan Bakteri pada Lingkungan yang Buruk


Mikroorganisme dapat merasakan dan beradaptasi dengan perubahan dalam
lingkungan mereka. Ketika nutrisi yang disukai habis, beberapa bakteri dapat
menjadi motil untuk mencari nutrisi, atau mereka dapat menghasilkan enzim untuk
mengeksploitasi sumber daya alternatif. Salah satu contoh dari strategi
kelangsungan hidup ekstrim yang digunakan oleh bakteri Gram-positif tertentu
adalah dengan pembentukan endospora. Proses perkembangan yang kompleks ini

sering dimulai sebagai tanggapan terhadap kekurangan gizi. Hal ini memungkinkan
bakteri untuk menghasilkan sel aktif dan sangat tahan untuk melestarikan materi
genetik sel pada saat mengalami tekanan yang ekstrim.
Beberapa jenis bakteri dapat bertahan hidup meskipun kondisi lingkungan kurang
menguntungkan, yaitu dengan membentuk endospora di dalam sel. Endospora
merupakan bentuk bakteri yang tidak aktif (istirahat). Bentuk endospora ada yang
bulat dan ada yang bulat-panjang. Ukuran endospora ada yang lebih kecil atau lebih
besar dan diameter selnya.
Endospora bersifat sedikit impermeabel, sehingga lebih tahan terhadap disinfektan,
kekeringan, sinar, suhu panas, dan suhu dingin. Namun, bila kondisi lingkungan
membaik, maka endospora akan berkecambah menjadi sel vegetatif baru.
Endospora juga dapat terbentuk bila terjadi penumpukan zat-zat sisa metabolisme
hasil ekskresi bakteri yang mengganggu di sekitar sel. Bakteri yang dapat
membentuk endospora sebagian besar adalah golongan bakteri Gram positif.
Contoh bakteri yang dapat membentuk endospora, antara lainBacillus mycoides,
Bacillus anthracis, Bacillus cereus, Bacillus thuringiensis (patogen pada
serangga), Clostridium perfringens (menyebabkan keracunan makanan), Clostridium
botulinum, dan Clostridium tetani.

Struktur endospora
Ketahanan suatu endospora dapat dijelaskan sebagian oleh struktur selular yang
unik. Lapisan protein luar sekitar spora menyediakan banyak bahan kimia dan
ketahanan enzimatik. Di bawah mantel ini berada lapisan yang sangat tebal
peptidoglikan khusus yang disebut korteks. Pembentukan korteks yang tepat
diperlukan untuk dehidrasi dari inti spora, yang membantu dalam ketahanan
terhadap suhu tinggi. Sebuah dinding sel germinal berada di bawah korteks. Lapisan
peptidoglikan akan menjadi dinding sel bakteri setelah endospora berkecambah.
Membran bagian dalam, di bawah dinding sel germinal, merupakan penghalang
dengan permeabilitas besar terhadap beberapa bahan kimia yang berpotensi
merusak. Pusat endospora itu, inti, ada dalam keadaan yang sangat dehidrasi dan
rumah DNA sel, ribosom dan sejumlah besar asam dipicolinic. Kimiawi-endospora
khusus ini dapat terdiri dari hingga 10% dari berat kering spora dan tampaknya
memainkan peran dalam mempertahankan dormansi spora. Protein kecil (SASPs)
juga hanya ditemukan di endospora. Protein ini mengikat erat dan memadatkan
DNA, dan sebagian bertanggung jawab untuk ketahanan terhadap sinar UV dan
bahan kimia yang merusak DNA. Struktur dan bahan kimia yang terkait dengan
endospora yang spesifik tiap spesies lainnya termasuk batang, kristal toksin, atau
lapisan glikoprotein luar tambahan yang disebut dengan exosporium.
by Sridianti

http://www.sridianti.com/pertahanan-bakteri-pada-lingkungan-yang-buruk.html
Minggu, 19 Februari 2012

BAKTERI MIKROBIOLOGI DASAR


Dasar-dasar Bakteriologi

Bakteri Ciri ciri, Struktur, Perkembangbiakan, Bentuk


dan Manfaatnya
bakteri
Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar
luas dibandingkan mahluk hidup yang lain .
Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat hingga lautan dan pada
tempat-tempat yang ekstrim.
Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang merugikan. Bakteri
memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan mahluk hidup yang lain. Bakteri
adalah organisme uniselluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki klorofil
dan berukuran renik (mikroskopis).
Ciri-ciri Bakteri
Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannnya dengan mahluk hidup lain
yaitu :
1. Organisme multiselluler
2. Prokariot (tidak memiliki membran inti sel )
3. Umumnya tidak memiliki klorofil
4. Memiliki ukuran tubuh yang bervariasi antara 0,12 s/d ratusan mikron
umumnya memiliki ukuran rata-rata 1 s/d 5 mikron.
5. Memiliki bentuk tubuh yang beraneka ragam
6. Hidup bebas atau parasit
7. Yang hidup di lingkungan ekstrim seperti pada mata air panas,kawah atau
gambut dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan
8. Yang hidupnya kosmopolit diberbagai lingkungan dinding selnya mengandung
peptidoglikan
Struktur Bakteri
Struktur bakteri terbagi menjadi dua yaitu:
1. Struktur dasar (dimiliki oleh hampir semua jenis bakteri)
Meliputi: dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan granula
penyimpanan
2. Struktur tambahan (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu)
Meliputi kapsul, flagelum, pilus, fimbria, klorosom, Vakuola gas dan endospora.

Struktur dasar sel bakteri


struktur-bakteri1
Struktur dasar bakteri :
1. Dinding sel tersusun dari peptidoglikan yaitu gabungan protein dan
polisakarida (ketebalan peptidoglikan melbagi bakteri menjadi bakteri gram
positif bila peptidoglikannya tebal dan bakteri gram negatif bila peptidoglikannya
tipis).
2. Membran plasma adalah membran yang menyelubungi sitoplasma tersusun
atas lapisan fosfolipid dan protein.
3. Sitoplasma adalah cairan sel.
4. Ribosom adalah organel yang tersebar dalam sitoplasma, tersusun atas
protein dan RNA.
5. Granula penyimpanan, karena bakteri menyimpan cadangan makanan yang
dibutuhkan.
granula
Struktur tambahan bakteri :
1. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri
tertentu, bila
lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir.
Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air.
2. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang
menonjol dari dinding sel.
3. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang
menonjol dari dinding sel, pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek, kaku
dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada
bakteri gram negatif. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek
daripada pilus.
4. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan
mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis.
Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis.
5. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis.
6. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram
positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi
kehidupan bakteri. Endospora mengandung sedikit sitoplasma, materi genetik,
dan ribosom. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan
menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan, radiasi cahaya, suhu tinggi
dan zat kimia. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh
menjadi sel bakteri baru.

Bentuk Bakteri
Bentuk dasar bakteri terdiri atas bentuk bulat (kokus), batang (basil),dan spiral
(spirilia) serta terdapat bentuk antara kokus dan basil yang disebut kokobasil.
Berbagai macam bentuk bakteri :
1. Bakteri Kokus :

kokus
a. Monokokus
yaitu berupa sel bakteri kokus tunggal
b. Diplokokus
yaitu dua sel bakteri kokus berdempetan
c. Tetrakokus yaitu empat sel bakteri kokus berdempetan berbentuk segi empat.
d. Sarkina yaitu delapan sel bakteri kokus berdempetan membentuk kubus
e. Streptokokus yaitu lebih dari empat sel bakteri kokus berdempetan
membentuk rantai.
f. Stapilokokus yaitu lebih dari empat sel bakteri kokus berdempetan seperti
buah anggur
2. Bakteri Basil :
basil
a. Monobasil
yaitu berupa sel bakteri basil tunggal
b. Diplobasil yaitu berupa dua sel bakteri
basil berdempetan
c. Streptobasil yaitu beberapa sel bakteri basil berdempetan membentuk rantai
3. Bakteri Spirilia :
spirilia
a. Spiral yaitu bentuk sel bergelombang
b. Spiroseta yaitu bentuk sel seperti sekrup
c. Vibrio yaitu bentuk sel seperti tanda baca koma
Alat Gerak Bakteri
Alat gerak pada bakteri berupa flagellum atau bulu cambuk adalah struktur
berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. Flagellum
memungkinkan bakteri bergerak menuju kondisi lingkungan yang
menguntungkan dan menghindar dari lingkungan yang merugikan bagi
kehidupannya.

Flagellum memiliki jumlah yang berbeda-beda pada bakteri dan letak yang
berbeda-beda pula yaitu
1.
2.
3.
4.

Monotrik : bila hanya berjumlah satu


Lofotrik : bila banyak flagellum disatu sisi
Amfitrik : bila banyak flagellum dikedua ujung
Peritrik : bila tersebar diseluruh permukaan sel bakteri

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bakteri


Pertumbuhan pada bakteri mempunyai arti perbanyakan sel dan peningkatan
ukuran populasi.
Faktorfaktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri atau kondisi untuk
pertumbuhan optimum adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Suhu
Derajat keasaman atau pH
Konsentrasi garam
Sumber nutrisi
Zat-zat sisa metabolisme
Zat kimia

Hal tersebut diatas bervariasi menurut spesies bakterinya.


Cara Perkembangbiakan bakteri:
Bakteri umumnya melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual
(vegetatif = tak kawin) dengan membelah diri. Pembelahan sel pada bakteri
adalah pembelahan biner yaitu setiap sel membelah menjadi dua.
Reproduksi bakteri secara seksual yaitu dengan pertukaran materi genetik
dengan bakteri lainnya.
Pertukaran materi genetik disebut rekombinasi genetik atau rekombinasi DNA.
Rekombinasi genetik dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:
1. Transformasi adalah pemindahan sedikit materi genetik, bahkan satu gen saja
dari satu sel bakteri ke sel bakteri yang lainnya.
transformasi
2. Transduksi adalah pemindahan materi genetik satu sel bakteri ke sel bakteri
lainnnya dengan perantaraan organisme yang lain yaitu bakteriofage (virus
bakteri).
transduksi
3. Konjugasi adalah pemindahan materi genetik berupa plasmid secara langsung
melalui kontak sel dengan membentuk struktur seperti jembatan diantara dua
sel bakteri yang berdekatan. Umumnya terjadi pada bakteri gram negatif.
konjugasi

Peranan Bakteri
Dalam kehidupan manusia bakteri mempunyai peranan yang menguntungkan
maupun yang merugikan.
Bakteri yang menguntungkan adalah sebagai berikut :
1. Pembusukan (penguraian sisa-sisa mahluk hidup contohnya Escherichia colie).
2. Pembuatan makanan dan minuman hasil fermentasi contohnya Acetobacter
pada pembuatan asam cuka, Lactobacillus bulgaricus pada pembuatan yoghurt,
Acetobacter xylinum pada pembuatan nata de coco dan Lactobacillus casei pada
pembuatan keju yoghurt.
3. Berperan dalam siklus nitrogen sebagai bakteri pengikat nitrogen yaitu
Rhizobium leguminosarum yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman
kacang-kacangan dan Azotobacter chlorococcum.
4. Penyubur tanah contohnya Nitrosococcus dan Nitrosomonas yang berperan
dalam proses nitrifikasi menghasilkan ion nitrat yang dibutuhkan tanaman.
5. Penghasil antibiotik contohnya adalah Bacillus polymyxa (penghasil antibiotik
polimiksin B untuk pengobatan infeksi bakteri gram negatif, Bacillus subtilis
penghasil antibioti untuk pengobatan infeksi bakteri gram positif,Streptomyces
griseus penghasil antibiotik streptomisin untuk pengobatan bakteri gram negatif
termasuk bakteri penyebab TBC dan Streptomyces rimosus penghasil antibiotik
terasiklin untuk berbagai bakteri.
6. Pembuatan zat kimia misalnya aseton dan butanol oleh Clostridium
acetobutylicum
7. Berperan dalam proses pembusukan sampah dan kotoran hewan sehinggga
menghasilkan energi alternatif metana berupa biogas. Contohnya
methanobacterium
8. Penelitian rekayasa genetika dalam berbagai bidang.sebagai contoh dalam
bidang kedokteran dihasilkan obat-obatan dan produk kimia bermanfaat yang
disintesis oleh bakteri, misalnya enzim, vitamin dan hormon.
Bakteri yang merugikan sebagai berikut :
1. Pembusukan makanan contohnya Clostridium botulinum
2. Penyebab penyakit pada manusia contohnya Mycobacterium tuberculosis
( penyebab penyakit TBC ), Vibrio cholerae ( penyebab kolera atau muntaber ),
Clostridium tetani (penyebab penyakit tetanus ) dan Mycobacterium leprae
(penyebab penyakit lepra )
3. Penyebab penyakit pada hewan contohnya Bacilluc antrachis (penyebab
penyakit antraks pada sapi )
4. Penyebab penyakit pada tanaman budidaya contohnya Pseudomonas
solanacearum (penyebab penyakit pada tanaman tomat, lombok, terung dan
tembakau) serta Agrobacterium tumafaciens (penyebab tumor pada tumbuhan)
Struktur Bakteri

Struktur bakteri menjelaskan tentang tindakan antibiotik tertentu, tetapi juga menjelaskan tentang
kapasitas bakteri dalam mempertahankan diri.

Dinding Sel
Semua bakteri memiliki dinding sel kecuali bakteri berbentuk mikoplasma dan bakteri berbentuk L
(bakteri yang terdegradasi). Dinding sel adalah suatu struktur berbentuk kaku yang diberikan untuk
pembentukan bakteri, suatu struktur penting pada dunia bakteri, terdiri dari peptidoglikan (murein).
Komposisinya berbeda tergantung apakah bakteri tersebut adalah bakteri berkomposisi GRAM(+)
atau GRAM(-).
Peptidoglikan
Merupakan struktur heteropolimer dengan rantai polisakarida yang berkait satu sama lain ; alternasi N
asetilglukosamin dan asam N asetilmuramat (senyawa khusus pada dunia bakteri): turunan senyawa
kimia N asetilglukosamin.
Rantai polisakarida berhubungan satu sama lain dengan peptida, hubungan langsung dari satu rantai
ke rantai lainnya atau hubungan tidak langsung melalui peptida lainnya.
Rantai tersebut adalah tetrapeptida, terhubung di satu sisi dengan asam muramik melalui jembatan
interpeptida. Komposisi rantai tetrapeptida adalah variabel dengan asam amino rantai tingkat ke-3,
terdiri dari jembatan yang umum terbentuk dengan tipe asam aminonya sendiri (Staphylococus
Aureus : glisin).
Peptidoglikan memiliki fungsi yang berbeda:

Peptidoglikan memungkinkan bakteri mempertahankan bentuknya.


Peptidoglikan memungkinkan menahan tekanan osmotik perlawanan sampai 20
atmosfir.

Merupakan antigen, memungkinkan pembentukan Ig pada manusia.

Karena sensitif, peptidoglikan hanya untuk disinfektan berbasis fenol.

Stimulator imunitas/daya tahan tubuh berperan sebagai adjuvan.

Merupakan substrat dari imunitas yang tidak spesifik, dihancurkan oleh enzim
bakteriofaga dan lisozim tertentu.
Bakteri dengan komposisi GRAM(+)
Bakteri dengan GRAM(+) memiliki dinding sel yang tebal, dengan ukuran dari 30 sampai 50 nm.
Bergantung pada peptidoglikan asam teikoat, yaitu polimer dari ribitol fosfat dan dihubungkan dengan
N asetilglukosamin.
Juga terdiri dari asam lipo-teikoat yang dibentuk oleh gliserol fosfat yang imunogenik, meningkatkan
adhesi dan memiliki aksi toksisitas yang rendah.
Polisakarida memberikan spesifisitas antigen (polisakarida C pneumokokus, atau polisakarida C
streptokokus).
Polisakarida C dapat membedakan jumlah tertentu streptokokus pada kelompok serologi. Yang paling
penting adalah streptokokus ada pada kelompok AA: Aa yang merupakan patogenisitas.
Protein yang berkaitan langsung dengan peptidoglikan, atau dengan asam teikoat. Ion-ion
Ca2+ mendominasi pada ikatan tersebut.
Bakteri dengan komposisi GRAM (-)
Dinding sel bakteri dengan GRAM(-) terdiri dari peptidoglikan dengan ukuran 3 sampai 5 nm (atau
sampai 10 nm) sehingga dinding selnya lebih tipis. Bakteri ini dikelilingi oleh membran luar yang
terpisah dari tubuh bakteri dengan suatu ruang periplasmik, kurang lebihnya hal itu penting.
Membran tersebut mempunyai komposisi kimia kompleks. Terdiri dari bagian dalam fosfolipid dan
bagian luar lipopolisakarida.
Lipopolisakarida termasuk protein yang disebut porin, karena keberadaannya memungkinkan adanya
pori-pori yang berhubungan dengan bagian luar sitoplasma bakteri.
Melalui pori-pori memungkinkan adanya pergerakan elemen nutrisi dan antibiotik.
Permeabilitas pori-pori merupakan variabel yang selektif. Bagian tertentu yang lebih permeabel dari
yang lainnya, adalah yang menjelaskan reaksi bakteri terhadap antibiotik.
Kasus khusus
Mikobakteri memiliki afinitas teintoriale yang tergantung pada struktur dinding sel. Pada kasus ini
mengandung lipid 60 % yang terdiri dari asam mikolat dan gejala malam. Lipid tersebut terhubung
oleh polisakarida kompleks dan protein.

Protoplas merupakan bakteri dengan GRAM (+) dimana hanya terdiri dari peptidoglikan. Bakteri
berbentuk bulat, hanya hidup pada media hipertonik (sesuai dengan tekanan internal). Protoplas tidak
dapat membagi dirinya sendiri. Protoplas terjadi setelah adanya suatu pengobatan terhadap
antibiotik.
Sferoplas dengan bentuk L merupakan bakteri dengan GRAM(-). Dinding sel-nya masih ada pada
beberapa bagian yang rusak akibat antibiotik, seperti penisilin. Sferoplas dapat berkembang biak
pada media tertentu. Pada saat kita mengeluarkan antibiotik, sferoplas membentuk kembali inisialnya.
Mikoplasma tidak memiliki dinding sel.
Sifat-sifat dinding sel
Dinding sel dapat memberikan pewarnaan pada GRAM.
Dinding sel dapat mendukung antigenisitas.
Dinding sel dapat memberikan bentuk pada bakteri.
Dinding sel sensitif terhadap enzim-enzim tertentu.
Merupakan reseptor bakteriofaga.
Sensifitasnya pada beberapa antibiotik dapat mengganggu perkembangbiakan bakteri.
Perkembangbiakan bakteri sangat cepat. Bakteri E.coli dapat menghasilkan dua sel anak dalam 20
menit. Sebelum membelah, bakteri harus menaikkan volume selama multiplikasi ganda massa nya.
Pada proses ini, bakteri tersebut menghancurkan dinding sel yang kaku, mengeluarkan autolisin,
bertindak pada tingkatan beberapa ikatan kimia dari peptidoglikan. Pada saat bersamaan pada
proses penghancuran, bakteri tersebut merekonstruksi dirinya sendiri berkat peptida yang
memungkinkan fusi peptida.
Beta laktam bertindak di jembatan interpeptida pada dinding sel, mengikat protein, menciptakan
dinding sel tipis, kemudian meledak, sehingga dapat membunuh bakteri. Dapat kita sebut PLP,
protein yang terhubung dengan beta laktam.
Membran sitoplasma
Adalah membran trilaminar, dengan dua lapisan fosfolipid yang kutub hidrofob-nya saling
berhadapan. Diantara lipid, terdapat protein. Tidak ada kolesterol, kecuali pada mikoplasma.
Untuk meningkatkan tindakannya, membran sitoplasma mengirimkan sitoplasma bakteri dalam
ekspansi membran nya sendiri yang disebut mesosom sehingga dapat meningkatkan fungsi dari
membran. Mesosom adalah hal umum pada bakteri. GRAM(+), dimana dapat menemukan sampai
tiga mesosom. Pada kondisi umum, dua mesosom untuk GRAM (-).
Adalah suatu penghalang osmotik, dapat memungkinkan transfer pasif tetapi dimana ada
perembesan, memungkinkan adanya tekanan aktif dari asam amino atau ion-ion mineral.
Banyaknya enzim pada membran yang digunakan dalam metabolisme energetik, mempunyai peran
identik dengan mitokondria dalam sel-sel eukariotik (sering pada tingkatan atau lokasi sitokrom dan
sitokrom oksidasi). Adalah suatu dampak utama pada substansi antimikroba seperti fenol.
Membran mempunyai suatu peran dalam pembelahan sel. Berkat mesosom yang dapat membentuk
hubungan geografis antara membran dengan bahan inti, memungkinkan induksi pembelahan bakteri
menjadi bahan inti, melalui membran lalu ke dinding sel. Ini merupakan pembagian dengan fisi.
Dengan mikroskop elektron dimulai dengan invaginasi membran (pembelahan mesosom). Pada
membran yang membelah kemudian menjadi menempel pada dinding sel. Mesosom dan dinding sel
membentuk suatu septum pembelahan.
Pada saat septum selesai, seperti bahan inti, membelah menjadi 2 anak sel yang identik dengan ibu
bakteri. Pembelahan seperti pada bahan inti, tetapi sulit untuk diamati.
Sitoplasma
Terdiri dari hidrogen koloid.
Terdiri dari protein, glusida, lipid, ion mineral seperti Ca2+, Mg2+, P.
Terdiri dari beberapa pigmen warna yang berbeda :
.Merah pada serratia.
.Biru pada pyocianin.
Pigmen-pigmen tersebut larut dan menyebar pada organisme.
Sitoplasma bekteri mengandung vakuola cadangan yang memberikan nutrisi pada bakteri pada saat
bakteri berpuasa.

RNA : ada 15000 ribosom/bakteri yang mewakili 40% berat badan bakteri dari 90% total RNA.
Ribosom terdiri dari dua sub unit, 50 dan 30S.
Terkadang sitoplasma terdiri dari granulasi/butiran tertentu yang dapat megidentifikasi bakteri seperti
pada kasus basil difteri.
Bahan inti
Pada bakteri yang beristirahat, ada bagian massa yang kecil bulat terletak di tengah. Pada basil,
bentuknya memanjang. Bahan inti tidak memiliki membran, bahan mitosis, nukleolus. Berbentuk fibril,
mempunyai DNA dan protein dasar. Fibril mempunyai diameter 2 sampai 8 nm. DNA double-stranded,
telanjang, berukuran panjang 1 mm pada bakteri E. coli.
DNA bakteri mempunyai suatu bagian pusat dengan lingkaran penuh : kaki-kaki yang dibentuk RNA.
DNA superkoil, dan pada DNA-nya terdapat banyak protein.
Adalah pendukung apa saja yang dimiliki bakteri, dan juga pendukung mutasi; pada tingkatannya
yang melakukan kombinasi ulang genetik. Dan juga merupakan tempat beraksinya beberapa
antibiotik tertentu, khususnya quinolon, rifamycin.
Plasmid
Adalah DNA sirkular, di bagian luar bahan inti. Yang terkadang mengatur ketahanan terhadap
antibiotik. Juga merupakan sumber dari resistansi antibakteri, berkat sekresi bakteriosin. Terdiri dari
plasmid-plasmid yang tahan terhadap antiseptik.
Kapsul bakteri
Ada pada bakteri patogen, bisa mempunyai lapisan lendir tipis ataupun tebal. Strukturnya terdiri dari
polisakarida dengan satu atau dua jenis dari gula.
Untuk membedakan spesies bakteri, bakteri mengeluarkan bentuk kapsul tertentu yang bertanggung
jawab terhadap keberadaan berbagai serotipe yang berbeda (pneumokokus,hemophilus influenzae).
Vaksin terhadap penyakit harus memberikan serotipe yang berbeda pada masing-masing negara.
Kapsul dapat berarti polipeptida seperti pada bacillus anthracis.
Kapsul tidak berada pada produksi patogen, dan menghilang pada saat pembudidayaan-nya di
laboratorium. Menempatkan koloni bakteri pada bentuk halus, mempunyai bentuk kasar (Smooth>Rough). S sebagai pathogen, R tidak.
Sifat kapsul :

Melindungi bakteri dari lingkungan-nya sendiri dan mencegah masuknya zat


antibakteri.

Memungkinkan klasifikasi, dengan memberikan warna pada latar belakang bakteri


dengan tinta cina.

Mempunyai peran pada patogenesis dan perlindungan terhadap PN.


Mempunyai peran imunologi dalam penggunaan nya pada vaksinasi tetapi
mempunyai peran lemah dalam imunogenik sehingga harus menambahkan elemen pada
vaksin adjuvan.
Selama masa infeksi, kapsul diletakkan bebas pada media organik dan dapat diberikan antigen di
dalamnya.
Flagelum
Adalah elemen lokomotor, flagelum hanya terdapat pada spesies basil, vibrio atau spiroseta.
Adalah elemen berbentuk tabung cambuk dan berliku-liku dengan diameter dari 10 sampai 20 nm dan
dengan panjang 20. Hal ini hanya dipunyai oleh sebuah (vibrio), dan juga berada di keseluruhan
sekeliling (basil e. coli).
Flagelum dikomposisikan dari suatu protein flagelin yang berukuran 40000 dalton.
Flagelum melekat di tubuh bakteri pada sebuah granula.
Peran:
Digunakan dalam mobilitas bakteri, pada klasifikasi, dan berperan pada imunologi: AG H pada
gerakan bakteri tertentu GRAM (-) seperti (Salmonella).
Pada kasus demam tifoid, kita dapat mencari AC H yang terbentuk.

Pilus

Bentuk umum: berbentuk pendek, kaku. Terbentuk dari protein dan mempunyai
peran dalam fiksasi bakteri dan kolonisasi. Memungkinkan bakteri untuk mengikat pada
reseptor tertentu.
Seksual: dari 1 sampai 4, pilus berbentuk lebih besar, dan disebut dengan faktor F.
Spora
Hanya ada pada beberapa golongan bakteri berbentuk basil.
Dapat berada pada kondisi yang tidak menguntungkan: kondisi dingin, kondisi panas, dapat bertahan
pada temperatur sampai 120C selama 45 menit, kondisi ini sangat menentukan pentingnya daya
sterilisasi autoklaf.
Dapat sebagai pusat dalam bakteri Bacillus anthracis, di salah satu ujung (Clostridium), atau terminal
(Clostridium tetani).
Peran:
Spora yang mengarah pada resistensi bakteri, adalah suatu elemen klasifikasi bakteri. Berfungsi
sebagai kontrol sterilisasi.
PERAN BAKTERI DALAM PATOGENESIS PENYAKIT PERIODONTAL
Penyakit periodontal dapat didefenisikan sebagai proses patologis yang mengenai jaringan
periodontal.2 Bentuk umum dari penyakit ini dikenal sebagai gingivitis dan periodontitis. 5 Penyebab
utama penyakit periodontal adalah bakteri. 2,3 Dalam bab ini akan dibahas bakteri-bakteri patogen yang
terlibat dan berbagai cara bakteri dalam menyebabkan penyakit periodontal.
2.1. Jenis-jenis Bakteri pada Penyakit Periodontal
Lebih dari 400 spesies bakteri teridentifikasi pada plak subgingiva. 6 Bakteri yang terlibat sebagai
patogen pada penyakit periodontal didominasi spesies bakteri gram negatif dan anaerob. 5
Tabel 1. Spesies bakteri yang terlibat sebagai patogen pada
periodontitis (Lamont RJ, Lantz MS, Burne RA,
LeBlanc DJ, Washington DC:ASM Press, 2006:256)
Spesies gram negatif anaerob
Porphyromonas gingivalis
Tannerella forsythia
Fusobacterium nucleatum
Prevotella intermedia dan P. nigrescens
Campylobacter rectus
Treponema denticola dan Spirokheta yang lain
Spesies gram negatif fakultatif
Actinobaccilus actinomycetemcomitas
Eikonella corrodens
Spesies gram positif anaerob

Eubacterium nodatum
Peptostreptococcus micros
Streptococcus intermedia

http://kisahkudika.blogspot.com/2012/02/bakteri-mikrobiologi-dasar.html

MAKALAH MIKROBIOLOGI Bakteri


Oleh : Adib Fauzan Dkk. H0712004 Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS

I. PENDAHULUAN

Bakteri adalah suatu organisme yang jumlahnya paling banyak dan tersebar luas
dibandingkan dengan organisme lainnya di bumi. Bakteri umumnya merupakan organisme uniseluler
(bersel tunggal), prokariota/prokariot, tidak mengandung klorofil, serta berukuran mikroskopik
(sangat kecil).
Bakteri berasal dari kata bahasa latin yaitu bacterium. Bakteri memiliki jumlah spesies
mencapai ratusan ribu atau bahkan lebih. Mereka ada di mana-mana mulai dari di tanah, di air, di
organisme lain, dan lain-lain juga berada di lingkungan yang ramah maupun yang ekstrim.

Dalam tumbuh kembang bakteri baik melalui peningkatan jumlah maupun


penambahan jumlah sel sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni seperti
ph, suhu temperatur, kandungan garam, sumber nutrisi, zat kimia dan zat sisa
metabolisme. Ciri-Ciri Bakteri antara lain : umumnya tidak berklorofil, hidupnya
bebas atau sebagai parasit / pathogen, bentuknya beraneka ragam, memiliki
ukuran yang kecil rata-rata 1 s/d 5 mikron, tidak mempunyai membran inti sel /
prokariot,kebanyakan Uniseluler (memiliki satu sel), bakteri di lingkungan
ekstrim dinding sel tidak mengandung peptidoglikan, sedangkan yang
kosmopolit mengandung peptidoglikan

II. PEMBAHASAN
A. Bakteri Menguntungkan
1. Rhizobium leguminosarum
a. Ciri-ciri
-

Rhizobium leguminosarum merupakan bakteri


aerob,organotrof,tidak berspora,plomorf dan

gram

negative

bersifat

Umumnya ditemukan pada nodul akar tanaman leguminosae dan penambat


nitrogen yang hidup di dalam tanah dan berasosiasi simbiotik dengan sel akar
legume

Rhizobium leguminosarum adalah bakteri yang bersifat aerob, bentuk batang


bulat memanjang, koloninya berwarna putih berbentuk sirkular.

Bersifat host spesifik satu spesies Rhizobium leguminosarum cenderung


membentuk nodul akar pada satu spesies tanaman legume saja.
b. Manfaat
Berperan dalam siklus nitrogen sebagai bakteri pengikat nitrogen yaitu
Rhizobium leguminosarum yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman
kacang-kacangan
2.

Azetobacter chlorococcum

a.

Ciri-ciri

- azetobacter chlorococcum termasuk dalam golongan Azotobacteraceae dimana


sel berukuran besar dengan diameter 2-4 m atau lebih dan berbentuk batang.
- hidup bebas di dalam tanah biasanya polimorfik.
- Azotobacter merupakan bakteri Gram negatif, aerob obligat bergerak dengan
flagel peritrik, dan bersifat katalase positif. Kisaran pH untuk pertumbuhan
dengan adanya nitrogen tambahan adalah 4,5-8,5 sedangkan pH optimal untuk
pertumbuhan dan pengikatan nitrogen adalah 7-7,5.
- memiliki pigmen hitam-coklat
b.

Manfaat

Bakteri dari famili Azotobacteraceae merupakan bakteri yang berperan dalam


bakteri fiksasi nitrogen yang hidup bebas.
3. Lactobacillus bulgaricus
a. Ciri-ciri

Warna koloni putih susu atau agak krem, bentuk koloni bulat dengan tepian
seperti wol.

Sel berbentuk batang dan biasanya tetap, berukuran 0,5-1,2 x 1,010,0m. Mereka biasanya berbentuk batang panjang tapi kadang-kadang hampir
bulat, biasanya bentuk rantai yang pendek,

Termasuk bakteri gram positif, tidak motil, oksidase positif, katalase negatif,
metil red positif, optimum pada suhu 30-370C dan tumbuh baik pada NaCl 3-7%.
b. Manfaat

Bakteri Lactobacillus bulgaricus Dimanfaatkan untuk proses pembuatan


susu yogurt
B. Bakteri Merugikan

1. Xanthomonas campestris
a. Ciri-ciri
Bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae dye. berbentuk batang pendek
m, di ujungnya mempunyai satu flagela polar berukuran (1-2) x (0,8-1) m dan
berfungsi sebagai alat bergerak. Bakteri ini berukuran 6-8 bersifat aerob, gram
negatif dan tidak membentuk spora. Di atas media PDA bakteri ini membentuk
koloni bulat cembung yang berwarna kuning keputihan sampai kuning kecoklatan
dan mempunyai permukaan yang licin
b. Kerugian
Bakteri Xanthomonas campestris penyebab penyakit hawar daun bakteri
khususnya pada tanaman padi
2. Pseudomonas solanacearum
a. Ciri-ciri
Pseudomonas solanacearum merupakan bakteri
hidrokarbonoklastikyang
mampu mendegradasi berbagai jenis hidrokarbon. Terangkut oleh air , melalui
tanah dan alat-alat pertanian yang digunakan serta bibit yang di gunakan bila
mengandung penyakit dapat juga menular kannya. Menginfeksi bagian-bagian
tanaman yang utuh yang berada dalam tanah dan proses infeksinya akan lebih
cepat
terutama
pada
bagian-bagian
tanaman
yang
terluka. Bakteri Pseudomonas solanacearum merupakan penghuni tanah tetap
(Soil inhabitat) atau lingkungan air tawar dan air laut. Menginfeksi bagian
tanaman yang utuh terlebih pada bagian yang luka akibat serangan nematode.
b.

Kerugian

Bakteri Pseudomonas solanacearum menyebabkan penyakit layu bakteri


pada tanaman tomat.
3.

Pseudomonas cattleyae
a. Ciri-ciri

Termasuk dalam bakteri Gram-negatif. Batang pendek bergerak dan


stasioner dari 1 sampai 3 mikron panjang dan ekstrem bulat. Bakteri aerobik,
tidak membentuk spora dan menghasilkan asam tetapi bukan gas dalam
glukosa, levulosa, sukrosa, manitol dan dulcitol. Pertumbuhan in vitro diperoleh
pada 10-45 oC.
b. Kerugian
Bakteri ini menyebabkan bercak cokelat pada tanaman anggrek

III. KESIMPULAN

Bakteri tidak berklorofil dan hidupnya bebas atau sebagai parasit /


pathogen.Bakteri di lingkungan ekstrim dinding sel tidak mengandung
peptidoglikan. Terdapat bakteri yang menguntungkan dan merugikan. Rhizobium
leguminosarum,Azetobacter chlorococcum, Lactobacillus bulgaricus merupakan
bakteri
menguntungkan. Xanthomonas
campestris, Pseudomonas
solanacearum merupakan bakteri yang merugikan.

DAFTAR PUSTAKA

Sutedjo. 1991. Mikrobiologi Tanah. Rineka Cipta: Jakarta.


Pelczar, M dan E. C. S. Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. UI Press: Jakarta.
Insaniyah, Siti A. 2009. Laporan Praktikum Mikrobiologi
Bandung: Jurusan Pendidikan Biologi UIN Bandung

Media

Biakan

Bakteri.

Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Papas Sinar Sinanti

Posted by Adib Fauzan at 9/24/2014 02:02:00 AM

http://adibfauzanh0712004.blogspot.com/2014/09/makalah-mikrobiologibakteri.html

Sunday, September 7, 2014

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI


PANGAN PENGARUH PEMANASAN
TERHADAP MIKROBA
LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI PANGAN

ACARA III
PENGARUH PEMANASAN TERHADAP MIKROBA

KELOMPOK 1
Penanggung jawab:
Fika Puspita

(A1M012001)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO

2014

I.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dalam pertumbuhannya setiap makhluk hidup membutuhkan
nutrisi yang mencukupi serta kondisi lingkungan yang mendukung demi
proses pertumbuhan tersebut, termasuk juga bakteri. Pertumbuhan
bakteri pada umumnya akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Pengaruh faktor ini akan memberikan gambaran yang memperlihatkan
peningkatan jumlah sel yang berbeda dan pada akhirnya memberikan
gambaran pula terhadap kurva pertumbuhannya. Faktor temperatur
merupakan

faktor

lingkungan

terpenting

yang

mempengaruhi

peertumbuhan dan kehidupan mikroba karena enzim yang menjalankan


metabolisme

sangat

peka

terhadap

temperatur.

Berdasarkan

temperatur minimum, optimum dan maksimum yang dimiliki mikrobia


digolongkan ke dalam tiga kelompok yaitu mikrobia psikrofil, mikrobia
mesofil, dan mikrobia termofil (Suharni, 2009)
Bakteri

termasuk

jasad

renik

yang

mempunyai

kemampuan

sangat baik untuk bertahan hidup. Bakteri merupakan mikroba yang


mengalami pertumbuhan yang cepat ditandai dengan pertumbuhan
dengan membentuk semacam koloni. Waktu generasi pada setiap
bakteri tidak sama, ada yang hanya memerlukan 20 menit bahkan ada
yang memerlukan sampai berjam-jam atau berhari-hari
Dari

sudut

yang

berbeda Mikroorganisme

bermanfaat dan banyak pula yang merusak


manusia,

termasuk

dalam

dunia

pertanian.

dan
Hal

banyak

yang

membahayakan
ini tampak

pada

kemampuannya untuk membantu tumbuhan, menginfeksi tumbuhan


sampai dengan mikroorganisme penghasil racun. Oleh karena itu, perlu
adanya prosedur untuk mengendalikannya agar yang bermanfaat dapat
lebih menguntungkan dan yang merusak tidak merugikan manusia.

Salah
khususnya

satu
pada

upaya

untuk

bahan

mencegah

pangan

pertumbuhan

adalah

dengan

bakteri
metode

pemanasan, Pemanasan yang digunakan untuk membunuh spora pada


bakteri , namun tergantung juga pada bakteri dan ketahanan nya pada
temperature yang berbeda - beda. Untuk itu praktikum pengaruh
pemanasan terhadap mikroba ini perlu dilakukan.

Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh
pemanasan (suhu tinggi) terhadap kematian mikroba.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Mikroba (Bakteri)
Mikroba adalah organisme berukuran mikroskopis yang
antara lain terdiri dari bakteri, fungi dan virus. Bakteri
berkembang biak secara aseksual yaitu dengan pembelahan
diri menjadi dua (binary fission) dan secara konyugasi. Sel-sel
akan memanjang dan apabila sudah mencapai dua kali ukuran
normal akan membelah di bagian tengah menjadi dua sel yang
selanjutnya akan mengalami pembelahan. Seksual yaitu
pertukaran materi genetik dengan bakteri lainnya. Pertukaran
materi genetik disebut rekomendasi genetik atau rekomendasi
DNA. Rekombinasi genetik menghasilkan dua sel bakteri yang
masing-masing memiliki kombinasi materi genetik dari dua sel
induk. Rekombinasi dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu :
Transformasi, Transduksi dan Konyugasi

Transformasi adalah pemindahan sedikit materi genetik


bahkan satu gen saja dari satu sel bakteri ke sel bakteri yang
lainnya Streptococcus pneumonia; Neiseeria gonorrhoeae;
Bacillus dan Rhizobium.

Transduksi adalah pemindahan sedikit materi genetik satu


sel bakteri ke bakteri lainnya dengan perantara organisme
lainnya yaitu bacteriophage.

Konyugasi : terjadi penggabungan gen antara dua sel. Sel


bakteri mempunyai plasmid yang membawa gen disebut faktor
sek,

memberikan

gen

tersebut kepada sel

yang

tidak

mempunyai faktor sek. Faktor sek tersebut diberikan melalui


jembatan

sitoplasma

yang

terbentuk

diantara

dua

sel.

Jembatan sitoplasma yang menghubungkan dua sel itu

disebut pili sek. Jenis kelamin bakteri tidak dapat ditentukan,


hanya saja bakteri yang memberikan DNA disebut jantan dan
sebaliknya bakteri penerima DNA disebut betina.

Pertumbuhan mikroba
Pertumbuhan mikroba umumnya sangat tergantung dan
dipengaruhi

oleh

faktor

lingkungan,

perubahan

faktor

lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi


dan fisiologi. Hal ini dikarenakan, mikroba selain menyediakan
nutrient yang sesuai untuk kultivasinya, juga diperlukan faktor
lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan optimumnya.
Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya,
tetapi juga menunjukkan respon yang berbeda-beda. Untuk
berhasilnya kultivasi berbagai tipe mikroba.
Pertumbuhan didefiniskkan sebagai penambahan jumlah
sel atau biomassa yang berurutan dan teratur seiring dengan
waktu.

Pertumbuhan

meliputi

jumlah

sel,

berat

kering,

kandungan protein, kandungan asam nukleat, dan sebagainya.


Nutrisi yang tersedia untuk kultivasi mikroba harus di dukung
oleh kondisi fisik yang menghasilkan pertumbuhan optimum.
Proses pertumbuhan bergantung pada reaksi kimiawi dan
karena laju reaksi-reaksi ini dipengaruhi oleh suhu, maka pola
pertumbuhan bakteri tentunya juga dipengaruhi oleh suhu.
Selain itu suhu juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan
jumlah total pertumbuhan organisme (Pelczar & Chan, 1986).
Beberapa faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan
mikroorganisme meliputi suplai zat gizi, waktu, suhu, air, pH
dan

tersedianya

oksigen

(Buckle,

1985).

Kemampuan

mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan


suatu hal yang penting untuk diketahui. Pengetahuan tentang
faktor-faktor

yang

mempengaruhi

pertumbuhan

mikroba

sangat penting di dalam mengendalikan mikroba.


Berikut ini faktor-faktor penting yang mempengaruhi
pertumbuhan mikroba yaitu diantaranya :
1.

Air
Semua organisme membutuhkan air untuk kehidupannya.
Air berperan dalam reaksi metabolik dalam sel dan merupakan
alat pengangkut zat gizi ke dalam sel atau hasil metabolit ke
luar sel. Semua kegiatan ini membutuhkan air dalam bentuk
cair dan apabila air tersebut mengalami kristalisasi dan
membentuk es atau terikat secara kimiawi dalam larutan gula
atau garam, maka air tersebut tidak dapat digunakan oleh
mikroorganisme.

Pengaruh

air

terhadap

pertumbuhan

mikroorganisme dinyatakan sebagai aktivitas air (Aw), yaitu


jumlah air bebas yang tersedia dan dapat digunakan untuk
pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan makanan. Jenis
mikroorganisme yang berbeda membutuhkan jumlah air yang
berbeda untuk pertumbuhannya.
Kebanyakan

bakteri

dapat

hidup

pada

Aw

>0.90,

sedangkan kebanyakan kapang dan khamir berturut-turut


dapat hidup pada Aw >0.70 dan Aw >0.80. Pada Aw yang
rendah,

mikroorganisme

mikroorganisme

akan

akan

berdifusi

mati
ke

karena
luar

sel-sel

sebagai

di

akibat

terjadinya proses kesetimbangan osmotik. Dengan kata lain,


selama konsentrasi solut di luar sel lebih besar dibanding di
dalam

sel,

maka

migrasi

air

akan

terjadi

untuk

menyeimbangkan konsentrasi. Migrasi air dari dalam sel


menyebabkan sel mati disebabkan oleh dehidrasi.
2.

Suplai Nutrisi
Mikroba
memerlukan

sama
suplai

dengan
nutrisi

makhluk

sebagai

hidup

sumber

lainnya,

energi

dan

pertumbuhan selnya. Unsur-unsur dasar tersebut adalah :


karbon, nitrogen, hidrogen, oksigen, sulfur, fosfor, zat besi dan
sejumlah kecil logam lainnya. Ketiadaan atau kekurangan
sumber-sumber nutrisi ini dapat mempengaruhi pertumbuhan
mikroba hingga pada akhirnya dapat menyebabkan kematian.
Kondisi tidak bersih dan higinis pada lingkungan adalah
kondisi yang menyediakan sumber nutrisi bagi pertumbuhan
mikroba sehingga mikroba dapat tumbuh berkembang di
lingkungan seperti ini. Oleh karena itu, prinsip daripada
menciptakan lingkungan bersih dan higinis adalah untuk
mengeliminir dan meminimalisir sumber nutrisi bagi mikroba
agar pertumbuhannya terkendali.
3.

Suhu / Temperatur
Suhu merupakan salah satu faktor penting di dalam
mempengaruhi

dan

pertumbuhan

mikroorganisme.

Berdasarkan hal di atas, maka suhu yang berkaitan dengan


pertumbuhan

mikroorganisme

digolongkan

menjadi

tiga,

yaitu : a. Suhu minimum yaitu suhu yang apabila berada di


bawahnya maka pertumbuhan terhenti. b. Suhu optimum yaitu
suhu dimana pertumbuhan berlangsung paling cepat dan
optimum. (Disebut juga suhu inkubasi). c. Suhu maksimum
yaitu suhu yang apabila berada di atasnya maka pertumbuhan
tidak terjadi.

Sehubungan dengan penggolongan suhu di atas,


maka mikrobadigolongkan menjadi :
Tabel 1 : Penggolongan bakteri menurut suhu
Kelompok

Suhu
Minimum

Suhu
Optimum

Suhu
Maksimum

Psikrofil

- 15o C.

10o C.

20o C.

Psikrotrof

- 1o C.

25o C.

35o C.

Mesofil

5 10o C.

30 37o C.

40o C.

Thermofil

40o C.

45 55o C.

60 80o C.

Thermotrof

15o C.

42 46o C.

50o C.

Berdasarkan ketahanan panas mikroba dikelompokkan menjadi tiga


macam yaitu : a. Peka terhadap panas, apabila semua sel rusak apabila
dipanaskan pada suhu 60oC selama 10-20 menit. b. Tahan terhadap
panas,

apabila

dibutuhkan

suhu

100oC

selama

10

menit

untuk

mematikan sel. c. Thermodurik, dimana dibutuhkan suhu lebih dari


60oC selama 10-20 menit tapi kurang dari 100oC selama 10 menit untuk
mematikan sel.
Psikrofil adalah kelompok mikroba yang dapat tumbuh pada suhu 0-30 o C dengan
suhu optimum sekitar 15oC. Mesofil adalah kelompok mikroba pada umumnya,
mempunyai suhu minimum 15oC suhu optimum 25-37oC dan suhu maksimum 45-55oC.
Mikroba yang tahan hidup pada suhu tinggi dikelompokkan dalam mikroba termofil.
Mikroba ini mempunyai membran sel yang mengandung lipida jenuh, sehingga titik
didihnya tinggi. Selain itu dapat memproduksi protein termasuk enzim yang tidak
terdenaturasi pada suhu tinggi. Di dalam DNA-nya mengandung guanin dan sitosin
dalam jumlah yang relatif besar, sehingga molekul DNA tetap stabil pada suhu tinggi.
Kelompok ini mempunyai suhu minimum 40 o C, optimum pada suhu 55-60o C dan

suhu maksimum untuk pertumbuhannya 75oC. Untuk mikroba yang tidak tumbuh
dibawah suhu 30oC dan mempunyai suhu pertumbuhan optimum pada 60 oC,
dikelompokkan ke dalam mikroba termofil obligat. Untuk mikroba termofil yang dapat
tumbuh dibawah suhu 30oC, dimasukkan kelompok mikroba termofil fakultatif. Bakteri
yang hidup di dalam tanah dan air, umumnya bersifat mesofil, tetapi ada juga yang
dapat hidup diatas 50oC (termotoleran).

Contoh bakteri termotoleran adalah

Methylococcus capsulatus. Contoh bakteri termofil adalah Bacillus, Clostridium,


Sulfolobus, dan bakteri pereduksi sulfat/sulfur. Bakteri yang hidup di laut (fototrof)
dan bakteri besi (Gallionella) termasuk bakteri psikrofil.
4.

Kelembaban Air
Kelembaban sangat penting untuk kehidupan bakteri terutama
karena bakteri hanya dapat mengambil makanan dari luar dalam
bentuk larutan (holophytis). Semua bakteri tumbuh baik pada media
yang basah dan udara yang lembab. Dan tidak dapat tumbuh pada
media yang kering. Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban
optimum.

Pada

umumnya

untuk

pertumbuhan

ragi

dan

bakteri

diperlukan kelembaban yang tinggi diatas 85%, sedang untuk jamur


dan aktinomiset diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80%.
Kadar air bebas didalam larutan merupakan nilai perbandingan antar
tekanan uap air larutan dengan tekanan uap air murni, atau 1 / 100 dari
kelembaban relatif. Nilai kadar air bebas didalam larutan untuk bakteri
pada umumnya terletak diantara 0,90 sampai 0,999 sedang untuk
bakteri halofilik mendekati 0,75.
Banyak mikroorganisme yang
kering

untuk

waktu

yang

lama

tahan hidup
seperti

didalam keadaan

dalam

bentuk

spora,

konidia, arthrospora, kamidiospora dan kista. Seperti halnya dalam


pembekuaan, proses pengeringan protoplasma, menyebabkan kegiatan
metabolisme terhenti.

Pengeringan secara perlahan menyebabkan

kerusakan sel akibat pengaruh tekanan osmosa dan pengaruh lainnya


dengan naiknya kadar zat terlarut.
5.

Keasaman atau Kebasaan (pH)


Setiap

organisme

memiliki

kisaran

pH

masing-masing

dan

memiliki pH optimum yang berbeda-beda. Faktor kimia yaitu pH, setiap


jenis bakteri mempunyai pH lingkungan yang optimal (Neutrofil 6.08.0), minimal (Asidofil 2.0-5.0), dan maksimal (Alkalofil, 8.4-9.5) dalam
kegiatan

fisiologisnya.

Kegiatan

fisiologis

bakteri

berguna

dalam

mempertahankan kelangsungan hidup dan melakukan proses biokimia


yang berkelanjutan. Dimana proses ini dikatalisi oleh enzim-enzim.
Kemudian adanya zat kimia, dapat berupa desinfektan dan antiseptik,
seperti garam-garam logam, fenol, formaldehid, alkohol, yodium, zatzat warna, detergen/sabun, dan antibiotik.
6.

Ketersediaan Oksigen
Mikroorganisme memiliki karakteristik sendiri-sendiri di dalam

kebutuhannya akan oksigen. Mikroorganisme dalam hal ini digolongkan


menjadi :
a.

Aerobik : hanya dapat tumbuh apabila ada oksigen bebas.

b.

Anaerob : hanya dapat tumbuh apabila tidak ada oksigen bebas.

c.

Anaerob fakultatif : dapat tumbuh baik dengan atau tanpa

oksigen bebas.
d.

Mikroaerofilik : dapat tumbuh apabila ada oksigen dalam jumlah

kecil.
7. Tekanan osmosis
Suatu tekanan osmose akan sangat mempengaruhi bakteri jika
tekanan

osmose

lingkungan

lebih

besar

(hipertonis)

sel

akan

mengalami plasmolisis. Sebaliknya tekanan osmose lingkungan yang


hipotonis

akan

menyebabkan

sel

membengkak

dan

juga

dapat

mengakibatkan rusaknya sel. Olah karena itu dalam mempertahankan


hidupnya, sel bakteri harus berada pada tingkat tekanan osmose yang
sesuai,

walaupun

sel

bakteri

memiliki

daya

adaptasi,

perbedaan

tekanan osmose dengan lingkugannya tidak boleh terlalu besar.


8.

Faktor kimia
Mengubah permeabilitas membran sitoplasma sehingga lalu lintas

zat-zat yang keluar masuk sel mikroorganisme menjadi kacau. Oksidasi,


beberapa

oksidator

sehingga

fungsi

unsur

terganggu.

enzim. Terjadinya

ikatan

kimia,

megikatkan

pada

diri

terganngu. Memblokir

kuat

dapat

mengoksidasi

ion-ion

beberapa

beberapa

Misal,

enzim.

reaksi

unsur

sel

tertentu

mengoksidasi

logam
Sehigga

kimia,misal

suatu

tertentu

dapat

fungsi

enzim

preparat

zulfat

memblokir sintesa folic acid di dalam sel mikroorganisme. Hidrolisa,


asam atau basa kuat dapat menghidrolisakan struktur sel hingga
hancur. Mengubah sifat koloidal protoplasma sehingga menggumpal
dan selnya mati.
Faktor zat kimia yang mempengaruhi pertumbuhan:
Logam-logam berat
Klor dan senyawa klor
Fenol dan senyawa-senyawa sejenis
Zulfonomida
Alkohol
Detergen
Aldehit

Zat pewarna
Yodium
Peroksida

9. Pengaruh mikroorganisme di sekitarnya


Kehidupan organisme di alam tidak dapat dipisahkan dari adanya
organisme lain. Seperti halnya manusia tidak dapat hidup bila tidak ada
tumbuhan atau hewan. Organisme-organisme di alam ini berada dalam
suatu keseimbangan yang disebut keseimbangan biologis. Kehidupan
bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, akan
tetapi

juga

mempengaruhi

keadaan

lingkungan.

Bakteri

dapat

mengubah pH dari medium tempat ia hidup, perubahan ini disebut


perubahan secara kimia. Adapun faktor-faktor lingkungan dapat dibagi
atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. Di mana, faktorfaktor biotik terdiri atas makhluk-makhluk hidup, yaitu mencakup
adanya asosiasi atau kehidupan bersama antara mikroorganisme, dapat
dalam

bentuk

simbiose,

sinergisme,

antibiose

dan

sintropisme.

Sedangkan faktor-faktor abiotik terdiri atas faktor fisika (misal: suhu,


atmosfer gas, pH, tekanan osmotik, kelembaban, sinar gelombang dan
pengeringan) serta faktor kimia (misal: adanya senyawa toksik atau
senyawa kimia lainnya (Hadioetomo, 1993).
Eschericia coli
Bakteri ini bisa menggandakan tubuhnya atau yang disebut pula
dengan generasi dalam waktu 15 hingga 20 menit saja. dalam waktu
tersebut bakteri ini mampu menggandakan tubuhnya menjadi dua kali
lipat. Dalam bagan geometrik eksponensiall, tercatat dalam waktu 10
jam saja satu sel bakteri ini bisa menggandakan tubuhnya dan
berkembang menjadi lebih dari 1 triliun sel.Escherichia coli dapat

tumbuh di medium nutrien sederhana, dan dapat memfermentasikan


laktosa dengan menghasilkan asam dan gas (Pelczar dan Chan,
2005:169).
Kecepatan berkembangbiak bakteri ini adalah pada interval 20
menit jika faktor media, derajat keasaman dan suhu tetap sesuai.
Selain tersebar di banyak tempat dan kondisi, bakteri ini tahan
terhadap suhu, bahkan pada suhu ekstrim sekalipun. Suhu yang baik
untuk pertumbuhan bakteri ini adalah antara 80C-460C, tetapi suhu
optimumnya adalah 370C. Oleh karena itu, bakteri tersebut dapat hidup
pada tubuh manusia dan vertebrata lainnya (Dwidjoseputro, 1978:82).

Bacillus cereus
Bacillus

cereus merupakan

Bacteri

endemik

(Dalam

epidemiologi , suatu infeksi dikatakan endemik dalam populasi


ketika infeksi dipertahankan dalam populasi tanpa input dari
luar) , bakteri terestial, Gram-positif , berbentuk batang , beta
hemolitik bakteri, bersifat aerobik, dan mampu membentuk
spora yang dapat ditemukan di tanah, pada sayuran maupun
produk pangan (Tay, et al., 1982). Bacillussp termasuk kedalam
family Bacillaceae. Spora dari jenis bakteri ini tahan terhadap
panas dan kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan dan
mampu

membentuk

mengandung

NaOH

kecambah
dan

HCL

dalam
(Vecci

larutan
dan

yang
Drago,

2006). Bakteri Bacillus cereus memiliki nilai waktu generasi


dan konstanta laju pertumbuhan sebesar 18 menit dan 2,27
jam (Dwipayana dan Ariesyady, 2009)
Apabila Memasak di suhu kurang dari atau sama dengan 100 C
(212

F)memungkinkan

beberapa B. spora cereus untuk

bertahan

hidup. Masalah
didinginkan

ini
,

diperparah
yang

ketika

makanan

memungkinkan

itu

tidak

endospores

benar
untuk

berkecambah. makanan dimasak tidak dimaksudkan untuk dipakai


sendiri atau pendinginan yang cepat dan pendinginan harus disimpan
pada suhu di atas60 C (140 F). Perkecambahan dan pertumbuhan
umumnya terjadi antara 10-50 C (50-122 F).

III.

METODE

Bahan
Biakkan Eschericia coli dan Bacillus cereus
Medium NA
Akuades
NaCl 0,85%
Alat
Tabung Reaksi
Penangas Air
Petridish
Pipet steril

Prosedur kerja

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Mikro
ba

Waktu
Pemana
san

Jumlah Mikroba
Suhu 50C
24 Jam

E.coli

B.cere
us

Suhu 70C

48 Jam

24 Jam

48 Jam

10

10

10

10

10

10

10

10

0 menit

25

188

10

25

188

10

10 menit

17

21

286

137

672

340

20 menit

65

94

23

109
2

820

134
8

120
8

30 menit

184

204

188

335

168

286

0 menit

672

544

748

580

672

544

748

580

10 menit

62

72

169
2

151
4

186
0

184
8

20 menit

357

41

391

51

392

252

472

364

30 menit

710

178

178
0

183

103
6

267

967

270
0

Gambar 1. Grafik pemanasan E.coli yang diinkubasi selama 24 jam

Gambar 2. Grafik pemanasan E.coli yang diinkubasi selama 48 jam

Gambar 3. Grafik pemanasan B.cereus yang diinkubasi selama 24 jam

Gambar 4. Grafik pemanasan B.cereus yang diinkubasi selama 48 jam

B.

Pembahasan
Pada praktikum ini, digunakan 16 tabung reaksi yang diisi dengan
bakteriE.coli dan B.cereus. Masing-masing tabung mendapat perlakuan
yang berbeda. 4 tabung yang berisi E.coli dipanaskan pada suhu 50oC
dengan lama pemanasan 0, 10,20, dan 30 menit. 4 tabung yang juga
berisi E.coli dipanaskan
0, 10, 20, dan

30

pada

suhu

menit.

70oC

dengan

Sedangkan

lama

pemanasan

tabung

yang

berisi B.cereusdipanaskan pada suhu 50oC dengan lama pemanasan


0, 10, 20, dan

30

menit.

Dan

tabung

yang

juga

berisi B.cereus dipanaskan pada suhu 70oC dengan lama pemanasan


0, 10, 20, dan 30 menit.
Pada

umumnya

resistensi

semakin

terhadap

pengamatan di

waktu

tinggi

pemanasan
24

jam

suhu

pertumbuhan

semakin

inkubasi,

bakteri,

tinggi. Dari

diperoleh

data

hasil
bahwa

untuk E.coli pada pemanasan suhu 50oC mengalami kenaikan jumlahnya


saat dipanaskan waktu
4

yaitu 25,

65,

17 cfu/g saat
5

pertumbuhan

0, 20 dan 30

184 cfu/g dan

dipanaskan

10

mikroba

tidak

menit di

sempat
menit.
tetap,

turun
Untuk

pengenceran
dari

25 cfu/g ke

pengenceran

pemanasan

10-

0-10

10 menit

menurunkan jumlah mikroba dari 2 ke 0 cfu/g. dari pemanasan 10-20


menit teradi peningkatan tumbuh dari 0 ke 8 cfu/g. dan kemudian di

pemanasan 30 menit turun lagi menjadi 3 cfu/g. Untuk E. coli dengan


suhu pemanasan 70oC di waktu pemanasan 0, 10, 20 menit baik dengan
10-4 dan

pegenceran

10-5 terjadi

keseragaman

peningkatan

pertumbuhan yaitu berturut turut 25, 286, 1092 cfu/g , dan 2, 137,
820cfu/g, sedangkan di pemanasan 30 menit sama sama terjadi
penurunan di pengenceran 10-4 adalah 188 cfu/g, dan di pengenceran
10-5 adalah

335 cfu/g.

Hal

ini

mungkin

terjadi

dikarenakan

saat

memasukkan koloni mikroba ke cawan petri terjadi kontaminasi dari


luar,

sehingga

pemanasannya
pertumbuhan,

mikroba
semakin
sehingga

yang

seharusnya

sedikit,
ada

yang

justru

semakin
terjadi

menurun

dan

lama

waktu

ketidakstabilan
ada

juga

yang

cereus di

suhu

meningkat seiring lama waktu pemanasan.


Untuk

inkubasi

24

jam

terhadap

bakteri B.

pemanasan 50o C untuk pengenceran 10-4 dan 10-5 di waktu 0 sampai 10


menit terjadi penurunan jumlah koloni yakni dari 672 ke 62 cfu/g, dan
dari 544 ke 1 cfu/g. Sedangkan di pemanasan 20 sampai 30 menit teradi
kenaikan pertumbuhan dari 357 ke 710 cfu/g, dan dari 41 ke 178 cfu/g.
Untuk yang pemanasan di suhu 70o C di pengenceran 10-4dan 105

dengan waktu 0 ke 10 justru mengalami peningkatan yaitu dari 672 ke

1692cfu/g dan dari 544 ke 1514 cfu/g, lalu di waktu 20 ke 30 menit


untuk pengenceran 10-4mengalami kenaikan dari 392 ke 1036 cfu/g,
sama halnya di pengnceran 10-5kenaikan pun terjadi namun tidak
signifikan yaitu 252 ke 267 cfu/g.
Selanjutnya adalah pengamatan kami di hari kedua, dengan
inkubasi selama 48 jam, untuk E. coli di suhu 50o C untuk pengenceran
10-4 di

waktu

menit

terdapat

188 cfu/g,

20

menit

terdapat

21 cfu/g mikroba, 30 menit terdapat 94 cfu/gmikroba, dan 30 menit


pemanasan terdapat 204 cfu/g mikroba. Sedangkan, di pengenceran 10 5

dari 0 ke 10 menit terjadi penurunan tumbuh mikroba dari 10 ke

0cfu/g, dan meningkat lagi di 20 menit sebanyak 23 cfu/g, lalu turun


lagi di 30 menit yaitu 7 cfu/g. Di suhu 70o C dengan pengenceran 104

dan 10-5 terjadi kenaikan pertumbuhan mulai 0, 10 sampai 20 menit,

yaitu 188 ke 672 ke 1348 cfu/g, lalu dari 10 ke 340 ke 1208 cfu/g.
namun di waktu pemanasan 30 menit sama sama terjadi penurunan
tumbuh,

untuk

10-4 sebanyak

168 cfu/g,

dan

untuk

10-5 adalah

286 cfu/g.
Untuk bakteri B. cereus inkubasi 48 jam. Di suhu 50o C Saat
pengenceran 10-4di waktu 0 menit terdapat

748 cfu/g, 20 menit

terdapat 72 cfu/g mikroba, 30 menit terdapat 391 cfu/g mikroba, dan 30


menit

pemanasan

terdapat

1780 cfu/g mikroba.

Sedangkan,

di

pengenceran 10-5 dari 0 ke 10 menit terjadi penurunan tumbuh mikroba


dari 580 ke 3 cfu/g, dan meningkat lagi di 20 menit sebanyak 51 cfu/g,
lalu turun lagi di 30 menit yaitu 183 cfu/g. Di suhu 70o C dengan
pengenceran 10-4 dan 10-5 terjadi kenaikan pertumbuhan mulai 0 ke 20
menit, yaitu 748 ke 1860 cfu/g, lalu dari 580 ke 1848 cfu/g. namun di
waktu pemanasan 20 menit sama sama terjadi penurunan tumbuh,
untuk 10-4 sebanyak 472 cfu/g, dan untuk 10-5 adalah 364 cfu/g. dan di
suhu

30

menit

pengenceran
5

terjadi

kenaikan

10-4 sebanyak

pertumbhan

967 cfu/g,

sedangkan

lagi.

Untuk

yang

pengenceran

10-

sebanyak 2700 cfu/g.


Berdasarkan gambar 1 dan gambar 2 kita bisa melihat dengan

jelas bahwa E. coli tumbuh meningkat, ini memang sesuai pada pustaka
bahwa Escherichia coli dapat tumbuh di medium nutrien sederhana, dan
dapat memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam dan gas
(Pelczar dan Chan, 2005:169). Kecepatan berkembangbiak bakteri ini
adalah pada interval 20 menit jika faktor media, derajat keasaman dan
suhu tetap sesuai. Selain tersebar di banyak tempat dan kondisi,
bakteri ini tahan terhadap suhu, bahkan pada suhu ekstrim sekalipun.

Sedangkan di gambar 3 dan gambar 4 kita bisa melihat bahwa


bakteri B. cereus tidak stabil pertumbuhannya, B. cereus memiliki suhu
optimum pertumbuhan berkisar antara 35 40oC, sumber lain juga
mengatakan bacillus adalah bakteri termotoleran, sehingga ia dapat
bertahan hidup di suhu 50oC.
Untuk data dari praktikum ini adalah asli dari praktikan, grafik
yang naik turun juga diduga adalah terjadinya kontaminasi saat
praktikan memasukkan stater bakteri dari pengenceran menuju cawan
petri.

V.
A.

PENUTUP

Kesimpulan
Dengan melihat hasil praktikum dan dari Gambar 1, gambar 2,
gambar

3,

coli semakin

dan

gambar

tinggi

suhu

dapat

disimpulkan

pertumbuhan

bahwa

untuk E.

bakteri, maka resistensi

terhadap pemanasan semakin tinggi, karena E. coli tahan terhadap


suhu

ekstrim,

sedangkan

untuk B.

pertumbuhannya, B.cereus memiliki suhu

cereus tidak

stabil

optimum pertumbuhan

berkisar antara 35 40o C, sumber lain juga mengatakan bacillus adalah


bakteri termotoleran, sehingga ia dapat bertahan hidup di suhu 50 o C.

B.

Saran

1.

Seharusnya foto dikoordinir

2.

Alat yang sudah dipakai langsung dicuci sendiri sehingga tidak


merepotkan orang yang ingin menggunakan

3.

Saat pengamatan seharusnya dihitung secara teliti agar data yang


didapatkan valid.

DAFTAR PUSTAKA.
Buckle, K. A, 1985, Ilmu Pangan, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Drago I, Mombelli B, De Vecchi E, Fassina MC, Tocalli L,


Gismondo MR. 2002. In vitro antimicrobial activity of
propolis dry extract. J Chemotherapy.
Dwidjoseputro. 1978. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
Dwipayana dan Ariesyady, H.D. 2009. Identification of Bacterial Diversity in
Waste Recycling Paint Sludge by Conventional Microbiological
Technique.
Environmental
Enggineering
Study
Program.
Bandung Hadioetomo,
R.S.,
1993, Teknik
dan
Prosedur
Dasar
Laboratorium Mikrobiologi, Gramedia, Jakarta
Pelczar, M. J. dan Chan, E. C. S., 2005, Dasar-dasar Mikrobiologi 1, Alih
bahasa: Hadioetomo, R. S., Imas, T., Tjitrosomo, S.S. dan Angka, S. L.,
UI Press, Jakarta
Pelczar, M. J., Chan, E.C.S. 2007. Elements of Microbiology. Mc Graw Hill Book Company.
New York.
Suharni, Theresia Tri dkk. 2008. Mikrobiologi Umum. Penerbit Universitas Atma Jaya.

Posted by Fika Puspita at 11:09:00 AM


http://fikapuspita.blogspot.com/2014/09/laporan-praktikum-mikrobiologipangan.html
KAMIS, 19 JANUARI 2012

ASPEK MIKROBIOLOGI PANGAN


ASPEK MIKROBIOLOGI PANGAN

Mikroorganisme tersebar luas di alam dan sebagai akibatnya produk


pangan jarang sekali yang steril, tetapi umumnya tercemar oleh berbagai jenis
mikroorganisme. Pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan dapat
mengakibatkan perubahan fisik atau kimia yang tidak diinginkan, sehingga
bahan pangan tersebut tidak layak dikonsumsi. Pengawetan pangan merupakan
usaha untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme pada bahan pangan.
Untuk
dapat tumbuh
dan berfungsi
secara
normal, mikroorganisme membutuhkan
sumber
energi,
sumber nitrogen,
vitamin, mineral dan faktor pertumbuhan lainnya. Komponen-komponen

tersebut diperoleh mikroba dari bahan pangan, sehingga makanan menjadi


rusak. Untuk pertumbuhannya, kapang mempunyai kebutuhan zat gizi yang
paling minimal, diikuti dengan khamir, kemudian bakteri gram negatif,
sedangkan bakteri gram positif mempunyai kebutuhan zat gizi yang paling
lengkap. Disamping komponen zat gizi yang diperlukan tersebut, kondisi
lingkungan yang sesuai, seperti keberadaan air bebas (aktivitas air), pH, oksigen,
dan suhu juga mempengaruhi pertumbuhan mikroba.
Apabila kondisi lingkungan tidak sesuai, maka mikroba pun tidak dapat
hidup. Di dalam proses pasteurisasi atau sterilisasi, tujuan utama yang
diinginkan adalah untuk membunuh mikroba yang tidak diinginkan, terutama
mikroba pembusuk dan patogen. Agar proses pemanasan dapat menjamin
mikroba
target dibunuh, maka perlu pengetahuan tentang sifat-sifat mikroorganisme dan
faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya. Mikroba yang berbeda akan
tumbuh di dalam produk pangan yang berbeda dari tingkat keasaman,
kandungan air,
atau
komposisi
zat gizinya. Karena mikroba
mempunyai
toleransi yang berbeda
terhadap
keberadaan
oksigen, maka
terdapat
mikroba yang
dapat tumbuh
pada produk pangan yang dikemas
dalam
kondisi vakum (anaerobik) atau terdapat oksigen (aerobik). Ketahanan panas
mikroba pun berbeda-beda, sehingga kebutuhan suhu dan waktu pemanasan
untuk membunuhnya akan berbeda untuk jenis mikroba yang berbeda.
Keberadaan mikroorganisme
pembusuk
atau patogen dalam
makanan kaleng tidak diinginkan, sehingga pembunuhan atau inaktivasi
mikroorganisme menjadi target utama dalam proses pasteurisasi atau sterilisasi.
Oleh karena itu, menjadi sangat penting memahami jenis dan karakteristik
mikroba, terutama
dari
kelompok mikroba penyebab kebusukan dan patogen yang berpotensi tumbuh
dalam makanan kaleng. Dalam pengolahan pangan, biasanya jenis mikroba yang
menjadi perhatian utama adalah kelompok kapang, khamir dan bakteri.
Kerusakan
makanan
kaleng dapat disebabkan
oleh mikroba pembusuk atau mikroba patogen. Kerusakan makanan kaleng yang
diawetkan
dengan
pemanasan
dapat disebabkan oleh
adanya
sisa
mikroorganisme yang masih bertahan hidup setelah proses pemanasan, atau
karena masuknya mikroba dari luar melalui bagian kaleng yang bocor setelah
proses pemanasan. Penyebab yang pertama menunjukkan bahwa makanan
kaleng tersebut tidak cukup proses pemanasannya (under process).
Jenis
mikroba
yang
mengkontaminasi
produk yang
mengalami under process lebih
mudah ditentukan
berdasarkan pada
informasi kondisi proses termal yang dilakukan dan jenis produk pangan yang

diproses, karena mikroba memiliki sifat ketahanan panas dan aktivitas


biologis tertentu. Sedangkan kerusakan makanan kaleng yang disebabkan oleh
kebocoran kaleng sulit ditentukan disebabkan mikroba yang mengkontaminasi
dapat bervariasi. jenis-jenis mikroba yang penting dalam makanan kaleng
serta kerusakan-kerusakan pada makanan kaleng atau produk yang diproses
dengan
panas yang
disebabkan oleh mikroba.
Struktur dan karakteristik
dari mikroba (kapang, khamir
dan
bakteri) tidak
menjadi
pembahasan
utama dari Topik ini. Bagi yang menginginkan informasi yang lebih lengkap
tentang hal tersebut dapat merujuk pada buku-buku mikrobiologi pangan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba


Pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh lingkungannya. Di antara faktorfaktor
yang
mempengaruhi
pertumbuhan
mikroorganisme
adalah air,
oksigen, suhu dan nilai pH (keasaman).

Air
Semua organisme membutuhkan air untuk kehidupannya. Air
berperan dalam reaksi metabolik dalam sel dan merupakan alat pengangkut
zat gizi ke dalam sel atau hasil metabolit ke luar sel. Semua kegiatan ini
membutuhkan air dalam bentuk cair dan apabila air tersebut mengalami
kristalisasi dan membentuk es atau terikat secara kimiawi dalam larutan gula
atau garam, maka air tersebut tidak dapat digunakan oleh mikroorganisme.
Pengaruh air terhadap pertumbuhan mikroorganisme dinyatakan
sebagai aktivitas air (Aw), yaitu jumlah air bebas yang tersedia dan
dapat digunakan untuk pertumbuhan mikroorganisme
dalam bahan
makanan. Jenis mikroorganisme yang berbeda membutuhkan jumlah air
yang berbeda untuk pertumbuhannya. Kebanyakan bakteri dapat hidup pada
Aw>0.90, sedangkan kebanyakan kapang dan khamir berturut-turut dapat hidup
pada Aw>0.70 dan Aw> 0.80. Pada Aw yang rendah, mikroorganisme akan
mati karena sel-sel di mikroorganisme akan berdifusi ke luar sebagai
akibat terjadinya proses kesetimbangan osmotik. Dengan kata lain, selama
konsentrasi solut di luar sel lebih besar dibanding di dalam sel, maka migrasi air
akan terjadi untuk menyeimbangkan konsentrasi. Migrasi air dari dalam sel
menyebabkan sel mati disebabkan oleh dehidrasi.

Oksigen

Beberapa mikroorganisme
memerlukan
oksigen
untuk
pertumbuhannya, yang disebut mikroorganisme aerobik. Contoh mikroorganisme
aerobik
adalah
kapang. Untuk
beberapa mikroorganisme
lainnya, oksigen bersifat
racun. Mikroorganisme ini dinamakan anaerob, seperti Clostridium botulinum.
Kebanyakan mikroorganisme dapat tumbuh pada kondisi tanpa dan dengan
adanya oksigen. Kelompok ini disebut fakultatif anaerobik, contohnya Bacillus,
kebanyakan khamir dan bakteri lainnya.

Suhu
Suhu
adalah
salah
satu
faktor
lingkungan
terpenting yang mempengaruhi pertumbuhan
dan kehidupan
mikroorganisme. Berdasarkan suhu optimum pertumbuhannya, mikroorganisme
dapat dibedakan atas tiga grup, yaitu:

1.
Psikrotropik: suhu optimum 14-20oC, tetapi dapat tumbuh lambat pada
suhu refrigerator (4oC). Kelompok mikroorganisme ini
yang penting pada makanan kaleng adalah Clostridium botulinum tipe E dan
strain non-proteolitik tipe B dan F.
2.
Mesofilik: suhu optimum 30-37oC. Suhu ini merupakan suhu normal
gudang. Clostridium botulinum merupakan salah satu
contoh mikroorganisme kelompok ini.
3.
Termofilik: suhu optimum kebanyakan termofilik pada suhu 45-60oC.
Jika spora bakteri tidak dapat bergerminasi dan tidak tumbuh di bawah
suhu 50oC, bakteri tersebut disebut obligat termofil. Jika tumbuh pada
kisaran suhu 50-66oC atau pada suhu yang lebih rendah (38oC), bakteri ini
disebut fakultatif termofilik. Beberapa obligat termofil dapat tumbuh pada suhu
77oC dan bakteri ini sangat resisten terhadap pemanasan(121oC
selama 60 menit). Bakteri termofilik tidak memproduksi toksin selama
pertumbuhannya pada makanan. Contoh bakteri dari kelompok ini
adalah Bacillus stearothermophilus
.
Nilai pH
Setiap organisme mempunyai kisaran nilai pH dimana pertumbuhan
masih memungkinkan dan masing-masing biasanya mempunyai pH optimum.
Kebanyakan
organisme
tumbuh pada pH sekitar 7.0
(6.6-7.5),
dan hanya beberapa yang dapat tumbuh di bawah pH 4.0. Bakteri mempunyai
kisaran pH pertumbuhan lebih sempit dibandingkan dengan kapang dan khamir.
Sebagai contoh, kebanyakan bakteri tidak dapat tumbuh pada pH di bawah 4.0
dan di atas 8.0, sedangkan kapang mempunyai kisaran pH pertumbuhan 1.511.0, khamir mempunyai kisaran pH pertumbuhan 1.5-8.5. Oleh karena

itu, makanan yang mempunyai pH lebih rendah akan semakin awet karena
semakin sedikit jenis mikroorganisme yang dapat tumbuh.
Nilai
pH
atau
keasaman makanan dipengaruhi oleh asam yang
terdapat pada makanan tersebut. Ada di dalam makanan mungkin secara
alamiah, seperti buah-buahan asam, atau terbentuk selama fermentasi, misalnya
yoghurt,
pikel,
sayur
asin, dan
sebagainya. Nilai
pH
minimum
untuk pertumbuhan mikroorganisme kadang kadang dipengaruhi oleh jenis asam
yang
terdapat dalam makanan tersebut.
Sebagai
contoh,
beberapa Laktobasili dapat tumbuh pada pH yang lebih rendah jika asam yang
terdapat pada makanan tersebut berupa asam asetat atau asam laktat.

Mikroba Penyebab Penyakit


Kebanyakan penyakit pada
manusia,
hewan
dan
tanaman disebabkan oleh mikroorganisme. Penyakit yang disebabkan oleh
mikroorganisme dapat disebabkan oleh mikroorganismenya sendiri atau oleh
senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Hanya beberapa mikroorganisme
yang
menyebabkan
penyakit
pada
manusia.
Penyebaran
mikroorganisme penyebab penyakit dapat terjadi
melalui
manusia,
hewan ataupun makanan. Mikroorganisme penyebab penyakit melalui makanan
di antaranya
adalah Salmonella, Listeria
monocytogenes, Vibrio parahaemolyticus, Bacillus
cereus, Escherchia
coli, Campylobacter,
Stapylococcus aureus, Clostridium
perfringens,
dan Clostridium
botulinum. Mikroorganisme
patogen
yang
berada
pada makanan umumnya berasal dari tanah atau air. Sayuran yang dekat
dengan tanah, seperti bayam dan daun daunan lain mengandung bakteri dan
spora bakteri dalam jumlah banyak. Asparagus dan jamur selalu terkontaminasi
dengan spora bakteri. Bakteri C. botulinum
merupakan mikroorganisme
yang sering menjadi target proses termal, terutama untuk produk pangan
kelompok
berasam
rendah. Bakteri ini sangat berbahaya, karena
dapat memproduksi toksin yang mematikan,
yaitu botulin
(menyebabkan
botulism) dan terdapat pada tanah atau air sehingga bahan pangan
dengan mudah terkontaminasi. Botulin merupakan toksin yang sangat kuat, satu
gram dapat membunuh 300 ribu orang. Toksinnya termasuk neurotoksin, yaitu
menyerang sistem syaraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan. Tanda-tanda
keracunan botulin adalah tenggorokan menjadi kaku, penglihatan ganda,
otot kejang, serta dapat mengakibatkan kematian
akibat penderita tidak
bisa bernapas. Beberapa
strain C.
botulinum bersifat
proteolitik dan
menyebabkan putrefaktif, yaitu membentuk bau karena degradasi protein.
Spora C.
botulinum akan bergerminasi dengan baik pada
pH di atas
4.8,

sehingga dapat tumbuh baik pada produk pangan berasam rendah. Dalam
prakteknya,
nilai
pH
4.6
digunakan sebagai batas
pH
pembeda
antara makanan asam
dan
makanan
asam rendah. Spora C.
botulinum dapat ditemukan
pada
makanan asam dan asam rendah, akan tetapi pada
makanan
asam
spora
tersebut tidak dapat bergerminasi. Pemanasan sedang dapat membunuh bakteri
non-pembentuk
spora
atau sel
vegetatif
pada
makanan asam atau asam rendah. Pada makanan asam rendah, penggunaan
panas harus cukup untuk membunuh spora C. botulinum, sehingga makanan ini
harus
dipanaskan
dengan
menggunakan
tekanan. Bakteri C. botulinum merupakan kelompok bakteri mesofilik yang
sangat penting dalam makanan kaleng. Hal ini karena kondisi makanan kaleng
yang vakum
sangat
cocok
bagi
pertumbuhan
bakteri C.
Botulinum,
karena sifatnya yang anaerobik (hidup baik pada kondisi tidak ada oksigen).
Perhatian utama diberikan untuk makanan kaleng berasam rendah (pH>4.6) dan
memiliki aktivitas air tinggi (aw> 0.9), karena C.botulinum tumbuh baik pada
kondisi pH dan Aw tersebut. C. botulinum tumbuh baik pada suhu 30-37oC
(kondisi penyimpanan ruang atau gudang), walaupun dapat tumbuh pada suhu
10 dan 38oC. Berdasarkan peraturan FDA, makanan dengan Aw lebih besar dari
0.85 dan pH lebih besar dari 4.6 dikelompokkan sebagai makanan berasam
rendah, dan apabila akan dikalengkan (kondisi vakum tercapai) dan disimpan
pada suhu ruang, maka produk pangan tersebut harus diproses dengan
sterilisasi. Dalam
hal proses
sterilisasi
tidak dapat
diterapkan
pada
makanan berasam rendah,
maka
penghambatan C. botulinum dapat
dilakukan dengan memanipulasi kondisi pH dengan proses pengasaman,
penurunan aktivitas air atau penambahan garam. Germinasi spora C.
botulinum dapat dihambat dengan proses pengasaman dimana pH produk
pangan sehingga berada di bawah 4.6. Karena dalam makanan asam hanya sel
vegetatif yang perlu dibunuh,maka penggunaan suhu seperti untuk mendidihkan
air,
atau pengemasan
dalam
keadaan
panas
(hot
filling) dapat dilakukan. Germinasi spora C. botulinum dapat dihambat dengan
menurunkan
Aw di bawah
0.93.
FDA
mensyaratkan
Aw<0.85
untuk
mengeluarkan
produk pangan dari
kelompok berasam
rendah.
Apabila makanan yang Awnya
diturunkan sampai
pada
Aw
dimana spora tidak dapat bergerminasi, maka pemanasan hanya ditujukan untuk
membunuh sel vegetatif. Penurunan Aw berguna bagi makanan yang kualitasnya
sensitif terhadap pemanasan, misalnya keju oles, peanut butter, madu, sirup,
jam,
jelly
dan
produk
coklat.
Jika
Aw makanan yang
tidak mengandung daging diturunkan menjadi 0.85 atau lebih rendah, maka
tidak memerlukan proses
pemanasan
yang
digunakan
untuk membunuh spora C. botulinum. Pada Aw yang rendah, bakteri akan

mati karena sel-sel mikroorganisme akan


terjadinya proses kesetimbangan osmotik.

berdifusi

keluar

sebagai

akibat

Penurunan
Aw sampai
0.93dikombinasikan
dengan
pasteurisasi
menghasilkan produk steril komersial. Akan tetapi praktek ini harus ditunjang
oleh prosedur pengukuran Aw yang akurat. Selain itu, faktor kritis dalam
pengaturan Aw sebagai salah satu metode pengawetan adalah ingredien
yang digunakan untuk menurunkan Aw tersebut serta jumlahnya dalam produk
akhir. Oleh karena itu, pengawasan harus dilakukan sejak persiapan produk dan
pencapaian suhu yang diterapkan pada proses sterilisasi produk akhir. Selain
itu, pengujian Aw contoh produk akhir harus dilakukan secara reguler untuk
menjamin bahwa penurunan Aw telah mencapai nilai yang diinginkan. Germinasi
spora C. botulinum dapat juga dihambat dengan penggunaan garam, terutama
pada produk daging dan ikan kuring yang menggunakan garam nitrat/nitrit selain
NaCl. Proses penggaraman adalah untuk meningkatkan konsentrasi solut di
luar sel sehingga lebih besar dibanding di dalam sel. Adanya konsentrasi solut
yang lebih tinggi di luar sel mengakibatkan migrasi air dari dalam sel untuk
menyeimbangkan konsentrasi. Migrasi
air dari
dalam sel
menyebabkan
sel bakteri mati disebabkan oleh dehidrasi. Beberapa strain C. botulinum mampu
tumbuh
pada
kadar
garam 7%,
akan
tetapi
strain ini
terhambat
pada kadar garam 10% yang setara dengan aw 0.93. Walaupun dapat tumbuh
pada kadar garam 7%, tetapi C. botulinum tidak memproduksi toksin.

Mikroba Penyebab Kebusukan Makanan Kaleng


Kebusukan makanan kaleng dapat disebabkan oleh kapang, khamir
dan bakteri. Tanda-tanda kebusukan makanan kaleng oleh mikroorganisme dapat
dilihat dari
(a) penampakan abnormal dari kaleng (kembung, basah atau label yang luntur),
(b) penampakan produk yang tidak normal serta bau yang menyimpang;
(c) produk hancur dan pucat; dan
(d) keruh atau tanda-tanda abnormal lain pada produk cair. Dari ketiga jenis
mikroba tersebut, bakteri merupakan penyebab kerusakan yang utama.

Kerusakan oleh kapang


Kapang mempunyai kisaran pH pertumbuhan yang luas, yaitu 1.511.0. Kebanyakan kapang dapat hidup pada aw> 0.70. Kebusukan makanan
kaleng yang disebabkan oleh kapang sangat jarang terjadi, tetapi mungkin saja

terjadi. Kebanyakan kapang tidak


tahan panas
sehingga
adanya kapang pada makanan
kaleng disebabkan
oleh
kurangnya
pemanasan (under process) atau karena terjadi kontaminasi setelah proses.
Kapang
memerlukan oksigen
untuk tumbuh sehingga pertumbuhan
pada
kaleng hanya mungkin terjadi apabila kaleng bocor. Kapang lebih tahan asam,
sehingga kapang terutama membusukkan makanan asam, seperti buah-buahan
asam dan minuman asam. Kapang seperti Bysochamys fulva, Talaromyces
flavus, Neosartorya fischeri dan lain-lain telah diketahui sebagai penyebab
kebusukan minuman sari buah kaleng dan produk-produk yang mengandung
buah. Spora kapang-kapang ini ternyata mampu bertahan pada pemanasan yang
digunakan untuk mengawetkan produk tersebut. Spora kapang ini tahan
terhadap pemanasan selama 1 menit pada 92oC dalam kondisi asam atau pada
makanan yang diasamkan. Akan tetapi untuk mencapai konsistensi yang seperti
ini, kapang tersebut memerlukan waktu untuk membentuk spora, sehingga
sanitasi sehari-hari terhadap peralatan sangat penting untuk mencegah
pertumbuhan kapang ini dan pembentukan sporanya. Pada umumnya kapang
yang tumbuh pada makanan yang diolah dengan panas tidak menyebabkan
penyakit pada manusia.

Kerusakan oleh khamir


Khamir mempunyai kisaran pH pertumbuhan 1.5-8.5. Namun
kebanyakan khamir lebih cocok tumbuh pada kondisi asam, yaitu pada pH 44.5, sehingga kerusakan oleh khamir lebih mungkin terjadi pada produk-produk
asam. Kebanyakan khamir dapat hidup pada aw>0.80. Suhu lingkungan yang
optimum untuk pertumbuhan khamir adalah 25-30oC dan suhu maksimum 3547oC. Beberapa khamir dapat tumbuh pada suhu 0oC atau lebih rendah. Khamir
tumbuh baik pada kondisi aerobik, tetapi khamir fermentatif dapat tumbuh
secara
anaerobik
meskipun
lambat. Khamir
hanya
sedikit
resisten
terhadap pemanasan, dimana kebanyakan khamir dapat terbunuh pada suhu
77oC. Oleh karena itu, khamir dapat dengan mudah dibunuh dengan suhu
pasteurisasi. Jika makanan kaleng busuk karena pertumbuhan khamir, maka
dapat diduga pemanasan makanan tersebut tidak cukup atau kaleng telah
bocor. Pada
umumnya
kebusukan
karena
khamir
disertai dengan
pembentukan alkohol
dan gas
CO2 yang
menyebabkan
kaleng menjadi
kembung. Khamir dapat membusukkan buah kaleng, jam dan jelly serta dapat
menggembungkan kaleng karena produksi CO2. Seperti halnya kapang, khamir
yang
tumbuh
pada makanan yang
diolah dengan
pemanasan
tidak
menyebabkan penyakit pada manusia.

Kerusakan oleh bakteri


Kebanyakan bakteri
dapat
hidup
pada
aw>0.90,
sehingga
kerusakan oleh bakteri terutama terjadi pada produk-produk yang berkadar air
tinggi.
Beberapa bakteri
memerlukan
oksigen
untuk pertumbuhannya,
yang disebut bakteri aerobik. Untuk beberapa bakteri lainnya, oksigen bersifat
racun. Bakteri ini dinamakan anaerob. Contoh bakteri yang bersifat anaerobik
adalah Clostridium. Ada juga bakteri yang dapat tumbuh pada kondisi tanpa dan
dengan
adanya oksigen.
Kelompok
ini disebut
fakultatif
anaerobik,
contohnya Bacillus.
jenis bakteri pembentuk spora yang dapat menyebabkan kerusakan makanan
berdasarkan suhu pertumbuhan dan tingkat keasaman bahan pangan.

Tingkat
Keasamanan Pangan Kelompok
(3.7<pH<4.5 Asam Rendah (pH4.5)

bakteri Asam

Termofilik
(35-55oC) B.
coagulans S
thermophilus C.
thermosaccharolyticum C.
nigrificans B.
stearothermophilus Mesofilik
(1040oC) L. bulgaricus C. butyricum C.pasteurianum B. mascerans C. botulinum (A
dan B) C. sporogenes C.licheniformis B.subtilis Psikrofilik (<5 35oC) B.
polymixa Pseudomonas Micrococcus C. botulinum E S. aureus Suhu merupakan
salah satu faktor lingkungan terpenting yang mempengaruhi pertumbuhan
dan kehidupan bakteri.
Berdasarkan
suhu
optimum pertumbuhannya,
bakteri dapat dibedakan atas tiga grup, yaitu:
1.Psikrotropik: suhu optimum 14-20oC, tetapi dapat tumbuh lambat pada suhu
refrigerator (4oC). Kelompok bakteri psikotropik yang penting pada makanan
kaleng adalah Clostridium botulinum tipe E dan strain non-proteolitik tipe
B dan F.
2. Mesofilik:
suhu
optimum
30-37oC.
Suhu ini
suhu normal gudang. Clostridium botulinum merupakan salah
mikroorganisme kelompok ini.

merupakan
satu contoh

3.Termofilik: suhu
optimum
kebanyakan
termofilik
adalah
45-60oC.
Jika spora bakteri tidak dapat bergerminasi dan tidak tumbuh di bawah
suhu 50oC, bakteri
tersebut disebut obligat
termofil. Jika tumbuh pada
kisaran suhu 50-66oC atau pada suhu yang lebih rendah (38oC),bakteri
ini disebut fakultatif termofilik. Beberapa obligat termofil dapat tumbuh pada
suhu 77oC dan bakteri ini sangat resisten terhadap pemanasan (121oC selama
60 menit). Bakteri termofilik tidak memproduksi toksin selama pertumbuhannya

pada makanan. Contoh bakteri dari kelompok ini adalah Bacillus stearothermophilus.
Pertumbuhan
bakteri
ditentukan oleh kondisi
pH
lingkungannya. Bakteri mempunyai kisaran
pH pertumbuhan
lebih
sempit
dibandingkan
dengan
kapang dan
khamir,
yaitu
antara
4.0
8.0. Kebanyakan bakteri tidak dapat tumbuh pada pH di bawah 4.0 dan di atas
8.0. Makanan yang mempunyai pH <4.0 akan semakin awet karena praktis
bakteri
tidak dapat tumbuh. Nilai
pH
atau
keasaman makanan dipengaruhi oleh asam yang
terdapat pada
makanan
tersebut. Keasaman ada di dalam makanan dapat terjadi secara alamiah,
misalnya pada buah-buahan asam; atau terbentuk selama fermentasi, misalnya
yoghurt, pikel, sayur
asin,
dan
sebagainya.
Nilai pH
minimum
untuk pertumbuhan mikroorganisme kadang-kadang dipengaruhi oleh jenis asam
yang terdapat
dalam
makanan
tersebut.
Sebagai
contoh,
beberapa Laktobasili dapat tumbuh pada pH yang lebih rendah jika asam yang
terdapat pada makanan tersebut berupa asam asetat atau asam laktat. Bakteri
dapat
berbentuk sel
vegetatif
atau
sel
sporanya.
Pada
umumnya
sel vegetatif bakteri lebih sensitif terhadap panas dibanding sel sporanya,
sehingga sel vegetatif bakteri lebih mudah dihancurkan dibandingkan sel
sporanya. Sel vegetatif bakteri dapat dihancurkan dengan proses pasteurisasi,
sedangkan sel spora umumnya dapat dihancurkan dengan proses
sterilisasi. Pembentukan spora bakteri adalah salah satu tahap istirahat dalam
siklus kehidupan bakteri. Spora bakteri adalah struktur tahan terhadap keadaan
lingkungan yang ekstrim, misalnya keadaan kering, pemanasan, keadaan asam,
dsb. Beberapa spora bakteri tahan pada suhu air mendidih (100oC) selama
16jam. Spora yang tahan panas juga tahan terhadap perlakuan kimia. Beberapa
spora bakteri tahan lebih dari tiga jam dalam larutan disinfektan yang biasa
digunakan
di
industri
pangan.
Bakteri yang tidak membentuk spora atau sel vegetatif dengan mudah
dapat diinakti-asi dengan sanitiser. Kebanyakan bakteri yang tumbuh pada
makanan kaleng akan membentuk gas, kecuali bakteri non-pembentuk spora
penyebab flat-sour (busuk asam, tanpa memproduksi gas). Indikator yang jelas
kebusukan makanan kaleng adalah kembungnya kaleng pada satu sisi atau
kedua sisi.
Hal
ini
merupakan
petunjuk
bahwa makanan tersebut telah mengalami kebusukan karena
pertumbuhan bakteri pembentuk gas. Penampakan dan bau makanan juga
merupakan petunjuk kebusukan. Jika produk hancur atau sirup atau
larutan garam yang seharusnya bening telah menjadi keruh, keadaan ini
merupakan petunjuk telah terjadi kebusukan. Jenis-jenis bakteri yang dapat
menyebabkan kerusakan makanan kaleng adalah sebagai berikut:

(1) Bakteri termofilik


Bakteri termofilik, seperti Bacillus stearothermophilus menyebabkan
busuk asam (flat sour) pada makanan kaleng berasam rendah dan B.
coagulans pada makanan
kaleng asam.
Bakteri
termofil lainnya,
yaitu Clostridium
thermosaccharolyticum menyebabkan penggembungan
kaleng karena
memproduksi CO2 dan H2.
Kebusukan
sulfida
disebabkan oleh Clostridium nigridicans.
Pada umumnya semakin tinggi suhu pertumbuhan bakteri, resistensi terhadap
pemanasan
semakin tinggi.
Dengan
demikian
bakteri
termofil
lebih resisten terhadap pemanasan dari pada bakteri mesofil. Pemanasan yang
digunakan untuk membunuh spora mesofil mungkin saja tidak cukup
untuk mencegah terjadinya kebusukan oleh spora termofil, kecuali jika makanan
tersebut
disimpan
pada suhu
di bawah
termofil.
Untuk
produk
produk makanan, seperti
kacang polong, jagung,
makanan bayi dan
daging yang beresiko
busuk karena
termofil, para pengolah makanan harus
ekstra hati-hati dalam mencegah
terjadinya kebusukan karena
germinasi
dan pertumbuhan spora termofil. Bahan bahan yang digunakan seperti gula,
tepung dan rempah-rempah harus terbebas dari spora termofil.
Bakteri termofil
juga
dapat
tumbuh pada
peralatan
yang
kontak langsung dengan makanan, sehingga makanan harus dipertahankan pada
suhu 77oC atau lebih tinggi lagi untuk mencegah pertumbuhan termofil. Selain
itu,
produk harus segera didinginkan sampai
suhu di bawah 41oC
setelah
sterilisasi
dan
menyimpan produk ini di bawah suhu
35oC. Bacillus
stearothermophilus, B.
thermoacidurans,
dan C.
thermosaccarolyticum
merupakan anggota kelompok bakteri termofilik (50-55oC) yang lebih
tahan panas dibanding C. botulinum. Dalam proses pengalengan, bakteri ini
tidak menjadi target
proses, karena suhu penyimpanan
makanan kaleng umumnya di bawah suhu 30oC.
(2) Bakteri mesofilik pembentuk spora
Spesies Clostridium yang memfermentasi gula, misalnya C. Pasteurianum
dan C. Butyricum
memproduksi asam butirat, CO2 dan H2 dan menyebabkan penggembungan
kaleng. Bakteri ini dapat ditemukan pada makanan kaleng asam seperti tomat,
nenas
dan
buah
pir.
Spesies
yang
lain,
seperti C.
sporogenes, C. putrefaciens dan C. botulinum menyebabkan kebusukan sulfida
dan penggembungan kaleng. Bakteri ini dapat membusukkan makanan
kaleng asam rendah, seperti jagung, daging, daging unggas dan ikan.

Resistensi
spora Bacillus mesofil
tidak
sebesar spora
termofilnya. B.
subtilis, B.mesenteriicus, B. polymixa dan B. macerans telah dilaporkan tumbuh
pada makanan kaleng asam rendah. Keberadaan bakteri ini pada makanan
kaleng menunjukkan
kurangnya proses
pemanasan atau telah terjadi
kebocoran kaleng.

(3) Bakteri non-pembentuk spora


Jika bakteri non-pembentuk spora ditemukan pada makanan kaleng, hal
ini menunjukkan bahwa makanan tersebut diolah dengan pemanasan yang
sangat ringan atau telah terjadi kebocoran kaleng. Bakteri yang termasuk dalam
kelompok ini adalah mikrokoki dan bakteri asam laktat. Pada susu kental manis,
pertumbuhan Micrococcus dapat
menyebabkan
susu menjadi
lebih
kental. Kebusukan makanan kaleng oleh bakteri dapat disebabkan oleh salah
satu penyebab di bawah ini:

(a) Incipient spoilage


Makanan yang telah dimasukkan ke dalam kaleng sering kali dibiarkan
terlalu lama sebelum disterilisasi. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya
pertumbuhan
bakteri
yang
terdapat pada
makanan
dan
menyebabkan dimulainya
kebusukan. Kehilangan vakum dapat menyebabkan tekanan yang tinggi pada
kaleng selama sterilisasi dan dapat menyebabkan kaleng kebocoran kaleng.
Beberapa kaleng bahkan dapat pecah selama sterilisasi.

(b) Kontaminasi setelah pengolahan


Kontaminasi setelah pengolahan terjadi karena adanya kebocoran
kaleng yang disebabkan oleh penutupan yang kurang sempurna, kerusakan
kaleng atau air pendingin yang terkontaminasi dalam jumlah besar. Berbagai
jenis
mikro
organisme, tidak hanya yang tahan panas, dapat
ditemukan
dalam kaleng jika kaleng mengalami kebocoran.
(c) Kurang cukup pemanasan (under process)
Pemanasan untuk makanan kaleng seharusnya dapat membunuh
semua mikroorganisme penyebab penyakit dan pembusuk. Pemanasan yang
tidak cukup dapat disebabkan oleh:

(a)

(b)

tidak diikutinya
waktu
atau
suhu
yang
telah
ditetapkan
atau tidak ditentukannya suhu dan waktu pemanasan dengan baik; dan
kerusakan mekanik atau kesalahan manusia.

(d) Kerusakan termofilik


Proses
sterilisasi
makanan
kaleng
umumnya
tidak
membunuh bakteri termofilik
(lihat pembahasan
di atas).
Apabila proses
pendinginan setelah proses sterilisasi terlalu lambat atau produk disimpan pada
suhu penyimpanan di atas normal dimana bakteri termofilik dapat tumbuh,
maka makanan kaleng dapat rusak oleh bakteri termofilik.

Diposkan oleh Vie Olive di 06.19

Selasa, 06 Desember 2011

Laporan MikroBiologi Modul II


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Untuk menelaah bakteri dan jamur di laboratorium, kita harus dapat


menumbuhkan atau mengembangkan bakteri dan jamur tersebut. Adanya
pembiakan bakteri dan jamur dimaksudkan untuk memudahkan pemeriksaan
yang akan dilakukan di dalam laboratorium, sehingga jika sewaktu-waktu kita
memerlukan bakteri dan jamur untuk suatu percobaan, maka bakteri dan jamur
tersebut telah tersedia. Biakkan bakteri dan jamur tersebut dapat disimpan di
dalam lemari es untuk waktu yang lama tanpa ada kerusakan.
Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat besar dan kompleks. Ratusan
spesies mikroba menghuni bagian tubuh kita, seperti mulut, saluran pencernaan
dan kulit. Udara, tanah, dan air yang merupakan komponen alam sebagai tempat
tinggal kita juga dihuni oleh beragam mikroorganisme. Campuran mikroba
tersebut dapat dipisahkan dengan tehnik isolasi. Isolasi mikroba berarti
memisahkan satu jenis mikroba dari biakan campuran menjadi satu biakan murni
(populasi sel yang semuanya berasal dari satu sel induk) (Hadioetomo, 1985).

Medium adalah bahan yang terdiri dari campuran zat-zat untuk


menambahkan mikroba. Selain itu juga berguna untuk isolasi sifat-sifat fisiologi
dan perhitungan jumlah mikroba dalam suatu bahan. Begitu tersedia kodisi yang
memuaskan untuk kultivasi, maka reproduksi dan pertumbuhan bakteri dapat
diamati dan diukur, untuk menentukan pengaruh berbagai kondisi baik terhadap
reproduksi dan pertumbuhan bakteri tersebut, dan untuk menentukan
perubahan-perubahan apa saja yang dihasilkan oleh bakteri di dalam lingkngan
tumbuhnya
(Volk,
1988).
Mikrobiologi adalah satu ilmu yang mempelajari kehidupan dan mikroba
organisme hidup yang berukuran mikro atau sangat renik. Mikroorganisme ini
sangaterat kaitannya denga kehidupan, baik yang bermanfaat atau merugikan
makhluk hidup yang lainnya. Ada diantara mereka yang hidup dalam media agar
yang dapat menyebabkan penyakit ataupun menguntungkan misalnya dalam
proses pembutan anggur, keju, yogurt, produksi penisilin dan proses
pembuangan
limbah
(Irianto,
2006).
Untuk menelaah bakteri di laboratorium kita harus dapat menumbuhkan bakteri
dalam biakan murni.Untuk melakukan hal itu, haruslah mengerti jenis-jenis
nutrient yang disyaratkan oleh bakteri dan juga macam lingkngan fisik yang
menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhannya. Dalam pembuatan
medium harus ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu sebagai
berikut :
1. Mengandung semua zat yang mudah digunakan oleh mikroba.
2. Tidak mengandung zat penghambat pertmubuhan.
3. Mempunyai tekanan osmose dan tekanan muka.
4. Mempunyai derajat keasaman (pH) yang sesuai.
5. Dan dalam keadaan steril.
Medium dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
1. Berdasarkan susunan kimianya, yaitu medium organic, medium anorganik,
medium sintetik dan medium non sintetik.
2. Berdasarkan konsistensi medium yaitu medium cair, padat dan semi padat.
3. Berdasarkan fungsi yaitu diperkaya, spesifik, perhitungan penguji dan khusus.
Dalam pembuatan media agar ini, dilakukan dengan pembuatan Media
agar OF, Media agar TS, Media agar MR, Media agar TSI, dan Media uji agar
indole, yang telah disiapkan dan diseterilkan. Setelah disterilkan semua media
tersebut didapatkan berbagai warna, seperti : Media agar OF berwarna hijau,
Media agarTS berwarna kuning, Media agar MR berwarna kuning keruh, Media
agar TSI kuning gelap, Media agar uji indole berwarna kuning bening. Tidak ada
satupun perangkat kondisi yang memuaskan kultivasi semua bakteri di
laboratorium. Bakteri amat beragam baik dalam persyaratan nutrisi maupun

fisiknya. Beberapa bakteri mempunyai persyaratan nutrient yang sederhana,


sedangkan yang lain mempunyai persyaratan yang rumit. Beberapa spesies
tumbuh pada suhu serendah 0 0C, sedangkan yang lain tumbuh pada suhu 75 0C.
Beberapa membutuhkan oksigen bebas,sedangkan yang lain dihambat oleh
oksigen. Karena alasan ini, maka kondisi harus disesuaikan sedemikian sehingga
menguntungkan bagi kelompok bakteri tertentu yang sedang ditelaah
(Dwidjoseputro, 2005).

1.2.

Tujuan
Tujuan praktikum mikrobiologi kali ini yaitu :

a. Praktikan memahami bermacam-macam teknik sterilisasi.


b. Praktikan dapat mengoperasikan alat-alat sterilisasi.
c. Praktikan memahami mengenai bermacam-macam media.
d. Praktikan dapat membuat media.
e. Praktikan memahami bermacam-macam teknik pewarnaan.
f.

1.3.

Praktikan dapat melakukan gram dan pewarnaan spora.

Manfaat
Manfaat dari praktikum mikrobiologi kali ini yaitu :

1. Praktikan dapat mengetahui teknik sterilisasi dan alat-alat sterilisasi


2. Praktikan dapat mengetahui macam media dan membuat media
3. Praktikan dapat mengetahui teknik pewarnaan gram dan pewarnaan spora

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Pengertian Sterilisasi

Sterilisasi adalah suatu proses dimana kegiatan ini bertujuan untuk


membebaskan alat ataupun bahan dari berbagai macam mikroorganisme. Suatu
bahan bisa dikatakan steril apabila bebas dari mikroorganisme hidup yang
patogen maupun tidak baik dalam bentuk vegetatip walaupun bentuk
non vegetatif (spora) (Hadioetomo, 1993).
Sterilisasi merupakan salah satu faktor utama dalam fermentasi. Kita
tentu mengharapkan tidak terjadi kontaminasi di mana mikroorganisme yang
tidak diinginkan tumbuh dan mengganggu proses fermentasi. Teknik sterilisasi
berbeda-beda tergantung pada jenis material. Bagian pertama akan menjelaskan
secara singkat dan sederhana bagaiman sterilisasi cairan dan padatan (Pelczar,
1986).
Sterilisasi dalam mikrobiologi meruapakan proses penghilangan semua
jenis organisme hidup.Dalam hal ini adalah mikroorganisme yang terdapat pada
suatu benda. Menurut Koesmadji (2002), tujuan utama yaitu mematikan,
menyingkirkan atau mengahmbat pertumbuhan mikroorganisme adalah :
1.

Untuk mencegah inflasi pada manusia, hewan dan tumbuhan.

2.

Untuk mencegah makanan dan lain-lain menjadi rusak.

3.

Untuk mencegah gangguan kontaminasi terhadap mikroorganisme.

4.

Untuk mencegah kontaminasi bahan-bahan yang dipakai

Sterilisasi adalah setiap proses kimia, fisika dan mekanik yang membunuh
semua bentuk kehidupan terutama mikroorganisme (Madigan, 2010).
Sterilisasi adalah metode praktis yang dirancang untuk membersihkan dari
mikroorganisme, atau sengaja untuk menghambat pertumbuhannya yang nyata
dari kepentingan dasar di banyak keadaan. Sterilisasi adalah suatu proses untuk
membunuh semua jenis pada alat dan bahan yang digunakan pada pengujian
mikrobiologi dan bakteri / virus dari lingkungan sekitar (Irianto ,2006).
Jenis dari mikroorganisme sangat berbeda dalam kelemahannya terdapat
berbagai macam agen antimikroba, dan lebih banyak lagi, efek yang praktis dari
agen ini pada adanya keadaan nyata yang sangat besar dipengaruhi oleh
keadaan sekitar. Banyak yang akan bertahan, contohnya pada cuaca tertentu

organisme kulit. Hal ini tidak mungkin, bagaimanapun pada garis besarnya
tentunya prisip dasar digaris bawahi pada umumnya digunakan cara untuk
memusnahkan dan mengontrol kehidupan mikroba (Burdon, 1969).
Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang
ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad
renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi harus dapat membunuh jasad
renik yang paling tahan panas yaitu spora bakteri (Fardiaz, 1992). Adanya
pertumbuhan mikroorganisme menunjukkan bahwa pertumbuhan bakteri masih
berlangsung dan tidak sempurnanya proses sterilisasi. Jika sterilisasi
berlangsung sempurna, maka spora bakteri yang merupakan bentuk paling
resisten dari kehidupan mikrobia akan diluluhkan (Lay dan Hastowo, 1992).
Cara kerja sterilisasi adalah cara kerja agar terhindar dari kontaminasi,
cara kerja steril ini digunakan pada pembuatan media, pemeriksaan kultur dan
pembuatan preparat.Cara-cara sterilisasi adalah sebagai berikut :

2.2.

Secara fisis pemanasan basah


Secara mekanis dengan penyaringan
Secara fisis pemanasan kering
Secara kimia
Teknik aseptik

Macam-macam Teknik Sterilisasi


Sterilisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu panas,
penyaringan, radiasi, dan penambahan bahan kimia. Sedangkan sterilisasi
dengan cara panas dapat dilakukan dengan panas basah, panas kering,
pemanasan bertahap dan perebusan.

a.

Pemanasan

Pemanasan basah
Pemanasan basah adalah sterilisasi panas yang digunakan bersama-sama
dengan uap air. Pemanasan basah biasanya dilakukan didalam autoklaf atau
aterilisator uap yang mudah diangkat dengan menggunakan uap air jenuh
bertekanan pada suhu 1210C selama 15 menit (Hadioetomo, 1985). Cara
pemanasan basah dapat membunuh jasad renik atau mikroorganisme terutama
karena panas basah dapat menyebabkan denaturasi protein, termasuk enzimenzim didalam sel (Fardiaz, 1992).

Pemanasan kering
Dibandingkan pemanasan basah, pemanasan kering kurang efisien dan
membutuhkan suhu yang lebih tinggi serta waktu lama untuk sterilisasi. Hal ini

disebabkan karena tanpa kelembaban maka tidak ada panas laten (Hadioetomo,
1985). Pemanasan kering dapat menyebabkan dehidrasi sel dan oksidasi
komponen-komponen di dalam sel (Fardiaz, 1992). Keuntungan dari pemanasan
kering adalah tidak adanya uap air yang membasahi bahan atau alat yang
disterilkan, selain itu peralatan yang digunakan untuk sterilisasi uap kering lebih
murah dibandingkan uap basah (Lay dan Hastowo, 1992). Pemanasan kering
sering dilakukan dalam sterilisasi alat-alat gelas di laboratorium, dimana
menggunakan oven dengan suhu 160-180 0C selama 1,5-2 jam dengan sistem
udara statis (Fardiaz, 1992).

Pemanasan bertahap
Pemanasan bertahap dilakukan bila media atau bahan kimia tahan terhadap
uap 1000C (Lay dan Hastowo, 1992). Pemanasan bertahap (tindalisasi) dilakukan
dengan cara memanaskan medium atau larutan menggunakan uap selama satu
jam setiap hari untuk tiga hari berturut-turut. Waktu inkubasi diantara dua proses
pemanasan sengaja diadakan supaya spora dapat bergerminasi menjadi sel
vegetatif sehingga mudah dibunuh pada pemanasan berikutnya (Fardiaz, 1992).

Perebusan
Perebusan adalah pemanasan di dalam air mendidih atau uap air pada suhu
1000C selama beberapa menit (Fardiaz,1992). Pada suhu ini sel vegetatif
dimatikan, sedang spora belum dapat dihilangkan (Lay dan Hastowo, 1992).
Beberapa
bakteri
tertentu
tahan
terhadap
suhu
perebusan
ini,
misalnya Clostridium
perfringens dan Clostridium
botulinum tetap
hidup
meskipun direbus selama beberapa jam (Lay dan Hastowo, 1992).

b.

Penyaringan
Penyaringan adalah proses sterilisasi yang dilakukan pada suhu kamar. Sterilisasi
dengan penyaringan digunakan untuk bahan yang peka terhadap panas
misalnya serum, urea dan enzim (Lay dan Hastowo, 1992). Dengan cara
penyaringan larutan atau suspensi dibebaskan dari semua organisme hidup
dengan cara melakukannya lewat saringan dengan ukuran pori yang sedemikian
kecilnya sehingga bakteri dan sel-sel yang lebih besar tertahan diatasnya,
sedangkan filtratnya ditampung didalam wadah yang steril (Hadioetomo, 1985).

c.

Radiasi

Radiasi Ionisasi
Radiasi ionisasi adalah radiasi yang mengandung energi yang jauh lebih
tinggi daripada sinar ultraviolet. Oleh karena itu mempunyai daya desinfektan
yang lebih kuat. Salah satu contoh radiasi ionisasi adalah sinar gamma yang

dipancarkan dari kobalt-10 (Fardiaz, 1992). Radiasi dengan sinar gama dapat
menyebabkan ion bersifat hiperaktif (Lay dan Hastowo, 1992).

Radiasi Sinar Ultra Violet


Sinar ultra violet dengan panjang gelombang yang pendek memiliki daya
antimikrobial yang sangat kuat. Daya kerjanya adalah absorbsi oleh asam
nukleat tanpa menyebabkan kerusakan pada permukaan sel. Kerusakan tersebut
dapat diperbaiki bila disinari dengan berkas yang mempunyai gelombang yang
lebih panjang (Lay dan Hastowo, 1992).

d.

Penambahan bahan kimia


Menurut Lay dan Hastowo (1992), bahan yang menjadi rusak bila disterilkan
pada suhu yang tinggi dapat disterilkan secara kimiawi dengan menggunakan
gas. Bahan kimia yang sering digunakan antara lain :
1) Alkohol, daya kerjanya adalah mengkoagulasi protein. Cairan alkohol yang
umum digunakan berkonsentrasi 70-80% karena konsentrasi yang lebih tinggi
atau lebih rendah kurang efektif.
2) Khlor, Gas khlor dengan air akan menghasilkan ion hipokloride yang akan
mengkoagulasikan protein sehingga membran sel rusak dan terjadi inaktivasi
enzim.
3) Yodium, daya kerjanya adalah bereaksi dengan tyrosin, suatu asam amino
dalam emzim atau protein mikroorganisme.
4) Formaldehida 8% merupakan konsentrasi yang cukup ampuh untuk
mematikan sebagian besar mikroorganisme. Daya kerjanya adalah berkaitan
dengan amino dalam protein mikrobia.
5) Gas etilen oksida, gas ini digunakan terutama untuk mensterilkan bahan yang
dibuat dari plastik.
Sterilisasi dengan bahan kimia digunakan alkohol 70%. Menurut Koesmadji
(2002), etil alkohol sangan efektif pada kadar 70% daripada 100% dan ini tidak
membunuh spora. Sterilisasi dengan alkohol dilakukan pada proses pembuatan
kultur stok dan teknik isolasi. Alkohol 70% disemprotkan pada tangan praktikan
dan alat-alat seperti makropipet dan mikropipet. Alkohol dapat menyingkirkan
minyak, partikel debu, dan bakteri. Menurut Ali (2005), alkohol 70% dapat
menyebabkan denaturasi protein dan koagulasi.

2.3.

Alat-alat Sterilisasi

Macam macam alat sterilisasi yang biasa kita pakai di laboratorium


mikrobiologi yaitu :
a.

Autoklaf
Alat ini terdiri dari suatu tempat yang tahan terhadap tekanan tinggi yang
dilengkapi dengan barometer termometer dan kleb. Cara menggunakan autoklaf
isilah tempat air dengan air sampai angsang kemudian dimasukan alat atau
bahan ke dalam otoklaf. Atur kran pengatur tempat keluar air ditutup sehingga
tekanan uap di dalam autoklaf mencapai 2 atm dan suhu 121 dan biarkan
sterilisasi berlangsung 15-30 menit. Untuk sediaan obat steril yang volumenya
kurang dari 100 ml dilakukan sterilisasi 115-116 selama 30 menit sedangkan
untuk sediaan yang volumenya lebih dari 100 ml dilakukan sterilisasi dilakukan
sampai seluruh isi berada dalam suhu 115-116 dengan waktu 30 menit.
Setelah sterilisasi selesai biarkan autoklaf sampai dingin sampai tekanan
menunjukan angka 0 kemudian kran pengatur dibuka dan terakhir tutup bejana
dibuka. Autoklaf
terutama
ditujukan
untuk
membunuh endospora,
yaitu sel resisten yang diproduksi oleh bakteri, sel ini tahan terhadap
pemanasan, kekeringan, dan antibiotik. Pada spesies yang sama, endospora
dapat bertahan pada kondisi lingkungan yang dapat membunuh sel vegetatif
bakteri tersebut. Endospora dapat dibunuh pada suhu 100 C, yang merupakan
titik didih air pada tekanan atmosfer normal. Pada suhu 121 C, endospora dapat
dibunuh dalam waktu 4-5 menit, dimana sel vegetatif bakteri dapat dibunuh
hanya dalam waktu 6-30 detik pada suhu 65 C. Perhitungan waktu sterilisasi
autoklaf dimulai ketika suhu di dalam autoklaf mencapai 121 C. Jika objek yang
disterilisasi cukup tebal atau banyak, transfer panas pada bagian dalam autoklaf
akan melambat, sehingga terjadi perpanjangan waktu pemanasan total untuk
memastikan bahwa semua objek bersuhu 121 C untuk waktu 10-15 menit.
Perpanjangan waktu juga dibutuhkan ketika cairan dalam volume besar akan
diautoklaf karena volume yang besar membutuhkan waktu yang lebih lama
untuk mencapai suhu sterilisasi Performa autoklaf diuji dengan indicator biologi,
contohnya Bacillus stearothermophilus (Baird, 2000).
Menurut Neidleman (1993), terdapat tiga jenis autoklaf, yaitu gravity
displacement, prevacuum atau high vacuum, dan steam-flush pressure-pulse.
Perbedaan ketiga jenis autoklaf ini terletak pada bagaimana udara dihilangkan
dari dalam autoklaf selama proses sterilisasi.

1.

Gravity Displacement Autoclave


Udara dalam ruang autoklaf dipindahkan hanya berdasarkan gravitasi. Prinsipnya
adalah memanfaatkan keringanan uap dibandingkan dengan udara, sehingga
udara terletak di bawah uap. Cara kerjanya dimulai dengan memasukan uap
melalui bagian atas autoklaf sehingga udara tertekan ke bawah. Secara
perlahan, uap mulai semakin banyak sehingga menekan udara semakin turun

dan keluar melalui saluran di bagian bawah autoklaf, selanjutnya suhu


meningkat dan terjadi sterilisasi. Autoklaf ini dapat bekerja dengan cakupan suhu
antara 121-134 C dengan waktu 10-30 menit.
2.

Prevacuum atau High Vacuum Autoclave


Autoklaf ini dilengkapi pompa yang mengevakuasi hampir semua udara dari
dalam autoklaf. Cara kerjanya dimulai dengan pengeluaran udara. Proses ini
berlangsung selama 8-10 menit. Ketika keadaan vakum tercipta, uap dimasukkan
ke dalam autoklaf. Akibat kevakuman udara, uap segera berhubungan dengan
seluruh permukaan benda, kemudian terjadi peningkatan suhu sehingga proses
sterilisasi berlangsung. Autoklaf ini bekerja dengan suhu 132-135 C dengan
waktu 3-4 menit.

3.

Steam-Flush Pressure-Pulse Autoclave


Autoklaf ini menggunakan aliran uap dan dorongan tekanan di atas tekanan
atmosfer dengan rangkaian berulang. Waktu siklus pada autoklaf ini tergantung
pada benda yang disterilisasi.

b.

Inkubator
Inkubator adalah alat yang digunakan untuk menginkubasi atau memeram
mikroba pada suhu yang terkontrol. Alat ini dilengkapi dengan pengatur suhu
dan pengatur waktu. Kisaran suhu untuk inkubator produksi Heraeus B5042
misalnya adalah 10-70 0C. Inkubator secara umum digunakan sebagai
perlengkapan dalam laboratorium mikrobiologi pangan. Inkubator memiliki fungsi
yang sama dengan water bath yaitu sebagai alat inkubasi pada analisa
mikrobiologi. Inkubator adalah alat yang digunakan untuk menciptakan suhu
stabil dan konstan. Suhu inkbator dipengaruhi oleh adanya perubahan suhu pada
suhu ruang, oleh karena itu perubahan suhu ruang perlu diawasi terutama saat
terjadi perubahan musim (Neidleman, 1993).

c.

Bunsen
Pembakar Bunsen (Bunsen Burner) Salah satu alat yang berfungsi untuk
menciptakan kondisi yang steril adalah pembakar bunsen. Untuk sterilisasi jarum
ose atau yang lain, bagian api yang paling cocok untuk memijarkannya adalah
bagian api yang berwarna biru (paling panas). Perubahan bunsen dapat
menggunakan bahan bakar gas atau metanol (Koesmadji, 2002).

d.

Desinfektan
Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang
digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik
seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah
mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Sedangkan antiseptik
didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh
pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup.

Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai,


ruangan, peralatan dan pakaian.
Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai
antiseptik dan desinfektan. Tetapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahan
antiseptik karena adanya batasan dalam penggunaan antiseptik. Antiseptik
tersebut harus memiliki sifat tidak merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat
keras. Terkadang penambahan bahan desinfektan juga dijadikan sebagai salah
satu cara dalam proses sterilisasi, yaitu proses pembebasan kuman. Tetapi pada
kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat berfungsi sebagai bahan
dalam proses sterilisasi.
Bahan kimia tertentu merupakan zat aktif dalam proses desinfeksi dan sangat
menentukan efektivitas dan fungsi serta target mikroorganime yang akan
dimatikan. Dalam proses desinfeksi sebenarnya dikenal dua cara, cara fisik
(pemanasan) dan cara kimia (penambahan bahan kimia). Dalam tulisan ini
hanya difokuskan kepada cara kimia, khususnya jenis-jenis bahan kimia yang
digunakan serta aplikasinya. Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai
desinfektan, tetapi umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau
golongan pereduksi, yaitu bahan kimia yang mengandung gugus -COH; golongan
alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan halogen
atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen atau yang
mengandung gugus -X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi, golongan garam
amonium kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan biguanida.
Telah dilakukan perbandingan koefisien fenol turunan aldehid (formalin dan
glutaraldehid)
dan
halogen
(iodium
dan
hipoklorit)
terhadap
mikroorganismeStaphylococcus aureus dan Salmonella typhi yang resisten
terhadap ampisilin dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan dari disinfektan
turunan aldehid dan halogen yang dibandingkan dengan fenol dengan metode
uji koefisien fenol . Fenol digunakan sebagai kontrol positif, aquadest sebagai
kontrol negatif dan larutan aldehid dan halogen dalam pengenceran 1:100
sampai
1:500
dicampur
dengan
suspensi
bakteri Staphylococcus
aureus dan Salmonella typhi resisten ampisilin yang telah diinokulum,
keburaman pada tabung pengenceran menandakan bakteri masih dapat tumbuh.
Nilai koefisien fenol dihitung dengan cara membandingkan aktivitas suatu
larutan fenol dengan pengenceran tertentu yang sedang diuji. Hasil dari uji
koefisien fenol menunjukan bahwa disinfektan turunan aldehid dan halogen lebih
efektif membunuh bakteri Staphylococcus aureus dengan nilai koefisien fenol
3,57 ; 5,71 ; 2,14 ; 2,14 berturut-turut untuk formalin, glutaraldehid, iodium dan
hipoklorit, begitu juga dengan bakteriSalmonella typhi, disinfektan aldehid dan
halogen masih lebih efektif dengan nilai koefisien fenol 1,81 ; 2,72 ; 2,27 dan
2,27 berturut-turut untuk formalin, glutaraldehid, iodium dan hipoklorit. Macammacam desinfektan yang sering digunakan yaitu : alkohol, aldehid, biguanid,
senyawa halogen, dan fenol (Irianto, 2006).

2.4.

Pengertian Media
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri
dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk
pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekulmolekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media
pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan
juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya (Anonim, 1995).

2.5.

Macam-macam Media
Menurut Pelczar (1986), ada 3 macam media pertumbuhan pada bakteri yaitu :
1) Medium berdasarkan sifat fisik

Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah
dingin media menjadi padat.

Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4%


sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semi solid
dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh
media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Misalnya
bakteri yang tumbuh pada media NfB (Nitrogen free Bromthymol Blue) semisolid
akan membentuk cincin hijau kebiruan di bawah permukaan media, jika media
ini cair maka cincin ini dapat dengan mudah hancur. Semisolid juga bertujuan
untuk mencegah/menekan difusi oksigen, misalnya pada media Nitrate Broth,
kondisi anaerob atau sedikit oksigen meningkatkan metabolisme nitrat tetapi
bakteri ini juga diharuskan tumbuh merata diseluruh media.

Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar, contohnya adalah NB
(Nutrient Broth), LB (Lactose Broth).

2) Medium berdasarkan komposisi


-

Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan
takarannya secara pasti, misalnya Glucose Agar, Mac Conkey Agar.

Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui


secara pasti, misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung agar,
dekstrosa dan ekstrak kentang. Untuk bahan ekstrak kentang, kita tidak dapat
mengetahui secara detail tentang komposisi senyawa penyusunnya.

Medium non sintesis yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang tidak
dapat diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan

dasarnya, misalnya Tomato Juice Agar, Brain Heart Infusion Agar,Pancreatic


Extract.
3) Medium berdasarkan tujuan
-

Media untuk isolasi


Media ini mengandung semua senyawa esensial untuk pertumbuhan mikroba,
misalnya Nutrient Broth, Blood Agar.

Media selektif/penghambat
Media yang selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat tertentu
sehingga media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan
merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Contohnya adalah Luria
Bertani medium yang ditambah Amphisilin untuk merangsang E.coli resisten
antibotik dan menghambat kontaminan yang peka,Ampiciline. Salt broth yang
ditambah NaCl 4% untuk membunuhStreptococcus agalactiae yang toleran
terhadap garam.

Media diperkaya (enrichment)


Media diperkaya adalah media yang mengandung komponen dasar untuk
pertumbuhan mikroba dan ditambah komponen kompleks seperti darah, serum,
kuning telur. Media diperkaya juga bersifat selektif untuk mikroba tertentu.
Bakteri yang ditumbuhkan dalam media ini tidak hanya membutuhkan nutrisi
sederhana untuk berkembang biak, tetapi membutuhkan komponen kompleks,
misalnya Blood Tellurite Agar, Bile Agar, Serum Agar, dll.

Media untuk peremajaan kultur


Media umum atau spesifik yang digunakan untuk peremajaan kultur

Media untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik.


Media ini digunakan unutk mendiagnosis atau menganalisis metabolisme suatu
mikroba. Contohnya adalah Kosers Citrate medium, yang digunakan untuk
menguji kemampuan menggunakan asam sitrat sebagai sumber karbon.

Media untuk karakterisasi bakteri


Media yang digunakan untuk mengetahui kemempuan spesifik suatu mikroba.
Kadang-kadang indikator ditambahkan untuk menunjukkan adanya perubahan
kimia. Contohnya adalah Nitrate Broth, Lactose Broth, Arginine Agar.

Media diferensial

Media ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroba dari campurannya berdasar


karakter spesifik yang ditunjukkan pada media diferensial, misalnya TSIA (Triple
Sugar Iron Agar) yang mampu memilih Enterobacteria berdasarkan bentuk,
warna, ukuran koloni dan perubahan warna media di sekeliling koloni.

2.6.

Penanaman Mikroba (Inokulasi)


Pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium
yang baru minta banyak ketelitian. Terlebih dahulu harus diusahakan agar semua
alat-alat yang ada sangkut-paut dengan medium dan pekerjaan inokulasi itu
benar-benar steril; ini untuk menghindari kontaminasi, yaitu masuknya
mikroorganisme yang tidak kita inginkan. Maka sebelum itu kita harus
menyiapkan hal-hal sebagai berikut :
a. Menyiapkan ruangan
Ruang tempat inokulasi itu kecil, bersih, dan bebas angin. Dinding ruang yang
basah menyebabkan butir-butir debu menempel kepadanya. Pada waktu
mengadakan inokulasi, baik sekali jika meja tempat inokulasi itu didasari dengan
kain basah. Pekerjaan inokulasi dapat dilakukan juga di dalam suatu kotak
berkaca (ent-kas). Dalam laboratorium untuk membuat vaksin, serum dan
sebagainya, udara yang masuk ke dalam ruangan itu dilewatkan saringan yang
disinari dengan sinar ultra-ungu.

b. Pemindahan dengan kata inokulasi


Ujung kawan inokulasi sebaiknya dari platina atau dari nikrom; ujung itu boleh
lurus, boleh juga berupa kolongan yang berdiameter 1 3 mm. Lebih dahulu
ujung kawat ini dipijarkan, sedang sisanya sampai tangkai cukup dilewatkan
nyala api saja. Setelah dingin kembali, ujung kawat itu disentuhkan suatu koloni.
Mulut tabung tempat pemiaraan itu dipanasi juga setelah sumbatnya diambil.
Setelah pengambilan inokulum (yaitu sampel bakteri) selesai, mulut tabung
dipanasi lagi kemudian disumbat seperti semula. Ujung kawat yang
membawakan inokulum tersebut digesekkan pada medium baru atau pada suatu
kaca benda, kalau tujuannya memang akan membuat suatu sediaan.
c. Pemindahan dengan pipet
Cara ini dilakukan misalnya pada penyelidikan air minum atau pada penyelidikan
susu. Untuk itu diambillah 1 ml contoh untuk diencerkan dengan 99 ml air murni
yang steril. Kemudian diambil 1 ml dari enceran ini untuk dicampur-adukkan
dengan medium agar-agar yang masih dalam keadaan cair (suhu antara 42
45oC). Lalu agar-agar yang masih encer ini dituangkan di cawan Petri. Setelah
agar-agar membeku, maka cawan Petri yang berisi piaraan baru itu disimpan
dalam tempat yang aman, misalnya di dalam almari atau di dalam laci.
d. Teknik penanaman

Teknik penanaman dari suspensi


Teknik penanaman ini merupakan lajutan dari pengenceran bertingkat.
Pengambilan suspensi dapat diambil dari pengenceran mana saja tapi biasanya
untuk tujuan isolasi (mendapatkan koloni tunggal) diambil beberapa tabung
pengenceran terakhir.

1. Spread Plate (agar tabur ulas)


Spread plate adalah teknik menanam dengan menyebarkan suspensi bakteri di
permukaan agar diperoleh kultur murni.
2. Pour Plate (agar tuang)
Teknik ini memerlukan agar yang belum padat (>45 oC) untuk dituang bersama
suspensi bakteri ke dalam cawan petri lalu kemudian dihomogenkan dan
dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebarkan sel-sel bakteri tidak hanya pada
permukaan agar saja melainkan sel terendam agar (di dalam agar) sehingga
terdapat sel yang tumbuh dipermukaan agar yang kaya O 2 dan ada yang tumbuh
di dalam agar yang tidak banyak begitu banyak mengandung oksigen.

Teknik penanaman dengan goresan


Bertujuan untuk mengisolasi mikroorganisme
meremajakan kultur ke dalam medium baru.

dari

campurannya

atau

1. Goresan Sinambung
2. Goresan T
3. Goresan Kuadran
(Koesmadji, 2002)

2.7.

Bakteri dan Macam-macam Bakteri


2.7.1. Pengertian Bakteri
Bakteri
(dari
kata Latin bacterium;
jamak: bacteria)
adalah
kelompokorganisme yang tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini
termasuk ke dalam domain prokariota dan berukuran sangat kecil (mikroskopik),
serta memiliki peran besar dalam kehidupan di bumi. Beberapa kelompok bakteri
dikenal sebagai agen penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan kelompok
lainnya
dapat
memberikan
manfaat
dibidang pangan,
pengobatan,
dan industri. Struktur
sel
bakteri
relatif
sederhana:
tanpa nukleus/inti

sel, kerangka sel, dan organel-organel lain sepertimitokondria dan kloroplas. Hal
inilah
yang
menjadi
dasar
perbedaan
antara selprokariot dengan
sel eukariot yang lebih kompleks (Bardy, 2003).
Bakteri dapat ditemukan di hampir semua tempat: di tanah, air, udara,
dalamsimbiosis dengan organisme lain maupun sebagai agen parasit (patogen),
bahkan dalam tubuh manusia. Pada umumnya, bakteri berukuran 0,5-5 m,
tetapi ada bakteri tertentu yang dapat berdiameter hingga 700 m,
yaitu Thiomargarita.
Mereka
umumnya
memiliki dinding
sel,
seperti
sel tumbuhan dan jamur, tetapi dengan bahan pembentuk sangat berbeda
(peptidoglikan). Beberapa jenis bakteri bersifat motil (mampu bergerak) dan
mobilitasnya
ini
disebabkan
oleh flagel.Bakteri
merupakan
organisme
mikroskopik. Hal ini menyebabkan organisme ini sangat sulit untuk dideteksi,
terutama sebelum ditemukannya mikroskop. Barulah setelah abad ke-19 ilmu
tentang
mikroorganisme,
terutama
bakteri
(bakteriologi),
mulai
berkembang. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, berbagai hal
tentang bakteri telah berhasil ditelusuri. Akan tetapi, perkembangan tersebut
tidak terlepas dari peranan berbagai tokoh penting seperti Robert Hooke, Antoni
van
Leeuwenhoek, Ferdinand
Cohn,
dan Robert
Koch.
Istilah bacterium diperkenalkan
di
kemudian
hari
oleh Ehrenberg pada
tahun 1828, diambil dari kata Yunani (bakterion) yang memiliki arti
"batang-batang kecil".Pengetahuan tentang bakteri berkembang setelah
serangkaian percobaan yang dilakukan olehLouis Pasteur, yang melahirkan
cabang
ilmu mikrobiologi. Bakteriologi adalah
cabang
mikrobiologi
yang
mempelajari biologi bakteri (Madigan, 2010).
Robert Hooke (1635-1703), seorang ahli matematika dan sejarahwan
berkebangsaan Inggris, menulis sebuah buku yang berjudul Micrographia pada
tahun 1665 yang berisi hasil pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan
mikroskop sederhana. Akan tetapi, Robert Hooke masih belum dapat menumukan
struktur bakteri. Dalam bukunya tersebut, tergambar hasil penemuannya
mengenai tubuh buah kapang. Walau demikian, buku inilah yang menjadi sumber
deskripsi awal dari mikroorganisme (Madigan, 2010).
Seperti prokariot (organisme yang tidak memiliki membran inti) pada
umumnya, semua bakteri memiliki struktur sel yang relatif sederhana.
Sehubungan dengan ketiadaan membran inti, meteri genetik (DNA dan RNA)
bakteri melayang-layang di daerah sitoplasma yang bernama nukleoid. Salah
satu struktur bakteri yang penting adalah dinding sel. Bakteri dapat
diklasifikasikan dalam dua kelompok besar berdasarkan struktur dinding selnya,
yaitu bakteri gram negatif dan bakteri gram positif. Bakteri gram positif memiliki
dinding
sel
yang
tersusun
dari
lapisan peptidoglikan (sejenis
molekul polisakarida) yang tebal dan asam teikoat, sedangkan bakteri gram
negatif memiliki lapisan peptidoglikan yang lebih tipis dan mempunyai
struktur lipopolisakarida yang tebal. Metode yang digunakan untuk membedakan

kedua jenis kelompok bakteri ini dikembangkan oleh ilmuwan Denmark, Hans
Christian Gram pada tahun 1884 (Madigan, 2010).
Banyak
bakteri
memiliki
struktur
di
luar
sel
lainnya
seperti flagel danfimbria yang digunakan untuk bergerak, melekat dan konjugasi.
Banyak spesiesbakteri yang bergerak menggunakan flagel (Berg, 2002). Bakteri
yang tidak memiliki alat gerak biasanya hanya mengikuti pergerakan media
pertumbuhannya atau lingkungan tempat bakteri tersebut berada. Sama seperti
struktur kapsul, flagel juga dapat menjadi agen penyebab penyakit pada
beberapa spesies bakteri. Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang dimiliki,
bakteri dibagi menjadi lima golongan, yaitu:

Atrik, tidak mempunyai flagel.

Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.

Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.

Amfitrik, mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya.

Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.


(Rollins, 2004)
Beberapa bakteri juga memiliki kapsul yang beperan dalam melindungi sel
bakteri dari kekeringan dan fagositosis. Struktur kapsul inilah yang sering kali
menjadi faktor virulensi penyebab penyakit, seperti yang ditemukan
padaEscherichia
coli dan Streptococcus
pneumoniae.
Bakteri
juga
memiliki kromosom,ribosom,
dan
beberapa
spesies
lainnya
memiliki granula makanan, vakuola gas, danmagnetosom (Margossch, 2006).
Beberapa bakteri mampu membentuk diri menjadiendospora yang membuat
mereka mampu bertahan hidup pada lingkungan ekstrim.Clostridium
botulinum merupakan salah satu contoh bakteri penghasil endospora yang
sangat tahan suhu dan tekanan tinggi, dimana bakteri ini juga termasuk
golongan bakteri pengebab keracunan pada makanan kaleng. Berdasarkan
bentuknya bakteri dibagi menjadi 3 jenis yaitu : (1) Coccus; (2) Bacillus; (3)
Spiral. Bentuk tubuh/morfologi bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan,
medium, dan usia. Walaupun secara morfologi berbeda-beda, bakteri tetap
merupakan sel tunggal yang dapat hidup mandiri bahkan saat terpisah dari
koloninya (Rollins, 2004).
Bakteri merupakan mikroorganisme ubikuotus, yang berarti melimpah dan
banyak ditemukan di hampir semua tempat. Habitatnya sangat beragam;
lingkungan perairan, tanah, udara, permukaan daun, dan bahkan dapat
ditemukan di dalam organisme hidup. Diperkirakan total jumlah sel
mikroorganisme yang mendiami muka bumi ini adalah 5x10 30. Bakteri dapat
ditemukan di dalam tubuh manusia, terutama di dalam saluran pencernaan yang
jumlah selnya 10 kali lipat lebih banyak dari jumlah total sel tubuh manusia. Oleh

karena itu, kolonisasi bakteri sangatlah mempengaruhi kondisi tubuh manusia


(Maier, 2009).
Thermus aquatiqus, bakteri termofilik yang banyak diaplikasikan
dalambioteknologi.
Terdapat beragam jenis bakteri yang mampu menghabitasi daerah
saluran pencernaan manusia, terutama pada usus besar, diantaranya
adalah bakteri asam laktat dan kelompok enterobacter . Contoh bakteri yang
biasa ditemukan adalahLactobacillus acidophilus. Di samping itu, terdapat pula
kelompok bakteri lain, yaitu probiotik, yang bersifat menguntungkan karena
dapat
menunjang kesehatandan
bahkan
mampu
mencegah
terbentuknya kanker usus besar.Selain di dalam saluran pencernaan, bakteri
juga dapat ditemukan di permukaan kulit, mata, mulut, dan kaki manusia. Di
dalam mulut dan kaki manusia terdapat kelompok bakteri yang dikenal dengan
nama metilotrof, yaitu kelompok bakteri yang mampu menggunakan
senyawa karbon tunggal untuk menyokong pertumbuhannya. Di dalam rongga
mulut, bakteri ini menggunakan senyawa dimetil sulfida yang berperan dalam
menyebabkan bau pada mulut manusia. Beberapa kelompok mikroorganisme ini
mampu hidup di lingkungan yang tidak memungkinkan organisme lain untuk
hidup. Kondisi lingkungan yang ekstrim ini menuntut adanya toleransi,
mekanisme metabolisme, dan daya tahan sel yang unik. Sebagai
contoh,Thermus aquatiqus merupakan salah satu jenis bakteri yang hidup pada
sumber air panas dengan kisaran suhu 60-80 oC (Madigan, 2010). Tidak hanya di
lingkungan bersuhu tinggi, bakteri juga dapat ditemukan pada lingkungan
dengan suhu yang sangat dingin. Pseudomonas extremaustralis ditemukan
pada Antartika dengan suhu di bawah 0 oC. Di samping pengaruh ekstrim
temperatur, bakteri juga dapat hidup pada berbagai lingkungan lain yang hampir
tidak memungkinkan adanya kehidupan (lingkungan steril). Halobacterium
salinarum dan Halococcus sp. adalah contoh dari bakteri yang dapat hidup pada
kondisi garam (NaCl) yang sangat tinggi (15-30%).Tedapat pula beberapa jenis
bakteri yang mampu hidup pada kadar gulatinggi (kelompok osmofil),
kadar air rendah (kelompok xerofil), derajat keasamanpH sangat tinggi, dan
rendah (Neidleman, 1993).
Beberapa macam peranan bakteri dalam berbagai macam bidang yaitu:
Bidang Lingkungan
Keanekaragaman bakteri dan jalur metabolismenya menyebabkan bakteri
memiliki
peranan
yang
besar
bagi
lingkungan.
Sebagai
contoh,
bakteri saprofitmenguraikan tumbuhan atau hewan yang telah mati dan sisa-sisa
atau kotoran organisme. Bakteri tersebut menguraikan protein, karbohidrat dan
senyawaorganik lain menjadi CO2, gas amoniak, dan senyawa-senyawa lain yang
lebih sederhana. Contoh bakteri saprofit antara lain Proteus dan Clostridium.
Tidak hanya berperan sebagai pengurai senyawa organik, beberapa kelompok
bakteri saprofit juga merupakan patogen oportunis.

Frankia alni, salah satu bakteri pengikat N2 yang berasosiasi dengan tanaman
membentuk bintil akar
Kelompok bakteri lainnya berperan dalam siklus nitrogen, seperti bakteri
nitrifikasi. Bakteri nitrifikasi adalah kelompok bakteri yang mampu menyusun
senyawa nitrat dari senyawa amonia yang pada umumnya berlangsung secara
aerob di dalam tanah. Kelompok bakteri ini bersifat kemolitotrof. Nitrifikasi terdiri
atas dua tahap yaitu nitritasi (oksidasi amonia (NH 4) menjadi nitrit (NO2-)) dan
nitratasi (oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat (NO 3)). Dalam bidang pertanian,
nitrifikasi sangat menguntungkan karena menghasilkan senyawa yang
diperlukan oleh tanaman yaitu nitrat. Setelah reaksi nitrifikasi selesai, akan
terjadi proses dinitrifikasi yang dilakukan oleh bakteri denitrifikasi. Denitrifikasi
sendiri merupakan reduksi anaerobik senyawa nitrat menjadi nitrogen bebas (N2)
yang lebih mudah diserap dan dimetabolisme oleh berbagai makhluk hidup.
Contoh bakteri yang mampu melakukan metabolisme ini adalah Pseudomonas
stutzeri, Pseudomonas aeruginosa, and Paracoccus denitrificans.Di samping itu,
reaksi ini juga menghasilkan nitrogen dalam bentuk lain, seperti dinitrogen
oksida (N2O). Senyawa tersebut tidak hanya dapat berperan penting bagi hidup
berbagai organisme, tetapi juga dapat berperan dalam fenomena hujan
asam dan rusaknya ozon. Senyawa N2O akan dioksidasi menjadi senyawa NO
dan selanjutnya bereaksi dengan ozon (O 3) membentuk NO2- yang akan kembali
ke bumi dalam bentuk hujan asam (HNO 2). Di bidang pertanian dikenal adanya
suatu kelompok bakteri yang mampu bersimbiosis dengan akar tanaman atau
hidup bebas di tanah untuk membantu penyuburan tanah. Kelompok bakteri ini
dikenal dengan istilah bakteri pengikat nitrogen atau singkatnya bakteri
nitrogen.
Bakteri
nitrogen
adalah
kelompok
bakteri
yang
mampu
mengikat nitrogen(terutaman N2) bebas di udara dan mereduksinya menjadi
senyawa amonia (NH4) dan ion nitrat (NO3-) oleh bantuan enzim nitrogenase.
Kelompok bakteri ini biasanya bersimbiosis dengan tanaman kacang-kacangan
dan polong untuk membentuk suatu simbiosis mutualisme berupa nodul
atau bintil akar untuk mengikat nitrogen bebas di udara yang pada umumnya
tidak dapat digunakan secara langsung oleh kebanyakan organisme (Maier,
2009).

Bidang Pangan
Terdapat
beberapa
kelompok
bakteri
yang
mampu
melakukan
proses fermentasidan hal ini telah banyak diterapkan pada pengolahan berbagi
jenis makanan. Bahan pangan yang telah difermentasi pada umumnya akan
memiliki masa simpan yang lebih lama, juga dapat meningkatkan atau bahkan
memberikan cita rasa baru dan unik pada makanan tersebut. Beberapa makanan
hasil fermentasi dan mikroorganisme yang berperan:
No
.

Nama Produk

Bahan Baku

Bakteri yang berperan

1.

Yoghurt

susu

Lactobacillus

bulgaricus danStreptococ
cus thermophilus
2.

Mentega

susu

Streptococcus lactis

3.

Terasi

ikan

Lactobacillus sp.

4.

Asinan buahbuahan

Buah-buahan

Lactobacillus sp.

5.

Sosis

daging

Pediococcus cerevisiae
(Nikiyan, 2010)

Bidang Kesehatan
Tidak hanya di bidang lingkungan dan pangan, bakteri juga dapat memberikan
manfaat dibidang kesehatan. Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh
mikroorganisme
dan
mempunyai
daya
hambat
terhadap
kegiatan
mikroorganisme lain dan senyawa ini banyak digunakan dalam menyembuhkan
suatu penyakit. Beberapa bakteri yang menghasilkan antibiotik adalah:

Streptomyces griseus, menghasilkan antibiotik streptomycin[

Streptomyces aureofaciens, menghasilkan antibiotik tetracycline

Streptomyces venezuelae, menghasilkan antibiotik chloramphenicol

Penicillium, menghasilkan antibiotik penisilin

Bacillus polymyxa, menghasilkan antibiotik polymixin


Terlepas dari peranannya dalam menghasilkan antibiotik, banyak jenis bakteri
yang justru bersifat patogen. Pada manusia, beberapa jenis bakteri yang sering
kali menjadi agen penyebab penyakit adalah Salmonella enterica subspesies I
serovar
Typhi
yang
menyebabkan
penyakit tifus, Mycobacterium
tuberculosisyang menyebabkan penyakit TBC, dan Clostridium tetani yang
menyebabkan penyakit tetanus. Bakteri patogen juga dapat menyerang hewan
ternak, sepertiBrucella abortus yang menyebabkan brucellosis pada sapi
dan Bacillus anthracis yang menyebabkan antraks. Untuk infeksi pada tanaman
yang umum dikenal adalah Xanthomonas oryzae yang menyerang pucuk
batang padi danErwinia amylovora yang menyebabkan busuk pada buahbuahan (Margosch, 2006).
2.7.2. Macam-macam Bakteri
Menurut Pelczar (1986), bakteri berdasarkan cara memperoleh makanannya
dan kebutuhan oksigennya terbagi menjadi 2 jenis yaitu :
a.

Bakteri heterotrof

Bakteri heterotrof adalah bakteri yang hidup dan memperoleh


makanan dari lingkungannya karena tidak dapat membuat makanan
hidup yang ditumpanginya karena dapat menimbulkan penyakit. Contoh
penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini, antara lain, kolera disebabkan oleh
bakteri Vibrio cholerae, TBC disebabkan oleh bakteriMycobacterium tuberculosis,
disentri disebabkan oleh bakteri Shigella dysenterriae, sifilis disebabkan oleh
bakteri Treponema pallidum, dan radang paru-paru (pneumoniae) disebabkan
oleh bakteri Diplococcus pneumoniae. Penularan penyakit yang disebabkan oleh
bakteri dapat melalui makanan, minuman, pernapasan, ataupun kontak langsung
dengan penderita, baik secara langsung maupun tidak langsung.

b.

Bakteri autotrof
Bakteri autotrof adalah bakteri yang dapat membuat makanannya
sendiri. Berdasarkan asal energi yang digunakan, bakteri autotrof dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu bakteri yang bersifat kemoautotrof dan bakteri
yang bersifat fotoatotrof. Bakteri kemoautotrof adalah bakteri yang membuat
makanannya dengan bantuan energi yang berasal dari reaksi-reaksi kimia,
misalnya, proses oksidasi senyawa tertentu. Contohnya, bakteri nitrit dengan
mengoksidkan NH3, bakteri nitrat dengan mengoksidkan HNO2, bakteri belerang
dengan mengoksidkan senyawa belerang, Nitosococcus, dan Nitrobacter. Bakteri
fotoautotrof adalah bakteri yang membuat makanannya dengan bantuan energi
yang berasal dari cahaya matahari. Bakteri ini adalah bakteri yang mengandung
zat warna hijau sehingga dapat melakukan fotosintesis, seperti tumbuhan hijau.
Contohnya bakteri-bakteriyang mempunyai zat warna, antara lain, dari golongan
Thiorhodaceae (bakteri belerang berzat warna).
Menurut Volk (1988), bakteri berdasarkan kebutuhan oksigennya, bakteri
dapat dibedakan menjadi bakteri aerob dan bakteri anaerob :
a. Bakteri aerob
Bakteri aerob adalah bakteri yang hidupnya memerlukan oksigen
bebas. Bakteri yang hidup secara aerob dapat memecah gula menjadi air, CO2,
dan energi. Bakteri aerob secara obligat adalah bakteri yang mutlak memerlukan
oksigen bebas dalam hidupnya, misalnya, bakteri Nitrosomonas.
b. Bakteri anaerob
Bakteri anaerob adalah bakteri yang dapat hidup tanpa oksigen
bebas, misalnya, bakteri asam susu, bakteri Lactobacillus bulgaricus,
danClostridium tetani. Akan tetapi, jika bakteri tersebut dapat hidup tanpa
kebutuhan oksigen secara mutlak atau dapat hidup tanpa adanya oksigen,
bakteri itu disebut bakteri anaerob fakultatif.

2.8.

Pewarnaan Bakteri

Mikroba sulit dilihat dengan cahaya karena tidak mengadsorbsi atau


membiaskan cahaya. Alasan inilah yang menyebabkan zat warna digunakan
untuk mewarnai mikroorganisme. Zat warna mengadsorbsi dan membiaskan
cahaya sehingga kontras mikroba dengan sekelilingnya dapat ditingkatkan.
Penggunaan zat warna memungkinkan pengamatan strukur seperti spora,
flagela, dan bahan inklusi yng mengandung zat pati dan granula fosfat
(Dwidjoseputro, 2005).
Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, kerena
selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk
mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bekteri,
sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Olek karena itu teknik
pewarnaan sel bakteri ini merupakan salahsatu cara yang paling utama dalam
penelitian-penelitian mikrobiologi (Widjoseputro, 1989).
Tujuan pewarnaan terhadap mikroorganisme ialah untuk :
1. Mempermudah melihat bentuk jasad, baik bakteri, ragi, maupun fungi.
2. Memperjelas ukuran dan bentuk jasad.
3. Melihat struktur luar dan kalau memungkinkan struktur dalam jasad.
4. Melihat reaksi jasad terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat-sifat fisik
dan kimia dapat diketahui.

2.9.

Teknik Pewarnaan

Teknik pewarnaan warna pada bakteri dapat dibedakan menjadi empat


macam yaitu pengecatan sederhana, pengecatan negatif, pengecatan diferensial
dan pengecatan struktural. Pemberian warna pada bakteri atau jasad- jasad
renik lain dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan
tipis, atau olesan, yang sudah difiksasi, dinamakan pewarnaan sederhana.
Prosedur pewarnaan yang menampilkan perbedaan di antara sel-sel microbe
atau bagian-bagian sel microbe disebut teknik pewarnaan diferensial. Sedangkan
pengecatan struktural hanya mewarnai satu bagian dari sel sehingga dapat
membedakan bagian-bagian dari sel. Termasuk dalam pengecatan ini adalah
pengecatan endospora, flagella dan pengecatan kapsul (Waluyo, 2010).

Langkah-langkah utama teknik pewarnaan :


1. Pembuatan olesan bakteri, olesan bakteri tidak boleh terlalu tebal atau tipis

2.

Fiksasi, dapat dilakukan secara pemanasan atau dengan aplikasi bahan kimia
seperti sabun, formalin, fenol.

3. Aplikasi zat warna : tunggal, atau lebih dari 1 zat warna


Teknik
pewarnaan
dikelompokkan
menjadi
beberapa
tipe,
berdasarkan respon sel bakteri terhadap zat pewarna dan sistem pewarnaan
yang digunakan untuk pemisahan kelompok bakteri digunakan pewarnaan Gram,
dan pewarnaan acid-fast(tahan asam) untuk genus Mycobacterium. Untuk
melihat struktur digunakan pewarnaan flagela, pewarnaan kapsul, pewarnaan
spora, dan pewarnaan nukleus. Pewarnaan Neisser atau Albert digunakan untuk
melihat
granula
metakromatik (volutin
bodies) pada Corynebacterium
diphtheriae. Untuk semua prosedur pewarnaan mikrobiologi dibutuhkan
pembuatan apusan lebih dahulu sebelum melaksanakan beberapa teknik
pewarnaan yang spesifik (Pelczar, 1986). Secara garis besar teknik pewarnaan
bakteri dapat dikategorikan sebagai berikut:
1.

Pewarnaan sederhana

Menggunakan satu macam zat warna (biru metilen/air fukhsin) tujuan hanya
untuk melihat bentuk sel. Pewarnaan sederhana, merupakan pewarna yang
paling umum digunakan. Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil,
spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna
sederhana, yaitu mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat
warna saja. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna
sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan
zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat
alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif). Zat warna yang dipakai
hanya terdiri dari satu zat yang dilarutkan dalam bahan pelarut. Pewarnaan
Sederhana merupakan satu cara yang cepat untuk melihat morfologi bakteri
secara umum. Beberapa contoh zat warna yang banyak digunakan adalah biru
metilen (30-60 detik), ungu kristal (10 detik) dan fukhsin-karbol (5 detik).
Gambar pewarnaan sederhana
2.

Pewarnaan differensial dibagi pewarnaan gram dan pewarnaan tahan


asam

Pewarnaan differensial
Pewarnaan bakteri yang menggunakan lebih dari satu zat warna seperti
pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam. Penjelasan sebagai berikut:

Pewarnaan Gram
Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode untuk membedakan
spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram-positif dan gramnegatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Metode ini diberi
nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853

1938) yang mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan
antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae.
Dengan metode pewarnaan Gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan reaksi atau sifat bakteri
terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh
komposisi dinding selnya. Oleh karena itu, pengecatan Gram tidak bisa dilakukan
pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp
Contoh bakteri yang tergolong bakteri tahan asam, yaitu dari genus
Mycobacterium dan beberapa spesies tertentu dari genus Nocardia.
Bakteribakteri dari kedua genus ini diketahui memiliki sejumlah besar zat lipodial
(berlemak) di dalam dinding selnya sehingga menyebabkan dinding sel tersebut
relatif tidak permeabel terhadap zat-zat warna yang umum sehingga sel bakteri
tersebut tidak terwarnai oleh metode pewarnaan biasa, seperti pewarnaan
sederhana atau Gram. Dalam pewarnaan gram diperlukan empat reagen yaitu :
Zat warna utama (violet kristal)
Mordan (larutan Iodin) yaitu senyawa yang digunakan untuk mengintensifkan
warna utama.
Pencuci / peluntur zat warna (alcohol / aseton) yaitu solven organic yang
digunakan uantuk melunturkan zat warna utama.
Zat warna kedua / cat penutup (safranin) digunakan untuk mewarnai kembali selsel yang telah kehilangan cat utama setelah perlakuan denga alcohol.
Bakteri Gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna
metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram-positif akan
mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol,
sementara bakteri gram-negatif tidak. Pada uji pewarnaan Gram, suatu pewarna
penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat semua
bakteri gram-negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini
berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan
struktur dinding sel mereka.
Pengecatan gram dilakukan dalam 4 tahap yaitu
1. Pemberian cat warna utama (cairan kristal violet) berwarna ungu.
2. Pengintesifan cat utama dengan penambahan larutan mordan JKJ.
3. Pencucian (dekolarisasi) dengan larutan alkohol asam.
4. Pemberian cat lawan yaitu cat warna safranin
Perbedaan dasar antara bakteri gram positif dan negatif adalah pada komponen
dinding selnya. Kompleks zat iodin terperangkap antara dinding sel dan
membran sitoplasma organisme gram positif, sedangkan penyingkiran zat lipida
dari dinding sel organisme gram negatif dengan pencucian alcohol

memungkinkan hilang dari sel. Bakteri gram positif memiliki membran tunggal
yang dilapisi peptidohlikan yang tebal (25-50nm) sedangkan bakteri negative
lapisan peptidoglikogennya tipis (1-3 nm).
Sifat bakteri terhadap pewarnaan Gram merupakan sifat penting untuk
membantu determinasi suatu bakteri. Beberapa perbedaan sifat yang dapat
dijumpai antara bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif yaitu:
Ciri-ciri bakteri gram negatif yaitu:

Struktur dinding selnya tipis, sekitar 10 15 mm, berlapis tiga atau multilayer.

Dinding selnya mengandung lemak lebih banyak (11-22%), peptidoglikan


terdapat didalam

lapisan kaku, sebelah dalam dengan jumlah sedikit 10% dari berat kering,
tidak mengandung asam tekoat.

Kurang rentan terhadap senyawa penisilin.


Pertumbuhannya tidak begitu dihambat oleh zat warna dasar misalnya kristal
violet.

Komposisi nutrisi yang dibutuhkan relatif sederhana.

Tidak resisten terhadap gangguan fisik.

Resistensi terhadap alkali (1% KOH) lebih pekat

Peka terhadap streptomisin

Toksin yang dibentuk Endotoksin


Ciri-ciri bakteri gram positif yaitu:

Struktur dinding selnya tebal, sekitar 15-80 nm, berlapis tunggal atau
monolayer.

Dinding selnya mengandung lipid yang lebih normal (1-4%), peptidoglikan ada
yang sebagai lapisan tunggal. Komponen utama merupakan lebih dari 50% berat
ringan. Mengandung asam tekoat.

Bersifat lebih rentan terhadap penisilin.

Pertumbuhan dihambat secara nyata oleh zat-zat warna seperti ungu kristal.

Komposisi nutrisi yang dibutuhkan lebih rumit.

Lebih resisten terhadap gangguan fisik.

Resistensi terhadap alkali (1% KOH) larut

Tidak peka terhadap streptomisin

Toksin yang dibentuk Eksotoksin Endotoksin


Contoh bakteri gram positif

Contoh bakteri gram negatif

(http://id.wikipedia.org/wiki/Pewarnaan_Gram)
Pewarnaan Tahan Asam
Pewarnaan ini ditujukan terhadap bakteri yang mengandung lemak dalam
konsentrasi tinggi sehingga sukar menyerap zat warna, namun jika bakteri diberi
zat warna khusus misalnya karbolfukhsin melalui proses pemanasan, maka akan
menyerap zat warna dan akan tahan diikat tanpa mampu dilunturkan oleh
peluntur yang kuat sekalipun seperti asam-alkohol. Karena itu bakteri ini disebut
bakteri tahan asam (BTA). Teknik pewarnaan ini dapat digunakan untuk
mendiagnosa keberadaan bakteri penyebab tuberkulosis yaitu Mycobacterium
tuberculosis . Ada beberapa cara pewarnaan tahan asam, namun yang paling
banyak adalah cara menurut Ziehl-Neelsen (Irianto, 2006).
Bakteri Tahan Asam (pink) dan bakteri Tidak Tahan Asam (biru)

3. Pewarnaan khusus untuk melihat struktur tertentu : pewarnaan flagel, pewarnaan


spora, pewarnaan kapsul.
Pewarnaan Spora
Spora bakteri (endospora) tidak dapat diwarnai dengan pewarnaan biasa,
diperlukan teknik pewarnaan khusus. Pewarnaan Klein adalah pewarnaan spora
yang paling banyak digunakan. Endospora sulit diwarnai dengan metode Gram.
Untuk pewarnaan endspores, perlu dilakukan pemanasan supaya cat malachite
hijau bisa masuk ke dalam spora , seperti halnya pada pewarnaan Basil Tahan
Asam dimana cat carbol fuschsin harus dipanaskan untuk bisa menembus
lapisan lilin asam mycolic dari Mycobacterium (Waluyo, 2010).
Skema prosedur pengecatan Spora Schaeffer Fulton
(http://images.suite101.com/400620_com_endosporestainprocpscanite)
Pewarnaan flagel
Pewarnaan flagel dengan memberi suspense koloid garam asam tanat yang tidak
stabil, sehingga terbentuk presipitat tebal pada dinding sel dan flagel (Waluyo,
2010).
Pewarnaan kapsul
Pewarnaan ini menggunakan larutan Kristal violet panas, lalu larutan tembaga
sulfat sebagai pembilasan menghasilkan warna biru pucat pada kapsul, karena

jika pembilasan dengan air dapat melarutkan kapsul. Garam tembaga juga
memberi warna pada latar belakang. Yang berwana biru gelap (Waluyo, 2010).
4.

Pewarnaan khusus untuk melihat komponen lain dan bakteri :


a. Pewarnaan Neisser (granula volutin)
b. Pewarnaan yodium (granula glikogen)

5.

Pewarnaan negatif
Tujuan: Mempelajari penggunaan prosedur pewarnaan negatif untuk mengamati
morfologi organisme yang sukar diwarnai oleh pewarna sederhana. Bakteri tidak
diwarnai, tapi mewarnai latar belakang. Ditujukan untuk bakteri yang sulit
diwarnai, seperti spirochaeta
Cara pewarnaan negatif
- Sediaan hapus teteskan emersi lihat di mikroskop
Pewarnaan negatif, metode ini bukan untuk mewarnai bakteri tetapi mewarnai latar belakangnya
menjadi hitam gelap. Pada pewarnaan ini mikroorganisme kelihatan transparan (tembus
pandang). Teknik ini berguna untuk menentukan morfologi dan ukuran sel. Pada pewarnaan ini
olesan tidak mengalami pemanasan atau perlakuan yang keras dengan bahan-bahan kimia,
maka terjadinya penyusutan dan salah satu bentuk agar kurang sehingga penentuan sel dapat
diperoleh dengan lebih tepat. Metode ini menggunakan cat nigrosin atau tinta cina. Pewarnaan
negatif memerlukan pewarna asam seperti eosin atau negrosin.pewarna asam memiliki negatif
charge kromogen,tidak akan menembus atau berpenetrasi ke dalam sel karena negative charge
pada permukaan bakteri. oleh karena itu, sel tidak berwarna mudah dilihat dengan latar
belakang berwarna (Koesmadji, 2002).

2.10.

Teknik Aseptis

Teknik aseptis sangat penting dalam pengerjaan mikrobiologi yang


memerlukan ketelitian dan keakuratan disamping kesterilan yang harus selalu
dijaga agar terbebas dari kontaminan yang dapat mencemari. Populasi mikroba
di alam sekitar kita sangat besar dan komplek. Beratus-ratus spesies berbagai
mikroba biasanya menghuni bermacam-macam bagian tubuh kita, termasuk
mulut, saluran pencernaan, dan kulit. Sekali bersin terdapat beribu-ribu
mikroorganisme sehingga diperlukan teknik yang dapat meminimalisirnya
seperti pengisolasian (Pelczar, 1986).
Salah satu teknik dasar dalam analisa mikrobiologi adalah teknik transfer
aseptis (suatu metode atau teknik di dalam memindahkan atau mentransfer

kultur bakteria dari satu tempat ke tempat lain secara aseptis agar tidak terjadi
kontaminasi oleh mikroba lain ke dalam kultur). Teknik ini sangat esensial dan
kunci keberhasilan prosedur mikrobial yang harus diketahui oleh seorang yang
hendak melakukan analisis mikrobiologi. Pengambilan sampel harus dilakukan
secara statistik agar tidak bias, jadi secara acak (random sampling). Selain itu,
digunakan teknik aseptis selama pengambilan sampel agar tidak terjadi
pencemaran. Alat-alat yang digunakan harus steril. Bahan makanan cair diambil
dengan pipet steril, makanan padat menggunakan pisau, garpu, sendok atau
penjepit yang steril (Irianto, 2006).

BAB III
MATERI DAN METODE
3.1.

Waktu dan Tempat

Hari, Tanggal : Rabu, 23 November 2011


Pukul
Tempat

: 15.00 - 17.00 WIB

: Laboratorium Mikrobiologi, Lt. II Gedung E Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas


Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang

3.2.

Alat dan Bahan

3.2.1. Alat
No.

Nama Alat

Gambar

Kegunaan

1.

Autoklaf

Mensterilisasikan
alat/media pada
suhu 121 0C

2.

Inkubator

Berfungsi untuk
menginkubasi
mikroba yang
diinginkan pada
suhu optimum
pertumbuhannya

3.

Desinfektan /
Alkohol

Pembersih/antisepti
k pada alat dan
media bakteri

4.

Bunsen

Digunakan untuk
memanaskan
medium,
mensterilkan jarum
inokulasi dan alatalat yang terbuat
dari platina dan
nikrom seperti
jarum platina dan
ose

5.

Cawan petri

Digunakan sebagai
wadah
penyimpanan dan

pembuatan kultur
media
6.

Timbangan
analitik

Berfungsi untuk
menimbang bahan
yang akan
digunakan dalam
praktikum dengan
tingkat ketelitian
yang tinggi

7.

Aluminium foil

Digunakan sebagai
wadah bahan
pembuatan media
pada saat
ditimbang

8.

Erlenmeyer

Fungsinya untuk
menyimpan
medium,
menyimpan larutan
sisa, atau larutan
yang akan
dipergunakan, dan
tempat untuk
menyimpan
medium yang akan
disterilkan

9.

Tabung reaksi

Digunakan sebagai
wadah
penyimpanan
medium atau
larutan yang akan
disterilkan

10.

Gelas ukur

Berfungsi untuk
mengukur volume
larutan yang akan
digunakan

11.

Batang
pengaduk

Berfungsi untuk
mengaduk bahan
kimia atau
menghomogenkan
medium yang akan

dibuat
12.

Pipet tetes

Digunakan untuk
mengambil dan
memindahkan
larutan yang akan
digunakan dan
dikeluarkan tetes
per tetes

13.

Kapas

Digunakan untuk
menutup bagian
mulut erlenmeyer
sebelum
dipanaskan dalam
autoklaf

3.2.2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan media Zobells 2216 e yaitu :
- Pepton 0,25 gr
- Ekstrat yeast 0,05 gr
- Bacto agar 1,5 gr
- Aquadest 100 ml
3.3.

Cara Kerja

3.3.1.

Teknik Sterilisasi

3.3.1.1. Sterilisasi menggunakan autoklaf


Cara penggunaan autoklaf untuk mensterilkan alat atau media bakteri yaitu
sebagai berikut :
-

Sebelum melakukan sterilisasi cek dahulu banyaknya air dalam autoklaf. Jika air
kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas
tersebut. Gunakan air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan
karat.

Masukkan peralatan dan bahan. Jika mensterilisasi botol beretutup ulir, maka
tutup harus dikendorkan.

Tutup autoklaf dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada
uap yang keluar dari bibir autoklaf. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih
dahulu.

Nyalakan autoklaf, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu
121oC.

Tunggu samapai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen


autoklaf dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman
ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15
dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.

Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen
turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure
gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan
keluarkan isi autoklaf dengan hati-hati.

3.3.1.2. Sterilisasi menggunakan bunsen


-

Nyalakan pembakar bunsen dengan cara membuka tutupnya.

Sterilkan jarum ose dengan membakar ujung jarum yang terbuat dari logam pada api bunsen.

Peganglah jarum dengan posisi agak tegak di atas api ( 45), bakar jarum hingga berpijar dan
pijaran tersebut merambat hingga pangkal bagian logam jarum.

Bila sudah selesai, tunggu beberapa detik hingga suhu ose kembali normal. Atau sentuhkan
ujung ose pada permukaan media hingga terdengar bunyi ches.

3.3.1.3. Sterilisasi menggunakan inkubator


-

Buka tutup inkubator dan masukkan peralatan dari gelas yang sudah dibungkus ke
dalam inkubator.
Tutup inkubator dan atur pengontrol suhu pada angka 160-180C selama 1-2 jam.

3.3.1.4. Sterilisasi menggunakan alkohol


Alkohol 70% disemprotkan pada area laboratorium tempat kita
mikrobiologi.

melakukan praktikum

3.3.2. Pembuatan Media Zobells 2166 e


a. Pembuatan media Zobells 2166 e untuk volume 100 ml pada
yaitu :

cawan petri

Timbang kertas aluminium foil hingga 0 gr dan bahan-bahan lainnya sesuai


ketentuan pada timbangan analitik.

Masukkan pepton 0,25 gr, ekstrat yeast 0,05 gr, bacto agar 1,5 gr,
tambahkan 100 ml aquadest pada erlenmeyer.

serta

Dipanaskan sambil diaduk hingga larutan media menjadi homogen.


Diangkat, kemudian ditutup bagian mulut erlenmeyer dengan kapas dan
alumunium foil.

Masukkan ke dalam autoklaf pada suhu 121 0C hingga 15 menit.

Keluarkan dari autoklaf kemudian dituangkan ke dalam cawan petri. Pada saat
penuangan media ke cawan petri kondisi tempat kerja harus steril. Gunakan
desinfektan untuk mengaseptiskan tangan kita serta bagian tempat kerja
tersebut.

Penuangan media ke cawan petri harus perlahan dan didekatkan pada bunsen
agar tidak ada kontaminasi bakteri dari udara di sekitar cawan petri ataupun
erlenmeyer. Usahakan agar media benar-benar terisi penuh dalam cawan petri
maksimal 20 ml.

Tutup cawan petri dengan cover/penutup cawan petri. Didiamkan sampai


hangat sampai media di dalam cawan petri mengeras. Setelah mengeras balik
bagian cover menjadi bottom pada cawan petri tersebut. Hal tersebut bertujuan
agar uap air pada cawan petri hilang dan tidak mengganggu media di dalamnya
kemudian setelah beberapa saat, media pun siap untuk digunakan untuk kultur.

Setelah itu barulah cawan petri yang berisi media siap untuk disimpan. Sebelum
disimpan, cawan petri dibungkus menggunakan plastik warp.

b. Pembuatan media Zobells 2166 e untuk volume 100 ml pada tabung reaksi yaitu
:
-

Timbang kertas aluminium foil hingga 0 gr dan bahan-bahan lainnya sesuai


ketentuan pada timbangan analitik.

Masukkan pepton 0,25 gr, ekstrat yeast 0,05 gr, bacto agar 1,5 gr,
tambahkan 100 ml aquadest pada erlenmeyer.
Dipanaskan sambil diaduk hingga larutan media menjadi homogen.

serta

Diangkat, kemudian dituangkan ke dalam tabung reaksi menggunakan pipet


tetes. Pada saat pemindahan media dengan pipet tetes, usahakan agar tempat
kerja harus tetap steril dari kontaminasi bakteri.

Tutup bagian mulut tabung reaksi dengan kapas dan aluminium foil.

Masukkan dalam autoklaf pada suhu 121 0C hingga 15 menit.

Keluarkan dari autoklaf, kemudian media yang ada di dalam tabung reaksi
dimiringkan beberapa derajat (disebut media miring) sampai media tersebut
berubah menjadi padat.

Simpan media tersebut pada tempat yang aman dan usahakan agar tidak
terjadi kontaminasi dengan bakteri lain (tetap steril).

3.3.3.
1.

Pewarnaan (Pengecatan)
Pembuatan Preparat Bakteri

Bakteri diratakan setipis mungkin di atas gelas benda yang bersih. Selanjutnya
bakteri difiksasi dengan cara melakukan secara cepat di atas nyala api bunsen
kira-kira 2 atau 3 kali. Smear sekarang siap untuk diwarnai.

2.

Pengecatan Gram

Bubuhkan kristal violet sampai smear terndam cat, biarkan selama 1 menit,
kemudian cuci dengan air yang mengalir.

Bubuhkan smear dengan Burkes iodine selama 1 menit, cuci dengan air yang
mengalir.

Dekolonisani dengan atanol 95%, cuci dengan air yang mengalir.

Keringkan dan anginkan preparat.

Amati di bawah mikroskop dengan minyak imersi.

3.

Pengecatan spora

Bubuhkan cat malachite green pada smear, panaskan samapai cat menguap.
Hindari preaparat mendidih. Cuci dengan air yang mengalir.

Bubuhkan cat penutup dengan aqueous safranin, diamkan selama 1-2 menit.
Cuci dengan air yang mengalir.

Keringkan dan anginkan.

Amati di bawah mikroskop dengan minyak inersi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.

Hasil

4.1.1. Sterilisasi
1.

Destroyed (Pemanasan)

a.

Cawan petri atau alat mikrobiologi direbus di air mendidih

b.

Ditunggu beberapa saat

c.

Setelah beberapa menit dicuci dengan menggunakan sabun cuci dan air
mengalir

d.

Keringkan dengan cara meletakkan alat dalam posisi tengkurap

e.

Membersihkan dengan tissue, kemudian menyemprot dengan alkohol 75%

f.

Membungkus alat mikrobiologi dengan kertas biasa dengan teknik tertentu

g.
2.

Memasukkan ke autoklaf untuk proses pengeringan

Autoklaf
a.

Sebelum dimasukkan dibungkus dengan kertas, sebelumnya disemprot alkohol

b.

Autoklaf diisi air hingga kaki tiga terendam, kemudian alat dimasukkan ke
autoklaf

c.

Setelah suhu mencapai 1210C, mulai untuk menghitung waktu yang dibutuhkan
untuk sterilisasi alat / media

d.

Setelah selesai, tunggu hingga tekanan 0 0C dan diamkan selama 5 menit

e.

Membuka autokaf, kemudian alat diambil


3.

a.
b.

4.

Inkubator
Digunakan untuk sterilisasi kering pada suhu 171 0C

Untuk mengeringkan alkohol yang tersisa agar tidak terdapat bercak dari
alkohol tersebut pada alat

Bunsen
Digunakan untuk sterilisasi pada saat kita mengerjkan suatu pembuatan media
ataupun semua hal yang berkaitan dengan praktikum mikrobiologi. Bunsen
didekatkan dengan alat mikrobiologi agar tetap steril alat dan media yang kita
buat.

5.

Alkohol 70%
Alkohol 70% digunakan untuk sterilisasi area laboratorium yang digunakan untuk
praktikum mikrobiologi. Dengan cara menyemprotkan alkohol 70% di sekitar
atau sekeliling kita.
4.1.2. Pembuatan Media
Media Zobells 2166 e, dengan komposisi :

a. Pepton sebagai nutrient untuk bakteri


b. Bacto agar sebagai perekat pada zobell padat
c. Ekstrak Yeast sebagai nutrient untuk bakteri
d. Pada zobell cair tidak memerlukan bacto agar
e. Aquadest untuk melarutkan media yang akan dibuat

Cara kerja

a. Pembuatan media Zobells 2166 e untuk volume 100 ml pada cawan


yaitu :

petri

Timbang kertas aluminium foil hingga 0 gr dan bahan-bahan lainnya sesuai


ketentuan pada timbangan analitik.

Masukkan pepton 0,25 gr, ekstrat yeast 0,05 gr, bacto agar 1,5 gr,
tambahkan 100 ml aquadest pada erlenmeyer.

serta

Dipanaskan sambil diaduk hingga larutan media menjadi homogen.


Diangkat, kemudian ditutup bagian mulut erlenmeyer dengan kapas dan
alumunium foil.
Masukkan ke dalam autoklaf pada suhu 121 0C hingga 15 menit.

Keluarkan dari autoklaf kemudian dituangkan ke dalam cawan petri. Pada saat
penuangan media ke cawan petri kondisi tempat kerja harus steril. Gunakan
desinfektan untuk mengaseptiskan tangan kita serta bagian tempat kerja
tersebut.

Penuangan media ke cawan petri harus perlahan dan didekatkan pada bunsen
agar tidak ada kontaminasi bakteri dari udara di sekitar cawan petri ataupun
erlenmeyer. Usahakan agar media benar-benar terisi penuh dalam cawan petri
maksimal 20 ml.

Tutup cawan petri dengan cover/penutup cawan petri. Didiamkan sampai


hangat sampai media di dalam cawan petri mengeras. Setelah mengeras balik
bagian cover menjadi bottom pada cawan petri tersebut. Hal tersebut bertujuan
agar uap air pada cawan petri hilang dan tidak mengganggu media di dalamnya
kemudian setelah beberapa saat, media pun siap untuk digunakan untuk kultur.

Setelah itu barulah cawan petri yang berisi media siap untuk disimpan. Sebelum
disimpan, cawan petri dibungkus menggunakan plastik warp.

b. Pembuatan media Zobells 2166 e untuk volume 100 ml pada tabung reaksi yaitu
:
-

Timbang kertas aluminium foil hingga 0 gr dan bahan-bahan lainnya sesuai


ketentuan pada timbangan analitik.

Masukkan pepton 0,25 gr, ekstrat yeast 0,05 gr, bacto agar 1,5 gr,
tambahkan 100 ml aquadest pada erlenmeyer.

serta

Dipanaskan sambil diaduk hingga larutan media menjadi homogen.


Diangkat, kemudian dituangkan ke dalam tabung reaksi menggunakan pipet
tetes. Pada saat pemindahan media dengan pipet tetes, usahakan agar tempat
kerja harus tetap steril dari kontaminasi bakteri.
Tutup bagian mulut tabung reaksi dengan kapas dan aluminium foil.

Masukkan dalam autoklaf pada suhu 121 0C hingga 15 menit.

Keluarkan dari autoklaf, kemudian media yang ada di dalam tabung reaksi
dimiringkan beberapa derajat (disebut media miring) sampai media tersebut
berubah menjadi padat.

Simpan media tersebut pada tempat yang aman dan usahakan agar tidak
terjadi kontaminasi dengan bakteri lain (tetap steril).
4.1.3. Pewarnaan (Pengecatan)

1. Pengecatan Gram
Menggunakan bahan-bahan yaitu :
a. Kristal violet
b. Burke,s iodine
c. Ethanol 95%
d. Safranin akuosa
Keterangan hasil :
Bakteri gram positif berwarna violet.
Bakteri gram negative berwarna merah.
Beberapa bakteri bersifat gram variabel, bakteri ini tidak pernah tampak
berwarna semuanya merah atau violet.
Bakteri gram positif dapat berubah menjadi gram negative diantaranya karena
pengaruh umur dan kondisi pertumbuhan.

2. Pengecatan Spora
Menggunakan bahan-bahan yaitu :
a. Malachite green
b. Safranin akuosa
Keterangan hasil :
Spora tampak berwarna hijau. Sel dan bagian sel yang lain berwarna merah.

4.2.

Pembahasan

4.2.1. Teknik Sterilisasi

Dalam praktikum mikrobiologi harus menggunakan alat yang steril. Hal ini
bertujuan agar tidak terjadi kontaminasi terhadap lingkungan luar sehingga di
dapat hasil yang maksimal. Proses membuat peralatan menjadi steril disebut
dengan proses sterilisasi. Dimana sterilisasi adalah proses membebaskan suatu
bahan seperti medium pertumbuhan mikrobia ataupun peralatan laboratorium
dari semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu
medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi harus
dapat membunuh jasad renik yang paling tahan panas yaitu spora bakteri
(Fardiaz, 1992). Dalam proses sterilisasi ada empat cara utama yang dipakai,
yaitu dengan pemanasan, penggunaan bahan kimia, penyaringan (filtrasi), dan
radiasi. Dalam praktikum kali ini proses sterilisasi yang digunakan praktikan
adalah dengan pemanasan. Ada dua metode sterilisasi dengan pemanasan yaitu
metode strerilisasi uap dan sterilisasi panas kering. Praktikan lebih memilih
menggunakan metode sterilisasi uap karena metode ini sangat efektif,
menyediakan suhu jauh di atas titik didih, proses cepat, daya tembus kuat dan
kelembaban sangat tinggi sehingga mempermudah koagulasi protein sel-sel
mikroba yang menyebabkan sel hancur. Prinsip sterilisasi uap adalah
menggunakan uap air sebagai pensterilnya. Karena ketika uap air berkondensasi
pada bahan-bahan yang disterilkan dilepaskan panas sebesar 686 kalori per
gram uap air pada suhu 121 0C. Panas ini mendenaturasikan atau
mengkoagulasikan protein pada organisme hidup dan dengan demikian
mematikannya (Ali, 2005). Alat yang digunakan untuk sterilisasi dengan metode
uap ini adalah autoclaf.
Sebelum dimasukkan ke dalam autoclave alat-alat yang memiliki mulut
(tabung reaksi, gelas ukur dan labu ukur) harus disumbat dulu dengan kapas
agar tidak ada udara yang masuk sehingga setelah proses strelisasi selesai, tidak
terkontaminasi oleh bakteri dari udara luar. Selain disumbat dengan kapas
ditutupi lagi dengan alumunium foil karena sifat alumunium yang dapat
menahan uap agar tidak dapat masuk ke dalam bungkusan. Untuk cawan petri
dan pipet ukur cukup dibungkus dengan kertas HVS bekas dengan bagian
yangbersih bersentuhan dengan alat. Aluminium foil tidak direkomendasikan
sebagai pembungkus karena uap sukar masuk ke dalam bungkusan sehingga
sterilisasi kurang efektif. Seharusnya untuk bagian mulut pipet ukur disumbat
dengan kapas agar tidak ada udara masuk.

4.2.2. Pembuatan Medium


Medium pertumbuhan mikrobia adalah suatu bahan yang terdiri dari
campuran nutrien yang diperlukan mikrobia untuk pertumbuhannya. Dengan
menggunakan bahan medium pertumbuhan, aktivitas mikrobia dapat dipelajari
dan dengan menggunakan medium tumbuh dapat dilakukan isolasi mikrobia
menjadi biakan murni. Pada dasarnya bahan-bahan untuk pertumbuhan medium
dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu bahan dasar yang meliputi air,
agar yang bersifat tidak diuraikan oleh mikrobia, gelatin yang merupakan protein

yang dapat diuraikan oleh mikrobia, dan silika gel yaitu bahan yang mengandung
natrium silikat khusus untuk menumbuhkan mikrobia yang bersifat obligat
autotrof, unsur-unsur nutrien yang dapat diambil dari bahan alam, meliputi
karbohidrat, lemak dan asam-asam organik, sumber nitrogen yang
mencakup pepton dan protein, garam-garam kimia (K, Na, Fedan Mg), vitamin,
dan sari buah, ekstrak sayuran dan susu. Serta bahan-bahan tambahan yaitu
bahan yang sengaja ditambahkan ke dalam medium dengan tujuan tertentu
seperti indikator maupun anti biotik. Untuk hasil yang lebih baik agar bakteri
tumbuh media yang digunakan disterilkan terlebih dahulu (Irianto, 2006).
Dalam praktikum kali ini percobaan yang dilakukan adalah pembuatan
media Zobells 2166 e untuk volume 100 ml. Dengan bahan-bahan yang
digunakan seperti pepton 0,25 gr; ekstrat yeast 0,05gr; bacto agar 1,5 gr; dan
aquadest 100 ml. Media Zobells banyak digunakan sebagai media dasar
petumbuhan bakteri karena sifatnya yang netral dan mengandung banyak nutrisi
yang dibutuhkan untuk proses kultur bakteri. Pada dasarnya penggunaan
aquadest digunakan untuk pembuatan media bakteri dari darat, sedangkan
untuk media bakteri yang diperoleh dari laut mengunakan air laut yang sudah
difilter/disaring.
Sama seperti pembuatan media bakteri pada umumnya, bahan-bahan yang
diperlukan ditimbang terlebih dahulu kemudian dicampur dan dipanaskan. Pada
saat dipanaskan media harus diaduk supaya larutan yang ada di dalam media
tersebut dapat homogen dengan baik.
Untuk media pada cawan petri, yang disterilisasikan dalam autoklaf yaitu
erlenmeyernya, baru sesudah itu media dipindahkan ke dalam cawan petri
sesuai prosedur cara kerja yang aseptis, sedangkan untuk media pada tabung
reaksi yang dipanaskan dalam autoklaf adalah tabung reaksinya. Sesudah media
dibuat pada erlenmeyer dan dipanaskan pada air mendidih lalu media
dimasukkan ke dalam tabung reaksi untuk kemudian disterilisasikan di dalam
autoklaf. Ini bertujuan agar media yang dibuat tidak rusak akibat pemanasan.
Media pada tabung reaksi sering juga disebut sebagai media miring.
Kenapa disebut sebagai media miring? Karena setelah media tersebut
dipanaskan dalam autoklaf lalu dikeluarkan, tabung reaksi tersebut
disandarkan/dimiringkan hingga beberapa derajat. Hal ini digunakan untuk
mendapatkan satu stok bakteri tunggal yang tidak dapat diperoleh dari media
pada cawan petri.

4.2.3.
1.

Pewarnaan (Pengecatan)

Pewarnaan Gram
Pewarnaan (pengecatan) bakteri gram dilakukan dengan menggunakan
bahan kristal violet, burke,s iodine, ethanol 95% dan safranin akuosa. Hal

pertama yang dilakukan adalah membubuhkan kristal violet hingga bakteri


terendam semuanya, diamkan selama 1 menit, kemudian cuci pada air mengalir.
Selanjutnya smear dibubuhkan burke,s iodine selama 1 menit dan dicuci dengan
menggunakan air mengalir. Deklonisasi dengan ethanol 95% dan dicuci dengan
air mengalir. Langkah selanjutnya penutupan dengan cat safranin akuosa selama
30 detik dan dicuci dengan air mengalir. Keringkan preparat dan amati dibawah
mikroskop dengan minyak imersi.
Pewarna yang digunakan pada umumnya berbentuk senyawa kimia khusus
yang akan memberikan reaksi kalau mengenai bagian tubuh jasad. Karena
pewarnaan tersebut berbentuk ion yang bermuatan positif ataupun negative. Sel
bakteri bermuatan mendekati negatif kalau dalam keadaan pH mendekati netral.
Sehingga kalau kita memberikan pewarnaan yang bermuatan positif ataupun
negatif (Suriawiria, 1985).
Pewarnaan Sederhana (Pewarnaan Positif). Sebelum dilakukan pewarnaan
dibuat ulasan bakteri di atas object glass yang kemudian difiksasi. Jangan
menggunakan suspensi bakteri yang terlalu padat, tapi jika suspensi bakteri
terlalu encer, maka akan diperoleh kesulitan saat mencari bakteri dengan
mikroskop. Fiksasi bertujuan untuk mematikan bakteri dan melekatkan sel
bakteri pada object glass tanpa merusak struktur selnya (Campbell dan Reece,
2005).
Pewarnaan Negatif. Beberapa bakteri sulit diwarnai dengan zat warna basa.
Tapi mudah dilihat dengan pewarnaan negatif. Zat warna tidak akan mewarnai
sel melainkan mewarnai lingkungan sekitarnya, sehingga sel tampak transparan
dengan latar belakang hitam (Campbell dan Reece, 2005).
2.

Pewarnaan Spora
Pewarnaan Endospora. Anggota dari genus Clostridium serta genus,
Desulfomaculatum dan Bacillus adalah bakteri yang memproduksi endospora
dalam siklus hidupnya. Endospora merupakan bentuk dorman dari sel vegetatif,
sehingga metabolismenya bersifat inaktif dan mampu bertahan dalam tekanan
fisik dan kimia seperti panas, kering, dingin, radiasi dan bahan kimia. Tujuan
dilakukannya pewarnaan endospora adalah membedakan endospora dengan sel
vegetatif, sehingga pembedaannya tampak jelas (Irianto, 2006).
Pewarnaan spora dengan menggunakan bahan malachite green dan safranin
akuosa. Smear dibubuhkan dengan malachite green kemudian dipanaskan
hingga cat menguap (bukan preparat mendidih), kemudian cuci dengan air
mengalir. Selanjutnya ditutup dengan cat safranin akuosa selama 1-2 menit
didiamkan lau dicuci dengan air mengalir. Setelah itu dikeringkan lalu dapat
diamati dibawah mikroskop dengan minyak imersi.
Endospora tetap dapat dilihat di bawah mikroskop meskipun tanpa
pewarnaan dan tampak sebagai bulatan transparan dan sangat refraktil. Namun
jika dengan pewarnaan sederhana, endospora sulit dibedakan dengan badan

inklusi (kedua-duanya transparan, sel vegetatif berwarna), sehingga diperlukan


teknik pewarnaan endospora.

BAB V
PENUTUP
5.1.
1)

2)

Kesimpulan

Teknik sterilisasi dibedakan menjadi dua, yaitu sterilisasi basah yang


menggunakan Autoklaf dan sterilisasi kering yang menggunakan Inkubator.
Selain itu bunsen digunakan untuk sterilisasi alat, alkohol 75% digunakan untuk
sterilisasi ruangan laboratorium.
Alat alat sterilisasi :

Autoklaf, sterilisasi basah dengan cara merebus alat didalam dandang autoklaf
selama 20 menit untuk alat dan 15 menit untuk media pada suhu 121 0C.

Bunsen, sterilisasi alat yang harus didekatkan pada saat melakukan praktikum
mikrobiologi khusunya pembuatan media bakteri.

Inkubator, sterilisasi kering yang dioperasikan dengan cara memasukkan alat ke


dalamnya yang sebelumnya telah dibungkus dengan kertas pada suhu 171 0C.

Alkohol 75%, digunakan untuk sterilisasi ruangan dengan cara menyemprotkan


alkohol 75% ke sekitar praktikan untuk menghindari kontaminasi bakteri.

3)

Media yang diketahui ada 4 yaitu media marine bakteri, media marine fungi,
media marine yeast dan media marine actinomycetes. Media marine backteri
dibagi lagi menjadi Zobell,s 2216 e medium, Modified Zobell,s 2216 e medium,
dan Median untuk isolasi bakteri ekstrim halofilik

4) Media yang dibuat dengan menggunakan 100 ml air sebagai patokan dalam
menimbang bahan-bahan yang digunakan untuk membuat media bakteri.
5) Teknik pewarnaan dengan menggunakan bahan-bahan kimia yang mampu
memberi cat warna pada smear. Teknik pewarnaan ada gram, Zieh-Nehen untuk
bakteri acid fast, spora dan flagella.
6) Pada pewarnaan gram, bahan yang digunakan untuk cat pewarna yaitu kristal
violet, burke,s iodine, ethanol 95% dan safranin akuosa. Pada pewarnaan spora,
bahan yang digunakan untuk yaitu melachite green dan safranin akuosa.

5.2.

Saran

1. Praktikan wajib datang tepat waktu dan mengikuti pretest.


2. Praktikan wajib belajar sebelum diadakan praktikum.
3. Praktikan mengikuti praktikum dengan sungguh-sungguh.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Alimuddin. 2005. Mikrobiologi Dasar Jilid 1. Makassar : State University of
Makassar Press.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi ke-5. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Baird RM, Hodges NA, Denyer SP. 2000. Handbook of Microbiological Quality
Control: Pharmaceutical Science. USA: CRC Press.
Bardy SL, Ng SY, Jarrell KF. 2003. "Prokaryotic motility structures". Microbiology
(Reading, Engl.) 149 (Pt 2): 295304.
Berg JM, Tymoczko JL Stryer L. 2002. Molecular Cell Biology (edisi ke-5th). WH
Freeman
Burdon, Kenneth Livingston, Robert P. Williams. 1969. Microbiology. Macmillan.

Campbell, N. A. Dan Reece, J. B., 2005. Biologi Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Dwidjoseputro. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.


Fardiaz, Srikandi. 1992. Mikrobiologi Pangan. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. PAU Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor.
Hadioetomo, R.S. 1985. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta : PT.Gramedia.
Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta : PT.Gramedia.
Irianto, Koes. 2006. Mikrobiologi Jilid 1. Bandung : Yrama Widya.
Koesmadji. 2002. Teknik Laboratorium. Jakarta : Universitas Pendidikan Indonesia
Press.
Lay, B. W. dan Hastowo. 1982. Mikrobiologi. Jakarta : Rajawali Press.
Madigan MT, Martinko JM, Brock TD. 2010. Brock Biology of Microorganisms. New
Jersey: Pearson Prentice Hall.
Maier RM, Pepper IL, Gerba CP (2009). Environmental Microbiology, 2nd Edition.
Margosch D, Ehrmann MA, Buckow R, Heinz V, Vogel RF, Ganzle MG. 2006. HighPressure-Mediated
Survival
of
Clostridium
botulinum
and
Bacillus
amyloliquefaciens Endospores at High Temperature. Appl Environ Microbiol
72(5):3476-81. doi:10.1128/AEM.72.5.3476-3481.2006.
Neidleman SL. 1993. Advances in Applied Microbiology volume 39. United
Kingdom: Academic Press Inc.
Nikiyan H, Vasilchencko A, Deryabin D. 2010. Humidity-Dependent Bacterial Cells
Functional Morphometry Investigations Using Atomic Force Microscope. Int J
Microbiol. Vol 2010.
Pelczar, Michael J., et al. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi; Terjemahan. Jakarta : UI
Press.
Rollins DM, Joseph SW. 2004. Arrangement of Bacterial Flagella.
Suriawiria, U. 1985. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Papas Sinar Sinanti.
Volk, W.A. dan Wheeler, M.F. 1988. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Penerbit
Erlangga.
Waluyo, lud. 2010. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. UMM. Malang.
Widjoseputro, D., 1989. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Malang : Djambatan.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pewarnaan_Gram (Diakses pada 24 November 2011
pukul 22.56 WIB)

Posted by Topan Eka Prastya at 10.41

Jumat, 07 Januari 2011


MIKROBIOLOGI PERTEMUAN 3
BAKTERI
Sejarah
Bakteri pertama ditemukan oleh Anthony van Leeuwenhoek pada 1674 dengan
menggunakan mikroskop buatannya sendiri. Istilah bacterium diperkenalkan di kemudian
hari oleh Ehrenberg pada tahun 1828, diambil dari kata Yunani yang memiliki
arti "small stick".
Struktur bakteri yang paling penting adalah dinding sel. Bakteri dapat digolongkan
menjadi dua kelompok yaitu Gram positif dan Gram negatif didasarkan pada perbedaan
struktur dinging sel. Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang terdiri atas lapisan
peptidoglikan yang tebal dan asam teichoic. Banyak bakteri memiliki struktur di luar sel
lainnya seperti flagela dan fimbria yang digunakan untuk bergerak, melekat dan
konjugasi. Beberapa bakteri juga memiliki kapsul atau lapisan lendir yang membantu
pelekatan bakteri pada suatu permukaan dan biofilm formation. Bakteri juga memiliki
kromosom, ribosom dan beberapa spesies lainnya memiliki granula makanan, vakuola
gas dan magnetosom.Beberapa bakteri mampu membentuk endospora yang membuat
mereka mampu bertahan hidup pada lingkungan ekstrim...
Berdasarkan berntuknya, bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu:
* Kokus (Coccus) dalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola, dan mempunyai
beberapa variasi sebagai berikut:
o Mikrococcus, jika kecil dan tunggal
o Diplococcus, jka bergandanya dua-dua
* Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan
mempunyai variasi sebagai berikut:
o Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua
o Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai
* Spiril (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi
sebagai berikut:
o Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran
o Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran
Bentuk tubuh/morfologi bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium dan usia.

Oleh karena itu untuk membandingkan bentuk serta ukuran bakteri, kondisinya harus
sama.Hampir semua bakteri yang berbentuk lengkung dan sebagian yang berbentuk
batang ditemukan adanya flagel. Sedangkan bakteri kokus jarang sekali memiliki flagel.
Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang dimiliki, bakteri dibagi menjadi lima
golongan, yaitu:
* Atrik, tidak mempunyai flagel.
* Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.
* Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.
* Amfitrik, mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya.
* Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.
Kondisi lingkungan yang mendukung dapat memacu pertumbuhan dan reproduksi
bakteri. Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
reproduksi bakteri adalah suhu, kelembapan, dan cahaya.
Berdasarkan kisaran suhu aktivitasnya, bakteri dibagi menjadi 3 golongan
* Bakteri psikrofil, yaitu bakteri yang hidup pada daerah suhu antara 0 30 C, dengan
suhu optimum 15 C.
* Bakteri mesofil, yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 15 55 C, dengan
suhu optimum 25 40 C.
* Bakteri termofil, yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu tinggi antara 40 75
C, dengan suhu optimum 50 - 65 C
Pada tahun 1967 di Yellow Stone Park ditemukan bakteri yang hidup dalam sumber air
panas bersuhu 93 500 C
Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Umumnya cahaya
merusak sel mikroorganisme yang tidak berklorofil. Jika keadaan lingkungan tidak
menguntungkan seperti suhu tinggi, kekeringan atau zat-zat kimia tertentu, beberapa
spesies dari Bacillus yang aerob dan beberapa spesies dari Clostridium yang anaerob
dapat mempertahankan diri dengan spora. Spora tersebut dibentuk dalam sel yang
disebut endospora. Endospora dibentuk oleh penggumpalan protoplasma yang sedikit
sekali mengandung air. Oleh karena itu endospora lebih tahan terhadap keadaan
lingkungan yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan bakteri aktif. Bakteri
saprofit menguraikan tumbuhan atau hewan yang mati, serta sisa-sisa atau kotoran
organisme. Bakteri tersebut menguraikan protein, karbohidrat dan senyawa organik lain
menjadi CO2, gas amoniak, dan senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana. Oleh
karena itu keberadaan bakteri ini sangat berperan dalam mineralisasi di alam dan
dengan cara ini bakteri membersihkan dunia dari sampah-sampah organik.Bakteri
nitrifikasi adalah bakteri-bakteri tertentu yang mampu menyusun senyawa nitrat dari
amoniak yang berlangsung secara aerob di dalam tanah. Nitrifikasi terdiri atas dua tahap
yaitu:
* Oksidasi amoniak menjadi nitrit oleh bakteri nitrit. Proses ini dinamakan nitritasi.
* Oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat oleh bakteri nitrat. Prosesnya dinamakan
nitratasi.
Bakteri nitrogen adalah bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan
mengubahnya menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan. Karena
kemampuannya mengikat nitrogen di udara, bakteri-bakteri tersebut berpengaruh
terhadap nilai ekonomi tanah pertanian. Kelompok bakteri ini ada yang hidup bebas
maupun simbiosis. Bakteri nitrogen yang hidup bebas yaitu Azotobacter chroococcum,
Clostridium pasteurianum, dan Rhodospirillum rubrumBakteri Eschereria coli hidup di
kolon (usus besar) manusia, berfungsi membantu membusukkan sisa pencernaan juga
menghasilkan vitamin B12, dan vitamin K yang penting dalam proses pembekuan darah.
Dalam organ pencernaan berbagai hewan ternak dan kuda, bakteri anaerobik membantu
mencernakan selusosa rumput menjadi zat yang lebih sederhana sehingga dapat diserap

oleh dinding usus.


Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan mempunyai daya
hambat terhadap kegiatan mikroorganisme lain. Beberapa bakteri yang menghasilkan
antibiotik adalah:
*Bacillus brevis, menghasilkan terotrisin
* Bacillus subtilis, menghasilkan basitrasin
* Bacillus polymyxa, menghasilkan polimixin
Jika oksigen dalam tanah kurang maka akan berlangsung denitrifikasi, yaitu nitrat
direduksi sehingga terbentuk nitrit dan akhirnya menjadi amoniak yang tidak dapat
dimanfaatkan oleh tumbuhan. Contoh bakteri yang menyebabkan denitrifikasi adalah
Micrococcus denitrificans dan Pseudomonas denitrificans.
Merupakan kelompok bakteri parasit yang menimbulkan penyakit pada manusia, hewan
dan tumbuhan.
Bakteri penyebab penyakit pada manusia:
No. Nama bakteri Penyakit yang ditimbulkan
1. Salmonella typhosa Tifus
2. Shigella dysenteriae Disentri basiler
3. Vibrio comma Kolera
Bakteri penyebab penyakit pada hewan:
No. Nama bakteri Penyakit yang ditimbulkan
1. Brucella abortus Brucellosis pada sapi
2. Streptococcus agalactia Mastitis pada sapi (radang payudara)
3. Bacillus anthracis Antraks
Bakteri penyebab penyakit pada tumbuhan:
No. Nama bakteri Penyakit yang ditimbulkan
1. Xanthomonas oryzae Menyerang pucuk batang padi
2. Xanthomonas campestris Menyerang tanaman kubis
Proses pembusukan berawal dari mikroorganisme, misalnya bakteri-bakteri yang hidup di
dalam usus besar manusia. Jika seluruh jenis ikatan protein sudah terputus, beberapa
jaringan tubuh menjadi tidak berfungsi. Proses ini disempurnakan bakteri yang datang
dari luar tubuh mayat, dan dapat pula berasal dari udara, tanah, ataupun air. Tidak
semua mikroorganisme mampu mendegradasi mayat. Kebanyakan mereka berasal dari
jenis bakteri heterotrof. Bakteri ini membutuhkan molekul-molekul organik dari
organisme lain sebagai nutrisi agar ia dapat bertahan hidup dan berkembang biak.
Berbeda dengan bakteri autotrof yang mampu menghasilkan makanan sendiri dengan
CO2 sebagai nutrisi makro serta bantuan dari cahaya matahari atau sumber energi kimia
lainnya.
Jenis bakteri heterotrof biasanya hidup dan berkembang biak pada organisme mati.
Molekul-molekul besar seperti protein, karbohidrat, lemak, atau senyawa organik lain
didekomposisi metabolisme tubuh bakteri tersebut menjadi molekul-molekul tunggal
seperti asam amino, metana, gas CO2, serta molekul-molekul lain yang mengandung
enam nutrisi utama bakteri, yaitu senyawa-senyawa karbon (C), hidrogen (H), nitrogen
(N), oksigen (O), fosfor (P), serta sulfur (S).
Tubuh mayat adalah tempat hidup, sumber makanan, serta tempat berkembang biak
bakteri-bakteri tersebut, karena tubuh terdiri dari kumpulan protein, karbohidrat, lemak,
atau senyawa organik dan anorganik lain. Bau busuk dari tubuh mayat tidak hanya
mengganggu, namun juga membahayakan. Pembusukan dimulai dengan pemutusan
ikatan protein-protein besar pada jaringan tubuh oleh bakteri fermentasi menggunakan
enzim protease. Kumpulan hasil pemutusan ikatan protein yang disebut asam amino ini
dicerna berbagai jenis bakteri, misalnya bakteri acetogen. Bakteri ini mereaksikan asam
amino dengan oksigen dalam tubuhnya untuk menghasilkan asam asetat, hidrogen,

nitrogen, serta gas karbon dioksida. Produk asam asetat ini menimbulkan bau.Asam
asetat yang dihasilkan ini diproses kembali oleh bakteri jenis methanogen, misalnya
Methanothermobacter thermoautotrophicum yang biasa hidup di lingkungan kotor seperti
selokan dan pembuangan limbah (septic tank). Produk berbahaya selain gas yang
dihasilkan adalah cairan asam dan cairan lain yang mengandung protein toksik. Jika
cairan-cairan ini sempat menginfeksi kulit yang luka atau terkena makanan, bukan hanya
produk beracun yang dapat masuk ke dalam tubuh tetapi juga bakteri heterotrof patogen
seperti clostridium.
Bakteri serta produk beracun ini dapat menginfeksi manusia lewat kontaminasi makanan,
minuman, atau luka di kulit. Karena adanya saluran masuk ini, maka berbagai penyakit
seperti malaria, diare, degradasi sel darah merah, lemahnya sistem pertahanan tubuh,
infeksi pada luka (tetanus), bengkak, atau infeksi pada alat kelamin menjadi ancaman
yang serius.
Cara mengatasi serangan mikroorganisme ini adalah dengan menjaga makanan dan
minuman tetap steril, yaitu dengan dipanaskan. Mencuci tangan dan kaki dengan sabun
antiseptik cair sebelum makan. Menjaga lingkungan agar steril dengan cara
menyemprotkan obat pensteril.
Bakteri-bakteri tersebut juga dapat dicegah pertumbuhannya dengan cara meminum
obat antibiotik atau suntik imunitas. Sifat-sifat inilah yang harus dipahami dengan cara
mengikuti prosedur standar penanganan mayat. Antara lain menggunakan masker
standar minimal WHO (tipe N-95), memakai sarung tangan khusus, serta mencuci tangan
sebelum dan sesudah mengangkat satu mayat. Langkah terbaik adalah segera
menguburkan mayat.
Diposkan oleh aisah srimulyani di 18.08

Sabtu, 07 Mei 2011

Extremophile

Nama

: Resa Triandini

NIM

: 2224091853

Kelas

: IV-C

TUGAS MIKROBIOLOGI DASAR

Jenis jenis mikroba yang hidup di lingkungan ekstrim, diantaranya :


1.

Achidophiles
Habitat
: Hidup di lingkungan asam dengan pH 1 5. Karena sel sel
nya memompa ion hidrogen beracun dengan cepat tidak merusak DNA di dalam
nukleus.

Reproduksi
: Aseksual melalui mitosis juga bisa secara seksual. Syaratnya
pH harus berada pada 5,4 atau kurang.
Peranan
: Digunakan untuk memulihkan mineral metalik yang hilang
selama penambangan batu bara

2.

Alkaliphiles
Habitat
: Hidup di lingkungan yang bersifat alkali seperti danau soda
atau tanah alkali. Level pH pada substansi alkali adalah sekitar 9 11.
Alkaliphiles menjaga kadar pH di dalam selnya sebesar 9, namun lingkungan
memiliki level lebih tinggi dari alkalinitas. Caranya dengan memompa ion ion
hidrogen yang keluar pada tingkat yang tepat.
Reproduksi

: seksual dan aseksual melalui mitosis.

Peranan
: menghapus permukaan gel pada film x-ray, membuat
makanan, obat, pengolahan limbah, antibiotik.

3.

Thermophiles
Habitat
: Hidup dan tumbuh di lingkungan ekstrim panas dimana
organisme lain dapat mati. Tumbuh dengan baik pada temperatur 50C/120F70C/158F. Tidak dapat tumbuh pada suhu 20C/68F. Tidak mudah dipelajari
karena kondisi ekstrim yang mereka butuhkan sulit disediakan di laboratorium.
Thermophiles dapat hidup di habitat panas bumi atau di lingkungan yang
menciptakan panas sendiri(ex.tumpukan kompos dan TPA sampah).
Reproduksi
Peranan

: Seksual dan aseksual


: Thermus aquaticus dan

Thermococcus litoralis adalah contoh Thermophiles yang digunakan sebagai


enzim dalam DNA.

4.

Psychrophiles
Habitat
: Hidup dan tumbuh dengan baik dalamtemperatur sekitar 10
to 20C (14 to 68F). Kebanyakan ditemukan di samudera artik dan antartika
yang tetap beku sepanjang tahun. Makanan yang dibutuhkan psychrophiles ada
di dalam gletser beku dan air laut. Psychrophiles mampu memproduksi enzim
yang tidak dimiliki organisme lain
Reproduksi: Aseksual pada temperatur 10 to 20C (14 to 68F).

Peranan
: Psychrophiles dapat merusak produk susu karena
mempunyai enzim yang dapat mengurangi jumlah waktu kesegaran produk
tersebut

5.

Xerophiles
Habitat

: Hidup di lingkungan ekstrim yang kering

Reproduksi
: Karena dia hidup di daerah ekstrim kering menyebabkan dia
memiliki masalah dengan reproduksi serta pembuatan enzim
Peranan
: Dikenal sebagai perusak makanan yang kering sekalipun,
makanan asin, manis, dll

6.

Halophiles
Habitat
: Merupakan mikroorganisme aerob yang mampu hidup dan
tumbuh di lingkungan dengan kadar garam
yang tiggi. Misalnya Great Salt Lake di Utah, Owens Lake di California, laut mati,
dan saltines (crackers). Mereka menggunakan tekanan osmosis dan substans
kimia seperti glokosa, alkohol, asam amino untuk membantu mengontrol jumlah
garam di dalam selnya.
Reproduksi

7.

: Seksual dan Aseksua

Barophiles
Habitat
: Mampu bertahan dibawah tekanan yang tinggi, seperti
permukaan bawah bumi atau air ada 3 macam barophiles : barotolerant,
barophilic, and extreme barophiles.
Reproduksi

8.

: Seksual dan aseksual

Mesophiles
Habitat
: Tumbuh baik pada temperatur antara 10 to 50C (50 to
122F). Banyak ditemukan di lingkungan tanah dan air. Kebanyakan penyakit
yang disebabkan oleh bakteri, virus yang menyerang manusia yaitu dari
kelompok mesophile. Contohnya yang paling berbahayaStaphyloccus aureus,
Salmonella sp., Proteus vulgaris,dan Yersinia enterocoiytica.
Reproduksi

: Seksual dan aseksual

Peranan
: Dapat merusak makanan dengan cepat, Penting untuk
proses komposting bahan orgnik, E.coli dapat menyebabkan kematian manusia.
Sumber:http://library.thinkquest.org/CR0212089/gloss.htm
Diposkan oleh Resa Triandini at 14.31
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

http://chaechaecha.blogspot.com/2011/05/extremophile.html

Kamis, 10 April 2014

colony counter

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih
tersebar luas dibandingkan mahluk hidup yang lain. Bakteri memiliki ratusan ribu
spesies yang hidup di darat hingga lautan dan pada tempat-tempat yang
ekstrim.
Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang merugikan. Bakteri
memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan mahluk hidup yang lain. Bakteri
adalah organisme uniselluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki klorofil
dan berukuran renik (mikroskopis). Bentuk dasar bakteri terdiri atas bentuk bulat
(kokus), batang (basil),dan spiral (spirilia) serta terdapat bentuk antara kokus
dan basil yang disebut kokobasil (Anonim1, 2011).
Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannnya dengan mahluk hidup lain
yaitu organisme

multiselluler,

Prokariot

(tidak

memiliki

membran

inti

sel). Umumnya tidak memiliki klorofil, memiliki ukuran tubuh yang bervariasi
antara 0,12 s/d ratusan mikron umumnya memiliki ukuran rata-rata 1 s/d 5
mikron. Memiliki bentuk tubuh yang beraneka ragam, hidup bebas atau parasit,
yang hidup di lingkungan ekstrim seperti pada mata air panas, kawah atau

gambut

dinding

selnya

tidak

mengandung

peptidoglikan

dan

hidupnya

kosmopolit diberbagai lingkungan dinding selnya mengandung peptidoglikan


(Anonim1, 2011).
Fungi dalam bahasa Indonesia disebut cendawan. Ciri-ciri cendawan
secara umum ialah makhluk hidup eukariotik, heterotrofik (tidak memiliki
klorofil), memperoleh nutrisi melalui absorbsi dan energi simpanannya berupa
glikogen. Cendawan mempunyai struktur somatik bersel satu atau banyak
(multiseluler), kebanyakan berupa hifa dengan komponen utama dinding selnya
ialah zat kitin, serta berkembang biak secara seksual dan aseksual dengan
membentuk spora. Dalam definisi ini, cendawan mencakup jamur, kapang, dan
khamir. Jamur (mushroom) ialah cendawan yang tubuh buahnya berukuran besar
dan sebaliknya kapang (moulds) ialah cendawan yang berukuran renik. Khamir
(yeast) ialah cendawan bersel tunggal (Hadioetomo, 1993).
Mikroba dapat kita jumpai pada seluruh lingkungan normal maupun
ekstrim. Setiap mikroba membutuhkan kondisi lingkungan tertentu terkait
dengan karakter morfologi dan biokimia (metabolisme) yang dimilikinya. Oleh
karena itu, lingkungan hidup suatu mikroba akan berbedabeda dan ada kalanya
hanya spesifik untuk mikroba tertentu. Mikroba memiki berbagai peran penting
dalam suatu ekosistem. Peran ini bisa diemban dalam kapasitasnya sebagai
organisme tunggal (sel atau koloni) maupun dalam kaitannya sebagai organisme
yang memiliki kebutuhan dan kemampuan untuk berinteraksi dengan organisme
lain (Anonim1, 2011).
Tujuan
Tujuan dari praktikum ini yaitu mengetahui cara perhitungan jumlah
konodia bakteri dengan colony counter.

TINJAUAN PUSTAKA
Bakteri (dari kata Latin bacterium; jamak: bacteria) adalah kelompok organismeyang
tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariotadan
berukuran sangat kecil (mikroskopik), serta memiliki peran besar dalam kehidupan dibumi.
Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan
kelompok

lainnya

dapat

memberikan

manfaat

dibidang pangan,

pengobatan,

dan industri. Struktur sel bakteri relatif sederhana, tanpa nukleus/inti sel, kerangka sel,
dan organel-organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Hal inilah yang menjadi dasar
perbedaan antara sel prokariot dengan sel eukariot yang lebih kompleks (Hadioetomo, 1993).
Bakteri

dapat

ditemukan

dihampir

semua

tempat:

di tanah, air, udara,

dalamsimbiosis dengan organisme lain maupun sebagai agen parasit (patogen), bahkan dalam
tubuh manusia. Pada umumnya, bakteri berukuran 0,5-5 m, tetapi ada bakteri tertentu yang
dapat berdiameter hingga 700 m, yaitu Thiomargarita. Mereka umumnya memilikidinding sel,
seperti sel tumbuhan dan jamur, tetapi dengan bahan pembentuk sangat berbeda (Anonim 2,
2011)
Pertumbuhan pada bakteri mempunyai arti perbanyakan sel dan peningkatan ukuran
populasi. Faktorfaktor

yang

mempengaruhi

pertumbuhan

bakteri

atau

kondisi

untuk

pertumbuhan optimum adalah suhu, derajat keasaman atau pH, konsentrasi garam,sumber
nutrisi, zat-zat sisa metabolisme dan zat kimia. Dalam kehidupan manusia bakteri mempunyai
peranan yang menguntungkan maupun yang merugikan.
Bakteri yang menguntungkan adalah sebagai Pembusukan (penguraian sisa-sisa
mahluk hidup contohnya Escherichia colie). Pembuatan makanan dan minuman hasil fermentasi
contohnya Acetobacter pada pembuatan asam cuka, Lactobacillus bulgaricuspada pembuatan
yoghurt, Acetobacter xylinum pada pembuatan nata de coco danLactobacillus casei pada
pembuatan keju yoghurt. Berperan dalam siklus nitrogen sebagai bakteri pengikat nitrogen
yaitu Rhizobium leguminosarum yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman kacangkacangan

dan Azotobacter

chlorococcum.Penyubur

contohnya Nitrosococcus dan Nitrosomonas yang

berperan

dalam

tanah

proses

nitrifikasi

menghasilkan ion nitrat yang dibutuhkan tanaman. Dan penghasil antibiotik contohnya
adalah Bacillus polymyxa penghasil antibiotik polimiksin B untuk pengobatan infeksi bakteri gram
negatif,

Bacillus

subtilis

penghasil

antibioti

untuk

pengobatan

infeksi

bakteri

gram

positif, Streptomyces griseus penghasil antibiotik streptomisin untuk pengobatan bakteri gram
negatif termasuk bakteri penyebab TBC (Hadioetomo, 1993).

Colony counter adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk melakukan
perhitungan sel secara cepat dan dapat digunakan untuk konsentrasi sel yang
rendah. Pada mulanya diperuntukkan untuk menghitung sel darah. Memiliki
garis-garismikroskopis pada permukaan kaca. Luas total dari chamber adalah 9
mm2. Chamber tersebut nantinya akan ditutup dengan coverslip dengan
ketinggian 0.1 mm di atas chamber floor. Penghitungan konsentrasi sel ini
bergantung pada volume di bawah coverslip. Pada chamber terdapat 9 kotak
besar berukuran 1 mm2 dan kotak-kotak kecil, di mana satu kotak besar sama
dengan 25 kotak kecil sehingga satu kotak besar tersebut memiliki volume
sebesar 0.0001 ml (Strober, 2001).

BAHAN DAN METODE

Bahan Dan Alat

Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah media NA, isolat
bakteriRaistonia Solana cearum, air steril, alkohol 70 %, spritus, cling warp dan
kertas label.

Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri, gelas
beker, 7 buah tabung reaksi, batang segitiga, suntikan, colony counter, laminar
air flow dan lampu bunsen.

Tempat dan Waktu


Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian
Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Pada hari senin 16 tanggal
Desember 2013 pukul 10.00-12.00 Wita.

Prosedur kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengisi masing-masing tabung reaksi dengan air steril sebanyak 9 ml.
3. Mengambil isolat bakteri sebanyak 1 ml menggunakan suntikan lalu masukkan
ke tabung reaksi pertama, kemudian di sheker atau di gojok sampai homogen.
4. Lalu ambil 1 ml suspensi dari tabung reaksi pertama pindahkan ketabung reaksi
kedua kemudian gojok hingga homogen, begitu seterusnya sampai tabung reaksi
ke tujuh.

5. Pada pengenceran 6 dan 7 ambil 0,1 ml suspense dan masukkan kedalam


cawan petri yang berisi media NA.
6. Beri label pada cawan petri, kemudian inkubasi selama 18 jam dan amati
menggunakan colony counter.
7. Hitung jumlah colony menggunakan rumus
Jumlah koloni per ml =
P.V
X = Jumlah koloni yang didapat
P = Faktor pengenceran

V= Volume

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Adapun hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan yaitu sebagai beriku:
Tabel 1. Hasil Pengamatan Colony Counter.
No

Gambar

Keterangan

1
Isolat bakteri

2.
Media NA

3.
Memasukkan air steril pada tabung
reaksi

4.
Memasukkan isolate bakteri

5.
Melakukan pengenceran

Tabel 1. Lanjutan

6.
Meneteskan 0,1 ml suspense pada
media NA

7.
Meratakan suspensi

8.
Membungkus cawan dengan cling
warp

9.
Raisto 10-6 dengan jumlah
bakteri 127

10.
Raisto 10-7 dengan jumlah
bakteri 25

11
Perhitungan dengan colony counter

12
Perhitungan dengan colony counter

Pembahasan
Perhitungan bakteri adalah suatu cara yang digunakan untuk menghitung
jumlahkoloni bakteri yang tumbuh pada suatu media pembiakan. Secara mendasar ada dua
cara penghitungan bakteri, yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Ada

beberapa cara perhitungan secara langsung antara lain adalah dengan membuat
preparat dari suatu bahan (preparat sedrhana diwarnai atau tidak diwarnai) dan
penggunaan ruang hitung (counting chamber).
Dari hasil analisa perhitungan isolat dengan pengenceran pada 10 6

memperoleh

jumlah

bakteri

yaitu

127

koloni

bakteri

sedangkan

pada

pengenceran pada 10-7memperoleh bakteri dengan jumlah 25 koloni bakteri.


Perhitungan

koloni bakteri

counter. Colony
melakukan

counter

dilakukan

adalah

perhitungan

dengan

suatu alatyang

sel

secara

cepat

menggunakan
dapat
dan

alat

digunakan
dapat

colony
untuk

digunakan

untuk konsentrasi sel yang rendah.


Proses pengenceran perlu dilakukan karena dapat menghitung dan
mengetahui jumlah spora yang ada. Dengan diketahui jumlah bakteri/spora yang
ada sehingga kita dapat mengetahui populasi dari bakteri yang ada pada
lingkungan.
Pada pengenceran 10-6 diperoleh bakteri dengan jumlah 127 maka untuk
mengetahui jumlah koloni bakteri per ml dilakukan perhitungan yaitu :
Jumlah koloni per ml =

P.V
=

127

10-6. 10-1
=

127
10-7

= 127 x 107 cfu/ml


Sedangkan pada pengenceran 10-7 diperoleh bakteri dengan jumlah 25
maka perhitungan yaitu :
Jumlah koloni per ml =
P.V

25

10-7. 10-1
=

25
10-8

= 25 x 108 cfu/ml
Sehingga dapat disimpulkan penambahan pengenceran pada tabung
reaksi yang berisi cairan campuran 10 -6 lebih banyak dibandingkan dengan
cairan campuran 10-7. Namun hasil dari pengenceran bakteri berwarna putih
kekuningan, selain itu semakin banyak dilakukannya pengenceran maka populasi
dari bakteri yang tumbuh semakin berkurang.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum yang telah dilakukan
adalah sebagai berikut:
1. Colony counter adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk melakukan
perhitungan sel secara cepat dan dapat digunakan untuk konsentrasi sel yang
rendah.
2. Dari
6

hasil

memperoleh

analisa
jumlah

perhitungan
bakteri

isolat

yaitu

127

dengan
koloni

pengenceran
bakteri

10 -

pada

sedangkan

pada

pengenceran pada 10-7memperoleh bakteri dengan jumlah 25 koloni bakteri.


3. Proses pengenceran perlu dilakukan karena dapat menghitung dan mengetahui
jumlah spora yang ada.
4. Koloni bakteri yang ada pada pengenceran tabung reaksi yang berisi cairan
campuran 10-6 lebih banyak dibandingkan dengan cairan campuran 10 -7 karena
semakin banyak dilakukan pengenceran populasi bakteri pun berkurang.

Diposkan oleh Dewi Purnika di 00.34

http://mikrobiologilaporan.blogspot.com/2014/04/colony-counter.html

Minggu, 16 Mei 2010


MAKALAH MIKROBIOLOGI
BAKTERIOLOGI

Disusun oleh :
EKO PEBRIANTO
20091420146006

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES BAHRUL ULUM TAMBAK BERAS
JOMBANG
2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas ridho dan rahmat-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan tugas makalah biologi dengan judul BAKTERIOLOGI . Pengetahuan dasar
kimia ini mutlak diperlukan oleh mahasiswa MIKROBIOLOGI termasuk keperawatan. Dengan
pengetahuan dasar ini diharapkan mahasiswa memiliki bekal dasar dalam menyebarkan
perkembangan ilmu pengetahuan tegnologi.
Kami ucapkan terima kasih kepada pihak yang telah ikut membantu dan mendukung atas
terselesainya makalah ini yaitu dosen pembimbing dan kawan-kawan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Jombang, 25 April 2010


Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bakteri........................................................................
2.1.1 Sejarah...
2.1.2 Morfologi
2.1.3 Pengaruh Bakteri terhadap lingkungan
2.2 Peranan Bakteri......
2.2.1 Bakteri yang menguntungkan
2.2.2 Bakteri yang merugikan.....................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kedudukan Mikroba Dalam Kehidupan Manusia Sebelum ditemukan jasad renik, semua benda
hidup dianggap tumbuhan atau hewan Pada abad ke-19 menjadi jelaslah bahwa jasad renik atau
mikroba memiliki semua kombinasi sifat-sifat tumbuhan dan hewan Dunia Mikroba.Dunia
mikroba terdiri dari :
Monera (virus)
Protista (bakteri, ganggang dan protozoa)
Fungi (khamir dan kapang)

1.2 Tujuan
1. Agar pembaca dapat mengerti dan tahu mengenai Bakteriologi.
2. Agar pembaca bisa mengetahui berbagi bakteriologi dalam kehidupan sekitar kita.

BAB II
KONSEP DASAR BAKTERIOLOGI
2.1 PENGERTIAN BAKTERI
Bakteri adalah bentuk kuno sukses dan kehidupan, sangat berbeda dengan eukariota (yang
meliputi jamur, tumbuhan dan hewan). Bakteri Kuno adalah bentuk kehidupan Sangat Sukses
dan, berbeda untuk Artikel eukariota (Yang meliputi jamur, tanaman dan hewan). Mereka adalah
sel kecil, ditemukan di lingkungan baik sebagai sel-sel individual atau digabungkan bersama
sebagai rumpun, dan struktur intraseluler yang jauh lebih sederhana dari eukariota. Mereka
adalah kecil sel ditemukan, asam di Lingkungan Baik sebagai sel-sel individu Bersama Danijel
digabungkan sebagai rumpun dan, struktur intraseluler mereka lebih jauh Sederhana eukariota.
Bakteri memiliki kromosom tunggal sirkuler DNA yang ditemukan dalam sitoplasma sel karena
mereka tidak memiliki inti. Bakteri memiliki DNA kromosom tunggal sirkuler Yang ditemukan
dalam sitoplasma sel karena mereka tidak memiliki inti. Memang, mereka tidak salah satu
organel intraseluler sehingga karakteristik sel eukariotik, seperti bahwa mereka tidak memiliki
aparat Golgi, retikulum endoplasma, lisosom atau mitokondria.

2.1.1 Sejarah
Bakteri pertama ditemukan oleh Anthony van Leeuwenhoek pada 1674 dengan menggunakan

mikroskop buatannya sendiri. Istilah bacterium diperkenalkan di kemudian hari oleh Ehrenberg
pada tahun 1828, diambil dari kata Yunani yang memiliki arti "small stick".
Seperti prokariota (organisme yang tidak memiliki selaput inti) pada umumnya, semua bakteri
memiliki struktur sel yang relatif sederhana. Struktur bakteri yang paling penting adalah dinding
sel. Bakteri dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu Gram positif dan Gram negatif
didasarkan pada perbedaan struktur dinging sel. Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang
terdiri atas lapisan peptidoglikan yang tebal dan asam teichoic. Sementara bakteri Gram negatif
memiliki lapisan luar, lipopolisakarida - terdiri atas membran dan lapisan peptidoglikan yang tipis
terletak pada periplasma (di antara lapisan luar dan membran sitoplasmik).
Banyak bakteri memiliki struktur di luar sel lainnya seperti flagela dan fimbria yang digunakan
untuk bergerak, melekat dan konjugasi. Beberapa bakteri juga memiliki kapsul atau lapisan
lendir yang membantu pelekatan bakteri pada suatu permukaan dan biofilm formation. Bakteri
juga memiliki kromosom, ribosom dan beberapa spesies lainnya memiliki granula makanan,
vakuola gas dan magnetosom.
Beberapa bakteri mampu membentuk endospora yang membuat mereka mampu bertahan hidup
pada lingkungan ekstrim...
2.1.2 Morfologi/bentuk bakteri
Berdasarkan berntuknya, bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu:
Kokus (Coccus) dalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola, dan mempunyai beberapa
variasi sebagai berikut:
o Mikrococcus, jika kecil dan tunggal
o Diplococcus, jka bergandanya dua-dua
o Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujursangkar
o Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus
o Staphylococcus, jika bergerombol
o Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai
Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan mempunyai
variasi sebagai berikut:
o Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua
o Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai
Spiril (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai
berikut:
o Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran
o Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran
Bentuk tubuh/morfologi bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium dan usia. Oleh
karena itu untuk membandingkan bentuk serta ukuran bakteri, kondisinya harus sama. Pada
umumnya bakteri yang usianya lebih muda ukurannya relatif lebih besar daripada yang sudah
tua.
Banyak spesies bakteri yang bergerak menggunakan flagel. Hampir semua bakteri yang
berbentuk lengkung dan sebagian yang berbentuk batang ditemukan adanya flagel. Sedangkan
bakteri kokus jarang sekali memiliki flagel. Ukuran flagel bakteri sangat kecil, tebalnya 0,02 0,1
mikro, dan panjangnya melebihi panjang sel bakteri. Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang
dimiliki, bakteri dibagi menjadi lima golongan, yaitu:
Atrik, tidak mempunyai flagel.
Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.
Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.
Amfitrik, mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya.
Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.

2.1.3 Pengaruh bakteri terhadap lingkungan


Kondisi lingkungan yang mendukung dapat memacu pertumbuhan dan reproduksi bakteri.
Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan reproduksi bakteri
adalah suhu, kelembapan, dan cahaya.
Suhu
Berdasarkan kisaran suhu aktivitasnya, bakteri dibagi menjadi 3 golongan:
Bakteri psikrofil, yaitu bakteri yang hidup pada daerah suhu antara 0 30C, dengan suhu
optimum 15C.
Bakteri mesofil, yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 15 55C, dengan suhu
optimum 25 40C.
Bakteri termofil, yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu tinggi antara 40 75C, dengan
suhu optimum 50 - 65C
Pada tahun 1967 di Yellow Stone Park ditemukan bakteri yang hidup dalam sumber air panas
bersuhu 93 500C.
Kelembapan
Pada umumnya bakteri memerlukan kelembapan yang cukup tinggi, kira-kira 85%. Pengurangan
kadar air dari protoplasma menyebabkan kegiatan metabolisme terhenti, misalnya pada proses
pembekuan dan pengeringan
Cahaya
Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Umumnya cahaya merusak sel
mikroorganisme yang tidak berklorofil. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan terjadinya ionisasi
komponen sel yang berakibat menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian.
Pengaruh cahaya terhadap bakteri dapat digunakan sebagai dasar sterilisasi atau pengawetan
bahan makanan.
Jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan seperti suhu tinggi, kekeringan atau zat-zat kimia
tertentu, beberapa spesies dari Bacillus yang aerob dan beberapa spesies dari Clostridium yang
anaerob dapat mempertahankan diri dengan spora. Spora tersebut dibentuk dalam sel yang
disebut endospora. Endospora dibentuk oleh penggumpalan protoplasma yang sedikit sekali
mengandung air. Oleh karena itu endospora lebih tahan terhadap keadaan lingkungan yang
tidak menguntungkan dibandingkan dengan bakteri aktif. Apabila keadaan lingkungan membaik
kembali, endospora dapat tumbuh menjadi satu sel bakteri biasa. Letak endospora di tengahtengah sel bakteri atau pada salah satu ujungnya.
2.2 Peranan Bakteri
2.2.1 Bakteri yang menguntungkan
Bakteri pengurai
Bakteri saprofit menguraikan tumbuhan atau hewan yang mati, serta sisa-sisa atau kotoran
organisme. Bakteri tersebut menguraikan protein, karbohidrat dan senyawa organik lain menjadi
CO2, gas amoniak, dan senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana. Oleh karena itu
keberadaan bakteri ini sangat berperan dalam mineralisasi di alam dan dengan cara ini bakteri
membersihkan dunia dari sampah-sampah organik.
Bakteri nitrifikasi
Bakteri nitrifikasi adalah bakteri-bakteri tertentu yang mampu menyusun senyawa nitrat dari
amoniak yang berlangsung secara aerob di dalam tanah. Nitrifikasi terdiri atas dua tahap yaitu:

Oksidasi amoniak menjadi nitrit oleh bakteri nitrit. Proses ini dinamakan nitritasi.

Reaksi nitritasi
Oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat oleh bakteri nitrat. Prosesnya dinamakan nitratasi.

Reaksi nitratasi
Dalam bidang pertanian, nitrifikasi sangat menguntungkan karena menghasilkan senyawa yang
diperlukan oleh tanaman yaitu nitrat. Tetapi sebaliknya di dalam air yang disediakan untuk
sumber air minum, nitrat yang berlebihan tidak baik karena akan menyebabkan pertumbuhan
ganggang di permukaan air menjadi berlimpah.
Bakteri nitrogen
Bakteri nitrogen adalah bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan
mengubahnya menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan. Karena
kemampuannya mengikat nitrogen di udara, bakteri-bakteri tersebut berpengaruh terhadap nilai
ekonomi tanah pertanian. Kelompok bakteri ini ada yang hidup bebas maupun simbiosis. Bakteri
nitrogen yang hidup bebas yaitu Azotobacter chroococcum, Clostridium pasteurianum, dan
Rhodospirillum rubrum. Bakteri nitrogen yang hidup bersimbiosis dengan tanaman polongpolongan yaitu Rhizobium leguminosarum, yang hidup dalam akar membentuk nodul atau bintilbintil akar. Tumbuhan yang bersimbiosis dengan Rhizobium banyak digunakan sebagai pupuk
hijau seperti Crotalaria, Tephrosia, dan Indigofera. Akar tanaman polong-polongan tersebut
menyediakan karbohidrat dan senyawa lain bagi bakteri melalui kemampuannya mengikat
nitrogen bagi akar. Jika bakteri dipisahkan dari inangnya (akar), maka tidak dapat mengikat
nitrogen sama sekali atau hanya dapat mengikat nitrogen sedikit sekali. Bintil-bintil akar
melepaskan senyawa nitrogen organik ke dalam tanah tempat tanaman polong hidup. Dengan
demikian terjadi penambahan nitrogen yang dapat menambah kesuburan tanah.
Bakteri usus
Bakteri Eschereria coli hidup di kolon (usus besar) manusia, berfungsi membantu membusukkan
sisa pencernaan juga menghasilkan vitamin B12, dan vitamin K yang penting dalam proses
pembekuan darah. Dalam organ pencernaan berbagai hewan ternak dan kuda, bakteri
anaerobik membantu mencernakan selusosa rumput menjadi zat yang lebih sederhana sehingga
dapat diserap oleh dinding usus.
Bakteri fermentasi
Beberapa makanan hasil fermentasi dan mikroorganisme yang berperan:
No. Nama produk atau makanan Bahan baku Bakteri yang berperan
1. Yoghurt susu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus
2. Mentega susu Streptococcus lactis
3. Terasi ikan Lactobacillus sp.
4. Asinan buah-buahan buah-buahan Lactobacillus sp.
5. Sosis daging Pediococcus cerevisiae
6. Kefir susu Lactobacillus bulgaricus dan Srteptococcus lactis

Bakteri penghasil antibiotik

Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan mempunyai daya hambat
terhadap kegiatan mikroorganisme lain. Beberapa bakteri yang menghasilkan antibiotik adalah:
Bacillus brevis, menghasilkan terotrisin
Bacillus subtilis, menghasilkan basitrasin
Bacillus polymyxa, menghasilkan polimixin

2.2.2 Bakteri yang merugikan


Bakteri perusak makanan
Beberapa spesies pengurai tumbuh di dalam makanan. Mereka mengubah makanan dan
mengeluarkan hasil metabolisme yang berupa toksin (racun). Racun tersebut berbahaya bagi
kesehatan manusia. Contohnya:
Clostridium botulinum, menghasilkan racun botulinin, seringkali terdapat pada makanan
kalengan
Pseudomonas cocovenenans, menghasilkan asam bongkrek, terdapat pada tempe bongkrek
Leuconostoc mesenteroides, penyebab pelendiran makanan
Bakteri denitrifikasi
Jika oksigen dalam tanah kurang maka akan berlangsung denitrifikasi, yaitu nitrat direduksi
sehingga terbentuk nitrit dan akhirnya menjadi amoniak yang tidak dapat dimanfaatkan oleh
tumbuhan. Contoh bakteri yang menyebabkan denitrifikasi adalah Micrococcus denitrificans dan
Pseudomonas denitrificans.
Bakteri patogen
Merupakan kelompok bakteri parasit yang menimbulkan penyakit pada manusia, hewan dan
tumbuhan.
Bakteri penyebab penyakit pada manusia:
No. Nama bakteri Penyakit yang ditimbulkan
1. Salmonella typhosa
Tifus
2. Shigella dysenteriae
Disentri basiler
3. Vibrio comma
Kolera
4. Haemophilus influenza
Influensa
5. Diplococcus pneumoniae
Pneumonia (radang paru-paru)
6. Mycobacterium tuberculosis
TBC paru-paru
7. Clostridium tetani
Tetanus
8. Neiseria meningitis
Meningitis (radang selaput otak)
9. Neiseria gonorrhoeae
Gonorrhaeae (kencing nanah)
10. Treponema pallidum
Sifilis atau Lues atau raja singa

11. Mycobacterium leprae


Lepra (kusta)
12. Treponema pertenue
Puru atau patek
Bakteri penyebab penyakit pada hewan:
No. Nama bakteri Penyakit yang ditimbulkan
1. Brucella abortus
Brucellosis pada sapi
2. Streptococcus agalactia
Mastitis pada sapi (radang payudara)
3. Bacillus anthracis
Antraks
4. Actinomyces bovis
Bengkak rahang pada sapi
5. Cytophaga columnaris
Penyakit pada ikan
Bakteri penyebab penyakit pada tumbuhan:
No. Nama bakteri Penyakit yang ditimbulkan
1. Xanthomonas oryzae
Menyerang pucuk batang padi
2. Xanthomonas campestris
Menyerang tanaman kubis
3. Pseudomonas solanacaerum
Penyakit layu pada famili terung-terungan
4. Erwinia amylovora
Penyakit bonyok pada buah-buahan

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Bakteriologi yang merupakan salah satu dari ilmu
yang mempelajari tentang Bakteri dan kehidupannya, maka dalam penyusunnannya harus
didasarkan sepenuhnya pada kombinasi metode deduktif-induktif, melalui suatu jembatan
berupa proses pengembangan hipotesis.
Terlihat disini hakekat keilmuan dari Bakteriologi, bahwa ilmu tidak bertujuan untuk mencari
kebenaran absolut melainkan kebenaran yang bermanfaat bagi manusia dalam tahap
perkembangan tertentu. Hipotesis yang sampai saat ini tidak ditolak kebenarannya, dan
mempunyai manfaat bagi kehidupan, dianggap sebagai pengetahuan yang sahih dalam keluarga

keilmuan. Bahwa hipotesis ini kemudian hari ternyata tidak benar, itu tidak terlalu penting selama
mempunyai kegunaan. Seperti ucapan bahwa dalam ilmu sekiranya ditemukan kebenaran baru
tidak lalu menyalahkan yang terdahulu, melainkan hanya mengucapkan selamat jalan.
Saran
Karena proses penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, penulis membuka diri
untuk menerima berbagai masukan dan kritik demi perbaikan dimasa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
Alcamo IE (2001). Fundamentals of microbiology. Boston: Jones and Bartlett. ISBN 0-76371067-9.
Atlas RM (1995). Principles of microbiology. St. Louis: Mosby. ISBN 0-8016-7790-4.
Martinko JM, Madigan MT (2005). Brock Biology of Microorganisms (11th ed. ed.). Englewood
Cliffs, N.J: Prentice Hall. ISBN 0-13-144329-1.
Holt JC, Bergey DH (1994). Bergey's manual of determinative bacteriology (9th ed. ed.).
Baltimore: Williams & Wilkins. ISBN 0-683-00603-7.
Hugenholtz P, Goebel BM, Pace NR (1998). "Impact of culture-independent studies on the
emerging phylogenetic view of bacterial diversity". J Bacteriol 180 (18): 476574.
Funke BR, Tortora GJ, Case CL (2004). Microbiology: an introduction (8th ed, ed.). San
Francisco: Benjamin Cummings. ISBN 0-8053-7614-3.
Diposkan oleh ekofebrianto di 20.09

http://richofahmi.blogspot.com/2010/05/makalah-mikrobiologi-bakteriologi.html
rabu, 13 mei 2009

mikrobiologi
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Pengertian Mikroba

SEJARAH PERKEMBANGAN MIKROBIOLOGI


Awal terungkapnya dunia mikroba adalah dengan ditemukannya mikroskop oleh Leeuwenhoek (16331723). Mikroskop temuan tersebut masih sangat sederhana,dilengkapi satu lensa dengan jarak fokus
yang sangat pendek, tetapi dapat menghasilkan bayangan jelas yang perbesarannya antara 50-300 kali.
Leeuwenhoek melakukan pengamatan tentang struktur mikroskopis biji, jaringan tumbuhan dan
invertebrata kecil, tetapi penemuan yang terbesar adalah diketahuinya dunia mikroba yang disebut
sebagai animalculus atau hewan kecil. Animalculus adalah jenis-jenis mikroba yang sekarang diketahui

sebagai protozoa, algae, khamir, dan bakteri.(http://sumarsih07.files.wordpress.com/2007/12/bukuajar-mikrobiologi.pdf)


Jasad hidup yang ukurannya kecil sering disebut sebagai mikroba atau
mikroorganisme atau jasad renik. Jasad renik disebut sebagai mikroba bukan hanya
karena ukurannya yang kecil, sehingga sukar dilihat dengan mata biasa, tetapi juga
pengaturan kehidupannya yang lebih sederhana dibandingkan dengan jasad tingkat
tinggi. Mata biasa tidak dapat melihat jasad yang ukurannya kurang dari 0,1 mm. Ukuran mikroba
biasanya dinyatakan dalam mikron ( ), 1 mikron adalah 0,001 mm. Sel mikroba umumnya hanya dapat
dilihat dengan alat pembesar atau mikroskop, walaupun demikian ada mikroba yang berukuran besar
sehingga dapat dilihat tanpa alat pembesar. (http://rieka-bio.blogspot.com/2009/01/mikrobiologi.html)
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari mikroba. Mikrobiologi adalah salah satu cabang ilmu dari
biologi, dan memerlukan ilmu pendukung kimia, fisika, dan biokimia. Mikrobiologi sering disebut ilmu
praktek dari biokimia. Dalam mikrobiologi dasar diberikan pengertian dasar tentang sejarah penemuan
mikroba, macam-macam mikroba di alam, struktur sel mikroba dan fungsinya, metabolisme mikroba
secara umum, pertumbuhan mikroba dan faktor lingkungan, mikrobiologi terapan di bidang lingkungan
dan pertanian.
Mikrobiologi lanjut telah berkembang menjadi bermacam-macam ilmu yaitu virologi, bakteriologi,
mikologi, mikrobiologi pangan, mikrobiologi tanah, mikrobiologi industri, dan sebagainya yang
mempelajari mikroba spesifik secara lebih rinci atau menurut kemanfaatannya.Secara klasik jasad hidup
digolongkan menjadi dunia tumbuhan (plantae) dan dunia binatang (animalia). Menurut teori evolusi,
setiap jasad akan berkembang menuju ke sifat plantaeatau animalia. Hal ini digambarkan sebagai
pengelompokan jasad berturut-turut oleh Haeckel, Whittaker, dan Woese. Berdasarkan perbedaan
organisasi selnya, Haeckel membedakan dunia tumbuhan (plantae) dan dunia binatang (animalia),
dengan protista. Protista untuk menampung jasad yang tidak dapat dimasukkan pada golongan plantae
dan animalia. Protista terdiri dari algae atau ganggang, protozoa, jamur atau fungi, dan bakteri yang
mempunyai sifat uniseluler, sonositik, atau multiseluler tanpa diferensiasi jaringan. Whittaker membagi
jasad hidup menjadi tiga tingkat perkembangan, yaitu: (1) Jasad prokariotik yaitu bakteri dan ganggang
biru (Divisio Monera), (2) Jasad eukariotik uniseluler yaitu algae sel tunggal, khamir dan protozoa
(Divisio Protista), dan (3) Jasad eukariotik multiseluler dan multinukleat yaitu Divisio Fungi, Divisio
Plantae, dan Divisio Animalia. Sedangkan Woese menggolongkan jasad hidup terutama berdasarkan
susunan kimia makromolekul yang terdapat di dalam sel. Pembagiannya yaitu terdiri Arkhaebacteria,
Eukaryota (Protozoa, Fungi, Tumbuhan dan Binatang), dan Eubacteria.
.(http://sumarsih07.files.wordpress.com/2007/12/buku-ajar-mikrobiologi.pdf)

I.2 TUJUAN
Untuk mengetahui bagaimana cara pengendalian Mikroorganisme dengan Radiasi, Filtrasi, Ultrasonik dan

dengan Pencucian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bakteri berasal dari kata Bakterion, dalam bahasa Yunani yang berarti batang kecil. Juga dari kata
bacterium dalam bahasa Latin yang berarti kelompok raksasa dari organisme hidup. Bakteri adalah
organisme prokariot uniseluler yang hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Bakteri
hidup secara sendiri-sendiri (soliter) atau berkelompok (koloni). Bakteri hidup di sekitar kita, mulai dari
daerah tropis hingga kutub, dataran rendah hingga pegunungan dan pada tubuh kita juga. Jumlah
bakteri termasuk jenis organisme yang melimpah dari semua organisme. Bakteri tersebar di manamana, di tanah, air, dan sebagai simbiosis dari organisme lain. Banyak patogen merupakan bakteri.

Gambar. Struktur bakteri.


Dalam tumbuh kembang bakteri baik melalui peningkatan jumlah maupun penambahan jumlah sel
sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni seperti ph, suhu temperatur, kandungan garam, sumber
nutrisi, zat kimia dan zat sisa metabolisme. (http://bioredaksi.blogspot.com/2008/05/definisipengertian-bakteri-ciri-ciri.html)

Ciri-Ciri Bakteri :
- Umumnya tidak berklorofil
- Hidupnya bebas atau sebagai parasit / patogen
- Bentuknya beraneka ragam
- Memiliki ukuran yang kecil rata-rata 1 s/d 5 mikron
- Tidak mempunyai membran inti sel / prokariot
- Kebanyakan Uniseluler (memiliki satu sel)
- Bakteri di lingkungan ekstrim dinding sel tidak mengandung peptidoglikan, sedangkan yang kosmopolit
mengandung peptidoglikan
Manfaat/Kegunaan Bakteri Yang Menguntungkan Bagi Kehidupan :
1. Membantu menyuburkan tanah dengan menghasilkan nitrat
2. Pengurai sisa makhluk hidup dengan pembusukan
3. Fermentasi dalam pembuatan makanan dan minuman

4. Penghasil obat-obatan seperti antibiotik


5. Mengurai sampah untuk menghasilkan energi
6. Membantu dalam pembuatan zat-zat kimia, dll
Dampak Buruk Bakteri Yang Merugikan Bagi Kehidupan Manusia:
1. Menyebabkan penyakit bagi makhluk hidup termasuk manusia (bakteri parasit/patogen)
2. Membusukkan makanan yang kita miliki
3. Merusak tanaman dengan serangan penyakit yang merugikan (bakteri parasit/patogen)
4. Menimbulkan bau yang tidak sedap hasik aktivitas pembusukan
5. Membuat tubuh manusia kotor dipenuhi bakteri yang mengakibatkan bau badan.
(http://bacterion.wordpress.com/2009/03/10/pengertian-bakteri/)

Morfologi/bentuk bakteri
Berbagai bentuk tubuh bakteri Berdasarkan berntuknya, bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar,
yaitu:
Kokus (Coccus) dalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola, dan mempunyai beberapa variasi
sebagai berikut:
o Mikrococcus, jika kecil dan tunggal
o Diplococcus, jka bergandanya dua-dua
o Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujursangkar
o Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus
o Staphylococcus, jika bergerombol
o Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai
Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan mempunyai variasi
sebagai berikut:
o Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua
o Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai
Spiril (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai berikut:
o Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran
o Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran
Bentuk tubuh/morfologi bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium dan usia. Oleh karena itu
untuk membandingkan bentuk serta ukuran bakteri, kondisinya harus sama. Pada umumnya bakteri
yang usianya lebih muda ukurannya relatif lebih besar daripada yang sudah tua.
Alat gerak bakteri
Banyak spesies bakteri yang bergerak menggunakan flagel. Hampir semua bakteri yang berbentuk

lengkung dan sebagian yang berbentuk batang ditemukan adanya flagel. Sedangkan bakteri kokus
jarang sekali memiliki flagel. Ukuran flagel bakteri sangat kecil, tebalnya 0,02 - 0,1 mikro, dan
panjangnya melebihi panjang sel bakteri. Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang dimiliki, bakteri
dibagi menjadi lima golongan, yaitu:
Atrik, tidak mempunyai flagel.
Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.
Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.
Amfitrik, mempunyai sejumlah flagel pada kedua ujungnya.
Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.
Pengaruh lingkungan terhadap bakteri
Kondisi lingkungan yang mendukung dapat memacu pertumbuhan dan reproduksi bakteri. Faktor-faktor
lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan reproduksi bakteri adalah suhu, kelembaban,
dan cahaya. (http://agusdd.wordpress.com/2007/09/30/bakteri-vs-amoeba/)

BAB III
PEMBAHASAN

Pengendalian mikroorganisme sangat esensial dan penting di dalam industri dan produksi pangan, obatobatan, kosmetika dan lainnya. Alasan utama pengendalian organisme adalah :
1) Mencegah penyebaran penyakit dan infeksi.
2) Membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi
3) Mencegah pembusukan dan perusakan bahan oleh mikroorganisme.

Mikroorganisme dapat dikendalikan dengan beberapa cara, dapat dengan diminimalisir, dihambat dan
dibunuh dengan sarana atau proses fisika atau bahan kimia. Berbagai macam sarana proses fisik telah
tersedia untuk mengendalikan populasi mikroba. Pengendalian tersebut dapat dilakukan dengan cara
mematikan mikro-organisme, menghambat pertumbuhan dan metabolismenya, atau secara fisik
menyingkirkannya. Cara pengendalian mana yang digunakan tergantung kepada keadaan yang berlaku
pada situasi tertentu.
Ada beberapa cara untuk mengendalikan jumlah populasi mikroorganisme, diantaranya adalah sebagai
berikut :

Pengendalian Mikroorganisme dengan Radiasi

Sinar ultra violet (UV) diketahui merupakan salah satu sinar dengan daya radiasi yang dapat bersifat
letal bagi mikroorganisme. Sinar UV mempunyai panjang gelombang mulai 4 nm hingga 400 nm dengan
efisiensi tertinggi untuk pengendalian mikroorganisme adalah pada 365 nm. Karena mempunyai efek
letal terhadal sel-sel mikroorganisme, maka radiasi UV sering digunakan di tempat-tempat yang
menuntut kondisi aseptik seperti laboratorium, ruang operasi rumah sakit dan ruang produksi industri
makanan dan minuman, serta farmasi.
Salah satu sifat sinar ultra violet adalah daya penetrasi yang sangat rendah. Selapis kaca tipis pun
sudah mampu menahan sebagian besar sinar UV. Oleh karena itu, sinar UV hanya dapat efektif untuk
mengendalikan mikroorganisme pada permukaan yang terpapar langsung oleh sinar UV, atau mikroba
berada di dekat permukaan medium yang transparan. Absorbsi maksimal sinar UV di dalam sel terjadi
pada asam nukleat, maka diperkirakan mekanisme utama perusakan sel oleh sinar UV pada ribosom,
sehingga mengakibatkan terjadinya mutasi atau kematian sel (Atlas, 1997).
Mutasi adalah suatu perubahan pada rangkaian nukleotida dari suatu asam nukleat. Mutasi dapat
berakibat pada kesalahan menyandi protein dan keadaan ini jika tidak bersifat letal, biasanya
menimbulkan penampakan fenotip yang berbeda dari keadaan normalnya. Karena merupakan
perubahan pada materi genetik, maka mutasi diwariskan pada keturunannya.
(ttp://massofa.wordpress.com/2008/02/05/genetika-dan-pengendalian-mikrobiologi/)
Trichoderma harzianum adalah jenis kapang yang tersebar luas di tanah, dan mempunyai sifat
mikoparasitik. Mikroparasitik adalah kemampuan untuk menjadi parasit bagi kapang lain. Sifat inilah
yang dimanfaatkan sebagai agen biokontrol terhadap jenis-jenis kapang fitopatogen. Beberapa kapang
fitopatogen penting yang dapat dikendalikan oleh Trichoderma antara lain: Rhizoctonia solani, Fusarium
sp., Lentinus lepidus, Phytium sp., Botrytis cinerea, Gloeosporium gloeosporoides, Rigidoporus lignosus
dan Sclerotium rolfsii yang menyerang tanaman jagung, kedele, kentang, tomat dan kacang buncis,
kubis, cucumber, kapas, kacang tanah, pohon buah-buahan, semak dan tanaman hias (Wahyudi, 2002)
Kemampuan mikoparasitik tersebut dimungkinkan karena T. harzianum mampu menghasilkan enzim-

enzim yang mampu melisiskan dinding sel kapang lain, seperti enzim kitinase dan b-glukanase. Kitin
dan glukan merupakan penyusun utama dinding sel kapang. Adanya enzim kitinase dan glukanase yang
dihasilkan oleh T. harzianum akan menghidrolisis kitin dan glukan yang menyusun dinding sel kapang,
sehingga hifa kapang mengalami lisis (Panji, 1998). Pemaparan sinar ultraviolet selama 1, 2 dan 3 jam
tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan T. harzianum maupun kemampuan mikoparasitiknya terhadap
kapang patogenik tanaman F. oxysporum. Bakteri terutama bentuk sel vegetatifnya dapat terbunuh
dengan penyinaran sinar ultraviolet (UV) dan sinar-sinar ionisasi.

Pengendalian Mikroorganisme dengan Filtrasi

Ada dua filter, yaitu filter bakteriologis dan filter udara.


a) Filter bakteriologis biasanya digunakan untuk mensterilkan bahan-bahan yang tidak tahan terhadap
pemanasan, misalnya larutan gula, serum, antibiotika, antitoksin, dll. Teknik filtrasi prinsipnya
menggunakan penyaringan, dimana yang tersaring hanyalah bakteri saja. Diantara jenis filter bakteri
yang umum digunakan adalah : Berkefeld (dari fosil diatomae), Chamberland (dari porselen), Seitz (dari
asbes) dan seluosa.
b) Filter udara berefisiensi tinggi untuk menyaring udara berisikan partikel (High Efficiency Particulate Air
Filter atau HEPA) memungkinkan dialirkannya udara bersih ke dalam ruang tertutup dengan sistem
aliran udara laminar (Laminar Air Flow). (http://rachdie.blogsome.com/2006/10/14/pengendalianmikroorganisme/)

Pengendalian Mikroorganisme dengan Ultrasonik


Gelombang ultrasonik merupakan gelombang mekanik longitudinal dengan frekuensi di atas 20 kHz.
Gelombang ini dapat merambat dalam medium padat, cair dan gas, hal disebabkan karena gelombang
ultrasonic merupakan rambatan energi dan momentum mekanik sehingga merambat sebagai interaksi
dengan molekul dan sifat enersia medium yang dilaluinya (Bueche, 1986).
Karakteristik gelombang ultrasonik yang melalui medium mengakibatkan getaran partikel dengan
medium amplitudo sejajar dengan arah rambat secara longitudinal sehingga menyebabkan partikel
medium membentuk rapatan (Strain) dan tegangan (Stress). Proses kontinu yang menyebabkan
terjadinya rapatan dan regangan di dalam medium disebabkan oleh getaran partikel secara periodik
selama gelombang ultrasonik melaluinya (Resnick dan Halliday , 1992).
Gelombang ultrasonik ini sering dipergunakan untuk pemeriksaan kualitas produksi di dalam industri. Di
bidang kedokteran, frekuensi yang tinggi dari gelombang ultrasonik ini mempunyai daya tembus
jaringan yang sangat kuat, sehingga sering digunakan untuk diagnosis, penghancuran/destruktif, dan
pengobatan (Cameron and Skofronick, 1978).

Pengendalian Mikroorganisme dengan Pencucian

Beberapa hal yang harus dilakukan oleh setiap penjamah makanan ketika mengolah dan menyajikan
makanan untuk mencegah penularan penyakit menular yaitu: Selalu mencuci tangan sebelum
menjamah makanan, minuman dan peralatan. Tangan dapat memindahkan kuman (bibit penyakit) dari
sampah, daging mentah, piring kotor ataupun dari kotoran hidung maupun tenggorokan kedalam
makanan.
Memotong kuku agar tetap pendek dan tidak menggunakan cat kuku dan selalu mencuci tangan
menggunakan sabun dan air hangat. Gosok tangan terutama dibawah kuku selama 20 detik dengan
sabun, kemudian bersihkan dengan menggunakan air hangat. Jika tidak ada kertas toilet bisa
menggunakan pengering tangan dan tidak boleh menggunakan apron (celemek) atau lap cuci untuk
mengeringkan tangan. Pencucian tangan perlu dilakukan kembali setelah menggunakan kamar kecil
ataupun setelah kontak dengan cairan tubuh ketika batuk atau bersin. Setelah makan, merokok,
memegang daging mentah, membuang sampah atau memindahkan piring kotor

DAFTAR FUSTAKA

http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=31
http://massofa.wordpress.com/2008/02/05/genetika-dan-pengendalian-mikrobiologi/1
http://rachdie.blogsome.com/2006/10/14/pengendalian-mikroorganisme/

http://www.damandiri.or.id/file/stepanussahalaunairbab2.pdf
http://agusdd.wordpress.com/2007/09/30/bakteri-vsamoeba/http://bacterion.wordpress.com/2009/03/10/pengertianbakteri/http://sumarsih07.files.wordpress.com/2007/12/buku-ajar-mikrobiologi.pdf http://riekabio.blogspot.com/2009/01/mikrobiologi.html

BAB IV
KESIMPULAN
Pengendalian mikroorganisme sangat esensial dan penting di dalam industri dan produksi pangan, obatobatan, kosmetika dan lainnya kemudian pengendalian mikroorganisme dapat dilakukan dengan cara
yaitu: dengan cara pengendalian Mikroorganisme dengan Radiasi, Filtrasi, Ultrasonik dan dengan
Pencucian.

MAKALAH MIKROBIOLOGI

pengendalian Mikroorganisme dengan


Radiasi,Filtrasi
Ultrasonik dan dengan Pencucian

KEL IX
BASAALIM TUASIKAL

KADRI YANSHA
RENIUS

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2009
diposkan oleh aqua 07 di 04.24

http://alimbdp87com.blogspot.com/2009/05/mikrobiologi.html

SABTU, 18 OKTOBER 2014

pengujian salmonella sp dan e coli

Makalah Mikrobiologi
~Pengujian Sallmonella Sp. Dan E.
Coli~

Disusun Oleh :
Ferisa Lestari Nugrahayu
4 Kimia Analis 2
(13)

SMK N 1 (STM PEMBANGUNAN


TEMANGGUNG)

BAB I
PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG
Mikroba adalah salah satu makhluk renik yang menghuni hampir semua
tempat baik di darat (terresterial) maupun di perairan (akuatik), dan termasuk
salah satu organisme yang memiliki tingkat perkembangbiakkan luar biasa
tinggi. Mikroba dapat tinggal dalam suatu lingkungan yang mendukung
kehidupanya, dari tempat yang sederhana dan berlingkungan nyaman sampai
lingkungan ekstrim di dasar laut dan di perut bumi. Salah satu tempat yang
menjadi tempat suburnya mikroba adalah makanan.
Makanan adalah salah satu kebutuhan dasar bagi manusia, yang bisa
diperoleh dari berbagai sumber, dan dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan
tubuh. Akan tetapi disadari atau tidak makanan yang masuk ke tubuh kita juga
memiliki potensi untuk media masuknya cemaran penggangu kesehatan, dalam
hal ini adalah mikroorganisme (bakteri patogen, kapang, khamir dan dapat juga
virus).
Mikroorganisme yang mencemari bahan makanan berasal dari lingkungan
sekitar, baik langsung maupun tidak langsung. Hanya sebagian saja dari
berbagai sumber pencemar yang berperan sebagai sumber mikroba awal yang
selanjutnya akan berkembang biak pada bahan pangan sampai jumlah tertentu.
Kemudian, bahan pangan yang tercemar tersebut bisa menjadi media penularan
sejumlah penyakit yang dibawa oleh mikroorganisme tadi, misal Tuberkolusis
(Dari Mycobacterium tubercolusa), disentri (E. Coli), dan tifus (Sallmonella
Typosa).
Dua mikroorganisme yang paling umum menjadi biang masalah kesehatan
adalah Sallmonella Sp. (genus bakteri enterobakteria gram-negatif berbentuk
tongkat yang dapat bergerak bebas dan menghasilkan hydrogen sulfida),
danEscherischia Coli (bakteri coliform yang sering ditemukan pada faces

manusia dan hewan berdarah panas, dan kadang-kadang menghasilkan pigmen


berwarna kuning). Seperti yang telah disebut di atas bahwa kedua
mikroorganisme ini menyebabkan penyakit disentri dan tifus. Penyakit-penyakit
tersebut bisa berakibat fatal kepada manusia, juga tidak menutup kemungkinan
akan membawa kematian.
Untuk dapat mewaspadai mikroorganisme-mikroorganisme ini, diperlukan
adanya identifikasi pada makanan yang sering dikonsumsi. Identifikasi dapat
berupa pengujian kualitatif dan kuantitatif dengan berbagai metode standart uji
mikrobiologi.
B.
-

TUJUAN
Untuk mengetahui dan memahami mengenai metode yang digunakan dalam
mengidentifikasi Salmonella dan E Colidalam makanan

Mengetahui langkah-langkah dalam identifikasi Salmonelladan E.Coli.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

DEFINISI
1. Sallmonella Sp.
Salmonella merupakan suatu genus bakteri enterobakteria gram-negatif

berbentuk tongkat yang menyebabkan tifus, paratifus, dan penyakit foodborne.


Spesies-spesies Salmonella dapat bergerak bebas dan menghasilkan hydrogen
sulfida. Salmonelladinamai dari Daniel Edward Salmon, ahli patologi Amerika,
walaupun sebenarnya, rekannya Theobald Smith (yang terkenal akan hasilnya
pada anafilaksis) yang pertama kali menemukan bacterium tahun 1885 pada
tubuh babi.

Berikut adalah klasifikasi dari Bakteri Salmonella :


Kerajaan

Bakteri

Kelas

Gamma Proteobacteria

Order

Enterobacteriales

Keluarga

Enterobacteriaceae

Genus

Salmonella

Species

S. enterica (Anonimb, 2009).

Salmonella adalah penyebab utama dari penyakit yang disebarkan melalui


makanan

(foodborne

diseases).

Pada

umumnya, serotipe Salmonella

menyebabkan penyakit pada organ pencernaan. Penyakit yang disebabkan oleh


Salmonella

disebut salmonellosis.

Ciri-ciri

orang

yang

mengalami salmonellosis adalah diare, keram perut, dan demam dalam waktu 8-

72 jam setelah memakan makanan yang terkontaminasi oleh Salmonella. Gejala


lainnya adalah demam, sakit kepala, mual dan muntah-muntah.
Tiga serotipe utama dari jenis S. enterica adalah S. typhi, S. typhimurium,
dan S. enteritidis. S. typhi menyebabkan penyakit demam tifus (Typhoid fever),
karena invasibakteri

ke

dalam

pembuluh

darah

dan

gastroenteritis,yang

disebabkan oleh keracunan makanan/intoksikasi.Gejala demam tifus meliputi


demam, mual-mual, muntah dan kematian. S. typhi memiliki keunikan hanya
menyerang manusia, dan tidak ada inang lain.Infeksi Salmonella dapat berakibat
fatal kepada bayi, balita, ibu hamil dan kandungannya serta orang lanjut usia.
Hal ini disebabkan karena kekebalan tubuh mereka yang menurun. Kontaminasi
Salmonella dapat dicegah dengan mencuci tangan dan menjaga kebersihan
makanan yang dikonsumsi.

2. E.Coli
E.Coli adalah bakteri coliform yang sering ditemukan pada faces manusia
dan hewan berdarah panas. Organisme ini tersebar luas di alam biasanya lazim
terdapat dalam sel pencernaan manusia dan hewan. Dalam Merchant dan Parker
(1961) disebutkan spesies E. coli tidak dapat mengurangi asam sitrat dan
garam asam sitrat sebagai sumber karbon tunggal dan tidak menghasilkan
pigmen, tetapi kadang-kadang menghasilkan pigmen berwarna kuning.
Klasifikasi Escherichia coli :
Divisio :

Schizomycota

Kelas

Schizomycetec

Ordo

Eubacteriaceae

Genus

Escherichia

Species :

Escherichia coli (Salle, 1961)

E. coli adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang yang tidak


membentuk spora yang merupakan flora normal di usus. Meskipun demikian,
beberapa jenis E. coli dapat bersifat patogen, yaitu serotipe-serotipe yang masuk
dalam

golongan

E.

coli

Enteropatogenik,

E.coli

Enteroinvasif,

E.

coli

Enterotoksigenik dan E.coli Enterohemoragik . Jadi adanya E. coli dalam air


minum menunjukkan bahwa air minum tersebut pernah terkontaminasi kotoran
manusia dan mungkin dapat mengandung patogen usus. Oleh karenanya
standar air minum mensyaratkan E. coli harus absen dalam 100 ml.
E. coli tersebar diseluruh dunia dan ditularkan bersama air atau makanan
yang terkontaminasi oleh feses. Escherichia coli berbentuk batang, tebal 0,5
m; panjang antara 1,0 - 3,0 m; bervariasi dari bentuk koloid sampai
berbentuk seperti filamen yang panjang; tidak berbentuk spora; motil dan
filamen perithin beberapa galur tidak memiliki flagella; bersifat Gram negatif
(Merchant dan Parker, 1961).
E. coli bersifat aerob atau kualitatif anaerob, dapat tumbuh pada
media buatan. Beberapa sifat E. coli antara lain pertumbuhan optimum pada
suhu 37C, dapat tumbuh pada suhu 15C -

45C, tumbuh baik pada pH

7,0 tapi tumbuh juga pada pH yang lebih tinggi (Merchant dan Parker,1961)
Koloni terlihat basah, mengkilat, tidak bening, bulat dan dengan tepi
yang terlihat halus dan rata. Koloni muda terlihat granuler halus
tua

menjadi

granuler

kasar.

Escherichia

dan

makin

coli menghasilkan asam dan gas

dari glukosa, laktosa, fruktosa, maltosa, arabinosa,

xylosa, rhamnosa

dan manitol; dapat atau tidak memfermentasi sukrosa, rafinosa, salisin, eskulin,
dulsitol dan gliserol; bervariasi dalam

memfermentasi sakrosa dan salisin,

pektin dan adonitol jarang difermentasikan; dekstrin, pati dan glikogen dan
inositol tidak pernah difermentasikan (Merchant dan Parker, 1961).
Escherichia coli menghasilkan katalase,
membentuk

tidak

mencairkan gelatin,

indol, mereduksi nitrat, mengoksidasi dan mengasamkan air susu

tanpa peptonisasi, mengoksidasi kentang sehingga berwarna coklat gelap, tidak


menghasilkan gas H2S (Merchant dan Parker, 1961).
B.

IDENTIFIKASI
1. Sallmonella Sp.
Tujuan dari pengidentifikasian dalam uji suatu bakteri (Salmonella) pada

metode kualitatif adalah untuk mengetahui mutu ataupun kualitas dari suatu
produk makanan berdasarkan sifat mikrobiologinya. Pengujian mikrobiologi pada

sampel makanan akan selalu mengacu kepada persyaratan makanan yang sudah
ditetapkan.
Pada pengujan deteksi Salmonella diguanakanBuffered Peptone Water
(BPW) sebagai media cair non selektif, Muller Kaufimann Tetrathionate
Novobiocin Broth (MKTTn) dan Rappaport Vassiliadis Medium + Soya
(RVS) sebagai media cair selektif, Bismuth Green Agar (BGA) dan Xylose
Lysine

Deoxycholate

(XLD) sebagai

media

padat

selektif

untuk

mengisolasi Salmonella.
Prinsip pengujian deteksi Salmonella menurut Metode Analisis Mikrobiologi
(MA

PPOM

74/MIK/06)

yaitu

ada

empat

tahap

untuk

mendeteksi

adanya Salmonella :
-

Pra-Pengkayaan Non-Selektif
Dengan cara aseptic ditimbang 25 gram atau dipipet 25 ml cuplikan ke dalam
kantong plastic stomacher steril ditambahkan 225 ml BPW. Dihomogenkan
menggunakan stomacher selama 30 detik dan diinkubasi pada suhu 371 C
selama 182 jam.

Pengkayaan Selektif
Dengan cara aseptic dipipet biakan pra-pengkayaan masing-masing 1ml ke
dalam 10 ml MKTTn inkubasi pada suhu 371C selama 243 jam dan 0,1 ml ke
dalam 10 ml RVS inkubasi pada suhu 41,51 C selama 243 jam. Jagalah agar
maksimum suhu inkubasi tidak melebihi 42,5 C.

Inokulasi & identifikasi


Dari biakan MKTTn dan RVS diinokulasikan masing-masing sebanyak 1 sengkelit
pada permukaan BGA dan XLD, kemudian diinkubasi pada suhu 37+1 C selama
24+3 jam koloni yang tumbuh diamati. Biakan Salmonella positif jika :
a.

Dalam media BGA : koloni dari tidak berwarna, merah muda hingga

merah dan translusen hingga keruh dengan lingkaran merah muda sampai
merah.
b.

Dalam media XLD : koloni translusen dengan bintik hitam ditengah, dan

dikelilingi zona transparan berwarna kemerahan.

Konfirmasi

Dipilih dua atau lebih koloni spesifik pada BGA dan XLD diinokulasikan pada
media TSA atau NA miring. Dari TSA atau NA miring dilakukan uji konfirmasi
sebagai berikut:
a)

TSIA

Diinokulasikan koloni tersangka dengan cara tusuk dan goresan pada media
TSIA, inkubasi pada suhu 37+1 C selama 24+3 jam. Amati perubahan warna
yang terjadi. Munculnya endapan hitam menandakan pembentukan Hidrogen
Sulfida (menandakan keberadaanSallmonella.)
b)

Uji Urease

Inokulasikan koloni tersangka pada media urea agar (Christensen) suhu 371C.
Amati perubahan warna biakan yang terjadi. Uji urease menunjukkan hasil positif
jika terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah keunguan.
c)

Uji Dekarboksilasi lysine

Inokulasikan koloni tersangka pada media L.Lysine decarboxylase diikubasi pada


suhu 371 C selama 243 jam. Amati perubahan warna biakan dan kekeruhan
yang terjadi. Pada media ini, Salmonella akan membentuk koloni merah dengan
inti hitam.
d)

Uji Voges Proskauser

Inokulasikan koloni tersangka pada media MR-VP pada suhu 371 C selama
243 jam. Tambahan 3 tetes larutan Alfa naftol dan 2 tetes larutan KOH 40 %.
Amati perubahan warna biakan yang terjadi setelah 15 menit. Positif apabila
muncul warna merah.
e)

Uji Indol

Inokulasikan koloni tersangka pada media Tryptone Broth atau Tryptophan broth,
pada suhu 371 C selama 243 jam. Tambahkan beberapa tetes larutan Kovac.
Amati perubahan cincin merah. Sallmonella tidak akan membentuk cincin ini.
f)

Uji Serologi

Ambil 1 ose biakan dari TSA/NA miring suspensikan dengan 1 tetes NaCl 0,85 %
dan 1 tetes air, dan campurkan pada kaca objek. Apabila diamati dengan latar
belakang gelap dan menggunakan kaca pembesar telah terjadi aglutinasi,
sebaiknya tidak dilakukan uji serologi dengan antisera (serum yang diteteskan
untuk menguji) polivalen O, H, Vi, karena telah terjadi aglutinasi sendiri (self
agglutination). Apabila tidak terjadi aglutinasi (penggumpalan) sendiri, lakukan
uji serologi seperti diatas dengan antisera polivalen O, H, dan Vi. Jika terjadi
aglutinasi, maka Salmonella positif. Uji ini dapat dilakukan pada kaca objek atau
tabung kecil. Untuk antisera polivalen H, biakanSalmonella diinokulasikan pada
media NA semi padat yang diinkubasi pada 371C selama 243 jam. Makanan
atau minuman tidak boleh mengandung Salmonella (negative per 25 gram atau
25 ml) (BPOM RI, 2006).

Pada pengujian salmonella, dibuat juga kontrol positif yaitu sampel yang
telah diberi biakan kultur salmonella sebagai pembanding. Dari pengkayaan
selektif, biakan dari MKTTn dan RVS diinokulasikanpada media BGA dan XLD
untuk tahap inokulasi dan identifikasi.
Salmonella positif jika pada uji biokimia yang dilakukan hasilnya sebagai
berikut:
TSIA : H2S positif
Hidrolisis urea : negative
Dekarbosilasi lysine : positif
Reaksi voges proskauer : negative
Produksi indol : negative
Uji serologi: terjadi aglutinasi pada penambahan antisera polivalen O, H, dan Vi
2. E.Coli
Berbagai cara pengujian E. coli telah dikembangkan, tetapi analisis
konvensional yang masih banyak dipraktekkan adalah dengan 4 tahap analisis
yang memerlukan waktu 5-7 hari. Empat tahap analisis tersebut adalah Uji
Pendugaan dengan metode MPN ( most probable number ), Uji penguat pada

medium selektif, Uji lengkap dengan medium lactose broth, serta Uji Identifikasi
dengan melakukan reaksi IMViC (indol, methyl red, Vogues-Praskauer, dan
citrate).
Jadi untuk dapat menyimpulkan E. coli berada pada air atau makanan
diperlukan seluruh tahapan pengujian di atas. Apabila dikehendaki untuk
mengetahui serotipe dari E. coli yang diperoleh untuk memastikan apakah E.coli
tersebut patogen atau bukan maka dapat dilakukan uji serologi. Meskipun
demikian, beberapa serotipe patogen tertentu seperti O157:H7 yang ganas tidak
dapat diuji langsung dengan pengujian 4 tahap ini dan memerlukan pendekatan
analisis khusus sejak awal.
E. Coli merupakan bakteri gram negatif, dan bisa juga diidentifikasi
melalui pengujian gram. Selain itu, pengujian yang bisa dilakukan adalah
rangkaian uji IMViC. Peralatan dan bahan yang digunakan dalam uji ini adalah
sbb :

Peralatan :
a.

Penangas air

b.

Waterbath Inkubator 44-45oC

c.

Pipet Volume 1 mL, 10 mL

d.

Ose

e.

Labu Erlenmeyer

f.

Tabung Reaksi

Perbenihan dan pereaksi


a.

Eschericia Coli Broth

b.

BGLB Broth, EMB Agar, MR-VP Medium dan Nutrient Agar (NA)
c.
d.

e.

Larutan Methyl Red


Pereaksi Voges Proskauer

Pereaksi untuk Pewarnaan Gram

f.
g.
h.

Pereaksi Indol
Larutan alfa-Naphtol
Larutan KOH 40%

1. Prosedur Pengujian Awal :


a)

Masukkan 1 sengkelit biakan yang positif gas pada LB dan pengujian APM

bakteri Coliform kedalam tabung berisi E.C Broth yang di dalamnya terdapat
tabung durham terbalik.
b)

Inkubasikan dalam penangas air pada suhu 44-45 oC selama 24-48 jam.

c)

Catat tabung yang didalamnya terbentuk gas (E.Coli dianggap positif, jika

di dalam tabung terbentukgas).


d)

Lanjutkan penetapan E.Coli dengan menginokulasikan biakan yang

membentuk gas ke perbenihan EMB atau VRBA dalam cawan petri.


e)

Inkubasikan pada suhu 37oC selama 18-24 jam.

f)

Pilih koloni berwarna merah gelap (VRBA) yang berdiameter 0,5 mm atau

lebih atau koloni berwarna kilat logam hijau metalik (EMB Agar) dan di
inokulasikan pada
g)

Nutrien Agar miring dalam tabung, Inkubasikan pada suhu 35 oC selama 18-

24 jam.
Pada waktu yang sama lakukan pewarnaan gram sebagai berikut :
a)

Buat sediaan diatas kaca alas.

b)

Keringkan di udara dan fiksasikan dengan panas.

c)

Rendam sediaan dengan tetesan larutan cristal Violet ammonium Oxalate


selama 1 menit.

d)

Cuci dengan air dan tiriskan.

e)

Bubuhkan larutan Lugol (Gram iodium) selama 1 menit.

f)

Cuci dengan air kran dan tiriskan. Cuci (Hilangkan warna) dengan alkohol 95%
selama 30 detik.

g)

Cuci dengan air kran, tiriskan dan bubuhkan larutan safranin selama 10-30
detik.

h)

Cuci dengan air kran, tiriskan, serap dengan kertas saring, keringkan dan
periksa dibawah mikroskop.
2. Prodesur Pengujian IMVIC :
a)

Uji Indol

Dari biakan murni nutrien agar miring, inkubasikan 1 sengkelit Biakan kedalam
Trypton broth. Inkubasikan pada suhu 35oC selama 18-24 jam. Tambahkan 0,20,3 ml pereaksi indol kedalam masing-masing tabung dan kocok selama 10
menit. Warna merah tua pada permukaan menunjukkan reaksi indol positif.
Warna jingga menunjukkan reaksi indol negatif.
b)

Uji merah Methyl

Dari biakan murni nutrien agar miring, inokulasikan 1 sengkelit biakan kedalam
perbenihan MR-VP. Inkubasikan pada suhu 35oC selam 48 jam. Dengan
menggunakan pipet, pindahkan 5 ml ke dalam tabung reaksi, tambahkan 5 tetes
MM dan kocok. Warna kuning menunjukkan reaksi negatif dan warna merah
menunjukkan reaksi positif.
c)

Uji VP

Dari biakan murni nutrien agar miring, inokulasikan 1 sengkelit biakan kedalam
perbenihan MR-VP. Inkubasikan pada suhu 36oC selama 48 jam. Dengan
menggunakan pipet, pindahkan 1 ml suspensi kedalam tabung, jtambahkan 0,6
ml larutan alfa-naphtol dan 0,2 ml larutan KOH dan kocok. Diamkan selama 2-4
jam. Warna merah muda hingga merah tua menunjukkan reaksi positif, warna
tidak berubah menunjukkan reaksi negatif.

BAB III
PENUTUP

A.

KESIMPULAN
Metode analisa merupakan proses pembuktian atau konfirmasi pengujian
secara obyektif di laboratorium yang telah memenuhi persyaratan yang telah
ditentukan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Dalam hal ini. metode
analisa

yang

digunakan

untuk

mengidentifikasi

adanya

bakteri Salmonella dan E.Coli metode yang digunakan yakni metode analisa
secara kualitatif yakni bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya suatu
bakterisalmonella dalam suatu makanan.

D I P O S K A N O L E H F E R I S A L E S TAR I P U K U L 0 5 . 3 5
LABEL: ANALISA, E COLI, MAKALAH
MIKROBIOLOGI,MIKROBIOLOGI, PENGUJIAN, SALLMONELLA

http://ferisa3k1.blogspot.com/2014/10/pengujian-salmonella-sp-dan-e-coli.html

MINGGU, 21 NOVEMBER 2010

MIKROBIOLOGI
PERTEMUAN 1
ALASAN BELAJAR MIKROBIOLOGI
Mikroba mengawali kehidupan
Mikroba agen pendaur ulang di alam
Mikroba penyebab sehat dan sakit
Mikroba sumber bahan makanan

Mikroba jasad pengolah makanan


Mikroba berperan dalam industri (pangan dan obat)
Mikroba mitra (simbion) tanaman penghasil pangan
Mikroba adalah bioremediator
Mikroba alat (tool) penelitian ilmiah
PENGERTIAN MIKROBIOLOGI DAN MIKROBA
Mikrobiologi merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari
organisme hidup berukuran mikroskopis (mikroba) yang meliputi virus, bakteri,
archaea, protozoa, algae, dan fungi. Beberapa mikroba (algae dan fungi) yang
berukuran cukup besar dan dapat dilihat dengan mata telanjang tetapi masih
dimasukan dalam kajian mikrobiologi karena teknik yang sama (isolasi, sterilisasi
dan penumbuhan pada media artificial) digunakan untuk mempelajarinya.
Mikrobiologi dapat dibedakan menjadi beberapa subdisiplin berdasarkan
berbagai macam orientasi:
Orientasi taksonomi
1. Virologi : mempelajari tentang susunan dan klasifikasi virus
2. bakteriologi : mempelajari tentang struktur, susunan, dan klasifikasi
makhluk
hidup termasuk bakteri.
3. Mikologi : mempelajari tentang struktur, susunan, dan klasifikasi makhluk
hidup termasuk jamur.
4. Fikologi atau Algologi : mempelajari tentang struktur, susunan, dan
klasifikasi
makhluk hidup termasuk gsanggang atau algae.
5. Protozoologi : mempelajari tentang struktur, susunan, dan klasifikasi
makhluk hidup termasuk porotozoa.
Orientasi Habitat
1. Mikrobiologi Air
2. Mikrobiologi Tanah

3. Mikrobiologi Laut
Orientasi Problema
1. Ekologi mikroba
2. Mikrobiologi patogenik
3. Mikrobiologi Pertanian
4. Mikrobiologi Industri
5. Mikrobiologi Geologi
Lapangan mikrobiologi Terapan
1. Miukrobiologi Kedokteran
2. Mikrobiologi Akuatik
3. Aeromikrobiologi
4. Mikrobiologi makanan
5. Mikrobiologi Pertanian
6. Mikrobiologi Industri
7. Eksomikrobiologi
8. Mikrobiologi Geokimia
Mikroba adalah suatu jasad renik atau mikroorganisme yang ukurannya
kecil. Penggolongan mikroba diantara jasad hidup.
- Dunia tumbuhan (plantae)
- Dunia binatang (animal)
Pengelompokan jasad menurut Ernest Haeckel : berdasarkan perbedaan
organisasi selnya, dunia tumbuhan (plantae) dan dunia binatang (animal)
dibedakan dengan protista. Whittaker membagi jasad hidup menjadi tiga tingkat
perkembangan, yaitu: jasad prokariotik, jasad eukariotik, dan jasad eukariotik
multiseluler dan multinukleat. Woese menggolongkan jasad hidup berdasarkan
susunan kimia makromolekul yang terdapat di dalam sel.
Ciri umum mikroba

Mikroba secara umum berperan sebagai produsen, konsumen, maupun redusen.


Dua tipe jasad mikroba:
- Prokariota (jasad
sempurna.

prokariotik/primitive) perkembangan

selnya

belum

- Eukariota (jasad eukariotik) perkembangan selnya telah sempurna.


Mikroba yang bersifat nonseluler yaitu virus. Struktur virus terutama
terdiri dari bahan genetik. Virus bukan berbentuk sel dan tidak dapat
membentuk energi sendiri serta tidak dapat berbiak tanpa menggunakan jasad
hidup lain. Selain virus, ada jasad hidup yang disebut viroid. Viroid membawa
sifat genetiknya sendiri yang dapat diekspresikan di dalam sel inang. Jasad yang
lebih sederhana dari virus adalah prion. Prion dapat menggandakan diri dalam
sel inang dengan mekanisme yang belum diketahui dengan jelas.
Rentang Keragaman
- Keragaman ukuran (virus-fungi makro)
- Keragaman nutrisi (autotrof-heterotrof)
- Keragaman factor fisik lingkungan (normal-ekstrim)
Diversitas Kehidupan Mikroba
Termofilik
Psikrofilik
Acidofilik
Alkalofilik
Halofilik
Barofilik
Radiofilik
Anaerobik obligat
SEJARAH PERKEMBANGAN BIOLOGI
A. Penemuan Animalculus

Leeuwenhoek (1633-1723) menemukan mikroskop, awal penemuan


mikroba. Diketahuinya dunia mikroba yang disebut animalculus atau
hewan kecil.
B. Teori dan Pendapat
o Teori Abiogenesis animalculus timbul dengan sendirinya dari bahanbahan mati.
o Teori Biogenesis animalculus terbentuk dari benih animalculus yang
selalu berada di udara.
Francesco Redi (1626-1697) menyimpulkan bahwa ulat tidak secara
spontan berkembang dari daging. Belatung pada daging busuk berasal dari
telur lalat bukan berasal dari daging itu sendiri.
Lazzaro Spallanzani (1729-1799):
- pada percobaan menggunakan kaldu ternyata
menyebabkan animalculus tidak tumbuh.

pemanasan

dapat

- Mikroba tidak muncul dengan sendirinya.


- perkembangan mikrobia di dalam suatu bahan, dalam arti terbatas
menyebabkan terjadinya perubahan kimiawi pada bahan tersebut.
Louis Pasteur (1822-1895)
Penemuan Louis Pasteur adalah:
Pasterisasi
cara untuk mematikan beberapa jenismikroba tertentu dengan
menggunakan uap air panas, suhunya kurang lebih 62oC
Sterilisasi
:
cara
mematikan mikroba denganpemanasan dan tekanan tinggi.

untuk

C. Penemuan Bakteri Berspora


Penemuan Jhon Tyndall (1820-1893):
Tyndallisasi : pemanasan yang terputus dan diulang beberapa kali.
Langkah-langkah Tyndallisasi
1. Pemanasan dilakukan pada suhu 100oC selama 30 menit, dibiarkan pada
suhu kamar selama 24 jam, cara ini diulang sebanyak 3 kali.

2. Bakteri berspora yang masih hidup akan berkecambah membentuk fase


pertumbuhan/termolabil, sehingga dapat dimatikan pada pemanasan
berikutnya.
D. Teknik Kultur Murni
- Teknik Pengenceran (Louise Pasteur, et al).
Metode Streak Plate (Robert Koch, 1843-1910).
E. Peran Mikroba Dalam Transformasi Bhan Organik
Bahan yang mengandung mikroba akan mengalami
susunan kimianya. Perubahan kimia tersebut yaitu:

perubahan

Fermentasi (pengkhamiran)
Pembusukan (putrefaction)
F. Penemuan Kehidupan Anaerob
Dari hasil penelitian Pasteur dibuat 2 istilah,yaitu anaerob dan
aerob.
Kehidupan Anaerob mikroba yang tidak memerlukan oksigen.
Kehidupan Aerob mikroba yang memerlukan oksigen.
Secara fisiologis, fermentasi digunakan untuk mengetahui oksigen
diperlukan mikroba sebagai agensia untuk mengoksidasi senyawa organik
menjadi CO2 sebagai respirasi aerob, yang menghasilkan tenaga
untuk kehidupan jasad dan pertumbuhannya.
G. Penemuan Enzim
Enzim merupakan hasil urutan beberapa reaksi kimia, yang masingmasing dikatalisir oleh biokatalisator.
H. Mikroba Penyebab Penyakit
Diduga adanya peran mikroba dalam menyebabkan timbulnya penyakit
pada jasad tingkat tinggi. Pada tahun 1850 ditemukan bakteri berbentuk
batang dalam darah hewan yang sakit antraks.
I. Penemuan Virus

Virus merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran jauh lebih


kecil dari bakteri (submikroskopik) karena dapat melalui saringan bakteri.
Untuk membuktikan penyakit yangdisebabkan oleh virus, yaitu:
1. Virus harus berada di dalam sel inang.
2. Filtrat
bahan
mikroba lain.

yang terinfeksi tidak

mengandung

bakteri

atau

3. Filtrat dapat menimbulkan penyakit pada jasad yang peka .


4. Filtrat sama yang berasal dari hospes peka tersebut harus dapat
menimbulkan kembali penyakit yang sama.
J. Generatio Spontanea (Abiogenesis) Menurut Pandangan Baru
Kehidupan terjadi dari berbagai unsur kimia, dengan rangkaian reaksi
yang mirip dengan reaksi yang terjadi di alam.
Teori asal mula kehidupan
Di atmosfer oksigen hampir tidak ada dan lapisan ozon sangat tipis.
Sinar ultra violet (UV) banyak mengenai bumi sehingga terjadi radiasi UV,
suhu tinggi, dan loncatan bunga api listrik yang mengakibatkan bahan
anorganik berubah menjadi bahan organik, evolusi pada bahan-bahan organik
menjadi lebihkompleks mulai terbentuk makromolekul yang diduga akan
saling bergabung membentuk semacam membran kemudian mengelilingi
suatu cairan dan akhirnya terbentuk suatu organismeseluler.
Evolusi
- jasad bersel
tunggal menjadi bersel majemuk memerlukanwaktu kurang lebih 2,5 m
ilyar tahun
- jasad bersel majemuk menjadi reptil
memerlukan waktu milyaran tahun

sampai

K. Penggunaan mikroba
a. Penggunaan mikroba untuk proses klasik
khamir untuk membuat anggur dan roti
bakteri asam laktat untuk yogurt dan kefir
bakteri asam asetat untuk vinegar

binatang

menyusui

jamur Aspergillus sp. untuk kecap


jamur Rhizopus sp. untuk tempe
b. Penggunaan mikroba untuk produksi antibiotik
Penisilin oleh jamur Penicillium sp.
Streptomisin oleh Actinomysetes streptomyces sp.
c. Penggunaan mikroba untuk proses-proses baru
karotenoid dan steroid oleh jamur
asam glutamat oleh mutan Corynebacterium glutamicum
pembuatan enzim amilase, proteinase, pektinase, dan lain-lain
d. Penggunaan mikroba dalam teknik genetika modern
pemindahan gen dari manusia, binatang, atau tumbuhan ke dalam sel
mikrobia.
penghasilan hormon, antigen, antibodi, dan senyawa lain misalnya
insulin, dan lain-lain.
e. Penggunaan mikroba di bidang pertanian: untuk pupuk
(biofertilizer), biopestisida, pengomposan, dan sebagainya.

hayati

f. Penggunaan mikroba di bidang pertambangan


untuk proses leaching di tambang emas
desulfurisasi batubara
untuk proses penambangan minyak bumi
g. Penggunaan mikroba di bidang lingkungan: mengatasi pencemaran
limbah organik/anorganik termasuk logam berat dan senyawa
xenobiotik.

STRUKTUR DAN FUNGSI SEL MIKROBA


Sel unit fisik terkecil dari organisme hidup.
Komposisi material sel:

- DNA dan RNA


- Protein
- Lemak
- fosfolipid
Ada dua tipe sel, yaitu:
Sel prokariotik: tipe
(jasad prokariot).

sel

pada

bakteri

dan

sianobakteria/alga

biru

Sel eukariotik: tipe sel pada jasad yang tingkatnya lebih tinggi dari bakteri
(jasad eukariot) yaitu khamir, jamur (fungi), alga selain alga biru, protozoa,
dan tanaman serta hewan.
Sel Prokariotik. Tipe Sel Prokariotik:
- mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan sel eukariotik
- Beberapa sel bakteri Pseudomonas hanya berukuran 0,4-0,7 diameternya dan
panjangnya 2-3
- tidak mempunyai organela seperti mitokondria, khloroplas, dan aparat golgi
- inti sel prokariotik tidak mempunyai membran
- Bahan genetis terdapat di dalam sitoplasma, berupa untaian ganda (double
helix) DNA berbentuk lingkaran yang tertutup
- Kromosom bakteri pada umumnya hanya satu
- mempunyai satu/lebih
disebut plasmid

molekul

DNA

yang

melingkar

(sirkuler)

yang

- Sel prokariotik tidak mengandung organel yang dikelilingi oleh membran


- Ribosom yang dimiliki sel prokariot lebih kecil yaitu berukuran 70S
- Ukuran genom sel prokariot berbeda dengan sel eukariot
- Jumlah DNA penyusun pada sel prokariot berkisar antara 0,8-8.106 pasangan
basa (pb) DNA
- DNA pada sel eukariot mempunyai pasangan basa lebih tinggi
Sel eukariotik

Sel eukariotik mempunyai inti sejati yang diselimuti membran inti


Inti sel mengandung bahan genetis berupa genome/DNA yang tersusun dalam
suatu kromosom.
Di dalam kromosom terdapat DNA yang berasosiasi dengan suatu protein
(histon)
Kromosom dapat mengalami pembelahan melalui proses mitosis
Di dalam sel eukariotik terdapat mitokondria dan kloroplas yang mengandung
sedikit DNA yang berbentuk sirkuler tertutup (seperti DNA prokariot)
Di dalam sel eukariotik terdapat ribosom yang lebih besar dibandingkan
prokariotik (berukuran 80S), selain itu juga dijumpai aparatus golgi yang pada
tanaman, organela ini mirip dengan diktiosom
Kedua organel tersebut berperan dalam proses sekresi
Struktur Sel
1. Inti Sel
2. Membran Sel Prokariotik
3. Dinding Sel
Rangka dasar dinding sel bakteri : murein peptidoglikan yang tersusun
dari N-asetil glukosamin dan N-asetil asam muramat, yang terikat melalui ikatan
1,4 b glikosida. Peranan ikatan peptida sangat penting dalam
menghubungkan antara rantai satu dengan rantai yang lain.
* Peranan Lisosim:
Lisosim adalah enzim antibakteri yang terdapat dalam putih telur dan air
mata, dapat dihasilkan oleh beberapa bakteri. Lisosim akan merusak ikatan
antar N-asetilglukosamin dan N-asetil asam muramat dalam murein, sehingga
lisosim dapat merombak murein dalam dinding sel. Dinding sel yang rusak akan
menghasilkan sel tanpa dinding sel yang disebut spheroplas yang sangat rentan
terhadap tekanan osmotik.
* Peranan penisilin
Penisilin akan bekerja aktif terhadap dinding sel gram positif yang sedang
membelah. Senyawa ini mengakibatkan sel tumbuh tidak beraturan. Penisilin
menghambat pembentukan dinding sel.
4. Flagel dan Pili

5. Kapsul dan Lendir


PERTEMUAN 2
PERTUMBUHAN MIKROBA
A. Definisi Pertumbuhan Populasi Mikroba

Pertumbuhan merupakan penambahan secara teratur semua komponen


sel suatu jasad. Pada uniseluler, pembelahan sel merupakan penambahan sel itu
sendiri. Sedangkan pada multiseluler, pembelahan tidak menghasilkan
pertambahan jumlah individunya, tetapi hanya merupakan pembentukan
jaringan atau bertambah besar jasadnya.
Bakteri memperbanyak diri dengan pembelahan biner, yaitu dari satu sel
membelah menjadi dua sel baru. Waktu yang diperlukan untuk membelah diri
yaitu waktu generasi.
B. Penghitungan waktu generasi

N = N0 2n
Ket:
N = jumlah sel akhir, N0 = jumlah sel awal, 2N = jumlah generasi
Waktu generasi = t/n
T = waktu pertumbuhan eksposional, n = jumlah generasi
Waktu generasi juga dapat dihitung dari slope garis dalam plot
semilogaritma kurva pertumbuhan eksponensial, yaitu dengan rumus: slope =
0,301/ waktu generasi.
C. Pengukuran Pertumbuhan

Pertumbuhan diukur dari perubahan jumlah sel atau berat kering massa
sel. Jumlah sel dihitung dari jumlah sel total (keseluruhan) dengan tidak
membedakan sel hidup atau mati (viablecount).
Alat untuk menghitung mikroba

alat Petroff-Hausser Bacteria Counter (PHBC) untuk menghitung bakteri.

Alat Haemocytometer

untuk

menghitung

yang ukurannya relatif lebih besar dari bakteri.

Cara menghitung jumlah sel hidup:

khamir,

spora,

atau

sel-sel

Metode Plate Count atau Colony Count

Metode taburan permukaan (spread plate method).

Metode taburan (pour plate method).

Filter Membran dan Most Probable Number

Menggunakan medium cair.

Sampel mikrobia dibuat seri pengenceran.

Pertumbuhan sel diukur dari massa sel, secara tidak langsung


mengukur TURBIDITAS (tingkat kekeruhan) cairan medium tumbuh.
Cara Perhitungan:
Massa sel dipisahkan dari cairan mediumnya menggunakan alat
sentrifus (pemusing) sehingga dapat diukur volume massa selnya atau
diukur berat keringnya (dikeringkan dahulu dengan suhu 90-1100C
semalam), umumnya berat kering bakteri adalah 10-20 % dari berat
basahnya.
Pengukuran Turbiditas
- Photometer (penerusan cahaya).
- Spektrofotometer (optical density/OD).
Pertumbuhan populasi mikroba
Bakteri akan tumbuh memperbanyak diri. Jika jumlah bakteri dihitung
dan dibuat grafik hubungan antara jumlah bakteri dengan waktu akan
diperoleh kurva pertumbuhan. Untuk mengetahui pertumbuhan mikrobia
dilakukan dengan cara membiakan mikrobia.
Dua sistem pembiakan mikrobia, yaitu:
- Biakan Sistem Tertutup (Batch Culture)
- Biakan Sistem Terbuka (Continous Culture)
Fase-fase pada kurva pertumbuhan
1. Fase Permulaan
2. Fase Pertumbuhan yang dipercepat

3. Fase Pertumbuhan logaritma (eksponensial)


4. Fase Pertumbuhan yang mulai dihambat
5. Fase Stasioner maksimum
6. Fase Kematian dipercepat
7. Fase Kematian logaritma

FAKTOR LINGKUNGAN MIKROBA


Aktivias mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan yaitu faktor
biotik dan abiotik. Aktivitas mikroba mengakibatkan perubahan sifat
morfologi dan fisiologi mikroba.
Faktor abiotik
1.

Suhu
1.

Suhu pertumbuhan mikroba: suhu minimum, suhu optimum, suhu maksimum.


Mikroba dikelompokan menjadi:

- Psikrofil

(kriofil) dapat

tumbuh

pada

suhu

0-300C

dengan

suhu

optimum sekitar 150C


- Mesofil umumnya mempunyai suhu minimum 150C, suhu optimum 25370C, dan suhu maksimum 45-550C
- Termofil tahan hidup pada suhu tinggi
2. Pengaruh Suhu tinggi

Apabila mikroba dihadapkan pada suhu tinggi


maksimum, akan memberikan beberapa macam reaksi:

di

atas

suhu

o Titik Kematian Thermal


Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian thermal ialah: waktu,
kelembaban, suhu, spora, umur mikroba, dan pH.
o Waktu Kematian Thermal
3.

Pengaruh suhu rendah

- Cold shock
- Pembekuan (freezing)
D. Lyofilisasi
2. Kandungan Air (pengeringan)
3. Tekanan Osmosis

Berdasarkan tekanan
dikelompokkan menjadi:

osmosis

yang

diperlukan

mikroba

dapat

- Mikroba Osmofil : tumbuh pada kadar gula tinggi, contoh beberapa jenis
khamir.
- Mikroba Halodurik : tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh
pada kadar garam tinggi (30 %).
E. Mikroba Halofil
:
dapat tumbuh pada kadar garam yang tinggi,
yang termasuk Archaebacterium, misalnyaHalobacterium.
4.

contoh:

bakteri

Ion-ion dan Listrik

a. Kadar Ion Hidrogen (pH)


b. Buffer
c. Ion-ion lain
d. Listrik
e. Radiasi
f. Tegangan Muka
g. Tekanan Hidrostatik
h. Getaran
Faktor biotik
1.

Interaksi dalam satu populasi mikroba, ada interaksi positif dan interaksi negatif.

3. Interaksi antarpopulasi mikroba: netralisme, komensalisme, sinergisme, mutualisme


(simbiosis), kompetisi, amensalisme (antagonisme), parasitisme, predasi.

NUTRISI DAN MEDIUM MIKROBA


Nutrisi
adalah
bahan
makanan
yang
digunakan
berfungsi
sebagai sumber energi, bahan pembangun sel, dan sebagai aseptor atau
donor elektron. Dalam garis besarnya bahan makanan dibagi menjadi tujuh
golongan yaitu: air, sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron,
sumber mineral, faktor tumbuh, dansumber nitrogen.
Penggolongan mikroba berdasarkan Nutrien dan Oksigen
o

Berdasarkan Sumber Karbon

1. Jasad Ototrof : memerlukan sumber karbon dalam bentuk anorganik,


misalnya CO2 dan senyawa karbonat.
2. Jasad Heterotrof : memerlukan sumber karbon dalam bentuk senyawa
organik, yang dibedakan menjadi:
Jasad Saprofit : dapat menggunakan bahan organik yang berasal dari
sisa jasad hidup atau sisa jasad yang telah mati.
Jasad Parasit : hidup di dalam jasad hidup lain dan menggunakan bahan
dari jasad inang.
o

Berdasarkan Sumber Energi

1. Jasad Fototrof : jika menggunakan energi cahaya.


2. Jasad Khemotrof : jika menggunakan energi dari reaksikimia.
Jika didasarkan atas sumber energi dan karbonnya, maka dikenal
jasad Fotototrof, Fotoheterotrof, Khemoototrof dan Khemoheterotrof.
o

Berdasarkan Sumber Donor Elektron

Jasad Litotrof : dapat menggunakan donor elektron dalam bentuk senyawa anorganik seperti
H2, NH3, H2S, dan S.

Jasad Organotrof : menggunakan donor elektron dalam bentuk senyawa organik.


o

Berdasarkan Kebutuhan Oksigen

1. Jasad Aerob: menggunakan oksigen bebas (O2) sebagai satu-satunya


aseptor hidrogen yang terakhir dalam proses respirasinya.
2. Jasad Anaerob, sering disebut anaerob obligat : tidak dapat menggunakan
oksigen bebas sebagai aseptor hidrogen terakhir dalam proses
respirasinya

3. Jasad Mikroaerob:hanya memerlukan oksigen dalam jumlah yang sangat


sedikit
4. Jasad Aerob Fakultatif: dapat hidup dalam keadaan anaerob maupun
aerob. Jasad ini juga bersifat anaerob toleran
5. Jasad Kapnofil: memerlukan kadar oksigen rendah dan kadar CO2 tinggi.
Medium Pertumbuhan Mikroba
Medium memerlukan kemasaman (pH) tertentu tergantung pada jenis jasad
yang ditumbuhkan. Macam Medium Pertumbuhan:
1. Medium Dasar/Basal Mineral
Medium yang mengandung campuran senyawa
selanjutnya ditambah zat lain apabila diperlukan.

anorganik

yang

2. Medium Sintetik
Medium yang seluruh susunan kimia dan kadarnya telah diketahui dengan
pasti.
3. Medium Kompleks
Medium yang susunan kimianya belum diketahui dengan pasti.
4. Medium Diperkaya
Medium yang ditambah zat tertentu yang merupakan nutrisi spesifik untuk
jenis mikroba tertentu.

ENZIM MIKROBA
Enzim adalah katalisator organik (biokatalisator) yang dihasilkan oleh
sel yang berfungsi untuk mempercepat reaksi kimia. Setelah reaksi
berlangsung, enzim tidak mengalami perubahan jumlah, sehingga jumlah
enzim sebelum dan setelah reaksi adalah tetap. Enzim mempunyai
selektivitas dan spesifitas yang tinggi terhadap reaktan yang direaksikan dan
jenis reaksi yang dikatalisasi.
A. MEKANISME KERJA ENZIM
1.

Enzim meningkatkan kecepatan reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi.

2. Energi aktivasi adalah energi yang diperlukan untuk mengaktifkan suatu reaktan sehingga
dapat bereaksi untuk membentuk senyawa lain.
3. Saat berlangsungnya reaksi enzimatik terjadi ikatan sementara antara enzim dengan
substratnya (reaktan) yang bersifat labil dan hanya untuk waktu yang singkat saja.
Selanjutnya ikatan enzim-substrat akan pecah menjadi enzim dan hasil akhir.
4. Enzim yang terlepas kembali setelah reaksi dapat berfungsi lagi sebagai biokatalisator untuk
reaksi yang sama.
B. STRUKTUR ENZIM

Pada umumnya enzim tersusun dari protein.

Dialisis enzim dapat memisahkan bagian-bagian protein.

Apoenzim apabila bergabung dengan bagian nonprotein disebut holoenzim yang bersifat aktif
sebagai biokatalisator.

Koenzim dan gugus prostetik berfungsi sama.

Koenzim berfungsi menentukan jenis reaksi kimia yang dikatalisis enzim.

Koenzim berfungsi menentukan jenis reaksi kimia yang dikatalisis enzim.


C. PENGGOLONGAN ENZIM

1. Berdasarkan tempat bekerjanya


a. Endoenzim (enzim intraseluler) yaitu enzim yang bekerjanya di dalam
sel.
b. Eksoenzim (enzim ekstraseluler) yaitu enzim yang bekerjanya di luar
sel.
2. Berdasarkan daya katalisis
a. Oksidoreduktase, mengkatalisis reaksi oksidasi-reduksi.
b. Transferase, mengkatalisis pemindahan gugusan molekul.
c. Hidrolase, mengkatalisis reaksi-reaksi hidrolisis.
d. Liase, mengkatalisis pengambilan atau penambahan gugusan dari suatu
molekul tanpa melalui proses hidrolisis.
e. Isomerase, mengkatalisis reaksi isomerisasi.

f. Ligase, mengkatalisis reaksi penggabungan 2 molekul.


g. Enzim lain dengan tatanama berbeda, misalnya enzim pepsin.
3. Penggolongan enzim berdasar cara terbentuknya
a. Enzim konstitutif jumlahnya dipengaruhi kadar substratnya.
b. Enzim adaptif, pembentukannya dirangsang oleh adanya substrat.
D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REAKSI ENZIMATIK
1.

Substrat (reaktan)

2. Suhu
3. Kemasaman (pH)
4. Penghambat Enzim (Inhibitor)
5. Aktivator (Penggiat) atau Kofaktor
6. Penginduksi (Induktor)
BIONERGENETIK MIKROBA
Bioenergetik mikroba mempelajari penghasilan dan penggunaan energi
oleh mikroba. Mikroba melakukan proses metabolisme yang terdiri atas
katabolisme dan anabolisme. Katabolisme merupakan proses perombakan
bahan disertai pembebasan energi (reaksi eksergonik). Anabolisme
merupakan proses biosintesis yang memerlukan energi (reaksi endergonik).
A. Biooksidasi Dan Pemindahan Energi

Energi yang berasal dari cahaya harus diubah menjadi energi kimia
sebelum digunakan dalam reaksi endergonik
Dalam sel, energi kimia terdapat dalam bentuk gugus organik berenergi
tinggi.
Energi yang dibebaskan ATP tergantung pada keadaan hidrolisisnya,
terutama pH dan kadar reaktan
Oksidasi dalam sel dikatalisis oleh enzim yang mempunyai kofaktor atau
gugus prostetis.
B. FERMENTASI

Fermentasi suatu reaksi oksidasi-reduksi (respirasi anaerob)


Banyak jasad yang dapat melakukan fermentasi lewat (jalur) rangkaian
reaksi kimia tertentu, antara lain melalui jalur:
1. Jalur Emden-Meyerhof-Parnas (EMP)
2. Jalur Entner-Doudoroff (ED)
3. Jalur Heksosa Mono Fosfat (HMP)
4. Jalur Heterofermentatif bakteri asam laktat
5. Jalur Metabolisme asam piruvat secara anaerob
C.

RESPIRASI

Respirasi adalah proses oksidasi biologis dengan O2 sebagai


aseptor elektronnya yang terakhir. Pada jasad eukariotik proses ini terjadi
di dalam mitokondria, sedang pada jasad prokariotik terjadi di bawah
membran plasma atau pada mesosome. Proses ini adalah fase kedua yang
aerob dari perombakan gula fase pertama yang anaerob (glikolisis).
D.

FOTOSINTESIS

Fotosintesis menggunakan cahaya sebagai sumber energi. Proses


ini menggunakan pigmen klorofil untuk mengabsorpsi energi cahaya dan
mengubah menjadi energi kimia. Jika klorofil terkena cahaya, akan
mengabsorpsi sebesar h sehingga terangsang dan membebaskan
elektron; klorofil menjadi bermuatan positif, elektron yang lepas akan
bergerak lewat sistem transpor elektron dan kembali ke pusat reaksi
klorofil.
E. PENGGUNAAN ENERGI OLEH JASAD

Energi digunakan dalam setiap reaksi endergonik dan reaksi


eksergonik. Untuk memulai reaksi diperlukan energi aktivasi. Proses yang
memerlukan energi antara lain proses biosintesis molekul kecil dan
molekul makro, yang akhirnya menuju ke pertumbuhan dan pembiakan;
penyerapan unsur makanan, gerak, dan sebagainya.
F. KATABOLISME MAKROMOLEKUL

Terjadi proses peruraian, antara lain:


1.

Peruraian Karbohidrat

2. Peruraian Lemak

3. Peruraian Protein
4. Peruraian Asam Nukleat

Dibantu oleh enzim, dan selanjutnya dimetabolisme lewat siklus krebs.


D I P O S K A N O L E H R I S A F AN B I YA D I 2 1 . 5 0

http://rissafauzia.blogspot.com/2010/11/mikrobiologi.html
RABU, 14 MEI 2014

Makalah Mikrobiologi (Isolasi Bakteri)

Isolasi Bakteri
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan
sifat-sifat yang khas, termasuk bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak
berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan.
Salah satu cara untuk melihat dan mengamati bentuk sel bakteri dalam keadaan
hidup

sangat

sulit,

sehingga

untuk

diidentifikasi

ialah

dengan

metode

pengecatan atau pewarnaan sel bekteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan
mudah diamati. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya
yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan.
Oleh karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salahsatu cara yang
paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi (Pelezar, 2008).
Metode pengecatan pertama kali ditemukan oleh Christian gram pada
tahun 1884. Dengan metode ini, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu bakteri gram positif dan gram negatif yang didasarkan dari reaksi atau sifat
bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh
komposisi dinding selnya sehingga pengecatan gram tidak bisa dilakukan pada

mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti mycoplasma sp


(Nurodin, 2009)
Teknik pewarnaan warna pada bakteri dapat dibedakan menjadi empat
macam yaitu pengecatan sederhana, pengecatan negatif, pengecatan diferensial
dan
dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis, atau
olesan, yang sudah difiksasi, dinamakan pewarnaan sederhana. Prosedur
pewarnaan yang menampilkan perbedaan di antara sel-sel microbe atau bagianbagian sel microbe disebut teknik pewarnaan diferensial. Sedangkan pengecatan
struktural hanya mewarnai satu bagian dari sel sehingga dapat membedakan
bagian-bagian dari sel (Jimmo, 2008).
Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan
menumbuhkannya dalam suatu medium buatan. Proses pemisahan atau
pemurnian dari mikroorganisme lain perlu dilakukan karena semua pekerjaan
mikrobiologis, misalnya telaah dan identifikasi mikroorganisme, memerlukan
suatu populasi yang hanya terdiri dari satu macam mikroorganisme saja. Prinsip
dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba
lainnya yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba (Sutedjo, 1996).

Tujuan
Tujuan dari praktikum yaitu :
1.

Mempelajari kegunaan pewarnaan untuk mempertinggi kontras antara sel


bakteri dan sekelilingnya dan mengamati ciri-ciri tertentu dari bakteri.

2.

Memahami beberapa prosedur isolasi bakteri.

TINJAUAN PUSTAKA

Metode pengecatan pertama kali ditemukan oleh Christian gram pada


tahun 1884. Dengan metode ini, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu bakteri gram positif dan gram negatif yang didasarkan dari reaksi atau sifat
bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh
komposisi dinding selnya sehingga pengecatan gram tidak bisa dilakukan pada
mikroorganisme

yang

tidak

mempunyai

dinding

sel

seperti Mycoplasma

sp. (Hadioetomo, 1985).


Prinsip dasar dari pengecatan adalah adanya ikatan ion antara komponen
selular dari bakteri dengan senyawa aktif dari pewarna yang disebut kromogen.
Terjadi ikatan ion karena adanya muatan listrik baik pada komponen seluler
maupun pada pewarna. Berdasarkan adanya muatan ini maka dapat dibedakan
pewarna asam dan pewarna basa (Junaidi, 2009).
Satu sifat penting dari bakteri dalam hubungannya dengan mikrobiologi
adalah kemampuan beberapa jenis bakeri untuk memproduksi struktur internal
yaitu endospora. Endospora ini umumnya terbentuk secara tunggal dalam sel
guna menanggulangi keadaan lingkungan yang kurang baik. Spora yang sudah
masak dilepas oleh alam ke lingkungan sekitarnya. Spora-spora ini dapat dilihat
di bawah mikroskop fase kontras dan nampak sebagai bagian yang bercahaya
terang baik di dalam atau di luar sel. Spora-spora ini tahan terhadap keadaan
fisik atau kimiawi yang ekstrim seperti suhu, kekeringan dan bahan-bahan kimia
pembasmi kuman dan pertumbuhan memungkinkan, spora-spora tersebut
tumbuh menjadi sel-sel vegetatif normal (Buckle, 2007).

Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

pewarnaan

bakteri

yaitu

fiksasi,

peluntur warna , substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna


penutup. Suatu preparat yang sudah meresap suatu zat warna, kemudian dicuci
dengan asam encer maka semua zat warna terhapus. sebaliknya terdapat juga
preparat yang tahan terhadap asam encer. Bakteri-bakteri seperti ini dinamakan
bakteri tahan asam, dan hal ini merupakan ciri yang khas bagi suatu spesies
(Jimmo, 2008).
Pewarnaan yang digunakan untuk melihat salah satu struktur sel
dinamakan pewarnaan khusus, sedangkan pewarna yang digunakan untuk
memilihkan mikroorganisme dinamakan pewarnaan diferensial, pewarnaan gram
merupakan contoh pewarnaan diferensial yang memilikan bakteri menjadi
kelompok gram positif dan gram negatif.pewarnaan diferensial yang lain adalah
pewarnaan Ziehl-Neelsen yang memilikan bakteri menjadi kelompok tahan asam
dan kelompok tidak tahan asam (Suriawaria, 2005).

Untuk

menelaah

mikroorganisme

di

laboratorium,

kita

harus

dapat

menumbuhkan mereka. Mikroorganisme dapat berkembang biak dengan alami atau


dengan bantuan manusia. Mikroorganisme yang dikembangkan oleh manusia
diantaranya melalui substrat yang disebut media. Untuk melakukan hal ini, haruslah
dimengerti jenis-jenis nutrient yang diisyaratkan oleh bakteri dan juga macam
lingkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhannya. Alat-alat
yang digunakan dalam perkembangbiakan inipun harus disterilisasikan terlebih dahulu.
Hal tersebut dimaksudkan agar tidak ada mikroorganisme lain, yang tidak diinginkan,
tumbuh

dalam

media

tersebut,

sehingga

dapat

menghambat

pertumbuhan

mikroorganisme yang akan dibiakkan dalam media tersebut (Widjoseputro, 1989).


Ada berbagai cara untuk mengisolasi bakteri dalam biakan murni yaitu,
cara pengenceran, cara penuanagan, cara penggesekan, atau penggoresan, cara
penyebaran, cara pengucilan 1 sel, dan cara inokulasi pada hewan. Masingmasing mempunyai kelebihan dan kekurangan (Waluyi,2007).

Untuk metode streak plate misalnya, mikroba diletakan didalam pada


ujung palte mengguanakan ose, lalu digoreskan pada permukaan medium agar
tersebut dengan pola tertentu yang khas. Ada pula metode Pour Plate atau
penuanga. Metode ini dapat digunakan untuk penghitungan bakteri secara
langsung. Karena sebelum dituang bakteri tersebut diencerkan terlebih dahulu.
Sehingga syarat penghitungan langsung yaitu dalam 1 media terdapat 30-300
koloni dapat terpenuhi (Stanier, 1982).

BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat


Bahan
Bahan yang di gunakan dalam praktikum ini adalah biakan bakteri
berumur 24 jam, larutan biru metilen, larutan karbol fuksin basa, tinta cina,
larutan nigrosin, larutan kristal violet (zat warna 1), larutan lugol (mordan),
larutan aseton alkohol (larutan pemucat), larutan safranin (zat warna 2), air,
suspensi bahan yang mengandung bakteri, dan medium nutrien agar.
Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah jarum ose, kaca obyek
biasa, lampu speritus, cawan petri steril, dan tabung reaksi berisi nutrien agar
miring.

Tempat dan Waktu


Praktikum ini dilaksanakan di Loboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian
Universitas

Lambung

Mangkurat

Banjarbaru

pada

hari

Selasa, 6

November 2012 pukul 14.00-16.00 WITA.

Prosedur kerja

Pengecatan Bakteri

a.

pengecatan sederhana

1.

Buat preparat ulas, kemudian fiksasi diatas api.

2.

Beri larutan zat warna. Larutan zat warna yang digunakan adalah larutan biru
metilen atau larutan karbon fuksida basa.

3.

Biarkann zat warna selama 30 detik.

4.

Cuci dengan air dan keringkan dengan hati-hati dengan kertas saring.

5.

Periksa dengan mikroskop pembesaran kuat dan diberi minyak imersi. Bila
preparat

ulas

dan

teknik

pewarnaan

dilakukan

dengan

benar,

maka

mikroorganisme berwarna biru dengan larutan biru metilen, dan berwarna merah
dengan larutan karbol fuksin basa.
b.

pengecatan negatif

1.

Ambil 2 kaca obyek. Teteskan satu tetes tinta cina atau nigrosin pada bagian
ujung kanan salah satu kaca obyek.

2.

Sentuhkan ose pada biakan bakteri, kemudian campur dengan tinta cina atau
nigrosin di atas kaca obyek.

3.

Salah satu sisi kaca obyek yang lain diletakkan pada campuran tinta dan
bakteri (atau campuran nigrosin dan bakteri) sehingga tersebar pada seluruh
sisi.

4.

Gesekkan kaca obyek sebelah kiri, sehingga campuran tinta dan bakteri (atau
campuran nigrosin dan bakteri) membentuk lapisan yang tipis sekali.

5.

Selanjutnya preparat dikering-anginkan. Preparat tidak boleh dipanaskan diatas


api.

6.

Periksa dengan mikroskop perbesaran kuat dan diberi minyak imersi. Bila
teknik pewarnaan dilakukan dengan benar, maka mikroorganisme terlihat
transparant dengan latar belakang gelap.

c.

Pengecatan gram

1.

Buat preparat ulas, kemudian fiksasi di atas api.

2.

Beri larutan kristal violet selama satu menit.

3.

Cuci denagn air.

4.

Beri larutan lugol selama 1 menit.

5.

Beri larutan pemucat selama 10-20 detik. Perhatikan waktu pemucatan, karena
pemucatan terlalu lama akan memberikan hasil pewarnaan yang menyimpang.

6.

Cuci dengan air.

7.

Beri larutamn safranin selama 15 detik.

8.

Cuci dengan air, kemudian keringkan dengan kertas saring.

9.

Periksa dengan mikroskop pemberasan kuat dan di beri minyak imersi.


Isolasi Bakteri

1.

Cairkan nutrien agar (dalam labu Erlenmayer) pada penangan air.

2.

Dinginkan sampai suhu 500 C.

3.

Tuangkan medium agar tersebut kedalam cawan petri steril secara aseptik,
biarkan sampai dingin dan padat.

4.

Pijarkan ose, kemudian dinginkan. Gunakan ose tersebut untuk mengambil


( satu mata ose) suspensi bahan yang mengandung bakteri secara aseptik.

5.

Ose disentuhkan pada lempengan agar dalam cawan petri dan digoreskan
(goresan T atau kuadran). Sewaktu menggores ose dibiarkan meluncur di atas
permukaan lempengan agar dalam cawan Petri dan digoreskan (goresan T atau
kuadran). Sewaktu menggores ose dibiarkan meluncur diatas permukaan
lempengan agar. Agar yang luka menggangu pertumbuhan bakteri sehingga sulit
diperoleh koloni yang terpisah.

6.

Pijarkan ose setelah menggores suatu daerah.

7.

Balikkan cawan petri dan beri etiket pada dasar cawan. Kemudian inkubasikan
pada suhu yang sesuai (370 C)

8.

Ambil 1 mata ose suspensi bakteri dan gorskan pada permukaan medium agar
miring dengan gerakan zig-zag.

9.

Berikan etiket pada tabung, kemudian inkubasikan pada suhu yang sesuai
(370 C).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Adapun hasil dari praktikum ini adalah :
Tabe 1. Pengecatan Bakteri (Pengecatan Sederhana)
NO.

Gambar

Keterangan

1.

Pembuatan preparat ulas


dan memfiksasi di atas
api

2.

Memberikan xat warna


biru metilen

3.

Cuci preparat dan


bersihkan dengan kapas

4.

Melihat hasil
menggunakan mikroskop

5.

Hasil pembesaan
menggunakan mikroskop

Table 2. Isolasi Bakteri


NO.
1.

Gambar

Keterangan
Mencairkan NA dalam
penangan air

2.

Menuangkan NA pada
pada cawan petrei

3.

Mengambil suspense
bakteri menggunakan
ose

4.

Menggoreskan jarum ose


yang mengandung
bakteri pada medim NA

5.

Diberi cling wolf pada


cawan

Pembahasan
Praktikum ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu : pengecatan bakteri dan
isolasi bakteri. Pada pengecatan menggunakan bakteri biakan yang berumur 24
jam dan zat warna biru metilen. Pewarnaan digunakan untuk melihat salah satu
struktur sel dinamakan pewarnaan khusus, sedangkan pewarna yang digunakan
untuk memilihkan mikroorganisme dinamakan pewarnaan diferensial, pewarnaan
gram merupakan contoh pewarnaan diferensial yang memilikan bakteri menjadi
kelompok gram positif dan gram negatif.pewarnaan diferensial yang lain adalah
pewarnaan Ziehl-Neelsen yang memilikan bakteri menjadi kelompok tahan asam
dan kelompok tidak tahan asam. pewarnaan atau pengecata ini menggunakan
cara pewarnaan atau pengecata sederahan. Pertama-tama memasukkan ose
kedalam tabung yang berisi biakan bakteri kemudian mengoleskan pada
preparat dan difiksasi setelah itu diberikan zat pewarna biru metilen. Biarkan
selama beberapa detik kemudian bilas
dengan air dan keringkan menggunakan tisu. Pengeringan dilakukan agar
kandungan air pada preparat tidak terlalu banyak. Setelah itu periksa dengan
mikroskop dengan pembesaran kuat dan diberi minyak imersi. Minyak imersi
digunakan untuk memperjelas gambar.
Praktikum yang kedua yakni isolasi bakteri. Isolasi adalah mengambil
mikroorganisme yang terdapat di alam dan menumbuhkannya dalam suatu
medium buatan. Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis
mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari campuran bermacam-macam

mikroba Pada praktikum ini digunakan suspensi bahan yang mengandung bakteri
dan nutrient agar. Mula-mula mencairkan NA yang padat dalam penangas air
kemudian didiamkan sebentar hingga suhu 50 o C. Tuangkan larutan NA
tersebut dalam cawan petri kemudian disimpan padaair laminar flow agar dalam
cawan tidak terdapat embun dalam cawan. Panaskan ose kemudian goreskan
pada suspense bahan yang mengandung bakteri setelah itu sentuhkan kembali
ose tersebut pada cawan NA yang dibuat tadi dan menggoreskan sedikit pada
NA agar yang luka mengganggu pertumbuhan bakteri sehingga sulit diperoleh
koloni yang terpisah. Kemudian fiksasi dengan api sekeliling cawan dan bungkus
dengan cling wolf dapa sisi cawan secara menyeluruh kemudian dibeli label.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1.

Pengecatan pada bakteri berfungsi untuk memaksimalkan seluruh dinding pada


bakteri tersebut.

2.

Pengecata dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya pengecatan


sederhana, pengecatan negative dan pengecatan gram.

3.

Pengecatan

menggunakan

biru

metilen

akan

menghsilkan

warna

biru

sedangkan jika menggunakan karbol fuksin basa akn menghasilkan warna


merah.
4.

Isolasi bakteri harus dalam keadaan steril karena jika tidak bakteri atau jamur
lain akan tumbuh sehingga hasil yang di dapat bukan baktiri murni.

5.

Penggoresan pada permukaan NA berfungsi agar mengganggu pertumbuhan


bakteri sehingga koloni tidak terpisah.

Saran
Adapun saran dalam praktikum ini adalah agar dalam pelaksanaan
praktikum selalu memperhatikan waktu karena waktu prktikum kita terbatas dan
kerjasama antar praktikan harus ditingkatkan lagi sehingga praktikum dapat
berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Buckle. 2007. Mikrobiologi Terapan. Universitas. Gajah Mada. Yogyakarta.


Hadioetomo. 1985. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT Gramedia. Jakarta.
Jimmo. 2008, http ://Pembuatan PReParAT dan PengeCaTAnnyA _ BLoG KiTa.mht,. diakses
pada tanggal 12 November 2012.
Junaidi,

W.
2009. Pengecatan
Gram
Pada
Bakteri. http://junaidi-wawan.
blogspot.com.Diakses tanggal 12 November 2012.

Nurodin, A. 2009. http://adenurodin.blogspot.com/2009/12/pembuatan-preparat-bakteripewarnaan.html diakses pada 12 November 2012.


Pelezar, C. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press: Jakarta
Suriawaria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Djambatan. Jakarta.
Sutedjo, M. 1996. Mikrobiologi Tanah. Rineka Cipta, Jakarta.
Stanier, R. 1982. Dunia Mikroba 1. Bharata Karya Aksara. Jakarta.
Waluyi, L. 2007. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang.
Widjoseputro, D. 1989. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Malang.

by: https://www.facebook.com/akbar.dinotrin

Diposkan oleh Bebek Jantan di 06.04

http://makalahunlam.blogspot.com/2014/05/makalah-mikrobiologi-isolasibakteri.html

Archaebacteria (Archaea) : Pengertian, Ciri-ciri, Struktur Sel, Contoh


2:00 AM

Archaebacteria (Archaea) : Pengertian, Ciri-ciri, Struktur dan Fungsi Sel - Archaebacteria terdiri dari
bakteri-bakteri yang hidup di tempat-tempat kritis atau ekstrim, misalnya bakteri yang hidup di air
panas, bakteri yang hidup di tempat berkadar garam tinggi, dan bakteri yang hidup di tempat yang
panas atau asam, di kawah gunung berapi, dan di lahan gambut. Menurut para ahli, Archaebacteria
dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama, yaitu metanogen, halofil ekstrim, dan termofil ekstrim
(termoasidofil). Secara struktural, kelompok prokariotik ini memiliki beberapa karakteristik, yaitu
dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan, ribosomnya mengandung beberapa jenis RNApolimerase sehingga lebih mirip eukariotik, dan plasmanya mengandung lipid dengan ikatan ester.

Metanogen merupakan kelompok prokariotik yang mereduksi karbondioksida (CO2) menjadi metana
(CH4) menggunakan hidrogen (H2). Metanogen merupakan mikroorganisme anaerob, tidak
membutuhkan oksigen karena baginya oksigen merupakan racun. Metanogen memiliki tempat hidup
di lumpur dan rawa, tempat mikroorganisme lain menghabiskan semua oksigen. Contohnya
adalahMethanococcus janascii (Gambar ).

Gambar 1. Methanococcus jannaschii UC Berkeley Electron Microscope Lab

Akibatnya rawa akan mengeluarkan gas metana atau gas rawa. Beberapa spesies lain yang
termasuk kelompok metanogen hidup di lingkungan anaerob di dalam perut hewan seperti sapi,
rayap, dan herbivora lain yang mengandalkan makanan berselulosa. Metanogen berperan penting
dalam nutrisi. Contohnya adalah Succinomonas amylolytica yang hidup di dalam pencernaan sapi
dan merupakan pemecah amilum. Peran lain metanogen adalah sebagai pengurai, sehingga bisa
dimanfaatkan dalam pengolahan kotoran hewan untuk memproduksi gas metana, yang merupakan
bahan bakar alternatif.

Halofil ekstrim merupakan kelompok prokariotik yang hidup di tempat yang asin, seperti di Great Salt
Lake (danau garam di Amerika) dan Laut Mati. Kata halofil berasal dari bahasa Yunani, halo yang
berarti garam, dan phylos yang berarti pencinta. Beberapa spesies sekadar memiliki toleransi
terhadap kadar garam, tetapi ada pula spesies lain yang memerlukan lingkungan yang sepuluh kali
lebih asin dari air laut untuk dapat tumbuh. Beberapa koloni halofil ekstrim membentuk suatu buih
bewarna ungu. Warna tersebut adalah bakteriorhodopsin. Bakteriorhodopsin merupakan suatu
pigmen yang menangkap energi cahaya.

Sedangkan Termofil ekstrim adalah kelompok organisme prokariotik yang hidup di lingkungan yang
panas, optimum pada suhu 60 - 80 oC. Contohnya adalahSulfolobus sp. yang hidup di mata air
panas bersulfur di Yellowstone National Park (Amerika Serikat).

Gambar 2. Sulfolobus metallicus (Etzel et al., 2007)

Sulfolobus sp. hidup dengan mengoksidasi sulfur untuk memperoleh energi. Karena suka dengan
panas dan asam, kelompok ini disebut juga termoasidofil. Jenis lain yang memetabolisme
sulfur adalah organisme prokariotik yang hidup pada air bersuhu 105 oC di dekat lubang hidrotermal
di laut dalam (kawah gunung api bawah laut). Termofil ekstrim merupakan kelompok prokariotik yang
paling dekat

dengan

The

organisme

eukariotik.

Black

Smookers

The black smokers adalah sebutan untuk kawah gunung api di dasar laut. Di sana terdapat berbagai
bentuk kehidupan yang unik dan kondisi lingkungannya juga sangat ekstrim. Contohnya adalah
sejenis

termofil

ekstrim yang

hidup

bersimbiosis dengan

cacing

tabung (Acetabularia)

(www.deepseanews. blogspot.com)
Referensi

Etzela, K., A. Klinglb, H. Huberb, R. Rachelb, G. Schmalzc, M. Thommb, W. Depmeiera. 2008.


Etching of {111} and {210} synthetic pyrite surfaces by two archaeal strains, Metallosphaera sedula
and

Sulfolobus

metallicus.

Hydrometallurgy,

94

(14):

pp.

116120.

DOI

10.1016/j.hydromet.2008.05.026.

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan,
Departemen

Pendidikan

Nasional,

Jakarta,

Berikut ini adalah makalah mengenai Struktur dan Organisasi Sel Archaea

p.

290.

Struktur dan Organisasi Sel Archaea

Pada awalnya Archaea merupakan salah anggota dari dunia prokariota yang mempunyai ciri belum
mempunyai pembagian ruang (kompartemensasi) yang jelas diantara komponen-komponen selnya.
Sehingga semua komponen selnya, termasuk bahan genetiknya terletak di dalam membran
sitoplasma (Yuwono 2005). Sebagian besar Archaea tidak berbeda nyata ketika diamati
menggunakan mikroskop cahaya, bahkan dengan resolusi paling tinggi sekalipun. Padahal secara
biokimia dan genetik mereka berbeda dari bakteri yang sebenarnya.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar

Belakang

Perkembangan penelitian selanjutnya diketahui bahwa organisme ini memiliki sifat molekular yang
lebih mirip dengan Eukariot. Pada tahun 1990 peneliti dari Universitas Illinois, Dr. Carl Woese dan
koleganya dapat membuktikan bahwa Archaea memiliki perbedaan yang mendasar dengan bakteri
dan eukaria. Sehingga dia memisahkan Archaea ke dalam domain tersendiri yaitu Archaea.
Pemisahan ini berdasarkan pendekatan sekuen gen penyandi 16S rRNA yang bersifat universal bagi
seluruh organisme. Atas dasar penelitiannya tersebut, woese mengajukan bahwa kehidupan dibagi
menjadi 3 domain, yaitu Bacteria, Eukarya, dan Archaea (Woese et al., 1990). Beberapa anggota
Archaea diketahui merupakan organisme penghuni lingkungan paling ekstrim di bumi. Diantaranya
hidup di dekat kantung-kantung gas di dasar laut, sementara lainnya berada pada sumber mata air
panas atau bahkan pada air dengan kadar garam/asam yang sangat tinggi. Beberapa Archaea juga
ditemukan pada saluran pencernaan sapi, rayap. Mereka juga dapat hidup pada lumpur di dasar laut
tanpa ada oksigen sekalipun. Namun saat ini telah ditemukan beberapa Archaeayang juga hidup
pada

kondisi

normal

seperti

bakteri

kebanyakan.

1.2. Tujuan
1. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah mengetahui perbedaan struktur dan organisasi sel
pada Archaea dengan bakteri dan eukaria.
2. Dapat memahami perbedaan antara Archaeadan bakteri serta eukaria terkait struktur dan
organisasi selnya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

Bentuk

dan

Ukuran

Sel

Secara umum struktur sel Archaea memiliki bentuk yang hampir sama seperti bakteri, dan bentuknya
cukup beragam. Beberapa Archaea berbentuk batang/basil, bulat/kokus, atau spiral. Bahkan terdapat
beberapa Archaea yang memiliki bentuk tidak biasa , yaitu segitiga dan persegi panjang. Meskipun
morfologi sel relatif mudah untuk diamati, tetapi terkadang sulit untuk membedakan bakteri dan
Archaea, karena keduanya memiliki ragam bentuk yang hampir sama.

Gambar 3. Beberapa bentuk morfologi yang terdapat pada Archaea


(a) Methanobrevibacter smithii; (b) Methanobacterium uliginosum; (c) Methanosphaera
stadtmanae; (d) Methanoplanus limicola ; (e) Methanospirillum hungatei; (f)
Halobacteriumhalobium; (g) Halococcus morrhuae; (h)Thermoplasma acidophilum;
(i) Methanolobus vulcani; (j) Pyrococcus furiosus; (k) Haloferax mediterranei;
(l) Thermofilum librum; (m) Pyrodictium occultum; (n) Thermoproteus tenax.

Archaea merupakan organisme yang berukuran sangat kecil, yaitu sekitar 1.5-2.5 m (Beveridge,
2001). Ukuran yang kecil ini memberikan keuntungan tersendiri bagi sel tersebut. Sel yang berukuran
lebih kecil memiliki luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan volume sel, jika
dibandingkan dengan sel yang berukuran lebih besar. Sehingga memiliki rasio permukaan terhadap
volume lebih tinggi. Rasio permukaan/volum memberikan beberapa akibat pada kehidupannya.
Sebagai contoh pada pertukaran nutrisi, sel yang memiliki rasio permukaan/volum lebih tinggi akan
mendukung pertukaran nutrisi lebih cepat dibanding yang lebih rendah, oleh karena itu sel yang lebih
kecil akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan sel yang lebih besar karena memiliki rasio yang

lebih tinggi. Sedangkan secara genetik, hal ini dapat berdampak pada evolusi karena sel Archaea
adalah haploid, sehingga mutasi akan diekspresikan secara langsung. Sedangkan mutasi itu sendiri
adalah sumber dari suatu evolusi. Oleh sebab itu Archaea dapat lebih cepat menanggapi perubahan
lingkungan.

2.2

Membran

sitoplasma

pada

Archaea

Struktur dasar dari membran sel Archaea tersusun atas fosfolipid. Struktur ini tersusun dari molekul
gliserol yang berikatan dengan fosfat pada ujung pertama (kepala) dan berikatan dengan rantai
samping yang berupa isoprenoid pada ujung lainnya (ekor).

Gambar 4. membran sel Archaea.

Karena sifatnya yang hidrofilik maka ketika membran sel berada pada lingkungan cair, ujung molekul
yang mengandung gugus fosfat akan berada pada permukaan luar membran yang berhubungan
langsung dengan lingkungan luar sel, dan sisi lainnya yang bersifat hidrofobik akan berada dibagian
dalam. Pelapisan seperti ini menciptakan penghalang kimia yang sangat efektif disekitar sel dan
membantu dalam menciptakan keseimbangan kimiawi. Secara komposisi, membran sel Archaea
memiliki perbedaan dengan membran sel bakteri dan eukaria. Perbedaan tersebut antara lain adalah
perbedaan kiralitas gliserol yang menjadi penyusun membran sel, ikatan antara gliserol dan rantai
samping isoprenoid berupa ikatan eter, rantai samping berupa isoprenoid bukan asam lemak seperti
pada

2.2.1.

bakteri

dan

eukaria,

Kiralitas

dan

memiliki

rantai

samping

dari

yang

bercabang.

gliserol

Gliserol yang digunakan Archaea untuk membentuk fosfolipid merupakan stereoisomer dari gliserol
yang digunakan untuk membentuk membran sel pada bakteri dan eukaria. Dua molekul yang

stereoisomer adalah cerminan satu sama lain. Pada membran sel bakteri dan eukaria, gliserol yang
menyusun membran selnya berupa D-Gliserol, sedangkan pada arkaea berupa L-gliserol.

Gambar 5. Struktur penyusun membran sel Archaea dan bakteri/eukaria.

2.2.2.

Ikatan

eter

Pada kebanyakan organisme, gliserol yang terdapat pada membran selnya akan berikatan dengan
rantai samping menggunakan ikatan ester. Namun tidak demikian halnya pada membran sel Archaea.
Ikatan yang terbentuk antara gliserol dan rantai samping pada membran sel Archaea adalah ikatan
eter. Hal ini memberikan fosfolipid yang dihasilkan memiliki sifat mekanik kimia yang berbeda dari
lipid membran organisme lain.

Gambar 6. Ikatan yang terbentuk pada membran sel bakteri/eukaria dan Archaea.

2.2.3. Rantai Isoprenoid


Archaea memiliki rantai samping penyusun fosfolipid yang berbeda dengan bakteri dan eukaria.
Rantai samping penyusun fosfolipid pada bakteri dan eukaria adalah asam lemak, sedangkan pada
Archaea rantai samping yang dimilikinya adalah isoprenoid. Isoprenoid merupakan hidrokarbon yang
memiliki 20 atom C dan merupakan anggota paling sederhana dari kelas bahan kimia yang disebut
terpene. Menurut definisi, terpene adalah molekul yang menghubungkan molekul isoprenoid
bersama-sama.

Gambar 7. Struktur membran monolayer pada Archaea.

Lipid yang terdapat pada Archaea termoasidodfil dan metanogen adalah tetralipid, dimana ujung
rantai samping phytanil pada struktur tetralipid berikatan secara kovalen dengan molekul gliserol yang
lain. Sehingga akan membentuk struktur monolayer. Struktur seperti ini tidak memiliki area tengah
yang kosong seperti pada struktur lipid bilayer. Sehingga struktur seperti ini memiliki resistensi yang
lebih terhadap temperatur tinggi dibandingkan struktur lipid bilayer. Pada umumnya Archaea yang
hidup optimal pada suhu tinggi, membran selnya terdiri dari lipid monolayer ataupun kombinasi antara
lipid bilayer dan monolayer.

Gambar 8. Membran monolayer dan bilayer.

2.2.4. Rantai samping yang Bercabang


Tidak hanya rantai samping Archaea yang dibentuk dari komponen yang berbeda. Akan tetapi rantai
sampingnya memiliki struktur fisik yang juga berbeda. Rantai samping pada membran sel Archaea
memiliki cabang, karena penggunaan isoprenoid untuk membentuk rantai sampingnya. Asam lemak
pada bakteri dan eukariot tidak memiliki rantai cabang, sehingga sifat ini menjadikan membran
Archaea yang memiliki karakter unik. Hal ini menciptakan beberapa properti yang menarik di
membran Archaea. Rantai samping isoprenoid bisa bergabung bersama-sama antara dua rantai
samping fosfolipid tunggal atau bergabung ke rantai fosfolipid sisi lain di sisi lain membran
(membentuk fosfolipid transmembran). Rantai samping tersebut juga dapat mempunyai kemampuan
untuk membentuk cincin karbon. Hal ini terjadi ketika salah satu cabang mengelilingi dan mengikat
atom bawah rantai untuk membuat cincin lima atom karbon. Cincin tersebut diperkirakan memberikan
stabilitas struktural membran.
2.3 Dinding Sel Archaea
Archaea memiliki keragaman dalam hal lapisan yang menyelubungi selnya. Beberapa Archaea
memiliki lapisan protein permukaan atau S-layer. Lapisan ini terdiri dari protein monomolekular yang
identik atau lebih dikenal dengan sebutan glikoprotein (Kandler dan Konig, 1993). Lapisan ini secara
langsung berhubungan dengan bagian luar membran plasma dan berfungsi untuk melindungi dari lisis
osmotik. Lapisan ini juga dapat berfungsi sebagai penyeleksi molekul yang dapat masuk kedalam sel.

Gambar 9. S-Layer.

Selain S-Layer, diketahui beberapa Archaea juga memiliki struktur yang mirip dengan dinding sel
pada bakteri, namun berbeda dalam hal komposisi kimia penyusunnya. Dinding sel Archaea tidak
memiliki peptidoglikan namun memiliki molekul yang mirip dengan peptidoglikan yang disebut
pseudomurein. Pseudomurein dibangun dari N-Asetil glukosamin dengan Asam N-Asetil talosamin
uronat yang berikatan dengan ikatan glikosidik pada -1,3 hal ini berbeda dengan peptidoglikan pada
bakteri yang dibangun menggunakan N-Asetil glukosamin dan N-Asetil muramat yang berikatan pada
-1,4.

Gambar 10. Struktur pseudomurein.

Perbedaan lainnya adalah asam amino yang terdapat pada pseudomurein semuanya berupa LSteroisomer. Struktur seperti ini memberikan dampak yang menguntungkan pada Archaea, yaitu
dinding sel mereka resisten terhadap antibiotik dan juga tidak terpengaruh terhadap aktivitas lisosim
dan protease yang umum (Konig, 2001). Beberapa Archaea tidak memiliki pseudomurein namun
memiliki polisakarida lainnya, yaitu glutaminylglycan, heterosakarida, methanochondroitin.
2.4. Struktur Permukaan Sel Archaea, Inklusi Sel, dan Vesikula Udara
Penelitian mengenai struktur tambahan pada permukaan sel Archaea telah banyak dilakukan dengan
memanfaatkan observasi elektron mikroskopis pada beberapa jenis Archaea. Penelitian ini
menunjukkan beberapa tipe struktur tambahan pada permukaan sel Archaea, seperti pili dan flagella
yang tampak seperti struktur yang ada pada bakteri, tetapi ternyata memiliki perbedaan. Selain itu
struktur lain seperti cannulae (kanula), Hami, Iho670 Fibers, dan bindosome muncul sebagai struktur
unik lain yang dimiliki oleh Archaea.
2.4.1. Struktur Permukaan Sel Archaea
a. Pili
Fimbriae dan pili merupakan struktur filamen yang tersusun atas protein yang memanjang dari
permukaan sel dan memiliki banyak fungsi. Fimbriae memungkinkan sel untuk menempel pada suatu
permukaan. Secara umum pili mirip dengan fimbriae, tetapi pili lebih panjang dan hanya satu atau

sebagian kecil pili yang bisa melekat pada permukaan sel. Fungsi pili itu sendiri adalah untuk
memfasilitasi pertukaran gen di antara sel pada suatu proses yang disebut sebagai konjugasi.
Walaupun sebenarnya proses konjugasi tidak selalu diperantarai oleh pili.

Gambar 11. Tanda panah menunjukkan pili pada struktur permukaan sel.

b. Cannula, Hami, Iho670 Fibers, dan Bindosome


Struktur permukaan sel Archaea terdiri dari banyak bagian, yaitu kanula, hami, Cannula, Hami,
Iho670 Fibers, dan Bindosome. Struktur permukaan tersebut tidak banyak dibahas seperti halnya pili
dan flagella, hal ini disebabkan karena sistem genetik di dalam struktur tersebut tidak mudah untuk
dipelajari dan tidak ditemukan pada semua jenis Archaea.
c. Cannulae (Kanula)
Kanula merupakan jaringan tubula yang sampai saat ini hanya ditemukan pada genus Pyrodictium.
Kanula berupa pipa berongga berdiameter luar 25 nm (Gambar 12) yang sangat resisten terhadap
panas dan proses denaturasi (Rieger et al., 1995). Strukturnya hampir sama dengan struktur
permukaan sel lainnya yaitu terbentuk atas lapisan glikoprotein, yang memiliki tiga subunit
glikoprotein yang homolog. Kanula menunjukkan aktivitasnya sebagai penghubung intraseluler antar
ruang periplasmik sel yang berbeda (Nickell et al., 2003). Walaupun fungsi kanula belum diketahui
secara jelas, tetapi dapat diasumsikan bahwa dengan adanya kanula, sel dapat melakukan
pertukaran nutrisi atau bahkan materi genetik.

Gambar 12. Kanula (Rieger et al., 1995).

d. Hami
Struktur permukaan Archaea yang lain adalah hamus atau hami (Gambar 13). Hami banyak
ditemukan pada Archaea yang hidup di daerah suhu rendah yang mengandung kadar sulfat tinggi
(cold sulphidic springs). Strukturnya menunjukkan filamen-filamen yang sangat kompleks dengan
kenampakan seperti kawat berduri yang ujungnya memiliki kait dengan diameter 60 nm (Moissl et al.,
2005). Masing-masing sel dikelilingi oleh sekitar 100 hami. Hami stabil pada kisaran temperatur dan
pH yang luas yaitu antara 0-70 oC dan 0,5-11,5. Hami dapat bertindak sebagai perantara proses
adesi seluler permukaan terhadap komposisi kimia yang berbeda sebagaimana adesi yang

berlangsung di antara sel. Hami juga terbukti menjadi komponen protein utama dalam pembentukan
biofilm Archaea, dimana sel membentuk susunan tiga dimensi yang jaraknya konstan melalui proses
perlekatan antar sel Archaea (Henneberger et al., 2006).

Gambar 13. (a) Sekitar 100 hami keluar secara melingkar di permukaan sel. (b) Kenampakan kait
yang berada di ujung hami. Tanda panah menunjukkan lokasi kait. (c) Hami menunjukkan kenampakan
seperti kawat berduri (Moissl et al., 2005).

e. Bindosome
Bindosome (Gambar 14) adalah struktur Archaea yang diduga mempunyai fungsi unik pada
Sulfolobus solfataricus (Albers dan Pohlschrder, 2009). Komponen struktural bindosome yang utama
adalah substrat pengikat protein (substrat binding protein/SBP) yang diketahui sebagai glikoprotein
(Elferink et al., 2001), yang disusun oleh Pilin tipe IV seperti pada sekuen peptida sinyal dan
mengandung protein khas yang diketahui mampu membentuk struktur oligomerik pada Archaea dan
bakteri. Susunan oligomerik komplek berperan dalam penyerapan gula, hal ini dapat membantu S.
solfataricus untuk dapat tumbuh pada substrat yang bervariasi (Ng et al., 2008).

Gambar 12. Gambar asli bindosome belum diketahui secara pasti, dan gambar diatas merupakan
formasi alternatif yang menunjukkan bindosome terletak pada S-layer (Ng et al., 2008).

f. Iho670 Fibers
Pada pertengahan tahun 2009 telah dilakukan penelitian oleh Muller et al. mengenai struktur
permukaan Ignicoccus hospitalis, hasilnya menunjukkan adanya tambahan permukaan sel baru yang
kemudian diberi nama Iho670 fiber (Gambar 15). Iho670 fiber merupakan struktur yang sangat rapuh,
berbeda dengan flagella dan pili yang memliliki struktur primer dari protein. Hal ini juga menunjukkan
bahwa Iho670 fiber bukan salah satu organel sel yang motil. yang menjadi bagian menarik adalah
bahwa komponen utama Iho670 fiber disintesis oleh Pilin tipe IV seperti peptida sinyal dan diproses
oleh peptidase prepilin homolog. Karena Pilin tipe IV seperti sistem ini juga digunakan untuk flagela,
pili tertentu, dan bindosome dalam Archaea, Pilin tipe IV menjadi jalur yang sangat banyak digunakan
oleh Archaea dalam hal perakitan struktur permukaan.

Gambar 13. Hasil analisis serat Ignicoccus hospitalis menggunakan TEM (Transmission Electron
Microscopy) yang mengindikasikan adanya Iho670 fibers.

2.4.2. Inklusi Sel


Di dalam sel prokariotik biasanya terdapat senyawa lain yang menyertai sel di dalam sitoplasma yang
disebut dengan inklusi sel. Inklusi sel berfungsi sebagai energi cadangan atau sebagai tempat
penyimpanan struktur building blocks. Penyimpanan karbon atau senyawa lain di dalam inklusi yang
tidak larut dalam air bermanfaat bagi sel karena dapat mengurangi tekanan osmotik yang dapat
mungkin terjadi apabila senyawa dalam jumlah yang sama terlarut dalam sitoplasma (Madigan et al.,
2012).

Gambar 16. Tanda panah menunjukkan poly--hydroxyalkanoat (PHA) (Madigan et al., 2012).

Salah satu jenis inklusi sel yang paling banyak ditemukan di dalam organ prokariotik adalah asam
poly--hydroxybutirat (PHB). PHB adalah lipid yang tersusun atas unit-unit asam -hydroxybutirat.
Sedangkan polimer yang diproduksi oleh Archaea adalah poly--hydroxyalkanoat (PHA) (Gambar
16). PHA disintesis oleh Archaea di dalam polimer penyimpanan ketika sel mengalami kondisi
pertumbuhan yang tidak seimbang. PHA merupakan salah satu jenis komoditas plastik yang dapat
dirombak menjadi karbondioksida dan air melalui proses mineralisasi mikrobiologis secara alami.
2.4.3. Vesikula Udara
Salah satu jenis Archaea yang bersifat planktonic dan mampu hidup di air laut adalah Nitrosopumilus
maritimus dari kelompok Crenarchaeota (Brochier-Armanetet al., 2011). Jenis organisme ini mampu
mengapung di air laut karena memiliki vesikula udara. Kemampuan mengapung yang dimilikinya
memungkinkan untuk menempatkan diri dalam kolom air untuk dapat merespon kondisi lingkungan.

Gambar 17. Vesikula udara pada struktur permukaan sal Archaea.

Secara umum struktur vesikula udara tersusun atas protein yang berbentuk kumparan, berongga
namun kaku dengan panjang dan diameter yang bervariasi (Gambar 17). Panjang vesikula udara
yang dihasilkan oleh masing-masing organisme berbeda-beda, mulai dari 300 sampai lebih dari 1000
nm dengan lebar 45 sampai 120 nm, tetapi kisaran ukuran tersebut masih bisa berubah-ubah.
Jumlah vesikula dalam satu organisme sangat bervariasi mulai dari sedikit hingga ratusan tiap selnya,
kedap air dan larut dalam gas (Madigan et al., 2012).
2.5 Pergerakan Sel Archaea
a. Flagella Archaea
Flagella Archaea berukuran sangat kecil hingga mencapai setengah dari ukuran flagella bakteri, yaitu
10-13 nm (Madigan et al., 2012). Flagella Archaea
memberikan kemampuan terhadap sel Archaea untuk dapat bergerak memutar seperti halnya
bakteri. Flagella Archaea tidak hanya sebagai alat untuk bergerak, tetapi juga berperan dalam
interaksi di dalam sel dan sebagai pengenal pada permukaan sel sebagai syarat terbentuknya biofilm
pada beberapa Archaea. Flagella ditemukan pada semua sub kelompok utama Archaea
Crenarchaeota dan Euryarchaeota yaitu halofil, haloalkalofil, metanogen, hipermetrofil, dan
termoasidofil. Sampai saat ini telah dilaporkan berbagai macam Archaea yang memiliki flagella,
termasuk Methanococcus, Halobacterium, Sulfolobus, Natrialba, Thermococcus dan Pyrococcus
(Ng et al., 2006).

Gambar 18. (a) Sel Methanococcus maripaludis dengan diameter 1m menunjukkan banyaknya
flagella yang terdapat di permukaan selnya dan (b) flagella yang telah dimurnikan dari
selMethanococcus maripaludis. Tanda panah menunjukkan kait di ujung flagella.

Secara umum penampakan flagella Archaea (Gambar 18) mirip dengan flagella bakteri tetapi flagella
Archaea memiliki pergerakan yang unik seperti pada pili bakteri tipe IV (Jarrell et al., 2007). Kemiripan
ini meliputi struktur flagella termasuk keberadaan jumlah gen pada masing-masing struktur. Pada
awal penelitian mengenai flagella Archaea, diketahui kemiripan antara flagella Archaea dengan pili
bakteri tipe IV adalah pada N-termini (Faguy et al., 1994) dan adanya pilin tipe IV yang mirip sinyal

peptide (Kalmokoff and Jarrell, 1991). Penelitian terbaru menyebutkan bahwa protein yang ada pada
flagella Archaea maupun pili bakteri tipe IV adalah ATPase (Bayley and Jarrel, 1998), membran
protein (Peabody et al., 2003) dan sinyal peptidase (FlaK/PibD) (Bardy and Jarrel, 2002).
Salah satu perbedaan antara flagella Archaea dengan flagella bakteri diketahui pada penelitian yang
dilakukan tahun 2008 oleh Streif et al. mengenai pergerakan memutar pada flagella Archaea, hasilnya
menunjukkan bahwa pergerakan flagella tersebut didukung oleh proses hidrolisis ATP dan bukan dari
proton atau natrium seperti yang digunakan oleh flagella bakteri.
b. Kemotaksis Archaea
Kemotaksis merupakan respon gerakan Archaea terhadap rangsangan dari senyawa kimia.
Walaupun Archaea termasuk ke dalam kelompok yang berbeda dari bakteri, tetapi banyak spesies
Archaea yang memiliki sifat kemotaksis. Berbagai macam protein yang mengatur proses kemotaksis
pada bakteri juga ditemukan pada Archaea yang mampu bergerak (motil).
2.6. Pengemasan DNA Archaea
Dalam filogenetik Archaea berbeda dengan bakteri, walaupun keduanya memiliki beberapa kemiripan
dalam struktur sel. Perbedaan ini lebih pada taraf molekular antara keduanya, dimana Archaea
memiliki banyak kesamaan dengan eukaria. Salah satu contohnya adalah pengemasan DNA pada
Archaea.
DNA pada Archaea dikemas dalam bentuk sirkular, dimana pada beberapa Archaea pengemasannya
melibatkan DNA-girase dan protein histon untuk membentuk struktur DNA superkoil. Hal ini berbeda
dengan bakteri yang membentuk struktur DNA superkoil dengan bantuan DNA-girase saja.
Pengemasan DNA menggunakan protein histon seperti ini mirip dengan pengemasan DNA pada
eukaria. Protein histon yang ditemukan pada Archaea berukuran lebih pendek dibandingkan dengan
protein histon eukaria, tetapi keduanya memiliki sekuen asam amino dan struktur 3 dimensi yang
homolog.
Pada beberapa Archaea juga ditemukan beberapa titik awal replikasi, dimana protein yang mengenali
titik awal replikasi dan sintesis DNA memiliki banyak kemiripan dengan eukaria dibandingkan dengan
bakteri. Selain itu Archaea juga memiliki beberapa RNA polimerase. Hal ini berbeda dengan bakteri
yang hanya memiliki satu RNA polimerase. Faktor transkripsi yang dimiliki Archaea juga memiliki
kemiripan dengan faktor transkripsi pada eukaria. Beberapa gen penyandi tRNA dan rRNA Archaea
memiliki intron. Intron yang terdapat pada Archaea diproses dengan mekanisme yang sedikit berbeda
dengan intron pada eukaria. Sedangkan pada bakteri tidak ditemukan intron.
Pada saat sintesis protein Archaea membutuhkan ribosom yang fungsional serta beberapa faktor
translasi. Ribosom yang terdapat pada Archaea mirip dengan ribosom pada bakteri, yaitu sama-sama
70S. Namun faktor translasi yang ditemukan pada Archaea ternyata dua kali lebih banyak dibanding
dengan yang ada pada bakteri. Bakteri dan Archaea menggunakan asam amino yang berbeda pada
awal proses translasi. Asam amino yang digunakan bakteri adalah N-formil metionin, sedangkan
Archaea adalah metionin. Metionin juga merupakan asam amino yang digunakan eukaria untuk awal
proses translasi. Secara keseluruhan, perbandingan sekuen menunjukkan beberapa kesamaan
antara eukaria dan Archaea dalam hal RNA dan protein yang digunakan untuk membentuk translation
machine.
BAB III
KESIMPULAN

1. Archaea merupakan organisme yang terpisah antara bakteri dan eukaria.

2. Beberapa Archaea memiliki kemampuan untuk dapat hidup pada kondisi lingkungan yang
ekstrim, seperti salinitas tinggi dan temperatur tinggi, karena struktur membrannya yang
berbeda yaitu adanya ikatan eter dan komposisi membran monolayernya.
3. Archaea memiliki struktur tambahan permukaan sel yang tidak ditemukan pada bakteri atau
pun eukaria, seperti canullae, hami, bindosome, Iho670, fibers.
4. Archaea memiliki sifat kemotaksis seperti pada bakteri. Berbagai macam protein yang
mengatur proses kemotaksis pada bakteri juga ditemukan pada Archaea.
5.

6.

DAFTAR PUSTAKA
Albers S dan Pohlschroder M. 2009. Diversity of Archaeal type IV pilin-like structures,
Extremophiles, vol. 13, no. 3, pp. 403410.
Bardy SL dan Jarrell KF. 2002. Flak of the archaeon Methanococcus maripaludis possesses
preflagellin peptidase activity, FEMS Microbiology Letters, vol. 208, no. 1, pp. 53 59.
Bayley DP dan Jarrell KF. 1998. Further evidence to suggest that Archaeal flagella are related
to bacterial type IV pili,Journal of Molecular Evolution, vol. 46, no. 3, pp. 370373.
Brochier-Armanet, CP. Deschamps, P. Lpez-Garca, Y. Zivanovic, F. Rodrguez-Valera and
D. Moreira. 2011. Complete-fosmid and fosmid-end sequences reveal frequent horizontal
gene transfers in marine uncultured planktonic Archaea. The ISME Journal. Vol. 5. p.12911302.
Elferink MGL, Albers S, Konings W, and Driessen AJM. 2001. Sugar transport in Sulfolobus
solfataricus ismediated by two families of binding protein-dependent ABC transporters.
Molecular Microbiology, vol. 39, no. 6, pp.14941503.
Faguy DM, Jarrell KF, Kuzio J, and Kalmokoff ML. 1994. Molecular analysis of Archaeal
flagellins: similarity to the type IV pilintransport superfamily widespread in bacteria.
Canadian Journal of Microbiology, vol. 40, no. 1, pp. 6771.
Henneberger R, Moissl C, Amann T, Rudolph C, dan Huber R. 2006. New insights into the
lifestyle of the cold-loving SM1 euryarchaeon: natural growth as a monospecies biofilm in the
subsurface, Applied and EnvironmentalMicrobiology, vol. 72, no. 1, pp. 192199.
Jarrell KF, S. Y. Ng, and Chaban B. 2007. Flagellation and chemotaxis, in Archaea: Molecular
and Cellular Biology, R. Cavicchioli, Ed., pp. 385410, ASM Press, Washington, DC, USA.
Kalmokoff ML dan Jarrell KF. 1991. Cloning and sequencing of a multigene family encoding
the flagellins of Methanococcus voltae, Journal of Bacteriology, vol. 173, no. 22, pp. 7113
7125.
Konig H. 2001. Archaeal cell wall. Di dalam : Encyclopedia of life science. Chichester : 14861493
Moissl C, Rachel R, Briegel A , Engelhardt H, and Huber R. 2005. The unique structure of
Archaeal hami, highly complex cell appendages with nano-grappling hooks,Molecular

Microbiology, vol. 56, no. 2, pp. 361370.


Muller, D.W., C. Meyer, S. Gurster, U. Kuper, H. Huber, R. Rachel, G. Wanner, R. Wirth, and
A. Belack. 2009. The Iho670 fibers of Ignicoccus hospitalis: a new type of Archaeal cell
surface appendage. Journal of Bacteriology. Vol. 191, No. 20. p. 64656468
Ng S.Y., B. Zolghadr, A.J.M. Driessen, S. J. Albers, and K. F. Jarelli. 2008. Cell surface
structures of Archaea. Journal of Bacteriology. Vol. 190. No. 18. P. 60396047.
Ng, S. Y., B. Chaban, and K. F. Jarrell. 2006. Archaeal flagella, bacterial flagella and type IV
pili: a comparison of genes and posttranslational modifications. J. Mol. Microbiol. Biotechnol.
11:167191.
Nickell R, Hegerl R, Baumeister W, and Rachel R. 2003. Pyrodictium cannulae enter the
periplasmic space but do not enter the cytoplasm, as revealed by cryo-electron
tomography,Journal of Structural Biology, vol. 141, no. 1, pp. 3442.
Peabody CR, Chung YJ, Yen MR, Vidal-Ingigliardi D, Pugsley AP, and Saier MH. 2003. Type
II protein secretion and its relationship to bacterial type IV pili and Archaeal flagella,
Microbiology, vol. 149, no. 11, pp. 30513072.
Rieger G,Rachel R, Hermann R, dan Stetter KO. 1995. Ultrastructure of the hyperthermophilic
archaeon Pyrodictiumabyssi, Journal of Structural Biology, vol. 115, no. 1, pp. 78 87.
Streif S, Staudinger WF, Marwan W, and Oesterhelt D. 2008. Flagellar rotation in the
archaeon Halobacterium salinarum depends on ATP, Journal of Molecular Biology, vol. 384,
no. 1, pp. 18.
Thoma C, Frank M, Rachel R. 2008. The Mth60 fimbriae of Methanothermobacter
thermoautotrophicus are functional adhesins, Environmental Microbiology, vol. 10, no. 10, pp.
27852795.
Woese C, Kandler O, dan Wheelis ML. 1990. Towards a natural system of organisms:
Proposal for the domains Archaea, Bacteria, and Eucarya. Proc. Nati. Acad. Sci. 8
Yuwono T. 2005. Biologi molekular. Safitri a, editor. Jakarta : Erlangga.

Pengertian Archaebacteria, Eubacteria dan Bakteri


Istilah Archaebacteria asalnya dari dari bahasa yunani, yaitu : archaio, yang artinya kuno.
Para ahli berpendapat bahwa Archaebacteria merupakan sel-sel paling awal (kuno) yang
memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan organisme eukariotik (memiliki membran inti
sel). Archaebacteria hidup di lingkungan yang ekstrim, mirip dengan lingkungan awal di
bumi.
Istilah Eubacteria juga asalnya dari bahasa Yunani, eu, artinya adalah sejati. Eubacteria
meliputi sebagian besar organisme prokariotik yang dapat hidup di manapun (kosmopolit).
Eubacteria disebut juga Bacteria, yang kemudian disederhanakan menjadi bakteri.
Eubacteria atau Bacteria (bakteri) digunakan sebagai acuan untuk seluruh organisme

prokariotik baik dari kelompok Archabacteria maupun Eubacteria, meskipun Archabacteria


dan Eubacteria sudah dipisahkan dalam kelompok (kingdom) yang berbeda.

Telepas dari masalah taksonomi, baik Archabacteria maupun


Eubacteria merupakan organisme prokariotik, sehingga pembahasan tentang Archabacteria
dan Eubacteria digabung dalam satu pokok pembahasan.
Istilah bakteri berasal dari kata bakterion yang artinya batang kecil. Bakteri merupakan
organisme uniseluler (bersel satu), tidak memiliki membran inti sel (prokariotik), dan pada
umumnya memiliki dinding sel tetapi tidak berklorofil. Bakteri ditemukan pertama kali oleh
Antony van Leeuwenhoek (seorang ilmuwan dari belanda, penemu mikroskop lensa tunggal)
pada tahun 1674. Istilah bacteria baru diperkenalkan pada tahun 1828 olehEhrenberg. Ilmu
yang mempelajari bakteri disebut bakteriologi. Dibanding dengan organisme lainnya,
kelompok organisme prokariotik ini merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya
karena paling mudah bereproduksi.
Organisme prokariotik sangat mudah ditemukan di habitat manapun. Organisme prokariotik
mampu bertahan hidup di lingkungan yang sangat panas, dingin, asin, asam, atau basa.
Kajian evolusi mengungkapkan bahwa organisme prokariotik merupakan organisme paling
awal yang sudah hidup berevolusi di bumi selama hampir dua miliar tahun, kemudian
membentuk dua cabang utama evolusi, yaitu Archabacteria dan Eubacteria.
http://mudahbiologi.blogspot.com/2014/07/pengertian-archaebacteriaeubacteria.html
Kamis, 20 Maret 2014

Makalah Biologi Farmasi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kingdom Monera merupakan organisme yang terdiri atas dua kelompok


besar, yaitu Archaebacteria dan Eubacteria. Berdasarkan cara memperoleh
nutrisinya bakteri dikelompokkan menjadi bakteri heterotrof dan autotrof.
Virus memiliki ciri yang tidak dimiliki oleh organisme lain. Virus dapat
dikatakan hidup dan berkembang biak jika berada pada sel atau jaringan hidup.
Virus berkembang biak melalui siklus lisis dan siklus lisogenik.
Kingdom Protista merupakan salah satu kingdom yang anggotanya
kebanyakan hidup di perairan, baik di perairan tawar maupun perairan laut.
Kingdom Protista dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu Protista mirip jamur,
Protista mirip hewan, dan Protista mirip tumbuhan.
Hampir semua jamur merupakan organisme multiseluler, tetapi ada
beberapa jamur yang uniseluler seperti ragi. Jamur merupakan organisme
heterotrof. Jamur memperoleh makananya secara saprofit dan secara parasit.
Kingdom fungi dibagi menjadi empat divisi, yaitu Zygomycota, Ascomycota,
Basidiomycota, dan Deuteromycota.

B. Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah
pengetahuan tentang monera, virus, protista, dan fungi, dan diharapkan
bermanfaat bagi kita semua.
C. Metode Penulisan
Penulis mempergunakan metode kepustakaan. Dalam metode ini penulis
membaca buku-buku yang berkaitan dengan penulisan makalah ini.

BAB II
PEBAHASAN
A. MONERA
1. Klasifikasi Monera
Anggota kingdom Monera bersifat prokariotik, yaitu inti sel tidak diselaputi
membrane. Monera merupakan organisme sempurna. Monera sudah dapat
melakukan metabolism makanan, membuang zat sisa, tumbuh, dan
bereprokduksi.
Kingdom Monera terdiri atas dua subkingdom, yaitu Archaebacteria dan
Eubacteria. Umumnya kingdom Monera terdiri atas Eubacteria (bakteri).
Perbedaan antara Archaebacteria dan Eubacteria terletak pada komposisi RNA,
ribosomnya, dan peptidoglikan pada dinding selnya.

1.1

Archaebacteria

Archaebacteria merupakan kelompok bakteri yang pertama muncul di


bumi. Archabacteria disebut juga bakteri purba (archae = purba). Bakteri dari
kelompok ini memiliki cirri yaitu hidup dalam kondisi lingkungan yang cukup
ekstrim. Contohnya pada kondisi panas (termofil) dan asam (asidofil).
Berdasarkan
lingkungannya
tersebut,
Campbell
(1998:508)
mengidentifikasikan tiga kelompok utama dari Archabacteria. Tiga kelompok
tersebut yaitu Metanogen, Halofil ekstrim, dan Termofil ekstrim.
a.

Metanogen
Archae ini dinamai sesuai dengan metabolisme energinya yang khas, yaitu
H2 digunakan untuk mereduksi CO2 menjadi metana (CH4). Metanogen
merupakan Archae yang tergolong anaerob strict (tidak dapat mentolerir
keberadaan oksigen). Artinya, Archae ini akan teracuni jika terdapat oksigen.
Archae kelompok ini hidup di lumpur dan rawa tempat mikroorganisme lain yang
telah menghabiskan semua oksigen.
Metanogen memiliki peranan sebagai pengurai yang penting. Spesies
metanogen lainnya hidup dilingkungan anaerobik di dalam perut hewan,
khususnya hewan yang memakan tumbuhan. Archae kelompok ini berperan
penting dalam proses pembentukan nutrisi di hewan-hewan tersebut, terutama
yang mengandalkan makanan berselulosa.

b.

Halofil ekstrim
Archae kelompok ini memiliki cirri-ciri yaitu hidup di tempat-tempat yang
memiliki salinitas yang tinggi, (halo = garam, dan philos = pecinta). Archae
halofil memiliki arti pecinta garam atau hidup di tempat yang memiliki salinitas
(kadsr garam) cukup tinggi. Misalnya di danau air asin dan di laut mati. Contoh
dari Archae kelompok ini adalah Halobacterium salinarium.

Pada suatu larutan yang di penuhi oleh koloni halofil, akan membentuk suatu
buih berwarna merah ungu yang dihasilkan oleh bakteriorhodopsin.
Bakteriorhodosin merupakan suatu pigmen yang menangkap energi cahaya.
Pigmen ini terdalam dalam membrane plasma.
c.

Termofil ekstrim
Archae ini memiliki cirri-ciri hidup pada suhu yang ekstrim panas. Archae ini
dapat bertahan hidup dalam lingkungan panas dengan suhu optimumnya 60 oC
sampai
80oC.
bakteri
ini
hidup
dengan
mengoksidasi
sulfur.
Contohnya,Sulfolobus yang menempati mata air panas sulfur di Yellowstone
National Park, USA.

(a) Contoh Archaebakteria kelompok termofil ekstrim, yaitu sulfolobus. (b)


seorang ilmuan sedang mengambil contoh Archae dari kelompok termofil di
mata air panas yang banyak mengandung sulfur.
1.2

Eubacteria

Eubacteria merupakan mikroorganisme yang memiliki ciri-ciri


mikroskopis, umumnya tidak berklorofil, dan termasuk sel prokariotik.

uniseluler

Bakteri bersifat saprofit atau parasit. Bakteri yang bersifat saprofit ada yang
menguntungkan manusia, sedangkan yang bersifat parasit dapat menimbulkan
penyakit, baik pada tumbuhan, hewan, manusi, maupun organisme lainnya.
a. Ukuran dan Bentuk Bakteri
Bakteri merupakan organisme mikroskopis dan rata-rata berdiameter 1,25
m. Bakteri yang terkecil, Dialister pneumosintes panjang tubuhnya 0,15 m0,30 m. Adapun bakteri yang terbesar, Spirillium volutans, panjang tubuhnya
13 m-15 m.
Menurut Mclaren dan Rotundo (1990: 242) berdasarkan bentuknya, bakteri
dapat di kelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu:
1.

Bentuk Bulat (Coccus)


Berdasarkan koloninya dibagi menjadi,

a)

Diplococcus, yaitu bakteri tergabung secara berpasangan dua-dua;

b)

Staphylococcus, yaitu bakteri berkelompok membentuk seperti buah anggur;

c)

Streptococcus, yaitu bakteri yang membentuk rantai;

d)

Sarcina, yaitu bakteri berkelompok membentuk kubus.

a
2.

Bentuk Batang (Bacillus)


Berdasarkan koloninya dibagi menjadi,

a)

Diplobacillus, yaitu bakteri tergabung secara berpasangan;

b)

Streptobacillus, yaitu bakteri tergabung membentuk pita yang panjang.

3.

Bentuk Spiral (Spirillum)


Berdasarkan koloninya dibagi menjadi

a)

Spirillum, yaitu bakteri tunggal dengan flagela;

b)

Spirochete, yaitu bakteri tunggal tanpa flagella.

b. Struktur Bakteri
Tubuh bakteri memiliki struktur yang sederhana. Pada umumnya tubuh
bakteri tersusun atas membrana plasma, dinding sel, dan sitoplasma. Perhatikan
gambar berikut.
1.

Membrana Plasma
Membran plasma adalah membran yang membatasi sitoplasma dan
dinding sel serta tersusun atas lemak dan protein.

2.

Dinding Sel
Membran sel diselaputi oleh dinding sel serta tersusun atas karbohidrat,
lemak, protein, fosfor, garam anorganik, asam amino, dan asam diamino pimelik
(hanya ditemukan pada sel bakteri dan alga biru). Dinding sel berfungsi
melindungi dan member bentuk tubuh bakteri.
Bagian luar dinding sel beberapa bakteri diselaputi oleh lapisan lender
yang dinamakan kapsul.
Bakteri berkapsul contohnya Diplococcus pneumonia (a). Dinding sel
bakteri tertentu, misalnya Escherichia coli (b), memiliki suatu struktur yang
menyerupai rambut dan disebut pili. Pili berfungsi sebagai pelindung bakteri.

a
3.

Sitoplasma
Sitoplasma bakteri tidak mengandung organel, seperti retikulum
endoplasma, badan Golgi, mitokondria, lisosom, dan sentriol. Organel yang
dimiliki bakteri adalah ribosom bebas. Di dalam sitoplasma terdapat pula materi
genetik, yaitu DNA dan RNA.
Pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan biasanya bakteri
berbentuk batang mampu membentuk endospora (lihat gambar).

c. Gerak Bakteri
Pada umumnya, bakteri bergerak dengan flagel yang tersusun oleh protein
flagelin. Bakteri yang tidak mempunyai flagel disebut atrik. Berdasarkan jumlah
dan letak flagelnya, bakteri dibedakan menjadi:
1.

Monotrik, yaitu bakteri yang memiliki sebuah flagel di salah satu ujungnya.

2.

Lopotrik, yaitu bakteri yang di salah satu ujungnya memiliki lebih dari satu
buah flagel.

3.

Amfitrik, yaitu bakteri yang di kedua ujungnya terdapat satu buah flagel atau
lebih.

4.

Peritrik, bakteri yang memiliki flagel di seluruh permukaan tubuhnya.

Di dalam media cair, bakteri bergerak dengan cara bergoyang, memutar,


bergetar, dan gerakan melambung. Gerakan ini dinamakan gerak Brown.
d. Penggolongan Bakteri
Berdasarkan cara memperoleh nutrisi, bakteri di kelompokkan menjadi:
1.

Bakteri Heterotrof
Bakteri heterotrof ialah bakteri yang membutuhkan sumber karbon dari senyawa
organic atau bakteri yang tidak mampu membuat makanan sendiri. Bakteri
heterotrof dapat dibedakan menjadi bakteri parasit, bakteri saprofit, dan bakteri
patogen.
Bakteri parasit merupakan bakteri yang bersifat merugikan karena
mengambil nutrisi langsung dari makhluk hidup yang ditempatinya (inang).
Bakteri saprofit adalah bakteri yang memperoleh nutrisi berupa zat
organic dari organism mati atau organisme yang telah mengalami proses
penguraian (membusuk).
Bakteri pathogen ialah bakteri yang dapat menyebabkan penyakit.

2.

Bakteri Autotrof
Bakteri autotrof adalah bakteri yang mampu mengubah bahan anorganik
menjadi bahan organic atau mampu membuat makanan sendiri. Bakteri yang
mendapatkan energi dari cahaya disebut bakteri fotoautotrof, sedangkan
bakteri yang
mendapatkan
energi
dari
senyawa
anorganik
disebut
bakteri kemoautotrof. Contoh bakteri autotrof adalah Cyanobacteria.

a.

Nostoc

Nostoc merupakan Cyanobacteria berbentuk koloni bola berlendir yang saling


menempel sehingga membentuk filamen lingkaran tunggal seperti rantai kalung.
Di antara sel-sel penyusun yang membentuk rantai, terdapat sel kosong yang
dinamakan heterokista.
b.

Anabaena
Bentuk tubuh Anabaena menyerupai Nostoc. Keduanya memiliki persamaan
dalam bentuk sel dan filamen. Anabaena hidup bersimbiosis dengan akar
tumbuhan lain. Anabaena mengadakan reproduksi dengan spora.

c.

Gloeocapsa
Gloeocapsa merupakan Cyanobacteria yang paling primitive.Gloeocapsa dapat
ditemukan pada batu yang basah dan pada pot tanaman. Selnya berbentuk bulat
sampai oval dengan warna hijau dan biru tersebar disekitar dinding sel. Setiap
sel Gloeocapsa mengeluarkan lapisan gelatin.

d.

Oscillatoria
Oscillatoria merupakan Cyanobacteria yang berbentuk filamen dengan bentuk
menyempit dan tersusun oleh sel yang berbentuk cawan. Jika dalam filamen
terdapat satu sel yang mati, salah satu sel dari salah satu sisi membentuk
tonjolan mengisi sel yang mati dan dinamakan sel konkaf. Oscillatoria banyak
ditemukan di kolam dan di danau.

e.

Rivularia
Rivularia merupakan Cyanobacteria yang berbentuk cambuk. Sel-sel pada bagian
pangkal ganggang lebih besar dari pada sel-sel ujungnya. Sel pertama pada
pangkal benang merupakan heterokista yang berfungsi sebagai alat pembiakan.

Berdasarkan kebutuhan akan oksigen, bakteri digolongkan menjadi bakteri aerob


dan anaerob.
Bakteri
aerob adalah
bakteri
yang
melangsungkan aktivitasnya hidupnya.

membutuhkan

oksigen

untuk

Bakteri anaerob adalah bakteri yang tidak membutuhkan oksigen untuk


melangsungkan aktivitas hidupnya.
Selain itu, di kenal pula bakteri obligat dan bakteri fakultatif.

Bakteri
obligat
aerob adalah
bakteri
yang
dapat
melangsungkan aktivitas hidup jika kondisi oksigen benar-benar mencukupi.
Contohnya, bakteri TBC.
Bakteri obligat anaerob adalah bakteri yang hanya dapat
melangsungkan aktivitas hidupnya jika kondisi oksigen benar-benar tidak ada.
Contohnya, bakteri tetanus.
Bakteri fakultatif anaerob adalah bakteri yang dapat hidup
dalam kondisi ada atau tidak ada oksigen. Bakteri obligat anaerob yang terdapat
pada
makanan
yang
dikemas
dalam
kaleng
adalah Clostridium
botulinum (gambar)

e. Reproduksi Bakteri
Bakteri dapat memperbanyak diri secara seksual dan aseksual. Secara
aseksual dengan cara pembelahan biner.
Pada reproduksi seksual terjadi rekombinasi kromosom atau gen tanpa didahului
pembentukan zigot dan biasa disebut paraseksual.
1.

Transforma
Pemindahan sebagian DNA dari sel bakteri yang satu ke sel bakteri yang lain
melalui pili dan DNA yang baru bergabung membentuk rekombinasi.

2.

Transduksi
Pemindahan sebagian DNA dari satu bakteri ke bakteri lain dengan
menggunakan virus untuk memindahkannya sehingga terjadi rekombinasi baru.

3.

Konjugasi
Penggabungan DNA dari bakteri yang bersifat jantan (+) ke bakteri yang bersifat
betina (-). Pemindahan materi genetik ini melalui pili, yang berfungsi
menempelkan pada bakteri yang menjadi penerima.

2. Peran Monera Bagi Kehidupan


Bakteri merupakan organisme yang dapat merugikan sekaligus
menguntungkan bagi kehidupan manusia. Berikut ini akan diuraikan Monera
yang dapat menguntungkan dan merugikan.
2.1

Monera yang Menguntungkan

2.2

a.

Archaebacteria dari kelompok Metanogen. Metanogen memiliki peranan


penting dalam penguraian kotoran. Metan hasil penguraian kotoran sampah dan
hewan dapat dijadikan bahan bakar.

b.

Bakteri pembusuk sampah-sampah organik. Sampah-sampah organik yang


berasal dari tumbuhan dan hewan akan dibusukkan oleh bakteri. Bakteri
pembusuk
antara
lain Pseudomonas,
Xantomonas,
Flavobacterium, danStreptomyces.

c.

Bakteri nitrifikasi, yaitu bakteri yang mampu mengubah ammonium menjadi


nitrat. Bakteri ini berfungsi menyuburkan tanah.

d.

Bakteri Rhizobium, yaitu bakteri yang bersimbiosis dengan tanaman polongpolongan (Leguminoceae).

e.

Bakteri yang mampu mengikat nitrogen tanpa bersimbiosis dengan tanaman


tinggi, yaitu Azotobacter.

f.

Bakteri yang mampu membentuk antibiotic streptomisin, yaitu Streptomyces


griceus.

g.

Bakteri Escherichia coli berperan membusukkan sisa makanan dan membentuk


vitamin K dan vitamin B12 yang berada dalam usus besar (kolon).

h.

Bakteri yang berperan dalam pembuatan makanan dan bidang industri


diantaranya sebagai berikut.

1)

Bakteri Streptococcus
termophylus dan Lactobacillus
dalam pembuatan yoghurt.

2)

Bakteri Streptococcus sp. dan Propionibacterium skermanisi berperan dalam


pembuatan keju.

bulgaricus berperan

3)

Bakteri Pseudomonas sp. berperan dalam pembuatan vitamin B.

4)

Bakteri Streptococcus lactis berperan dalam pembuatan kefir.

5)

Bakteri Acetobacter sp. berperan dalam pembuatan asam asetat.

6)

Bakteri Candida krussei berperan dalam pembuatan cokelat.

7)

Bakteri Streptococcus termophylus berperan dalam pembuatan mentega.

8)

Bakteri Acetobacter xylinum berperan dalam pembuatan nata de coco.

Monera yang Merugikan


a.

Bakteri berikut adalah bakteri yang dapat menimbulkan penyakit.

1)

Clostridium tetani, menyebabkan penyakit tetanus.

2)

Corynebacterium dipetri, menyebabkan dipetri.

3)

Staphylococcus aereus, menyerang saluran pernapasan.

4)

Staphylococcus pyogenes, menyerang sistem pernapasan.

5)

Micrococcus gonorrhea, menyebabkan penyakit kelamin.

6)

Diplococcus pneumoniae, menyerang paru-paru.

7)

Klebsiella pneumonia, menyebabkan penyakit pada saluran pernapasan dan


paru-paru.

8)

Salmonella typhosa, menyebabkan penyakit tifus.

9)

Shigella shigae, menyebabkan disentri.

10) Brucella abortus, menyebabkan abortus.


11) Pasteurella pestis, menyebabkan penyakit pes.
12) Hemophylus influenza, menyebabkan influenza.
b.

Contoh bakteri yang menimbulkan pembusukan.

1)

Flavobacterium dan Achromobacter, membusukkan telur.

2)

Lactobacillus, membusukkan sayur-sayuran, buah-buahan, dan umbi-umbian.

3)

Staphylococcus dan Achromobacter, membusukkan daging dan ikan.

c.

Bakteri yang merusak makanan.

1)

Clostridium botulinum, menghasilkan racun pada makanan kemasan.

2)

Pseudomonas cocovenenans, menghasilkan racun pada tempe bongkrek.


Tempe bongkrek adalah tempe yang dibuat dari ampas kelapa, jika kurang bersih
bias dijangkiti bakteri Pseudomonas yang menghasilkan aflatoksin.

B. VIRUS
1. Penemuan Virus
Bagian dari bidang Biologi yang mempelajari tentang virus adalah Virologi.
Penelitian tentang mikroorganisme diawali sejak ditemukannya mikroskop
olehAntony van Leeuwenhoek (1632-1732). Begitu pula penelitian tentang
virus.
Pada tahun 1892, seorang ahli Biologi berkebangsaan Rusia, Dimitri
Ivanowskymeneliti penyakit pada pada tanaman tembakau. Tanaman tersebut
terserang penyakit mosaik.
Enam tahun kemudian, ahli Botani bangsa Belanda, Martinus Beijerinck,
meneliti lebih jauh penyakit mosaik pada daun tembakau.

Pada tahun 1935, Wendell M. Stanley seorang ahli biokimia Amerika,


meneliti penyakit mosaik pada daun tembakau. Stanley adalah orang yang
menamakan virus itu Tobacco mosaic virus (TMV) dan penyakitmya dinamakan
penyakit mosaik.
2. Ciri-Ciri Umum Virus
Virus memiliki ciri-ciri yang tidak dimiliki oleh organisme lain. Virus hanya
dapat berkembang biak di sel-sel hidup lainnya atau disebut juga sebagai parasit
obligat.
2.1 Struktur Tubuh dan Sifat Virus
Bentuk tubuh virus bervariasi, ada yang bulat, silinder, batang, oval, dan
sebagainya dengan ukuran 0, 01 m sampai 0,3 m. Virus hanya dapat dilihat
dibawah mikroskop electron dengan perbesaran ribuan kali.

Semua virus hanya memiliki satu jenis materi genetik (materi pembawa
sifat), yaitu deoxyribonucleic acid (DNA) saja atau ribonucleic acid (RNA) saja.
Materi genetic tersebut terbungkus oleh lapisan protein yang dinamakan kapsid.
Kapsid berfungsi melindungi materi genetik saat virus berada pada sel lain.
Kapsid tersusun oleh beberapa ribu molekul protein yang dinamakan kapsomer.
Virus yang berada di dalam sel, akan mengontrol proses metabolisme sel
tersebut. Ahli biologi masih belum mengetahui bagaimana proses tersebut dapat
terjadi.

2.2

Penggolongan Virus
Virus diklasifikasikan berdasarkan sistem ICTV (International Committee on
Taxonomy of Viruses). Berdasarkan sistem ICTV, virus hanya terbagi ke dalam
tiga tingkat takson, yaitu famili, genus, dan spesies.
Penanaman famili pada virus diakhiri dengan kata viridae, sedangkan
genus diakhiri dengan kata virus. Contoh klasifikasi virus penyebab hepatitis B
berdasarkan sistem ICTV berikut.
Famili : Flaviviridae
Genus : Flavivirus
Spesies : Hepatitis C virus
Berdasarkan jenis sel inangnya, virus diklasifikasikan ke dalam beberapa
kelompok yaitu, virus alga, virus archae, virus bakteri, virus fungi, virus
invertebrata, virus mycoplasma, virus tumbuhan, virus protozoa, virus
spiroplasma, dan virus vertebrata. Beberapa contoh virus berdasarkan sel
inangnya.

a.

Virus Bakteri

Virus ini dinamakan virus bakteri karena sel inangnya berupa bakteri. Virus
bakteri
hanya
menyerang
bakteri
tertentu.
Virus
bakteri
disebut
jugabakteriofage atau fage. Contoh virus bakteri yang sering dipelajari
adalahBakteriofage T4 virus yang menyerang bakteri Escherichia coli.
b. Virus Tumbuhan
Virus tumbuhan sel inangnya berupa sel tumbuhan. Virus tumbuhan banyak
sekali spesiesnya. Hal ini dikarenakan tumbuhan memiliki keanekaragaman yang
tinggi sehingga menyebabkan jenis virusnya menjadi bervariasi. Contohnya,
virus tumbuhan yang menyerang tanaman mentimun adalahCucumber mosaic
virus. Contoh lainnya, virus yang menyerang tembakau,Tobacco mosaic virus.
c. Virus Vertebrata
Virus vertebrata merupakan virus yang sel inangnya berupa sel-sel hewan
vertebrata (bertulang belakang). Virus vertebrata yang menyerang manusia juga
tidak sedikit. Contohnya Human immunodeficiency virus (HIV) yang menyerang
sistem kekebalan tubuh manusia. Selain itu, ada juga Hepatitis B virus yang
menyebabkan penyakit hepatitis B.

2.3

Perkembangbiakan Virus
Perkembangbiakan virus tidak seperti pada bakteri melalui pembelahan,
tetapi secara replikasi, yaitu secara:

a.

Siklus Lisis

b.

Siklus Lisogenik

3.

Peran Virus Bagi Kehidupan


Berikut peranan virus bagi kehidupan manusia.

3.1 Manfaat Virus bagi Manusia


Salah satu manfaat virus bagi manusia adalah adanya vaksin
yang dapat mencegah suatu penyakit. Selain itu, virus dapat digunakan untuk
membasmi hama secara biologis. Pada waktu yang akan datang, bakteriofage
dapat dikembangkan menjadi obat untuk membunuh bakteri yang menimbulkan
penyakit.

3.2 Kerugian Virus bagi Manusia


Selain menyerang manusia, virus juga menyerang tanaman dan
hewan. Pada gilirannya, dapat memberikan kerugian pada manusia.
a. Virus yang Menyerang Tumbuhan
Virus yang menyerang tumbuhan antara lain sebagai berkut.
- Penyakit kerdil pada padi disebabkan oleh virus tungro. Penyebaran virus ini
dilakukan oleh wereng coklat dan wereng hijau.
-

Penyakit tristeza pada jeruk oleh virus tristeza.

Penyakit bercak kuning atau penyakit mosaik.

b. Virus yang Menyerang Hewan


Beberapa virus yang menyerang hewan adalah sebagai berikut.
Virus rabies, menyerang susunan saraf pusat hewan dan manusia.
Virus new castle disease (NCD)/tetelo, menyerang saluran pernapasan
unggas.
Virus foot and mouth disease, menyebabkan penyakit mulut dan kaki pada
sapid an kerbau.
c. Virus yang Menyerang Manusia
Berikut ini adalah beberapa virus penyebab penyakit pada manusia.
Virus poliomyelitis, menyebabkan penyakit polio.
Virus influenza, menyebabkan penyakit influenza.
Virus varicella, menyebabkan penyakit cacar air.
Virus rabies, menyebabkan penyakit rabies yang menyerang saraf pusat
dan hampir selalu menyebabkan kematian.
Virus rubella, menyebabkan penyakit campak jerman.
Virus hepatitis, menyebabkan penyakit hepatitis.
Virus ebola, menyebabkan penyakit ebola.

C. PROTISTA

1.

Klasifikasi Protista
Protista merupakan kingdom yang anggotanya sebagian besar berupa
mikroorganisme. Kingdom Protista merupakan makhluk hidup eukariotik.
Kingdom Protista dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu Protista mirip jamur,
Protista mirip hewan, Protista mirip tumbuhan. Masing-masing kelompok
memiliki cirri yang berbeda. Berikut uraiannya.

1.1 Protista Mirip Jamur


a. Mixomycota
Mixomycota biasa disebut jamujr lendir plasmodial. Pada siklus hidupnya,
tahapan memperoleh makan merupakan suatu masa amoeboid yang disebut
plasmodium. Plasmodium dapat tumbuh hingga diameternya mencapai
beberapa sentimeter. Contoh dari jamur lendir plasmodial ini adalah Physarium.
Berikut siklus hidup dari jamur lendir plasmodial.

b. Acrasiomycota
Adapun pada jamur lendir plasmodial, kondisi diploid lebih dominan dalam
siklus hidunya. Jamur lendir seluler memiliki tubuh buah (fruiting body) yang
berfungsi dalam reproduksi aseksual. Contoh spesiesnya adalah Dictyostelium.
Berikut siklus hidup jamur lendir seluler.
c. Oomycota
Oomycota contohnya adalah jamur air (water mold), karat putih (white rust),
dan jamur berbulu halus (downy mildew). Oomycota berasal dari kata, Oo = telur
danmycota = jamur. Istilah ini lebih dikenal dengan fungi telur. Oomycota
merupakan pengurai yang penting dalam ekosistem air. Contoh spesies pada
Oomycota adalah Saprolegnia.

1.2 Protista Mirip Hewan


Anggota protista mirip hewan ini dulu dikenal dengan protozoa.
Protozoa merupakan organisme bersel satu yang bersifat eukariotik (memiliki
membrane inti) dengan ukuran 3 m-1.000 m (1 m = 10 -6).
Dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya, protozoa bersifat saprofitik,
saprozoik, holozoik, dan holofitik.
a.

Saprofitik, menyerap makanan dari hasil pembusukan organic yang ada di


sekelilingnya.

b.

Saprozoik, mengambil makanan dari organisme mati yang telah mengalami


pembusukan.

c.

Holozoik, memakan mikroorganisme lain, seperti bakteri, alga, dan jamur


(bersifat hewan).

d.

Holofitik, membentuk makanan sendiri atau mampu berfotosintesis (bersifat


tumbuhan).
Berdasarkan cara pergerakannya dan cara makanya, protozoa
diklasifikasikan menjadi enam filum, yaitu Rhizopoda, Actinopoda, Foraminifera,
Apicomplexa, Zoomastigophora, dan Ciliophora.
1.

Filum Rhizopoda

Rhizopoda
bergerak
dan
menangkap
makanan
dengan kaki
semu(pseudopodia). Salah satu hewan yang tergolong filum ini
adalah Amoeba. Amoebaberarti hewan yang memiliki bentuk tidak tetap.
Struktur tubuh Amoeba terdiri atas:
1)
Plasmalema adalah membrane sel tipis dan bersifat elastis yang di
dalamnya terdapat sitoplasma.
2)
Sitoplasma adalah protoplasma yang terdapat di antara nukleus dan
plasmalema. Sitoplasma di bagi menjadi:

Ektoplasma adalah sitoplasma yang berada di sebelah luar.

Endoplasma adalah
mengandung granula.

2.

sitoplasma

yang

terdapat

di

bagian

dalam

dan

Filum Actinopoda

Actinopoda berarti kaki sinar. Kaki sinar sebenarnya adalah bentuk


pseudopodia rucing yang di sebut aksopodia yang dimiliki Actinopoda.
Aksopodia berfungsi dalam pengambilan makanan dan pergerakan.
Actinopoda terdiri atas (a) Helizoa dan (b) Radiozoa. Helizoa umumnya hidup di
air tawar, sedangkan Radiozoa hidup di air laut.

a
3.

Filum Foraminifera

Foraminifera hidup di laut dengan perlindungan tubuh yang mengandung


kalsium karbonat (CaCO3). Jika foraminifera mati, cangkangnya akan
membentuktanah globigerina. Tanah globigerina berfungsi sebagai petunjuk
adanya sumber minyak. Foraminifera mendapatkan makanan dari hasil
fotosintesis alga yang bersimbiosis di bawah cangkangnya.

4.

Filum Apicomplexa (Sporozoa)

Filum Apicomplexa (Sporozoa) merupakan protozoa yang tidak memiliki alat


gerak. Reproduksi Apicomplexa berlangsung secara aseksual melalui
pembelahan dan terjadi di dalam tubuh manusia dinamakan schyzogoni
(schyzogami). Reproduksi seksual dengan pertemuan mikrogamet dan
makrogamet
yang
terjadi
dalam
tubuh
nyamuk
dinamakan sporogoni (sporogami).
Salah satu organisme yang tergolonh filum ini adalah Plasmodium yang
dapat menimbulkan penyakit malaria. Berikut siklus hidup Plasmodium.
5.

Filum Zoomastigophora (Zooflagellata)

Filum Zoomastigophora (Zooflagellata) adalah satu filum Protozoa yang


memiliki alat gerak berupa bulu cambuk (flagelum). Flagel berfungsi juga
sebagai alat penerima rangsang dan penangkap makanan.
Spesies
yang
termasuk
Zoomastigophora
adalah Trypanosoma.
Trypanosomahidup pada plasma darah (perhatikan gambar a ). Genus ini
umumnya menyebabkan penyakit. (b) struktur tubuh Trypanosoma.
a
6.

Filum Ciliophora

Filum Ciliophora memiliki cirri khas berupa bulu getar (cillia). Cilia berfungsi
sebagai alat gerak untuk mengambil dan memasukkan makanan serta sebagai
penerima rangsang.
Contoh
filum
Ciliophora
yang
terkenal
adalah Paramaecium. Paramaeciumhidup di air tawar yang banyak mengandung
sisa-sisa organisme dan mudah ditemukan di air rendaman jerami atau rumput.
Makanan Paramaecium adalah bakteri, Protozoa kecil, alga, dan ragi.
Berikut struktur Paramaecium caudatum.
1.3 Protista Mirip Tumbuhan
Anggota Protista yang mirip tumbuhan adalah alga. Alga disebut
juga rumput air karena alga biasanya hidup berlimpah di air. Tubuh alga tidak
memiliki jaringan atau organ yang khusus seperti akar, batang, dan daun sejati.
Oleh karena itu, alga disebut tumbuhan talus (Thallophyta).
a.

Penyebaran Alga
Penyebaran alga sangat ditentukan oleh cahaya, temperature air, kandungan
oksigen, kandungan karbon dioksida, dan kandungan mineral.
Alga tidak merusak dan merugikan tubuh tunbuhan yang ditempatinya.

b.

Reproduksi Alga

Alga dapat bereproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual alga
berlangsung dengan pembelahan sel sederhana, zoospora, dan fragmentasi.
Reproduksi seksual terjadi melalui peleburan gamet jantan dan gamet betina.
c.

Klasifikasi Protista Mirip Tumbuhan


Berdasarkan dominasi pigmennya, Protista mirip tumbuhan dikelompokkan
menjadi tujuh filum, yaitu:

1.

Euglenophyta
Euglenophyta
yang
sangat
dikenal
adalah
genus Euglena. Euglenamerupakan organisme yang memiliki bentuk tubuh
seperti daun, dengan ujung depan tumpul dan ujung belakang lancip.
Euglena memiliki alat gerak berupa flagel yang panjang. Flagel itu keluar
dari bleparoplas.

2.

Chrysophyta
Chrysophyta merupakan alga berwarna keemasan karena banyak
mengandung pigmen karoten. Chrysophyta memiliki jenis yang cukup banyak,
yaitu mencapai 1.700 spesies. Contoh spesies dari Chrysophyta adalah
(a) Dinobryon dan (b) Vaucheria.

a
3.

Bacillariophyta (Diatom)
Secara umum, diatom berupa sel tunggal, tidak bergerak, dan sebagai
plankton. Diatom ada yang berbentuk koloni, hidup terapung bebas, dan melekat
pada batu atau organisme hidup lainnya.

4.

Dinoflagellata
Pada umumnya, Dinoflagellata hidup di air laut. Dinoflagellata yang hidup di
air tawar dapat melakukan fotosintesis. Dinoflagellata memiliki dua cambuk
(flagella) yang dapat menghasilkan pergerakan memutar. Contoh spesies
Dinoflagellata adalah Ceratium, Gymnodinium, danPeridinium.

5.

Rhodophyta
Kebanyakan alga merah hidup di laut. Pigmen yang dominan
adalahfikoeritrin,
tetapi
alga
merah
juga
memiliki
pigmen
lain
yaitufikobiliprotein. Fikobiliprotein hanya terdapat pada alga merah
danCyanobacteria.
Contoh alga merah adalah (a)Gelidium cartilagineum merupakan bahan pembuat
agar-agar yang dapat dimakan; (b)Euchema sp. merupakan bahan pembuat

agar-agar
untuk
keperluan
laboratorium;
(c)Chondrus
(d)Porphyra sp. merupakan alga yang dapat dimakan.

6.

ocellatus dan

Phaeophyta

Alga cokelat merupakan alga multiseluler. Alga coklat disebut juga gulma air
lautkarena tumbuhnya besar dan serfing mendominasi lautan. Tinggi alga ini
dapat mencapai 100 m. beberapa jenis alga coklat yang dikenal
adalah Laminaria, Fucus, dan Sargassum. Alga-alga tersebut berpegang pada
dasar air dengan sel pemegang (hold fast cell).
Laminaria
Laminaria adalah salah satu jenis alga coklat yang berukuran besar dan dan
biasa hidup di pantai.
Fucus
Fucus merupakan gulma yang hidup pada batuan, banyak hidup di laut beriklim
dingin atau iklim sedang.
Sargassum
Sargassum banyak berlimpah di pantai Samudra Atlantik dan sangat berlimpah
pada laut Sargasoyang terletak antara pulau Bahama dan Azores. Sargassum
disebut juga alga teluk.

7.

Chlorophyta
Alga hijau merupakan bagian utama dalam kehidupan di air tawar. Jumlah
spesies alga hijau mencapai sekitar 7.000 spesies. Contoh alga hijau adalah
sebagai berikut.

Spirogyra
Spirogyra ialah suatu massa hijau terang berbentuk benang yang hampir
ditemukan pada semua kolam atau air tenang.

Ulva
Ulva merupakan alga hijau yang tubuhnya berbentuk lembaran.
Chlamydomonas
Chlamydomonas merupakan alga hijau uniseluler yang memiliki dua flagel
sebagai alat gerak.
Chlorella
Chlorella merupakan alga hijau uniseluler yang tidak memiliki alat gerak berupa
flagel.
Oedogonium
Oedogonium merupakan alga hijau yang umum ditemukan menempel pada
batuan yang terdapat dalam perairan.
Ulothrix
Ulothrix dapat ditemukan melekat pada batuan, air mengalir atau air tenang
yang dangkal.
Protococcus
Protococcus adalah alga yang mampu bertahan terhadap musim kemarau yang
berkepanjangan dan tahan terhadap suhu sampai 40 oC.
Desmid
Desmid merupakan alga hijau yang paling indah dan menarik untuk dipelajari.
Desmid merupakan salah satu jenis fitoplankton.

2. Peran Protista Bagi Kehidupan


Protista memiliki peranan yang penting bagi kehidupan, khususnya bagi manusia.
Contoh protista yang banyak manfaatnya adalah alga. Alga dapat dimanfaatkan menjadi agaragar yang merupakan makanan berserat yang memiliki nilai gizi cukup tinggi.
Selain sebagai sumber makanan, alga juga dapat digunakan sebagai bahan kosmetik
dan pembersih kulit, contohnya adalah alga coklat.
Manfaat lainnya adalah alga sebagai bahan untuk meningkatkan kesuburan tanah,
baik langsung maupun tidak langsung.
Protozoa yang bermanfaat bagi kehidupan antara lain, Entamoeba coli yang hidup di
usus sapi dapat membantu pencernaan sapi.
Selain yang menguntungkan dan bermanfaat, peranan protista pun ada yang
merugikan. Contohnya, jika koloni alga mati dalam suatu perairan, akan menyebabkan polusi
air yang dapat meracuni manusia maupun hewan. Banyak anggota protozoa yang bersifat
parasit.
Protozoa
yang
merugikan
tersebut
antara
lain, Entamoeba
hystoliticadan Balantidium.

D. FUNGI
Ciri-Ciri Umum Jamur
Jamur memiliki jamur-jamur khusus yang berbeda dengan organisme lain. Perbedaan
itu terlihat dari cara memperoleh nutrisi, struktur tubuh, dan cara bereproduksi.
1.1 Struktur Tubuh
Struktur dasar tubuh jamur adalah hifa. Ketebalan hifa bervariasi antara 0,5 mm-100
mm. Hifa tumbuh dan berkembang membentuk jalinan yang dinamakanmiselium.
Hifa terdiri atas sel-sel sejenis. Sel-sel tersebut satu dan lainnya di pisahkan oleh
dinding sel atau sekat yang dinamakan septum. Dinding sel jamur berbeda dengan dinding
sel tumbuhan. Dinding sel jamur bukan terdiri atas selulosa, melainkan tersusun oleh
zat kitin.
Hifa jamur yang bersifat parasit memiliki cabang-cabang halus yang berfungsi
menyerap makanan yang dinamakan haostorium.
Miselium dikariotik hasil hibrida dengan induk yang berbeda disebutheterodikariotik.
1.2 Nutrisi
Jamur merupakan organisme heterotrof. Jamur menyimpan cadangan energinya
berupa glikoprotein. Jamur memperoleh nutrisi secara saprofit atau secara parasit. Jamur
saprofit memperoleh nutrisi dengan menyerap senyawa organic yang telah di uraikan,
sedangkan jamur parasit menyerap makanan dari organisme yang ditumpanginya.
Selain hidup sendiri, ada pula jamur yang bersimbiosis dengan organisme lain. Jamur
yang bersimbiosis dengan ganggang Lichenes dan jamur yang bersimbiosis dengan akar
tumbuhan tingkat tinggi dinamakan mikoriza.
Jamur yang berperan mengurai zat organik kompleks menjadi senyawa sederhana
disebut dekomposer.
1.3 Reproduksi
Jamur dapat bereproduksi secara aseksual dan seksual. Secara aseksual jamur
bereproduksi dengan menghasilkan spora aseksual. Adapun secara seksual dengan konjugasi,
selanjutnya membentuk spora seksual .
Spora dapat disebar dengan perantara angin, air, atau terbawa karena kontak dengan
makhluk hidup lain. Penyebaran spora dengan air dapat mencapai jarak 100 mil (1 mil =
1,6093 kilometer). Reproduksi seksual pada jamur bervariasi bergantung pada jenis jamur,
tetapi pada setiap jamur selalu terjadi dengankonjugasi.
1.

2. Klasifikasi jamur
Jamur dibagi menjadi 5 divisi , yakni divisi Chytridiomycota, Zygomycota,
Ascomycota, Basidimycota, dan Deuteromycota (Campbell, 1998: A-5).
2.1 Divisi Zygomycota
Nama Zygomycota berasal dari zigosporangium. Zigospora merupakan spora istirahat
yang memiliki dinding tebal. Jamur ini bereproduksi dengan spora. Hifa Zigomycota bersifat
senositik. Dari hifa muncul cabang tegak ke atas yang dinamakan sporangiofor. Ujung
sporangiofor menggelembung, berfungsi membentuk spora dan disebut sporangium.

Berikut ini akan diuraikan beberapa jenis jamur yang tergolong Zygomycota.
a. Jamur Roti (Rhizopus nigricans)
Pada roti akan tumbuh bulatan hitam yang disebut sporangium yang dapat menghasilkan
sekitar 50.000 spora. Sporangium dibentuk pada ujung sporangiofor. Jika sporangium
matang, dinding pelindung yang tipis pecah dan spora tersebar. Spora tersebut disebut spora
aseksual dan reproduksi yang terjadi adalah reproduksi aseksual. Reproduksi aseksual terjadi
juga di dalam jamur roti dengan cara konjugasi.
b. Jamur Tempe (Rhizopus stolonifer)
Rhizopus
stolonifer digunakan
dalam
pembuatan
tempe.
Reproduksi Rhizopus
stolonifer dapat terjadi secara seksual dan aseksual.
c. Pilobolus
Pilobolus adalah salah satu jamur dari divisi Zygomycota yang biasa hidup pada kotoran
hewan yang telah terdekomposisi. Jamur ini tidak bereproduksi tanpa adanya cahaya. Jamur
ini menunjukkan respons positif terhadap cahaya.
2.2 Divisi Ascomycota
Jamur kelompok Ascomycota atau jamur kantung ada yang uniseluler dan multiseluler.
Jamur ini ada yang bersifat parasit dan ada pula yang bersifat saprofit. Jamur yang bersifat
parasit biasanya memiliki tubuh buah kecil, sedangkan yang bersifat saprofit biasanya
memiliki tubuh buah besar. Jamur ini bereproduksi secara seksual dan aseksual. Reproduksi
aseksual terjadi dengan pembentukan spora aseksual yang disebut konidia pada ujung
konodiofor. Reproduksi seksual terjadi dengan pembentukan spora seksual yang
disebut askospora yang dihasilkan oleh askus.
a. Penicillium
Jamur Penicillum berwarna hijau kebiruan dan tumbuh baik pada buah-buahan yang telah
masak, roti, nasi, serta makanan bergula. Reproduksi aseksual terjadi dengan konidia dan
reproduksi secara seksual terjadi dengan askospora.
Penicillium camemberti dan Penicillum requeforti dimanfaatkan dalam industri keju.
Penicillum notatum dan Penicillum chrysogenum menghasilkan antibiotic penisilin.
Adapun Penicillum italicum dan Penicillum digitatum menyebabkan pembusukan pada buah
jeruk.
b. Ragi (Saccharomyces)
Saccharomyces merupakan organisme uniseluler yang dikelompokkan ke dalam Ascomycota
karena reproduksi seksualnya terjadi dengan pembentukanaskus. Ragi banyak ditemukan
bebas di udara dan dapat pula hidup sebagai parasit. Di dalam sitoplasma sel ragi terdapat
vakuola yang berukuran besar dan berlekatan dengan inti.
Setiap inti baru dikelilingi sitoplasma dan terbungkus oleh dinding sel yang baru. Setiap sel
yang baru dinamakan askospora, dan tersimpan didalamaskus. Dalam tahapan askospora, sel
tersebut dorman.
c. Neurospora
Jamur Neurospora dimanfaatkan untuk pembuatan makanan dari kacang tanah dengan suatu
proses fermentasi jamur. Makanan tersebut dinamakan oncom sehingga jamur ini disebut
juga jamur oncom. Neurospora crassa memiliki konidia yang berwarna oranye kemerahan.
Selain dimanfaatkan untuk pembuatan oncom, jamur juga digunakan sebagai objek penelitian
genetika untuk mengetahui pengaruh sinar X yang dapat menyebabkan peristiwa mutasi.
Peristiwa crossing over dari gen dapat terlihat jelas pada Neurospora crassa, ketika
terjadi crossing over di antara kromosom, terlihat dari warna gen spora yang berbeda.

d. Hygroporus coccineal dan Morchella deliciosa


a
b
(a) Hygroporus coccineal, (b) Morchella deliciosa
Jamur Hygroporus coccineal bersifat parasit. Jamur ini banyak menyerang hewan, selain itu
dapat membusukkan kayu dan buah-buahan. Adapun jamurMorchella deliciosa biasa tumbuh
pada kayu-kayuan. Tubuh buah Morchellabanyak dicari orang karena kelezatannya.
2.3 Divisi Basidiomycota
Jamur dari divisi Basidiomycota memiliki cirri khas, yaitu memiliki basidium. Basidium
merupakan alat reproduksi seksual yang terdapat dalam bilah. Seluruh basidium berkumpul
membentuk suatu badan yang disebut basidiokarp. Spora yang dihasilkan dalam basidium
dinamakan basidiospora.
a.

Puccinia graminis
Jamur Puccinia graminis menyerang tanaman gandum dan merugikan petani. Jamur ini
membentuk hifa yang dapat menembus sel-sel batang atau daun.
b. Jamur Merang (Volvariella volvacea)
Jamur merang merupakan salah satu jenis jamur yang dapat dimakan. Hifa jamur ini
mengeluarkan enzim untuk menghancurkan substansi organik. Tubuh jamur ini terdiri
atas tangkai (stipe) yang menopang tudung (pileus). Pada waktu matang, tudung terlepas
dari annulus.
c. Ustilago maydis
Ustilago maydis memiliki tabung kecambah (gall). Tabung kecambah ini menghasilkan
basidiospora. Jamur ini biasa menyerang tongkol tanaman jagung.

d. Jamur Kuping (Auricularia auricula)


Jamur Kuping (Auricularia auricula) adalah salah satu jenis jamur yang dapat dimakan
sehingga dibudidayakan sebagai sumber pangan. Auricularia auricular berwarna cokelat dan
bentuknya menyerupai kuping sehingga disebut jamur kuping. Jamur ini memiliki basidium
yang bersel empat.
e. Amanita muscaria
Amanita muscaria merupakan jamur yang memiliki warna merah yang menarik dengan
bintik-bintik pada bagian tudungnya. Akan tetapi, jamur ini beracun dan membahayakan.
Jamur ini mempunyai tudung di sekeliling batangnya. Pangkal tangkainya membesar dan
mirip umbi.
2.4 Divisi Deuteromycota
Jamur yang tergolong Deuteromycota adalh jamur yang belum diketahui reproduksi
seksualnya. Jamur ini biasa disebut jamur tidak sempurna atau jamur imperfecti.Reproduksi
aseksualnya terjadi dengan fragmentasi atau dengan konodium.
Jamur yang tergolong Deuteromycota ada yang bersifat saprofit dan ada pula yang bersifat
parasit pada tumbuhan, hewa, atau manusia. Berikut adalah contoh jamur dari divisi
Deuteromycota.
a. Aspergillus
Aspergillus merupakan jamur yang mampu hidup pada medium dengan derajat keasaman dan
kandungan gula tinggi. Jamur ini dapat menyebabkan pembusukan pada buah-buahan atau

sayur-sayuran. Aspergillus ada yang bersifat parasit, ada pula yang bersifat
saprofit. Aspergillus yang bersifat parasit menyebabkan penyakit aspergillosis pada unggas
karena mengeluarkan racun alfatoksin.
b. Epidermophyton dan Mycosporangium
Kedua jenis jamur ini merupakan parasit pada manusia. Epidermophyton
floccosum menyebabkan penyakit kaki pada atlit, sedangkan Mycosporangiumpenyebab
penyakit kurap.
c. Fusarium, Verticellium, dan Cercos
Ketiga jenis jamur ini merupakan parasit pada tumbuhan. Jamur ini jika tidak dibasmi dengan
fungisida dapat merugikan tumbuhan yang diserangnya.
3. Lichenes dan Mikoriza
Lichenes ialah jamur yang hidup bersimbiosis dengan ganggang, sedangkan mikoriza
ialah jamur yang hidup bersimbiosis dengan tumbuhan tingkat tinggi.
3.1 Lumut Kerak (Lichenes)
Lichenes merupakan simbiosis mutualisme antara sel ganggang dan miselium jamur yang
hidup di batu, batang pohon, dan pada dinding bangunan. Jenis jamur yang bersimbiosis
biasanya dari golongan Ascomycota dan Basidiomycota, sedangkan ganggang yang
bersimbiosis biasanya yang bersel tunggal atau berbentuk benang dari Chlorophyta atau
Cyanophyta.
Contoh Lichenes adalah Usnea sp. dan Cladonia deformmis. Bentuk Lichenes bermacammacam, (a)ada yang berbentuk kerak (crustose), (b)berbentuk daun (fruticose), dan
(c)berbentuk tumbuhan perdu.
a
b
c
3.2 Mikoriza
Mikoriza adalah struktur yang yerbentuk karena adanya simbiosis jamur dan akar tumbuhan
tinggi. Mikoriza ditandai dengan adanya pembekakan pada akar dan terlihat miselium pada
potongan melintangnya. Jika ditinjau dari struktur anatomi, tipe mikoriza dapat dibedakan
sebagai berikut.
a. Ektomikoriza
Ektomikoriza ditandai dengan adanya selubung berupa jala yang menutupi permukaan akar
dan hifa jamur yang membentuk ektomikoriza dan masuk ke ruang intraseluler sel-sel
korteks. Ektomikoriza banyak dijumpai pada beberapa jenis tumbuhan hutan seperti Pinus,
Shorea, dan Eucaliptus.
b. Endomikoriza
Endomikoriza dicirikan oleh adanya hifa yang masuk ke sel-sel korteks pada akar tumbuhan.
c. Ektendomikoriza
Ektondomikoriza merupakan gabungan antara endomikoriza dan ektomikoriza. Jamur yang
membentuk mikoriza umumnya dari golongan Basidiomycota dan Ascomycota.
Contohnya Rhizopogon sp. dan Scleroderma sp.
Keuntungan tumbuhan dengan adanya mikoriza adalah sebagai berikut.
1) Pertumbuhanya lebih cepat dan dapat meningkatkan penyerapan unsure hara (terutama
fosfat).
2) Tumbuhan lebih tahan kekeringan karena mikoriza dapat meningkatkan ketersediaan air.
3) Mikoriza melindungi akar dari infeksi organisme yang patogen.

4) Mikoriza dapat membentuk hormon auksin, sitokinin, dan giberelin yang berpengaruh dalam
peningkatan pertumbuhan tumbuhan.
4. Peran Jamur bagi Kehidupan
Peranan jamur sangat vital. Jamur yang tergolong Basidiomycota, sepertiVolvariella
volvacea,(a) Boletus edulis, dan (b)Cortinellus shiitake dapat dikelola untuk dikonsumsi dan
memiliki nilai ekonomis tinggi. Penicillium notatum dan Penicillium chrysogenum berperan
dalam
pembentukan
antibiotik
penisilin. Penicillium
camembertidan Penicillium
requeforti dalam industri keju untuk menambah aroma dan cita rasa.
a
b
Saccharomyces cereviceae banyak digunakan dalam industri rumah tangga seperti
pembuatan tape dan pembuatan minuman beralkohol. Rhizopus stolonifer berguna dalam
pembentukan tempe. Neurospora crassa dalam pembuatan oncom yang merupakan makanan
yang cukup mengandung protein.
Selain menguntungkan, jamur dapat pula merugikan manusia. Contoh kerugian yang
ditimbulkan jamur ialah pembusukan makanan serta pelapukan kayu pada kapal dan
jembatan. Begitu pula jamur dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Beberapa jamur
dapat merugikan tanaman pertanian. Jamur yang dapat menimbulkan penyakit ini pada
umumnya dari divisi Deuteromycota.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa monera, virus, protista, dan fungi
dapat menguntungkan dan merugikan manusia. Terlebih khusus pada jamur yang membantu
manusia dalam pembuatan bahan-bahan makanan, seperti kecap, roti, dan tempe.

B. Saran
Kita diharapkan dapat menghindari penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri,
virus, jamur, dengan cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar.

Dunia Monera dan Peranannya dalam Kehidupan


BAB 1
Pendahuluan
Semua mikroorganisme prokariotik dimasukkan ke dalam kingdom monera.
Mikroorganisme prokariotik adalah mikroorganisme yang memiliki bahan inti
tetapi tidak memiliki selubung inti. Inti yang tidak bermembran disebut
prokarion. Bahan inti tersebut adalah asam inti berupa DNA ( deoxyribonucleic

acid) yang terletak pada suatu daerah tertentu di dalam sitoplasma. Jadi DNA
itu tidak tersebar. Oleh karena itu tidak benar jika dikatakan prokariotik tidak
berinti.
Monera berasal dari kata Yunani moneres, yang berarti tunggal. Contoh monera
bersel tunggal adalah bakteri. Namun tidak semua monera bersel tunggal.
Beberapa anggota ganggang hijau biru ada yang berbentuk benang,
misalnyaOscillatoria.
Terdapat perbedaan pokok antara bakteri dan ganggang biru. Bakteri umumnya
tidak berklorofil sehingga tidak dapatberfotosintesis sedangkan ganggang biru
berklorofil sehingga dapat berfotosintesis. Hanya ada beberapa bakteri yang
dapat berfotosintesis misalnya bakteri hijau atau bakteri ungu karena memiliki
klorofil/ pigmen.
BAB 2
Tinjauan Pustaka
Kingdom Monera dan Peranannya bagi Kehidupan
Ciri ciri dan Struktur Tubuh Monera
Monera bersifat Prokariotik (tidak mempunyai organel yang diselubungi
membran).Nukleos atau inti sel organisme ini hanya berupa satu molekul DNA
tanpa membrane sehingga disebut nukleolid.
Bagian-bagian tubuh Monera :
a. Lapisan Lendir
Bersifat menyebar dan mudah lepas, serta berfungsi melicinkan dinding sel.
b. Dinding Sel
tersusun atas lapisan lipoprotein, lipopolisakarida, dengan atau tanpa
peptidoglikan. Berfungsi untuk melindungi bagian dalam tubuh Monera.
c. Membran Plasma
terdapat di baeah dinding sel dan bersifat permeable.
d. Sitoplasma
di dalamnya terdapat lipid, ion anorganik, dan kromatofora (pigmen warna)
e. Kromosom
terdiri dari satu molekul DNA tanpa diselubungi membrane sehingga disebut
nuklelolid.
f. Ribosom
terdiri atas protein RNA yang berfungsi untuk proses sintesis protein.
Selain ciri struktur tubuh di atas, beberapa anggota monera juga mempunyai
flagella dan pilli. Flagella tersebut mengandung protein globular yang disebut
flagelin dan berfungsi sebagai alat gerak.

Beberapa anggota monera memiliki pili yang strukturnya lebih pendek dan lebih
tipis dari flagella. Yang berfungsi membantu perlekatan pada organisme lain dan
permukaan batuan atau dalam usus manusia. Beberapa pili yang ukurannya lebih
panjang dan berguna sebagai alat konjugasi yang disebut sexpili.
2.Perkembangbiakan dan Pemindahan Bahan Genetik pada Monera
a. Pembelahan Biner
Terjadi jika satu individu Monera membelah menjadi dua individu. Biasanya
terjadi setiap 20 menit. Pada kondisi kurang menguntungkan, beberapa jenis
monera akan mati dan beberapa tetap hidup. Jenis jenis yang tetap hidup
karena mampu membentuk endospora. Endospora berguna untukmelindungi diri
dari perubahan lingkungan yang tidak menguntungkan.
b. Pembentukan Tunas
c. Fragmentasi
terjadi bila sel vegetatif dari beberapa anggota monera patah. Patahan
tersebut akan membentuk individu baru.
Cara pemindahan bahan genetika pada monera :
a. Transformasi
adalah pengambilan DNA bebas oleh salah satu anggota monera dari lingkungan
sekitarnya yang dilepas oleh anggota monera lainnya.
b. Transduksi
adalah transfer DNA antara dua anggota monera melalui perantara virus
(bakteriofage).
c. Konjugasi
adalah transfer DNA antara dua anggota monera melalui suatu jembatan
konjugasi.
KLASIFIKASI MONERA
Mikroorganisme-mikroorganisme yang termasuk Monera berdasarkan analisis
molecular
terbagi
menjadi
dua
filum,
yaitu Archaebacteria (Archae)
danEubacteria (Bacteria). Pada klasifiksi sekarang ini, kedua filum tersebut
telah diangkat menjadi dua kingdomtersendiri.
Archaebacteria (Archae)
Ciri-ciri :
dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan.
Ribosomnya lebih mirip dengan ribosom eukariotik (mengandung beberapa
jenis RNA-polimerase)
Membran plasmanya mengandung lipid dengan ikatan eter
Berdasarkan tempat hidupnya, Archaebacteria dikelompokkan menjadi tiga.
Methanogen
a.

1)

2)

3)

1)

Merupakan mikroorganisme anaerob dan heterotrof yang dapat


menghasilkan methane (CH4). Hidup di Lumpur, rawa, dan saluran
pencernaan sapi, manusia, rayap dan hewan lain.
Halofil ekstrem(suka garam)
Sebagian besar merupakan mikroorganisme aerob dan heterotrof, walaupun
beberapa di antaranya bersifat anaerob dan fotosintetik dengan pigmen
berupa bakteriorhodopsin. Hidup di lingkungan dengan konsentrasi garam
yang tinggi.
Thermoasidosil (suka panas dan asam)
Merupakan mikroorganisme kemoautotrof yang menggunakan H 2S sebagai
sumber energi. Hidup di lingkungan panas (60-80)0C dan asam pH (2-4).
Sulfolobos ditemukan dalam sumber air panas.
Eubacteria
Ciri-ciri :
Dinding selnya mengandung peptidoglikan.
Ribosomnya mengandung satu jenis RNA-polimerase.
Membran plasmanya mengandung lipid dengan ikatan ester.
Dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan.
Cara memetabolisme sumber-sumber makanan
organisme yang autorof (fotoautotrof atau kemoautotrof)
organisme heterotrof (ada yang bersifat parasit atau saprofit)
Kemampuan menghasilkan endospora (tubuh resistan ysng mengandung materi
genetik dan sedikit sitoplasma, serta dikelilingi oleh dinding yang tahan
lama).
Kemampuan mempertahankan diri dalam keadaan ada atau tidaknya oksigen
obligat aerob
obligat anaerob
fakultatif anaerob
Motilitas (cara gerak)
dengan flagella
tanpa flagella (gerakan meluncur)
flagella dalam sel (gerakan seperti sebuah pembuka tutup botol)
Bentuknya
bacillus (bentuk batang)
coccus (bentuk spiral)
spirillum(bentuk spiral)
Berdasarkan teknik pengecatan gram
bakteri gram positif (dinding sel peptidoglikan tebal)
2)

3)

b.

1)

2)

3)

1)

a)

b)

2)

3)

a)

b)

c)

4)

a)

b)

c)

5)

a)

b)

c)

6)

a)

gram negatif (dinding sel peptidoglikan tipis dan tertutup oleh sebuah
lapisan lipoposakarida)
Eubacteria dapat dibagi menjadi beberapa kelompok.
1) Cyanobacteria
Bersifat fotoautotrof ; menggunakan klorofil untuk menangkap energi cahaya
matahari yang kemudian digunakan dalam proses fotosintesis. Juga mempunyai
pigmen aksesori yang disebut fikobilin.
Beberapa Cynobacteria mempunyai sel-sel khusus yang disebut heterokista
yang menghasilkan enzim untuk fiksasi atau penambatan nitrogen di udara.
b)

2) Bakteri kemoautotrof
Bersifat kemosintesis dan terdiri dari bakteri nitrir (berperan dalam siklus
nitrogen yaitu mengubah nitrit), bakteri sulfur (berperan mengoksidasi
komponen sulfur), dan bakteri metan (berperan mengoksidasi metana atau
methanol.
3) Bakteri penambat nitrogen
Bersifat heterotrof dan mampu mengikat nitrogen dari udara. Ada yang hidup
bebas dan ada yang bersimbiosis mutualisme.
4) Spirocheta atau Spirochaeta
Berbentuk spiral seperti kumparan, bergerak dengan meliukkan tubuhnya
seperti gerakan sebuah pembuka tutup botol. Flagelanya terdapat dalam
lapisan dinding sel. Bakteri ini yang berperan sebagai decomposer dan ada
yang bersifat pathogen (menyebabkan sakit).
Mikroorganisme prokariotik yang digolongkan ke dalam monera adalah bakteri
dan ganggang hijau biru
A. BAKTERI
Bakteri adalah makhluk hidup bersel satu, tidak berklorofil (tetapi beberapa
jenis mempunyai pigmen bakterioklorofil), dan umumnya berkembang biak dengan
membelah diri.
Sifat-sifat Bakteri

1.

Bentuk sel bakteri tetap dengan dinding sel yang terdiri atas selulos dan
kadang-kadang terselubung lendir

2.

3.

4.

5.

Inti sel tidak berdinding yang disebut prokarion.


Berkembang biak dengan membelah diri.
Beberapa jenis bakteri, terutama yang berbentuk batang dapat membentuk
endospora. Yang berguna untuk melindungi diri terhadap lingkungan yang
buruk.
Bakteri hidup pada suhu yang bervariasi dan pH tertentu sesuai dengan jenisnya.

Ciri- ciri Bakteri


1. Tubuh : uniseluler, renik (dapat dilihat dengan mikroskop biasa) dan
prokariotik
2. Ukuran : 0,15 15 mikron.
3. Ada yang berbentuk batang (bacillus), seperti bola (kokus), seperti koma
(vibrio), dan seperti spiral (spirillum).
4. Cara hidup : ada yang soliter (sendiri-sendiri) dan berkoloni.
5. Hidup autotrof : foto autotrof dan kemo autotrof.
Hidup heterotrof : Parasit dan Saprofit.
6. Alat bergerak pindah
tidak dapat bergerak pindah tempat secara aktif.
Bergerak pindah secara aktif dengan flagel, dengan lender untuk meluncur.
7. Habitat : di segala tempat, di tanah, air, udara, dan organisme.
Secara aseksual, umumnya reproduksi aseksual dengan membelah
biner. Adapula yang membentuk spora di dalam (endospora) apabila
lingkungannya menjadi buruk.
Secaraseksual : Konjugasi
Rekombinasi DNA Bakteri
Rekombinasi DNA Bakteri terjadi melalui :
1.

Konjugasi; DNA bakteri jantan bersatu dengan DNA bakteri betina.

2.

Transformasi; plasmid bakteri pindah ke bakteri lain.

3. Transduksi; DNA virus menyisip ke DNA bakteri.


Struktur Tubuh Bakteri
1. Kapsul utuk pertahanan diri .
2. Flagela untuk bergerak.
3. Dinding sel untuk perlindungan ; tersusun dari peptidoglikan
4. Membran sel untuk mengatur keluar masuknya zat .
5.Mesosom untuk pabrik enenrgi .
6.Lembar foto Sintetik untuk berfotosintesis .
7. Sitoplasma tempat berlangsungnya reaksi metabolik .
8. DNA untuk mengontrol sintetis protein dan pembawa sifat .
9. Plasmid pembawa gen tertentu dapat di transformasikan ke sel lain.
10. Ribosom untuk tempat sintesis protein .
11. Endospora untuk mempertahankan diri dari kondisi butuk .
Bentuk-Bentuk Bakteri
1. Basilus
Berbantuk seperti batang atau tongkat, dan dibedakan atas.
a. monobasilus, tunggal (satu-satu)
b. diplobasilus, bergandeng dua-dua.
c. Streptobasilus, (bergandeng panjang seperti rantai.
2. Kokus
Berbentuk seperti bola (bulat), dan dibadakan atas.
a. diplokokus, bergandeng dua-dua.

b. Streptokokus, bergandeng panjang seperti bentuk rantai.


c. Tetrakokus, berkelompok empat-empat.
d. Stapilokokus, bergerombol seperti buah anggur
e. Sarkina, mengelompok seperti kubus.
4.

Spirilum

Berbentuk bengkok atau seperti spiral. Dibedakan atas.


a. monotrik, flagel hanya satu dan melekat pada salah satu ujung sel.
b. Lopotrik, flagel banyak dan melekat pada salah satu ujung sel.
c. Amfitrik, flagel banyak dan melekat pada kedua ujung sel.
d. Peritrik, flagel banyak dan tersebar pada seluruh permukaaan sel.
e. Atrik, tidak mempunyai flagel.
Cara Bakteri Mendapatkan Makanan
1. Bakteri autotrof
Hidupnya tidak bergantung terhadap
mensintesis makanannya sendiri .
a.

Organisme

lain

karena

dapat

Fotoautotrof
Dapat mensintesis senyawa organic dari zat-zat organic dengan menggunakan
energi matahari, karena mempunyai pigmen-pigmen bakterioklorofil atau
bakteriopurpurin sehingga mampu berfotosintesis . Contoh Bakteri hijau dan
bakteri ungu .

b.

Kemoautotrof
Dapat mensintesis senyawa organik dari zat zat anorganik dengansenyawasenyawa tertentu, dan energi yang timbul digunakan untuk fotosintesis .
Contoh : Bakteri Nitrit, Bakteri Nitrat dan bakteri belerang .

2.

Bakteri Heterotrof

Kelompok bakteri ini tidak dapat mensinsesis makanannya sendiri sehingga


hidupnya tergantung pada organisme lain. Bakteri ini ada yang bersifat
parasitdan ada yang bersifat saprofit.
Bersifat parasit jika hidup langsung tergantung pada organisme lain yang
masih hidup sehingga sangat merugikan. Bersifat saprofit jika hidup pada
sisa-sisa organisme lain yang telah mati.
Peranan Bakteri bagi Kehidupan Manusia

Bakteri yang Menguntungkan


1. Rhizobium leguminosarum, yaitu bakteri yang bersimsiosis dengan akar
polong-polongan. Bakteri ini mampu mengikat nitrogen dari udara sehingga
menyuburkan tanah.
2. Nitrosomonas, Nitrosococcos (bakteri nitrit), serta Nitrobacter merupakan
bakteri yang membantu proses pembuatan senyawa nitratdalam tanah.
3. Streptococcus lactis yaitu bakteri yang berperan dalam pembuatan keju.
4. Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermhophillus yaitu bakteri yang
berperan dalam pembuatan yoghurt.
5. Acetobacter xylinum, yaitu bakteri yang berperan dalam pembuatan nata de
coco.
6. Streptomyces griceus, yaitu bakteri yang
streptomisin (untuk mengatasi penyakit TBC)

menghasilkan

antibiotic

7. Streptomyces aureofaciens, yaitu bakteri yang menghasilkan antibitik


aureomisin.
8. Acetobacter aceti, yaitu bakteri yang mengubah etanol menjadi asam asetat
(asam cuka) melalui proses oksidasi.
9. Escheria coli yaitu bakteri yang membantu pembusukan di usus besar manusia
dan pembentukan vitamin K yang penting pada proses pembekuan darah.

Bakteri yang Merugikan


1. Mycobacteium tuberculosis, yaitu bakteri penyebab penyakit TBC.

2. Clostridium pallidum, yaitu bakteri penyebab penyakit tetanus.


3.Treponema pallidum, yaitu bakteri penyabab penyakit sifilis.
4. Neisseria gonorrhoeae, yaitu bakteri oenyabab penyakit kencing nanah.
5. Diplococcus pneumoniae, yaitu bakteri penyabab radang paru-paru.
6. Pasteurella pestis, yaitu bakteri penyabab penyakit pes.
7. Bacillus anthtracis, yaitu bakteri penyeba penyakit antraks pada sapi.
8. Pseudomonas cocovenenans, yaitu bakteri yang menghasilka racun asam
bongkrek pada tempe bongkrek.
9. Clostridium botulinum, yaitu bakteri yang menghasilkan racun botulinin pada
makanan kaleng yang telah rusak.
10. Pseudomonas cattleyae, yaitu bakteri penyebab penyakit pada anggrek.

Cara Pencegahan Bakteri yang Merugikan Manusia


Bakteri pathogen sangat merugikan bagi makhluk hidup terutama manusia,
ternak, dan tanaman budidaya. Untuk mencegah atau mengurangi bahayayang
ditimbulkan bakteri pathogen, manusia menempuh cara-cara berikut.
a.Vaksinasi
adalah usaha pencegahan penyakit dengan cara memberikan vaksin, yaitu
bakteri yang telah dilemahkan. Vaksin yang diinjeksikan ke dalam tubuh
manusia atau hewan mendorong terbentuknya antibodi dalam darah. Yang akan
mengahambat masuknya bakteri aktif ke dalam tubuh.
Beberapa vaksin yang telah ditemukan.
1. Vaksin BCG (Bacillus Calmet Guirine) untuk mencegah penyakit TBC
2. Vaksin DPTP (Diphteri, Pertusis, Tetanus, Profiloksis) untuk mencegah
penyakit difteri, batuk rejan, dan tetanus.
3. Vaksin TCD, untuk mencegah penyakit tifus, kolera dan disentri.Vaksin
kotipa untuk mencegah penyakit kolera, tifus, dan paratifus.
b. Strelisasi
yaitu pemusnahan semua bentuk kehidupan. Sterilisasi dilakukan dengan
pemanasan pada suhu 121oC selama 15 menit disertai tekanan. Sterilisasi akan
mematikan bakteria, spora, dan organisme lain. Pada penelitian menggunakan
mikrobia, strelisasi juga diperlukan untuk memperoleh biakan murni. Biakan

murni adalah biakan yang hanya tersiri satu spesies mikrobia atau hasil
perbanyakan dari suatu sel mikrobia yang ditumbuhkan pada medium buatan.
Selain itu perangkat penelitian mikrobia juga harus disterilkan. Perangkat yang
steril sangat mendukung keberhasilan penelitian. Sterilisasi alat-alat atau
medium dapat dikerjakan secara fisik (misalnya dengan pemanasan, sinar
ultraviolet, dan sinar X), secara mekanik (dengan penyaringan), dan secara
kimia (dengan desinfektan).
Pemanasan merupakan cara umum dalam proses sterilisasi. Beberapa cara
pemanasan yang bisa digunakan untuk sterilisasi sebagai berikut.
1. Sterilisasi dengan pemijaran
Cara ini terutama digunakan untuk sterilisasi jarum platina, ose, dan
sebagainya yang terbuat dari platina atau nikrom. Caranya dengan membakar
alat-alat tersebut di atas lampu spiritus sampai berpijar.
2. Sterilisasi dengan udara kering
Peralatan yang digunakan untuk cara ini berupa Hot Air Sterilizer (alat oven).
Cara ini digunakan untuk sterilisasi alat-alat dari gelas (gelas kimia, cawan
petri, labu elenmeyer), serta bahan seperti kain dan kapas. Temperature yang
digunakan 170oC-180oC dengan waktu minimal 2 jam.
3. Sterilisasi dengan uap panas
Cara ini digunakan sterilisasi bahan yang mengandung cairan, misalnya medium
kultur. Alat yang digunakan yaitu amolb steam sterilizer. Kebanyakna mikrobia
mati pada suhu 100oC.
4. Sterilisasi dengan uap panas bertekanan
Teknik ini mengandung autoklaf (autocalave) dengan tekanan 2 atm dan suhu
121oC selama 30 menit.
c.Pasteurisasi
Pasteurisasi di lakukan untuk mesterilkan bahan yang tidak tahan panas tinggi
dengan tujuan membunuh bakteri yang ada di dalamnya. Pasterisasi akan
mematikan bakteri patogen,tetapi bakteri nopatogen tetap hidup sehingga
makanan belum streril.
d.Pengawetan makanan
Makanan perlu di awetkan untuk mengawasi mengatasi aktifitas baktri yang
dapat merusak makanan serta menimbulkan racun. Pengawetan makanan dapat
di lakukan secara tradisional,misalnya dengan pengeringan, pengasapan,
pengasaman, pengasinan, dan pemanisan. Pengawetan makanan dapat juga di
lakukan secara konvesional, antara lain dengan sterilisasi,pasteurisasi,
pembekuan, pendingina, penggunaan bahan kimia,serta radiasi.lingkungan yang

dingin menyebabkan bakteri tidak aktif. Oleh karena itu,bila makanan dari
pendinginan di keluarkan akan segera menunjukkan adanya aktifitas bakteri.
B. Ganggang Hijau Biru (Cynobacteria)
Disebut ganggang hijau biru karena berwarna hijau kebiruan. Warna itu
diakibatkan oleh warna klorofil dan pigmen biru.
1) Ciri-ciri Ganggang hijau biru
a. Prokariotik
Ganggang tidak memiliki membrane inti. Bahan inti terdapat pada suatu daerah di
dalam sitoplasmanya.
b. Klorofil Tidak Dalam Kloroplas dan Memiliki Fikosianin
Klorofil tidak terdapat dalam kloroplas, melainkan pada membrane tilakoid.
Karena memiliki klorofil dan dapat berfotosintesis, maka ganggang ini dapat
menghasilkan gula dan oksigen. Pigmen fikosianin warna hijau kebiruan.
Pada umumnya ganggang hijau biru memiliki kemampuan menambat nitrogen dari
udara. Proses penambatan nitrogen ini dilakukan oleh sel khusus yang disebut
herosista. Heterosista dihasilkan oleh ganggang biru berbentukbenang. Ukuran
heterosista lebih besar dibandinkan sel di dekatnya serta memiliki dinding sel
yang lebih tebal. Karena kemampuan menambat nitrogen ini, ganggan hijau biru
dapat menyuburkan habitatnya, atau menguntungkan organisme lain yang
bersimbiosis dengannya.
2) Struktur Sel ganggang Hijau Biru
a. Dinding sel
Mengakibatkan sel memiliki bentuk yang tetap. Di sebelah luar dinding sel
terdapat selubung lendir yang berfungsi mencegah sel dari kekeringan.
b. Membran sel
berfungsi mengatur mengatur keluar masuknya zat dari dank e dalam sel.
c. Sitoplasma
Merupakan koloid yang tersusun atas air, protein, lemk, gula, mineral-mineral,
enzim, ribosom dan DNA. Di dalam sitoplasma inilah berlangsung proses
metabolisme sel.
d. Asam Inti/ Asam Nukleat (DNA)
DNA terdapat pada suatu lokasi dalam sitoplasma, namun tidak memiliki
membrane inti. Karen itulah ganggang hijau biru digolongkan dalam prokariotik.
e. Mesosom dan Ribosom
Ribosom merupakan organel untuk sintesis protein, sedangkan mesosom
merupakan penonjolan membrane sel kea rah dalam yang berpera sebagai
penghasil energi.
3) Pigmen (zat warna)

Zat warna atau pigemn tersebr dalam protoplasma karena tidak mempunyai
butir-butir zat warna (kloroplas). Zat warna dominant yaitu fikosianin (zat warna
biru).
Selain fikosianin, terdapat pula zat warna lain yaitu :
-Zat warna hijau (klorofil)
-Zat warna merah (fikoeritrin)
-Zat warna karetenoid, yaitu gabungan pigmen orange, merah, dan kuning.
Fikosianin dan fikoeritrin tergolong peigmen fikobilin.
4) Alat Gerak
Umumnya ganggang hijau-biru tidak dapat bergerak pindah, tetapi beberapa
jenis ganggang hijau biru yang berbentuk benang dapat bergerak maju mundur.
5) Habitat
Dapat hidup di segala macam habitat.
6) Perikehidupan
1. Hidup bebas.
2. Hidup membentuk koloni.
3. Hidup bersimbiosis mutualisme.
4. Ada pula yang hidup sebagai parasit.
7) Reproduksi Ganggang Hijau Biru
a. Pembelahan sel
Sebagai organisme prokariotik, ganggang hijau biru membelah dengan
pembelahan biner, baik sel tunggal (organisme uniseluler) maupun sel penyusun
filament (benang) akan bertambah banyak.
b.Fragmentasi
Fragmentasi dilakukan oleh ganggang hijau biru berbentu benang dengan
fragmentasi (pemenggalan) filamen yang panjang akan terputus menja di dua
atau lebih benang pendek yang disebut yang disebut hormogonium. Setiap
hormogonium akan tumbuh menjadi filamen baru. Tempat pemutusan filament
adalah sel mati yang terdapat di antara sel penyusun filamen.
c. Pembentukan Spora
Jika kondisi buruk, misalnya kurang air, di antara sel-sel ganggang hijau biru
ada yang dapat membentuk endospora, seperti pada bakteri. Dindingnya
menebal, dan ukuran sel membesar. Bentukan ini disebut sebagai akinet,
misalnya pada Nostoc.
Peranan Ganggang Hijau Biru dalam Kehidupan Manusia
a. Menguntungkan

Dalam ekosistem perairan, terutama perairan tawar ganggang hijau biru adalah
komponen fitoplankton yang merupakan makanan utama bagi ikan sehingga
berperan penting dalam perikanan.
Dalam bidang pertanian, beberapa jenis ganggang hijau biru yang hidup
bersimbiosis dengan tumbuhan lain mampu mengikat N 2 bebas dari udara
sehingga membantu menyuburkan tanah pertanian. Contohnya anaebaena
cycadae hidup bersimsiosis dengn pakis haji. Namun, ganggang Nostoc
communae mampu mengikat N2 walau tidak bersimbiosis dengan tumbuhan
tertentu.
Ganggang hijau biru ada pula yang berguna sebagai makanan yang bergizi
tinggi, contohnya spirulina.
b. Merugikan
Beberapa ganggang hijau biru yang hidup di air ada yang mengeluarkan racun.
Racun yang terlarut di dalam air dapat meracuni organisme yang meminumnya.
Banyak biri-biri mati setelah minum air telaga di Australia. Ini merupakan sifat
merugikan ganggang hijau biru.
Sifat merugikan lainnya adalah ganggang ini dapat tumbuh di tembok dan batu,
sehingga tembok akan mudah lapuk. Demikian pula bangunan candi dari batu
yang banyak terdapat di Indonesia banyak yang terancam menjadi lapuk karena
ganggang.
Penutup
Demikianlah makalah monera yang telah kami susun. Yang berisi tentang seluk
beluk dunia Monera dan peranannya bagi kehidupan. Banyak Monera yang
membawa keuntungan, tapi banyak juga yang membawa kerugian bagi manusia,
hewan, tumbuhan, dan organisme lainnya.
Bakteri yang bermanfaat kita manfaatkan sebaik-baiknya, dan bakteri yang
merugikan semoga dapat kita hindari.
DAFTAR PUSTAKA
Prawirohartono, Slamet dan Hadisumarto, Suhargono.1996. Sains Biologi-1a.
untuk SMU kelas 1. Jakarta : Bumi Akasara.
Ibayati, Yayat dan Kurniasih, Melani. 2000. Prestasi Biologi. SMU/MA kelas
1.Bandung: Ganeca Exact.
Sudjino dan Sembiring, Langkah. 2006. Biologi. Kelas X Semester untuk SMA
dan MA. Klaten: Intan Pariwara.
Soemarso, Soedarjatmo dkk. 2000. Biologi. Kelas 1 Cawu 1 SMU. Surakarta:
Intan Pariwara.

Saktiyono. 1999. Seribu Pena Biologi. SMU kelas 1. Jakarta : Erlangga.


Syamsuri,Istamar dkk. 2004. Biologi. Untuk SMU kelas X. Malang : Erlangga.
Sabtu, 08 Oktober 2011

Flagella (Tugas Mikrobiologi Erlin's)

A. Pengertian Flagel

Flagellum (jamak flagella) adalah alat gerak (motile organ) berbentuk cambuk pada sejumlah
organisme bersel satu. Flagella memungkinkan menghindarkan bakteri dari kondisi yang tidak
mendukung baginya. Suatu individu dapat memiliki satu atau lebih flagella. Contohnya adalah
alga bersel satu, Euglena viridis dan bakteri Escherichia coli. (wikipedia, 2011).

Archaea juga memiliki flagella, dan dioperasikan dengan cara yang mirip dengan flagella
bakteri, batang panjang mereka yang digerakkan oleh motor berputar di dasar flagella
tersebut. Motor didukung oleh gradien proton melintasi membran. Namun, flagela archaeal
terutama berbeda dalam komposisi mereka dan pembangunan. Kedua jenis flagella berevolusi
dari nenek moyang yang berbeda, berbagi flagela bakteri satu nenek moyang dengan sistem
sekresi tipe III, sedangkan flagela archaeal tampaknya telah berevolusi dari pili tipe IV bakteri.
Berbeda dengan flagel bakteri, yang merupakan poros berongga dan dirakit oleh subunit
bergerak ke atas pusat pori dan kemudian menambahkan ke akhir flagella ini, flagela archaeal
subunit disintesis dengan menambahkan ke pangkalan mereka. (Wikipedia free ensiklopedy,
2011.)
Setiap sel Euglena dilengkapi dengan sebuah bulu cambuk (flagel) yang tumbuh pada ujung
anterior sebagai alat gerak. Pada ujung anterior ini juga terdapat celah sempit yang
memanjang ke arah posterior. Pada bagian posterior, celah ini melebar dan membentuk
kantong cadangan atau reservoir. Flagel terbentuk di sisi reservoir. Di sisi lain dari flagel
terdapat bintik mata yang sangat peka terhadap rangsangan sinar matahari. (Wikipedia, 2011).
Kecepatan normal rotasi untuk flagela Escherichia coli sekitar 6000 rpm, tetapi rekor
kecepatan, ditetapkan oleh Vibrio kuat, adalah 100.000 rpm. Setiap flagela kedua motor
reversibel dan protein organel ekspor dan aparat perakitan yang fabricates sebuah filamen
eksternal mengekstrusi monomer flagellin melalui saluran pusat dan menambahkannya ke
flagel yang tumbuh pada akhir nya. (Schaechter, 2011).

B. Struktur Flagel

Adapun struktur Flagel adalah sebagai berikut :

1. Lebar flagel kurang dari 0,1 m

2. Flagel merupakan benang-benang protoplasma yang berpangkal pada titik tepat di bawah
membran sel
3. Pangkal flagel dinamakan Rizoblast
4. Flagel terdiri dari protein yang disebut flagelin semacam miosin
5. Dalam medium cair, vibro dimana vibro ini bergerak dengan kecepatan 20 cm perdetik atau
0,3 km/menit atau 18 km/jam.

Pili Atau Fimbrae

Pili atau Fimbrae merupakan benang-benang halus yang keluar atau menonjol dari dinding sel.
Pili atau Fimbrae hanya ditemukan pada bakteri berbentuk batang bersifat gram negatif
dimana benang-benang halus yang bersifat gram negatif ini tidak berlekuk-lekuk dan lebih
halus dibandingkan flagel. Jumlah pili bisa mencapai ratusan. Pili termasuk golongan protein
yaitu Lektin. Ada dua jenis pili yaitu pili yang memegang peranan dalam adhesi kuman dengan
sel tubuh hospes
Seks pili, yang berfungsi dalam konjugasi 2 kuman. Pili berfungsi sebagai alat perlekatan
tabung konjugasi (perkawinan).
Perbedaan Flagel dan pili (fimbrae), Kapsula atau lapisan lendir
Lapisan lendir menyelubungi dinding sel seluruh bakteri. Bila lapisan lendir cukup tebal maka
bungkus tsb disebut kapsula Lapisan lendir terdiri atas karbohidrat Pada spesies tertentu
lendir mengandung unsur N atau P. Lendir ini bukan suatu bagian integral dari sel melainkan
hasl pertukaran zat. Fungsi kapsula atau lapisan lendir adalah sebagai benteng pertahanan sel
terhadap kehadiran faktor luar yang tidak menguntungkan. Lendir memberikan perlindungan
terhdap kekeringan. Bagi manusia lapisan ini berguna untuk identifikasi atau mengenal
spesies.
Mikroba yang memiliki kapsula merupakan mikroba yang virulen sekali. ( Agus jatmiko, 2009.)

Flagella adalah filamen, yang terbuat dari rantai protein flagellin, melekat pada protein yang
membentuk hook yang dimasukkan ke dalam alat-alat basal. flagela ini berputar sekitar ini
gaya fundamental dalam gerakan melingkar, yang cukup berbeda dengan gerakan flagella
eukariotik. Prokariotik flagela didistribusikan pada permukaan sel atau terkonsentrasi pada
satu atau kedua ujung sel. rotasi mereka didukung oleh difusi H+ ke dalam sel. H+ gradien ini
dikelola oleh sebuah pompa proton ATP-driven (Kenti simon, 2007) .

Flagel pada prokariota merupakan suatu berkas kosong tanpa membran, panjangnya 312
mikrometer dan diameternya 1020 mikrometer, terdiri dari subunit yang susunannya berpilin
dari protein flagelin. Penempelan flagela dengan 'kait', 'pelor roda' dan 'rotor'. Flagela itu
dalam bentuk pilinan yang tetap, namun ada yang sering berputar selaras. Flagela
memperoleh
energi
dari
kekuatan
protonmotiv.
Flagela
terlibat
dalam
respon kemotaksis olehsel. (Wikipedia, 2011).

C. Fungsi Flagel

1. Flagel sebagai alat gerak dari prokariotik dan eukariotik.

Flagel memiliki struktur tubular dari permukaan luar dan fungsi motilitas. Flagela bertindak
sebagai baling-baling, berputar berlawanan ketika mereka mendorong sel ke depan.

2. flagela adalah struktur semi kaku digunakan untuk memindahkan sel-sel mikroba

3. Flagella menyebabkan sel untuk bergerak dengan rotasi mereka, yang didukung oleh
kekuatan motif proton.

D. Skema Pengaturan Flagel

Ada berbagai jenis bakteri memiliki pengaturan yang berbeda dari flagela. bakteri
Monotrichous memiliki flagel tunggal (misalnya, Vibrio cholerae). bakteri Lophotrichous
memiliki beberapa flagela yang terletak di tempat yang sama pada permukaan bakteri yang
bertindak bersama untuk mengusir bakteri dalam satu arah. Dalam banyak kasus, dasar dari
beberapa flagella dikelilingi oleh wilayah tertentu dari membran sel;. Polar membran disebut
[rujukan?] Amphitrichous Bakteri memiliki flagel tunggal pada masing-masing dua ujung yang
berbeda (hanya satu flagel beroperasi pada satu waktu, yang memungkinkan bakteri untuk
membalikkan kursus cepat dengan switching yang flagela aktif). bakteri Peritrichous memiliki
flagela memproyeksikan ke segala arah (misalnya Escherichia coli).
Pada beberapa bakteri, seperti bentuk-bentuk lain dari flagella Selenomonas lebih besar,
perorangan maupun yang terorganisir di luar tubuh sel, memutar spiral tentang satu sama lain
untuk membentuk struktur tebal disebut "volume". bakteri lain, seperti spirochetes, memiliki
tipe khusus filamen
Berlawanan dengan rotasi flagella polar monotrichous mendorong maju dengan flagella sel
yang mengikuti di belakang, seperti sebuah pembuka botol yang bergerak di gabus. Memang,
air dalam skala mikroskopis sangat kental, sangat berbeda dari pengalaman kita sehari-hari
air. Ini adalah flagela heliks kidal, dan bundel dan bermain bersama hanya jika berputar
berlawanan. Ketika beberapa dari rotor ke arah yang berlawanan, yang santai dan flagella sel
mulai "jatuh". Ini juga telah menyarankan bahwa bahkan jika flagel semua akan berputar
searah jarum jam, mereka tidak akan membentuk bundel, karena alasan geometri serta
hydrodynamical. Seperti "jatuh" dapat terjadi kadang-kadang, yang mengarah ke sel yang
tampaknya berteriak di tempat, sehingga reorientasi sel. rotasi Searah jarum jam dari flagela
ditindas oleh senyawa kimia yang bermanfaat bagi sel (makanan misalnya), tetapi sepeda ini
sangat adaptif. Oleh karena itu, ketika bergerak ke arah yang menguntungkan, meningkatkan
konsentrasi atraktan kimia dan "jatuh" terus ditekan, bagaimanapun, bila arah gerakan sel

kurang baik (misalnya, jauh dari bahan kimia atraktan), jatuh tidak lagi ditekan dan terjadi jauh
lebih sering, dengan kesempatan sel sehingga akan reorientasi ke arah yang benar.
Dalam beberapa Vibrio (terutama Vibrio parahemolyticus) dan proteobacteria terkait, seperti
Aeromonas, dua sistem flagellar co-ada, menggunakan set yang berbeda gen dan gradien ion
yang berbeda untuk energi. Flagela polar konstitutif ini disajikan dan memberikan motilitas
pada curah cair, sedangkan flagela lateral dinyatakan sebagai flagela polar memenuhi terlalu
banyak perlawanan terhadap perubahan, ini memberikan motilitas dipenuhi pada permukaan
atau dalam cairan kental.

E. Jenis-jenis Flagellum

Tiga jenis flagella sejauh ini telah dibedakan, bakteri, archaea dan eukariota. perbedaan utama
antara ketiga jenis diringkas di bawah ini :
1. flagela bakteri filamen heliks yang memutar sekrup seperti mereka menyediakan dua dari
beberapa jenis bakteri motilitas
2. flagela archaea yang dangkal mirip dengan flagella bakteri, tetapi berbeda dalam banyak
rincian dan dianggap non-homolog.
3. flagela eukariotik - orang-orang dari hewan, tumbuhan, dan protista sel - adalah proyeksi
seluler kompleks yang bulu kembali dan sebagainya. Kadang-kadang disebut silia atau
undulipodia flagela eukariotik untuk menekankan kekhasan mereka. (Wikipedia,2011)

Berikut adalah tipe-tipe flagellum pada bakteri :

Banyak spesies bakteri yang bergerak menggunakan flagel. Hampir semua bakteri yang
berbentuk lengkung dan sebagian yang berbentuk batang ditemukan adanya flagel.
Sedangkan bakteri kokus jarang sekali memiliki flagel. Ukuran flagel bakteri sangat kecil,
tebalnya 0,02 0,1 mikro, dan panjangnya melebihi panjang sel bakteri. Berdasarkan tempat
dan jumlah flagel yang dimiliki, bakteri dibagi menjadi lima golongan, yaitu (Ardianz, 2009):

a. Atrik, tidak mempunyai flagel.


b. Monotrika (memiliki satu flagelum di depan atau belakang)
c. Lopotrika (salah satu bagian ujung terdapat banyak flagelum)
d. Ampitrika (kedua bagian ujung di tumbuhi oleh satu flagelum)
e. Peritrika (flagelum terdapat di seluruh tubuh). (Rahma, 2009.)

F. Pergerakan Flagel

Menurut Hastuti (2002) kebanyakan sel bakteri dapat bergerak dengan menggunakan flagel,
akan tetapi ada bakteri yang tidak dapat bergerak karena tidak memiliki falagel. Hal ini senada
dengan pernyataan Taringan (1988) yang menyatakan bahwa gerak bakteri terjadi pada bakteri
yang mempunyai flagel, karena flagel ini merupakan alat gerak bagi sel bakteri. Flagel
merupakan bulu-bulu cambuk yang dimiliki oleh beberapa jenis bakteri dan letaknya berbedabeda tergantung kepada spesiesnya. Berdasarkan jumlah dan posisi flagel dapat Menurut
Taringan (1988) dibedakan menjadi:

Monotrikh : mempunyai satu flagel


Ditrikh : mempunyai dua flagel
Pentrikh : mempunyai banyak flagel pada permukaan tubuh
Lopotrikh : mempunyai flagel pada salah satu ujung tubuh bakteri yang berjumlah lebih dari
dua buah
Amfitrikh : mempunyai flagel pada sisi tubuh yang berlawanan
Atrikh : tidak memiliki flagel
Flagel tersusun atas tiga bagian yaitu :
1) Pangkal (basal) merupakan bagian yang berhubungan dengan membran plasma,
2) Hook yang pendek,
3) Filamen yang bentuknya seperti benang yang panjangnya sampai beberapa kali melebihi
panjang tubuhnya.

Menurut Gross (1995) struktur bakteri yang berflagel itu kaku dan dilengkapi dengan
gelendong yang berbentuk spiral. Gelendong spiral tersusun atas protein yang disebut
dengan flagelin yang merupakan unit dasar penyususn flagela.
Untuk mengamati gerak pada bakteri dengan baik maka bisa menggunakan metode tetesan
bergantung (Hastuti, 2002). Dalam pengamatan gerak bakteri, ada dua hal yang harus
diperhatikan yaitu motalitas bakteri dan gerak brown. Bakteri yang bersifat motil akan nampak
jelas bergerak, dan bergeraknya melaju kearah tertentu, sedangkan sel bakteri yang tampak
sebagai gerak brown adalah gerakan yang bukan berasal dari bakteri itu sendiri melainkan
dikarenakan adanya partikel-partikel air yang ada disekeliling sel atau adanya energi kinetik.
Pada gerak brown, organisme bergetar dengan laju yang sama dengan menjaga hubungan
ruang yang sama satu sama yang lain (Volk, 1988)
Motalitas dapat diamati dengan baik pada biakan yang masih baru. Pada biakan yang sudah
lama akan dapat menjadi penuh sesak dengan makhluk hidup yang giat dan banyak bakteri
yang sudah mati, sehingga sangat sukar untuk mendapatkan sel yang motil, selain itu
produksi asam dan produk yang bersifat racun dapat menyebabkan hilangnya motalitas sel
bakteri pada biakan (Volk, 1988).
Menurut Taringan (1988) beberapa bakteri dapat melakukan gerakan meluncur yang sangat
mulus yang hanya terjadi kalau persentuhan dengan benda padat. Kebanyakan bakteri yang

dapat berenang dapat mendekati atau menjauhi berbagai senyawa kimia yang disebut
kemotaksis, (Riza, 2008).

G. Flagel Pada Bakteri

Banyak spesies bakteri yang bergerak menggunakan flagel. Hampir semua bakteri yang
berbentuk lengkung dan sebagian yang berbentuk batang ditemukan adanya flagel.
Sedangkan bakteri kokus jarang sekali memiliki flagel. Ukuran flagel bakteri sangat kecil,
tebalnya 0,02 0,1 mikro, dan panjangnya melebihi panjang sel bakteri. (Wikipedia, 2011)
Banyak bakteri memiliki struktur di luar sel lainnya seperti flagela danfimbria yang digunakan
untuk bergerak, melekat dan konjugasi. Beberapa bakteri juga memiliki kapsula atau lapisan
lendir yang membantu pelekatan bakteri pada suatu permukaan dan struktur biofilm. Bakteri
juga memilikikromosom, ribosom, dan beberapa spesies lainnya memiliki granula
makanan, vakuola gas, dan magnetosom.
Flagella panjang, tipis, filamen heliks umumnya lebih panjang dari tubuh bakteri dari mana
mereka muncul di berbagai situs. mereka agak fleksibel, penampilan sinusoidal ditafsirkan, ke
70-an awal, sebagai bukti bahwa mereka bertindak seperti cambuk, tetapi helicity intrinsik
mereka dan tindakan mereka adalah bahwa dari baling-baling yang diputar oleh motor
tertanam dalam sel tubuh.

H. Flagel Pada Archea

Flagela archaeal adalah mirip dengan flagel (atau eubacterial) bakteri, pada tahun 1980 mereka
dianggap homolog berdasarkan morfologi kotor dan perilaku. Flagela kedua terdiri dari
filamen memperluas luar sel, dan memutar untuk menggerakkan sel. Flagela archaea memiliki
struktur yang unik yang tidak memiliki saluran pusat. Mirip dengan tipe iv pilins bakteri,
flagellins komponen dibuat oleh kelas 3 peptida sinyal dan mereka akan diproses oleh jenis
enzim iv prepilin peptidase-suka. Para flagellins archaeal biasanya dimodifikasi dengan
penambahan glycans n-linked yang dibutuhkan untuk perakitan yang tepat dan atau fungsi.
Penemuan-penemuan pada 1990-an mengungkapkan perbedaan mendalam antara flagela
archaea dan bakteri ini meliputi:
a. Bakteri flagella yang bermotor oleh aliran ion H + (atau kadang-kadang Na + ion), flagela
archaeal hampir pasti didukung oleh ATP. Torsi motor-menghasilkan bahwa kekuasaan rotasi
flagel archaeal belum diidentifikasi.
b. Sementara sel-sel bakteri sering memiliki filamen flagellar banyak, yang masing-masing
berputar secara independen, flagel archaeal terdiri dari bundel filamen banyak yang memutar
sebagai perakitan tunggal.
c. flagela bakteri tumbuh dengan penambahan subunit flagellin di ujung; flagela archaeal
tumbuh dengan penambahan subunit ke dasar.
d. flagela bakteri lebih tebal daripada flagella archaea, dan bakteri filamen memiliki berongga
besar "tabung" di dalam bahwa subunit flagellin bisa mengalir dalam diri dan mendapatkan
ditambahkan ke ujung filamen; flagela archaeal terlalu tipis untuk memungkinkan ini.

d. Banyak komponen saham kesamaan urutan flagella bakteri pada komponen sistem sekresi
tipe III, namun komponen saham flagella bakteri dan archaea ada kesamaan urutan.
Sebaliknya, beberapa komponen flagella urutan archaea berbagi kesamaan dan morfologi
dengan pili komponen tipe IV, yang dirakit melalui aksi sistem sekresi tipe II (nomenklatur pili
dan sistem protein sekresi tidak konsisten)

Perbedaan ini bisa berarti bahwa flagela bakteri dan archaea bisa menjadi kasus klasik dari
analogi biologis, atau evolusi konvergen, tidak homologi. Namun, dibandingkan dengan satu
dekade publikasi penelitian bahwa kedua flagella bakteri (misalnya dengan Berg), flagela
archaeal hanya baru-baru ini mulai mendapat perhatian ilmiah yang serius. Oleh karena itu,
banyak keliru menganggap bahwa hanya ada satu tipe dasar dari flagel prokariotik, dan bahwa
flagela archaea yang homolog untuk itu. Misalnya, Cavalier-Smith (2002) menyadari perbedaan
antara flagellins archaea dan bakteri, tapi tetap kesalahpahaman bahwa tubuh basal dari
homolog.

I. Flagel Pada Eukariotik

Seiring dengan silia, flagela membentuk sebuah kelompok yang dikenal sebagai undulipodia
organel.
Struktur Flagel Eukariotik
Sebuah flagel eukariotik adalah bundel dari sembilan pasang leburan dari mikrotubulus
doublet sekitar dua mikrotubulus tunggal pusat. Apa yang disebut "9 +2" struktur merupakan
karakteristik inti dari flagel eukariotik disebut axoneme sebuah. Atas dasar dari flagela
eukariotik adalah tubuh basal, "blepharoplast" atau kinetosome, yang merupakan pusat
pengorganisasian mikrotubulus (MTOC) untuk mikrotubulus flagellar dan sekitar 500
nanometer panjang. basal tubuh secara struktural identik dengan sentriol. flagela adalah
terbungkus dalam selaput plasma sel, sehingga interior flagel bisa diakses sitoplasma sel.

Mekanisme Flagel Eukariotik

Setiap doublet luar 9 mikrotubulus meluas sepasang tangan dynein (sebuah "internal" dan
lengan "eksternal") kepada mikrotubulus yang berdekatan; ini lengan dynein bertanggung
jawab atas flagel pemukulan, karena gaya yang dihasilkan oleh lengan menyebabkan doublet
mikrotubulus slide terhadap satu sama lain dan berkumpul flagel untuk membungkuk. Lengan
ini dynein menghasilkan gaya melalui hidrolisis ATP. Para axoneme flagellar juga mengandung
kisi radial, kompleks polipeptida memanjang dari masing-masing dari sembilan doublet
mikrotubulus luar terhadap pasangan pusat, dengan "kepala" pembicaraan wajah ke dalam.
radial itu berbicara seharusnya terlibat dalam pengaturan gerak flagellar, walaupun fungsi
eksaknya dan metode tindakan yang belum dipahami.

Flagella dan Silia

Meskipun flagela eukariotik motil dan silia yang ultrastructurally identik, pola pemukulan dari
dua organel dapat berbeda. Dalam kasus flagella (misalnya, ekor sperma) gerakan balingbaling. Sebaliknya, motil silia pemukulan terdiri dari terkoordinasi back-dan-sebagainya
bersepeda banyak silia pada permukaan sel. Dengan demikian, flagela melayani untuk
penggerak sel-sel tunggal (misalnya berenang protozoa dan spermatozoa), dan silia motil
untuk mengangkut cairan (misalnya transportasi lendir oleh sel-sel bersilia masih dalam
trakea). Namun, bulu mata juga digunakan untuk memindahkan (melalui cairan) dalam
organisme seperti Paramecium.

Transportasi Intra Flagellar

Intra Flagellar Transport (IFT) adalah proses selular yang penting untuk pembentukan dan
pemeliharaan silia dan flagela eukariotik. IFT, pertama kali ditemukan pada tahun 1993 oleh
mahasiswa pasca sarjana Keith Kozminski saat bekerja di lab Dr Joel Rosenbaum dari Yale
University, phylogenically terawat, dan tampak hadir dalam silia dan flagela dari sebagian
besar spesies, dengan Plasmodium falciparum adalah pengecualian. Dalam proses dimana
subunit axonemal, reseptor transmembran, dan protein lain bergerak ke atas dan ke bawah
flagel panjang, IFT ini sangat penting untuk berfungsinya flagel, baik transduksi motilitas dan
sinyal. (Wikipedia the free encyclopedia, 2011).

J. Evolusi Flagella dan Perdebatan

Berdasarkan kesamaan dalam struktur dan kesamaan parsial dalam urutan asam amino,
secara umum diterima di kalangan ilmuwan bahwa flagela dan silia eukariotik telah berevolusi
dari sitoskeleton, sedangkan flagel eubacterial telah berevolusi dari sistem sekresi tipe III atau
dari sistem sekresi lebih kuno dari mana sekresi sistem tipe III telah berevolusi juga. Archaeal
flagellum mungkin telah berevolusi dari pili tipe IV. Rincian lebih lanjut muncul dalam Evolusi
flagella.

Pada tahun 1996 dalam bukunya Darwin's Black Box, membuat desain pendukung cerdas
dengan mengutip Michael Behe flagel bakteri sebagai contoh struktur rumit tak teruraikan tak
bisa berevolusi melalui cara-cara alami. Behe berpendapat bahwa flagel itu menjadi tidak
berguna jika salah satu bagian unsur dihapus, dan dengan demikian tidak dapat banyak
muncul, berturut-turut, sedikit dimodifikasi, oleh karena itu, tidak mungkin tanpa harapan
bahwa protein yang membentuk motor flagellar bisa datang bersama-sama bersama-sama
sekaligus , secara kebetulan. Mark Perakh menjelaskan bahwa sementara Behe dipopulerkan
ide, biologi Hermann J. Mller sudah mengeksplorasi hal itu (dengan nama yang sedikit
berbeda "kompleksitas masing-masing") dan lebih dari satu dekade sebelum buku Behe
adalah ide yang sama dieksplorasi oleh A. Graham Cairns-Smith, tetapi tidak mengklaim
bahwa "kompleksitas tereduksi" hanya sebagai "penanda" desain supranatural.

Sementara Behe membahas sistem kekebalan tubuh dan pembekuan darah cascade lebih
terinci, flagel bakteri telah menjadi "poster anak" untuk para pendukung perancangan cerdas
dan kreasionis lainnya. Ini adalah salah satu dari dua struktur berputar diidentifikasi
ditemukan di alam (ATP sintase lainnya) dan itu adalah milyaran tahun lebih tua dari dua
contoh lain Behe, yang pada banyak homolog bentuk, penjelasan sederhana asal mereka.
Jalur evolusi didukung oleh Teori Seleksi Alam dan Evolution (lihat: produksi "The flagel
berputar dan televisi PBS / Nova Ilmu dari Intelligent Design on Trial) sejak saat itu telah
diidentifikasi untuk flagel bakteri, dengan demikian, melemahkan argumen Behe's. Selain itu,
tiga tipe sistem sekresi, molekul bakteri digunakan jarum untuk menyuntikkan racun ke dalam
sel lain, tampaknya merupakan disederhanakan sub-set komponen ini flagel bakteri, yang
berarti sangat kecil kemungkinannya tak teruraikan kompleks dengan cara yang flagel bakteri
berevolusi dari sistem dapat benar-benar tiga jenis sekresi.

DAFTAR PUSTAKA

1.
(Rahma,
2009.
Tipe
Flagellum
Pada
Bakteri.http://rahma02.wordpress.com/2009/03/17/bentuk2-sel-flagel-bakteri/diakses tanggal 21
maret 2011)

2.
(
Agus
jatmiko,
2009.
Bakteriologi
dasar.http://blitarnursingcybercenter.blogspot.com/2009/10/bakteriologi-dasar.html diakses
tanggal 21 maret 2011)

3.
(Riza,
2008.
Gerak
Bakteri.http://alkhanza7.multiply.com/journal/item/3/Gerak_bakteri diakses tanggal 21 Maret
2011)

4. Burdon, Kenneth & Robert P. Willams. 1964. Microbiology. New York: The Macmillan
Company.

5. Dwidjoseputro. 1978. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan

6. Fariaty.1995. Kimia Larutan I. Malang: IKIP MALANG

7. Gross, Trevor dkk. 1995. Introoductory Microbiology. London: Chapmaan & hall University
and Proffesional Dinsion.

8. Hastuti, Sri Utami. 2002. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: UM Press.

9. Taringan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Depdikbud.

10. Volk, Swisley A & Margareth F Whceler. 1988. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Erlangga.

11.
(Kenti
simon,
2007.
The
Diversity
Of
Life.http://www.google.co.id/imgres?
imgurl=http://kentsimmons.uwinnipeg.ca/16cm05/1116/27-07-ProkaryoteFlagellaL.jpg&imgrefurl=http://kentsimmons.uwinnipeg.ca/16cm05/1116/16monera.htm&usg=__0mnrE
kpWpW8q515Z9QdSVu5sxw=&h=488&w=800&sz=92&hl=id&start=17&zoom=1&um=1&itbs=1&tbnid=Obu_8ucrHCx8
TM:&tbnh=87&tbnw=143&prev=/images%3Fq%3Dflagellum%2Balga%26um%3D1%26hl%3Did
%26biw%3D1034%26bih%3D619%26tbs%3Disch:1&ei=r3GHTZH5LYbIuAOl2PyfBA diakses
tanggal 21 Maret 2011)

12. Wikipedia, 2011. Bakteri. http://id.wikipedia.org/wiki/Bakteri diakses tanggal 21 Maret 2011)

13. Wikipedia, 2011. Flagellum. http://id.wikipedia.org/wiki/Flagellumdiakses tanggal 21 Maret


2011)

14. Wikipedia, 2011. Euglena viridis.http://id.wikipedia.org/wiki/Euglenaviridis diakses tanggal


21 Maret 2011)

15.
Schaechter,
2011.
Pastidious
Bakteriophage.http://www.google.co.id/imgres?
imgurl=http://schaechter.asmblog.org/.a/6a00d8341c5e1453ef0133f1a9b088970b250wi&imgrefurl=http://schaechter.asmblog.org/schaechter/2010/06/a-fastidiousbacteriophage.html&usg=__gQnuBnSIhg5N_aoDkV0IdEGxuZQ=&h=200&w=221&sz=11&hl=id&
start=17&zoom=1&um=1&itbs=1&tbnid=4uQEKCPoJXPhVM:&tbnh=97&tbnw=107&prev=/imag
es%3Fq%3Dmotile%2BEscherichia%2Bcoli.%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DG%26biw
%3D1034%26bih%3D583%26tbs%3Disch:1&ei=ioGHTbf_HYaSuwPn-YXZCA diakses tanggal 21
Maret 2011)

16.
Wikipedia
the
free
encyclopedia,
2011.
Intra
Fragellar
Transport.http://www.thefullwiki.org/Intraflagellar_transport diakses tanggal 21 Maret 2011)

17. (Wikipedia free ensiklopedy, 2011. Archea.http://www.thefullwiki.org/Archaeal diakses


tanggal 21 Maret 2011)

18.
Adrianz,
2009.
Alat
Gerak
bakteri.html diakses tanggal 21 Maret 2011)

Flagel. www.ardianrisqi.com/2009/11/alat-gerak-

Diposkan oleh Erlin's Blog di 01.10


Selasa, 14 Februari 2012

PERBEDAAN ARCHAEBACTERIA DAN EUBACTERIA


A. PENGERTIAN
Dalam organisme prokariota terdapat dua kelompok yaitu arkhaebacteria
dan eubacteria. Eubacteria terdiri dari bakteri-bakteri yang lebih umum, seperti
kebanyakan orang telah mengenalnya.
a.

b.

Eubacteria Gram negatif yang memilki dinding sel.


Kelompok ini merupakan prokariot yang memiliki suatu profil dinding sel
(tipe gram negatif). Kompleks yang terdiri dari satu membrane luar dan satu
membrane dalam, lapisan peptidoglikan yang tipis (yang mengandung asam
muramat yang terdapat pada semua peptidoglikan tapi sejumlah organisme
tidak memiliki bagian ini pada dinding selnya). Dan suatu variabel pelengkap
dari komponen lain diluar atau diantara lapisan ini. Kelompok ini biasanya
bersifat gram(-) negatif. Bentuk sel berupa bola, oval, batangan lurus atau
melengkung, memutar, atau filament; beberapa bentuk tersebut dapat
berselubung. Reproduksi dengan cara pembelahan biner tetapi beberapa
kelompok
terlihat
membentuk
tunas,
dan
suatu
kelompok
jarang
memperlihatkan pembelahan multiple. Fruiting body dan mikrospora dapat
dibentuk oleh miksobakteria. Gerakan berenang, meluncur, dan gerakan tanpa
berpindah tempat biasanya teramati. Anggota divisi mungkin bakteri fototropik
atau nonfototrof (diantara litotropik dan heterotropik), dan termasuk aerobic,
fakultatif anaerobic, dan spesies mikroaerofilik; beberapa anggota merupakan
parasit intraseluler obligat.
Eubacteria Gram-positif yang memiliki dinding sel
Kelompok ini merupakan prokariot dengan profil dinding sel tipe grampositif ; umumnya bereaksi terhadap pewarnaan gram, tetapi tidak selalu positif.
Sel berbentuk bola, batang, atau filament; batang dan filamen mungkin tidak
bercabang , tetapi beberapa memperlihatkan adanya percabangan. Reproduksi
seluler umumnya dengan pembelahan biner; beberapa menghasilkan spora
sebagai bentuk istirahat (endospora atau spora pada hifa). Kelompok ini pada
umumnya tidak berfotosintesis, melakukan khemosintesis, heterotrof dan
termasuk aerobic, anaerobic, fakultatif anaerobic, dan spesies mikroaerofilik.

Eubacteria dapat masuk ke dalam tiga bentuk seperti:


1.
2.

3.

ROD-SHAPED atau disebut Bacilli


SPHERE SHAPED atau disebut Cocci. Ketika cocci bergabung membentuk rantai,
maka disebut streptococci, namun cocci yang seperti anggur dan mengelompok
disebut straphylococci.
SPIRAL SHAPED atau sering disebut SPIRILLA.
( www.silverfalls.k12.or.us)

c.

Eubacteria tanpa dinding sel


Eubacteria terhitung sebagai bacteria secara umum. Mereka terlihat
dalam berbagai bentuk dan ukuran serta memiliki banyak perbedaan genetic
dan biokimia. Awalan EU pada Eubacteria berarti TRUE artinya bahwa
TRUEbacteria diartikan secara sederhana disebut sebagai Bacteria (kuman).
(www.silverfalls.k12.or.us )
Kelompok ini merupakan prokariotik yang tidak memiliki dinding sel (biasa
disebut mycoplasma dan termasuk kelas mollicutes) dan tidak mensintesis
bahan baku (prekusor peptidoglikan). Sel dilindungi oleh unit membranemembrane plasma. Sel sangat pleomorfik, dengan ukuran mulai dari yang besar,
mampu merusak vesikula sampai yang sangat kecil. Bentuk filament biasa
ditemukan dengan penonjolan-penonjolan percabangan. Reproduksi dengan
pertunasan, fragmentasi dan atau pembelahan biner. Biasanya tidak bergerak
tetapi beberapa spesies memperlihatkan pergerakan meluncur. Bentuk istirahat
tidak diketahui. Sebagian besar membutuhkan media yang komplek untuk
pertumbuhannya (tekanan osmotic tinggi yang mengelilinginya) dan memelihara
diri dengan menembus permukaan media padat dengan cara membentuk sifat
koloni berupa fried egg (telur goreng mata sapi). Mycoplasma dapat bersifat
saprofit, parasit, atau patogenik, dan patogen penyebab penyakit pada hewan,
tumbuhan dan kultur jaringan

d.

Archaebacteria
Archaebacteria merupakan kelompok bacteria yang berbeda dengan yang
lain karena hidup mereka biasanya di lingkungan yang keras / ekstrem. Para
ilmuan memisahkan ke dalam kingdom yang lain karena organism ini sangat
berbeda dengan bakteri pada umumnya. Para peneliti percaya bahwa kondisi
lingkungan yang ekstrem sekarang diidentikan dengan kondisi awal bumi yang
belum stabil. (www.silverfalls.k12.or.us )
Archaebacteria dapat digolongkan kedalam tiga kelompok berdasarkan
lingkungan dimana ia hidup antara lain:
1.

Methanogens. Hidup di lingkungan sedikit oksigen dan menghasilkan gas


methan. Methanogen hanya dapat hidup di lingkungan aerobic seperi dasar laut,
dasar sungai, dasar selokan dll.

2.

Thermoacidophiles. Hidup di air yang bersuhu ekstrem (230 derajat Fahrenheit)


dan pH sangat asam (dibawah 2)

3.

Ekstrem Halophiles. Hidup di lingkungan yang bergaram seperti di Great Salt


like di Utah dan di laut mati yang kadar garamnya sangat pekat.
( www.silverfalls.k12.or.us )
Archaebacteria berasal dari bahasa yunani archaios artinya kuno, dan
bakterion (batang kecil). Archaebacteria sangat beraneka ragam baik secara
morfologi atau fisiologi. Mereka bisa bewarna atau terwarnai baik gram positif
atau gram negatif. Walaupun begitu struktur dinding dan kimiawinya berbeda
dari eubacteria. Mereka tidak mempunyai asam muramik dan asam D-amino
seperti terdapat pada peptidoglikan eubacteria. Oleh karena itu seluruh
arkhaebacteria rentan serangan oleh lisozim dan -laktam antibiotic seperti
penisilin karena tidak memiliki asam muramat dan D-asam amino. Gram positif
arkhebacteria dapat mempunyai varietas complex polimer pada dinding-dinding
mereka.
Misalnya
bakteri
methanogen
mempunyai
dinding
dengan
pseudomurein, sebuah peptidoglikan yang mempunyai L-asam amino pada
struktur cross link. Hal yang paling membedakan kenampakan dari membrane
arkhaebacteria adalah sifat alami dari lipid membrannya. Mereka berbeda baik
eubacteria maupun eukariot dalam mempunyai rantai hidrokarbon bercabang
yang tertanam pada gliserol dengan ikatan eter daripada ikatan ester. Lipid polar
kadang-kadang nampak pada membrane arkhaebacteria, seperti phospolipid,
sulfolipid, dan glikolipid. Sekitar tujuh sampai tiga puluh persen lipid membrane
arkhaebacteria adalah lipid nonpolar yang merupakan derivatik squalene. Lipid
ini dapat berkombinasi dengan berbagai cara untuk membentuk kekakuan
membrane dan ketebalannya.

Gambar: Struktur
Pseudomurein

Secara genetic arkhaebacteria juga berbeda, genom dari arkhaebacteria


berukuran lebih kecil dari eubakteri normal. Akhir-akhir ini genom dari
arkhaebacteria telah diurutkan dan dibandingkan dengan genom organism lain.
Sekitar 56 % dari keseluruhan genom arkhaebacteria tersebut sangat berbeda
dengan genom dari eubacteria dan eukariot.
Archaebacteria merupakan mikroba utama dalam lingkungan terrestrial
dan akuatik, hidup dalam lingkungan anaerobic, dalam kadar garam tinggi, atau
air panas, dan dalam lingkungan yang terkena panas bumi serta beberapa
terdapat sebagai simbion saluran pencernaan. Kelompok yang termasuk aerob,
anaerob dan fakultatif aerob yang tumbuh secara khemolitoautotrofik,
organotrofik. Archaebacteria dapat bersifat mesofil atau thermofil, bahkan
beberapa spesies dapat tumbuh pada suhu diatas 100 C.

e.

Perbedaan eubacteria dan arkhaebacteria


Dinding sel, membrane sel, dan RNA ribosomalnya berbeda dari bagian
tersebut dari bakteri lain. Pada archaebacteria tidak ditemukan adanya
peptidoglikan (protein-karbohidrat) seperti yang ditemukan pada eubacteria.
Archaebacteria dapat tinggal di lingkungan dimana organism khususnya bakteri
lain tidak dapat bertahan. (www.silverfalls.k12.or.us )
Archaebacteria dapat dibedakan dari eubacteria dengan tidak adanya
dinding sel peptidoglikan mereka, posisi dari isoprenoid dieter atau digliserol
tetra eter lipid, dan karakteristik susunan RNA ribosom. Archaebacteria juga
memiliki beberapa ciri molekuler yang sama dengan eukariota. Sel memiliki
bentuk yang berbeda termasuk didalamnya adalah bentuk sferis, spiral, pipih
atau batang; bentuk uniseluler dan multiseluler pada filament atau agrigat
ditemukan.
Perbanyakan
terjadi
dengan
pembelahan
binary,
tunas,
penggabungan, fragmentsi, atau dengan mekanisme lain yang belum diketahui.
Arkhaebakteria tidak mempunyai peptidoglikan, pembeda utama antara
arkhaebacteria dan eubacteria. Sementara itu dinding sel Arkhaebacteria
tersusun atas molekul komponen-karbohidrat yang disebut pseudopeptidoglycan.
Membran sel eubacteria tersusun atas asam lemak dengan gliserol yang diikat
melalui ikatan ester, sementara membran archaebacteria tersusun atas
isoprenoids yang berikatan dengan asam lemak melalui ikatan eter. Selain itu
archaebacteria mempunyai lebih banyak RNA dibanding eubacteria. Secara
genetic arkhaebacteria juga berbeda, genom dari arkhaebacteria berukuran
lebih kecil dari eubakteri normal.

Arkhaebacteria juga berbeda dengan eubacteria yaitu pada lingkungan


hidupnya yang sangat ekstrim (contohnya: temperatur tinggi, kadar garam tinggi
dan PH rendah) dan melangsungkan reaksi metabolisme yang tidak biasa,
misalnya dalam pembentukan methane. Struktur peptidoglikan Eubacteria dapat
digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Peptidoglikan atau murein adalah susunan polimer dari banyak sub unit
yang identik. Polimer mempunyai dua derivate gula, N-asetilgukosamin dan
asam N-asetilmuramik (bentuk eter laktil dari N-asetilglusamin)(gambar 2). Dan
beberapa jenis asam amino, tiga darinya adalah asam D-glutamit, D-alanin, dan
asam meso-diaminopimelic yang tidak terdapat dalam protein. Sub unit
peptidoglikan terdapat dalam kebanyakan bakteri gram negative dan beberapa
pada bakteri gram positif. Rantai utama polimer adalah residu Nasetilglukosamin dan asam N-asetilmuramik. Sebuah rantai peptida dari D- dan
asam L-amino terhubung dengan grup karboksil asam N- asetilmuramik.
Rantai sub unit peptidoglikan tergabung dengan cross link diantara
peptidanya. Seringkali grup karboksil dari terminal D-alanin terhubung langsung
ke grup amino dari asam diaminopimelic, kecuali peptide interbridge juga
digunakan untuk mengganti cross link. Kebanyakan gram negative kandungan
peptidoglikan di dindingnya kurang terdapat peptide interbridge.
Cross link mengakibatkan kepadatan yang tinggi dan saling berhubungan
rapat dengan peptidoglikan dinding selnya. Hal ini mengakibatkan bentuk sel
relative tetapi dinding selnya tetap elastic dan mudah mengulur. Selain itu juga
terdapat banyak pori sehingga molekul-molekul dapat menembusnya.
dan

Archaebacteria mempunyai proteksi yang tinggi terhadap tekanan, suhu


pH, dan segala bentuk ancaman lingkungan yang ekstrim. Untuk

archaebacteria
yang
hidup
dilingkungan
bertekanan
tinggi,
mereka
menggunakan methanochondroitin pada dinding selnya untuk proteksi tekanan.
Struktur membrane dan dinding (lemak & protein) inilah yang berperan untuk
merespon secara khusus.
Methanochondroitin merupakan dinding sel Methanosarcina. Yang
tersusun atas galaktosamine, glucuronic atau asam galacturonik dan glukosa,
mengingatkan kepada sulphate chondroitin pada jaringan ikat pada vertebrata.
Bagaimanapun juga methacondroitin bukan sulphate dan perbandingan molar
antara GaINAc:GIcA adalah 2 : 1 dan bukan 1 : 1 seperti pada chondroitin
(http://www.springerlink.com/content/pxmtkq8wh8x650ed/fulltext.pdf)
Fluiditas pada membrane archae juga dipengaruhi oleh adanya
hopaloid. Pada sel eukariot terdapat sterol pada membrane selnya, sedangkan
pada archae terdapat Hopanoid. Untuk Archae yang tahan terhadap suhu,
mereka memiliki struktur membrane yang khusus. Pada phospolipidnya terdapat
ikatan lemak jenuh. Sehingga sifat dari ikatan lemak jenuh inilah yang
menambah proteksi terdapat suhu. Ketahanan terhadap suhu pada archae juga
disebabkan karena adanya ikatan sulfur pada cross-link bridgenya.
Kesimpulan
Arkhaebakteria tidak mempunyai peptidoglikan, pembeda utama antara
arkhaebacteria dan eubacteria. Struktur membrane dan dinding (lemak &
protein) yang berperan untuk merespon secara khusus. Sementara itu dinding
sel Arkhaebacteria tersusun atas molekul komponen-karbohidrat yang disebut
pseudopeptidoglycan. Membran sel eubacteria tersusun atas asam lemak
dengan gliserol yang diikat melalui ikatan ester, sementara membran
archaebacteria tersusun atas isoprenoids yang berikatan dengan asam lemak
melalui ikatan eter. Selain itu archaebacteria mempunyai lebih banyak RNA
dibanding eubacteria. Secara genetic arkhaebacteria juga berbeda, genom dari
arkhaebacteria berukuran lebih kecil dari eubakteri normal.

DAFTAR PUSTAKA
Brooks, Geo F, dkk. (2005). Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Salemba
Medika.
Kusnadi, dkk. (2003). Common Text Book Mikrobiologi. JICA: Bandung.
Prescott, Langsing M, et all. (1999). Microbiology fourth edition. New York: WCB Mc
Graw-Hill.

Anonim. (2009). Bacteria Kingdom archaebacteria & Kingdom Eubacteria.


(www.silverfalls.k12.or.us_staff_read_shari_mysite_typbacteria) (diakses
pada
tanggal 7 Oktober 2009 pukul 16.37 WIB)

O.

Kandler.
(2009). Cell
Wall
polimers
in
Archaeateria.
(http://www.springerlink.com/content/pxmtkq8wh8x650ed/fulltext.pdf) (diakses
pada tanggal 7 Oktober 2009 pukul 16.37 WIB) (diakses pada tanggal 12
Oktober 2009 pukul 16.00 WIB)
Diposkan oleh ieLma 's Blog di 04.10

http://ielmasblog.blogspot.com/2012/02/perbedaan-archaebacteria-daneubacteria.html